Wednesday, July 24, 2019

The Job in My World

Karena hari ini eyang pergi haji (mohon doa supaya lancar yaaaa... aamiinn), gue ijin pulang lebih cepat. Dan ternyata nggak bisa antar sampai airport, hanya sampai meeting point dgn biro perjalanan di daerah Tangerang. Ya udah, hbs dadah2... pulang... jam 5 sdh duduk manis di rumah.

Meskipun sdh di rumah, ttp memenuhi janji sm tim yg di kantor utk segera gelar laptop dan nerusin kerja ini itu. Tentunya lbh gembira krn bisa sambil ngemil es krim dan ga usah pakai sepatu jinjit. 

Yg sangat menyenangkan adalah reaksi Aria yg ttp sama, nggak berubah sejak dulu, kalau ibunya pulang lbh cepat. Dia tetap gembira. Seneng deh lihatnya hahaha.... Dan waktu makan malam bisa siapin proper dinner trus makan sambil ketawa2 di pantry sm anak semata wayang itu. Ngobrol macem2. Seru. This only reassures me that amongst all the title I obtained, being his mom is the one I am most proud of. 

Monday, July 22, 2019

On (Financing Thingy of) Marriage Life

Beberapa teman secara langsung maupun tidak menceritakan ttg pola mereka berkeuangan setelah menikah. "Modal dasar" teman2 itu mirip: perempuan, bekerja, sukses dalam karier. Seru juga bisa mengintip cara mereka atur keuangan sbg pasangan.

Si A, menikah dengan laki2 yg secara finansial biasa saja. Menariknya, bbrp minggu sblm menikah, si laki2 ini khusus datang ke rumah si A, bawa kalkulator beras. Dia ajak si A utk buka2an secara finansial. Brp gaji dia, gaji si A. Kewajiban apa saja yg skrg sedang hrs dibayar. Lalu mengajak si A diskusi soal rencana keuangan setelah menikah. Siapa yg hrs ngapain. Berapa tabungan wajib. Asuransi apa saja yg hrs dipunya. Dll dll dll.... Ini terdengar sangat realistis dan menyenangkan. Krn rencana punya anak pun dibarengi dgn kegiatan investasi utk pendidikan dan proteksi kesehatan si anak. Keren ya. Dan si A pun mengakui, "Asli laki gue seksi banget waktu dia jabarin rencana finansial itu. Terasa bhw dia megang banget deh." Ahahaha....


Si B, menikah dgn laki2 penulis yg tadinya kerja di media tp lalu pindah jadi PR perusahaan multinasional. Si B ini gue kenal sbg perempuan yg ambisius dan selalu punya cara buat mewujudkan ambisinya. Berani mati aja deh. Merasa suami kerja di perusahaan besar, si B keluar dari kantornya. Alasan klise adalah mengurus anak (mereka lgs punya anak setahun stlh menikah) dan mau bisnis sendiri. Berani mati krn bidang bisnis yg dia geluti sdh banyak dikerjakan oleh sejuta umat. Kemarin ketemu sm si B dan keluar juga curhat soal suami yg ternyata sangat woles dalam karier jd spt pasrah aja kerjaan banyak dgn gaji kecil. Promosi dgn kenaikan gaji minim diterima gitu aja tanpa nawar. Hehe... gemes tp ya gimana? Mmg suaminya model gitu. Jadi akhirnya yg tadinya bisnis untuk iseng2 jadi harus untuk tulang punggung krn si B nggak mau juga menurunkan standard hidup. Tetep pengen liburan 2x setahun dan belanja barang branded. "Apa aja aku kerjain deh, mbak. Lha piye, ngenteni bojoku lak aku iso ora lunga2," katanya. Risikonya dia jadi tampak lelah luar biasa. Tp ya sudah, sepanjang dia menerima ya ga apa2 dong....

Si C, menikah krn terlanjur hamil dgn laki2 yg masih sekolah sambil kerja serabutan. Sempat menjadi backbone dlm keluarga kecil dan bertahun2 mereka berdua hrs ngontrak rumah dan ke mana2 naik angkutan umum. Kalau dengar ceritanya, sedih dan miris. Tp memang rejeki, suaminya pinter. Jadi begitu lulus bisa lgs berkarier bagus. Lalu memutuskan berbisnis, dan sukses. Keuangan mereka sempat morat-marit dalam 8 thn pertama pernikahan. Meski bergaji besar, selalu habis. Nggak bisa nabung. Masing2 mengurus sendiri gaji masing2. Lalu si C ini mulai mikir, mau sampai kapan awut2an? Akhirnya dia ambil kursus keuangan dan mengajukan diri sbg menteri keuangan keluarga. Suaminya setuju. Caranya? Dia bikin list semua kewajiban berdua. Lalu buka2an soal pendapatan. Dari mana dan berapa. Gaji berdua digabung, dikurangi semua kewajiban, dan disisihkan untuk investasi. Lalu masing2 diberi "uang saku" yg jumlahnya sama, untuk dihabiskan. Jd si C mau ke salon ya bisaaaa pakai uang itu... suami mau borong printilan sepeda ya silakaaan diambil dr uang itu. Dgn cara ini, lumayan bisa nabung. "Paling nggak masing2 anak sdh disediakan untuk sekolah sampai sarjana," kata si C. Ini keren.

Nah... gue jadi belajar juga sih dari mereka2 itu. Belajar utk punya metode investasi. Belajar utk ngatur duit... yg menurut gue susahnya minta ampun hahahaha.... Tp krn skrg masih kerja sendiri dan hasilnya boleh bebas dihabis2kan sendiri... ya... masih suka2 gue dong. Hahaha.... Nggak boleh ada yg komplen ttg cara gue habisin uang, yg penting Aria seneng. Ye kaaaannn.... Tp kemudian kepikiran... lucu juga ya kalau punya suatu tujuan keuangan dan bisa mencapainya bareng2. Bareng siapa? Embuh. Hayo siapa yg mau? Lah... jadi jualan....

Friday, July 19, 2019

On Parenting

Being parents, you need to be prepared. I warn you. You know why? I give you example. I was so surprised when my son, out of the blue asked me, “Mom, what if I am bisexual?”

He was 13 by then. In his early teenager life. 

Oh yes, this is not his first surprising questions. As a boy who is growing up in modern world, he is exposed to so many things. So there was time, he was six, he already asked about the function of  condom after he found one in my drawer. Can I explain? Sure, with shacking hands that I covered very well.

I remembered I answered by explaining that condom is only for a man. “I am a man,” he said. “I mean, for adult,” was my closure. He seemed a bit confuse, but he didn’t ask anything further. 

That is the moment I assure myself to be well prepared about any “cute” questions he may ask along the way. And as his parent, I have to have a ready weapon in hand, whether I am ready or not to answer. So I read all the things regarding boys, kids, teenagers. Anything they might be interesting in suddenly matters to me. 

Why do I feel I need to be prepared? Not only because I want him to get the best answer, but also because I need him to know that even I am his parent, I can be his best friend too. Best friend he can count on, to whom he can go to seek any answer for any question, or later for any problem he may encounter. I may not always give him best solution, but I need him to know that I will always be there. 

So when he came up with his bisexual question, I thought I was ready with my answer. I read somewhere about the key to discuss sexual orientation, in a religious newsletter. But then something crossed my mind, will it be okay if  I use that answer? The explanation I read was merely about growing up, the pain any kids need to go through, the “right way” to be a girl or a boy, and something like that. Things which base on common belief that pink is the color for girl while blue is only suitable for boy.  Will that be okay for my son? I think I need to find the right word. Not only because I want him to understand about the sexual orientation well, but also because I do not want him to feel rejected, if, only if he is indeed bisexual like he said he is. 

And right there and then, I suddenly realized that to be prepared being a parent did not only mean you have to be ready with things related to house you can call a home, the meal, the tuition, and health insurance for your kids. As a matter of fact, become a parent, you have to be prepared to accept your children as they are. And still love them as they truly are. 


(This is the piece I wrote for my smart living writing class today)

Tuesday, July 16, 2019

Can You Imagine?

Coba khayalkan sejenak
Sepuluh tahun nanti
Hidupmu

Coba bayangkan sejenak
Misalkan ada aku
Yang menemani
Hari demi hari yang tak terhitung

Misalkan itu aku yang terakhir untukmu

Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku
Di aku
Dan kamu

Pastikan kau melihat aku
Saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi

Misalkan semua terjadi
Meski belum terjadi
Sekarang kita renungkan sejenak
Cara agar semua bisa terjadi
Walau kutahu tak semudah itu

Tapi coba sekali lagi bayangkan aku



(Himalaya - Maliq and d'Essentials)


Wednesday, July 10, 2019

Big Bear Hug

Pagi ini membaca cerita seorang teman yg punya sertifikat pedagogi utk anak2 istimewa, tentang salah satu muridnya, kasih nama Adinda ya.

Adinda umurnya 10 tahun. Berkebutuhan khusus. Nggak tahu judulnya apa, nggak berani tanya juga sih... yg jelas punya kesulitan berkomunikasi. Tapi karena sdh dipegang sm teman gue sejak kecil sekali, Adinda ini skrg mahir berkuda, bisa menyapu, gesit kalau berenang, dan sudah bisa makan sendiri. Hm... baru sadar gue cukup lama mendengar soal Adinda ini. Jadi seperti mengikuti dia belajar makan nasi dan roti (sampai umur 9, semua makanan masih diblender dan harus disuapin).

Dari kisah Adinda juga, gue jadi belajar bersyukur bahwa Aria itu anak yang normal dan tumbuh spt seharusnya menjadi seorang anak yg sehat dan gembira. Alhamdulillah.

Bayangin bhw ada anak yg nggak bisa ngomong ke ibunya bahwa dia lapar, atau haus, atau mau duduk saja nggak mau apa2... sedih bener....

Dan semalam... Adinda ini tantrum. Tnyt sdh bbrp hari dia ribut dan kisruh di rumah. Nggak tahu mau apa... semua barang diberantakin. Majalah disobekin. Mainan dituang di mana2. Acak2 sana sini sampai ibunya lelah benah2. Belum berhenti juga... ke taman... petik bunga, cabut rumput.... Namanya ibu, biasanya punya insting yg nggak bisa ditipu. Dan mengikuti kata hati, ibunya Adinda cuti kerja. Nemenin anaknya. Sesuai ajaran coach, kalau acak2 barang... harus dihukum. Adinda bbrp kali kena time out. Tp lalu hbs itu dielus, dipeluk, diajak ngobrol pelan2. Meskipun nggak bisa jawab... Adinda jadi tenang. Dan, setelahnya mereka berpelukan berdua. Ke mana2 pelukan aja terus.

Si ibu langsung kirim pesan ke coach, "Ternyata Adinda itu rusuh krn kangen saya.... "

Ya Allah... gue langsung pengen peluk2 anak gue....

Thursday, July 04, 2019

Tentang Rumput Tetangga

Semalam ada percakapan menarik antara gue dan adik ipar… yg sampai skrg masih satu2nya hahahaha… OOT…. 

Jadi si adik ini bekerja untuk orang yg gue kenal baik. Hmm… namanya Susi aja ya. Dan gue kenal Susi sudah lama… jd gue lumayan paham kondisi dia, bahkan kenal personal dgn anggota keluarganya, yg ya nggak banyak sih, hanya dia, suami, dan anak. 

Gue kenal anaknya, anggap namanya Citra, anak tunggal, perempuan, sejak anak itu SD. Masih kecil sekali. Spt juga gue dan Aria, Citra sering diajak ibunya ke tempat kerja, atau menyelesaikan pekerjaan. Dan kebetulan ibunya banyak berhubungan dengan seni, klop sama minat Citra. Gue ga terlalu heran waktu Citra lalu masuk kelas menggambar. Lalu suatu saat gue lihat dia menggambar manga yang bagus banget. Bahwa akhirnya dia masuk sekolah seni rupa terbaik di Indonesia, gue merasa sudah seperti seharusnya begitu. 

Sementara Susi juga semakin bersinar… masuk dunia politik dan berpendar luar biasa di sana. Gue pernah diajak utk bergabung dgn tim Susi. Baru coba2 aja rasanya gue ga tertarik. Pernah ikut sampai ketemu bapak (waktu itu) capres. Nunggu dari jam 8 malam, baru bisa jumpa jam 12. Dan waktu ketemu itu kok menurut gue cuma ngomong utara selatan nggak ada tujuan hidup. Hmm… apa krn gue sdh terlanjur ngantuk? Intinya, gue nggak tertarik dgn kondisi itu. Jadwal kerja kok nggak jelas. Ya mungkin duitnya banyak… it is just not for me.

Kemarin bahasan masuk ke kondisi finansial Susi yang semakin membaik sejak terlibat dalam politik. Lalu krn Jokowi menang lagi, Susi pun “menang” lagi. 

“Wis mulyo, Mercy ganti anyar… byar…,” kata adik ipar gue. 

Weleh… sementara gue ganti si kentang dgn yg mudaan aja seneng bukan main, gimana rasanya ganti Mercy? 

Tapiiiii… lalu terbukalah cerita lbh lengkap… . 

Jadi bbrp tahun terakhir, Susi bekerja keras atau dituntut bekerja lebih keras, yg ternyata berimbas pd anaknya. Mendampingi remaja tumbuh dewasa memang nggak mudah. Dan dgn kesibukan yg segudang, semakin sulit lagi bagi Susi utk pegang anaknya. 

Lalu anak ini pacaran dgn orang asing. Dan pergi ke negara pacarnya. Aman? Sampai sini tampaknya ya. 

Masalah baru ada ketika Citra putus dari pacarnya. Dia patah hati. Berkepanjangan. Sampai nyaris depresi. 

Dan… Citra minggat. 

Susi tentu panik. Mau cari ke mana? Trus mau nyari juga gimana caranya, sementara klien sedang rusuh2nya. Suami berusaha juga. Maksimal. Mengerahkan semua sumber daya yg dipunya. Kisruh. Rusuh. 

Alhamdulillah akhirnya ketemu, setelah bbrp lama. Dan skrg Citra hrs rutin konsultasi ke psikiater untuk menenangkan jiwanya. 

Kalau denger yg begini… gue akan settle dgn apa pun yg gue punya skrg.  Anak sehat selamat. Nggak usahlah pakai Mercy kalau hrs melewati acara anak hilang segala macam. Cukup. Sampun. Matur nuwun Gusti Allah. How it is true that most of the time we only see something just as we see an iceberg. We see only the beauty of it afloat, while what we don’t see beneath is something bigger and –might be- crazier and dangerous. 

Maybe the grass in greener in other's house, but trust me, we do not know how much the owner of that house spent for the grass. And it might be too expensive.