Monday, June 05, 2017

Love

You know I love you. Endlessly.

Friday, May 26, 2017

Puasa

Selamat datang bulan suci Ramadhan. Alhamdulillah dipertemukan lagi. Terima kasih, ya Allah.

Semoga bulan ini bisa menjadi masa kontemplasi yg panjang. Istirahat sambil berpikir (& berdoa). Mencari jawaban atas semua pertanyaan yg selama ini tersimpan. Semoga lancar. Aamiin.

Selamat puasa, teman2. Damai selalu.

Wednesday, May 24, 2017

Not A Fairy Tale

The first time we met, you hand carried a very big bouquet of roses. Since then, you sent a lot of them everywhere I worked. To 3 places to be punctual. Sometimes you just showed up in the middle of the day, asking me out to have a quick lunch, before you headed back to your place, in another city (or later on another country).

Several times, you were at my office, without letting me know in advance. It was a very beautiful surprise. 

I will never forget the day you made me gasped by showing up on one event held by government institution, when I won something for my writing. You asked me to stand up, so you can see me among the crowd. How lovely.

The long, big and tight hug on my birthday last year was one of  the moments I will treasure. It will stay forever in my head, along with other times when you suddenly appeared in front of me. Those moments will warm my heart forever. I never felt to be loved the way you made me feel.

I really wish you will do those surprises again. I wish my cell phone will beep with your message to meet you somewhere for a nice talk over coffee. But I know I can only wish. I guess I should start to learn not to think of you as the prince charming to my cinderella anymore. 




Tuesday, May 23, 2017

Semua akan Indah pada WaktuNya

....
Waktu takkan pernah mengulang
Dan rahasia kan menyapa
Tanpa salah

Di hari yang ditentukan
Dilahirkan
Ditemukan
Dan dipisahkan....

(Semesta - Maliq & d'Essentials)

Monday, May 22, 2017

Merindu

Adakah yang bisa mengukur rindu?
Sedalam apa?
Sepanjang apa?
Tidak ada yang bisa menakarnya
Mungkin juga tidak perlu direka-reka

Jumpai saja 

Karena rindu hanya bisa hilang
Ketika bertemu.


Wednesday, May 17, 2017

Ternyata....

Pernah nggak, merasa sudah melakukan sesuatu, sudah menyelesaikannya... ternyata belum? Rasanya konyol. Gue kemarin merasa begitu.

Setelah hampir 13 tahun berpisah, dan secara legal 12 tahun bercerai... gue pikir gue sudah berdamai dgn keadaan. Ya... maksudnya... gue pikir gue sudah bisa menerima apalah konsekuensi dari perceraian itu. Apa pun. Termasuk menghadapi orang2 yg nggak sepaham, teman2 yg kaget, atau lingkungan yg kepo. Dan yg utama tentu menerima kalau bapaknya anak gue memang sdh selayaknya dicoret dari daftar hadir.

Gue pikir gue sudah kelar dalam urusan itu.

Ternyata belum lho. Dan mungkin memang nggak akan bisa.

Sekian lama, kami hanya ketemu setahun sekali di acara Idul Fitri. Kalau Aria ultah, dia akan langsung telepon anaknya. Kalau Aria nggak cerita, ya gue nggak tahu. Kado... Aria sdh nggak mengharap. Kunjungan? Halah... sudah lupa kayaknya anak gue dgn kunjungan2 bapaknya. Sama seperti gue sudah melupakan kewajiban dia soal tunjangan anak yg nggak pernah dipenuhi. Uang sekolah yg dulu pernah dijanjikan (sampai setinggi apa pun), nggak hadir2 juga hahahaha....

Lalu tiba2 bbrp hari lalu dia kirim uang. Jumlahnya nggak banyak (apalagi dibanding "utang" kewajiban dia selama ini). Dan itu nggak penting buat gue. Yg ternyata penting, kiriman itu mengejutkan (selain perlu disyukuri). Reaksi Aria pun lucu sekali. Dia senang banget waktu gue bilang ada kiriman uang. Meskipun seperti biasa... dia nggak terlalu merasa uang itu penting banget dalam hidupnya... jd dia seneng aja. Tp nggak lalu minta atau gimana2. Gue suruh dia sms bapaknya, bilang terima kasih. Dan kata Aria, "Ayah janji mau kirim lagi."

Alhamdulillah.

Mungkin gara2 kiriman itu, gue jadi kepikiran lagi sama bapaknya anak gue. Bukan mikir yg gimana2 sih. Cinta? Sdh habis. Nggak pengen balik juga lah. Entah apa yg gue pikir ya... sampai kemarin, di jalan pulang dari kantor... radio tiba2 muter lagu jadul. And that is when the sweet memories kicked in. Gue tiba2 mewek. Nangis sejadi2nya. Sampai tersedu2 kyk waktu patah hati dulu. Halaaaahhh... kenapa ini....

Nggak tahu ada apa ya? Tiba2 nangis aja. Kayaknya gue nggak pernah nangis sampai segitunya.

Setelahnya gue baru mikir... jangan2 ada unfinished business.... Apa iya?

Hmmm....

Nggak tahu apa. Nggak tahu juga harus benerinnya dari mana. Ya ampun... setelah sekian lama... harus beres2 lagi. Artinya kan harus buka2 "kotak ajaib" lagi. Kebayang lelah hatiku.... Wedew. Pelik amat sih. Tapi gimana dong? Apa dibiarin aja ya?

Embuh wis.     

Friday, May 12, 2017

Mind You?

Apa salahnya jadi single mom?

Oke... oke... apa salahnya jadi janda (yg bercerai)?

Pertanyaan ini sudah lamaaaa banget nggak pernah hadir. Tp gara2 kemarin ketemu teman2 nyokap, mau nggak mau jadi hadir kembali. Apa salahnya?

Gara2nya setiap salaman, dgn siapa pun... apakah tante atau bude atau om atau pakde... teman2 nyokap yg sdh lamaaaa sekali nggak ketemu.... pertanyaan berikut adalah, "Masih betah single?" Atau ada yg lebih nekad lagi dengan langsung cap cus 'jualan' sepupunya, anaknya sahabatnya, atau tetangganya. Yg gue ga tahu di belahan dunia mana... yg mungkin kenalan aja belum tentu mau (huh. Kibas rambut. Pongah dan congkak :D).

Pertanyaan dan selorohan itu jadi bikin gue tanya2 lagi: apa salahnya jadi janda?

Setelah hampir 13 tahun sendirian (ada Aria ding), rasanya kok kosakata "menikah lagi" semakin jauh dan jauh saja. Bbrp tahun lalu memang sempat pengen punya pasangan lagi. Pacaran lagi. Melawati masa berantem-putus-sambung-putus lagi. Seru juga...

Tapi lalu, setelah sekian lama nggak jadi2 juga... mulai kepikiran: memang perlu ya menikah lagi? Perlu apa sebenarnya? Mau apa?

Kok ya kebetulan bbrp bulan terakhir ini dengar2 soal teman2 dekat yg bermasalah dgn perkawinannya. Kalau  masih saling cinta, ada aja masalah lain seperti finansial atau urusan anak, yg bikin hubungan mereka goncang. Skala goncangnya dari yg ringan sampai berat. Tapi tetap aja goncang. Malesin.

Kalau dengar2 yg begitu, alangkah nikmatnya hidup gue (berdua anak gue). Apa2 ya dipikir sendiri. Mau beli sepatu, tinggal hitung saldo ATM. Masih cukup? Beli. Mau bangun siang di tanggal merah, nggak ada yg melarang. Bangun jam 8. Yoga jam 9. Mandi jam 10. Jam 11 tidur lagi? Boleh aja. Mau mogok masuk dapur ya terserah aja... hahaha... selama masih ada gofood, artinya Aria masih punya pengasup ransum. Aman dunia gue.

Nah, dengan segala kenikmatan duniawi semacam itu... apa ya masih perlu punya pasangan (lagi)?


Friday, May 05, 2017

Surprise

It can be as simple as a one line text. Saying that he sent me something. Wow.

Thursday, May 04, 2017

SE-LA-LU

Selalu ada yg lebih penting. Pekerjaan. Perasaan. Mereka.






Sepertinya aku ngga penting2 amat.

Monday, April 10, 2017

Why?

Ku ingin cinta hadir untuk selamanya 
Bukan hanyalah untuk sementara 

Menyapa dan hilang 
Terbit tenggelam bagai pelangi 
Yang indahnya hanya sesaat 
Tuk kulihat dia mewarnai hari
 
Tetaplah engkau di sini 
Jangan datang lalu kau pergi 
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu 
Untuk cinta sesaat
 
Mengapa ku tak bisa jadi 
Cinta yang tak akan pernah terganti 
Cinta yg tak kan terjadi
 Lalu mengapa kau masih di sini 
Memperpanjang harapan
 
Tetaplah engkau di sini 
Jangan datang lalu kau pergi 
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu 
Untuk cinta sesaat
 
Kau bagai kata yg terus melaju 
Di luasnya ombak samudera biru 
Namun sayangnya kau tak pilih aku 
Jadi pelabuhanmu
 
Tetaplah engkau di sini 
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu
 
Bila tak ingin di sini 
Jangan berlalu lalang lagi 
Biarkanlah hatiku  
Mencari cinta sejati 
Wahai cintaku 
Wahai cinta sesaat

Pelangi - HIVI

Friday, March 17, 2017

Missing You

I may not be a missing piece looking for others to take me rolling. But it doesn't mean I don't need you in my life. I need you to roll closer, balancing my step, so together we can pass the crookedest path. If any.

Thursday, March 16, 2017

The Missing Piece Meets the Big O

Ceritanya ada sebuah segitiga yg pengen sekali menggelinding. Dia mencari teman yg kira2 perlu kepingan segitiga, supaya bisa menyatu, jadi bola sempurna, lalu mereka menggelinding bersama. Setelah gagal beberapa kali, ada satu bola yg salah satu sisinya koyak. Pas dengan bentuk segitiga. Klop. Menyatulah mereka, lalu menggelindinglah bersama.

Dalam perjalanan, si segitiga ternyata berkembang. Ia membesar, hingga celah di bola menjadi sesak. Akhirnya mereka berpisah. Si segitiga sedih sekali. Ia putus asa, sudut2nya membuat dia merasa nggak bisa menggelinding. Dia kangen bola.

Tapi lalu, dia mencoba menyemangati diri. Ia coba berguling. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Bisa. Tapi tentu tidak mulus karena bentuknya segitiga. Dia nggak putus asa. Terus berguling... berguling... berguling... sampai akhirnya tubuhnya berubah, sudut2nya jadi tumpul... lama2 membulat. Dia bisa lancar menggelinding. Dalam perjalanan, dia bertemu bola2 lain. Dan menggelindinglah mereka bersama. Tapi, ketika tiba di persimpangan, kadang ada bola yang memisahkan diri, ada juga yang tetap di sampingnya.

Itu cerita yg nulis Shel Silverstein. Jenius, karena itulah yg terjadi dalam kehidupan. Sometimes we think we cannot function because we need other people to help us. And when we found someone, we stick to him or her, thingking about not moving nowhere had we weren't with him or her. Do we really?

Kita masing2 bertumbuh. Ketika menyatu dengan orang lain, seharusnyalah kita tetap bertumbuh menjadi lebih baik. Ketika orang lain tidak bisa menerima perkembangan kita, ya... mungkin sudah saatnya kita tidak bersama dia lagi. Tugasnya sudah selesai. Silakan melanjutkan perjalanan sendiri2. Dalam perjalanan, pasti kita akan menemukan orang2 lain lagi. Yg akan bersama kita dalam suatu waktu. Untuk kemudian mencari jalan sendiri2.

Itu pula kayaknya yg terjadi dalam dunia pekerjaan sekarang ini. Media cetak sudah seperti barang mewah. Mahal sekali, hanya sedikit orang yg mampu memiliki dan mengerjakannya. Lalu bagaimana? Harus apa? Bergerak. Bertumbuh. Berkembang. Harus terus melangkah, jangan berhenti. Kalau memang hrs berpindah ke digital. Kenapa tidak? Awalnya mungkin sulit beradaptasi dengan trend media sekarang yang sangat cepat. Tapi, perjalanan akan membuat kita menemukan fleksibilitas.

So, let's go.

Friday, March 10, 2017

Next: Contemplating Session

Sesi berpikir2 lama kembali terjadi di tengah minggu. Dengan semakin banyak pertanyaan dan kegalauan. Hahahaha....

Banyak pemicunya. Salah satunya grup wa ibu2 single. Anggota grup itu macam2 banget kisahnya. Dari yg lucu sampai yg pilu... semua ada. Dan semua dituturkan oleh pelaku atau korban lho. Jadi itu kisah nyata.

Entah mulainya gimana, salah satu topik kemarin adalah "suami selingkuh." Macem2 cerita langsung hadir. Gue yg di kantor kyk kepontalan "ngejar" chatting. Gimana nggak, ditinggal meeting 30 menit, sudah ada 762 notifikasi. Edun.

Macam2 cerita perselingkuhan itu (aduh mak sumpah gue parno bacanya), menimbulkan pertanyaan: kenapa mereka selingkuh. Apa ada yang salah dengan si perempuan? Perempuan yg istri atau yg selingkuhan? Tapi kenapa? Dan tentunya nggak ada yang terjawab dengan jelas. Malah membawa gue ke masa silam, jadi tanya lagi... kok dulu suami gue selingkuh kenapa? Nggak terjawab juga, malah diikuti kesadaran kalau ternyata tidak semua istri mengenal suaminya dengan baik.

Masih kepikiran sama topik wag itu, tiba2 malamnya terjadi percakapan wa dgn OmD. Tp sialnya ngomong di wa kan nggak kelihatan wajah, nggak ada ekspresi, nggak jelas apakah penjelasan gue dibaca atau nggak. Menurut gue sih akhirnya nggak gitu menarik karena terlihat perbedaan pandangan yang jelas. Sampai dalam perjalanan pulang gue mikir keras banget: kami ini sebenarnya mau apa?

Terjadi selisih paham soal perempuan bekerja. OmD masih berpikiran bahwa bekerja itu ya secukupnya saja. Sementara gue yg suka seru sendiri ini kadang2 perlu keriaan. Waktu ada undangan meeting jam 22.00, masih tergoda utk ikut karena materi meeting terdengar seru. Buat OmD, meeting jam 22.00 nggak masuk akal. Tanpa pernah mengalami langsung situasi runyam traffic ibukota, jadwal padat merayap pejabat, juga meeting back to back non stop yg bikin kesepatan meeting tengah malam.... buat OmD yg nggak umum itu jadi nggak layak. Sementara buat gue? Laaah... meeting sampai jam 1 pagi juga pernah kok. Dan nggak tiap hari sih. Paling pol 2 tahun sekali... jadi... it was not a big deal at all. Lha kalau memang kerjanya begitu ya gimana? Dan gue suka2 aja.

Meskipun kami sdh lama sekali sama2, tapi nggak pernah ada masa kami bareng. Dia nggak tahu apa yg gue alami on site. Dia nggak lihat gimana gue dari redaktur kroco trus bisa jadi spt skrg. Dia nggak lihat langsung gimana gue merintis karier gue sambil gonjang ganjing ngurus rumah. Dia nggak paham dunia gue karena selama ini toh dia juga nggak pernah ada di situ. Buat gue, nggak ada kamus: mengorbankan karier untuk anak. Atau menelantarkan anak demi karier. No. I have to have both. Dan yg penting, gue toh nggak menelantarkan anak gue. Anak gue itu demikiran gembira dan ceria, sungguh jauh dari gambaran anak terlantar. Nggak mungkin? Kata siapa?  

Hal yg sama... gue jg nggak tahu apa yg dia alami. Day to day. Gue nggak lihat bagaimana lingkungannya bisa membentuk pola pikir dia sekarang. Gue nggak paham dasar penilaian dia, karena gue juga nggak pernah ada di dunia dia.

Yg kami punya selama ini adalah saling tukar cerita. Sudah, cuma itu. Kalau ceritanya ngawur atau nggak sesuai kenyataan, yg tahu hanya yg bercerita. Pikir sendirilah jadinya.

Do I love him? Of course I do. Tapi apakah cinta itu bisa membuat gue tenang2 saja seandainya gue harus ikut dia? Apakah cinta itu cukup besar untuk gue bisa berkompromi pada hal2 yang tidak gue sukai? Apakah cinta itu nggak terbatas, sampai gue bisa mengikuti cara hidupnya tanpa frustrasi?

Bagaimana juga dengan dia? Gue nggak tahu.

Selama ini yg terjadi dengan kami adalah LDR tak kunjung henti. Pertemuan2 cuma sebentar, nggak mungkin diisi berantem. Berantem jarak jauh ya udah gitu aja. Nggak bikin kita makin saling kenal dgn baik. Apakah semua bekal ini cukup untuk melangkah lebih jauh?

Gue nggak tahu.

Yg gue tahu, ada rasa yg gue nggak nyaman. Ada sesuatu yg mengatakan ada hal yg nggak bener. Dan tentunya gue nggak boleh diam saja. Kali ini gue akan mengikuti kata hati gue.


Monday, February 20, 2017

Tuhan Maha Baik

Tuhan yang baik, terima kasih ya, sudah memberi warna cemerlang dalam hidup saya,. Alhamdulillah.

Weekend kemarin ditutup dgn keharusan "berpikir-pikir lama" gara2 curhat teman sehari sebelumnya. Jadi dia dan suaminya sedang bermasalah. Spt juga banyak pasangan yg sedang diuji cinta kasihnya, ada perempuan lain dalam hidup pernikahan mereka. Sayangnya, perempuannya nggak cuma satu. Alias banyak. Dan nggak oke. Entah dari mana asalnya atau gimana bentuknya jadi nggak penting, yang penting perempuan itu menularkan penyakit. Tuhanku, maafkan maafkan maafkan semua manusia yg ngawur2 ya.

Nah, organ tubuh perempuan yang bentuknya menadah tentu mudah tertular penyakit. Meskipun selama ini teman gue cukup bersetia pada suaminya, begitu ada penyakit kelamin yg dibawa suaminya entah dari mana... istri yg kebetulan teman gue, terkena. Nggak kebayang sakitnya. Fisik dan batin. Sudahlah diselingkuhi dan dikasih oleh2 penyakit pula. Bayangan hrs menutup hari dgn tatapn mata (nista) dokter SPKK sungguh nggak menarik buat dipikirin.

Oke, teman gue itu dari keluarga mapan. Menikah dgn anak keluarga yg  sangat berada, saat ini mereka tinggal di kawasan elit ibukota. Tinggal dalam cluster yang isinya beberapa rumah2 yang semua milik keluarga. Selain tanah cluster tersebut, keluarga mereka punya juga beberapa bidang tanah lain. Semua di kawasan utama ibukota. Seperti umumnya keluarga berada, ada lebih dari dua mobil di garasi rumah mereka. Selain penampakan yg tajirudin itu, teman gue ini juga terlihat bahagia, dgn dua anak yg sdh gede2. Menikah bertahun2, di usia yang mau 50, pasti yg diharapkan ya hidup tenang2 sajalah. Gonjang ganjing hura2 sdh lama banget (harusnya) masuk kotak kenangan. Harusnya skrg hanya tinggal ngantor biasa, sambil nemenin anak nerusin sekolah yg nggak akan lama lagi selesai. Sambil liburan sesekali. Belanja2 secukupnya. Senang2 sama keluarga. Mau apa lagi?

Tapi ternyata itu hanya tampak luar. Di dalamnya ya tadi itu, ada api dalam sekam berbentuk perempuan lain. Dari cerita curhat kemarin, perempuannya kayaknya nggak bener, dalam arti bukan yg serius mau mencintai. Tapi model yg mau duit laki2 saja. Ya.... kalau lihat sampai ada penyakit, mestinya sih bukan perempuan beres ya.

Nggak urusan sama perempuan lainnya itu, yg gue bayangkan adalah kehidupan teman gue. Apa yg dia lakukan dalam keseharian? Di mana dia terlewat, sampai suaminya bisa ucul mabur ngawur2an? Adakah andil dia yg membuat suaminya jd nggak bener? Sebetulnya, apa yg dicari pasangan itu dalam hidup pernikahan? Kenapa materi yg banyak itu nggak dipakai utk bergembira sama keluarga saja, timbang dihambur2kan buat perempuan yg ga jelas? Ada apa dalam pikiran laki2? Dan banyaaaaak banget pertanyaan2 lain. 

Ketika gue harus menyudahi masa berpikir2 lama... krn sdh waktunya tidur.... nggak ada satu pun pertanyaan itu yg bisa gue jawab. Akhirnya gue pun hanya bisa bersyukur. Berterima kasih pada Tuhan atas apa pun yg Dia berikan pada gue. Jika memang Dia tidak mengizinkan gue bersuami pun, itu pasti rencanaNya yg paling baik. Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan, atas segala karuniaMu.

Friday, February 17, 2017

Pilkada(L) & Cinta

Riuh rendah pilkada paling terasa di medsos. Asli panas. Dan semua kok seperti mengarah ke DKI. Ya ampun... padahal pilkada itu di seluruh Indonesia!! Bahkan Banten aja, yg tetanggaan sm DKI, spt nggak tersentuh. Paslon jadi enak2an nggak bikin kampanye program. Duileh.

Yg paling hot tentu topik cagub yg didakwa sebagai penista agama. Entah kenapa topik itu nggak habis2. Dan lalu dikait-kaitkan dgn ayat dalam Al Quran soal memilih pemimpin muslim. Hmm... tapi masak ayat itu hanya berlaku buat pilkada DKI?

Dari semua orang yg ada di timeline gue, ada satu yg sangat "garing" dalam arti selalu berusaha ikut menista cagub DKI, tapi kalau dikonfrontasi selalu berkata seolah tidak membela siapa2. Alias cari aman aja terus. Tp cari aman dgn aneh dan sibuk ngeles sana sini. Yaaa... mirip junjungannya sih. Hahahaha...

Terserah sih, dia mau ngomong apa juga di medsos dia. Yg gue sayangkan adalah... krn dulu gue pernah punya perasaan khusus padanya. Hah! Memang Tuhan selalu menolong gue. Terima kasih ya Allah. Alhamdulillah selalu dijauhkan dari orang2 yg aneh. 

Tuesday, February 14, 2017

Orang Jakarta

Salah satu dari banyak hal yang menyenangkan dari perjalanan Semarang minggu lalu adalah kenyataan kalau waktu seakan berhenti setelah kita keluar dari Jakarta :D

Terbiasa dgn kemacetan dan jarak yang astaganaga di Jakarta, sejak kecil banget kami di rumah diajarin untuk sediakan waktu sela. Selalu on time. Keluarga tentara bener....Didikan bokap yg begitu, bikin kami semua agak lucu sama jadwal2. Apalagi Jakarta makin hari makin macet... makin luculah kami serumah. Pesawat jam 5.40. Jam 3 akan sudah berangkat dari rumah. Kereta jam 7.00, jam 5 akan sudah ada di jalan. Mendingan nunggu lama di airport atau stasiun, timbang ketinggalan.

Nah, sering banget hal2 begini nggak dipahami sama saudara2 yg tidak tinggal di Jakarta.Mereka mungkin nggak paham deg2an takut ketinggalan pesawat karena macet... krn nggak pernah mengalami. Hahaha.... Kyk di Lombok, pesawat jam 12.20, check in jam 12 jg masih bisa. Trus ke airport nggak macet.

Di Semarang, saat waktu terasa berhenti, kebiasaan on time dan spare time ini jadi lucu banget. Karena kami keluarga Jakarta selalu jadi yg pertama siap. Hahaha.... Hari pertama, ada acara seserahan yang katanya jam 4. Jam 3 kami sdh ada di venue. Ternyata calon pengantin malah belum mandi....

Perhitungan waktu, bikin kaget banget waktu ada di luar Jakarta. Di Salatiga, pagi2 whatsapp-an sm temen SD, dia cuma bilang, "Tunggu, aku ke situ." Trus nggak sampai 5 menit dia sdh hadir. Padahal rumahnya sekitar 12 km dari hotel.

Di Salatiga juga, jam 7 kami keluarga Jakarta sdh keluar dr kamar dan rapi berbusana. Nggak ada jadwal apa2 sih.... cuma biasanya kalau di Jkt kan jam 6 sdh berangkat dari rumah.... hahaha.... Ternyata, Salatiga jam 7 belum ada aktivitas kecuali warung2 yang buka untuk sarapan.

Enaaaak banget rasanya nggak dikejar waktu. Nggak ada macet. Nggak grusa grusu. Kayaknya kalau lama2 tinggal di luar Jakarta... kita semua bisa awet muda dan waras.

Hmm... tapi krn waktu kyk nggak ada harganya, orang2 yg di sektor servis jg kayak lambaaaaat banget. Panggil bellboy, 30 menit. Check in counter, petugasnya bisa alon alon waton suwi masukin data stroller dan carseat buat bagasi.

Jadi gimana ya, enaknya? Hahahaha....

 

 

Thursday, February 09, 2017

Asik Asik Aja....

So we did a little vacation last week.

Kami di sini adalah 7 anggota keluarga nDalem Prosotan. Tujuh? Iya... sejak Oktober 2016, ada tambahan anggota baru: Jawa Malaika.

Minggu lalu, ada kawinan sepupu di Semarang. Para ortu langsung ambisius ambil cuti Jumat dan Senin, manjangin weekend. Hehehe....

Ternyata oh ternyata, bepergian sama satu bayi dan satu eyang sungguh menantang ya! Hahaha.... Mau nggak mau, hrs meng-cater kebutuhan semua orang. Supaya semua senang, karena ini kan liburan.... Diusahakan agar semua bahagia. Ini sekaligus latihan memanjangkan usus, juga latihan untuk cuek tapi tetap peduli. Dan tantangannya adalah agar setelah ini tetap saling menyayangi.... Ahaha....

Misalnya, sdh ditetapkan mau ke sini ke sini ke situ. Tapi harus berubah karena tiba2 ada yg berubah mood. Hehehe... ya nggak pa pa juga sih. Kan nggak ada deadline :p

Atau pengen banget makan sesuatu, tapi ternyata yg lain nggak mau... ya udah, ngalah berhenti sebentar untuk beli makanan yg disuka. Atau stop 2x. Nggak apa2, ada mobil dan lagi2 karena nggak ada yg dikejar. Jadwal mau molor kayak apa juga bebas kok.

Di situlah latihan kesabarannya. Hahaha... Tapi untungnya semua orang kayaknya punya pikiran yg sama. Hrs sabar dan berusus panjang. Jadi minim konflik. Bahkan waktu ke tempat wisata, ternyata nggak asyik, nggak ada yg komplen. Eyang tadinya sdh menunjukkan tanda2 mau komplen, tp lihat yg lain seru, batal komplen. Di tempat wisata, supaya nggak kecewa, cari kesenangan lain. Aria dengan balon2, gue pesta kelengkeng, Galuh cari lekker, Cay cari bakso. Pap mainan sama Jawa. Hahaha... tetap seru dan bergembira.
 
Jadi memang kuncinya pergi sama2: lemesin aja saaaayyyy.... :D




Monday, January 30, 2017

Yang Tersisa

Leapt, without looking
And tumbled into the Seine
The water was freezing
She spent a month sneezing
But said she would do it again

Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make

She captured a feeling
Sky with no ceiling
The sunset inside a frame

She lived in her liquor
And died with a flicker
I'll always remember the flame

Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make

She told me:
"A bit of madness is key
To give us new colors to see
Who knows where it will lead us?
And that's why they need us"

So bring on the rebels
The ripples from pebbles
The painters, and poets, and plays

And here's to the fools who dream
Crazy as they may seem
Here's to the hearts that break
Here's to the mess we make

I trace it all back to then
Her, and the snow, and the Seine
Smiling through it
She said she'd do it again

Audition (The Fools Who Dream) - Emma Stone 

Wednesday, January 11, 2017

Driving Miss Crazy

Hurah! Sudah lama ya nggak nulis di blog. Padahal ini sarana melatih kelancaran berbahasa (ngaco). Terbukti dgn semakin jarangnya update blog, kemampuan menulis pun menurun drastis. Sigh.

Dari kemarin2 sdh sangat pengen nulis soal pengalaman nyetir di Jakarta. Coba kita lihat... apakah hasilnya sesuai harapan? Hahaha....

Gue nyetir sejak kelas 3 SMA. Diajarin bokap. Belajarnya tiap hari Minggu di daerah Kemayoran. Dulu kan daerah situ masih sepi banget. Bekas landasan pacu pesawat kan panjang dan lurus. Jadi belajar nyetir lebih masuk akal. Hoho... bokap tentara bener dah kalau ngajar nyetir. Meskipun skrg ada hal2 yg gue pikir "kok gitu sih ngajarinnya" tapi toh gue bisa juga keliling2 Jakarta berkat bokap. Bokap yg ngajarin ibu gue nyetir, juga kakak dan adik gue.... Thanks lho Kap....

Kemahiran menyetir ini diuji antarkota juga lho. Jangan sediiiiih... dulu kami sekeluarga termasuk yang rajin mudik. Jakarta-Madiun cap cus. Biasanya berangkat dari Jakarta jam 4.30 hbs subuh. Teng. Pernah ada adik nyokap yg mau nebeng. Ditungguin sampai jam 4.45 nggak datang... ditinggal sama pak tentara. Mau naik apa mudik? Emang gue pikirin....

Kami sering lewat pantai utara. Pembagian nyetir biasanya nyokap duluan. Sampai di daerah Purwakarta atau lebih dikit deh. Habis itu gue sampai Tegal. Trus gantian bokap dan kakak gue sampai masuk Jawa Timur. Adik gue kayaknya punya SIM tuh pas jaman mudik. Nanti di Madiun, dalam kota adalah bagian gue. Trus rute pulang jd tugas para pria. Ibu2 mah tidur aja kali yak.

Kebiasaan mudik ini berhenti di masa2 akhir gue sekolah. Mudik terakhir pakai Toyota Kijang thn 1996. Sengaja lewat Selatan. Sampai di Nagrek... ditabrak bus. Penyok barah di belakang. Sedih bener. Kayaknya terpengaruh itu, menjelang sampai Jawa Timur bokap kayak pusing gitu, mobil keluar dari jalur trus sempat muter.. nggak tahu deh kok bisa.... Mungkin beliau ngantuk ya, karena itu sudah malam dan jalan sepiiiii banget. Akhirnya perjalanan diterusin kakak gue. Pulangnya untuk pertama kali gantian nyetir gue dan kakak gue. Habis itu... tahun depannya nggak mudik lagi. Sejak itu... kalau mudik naik pesawat aja lah. Cepet dan ringkes. Apalagi sekarang tiket pesawat juga banyak yg nggak mahal.

Balik lagi ke soal setir menyetir.... Waktu di Amerika, meskipun pegang SIM Internasional, tetap aja lebih baik ujian nyetir supaya dapat SIM lokal. Asyik. Nyari SIM Amrik. Susah. Hahahaha.... Sebenernya bukan susah gimana2 tp karena semua sdh teratur dan lewat jalur yang semestinya jadi bikin deg2an. Akhirnya harus tahu rambu2 yang kadang semacam nggak ada artinya di Jakarta. Misalnya: kalau ada tanda "stop" di perempatan, harus ngapain? Hayoooo... ngapain hayoooo... hahaha.... Juga cara parkir paralel di tanjakan atau di turunan. Hayooo... gimana hayooo.... Udahlah setir di kiri, posisi jalan di kanan... rambu2nya banyak. Enakan tidur....


Nyetir di Amrik ngajarin gue menjadi supir yang "rapi". Misalnya lampu merah mati, nggak ada tuh yg jadi kusut kayak di Jakarta. Hahaha... Kalau lampu merah mati, pengemudi akan mengikuti tanda "stop" di perempatan. Artinya... mereka akan berhenti, full stop, dan yang menunggu sampai orang di jalan yang sisi sebelah kiri mereka jalan duluan. Itu sdh konsensus yg sangat dipatuhi. Begitu juga kalau ada ambulance (yg biasanya satu set sama polisi dan pemadam kebakaran). Begitu kedengeran nguing2... semua akan berhenti seketika. Full stop. Dan si nguing2 ini akan melintas bebas di antara yg berhenti. Oh yaaa... karena semua lurus baris sesuai marka jalan, jalur darurat nggak dilewati, jadi nguing2 ini leluasa jalan. Di sini? Nguing2 selain juga kadang tipu2... agak susah juga mau melintas karena jalurnya full house cyiiiinnn.... Boro2 ngikut marka jalan, jalur darurat aja susah dilewati. Astaga astaga astaga.

Makanya kebayanglah ada kejadian Brexit si Brebes Exit lebaran lalu. Gimana nggak... semua hanya mikir diri sendiri.

Kacau balau memang pengemudi Jakarta. Misalnya gue berhenti sebelum belokan, karena setelah belokan itu jalur gue macet... pasti yg belakang klakson... nyangka gue ngelamun. Hahahaha... padahal kan memang aturannya begitu, supaya yang mau keluar masuk belokan nggak terhalang. Yakin banget jarang ada yg paham beginian. Trus marka jalan itu juga kayaknya dianggap coretan iseng petugas DLLAJR. Jarang ada mobil yg luruuuuus aja di dalam marka, terutama setelah belok. Kalau gue tetep di jalur gue setelah membelok, yg di sisi kanan pasti nglakson menganggap gue terlalu lambat. Laaaahhh....

Trus... siapa tuh yg ngajarin kasih lampu hazard kalau hujan? Dodol.

Hmm... hmm... karena gue supir yg rapi, susah banget gue bisa dapat supir yg cocok (untuk mobil gue). Beberapa kali pasti nggak cocok lebih karena dia banyak melanggar aturan lalu lintas. Masuk jalur TransJ, nerobos lampu merah, berhenti di bawah rambu larangan stop, pindah2 jalur ga puguh.... Sampai pernah suatu ketika punya supir, trus berangkat ke kantor, trus supirnya melanggar bbrp kali, dan gue tegur. Eh... dia bilang, "Ibu tenang saja duduk, saya yang nyetir." Bikin emosi. You know what... sampai kantor, gue suruh parkir, gue kasih gaji dia bulan itu plus ongkos kereta. Gue suruh pulang. Lu pikir gue ga bisa nyetir? Bhaaaaayyyy....

Sampai kapan ya nyetir di Indonesia awut2an kayak gini?