Tuesday, December 20, 2016

Pilih yang Mana?

Been a while since my last post. Yes, I know. Been extremely busy with office thingy.

Kantor lagi gila2an load-nya. Semua terengah2. Kadang nyesel juga sudah berani mati terima projek macem2. Seringnya memang krn penasaran sih... Hahaha.... gemblung ya?

Sangat sangat sangat menghargai tim redaksi dan art yg bisa dibawa ngebut. Mereka -meskipun tidak terlalu suka cita- mau berusaha keras menaklukkan pekerjaan. Yg aneh2 sekalipun. Gue pun menanggung konsekuensi harus muter kayak gasing sekaligus berpikir keras smp otak serasa gosong....

Jadi yg skrg sedang dikerjakan adalah.... 3 buku, 1 annual report, dan 1 majalah. Yang "cuma" satu majalah ini memuat tentang 14 kota di Indonesia, dan harus dikerjakan untuk konsumsi 9 region, dalam 6 bahasa. Haha.... Bagi tugas sama 2 penerbitan lain. Lumayan, tim gue kebagian 4 kota. Mumet setengah gembira dimulai ketika menyusun perjalanan ke 4 kota itu. Dari awalnya gue nggak ikut, lalu karena ada anggota yg resign, nama gue masuk jd peserta. Tp krn ada projek lain di tengah jalan, gue tuker jadwal dgn kloter pergi yg terakhir. Sampai akhirnya ada jadwal bentrok, yg mengharuskan gue tinggal di warung, nggak boleh pergi. Baiklaaaaahhhh.... Jd Raja Ampat, Lombok, Kepri, Semarang.... gue cuma nonton aja! Fine! #mutung

Tim oke. Semua -meski nggak selalu mulus kayak wajah artis Korea- bisa berjalan. Yg paling

Tuesday, November 15, 2016

Pria Cekeremes

Hahaha... mau ketawa karena di grup ibu2 bahas pria cekeremes. Sejenis apakah mereka? Yaitu pria2 ra mutu.... hahaha.... ngakak lagi. Kasihan sekali ya mereka bisa masuk kategori ra mutu alias tidak berkualitas.

Sbg perempuan yang punya privilege boleh pacaran setelah mapan (aha!), gue jg beberapa kali "terjebak" dgn para cekeremes itu. Duh duh duh. Kok bisa? Ya embuh... mungkin gue terbutakan oleh hal2 lain.... ihik...

Si cekeremes 01 adalah yg matanya membelalak waktu ketemu di mal. Sayangnya, dia membelalak bukan karena terpesona kecantikan gue, tp karena lihat tentengan gue. Ho oh... waktu itu habis dpt bonus trus gue beli tas KS. Hahahaha... dia bisa intip sih harganya di butiknya. Lihat dia membelalak, gue langsung kuncup. Yah... harusnya kan dia yg beliin gue ya.... knp kok trus dia jadi resah.... Dan ini baru KS belum LV kakaaaaakkk....

Cekeremes 02 adalah yg ngajakin makan di food court trus dia sibuk dgn nampannya sendiri. Gue nggak pa pa lhoooo diajak makan di food court. Kadang memang lebih enak makan mpek2 daripada segala rupa steak di resto fancy... tp boleh nggak sih, kalau lagi dating gitu trus gue dpt kehormatan dibayarin makan? Catet... ini di food court. Kalau makan di Syailendra atau Sumire, trus mau going dutch... yaaa masih masuk akal (meskipun jadinya kok tetep nggak banget di umur segini!). Ini food court lho! Hmm... kalau jaman kuliah dulu blm punya duit, wajarlah... pelit2 sama pengeluaran, hitung semua sampai sen terakhir. Tapi skrg? Ya nehi ah!

Cekeremes 03 adalah yang mengomentari pilihan barang2 gue sebagai "terlalu mahal" dan "nggak merakyat" lalu "sebaiknya berhemat dan menabung untuk masa depan." Oke. Satu, nggak semuanya mahal. Hanya memang untuk sepatu, nggak ada pilihan krn kaki gue genduuuutt. Dua... gue toh nggak keberatan naik comm line, naik trans J, masak dibilang ga merakyat krn pakai barang branded? Lah.... Tiga...  itu kan duit gue sendiri ya? Mau mahal mau murah mau branded mau kakilima... gue bayar sendiri. Tabungan? Udah punya cyin! Alhamdulillah rumah juga sudah. Mobil juga ada. Culek nih!

Cekeremes 04 adalah yg keukeuh ngajak nonton di Love, krn itu lebih dekat dgn tempat tinggal dia. Lah? Nggak dipikirin apa ya, gue tinggal di BSD? Dia pikir Love-BSD itu bisa 10 menit? Bahkan geser ke Gancit aja nggak mau lho. Masih manis kalau dia mau antar pulang. "BSD jauh. Kamu kan punya mobil," katanya. Bhaaaaayyyyy.....

Mungkin gue jg yg dodol, jadi bisa punya date cekeremes ya. Hahaha... Nggak heran, suatu kali, temen deket gue wanti2 "Jangan terlalu banyak berkorban." Ahahaha... now I get it.

Tapi kehadiran para cekeremes ini dalam hidup gue juga membawa kebaikan. Dalam arti... bisa menginspirasi gue tentang cara membesarkan Aria. Tentu gue nggak mau dia jadi pria cekeremes yg nggak ngerti tata cara pergaulan laki2 dan perempuan yg bener. Gue berharap sangat dia akan bisa dgn gampang membawa pacarnya kelak makan di tempat bagus, bisa beliin barang bagus, bisa menyayangi dan memanjakan sekaligus (aamiin). Tapi toh kalaupun dia belum sanggup, dia harus punya cara supaya nggak perlu pacarnya yg susah. He needs to know the basic rule: if you are dating a girl, don't let her touch the door nor the bill.


Monday, October 03, 2016

Note for Next

Kemarin ketemuan dengan ibu2 sesama single mom. Beragam cerita, beragam latar belakang, beragam sikap menghadapinya. Pd akhirnya semua survive. Atau hrs survive....

Yg menarik adalah ketika ada yg share materi workshop tentang healing. Self acceptance dll... hmm... jadi kepikiran pengen ikut (do I need that?).

Ada yg share pengalaman selama ini menghadapi pasangan yg sulit. Lalu menyerah. Bercerai. Dan ternyata itu mempengaruhi cara dia menyelesaikan masalah2 dalam periode hidup setelahnya. Bener nggak sih bahwa periode cinta2an itu hanya bertahan 2 tahun (katanya)? Setelah itu akan ada storm dan cara kita handle itu akan mempengaruhi hidup sesudahnya.

Hmm....

Lucu juga ya.

Krn mungkin memang begitulah. Berpasangan itu  bukan masalah bisa hidup dengan dia. Maunya sih berpasangan itu krn memang nggak bisa hidup tanpa dia. Jd nggak ada jalan lain. Harus sama dia. Caranya? Ya mungkin hrs kompromi. Habis gimana? Daripada nggak hidup?

Baiklah, mari kita camkan hal itu baik2.

For Good

I've heard it said
That people come into our lives for a reason
Bringing something we must learn

And we are led
To those who help us most to grow
If we let them
And we help them in return

Well, I don't know if I believe that's true
But I know I'm who I am today
Because I knew you...

Like a comet pulled from orbit
As it passes a sun
Like a stream that meets a boulder
Halfway through the wood
Who can say if I've been changed for the better?
But because I knew you
I have been changed for good

It well may be
That we will never meet again
In this lifetime
So let me say before we part

So much of me
Is made of what I learned from you
You'll be with me
Like a handprint on my heart

And now whatever way our stories end
I know you have re-written mine
By being my friend...

Like a ship blown from its mooring
By a wind off the sea
Like a seed dropped by a skybird
In a distant wood

Who can say if I've been changed for the better?
But because I knew you
I have been changed for good 

And just to clear the air
I ask forgiveness
For the things I've done, you blame me for

But then, I guess we know
There's blame to share
And none of it seems to matter anymore

Like a comet pulled from orbit
As it passes the sun
Like a stream that meets a boulder
Halfway through the wood

Who can say if I've been changed for the better?
I do believe I have been changed for the better

And because I knew you...
Because I knew you...
I have been changed for good...

For Good - Wicked

 
(Missing you badly today. This song reminds me of you who came into my life and changed me for good, for always. Thank you, you know who you are.)
 

Friday, September 30, 2016

Mencari Udara Segar

Gonjang ganjing deadline di kantor dan kerusuhan di rumah bikin kisruh kepala dan hatiku....

Sampai di suatu akhir pekan ada undangan ke Bandung. Acara keluarga. Sudah sempat berpikir untuk mangkir aja.... sampai akhirnya ada tawaran pakai vina mobil juara (lengkap dengan supirnya). Ya udah. Kenapa ga liburan aja sekalian ya?Acaranya di Cimahi, tp start dari Bandung. Gimana kalau nginep di Lembang?

Beberapa hari sebelum, di bbrp path, kebaca nama Imah Seniman. Apa sih itu? Penginapan di daerah Lembang. Katanya di hutan. Di tepi sungai. Di tengah danau. Lha? Yg bener yg mana ya.... Lihat foto2nya kok tertarik tinggal di hutan. Mau di pinggir sungai, tengah hutan, tengah danau.... semua oke. Sekali-kali bolehlah.... Jangan mikir pantai melulu. Juga nggak mau kamar hotel yg bentuknya persegi dan ber-AC. Oke deh, booked!

Jd pada suatu sabtu pagi, gerombolan playhouse eyang-gue-Aria plus Iwan, meluncur menuju Bandung. Nggak macet. Alhamdulillah. Tp ya nggak cepet juga sih. Spt biasa Aria kalau di jalan kelamaan rada cranky. Dihibur dengan main kuartet dan main segala macem... termasuk makan ini itu.... Dan akhirnya sampai di Pasteur, dia tertidur. Halaaaah....

Mampir ke Hegarmanah. Asli cuma mampir. Nggak pengen lama2 bukan krn nggak seneng... tp nggak pengen kena macet Bandung di akhir pekan. Kira2 jam 12 segera meluncur ke Lembang. Meninggalkan Bandung yg di waze warnanya merah semua.

Ternyata yg namanya Imah Seniman ya sesuai dgn harapan. Bentuk penginapannya rumah2 kayu yang bisa dipilih: satu kamar, dua kamar, tiga kamar. Krn cuma bertiga, milih junior suite sdh cukup. Pas dapat yg di pinggir sungai. Jd denger suara air. Trus di dekatnya ada pohon, yg waktu sore jadi tempat mainan tupai. "Ibu, ada chip and chap!" Maksudnya chip & dale, gitu ya Nak?

Sebenernya rada ngeri kalau ada ular sih. Hahahaha.....

Cukup beruntung bahwa kami dapat unit yg di depan. Krn kalau di belakang.... hmm... selain jauh dr resto, juga spooky.... hahahahaha.....

Sore itu sempat jalan2 keliling resort. Dan beneran ada di hutan. Dengan sungai alami. Danau yg sempat meluap.... seru amat sih ini tempatnya.  Tadinya Aria niat mau berenang, tapi karena kolamnya nggak kelihatan dasarnya... dia jadi ngeri. Takut ada buaya kali ya.... hahahaha.... Lagipula sore itu tiba2 hujan rintik2. Ya sudah, jalan2 saja, lihat2....

Enak memang ya, ada di udara segar yg bukang kalengan. Alias bukan udara AC. Rasanya langsung sehat bugar gembira! Waktu mandi sore.... kedinginan! Hahaha.... Lucu lihat Aria kedinginan. Yg selama ini kayaknya nggak pernah.... Ada sih air panas. Tp kalau hbs mandi air panas efeknya malah lebih kedinginan kan.... Aria agak resah dgn serangga2 yg banyak di mana2. Juga sama bantal yg agak lembab. Tp setelah bantal dikasih alas baru... dan serangga diusir... oke lah.... Tidur malam itu ada iringan suara binatang2 dari pohon dan suara air sungai. Seru!

Minggu paginya, semua kedinginan! Hahaha....  Seneng banget deh dingin yg bukan AC ini. Enak banget buat leyeh2. Seger banget. Trus jalan2 lagi keliling property. Sarapan di saung tepi danau. Sarapannya sih biasa aja. Tapi suasananya... ya ampun... seneng banget. Puas....

Imah Seniman berhasil menghilangkan penat. Hahahaha.... Memang suasana hutan nggak cocok buat anak kota. Banyak serangga kalau malam. Dan di kamar mandi bisa dipastikan banyak binatang kecil macam kelabang atau semut. Ya di hutan gitu lho....

Pantesan ada yg review hotelnya jelek, tua, kotor... dll.... Hmm.... salah sendiri mau nginep di hutan!

Note utk yg mau ke sini, bawa bantal sendiri.... kalau perlu bawa sprei sendiri krn yg dari hotel rasanya dingin2 lembab. Buat yg suka camping sih biasa aja. Tp yg lbh sering centil2 di hotel bintang lima pasti resah. Trus juga, kalau nggak suka suasana hutan, pilih unit yg dekat restoran. Ada yg di tepi danau atau di tepi sungai. Enak, nggak terlalu sepi.

Intinya setelah dari situ trus... pengen tinggal lebih lama nggak mikirin deadline. Hahaha.... maaf permintaan Anda tidak dikabulkan!


Tuesday, July 12, 2016

Are We There Yet?

Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat ku menanti fajar

Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut ku hilang

Perdebatan apa pun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu

Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi ku milikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu

Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut ku hilang

Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu

Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu

Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu

Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi ku milikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu

(TULUS - Pamit)

Monday, July 11, 2016

Wishful Thinking


...

Cukup sekali saja
Aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu....

...

(Raisa - Kali Kedua)

Sunday, July 10, 2016

Saturday Cheating

I saw the picture. Of you. With her.
And I was wondering, who was calling me saying he was above the hill with his bike?
Wasn't it you?

Oh, seems that you are now mastering other skill: to be in 2 places at once.

Monday, May 16, 2016

For Future Reference

Be with someone who brings you closer to God. Because at the end, that is the only thing matters.

Monday, April 25, 2016

With You

Sometimes I remember reasons I let you go
Inside them I see your face and all I really know
I was scared to share the love I have inside of me
Through all the heartache I know that I was meant to be

With you
I have everything I've ever wanted
Simple and true
With you
Crying eyes so beautiful
It's you who always thought our love would see us through

If I could follow my heart again it would be yours
with every breath I would find a way to love you more
I can't imagine life without your silent bravery
And I'm grateful for every moment that I get to be...

With you, I have everything I've ever wanted
Simple and true
With you, loving eyes so beautiful
It's you who always finds a way

And if the stars should disappear
In the dark I'll still be here
Forever in your arms... where I belong

With you, I have everything I've ever wanted
Simple and true
With you, loving eyes so beautiful
It's you who always knew our love would see us through

With you 
 
(Josh Groban)

Friday, April 08, 2016

Dia

Lalu? Kamu pikir aku ini apa?
Aku ini istrinya. Istrinya!
Ya! Aku belum mati....

Apa? Dia pernah bilang bahwa aku sekarat?
Apa? Setelah aku mati, kau akan dia kawini?

Tahukah kamu kalau selama ini kamu hanya dia tipu.

Dia bilang dia cinta kau? Cih! Dan kamu percaya?
Hahaha... dia itu penipu....

Dia itu penipu ulung, yg siap menerkam semua perempuan yg mengaguminya
Ya... ya... dia memang berotak cemerlang
Senjata ampuh untuk menjerat perempuan kesepian

Kamu bilang, kamu tidak termasuk?

Coba pikir lagi. Ingat-ingatlah... jangan pura-pura lupa begitu.
Sejak kapan kamu mengenal dia?
Dengan cara apa dia mendekatimu?
Puisi yang dia kirim setiap pagi?
Kata-kata manis di kartu yang dikirimnya dalam jangka waktu tertentu?
Ya...ya... dia masih bersahabat dengan kartu pos dan perangko
Di masa kini, itu pun bisa jadi amunisi untuk melumpuhkan perempuan melankolis.

Apa katamu? Dia cinta kau?
Ah, cinta lagi yang kau sebut-sebut.
Ini tidak ada urusannya dengan cinta. Dia itu penipu, sadar tidak kau? 

Dulu juga dia bilang dia cinta aku.
Hanya aku, katanya waktu itu.
Cuma aku, selamanya....

Buktinya?

Sudahlah... sebelum kau, sudah ada yang lain.
Banyak.
Hingga aku lupa.

Apa? Dia berjanji menikahimu?
Hahaha... dan kamu mau?
Setelah aku mati... ya?

Percayalah, dia itu penipu!

Ya... ya... aku ini istrinya. Istrinya!
Aku belum mati.


Thursday, April 07, 2016

Karena Rindu



Tergesa tapi tertata. Waspada. Dan waspada. Ambil buku. Pura-pura baca.

Bagaimana mungkin Yati akan lupa. Solemah selalu mengulangi kata-kata itu. Waspada, katanya. Harus hati-hati, tidak boleh gegabah. Kecerobohan Yati bisa mencelakakan seluruh anggota. 

"Kamu tidak mau, kan, kita semua dipenjara?" tanya Solemah ketus. "Heh! Jawab!"

Yati hanya mengangguk. Pelan. Ragu. Nada bicara Solemah selalu tinggi. Dan ia mudah sekali memaki. Yati seringkali takut. Tapi dia tak punya pilihan selain bertahan. Termasuk bertahan dalam diam ketika Solemah memakinya. Sudah untung ia tak pernah ditampar. Tidak seperti Sofi.   

"Bloon kamu! Bloon! Kalau dibilangin, nurut! Disuruh cepat ya cepat. Belok ya belok. Jangan maumu sendiri. Bloon!"

Sejak sebulan lalu, Yati tinggal bersama Solemah. Di sebuah kontrakan kecil di daerah padat Tangerang Selatan. Pemukiman itu bersebelahan dengan kompleks baru yang dibangun pengembang raksasa. Rumah-rumah bagus dalam kompleks yang rapi menutupi kampung-kampung kumuh milik warga asli.

"Kalau kerja, jangan kebanyakan melamun! Kamu harus waspada. Waspada!"

Solemah masih berteriak-teriak.

Mata Yati nanar menatap tembok. Tembok besar itu membatasi akses warga ke jalan utama. Kabarnya, dulu tembok itu rapat. Tapi setelah warga berkali-kali mengajukan protes, hingga mengundang wartawan, masuk koran juga televisi, akhirnya dibuka dua buah pintu kecil di sisi utara dan sisi selatan. Pintu kecil itu menjadi jalan bagi warga untuk keluar masuk perkampungan. Kecil saja. Hanya pas untuk sepeda motor.

Kontrakan Solemah adalah salah satu dari rumah petak yang ada di situ. Terletak persis di samping tembok pembatas kompleks besar. Rumah kontrakan yang kecil, tapi disesaki penghuninya. Sebelum Yati datang, sudah ada Maryam dan Sofi. Karena itu Yati harus puas mendapat tempat di depan televisi, menggelar tikar di lantai, untuk sekadar tidur di malam hari.

"Awas kamu! Lain kali kamu begitu lagi, aku tinggal!"

Solemah masih belum menuntaskan amarah. Yati pasrah.

***

Yati menghela napas. Dia ingat-ingat lagi, apa yang membawanya ke sini? Ke pinggiran Jakarta yang tidak seindah gambar di televisi? Jawabannya berbentuk wajah Rafi, anak semata wayangnya. Wajah yang tampan dan menggemaskan. Yang membuat Yati menghela napas semakin dalam, saat teringat ayah Rafi yang tak berkabar lagi semenjak berangkat ke Taiwan setahun silam.

Ya, Rafi adalah alasan utamanya pergi ke Jakarta. Mencari nafkah. Tepatnya, Rafi menjadi alasannya untuk terus hidup.  Yati menghela napas lagi.

"Ayo Ti. Ayo... cepat!" Terdengar teriakan Solemah. Pemilik suara itu tiba-tiba muncul dari balik warung rokok yang menempel di balik pagar pertokoan mewah.

Yati bergegas mengikuti Solemah, sebisa mungkin merapikan rambutnya. Solemah mengajarinya untuk berdandan rapi. Dengan bedak tipis dan pemulas bibir. Meskipun harganya murah, dan kalau dipakai lama-lama terasa gatal, lumayan juga wajah Yati dengan tata rias itu. Jadi rapi. Cantik. Mereka semua yang tinggal bersama Solemah, selalu cantik ketika keluar rumah. Baju mereka bagus, meski dibeli di pasar gaplok. Meski tidak secantik ibu-ibu yang turun dari mobil-mobil bagus itu, Yati sudah merasa puas, ia jauh lebih cantik jika dibandingkan saat dulu masih berkutat dengan pohon cabai di desa.

"Ayo, cepat Yati! Jangan banyak ngelamun!"

Yati mempercepat langkah mendekati Solemah. Bersama Sofi dan Maryam, mereka masuk pertokoan. Hawa dingin dari mesin pendingin ruangan menusuk tubuh Yati. Tapi tak ada waktu untuk berdiam sejenak, Solemah mengajaknya bergegas. Dua teman lain pun mengikuti tanpa bersuara.

Di depan sebuah toko buku, mereka berhenti. Sofi dan Maryam bercanda berdua, tertawa-tawa. Solemah mengangkat-angkat ponselnya, sambil memunggungi kaca pajang toko buku. "Ini supaya yang di dalam tidak lihat aku! Sudah kamu nggak usah ikut lihat aku, kamu pura-pura ngapain, gitu," katanya ketus, ketika mendapati Yati menatapnya heran.

"Yati, kamu ingat. Nanti begitu di dalam, kamu ambil satu buku. Pura-pura baca. Sudah begitu saja. Selanjutnya ikuti Sofi. Ya?"

Yati mengangguk. 

"Awas kamu!" Nada suara Solemah penuh ancaman. 

Langkah Yati sempat tersendat, tapi Sofi sudah menarik tangannya. Maryam menepuk pelan pipinya, sambil memberi tanda agar tersenyum. Bertiga mereka masuk toko buku.  Menyusuri rak-rak. Tapi matanya tak bisa membaca satu pun judul buku yang terpampang. Bahkan warna-warna buku itu pun rasanya membaur tidak jelas. Yati bergegas menunduk. Dadanya berdetak kencang sekali. Maryam dan Sofi mengambil satu buku dan melihat-lihatnya. Apa yang mereka baca? Yati ingat pesan Solemah, ambil buku, pura-pura baca. Segera ia mengambil apa saja yang ada di dekatnya. 

"Yati... Yati... yang itu... yang itu...," Sofi berbisik. Matanya menuju ke arah seorang ibu yang sedang membantu anaknya mengambil buku besar. Si anak melompat-lompat tidak sabaran. 

Oh ya... yang itu... Yati segera menuju ke arah ibu dan anak itu. Tadi Solemah menyuruhnya ada di dekat ibu ini. Ibu yang turun dari mobil warna merah. Anaknya lucu. Kira-kira umurnya sama dengan Rafi. Rambutnya lebat, juga seperti Rafi. Wajahnya tampan, badannya sehat sekali. Wah, Rafi pasti juga akan tampan kalau bajunya bagus seperti itu. Hm... Rafi sekarang sedang apa ya? 

"Mbak, permisi. Mbak, maaf saya mau ambil buku itu," suara si ibu menghentikan lamunan Yati. Ibu itu menatap heran. Karena Yati berdiri tegak di depannya, diam saja, menghalangi dan mengganggu sekali. 

"Oh ya bu. Ya. Maaf," tergopoh-gopoh Yati minggir. Apa pesan Solemah tadi? Ambil buku? Pura-pura baca? 

Tangan Yati secara asal bergoyang. Akibatnya, tumpukan buku di sebelahnya rebah. Aduh!
Ibu itu masih menatap heran. Tapi dengan sigap lalu memanggil pelayan toko. "Mas... mas... tolong mas. Bukunya berantakan ini."

Seorang pelayan toko segera menghampiri. Lalu menata buku-buku yang tadi dijatuhkan Yati.
Jantung Yati berdegup keras sekali. Ia sesaat ragu. Tapi ia masih ingat kata-kata Solemah. Ambil buku. Pura-pura baca. Ambil buku. Pura-pura baca. 

Ibu itu melaluinya. Menuju anaknya yang tampak tekun mengamati buku besar bergambar binatang. Mereka lalu tertawa bersama. Yati menatap iri. Kangen Rafi. Oh. Ambil buku. Pura-pura baca. Ia segera mengalihkan mata ke buku di tangannya. Gambar apa ini? Oh, bukunya ternyata terbalik. Pantas tidak jelas.   
Ia lihat Sofi dan Maryam sudah berada di dekat ibu itu juga. Solemah ada di dekat rak buku yang satunya. Matanya menatap Yati tajam. Yati beringsut mendekat. Ambil buku. Pura-pura baca. Ambil buku. Pura-pura baca. 

Anak itu melihat ke ibunya, lalu tertawa lagi, berseru-seru sambil melihat ke buku, "Wah, monyetnya bisa menari!"

Rafi pasti juga akan senang kalau punya buku bagus seperti itu. 

Ibu itu tiba-tiba menatap Yati. Heran melihat Yati mengamati anaknya begitu lekat. Yati menunduk. Ambil buku. Pura-pura baca.   

Tiba-tiba Yati melihat ibu itu bergerak cepat, balik badan, setengah berteriak, "Eh... eh... kok tas saya terbuka? Eh... ada apa ini?" Ibu itu tampak panik sesaat. Tapi masih waspada, ia sekali lagi memanggil pelayan toko, "Mas... mas... tolong mas... ini ada yang nggak bener nih.... Mas!"

Yati melihat Sofi dan Maryam sigap melesat. Bagai terbang mereka keluar toko. Solemah pun tampak beringsut mendekati pintu. Yati bingung sesaat. Ambil buku. Pura-pura baca. Eh... tapi mereka keluar.  Segera ia kembalikan buku di tangannya, ingin menyusul Sofi dan Maryam. Juga ingin segera mendekati Solemah. Lho? Mana Solemah?

Yati celingukan ketika petugas toko menangkap tangannya. "Ayo kamu ikut saya!"

Jantung Yati seakan jatuh ke lantai. Ia didudukkan di lantai dekat meja kasir.    

"Iya, saya lihat tas saya tiba-tiba terbuka... mbak ini tadi melihat-lihat terus... aneh sekali... tas saya terbuka. Tidak... tidak ada yang hilang.... Tapi coba lihat di CCTV. Sepertinya teman-teman mbak ini tadi mencurigakan sekali. Mereka pasti komplotan...."

"Bloon kamu! Bloon! Kita semua bisa masuk penjara."

"Coba mas, periksa rekaman CCTV. Lihat, ada empat perempuan yang masuk toko ini setelah saya. Nah, iya... itu mereka...."

"Ambil buku. Pura-pura baca. Jangan suka bengong seperti itu. Mereka bisa curiga."

Samar-samar Yati masih mendengar suara-suara itu. Samar. Perasaannya berkecamuk. Ia kangen Rafi. Ia ingin pulang ke Kebumen. Ke anaknya.

"Nah, betul kan mas. Betul kan... yang baju kuning yang membuka tas saya! Astaga. Mereka ini penjahat! Saya sudah curiga karena saya lihat mbak ini baca buku kok terbalik. Mereka komplotan ya. Aduh. Saya akan lapor polisi."

Tidak ada lagi mereka. Hanya tinggal Yati. Hanya ia yang akan dipenjara. Dia. Yati. Anggota baru komplotan copet. Yati jatuh pingsan. Ia hanya kangen anaknya.

(Dimuat di salah satu Majalah Femina yang terbit bulan Maret 2016)

Wednesday, April 06, 2016

Tentang Kita. Atau Aku? (Yang Lain)

Dan pagi pun datang.

Biasanya, aku akan melihatmu begitu aku tersadar dari tidur. Beberapa kali terjadi momen jenaka, saat kita membuka mata bersama-sama. Ah... begitu besarnya cinta kita, hingga mengakhiri mimpi pun bisa berdua. Lalu kau akan berjingkat membuka jendela, membiarkan hawa sejuk dari halaman mengalir masuk.

"Aku tidak akan bisa tinggal di bangunan yang penuh sekat," katamu suatu hari.

Ya, aku tahu. Kau harus bisa menyapa pohon besar begitu kau bangun di pagi hari. Kecintaanmu pada alam, kesukaanmu pada tanaman, adalah hal yang akan membuatmu resah jika kita tinggal di apartemen di tengah kota. Karena itulah kau membawaku tinggal di tempat ini. Jauh dari kota, jauh dari hiruk pikuk gaya hidup yang terselip di sela-sela bangunan pencakar langit. Kita seperti menyingkir dari kehidupan yang bergerak cepat.

Kita jauh dari mana-mana, kecuali dari hutan dan tanaman. Sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah kita, ada air terjun alami. Kau sering mengajakku ke sana. Lalu kita akan berlama-lama berada di bawah tirai airnya. Menikmati suara gemuruh, merasakan percikan air mengenai wajah, sambil duduk di atas lumut yang basah.

Berdampingan dengan alam membuatmu ceria.

Aku? Mengikutimu adalah nama tengah yang kupilih sendiri. Aku dilahirkan di tengah kegaduhan metropolitan, dibesarkan di antara bangunan beton, dan selalu memilih kepraktisan yang disuguhkan kehidupan modern. Sebetulnya, aku suka tanaman, mencintai hewan, dan selalu mencari angin segar dari jendela yang terbuka. Tapi, kehidupan sejak kecil mengajarkan aku untuk menerima yang tersedia di depan mata.

Karena tinggal di apartemen, aku terpaksa menghirup udara kalengan air conditioner, kecuali di pagi buta ketika polusi kendaraan hanya tinggal sedikit, aku baru bisa bebas membuka jendela. Tanaman air yg dipelihara di gelas kaca sudah cukup memuaskan aku. Binatang peliharaan? Ah, aku memilih pergi ke taman, memberi makan ikan di danau atau menebarkan biji untuk burung-burung liar saja. Kehidupan yang serba cepat adalah yang aku kenal sejak dulu, kuakrabi sepenuh hati, dan kunikmati hingga tuntas.

Lalu, aku mengenalmu. Kau yang memuja alam sepenuh hati dan selalu ingin berada di dekatnya. Kau perkenalkan aku pada kehidupan yang jauh dari ingar bingar kota besar yang seperti tak pernah tidur. Kau bawa aku mendaki gunung, bermain di laut, bahkan menyusuri goa-goa gelap penuh misteri. Hal yang tak pernah kusentuh. Bahkan berpikir untuk mengenalnya pun, dulu aku sudah merasa lelah. Dulu. Berbeda dengan aku yang setelah mengenalmu. Sedikit demi sedikit, kau tularkan padaku kecintaanmu pada pohon, kucing, anjing, bahkan ular. Dan aku mengikutimu. Meski merasa mau mati saat mendaki gunung, toh aku bisa menggapai puncaknya. Terengah menyusuri goa batu, perjalanan tetap bisa kuselesaikan hingga ujungnya. Aku yang dulu sering cemas diserang hiu saat di laut lepas, kini berani menyelam di antara manta raksasa yang sedang mencari plankton. Semua kujalani karena aku tahu, kau menggenggam tanganku erat-erat. Hingga aku tak akan tersesat.

Banyak yang mencibir bahwa aku hanya ikut-ikutan kamu. Cintaku padamu membutakan, hingga aku mau-mau saja kau bawa keluar masuk hutan atau menaklukkan ombak di pantai-pantai yang jauh. Mereka mencemooh kulitku yang menggelap.

Apa salahnya? Kulitku memang tidak seputih dulu, tapi menurutku, yang sekarang ini lebih alami. Coklat mengilap. Sehat. Alam yang kau kenalkan padaku selalu indah. Jadi, kalau aku jatuh cinta padanya, tentu bukan semata karena perasaanku padamu. Bagiku, kau hanya membukakan pintu-pintu yang selama ini kukira tertutup.


***

Tapi pagi ini berbeda.

Pagi ini, aku tak melihat senyummu. Sisi tempat tidur yang biasa kau huni, sepi dan dingin. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Hampa mungkin belum cukup dalam menggambarkannya.

Ketika aku berjingkat membuka jendela, hawa yang masuk tak juga menyegarkanku. Rasa dingin justru membuatku meneteskan air mata. Aku rindu kamu. Dan alam akan selalu mengingatkanku bahwa kamu kini tak ada lagi.

Kamu pergi.
 
Dengan mengherankan, kau tak hanya meninggalkan aku, tapi juga meninggalkan semua yang, kupikir, kau cintai sepenuh hati. Kau tinggalkan semua pohon, semua tanaman, semua ayam, dan semua kelinci. Yang selama ini kau rawat tanpa jeda. Kau tinggalkan rumah kayu yang dulu sangat kau banggakan.

Seakan terserang amnesia akut, kau seperti lupa bahwa dulu kita memulai semuanya dari titik yang paling bawah. Ingatkah kau saat kutinggalkan hidupku yang gemerlap? Pindah ke rumah kayu ini. Menyongsong kegembiraan hati yang kau janjikan. Betul. Aku gembira. Bersamamu, aku bahagia. Meski ternyata tidak selamanya. Lupakah kau bahwa dulu kita harus memilih antara membeli kasur atau membeli meja. Harus ada yang didahulukan, tidak bisa dua-duanya sekaligus... karena dana kita yang terbatas.

Aku ingat matamu yang berbinar ketika aku berhasil memasak menu makan siang dengan kompor yang kita beli setelah menabung beberapa lama. Lupakah kau?

Aku juga tak lupa pada ekspresi gembiramu melihat aku berhasil menyemaikan sepetak taman di bawah jendela kamar kita.  Lupakah kau?

Kini, tanpamu, aku gamang.

Kau tinggalkan aku, yang dulu kau akui sebagai matahari hidupmu.


Kamu memilih bersama dia. Apakah dia juga suka hutan? Apakah dia pecinta tanaman? Apakah dia pandai menaklukkan binatang? Aku tak paham di mana kau mengenalnya. Bagaimana? Kapan?

Yang kutahu, kau pergi. Meninggalkan aku.

Aku tidak ingat manakah celah hatimu yang tidak kuisi, sehingga ada tempat bagi perempuan itu.
  

Tuesday, April 05, 2016

Tentang Kamu. Atau Aku?

Kita tidak pernah punya waktu untuk bercakap dgn betul. Membahas semua tentang kita dgn seksama. Apa rencanamu? Apa rencanaku?

Ada di mana aku dalam pikiranmu? Seringkali aku merasa seperti berusaha keras memasuki celah2 yang tersisa di kepalamu. Di antara pekerjaanmu yg padat dan hobi yang kau tekuni sepenuh hati.

Untukmu, semua terjadwal dgn tertib. Pertemuan jam sekian. Makan siang. Janji temu dgn investor. Olahraga. Lalu jadwal pertandingan dan kompetisi yang kau ikuti karena hobi. Semua tertata dari hari ke hari dengan teratur. Semua, kecuali janji jumpa kita.

Beberapa kali aku merelakan rencanaku berantakan. Karena kau tiba2 datang. Kejutan yg manis, tentu saja, mengingat jarak yg kau tempuh begitu jauh. Tapi... rencanaku yang berantakan itu, tidakkah pernah kau pikirkan? Rasanya tidak. karena hal itu tidak terjadi hanya sekali saja. Dan aku tidak pernah menunjukkan keberatan. Karena aku menghargai usahamu untuk menemuiku.

Sebetulnya, aku pun menikmatinya. Menikmati perjumpaan kita yg kadang berhari2, tapi lebih sering hanya dalam hitungan jam saja. Setidaknya, aku berusaha menikmati setiap perjumpaan lalu menghiasinya dengan berbagai keriangan. Menghiburmu yg telah bersusah payah menempuh penerbangan panjang. Juga menghibur diriku sendiri yang telah merindukanmu sekian lama. Kehadiranmu menuntaskan semua rindu. Terima kasih telah melakukannya, ya. 

Banyak yang ingin kutanyakan. Yang terutama, ada di manakah aku? Apakah ada tempat khusus untukku di bilik hatimu dan di dalam benakmu? Pertanyaan itu selalu sudah ada di ujung lidah. Tapi lalu berhenti di sana. Aku tidak pernah menanyakan. Aku tidak berani. Karena aku tahu, kau akan pergi begitu aku selesai bertanya. Bukan jawaban yang akan aku dapatkan. Tapi kehilanganmu. Aku sungguh tak mau itu. Aku, dan cintaku yang besar, selalu ingin kamu.

Namun setelah tahun2 berlalu, akhirnya aku merasa bahwa salah satu di antara kita harus lebih tegar. Harus ada di antara kita yang sadar untuk mencari tujuan yg benar. Sebenar2nya.

Akhirnya aku bertanya: aku ada di mana?

Dan persis seperti yg kuduga, bukan jawaban yang aku peroleh. Pertanyaan itu seperti garam yg kusebar di lautan maha luas. Dgn mudah ia larut. Hilang.

Hilang membawamu.

Aku tidak berharap kamu akan kembali lalu menjawab pertanyaanku. Bahkan meski aku telah bersiap menghadapi jawaban yg paling menyakitkan hati. Tidak. Aku tidak berharap apa2.Seperti aku tidak pernah berharap kamu akan hadir di hari2 penting dalam hidupku. Sekali lagi, aku tidak mengharapkan apa pun. Aku bisa apa?  

Rasanya memang aku tidak perlu ada di mana2. Termasuk di dalam pikiranmu. Apalagi di hatimu.

Dan cintaku padamu yg begitu besar akan mengaburkan semua perasaanku yg tidak nyaman.



Monday, April 04, 2016

For Sure

...wherever you go I still know in my heart you will be with me.... 

(For Always, Josh Groban)

Thursday, March 31, 2016

42

Jadi tahun ini gue berumur 42. Udah ngapain aja, neng, 42 tahun?

Ngapain ya? Hahahahahaha....

Alhamdulillah ya Allah bahwa di usia yg skrg sdh diberi kesempatan bikin ini itu, lihat ini itu, dan mengalami ini itu. Sering melakukan macam2 dgn semangat trial and error. Sering mau berhenti saja, tp lalu toh jalan lagi dgn berbagai alasan. Dan semua akhirnya berlalu juga. Move on. Go on.

Nggak bisa bilang apa2 lagi kecuali terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Baik. Yg mengirimkan orang2 dalam hidup gue, sampai gue bisa belajar macem2. Dari yg level seru banget, sampai yg ya udahlah.... Mewarnai hari2 gue dgn keceriaan. 

Matur sembah nuwun Gusti Ingkang Maha Kuwaos.

Wednesday, March 23, 2016

Mentoring

Kira2 14 tahun yg lalu, gue adalah gue yg tanpa ambisi dan ikut saja arus yg membawa gue. Hehe... Iya, cita2 gue aja sederhana banget kok. Jadi ibu rumah tangga. Di rumah. Ngatur meja dan belajar masak lalu belajar menjahit.

Ketika keadaan memaksa gue untuk bekerja, kerja itu pun dilakukan dgn semangat bahwa tiap tanggal tertentu rekening gue akan ada isinya. Bersyukur bahwa pekerjaannya adalah yg sangat disuka, berhubungan dengan menulis dan membaca.

Lalu sekitar 10 (atau 11?) tahun lalu, hadirlah seseorang workaholic dalam hidup gue. Orang yg melihat pekerjaan sebagai hobi, yg dari hobi itu dia hrs bikin ini itu yg luar biasa banyak. Dan pelan2, dia menularkan hal itu ke gue. Tanpa gue sadar, dalam setiap percakapan, selalu ada tentang pekerjaan. Sesedikit apa pun, selalu ada updates. Dan selalu ada kasus yang dipecahkan. Ih, hebat deh. Pelan2, sikap gue pada pekerjaan berubah. Bahwa memang hrs ada rencana, lalu ada eksekusi. Semua hrs terinci dan dibikin petanya secara jelas. Simpel aja: kerjakan yg disuka dan yg paling mudah dulu. One thing at a time.
 
Dan perubahan sikap ini ternyata berbuah penilaian yg bagus. Akhirnya gue menjadi spt sekarang. Mengingat cita2 gue yg duluuuuu sangat sederhana, ini sih udah nggak karuan jauhnya, at least buat gue.

Skrg ini gue sedang mengingat2 cara yg dulu diterapkan ke gue. Karena gue sedang berambisi mentoring seseorang. Agak susah krn gue nggak sabaran... hahaha... tapi gue sangat ingin dia berhasil. Gue sangat ingin dia mencapai step yg lebih tinggi dalam kariernya.

Thank you, my cute and humble mentor. You know who you are. Let me multiply your method. He needs it, badly :)

Tuesday, March 22, 2016

Change

Upside-down trees swingin' free,
Busses float and buildings dangle:
Now and then it’s nice to see
The world– – from a different angle.

(New World - Shel Silverstein)

Monday, March 21, 2016

Notes

I will be with you if you ask me to be.

Friday, March 18, 2016

Mengenal Lebih Dekat

Jadi pengen membahas dia-yang-kemarin-ngajak-masuk-goa.

Gue kenal dia pertama kali sekitar 8 tahun lalu. Kalau diurutin sih, dia itu adik kelas gue di SMA. Tp kami nggak pernah ketemu di sekolah. Waktu di masuk, gue sudah pindah ke sekolah lain. Atau gue sudah lulus ya? Kami dikenalin sama sesama alumni. Tp perkenalan pertama itu tidak terlalu gimana2. Krn satu dan lain hal. Yg terutama sih krn dia itu rasanya kok masih "banyak main" waktu itu. Nggak gue banget. Dia pun merasa begitu kayaknya. Jadi menjauh.

Lama nggak berkabar yg serius, paling ucapan selamat lebaran - selamat ulang tahun... nggak terasa sdh lama banget nggak ketemu. Sampai kira2 bulan November lalu, out of the blue dia whatsapp. Gue pas di event di Gorontalo. Akhirnya saling halo2 kami bahas soal Gorontalo. Diakhiri dengan, "Maksi bareng, yuk!"

Dan ketemulah kami lagi, setelah sekian lama. Menurut gue sih dia nggak berubah. Tetap dengan semangat "yuk main" yg luar biasa besar. Gue beneran ingat Aria deh kalau lagi sama dia. Termasuk segala clumsy attitude yg bisa bikin nada suara gue jadi tinggi. Herannya, gue kok betah. Dalam arti, ya senang aja tuh jalan sama2. Persis spt gue senang jalan sama anak gue. Dan selama jalan itu kami sama sekali nggak romantis. Hahahaha... Jauh deh dari sayang2an. Lucunya, properti gue ya sama spt kalau jalan sm Aria: tisu basah, siap2 buat bersihin bajunya kalau kena noda makanan. Duh ampun.

Sampai dia lalu mencetuskan ide utk selusur goa krn mulai bosan sama kantor, dan tahu kalau gue juga lagi pengen liburan.

Rencana perjalanan adalah 4 hari. Gue sih iya2 aja. Dia urus semua perjalanan itu. Tp tentunya gue punya back up plan... yaitu kalau dia "nggak menarik", gue akan pulang di hari ke-2. Termasuk juga back up plan sewa mobil krn nyonya tak mau naik angkot. Hahahaha....

Ternyata... gue tidak perlu pulang di hari ke-2. Bahkan mungkin kalau extend sampai 6 hari, nggak pa pa juga deh... krn dia menyenangkan. Dia yg biasanya lurus kayak kayu tak berperasaan... ternyata kok cukup manis. Dia nggak komplen dgn gaya gue yg ratu. Dgn sabar nungguin gue yg kalau kena aura liburan akan melakukan semuanya dgn kecepatan jalan keong hamil. Termasuk waktu di goa, dia akan nungguin, jagain, dan sangat caring membiarkan gue jalan kaki pelan2 kayak sdh berumur 100 tahun. Ah, lemahlah hatiku kalau ada yg manis2 gini....

Dia hanya komentar, "Kita beda ya. Aku pencilakan gini, kamu teratur banget."

Komentar yg bikin gue ngakak krn merasa harus diayak 1000 kali sblm jadi halus teratur....

Anyway, setelah mengenal dia lebih dekat, memang dia kekanak2an. Tp bukan berarti dia nggak dewasa juga kok. Dia ya sewajarnya cowok yg sedang mendekati cewek. Dan itu cukup melegakan gue. Hahaha....

Hari ini rasanya berbunga2 banget waktu dia transfer uang ganti sewa mobil selama jalan2 kemarin. Bukan uangnya yg bikin bunga2.... Di notifikasi, di kolom berita transfer dia tulis: payment for the memory that stays in my heart forever.

Saya meleleh. Asli.

  

Monday, March 14, 2016

Lulus dari Goa Barat :)

Tidak pernah terpikir bahwa gue akan menyusuri gua yg gelap, lembab, basah... selama 6 jam lebih. Sampai sekarang juga masih heran kok mau2nya gue jalan2 ke tempat yg masuk kategori aneh di kepala gue.

Jadi ceritanya, bbrp minggu lalu gue sakit. Trus setelah recover, ada ajakan untuk jalan2 ke luar kota. Dari siapa? Siapa lagi.... *wink* Tanpa pikir panjang, gue iyakan. Yg di kepala gue hanya mau jalan2. Titik.

Yg paling simpel adalah ke Yogya. Nggak terlalu jauh. Ok.
Tapi ke Kebumen juga seru. Ok.
Telusur gua yuk?
Ok.

Dari awal sdh gue bilang, jangan terlalu ambisius kalau jalan2 sama gue, Krn gue ini pemalas. Dan dia iya2 aja nggak komplen. Gue sempat browsing juga soal goa2 itu. Ada Goa Petruk, tapi bau. Ogah deh kayaknya. Ada satu lagi Goa Barat. Tp panjang dan lama menelusurinya. Hah? 6 jam di goa? Ok. Kita lihat nanti.

Berangkatlah kami, selasa subuh dari Jakarta. Mendarat di Yogya, langsung dijemput mobil yg membawa kami ke Kebumen. Gue sbg nyonya ratu ikut ajalah. Itinerary pasrah, judulnya. Sudah malas mikir.

Tujuan pertama ke Benteng van Der Wijck. Peninggalan Belanda jaman dulu banget. Katanya sih ini satu2nya benteng segi delapan yang ada di Indonesia. Bangunannya besaaaaar banget. Luaaaass banget. Herannya, pintunya kok pendek2 ya? Gue bayangkan orang dulu kan besar2 gitu....

Kami sampai di benteng ini jam 12 pas. Panasnya ciamik, matahari tepat di atas kepala. Foto2 jadi bagus sih. Tp krn kami berdua nggak ada yg demen difoto, jadinya ya foto benteng aja yg banyak. Hahahaha.... Tiket masuk Rp.25ribu. Senengnya, benteng ini bersih nggak ada sampah. Memang sih masih ada pemasangan signage yg ganggu banget nggak ada estetikanya sama sekali. Tetep perlu waskat supaya jadi cakep. The Raid 2 katanya shooting di sini.

Di atas benteng, ada kereta wisata. Keliling benteng. Tapi agak nggak jelas sih tujuannya, karena pemandangan dari atas hanyalah atap benteng. Mungkin untuk pamer bahwa atapnya juga dari bata merah? Entahlah....

Habis dari benteng, kami ke waduk Sempor. Ya, waduk biasa sih, untuk PLTA. Pemandangan hijau2 di sekelilingnya lumayan untuk cuci mata. Di sekitar waduk, kami masuk ke warung pecel. Gue memuaskan diri dgn tempe mendoan sebesar nampan. Habis makan, sempat sholat dulu di Masjid Pancasila. Aduuuuh... namanya sungguh warisan Soeharto. Hahahaha.... Mesjidnya unik, atapnya segi lima. Sayangnya, materialnya bukan yg prima jadi udah bocel2 gitu atapnya.

Habis dari Sempor, ke Goa Jatijajar. Ini sebenernya lebih karena sentimental value. Duluuuuu sekali kami ke goa ini waktu masih SD. Kok gue lupa ya dulunya gimana? Yg jelas skrg ini kawasan ini dikembangkan jadi objek wisata yang bagus. Selain goa dikasih lintasan yg relatif gampang dilalui, penerangan juga cukup, juga dilengkapi diorama Raden Kamandaka - Lutung Kasarung. Konon, si raden dulu jauh2 dari Pajajaran bertapa di sini. Ada 7 mata air di dalam goa. Tp yg gampang didekati hanya 4. Airnya dingin dan agak deras arusnya. Kok serem ya mau dekat2....

Malam pertama di Kebumen, dihabiskan dgn makan sate bu Liz, lalu di Meotel saja leyeh2. Memang tujuan utamanya kan mau santai2 ya.

Besoknya, gerhana matahari! Haha... jadi bangun pagi malah lihat siaran langsung gerhana di televisi. Pdh rencananya mau ke Goa Barat pagi2. Rencana tinggal rencana, baru keluar dari hotel hampir jam 9. Jadi sampai di Goa Barat jam 10.

Goa Barat ini satu kawasan dgn Goa Jatijajar. Sudah mulai dijadikan objek wisata juga, maksudnya dibangun pintu masuk yg manusiawi dengan tangga beton. Tapi... itu hanya awalnya saja. Sekitar 2 km dari pintu, Goa Barat harus diselusuri dgn jalan kaki, istilah kerennya caving. Seumur hidup, ini pertama kalinya gue caving.

Sebelum masuk goa, kami bayar pemandu, asuransi, sewa helm, pelampung, sepatu. Sebetulnya per orang Rp.40ribu. Tp operatornya menjual sistem paket per 6 orang. Biarpun cuma berdua, kami tetap di-charge satu paket Rp.240 ribu. Nggak menyesal juga sih bayar segitu krn masing2 dapat pemandu. Buat gue ini penting banget, mengingat sbg ratu... ik tentu butuh banyak bantuan di dalam goa.... haha.... Si pemandu ini sukarela bawain botol minum gue juga sih, jd gue melambai jaya masuk goa. Sama sekali nggak pengen bawa hp atau kamera. Bawa diri aja sdh ribet rasanya dgn pelampung yg kayak guling....

Kami mulai susur gua sekitar pukul 10.25. Masuk turun tangga dgn girang gembira, krn tangga beton itu sungguh mudah disusuri. Masih segar bugar juga. Tp setelah satu jam jalan, mulai merasa menderita. Hahahaha... . Di dalam goa sama sekali tidak ada cahaya. Penerangan berasal dari lampu yg dibawa dua pemandu. Satu di depan, satu lagi di belakang. Kadang ada hiburan batu yg bagus. Semacam kristal bening. Ada juga akik yang kalau disenterin tembus cahaya. Hebat memang bumi ini ya, penuh macam2 mineral yg mempengaruhi batu2nya.

Selama di dalam, gue sempet cemas akan sesak napas. Ternyata nggak. Mungkin krn banyak air? Begitu ketemu air, nyemplung. Seneng. Seger. Kalau nggak pas kena air, gue akan berkeringat habis2an. Sampai kelihatan badan gue berasap lho. Ada beberapa batu yg mengucurkan air bening. Bisa diminum. Seneng banget deh tengadah trus minum air segar....

Setelah jalan hampir 2 jam, gue sdh agak putus asa sebenarnya. Medannya sdh semakin dahsyat dan rasanya sdh lelah sekali. Kaki kanan mulai senut2. Tp trus disemangati sama para cowok2. Krn katanya dikit lagi sdh sampai ujungnya. Huhuhu... penasaran jg sih. Akhirnya istirahat 15 menit trus lanjut lagi deh perjalanan. Bersyukur bahwa gue ini kadang2 ikutan yoga. Meskipun masih abal2 tp ternyata cukup signifikan buat latihan angkat2 kaki. Ya gitu, kadang gue hrs melewati batu setinggi kepala. Ada yg dikasih tangga, ada juga yg hrs dipanjat satu2.... Belum lompat dari satu batu ke batu lain yg jaraknya lebih dari 40cm... sambil hrs miring krn di kepala ada stalaktit.... Waktu ketemu batu2 yg susah itulah gue mulai bertanya2 what brought me here in the first place. Hahahahahahaha....

Setelah 3 jam lebih sedikit... sampailah di titik akhir goa. Berupa air terjun besar sekali yang jatuh dari langit2 yg gelap. Konon sih dalamnya lebih dari 20m. Memang, dgn air tercurah setinggi itu dan percikan yg nggak besar, curiga pasti dalam banget. Seru sih di tengah2 ada di tengah gemuruh air. Meski ngeri juga kalau tiba2 arus membesar, selesai dong... hiiiii.....

Perjalanan pulang tentu saja sekali lagi menyiksa gue. Gue sering terdiam di depan batu besar. Mikir keras gimana cara ngelewatinnya.

"Ibu, kaki kiri dulu ditumpukan ke batu."
"Oke."

Diem. Lama.

"Pak, kaki kiri itu yg mana ya?"

Dialog macam itulah yg sering sekali terjadi di depan batu2 yg sulit. Koordinasi otak ke kaki dan tangan sudah nggak bener. Hahahaha.... Semua jari2 sdh kisut, beberapa sdh luka2 krn waktu pegangan nggak sadar kalau batunya setajam pisau. Auch....

Beberapa kali pemandunya nyuruh gue jalan miring, dan gue memilih tiarap. Ya dia sih cocok ya, kalau maju sempit, dia miring, jadi gepeng, cukup masuk celah. Lha gue? Bukannya gue ini bunder? Mau miring kayak apa ya tetep bunder keleeeeuuusss.... Jadilah gue lbh baik tiarap dan merayap kayak cicak. Macam tentara. Tentara berbadan raksasa....

Setelah 3 jam kemudian, akhirnya "nemu" lubang awal gua... kelihatan ada secercah lampu di depan... rasanya sueneeeeng banget! Hahahaha... Tp tingginya itu lho cyin. Hahaha... meski tahu sdh sampai akhir pejalanan tetep aja nggak bisa jalan lebih cepet krn kaki sdh seperti ketuker yg kanan dan yg kiri....

Kami keluar dr goa tepat jam 16.00. Lama kan? Ho oh. Basah kuyup sekujur tubuh, tangan baret2, dan dengkul rasanya mau copot. Lapernya? Jgn ditanya. Sampai lupa. Yg pertama gue lakukan setelah sampai di parkiran mobil adalah minum pocari sweat 2 botol. Tandas. Setelah itu baru merasa "agak waras lagi." Banyak yg nawarin makanan tp sdh nggak pengen saking lelahnya. Rasanya cuma pengen mandi, ganti baju, tidur. Setelah bilas di kamar mandi, ganti baju, masuk mobil... langsung rebahan. Astagaaaaaa... capeknya.

Tp perlu gue akui bahwa keluar dr goa, pikiran gue cerah. Mungkin krn lihat sinar lagi setelah bbrp jam, atau memang krn seger ya. Soalnya di dalam goa, nggak ada pikiran lain selain gimana supaya selamat. 6 jam nggak mikir yg lain2 itu seperti mengistirahatkan otak lho. Bener deh. Rasanya kepala jd ringan.

Otw ke hotel, mampir ke restoran untuk very late lunch gabung sm early dinner. Makan nasi sepiring dgn lauk cumi goreng dan ikan bakar... susah payah krn ngantuk banget... tp jg paham hrs makan spy badan nggak protes. Setelah itu rasanya kok pengen digendong aja.... Situ oke minta gendong? Perlu dipanggilin gerobak kayaknya.

Rencananya, besok paginya mau pijet. Membayangkan enaknya dipijet setelah kaki ketuker kok enak banget. Tp ternyata oh ternyata, sekujur kaki biru2. Kayaknya selama di dalam goa tanpa sadar kebentur kanan kiri... yah... kalau biru2 kan dipijet sama aja nyiksa diri sendiri. Ya sudahlah... nasib....

Kamis malam balik ke Yogya. Mampir Kalibiru. Tapi tetep... nggak ada yg ngalahin sensasi bisa menelusuri Goa Barat. Sungguh nggak kebayang gue akan mau2nya masuk goa dan jalan susah2 begitu. Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup. Yakin pasti I won't do that anymore in the future. Hahahaha.... 
 


Thursday, March 03, 2016

The Recap

I miss reading your writing.

A message in the morning would brighten up my day. I would read a long write up more than thousand times. We did exchange emails and sometimes you wrote a little note on books you sent to me. And not to forget those cards accompanied bouquets of roses. I miss reading all of those. They always comforted me. Always. Never fails.

I miss seeing your name blinking on my screen.

Whether it is a small screen of my phone (been in 3 different size, time permits), or on my computer, the blink would make me happy. Oh, your name even blinked on a big screen once, when a chat box opened right before my presentation. None complained, maybe because what appeared on screen was: Mr. President.

I miss to see you smile.

You smiled, when your eyes met mine in the airport, or in the office lobby, or in front of my house. The smile would stay in my heart for days. 

I miss working with you.

Yes we sometimes worked together in the sense of you and I sit side by side, working with our own laptop. I guess you contaminated me with your hardworking-workaholic habit, now I always bring laptop everywhere I go. You did that, even when we had our vacation. And we would spend hours working, while we were away from our offices. And I didn't have reason to complain, since you always... always... gave me hindsight on handling stuff. And I can ask you anything about my job. You would turn what seemed to be troubles and obstacles to become as clear as crystal. You were brilliant. You are.

I miss our arguments.

We did yell at each other several times. As healthy couple does. We would sit silently afterwards, sometimes you let me cry my heart out. But it won't last long. You would explain everything clearly so I understand you better after each quarrel. And yes, I accepted you. As you are. 

I miss waking up next to you. Especially on holiday mood....

Over all, I miss you. I really do. 


Saturday, February 27, 2016

Dia yang Peragu

Agak heran dgn satu laki2 yg mengaku sangat menyukai satu perempuan, tapi lalu tidak mau menghubungi perempuan itu. Dia tidak mau mencoba mengirim pesan, atau apa pun, karena alasan yang menurut gue absurd: takut ditolak. 

Kenapa takut ditolak? 

Satu, kan belum tentu ditolak? Dua, bagaimana tahu akan ditolak, seandainya tidak pernah mencoba mendekati? Tiga, at least you try!!! Damn! 

Diskusi tentang ini, sampai hari ini (sejak kemarin perjalanan dari Jkt-Bandung) belum selesai juga. 

Yg perempuan2 gemes kenapa si cowok begitu defensif, dgn alasan "aku ini pemalu." Dia bertahan nggak mau kirim pesan atau telepon. Pdh dari tadi pagi gelisah luar biasa, kerjanya jd lucu lucu ganggu minta dikitik pakai pisau daging. 

Segitu takutnya? 

Memang... sebetulnya, siapa sih yang mau ditolak? Tp rasanya ketakutan yang sampai segitunya nggak mau menghubungi sama sekali kok terlihat spt dungu. Untuk perempuan nggak sabaran seperti gue, sikap yg takut ditolak lalu jadi bloon ini sangat mengesalkan. Buat gue, ada hal2 yg nggak bisa selesai dengan sendirinya... ada hal2 yg hrs diberesin supaya kelar.... Dan orang2 yg nyari alasan ini itu untuk tidak beresin masalah adalah orang2 yg nggak bangeeeeetttt....

Inilah juga bedanya Mars & Venus. Mungkin? 

At least now I understand if he may do similar thing. Huh.

Monday, February 22, 2016

For Always

I close my eyes
And there in the shadows, I see your light
You come to me out of my dreams 
Across the night

You take my hand 
Though you may be so many stars away
I know that our spirits and souls are one
We've circled the moon 
And we've touched the sun
So here we'll stay
 
For always, forever
Beyond here
And on to eternity

For always, forever
For us there's no time and no space
No barrier love won't erase
Wherever you go, I still know
In my heart you will be 
With me

From this day on 
I'm certain that I'll never be alone
I know what my heart must have always known
That love has a power that's all its own

And for always, forever
Now we can fly
 
And for always and always
We will go on beyond goodbye

For always, forever
Beyond here and on to eternity 
For always and ever
You'll be a part of me
And for always, forever
A thousand tomorrows may cross the sky
And for always and always
We will go on beyond goodbye

(Josh Groban) 


For you. Who will always be here. Forever. And always.
You know who you are. 

Monday, February 15, 2016

Missing Who?

- Rasanya kok suntuk.
- Kurang kerjaan? Banyak kerjaan? Kurang makan? Kurang tidur?
- No. Kangen kamu.


*jreng* *tadinyabawelbangettruslangsungkuncup*

Wednesday, February 10, 2016

The Short Story



Jejak Sang Petualang

Aku tidak pernah mencari ayah. Tapi toh, aku menemukannya.
Sejauh ingatanku, hanya ada aku dan Ibu. Sempat ada eyang putri. Tapi saat aku berumur tujuh tahun, eyang putri meninggal dunia. Aku ingat mengantar jenazah beliau ke sebuah makam di Salatiga. Semua orang menangis. Beberapa saudara memeluk erat Ibu dan menepuk bahuku. Tetangga bergantian datang , melakukan pengajian. Tiga hari. Tujuh hari. Sebulan. 100 hari setelah eyang putri dimakamkan, Ibu menjual rumah eyang lalu pindah ke Jakarta. 

Sejak itu, kami hanya berdua. Kami pindah ke sebuah kompleks kecil. Ini perumahan yang aman, dilengkapi satpam yang bergantian menjaga gerbang. Jadi bisa dibilang ada yang menjaga kami 24 jam.
Aku ingat Ibu memulai kariernya dengan bekerja di sebuah majalah perempuan. Setiap pagi aku diantar ke sekolah, lalu pulang naik mobil jemputan. Di rumah, ada bibi tukang cuci yang menemaniku sampai Ibu pulang. Ibu mendidikku dengan tegas dan tertib. Dan bibi pun mematuhi perintah Ibu untuk mengawasiku mengerjakan PR, makan,  dan mandi, dengan rapi dan teratur. Tidak hanya teratur, bibi memastikan aku mengerjakan semuanya tepat waktu. 

Ibu dengan segala upaya mengajariku menjadi laki-laki serba bisa. Tak hanya sekadar membereskan tempat tidur, tapi juga menjadi laki-laki yang bisa diandalkan ketika beliau perlu seseorang untuk disuruh ke pasar atau menyetor uang ke bank. Saat aku berusia sembilan, disuruhnya aku memperhatikan tukang listrik, agar tahu cara mengganti bohlam yang putus. Lalu aku juga ikut tukang kebun belanja tanah dan batu, untuk mempercantik taman kecil di rumah kami. Ketika libur sekolah, saat Ibu tak harus ke kantor, ia mengajakku ke pasar, berbelanja kebutuhan sehari-hari. Aku diajari menawar belanjaan. Sesekali Ibu membekaliku uang, menyuruhku belanja ini itu, tak lupa dengan pesan, "Catat semua pengeluaran." Akhirnya aku pun paham pembukuan sederhana.  

Berkat Ibu, aku bisa menangani segala hal. Memasak. Membersihkan rumah. Mengatur uang. Kemudian setelah lebih besar: mengemudi. Dan tentu saja bersekolah dengan lancar. Sekali aku bertanya pada Ibu tentang ayah. Jawabnya, "Ayahmu adalah petualang yang hilang dalam perjalanan." Wajah Ibu nampak sangat tertekan saat mengatakannya. Sejak itu, kuputuskan untuk tak bertanya-tanya lagi. 

Seiring naiknya karier ibu, tugasnya makin banyak.  Ibu sering luar kota, meninggalkanku berhari-hari. Saat itu, aku sudah duduk di bangku SMP. Ibu menasehati bermacam-macam, terutama soal keamanan di rumah. Saat demikian, bibi tukang cuci akan bermalam. Tukang kebun juga tetap datang secara rutin. Aku akhirnya terbiasa mengatur rumah. Termasuk tepat waktu memberikan gaji bibi dan tukang kebun,  jika tanggal gajian bertepatan dengan Ibu masih di luar kota. Saat itu usiaku lima belas tahun, tapi aku sudah bisa mengurus diriku sendiri. Berangkat sekolah. Pergi pulang ke tempat les biola naik ojek. Sibuk di dapur. Belajar. Semua beres, sesuai didikan Ibu. 

***

Sejak aku ulang tahun ke tujuh belas, Ibu keluar masuk rumah sakit. Berkali-kali aku dikejutkan berita bahwa beliau tak sadarkan diri saat di kantor, lalu dilarikan ke rumah sakit. Sekali ia kutemukan terduduk lemas di meja dapur. Kali lain terjatuh di kamar mandi. Aku tak sempat panik. Ibu mendidikku dengan benar hingga saat melihat Ibu sakit, aku bisa segera menghubungi rumah sakit, meminta ambulance (nomor teleponnya sudah ditempel oleh Ibu di dinding dekat pesawat telepon).  

Pemandangan sama selalu terjadi saat pulang dari rumah sakit. Wajah Ibu pucat tapi bahagia melihat rumahnya tetap tertata, seolah ia tak pernah pergi. Aku yang menjaga agar semua tetap rapi. Lalu Ibu mengelus kepalaku. "Aku bangga. Kamu memang anakku," bisiknya pelan.
Aku cium pipinya. Dan Ibu tertawa tanpa suara. "Rumah ini memang tak berubah tatanannya, Ibu. Tapi Ibu jangan pergi lama-lama. Aku kangen lihat Ibu berangkat dan pulang dari kantor. Kalaupun aku bisa masak sendiri, tapi masakan Ibu tetap yang paling lezat di dunia," sahutku. Selalu begitu. 

Ibu lagi-lagi pasti tertawa. Tangannya terbentang lebar, mengundangku ke pelukannya. Kami akan berpelukan. Lama sekali. Demikian berulang-ulang. 

Sekali waktu, saat aku SMA, Ibu masuk rumah sakit saat pembagian rapor di sekolah. Ketika aku menunjukkan raporku, Ibu sempat tercenung. 

"Siapa yang mengambilkan?"
"Ayah Manda."
"Siapa Manda?" senyum Ibu terlihat menggoda.
"Nanti juga Ibu akan kenal," aku merasa pipiku merah. 

Senyum Ibu makin lebar. Ia pasti tahu bahwa Manda adalah teman spesial. 

Sejak itu, Manda kadangkala datang menemani Ibu. Apakah kami berpacaran? Ya. Tapi tidak lama. Kami lebih nyaman berteman saja. Manda menjadi sahabat terbaik di dunia. Dan menjadi semacam kurator untuk gadis-gadis yang kukencani. Dia memang lebih cocok menjadi saudaraku.  Ibu pun senang karena seperti mempunyai anak perempuan yang datang mengunjunginya sekali waktu.

Ibu masih tetap menjadi pelanggan rumah sakit. Kadang kutemani, kadang bersama Manda.   
Dua hari setelah aku berulang tahun ke-23, aku yang hendak berangkat bekerja mendapati Ibu tak bisa dibangunkan. Tubuhnya dingin, wajahnya memutih, tapi bibirnya tersenyum. Seketika aku tahu, Ibu benar-benar pergi. Setelah enam tahun, kanker itu mengalahkannya.  

***

Ibu telah tiada, tapi hidupku berjalan terus. 

Hampir setahun setelah Ibu meninggal, bersama Manda kubongkar kamar Ibu, berniat menyumbangkan baju-bajunya ke rumah jompo. Sepatu dan tas juga pasti bisa dimanfaatkan penghuni penampungan. Ibu pasti setuju. Terutama, aku tak ingin tenggelam lama-lama dalam kenangan yang menyedihkan gara-gara melihat barang-barang Ibu yang masih ada di mana-mana. Aku ingin mengingat Ibu dengan gembira, melalui kenangan-kenangan di hatiku saja. 

"Aku kagum, kamu tabah sekali menerima kenyataan kehilangan Ibu," kata Manda sambil melipat setumpuk baju dan memasukkannya ke dalam koper. "Kamu tegar."
"Ibu yang mendidikku seperti ini," jawabku. "Jujur, kadangkala aku tak tahu bedanya antara tegar, atau tidak berperasaan."

Manda menatapku heran. Tapi aku tak sempat memperhatikannya. Aku sedang memanjat kursi untuk menjangkau sisi atas lemari, agar bisa mengeluarkan setumpuk kotak dari sana. Entah apa saja yang disimpan Ibuku selama hidupnya. Satu per satu kotak itu kubuka. Ada sepatu. Ada yang berisi foto-fotoku saat bayi. Ada yang berisi surat-surat tagihan lama. Satu kotak agak besar menarik perhatianku. Tidak seperti kotak lain yang bekas sepatu, kotak ini tampak istimewa, meski telah usang.  Hatiku berdesir ketika membukanya. 

"Apa itu?" tanya Manda. Ia tentu melihat perubahan raut wajahku.
"Ini surat-surat ayah, untuk Ibu."

***

Akhirnya aku menemukanmu, Ayah.

Di antara surat-surat yang dikirim ayahku untuk Ibu, terdapat secarik pemberitahuan duka cita. Alamat di pemberitahuan tersebut membawakau ke pemakaman ini. 

Di salah satu nisan, terbaca nama: Ryan Andika. Meninggal 2003. Nama belakangnya sama seperti nama belakangku, Andika. Aku usap rumput hijau yang melapisi makam itu. Nampak terawat dan subur. Syukurlah makam ayah tidak tersia-sia. Dan ternyata petualangan yang menghilangkan nyawa ayah tidak seperti yang kubayangkan selama ini. Ia bukan hilang di laut, atau diserang binatang buas kala di hutan. Bukan begitu ceritanya. Dari surat-surat itu, aku paham bahwa cinta ayah dan Ibu tak bisa bersatu. 

"Halo, kamu siapa?" sebuah suara ceria menyapaku, membuyarkan lamunanku tentang ayah. Pemilik suara ternyata seorang anak perempuan lucu berbaju warna merah dan kuning. Rambutnya dikuncir dua.
"Maafkan. Dia tidak bermaksud mengganggu," seorang Ibu muda menarik tangan anak itu. Wajah mereka mirip, pasti ibunya.
"Om siapa? Kenapa ada di makam kakek?" anak itu masih bertanya.
Kakek?
"Ini makam ayah saya," tutur sang ibu. Matanya mengamatiku lekat-lekat. "Apakah kita pernah bertemu sebelum ini?" 

Seorang ibu paruh baya yang berlindung di bawah payung tampak berjalan di belakang mereka. Aku seketika bisa menebak. Merekalah yang beberapa kali diceritakan Ayah di surat-surat untuk Ibu. 

"Ia ayah saya juga," suaraku tercekat di tenggorokan. "Saya Rudy Andika." 

Nyata-nyata ia terkejut, sebelum berbisik sangat pelan, "Saya Desiana Andika." 

Ibu yang memegang payung sekarang ada di hadapanku, terpaku tak bisa berkata-kata, menatap wajahku yang juga membisu. Aku tahu, ia pasti terkejut melihatku. Berulang kali Ibu mengatakan aku sangat mirip dengan ayah di masa muda. 

Ah Ayah, bukan saja aku menemukanmu, tapi aku juga menemukan keluargamu. Merekalah yang tak kau tinggalkan meski dalam perjalanan hidupmu kau bertemu lalu jatuh cinta pada Ibu. 


(Dimuat di salah satu Majalah Femina yang terbit pada Desember 2015)