Monday, April 10, 2017

Why?

Ku ingin cinta hadir untuk selamanya 
Bukan hanyalah untuk sementara 

Menyapa dan hilang 
Terbit tenggelam bagai pelangi 
Yang indahnya hanya sesaat 
Tuk kulihat dia mewarnai hari
 
Tetaplah engkau di sini 
Jangan datang lalu kau pergi 
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu 
Untuk cinta sesaat
 
Mengapa ku tak bisa jadi 
Cinta yang tak akan pernah terganti 
Cinta yg tak kan terjadi
 Lalu mengapa kau masih di sini 
Memperpanjang harapan
 
Tetaplah engkau di sini 
Jangan datang lalu kau pergi 
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu 
Untuk cinta sesaat
 
Kau bagai kata yg terus melaju 
Di luasnya ombak samudera biru 
Namun sayangnya kau tak pilih aku 
Jadi pelabuhanmu
 
Tetaplah engkau di sini 
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu
 
Bila tak ingin di sini 
Jangan berlalu lalang lagi 
Biarkanlah hatiku  
Mencari cinta sejati 
Wahai cintaku 
Wahai cinta sesaat

Pelangi - HIVI

Friday, March 17, 2017

Missing You

I may not be a missing piece looking for others to take me rolling. But it doesn't mean I don't need you in my life. I need you to roll closer, balancing my step, so together we can pass the crookedest path. If any.

Thursday, March 16, 2017

The Missing Piece Meets the Big O

Ceritanya ada sebuah segitiga yg pengen sekali menggelinding. Dia mencari teman yg kira2 perlu kepingan segitiga, supaya bisa menyatu, jadi bola sempurna, lalu mereka menggelinding bersama. Setelah gagal beberapa kali, ada satu bola yg salah satu sisinya koyak. Pas dengan bentuk segitiga. Klop. Menyatulah mereka, lalu menggelindinglah bersama.

Dalam perjalanan, si segitiga ternyata berkembang. Ia membesar, hingga celah di bola menjadi sesak. Akhirnya mereka berpisah. Si segitiga sedih sekali. Ia putus asa, sudut2nya membuat dia merasa nggak bisa menggelinding. Dia kangen bola.

Tapi lalu, dia mencoba menyemangati diri. Ia coba berguling. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Bisa. Tapi tentu tidak mulus karena bentuknya segitiga. Dia nggak putus asa. Terus berguling... berguling... berguling... sampai akhirnya tubuhnya berubah, sudut2nya jadi tumpul... lama2 membulat. Dia bisa lancar menggelinding. Dalam perjalanan, dia bertemu bola2 lain. Dan menggelindinglah mereka bersama. Tapi, ketika tiba di persimpangan, kadang ada bola yang memisahkan diri, ada juga yang tetap di sampingnya.

Itu cerita yg nulis Shel Silverstein. Jenius, karena itulah yg terjadi dalam kehidupan. Sometimes we think we cannot function because we need other people to help us. And when we found someone, we stick to him or her, thingking about not moving nowhere had we weren't with him or her. Do we really?

Kita masing2 bertumbuh. Ketika menyatu dengan orang lain, seharusnyalah kita tetap bertumbuh menjadi lebih baik. Ketika orang lain tidak bisa menerima perkembangan kita, ya... mungkin sudah saatnya kita tidak bersama dia lagi. Tugasnya sudah selesai. Silakan melanjutkan perjalanan sendiri2. Dalam perjalanan, pasti kita akan menemukan orang2 lain lagi. Yg akan bersama kita dalam suatu waktu. Untuk kemudian mencari jalan sendiri2.

Itu pula kayaknya yg terjadi dalam dunia pekerjaan sekarang ini. Media cetak sudah seperti barang mewah. Mahal sekali, hanya sedikit orang yg mampu memiliki dan mengerjakannya. Lalu bagaimana? Harus apa? Bergerak. Bertumbuh. Berkembang. Harus terus melangkah, jangan berhenti. Kalau memang hrs berpindah ke digital. Kenapa tidak? Awalnya mungkin sulit beradaptasi dengan trend media sekarang yang sangat cepat. Tapi, perjalanan akan membuat kita menemukan fleksibilitas.

So, let's go.

Friday, March 10, 2017

Next: Contemplating Session

Sesi berpikir2 lama kembali terjadi di tengah minggu. Dengan semakin banyak pertanyaan dan kegalauan. Hahahaha....

Banyak pemicunya. Salah satunya grup wa ibu2 single. Anggota grup itu macam2 banget kisahnya. Dari yg lucu sampai yg pilu... semua ada. Dan semua dituturkan oleh pelaku atau korban lho. Jadi itu kisah nyata.

Entah mulainya gimana, salah satu topik kemarin adalah "suami selingkuh." Macem2 cerita langsung hadir. Gue yg di kantor kyk kepontalan "ngejar" chatting. Gimana nggak, ditinggal meeting 30 menit, sudah ada 762 notifikasi. Edun.

Macam2 cerita perselingkuhan itu (aduh mak sumpah gue parno bacanya), menimbulkan pertanyaan: kenapa mereka selingkuh. Apa ada yang salah dengan si perempuan? Perempuan yg istri atau yg selingkuhan? Tapi kenapa? Dan tentunya nggak ada yang terjawab dengan jelas. Malah membawa gue ke masa silam, jadi tanya lagi... kok dulu suami gue selingkuh kenapa? Nggak terjawab juga, malah diikuti kesadaran kalau ternyata tidak semua istri mengenal suaminya dengan baik.

Masih kepikiran sama topik wag itu, tiba2 malamnya terjadi percakapan wa dgn OmD. Tp sialnya ngomong di wa kan nggak kelihatan wajah, nggak ada ekspresi, nggak jelas apakah penjelasan gue dibaca atau nggak. Menurut gue sih akhirnya nggak gitu menarik karena terlihat perbedaan pandangan yang jelas. Sampai dalam perjalanan pulang gue mikir keras banget: kami ini sebenarnya mau apa?

Terjadi selisih paham soal perempuan bekerja. OmD masih berpikiran bahwa bekerja itu ya secukupnya saja. Sementara gue yg suka seru sendiri ini kadang2 perlu keriaan. Waktu ada undangan meeting jam 22.00, masih tergoda utk ikut karena materi meeting terdengar seru. Buat OmD, meeting jam 22.00 nggak masuk akal. Tanpa pernah mengalami langsung situasi runyam traffic ibukota, jadwal padat merayap pejabat, juga meeting back to back non stop yg bikin kesepatan meeting tengah malam.... buat OmD yg nggak umum itu jadi nggak layak. Sementara buat gue? Laaah... meeting sampai jam 1 pagi juga pernah kok. Dan nggak tiap hari sih. Paling pol 2 tahun sekali... jadi... it was not a big deal at all. Lha kalau memang kerjanya begitu ya gimana? Dan gue suka2 aja.

Meskipun kami sdh lama sekali sama2, tapi nggak pernah ada masa kami bareng. Dia nggak tahu apa yg gue alami on site. Dia nggak lihat gimana gue dari redaktur kroco trus bisa jadi spt skrg. Dia nggak lihat langsung gimana gue merintis karier gue sambil gonjang ganjing ngurus rumah. Dia nggak paham dunia gue karena selama ini toh dia juga nggak pernah ada di situ. Buat gue, nggak ada kamus: mengorbankan karier untuk anak. Atau menelantarkan anak demi karier. No. I have to have both. Dan yg penting, gue toh nggak menelantarkan anak gue. Anak gue itu demikiran gembira dan ceria, sungguh jauh dari gambaran anak terlantar. Nggak mungkin? Kata siapa?  

Hal yg sama... gue jg nggak tahu apa yg dia alami. Day to day. Gue nggak lihat bagaimana lingkungannya bisa membentuk pola pikir dia sekarang. Gue nggak paham dasar penilaian dia, karena gue juga nggak pernah ada di dunia dia.

Yg kami punya selama ini adalah saling tukar cerita. Sudah, cuma itu. Kalau ceritanya ngawur atau nggak sesuai kenyataan, yg tahu hanya yg bercerita. Pikir sendirilah jadinya.

Do I love him? Of course I do. Tapi apakah cinta itu bisa membuat gue tenang2 saja seandainya gue harus ikut dia? Apakah cinta itu cukup besar untuk gue bisa berkompromi pada hal2 yang tidak gue sukai? Apakah cinta itu nggak terbatas, sampai gue bisa mengikuti cara hidupnya tanpa frustrasi?

Bagaimana juga dengan dia? Gue nggak tahu.

Selama ini yg terjadi dengan kami adalah LDR tak kunjung henti. Pertemuan2 cuma sebentar, nggak mungkin diisi berantem. Berantem jarak jauh ya udah gitu aja. Nggak bikin kita makin saling kenal dgn baik. Apakah semua bekal ini cukup untuk melangkah lebih jauh?

Gue nggak tahu.

Yg gue tahu, ada rasa yg gue nggak nyaman. Ada sesuatu yg mengatakan ada hal yg nggak bener. Dan tentunya gue nggak boleh diam saja. Kali ini gue akan mengikuti kata hati gue.


Monday, February 20, 2017

Tuhan Maha Baik

Tuhan yang baik, terima kasih ya, sudah memberi warna cemerlang dalam hidup saya,. Alhamdulillah.

Weekend kemarin ditutup dgn keharusan "berpikir-pikir lama" gara2 curhat teman sehari sebelumnya. Jadi dia dan suaminya sedang bermasalah. Spt juga banyak pasangan yg sedang diuji cinta kasihnya, ada perempuan lain dalam hidup pernikahan mereka. Sayangnya, perempuannya nggak cuma satu. Alias banyak. Dan nggak oke. Entah dari mana asalnya atau gimana bentuknya jadi nggak penting, yang penting perempuan itu menularkan penyakit. Tuhanku, maafkan maafkan maafkan semua manusia yg ngawur2 ya.

Nah, organ tubuh perempuan yang bentuknya menadah tentu mudah tertular penyakit. Meskipun selama ini teman gue cukup bersetia pada suaminya, begitu ada penyakit kelamin yg dibawa suaminya entah dari mana... istri yg kebetulan teman gue, terkena. Nggak kebayang sakitnya. Fisik dan batin. Sudahlah diselingkuhi dan dikasih oleh2 penyakit pula. Bayangan hrs menutup hari dgn tatapn mata (nista) dokter SPKK sungguh nggak menarik buat dipikirin.

Oke, teman gue itu dari keluarga mapan. Menikah dgn anak keluarga yg  sangat berada, saat ini mereka tinggal di kawasan elit ibukota. Tinggal dalam cluster yang isinya beberapa rumah2 yang semua milik keluarga. Selain tanah cluster tersebut, keluarga mereka punya juga beberapa bidang tanah lain. Semua di kawasan utama ibukota. Seperti umumnya keluarga berada, ada lebih dari dua mobil di garasi rumah mereka. Selain penampakan yg tajirudin itu, teman gue ini juga terlihat bahagia, dgn dua anak yg sdh gede2. Menikah bertahun2, di usia yang mau 50, pasti yg diharapkan ya hidup tenang2 sajalah. Gonjang ganjing hura2 sdh lama banget (harusnya) masuk kotak kenangan. Harusnya skrg hanya tinggal ngantor biasa, sambil nemenin anak nerusin sekolah yg nggak akan lama lagi selesai. Sambil liburan sesekali. Belanja2 secukupnya. Senang2 sama keluarga. Mau apa lagi?

Tapi ternyata itu hanya tampak luar. Di dalamnya ya tadi itu, ada api dalam sekam berbentuk perempuan lain. Dari cerita curhat kemarin, perempuannya kayaknya nggak bener, dalam arti bukan yg serius mau mencintai. Tapi model yg mau duit laki2 saja. Ya.... kalau lihat sampai ada penyakit, mestinya sih bukan perempuan beres ya.

Nggak urusan sama perempuan lainnya itu, yg gue bayangkan adalah kehidupan teman gue. Apa yg dia lakukan dalam keseharian? Di mana dia terlewat, sampai suaminya bisa ucul mabur ngawur2an? Adakah andil dia yg membuat suaminya jd nggak bener? Sebetulnya, apa yg dicari pasangan itu dalam hidup pernikahan? Kenapa materi yg banyak itu nggak dipakai utk bergembira sama keluarga saja, timbang dihambur2kan buat perempuan yg ga jelas? Ada apa dalam pikiran laki2? Dan banyaaaaak banget pertanyaan2 lain. 

Ketika gue harus menyudahi masa berpikir2 lama... krn sdh waktunya tidur.... nggak ada satu pun pertanyaan itu yg bisa gue jawab. Akhirnya gue pun hanya bisa bersyukur. Berterima kasih pada Tuhan atas apa pun yg Dia berikan pada gue. Jika memang Dia tidak mengizinkan gue bersuami pun, itu pasti rencanaNya yg paling baik. Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan, atas segala karuniaMu.

Friday, February 17, 2017

Pilkada(L) & Cinta

Riuh rendah pilkada paling terasa di medsos. Asli panas. Dan semua kok seperti mengarah ke DKI. Ya ampun... padahal pilkada itu di seluruh Indonesia!! Bahkan Banten aja, yg tetanggaan sm DKI, spt nggak tersentuh. Paslon jadi enak2an nggak bikin kampanye program. Duileh.

Yg paling hot tentu topik cagub yg didakwa sebagai penista agama. Entah kenapa topik itu nggak habis2. Dan lalu dikait-kaitkan dgn ayat dalam Al Quran soal memilih pemimpin muslim. Hmm... tapi masak ayat itu hanya berlaku buat pilkada DKI?

Dari semua orang yg ada di timeline gue, ada satu yg sangat "garing" dalam arti selalu berusaha ikut menista cagub DKI, tapi kalau dikonfrontasi selalu berkata seolah tidak membela siapa2. Alias cari aman aja terus. Tp cari aman dgn aneh dan sibuk ngeles sana sini. Yaaa... mirip junjungannya sih. Hahahaha...

Terserah sih, dia mau ngomong apa juga di medsos dia. Yg gue sayangkan adalah... krn dulu gue pernah punya perasaan khusus padanya. Hah! Memang Tuhan selalu menolong gue. Terima kasih ya Allah. Alhamdulillah selalu dijauhkan dari orang2 yg aneh. 

Tuesday, February 14, 2017

Orang Jakarta

Salah satu dari banyak hal yang menyenangkan dari perjalanan Semarang minggu lalu adalah kenyataan kalau waktu seakan berhenti setelah kita keluar dari Jakarta :D

Terbiasa dgn kemacetan dan jarak yang astaganaga di Jakarta, sejak kecil banget kami di rumah diajarin untuk sediakan waktu sela. Selalu on time. Keluarga tentara bener....Didikan bokap yg begitu, bikin kami semua agak lucu sama jadwal2. Apalagi Jakarta makin hari makin macet... makin luculah kami serumah. Pesawat jam 5.40. Jam 3 akan sudah berangkat dari rumah. Kereta jam 7.00, jam 5 akan sudah ada di jalan. Mendingan nunggu lama di airport atau stasiun, timbang ketinggalan.

Nah, sering banget hal2 begini nggak dipahami sama saudara2 yg tidak tinggal di Jakarta.Mereka mungkin nggak paham deg2an takut ketinggalan pesawat karena macet... krn nggak pernah mengalami. Hahaha.... Kyk di Lombok, pesawat jam 12.20, check in jam 12 jg masih bisa. Trus ke airport nggak macet.

Di Semarang, saat waktu terasa berhenti, kebiasaan on time dan spare time ini jadi lucu banget. Karena kami keluarga Jakarta selalu jadi yg pertama siap. Hahaha.... Hari pertama, ada acara seserahan yang katanya jam 4. Jam 3 kami sdh ada di venue. Ternyata calon pengantin malah belum mandi....

Perhitungan waktu, bikin kaget banget waktu ada di luar Jakarta. Di Salatiga, pagi2 whatsapp-an sm temen SD, dia cuma bilang, "Tunggu, aku ke situ." Trus nggak sampai 5 menit dia sdh hadir. Padahal rumahnya sekitar 12 km dari hotel.

Di Salatiga juga, jam 7 kami keluarga Jakarta sdh keluar dr kamar dan rapi berbusana. Nggak ada jadwal apa2 sih.... cuma biasanya kalau di Jkt kan jam 6 sdh berangkat dari rumah.... hahaha.... Ternyata, Salatiga jam 7 belum ada aktivitas kecuali warung2 yang buka untuk sarapan.

Enaaaak banget rasanya nggak dikejar waktu. Nggak ada macet. Nggak grusa grusu. Kayaknya kalau lama2 tinggal di luar Jakarta... kita semua bisa awet muda dan waras.

Hmm... tapi krn waktu kyk nggak ada harganya, orang2 yg di sektor servis jg kayak lambaaaaat banget. Panggil bellboy, 30 menit. Check in counter, petugasnya bisa alon alon waton suwi masukin data stroller dan carseat buat bagasi.

Jadi gimana ya, enaknya? Hahahaha....