Thursday, December 31, 2020

Bye 2020

Today is the last day of 2020. 

How was it? 

Tahun ini dengan segala kerusuhannya tetap menarik buat saya. Masih gegap gempita. 

Career wise, not bad. 

Life wise, not bad either. Banyak masalah... krn kita manusia. Kalau banyak wijen, kita sudah jadi onde-onde. 

Pandemi sempat memunculkan "ide" untuk uninstall 2020... tapi, tnyt ada hal manis yang mengurungkan niat itu 100%: bumping into someone that spark my soul. 

So, 2020 wasn't that bad after all, and I am so ready for 2021. Bring it on!



Wednesday, December 30, 2020

It is Something Else....

"Sebentar, ya, saya masukkan anak-anak dulu. Call you again later. Take care." 

Dan Dewo akan memutuskan sambungan telepon. Dira paham, itulah akhir dari percakapan mereka hari itu. Paham sekali. Karena selama ini memang selalu begitu. 

Bercakap di telepon dengan Dewo sebetulnya selalu dinanti Dira. Biasanya, Dewo akan menelepon sekitar pukul 6.30, atau paling lambat 7.15. Ia akan menelepon sambil membawa anjing-anjingnya berjalan-jalan. Dan percakapan mereka pun kemudian diselingi kesibukan Dewo mengurus Loco, Leo, Fox, dan Chikita di sepanjang jalan. Empat anjing itu diadopsi Dewo sejak lama dan selalu disebut sebagai "anak-anaknya".  

Dira akan mendengar Dewo bertegur sapa dengan para tetangga. Salah satu disebut Dewo sebagai Pak RT. Biasanya akan terdengar juga suara mbok Siti, pedagang buah yang selalu merayu Dewo membeli pepaya atau pisang yang katanya ia panen dari kebun sendiri. Jarang sekali Dewo melewati tempat jualan mbok Siti tanpa membeli apa pun. Meskipun Dewo sering jadi bingung karena persediaan buah di kulkas masih cukup banyak. Beberapa kali akan ada panggilan, "Pak Dewo... Pak Dewo.... " yang dijawab Dewo dengan bahasa Jawa. Halus dan sopan sekali, hal yang sangat mengesankan di telinga Dira. 

Seringkali Dira harus diam cukup lama, ikut mendengarkan anak-anak yang mengobrol seru tentang anak-anak Dewo yang berkaki empat itu. Mereka akan bertanya macam-macam, dan Dewo akan menjawab semuanya dengan sabar, seringkali bahkan sengaja berhenti dari acara jalan-jalan pagi. Dira tentu jadi ikut menikmati suara Dewo yang berat, menjelaskan satu persatu tentang Loco yang harus diberi sampo khusus agar bulunya tetap mengilap, Leo yang hanya mau makan sayur-mayur, lalu Fox yang hanya bisa tidur setelah dipeluk. 

"Ini namanya Chikita, satu-satunya yang betina. Dia harus selalu dirantai."

"Galak?"

"Tidak. Dia hanya harus diikat supaya tidak kabur dan membunuh ayam. Tidak bisa juga pakai tali biasa, harus rantai besi, supaya tidak dia gigit hingga putus." 

"Hiiii...." Dira akan mendengar suara anak-anak yang berseru-seru, antara ngeri tapi juga penasaran. 

"Nggak apa-apa, dia nggak menggigit manusia, kok," suara Dewo terdengar tetap sabar. Dira membayangkan Dewo bercakap dengan anak-anak sambil mengelus anjing-anjing kesayangannya itu. 

Sekitar 10 hingga 15 menit kemudian, barulah Dewo akan berbicara dengan Dira lagi. Artinya, dia sudah beranjak melanjutkan jalan paginya.  

"Di, masih dengerin saya?" 

"Hahaha... iya... masih... sudah selesai ceritanya sama anak-anak?" 

"Iya... mereka selalu suka lihat Chikita."

"Karena imut dan cantik?"

"Betul. Meskipun tingkahnya kalau dilepas seperti iblis... hahahaha...."

Lalu Dewo akan menceritakan lagi awal-awal berjumpa anjing berwarna putih itu. Mungil dan manis sekali, dengan mata bulat yang meluluhkan hati. Namun memang Dewo tak punya pilihan selain merantai anjing manis itu dengan rantai besi karena beberapa kali Chikita melepaskan diri, kabur, lalu membunuh ayam, kucing, dan burung peliharaan tetangga. 

"Entahlah, saya nggak paham kenapa dia bisa begitu sadis," kata Dewo ketika menceritakan dia harus mengganti uang seharga hewan-hewan yang mati.  

Dira belum pernah bertemu langsung dengan anjing-anjing Dewo. Tapi karena sering melihat foto dan mendengar cerita, dia seperti sangat akrab dengan mereka. Dewo bangga sekali pada anjing-anjing itu, yang memang semakin hari semakin tampak sehat. Berubah jauh dari kondisi awal ketika diselamatkan dari jalanan.



(Bersambung)


 

Saturday, December 19, 2020

Being a Secret Santa

Setiap tahun, ada panitia kecil di FB yg mengoordinir hadiah untuk anak2 panti asuhan. Waktu lebaran, utk panti asuhan muslim. Krn sekarang menjelang Natal, tentu hadiahnya untuk anak2 panti asuhan Kristen. 

Nggak pernah terbayang bahwa memberi hadiah kepada anak panti asuhan akan repot dan rusuh. Ya kan? Krn kita terbiasa ngasih barang ombyokan. Yg biasa saya lakukan adalah tanya jumlah anak, dan beli barang sejumlah itu. Masing2 anak dapat satu. Beres. 

Itu yg tidak dilakukan oleh teman2 di Program 1 Kado 1 Anak. 

Untuk program ini, anak2 di panti akan ditanya ingin hadiah apa. Lalu nanti para donatur akan diberi nama anak dan wish list dia. Nggak... nggak ada yg minta mobil. Anak2 itu cukup manis utk hanya minta sepatu atau tas atau pakaian. Lalu nanti donatur sendiri yg akan mengirim kado2 (yg sdh dibungkus rapi dan dikasih kartu) ke panti asuhan. Kado2 ini akan dikumpulkan, untuk nanti bersama-sama dibuka. 

Ada videonya. 

Lihat wajah anak2 itu... priceless. 

Buat kita, terima kado adalah hal yg biasa. Kalau kita ulang tahun... sejak kecil dulu... kado yg datang bisa bertumpuk. Sambil capek bukanya. Ya kan? Senang iya... tapi ya sudah. Kita tahu kita akan dapat kado lagi. Entah tahun depan saat ulang tahun lagi, atau malah kapan2 sepanjang tahun. 

Buat anak2 panti... kado dengan kartu yg bertuliskan nama mereka di atasnya adalah barang yg langka. Apalagi isinya adalah yg mereka mau. Seperti sdh saya bilang, mereka selama ini kalau terima hadiah ya seringnya datang dalam bentuk box besaaaaarr... sama semua... dibagi rata. Kali ini berbeda. Mereka tulis yg mereka mau. Mereka nggak muluk2 kok, cuma nulis "sepatu" dan nggak lalu bilang minta Nike Air atau Valentino.... Jadi apa pun yg ada di dalam box, akan mereka terima dengan gembira, dibuka dengan antusias, lalu isinya ditimang dengan penuh sayang.... Penuh kebahagiaan. 

Rasa bahagia yg menular. Lalu akan membuat kita ketagihan utk membahagiakan lagi. Dan lagi. Dan lagi. 

Nggak percaya? Cobain deh. 



Friday, December 11, 2020

Ternyata....

Ngobrol2 dgn Aria seringkali berakhir lucu. Entah kenapa... yg kemarin berakhir dgn saya harus berpikir-pikir lama....

Karena kamarnya sedang dibongkar, banyak barang ditumpuk di mana2. Rusuh dan debu. Tp gara2 banyak barang yg berpindah, jadi ketemu macam2 memorabilia, termasuk foto2 dari zaman dulu. 

"Aku kok nggak ada sama sekali di foto ibu di Amerika ya?"

"Ya kan sudah sering dibilang, kamu terlambat datang."

"Kok bisa, ya?"

"Hmm...."

"Trus juga kenapa Ibu cuma punya anak 1?"

"Hmm... yaaa... dulu sih malah sebenernya nggak mau punya... ha ha ha...."

"Ih, Ibu nyebelin."

Jawaban jujur memang kadang bikin kesal. Tp memang itu yang terjadi. Saya dulu tidak ingin punya anak. Tanpa alasan jelas, nggak pengen punya aja. Apa karena nggak mau tanggung jawab? Malas mendidik? Nggak mau pusing? Rasanya sih bukan. 

Lalu, tadi pagi, di salah satu bacaan, menemukan quote dari Elizabeth Stone:

Making the decision to have a child is momentous. It is to decide forever to have your heart go walking around outside your body.

And that is exactly my reason.


Thursday, December 10, 2020

... is in the making ....

Saya bukan orang yang sabar. Atau setidaknya, saya merasa saya ini tidak sabaran. 

Kalaupun saya berubah menjadi lebih sabar, saya yakin ada pengaruh beberapa mentor dalam hidup saya. 

Mentor pertama adalah Aria. Seperti juga hal2 lain di sekitar saya yang berubah sejak ada dia, level kesabaran saya pun sepertinya semakin tinggi setelah Aria lahir. Darinya, saya tahu bahwa saya akan bisa melewati semua hal dalam hidup jika saya memberi waktu bagi diri saya untuk berpikir sejenak. Saya perlu berhenti sebentar saja, untuk memikirkan langkah selanjutnya. 

Yang kedua adalah mas (mantan) pacar, yg karena kedekatan kami, sebagian besar orang sudah menyangka bahwa kami akan menikah. Oh ya, tentu saja pernikahan juga tujuan saya (saat itu). Bersabar saya menunggu dia melangkah semakin mendekati saya. Ketika hal yang saya inginkan tidak terjadi, saya jadi tahu bahwa kesabaran saya pun ternyata ada batasnya. 

Ternyata, selain menjadi mentor kesabaran, Aria juga mengajari saya soal proses. Dia tumbuh menjadi perjaka tampan seperti sekarang, harus melewati dirawat di rumah sakit ketika bayi, tinggal di NICU bbrp hari (yang membuat ibunya seperti hilang ingatan), menangis di pagar ketika saya ke kantor, tidak mau ditinggal di sekolah, mogok makan, bertengkar dengan saya... dan hal2 tidak menyenangkan lainnya. Berkelindan dengan jutaan kebahagiaan dan kebanggaan yang terjadi. Termasuk banyak kejutan2 kecil yang berhasil sent his mother to the moon. Itulah proses. 

Mentor kedua juga memperjelas makna berproses ini. Kami pernah bergandengan tangan mencoba memetakan perjalanan cinta kami. Kesabaran saya menunggunya lebih dari sepuluh tahun, saya rasa cukup menjelaskan posisi saya. Tapi ternyata proses yang kami jalani berujung pada hal berbeda. Kami tidak bertemu di titik yang sama. Saya patah hati, tentu saja. Bahkan menurut saya patah hati kali ini lebih sulit ketimbang saat perceraian saya dulu. Tapi tentu saja saya bisa move on. Atau akan bisa move on. I can pass this too. I can do, as always. 

Namun, saya tidak merasa rugi menunggu. Seperti juga saya tidak merasa sia2 membesarkan Aria. Dua mentor saya itu, ketika mereka berproses, ternyata mereka juga memberi saya waktu untuk menjalani proses saya sendiri. Pendewasaan, pengetahuan, kebahagiaan, kebesaran hati, dan ketulusan cinta, hanyalah sedikit dari yang saya dapat dari berproses bersama mereka. 

Saat ini, sepertinya saya sedang bertemu mentor ketiga. Menjumpainya ketika saya sudah di titik sekarang dan dia di kondisinya saat ini, betul-betul pengalaman baru yang cukup menarik sekaligus bikin penasaran. Dari awal, meski dia tidak bilang apa-apa, saya tahu dia menuntut saya untuk bersabar dan memberinya waktu seluas-luasnya untuk berproses. Sejalan waktu, sejauh ini saya cukup menikmati prosesnya. Semua terserah saya sebetulnya, mau melanjutkan petualangan ini atau menghentikan saja semuanya. Saya memilih yang pertama, sembari mempelajari apakah memang ini yang saya cari dan saya butuhkan. Dan dari hari ke hari proses ini memang tampak menyenangkan belaka. Ternyata masih banyak hal yang perlu saya pelajari soal hubungan antarmanusia. Menarik. Kami bukan kepingan puzzle yang bisa langsung pas karena sisinya sudah presisi, tapi mudah-mudahan kami seperti mur dan baut yang harus terus diputar sebelum merekat kencang dan berfungsi sempurna. Mudah-mudahan. I can only hope.

Untuk orang2 tertentu yang bertanya, dengan senang hati saya akan menjelaskan pemikiran saya soal proses kami berdua. Tapi jika mereka tetap menganggap kesabaran saya adalah sebuah kesalahan, saya tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Mereka tidak perlu memahami perjalanan hidup saya. Toh, proses yang saya jalani saat ini memang bukan untuk mereka.  

Sunday, December 06, 2020

Pertanyaannya....

Saya sering sekali ingin bertanya, namun karena terlalu banyak berpikir, lalu urung. Banyak juga pertanyaan yang tidak saya utarakan, karena saya tahu jawabannya akan menyakiti hati saya. Kadang saya berpikir, jika saya tahu sebuah jawaban lebih awal, apakah saya akan bertindak berbeda? Untuk beberapa hal, rasanya tidak. 

Akhir-akhir ini, saya pun seperti mengumpulkan pertanyaan. Tapi hanya sebatas mengumpulkan dan menyimpannya. Saya tahu, pada satu titik, saya harus berdamai pada apa pun yang terjadi. Saya harus menerima bahwa memang begitulah adanya. Saya tidak bisa menahan, atau mengatur segalanya agar berjalan semau saya. 

Karena itulah, saya memilih untuk tidak lagi bertanya. Lebih-lebih, saya putuskan berhenti menanyakan "kenapa". 

Saturday, November 28, 2020

Love

Malam2, sering Aria masuk kamar ibu. Kadang bawa kartu uno atau kotak lego, tp lebih sering masuk aja tangan kosong. Mau apa? Kalau bawa mainan, berarti main (sendiri atau maksa2 ibunya ikut main). Kalau nggak bawa apa2, artinya cuma mau pelukan saja. Sebentar. Sebelum tidur. 

Dia masih suka bobok-di-ibu. Tidur di perut ibunya. Ya ampun, ibu sesak napas, nak... kamu sekarang berat banget.... Apalagi rambutnya gondrong... geliiii banget.... 

Kadang sempat ngobrol selewat2. Tentang apa saja. Pelajaran sekolah. Guru yg lucu. Teman ibu yg aneh. Atau masakan ibu yg keasinan. 

Apa pun, ini adalah saat yg selalu dinantikan. Dan suatu ketika pasti akan sangat dirindukan. Terima kasih sudah mengajarkan soal cinta tanpa batas, Sayang. 

Friday, November 27, 2020

Happy Heart for a Healthy You

Ndalem prosotan sedang direnovasi. Setelah 12 thn ditinggali... perlu dirawat spy tetap cantik. Dan memang sdh diprediksi kerusuhan dan debu yg akan terjadi. Sebetulnya, karena gue banyak WFH, Aria sedang SFH... gue lebih pengen kami ngungsi sebentar ke manaaa gitu. Ada apartment adik gue yg kosong, dan di tengah Jakarta. Menarik sih. Tp eyang menolak ide untuk pindah sementara. 

Kenapa? 

Karena beliau sulit berpisah dari ingon2. 

Jadi, setiap hari, setelah sholat subuh, jadwal beliau adalah jalan pagi keliling kompleks. Kira2 satu jam. Sampai rumah lagi jam 6... mulai deh inspeksi halaman. Dari sudut ke sudut. Dari depan ke belakang. Semua pot dan semak akan disapa. Kalau ada yg layu, dicari masalahnya. Kurang matahari? Dipindah ke depan. Kepanasan jadi daunnya menguning? Dipindah ke belakang. Halaman ini nggak luas2 amat... tp ya kalau semua daun dipegang... butuh 2 jam. Habis itu beliau akan duduk di samping kolam ikan... ngasih makan sambil "ngobrol".

Tanaman di rumah semua subur. Ikan2 nggak berhenti beranak pinak sampai tiap 2 bulan akan dibagikan ke siapa saja yg mau. Eyang juga sehat2, selama pandemi ini sama sekali nggak ke dokter, yg dulu biasanya sebulan sekali, paling nggak untuk kontrol tensi dan asam urat. Ternyata kuncinya itu:  komunikasi sama semua penghuni rumah. Setiap pagi. 

Baiklah. Tetep di rumah selama renovasi. 

Tuesday, November 24, 2020

Sawang Sinawang

AKU IRI MAKSIMAL. 

Tanpa bisa dicegah... menulis lebih cepat dari bayangan... mengetik lebih cepat ketimbang bersin... kata2 itu terkirim. Jari gue mengetiknya untuk mengomentari foto seorang kawan di IG. Dalam foto, dia sedang ada di pantai yang lautnya biru sambil sarapan telur dadar yg nampak menul2... menggiurkan. 

Telur dadar bisa gue bikin sendiri. Sepuluh kali lebih enak lebih besar lebih tebal pakai keju daun bawang full.... Gampang itu sih. Yg susah adalah sarapan di pantai. Iri. Banget. 

Kapan terakhir ke pantai? 

Hmm.... 

Boleh dong iri? 

Boleh.

Tapi... nggak boleh lama-lama irinya. Karena... perjalanan ke pantai ini cuma satu saja fase hidup si teman. Hanya satu dari sekian banyak. Ada yg dia bagikan, tapi sepertinya lebih banyak yg dia simpan. Ditutupi rapat karena tidak menyenangkan dilihat. Siapa yg tahu bahwa sebelum dia ke pantai itu hidup dia susah? Gue tahu. Gue termasuk yg dia curhatin bahwa sejak PSBB, setelah pandemi... kira2 bulan April... si teman itu bingung ga punya pekerjaan. Nggak punya pekerjaan, artinya nggak ada penghasilan. Jadi dari hari ke hari dia mulai mengorek tabungan. Kira2 bulan kemarin, dia sudah kirim sinyal SOS: tabungan sdh mulai terlihat dasarnya, dan belum ada tanda2 datangnya pekerjaan. 

Duh. 

Itu pun dia sudah mencoba jual makanan. Gue modalin ikut kursus bikin menu siap saji supaya jualan dia bisa lebih variatif. Lumayan berjalan, tapi lagi2 terbentur modal. Dan juga pesaing makin banyak. Susah lagi. 

Itu hanya contoh dari satu teman saja. Yg lain? Banyak. Terutama teman2 yg gagah berani meninggalkan zona nyaman kerja kantoran untuk mengejar mimpi punya usaha sendiri. Pandemi ini membuat mereka jungkir balik. 

Artinya? 

Tidak boleh iri. Tidak boleh dengki. Mari saling mendoakan semua sehat dan bisa terus bergembira. Nikmati apa yg di depan kita. Seringkali apa yg kita keluhkan sudah bisa mencukupi mimpi orang lain. 


Friday, November 20, 2020

My Man

Kemarin, saat hari ayah nasional, banyak pesan beredar di grup Single Mom Indonesia yang intinya memberi semangat pada para ibu yang "sekaligus menjadi ayah" bagi anak-anak. Saya tulis dalam tanda kutip, karena saya pikir hal itu kok mustahil. Mana bisa ibu sekaligus jadi ayah? 

Saya kok mikirnya, ibu ya ibu. Ayah ya ayah. Satunya perempuan, satunya laki-laki. Jadi, konsep "ibu yang juga menjadi ayah" buat saya kok kurang pas. Apa karena ibu tunggal bekerja dan menafkahi anaknya, ia lalu menjadi ayah? Rasanya kok tidak begitu juga ya. Bekerja toh bukan cuma teritori ayah. Menafkahi anak memang kewajiban seorang ayah. Tapi jika hal itu dilakukan oleh si ibu, tentu bukan otomatis ibu lalu jadi ayah, kan? 

Dan yang buat saya penting, ayah itu nggak bisa digantikan oleh apa pun atau siapa pun. Ayah ya ayah. 

Membesarkan Aria, seingat saya, saya hanya menyiramkan cinta sebanyak-banyaknya. Saya berharap dia akan melihat bahwa perempuan dan laki-laki setara, dari contoh yang ada di rumah. Laki-laki di rumah kami kebetulan semua bekerja (berkarier) sekaligus tak segan masuk dapur untuk memasak dan cuci piring. Kakak saya, laki-laki, bahkan sangat jago bikin kue. Saya, ibunya, juga bekerja, luwes di kantor dan di dapur. Manjat tangga untuk ambil koper ketika hendak bepergian, bisa dilakukan siapa saja yang memerlukan. Mencuci, setrika, belanja... oke saja. Menyetir? Semua bisa. Jadi, sampai usia tertentu, Aria memahami bahwa tidak ada gender dalam hal aktivitas sehari-hari. 

Ketika dia remaja, saya mulai tanamkan bahwa dia harus menghormati perempuan, meski setara. Dia lahir dari perempuan, adalah hal yang dia tidak boleh lupa. Kita setara, tapi saya juga bilang bahwa dalam lingkungan sosial, laki-laki diharapkan akan melindungi perempuan. Saya ingat sekali, saya beri dia contoh sederhana, "If you ask a girl out on a date, don't let her touch the door, nor the bill. Itu namanya menghormati perempuan." Kenapa saya bilang begitu, karena itulah yang saya harapkan dilakukan laki-laki pada saya. Hahahaha.... 

Sering kami ngobrol soal afeksi antara laki-laki dan perempuan, dan saya selalu jelaskan dari sisi saya yang perempuan. Saya ceritakan apa yang diharapkan perempuan (saya) dari laki-laki, termasuk kesetiaan dan rasa sayang. 

Sekarang, dia sudah 16 tahun. Sudah besar. Kalau ikut saya belanja, dia akan otomatis membereskan belanjaan di kasir, lalu membawa barang-barang itu sampai ke bagasi mobil. Kemarin, waktu saya tunjukkan bahwa jam dinding mati, dia cari baterai lalu ambil tangga untuk membetulkannya. Dia sudah menolak dicium atau dipeluk, jadi saya sering kaget-kaget waktu dia tiba-tiba peluk saya sekadar ingin peluk saja (tapi seringnya untuk mengucapkan terima kasih setelah ia dapat notifikasi ada transferan uang saku hahahaha). Meskipun masih sering memilih duduk di belakang (kebiasaan dia sejak bayi), dia sudah minta diajari menyetir mobil. Jadi saya berharap dalam waktu dekat bisa leyeh-leyeh saja di sebelahnya kalau ke mana-mana.

Saya tetap hanya ibunya. Tidak akan pernah menjadi ayahnya. 

Aria mungkin tidak merasakan dibesarkan oleh ayahnya. Tapi mudah-mudahan ia tetap bisa belajar caranya menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Semoga cinta saya yang begitu besar padanya, unlimited and endless, bisa menuntunnya menjadi laki-laki yang berbudi. I can only hope and pray. Amin. 


Thursday, November 19, 2020

Begitulah....

Tadi pagi bangun tidur dengar gusar. Agak bingung kenapa kok rasanya kesal. Ternyata setelah tenang dan ingat2... ooh... mimpinya kisruh. Mimpi apa sih? Mimpi lihat dia jalan sama orang lain. Dengan mesra. Huh. Jadi selama tidur, gue cemburu. Astaga. Ini pasti karena kangen. Sementara kayaknya yang dikangenin nggak sadar. Yo wis. Nasib. 

Tuesday, November 17, 2020

Anticipated

 I always know that missing you will be this hard. 

Thursday, November 12, 2020

Menyambut Hari Ayah

Aku tidak pernah mencari ayah. Tapi toh, aku menemukannya. 

Sejauh ingatanku, hanya ada aku dan Ibu. Sempat ada eyang putri. Tapi saat aku berumur tujuh tahun, eyang putri meninggal dunia. Aku ingat mengantar jenazah beliau ke sebuah makam di Salatiga. Semua orang menangis. Beberapa saudara memeluk erat Ibu dan menepuk bahuku. Tetangga bergantian datang , melakukan pengajian. Tiga hari. Tujuh hari. Sebulan. 

100 hari setelah eyang putri dimakamkan, Ibu menjual rumah eyang lalu pindah ke Jakarta. 

Sejak itu, kami hanya berdua. Kami pindah ke sebuah kompleks kecil. Ini perumahan yang aman, dilengkapi satpam yang bergantian menjaga gerbang. Jadi bisa dibilang ada yang menjaga kami 24 jam. 

Aku ingat Ibu memulai kariernya dengan bekerja di sebuah majalah perempuan. Setiap pagi aku diantar ke sekolah, lalu pulang naik mobil jemputan. Di rumah, ada bibi tukang cuci yang menemaniku sampai Ibu pulang. Ibu mendidikku dengan tegas dan tertib. Dan bibi pun mematuhi perintah Ibu untuk mengawasiku mengerjakan PR, makan,  dan mandi, dengan rapi dan teratur. Tidak hanya teratur, bibi memastikan aku mengerjakan semuanya tepat waktu. 

Ibu dengan segala upaya mengajariku menjadi laki-laki serba bisa. Tak hanya sekadar membereskan tempat tidur, tapi juga menjadi laki-laki yang bisa diandalkan ketika beliau perlu seseorang untuk disuruh ke pasar atau menyetor uang ke bank. Saat aku berusia sembilan, disuruhnya aku memperhatikan tukang listrik, agar tahu cara mengganti bohlam yang putus. Lalu aku juga ikut tukang kebun belanja tanah dan batu, untuk mempercantik taman kecil di rumah kami. Ketika libur sekolah, saat Ibu tak harus ke kantor, ia mengajakku ke pasar, berbelanja kebutuhan sehari-hari. Aku diajari menawar belanjaan. Sesekali Ibu membekaliku uang, menyuruhku belanja ini itu, tak lupa dengan pesan, "Catat semua pengeluaran." Akhirnya aku pun paham pembukuan sederhana.  

Berkat Ibu, aku bisa menangani segala hal. Memasak. Membersihkan rumah. Mengatur uang. Kemudian setelah lebih besar: mengemudi. Dan tentu saja bersekolah dengan lancar. Sekali aku bertanya pada Ibu tentang ayah. Jawabnya, "Ayahmu adalah petualang yang hilang dalam perjalanan." Wajah Ibu nampak sangat tertekan saat mengatakannya. Sejak itu, kuputuskan untuk tak bertanya-tanya lagi. 

Seiring naiknya karier ibu, tugasnya makin banyak.  Ibu sering luar kota, meninggalkanku berhari-hari. Saat itu, aku sudah duduk di bangku SMP. Ibu menasehati bermacam-macam, terutama soal keamanan di rumah. Saat demikian, bibi tukang cuci akan bermalam. Tukang kebun juga tetap datang secara rutin. Aku akhirnya terbiasa mengatur rumah. Termasuk tepat waktu memberikan gaji bibi dan tukang kebun, jika tanggal gajian bertepatan dengan Ibu masih di luar kota. Saat itu usiaku lima belas tahun, tapi aku sudah bisa mengurus diriku sendiri. Berangkat sekolah. Pergi pulang ke tempat les biola naik ojek. Sibuk di dapur. Belajar. Semua beres, sesuai didikan Ibu. 

***

Sejak aku ulang tahun ke tujuh belas, Ibu keluar masuk rumah sakit. Berkali-kali aku dikejutkan berita bahwa beliau tak sadarkan diri saat di kantor, lalu dilarikan ke rumah sakit. Sekali ia kutemukan terduduk lemas di meja dapur. Kali lain terjatuh di kamar mandi. Aku tak sempat panik. Ibu mendidikku dengan benar hingga saat melihat Ibu sakit, aku bisa segera menghubungi rumah sakit, meminta ambulance (nomor teleponnya sudah ditempel oleh Ibu di dinding dekat pesawat telepon).  

Pemandangan sama selalu terjadi saat pulang dari rumah sakit. Wajah Ibu pucat tapi bahagia melihat rumahnya tetap tertata, seolah ia tak pernah pergi. Aku yang menjaga agar semua tetap rapi. Lalu Ibu mengelus kepalaku. "Aku bangga. Kamu memang anakku," bisiknya pelan. 

Aku cium pipinya. Dan Ibu tertawa tanpa suara. "Rumah ini memang tak berubah tatanannya, Ibu. Tapi Ibu jangan pergi lama-lama. Aku kangen lihat Ibu berangkat dan pulang dari kantor. Kalaupun aku bisa masak sendiri, tapi masakan Ibu tetap yang paling lezat di dunia," sahutku. Selalu begitu. 

Ibu lagi-lagi pasti tertawa. Tangannya terbentang lebar, mengundangku ke pelukannya. Kami akan berpelukan. Lama sekali. Demikian berulang-ulang. 

Sekali waktu, saat aku SMA, Ibu masuk rumah sakit saat pembagian rapor di sekolah. Ketika aku menunjukkan raporku, Ibu sempat tercenung. 

"Siapa yang mengambilkan?"

"Ayah Manda."

"Siapa Manda?" senyum Ibu terlihat menggoda.

"Nanti juga Ibu akan kenal," aku merasa pipiku merah. 

Senyum Ibu makin lebar. Ia pasti tahu bahwa Manda adalah teman spesial. 

Sejak itu, Manda kadangkala datang menemani Ibu. Apakah kami berpacaran? Ya. Tapi tidak lama. Kami lebih nyaman berteman saja. Manda menjadi sahabat terbaik di dunia. Dan menjadi semacam kurator untuk gadis-gadis yang kukencani. Dia memang lebih cocok menjadi saudaraku.  Ibu pun senang karena seperti mempunyai anak perempuan yang datang mengunjunginya sekali waktu.

Ibu masih tetap menjadi pelanggan rumah sakit. Kadang kutemani, kadang bersama Manda.   

Dua hari setelah aku berulang tahun ke-23, aku yang hendak berangkat bekerja mendapati Ibu tak bisa dibangunkan. Tubuhnya dingin, wajahnya memutih, tapi bibirnya tersenyum. Seketika aku tahu, Ibu benar-benar pergi. Setelah enam tahun, kanker itu mengalahkannya.  

 

***

Ibu telah tiada, tapi hidupku berjalan terus. 

Hampir setahun setelah Ibu meninggal, bersama Manda kubongkar kamar Ibu, berniat menyumbangkan baju-bajunya ke rumah jompo. Sepatu dan tas juga pasti bisa dimanfaatkan penghuni penampungan. Ibu pasti setuju. Terutama, aku tak ingin tenggelam lama-lama dalam kenangan yang menyedihkan gara-gara melihat barang-barang Ibu yang masih ada di mana-mana. Aku ingin mengingat Ibu dengan gembira, melalui kenangan-kenangan di hatiku saja. 

"Aku kagum, kamu tabah sekali menerima kenyataan kehilangan Ibu," kata Manda sambil melipat setumpuk baju dan memasukkannya ke dalam koper. "Kamu tegar."

"Ibu yang mendidikku seperti ini," jawabku. "Jujur, kadangkala aku tak tahu bedanya antara tegar, atau tidak berperasaan."

Manda menatapku heran. Tapi aku tak sempat memperhatikannya. Aku sedang memanjat kursi untuk menjangkau sisi atas lemari, agar bisa mengeluarkan setumpuk kotak dari sana. Entah apa saja yang disimpan Ibuku selama hidupnya. Satu per satu kotak itu kubuka. Ada surat-surat dari kantornya. Ada yang berisi foto-fotoku saat bayi. Ada yang berisi surat-surat tagihan lama. Satu kotak agak besar menarik perhatianku. Tidak seperti kotak lain yang bekas sepatu, kotak ini tampak istimewa, meski telah usang.  Hatiku berdesir ketika membukanya. 

"Apa itu?" tanya Manda. Ia tentu melihat perubahan raut wajahku.

"Ini surat-surat ayah, untuk Ibu."

 

***

Akhirnya aku menemukanmu, Ayah.

Di antara surat-surat yang dikirim ayahku untuk Ibu, terdapat secarik pemberitahuan duka cita. Alamat di pemberitahuan tersebut membawakau ke pemakaman ini. 

Di salah satu nisan, terbaca nama: Ryan Andika. Meninggal 2003. Nama belakangnya sama seperti nama belakangku, Andika. Aku usap rumput hijau yang melapisi makam itu. Nampak terawat dan subur. Syukurlah makam ayah tidak tersia-sia. Dan ternyata petualangan yang menghilangkan nyawa ayah tidak seperti yang kubayangkan selama ini. Ia bukan hilang di laut, atau diserang binatang buas kala di hutan. Bukan begitu ceritanya. Dari surat-surat itu, aku paham bahwa cinta ayah dan Ibu tak bisa bersatu. 

"Halo, kamu siapa?" sebuah suara ceria menyapaku, membuyarkan lamunanku tentang ayah. Pemilik suara ternyata seorang anak perempuan lucu berbaju warna merah dan kuning. Rambutnya dikuncir dua. 

"Maafkan. Dia tidak bermaksud mengganggu," seorang Ibu muda menarik tangan anak itu. Wajah mereka mirip, pasti ibunya. 

"Om siapa? Kenapa ada di makam kakek?" anak itu masih bertanya.

Kakek? 

"Ini makam ayah saya," tutur sang ibu. Matanya mengamatiku lekat-lekat. "Apakah kita pernah bertemu sebelum ini?" 

Seorang ibu paruh baya yang berlindung di bawah payung tampak berjalan di belakang mereka. Aku seketika bisa menebak. Merekalah yang beberapa kali diceritakan Ayah di surat-surat untuk Ibu. 

"Ia ayah saya juga," suaraku tercekat di tenggorokan. "Saya Rudy Andika." 

Nyata-nyata ia terkejut, sebelum berbisik sangat pelan, "Saya Desiana Andika." 

Ibu yang memegang payung sekarang ada di hadapanku, terpaku tak bisa berkata-kata, menatap wajahku yang juga membisu. Aku tahu, ia pasti terkejut melihatku. Berulang kali Ibu mengatakan aku sangat mirip dengan ayah di masa muda. 

Ah Ayah, bukan saja aku menemukanmu, tapi aku juga menemukan keluargamu. Merekalah yang tak kau tinggalkan meski dalam perjalanan hidupmu kau bertemu lalu jatuh cinta pada Ibu. 



Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Femina dengan judul JEJAK PETUALANG. 

Monday, November 09, 2020

Those Sparks in Your Eyes....

Teman kesayangan ada yg kehilangan ibunya awal tahun ini. Sebagai anak laki-laki pertama, dia sangat dekat dengan ibunya. Apalagi, menurutnya, sifat dan kegemaran ibu dan anak ini saling melengkapi satu sama lain. Mereka jadi dekat sekali. Semacam klik. Menarik banget. 

Berbulan setelah ibunda mangkat, ia masih saja merasa kehilangan. Apalagi, ibunya pergi ketika rencana tinggal bersama sudah nyaris terwujud. Paviliun untuk sang ibu sudah selesai dibangun. Dan, ibunda berpulang ketika waktu pindah telah tiba, si teman dalam perjalanan menjemput. Sayang, ada penjemput lain, yang lebih penting dan tak bisa ditunda. Penjemput yang meninggalkan duka sekaligus memaksa semua ikhlas pada ajal. 

Saya jumpa dia ketika ibunya sudah tiada. Beberapa kali, saat membicarakan sesuatu, perbincangan akan sampai pada almarhumah sang ibu. Ceritanya sering lucu, apalagi membayangkan cara bicara ibunya yang mirip ibu saya, punya logat dan dialek khas Madiun. Dari ceritanya, ibunya "lebih seru" karena sering ambrol remnya jika sedang berdua saja. Artinya: banyak misuh yang saru. Hahaha... lumayan akrab dengan makian-makian gaya jawa timuran, saya membayangkan kalau kata-kata ibunya pasti sering bikin ngakak. 

Buat saya, yang paling menarik adalah ekspresi dia ketika berbicara tentang ibunya. Tidak hanya nada suaranya yg berubah jadi ceria, tapi wajahnya pun mendadak seperti orang yang berbeda. Dia yang biasa serius dan "lurus" cenderung galak, seketika berubah menjadi lembut dan manis. Dan yang membuat pemandangan semakin indah adalah matanya yang seakan penuh jutaan bintang. Berpendar-pendar. So lovely. 

Binar mata itulah yang membuat saya, mau tak mau, membayangkan raut macam apa yang akan ada di wajah Aria jika kelak bercerita soal saya. Saya juga punya anak laki-laki. Sedikit banyak, saya paham rasa sayang ibu pada teman saya itu. Cinta ibu pada anak laki-laki sepertinya khas. Saya bisa mengerti juga kedekatan seperti apa yang bisa memahat memori hingga membentuk dia menjadi seperti sekarang. Alangkah bangga saya kelak (meskipun sudah tidak ada), jika Aria bercerita tentang saya dengan binar mata seperti yang ditampilkan teman saya saat bercerita tentang ibunya. 

Beberapa hari terakhir, beredar di wag pesan untuk para ibu yang memiliki anak laki-laki. Inti pesannya kira-kira agar si ibu bisa menyiapkan anak menjadi "suami yang tidak menyebalkan." Suami seperti apa sih, yg tidak menyebalkan buat istri? Saya berharap punya suami yg setia, mau membantu saya dalam rumah tangga dan karier. Jadi tentu saya ingin anak saya menjadi laki-laki seperti idaman saya itu. Betul sekali, tugas saya mengajarkannya, kan? PR saya masih banyak, tentu saja. Mudah-mudahan dengan besarnya cinta yang saya miliki untuknya, Aria bisa belajar menjadi laki-laki yang penuh cinta kasih juga. 

"Seingat saya, Ibu kok nggak mengajarkan saya menyapu dan bergiat di dapur. Saya dulu diajari jadi raja, lho," kata teman saya. 

"Hmm... kamu nggak sadar ya, kalau Ibu mengajari kamu menjadi laki-laki penyayang?" kata saya. 

Dia terdiam, lalu tersenyum. Manis sekali. 

Saya pikir, di surga, sang ibu pasti bahagia. 





Friday, November 06, 2020

Apa?

Cukup mendengar, lalu langsung menulis. Bisa. Sering terjadi. Ini trik yang biasanya sangat membius para klien rewel. Mereka cukup puas kalau penulis bisa merumuskan sesuatu dengan sangat cepat dalam tulisan yang enak dibaca. Seperti berlomba dengan bayangan (dan jadi pemenangnya). Dan hasil tulisannya juga bermutu, lho. Pilihan diksinya juara, tata bahasanya tanpa cela. 

Seandainya mereka tahu, ada kalanya penulis merasa buntu. Kata-kata bagai tercekat, mampat tak bisa dikeluarkan. Seperti jalan tol yang macet total: parkir. 

Mungkin memang harus begitu. Supaya semakin paham bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuka hati. Di tengah-tengah jalan cepat, tetap harus ada masa menunggu. Bersabar tanpa pernah tahu batas akhirnya. Menjalani yang di depan mata karena nggak punya pilihan lainnya. 

Cukup bersyukur bahwa buntu-buntu itu terjadi kadang-kadang saja. Biasanya kalau banyak sekali gangguan di kepala, atau di hati. Di kepala karena tugas-tugas yang masih antri. Kalau hati biasanya sih karena rindu yang nggak kunjung pergi. 

Ah, alasan bisa selalu dicari, ya. 

Thursday, November 05, 2020

Merindu Kamu

Di tengah deraan deadline hari ini, tiba2 aku ingat kamu. Ini pasti gara2 playlist spotify.... Hahaha.... 

Kamu sedang apa? 

Sungguh aku ingin kamu ada di sini juga. Membuka laptop di depanku. Bekerja. Ada kamu, selalu seru. Menyenangkan. Krn aku bisa mencuri pandang ke arahmu. Aku tahu... kamu pun sesekali melihatku dari sudut matamu. Kadang mata kita bertemu, lalu kita saling senyum, tersipu.... Ahaha.... 

Selamat hari ini, hey you.... Sehat selalu, ya. 



Wednesday, November 04, 2020

In My Life (With You)

There are places I'll remember

All my life, though some have changed

Some forever, not for better
Some have gone, and some remain
All these places had their moments
With lovers and friends, I still can recall
Some are dead, and some are living
In my life, I've loved them all

But of all these friends and lovers
There is no one compares with you
And these memories lose their meaning
When I think of love as something new
Though I know I'll never lose affection
For people and things that went before
And I know I'll often stop and think about them
In my life, I'll love you more

Though I know I'll never lose affection
For people and things that went before
I know I'll often stop and think about them
In my life I'll love you more
In my life I'll love you more



Originally this song, In My Life, is from The Beatles' album, but I prefer the one by Diana Krall. 




Thank you for sending this song to me the other day. You know who you are. 

Tuesday, November 03, 2020

Your Life, Your Decision

It is okay to forgive people but in the same time deny their access to you. You can do whatever you want in your own territory. You have all the rights. No worries. 

Saturday, October 31, 2020

Another Marriage Story

"I was just being sarcastic," katanya setelah membaca tulisan saya. 

Saya memang suka usil. Beberapa kali percakapan kami jadi topik tulisan di medsos. Dia, yg bukan aktivis medsos, kadang saya bagi link untuk akses tulisan saya. Kalau saya ingat. Seringnya sih saya lupa jadi kemungkinan dia nggak baca. Hahaha.... 

Tulisan tempo hari itu salah satunya. Percakapan sambil jalan pagi yang entah bagaimana awalnya saya lupa, tapi akhirnya jadi membahas soal preferensi pasangan (kalau ada) di masa depan. 

"Ya masak ada pasangan yang mau mengalah terus-terusan?"

Ada. Tapi pasangan yg begitu kemungkinan besar akan kena kanker, sih. Hahahahaha....

Itulah. Menikah seharusnya membuat nyaman kedua pihak yg menjalankan pernikahan. Tidak boleh ada yg sedih. Ya kalau sedih, buat apa? Apalagi bagi saya, yg tujuan pernikahannya jelas untuk melengkapi kebahagiaan yg sekarang sudah saya punya. Saat ini saya sudah merasa cukup. Secara finansial Alhamdulillah aman. Punya anak sehat (dan pintar serta manis, baik hatinya). Ada keluarga yg mendukung. Ngapain saya mau kawin (lagi) kalau hanya bikin ruwet hidup? 

Saya sadar, tidak pernah ada yg bilang bahwa menikah itu mudah. Saat ini, saat sudah tidak ada di dalam pernikahan, saya bisa melihat di mana kiranya ada "lubang" di pernikahan saya dulu. Pembuat lubangnya bisa saya, bisa juga ayahnya anak saya. Yg jelas, lubang itu kami biarkan tidak terurus, hingga akhirnya membesar dan tidak bisa ditambal lagi. 

Jadinya, jika kelak (insya Allah) menikah lagi, tentu saya harus berusaha keras menjaga agar tidak ada yg berlubang. Buat saya, semakin tidak mudah, karena setahu saya pernikahan kedua (dan seterusnya) lebih rentan bercerai. 

Apa iya? Sayangnya begitu.... 

Angka statistik dari biro kependudukan Amerika menyebutkan bahwa pada 2018, 60% pernikahan kedua gagal. Oops. Saya belum dapat data akurat tentang nasib pernikahan kedua di Indonesia, tapi pengalaman beberapa kawan di sekitar saya... ada yg nggak terlalu menarik juga sih. Oh ya, ini ceritanya untuk yg pernikahan pertamanya gagal, ya, bukan yang single karena ditinggal meninggal. Kenapa gagal lagi? Karena ada kecenderungan menganggap menikah lagi (segera ataupun setelah lama bercerai) sebagai pelipur lara dari perceraian sebelumnya. Kondisinya akan semakin rumit ketika masing-masing membawa anak dari pernikahan terdahulu. Bukan hal mudah menyatukan elemen masing-masing ini.  

Saya pernah dekat dengan duda beranak tiga. Dan memang sempat merasakan sulitnya menyatukan pikiran kami kalau menyangkut masalah anak-anak. Jika dalam hubungan pernikahan dengan ayah anak saya, yang harus menyesuaikan diri hanya saya dan mantan suami, dalam hubungan dengan mas duda ini, semakin banyak yang harus didekati terkait penyesuaian ini. Anak saya dan anak-anaknya tentu harus terlibat, sementara kami berdua pun sering sulit sepaham. 

Saya tahu dia sering tidak setuju pada perlakuan saya yang cenderung memanjakan Aria. Sementara, saya juga sering tak sekata dgn yg dia lakukan ketika mengarahkan anak-anaknya. Boleh tidak, mengasuh anak masing-masing? Ya boleh saja. Tp kok gatel juga kalau dengar ada yg nggak sejalan dengan yg saya percaya....  Ah, rumit sekali, ya. Padahal itu baru tentang anak, belum membicarakan anggota keluarga lain, misalnya ibu saya, orang tuanya, kakak dan adik saya, paman dan bibinya.... Intinya, saya jadi yakin bahwa untuk pernikahan kedua memang harus ada usaha ekstra.   

Urusan aset bisa dipagari dengan perjanjian pranikah. Tapi ya masak mau memborgol perasaan anak-anak dan keluarga?

Entahlah benar atau tidak. Tetapi, kesulitan pernikahan kedua bisa timbul karena selama ini lembaga pernikahan dianggap sebagai wadah untuk membentuk keluarga yg dalam hal ini bertujuan membesarkan anak. Jadi ketika menikah lagi dan hubungan anak dengan orang tua baru tidak sejalan... runyamlah pernikahan itu. Dalam kasus saya, pernikahan kami belum terjadi, jadi nggak runyam-runyam amat. Hanya sempat bikin sakit kepala....

Salah satu kenalan ada yg baru saja bercerai setelah menikah untuk kedua kalinya. Keputusan bercerai ini sama gegap gempitanya dgn waktu dia memutuskan menikah lagi. Mau cepat-cepat, seperti nggak bisa menunggu. Kenapa cinta yg dulu datang bagai kejutan itu akhirnya menghilang juga secara tiba-tiba? "Ternyata dia jorok. Huh. Kayaknya gue pernah hidup sendiri dan oke aja, nggak perlu mikirin orang jorok," katanya ketus. Oh baiklah. 

Betul, toleransi bisa jadi kata kunci. Ketika kita mau berkompromi, bisa saja segalanya menjadi lebih mudah. Sejauh apa bisa saling menerima dan berkompromi... kembali pada pasangan yg menjalani. Ada yang bilang cinta akan memuluskan segalanya. Bisa jadi. Cinta bisa bikin kita mudah kompromi, mungkin saja terjadi. Karena saya mengalami bahwa frasa "terbutakan cinta" itu benar adanya, kok. 

Bukan selalu berarti bahwa cinta kenalan saya yg baru bercerai itu tidak terlalu besar ya... Tapi... entahlah, kalau dia bisa berkompromi, mungkin perceraian (lagi) tidak perlu terjadi. Yaaa... bisa saja cintanya yg besar membuat dia jadi bisa bertoleransi saat (mantan) suaminya agak nggak rapi? Jadi jorok tapi cuma dikit-dikit gitu.... Siapa tahu?

Pernah ada pengusaha sukses yg menasehati saya, "Kalau nanti ketemu jodoh lagi, asal orangnya tidak mukul dan tidak pelit, sudahlah... cocok-cocokin saja! Punya teman berbagi lebih penting ketimbang mikirin mau menang sendiri."

Tidak semudah itu, Ibu. Eh... hmmm.... tapi mungkin juga tidak sesulit itu? 

Banyak teori bisa dipelajari, dan tentunya dijalankan, untuk menyukseskan pernikahan kedua. Saya pikir, yg paling penting adalah menyembuhkan luka batin diri sendiri dulu. Kita harus bereskan perasaan kita, dibersihkan dari semua rasa warisan masa lalu. Kita juga harus benahi hati anak (anak) kita, sebelum memulai hubungan baru. Kita harus sembuh seutuhnya, sehingga ketika cinta yg baru hadir, kita bisa percaya bahwa itulah cinta, lalu menerimanya. Dengan bahagia.

Bahkan jika kita harus mengalah terus, kita akan tetap bahagia melakukannya dengan landasan cinta pada pasangan kita. Kesal menjadi biasa bila kita terlanjur cinta.... Kita tidak akan merasa sedang mengalah. Kita hanya sedang mencintai. Tidak ada yg kalah, dan tidak ada yg menang. Yg ada adalah saling menyayangi setulusnya. Sepenuh hati, jiwa, dan raga.  

"Jadi, ada ya yg beneran mau ngalah terus?"

"Ya kalau sudah sangat sangat cinta... bisa saja... yg penting harus ikhlas, biar nggak jadi kanker...." 



Thursday, October 29, 2020

I Do Believe

One day, Franz Kafka (1883-1924), who never married and had no children, walked through the park in Berlin when he met a girl who was crying because she had lost her favourite doll. She and Kafka searched for the doll unsuccessfully.

Kafka told her to meet him there the next day and they would come back to look for her.

The next day, when they had not yet found the doll, Kafka gave the girl a letter "written" by the doll saying, "Please don't cry. I took a trip to see the world. I will write to you about my adventures."

Thus began a story which continued until the end of Kafka's life.

During their meetings, Kafka read the letters of the doll carefully written with adventures and conversations that the girl found adorable.

Finally, Kafka brought back the doll that had returned to Berlin. "It doesn't look like my doll at all," said the girl.

Kafka handed her another letter in which the doll wrote, "My travels have changed me." 

The little girl hugged the new doll and brought her happy home.

A year later Kafka died.

Many years later, the now-adult girl found a letter inside the doll. In the tiny letter signed by Kafka, it was written, "Everything you love will probably be lost, but in the end, love will return in another way."



(Found this in the net and thought it is a very good reminder for someone.)

Friday, October 23, 2020

About My Sonshine

Tanggal ini, 16 tahun lalu... jatuh di hari Sabtu. Aria lahir, lewat proses operasi yg dilakukan krn dia nggak bisa turun ke jalan lahir, terbebat tali pusatnya sendiri yg panjangnya 1 m. Operasi yg menyenangkan krn gue sama sekali nggak merasa kesakitan. Sesudahnya pun oke saja. Dua minggu setelah melahirkan... kontrol ke dokter pun sudah nyetir sendiri. Hehehe.... 

Aria lahir sbg bayi yg tenang. Banyak tidur. Tidak pernah menangis keras. Sangat gampang diatur. Dibuatin jadwal biar ibunya nggak perlu begadang. Dia menjadi bayi yg sangat pengertian bahwa ibunya hrs mengurus banyak hal. Saking rusuhnya, Aria jarang banget digendong. Dia ikut ke mana pun gue pergi, duduk di car seat sejak bayi. Pakai stroller ke mana2... bahkan di rumah. Dia akan tetap di stroller sementara ibu di dapur, atau kerja di depan komputer... atau di kamar mandi. Dia duduk di high chair khusus bayi kalau sdh ngantuk... yg akan diayun sampai dia pulas. 

Mungkin krn itu, sampai skrg dia gampang sekali tidur. Bisa di mana saja. Kalau ibunya akan rusuh dulu, Aria nggak... langsung tidur kalau waktunya tiba. Di dalam tenda, di mobil, di pesawat... di mana saja dgn mudahnya dia akan terlelap. 

"Ibu dulu stres nggak waktu melahirkan aku?"

"Nggak dong. Happy banget mau ketemu kamu."

"Atau stres-nya baru sekarang? Hahahahaha...."

Dan dia akan ngakak sendiri setelah godain ibunya. Tawa yg menular... jadi akhirnya kami berdua akan ketawa2.... 

Terima kasih sdh memilih aku menjadi ibumu, anak sayang. Hari kelahiranmu menjadi sebuah hari yg mengubah hidup. Selamanya. Menjadi lebih berwarna, penuh tantangan, air mata, juga bahagia. Selamat ulang tahun. 




PS: He mentioned about you sent him a private message this morning. He sounded so happy receiving your birthday wish. Thank you. I know you always treat him passionately, with lots of love. No worries, he remembers you as a very good person too. I know, because your name popped up some while ago over dinner. Seems he holds you dearly in his heart. You know who you are. 

Tuesday, October 20, 2020

Menjadi Tua Itu.... 😃

Saat ini, di kantor sedang ada project social media management. Kami, gue dan 2 kurcaci, production manager, konsultan, dan bos besar pun turun tangan... harus bikin plan, riset materi, dan nulis konten utk 4 medsos milik klien. Seru? Banget. Mari salahkan Roro Jonggrang yg telah mengajarkan adanya permintaan 1000 candi dalam semalam... akibatnya klien ini pun terinpirasi melakukan hal yg sama.

Ttd kontrak tgl 13 dan tgl 15 sdh harus tayang posting pertama di 2 kanal. 

Oh jangan sedih... karena kami semua ambisius... tidak ada yg mau posting hal yg sama di semua kanal. Jadinya? Setiap kanal dibuatin table plan sendiri2, apa isi kanalnya, lengkap dengan sasaran pembaca yg berbeda (artinya beda gaya bahasa)... tiap hari. 

Dung plak dung plak dung plak. 

Karena deadline mepet, akhirnya approval ditunggu smp tengah malam. Jam 11... gue mulai lucu. Hahahahahaha.... 

Ternyata itulah pengaruh umur ya. Kyknya 5 thn lalu bisa jreng banget pegang bbrp projek di satu saat. Lalu kerja sampai tengah malam. Besoknya jam 8 pagi sdh stand by. Dan sebelum masuk ruang meeting masih sempat berenang dulu.... 

Ke mana perginya masa mudaku? 

Setelah begadang semalam, besoknya gue spt shut down. Ga bisa mikir yg berat2 (dipaksa jg tetep ga bisa). Akhirnya hanya edit tulisan2 cimit aja. 

Eh... besoknya lagi, waktu di kantor, seperti dikeplak lagi. Waktu harus pindah dari satu projek ke projek lain, butuh waktu. Hahahahaha.... Lucu aja. Ditanya A. Jawab A. Tp setelahnya ditanya B... gue bengong dulu bbrp saat. Semacam otak gue loading nyari barang B ini di mana.... 

Duh duh duh... ini toh yg namanya faktor U.... 

Monday, October 19, 2020

Old Habit Never Dies?

Di ponsel saya, ada satu nama yang pesannya akan dibalas lebih cepat dari bertepuk tangan. Dulu. Sebetulnya, pesan-pesan itu masih ada. Tapi, saat ini bukan waktu yg tepat untuk membalas dengan cepat. Atau mungkin sebaiknya membiasakan diri untuk tidak menggubrisnya. 

Karena memang harus menerima bahwa tidak seharusnya pesan itu ada. 


Meskipun masih peduli. 

Meskipun masih rindu. 

Meskipun masih (sangat) sayang. 

Wednesday, October 14, 2020

Sungguh....

Seandainya kamu membiarkan saya memelukmu erat, kamu akan paham bahwa beberapa manusia memang terlahir penuh cinta. Kamu akan bisa merasakan kenyamanan yang seharusnya ditemukan seseorang pada belahan hatinya. Tapi, kamu bahkan sulit menerima kehangatan senyuman. Kedamaian seolah tak tertakar oleh nalarmu. 

Begitu suramkah masa lalumu? Hingga dendam kamu taburkan, bahkan pada mereka yang tidak sepenuhnya bersalah? 

Seandainya kamu membiarkan saya menyayangimu, kamu akan tahu bahwa dunia tidak selalu berisi amarah. Saya tidak tahu, hal buruk apa saja yang pernah kamu lalui, hingga kamu memagari diri dengan benteng yang begitu tinggi, yang mustahil tertembus oleh kelembutan hati. 


Wednesday, October 07, 2020

On Remarriage part 3

Menikah lagi jadi materi diskusi yang nggak pernah basi. 

 

Sama-sama pernah bercerai, sadar atau tidak, saya dan teman saya jadi sering bahas topik pernikahan. Kadang sambil lalu, lebih sering sambil nggak jelas alias sekadar curhat saja. 

 

Jika pernikahan diibaratkan ruangan berpintu, kami saat ini memang ada di luarnya. Dan berada di luar, memudahkan kami melihat hal-hal yang dulu tidak kami lihat. Biasa kan, penonton selalu lebih jeli ketimbang pemain. Atau penontonnya yang sok tahu, ya? 

 

“Satu yang saya sesali adalah tidak pernah membantah pasangan saya dulu. Saya tidak mendidik dia dengan baik. Padahal, itu tanggung jawab saya,” katanya separuh menyesal separuh emosional. 

“Iya memang. Nggak bisa kamu berharap begitu saja dapat sosok yang sempurna sebagai istri dan sebagai ibu. Kan nggak ada sekolahnya.”

“Nah iya. Saya pikir, dia bisa jadi seperti ibu saya, lho. Cantik dan pintar. Tapi saya salah.”

“Jadi, kita memang nggak boleh berasumsi, ya. Semua harus didiskusikan. Dibicarakan. Masing-masing mau apa, bisa kompromi di mana… gitu?”

“Mungkin.”

 

Komunikasi adalah salah satu kata sakti dalam pernikahan. Saya sekarang sangat percaya itu. Diskusi jadi hal penting. Bahkan meskipun sambil cakar-cakaran - maaf lebay-  tetap harus dilakukan. Tidak boleh ada ganjalan. Hal lain yang saya masih harus terus latih adalah bertoleransi. Karena mau nggak mau, kompromi jadi jalan tengah yang harus diambil pasangan jika berbeda pendapat. Namanya dua orang dengan latar belakang berbeda, kemungkinan beda pendapatnya akan besar sekali. Seberapa jauh saya mau berkompromi? Sampai saat ini, terus terang saya belum bisa menjawab. 

 

Salah satu ironi dalam hidup saya adalah punya ijazah master komunikasi dari sekolah di Amerika, tapi gagal membangun komunikasi yang baik dengan (saat itu) suami. Ini menjadi catatan yang sangat penting, yang tentunya tidak boleh saya abaikan jika kelak (insya Allah) ada jodoh lagi untuk saya. 

 

Memang, saya belajar tentang pernikahan sehat dengan cara yang pahit dan sangat menyakitkan hati. Pelajaran yang sangat mahal. Meskipun begitu, boleh dong saya tetap berangan tentang pasangan di masa depan? Saya masih berharap menemukan pasangan yang sukarela mendampingi saya, bisa bertukar pikiran tentang segalanya, tidak terintimidasi karier saya, mendukung saya sepenuhnya, dan jatuh cinta pada saya setiap hari. Klise? Biarin. Saya juga paham kok, untuk mendapatkannya, saya pun harus siap bertindak resiprokal. 

 

“Pengen juga sih ada pasangan. Hmm… tapi saya maunya dapat pasangan yang mengalah, terus-terusan,” katanya tiba-tiba. 

“Eh… gimana….”

“Ya pokoknya semua tergantung maunya saya. Ide saya saja yang dikerjakan. Terserah saya. Dia nggak boleh punya suara.”

“Bisa gitu, ya? Mana dong, kesetaraan dan konsep-konsep ideal yang lain?”

“Ideal itu buat siapa, sih? Bayangkan, kalau hanya ada satu suara, rumah tangga pasti aman damai. Langgeng.”

 

Saya sebetulnya nggak setuju. Tapi karena nggak mau berbantahan tanpa ujung, saya kok merasa sebaiknya saya pilih makan es krim saja.  




Tulisan ini ditayangkan di blog Single Mom Indonesia

Wednesday, September 30, 2020

Jadwal

Jadi, hari pertama gimana?

Ibu akan yoga. Trus mungkin jogging dulu sebentar ya. Sampai jam 8 deh. Jam 10 sdh hrs ada meeting zoom, jadi aku akan kembali ke pinggir hutan sekitar jam 9.30 ya. Habis meeting, biasanya hrs ngerjain sesuatu sampai sore. Ada yg mau nengokin kita. Pergi bareng deh habis itu ya. 

Trus, hari kedua? 

Main sepeda yuk. Sampai ke tempat yg bagus itu lho. 

Oke. Habis itu? 

Ya... paling jam 9 sdh harus di hutan lagi kan. Pasti sudah panas. Ya terserah kamu sih mau ngapain lagi, bilang aja mau ke mana, nanti dianterin.  

Heeee Ibu, kok bisa tiba2 lupa kerja? Nggak ada meeting?  

Oh iya. Hahaha.... 

Jangan pacaran terus. 

Eh.... 

Sunday, September 27, 2020

On Remarriage part 2

Mendiskusikan tulisan saya tentang Aminah, teman saya berkomentar tentang dua jenis manusia di dunia. 

 

“Jadi ya, ada yang gampang menikah, ada juga yang susah menikah.”

“Iyaaaa… sama seperti ada yang gampang saja beli sepatu, dan ada yang perlu mikir-mikir dulu…,” sambung saya. 

“Nah, kalau analoginya beli sepatu… berarti ada satu jenis lagi. Yaitu yang sebetulnya gampang saja beli… tapi nggak ada ukurannya,” sambutnya. 

 

Hmm…. Maksudnya yang nggak dapat-dapat jodoh nih? Lho… kok ngegas…. 

 

“Kita kan sedang membicarakan orang yang menikah lagi…,” dia mencoba menjelaskan. Menurutnya, pengalaman bercerai memberi efek yang berbeda-beda pada tiap orang. “Ada yang karena pernah bercerai, lalu hidup melajang lagi dan kemudian menikmatinya sehingga tidak merasa perlu menikah lagi. Ada yang setelah bercerai merasa harus segera menemukan pendamping baru karena pernah merasakan kenyamanan punya pasangan,” jawabnya. 

 

Baiklah. Jadi ada yang melihat dari sisi bahagia pernikahan. Ada juga yang menilai dari kehidupan setelah (atau mungkin proses menyakitkan dari) perceraian. 

 

Salah satu kenalan saya, perempuan, menikah untuk ketiga kalinya baru-baru ini. Pernikahan pertama berjalan selama kira-kira 5 tahun, dengan dua anak. Pernikahan kedua kandas setelah tujuh tahun. Kini, dia memutuskan menikah lagi dengan duda beranak dua, setahun setelah ia resmi menjadi orang tua tunggal. 

 

Menariknya, duda itu baru ia kenal kurang dari tiga bulan. Ketika banyak yang mempertanyakan keputusannya, dia menjawab, “Ya aku tahu lah bedanya antara cinta atau bukan… kan aku sudah pernah menikah….” 

 

Iya sih… tapi kok…. Hmm…. 

 

Saya bukan “perusak pesta.”  Apa hak saya? Tapi saya belum lupa kehebohan dua perceraian dia yang terdahulu…. 

 

Perceraian pertamanya cukup alot, karena terjadi perebutan hak asuh dua anak. Saya ingat kenalan saya itu seperti tak punya waktu mengurus diri karena semua daya dan tenaga terkuras untuk upaya memenangkan hak asuh. Dari penampilan saja sudah menyedihkan, tak terbayang isi hatinya yang pasti berantakan. Ketika akhirnya sidang berakhir dan dia berhasil mendapatkan hak asuh anak, dia pun perlu cuti lama dari kegiatannya untuk menata hidupnya kembali. 

 

Lalu baru saja mapan, dia menikah lagi. Semua teman gembira belaka, tentu saja. Bahkan cenderung terkejut ketika akhirnya dia melayangkan gugatan cerai. “Suami KDRT,” alasannya. Setelah tujuh tahun, dia tak tahan. Bercerai. 

 

Saya memang hanya penonton. Dan memang suami KDRT harus dijauhi. Tapi membayangkan naik turun emosional yang dia alami, rasanya kok lelah sekali. Saya tahu rasanya, karena saya juga pernah mengurus perceraian dan menjalani sidang yang menyakitkan hati. Rasanya saya tidak akan sanggup jika –amit-amit- harus menjalani proses semacam itu lagi.  

 

Dan sekarang si teman menikah lagi dengan seseorang yang bisa dibilang belum dia kenal seutuhnya. Atau bisa ya mengenali seseorang hanya dalam waktu singkat? 

 

“Itu kan kamu,” kata sahabat saya. Ah… lagi-lagi keluar kata-kata itu. 

“Rasanya kok capek sekali hidup nggak pernah tenang….”

“Iya, kamu mikirnya begitu. Siapa tahu dia selama pernikahan senang-senang? Dan semua huru-hara itu terjadi di ujungnya saja? Buktinya, dia dengan gagah berani mengambil keputusan menikah lagi. Kalau kata orang tua… dia belum kapok.”

 

Bisa jadi. Lalu kalau nanti –amit-amit- ternyata ada ketidakcocokan lagi, tinggal gugat cerai lagi. Begitu? Teman saya hanya mengangkat bahu. 

 

“Ya mestinya, apa pun yang dia putuskan, sudah dia pikir masak-masak. Bisa saja ketika menemukan masalah, dia ingat lagi bahwa ternyata dia bisa bangkit lagi setelah bercerai. Jadi ya… cerai lagi pun tidak apa-apa.”

 

Tanpa memikirkan keluarga yang sedikit banyak ikut terlibat dalam arus kerusuhan? Tanpa memikirkan perasaan anak-anak yang pasti cemas melihat ibunya dalam satu masa terlihat sedih berkepanjangan? Tanpa memikirkan waktu yang terbuang untuk mengurus sesuatu yang memberatkan kepala? Tak hendak menyalahkan keputusannya menikah lagi, pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak saya. 

 

“Dia perempuan kuat. Tahan banting,” kesimpulan sahabat saya. 

“Untuk urusan pernikahan, mungkin iya. Duh… aku kok cemas…. Iya iya… itu kan akuuuu….”




Tulisan ini ditayangkan di blog Single Mom Indonesia

 

Friday, September 25, 2020

The Winner

You should know that you are out of the competition. You already win. You just do not have the chance to pick up the prize. And it is not my fault. So I would thank you if you let someone else standing in the podium. 

Thursday, September 24, 2020

On Remarriage

Mantan embak di rumah saya, namanya Aminah, cantik dan manis. Pertama kali dia datang ke rumah, saya sempat ragu akan mempekerjakan dia. Dengan tubuh langsing, rambut panjang, dan kulit putih, jangan-jangan nanti dia malah lebih sibuk bergaya-gaya menarik perhatian supir pak RT tetangga sebelah? 

 

“Aminah kerja untuk cari uang, menyekolahkan anak, Ibu,” katanya saat itu. 

“Anakmu umur berapa?”

“Sekarang kelas 2 SMP,” jawabnya. Oh, berarti seumur anak saya. 

 

Aminah bercerita bahwa Ryan, nama anaknya, ditinggal bapaknya setahun lalu. Si bapak kawin lagi. Aminah yang nggak bersedia dipoligami, memilih cerai. Ia titipkan anak pada orangtuanya, dan bekerja sebagai ART untuk menghidupi Ryan. 

 

Hmm… kenapa ceritanya kok agak mirip dengan kisah hidup saya? 

 

Singkat cerita, Aminah akhirnya bekerja di rumah saya. Dia ternyata tidak hanya cantik dan manis, tapi juga tekun dan teliti. Semua urusan rumah beres. Saya bisa tenang-tenang di kantor, karena tahu bahwa kebutuhan Aria, anak saya, terjamin sepenuhnya. Pulang kantor, sampai rumah, semua rapi kinclong. Saya bisa santai. Wah, sungguh dia termasuk jenis ART yang patut dilestarikan. 

 

Dari awal bekerja, Aminah sudah menyampaikan bahwa sebulan sekali dia akan pulang menengok Ryan. Hari libur yang seharusnya seminggu sekali, akan dia ambil sekaligus 4 hari dalam sebulan. Baiklah, saya paham sekali kebutuhannya melihat bahwa anak sehat dan baik-baik saja. Saya kan punya anak juga…. 

 

Biasanya, Aminah akan mengambil libur di hari Sabtu, lalu kembali ke rumah saya pada Selasa malam. Hari itu pun demikian. Sepulang dari olah raga pagi, saya dapati dia sudah berdandan rapi, siap menjenguk anaknya. Rumahnya tidak jauh. Naik kendaraan umum paling hanya dua jam dari rumah saya. Jadi Aminah pulang nyaris tidak membawa apa-apa. Hanya tas kecil berisi dompet dan ponsel. Mengingat anaknya seusia anak saya, saya sempatkan mengambil sesuatu dari persediaan di lemari, sekadar oleh-oleh untuk Ryan. Saya tahu, anaknya pasti suka sekali, persis seperti anak saya yang selalu gembira menerima apa pun yang saya bawa ketika pulang ke rumah. 

 

“Terima kasih, Bu. Aminah pamit,” katanya sopan memberi salam. 

 

Siapa mengira bahwa itulah akhir dari riwayat kerja Aminah di rumah saya? 

 

Ketika Selasa malam dia tak juga hadir, saya segera menghubunginya di ponsel. Saya kuatir dia sakit, atau terjadi sesuatu di perjalanan. Lega hati saya mendengar suara Aminah yang ceria ketika menerima telepon, meski sempat dongkol juga. Kalau sehat-sehat saja, kenapa tidak kembali bekerja? 

 

“Ibu… Aminah kawin. Hihihi…,” suaranya centil sekali seperti perawan pulang kencan. 

“Ya Allah… kamu kawin sama siapa?”

“Hihihi… kemarin itu waktu pulang, di rumah ada pak guru dari pesantren di Lampung. Trus dia minta Aminah ke Ayah. Aminah mau. Maaf, Ibu… Aminah mau telepon Ibu tapi tidak punya pulsa…. Nanti Aminah sowan ke Ibu sekalian beres-beres barang Aminah, ya Bu.”

 

Saya sungguh tidak bisa membayangkan, Aminah tiba-tiba menikah. Saya ingat sekali dia tidak membawa apa-apa ketika pulang, semua barangnya masih rapi di kamarnya, di rumah saya. Artinya, dia tidak berencana untuk tidak kembali. Apa yang dia lihat di pak guru itu, sehingga hatinya terpikat, lalu begitu saja menerima pinangan? Sungguh saya tidak paham.

 

Ketika saya ceritakan hal ini kepada salah satu kawan, dia sok menganalisa. 

 

“Mungkin Aminah butuh uang. Pak guru kan punya gaji tetap. Lumayan lah dia nggak usah kerja keras, dapat uang. Hidup nyaman, anak terjamin,” katanya.

 

Analisa ini saya tolak karena saya ingat, selama di rumah saya, Aminah bukan model perempuan yang menggantungkan diri pada laki-laki. Urusan anak pun, sempat kami bicarakan rencana memindahkan sekolah Ryan ke dekat rumah saya. Jadi, ibu dan anak sekalian tinggal sama-sama.

 

“Jangan-jangan dia capek jadi janda,” tambah teman saya. 

“Apa iya?”

“Bisa jadi.”

“Tapi pernikahan juga bukan solusi. Apalagi dengan orang yang tidak dikenal sebelumnya.”

“Itu kan kamu. Kamu berpendidikan tinggi. Berkarier bagus. Buat kamu, prioritas jelas: anak dan kantor. Kamu mandiri 100%. Banyak perempuan yang tidak seberuntung kamu,” sanggah teman saya.

 

Kata-katanya itu membuat saya berpikir-pikir lama. Mengurai lagi apa saja yang sudah terjadi sejak perceraian saya 15 tahun lalu. Betul, saya bekerja, berupaya menghidupi anak semata wayang saya. Saya putuskan fokus pada karier, yang dengan sendirinya membuat saya mapan secara finansial. 

 

Keinginan menikah lagi masih ada dalam angan. Maka dalam 15 tahun itu sempat kenal dan dekat dengan beberapa laki-laki. Tapi tidak ada yang berlabuh di pelaminan. Semua kandas dengan alasan masing-masing. Ada yang tidak siap punya anak tiri. Ada yang anaknya tidak setuju ayahnya menikah lagi. Ada juga yang resah karena gaji saya lebih besar dari penghasilannya. Intinya, tidak berhasil. Saya? Ya biasa saja. Tidak risau, hanya berpikir, barangkali memang dunia pernikahan belum menjadi hak saya. Tujuan pernikahan buat saya saat ini jelas: melengkapi kebahagiaan. Kalau hanya tambah bikin pusing, untuk apa? 

 

“Ya itu kan kamu,” bantah teman saya. Menurutnya, beberapa perempuan akan merasa lebih aman jika punya pendamping. Aman? Tidak perlu meladeni omongan miring, syukur-syukur kalau kehidupan ekonominya jadi membaik. Tak heran, ada yang memutuskan menikah lagi secepat memutuskan membeli sepatu baru: kalau suka, boleh langsung dibungkus. Kalau nanti gagal lagi, bagaimana? Ya nggak apa-apa. Coba lagi terus…. 

 

“Astaga,” kata saya. “Milih sepatu saja, gue perlu waktu….”

“Ya makanya lu nggak kawin-kawin lagi setelah sendirian lama banget,” pungkasnya. Galak. 





Tulisan ini dibuat untuk blog Single Mom Indonesia. 

Wednesday, September 23, 2020

My Personal Coach

Meskipun jarang tatap muka, kami rutin berkomunikasi. Tentunya dengan bantuan segala alat dan cara. Kecuali metode asap Hiawata....
Setiap hari kami pasti berkomunikasi. Mengobrol ketika waktu mengizinkan, atau paling tidak bertukar pesan pendek. Email juga. Tidak melalui sosmed, karena dia bukan pengguna (hanya punya akun untuk stalking saya hahahaha he admitted it. Dan komplen berat kalau ada foto yg dia cemburui).
Notifikasi di ponsel, yg isinya sekadar menanyakan kabar, mengingatkan untuk tidak lupa makan dan sholat, juga pesan untuk hati-hati di jalan... nampak simpel sekali tapi menjadi sesuatu yg selalu ditunggu. Biasa, sedang jatuh cinta. Tapi ternyata setelah bertahun2 juga rasanya tetap sama, kok.
Ketika awal jumpa, saya masih editor level cupu... posisi terbawah yg pernah ada... hahaha.... Dan dialah yg membuka wawasan untuk meraih kemajuan. Mendorong untuk melihat kesempatan yg lain. Ketika ada tawaran untuk naik jabatan, dia membantu mengatur "skenario" supaya semua lancar sesuai apa yg saya butuhkan.
Dalam saat seperti ini, ia menjadi personal coach yg siaga 24 jam. Di tempat masing2, kami sama2 memegang "tabel untung-rugi" lalu mendiskusikan tiap isinya. Dia akan menyemangati dan memberikan saran supaya saya bisa melewati tahapan interview. Dengan suka rela dia membaca semua kontrak yang ditawarkan pada saya, lalu menandai bagian-bagian yg bisa saya negosiasikan, juga bagian yg harus diubah agar saya tak dirugikan di masa depan. Dia akan memberi tips & trik (yg sangat jitu) agar saya mendapat yg saya mau.
Dan itu masih terus ia lakukan. Tidak ada yg berubah.