Wednesday, May 15, 2019

Draft 4

Bagaimana aku bisa lupa?

Tante Emmy seperti tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupku. Dia hadir, lalu tinggal di hari-hariku. Begitu saja. Sepertinya selamanya. Sejak ada dia, rumah ini semakin ramai. Tidak seperti biasanya yang sepi sunyi karena hanya ada aku dan ayah.

"Halo, saya Emmy. Kamu pasti Idam, kan? Ayahmu sudah cerita banyak sekali tentang kamu."

Mataku justru terpaku ke anting besar yang menggantung di telinganya. Besar, berbentuk melingkar. Mengingatkanku pada gelang raksasa yang dipergunakan di pertunjukan ketangkasan lumba-lumba.

Aku tidak akan lupa, tante Emmy menarik sekali di mataku saat itu. Rambutnya pedek, sesuai dengan gayanya yang sigap. Ia mengenakan gaun terusan warna gelap sepanjang mata kaki, menyembunyikan kaki berbalut sneaker yang memberinya tampilan sportif. Dia tampak cantik, sekaligus kokoh di saat bersamaan. Suatu penampilan yang mencuri hatiku. Seluruhnya.


Friday, April 26, 2019

An Uneasy Day

Ada hari2 yg tidak nyaman, dan mungkin hari ini salah satunya.

Tadi pagi harus berbesar hati memutuskan untuk mengakhiri kegembiraan2 yg biasanya didapat hanya dgn mengangkat telepon atau chat lewat wa. Ya memang sdh seharusnya diselesaikan secara sadar. Karena selama ini yg dilakukan tidak benar.

Sungguh, hari menjadi sangat tidak nyaman.

Tapi mungkin hidup memang harus begitu. Ada saatnya nyaman, ada saatnya resah. Gembira bergantian datang dengan duka. Kadang banyak suka cita, lalu ada bumbu sedih lara. Namanya bumbu... secukupnya saja. Supaya sedap.

Rasanya, hidup memang sudah semestinya demikian.

Jadi kalau ada suara sedot2 ingus dari pojokan, itu gue. Mohon maaf.

Monday, March 25, 2019

Incoming Complaint

"I need to do a lot of thing once I come home. Of course I need to fix many things for my sons. But first I have to renew my passport, driving license, my Jakarta ID... oh and yes I want to renew my life with you."

"...."

"Did you still pretend not to hear anything about that?"

Wednesday, March 13, 2019

Let's....

If you cannot see the bright side, I'll be sitting with you in the dark.

Tuesday, March 12, 2019

Which One?

Maukah lagi kau mengulang ragu
Dan sendu yang lama
Dia yang dulu pernah bersamamu
Memahat kecewa
Atau kau inginkan yang baru
Sungguh menyayangimu

Aku ingin dirimu
Yang menjadi milikku
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain

Separuh jalan pernah dilewati
Meski ada kecewa
Aku yang dulu tak begitu lagi
Takkan 'ku ulangi
Jangan dulu engkau berpaling
Beriku kesempatan

Aku ingin dirimu
Tetap jadi milikku
Bersamaku mulai hari baru
Hilang ruang untuk cinta yang lain

Lupakan dia pergi denganku

Lupakanlah ragu denganku

Ooooo... Aku...

Aku ingin dirimu (Aku ingin dirimu) Yang menjadi milikku.... 
Layak untuk cantikmu, itu aku.... 

(Adu Rayu

Tuesday, February 19, 2019

Always Look at The Bright Side!

Ketika kecil dulu, adakah di antara ibu-ibu yang mengkhayalkan pesta pernikahan? Maksud saya, berangan mau menikah pakai baju apa? Lalu mahkotanya seperti apa.... *tunjukjari*
Angan-angan ini makin luar biasa ketika saya berkesempatan kerja di majalah gaya hidup, yang menerbitkan edisi khusus pernikahan. Setiap tahun, mempersiapkan edisi khusus ini sangat menyenangkan sekaligus bikin deg-degan. Trend kartu undangan terbaru, dekorasi terbaru, potongan gaun pengantin, karangan bunga, souvenir ucapan terima kasih... lengkap dibahas dan diulas. Karena majalahnya cukup beken, banyak desainer khusus membuatkan untuk difoto di edisi ini. Duuuuhhh seruuuu.... 
Seringkali yang keluar adalah ide personal, alias ambisi pribadi.... Itulah yang bikin deg-degan, karena serasa saya yang mau kawin hahahaha.... 
"Saya mau undangan yang kayak gini, mas.... Dikemas di kotak, terus selain undangan, kotaknya diisi bungkusan-bungkusan kecil permen, kacang, potpourri, dan printilan-printilan gitu ya...."
"Mbak, boleh nggak dekorasinya ada kandang burung? Dalamnya ya bunga saja."
"Hantaran bikin yang beda dong... misalnya satu set peralatan lukis... atau satu set alat-alat menyulam."
"Boleh ya, live music saja, atau acapella...."
Semua redaksi biasanya khayal babu... . hahahaha.... 
Dan... seringkali semua diwujudkan lho, oleh para desainer itu. Dan kami foto. Diulas lengkap. Tampil di majalah. Lalu jadi trend. Seru kan. 
Saat itulah khayalan saya soal pernikahan makin membabi buta sekaligus makin spesifik. Mau pakai baju Obin. Mau di poolside. Mau bunga Amarylis.  Iringannya lagu keroncong. Intinya chic simple manis. 
Ternyata oh ternyata ... ketika pernikahan itu betul jadi nyata, impian saya terpaksa saya pinggirkan. Alasan utama karena nggak mau ribut dengan (calon) ibu mertua yang semangat sekali mengurus pernikahan putra satu-satunya. 
"Baju Obin? Aduh mbak... nanti pengantinnya kalah mewah lho, dibanding para tetamu...," adalah kalimat yang membuat saya memutuskan tutup mulut dan nrimo saja.... Enak juga, sih, nggak pusing. Semua sudah diatur dan disiapkan dengan seksama. Saya nggak ikut hiruk pikuk sama sekali. Dan kemudian memang yang terjadi adalah pesta-kayak-gitu-deh ala Jawa yang megah gebyar berwarna keemasan dengan rombongan pemain gamelan dan sinden ternama yang didatangkan khusus dari Yogyakarta. Semoga menyenangkan orangtua berpahala... saya ucapkan selamat tinggal pada gaya chic simple idaman! 
Namun jalan kehidupan membawa banyak hal. Khayalan polos saya di masa lalu soal pernikahan hanyalah sekadar bungkus. Saya tidak mengkhayalkan cara menjalaninya, tidak memikirkan cara menjaganya, juga tidak memperhitungkan segala kerikil sandungan dan hantaman ombak yang mungkin datang. Jadi, ketika akhirnya terhantam badai, runtuhlah semuanya. Pernikahan itu terpaksa diakhiri. 
Sedih? Tentu. Saat itu. Dan beberapa saat setelahnya juga sih.... 
Tapi, hidup jalan terus. Kini, setelah hampir 12 tahun bercerai, sedih sudah hilang. I am moving on. Termasuk punya pacar lalu putus, pacaran lagi lalu putus lagi. Hahahaha.... Ya nasib, ya nasib. 
Tapi... sekarang ini lucunya, khayalan saya soal pernikahan idaman kok muncul lagi! Hahahaha.... Tentunya menjadi lebih dewasa, dalam arti nggak cuma sekadar mikirin bungkus. Pengalaman mengajarkan untuk mempertimbangkan segala aral melintang yang mungkin hadir dalam pernikahan. Apakah memang saya siap, juga anak saya. Dengan kondisi sudah memiliki anak dan aset, mulai cari info soal prenuptial agreement untuk melindungi hak anak saya. Kenyamanan hidup sendiri (mau pulang selarut apa atau bangun sesiang apa nggak ada yang urus), tentu harus dikompromikan jika menikah lagi. Apakah saya siap? Lalu, karena sudah pernah punya pengalaman dengan infidelity, sekarang jadi lebih kritis sama pacar.... 
Tapi... selain itu, tetap lho saya pengen menikah pakai baju Obin, tetep pengen karangan bunga Amarylis, tetep berkhayal soal lokasi di poolside, dengan iringan lagu keroncong.... Ah... Tuhan Maha Baik. Pernikahan pertama saya tidak langgeng,  karena Dia akan beri saya kesempatan untuk menikah lagi. Marilah lihat sisi baiknya: saya tentu bisa menikah lagi dengan gaya chic simple idaman. Alhamdulillah.... 
Hhhmmm... Tuhan, calon suami saya dong segera didatangkan.... Aamiiin.

*Ditulis untuk komunitas Single Mom Indonesia pada 2016