Sunday, February 28, 2021

Semoga... Semoga....

Patah Hati

 

Dari awal, dia sudah mencuri hati saya. 

 

 

Setahun lalu, dia baru saja bercerai. Usai mengambil akta cerai di pengadilan agama, dia temui saya. Kami kenal lewat aplikasi kencan. Saat berjumpa, perut saya seperti dipenuhi kupu-kupu melihatnya begitu tampan. 

 

“Wah, kamu seperti ibu saya, suka Loewe,” ujarnya setelah kami bersalaman. 

 

Laki-laki yang paham soal tas perempuan. Wow. Saya terpesona. 

 

Kami langsung mengobrol akrab layaknya dua orang teman lama. Dia menertawakan saya yang baru sekali itu berani copy darat. Hmm… ada berapa perempuan yang pernah ia bawa dari dunia maya ke alam nyata?

 

Ketika esoknya ia menelepon mengajak makan malam, saya begitu girang hingga hendak meloncat ke bulan. Melegakan bahwa kekaguman saya tidak bertepuk sebelah tangan. Masa bodoh seandainya saya bukan perempuan pertama yang pernah hadir dalam hidupnya.  

 

Dia tinggal di kota lain, sekitar 400km dari rumah saya. Jadi, kami jarang bertatap muka. Kami terkendala jarak untuk saling mengenal dan menyelami hati satu sama lain secara langsung. Saya juga paham dia masih perlu menyembuhkan luka hati dari pernikahan yang gagal. Namun jujur, harapan saya sangat tinggi bahwa hubungan ini akan berhasil. 

 

Kemarin, dia berkunjung. Menjemput di kantor, sikapnya sangat manis, membuat saya jatuh cinta bertubi-tubi. Sungguh sulit menahan diri untuk tetap tenang dan tidak vulgar menunjukkan perasaan saya yang berbunga-bunga. 

 

Duduk di restoran, dia buka daftar menu, langsung menunjuk satu masakan. “Kamu pasti mau pesan ini.” 

 

Saya mengangguk sukacita, makin terpukau bahwa dia ingat makanan kesukaan saya. 

 

Namun, ketika pesanan datang, bencana terjadi. Pelayan tanpa sengaja menggulingkan gelas. Airnya tumpah, mengenai sebagian celananya. 

 

Refleks dia berdiri. 

 

Sambil memaki. Kasar sekali. 

 

Saya terkejut. 

 

“Bangsat!” teriaknya lagi, kali ini ke arah pelayan yang tergopoh-gopoh membersihkan gelas yang jadi sumber keributan. Sekali lagi, dia memaki. Lebih kasar. 

 

Seketika, saya patah hati. 

 

Telinga saya pedih mendengar makian. Nurani saya nyeri melihat pelayan yang sudah mengucap maaf puluhan kali ia teriaki begitu keras. Toh, itu hanya air putih. Tidak akan meninggalkan noda dan bisa segera dia keringkan di mesin pengering tangan di toilet. Dia tak perlu marah tanpa kendali. 

 

Tiba-tiba saya melihat kenyataan tentang sifat aslinya yang selama ini tidak bisa saya deteksi lewat percakapan-percakapan telepon yang nyaris tiap hari kami lakukan. 

 

Saya membisu. Patah hati luar biasa. 

 

Ketika sadar saya ada di sana dan menonton semua huru-hara, dia gumamkan maaf beberapa kali. Dia pasti melihat raut wajah saya yang kacau balau, mewakili perasaan saya saat itu. Suasana telanjur rusak. Saya minta diantar pulang.

 

Terus terang, saya kecewa. Sempat terlintas di benak, dialah pelabuhan terakhir. Tapi sungguh, sulit bagi saya membayangkan harus menyaksikan banyak keributan. Laki-laki pemarah bukan dambaan saya. Makian keji dan umpatan bengis tidak masuk daftar hal yang bisa saya toleransi dalam menjalin hubungan. Mengubah dia? Memangnya dia kayu yang bisa saya pahat sesuka hati? 

 

Saya putuskan, semua selesai. Total sudah patah hati saya. 

 

Saat ini, PR terbesar saya adalah membujuk perasaan agar sepakat menerima buah pikiran. Batin saya masih belum rela menjauh darinya, meski otak telah berkali-kali menampilkan tombol “off”. 

 

Rasanya, menyelaraskan kepala dan hati tidak pernah sesulit sekarang.






Tulisan ini saya masukkan untuk tugas kelas menulis, weekend kemarin. Bu gurunya - penulis ternama- bilang, tulisan ini menarik dan dia ingin tulisan ini dikembangkan menjadi sesuatu. Ah... bangganya. Doakan ya beneran jadi sesuatu. 

 

Wednesday, February 24, 2021

Bisa Jadi

Mungkin memang seharusnya begini. Selalu ingin memaafkan, selalu ingin menerima kembali. Karena cinta yang begitu besar. Mungkin....

Monday, February 15, 2021

At The Moment....

 I miss talking to you, until we lost track of time. I miss telling you about my daily activities. I miss discussing the book I read to you. I miss listening to your stories. I miss your smile and your laugh. 

I miss you.  

Thursday, February 11, 2021

Cerita Tentang Cerita

Meskipun saya bukan pemakan mie instan... tapi ini seru banget. Ella & Indomie.


Sunday, February 07, 2021

Friday, February 05, 2021

Langkah Berikut

Hampir setahun menjalani hari bersama mentor ketiga, akhir-akhir ini saya mulai mempelajari lagi "tabel untung rugi" yang saya buat. Saya sadar bahwa pasangan bukan art and craft project. Dia bukan kertas origami yg bisa saya lipat sekehendak hati. Saya tidak punya pilihan selain menerima dia as he is. Baik dan buruknya adalah satu paket yang tidak bisa dipilah-pilah. Karena itu, saya merasa perlu "mencatat pros and cons" supaya betul2 memahami dia. Tepatnya supaya nalar saya tetap berjalan seperti seharusnya. 

Karena tempat tinggal kami berjarak lebih dari 400km, kami jarang berjumpa. Pandemi juga tidak mendukung kami sering-sering tatap muka. Jadi memang agak sulit bagi saya bisa mendeteksi sifatnya lebih cepat. Meskipun kami mengobrol nyaris saban hari, tetap ada hal-hal yang baru tampak ketika kami bersama secara fisik. Pengalaman lama menjalani LDR di masa lalu mengajarkan saya untuk memanfaatkan betul saat berjumpa yang sangat jarang. Jejak kunjungannya lalu melengkapi "tabel pro and cons" itu. 

Harus saya akui bahwa sejauh ini kecenderungannya adalah "tidak". Semakin hari, saya semakin merasa jauh darinya. Ternyata, ada hal-hal yang tidak bisa saya toleransi. Oh, dia selalu manis, baik tutur kata maupun tindakan. Banyak perbuatannya yang membuat saya jatuh cinta bertubi-tubi. Namun ada satu hal yang tidak bisa saya terima dari sifatnya. Karena itu, saya harus jujur akui, bahwa saya bukan orang yang tepat untuk dia. Saya tahu saya tidak bisa mengubah dia. Memangnya dia kayu yang bisa dipahat? 

Saya masih setia pada tujuan saya untuk menemukan pelengkap kebahagiaan dalam perjalanan saya mencari pasangan meneruskan hidup. Ketika saya mendapati bahwa dia bukan orang yang bisa menggenapkan rasa bahagia saya, saya harus membiarkannya menjauh. 

Kecewa? Tentu saja. Terus terang saya sempat berharap banyak (sampai saat ini pun masih terus berharap). Tadinya saya pikir kami ini seperti mur dan baut. Kadang harus diputar supaya kami makin kuat. Itulah yang terjadi, tapi dalam prosesnya beberapa kali tautan terasa mengendor. Saya masih berharap dia bisa berubah, suatu saat nanti. Hingga mur dan baut ini bisa kencang dan berfungsi sempurna. Tapi saya pun paham harus bersiap jika dia tak hadir lagi di hari-hari saya. 

Saat ini PR terbesar saya adalah membujuk perasaan agar bisa menerima buah pikiran dengan ikhlas, agar saya bisa tetap fokus pada tujuan. Hati saya masih belum rela menempatkan dia hanya di zona perkawanan saja. Rasanya, menyelaraskan pikiran dan hati tidak pernah sesulit ini.