Thursday, December 16, 2021

Bye Bye

Pagi itu, sebuah foto dia kirim ke ponsel saya. 

Keterangannya singkat saja, "Finally." 

Saya tidak pernah tahu objeknya. Yang saya tahu, beberapa minggu terakhir dia sibuk memperbarui kandang ternaknya. Ada beberapa ternak yang siap melahirkan, dan dia tak ingin induk-induk itu melahirkan di kandang bobrok yang menurut ceritanya sudah nyaris rubuh. 

Karena cerita soal kesibukan dengan kandang itulah, saya berkesimpulan bahwa foto itu adalah foto kandang baru. Bangunannya kokoh. Tampak rapi dan presisi. Dia kerjakan dengan tangannya sendiri. 

Apa pun yang saya lihat, komentar pertama saya adalah memberinya selamat. Tak lama, ponsel saya berdering, namanya berpendar di layar. 

"Hey you, selamat pagi dan selamat berbangga atas kandang baru." 

Tawanya panjang sebelum menyahuti salam saya. Tawa penuh kepuasan. Kemudian dia bercerita proses membangun kandang itu. Sambil menjelaskan fungsi tiap bagian yang saya tidak paham. Lalu dia bawa saya berkelana dalam kisahnya mencari kayu yang bagus, besi yang sesuai, hingga lapisan plastik yang dia inginkan. Dia ceritakan juga bahwa proses membangun kandang membuatnya punya banyak alat bertukang yang baru. Alat yang lebih lengkap, yang menginspirasinya untuk membuat kandang ke-2 dan ke-3. Juga rumah olah pakan. Hampir dua jam kami membicarakan kandang dan perlengkapannya, juga kisah-kisah lucu yang membuatnya belajar dan kemudian ahli kerja tukang untuk segala hal tentang kandang, sesuatu yang hingga tahun lalu pun tak pernah dia lakukan. Percakapan kali ini membuatnya terdengar bahagia. Dan bangga. 

Hmm... sampai kapan sibuk dengan kandang? 

Dia tertawa sebelum menjawab, "Saya serius menggarap ini. Berurusan dengan manusia sangatlah melelahkan saya."

Saya tidak punya pilihan selain menyemangati, seperti yang biasa saya lakukan. Saya janji akan menemuinya kapan-kapan, jika jadwal memungkinkan kunjungan ke arah Timur. Dia tertawa lagi dan mengatakan tidak sabar memamerkan lingkungan barunya pada saya. 

Lalu dia teruskan bercerita lagi tentang rencana-rencananya dengan kandang 1, 2, 3, dan macam-macamnya. Saya tidak pernah mendengarnya sesemangat itu. Dan... hati saya seperti dicubit karena merasa bahwa saya tidak ada dalam rencananya itu. 

Kandang dan segala isinya adalah dunianya yang baru. Yang dia bentuk dan susun melalui rencana cermat. Hingga dia memutuskan sepenuhnya meninggalkan hidup di kota besar. Sepertinya dia telah memilih perjalanannya yang berikut. Dia semakin menjauhi saya. 



Thursday, December 02, 2021

Gaya Hidup atau Hidup Gaya?

Percakapan random semalam sempat nyerempet topik UMR. Lalu gimana rasanya punya gaji Jakarta dan hidup di Jawa Tengah? 

"Ya pasti gembira banget," kata saya, ingat pernah makan mewah tapi membayar hanya setengah dari harga makanan serupa di Jakarta. 

Dia yang tinggal sekitar 460 km dari rumah saya cuma ketawa. "Ya makanya saya jarang ke Jakarta. Dulu tinggal di Jakarta, gaji rasanya nggak pernah cukup." 

"Gajimu dulu kan nggak kecil."

"Hitung lagi deh, kamu bisa hidup dengan gaji sebesar itu?"

Lalu tadi pagi, setelah drop Aria di sekolah, saya ke supermarket langganan. Belanja ini itu termasuk makanan-makanan kesukaan dan buah yang kualitasnya jempolan karena ini supermarket kelas A. Sampai di kasir, seperti biasa tinggal bayar nggak usah mikir dan tanpa cemas. Ciri khas ibu tunggal yang mandiri secara finansial kan ya... hahahahaha.... 

Lalu ingat obrolan semalam, kalau gajinya tidak sebesar sekarang, apa masih bisa hidup segembira ini? 

Sampai rumah, setelah mandi dan beresin belanjaan... keluarin bon dan mulai cek ini itu. 

Misalnya... Pyramid diganti Filma. Trus Fillipo Berio jadi Bertoli? Atau nggak usah? Pasta pakai Mamasuka. Wisjman buat bikin kue? Anchor olesan roti sarapan? Wis to Blueband wae! Nggak usah beli pesto sauce, bolognaise bikin sendiri saja. Beli matoa sama kelengkeng buat apa? Asupan buah? Pepaya sama jeruk medan kan bisa. Sushi? Lemper aja lah.... 

... dan seterusnya... dan seterusnya... sampai "mengubah" secara khayal angka yang harus dibayar jadi cuma 1/3-nya. 

Bisa. Sejuta cukup buat sebulan serumah. 

Cek buku pengeluaran, yang terbesar ya sekolah Aria. Kalau ibunya nggak punya uang banyak, masuk sekolah negeri saja. Gratis. 

Semua dihitung ulang. Seandainya budget jajan, jalan-jalan, hura-hura dikurangi, tapi investasi dan asuransi tetap... perlu gaji berapa? Oh. Ya.  

Kesimpulannya? Semua cukup. Selalu cukup. Karena memang sudah porsinya. Pengeluaran mengikuti pemasukan. Supaya nggak sesak nafas. Belanja yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan, biar nggak cegukan. 

Hidup buat bergembira, bukan buat gaya-gaya. Rumah ada. Mobil ada. Ukuran standard, cukup buat berdua. Aman lah. Alhamdulillah. Selama ini ternyata lumayan bisa mengatur budget. Ternyata bisa. Alhamdulillah. 

Tuh... bisa kan.... 






#ehkelepasanmaubilangsa... (hilang sinyal) 

Wednesday, December 01, 2021

Cannot Wait

 ... tell me everything about you...

never felt like this before... the love is so true. 

I won't take two, just you.

Saturday, October 23, 2021

The Morning Glory

 Beberapa orang yang keluar dari mesjid usai sholat Subuh menganggukan kepala pada kami. 

"Bade tindak pundi, Bu?" seseorang menyapa kami dengan ramah. 

Ketika saya katakan bahwa kami sedang mencari tempat sembahyang, segera dia antar kami ke mesjid kecil. Satu-satunya di wilayah itu, bersebelahan dengan gereja. Dia tunjukkan pula tempat wudhu, dengan melepaskan sumbat yang tertempel di sebuah guci besar. Dia lalu mengatupkan tangan di dada, pamit.  

"Matur nuwun." 

Saya nikmati kesegaran pagi di tempat itu. Air wudhu yang membasuh kepala bisa mengusir kepenatan saya. Kesegaran udara memenuhi paru-paru saya. Selesai berdoa, kesunyian di ketinggian 1720 meter melingkupi saya. 

"Tempat ini luar biasa." Suaranya memecah hening. "Coba lihat ke luar. Kalau langit cerah, akan tampak bayangan gunung di sekitar. Ada enam. Atau tujuh, ya? You have to see, it is magical," tambahnya.

Saya kenakan alas kaki sebelum menyambut gandengan tangannya. Dia bimbing saya menuju jalur pendakian terdekat. Sebagai pecinta alam, kawasan di dalam Taman Nasional ini tentu ia akrabi.  

Betul katanya, pemandangan sekitar kampung kecil itu luar biasa mencengangkan. Matahari terbit mengantar sinar cemerlang ke langit. Pagi itu, saya melihat Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Telomoyo. Tiga lainnya tampak mengintip dari balik kabut yang perlahan pudar. 

"Tunggu sampai semua kabut terangkat...."

Ketika kami duduk di sebuah luasan tanah, menghadap salah satu gunung, matahari sudah naik seutuhnya. Seluruh gunung di sekitar kami menampakkan diri. Megah. Saya dengar dentang lonceng dari gereja di sebelah mesjid, menunggu jemaah ibadah Minggu. Gema lonceng terdengar hingga jauh. Gaung yang terbawa angin, meninggalkan suasana syahdu dalam kalbu. 


Friday, October 22, 2021

Puja

Kami baru selesai olah raga pagi. Hari Minggu selayaknya dihabiskan untuk bersantai sepuasnya sebelum besok kami harus kembali ke rutinitas kerja yang seolah tak berjeda. Hmm... mau makan siang apa ya enaknya? 

Saya baru saja hendak menyalakan televisi ketika dia keluar dari kamar. 

"Aku harus ke Timur." 
"Hari ini?"
"Puja kritis." 

Kekesalan mendadak hadir di hati saya mendengar nama itu. Setelah sudah cukup lama tidak terdengar, kenapa sekarang ada lagi? 

"Betul-betul harus?"
"Dia kritis, Mas. Rasanya...hmm... okay, mobilku baru minggu lalu dari bengkel. Mestinya aman dibawa sejauh 400 kilometer."
"Kamu menyetir?"
"Rasanya naik pesawat pun tidak akan mudah, Mas. Kalau berangkat sekarang dengan mobil, pukul 17 aku sudah ada di sana. Siapa tahu masih sempat...," dia tidak meneruskan kalimatnya. Saya lihat luka di sorotan matanya. 
"Ayo, saya antar." Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari bibir saya. Sekesal apa pun, tidak mungkin saya biarkan dia sendirian mengendarai mobil sejauh 459 kilometer. "Saya pulang sebentar, ambil baju ganti dan komputer jinjing. Ada meeting yang tidak bisa ditunda, besok bisa saya lakukan dari sana. Saya temani. Biar saya yang mengemudi."
"Kamu nggak harus...."
"Sudah. Kamu siap-siap saja. Saya antar. Tidak apa-apa. Sejam lagi saya kembali. Tapi maaf, kita harus pakai mobilmu karena mobil saya sudah waktunya servis. Kamu sudah hubungi Radya?"

Dia diam saja. Wajahnya bingung. Saya kecup pipinya. "Mudah-mudahan kita tidak terlambat."

Dia mengangguk. "Terima kasih," gumamnya. 

"Telepon Radya. Dia harus tahu kondisi ayahnya." Saya kecup lagi pipinya sebelum bergegas pulang mengambil keperluan saya. 

Satu jam kemudian, kami sudah melaju di jalan tol menuju Jawa Tengah. Kota-kota di Pulau Jawa seolah jadi dekat dengan adanya jalan tol ini. Perkiraan saya, sebelum senja kami akan tiba di kota tempat kelahiran Radya. 

"Apa kata Radya tadi?"
"Ya... dia nyaris tidak berkomentar. Kuduga dia tidak tahu harus bilang apa." 
"Yang penting dia sudah tahu."
"Aku malah merasa bersalah, jangan-jangan membuat dia memikirkan hal yang mungkin tidak penting buatnya." 
"Saya rasa Radya sudah cukup dewasa untuk bisa mengabaikan hal-hal yang menurutnya tidak perlu dia pikirkan."
"Selama ini, toh ayahnya tidak pernah ada dalam hidupnya. Apa bedanya ada atau tidak ada?"
"Dalam hal ini, saya harus sepakat dengan Radya."
"Tentang?"
"Puja mungkin tidak penting buat Radya, tapi dia tetap bagian dari masa lalu yang masih melingkupi kamu." 
"Ya...." 
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Saya paham." 

 

 

Thursday, October 21, 2021

Untukku

 "Ini. Calon profesor. Pinter laaah.... Kamu kan bawel kalau aku kenalin sama yang menurutmu tidak oke secara akademis... ha-ha-ha...."

Sambil tertawa, tangan Mitcha mengulurkan ponselnya. Tampak sesosok pria di layarnya. Lumayan tampan. 

"Hmm...."

"Kok cuma hmm.... Gimana, gimana?" Mitcha mengedip-ngedipkan matanya. 

"Single?"

"Iya dong! Makanya kukenalkan ke kamu. Sudah dua tahun istrinya wafat. Anaknya satu, perempuan. Masih balita."

"Sudah mau jadi profesor tapi punya balita?"

"Yaaa... bisa saja terlambat menikah karena terlalu asyik belajar."

"Umur berapa dia?"

"Hmm... 50? Ayolah... coba kenalan saja dulu. Tidak ada ruginya menambah teman." 

Mitcha tertawa lagi. 

"Pasrah aku, Mi." 

"Mau ya... mau ya... nanti aku berikan nomor ponselmu ke dia. Biar dia urus sendirilah. Masak sudah mau jadi profesor, beginian nggak bisa." 


***


Friday, October 15, 2021

Let Me Try

Saya sedang merapikan buku di rak buku panjang, ketika saya lihat mobil putih berhenti di ujung kampung. Mobil itu. Yang tiga tahun lalu sering menjemput saya dari kantor dan menjadi saksi kebahagiaan saya bisa bercakap-cakap dengan dia sepanjang perjalanan pulang. Ketika pemiliknya keluar, dunia saya seperti berhenti. Betul itu dia. Jangkung menjulang. Tampan. Berjalan mendekati rumah saya. Saya menyambutnya di pintu. 

"Tempatmu ini terkenal sekali di medsos!" 

Khas dia. Tidak pernah membuka percakapan dengan "halo" atau "apa kabar." 

Dia serahkan bunga di tangannya. "Beautiful flowers for beautiful lady," katanya sambil mengecup pipi saya. "Bau apa ini? Sepertinya enak." Lalu dia berjalan menuju lemari kaca. Di sana ada Anin, asisten saya, yang sedang memasukkan piring-piring berisi mangkuk makaroni yang baru matang. Saya beri kode pada Anin untuk melayani yang dia mau. 

"Saya mau cappucino. Hmm... saya mau itu juga, kelihatan lezat." Lalu dia bercakap-cakap dengan Anin sambil memilih topping donat, sementara saya mencari vas. Hati saya hangat. Dia belum lupa bahwa saya sangat suka mawar segar warna putih. 

Ketika saya kembali ke depan dengan vas yang penuh bunga, dia sudah duduk nyaman di salah satu meja dekat jendela. Di depannya, secangkir kopi, donat yang sudah digigit, dan buku yang terbuka. Sikapnya seperti sudah terbiasa melakukan itu. Ah... mungkin memang dia sudah terbiasa. Toh dia sering begitu. Dulu. Di dapur rumah saya di Jakarta. 

"Ini enak banget," dia mengacungkan jempol ketika melihat saya mendekat. Tangan yang satu menunjuk ke piring dan cangkirnya. 

"Terima kasih. Aku memang beruntung kenal Anin. Dia yang mengatur semua makanan dan minuman."

"Begitu foto-foto tempat ini beredar, saya langsung tahu, ini pasti milik kamu. Selamat ya. Kamu berhasil mewujudkan impianmu." 

Dia. Masih. Ingat. 

"How did you know it is mine? Rasanya tidak pernah ada namaku di mana-mana...." 
"Tahulaaahh.... Bentuk bangunannya. Warna interiornya. Dan buku-buku yang ada. Sepertinya mereka bisa mengatakan pada saya bahwa mereka itu pilihan kamu." 
"Gombal."
"Hahaha... kamu memang tidak pernah percaya pujian saya. Tapi, serius, kali ini kamu harus percaya bahwa ini enak sekali," lalu dia gigit donatnya. 

Dan begitu saja dia makan sambil bercerita tentang kesibukannya. Tentang tempat-tempat yang disinggahinya selama empat tahun belakangan. Dia ceritakan bahwa anjingnya yang saya kenal sudah wafat, lalu dia mengadopsi anjing lain dari tempat penampungan. 

Dia tidak berubah. Dia masih sama. 

Orang yang sama yang saya jatuhi cinta bertahun-tahun lalu. 



(Part 1) 




 



Friday, August 27, 2021

After 10 Years

Hello there.... 

Tadi pagi diingatkan oleh FB bahwa Aria pernah mengirim sederet permintaan for you. Lupa konteksnya apa, tapi sepertinya dia perlu upeti sebelum ibunya boleh diajak pelesir. Astaga... ibu ditukar dengan benda-benda.... 

Meskipun kondisi sudah sangat berbeda, diingatkan pada kejadian bertahun lalu, rasanya seru juga. Rasanya beruntung pernah mencatat yang dilakukan atau dialami pada satu waktu, dan kemudian mengenangnya setelah sekian lama berlalu. 

Kemarin, dalam ngobrol santai cekakakan bersama teman penulis yang ada di satu grup wa, kami teringat bahwa tahun depan adalah tepat 10 tahun sejak antologi The Single Moms diterbitkan.  Apa saja yang terjadi selama 10 tahun ini? 

Ternyata... kami masih single di tahun ke-9 hahahahahaha.... 

Lalu tercetus ide untuk menulis yang terjadi setelah 10 tahun. Apakah yang kami tulis di buku itu masih bisa dijalankan saat ini? Seandainya ada rencana-rencana, bagaimana perwujudannya? 

Jadi saat ini, saya mengumpulkan niat untuk menuliskan gegap gempita hidup saya 10 tahun terakhir. Seru. Lucu. Kadang gagu juga sih. Banyak tulisan di blog ini yang akan saya intip, untuk sumber inspirasi. 

The challenge: can I minimize your "domination" in the story? Ahahahaha.... 

Wednesday, July 07, 2021

Amin

Sudah berdoa pada Tuhan, minta diberi petunjuk yang terbaik. Ketika sudah dikasih segala tanda, masih nggak terima. Namanya manusia ya, kalau nggak ngeyel, kayak kurang sedap hidupnya. 

Matur nuwun, Gusti Allah. 

Tuesday, June 29, 2021

The Love and The Blessing

Saat ini angka penderita covid-19 makin naik. Tiap hari ada saja berita duka di linimasa media sosial. Yang paling mengejutkan jika proses meninggalnya cepat. Tadinya sehat bugar lalu meninggal di hari ke-7 setelah terdeteksi terinfeksi virus. Teman yang terinfeksi makin banyak. Bersyukur sebagian besar sembuh lagi seperti sedia kala. Tapi, suasana jadi muram. 

Tempo hari, satu tetangga yang isoman, wafat di usia 40 tahun. Masih muda. Beberapa kali ketemu saat jogging pagi. Dia tinggal dengan ibunya, dan mereka berdua positif covid. Isoman di rumah. Pada hari ke-5, sang putra meninggal dunia. Dan malam itu, dua ambulance masuk ke kompleks. Satu untuk membawa sang ibu ke RS, satunya membawa pergi jenazah. Meski ambulance mematikan sirine, aura mencekam tetap lekat dan tertinggal beberapa hari. 

Kantor WFH full. Produksi semua dipantau dari jauh. Buat produk cetak seperti yang saya tangani, penanggung jawab harus siap juling karena membaca semua proofprint di layar komputer. Di hari ke-3, saya menyerah. Saya cetak materi yang harus diperiksa ulang. Satu per satu saya pelototi dan koreksi jika perlu. 

Cetak barang, keluar biaya, menambah limbah. Tapi aman. Tidak harus ke kantor. Tidak jumpa banyak orang. Tidak menanggung risiko terpapar virus. 

Rencana liburan sudah terkubur sejak seminggu lalu. Perjalanan yang sudah disusun dibatalkan saat di mana-mana tersebar berita soal RS yang penuh. Mau pergi-pergi jadi nggak nyaman. Tapi tinggal di rumah saja rasanya mulai bosan. Kok jadi serba salah. 

Tetap harus bersyukur tinggal di rumah yang nyaman. Tidak perlu berdesakan. Aria punya teritorinya sendiri. Eyang juga ada wilayahnya. Semua keperluan bisa dikirim ke rumah. Menjamin keamanan. Tidak kelaparan dan kesusahan. Meski harus berupaya menghibur diri dengan segala hal, tapi masih bisa tidur dengan nyaman. Tidak harus risau dengan rencana masa depan karena masih punya pekerjaan. 

Meski tetap bertanya-tanya: hidup macam apa ini? 

Semoga ini hanya satu bagian hidup yang kelak bisa dilihat dan dijenguk. Sebuah episode perjalanan yang tidak nyaman yang semoga terlampaui. Masa kelam yang mencekam seluruh jagat ini mudah-mudahan bisa tersimpan dalam kenangan. Segera. Amin. 

Di saat sedang gundah, mengetahui bahwa ada seseorang yang peduli, sungguh sangat berarti. Terima kasih untuk rasa sayang yang tak pernah lekang, dan perhatian yang selalu bisa diharapkan. I love you too. You know who you are. 

Friday, June 25, 2021

Rindu

Yang sering bikin ngilu ternyata kenangan masa lalu. Kangen jalan bergandengan tangan dan berpelukan. Kangen mencemburui, juga dicemburui. Mungkin memang sebaiknya tidak pernah memiliki, supaya tidak merasa kehilangan. 

Thursday, April 22, 2021

Dunia Ella

New post on Dunia Ella. It is about the Learning Studio. How did we transform all the program into online classes? 

Wednesday, April 21, 2021

Yes You Are

You are the star, the moon, and million other things. 

Even if you do not realize. 

Tuesday, April 20, 2021

Makan Buah Biar Sehat

“Mas, mau pepaya satu, yang ukuran sedang. Lalu jeruk yang kecil-kecil… berapa harganya per kilogram?”

“Jeruk kecil sedang mahal, Non. Lima puluh ribu!”
“Ya ampun, mahalnya…. Ya sudah. Jeruk satu kilo, pepaya satu buah….”
“Buah naga, nggak mau?”
“Ya boleh. Satu saja, ya.
”Apa lagi? Semangka?”
“Oh ya. Mau!”
“Siap!”
Aku segera memilih buah-buah yang diminta. Khusus untuk pelanggan satu ini, kantong plastik hanya boleh satu saja, yang besar. Seringkali bahkan dia membawa kantong belanja sendiri.
“Jangan kebanyakan pakai plastik, Mas! Polusi!” katanya suatu hari.
Hari ini dia sepertinya lupa membawa tas belanja, akhirnya pasrah menerima kantong plastik dariku.
“Total Rp120 ribu ya, Non. Bonus jambu kristal buat Non.”
“Wah, terima kasih, Mas!”
Dia mengulurkan uang. Tersenyum. Mengucapkan terima kasih lagi, dan menutup jendela. Lalu menjalankan mobil merahnya. Aku selalu suka caranya berbelanja: tidak turun dari kendaraan, tapi juga tidak ribut menawar ini itu. Dia hanya menyebutkan yang dia mau, menunggu, lalu membayar. Beres. Sesekali dia berkomentar soal harga buah-buahanku yang menurutnya mahal. Tapi toh dia tetap bayar tanpa menawar. Sambil tertawa-tawa pula.
“Orang kaya itu,” kata Sakera.
“Atau orang baik hati,” sanggahku.
“Orang baik hati yang kaya,” Sakera tertawa.
“Cantik lagi…,” tanpa sadar aku melanjutkan.
“Oalah Mo… Padmo… ojo nganti kowe tresno. Iso sengsoro awakmu!”
“Tresno opo to?”
“Haaaa kuwi… matamu mengatakannya…, “ Sakera menirukan syair lagu dangdut. “Kemarin kamu kasih dia bonus apel. Tadi jambu kristal. Jaaaan… cinta memang buta… rugi dikit nggak apa-apa….”
“Hus!”
Sakera tertawa panjang. Sialan. Aku cuma tertawa masam, mengeplak kepalanya dengan karton kemasan buah pir. Soalnya memang hatiku rasanya beda. Setelah melayani si Nona, aku pasti gembira.
Tadi, mobil merah itu berhenti lagi di depan warung buah kami.
“Padmo! Padmo!”
“Opo to?”
“Itu… kekasihmu… Nona manis pujaan hatimu,” Sakera kedip-kedip menyebalkan.
“Wasuuuuu,” teriakku sambil buru-buru memakai sandal. Aku siapkan senyum paling menawan sambil menghampiri jendela yang terbuka. Wah, tumben dia tidak menyetir sendiri.
“Mas! Mau pisang ambon.”
“Apa lagi, Non? Sawo lagi bagus-bagus, lho.”
“Oh ya? Ya deh, sawo satu kilo ya.”
“Siap. Apa lagi, Non?”
Dia menengok ke yang di belakang kemudi. Ada sosok laki-laki tampan. “Sayang, kamu mau apa?”
Tiba-tiba hatiku nyeri. Aku tidak mendengar jelas apa yang mereka percakapkan. Dari tempatku berdiri, kulihat laki-laki itu tertawa sambil mengelus tangan kiri si Nona. Yang lalu tertawa senang. Saat wajahnya berbalik ke arahku, sisa tawanya masih ada. Aduh. Sakit hatiku.
“Tambah belimbing, Mas. Satu kilo, ya. Ada yang mau nurunin tensi he-he-he.”
Aku seperti menjelma robot. Tidak menyahutinya, langsung berbalik menyiapkan pesanannya. Apa tadi? Pisang ambon? Sawo? Belimbing? Hmm… belimbing untuk “si sayang”, apa perlu aku ambilkan yang busuk saja?
“Ini, Non. Semua Rp85 ribu.”
“Ok. Tunggu, Mas.”
“Nanti dulu. Coba hitung ulang dulu, Mas. Kok mahal sekali, buah hanya sedikit begitu?” Suara laki-laki itu. Kaku.
Aku jadi emosi. Dia pikir aku menipu? “Gimana, Non?”
Kulihat perempuan itu sudah mengeluarkan uang dari dompet. Gerakannya terhenti. Ragu.
“Mas, hitung dulu! Sepertinya salah, deh.” Suara laki-laki itu lagi. Galak. Penuh perintah.
Tanpa sadar, aku melotot.
“Tolong hitung lagi ya, Mas, takut salah…,” yang di depanku berkata sambil tersenyum. Senyumnya seperti seember air yang diguyurkan ke kepalaku. Mendinginkan hati. Meredakan marah.
“Pisang ambon Rp30 ribu. Sawo Rp25 ribu. Belimbing Rp30 ribu.”
“Ok. Pas Rp85 ribu,” katanya sambil mengulurkan uang. Senyumnya masih tetap ada. “Terima kasih, Mas.”
“Sama-sama, Non.”
Jendela mobil menutup pelan-pelan. Aku menunggu mobil berlalu.
“Buah begitu saja kok mahal sekali. Kamu harus belajar menawar. Kalau kamu diam saja, percaya saja sama harga dari penjual, suamimu ini bisa melarat tiba-tiba. Jangan-jangan bulan depan penjualnya naik haji. Kok dia panggil kamu ‘non’… dia pikir kamu masih anak kuliahan apa ya?”
Ooohh…. “si sayang” itu suaminya. Sibuk menasihati istrinya. Samar. Tapi aku dengar. Apa katanya? Dia jatuh miskin dan aku naik haji? Hanya gara-gara membayar buah daganganku Rp85 ribu? Lalu, aku tidak boleh panggil “non”? Huh.
Kubanting uang Rp85 ribu di depan Sakera. “Nyoh! Asem tenan!”
“Opo to, kok nesu-nesu?”
“Wong edan. Itu tadi orang gila yang beli buah.”
“Halah itu tadi langgananmu. Kenapa to? Cintamu ditolak?”
“Cinta… cinta… telek pitik! Itu tadi suaminya.”
“Ha-ha-ha-ha… Padmo cemburuuuu….”
Kutinggalkan Sakera yang masih tertawa seperti mabuk miras. Linglung, aku berjalan menjauh dari warung. Entah ke mana. Dadaku sesak. Perempuan baik hati. Kuingat lagi tawanya yang selalu hadir saban kali berbelanja. Perempuan yang manis budi. Selalu tertawa kalau aku mencandainya, mengatakan buah-buahanku dari surga, berkualitas prima. Tawanya menyenangkan. Menghangatkan hati. Lalu aku terngiang lagi ucapan suaminya. Tidak seharusnya laki-laki seperti itu dipanggil “sayang” oleh perempuan sebaik itu. Hatiku seperti beku. Mungkin aku memang cemburu. Rasanya, aku patah hati.

Sunday, April 18, 2021

Kamu

Aku, tak pandai menafsir tenang

Apalagi mencerna diam

Mungkin karena gempita seperti nama tengahku

Semua yang meriah, lebih mudah akrab.

Kamu memang tak selalu senyap

Namun sebagian waktu kau isi bisu 

Dan aku, tak ingin menduga, tak mau menerka.

Aku, menunggu kamu.

Thursday, March 25, 2021

Love - Peace - Joy

"Enjoy your last day of being 46," my boss said after zoom meeting. 

Hmm... iya juga. Hari ini masih 46. Besok ... insya Allah jadi 47. Sudah semakin banyak yaaa angkanya. Hahaha.... 

How's life? It was wonderful. A little hiccup here and there only telling me that it is indeed a wonderful life. 

Kemarin menemukan sebuah diskusi menarik di medsos. Tentang cara kerja semesta. Pernah... sering, malahan... dengar kata semesta mendukung, tapi baru kemarin ini bisa merasakan koneksinya. 

Dalam diskusi itu, dibahas soal energi semesta. Seperti juga sifat Tuhan yang Maha Baik dan Maha Pemurah, semesta dipercaya punya banyak sekali energi positif, kalau nggak bisa dibilang semuanya seharusnya positif. Semesta punya love-peace-joy. Dan jika kita ingin semesta mendukung kita, semua yang kita lakukan harus selaras dengan konsep love-peace-joy itu. 

Kesialan hanya upaya semesta untuk mengatakan bahwa yang kita lakukan tidak sejalan dengan energi alam. Mungkin kita terlalu marah, terlalu dendam, terlalu membenci? 

Hmm....

Boleh percaya boleh nggak, sejak memutuskan untuk hanya berbaik sangka kepada semua di sekitar saya, hanya kebaikan pulalah yang hadir. Bahkan sesuatu yang awalnya terasa seperti sulit dan runyam, akhirnya berlalu juga. Riang gembira lagi. 

Berbaik sangka dan manis budi bahasa ini berlaku untuk semua orang. Kadang memang ada yang memanfaatkan, tapi ya biar sajalah. Itu urusan dia dengan Gusti Allah. 

Pernah nggak merasakan hati yang penuh kehangatan setelah berbagi? Nah, perasaan itu akan membuat ketagihan untuk terus berbagi. Dan herannya, yang dibagi nggak kunjung habis lho. Itu rasanya love-peace-joy. Jadi memang ya, kalau kita bergerak sesuai love-peace-joy... ya hanya love-peace-joy yang menaungi kita. 

Memang, bukan hal mudah melatih diri berpikir positif. Juga bertindak positif. Mencegah untuk tidak berkomentar negatif, susahnyaaaa.... Tapi harus membiasakan diri. Supaya nggak cepat keriput keningnya.... Hahaha.... 

Ini tiba-tiba Aria masuk kamar ibu. Ngintip-ngintip... lalu masuk dan berbaring di sebelah. Rambut kriwilnya bikin geli waktu dia ndusel. Tapi percayalah, di sebelah dia, hidup saya sungguh indah tiada tara. 

Matur nuwun, Gusti Allah, dalem diparingi urip ingkang sae. Matur nuwun. Alhamdulillah. 



Wednesday, March 17, 2021

Yes, You Can

I Just Couldn't Save You Tonight


Living with something that I couldn't see

And somehow fade internally

If you came a long way to get to know me

Or maybe it just meant to be

 

Come here, I just found a new recipe

The flower, the bricks and the sea

My intuition says you will like me

And I don't know where should I be

 

And maybe you wanna be a star

It may seem you wanna be in love

I don't care it taking me apart

But I just couldn't save you tonight

 

Falling in love is a new world for me

Do you wanna be my company?

From thousand of miles you will like gettin' here

No need no anniversary

 

And maybe you wanna be a star

It may seem you wanna be in love

I don't care it taking me apart

But I just couldn't save you tonight

 

And maybe you wanna be a star

It may seem you wanna be in love

I don't care it taking me apart

But I just couldn't save you tonight

I just couldn't save you tonight

I just couldn't save you tonight



(Ardhito Pramono ft. Aurelie Moeremans)

Sunday, February 28, 2021

Semoga... Semoga....

Patah Hati

 

Dari awal, dia sudah mencuri hati saya. 

 

 

Setahun lalu, dia baru saja bercerai. Usai mengambil akta cerai di pengadilan agama, dia temui saya. Kami kenal lewat aplikasi kencan. Saat berjumpa, perut saya seperti dipenuhi kupu-kupu melihatnya begitu tampan. 

 

“Wah, kamu seperti ibu saya, suka Loewe,” ujarnya setelah kami bersalaman. 

 

Laki-laki yang paham soal tas perempuan. Wow. Saya terpesona. 

 

Kami langsung mengobrol akrab layaknya dua orang teman lama. Dia menertawakan saya yang baru sekali itu berani copy darat. Hmm… ada berapa perempuan yang pernah ia bawa dari dunia maya ke alam nyata?

 

Ketika esoknya ia menelepon mengajak makan malam, saya begitu girang hingga hendak meloncat ke bulan. Melegakan bahwa kekaguman saya tidak bertepuk sebelah tangan. Masa bodoh seandainya saya bukan perempuan pertama yang pernah hadir dalam hidupnya.  

 

Dia tinggal di kota lain, sekitar 400km dari rumah saya. Jadi, kami jarang bertatap muka. Kami terkendala jarak untuk saling mengenal dan menyelami hati satu sama lain secara langsung. Saya juga paham dia masih perlu menyembuhkan luka hati dari pernikahan yang gagal. Namun jujur, harapan saya sangat tinggi bahwa hubungan ini akan berhasil. 

 

Kemarin, dia berkunjung. Menjemput di kantor, sikapnya sangat manis, membuat saya jatuh cinta bertubi-tubi. Sungguh sulit menahan diri untuk tetap tenang dan tidak vulgar menunjukkan perasaan saya yang berbunga-bunga. 

 

Duduk di restoran, dia buka daftar menu, langsung menunjuk satu masakan. “Kamu pasti mau pesan ini.” 

 

Saya mengangguk sukacita, makin terpukau bahwa dia ingat makanan kesukaan saya. 

 

Namun, ketika pesanan datang, bencana terjadi. Pelayan tanpa sengaja menggulingkan gelas. Airnya tumpah, mengenai sebagian celananya. 

 

Refleks dia berdiri. 

 

Sambil memaki. Kasar sekali. 

 

Saya terkejut. 

 

“Bangsat!” teriaknya lagi, kali ini ke arah pelayan yang tergopoh-gopoh membersihkan gelas yang jadi sumber keributan. Sekali lagi, dia memaki. Lebih kasar. 

 

Seketika, saya patah hati. 

 

Telinga saya pedih mendengar makian. Nurani saya nyeri melihat pelayan yang sudah mengucap maaf puluhan kali ia teriaki begitu keras. Toh, itu hanya air putih. Tidak akan meninggalkan noda dan bisa segera dia keringkan di mesin pengering tangan di toilet. Dia tak perlu marah tanpa kendali. 

 

Tiba-tiba saya melihat kenyataan tentang sifat aslinya yang selama ini tidak bisa saya deteksi lewat percakapan-percakapan telepon yang nyaris tiap hari kami lakukan. 

 

Saya membisu. Patah hati luar biasa. 

 

Ketika sadar saya ada di sana dan menonton semua huru-hara, dia gumamkan maaf beberapa kali. Dia pasti melihat raut wajah saya yang kacau balau, mewakili perasaan saya saat itu. Suasana telanjur rusak. Saya minta diantar pulang.

 

Terus terang, saya kecewa. Sempat terlintas di benak, dialah pelabuhan terakhir. Tapi sungguh, sulit bagi saya membayangkan harus menyaksikan banyak keributan. Laki-laki pemarah bukan dambaan saya. Makian keji dan umpatan bengis tidak masuk daftar hal yang bisa saya toleransi dalam menjalin hubungan. Mengubah dia? Memangnya dia kayu yang bisa saya pahat sesuka hati? 

 

Saya putuskan, semua selesai. Total sudah patah hati saya. 

 

Saat ini, PR terbesar saya adalah membujuk perasaan agar sepakat menerima buah pikiran. Batin saya masih belum rela menjauh darinya, meski otak telah berkali-kali menampilkan tombol “off”. 

 

Rasanya, menyelaraskan kepala dan hati tidak pernah sesulit sekarang.






Tulisan ini saya masukkan untuk tugas kelas menulis, weekend kemarin. Bu gurunya - penulis ternama- bilang, tulisan ini menarik dan dia ingin tulisan ini dikembangkan menjadi sesuatu. Ah... bangganya. Doakan ya beneran jadi sesuatu. 

 

Wednesday, February 24, 2021

Bisa Jadi

Mungkin memang seharusnya begini. Selalu ingin memaafkan, selalu ingin menerima kembali. Karena cinta yang begitu besar. Mungkin....

Monday, February 15, 2021

At The Moment....

 I miss talking to you, until we lost track of time. I miss telling you about my daily activities. I miss discussing the book I read to you. I miss listening to your stories. I miss your smile and your laugh. 

I miss you.  

Thursday, February 11, 2021

Cerita Tentang Cerita

Meskipun saya bukan pemakan mie instan... tapi ini seru banget. Ella & Indomie.


Sunday, February 07, 2021

Friday, February 05, 2021

Langkah Berikut

Hampir setahun menjalani hari bersama mentor ketiga, akhir-akhir ini saya mulai mempelajari lagi "tabel untung rugi" yang saya buat. Saya sadar bahwa pasangan bukan art and craft project. Dia bukan kertas origami yg bisa saya lipat sekehendak hati. Saya tidak punya pilihan selain menerima dia as he is. Baik dan buruknya adalah satu paket yang tidak bisa dipilah-pilah. Karena itu, saya merasa perlu "mencatat pros and cons" supaya betul2 memahami dia. Tepatnya supaya nalar saya tetap berjalan seperti seharusnya. 

Karena tempat tinggal kami berjarak lebih dari 400km, kami jarang berjumpa. Pandemi juga tidak mendukung kami sering-sering tatap muka. Jadi memang agak sulit bagi saya bisa mendeteksi sifatnya lebih cepat. Meskipun kami mengobrol nyaris saban hari, tetap ada hal-hal yang baru tampak ketika kami bersama secara fisik. Pengalaman lama menjalani LDR di masa lalu mengajarkan saya untuk memanfaatkan betul saat berjumpa yang sangat jarang. Jejak kunjungannya lalu melengkapi "tabel pro and cons" itu. 

Harus saya akui bahwa sejauh ini kecenderungannya adalah "tidak". Semakin hari, saya semakin merasa jauh darinya. Ternyata, ada hal-hal yang tidak bisa saya toleransi. Oh, dia selalu manis, baik tutur kata maupun tindakan. Banyak perbuatannya yang membuat saya jatuh cinta bertubi-tubi. Namun ada satu hal yang tidak bisa saya terima dari sifatnya. Karena itu, saya harus jujur akui, bahwa saya bukan orang yang tepat untuk dia. Saya tahu saya tidak bisa mengubah dia. Memangnya dia kayu yang bisa dipahat? 

Saya masih setia pada tujuan saya untuk menemukan pelengkap kebahagiaan dalam perjalanan saya mencari pasangan meneruskan hidup. Ketika saya mendapati bahwa dia bukan orang yang bisa menggenapkan rasa bahagia saya, saya harus membiarkannya menjauh. 

Kecewa? Tentu saja. Terus terang saya sempat berharap banyak (sampai saat ini pun masih terus berharap). Tadinya saya pikir kami ini seperti mur dan baut. Kadang harus diputar supaya kami makin kuat. Itulah yang terjadi, tapi dalam prosesnya beberapa kali tautan terasa mengendor. Saya masih berharap dia bisa berubah, suatu saat nanti. Hingga mur dan baut ini bisa kencang dan berfungsi sempurna. Tapi saya pun paham harus bersiap jika dia tak hadir lagi di hari-hari saya. 

Saat ini PR terbesar saya adalah membujuk perasaan agar bisa menerima buah pikiran dengan ikhlas, agar saya bisa tetap fokus pada tujuan. Hati saya masih belum rela menempatkan dia hanya di zona perkawanan saja. Rasanya, menyelaraskan pikiran dan hati tidak pernah sesulit ini. 


Wednesday, January 27, 2021

Berhak Bahagia

Seorang teman sedang menyelesaikan perceraian. Urusan sidang cerai beres, sekarang dilanjutkan dengan sidang pisah harta. Menikah 20 tahun lebih, tentu banyak yg harus dibagi. Saya hanya bisa mendoakan agar semua segera usai. Amin.

Saya pernah mengalami gonjang ganjing serupa, sekitar 16 tahun lalu. Saya yg sangat benci konflik, berupaya melakukannya macam operasi senyap, tanpa suara berusaha meminimalkan huru hara dengan mengondisikan ayahnya Aria menandatangani kesepakatan perceraian. Kami memang tidak punya harta benda yang layak diperebutkan. Yang penting, hak asuh Aria harus jadi milik saya. Dengan surat kesepakatan itu, hakim pengadilan tidak bisa banyak intervensi. Kalau pasangan sdh bulat tekad hendak bercerai, mau didamaikan dari sisi mana pun juga tidak akan bisa. Di kemudian hari, saya sangat bersyukur mencantumkan perihal hak asuh di dalam tuntutan perceraian sehingga pasal itu pun ada di akta cerai. Krn tanpa itu, saya akan diharuskan punya izin tertulis untuk hal-hal terkait Aria. 

Perceraian memang tidak pernah jadi perkara mudah. Ketika secara hukum semua sudah beres, bisa saja masih ada hal di luar itu yg harus diselesaikan. Yang paling sulit tentu menyangkut perasaan,  sesuatu yg intangible. Rasanya pengen garuk-garuk aspal tiap selesai sidang. Atau ngrawus hidung mantan saat dicecar pertanyaan hakim. Bahkan yang proses hukumnya berlangsung adem ayem pun, di dalam hatinya nggak tahu kan.... 

Saya baru merasa nyaman menghubungi (dan dihubungi) keluarga mantan setelah sekitar 10 tahun berpisah. Sebelumnya, selalu ada bayang-bayang entah apa, yang membuat saya resah justru karena pernah menjadi bagian keluarga. Meskipun tiap tahun saya akan berkunjung saat lebaran, saya tidak akan bisa berlama-lama di sana. Rasanya tidak ada posisi yang pas untuk saya di antara mereka, bahkan untuk anak saya yang punya hubungan darah dengan mereka. Kenyataan bahwa foto pernikahan saya masih terpasang gagah di salah satu rumah, ikut memengaruhi rasa campur aduk ini. 

Setelah 10 tahun, anak saya bisa memahami situasi ayah dan ibunya. Saya minta dia memilih, mau tersambung atau tidak? Mau berkomunikasi atau tidak? Dia sudah cukup besar untuk bisa melakukan apa-apa sendiri, saya tidak perlu lagi jadi perantara. Kalaupun ia ingin berkunjung, saya bisa menyediakan kendaraan dan supir untuk mengantarnya. Kalau tidak, ya sudah. Ternyata Aria memilih yang terakhir. Dia tidak butuh keluarga selain yg membesarkannya. Saya mungkin perlu merasa beruntung bahwa secara finansial kami memang merdeka. Tidak ada campur tangan sedikit pun dari pihak ayahnya. Sehingga ketika Aria memutuskan untuk tidak lagi terkoneksi dengan keluarga ayahnya, saya seperti terbebas dari beban. Plong. 

Pengalaman itulah yang membuat saya mudah berempati pada para ibu yang baru saja bercerai. Ada hal yang sulit dipahami oleh mereka yang tidak mengalami. Kondisi hati perempuan yang ditinggal menikah lagi dengan yang ditinggal meninggal pun berbeda. Sama-sama sedih, tapi dalam spektrum yang tidak sama. Jadi memang komunitas ibu tunggal menjadi tempat tepat untuk curhat. Tidak akan ada yang menghakimi. Kami semua akan saling menyediakan telinga. 

Sebelum ini, saya tidak pernah terlibat dalam komunitas apa pun. Tapi di komunitas Ibu Tunggal Indonesia ini, saya seperti terpanggil untuk bertahan dan kadangkala ikut berperan. Banyak yang butuh bantuan. Dari mulai pertolongan melaporkan KDRT pada polisi, hingga sesederhana membelikan kado ulang tahun untuk anak yang baru saja kehilangan bapak. 

Program empowerment juga macam-macam. Meskipun belum skala besar, beberapa kelas sudah terlaksana, membekali para ibu tunggal kemampuan untuk mencoba mandiri. Misalnya sebagai pengusaha makanan atau penulis.

Yang membanggakan adalah ketika ada ibu yang dulu pernah terpuruk, sekarang bisa tegak berdiri menjadi tonggak kuat bagi anaknya. Salah satunya pernah menelepon saya di pagi buta, suaranya dilatarbelakangi deru air sungai. Saat itu, dia sudah berencana hendak terjun, bunuh diri. Kami lalu berbicara. Ngobrol ngalor ngidul tanpa tema, sedapat yg bisa saya bicarakan untuk menenangkan dia dan yang penting mengurungkan niat mengakhiri hidup. Lega sekali ketika dia akhirnya mau pulang ke rumah. Saya ingat, saya bilang, "Kalau kamu bisa melewati ini, kamu akan bisa melewati apa pun dalam hidupmu di masa depan." 

Tak lama, si ibu memutuskan untuk sekolah lagi. Dia titipkan anak pada orang tua, dan menjalani weekend commuting home, karena ia harus bekerja sambil menyelesaikan sekolah di kota yang jaraknya 6 jam berkendara dari tempat tinggal orang tuanya. "I did what you told me, mbak. Terima kasih," katanya suatu kali. Saya terus terang tidak ingat jelas bagian mana yang mengesankan dia. But it didn't matter. Her happiness today is what matters the most. 

Sekarang, dia sudah membuka kantor konsultan sendiri. Masih terpisah jarak dengan anaknya, tapi karena secara finansial sudah membaik, ia lebih leluasa mengajak buah hatinya piknik. Kedekatan antarmereka selalu menyenangkan dilihat. Masa lalu betul-betul sudah terkubur dan hanya masa depan cerahlah yang harus disongsong dengan bahagia. Kebahagiaan mereka yang saya lihat dari foto-foto, senantiasa berhasil menghangatkan hati saya. Sekali lagi saya percaya, semua orang memang berhak bahagia.  


Tuesday, January 19, 2021

Kamu Bisa, Saya Bisa

Percayalah bahwa bahagia adalah tanggung jawabmu sendiri. 

Ada satu hal yang saya sesali karena tidak saya lakukan, soal ayahnya Aria. Waktu itu, kami sedang makan malam yang (seharusnya) romantis di sebuah restoran mahal. Dia menyampaikan ide berpoligami. Saya sungguh marah, dan ingin segera pulang. Saya bisa pulang. Saya tahu jalan. Saya bisa nyetir mobil. Okay, kalau kunci mobil dia pegang, saya bisa naik taksi. Saya berani. Dan saya mampu membayar ongkos taksinya. 

Tapi, saat itu saya tidak pulang. Saya urung karena dia bilang, "Please stay. Let me finish my part." 

Dan saya patuh. Mematuhi kata-kata suami (saat itu). Berusaha (tetap) menghormatinya. Mendengarkan semua yg dia mau. Yg dia harap. Yg dia ingin. Tapi tidak saya dukung. Saya dengarkan dengan rasa sakit hati yg terasa tidak nyaman bahkan hingga hari ini. 

Di kemudian hari, ketika rencana poligami itu dia lakukan, saya sudah tidak di sebelahnya. Jadi, saya nggak ikutan.... 

Kami masing-masing sudah move on. 

Tapi, ternyata saya tidak lupa kejadian itu. Dan masih sering menyesali, kenapa waktu itu saya tidak pergi saja. Supaya tidak perlu mendengar detail rencananya yang saya benci. Sampai saat ini, 17 tahun setelahnya, saya masih ingat perasaan sakit hati saya ketika itu. Dan karena rasa itu tersimpan di bawah sadar, sering muncul tanpa permisi. Bikin saya nggak tahu mau apa, selain menyesal kenapa dulu nggak mengikuti kata hati untuk pulang duluan. 

Pelajaran berharga yg saya ambil: you have all the right to leave anytime. Saya tidak perlu tinggal hanya untuk menjaga perasaan orang lain. Siapa pun dia. 

Saat ini, jika ada hal yg tidak berkenan di hati, sudah pasti saya akan pergi. Nggak perlu pikir-pikir lagi. Bahkan jika itu mengecewakan orang yg saya suka atau juga yg pernah saya sayang. Ya tidak apa-apa. Saya akan tetap pergi kalau saya pikir dia melakukan hal yang tidak menyenangkan saya. Bukan kewajiban saya membahagiakan dia. Bahagia itu tanggung jawab masing-masing. 

Karena bahagia saya adalah tanggung jawab saya sendiri, saya akan mencarinya. Dan saya yakin bisa menemukannya. Sendiri. Meskipun artinya saya harus meninggalkan orang yg (pernah) mengisi hati dan hari saya. 

Kamu, juga bisa begitu. Dan boleh. 

Monday, January 18, 2021

Sekali, Selamanya

Sudah cukup lama kami tidak ngobrol. Sudah cukup lama tidak ada lagi berbalasan teks yang intensif di antara kami.

Salah satu kehilangan yang aku rasakan dengan tidak adanya kesempatan berkomunikasi dengannya adalah perdebatan atau ketidaksepahaman yang kemudian mencerdaskan dan menyatukan.  Betul. Ketidaksepahaman. 

Lho? Bukankah sebaiknya untuk berteman dengan seseorang seharusnya ada kesamaan pandangan? Tidak seratus persen, ternyata.

Kami memang punya "platform" yang berbeda, meskipun rasanya sistem nilai kami serupa. Aku lebih melihat sesuatu di permukaan, cenderung nyinyir. Caraku menilai sesuatu sering hitam-putih, banyak dipengaruhi lingkungan kawan-kawan yang sejak dulu selalu dari kalangan yang lebih religius. 

Sementara dia sangat moderat, tidak menghakimi, karena ditumbuhkan di lingkungan yang lebih memberikan ruang bebas. 

Jadi seringkali kami berbeda pendapat dalam melihat suatu hal. Paling tidak pada awalnya.

Tapi rupanya ketidaksepahaman itu yang membuat kami akhirnya saling berbagi masukan saat ngobrol. Perbedaan itu bisa ditelusuri hingga mengerucut ke posisi yang bisa diterima oleh masing-masing. Dan ini, terutama untukku, adalah proses pembelajaran yang luar biasa.

Kenyinyiranku berkurang banyak karena dia. Kemampuanku melihat dari kacamata yang lain rasanya jadi lebih baik. Aku bisa menerima pandangan-pandangannya yang liberal (meski masih sampai batas tertentu). Tapi yang lebih penting, itu membuat belahan otak kananku bekerja lebih seimbang dengan otak kiriku yang selama ini dominan. 

Bayangkan saja, tidak pernah dalam hidupku seseorang mengajakku ke ruang teater, sesuatu yang tidak pernah kuapresiasi selama ini. Atau hadir di acara-acara yang sebelumnya aku anggap remeh-temeh, namun setelah kupikirkan punya sisi kuat membentuk jaringan pertemanan.

Selama ini hanya bagian otak kiriku yang lebih banyak diasah. Bagian kanan terlantar. Sampai dia hadir memolesnya.

Mencerdaskan bukan?

Aku harap sih dia pun mendapatkan tambahan kecerdasan dari komunikasi kami selama ini. Paling tidak secara spiritual. 

Jadi kurasa wajar kalau aku sekarang merasa kehilangan. Kehilangan sesuatu yang menyatukan kami dulu. Sesuatu yang harus kutemukan kembali. Entah di mana. Di dia? Mungkin sudah tidak bisa. Karena dia saat ini sedang mengarah dan mengharapkan sesuatu yang lain. Kuharap, sesuatu itu mudah-mudahan tetap mencerdaskannya.




A dear good friend sent this just a while ago. A very nice write up, which I know came from his heart. 

Thank you. You know who you are.

Wednesday, January 13, 2021

Wishing....

 I hope you can see that I care. I do. Really. 

Sunday, January 10, 2021

My Duty, Your Duty

Seminggu terakhir ini, linimasa media sosial saya lumayan menyesakkan dada. Salah satu teman dari lingkaran penulis wafat. Laki-laki, usianya 40 tahun. Teman-teman dekatnya curiga setelah dia dua hari tidak menyahuti semua pesan wa. Mereka lalu mendatangi kediaman almarhum, di salah satu apartemen di Jaksel. Didampingi satpam dan polisi setempat, mereka dobrak pintu. Almarhum masih bernyawa, namun sudah tidak sadarkan diri, tergeletak di samping tempat tidur. 

Beliau meninggal di RS. Di laporan kematian, penyebabnya adalah serangan jantung. 

Innalillahi wa innailaihi rojiuun. 

Salah satu komentar di beragam postingan yg saya sempat baca adalah mengapa dia tidak menghubungi siapa-siapa saat lemas? 

Lalu ada yg menjawab, "Mungkin karena dia melihat penjemputnya sudah hadir." Dan jawaban ini menuai ikon airmata cukup banyak. 

Mendiskusikan kejadian tersebut, teman saya berkomentar, "Kalau sudah ada di fase itu, memang rasanya yaaa... biasa saja. Tidak ada rasa sakit. Perasaan marah, dendam, terburu-buru juga nggak ada." 

Dia lalu cerita pengalaman berada di antara hidup dan mati, ketika kehabisan darah setelah berjibaku melawan perampok di rumahnya bertahun silam. 

"Luka saya cukup parah. Saya nyaris kehabisan darah. Tubuh saya dijahit di mana-mana. Total 70 jahitan kayaknya. Tapi saya tidak merasa sakit. Saya malah merasa nyaman. Eh... tahu-tahu saya bangun lagi. Sehat lagi. Ah... padahal sudah enak lho saat itu," katanya. 

"Tandanya tugasmu belum selesai."

"Dan sampai sekarang saya belum paham tugas saya apa...." 

Memang, banyak sekali yg bilang bahwa kita akan meninggalkan dunia fana begitu tugas kita tunai. Saya juga percaya itu. 

Kepastian hadirnya Aria (dari dua garis di test pack), saya terima saat saya sedang mengumpulkan surat-surat untuk gugatan perceraian. Lima tahun saya dan ayahnya menanti, anak itu tak kunjung tiba. Jadi, ketika dia akhirnya hadir saat saya sendiri, saya gagah berani bikin kesimpulan sepihak bahwa tugas saya  dalam hidup adalah menjadi ibu, dan bukan sebagai istri. 

Ketika sampai saat ini pun saya masih sendiri, semakin saya yakin bahwa memang saya harus fokus pada Aria saja. Sebaik-baiknya menjalankan tugas di dunia. Yuk lah.  

Kemarin pembicaraan tentang tugas ini muncul saat sahabat saya mengeluhkan soal pernikahannya. 

"Sulit ya, kehidupan pernikahan itu."

"Campur-campur pastinya, mbak. Namanya rumah tangga. Kalau enak semua... hmm... itu Rumah Makan Pagi Sore." 

"Trus harus gimana dong?"

"None said it is easy. Tapi jangan tanya gue. Gue kan drop out." 

"Ya tapi lu punya anak. Gue kan enggak."

"Mungkin jadi ibu nggak termasuk dalam daftar tugas lu, mbak." 

"Trus, tugas gue apa?"

Rasanya kita memang harus menemukan tugas kita di dunia. Apakah itu yang dinamakan tujuan hidup? Bisa jadi. Karena ketika kita tahu tujuan kita, akan lebih mudah bagi kita memetakan jalan menuju ke sana. Ya nggak sih? Passion... true calling... hayo... cari deh sampai ketemu. 

Saya jadi ingat lagi beberapa hal setelah bertahun lalu memastikan diri menjadi orang tua tunggal. Semua gonjang-ganjing hidup saya ternyata tujuannya memang hanya satu: Aria. Beli rumah, beli mobil, liburan... semua selalu arahnya untuk si semata wayang kesayangan itu. 

Yang terasa adalah hubungan antara tujuan hidup saya dengan pekerjaan. Selain bahwa saya bekerja untuk menafkahi Aria, saya selalu memasukkan dia dalam negosiasi jika mendapat tawaran pekerjaan baru. Soal asuransi kesehatan, misalnya. Dulu yang berhak dapat untuk keluarga hanya laki-laki, jadi saya selalu nego agar Aria juga kebagian asuransi dari kantor. Kalaupun tidak bisa, gaji saya harus ditambah supaya bisa membeli asuransi kesehatan sendiri. Lalu saya juga akan nego tentang waktu kerja yang fleksibel, terutama masalah kehadiran. Saya selalu mau menyiapkan sendiri bekal sekolah Aria, jadi saya perlu waktu buat beres-beres, yang karenanya bikin saya baru bisa berangkat paling pagi jam 8. Kalau jam kantor mulai jam 8 ya nggak mungkin.... 

Tiba saat jabatan menuntut saya harus sering bekerja di akhir pekan dan keluar kota atau keluar negeri. Saya selalu nego bahwa semua jadwal di luar jam kantor normal harus mengikuti kegiatan sekolah anak saya. Atau jika anak saya sakit, saya akan boleh menemaninya saja, dan menunjuk siapa pun agar menggantikan saya bertugas di luar kantor, lalu perusahaan tidak akan mengenakan sanksi apa pun. Semua detail macam itu, yang mungkin tidak jadi permintaan pegawai lain, buat saya penting. Jadi semua jelas hitam di atas putih. Alhamdulillah selalu berhasil. 

Pernah ada satu perusahaan yang menarik sekali dinamika kerjanya menawari saya untuk bergabung. Saya sudah bersemangat. Namun, ketika bertemu petingginya, ia bertanya, "Kalau anakmu sakit, dan saat itu ada event. Kamu pilih yang mana?" 

Tanpa harus menjawab pertanyaan itu, saya langsung memutuskan bahwa perusahaan itu bukan untuk saya. Seorang atasan, perempuan pula, yang mengajukan pertanyaan mancing-mancing kayak gitu menurut saya menunjukkan kantornya yg nggak jelas.... Saya kerja untuk anak saya. Saat anak saya sakit dan saya nggak bisa bareng dia, tujuan kerja saya nggak tercapai dong. Salah? Biarin. Hehehe.... Mohon maaf sini sih fokusnya sudah pasti, kan sudah paham tujuan hidupnya.... 

Saat ini, ketika saya punya beberapa anggota tim perempuan yang punya anak, saya pun selalu memberi mereka ruang seluasnya untuk lebih terlibat dengan buah hati mereka. Saya senang saat salah satu di antara mereka akhirnya memilih full WFH di Bandung setelah melalui diskusi panjang dengan saya. Dia legowo menerima gaji lebih kecil, tapi setiap hari bisa melihat perkembangan putri kecilnya. Pilihan yang saya pikir lebih masuk akal ketimbang gaji full tapi karena pandemi jadi susah commuting. Belum lagi harus tes swab setiap kali kembali ke kantor dan juga ada kecemasan dia membawa virus saat pulang.  

"Saya jadi ingat lagi, waktu di kondisi mau mati itu, rasanya enak betul lho. Mungkin karena nggak mikir kewajiban ya. Nggak ada pikiran lain selain damai." 

"Hmm... gitu ya?"

"Iya. Nggak percaya? Mau coba?" 

"Sambit nih, pakai bolu kukus." 

Lalu dia tertawa, kayaknya senang banget bisa godain saya. 

Ah... dengar suara tawanya, kok saya lalu berharap bahwa salah satu tugasnya di dunia adalah selalu mengajak saya tertawa :)  Gapapa lah modus dikit ya kan.... Hehehe. 

Saturday, January 09, 2021