Sunday, December 18, 2022

Taking a Career Break

Akhirnya saya memutuskan jeda sejenak dari pekerjaan. Bagi yang mengenal saya, pasti paham bahwa memutuskan tidak bekerja bukan perkara sepele buat saya. Memang, saya membutuhkan waktu hampir dua bulan sebelum akhirnya memasukkan surat pengunduran diri. 


Banyak hal terjadi selama setahun terakhir. Yang paling menguras pikiran adalah pekerjaan yang (buat saya) menjadi begitu sulit. Keharusan menambah produk dan memperbarui servis hanyalah salah dua dari beberapa perubahan. Saya paham, semua dilakukan untuk tetap relevan dengan kondisi pasar. 


Ok. Tapi apa masih sesuai dengan kebutuhan saya? 


Saya bisa menulis. Merangkai kata menjadi kesukaan saya sejak lama. Sayangnya, kewajiban sebagai karyawan mengharuskan saya menulis hal-hal yang tidak saya akrabi (dan sering tidak saya sukai). Semakin runyam ketika saya harus mengerjakan beberapa produk dengan jenis dan topik berbeda-beda.  Kecepatan berpindah dari satu topik dalam suatu produk ke produk lain dengan topik berbeda sangatlah berkurang jauh. Saya seringkali merasa kelelahan luar biasa di akhir hari. 


Sebetulnya, masa-masa ini adalah saat saya punya lebih banyak waktu luang. Sejak Aria tinggal di kota lain, saya tidak perlu tergesa-gesa pulang ke rumah di hari kerja. Akhir pekan relatif sepi buat saya. Namun, pekerjaan yang melelahkan di kantor membuat saya tetap merasa tidak bisa punya cukup waktu untuk beristirahat. 


Kegalauan pada kelanjutan karier membuat saya memutuskan berkonsultasi pada career coach. Saya perlu orang lain yang bisa melihat potensi dan membantu saya memetakan perkembangan diri saya. Hasilnya? Saya dalam kondisi aman jika memutuskan untuk mengambil career break. Dia juga membantu saya menyusun strategi untuk kembali bekerja saat saya sudah siap. 


Begitulah. Saya masukkan surat pengunduran diri. 


Ternyata, hari-hari setelahnya, saya galau lagi. Meskipun sudah merasa memikirkan semua hal secara matang, saya tetap cemas. Apakah saya sudah mengambil keputusan yang tepat? 


1 Desember 2022 menjadi hari pertama saya tidak bekerja. Rasanya? Senang! Saya lewatkan hari itu untuk berjalan-jalan ke tempat yang selama ini selalu ingin saya datangi. Ternyata enak juga bangun tidur tanpa memikirkan deadline dan job desk. 


Esoknya, saya dapati Ibu saya sibuk membuka beberapa dokumen. Ternyata tahun ini adalah pertama kali pemerintah mengharuskan penerima pensiun untuk memperbarui data dan melakukan pendaftaran agar sistem pensiun bisa didigitalisasi. 


Ibu saya yang berusia 72 tahun itu terlihat panik di antara tumpukan berkas-berkas SK pensiun ayah saya. Ini untuk apa? Mau daftar ke mana? Ke kantor ASABRI naik apa? Dan kecemasan-kecemasan yang beliau katakan berulang-ulang karena kebetulan juga beliau mulai pikun. 


Saya berusaha membantu sebisanya. Selain memilah berkas, juga untuk mengantar-antar dari satu kantor ke kantor lain. Dan… ibu saya terlihat tenang. Beberapa hari saya habiskan untuk mengurus keperluan beliau. Tak hanya soal pensiun, tapi juga bpjs kesehatan. Saya mulai bersyukur bahwa saya cuti, sehingga saya bisa sepenuhnya mengurus kebutuhan Ibu saya. Terbayang jika saya masih harus bekerja… kepala pasti retak. 


Suatu pagi, saya mendapati Ibu saya termenung sedih sambil menatap layar ponsel. Ternyata, sahabat dekatnya divonis kanker dan harus menjalani serangkaian pengobatan. 


“Aku pengen ke Yogya, deh,” katanya.

 “We can,” jawab saya pendek. 


Kakak saya segera mengatur transportasi bagi kami dari BSD ke Yogya. Dirancang bahwa kami akan menginap di Salatiga saja. Sekalian saya akan membantu beberapa hal di hotel kakak saya yang baru dibuka. 


“Kamu nggak sibuk?” Ibu saya menatap cemas. 

“Nggak dong. Aku kan cuti.” 


Dan jadilah. Kami berangkat ke Salatiga, lalu ke Yogya. Ibu saya berjumpa sahabatnya. Melihat mereka bisa saling bercerita, yang satu menguatkan yang lain, lalu tertawa bersama… saya ikut bahagia. Lagi-lagi saya bersyukur bisa menemani Ibu saya. Sampai kapan? Sebisa saya. 


Melihat Ibu saya yang lebih tenang dan gembira karena selalu saya dampingi ke mana-mana, akhirnya saya yakin bahwa keputusan cuti panjang ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup. Alhamdulillah. 






Thursday, December 08, 2022

Is It?

Dia melihat saya memasang tangga lipat di depan lemari dapur. Segera dia berdiri, menghampiri saya yang mulai menapak naik. Dengan manis, dia tuntun saya turun dari tangga. Saya terpana sesaat, hingga dia mengecup pipi saya. 

"Kok aku disuruh turun?"
"Mau ambil apa?"
"Teh."

Segera dia buka lemari dapur, lalu mengambil teh di kotak yang tersimpan di sudut paling atas. Baginya yang jangkung... tidak perlu tangga hanya untuk menggapai rak teratas lemari dapur saya. “Tolong biasakan bahwa sekarang ada aku. Kamu bilang saja mau ambil apa,” katanya sambil tersenyum manis dan menyerahkan teh pada saya. "Toh, itu untuk aku juga, kan? Terima kasih ya, aku sudah dibuatin teh hangat."  

Di lain hari, dia akan meluangkan waktu datang ke kantor saya. Sebuah kejutan manis melihatnya di lobby kantor. Lalu dia akan membiarkan saya duduk di kursi penumpang, sementara dia mengemudikan mobil saya hingga tiba di rumah. Rasanya nyaman sekali, saya bisa bersantai. “Ya memang itu tujuan saya, biar kamu tidak capek kena macet.” 

Dia memang datang dengan penuh kejutan manis. Sikapnya sopan dan ramah, tak segan menolong. Tentu saja banyak hal-hal remeh semacam membukakan kemasan air minum atau membawakan belanjaan, yang dia lakukan tanpa komentar. Dengan santai, ia akan mengeringkan sendok dan garpu di restoran lalu menyerahkannya pada saya. Tindakannya selalu sederhana dan spontan. Dan justru spontanitas itu yang sedikit demi sedikit berhasil mencuri hati saya.

Bertahun-tahun sendirian, saya terbiasa mandiri. Semua saya pertimbangkan dan putuskan sendiri. Seperti autopilot, saya akan menyetir ke mana-mana. Dengan dia, semua jadi berbeda. Saya bisa merasakan nyamannya dimanjakan. Selain semua kebutuhan dipenuhi, saya merasa dijaga bagai porselen Cina yang tak boleh tergores sedikit pun.
However, there is no free lunch. Saya paham bahwa semua perhatian dan afeksi dia lakukan dengan harapan saya akan jatuh hati bertubi-tubi padanya. Sebuah keinginan yang wajar, sewajar mengharapkan hujan saat langit mulai mendung. 

Sebuah kewajaran yang bagi saya bukan perkara mudah. Jatuh cinta, buat saya menjadi topik ke sekian.  Bertahun-tahun punya kebebasan memutuskan apa pun sendirian, membuat saya langsung merasa terkekang saat dia menanyakan detail rencana harian saya. Saya resah ketika nada suaranya saya dengar mencemburui masa lalu saya. Saya tertekan ketika harus berkompromi, saat keleluasaan bercakap  terbatasi perbedaan sudut pandang yang sulit dicari jalan tengahnya karena kesenjangan pengalaman dan latar belakang.

Sementara saat ini saya ada di tengah pekerjaan, urusan rumah, dan diri saya sendiri. Saya merasa tidak punya lagi ruang di kepala untuk hal-hal lainnya.

Apa yang harus saya lakukan? 

Saya tahu, pada akhirnya, saya harus bersikap. Sebaiknya saya berpikir ulang sebelum melanjutkan perjalanan. Is it what I need? Is it what I want? 

Tiba-tiba hati saya pilu karena membiarkan otak memikirkan jawabannya.


Thursday, November 17, 2022

Semua Akan Covid pada Waktunya

Jadi, akhir bulan lalu, Aria menghabiskan weekend di BSD. Kami sempat belanja bareng, sebelum dia malam mingguan dengan sahabatnya. Tengah malam, kesayangan saya itu mengendap-endap masuk kamar saya. Lalu meringkuk di pelukan. Duh... enak bener ngelonin anak tuh.... 

Sekitar jam 3 pagi, saya terbangun karena merasa tubuh Aria agak hangat. Tapi karena dia tetap tidur tenang, akhirnya saya biarkan saja dan saya kembali tidur tanpa merasa ada yang aneh. 

Ketika dia terbangun dan agak grumpy, yang saya pikirkan justru separation anxiety. Saya sempat cek suhu, dan baik-baik saja. Dia pun tetap lahap makan. Nggak banyak omong. Ya... selama ini juga cenderung banyak diam sih.... 

Waktu saya antar ke gerai shuttle, dia sempat berpikir untuk reschedule tiketnya. 

"Kok aku rasanya nggak enak sih, Bu?" 

Tetap berpikir bahwa dia sedang merasakan separation anxiety, saya cuma peluk dia erat-erat. "Minum yang banyak. Jaga makan ya. Jangan banyak konsumsi gula." 

Dan begitulah, dia kembali ke Bandung. Saat mengabari bahwa dia sudah tiba di Bandung pun, dia mengaku baik-baik saja. 

Baru besok paginya dia merasa makin nggak nyaman seluruh tubuh... dan batuk-batuk. Sepulang kuliah, dia mampir ke bumame. Cek. And it turned out positive. 

Tentunya saya langsung terpikir untuk mengangkut dia pulang ke BSD lagi. Tapi bagaimana caranya? Realistis saja, saya nggak mungkin nyetir bolak balik. Aria sudah ketahuan positif, kalau saya sewa mobil, bawa pulang ke BSD, kasihan supirnya. Dan bahaya nggak buat yang di rumah? 

Tapi dia juga nggak bisa isoman di kos karena kondisi kamar terlalu rapat dan banyak orang. Alhamdulillah, ada bala bantuan. Satu apartemen milik om saya ada yang tidak berpenghuni. Bisa digunakan untuk isoman sampai sembuh. Alhamdulillah. Aria dievakuasi malam itu juga.  

Saat itulah Aria betul-betul belajar menjadi dewasa. Dia terpaksa mengurus semua kebutuhannya sendiri, termasuk mengurus izin sakit ke kampus. Di apartement pun, sendiri. Ibu hanya bisa mengisi gopay saja hahahaha.... Alhamdulillah dia tidak bergejala berat. Tidak pusing. Jadi bisa turun ke lobby untuk ambil makanan (lalu kembali ke unitnya sambil menyemprot jejaknya dengan disinfectant). Banyak yang mengirim dia makanan, meskipun berkali-kali dia telepon hanya untuk mengeluh kalau bosan. Aria isoman selama 7 hari. Hari ke-8 dia test dan negatif. Jadi segera kembali ke kos untuk berkuliah biasa. Alhamdulillah. 

Ibu nggak nengok? 

Nggak... soalnya ibunya juga akhirnya positif. Hadeh. Saat Aria memberitahu bahwa dia positif, saya sedang di kantor. Dalam perjalanan pulang, saya mampir bumame untuk tes juga. Sebagai yang kontak erat, rasanya wajar kalau saya cemas. Hasil antigen negatif. Tapi tetap kantor mewajibkan saya WFH selama 3 hari. Ok deh. Benar saja. Esok sorenya badan saya demam. Lalu tenggorokan sakit. Saya PCR, dan pedulilindungi menghitam. Yah. Oke deh. Akhirnya terkapar 3 hari. Tidur saja. Nggak bisa mikir. Dan saya baru negatif setelah 20 hari. Lama beneeeerrr..... 

Alhamdulillah sekarang sudah ok semua. Sudah ngantor dengan riang gembira lagi. Yang di Bandung sudah ceria. Dahlah... kopit ini memang menyebalkan. 


Tuesday, November 01, 2022

Tentang Status

Tadi pagi ada yang bertanya pada saya: saya termasuk yang mana, yang terbuka atau yang menutup-nutupi status ibu tunggal?

Hmm... bahkan sebelum resmi bercerai pun, saya "lapor" kepada bos di kantor bahwa saya sedang proses persidangan. Lapor ini konteksnya untuk membuat bos paham bahwa saya akan perlu izin setidaknya sebulan sekali untuk menghadiri sidang cerai.
Ketika pindah kantor, sebelum masuk, saya utarakan bahwa saya single mom. Ini bukan untuk pamer, tapi untuk memberi gambaran pada calon atasan bahwa saya kemungkinan akan perlu izin untuk mengurus hal-hal terkait anak saya. Misalnya untuk imunisasi, atau urusan sekolah, atau -amit-amit- kalau anak sakit, saya tidak akan bisa hadir di kantor. Tapi tentu saja T&C ini saya barengi dengan kinerja 100%.
Keterbukaan ini terbukti memudahkan saya dalam perjalanan karier. Saya sering bawa anak saya ke kantor. Dia beberapa kali ikut masuk ruang meeting dan bikin semacam playground mini di sudut. Pernah juga dia ikut tugas ke luar kota karena ketika hari penugasan, susternya sakit. Karena tidak ada yang bisa menggantikan tugas, saya angkut anak saya -waktu itu dia usia 4 tahun- ke tempat tugas. Bos ya oke saja, yang penting tugas saya selesai tepat waktu.
Btw, anak juga harus dijelaskan tentang urusan kantor ini. Jadi dia paham bahwa kalau pergi-pergi di hari kerja bukan untuk dolan, tapi menemani ibu bekerja. Akhirnya anak saya terbiasa main sendiri tanpa rewel kalau sedang di kantor ibunya. Aman. Alhamdulillah.
Saat pindah kantor lagi, di awal HRD menyebutkan bahwa kantor mulai pukul 8. Hmmm... sulit buat saya, karena saat itu anak saya masih di SD dan saya harus menyiapkan sendiri bekal makan siang dia. Kalau harus sampai kantor jam 8... kapan gue masaknyaaaaa.... Akhirnya saya diskusi dengan HRD, lagi-lagi saya sampaikan bahwa saya ibu tunggal. Dan akhirnya saya terima pekerjaan itu setelah HRD mengizinkan saya untuk datang pukul 9.30.
Dari semua pengalaman itu, saya belajar bahwa membuka diri soal status ternyata bisa memudahkan pekerjaan saya. Tidak ada yang perlu saya tutupi karena status janda bukan aib kok. Itu nasib yang harus saya jalani. Nggak takut digodain? Oh, saya cukup galak kalau ada yang bercanda tentang status janda.
Tentu saja, perlu saya buktikan dengan kinerja dan sikap yang betul, sehingga pada akhirnya semua orang tahu bahwa janda pun perempuan biasa yang juga bisa bekerja dengan baik dan tidak melulu kecentilan haus belaian laki-laki.
Hmm... kalau ngomongin haus ya hauuussss, Marimaaaarrrr... tapi nggak sembarangan juga yekaaaan....

Wednesday, September 21, 2022

Jatuh Cinta Lagi, Patah Hati Lagi

Senyum yang mengembang di wajahnya persis seperti yang saya lihat sekitar 13 tahun lalu, di halaman sebuah TK di Jakarta Timur. Senyum yang selalu membuat saya jatuh cinta. Bedanya, si pemilik senyum saat ini sudah lebih tinggi dari saya, sehingga, saat jumpa, dia bisa langsung memeluk bahu saya. 

Ternyata bukan hanya senyumnya, pelukannya juga masih sama. Erat. Seolah tak ingin lepas. Persis waktu dia kecil dulu. Saya pun sukarela melakukan hal yang sama, memeluknya bagai tak ingin berpisah sedetik pun. Dia adalah milik saya yang paling berharga. 

Kami baru berpisah dua hari. Dua hari yang menurut saya sangat lama. 

"Ibu nggak pengen pindah ke Bandung saja?" 

Pertanyaan itu sudah dia ajukan berkali-kali sejak dia tiba di kamar kosnya, dua hari sebelum kami berjumpa kembali. Dan pagi itu, di halaman rumah kos, dia ulangi lagi. Rasanya dia pun mengerti, dua hari berpisah darinya membuat perasaan saya kacau balau hingga sempat berpikir untuk pindah menyusulnya. 

Ya, Aria kuliah di Bandung. For some of you who have been following this blog since the beginning, in 2004... that little boy is now entering his university life. Yes, you read it right. My big boy is becoming a man. 

Sejak awal milih-milih sekolah, Aria memang nggak terlalu tertarik kuliah di Jakarta. Saya setuju saja, dan mendorong dia untuk memilih Yogya, atau Semarang. Saya selalu ingin dia merasakan hidup di kota yang dekat dengan darahnya sebagai orang Jawa. 

Kami sempat ke Yogya beberapa saat lalu. Mengintip ruang-ruang kelas di UGM. Karena hasil psikotes mengarahkan Aria ke jurusan arsitektur, kami blusukan hingga ke lab arsitektur UGM. Kami "disambut" pak ketua jurusan, yang terlihat gembira karena "anaknya Pak Ary mau kuliah di UGM". Iya, kakak saya beberapa kali menjadi dosen tamu di sana. Sambutan yang justru semakin membuat Aria tidak tertarik kuliah arsitektur karena belum-belum sudah tidak nyaman diidentifikasi sebagai "anak arsitek Indonesia yang disegani." Dan saya paham betul perasaan itu :) 

Lalu kami ke ISI Yogya. Ibu saya sempat bersekolah di sana. Dan Aria merasa jurusan seni murni atau desain bisa dijajaki. Ya sudah. Saya temani dia berkeliling kampus yang juga belum terlalu ramai saat itu. 

Perjalanan berakhir dengan... Aria belum memutuskan mau ke mana, tapi tetap mendaftar IUP Communication di UGM dan di Undip. Kenapa jadi mau masuk jurusan komunikasi? Dia hanya menjelaskan selintas bahwa dia tertarik pada apa yang saya kerjakan selama ini. Oh, okay.... 

Sekitar seminggu sebelum ujian IUP,  Aria liburan ke Bandung bersama teman-teman akrabnya. Berlima mereka menginap 2 malam di Bandung. Mungkin kota itu sangat mengesankan buat dia, karena sepulang dari sana, dia minta uang untuk beli formulir ujian masuk HI di Universitas Parahyangan Bandung. 

Bahkan Bandung tidak pernah masuk daftar kota yang saya sukai. Menurut saya, kotanya semrawut dan ruwet. Saya juga tidak paham Bahasa Sunda. Tidak ada kedekatan apa pun antara saya dan Aria dengan kota itu. Namun sebagaimana orang tua yang mendukung, saya mengizinkan Aria mendaftar. Toh, reputasi HI Unpar sangat bagus. Tapi karena Aria lebih ingin masuk komunikasi, dia lebih serius belajar untuk tes UGM & Undip. Meskipun ternyata... dia diterima di HI Unpar. Saya masih berpikir dia punya kesempatan menjajal masuk UGM atau Undip lewat SBMPTN. Tapi, Aria menolak. Dia nggak mau ikut SBMPTN, dan memutuskan akan kuliah di Bandung saja.  

Just as simple as that. He picked Bandung.  

Saya hanya bisa mendukung. 

Kami hitung segala kebutuhan dia. Oh, tabungan cukup sampai dia lulus. Alhamdulillah aman. Langkah berikutnya adalah mencari tempat tinggal. 

Perburuan kamar kos ini sungguh menggambarkan kepribadian Aria, sesuai cara dia dibesarkan. Sejak dia lahir, dia selalu tinggal di kamar yang berjendela besar. Kamarnya tidak selalu luas, tapi dia bisa melihat langit kapan saja dia mau. Kamar mandinya pun selalu kering dan bersih. Itulah yang dia cari sebagai tempat tinggal di Bandung. Susahnya minta ampun. Ha ha ha.... 

Dia tidak pernah mempermasalahkan ukuran kamar. Kamar kos yang standar memang jarang ada yang luas, kan? Tapi dia resah dengan ukuran jendela yang seringkali hanya selebar kertas HVS. Kami keluar masuk rumah kos di Ciumbuleuit hingga ke jalan Ranca Bentang. 

Sebetulnya, ada rumah om dan tante saya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus Unpar. Banyak kamar kosong di rumah itu karena dua sepupu saya tinggal di Jakarta. Om dan tante menyambut gembira Aria di rumah mereka. Tapi, Aria tidak mau. Dia lebih memilih di kamar kos. Dan berjanji akan sering-sering menemui eyang dan tuniangnya. 

Akhirnya Aria menemukan kamar yang dia mau di sebuah bangunan 4 lantai yang bentuknya mirip hotel kelas melati. Sejak awal melihat dari video yang dikirim pemilik kos (untuk bisa masuk, harus janjian dulu lewat wa, sehingga perlu hari lain untuk cek kamar itu), Aria sudah jatuh cinta pada satu kamar di lantai 3. Bukan karena kamarnya berperabot lengkap, tapi lebih karena kamar itu terlihat terang benderang dibandingkan kamar-kamar lain. Dan betul saja, ketika dijenguk, kamar itu berjendela besar sekali. Meskipun pemandangannya adalah atap, tapi bisa melihat langit. Kamar mandinya juga bersih. Rapi. Aria bahkan nggak peduli bahwa satu dindingnya miring, sehingga kamarnya jadi asimetris... ha ha ha.... 

Kegalauan saya dimulai sejak dia menemukan tempat tinggal baru. 

Terus terang saya tidak habis memikirkan apa yang terjadi jika tidak bisa melihat hidung anak saya saban hari. Saya sadar betul bahwa random peluk cium akan jadi hal yang sangat saya rindukan. Tapi tentu saja saya juga tidak bisa mengikatnya terus menerus. Sudah waktunya dia dilepas, melanjutkan jalan hidup yang dia pilih. 

Untuk "latihan", buat saya dan Aria, saya biarkan Aria berangkat lebih dulu, sendirian. Dia sempat tidak menyangka bahwa saya tidak mau mengantar, tapi saya tahu dia terlalu keras kepala untuk minta saya cuti. Hehehe... Jadilah dia pergi sendiri, di suatu hari Kamis pagi. Saya antar ke gerai travel, sebelum ngantor. 

Begitu travelnya berangkat, air mata saya nggak bisa berhenti. Sepanjang perjalanan ke kantor, saya mewek habis-habisan. Entahlah itu air mata apa, karena saya rasanya tidak boleh bersedih. Bangga mungkin? Ada unsur patah hati juga di dalamnya. Tapi juga bahagia. Hmmm... atau saya merasakan campur aduk antara semuanya. Yang jelas, tiba-tiba saya menghadapi kenyataan bahwa Aria meninggalkan rumah. Welcome to adulthood, son. 

Belakangan, Aria mengakui dia cemas, galau, juga sedih saat harus pergi dari rumah. Karena itu dia senang sekali saat tahu saya akan datang di akhir pekan, 2 hari setelah dia berangkat. Hahaha... iya... saya nggak mau nganter tapi nyusulnya cepet banget ya! 

Hari Sabtu, kami ketemu. Seolah sudah lama sekali nggak saling jumpa! Saya tahu, Aria kesepian. Dia memang bukan anak yang mudah bergaul, jadi akan sulit menemukan teman baru. Tapi saya sadar juga ini saat yang tepat mengajari dia untuk membuka diri pada pertemanan, selalu fleksibel pada perubahan, juga supaya bisa beradaptasi dengan cepat. Jadi saya habiskan hari Sabtu itu untuk membekalinya dengan segala tips and tricks. Knowing him... nggak bisa ngasih tahunya sekadar harus A, B, C... ngomong standar nggak akan dia pikirin. Hmm... untung ibunya storyteller... jadi bisa pakai dongeng-dongeng dan ngobrol sambil milih jaket atau celana panjang.

Hari Minggunya, Aria mengantar saya ke travel. Gandengan tangannya makin erat waktu kendaraan saya datang. Saya tahu, dia cemas. 

"Ibu beneran nggak mau pindah ke Bandung?"

"Kalau ibu di Bandung, kamu nggak bisa pulang ke BSD, dong?"

Wajahnya datar. Tapi matanya cemas. 

Saya cium tangannya yang menggenggam tangan saya. 

"Be brave. Be strong." 

Dia lalu memeluk saya. Kuat sekali. Saya balas dengan pelukan yang menggambarkan rindu saya yang tak akan pernah tuntas. Susah payah saya menahan air mata.

"Ibu harus sering-sering ke sini."

Saya mengangguk. Lalu naik ke mobil. Saya melambai. Dia menunggu hingga mobil saya berangkat. Leher saya tercekat saat melihat Aria melambaikan tangannya. 

Di dalam kendaraan, sepanjang jalan menuju BSD, air mata saya tumpah. Lagi-lagi saya menangis. Berderai-derai air mata, tidak bisa saya hentikan. Saya masih belum paham apa yang saya tangisi. Mungkin saya bangga karena anak saya bisa memaksa diri untuk tegar dan tangguh bersekolah di kota lain yang asing. Being brave and being strong. Mungkin saya cemas karena membayangkan kesulitan Aria beradaptasi. Mungkin juga hati saya seperti kosong saat membayangkan kamar anak saya yang tidak ada penghuninya. Atau, lagi-lagi, saya rasakan campuran dari semuanya, yang membuat dada sesak dan air mata membanjir. 

Bagaimana pun, saya tahu bahwa saya harus belajar melepaskan diri dari kemelekatan dengan Aria. Dia harus menyongsong masa depannya sendiri. Sebagian tugas saya usai, begitu dia menginjak dewasa dan pergi dari rumah. Saya hanya bisa mendampinginya dalam doa. Semoga dia selalu sehat, lancar bersekolah, dilindungi Allah SWT dalam setiap langkah. Aamiin. 

Akhirnya saya tahu, saya patah hati lagi. 



Friday, June 03, 2022

Perlukah Berduka

Saat libur lebaran kemarin, salah satu kenalan kehilangan suami. Meninggal dengan virus COVID-19, jenazah dimakamkan di Surabaya dengan protokol khusus. Beberapa hari sebelum meninggal, sang kenalan sudah mengabarkan soal suami yang kritis di ICU lewat semua kanal media sosial yang ia miliki. 

Kemarin, saya kontak salah satu teman di lingkaran pertemanan. Bertanya apakah akan menjadwalkan kunjungan ke rumah sang kenalan. Kalau ada, saya mau ikut. 

"Sudah, nanti saja datangnya. Dia nggak apa-apa, kok. Kesedihan sudah berlalu. Dia malah sekarang tampak lega dan merdeka." 

Saya agak tidak paham maksudnya, sehingga perlu bertanya lebih jauh. Dan penjelasannya bikin merinding. 

Ternyata,  yang dijalani teman saya bukanlah pernikahan bahagia. Dia banyak disakiti, secara fisik dan mental. Dipukul sudah jadi makanan sehari-hari. Dihina sudah seperti ngobrol biasa, katanya. Padahal yang terlihat dari luar adalah pasangan yang selalu romantis (paling tidak dari sisi si istri). Meskipun setelah saya ingat-ingat lagi, pujian serta cerita manis hanya datang dari satu sisi. Dan di foto pun, si suami akan selalu tampak garang dan siap berkelahi. Tapi kan memang ada orang yang wajahnya ngajak berantem melulu ya? 

Saya mendapat cerita bahwa beberapa kali teman-teman akan datang menghibur sambil membawakan makanan, karena si kenalan tidak bisa keluar rumah dengan wajah biru lebam. Astaga. 

Yang juga menyedihkan, si istri dipaksa mengikuti kesenangan suami memelihara anjing. Dari awalnya takut setengah mati, sampai akhirnya berhasil merawat belasan anjing ras. Untungnya, binatang-binatang ini adalah peliharaan yang manis dan tahu terima kasih. Mereka sayang sekali pada teman saya itu. 

Cerita masih berlanjut bahwa setahun terakhir, si suami terserang kanker. Sehingga harus menjalani pengobatan berbelit yang panjang, menguras tenaga juga dompet. Nggak usah dibahas siapa yang bayar, karena selama ini semua orang juga tahu bahwa teman sayalah bread winner keluarga itu. 

Sebuah cerita yang pilu. Bahwa 19 tahun pernikahan dipenuhi KDRT.  Dan semua pelukan mesra serta ucapan cinta yang diumbar di mana-mana lewat foto atau cerita hanyalah kisah yang nggak bisa dideteksi kebenarannya.  

Saya tidak bisa membayangkan. Dan tidak mau. Hanya bisa mendoakan, semoga inilah waktu si kenalan menjemput kebahagiaan yang sesungguhnya, yaitu setelah suaminya berpulang. Allah SWT selalu memberi jalan terbaik. Alhamdulillah. 

Thursday, April 28, 2022

Standard & Expectation

Di posting yang lalu, saya sudah menyebut soal beberapa orang yang saya kenal dari dating site dan menjadi teman ngobrol sampai saat ini. Tidak sekadar ngobrol, ada yang akhirnya jadi freelancer untuk kantor saya dan ada juga yang bersedia membantu Aria saat perlu mentor untuk tugasnya. Intinya, masih ada kok orang-orang baik di sana. 

Percakapan dengan mereka sangatlah random. Tapi baru-baru ini, ada yang bertanya, apakah saya memang masih butuh pendamping? Saya tanya alasannya bertanya. 

"Karena sepertinya lu ga butuh siapa-siapa. Lu dipuji aja nggak mempan. Ngerayu lu pasti susah minta ampun."

Saya ngakak. 

Bisa jadi, itu gara-gara dia. Selama saya menjadi singlemom, mungkin separuh perjalanan ada dia yang menemani saya. Seseorang yang baik hati. Tak hanya manis budi, dia pun cerdas luar biasa, taat beragama, dan selalu mau membantu saya. Saya bisa bilang bahwa dialah yang menuntun karier saya hingga seperti sekarang. Tanpa basa-basi berlebihan, dia akan datang dan membereskan hal-hal yang sekiranya memberatkan hidup saya, di kantor atau di rumah. Bantuannya sering hadir tanpa diminta. Belum lagi kejutan, kecil atau besar, yang sering dia buat. Intinya dia sudah mencuri hati saya habis-habisan. 

Si pencuri hati ini sekaligus juga membuat sebuah standard soal laki-laki yang saya pikir sepatutnya ada di sisi saya. 

Ketika akhirnya kami tidak bisa bersama, dia pergi. Tapi, standard yang dia susun tertinggal di kepala saya. 

Sejak itu, belum pernah saya menemukan lagi seseorang yang bisa memenuhi semua standard yang saya buat gara-gara dia. Bisa dibilang, misalnya di daftar ada 7... nilai tertinggi yang bisa dicapai laki-laki setelahnya -sampai hari ini- paling hanya 4. Hehehe.... 

"Tapi, lu mesti nurunin ekspektasi kalau masih mau cari suami."

"Setuju. Gue udah gak berharap apa-apa kok. Tapi kalau misalnya nih, ada yang deketin gue, trus nggak oke. Ya masak gue terusin? Ekspektasi boleh turun... standard sih kayaknya jangan yaaa...." 

"Harus milih sampai segitunya?"

"Ya... gue beli sepatu aja lama, apalagi pilih suami."

Gantian dia yang tertawa ngakak susah berhenti. 

"Cah edan, suami disamain sama sepatu."


Saturday, April 23, 2022

Tipa Tipu Playboy Kemplu

Laporan mendalam hasil survey harian Kompas, tampil dua hari berturut-turut. Soal scammer lokal dari situs kencan, mirip Tinder Swindler. Korbannya pasti banyak. Rugi puluhan juta & terjerat pinjol. Jangan dikira yang jadi korban sekadar perempuan bucin, karena ada yang dokter, pengusaha, PNs. Artinya? Perempuan pintar pun bisa teperdaya.

Dating side memang fenomena menarik. Apalagi saat perjumpaan dibatasi karena pandemi. Seru sih, kenalan dengan orang baru yang sama sekali nggak tahu latar belakangnya. Ngobrol tanpa saling tahu apa-apa, lalu menemukan bahwa dia ternyata pandai main biola atau punya usaha tambang di pulau terluar Indonesia. 

Tapi… yang tipu-tipu juga ada (banyak banget). Misalnya baru kenal seminggu trus hp-nya kecemplung sumur jadi minta dibelikan hp baru. Atau tiba-tiba ibunya masuk ICU padahal ga punya BPJS jadi minta bantuan dana. Atau pas tahun ajaran baru, anaknya perlu buku baru padahal motor juga pas masuk bengkel alias banyak pengeluaran. Ealah… 

Yang saya paham, hanya laki-laki ra duwe udel yang minta duit sama perempuan. Terserah perempuannya sih. Kalau mau ngasih… apalagi karena alasan cinta (gundul amoh)… ya siap-siap aja terjerat bujuk rayu playboy cap tikus.

Saya pun beberapa kali kenal teman baru lewat situs kencan. Tidak selamanya harus jadi pasangan, beberapa jadi teman ngobrol sampai saat ini (hello, you 🥰). Yang mau minta uang juga ada. Tapi yaaaa… ga bakal saya kasih wong saya juga nabung sampai mringis-mringis. Sebagai sahabat pegadaian, saya akan anjurkan para peminta sumbangan itu buat menggadaikan barang-barang. Ga punya? Ya gadaikan saja cintamu, mas…. Gombal mukiyomu kuwi jajal… iso ra mbok dol.

Balik lagi ke liputan Kompas… saya bayangkan banyak juga perempuan yang tidak melapor setelah jadi korban. Malu karena tertipu? Malas berurusan dengan hukum? Menyebalkan sekali memang bahwa pria mbelgedhes itu jadi masih terus berkeliaran cari korban baru. Karena itu, wahai para perempuan… waspadalah waspadalah!

Friday, January 28, 2022

Away, for A While

Sudah sejak awal bulan, saya sering uring-uringan. Beberapa orang yang kenal dekat dengan saya paham bahwa ada yang tidak beres, ketika saya malas ke kantor. Saya? Yang selama ini cuma punya dua dunia: kantor & Aria, dan tiba-tiba nggak suka ke kantor. Nggak bener itu. 

"Kamu burn out." Kesimpulan dia setelah saya ceritakan apa yang saya lalui. 

Bisa jadi. 

"Take some time off," sarannya.

Kebetulan yang sangat menyenangkan adalah bahwa mulai tahun ini, kantor saya memberlakukan unlimited leave. Jangan tanya bagaimana dan kenapa ya. Memang keren kok kantor ini... hahaha.... Tapi, kok ya nggak nyaman mau ninggalin tim gusrak-gusruk tanpa saya. Ya dah... nggak usah cuti... WFE, work from everywhere aja deh. Yuk. 

Aria gimana? Ikut dong....  Saya (dan Aria) akhirnya keluar dari BSD. Rencananya, kami akan menghabiskan beberapa hari di beberapa tempat. Mengarah ke Timur, sambil melihat-lihat kemungkinan tempat sekolah Aria nantinya. 

HORE! 




Monday, January 10, 2022

Time Flies When We are Having Fun

Saya tidak akan pernah lupa sore itu. Kami ngobrol sambil ngemil di depan sebuah gedung pertunjukan, menunggu pementasan dimulai. Gedung itu ada di dalam kompleks fasum di tengah Jakarta. Sudah ada sejak lama. Dan di dalamnya ada sekolah seni. Jadi, mahasiswa sekolah seni biasa mementaskan tugas akhir mereka di gedung itu. Banyak nama tenar mengawali karier dari wilayah gedung itu. Sementara di hari biasa, para mahasiswa ini akan terlihat di mana-mana. Sore itu pun begitu. Sekeliling kami nampak beberapa mahasiswa dengan aktivitas masing-masing. Ada yang ganteng, tapi lebih banyak yang awut-awutan, seperti mengonfirmasi gambaran seniman. 

"Anak-anak ini... jangan-jangan nggak pernah mandi?" kata teman saya. 

"Hahahahaha... apa kelihatan?" jawab saya sambil tertawa. 

Waktu itu, Aria masih kecil. Mungkin sekitar 2 tahun umurnya. Anak yang manis. Jarang rewel. Cukup mudah diatur. Dan, menurut saya, ganteng. 

"Nggak kebayang sih, kalau Aria suatu saat akan minta sekolah di sini. Trus jadi seperti anak-anak itu. Yang nggak pernah mandi. Hahaha...." 

"Duh, itu nanti saja dipikir kalau Aria sudah besar. Masih lama."

Lalu... siapa yang menyangka bahwa "masih lama" itu saat ini sudah jadi "sekarang"? Sungguh. Aria betulan mengajak diskusi untuk masuk sekolah seni itu. Dan saya, sebagai orang tua masa kini yang harus mendukung kebaikan, tidak punya pilihan selain menanggapi diskusi sebaik mungkin. 

Kami bicarakan konsekuensi, kelebihan, kekurangan, dan lain-lain yang mungkin akan dihadapi para seniman (dan yang terlibat di dalamnya). Kami pelajari kesanggupan Aria mengatasi semua yang mungkin terjadi. Kami cari info tentang kesempatan yang tersuguh di dunia seni ini. Apakah hingga 10 atau 20 tahun ke depan masih akan tetap menarik? Dan lain-lain.... 

Sungguh saya tidak menyangka bahwa kejadian yang kami bicarakan sore itu akan hadir secepat ini. Seperti tiba-tiba, saya harus menghadapi diskusi dengan Aria perihal pendidikan lanjutan. Dia yang semasa kecil manis dan jarang rewel itu... sudah akan menjadi mahasiswa. Rasanya kok baru kemarin dia hadir, belajar bicara, belajar berjalan... dan seterusnya. Lalu, sekarang saya harus bersiap melepasnya menghadapi dunia di atas kakinya sendiri. 

Fix, ibu sudah tua. 


Friday, January 07, 2022

Tersembunyi

"Kenapa orang itu hubungi kita kalau ada keperluan saja?"

Teman saya gusar. Ia bercerita bahwa beberapa hari terakhir, teman dan kerabat bergantian menghubungi. Sungguh tiba-tiba, setelah sekian lama diam saja. Dan dia sudah menduga, ada saus kinca di balik serabi. Setelah basa-basi, lalu minta bantuan dana. 

"Sudahlah. Bosan saya," gerutunya. "Kenapa nggak ada yang peduli tanya kabar? Kok nggak ada yang memang pengen tahu saya bagaimana? Saya sakit juga nggak ada yang tengok."

"Aku peduli. Aku cemas kalau kamu sakit. Dan sekarang aku kangen kamu," jawab saya cepat, lebih cepat dari menarik napas. 

Yang di sana diam. Jeda sesaat. Saya bayangkan dia nggak tahu harus bereaksi bagaimana. Hahaha... rasain. 

"Kalau saya mati, mungkin nggak ada yang gubris." 

"Kata siapa?"

"Kata saya." Keluar lagi edisi keras kepala. 

"Aku peduli."

"Ya sekarang."

"Aku nggak ngerepotin kan? Nggak pernah nelepon cuma buat pinjam uang, kan?"

"Ya sekarang. Bisa berubah. Bisa berbeda. Nanti. Siapa tahu." Makin kepala batu. 

"Aku nggak gitu, lho."

"Ya... semoga.... "

"Ya sudah. Yang penting, kamu jangan mati dulu. Jangan sekarang. Nanti aku sedih," kata saya. 

"Ya ya... baiklah. Kebetulan saya bukan PLN, jadi memang nggak nyala mati, kok." 

Intinya, kamu nggak tahu ada yang kangen, bukan berarti nggak ada yang merindukan kamu.