Thursday, December 31, 2020

Bye 2020

Today is the last day of 2020. 

How was it? 

Tahun ini dengan segala kerusuhannya tetap menarik buat saya. Masih gegap gempita. 

Career wise, not bad. 

Life wise, not bad either. Banyak masalah... krn kita manusia. Kalau banyak wijen, kita sudah jadi onde-onde. 

Pandemi sempat memunculkan "ide" untuk uninstall 2020... tapi, tnyt ada hal manis yang mengurungkan niat itu 100%: bumping into someone that spark my soul. 

So, 2020 wasn't that bad after all, and I am so ready for 2021. Bring it on!



Wednesday, December 30, 2020

It is Something Else....

"Sebentar, ya, saya masukkan anak-anak dulu. Call you again later. Take care." 

Dan Dewo akan memutuskan sambungan telepon. Dira paham, itulah akhir dari percakapan mereka hari itu. Paham sekali. Karena selama ini memang selalu begitu. 

Bercakap di telepon dengan Dewo sebetulnya selalu dinanti Dira. Biasanya, Dewo akan menelepon sekitar pukul 6.30, atau paling lambat 7.15. Ia akan menelepon sambil membawa anjing-anjingnya berjalan-jalan. Dan percakapan mereka pun kemudian diselingi kesibukan Dewo mengurus Loco, Leo, Fox, dan Chikita di sepanjang jalan. Empat anjing itu diadopsi Dewo sejak lama dan selalu disebut sebagai "anak-anaknya".  

Dira akan mendengar Dewo bertegur sapa dengan para tetangga. Salah satu disebut Dewo sebagai Pak RT. Biasanya akan terdengar juga suara mbok Siti, pedagang buah yang selalu merayu Dewo membeli pepaya atau pisang yang katanya ia panen dari kebun sendiri. Jarang sekali Dewo melewati tempat jualan mbok Siti tanpa membeli apa pun. Meskipun Dewo sering jadi bingung karena persediaan buah di kulkas masih cukup banyak. Beberapa kali akan ada panggilan, "Pak Dewo... Pak Dewo.... " yang dijawab Dewo dengan bahasa Jawa. Halus dan sopan sekali, hal yang sangat mengesankan di telinga Dira. 

Seringkali Dira harus diam cukup lama, ikut mendengarkan anak-anak yang mengobrol seru tentang anak-anak Dewo yang berkaki empat itu. Mereka akan bertanya macam-macam, dan Dewo akan menjawab semuanya dengan sabar, seringkali bahkan sengaja berhenti dari acara jalan-jalan pagi. Dira tentu jadi ikut menikmati suara Dewo yang berat, menjelaskan satu persatu tentang Loco yang harus diberi sampo khusus agar bulunya tetap mengilap, Leo yang hanya mau makan sayur-mayur, lalu Fox yang hanya bisa tidur setelah dipeluk. 

"Ini namanya Chikita, satu-satunya yang betina. Dia harus selalu dirantai."

"Galak?"

"Tidak. Dia hanya harus diikat supaya tidak kabur dan membunuh ayam. Tidak bisa juga pakai tali biasa, harus rantai besi, supaya tidak dia gigit hingga putus." 

"Hiiii...." Dira akan mendengar suara anak-anak yang berseru-seru, antara ngeri tapi juga penasaran. 

"Nggak apa-apa, dia nggak menggigit manusia, kok," suara Dewo terdengar tetap sabar. Dira membayangkan Dewo bercakap dengan anak-anak sambil mengelus anjing-anjing kesayangannya itu. 

Sekitar 10 hingga 15 menit kemudian, barulah Dewo akan berbicara dengan Dira lagi. Artinya, dia sudah beranjak melanjutkan jalan paginya.  

"Di, masih dengerin saya?" 

"Hahaha... iya... masih... sudah selesai ceritanya sama anak-anak?" 

"Iya... mereka selalu suka lihat Chikita."

"Karena imut dan cantik?"

"Betul. Meskipun tingkahnya kalau dilepas seperti iblis... hahahaha...."

Lalu Dewo akan menceritakan lagi awal-awal berjumpa anjing berwarna putih itu. Mungil dan manis sekali, dengan mata bulat yang meluluhkan hati. Namun memang Dewo tak punya pilihan selain merantai anjing manis itu dengan rantai besi karena beberapa kali Chikita melepaskan diri, kabur, lalu membunuh ayam, kucing, dan burung peliharaan tetangga. 

"Entahlah, saya nggak paham kenapa dia bisa begitu sadis," kata Dewo ketika menceritakan dia harus mengganti uang seharga hewan-hewan yang mati.  

Dira belum pernah bertemu langsung dengan anjing-anjing Dewo. Tapi karena sering melihat foto dan mendengar cerita, dia seperti sangat akrab dengan mereka. Dewo bangga sekali pada anjing-anjing itu, yang memang semakin hari semakin tampak sehat. Berubah jauh dari kondisi awal ketika diselamatkan dari jalanan.



(Bersambung)


 

Saturday, December 19, 2020

Being a Secret Santa

Setiap tahun, ada panitia kecil di FB yg mengoordinir hadiah untuk anak2 panti asuhan. Waktu lebaran, utk panti asuhan muslim. Krn sekarang menjelang Natal, tentu hadiahnya untuk anak2 panti asuhan Kristen. 

Nggak pernah terbayang bahwa memberi hadiah kepada anak panti asuhan akan repot dan rusuh. Ya kan? Krn kita terbiasa ngasih barang ombyokan. Yg biasa saya lakukan adalah tanya jumlah anak, dan beli barang sejumlah itu. Masing2 anak dapat satu. Beres. 

Itu yg tidak dilakukan oleh teman2 di Program 1 Kado 1 Anak. 

Untuk program ini, anak2 di panti akan ditanya ingin hadiah apa. Lalu nanti para donatur akan diberi nama anak dan wish list dia. Nggak... nggak ada yg minta mobil. Anak2 itu cukup manis utk hanya minta sepatu atau tas atau pakaian. Lalu nanti donatur sendiri yg akan mengirim kado2 (yg sdh dibungkus rapi dan dikasih kartu) ke panti asuhan. Kado2 ini akan dikumpulkan, untuk nanti bersama-sama dibuka. 

Ada videonya. 

Lihat wajah anak2 itu... priceless. 

Buat kita, terima kado adalah hal yg biasa. Kalau kita ulang tahun... sejak kecil dulu... kado yg datang bisa bertumpuk. Sambil capek bukanya. Ya kan? Senang iya... tapi ya sudah. Kita tahu kita akan dapat kado lagi. Entah tahun depan saat ulang tahun lagi, atau malah kapan2 sepanjang tahun. 

Buat anak2 panti... kado dengan kartu yg bertuliskan nama mereka di atasnya adalah barang yg langka. Apalagi isinya adalah yg mereka mau. Seperti sdh saya bilang, mereka selama ini kalau terima hadiah ya seringnya datang dalam bentuk box besaaaaarr... sama semua... dibagi rata. Kali ini berbeda. Mereka tulis yg mereka mau. Mereka nggak muluk2 kok, cuma nulis "sepatu" dan nggak lalu bilang minta Nike Air atau Valentino.... Jadi apa pun yg ada di dalam box, akan mereka terima dengan gembira, dibuka dengan antusias, lalu isinya ditimang dengan penuh sayang.... Penuh kebahagiaan. 

Rasa bahagia yg menular. Lalu akan membuat kita ketagihan utk membahagiakan lagi. Dan lagi. Dan lagi. 

Nggak percaya? Cobain deh. 



Friday, December 11, 2020

Ternyata....

Ngobrol2 dgn Aria seringkali berakhir lucu. Entah kenapa... yg kemarin berakhir dgn saya harus berpikir-pikir lama....

Karena kamarnya sedang dibongkar, banyak barang ditumpuk di mana2. Rusuh dan debu. Tp gara2 banyak barang yg berpindah, jadi ketemu macam2 memorabilia, termasuk foto2 dari zaman dulu. 

"Aku kok nggak ada sama sekali di foto ibu di Amerika ya?"

"Ya kan sudah sering dibilang, kamu terlambat datang."

"Kok bisa, ya?"

"Hmm...."

"Trus juga kenapa Ibu cuma punya anak 1?"

"Hmm... yaaa... dulu sih malah sebenernya nggak mau punya... ha ha ha...."

"Ih, Ibu nyebelin."

Jawaban jujur memang kadang bikin kesal. Tp memang itu yang terjadi. Saya dulu tidak ingin punya anak. Tanpa alasan jelas, nggak pengen punya aja. Apa karena nggak mau tanggung jawab? Malas mendidik? Nggak mau pusing? Rasanya sih bukan. 

Lalu, tadi pagi, di salah satu bacaan, menemukan quote dari Elizabeth Stone:

Making the decision to have a child is momentous. It is to decide forever to have your heart go walking around outside your body.

And that is exactly my reason.


Thursday, December 10, 2020

... is in the making ....

Saya bukan orang yang sabar. Atau setidaknya, saya merasa saya ini tidak sabaran. 

Kalaupun saya berubah menjadi lebih sabar, saya yakin ada pengaruh beberapa mentor dalam hidup saya. 

Mentor pertama adalah Aria. Seperti juga hal2 lain di sekitar saya yang berubah sejak ada dia, level kesabaran saya pun sepertinya semakin tinggi setelah Aria lahir. Darinya, saya tahu bahwa saya akan bisa melewati semua hal dalam hidup jika saya memberi waktu bagi diri saya untuk berpikir sejenak. Saya perlu berhenti sebentar saja, untuk memikirkan langkah selanjutnya. 

Yang kedua adalah mas (mantan) pacar, yg karena kedekatan kami, sebagian besar orang sudah menyangka bahwa kami akan menikah. Oh ya, tentu saja pernikahan juga tujuan saya (saat itu). Bersabar saya menunggu dia melangkah semakin mendekati saya. Ketika hal yang saya inginkan tidak terjadi, saya jadi tahu bahwa kesabaran saya pun ternyata ada batasnya. 

Ternyata, selain menjadi mentor kesabaran, Aria juga mengajari saya soal proses. Dia tumbuh menjadi perjaka tampan seperti sekarang, harus melewati dirawat di rumah sakit ketika bayi, tinggal di NICU bbrp hari (yang membuat ibunya seperti hilang ingatan), menangis di pagar ketika saya ke kantor, tidak mau ditinggal di sekolah, mogok makan, bertengkar dengan saya... dan hal2 tidak menyenangkan lainnya. Berkelindan dengan jutaan kebahagiaan dan kebanggaan yang terjadi. Termasuk banyak kejutan2 kecil yang berhasil sent his mother to the moon. Itulah proses. 

Mentor kedua juga memperjelas makna berproses ini. Kami pernah bergandengan tangan mencoba memetakan perjalanan cinta kami. Kesabaran saya menunggunya lebih dari sepuluh tahun, saya rasa cukup menjelaskan posisi saya. Tapi ternyata proses yang kami jalani berujung pada hal berbeda. Kami tidak bertemu di titik yang sama. Saya patah hati, tentu saja. Bahkan menurut saya patah hati kali ini lebih sulit ketimbang saat perceraian saya dulu. Tapi tentu saja saya bisa move on. Atau akan bisa move on. I can pass this too. I can do, as always. 

Namun, saya tidak merasa rugi menunggu. Seperti juga saya tidak merasa sia2 membesarkan Aria. Dua mentor saya itu, ketika mereka berproses, ternyata mereka juga memberi saya waktu untuk menjalani proses saya sendiri. Pendewasaan, pengetahuan, kebahagiaan, kebesaran hati, dan ketulusan cinta, hanyalah sedikit dari yang saya dapat dari berproses bersama mereka. 

Saat ini, sepertinya saya sedang bertemu mentor ketiga. Menjumpainya ketika saya sudah di titik sekarang dan dia di kondisinya saat ini, betul-betul pengalaman baru yang cukup menarik sekaligus bikin penasaran. Dari awal, meski dia tidak bilang apa-apa, saya tahu dia menuntut saya untuk bersabar dan memberinya waktu seluas-luasnya untuk berproses. Sejalan waktu, sejauh ini saya cukup menikmati prosesnya. Semua terserah saya sebetulnya, mau melanjutkan petualangan ini atau menghentikan saja semuanya. Saya memilih yang pertama, sembari mempelajari apakah memang ini yang saya cari dan saya butuhkan. Dan dari hari ke hari proses ini memang tampak menyenangkan belaka. Ternyata masih banyak hal yang perlu saya pelajari soal hubungan antarmanusia. Menarik. Kami bukan kepingan puzzle yang bisa langsung pas karena sisinya sudah presisi, tapi mudah-mudahan kami seperti mur dan baut yang harus terus diputar sebelum merekat kencang dan berfungsi sempurna. Mudah-mudahan. I can only hope.

Untuk orang2 tertentu yang bertanya, dengan senang hati saya akan menjelaskan pemikiran saya soal proses kami berdua. Tapi jika mereka tetap menganggap kesabaran saya adalah sebuah kesalahan, saya tidak perlu menjelaskan lebih jauh. Mereka tidak perlu memahami perjalanan hidup saya. Toh, proses yang saya jalani saat ini memang bukan untuk mereka.  

Sunday, December 06, 2020

Pertanyaannya....

Saya sering sekali ingin bertanya, namun karena terlalu banyak berpikir, lalu urung. Banyak juga pertanyaan yang tidak saya utarakan, karena saya tahu jawabannya akan menyakiti hati saya. Kadang saya berpikir, jika saya tahu sebuah jawaban lebih awal, apakah saya akan bertindak berbeda? Untuk beberapa hal, rasanya tidak. 

Akhir-akhir ini, saya pun seperti mengumpulkan pertanyaan. Tapi hanya sebatas mengumpulkan dan menyimpannya. Saya tahu, pada satu titik, saya harus berdamai pada apa pun yang terjadi. Saya harus menerima bahwa memang begitulah adanya. Saya tidak bisa menahan, atau mengatur segalanya agar berjalan semau saya. 

Karena itulah, saya memilih untuk tidak lagi bertanya. Lebih-lebih, saya putuskan berhenti menanyakan "kenapa".