Friday, July 31, 2015

Baik-baik Saja

Mana yang lebih berat? Memutuskan bercerai, atau menjadi orang tua tunggal ketika anak sakit, dan menangis sendirian di depan ruang ICU with no one to share the pain?

Saya tidak pernah berpikir mana yang lebih berat. Mungkin karena saya tidak lagi sempat berpikir. Saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan mana yang lebih berat. Waktu yang ada sudah saya habiskan untuk bekerja. Dengan bekerja saya bisa menghidupi diri dan anak saya. Tentu saja semakin lama anak saya semakin besar, kebutuhannya kian banyak, hingga saya pun harus lebih giat bekerja.

Kesibukan menghidupi ini akhirnya memang lebih penting, ketimbang merenung memikirkan kondisi menjadi orang tua tunggal. Bahkan ketika di suatu saat harus menangis sendirian (karena anak sakit, karena kehabisan uang, atau karena belum sempat belanja isi kulkas...), akhirnya pun semua menjadi seperti biasa saja.

Semua dibiarkan berjalan sebagaimana seharusnya. Hidup mungkin memang harus dibiarkan seperti air. Kadang perlu diatur, dibendung di sana sini, tapi kadang perlu dibiarkan saja. Bahkan kalau meluber sekali pun... tidak apa2. Siapa tahu luberannya memberi penghidupan pada yang di sekitarnya?

Kembali kepada pertanyaan awal, mana yang lebih berat? Rasanya tidak ada yg lebih berat. Tidak ada juga yg lebih ringan. Pilihan berat atau ringan tidak lagi relevan. Lebih baik memikirkan cara untuk melanjutkan hidup, ketimbang menyesali yang sudah lewat.

Junya Ishigami

Do you remember my big brother the architect? Serumah dgn seorang arsitek yang (katanya) kondang... seru juga. Perkara rumah kedatangan tamu yang mau keliling lihat2 sih udah mulai biasa. Dari mulai orang lewat yg penasaran sama prosotan, sampai fotografer Iwan Baan... pernah blusukan di rumah. Shooting TV sudah sering (termasuk dari Aussie untuk Extreme Houses). Foto majalah sudah bosen saking seringnya sejak akhir 2008 smp skrg. Tadi pagi 3 arsitek muda dari Surabaya nongol, mau ngintip2 Ndalem Prosotan. Monggo... dan gue pun tetep nyetrika plus cuci piring saat mereka "touring".


Selain adanya tamu2 ini... gue jd lebih gampang terekspos dgn perkara arsitek yang kekinian. Spt sekarang ini. Sedang ada Triennale Arsitektur UPH 2015. Betul... kerjaannya anak2 UPH. Pameran di gedung Tjipta Niaga, Kota Tua.

Bukan UPH yg menarik hatiku... tp Junya Ishigami. Jadi, di Triennale itu ada banyak talkshow. Hari terakhir, tgl. 8 Agustus, yg ngomong ada Junya ini. Orang Jepang. Masih muda dan kalau lihat bentuknya sih... biasa banget. Tp karyanya ciamik lho. Di Jepang, dia lagi banyak dibicarakan karena hbs terima sebuah award prestisius mbuh opo untuk arsitektur. Karyanya selalu ringan melayang mengambang, melawan gravitasi. Nggak tahu apa yg nyambet dia waktu kecil sampai dia bisa punya khayalan soal bangunan2 yg aneh2... dan ternyata tetap bisa dibangun.

So, he'll be here on August 8. Be there and be ready to fall in love with him :)

Thursday, July 30, 2015

Jatuh Hati

Ada ruang hatiku, yang kau temukan
Sempat aku lupakan, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Bolehkah ku selalu di dekatmu?

Katanya cinta, memang banyak bentuknya
Ku tahu pasti... sungguh aku jatuh hati....

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Bolehkah ku selalu di dekatmu?
 
 
Jatuh Hati by Raisa

Friday, July 24, 2015

Selamat Lebaran Tahun 2015

Seorang teman yg bbrp saat lalu mencoba mendekat (ealah ini keterangan kok panjang amat), minggu lalu mengirim pesan lewat wa. Dia menulis sederetan kalimat bahasa Arab yg gue tidak paham. Pakai emoticon salaman. Belum sempat cari di google, dan krn menurut gue moment saat itu adalah Idul Fitri, gue balas: Selamat Lebaran. Maaf lahir batin ya.

Krn kesibukan maha dahsyat sbg bibik inem, gue ga pegang hp lagi sampai kira2 jam 10 malamnya. Dan saat itu gue temukan sebuah balasan panjang kali lebar kali tinggi yang intinya "menuduh" gue tidak mengaminkan doa, dan tidak mendoakan dia.

Hmm... hmm... (kalau di film2 anak2 brandal, instead of "hmm" they would say "wtf").

Gue heran banget sama orang itu. Dia kirim kalimat bahasa asing yg gue nggak ngerti. Trus dia nggak kirim terjemahannya. Trus dia mengharapkan gue tahu bahwa isinya doa? Mengaminkan dan mendoakan dia kembali. Oh Tuhan ampuni saya.

Satu, gue nggak suka dengan caranya yg bilang gue nggak mengaminkan doa. Trus? Memang dia pikir dia itu siapa ya. Lalu, dua, dia kok pamrih amat ya. Bahkan doa aja, yg tinggal ngomong, dia mengharap balasannya. Ada ya orang yg begitu.... Oh Tuham ampuni saya lagi.

Akhirnya, krn gue nggak mau tidur dgn perasaan sebal dan kesal, gue balas pesan itu dgn panjang kali lebar kali tinggi juga. I gave him my two cents. Oh maybe it wasn't only two cents, it was 10 thousands. Hahaha.... Entah kenapa gue kok jadi nyolot. Oh Tuhan ampuni saya beribu kali.

Anyway, selamat lebaran, maaf lahir batin bila ada kesalahan dalam tulisan. Semoga Allah SWT selalu meridhoi semua langkah kita. Amin.