Friday, December 28, 2018

Draft 2

Where are you?

Why do you need to know?

Will you tell me?

Why?

Just do, please....

Are you here?

Hmm....

Are you?

Here? Where?

My place....

Are you there?

Hmm....

Where are you?

Where are you?

I am here.

*sound of door knocking*


Wednesday, November 21, 2018

Still Hoping... Wishful Thinking

99 Years

Boy meets girl and the world stops turning
She makes him forget all the rules he was learning
They give a toast to the ones who never stop hoping
With not much to lean on eyes wide open
And they look up high and wonder what the future's gonna hold

Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"

So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that, 
At 99 years like that

They build a house of love in the face of worry
But life has a way of rewriting the story
There were times when it looked like nothing could save them
And there were times when it looked like nothing could break them
They keep promising each other what the future's gonna hold

Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed and we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"

So let's look forward to you and I looking back
To 99 years

Of nothing unspoken
Live every day hoping
That when we feel broken
Our scars make us golden
Still choose you and I

Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love was stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"

So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that
Oh, at 99 years like that
At 99 years like that

(Josh Groban & Jennifer Nettles)

Wednesday, September 19, 2018

Yes or No

Jika ada cara baru 'tuk mengungkap rasa rindu
Aku ingin tahu

Jika ada cara yang belum dicipta untuk cinta 
Aku ingin bisa
Aku ingin bisa

Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku

Berdiam tanpa daya hanya karena kehadiranmu
Sementara jiwaku ingin berseru
Setengah mati ingin kubilang

Jika ada nada baru 'tuk nyanyikan lagu cinta
Aku kan bernyanyi
Aku kan bernyanyi

Jika ada kata yang belum dicipta oleh pujangga
Aku kan bersuara
Aku kan bersuara

Saat semua resah meluluh sayapnya
Saat yang yang kumiliki hanya nafas ini
Sekaranglah itu
Beginilah aku

Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang

Jika mampu kubawa engkau menembus ruang dan waktu
Kuingin pergi  
Percuma di sini

Jika mampu ku menyatu dalam darahmu, dalam nadimu
Agar engkau tahu
Agar engkau tahu

Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku

Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang

Apa yang kurasakan
Apa yang kau dengarkan
Bukan lagu cinta
Lebih dari semua 
Bukan lagu cinta

Semua lagu cinta
Bukan lagu cinta

(Bukan Lagu Cinta - Marcell)

Thursday, July 26, 2018

Terjadilah....

Sebetulnya sudah tahu, bahwa memang tidak akan ke mana-mana
Merasa ada sinar di ujung terowongan
Yang meski jauh, tapi layak ditunggu, layak diperjuangkan

Apa benar ada sinar itu?
Atau hanya ilusi semata?
Halusinasi

Jadi memang sudah tahu, sebenarnya
Hanya berusaha menghindar
Melawan yang nyata
Karena memang rasa tidak bisa ditawar

Ya sudah. Ini pun akan berlalu
Ini... pasti berlalu
Seperti juga yang dulu-dulu.

Thursday, May 31, 2018

You

Knowing that you are there, safe and sound, already makes me happy. Talking to you will always brighten up my day. You are indeed my matahari.

Monday, May 28, 2018

I Miss You

Absolutely. I do.

Friday, May 25, 2018

A Birthday Note

May 25th, 2018

Happy birthday, to you
The one who hold my heart dearly
Whose eyes were always spark
With the best smile I ever encountered
Wish you nothing but the best
With lots of sugar & spice on your path

I know you will fly higher
Embracing many new things life offers.

And I will hold on to the love in my heart.





PS: And thank you so much.




Thursday, May 24, 2018

Berita Duka

Bbrp hari terakhir di medsos, teman2 kantor lama menampilkan berita duka. Seseorang yg kehilangan putrinya. Nama yg kehilangan itu nggak gue inget sama sekali. Jadi agak lama juga gue berusaha mencerna. Itu siapa yg mana ya? Baru semalam paham bahwa mbak itu adalah teman yang pernah satu lantai. Tp krn pertemanan kami tdk intens, jadi ya gitu2 aja. Ikut berduka, tetep. Bagaimana pun, kehilangan anak adalah hal yg luar biasa berat.

Sementara itu, di grup chat teman kuliah rame banget ada anak yang bunuh diri. Loncat dari lt 33 apartemen. Karena nggak bisa pelajaran Bahasa Mandarin. Makanya guru2 Mandarin pada prihatin. Apa iya gara2 itu?  Tuhanku... kok gampang sekali mengakhiri hidup. Pdh dunia ini begitu indahnya....

Jadi tadi pagi pas jalan ke sekolah... berusaha ngobrol sm Aria soal ini. Gimana kalau ada masalah... hadapi... jangan mudah putus asa dll.... Kerasa deh tanggung jawab berat banget jadi orang tua....

Dua berita di atas itu cukup bikin gue goncang. Trus... sampai di kantor gue tahu bahwa dua berita itu berhubungan. Yup. Anak yg loncat itu adalah putrinya teman kantor lama gue. Sedih banget. Lalu setelah gue dapat nickname teman gue itu... gue pun ingat lagi yg mana dia... dan rasanya saat itu dada gue bolong besar saking sedihnya.

Gue kenal Atie adalah anak yg ceria dan selalu gembira. Sama lah modelnya spt teman2 gue lain yg kadang edan kadang waras seringnya amburadul. Yg memandang hidup dgn seru dan berani. Dia menunggu kehadiran anaknya itu cukup lama. Bayangkan bahagianya ketika akhirnya ia punya Leialoha. Kalau nggak salah, lahirnya di Hawaii. Anak itu tumbuh menjadi anak yg santun dan manis. Teman2 yg sering ketemu di kantor mengingat dia sebagai anak penurut yg mandiri.

Gue bayangkan interaksi Atie ke anaknya mirip2 dgn interaksi gue ke anak gue. Ibu dan anak tunggal yg punya bonding kuat. Dan mengingat Atie... rasanya dia mencintai anaknya sebesar gue mencintai Aria.Tentunya dia juga akan membekali anaknya dengan nilai2 yg baik, menyekolahkannya di tempat yg terbaik, memberikan semua fasilitas terbaik buat kesayangannya itu. Gue percaya sekali, seharusnya Atie dan anaknya bahagia.

Dan... anak itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri setelah 14 tahun menjadi permata yg begitu berharga.

Rest in peace, little girl.

Ini adalah hari puasa yg paling sedih. Sungguh gue mewek.




PS: So, you... this is really not a good time to discuss about the guru. I don't think I can handle anything more at the moment. 

Monday, April 30, 2018

Orang Baik

Beberapa hari yg lalu, di wa group kantor beredar pesan soal charity yg dibuat salah satu kontributor. Jadi mas kontrib ini anaknya sakit, perlu MRI. Kalau nunggu antrian BPJS, baru bisa dikerjakan bbrp bulan dari skrg. Padahal, kondisi anaknya perlu segera. Lewat jalur swasta, perlu sekitar 9 juta. Duit dari mana? Jadi dia bikin semacam charity, jualan dimsum. Ada keuntungan yg disisihkan untuk tabungan MRI.

Ketika gue sebarkan ke wa group tim kecil, responnya lumayan menarik. Selain ada yg pesan dimsum, ada juga yg mau langsung sumbang uang saja. Antusiasme tim kecil ini kok membuat gue semangat... menyebarkan berita itu ke grup2 lain yg ada di hp gue.Ada sekitar 4 group, plus beberapa orang yg gue japri soal dimsum charity ini.

Respon awal adalah: "Ini orangnya lo kenal baik kan?"

Yg hanya perlu gue validasi: iya. Ini bukan hoax. Udah gitu doang... Ada yg habis itu langsung pesan dimsum bbrp pack. Ada yg langsung transfer uang ke rekening mas kontrib. Menyenangkan ya.

Menyenangkan bahwa gue kenal orang2 baik. Mereka membantu tanpa tanya macem2 yg rumit. Asal bukan tipu2... sudah.... Pdh beberapa orang di wa group itu ada yg sdh nggak ketemu gue 10 tahun. Ada juga yg hanya pernah ketemu sekali... kira2 9 tahun silam. Tp krn kami di group yg sama, dia merasa bisa percaya judgment gue. Dan ikut membantu juga. Kerennya, sebagian besar orang2 itu nggak mau disebutkan namanya. Mereka hanya mau bantu. Sudah.

Sedikit2 lama2 jadi bukit. Dari jumlah nominal yg masuk memang variatif, kecil besarnya... relatif. Tapi dalam semalam, terkumpul 9 juta. Mudah banget. Nggak perlu bertele2... Mas kontrib bisa segera membawa anaknya MRI. Semoga sakitnya bisa segera ditangani.

Sampai skrg, gue masih takjub dgn keajaiban wa group. Juga bahwa gue selalu dikelilingi banyak sekali orang2 baik, yg masih peduli, masih mau membantu dgn segera. Alhamdulillah. Semoga mereka diberi rejeki berlipat ganda oleh Allah SWT. Aamiin. 


Friday, April 27, 2018

Remaja Jaman Now, WTF & Sekolah Kehidupan

Minggu lalu, Aria dan sekolahnya outing ke Trawas, Jawa Timur. Perjalanan ini sudah diinformasikan sejak awal Aria masuk Mentari. Jadwal mereka sudah jelas: kelas 7 ke Bali, kelas 8 ke Trawas, kelas 9 ke Padang. Bukan perjalanan yang wajib. Tapi kalau bisa, kenapa enggak? Dan mendengar dari teman2 yg anaknya pernah ikut, field trip ke Trawas ini akan jadi the most memorable one.

Baiklah. Pergilah anakku dengan kecemasan, "Menurut kakak kelas, di sana sinyalnya jelek!"

Hahahahaha... dasar anak jaman now.

Gue bukan model ibu2 yg cemas sama anak, trus menelepon sehari 10 kali. Mungkin malah gue termasuk yg cuek. Guru2 juga cukup pengertian terhadap emak2 (yg kepo maupun yg tidak), jadi mereka bikin grup wa, dan setiap malam secara berkala jam 20.00 akan mengirim foto kegiatan anak2 seharian itu ngapain aja. 100 anak, 100+ foto. Seru amat grup ini. Tentu nggak semua akan dpt foto close up, jadi para emak (apalagi yang sudah pakai kacamata plus macam gue) harus siap nyungir2 nyari wajah anaknya.

Aria cukup sering tampil di foto2 itu. Semua dgn wajah semringah, senyum lebar pipi gembul yg anak gue banget :D Foto dia ngasih makan kambing, masak di dapur, main ke air terjun, nyemplung di sawah... semua ada. Anak gue terlihat bahagia (dan nggak peduli soal sinyal). Banyak foto yg dia sedang sama geng cewek2. Ada pula yg macam tercyduk di tengah sawah sama Alika. Panas koncrang nggak peduli, tetep bahagia, ketawa2. Nggak mungkin terjadi kalau perginya sama ibu... Hahaha....

Dan memang Aria cukup bersenang2 selama di Trawas. Ceritanya banyak. Dan seperti biasa anak cowok, ceritanya nggak langsung... tapi sedikit2... jadi sepanjang akhir minggu, cerita Trawas ini ada di mana2....

Nah... yg menarik memang imbas gaul2 sama remaja seumuran dalam waktu lama. Dgn gampang... bisa terbawa ke pergaulan temannya. Peer pressure. Hmm... mungkin skalanya masih biasa aja krn objeknya tidak bahaya utk press pressure kali ini. Apa itu? We the fest, alias WTF. Festival musik Gen Z.

Festival musiknya sih ok. Dan mengingat Aria juga diarahkan ke hal-hal yg musikal, mungkin perlu juga nonton ini. Yg nggak ok adalah harga tiketnya. Dan nggak mungkin gue lepas sendirian kan anak SMP itu? Mau nggak mau... akhirnya lebih baik nggak diizinkan.

"Tunggu sampai kamu SMA,"

Apakah mempan? Tentu tidak. Hahahaha....

Aria sebetulnya bisa beli tiket WTF dgn nabung uang sakunya. Tapi buat gue... masalahnya bukan (cuma) itu.... Kok cemas juga ya membiarkan anak gue itu ada di sebuah lokasi yg sangat luas tanpa ada yg jelas bisa tanggung jawab. Aria? Halah... sepatu aja suka berceceran.... kayaknya memang belum bisa dikasih tanggung jawab mengatur diri sendiri. Jadilah harus berjibaku mencari cara untuk menenangkan dan mengalihkan pikiran si ABG ini dari WTF.

Gue inget dulu itu seumur dia, gue juga pengen nonton NKOTB. Atau Rick Astley. Atau siapa lagi ya musisi jaman old.... hahaha.... Akhirnya nggak nonton juga. Ya iyalah krn nggak punya duit. Minta bokap? Bisa dipentung. Dan yg gue ingat, temen2 gue anak Menteng yg pada nonton itu... akhirnya skrg juga biasa aja kok. Nggak jadi lebih sukses atau lebih berjaya. Biasa saja. Kesimpulannya: yg elu tonton di masa SMP itu efeknya nggak gitu2 amat ke kehidupan elu.

Gimana cara ngasih taunya ke Aria? Ga ada cara lain... ya udah bilang aja begitu. Gue ceritain dulu gimana. Gue pengen apa. Jadinya gimana. Trus kapan gue nonton konser pertama kali. Karena apa. Termasuk sederet kelebihan Aria sbg anak sekarang yg dibesarkan di keluarga yg (alhamdulillah) cukup.

Ngambek lah dia. Nggak mau ngomong sama ibu krn kecewa nggak boleh beli tiket WTF. Sampai akhirnya dia ikut kelas pendidikan seks di sekolah. Ada tentang fedofilia. Nah!

"Dari mana kamu bisa yakin, bahwa semua orang yg masuk WTF itu baik hatinya? Bahwa nggak ada dari mereka yg fedofil... mencari2 kesempatan untuk dapat korban? Dan kamu, buat orang2 itu adalah anak kecil. Kamu masih anak2 yg bisa mereka perdaya. For all the things in this world, one thing I am sure: I cannot afford to see you injured."

Wis.

Aria melotot (nggak sepenuhnya sih, wong matanya sipit). Tapi lalu dia diam. Trus nggak lama dia lalu ngomongin hal lain. Sejam kemudian dia minta sepatu baru. Damai pun turun di bumi.




Tuesday, March 13, 2018

Menulis & Membaca

Sudah lama banget nggak nulis2 yg bener nih. Padahal di bio IG bilangnya love to read, love to write. Buktinya manaaaaa.... Banyak banget alasannya. Hahaha.. apa sebaiknya mulai menuliskan alasan?

Entah kenapa, susah banget menemukan waktu buat membaca. Kayaknya dulu itu baca bisa kapan aja di mana aja, nggak duli sekeliling. Bisa baca buku setebal apa pun, dengan segera. Cap cus. Sekarang... kok gadget lebih menarik?

Dulu juga sering nulis2 di mana2. Catatan kecil, update blog, atau notes ini itu di mana2. Sekarang... nulis status aja kadang iya kadang enggak.

Wahai aku... ada apakah gerangan?

Mungkin gue harus puasa gadget kali ya. Sabtu Minggu ini? Coba ah. Siapa tahu jadi sesuatu.



Wednesday, February 21, 2018

Mencari Renjana

Tibalah gue pada saat anak gue bukan lagi anak kecil lucu yang bisa gue dandanin sesuka gue pakai baju warna kuning dan sepatu orange. Dia sudah besar. Dan skrg sedang dalam masa, "Aku mau jadi apa ya?"

Gue sedang berusaha untuk membuat dia nggak terpaku harus jadi ini atau jadi itu. Gue pengen sekali Aria melakukan apa pun yg ia suka (selama di jalan yg benar & sewajarnya). Dia sepertinya belum yakin betul tentang apa yang dia suka. Ya... tugas gue menggali renjana yg dia punya.

Gue sih merasa dia cukup sensitif untuk suara dan bunyi. Jadi sejak kecil sebetulnya dia sudah gue arahkan ikut les musik. Biola, sempat setahun lebih. Lalu berhenti karena gurunya diganti dan dia nggak cocok sama gurunya, dan pihak sekolahnya gemblung banget bikin emosi urusan ganti2 guru ini. Jadi pindah ke piano. Agak lumayan. Sudah 2 tahun. Kemarin sempat mau mogok, tapi lalu bisa dimotivasi lagi. Karena sebetulnya bukan dia nggak bisa, tapi dia malas latihan. Biasa kan... entahlah kenapa ada kata "malas" di kamus... jadi bikin kisruh aja. Haha....

Bulan lalu, gue ajak dia nonton Tulus, lalu minggu lalu kami nonton Tohpati. Supaya dia tahu bahwa ada orang2 yg sekolah dan kariernya berbeda. Tulus itu arsitek, tp lalu memilih jadi penyanyi. Dan nggak apa2 juga. Tohpati dari lulus SMA sudah tahu kalau suka musik. Jadi dia konsisten. Belajar gitar di mana2. Sukses juga. Trus di dalam konser itu juga ada orang2 yg macem2. Pemain musik pun banyak. Ditambah manager artis, stage manager, floor manager, yg ngurus penonton, dll. Dia bisa lihat bahwa semua ada yg mengerjakan. Do what you love, and be the best in it.

Dalam hidup sehari2... Aria lihat ada papap yg bisa dibilang sukses sbg arsitek. Terkenal pula (jangan sedih, sering lho kami ini disapa orang waktu jalan2. "Ini anaknya pak Ary kan?" Duh... gimana kalau jadi anaknya Ahmad Albar ya? Sorry oot). Trus gue ini kan ya nggak kusut2 amat dalam karier... sekolah bener, kerja bener.... Yg penting, papap dan gue sama2 menunjukkan kecintaan (yg luar biasa) pada pekerjaan (atau yg dikerjakan). Mau ngasih lihat ke Aria bahwa kalau kita melakukan yg disukai, insya Allah ada rejeki yg mengikuti. Jadi contoh2 orang kantoran yg berhasil juga banyak. Mudah2an semua bisa jadi referensi bagus buat anak gue itu. Aamiin.

Perjalanan mencari renjana ini memang masih akan sangat panjang. Krn Aria juga perlu terus didorong mencoba hal2 baru. Memasak, menari hiphop, dan yg sekarang2 ini sedang mau gue carikan jalan adalah kerja sosial. Semoga memang ada yg bisa membuat dia lebih paham dirinya sendiri. Lalu bisa dikembangkan menjadi keindahan tiada tara untuk masa depannya.

Semoga juga gue yg diberi tanggung jawab membesarkan Aria bisa membimbing dia menemukan jalan hidup yg benar. Duh, doa gue nggak putus deh buat ini.

Bbrp hari lalu, dalam perjalanan di mobil kentang, tiba2 dia tanya, "Eyang itu punya uang dari mana? Kan eyang nggak kerja, tapi uangnya banyak."

"Eyang kan bikin jamu, dapat uang. Trus ada tabungan juga. Tapi, memang papap, aku, papcay... selalu kirim uang tiap bulan, buat eyang."

"Hmm... ibu... eyang kan anaknya 3, jadi yg kasih uang banyak. Uang eyang jadi banyak. Ibu karena anaknya cuma 1, jangan marah ya kalau besok uangnya sedikit."

Hahahahahahaha.... oalah nak...

Wednesday, February 14, 2018

Draft 1



Waktu aku lihat Mbok Dinar masuk rumah, setelah ibu membukakan pintu, aku tidak berpikir ada sesuatu yang penting. Jadi, aku masuk kamar dan mulai membereskan tas serta seragam sekolah untuk besok. Tapi, tak lama, ibu mengetuk pintu kamarku. 

"Adi... " Raut wajah ibu tampak aneh. Aku melihatnya antara sedih, tapi juga cemas, meski kulihat ibu berusaha tetap tenang. 

"Adi, kamu ikut Mbok Dinar ya. Ke rumah Bu Supangat. Sekarang."

"Malam-malam begini?" 

"Iya. Ikut saja. Kamu sudah ditunggu Bu Supangat." 

Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi melihat sikap Ibu, kusimpan pertanyaan itu di hati. Lagipula, ada perasaan bahwa aku sebaiknya menurut saja. Jadi tak lama, aku sudah berjalan bersama Mbok Dinar, menyusuri gang kampung yang hanya diterangi titik-titik lentera kecil di sana-sini. Kami berdua membisu. 

Rumah Bu Supangat adalah rumah besar yang terletak di pinggir jalan utama. Halamannya luas. Sering kulihat Lik Tarjo, adik bapakku, membereskan semak dan menebas ranting di halaman itu. Saat ini, di halaman ada tenda putih yang besar. Tenda yang bagus. Tapi, mengapa suasananya begitu muram? 

Mbok Dinar menemaniku masuk ke rumah. Baru kali ini aku masuk ke rumah yang begitu indah. Kursi-kursi besar yang tampak nyaman, dipinggirkan menempel ke tembok, bersisian dengan lemari-lemari berpintu kaca yang menyimpan banyak benda warna-warni. Sepertinya pajangan oleh-oleh dari luar negeri, yang fotonya sering aku lihat di majalah. Lampu gantung yang mengilap menambah keindahan ruangan. Gelaran karpet yang lebar-lebar memenuhi seluruh lantai. Tampak empuk dan nyaman. Namun, seperti di luar, di dalam ruangan pun semuanya tampak berduka. 

Aku tidak punya waktu mengagumi ruangan itu lebih lama, juga ruangan sebelahnya yang nampak lebih luas,  karena Mbok Dinar yang memegang tanganku mengajakku mendekati seorang ibu. Kulihat Mbok Dinar mengatakan sesuatu. Ibu itu segera mengangkat wajah, menatapku, dan tersenyum sedikit. Matanya yang bersedih tak bisa disembunyikan oleh senyumnya. 

"Adi? Betul, kowe Adi to? Cerita panjangnya nanti saja. Pokoke, yang jelas, mengko arep ono jenazah teka, jenazah suami Ibu. Iyo. Kuwi jenazah Pak Supangat. Dia suami Ibu, tapi dia juga ayahmu. Kewajiban kamu, sebagai anak, adalah ikut memandikan jenazahnya," suara lembut Bu Supangat seketika menyuntikkan kebingungan di kepalaku. 

Kutengok kanan dan kiri, mencari-cari wajah Mbok Dinar. Dia ada di sudut. Dengan mataku, aku bertanya, "Iki opo? Apa ini?" Mbok Dinar mengibaskan tangan. Menyuruhku tetap di tempatku berdiri. 

"Mbok, ambilkan teh hangat," kata Bu Supangat pada salah satu pembantunya. Yang disuruh segera mengambil segelas minuman dan memberikannya padaku yang masih terpaku. 

"Bapakku? Meninggal?" hatiku mendadak kacau. Otakku seperti tidak berdaya berpikir apa-apa. Bapakku di rumah tadi sepertinya baik-baik saja. Lalu ini siapa? Mengapa? Lalu aku ingat raut wajah aneh ibuku ketika tadi menyuruhku mengikuti Mbok Dinar. 

Kurasa tepukan lembut di bahuku. Bu Supangat menggandengku, bersimpuh di karpet, lalu mendudukkan aku di sisinya. Aku tidak punya pilihan selain ikut duduk. Kulihat Ibu mengambil Al Quran. Dua buah. Satu dia serahkan padaku, satu lagi dia pangku, dibuka pada halaman tertentu. Kudengar dia mulai mengaji. Aku masih bingung, tapi seperti ada sesuatu yang menggerakkan, aku mulai ikut menggumamkan ayat demi ayat, dengan pikiran yang seolah tidak pada tempatnya.

(bersambung)

    

Monday, February 05, 2018

Reaksi

Gue sekarang percaya bahwa kita memang nggak bisa kontrol tindakan orang lain. Yg bisa sepenuhnya kita atur adalah reaksi kita terhadap tingkah laku orang lain. Dan reaksi ini kalau dipikirin bener bisa menjadi sesuatu yang akhirnya menyenangkan.

Bbrp hari lalu satu jendela wa menyala di hp. Dari bapaknya anak gue. Haha.... Pernah ada masa gue menyesal nggak pernah ngruwes hidungnya. Atau ngeplak dahinya. Atau gigit tangannya.... Kapan itu ya? Bbrp saat lalu lah.... Hahahaha.... Skrg, apa rasanya? Masih ada mixed feeling. Tapi entah kenapa reaksi gue waktu lihat jendela wa menyala itu kok tenang. Mungkin krn ngantuk habis lembur semalam? Embuh. Yg jelas... gue biasa aja, (berusaha) nggak ada emosi. Jawab datar: yes, what can I do for you?

Lalu dia bilang barusan transfer untuk Aria. "Ok, thank you."

Gue kira, akan berhenti di situ saja. Tapi ternyata enggak.... Dimulai dari satu pertanyaan soal Aria, yg gue jawab biasa aja. Terus... tanya lagi yg gue jawab lagi. Terus... terus... terus.... sampai akhirnya kami ngomongin Jokowi & Ahok. Hahahaha.... Aneh? Lumayan... krn selama ini nggak kebayang akan ngomongin sesuatu dgn santai. Yg kemudian gue sadar, bisa kejadian krn gue pun santai aja jawabnya. Udah ga pakai semangat mau ngrawus lagi... hahaha....

Untuk coparenting kayaknya sih udah telat banget ya. We'll see.... hmm... belum kepikiran bisa ke sana tapi ya siapa tahu. Skrg ini bisa jadi temen aja udah cukup kok. Nggak pengen apa2 lagi. Sudah seneng.

If you ever read this, hopefully you understand how meaningful the conversation was. Thank you.

 

Thursday, February 01, 2018

Say Hello

Do you know how a morning greeting can boost your mood up?

Tuesday, January 23, 2018

The Fault is in Our Stars

You know I want you
It's not a secret I try to hide
I know you want me
So don't keep saying our hands are tied
You claim it's not in the cards
But fate is pulling you miles away
And out of reach from me
But you're here in my heart
So who can stop me if I decide
That you're my destiny?

What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You'd be the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
So why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours tonight

You think it's easy
You think I don't want to run to you
But there are mountains
And there are doors that we can't walk through
I know you're wondering why
Because we're able to be
Just you and me
Within these walls
But when we go outside
You're gonna wake up and see that it was hopeless after all

No one can rewrite the stars
How can you say you'll be mine
Everything keeps us apart
And I'm not the one you were meant to find
It's not up to you
It's not up to me
When everyone tells us what we can be
How can we rewrite the stars?
Say that the world can be ours tonight

All I want is to fly with you
All I want is to fall with you
So just give me all of you

It feels impossible
 
It's not impossible

Is it impossible?

Say that it's possible

How do we rewrite the stars?
Say you were made to be mine?
Nothing can keep us apart
Cause you are the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
Why don't we rewrite the stars?
Changing the world to be ours


You know I want you
It's not a secret I try to hide
But I can't have you
We're bound to break and my hands are tied

Rewrite the Stars from The Greatest Showman

Friday, January 19, 2018

Rindu

Dan
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.

Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal ras.

Enak (Atau Enggak)

Barusan dengar lagunya Tulus "Pamit"... tiba2 pengen posting tulisan ini.

Jadi gue single sudah sejak 2004. Pernah punya pacar sejak kira2 tahun 2006, tapi LDR sepanjang masa pacaran. Data2 statistik ini perlu untuk menjelaskan bahwa gue hidup sendirian sudah cukup lama. Lalu? Gue lupa gimana caranya berdiskusi dengan benar sebagaimana pasangan laki2 dan perempuan.

Hahahaha....

Gue lupa caranya minta izin. Kalau pergi2... selama ini, entah itu pergi ke luar kota atau ke luar negeri, yang diberikan ke orang2 adalah sebatas pemberitahuan saja. Cuma ngasih tahu bahwa gue akan ke mana tanggal berapa. Pamit... konteksnya hanya untuk ke nyokap dan Aria. Yg ya pamit aja bye mama bye anak sayang see you later gitu. Minta izin? Hmm... yg hubungannya dgn boleh atau enggak sih udah lama banget nggak gue lakukan.... Mau ke Kendari, cek atm... masih ada duit buat tiket... cuuuusss sampai di Kendari. Mau ke Singapore over the weekend... Aria mau ikut... ya udah, beli tiket... trus langsung berangkat, sore2 udah di Marina Bay ngopi2 sambil ketawa2. Nggak ada yg dimintain izin... wong tiket juga bayar sendiri....

Nggak hanya untuk yg bentuknya pergi2... beli2 barang yg besar juga nggak pernah tanya siapa2. Beli rumah. Beli mobil. Beli berlian. Semua dilihat, dikalkulasi, dipertimbangkan, lalu dibayar sendiri kalau duitnya cukup. Kalau duitnya nggak cukup... bikin masa hitam dulu bbrp bulan... Hehe. Intinya sih semua tergantung diri sendiri. Pernah sih tanya2 ini itu sama OmD... tp ya sekadar tanya saja . He knew for sure he has no right to say anything in terms of giving any permission. Siapa eluuuuu.... hahahaha.... (cium jauh utk OmD).

Kenapa ini jadi pikiran? Karena bbrp hari lalu ada diskusi soal pembagian harta gono gini yg skrg sedang dilewati seorang teman. Oooh... iya baru sadar kalau selama ini temen gue dan suaminya mengumpulkan aset itu berdua, jadi sekarang pusing urusan bagi2 ini itu. Hmm... trus teman yg lain juga barusan mengeluh krn dilarang sama suaminya pergi ke Pulau Ora. Mahal, kata suaminya. Pdh dia bayar sendiri sih pakai gajinya sendiri... tp ya kalau suami nggak kasih izin kan nggak berani juga mau melawan... nggak boleh pula secara agama ye kaaaan....

Lucunya, akhir dari pembicaraan tadi kok intinya sama: "Enak kamu, mbak... nggak ada suami... "

Apa iya memang begitu?  

Friday, January 12, 2018

Seandainya Bisa....

Aku kehabisan cara, 'tuk jelaskan padamu
Mengapa sulit 'tuk lupakanmu
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku 


(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku, dari sudut pandangku


Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
Seandainya satu hari bertukar jiwa
Kau akan mengerti dan berhenti bertanya-tanya


(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu

(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
 

Mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku... dari sudut pandangku 


Tukar Jiwa - Tulus 

Thursday, January 11, 2018

Adik Aria

Sekian lama menjadi anak tunggal... tahun 2016 Aria punya adik. Sepupunya, Jawa, lahir. Siplah ya mereka satu shio: monyet. Yg bisa diartikan usilnya bukan main... hahaha.... Beda 12 tahun ini pula yg mungkin bikin Aria sudah bisa jatuh hati sama Jawa. Dia yg dulu2 ngotot nggak mau punya adik... akhirnya meleleh juga.

Jawa tinggal di Apt Rasuna sejak awal 2017. Ke BSD sebulan sekali atau dua kali, pas weekend. Kalau sdh dibilang Jawa akan datang, Aria pasti girang. Dia akan manis sekali les piano lalu pulang dan nunggu Jawa hadir. Dia bisa dengan telaten nemenin Jawa main ini itu.Waktu Jawa sudah mulai merangkak... Aria akan jadi sweeper yg bersihin jalur yg mau dilewati. Luar biasa...

Skrg Jawa sudah mulai bisa berjalan. Masih agak goyang2 suka gampang jatuh, tapi sdh mulai sering jalan agak cepet alias lari. Dan Aria akan dengan setia jadi bodyguard. Manis banget deh. Dia bahkan ga marah waktu mainannya diacak sama Jawa. Atau waktu Jawa mau ikut2 melukis. Heran banget ternyata anak gue bisa sesabar itu.

Yg belum berubah adalah panggilannya. Aria tetep nggak mau dipanggil "mas". "Aku tetep Adik Aria. Jawa aja yang jadi Mbak Ja."

Teges bener.

Wednesday, January 03, 2018

2018

Ini postingan pertama di 2018....

Mau nulis apa ya? Tentang 2017? Ya begitulah.... 2017 berlalu dengan semangat "life should be like shoes, would be more interesting when they were not flat." Gonjang ganjing ini itu di segala lini... hahaha.... Yg paling nendang memang hidup percintaan. Krn setelah sekian lama... akhirnya... tidak ada apa2 yg terjadi, dalam arti, status gue belum berubah juga di 2017. Masih single.

Aria sbg fokus utama hidup gue cukup oke di 2017. Sehat dan gembira. Alhamdulillah. Tetep konsisten memberikan ibunya pelajaran2 parenting yg seru2. Hahaha... I love him nonetheless. Selalu mensyukuri adanya dia dalam hidup. The star that guide me home and  the anchor that always keep my feet on the ground.

Kesehatan... oke juga. Alhamdulillah. Hanya perlu perhatiin sinyal tubuh lbh teliti. Krn kadang badan sdh hrs merem, tp ga nurut. Hahaha.... Sempat "kebablasan" diare bbrp hari. Yg ternyata karena stres (disinyalir karena kisah cinta yg berakhir tragis hahahaha). Herannya, sudah diare bbrp hari kok ya perutgendut tetap teguh kokoh hadir di antara kita. Nggak ada penghargaan sama sekali utk frequent trips to the loo. Weleh weleh. 

Tahun 2017, lumayan banyak jalan2. Dan merasa bahwa jalan2 itu mendekatkan sama keluarga. Waktu serumah pergi ke Semarang-Salatiga di awal tahun, terasa banget bhw kami semua belajar bertoleransi. No complaints at all. Semua berupaya menyenangkan yg lain dgn selalu tenang. Wonderful.

Waktu Aria outing sm sekolahnya, sengaja gue ajak nyokap jalan juga ke Madiun & Yogya. Nggak ada agenda khusus, nemenin nyokap aja napak tilas masa dulunya di kota itu. Nengok rumah (hotel), makam mbah (sampai ke Nganjuk), trus sekolahnya.... Di Yogya juga gitu. Banyak leyeh2 aja. Seneng. Seneng karena lihat nyokap seneng.

Ada rencana perjalanan yg bubar sebubar-bubarnya. Krn partner jalannya ngaco dan ngawur. Sempat kecewa bbrp hari. Dan kalau skrg diinget yaaaa masih nyesel juga. Lbh karena perjalanannya batal. Di sisi lain, bersyukur juga karena jadi tahu kalau partner yg baik punya sisi brengsek juga. Jadi waspadalah waspadalah di masa depan.  

Trus akhir tahun ditutup dgn liburan ke Danau Toba. Melihat pemandangan yg mahal harganya. Iri banget sama penduduk sekitar danau yg tiap hari bangun tidur melihat million dollar view. Merasakan bedanya aura hidup di Jawa dan Sumatera. Dan akhirnya bisa melihat Medan (serta memutuskan untuk tidak menyukainya.... hahaha). Lagi2 senang. Senang bisa mengenalkan Aria ke budaya lain yg kadang bikin dia kaget (krn ada orang ngomong kayak berantem).

Tahun 2017, ada harapan2 yang dipupuk, tapi lalu ambyar. Karena satu dan lain hal. Pacaran yg gue pikir akan berbeda akhirannya... ternyata nggak juga tuh. Berakhir dgn tidak terlalu menyenangkan. Dgn alasan2 yg konyol dan bodoh. Tapi tetap bersyukur merasakan mencintai (dan dicintai) begitu dalamnya. Meski semarah apa pun, nggak bisa berbuat apa2 begitu teringat cinta itu. Haha... Basi? Biar aja.... I wish him a very good life ahead. More prosperous and happy one. Hopefully we can still be friend. A very good friend.

Kantor... biasa aja. Semakin merasa bhw ini masa2 gawat. Masuk ke comfort zone yg gawat bentuknya. Project masih ada (banyak) dan sebetulnya lumayan seru. Tp akhirnya kok merasa gitu2 aja.... hohohoho.... Harus ada tindakan nih.... Ada beberapa projects kecil di luar kantor yg datang. Semua bentuknya roro jonggrang krn yg minta tolong sdh kepepet.... semua tiba2 urgent urgent urgent sampai nyaris gue suruh masuk UGD aja deh ah. Hahaha... untunglah semua bisa selesai dgn baik.

Semua yg terjadi di 2017, baik atau buruk, tetap harus diingat sebagai bentuk perhatian Tuhan YME. Gue percaya bhw Allah SWT Maha Baik & Maha Penyayang. Apa pun yg terjadi, itulah bentuk rasa sayang dan kebaikanNya. Alhamdulillah. 

So, 2018... bring it on!