Bbrp hari terakhir di medsos, teman2 kantor lama menampilkan berita duka. Seseorang yg kehilangan putrinya. Nama yg kehilangan itu nggak gue inget sama sekali. Jadi agak lama juga gue berusaha mencerna. Itu siapa yg mana ya? Baru semalam paham bahwa mbak itu adalah teman yang pernah satu lantai. Tp krn pertemanan kami tdk intens, jadi ya gitu2 aja. Ikut berduka, tetep. Bagaimana pun, kehilangan anak adalah hal yg luar biasa berat.
Sementara itu, di grup chat teman kuliah rame banget ada anak yang bunuh diri. Loncat dari lt 33 apartemen. Karena nggak bisa pelajaran Bahasa Mandarin. Makanya guru2 Mandarin pada prihatin. Apa iya gara2 itu? Tuhanku... kok gampang sekali mengakhiri hidup. Pdh dunia ini begitu indahnya....
Jadi tadi pagi pas jalan ke sekolah... berusaha ngobrol sm Aria soal ini. Gimana kalau ada masalah... hadapi... jangan mudah putus asa dll.... Kerasa deh tanggung jawab berat banget jadi orang tua....
Dua berita di atas itu cukup bikin gue goncang. Trus... sampai di kantor gue tahu bahwa dua berita itu berhubungan. Yup. Anak yg loncat itu adalah putrinya teman kantor lama gue. Sedih banget. Lalu setelah gue dapat nickname teman gue itu... gue pun ingat lagi yg mana dia... dan rasanya saat itu dada gue bolong besar saking sedihnya.
Gue kenal Atie adalah anak yg ceria dan selalu gembira. Sama lah modelnya spt teman2 gue lain yg kadang edan kadang waras seringnya amburadul. Yg memandang hidup dgn seru dan berani. Dia menunggu kehadiran anaknya itu cukup lama. Bayangkan bahagianya ketika akhirnya ia punya Leialoha. Kalau nggak salah, lahirnya di Hawaii. Anak itu tumbuh menjadi anak yg santun dan manis. Teman2 yg sering ketemu di kantor mengingat dia sebagai anak penurut yg mandiri.
Gue bayangkan interaksi Atie ke anaknya mirip2 dgn interaksi gue ke anak gue. Ibu dan anak tunggal yg punya bonding kuat. Dan mengingat Atie... rasanya dia mencintai anaknya sebesar gue mencintai Aria.Tentunya dia juga akan membekali anaknya dengan nilai2 yg baik, menyekolahkannya di tempat yg terbaik, memberikan semua fasilitas terbaik buat kesayangannya itu. Gue percaya sekali, seharusnya Atie dan anaknya bahagia.
Dan... anak itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri setelah 14 tahun menjadi permata yg begitu berharga.
Rest in peace, little girl.
Ini adalah hari puasa yg paling sedih. Sungguh gue mewek.
PS: So, you... this is really not a good time to discuss about the guru. I don't think I can handle anything more at the moment.
Thursday, May 24, 2018
Monday, April 30, 2018
Orang Baik
Beberapa hari yg lalu, di wa group kantor beredar pesan soal charity yg dibuat salah satu kontributor. Jadi mas kontrib ini anaknya sakit, perlu MRI. Kalau nunggu antrian BPJS, baru bisa dikerjakan bbrp bulan dari skrg. Padahal, kondisi anaknya perlu segera. Lewat jalur swasta, perlu sekitar 9 juta. Duit dari mana? Jadi dia bikin semacam charity, jualan dimsum. Ada keuntungan yg disisihkan untuk tabungan MRI.
Ketika gue sebarkan ke wa group tim kecil, responnya lumayan menarik. Selain ada yg pesan dimsum, ada juga yg mau langsung sumbang uang saja. Antusiasme tim kecil ini kok membuat gue semangat... menyebarkan berita itu ke grup2 lain yg ada di hp gue.Ada sekitar 4 group, plus beberapa orang yg gue japri soal dimsum charity ini.
Respon awal adalah: "Ini orangnya lo kenal baik kan?"
Yg hanya perlu gue validasi: iya. Ini bukan hoax. Udah gitu doang... Ada yg habis itu langsung pesan dimsum bbrp pack. Ada yg langsung transfer uang ke rekening mas kontrib. Menyenangkan ya.
Menyenangkan bahwa gue kenal orang2 baik. Mereka membantu tanpa tanya macem2 yg rumit. Asal bukan tipu2... sudah.... Pdh beberapa orang di wa group itu ada yg sdh nggak ketemu gue 10 tahun. Ada juga yg hanya pernah ketemu sekali... kira2 9 tahun silam. Tp krn kami di group yg sama, dia merasa bisa percaya judgment gue. Dan ikut membantu juga. Kerennya, sebagian besar orang2 itu nggak mau disebutkan namanya. Mereka hanya mau bantu. Sudah.
Sedikit2 lama2 jadi bukit. Dari jumlah nominal yg masuk memang variatif, kecil besarnya... relatif. Tapi dalam semalam, terkumpul 9 juta. Mudah banget. Nggak perlu bertele2... Mas kontrib bisa segera membawa anaknya MRI. Semoga sakitnya bisa segera ditangani.
Sampai skrg, gue masih takjub dgn keajaiban wa group. Juga bahwa gue selalu dikelilingi banyak sekali orang2 baik, yg masih peduli, masih mau membantu dgn segera. Alhamdulillah. Semoga mereka diberi rejeki berlipat ganda oleh Allah SWT. Aamiin.
Ketika gue sebarkan ke wa group tim kecil, responnya lumayan menarik. Selain ada yg pesan dimsum, ada juga yg mau langsung sumbang uang saja. Antusiasme tim kecil ini kok membuat gue semangat... menyebarkan berita itu ke grup2 lain yg ada di hp gue.Ada sekitar 4 group, plus beberapa orang yg gue japri soal dimsum charity ini.
Respon awal adalah: "Ini orangnya lo kenal baik kan?"
Yg hanya perlu gue validasi: iya. Ini bukan hoax. Udah gitu doang... Ada yg habis itu langsung pesan dimsum bbrp pack. Ada yg langsung transfer uang ke rekening mas kontrib. Menyenangkan ya.
Menyenangkan bahwa gue kenal orang2 baik. Mereka membantu tanpa tanya macem2 yg rumit. Asal bukan tipu2... sudah.... Pdh beberapa orang di wa group itu ada yg sdh nggak ketemu gue 10 tahun. Ada juga yg hanya pernah ketemu sekali... kira2 9 tahun silam. Tp krn kami di group yg sama, dia merasa bisa percaya judgment gue. Dan ikut membantu juga. Kerennya, sebagian besar orang2 itu nggak mau disebutkan namanya. Mereka hanya mau bantu. Sudah.
Sedikit2 lama2 jadi bukit. Dari jumlah nominal yg masuk memang variatif, kecil besarnya... relatif. Tapi dalam semalam, terkumpul 9 juta. Mudah banget. Nggak perlu bertele2... Mas kontrib bisa segera membawa anaknya MRI. Semoga sakitnya bisa segera ditangani.
Sampai skrg, gue masih takjub dgn keajaiban wa group. Juga bahwa gue selalu dikelilingi banyak sekali orang2 baik, yg masih peduli, masih mau membantu dgn segera. Alhamdulillah. Semoga mereka diberi rejeki berlipat ganda oleh Allah SWT. Aamiin.
Friday, April 27, 2018
Remaja Jaman Now, WTF & Sekolah Kehidupan
Minggu lalu, Aria dan sekolahnya outing ke Trawas, Jawa Timur. Perjalanan ini sudah diinformasikan sejak awal Aria masuk Mentari. Jadwal mereka sudah jelas: kelas 7 ke Bali, kelas 8 ke Trawas, kelas 9 ke Padang. Bukan perjalanan yang wajib. Tapi kalau bisa, kenapa enggak? Dan mendengar dari teman2 yg anaknya pernah ikut, field trip ke Trawas ini akan jadi the most memorable one.
Baiklah. Pergilah anakku dengan kecemasan, "Menurut kakak kelas, di sana sinyalnya jelek!"
Hahahahaha... dasar anak jaman now.
Gue bukan model ibu2 yg cemas sama anak, trus menelepon sehari 10 kali. Mungkin malah gue termasuk yg cuek. Guru2 juga cukup pengertian terhadap emak2 (yg kepo maupun yg tidak), jadi mereka bikin grup wa, dan setiap malam secara berkala jam 20.00 akan mengirim foto kegiatan anak2 seharian itu ngapain aja. 100 anak, 100+ foto. Seru amat grup ini. Tentu nggak semua akan dpt foto close up, jadi para emak (apalagi yang sudah pakai kacamata plus macam gue) harus siap nyungir2 nyari wajah anaknya.
Aria cukup sering tampil di foto2 itu. Semua dgn wajah semringah, senyum lebar pipi gembul yg anak gue banget :D Foto dia ngasih makan kambing, masak di dapur, main ke air terjun, nyemplung di sawah... semua ada. Anak gue terlihat bahagia (dan nggak peduli soal sinyal). Banyak foto yg dia sedang sama geng cewek2. Ada pula yg macam tercyduk di tengah sawah sama Alika. Panas koncrang nggak peduli, tetep bahagia, ketawa2. Nggak mungkin terjadi kalau perginya sama ibu... Hahaha....
Dan memang Aria cukup bersenang2 selama di Trawas. Ceritanya banyak. Dan seperti biasa anak cowok, ceritanya nggak langsung... tapi sedikit2... jadi sepanjang akhir minggu, cerita Trawas ini ada di mana2....
Nah... yg menarik memang imbas gaul2 sama remaja seumuran dalam waktu lama. Dgn gampang... bisa terbawa ke pergaulan temannya. Peer pressure. Hmm... mungkin skalanya masih biasa aja krn objeknya tidak bahaya utk press pressure kali ini. Apa itu? We the fest, alias WTF. Festival musik Gen Z.
Festival musiknya sih ok. Dan mengingat Aria juga diarahkan ke hal-hal yg musikal, mungkin perlu juga nonton ini. Yg nggak ok adalah harga tiketnya. Dan nggak mungkin gue lepas sendirian kan anak SMP itu? Mau nggak mau... akhirnya lebih baik nggak diizinkan.
"Tunggu sampai kamu SMA,"
Apakah mempan? Tentu tidak. Hahahaha....
Aria sebetulnya bisa beli tiket WTF dgn nabung uang sakunya. Tapi buat gue... masalahnya bukan (cuma) itu.... Kok cemas juga ya membiarkan anak gue itu ada di sebuah lokasi yg sangat luas tanpa ada yg jelas bisa tanggung jawab. Aria? Halah... sepatu aja suka berceceran.... kayaknya memang belum bisa dikasih tanggung jawab mengatur diri sendiri. Jadilah harus berjibaku mencari cara untuk menenangkan dan mengalihkan pikiran si ABG ini dari WTF.
Gue inget dulu itu seumur dia, gue juga pengen nonton NKOTB. Atau Rick Astley. Atau siapa lagi ya musisi jaman old.... hahaha.... Akhirnya nggak nonton juga. Ya iyalah krn nggak punya duit. Minta bokap? Bisa dipentung. Dan yg gue ingat, temen2 gue anak Menteng yg pada nonton itu... akhirnya skrg juga biasa aja kok. Nggak jadi lebih sukses atau lebih berjaya. Biasa saja. Kesimpulannya: yg elu tonton di masa SMP itu efeknya nggak gitu2 amat ke kehidupan elu.
Gimana cara ngasih taunya ke Aria? Ga ada cara lain... ya udah bilang aja begitu. Gue ceritain dulu gimana. Gue pengen apa. Jadinya gimana. Trus kapan gue nonton konser pertama kali. Karena apa. Termasuk sederet kelebihan Aria sbg anak sekarang yg dibesarkan di keluarga yg (alhamdulillah) cukup.
Ngambek lah dia. Nggak mau ngomong sama ibu krn kecewa nggak boleh beli tiket WTF. Sampai akhirnya dia ikut kelas pendidikan seks di sekolah. Ada tentang fedofilia. Nah!
"Dari mana kamu bisa yakin, bahwa semua orang yg masuk WTF itu baik hatinya? Bahwa nggak ada dari mereka yg fedofil... mencari2 kesempatan untuk dapat korban? Dan kamu, buat orang2 itu adalah anak kecil. Kamu masih anak2 yg bisa mereka perdaya. For all the things in this world, one thing I am sure: I cannot afford to see you injured."
Wis.
Aria melotot (nggak sepenuhnya sih, wong matanya sipit). Tapi lalu dia diam. Trus nggak lama dia lalu ngomongin hal lain. Sejam kemudian dia minta sepatu baru. Damai pun turun di bumi.
Baiklah. Pergilah anakku dengan kecemasan, "Menurut kakak kelas, di sana sinyalnya jelek!"
Hahahahaha... dasar anak jaman now.
Gue bukan model ibu2 yg cemas sama anak, trus menelepon sehari 10 kali. Mungkin malah gue termasuk yg cuek. Guru2 juga cukup pengertian terhadap emak2 (yg kepo maupun yg tidak), jadi mereka bikin grup wa, dan setiap malam secara berkala jam 20.00 akan mengirim foto kegiatan anak2 seharian itu ngapain aja. 100 anak, 100+ foto. Seru amat grup ini. Tentu nggak semua akan dpt foto close up, jadi para emak (apalagi yang sudah pakai kacamata plus macam gue) harus siap nyungir2 nyari wajah anaknya.
Aria cukup sering tampil di foto2 itu. Semua dgn wajah semringah, senyum lebar pipi gembul yg anak gue banget :D Foto dia ngasih makan kambing, masak di dapur, main ke air terjun, nyemplung di sawah... semua ada. Anak gue terlihat bahagia (dan nggak peduli soal sinyal). Banyak foto yg dia sedang sama geng cewek2. Ada pula yg macam tercyduk di tengah sawah sama Alika. Panas koncrang nggak peduli, tetep bahagia, ketawa2. Nggak mungkin terjadi kalau perginya sama ibu... Hahaha....
Dan memang Aria cukup bersenang2 selama di Trawas. Ceritanya banyak. Dan seperti biasa anak cowok, ceritanya nggak langsung... tapi sedikit2... jadi sepanjang akhir minggu, cerita Trawas ini ada di mana2....
Nah... yg menarik memang imbas gaul2 sama remaja seumuran dalam waktu lama. Dgn gampang... bisa terbawa ke pergaulan temannya. Peer pressure. Hmm... mungkin skalanya masih biasa aja krn objeknya tidak bahaya utk press pressure kali ini. Apa itu? We the fest, alias WTF. Festival musik Gen Z.
Festival musiknya sih ok. Dan mengingat Aria juga diarahkan ke hal-hal yg musikal, mungkin perlu juga nonton ini. Yg nggak ok adalah harga tiketnya. Dan nggak mungkin gue lepas sendirian kan anak SMP itu? Mau nggak mau... akhirnya lebih baik nggak diizinkan.
"Tunggu sampai kamu SMA,"
Apakah mempan? Tentu tidak. Hahahaha....
Aria sebetulnya bisa beli tiket WTF dgn nabung uang sakunya. Tapi buat gue... masalahnya bukan (cuma) itu.... Kok cemas juga ya membiarkan anak gue itu ada di sebuah lokasi yg sangat luas tanpa ada yg jelas bisa tanggung jawab. Aria? Halah... sepatu aja suka berceceran.... kayaknya memang belum bisa dikasih tanggung jawab mengatur diri sendiri. Jadilah harus berjibaku mencari cara untuk menenangkan dan mengalihkan pikiran si ABG ini dari WTF.
Gue inget dulu itu seumur dia, gue juga pengen nonton NKOTB. Atau Rick Astley. Atau siapa lagi ya musisi jaman old.... hahaha.... Akhirnya nggak nonton juga. Ya iyalah krn nggak punya duit. Minta bokap? Bisa dipentung. Dan yg gue ingat, temen2 gue anak Menteng yg pada nonton itu... akhirnya skrg juga biasa aja kok. Nggak jadi lebih sukses atau lebih berjaya. Biasa saja. Kesimpulannya: yg elu tonton di masa SMP itu efeknya nggak gitu2 amat ke kehidupan elu.
Gimana cara ngasih taunya ke Aria? Ga ada cara lain... ya udah bilang aja begitu. Gue ceritain dulu gimana. Gue pengen apa. Jadinya gimana. Trus kapan gue nonton konser pertama kali. Karena apa. Termasuk sederet kelebihan Aria sbg anak sekarang yg dibesarkan di keluarga yg (alhamdulillah) cukup.
Ngambek lah dia. Nggak mau ngomong sama ibu krn kecewa nggak boleh beli tiket WTF. Sampai akhirnya dia ikut kelas pendidikan seks di sekolah. Ada tentang fedofilia. Nah!
"Dari mana kamu bisa yakin, bahwa semua orang yg masuk WTF itu baik hatinya? Bahwa nggak ada dari mereka yg fedofil... mencari2 kesempatan untuk dapat korban? Dan kamu, buat orang2 itu adalah anak kecil. Kamu masih anak2 yg bisa mereka perdaya. For all the things in this world, one thing I am sure: I cannot afford to see you injured."
Wis.
Aria melotot (nggak sepenuhnya sih, wong matanya sipit). Tapi lalu dia diam. Trus nggak lama dia lalu ngomongin hal lain. Sejam kemudian dia minta sepatu baru. Damai pun turun di bumi.
Tuesday, March 13, 2018
Menulis & Membaca
Sudah lama banget nggak nulis2 yg bener nih. Padahal di bio IG bilangnya love to read, love to write. Buktinya manaaaaa.... Banyak banget alasannya. Hahaha.. apa sebaiknya mulai menuliskan alasan?
Entah kenapa, susah banget menemukan waktu buat membaca. Kayaknya dulu itu baca bisa kapan aja di mana aja, nggak duli sekeliling. Bisa baca buku setebal apa pun, dengan segera. Cap cus. Sekarang... kok gadget lebih menarik?
Dulu juga sering nulis2 di mana2. Catatan kecil, update blog, atau notes ini itu di mana2. Sekarang... nulis status aja kadang iya kadang enggak.
Wahai aku... ada apakah gerangan?
Mungkin gue harus puasa gadget kali ya. Sabtu Minggu ini? Coba ah. Siapa tahu jadi sesuatu.
Entah kenapa, susah banget menemukan waktu buat membaca. Kayaknya dulu itu baca bisa kapan aja di mana aja, nggak duli sekeliling. Bisa baca buku setebal apa pun, dengan segera. Cap cus. Sekarang... kok gadget lebih menarik?
Dulu juga sering nulis2 di mana2. Catatan kecil, update blog, atau notes ini itu di mana2. Sekarang... nulis status aja kadang iya kadang enggak.
Wahai aku... ada apakah gerangan?
Mungkin gue harus puasa gadget kali ya. Sabtu Minggu ini? Coba ah. Siapa tahu jadi sesuatu.
Wednesday, February 21, 2018
Mencari Renjana
Tibalah gue pada saat anak gue bukan lagi anak kecil lucu yang bisa gue dandanin sesuka gue pakai baju warna kuning dan sepatu orange. Dia sudah besar. Dan skrg sedang dalam masa, "Aku mau jadi apa ya?"
Gue sedang berusaha untuk membuat dia nggak terpaku harus jadi ini atau jadi itu. Gue pengen sekali Aria melakukan apa pun yg ia suka (selama di jalan yg benar & sewajarnya). Dia sepertinya belum yakin betul tentang apa yang dia suka. Ya... tugas gue menggali renjana yg dia punya.
Gue sih merasa dia cukup sensitif untuk suara dan bunyi. Jadi sejak kecil sebetulnya dia sudah gue arahkan ikut les musik. Biola, sempat setahun lebih. Lalu berhenti karena gurunya diganti dan dia nggak cocok sama gurunya, dan pihak sekolahnya gemblung banget bikin emosi urusan ganti2 guru ini. Jadi pindah ke piano. Agak lumayan. Sudah 2 tahun. Kemarin sempat mau mogok, tapi lalu bisa dimotivasi lagi. Karena sebetulnya bukan dia nggak bisa, tapi dia malas latihan. Biasa kan... entahlah kenapa ada kata "malas" di kamus... jadi bikin kisruh aja. Haha....
Bulan lalu, gue ajak dia nonton Tulus, lalu minggu lalu kami nonton Tohpati. Supaya dia tahu bahwa ada orang2 yg sekolah dan kariernya berbeda. Tulus itu arsitek, tp lalu memilih jadi penyanyi. Dan nggak apa2 juga. Tohpati dari lulus SMA sudah tahu kalau suka musik. Jadi dia konsisten. Belajar gitar di mana2. Sukses juga. Trus di dalam konser itu juga ada orang2 yg macem2. Pemain musik pun banyak. Ditambah manager artis, stage manager, floor manager, yg ngurus penonton, dll. Dia bisa lihat bahwa semua ada yg mengerjakan. Do what you love, and be the best in it.
Dalam hidup sehari2... Aria lihat ada papap yg bisa dibilang sukses sbg arsitek. Terkenal pula (jangan sedih, sering lho kami ini disapa orang waktu jalan2. "Ini anaknya pak Ary kan?" Duh... gimana kalau jadi anaknya Ahmad Albar ya? Sorry oot). Trus gue ini kan ya nggak kusut2 amat dalam karier... sekolah bener, kerja bener.... Yg penting, papap dan gue sama2 menunjukkan kecintaan (yg luar biasa) pada pekerjaan (atau yg dikerjakan). Mau ngasih lihat ke Aria bahwa kalau kita melakukan yg disukai, insya Allah ada rejeki yg mengikuti. Jadi contoh2 orang kantoran yg berhasil juga banyak. Mudah2an semua bisa jadi referensi bagus buat anak gue itu. Aamiin.
Perjalanan mencari renjana ini memang masih akan sangat panjang. Krn Aria juga perlu terus didorong mencoba hal2 baru. Memasak, menari hiphop, dan yg sekarang2 ini sedang mau gue carikan jalan adalah kerja sosial. Semoga memang ada yg bisa membuat dia lebih paham dirinya sendiri. Lalu bisa dikembangkan menjadi keindahan tiada tara untuk masa depannya.
Semoga juga gue yg diberi tanggung jawab membesarkan Aria bisa membimbing dia menemukan jalan hidup yg benar. Duh, doa gue nggak putus deh buat ini.
Bbrp hari lalu, dalam perjalanan di mobil kentang, tiba2 dia tanya, "Eyang itu punya uang dari mana? Kan eyang nggak kerja, tapi uangnya banyak."
"Eyang kan bikin jamu, dapat uang. Trus ada tabungan juga. Tapi, memang papap, aku, papcay... selalu kirim uang tiap bulan, buat eyang."
"Hmm... ibu... eyang kan anaknya 3, jadi yg kasih uang banyak. Uang eyang jadi banyak. Ibu karena anaknya cuma 1, jangan marah ya kalau besok uangnya sedikit."
Hahahahahahaha.... oalah nak...
Gue sedang berusaha untuk membuat dia nggak terpaku harus jadi ini atau jadi itu. Gue pengen sekali Aria melakukan apa pun yg ia suka (selama di jalan yg benar & sewajarnya). Dia sepertinya belum yakin betul tentang apa yang dia suka. Ya... tugas gue menggali renjana yg dia punya.
Gue sih merasa dia cukup sensitif untuk suara dan bunyi. Jadi sejak kecil sebetulnya dia sudah gue arahkan ikut les musik. Biola, sempat setahun lebih. Lalu berhenti karena gurunya diganti dan dia nggak cocok sama gurunya, dan pihak sekolahnya gemblung banget bikin emosi urusan ganti2 guru ini. Jadi pindah ke piano. Agak lumayan. Sudah 2 tahun. Kemarin sempat mau mogok, tapi lalu bisa dimotivasi lagi. Karena sebetulnya bukan dia nggak bisa, tapi dia malas latihan. Biasa kan... entahlah kenapa ada kata "malas" di kamus... jadi bikin kisruh aja. Haha....
Bulan lalu, gue ajak dia nonton Tulus, lalu minggu lalu kami nonton Tohpati. Supaya dia tahu bahwa ada orang2 yg sekolah dan kariernya berbeda. Tulus itu arsitek, tp lalu memilih jadi penyanyi. Dan nggak apa2 juga. Tohpati dari lulus SMA sudah tahu kalau suka musik. Jadi dia konsisten. Belajar gitar di mana2. Sukses juga. Trus di dalam konser itu juga ada orang2 yg macem2. Pemain musik pun banyak. Ditambah manager artis, stage manager, floor manager, yg ngurus penonton, dll. Dia bisa lihat bahwa semua ada yg mengerjakan. Do what you love, and be the best in it.
Dalam hidup sehari2... Aria lihat ada papap yg bisa dibilang sukses sbg arsitek. Terkenal pula (jangan sedih, sering lho kami ini disapa orang waktu jalan2. "Ini anaknya pak Ary kan?" Duh... gimana kalau jadi anaknya Ahmad Albar ya? Sorry oot). Trus gue ini kan ya nggak kusut2 amat dalam karier... sekolah bener, kerja bener.... Yg penting, papap dan gue sama2 menunjukkan kecintaan (yg luar biasa) pada pekerjaan (atau yg dikerjakan). Mau ngasih lihat ke Aria bahwa kalau kita melakukan yg disukai, insya Allah ada rejeki yg mengikuti. Jadi contoh2 orang kantoran yg berhasil juga banyak. Mudah2an semua bisa jadi referensi bagus buat anak gue itu. Aamiin.
Perjalanan mencari renjana ini memang masih akan sangat panjang. Krn Aria juga perlu terus didorong mencoba hal2 baru. Memasak, menari hiphop, dan yg sekarang2 ini sedang mau gue carikan jalan adalah kerja sosial. Semoga memang ada yg bisa membuat dia lebih paham dirinya sendiri. Lalu bisa dikembangkan menjadi keindahan tiada tara untuk masa depannya.
Semoga juga gue yg diberi tanggung jawab membesarkan Aria bisa membimbing dia menemukan jalan hidup yg benar. Duh, doa gue nggak putus deh buat ini.
Bbrp hari lalu, dalam perjalanan di mobil kentang, tiba2 dia tanya, "Eyang itu punya uang dari mana? Kan eyang nggak kerja, tapi uangnya banyak."
"Eyang kan bikin jamu, dapat uang. Trus ada tabungan juga. Tapi, memang papap, aku, papcay... selalu kirim uang tiap bulan, buat eyang."
"Hmm... ibu... eyang kan anaknya 3, jadi yg kasih uang banyak. Uang eyang jadi banyak. Ibu karena anaknya cuma 1, jangan marah ya kalau besok uangnya sedikit."
Hahahahahahaha.... oalah nak...
Wednesday, February 14, 2018
Draft 1
Waktu aku lihat Mbok Dinar masuk rumah, setelah ibu
membukakan pintu, aku tidak berpikir ada sesuatu yang penting. Jadi, aku masuk
kamar dan mulai membereskan tas serta seragam sekolah untuk besok. Tapi, tak
lama, ibu mengetuk pintu kamarku.
"Adi... " Raut wajah ibu tampak aneh. Aku melihatnya antara sedih,
tapi juga cemas, meski kulihat ibu berusaha tetap tenang.
"Adi, kamu ikut Mbok Dinar ya. Ke rumah Bu Supangat.
Sekarang."
"Malam-malam begini?"
"Iya. Ikut saja. Kamu sudah ditunggu Bu Supangat."
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi melihat sikap Ibu,
kusimpan pertanyaan itu di hati. Lagipula, ada perasaan bahwa aku sebaiknya
menurut saja. Jadi tak lama, aku sudah berjalan bersama Mbok Dinar, menyusuri
gang kampung yang hanya diterangi titik-titik lentera kecil di sana-sini. Kami
berdua membisu.
Rumah Bu Supangat adalah rumah besar yang terletak di
pinggir jalan utama. Halamannya luas. Sering kulihat Lik Tarjo, adik bapakku,
membereskan semak dan menebas ranting di halaman itu. Saat ini, di halaman ada
tenda putih yang besar. Tenda yang bagus. Tapi, mengapa suasananya begitu
muram?
Mbok Dinar menemaniku masuk ke rumah. Baru kali ini aku
masuk ke rumah yang begitu indah. Kursi-kursi besar yang tampak nyaman,
dipinggirkan menempel ke tembok, bersisian dengan lemari-lemari berpintu kaca
yang menyimpan banyak benda warna-warni. Sepertinya pajangan oleh-oleh dari luar
negeri, yang fotonya sering aku lihat di majalah. Lampu gantung yang mengilap
menambah keindahan ruangan. Gelaran karpet yang lebar-lebar memenuhi seluruh
lantai. Tampak empuk dan nyaman. Namun, seperti di luar, di dalam ruangan pun semuanya
tampak berduka.
Aku tidak punya waktu mengagumi ruangan itu lebih lama, juga
ruangan sebelahnya yang nampak lebih luas, karena Mbok Dinar yang memegang tanganku
mengajakku mendekati seorang ibu. Kulihat Mbok Dinar mengatakan sesuatu. Ibu
itu segera mengangkat wajah, menatapku, dan tersenyum sedikit. Matanya yang
bersedih tak bisa disembunyikan oleh senyumnya.
"Adi? Betul, kowe Adi to? Cerita panjangnya nanti saja.
Pokoke, yang jelas, mengko arep ono jenazah teka, jenazah suami Ibu. Iyo. Kuwi
jenazah Pak Supangat. Dia suami Ibu, tapi dia juga ayahmu. Kewajiban kamu,
sebagai anak, adalah ikut memandikan jenazahnya," suara lembut Bu Supangat
seketika menyuntikkan kebingungan di kepalaku.
Kutengok kanan dan kiri, mencari-cari
wajah Mbok Dinar. Dia ada di sudut. Dengan mataku, aku bertanya, "Iki opo?
Apa ini?" Mbok Dinar mengibaskan tangan. Menyuruhku tetap di tempatku
berdiri.
"Mbok, ambilkan teh hangat," kata Bu Supangat pada salah
satu pembantunya. Yang disuruh segera mengambil segelas minuman dan
memberikannya padaku yang masih terpaku.
"Bapakku? Meninggal?" hatiku mendadak kacau.
Otakku seperti tidak berdaya berpikir apa-apa. Bapakku di rumah tadi sepertinya
baik-baik saja. Lalu ini siapa? Mengapa? Lalu aku ingat raut wajah aneh ibuku
ketika tadi menyuruhku mengikuti Mbok Dinar.
Kurasa tepukan lembut di bahuku. Bu Supangat menggandengku,
bersimpuh di karpet, lalu mendudukkan aku di sisinya. Aku tidak punya pilihan
selain ikut duduk. Kulihat Ibu mengambil Al Quran. Dua buah. Satu dia serahkan
padaku, satu lagi dia pangku, dibuka pada halaman tertentu. Kudengar dia mulai
mengaji. Aku masih bingung, tapi seperti ada sesuatu yang menggerakkan, aku
mulai ikut menggumamkan ayat demi ayat, dengan pikiran yang seolah tidak pada
tempatnya.
(bersambung)
Monday, February 05, 2018
Reaksi
Gue sekarang percaya bahwa kita memang nggak bisa kontrol tindakan orang lain. Yg bisa sepenuhnya kita atur adalah reaksi kita terhadap tingkah laku orang lain. Dan reaksi ini kalau dipikirin bener bisa menjadi sesuatu yang akhirnya menyenangkan.
Bbrp hari lalu satu jendela wa menyala di hp. Dari bapaknya anak gue. Haha.... Pernah ada masa gue menyesal nggak pernah ngruwes hidungnya. Atau ngeplak dahinya. Atau gigit tangannya.... Kapan itu ya? Bbrp saat lalu lah.... Hahahaha.... Skrg, apa rasanya? Masih ada mixed feeling. Tapi entah kenapa reaksi gue waktu lihat jendela wa menyala itu kok tenang. Mungkin krn ngantuk habis lembur semalam? Embuh. Yg jelas... gue biasa aja, (berusaha) nggak ada emosi. Jawab datar: yes, what can I do for you?
Lalu dia bilang barusan transfer untuk Aria. "Ok, thank you."
Gue kira, akan berhenti di situ saja. Tapi ternyata enggak.... Dimulai dari satu pertanyaan soal Aria, yg gue jawab biasa aja. Terus... tanya lagi yg gue jawab lagi. Terus... terus... terus.... sampai akhirnya kami ngomongin Jokowi & Ahok. Hahahaha.... Aneh? Lumayan... krn selama ini nggak kebayang akan ngomongin sesuatu dgn santai. Yg kemudian gue sadar, bisa kejadian krn gue pun santai aja jawabnya. Udah ga pakai semangat mau ngrawus lagi... hahaha....
Untuk coparenting kayaknya sih udah telat banget ya. We'll see.... hmm... belum kepikiran bisa ke sana tapi ya siapa tahu. Skrg ini bisa jadi temen aja udah cukup kok. Nggak pengen apa2 lagi. Sudah seneng.
If you ever read this, hopefully you understand how meaningful the conversation was. Thank you.
Bbrp hari lalu satu jendela wa menyala di hp. Dari bapaknya anak gue. Haha.... Pernah ada masa gue menyesal nggak pernah ngruwes hidungnya. Atau ngeplak dahinya. Atau gigit tangannya.... Kapan itu ya? Bbrp saat lalu lah.... Hahahaha.... Skrg, apa rasanya? Masih ada mixed feeling. Tapi entah kenapa reaksi gue waktu lihat jendela wa menyala itu kok tenang. Mungkin krn ngantuk habis lembur semalam? Embuh. Yg jelas... gue biasa aja, (berusaha) nggak ada emosi. Jawab datar: yes, what can I do for you?
Lalu dia bilang barusan transfer untuk Aria. "Ok, thank you."
Gue kira, akan berhenti di situ saja. Tapi ternyata enggak.... Dimulai dari satu pertanyaan soal Aria, yg gue jawab biasa aja. Terus... tanya lagi yg gue jawab lagi. Terus... terus... terus.... sampai akhirnya kami ngomongin Jokowi & Ahok. Hahahaha.... Aneh? Lumayan... krn selama ini nggak kebayang akan ngomongin sesuatu dgn santai. Yg kemudian gue sadar, bisa kejadian krn gue pun santai aja jawabnya. Udah ga pakai semangat mau ngrawus lagi... hahaha....
Untuk coparenting kayaknya sih udah telat banget ya. We'll see.... hmm... belum kepikiran bisa ke sana tapi ya siapa tahu. Skrg ini bisa jadi temen aja udah cukup kok. Nggak pengen apa2 lagi. Sudah seneng.
If you ever read this, hopefully you understand how meaningful the conversation was. Thank you.
Thursday, February 01, 2018
Tuesday, January 23, 2018
The Fault is in Our Stars
You know I want you
It's not a secret I try to hide
I know you want me
So don't keep saying our hands are tied
You claim it's not in the cards
But fate is pulling you miles away
And out of reach from me
But you're here in my heart
So who can stop me if I decide
That you're my destiny?
What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You'd be the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
So why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours tonight
You think it's easy
You think I don't want to run to you
But there are mountains
And there are doors that we can't walk through
I know you're wondering why
Because we're able to be
Just you and me
Within these walls
But when we go outside
You're gonna wake up and see that it was hopeless after all
No one can rewrite the stars
How can you say you'll be mine
Everything keeps us apart
And I'm not the one you were meant to find
It's not up to you
It's not up to me
When everyone tells us what we can be
How can we rewrite the stars?
Say that the world can be ours tonight
All I want is to fly with you
All I want is to fall with you
So just give me all of you
It feels impossible
It's not impossible
Is it impossible?
Say that it's possible
How do we rewrite the stars?
Say you were made to be mine?
Nothing can keep us apart
Cause you are the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
Why don't we rewrite the stars?
Changing the world to be ours
You know I want you
It's not a secret I try to hide
But I can't have you
We're bound to break and my hands are tied
Rewrite the Stars from The Greatest Showman
It's not a secret I try to hide
I know you want me
So don't keep saying our hands are tied
You claim it's not in the cards
But fate is pulling you miles away
And out of reach from me
But you're here in my heart
So who can stop me if I decide
That you're my destiny?
What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You'd be the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
So why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours tonight
You think it's easy
You think I don't want to run to you
But there are mountains
And there are doors that we can't walk through
I know you're wondering why
Because we're able to be
Just you and me
Within these walls
But when we go outside
You're gonna wake up and see that it was hopeless after all
No one can rewrite the stars
How can you say you'll be mine
Everything keeps us apart
And I'm not the one you were meant to find
It's not up to you
It's not up to me
When everyone tells us what we can be
How can we rewrite the stars?
Say that the world can be ours tonight
All I want is to fly with you
All I want is to fall with you
So just give me all of you
It feels impossible
It's not impossible
Is it impossible?
Say that it's possible
How do we rewrite the stars?
Say you were made to be mine?
Nothing can keep us apart
Cause you are the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
Why don't we rewrite the stars?
Changing the world to be ours
You know I want you
It's not a secret I try to hide
But I can't have you
We're bound to break and my hands are tied
Rewrite the Stars from The Greatest Showman
Friday, January 19, 2018
Rindu
Dan
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.
Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal ras.
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.
Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal ras.
Enak (Atau Enggak)
Barusan dengar lagunya Tulus "Pamit"... tiba2 pengen posting tulisan ini.
Jadi gue single sudah sejak 2004. Pernah punya pacar sejak kira2 tahun 2006, tapi LDR sepanjang masa pacaran. Data2 statistik ini perlu untuk menjelaskan bahwa gue hidup sendirian sudah cukup lama. Lalu? Gue lupa gimana caranya berdiskusi dengan benar sebagaimana pasangan laki2 dan perempuan.
Hahahaha....
Gue lupa caranya minta izin. Kalau pergi2... selama ini, entah itu pergi ke luar kota atau ke luar negeri, yang diberikan ke orang2 adalah sebatas pemberitahuan saja. Cuma ngasih tahu bahwa gue akan ke mana tanggal berapa. Pamit... konteksnya hanya untuk ke nyokap dan Aria. Yg ya pamit aja bye mama bye anak sayang see you later gitu. Minta izin? Hmm... yg hubungannya dgn boleh atau enggak sih udah lama banget nggak gue lakukan.... Mau ke Kendari, cek atm... masih ada duit buat tiket... cuuuusss sampai di Kendari. Mau ke Singapore over the weekend... Aria mau ikut... ya udah, beli tiket... trus langsung berangkat, sore2 udah di Marina Bay ngopi2 sambil ketawa2. Nggak ada yg dimintain izin... wong tiket juga bayar sendiri....
Nggak hanya untuk yg bentuknya pergi2... beli2 barang yg besar juga nggak pernah tanya siapa2. Beli rumah. Beli mobil. Beli berlian. Semua dilihat, dikalkulasi, dipertimbangkan, lalu dibayar sendiri kalau duitnya cukup. Kalau duitnya nggak cukup... bikin masa hitam dulu bbrp bulan... Hehe. Intinya sih semua tergantung diri sendiri. Pernah sih tanya2 ini itu sama OmD... tp ya sekadar tanya saja . He knew for sure he has no right to say anything in terms of giving any permission. Siapa eluuuuu.... hahahaha.... (cium jauh utk OmD).
Kenapa ini jadi pikiran? Karena bbrp hari lalu ada diskusi soal pembagian harta gono gini yg skrg sedang dilewati seorang teman. Oooh... iya baru sadar kalau selama ini temen gue dan suaminya mengumpulkan aset itu berdua, jadi sekarang pusing urusan bagi2 ini itu. Hmm... trus teman yg lain juga barusan mengeluh krn dilarang sama suaminya pergi ke Pulau Ora. Mahal, kata suaminya. Pdh dia bayar sendiri sih pakai gajinya sendiri... tp ya kalau suami nggak kasih izin kan nggak berani juga mau melawan... nggak boleh pula secara agama ye kaaaan....
Lucunya, akhir dari pembicaraan tadi kok intinya sama: "Enak kamu, mbak... nggak ada suami... "
Apa iya memang begitu?
Jadi gue single sudah sejak 2004. Pernah punya pacar sejak kira2 tahun 2006, tapi LDR sepanjang masa pacaran. Data2 statistik ini perlu untuk menjelaskan bahwa gue hidup sendirian sudah cukup lama. Lalu? Gue lupa gimana caranya berdiskusi dengan benar sebagaimana pasangan laki2 dan perempuan.
Hahahaha....
Gue lupa caranya minta izin. Kalau pergi2... selama ini, entah itu pergi ke luar kota atau ke luar negeri, yang diberikan ke orang2 adalah sebatas pemberitahuan saja. Cuma ngasih tahu bahwa gue akan ke mana tanggal berapa. Pamit... konteksnya hanya untuk ke nyokap dan Aria. Yg ya pamit aja bye mama bye anak sayang see you later gitu. Minta izin? Hmm... yg hubungannya dgn boleh atau enggak sih udah lama banget nggak gue lakukan.... Mau ke Kendari, cek atm... masih ada duit buat tiket... cuuuusss sampai di Kendari. Mau ke Singapore over the weekend... Aria mau ikut... ya udah, beli tiket... trus langsung berangkat, sore2 udah di Marina Bay ngopi2 sambil ketawa2. Nggak ada yg dimintain izin... wong tiket juga bayar sendiri....
Nggak hanya untuk yg bentuknya pergi2... beli2 barang yg besar juga nggak pernah tanya siapa2. Beli rumah. Beli mobil. Beli berlian. Semua dilihat, dikalkulasi, dipertimbangkan, lalu dibayar sendiri kalau duitnya cukup. Kalau duitnya nggak cukup... bikin masa hitam dulu bbrp bulan... Hehe. Intinya sih semua tergantung diri sendiri. Pernah sih tanya2 ini itu sama OmD... tp ya sekadar tanya saja . He knew for sure he has no right to say anything in terms of giving any permission. Siapa eluuuuu.... hahahaha.... (cium jauh utk OmD).
Kenapa ini jadi pikiran? Karena bbrp hari lalu ada diskusi soal pembagian harta gono gini yg skrg sedang dilewati seorang teman. Oooh... iya baru sadar kalau selama ini temen gue dan suaminya mengumpulkan aset itu berdua, jadi sekarang pusing urusan bagi2 ini itu. Hmm... trus teman yg lain juga barusan mengeluh krn dilarang sama suaminya pergi ke Pulau Ora. Mahal, kata suaminya. Pdh dia bayar sendiri sih pakai gajinya sendiri... tp ya kalau suami nggak kasih izin kan nggak berani juga mau melawan... nggak boleh pula secara agama ye kaaaan....
Lucunya, akhir dari pembicaraan tadi kok intinya sama: "Enak kamu, mbak... nggak ada suami... "
Apa iya memang begitu?
Friday, January 12, 2018
Seandainya Bisa....
Aku kehabisan cara, 'tuk jelaskan padamu
Mengapa sulit 'tuk lupakanmu
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku, dari sudut pandangku
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
Seandainya satu hari bertukar jiwa
Kau akan mengerti dan berhenti bertanya-tanya
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku... dari sudut pandangku
Tukar Jiwa - Tulus
Mengapa sulit 'tuk lupakanmu
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku, dari sudut pandangku
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
Seandainya satu hari bertukar jiwa
Kau akan mengerti dan berhenti bertanya-tanya
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku... dari sudut pandangku
Tukar Jiwa - Tulus
Thursday, January 11, 2018
Adik Aria
Sekian lama menjadi anak tunggal... tahun 2016 Aria punya adik. Sepupunya, Jawa, lahir. Siplah ya mereka satu shio: monyet. Yg bisa diartikan usilnya bukan main... hahaha.... Beda 12 tahun ini pula yg mungkin bikin Aria sudah bisa jatuh hati sama Jawa. Dia yg dulu2 ngotot nggak mau punya adik... akhirnya meleleh juga.
Jawa tinggal di Apt Rasuna sejak awal 2017. Ke BSD sebulan sekali atau dua kali, pas weekend. Kalau sdh dibilang Jawa akan datang, Aria pasti girang. Dia akan manis sekali les piano lalu pulang dan nunggu Jawa hadir. Dia bisa dengan telaten nemenin Jawa main ini itu.Waktu Jawa sudah mulai merangkak... Aria akan jadi sweeper yg bersihin jalur yg mau dilewati. Luar biasa...
Skrg Jawa sudah mulai bisa berjalan. Masih agak goyang2 suka gampang jatuh, tapi sdh mulai sering jalan agak cepet alias lari. Dan Aria akan dengan setia jadi bodyguard. Manis banget deh. Dia bahkan ga marah waktu mainannya diacak sama Jawa. Atau waktu Jawa mau ikut2 melukis. Heran banget ternyata anak gue bisa sesabar itu.
Yg belum berubah adalah panggilannya. Aria tetep nggak mau dipanggil "mas". "Aku tetep Adik Aria. Jawa aja yang jadi Mbak Ja."
Teges bener.
Jawa tinggal di Apt Rasuna sejak awal 2017. Ke BSD sebulan sekali atau dua kali, pas weekend. Kalau sdh dibilang Jawa akan datang, Aria pasti girang. Dia akan manis sekali les piano lalu pulang dan nunggu Jawa hadir. Dia bisa dengan telaten nemenin Jawa main ini itu.Waktu Jawa sudah mulai merangkak... Aria akan jadi sweeper yg bersihin jalur yg mau dilewati. Luar biasa...
Skrg Jawa sudah mulai bisa berjalan. Masih agak goyang2 suka gampang jatuh, tapi sdh mulai sering jalan agak cepet alias lari. Dan Aria akan dengan setia jadi bodyguard. Manis banget deh. Dia bahkan ga marah waktu mainannya diacak sama Jawa. Atau waktu Jawa mau ikut2 melukis. Heran banget ternyata anak gue bisa sesabar itu.
Yg belum berubah adalah panggilannya. Aria tetep nggak mau dipanggil "mas". "Aku tetep Adik Aria. Jawa aja yang jadi Mbak Ja."
Teges bener.
Wednesday, January 03, 2018
2018
Ini postingan pertama di 2018....
Mau nulis apa ya? Tentang 2017? Ya begitulah.... 2017 berlalu dengan semangat "life should be like shoes, would be more interesting when they were not flat." Gonjang ganjing ini itu di segala lini... hahaha.... Yg paling nendang memang hidup percintaan. Krn setelah sekian lama... akhirnya... tidak ada apa2 yg terjadi, dalam arti, status gue belum berubah juga di 2017. Masih single.
Aria sbg fokus utama hidup gue cukup oke di 2017. Sehat dan gembira. Alhamdulillah. Tetep konsisten memberikan ibunya pelajaran2 parenting yg seru2. Hahaha... I love him nonetheless. Selalu mensyukuri adanya dia dalam hidup. The star that guide me home and the anchor that always keep my feet on the ground.
Kesehatan... oke juga. Alhamdulillah. Hanya perlu perhatiin sinyal tubuh lbh teliti. Krn kadang badan sdh hrs merem, tp ga nurut. Hahaha.... Sempat "kebablasan" diare bbrp hari. Yg ternyata karena stres (disinyalir karena kisah cinta yg berakhir tragis hahahaha). Herannya, sudah diare bbrp hari kok ya perutgendut tetap teguh kokoh hadir di antara kita. Nggak ada penghargaan sama sekali utk frequent trips to the loo. Weleh weleh.
Tahun 2017, lumayan banyak jalan2. Dan merasa bahwa jalan2 itu mendekatkan sama keluarga. Waktu serumah pergi ke Semarang-Salatiga di awal tahun, terasa banget bhw kami semua belajar bertoleransi. No complaints at all. Semua berupaya menyenangkan yg lain dgn selalu tenang. Wonderful.
Waktu Aria outing sm sekolahnya, sengaja gue ajak nyokap jalan juga ke Madiun & Yogya. Nggak ada agenda khusus, nemenin nyokap aja napak tilas masa dulunya di kota itu. Nengok rumah (hotel), makam mbah (sampai ke Nganjuk), trus sekolahnya.... Di Yogya juga gitu. Banyak leyeh2 aja. Seneng. Seneng karena lihat nyokap seneng.
Ada rencana perjalanan yg bubar sebubar-bubarnya. Krn partner jalannya ngaco dan ngawur. Sempat kecewa bbrp hari. Dan kalau skrg diinget yaaaa masih nyesel juga. Lbh karena perjalanannya batal. Di sisi lain, bersyukur juga karena jadi tahu kalau partner yg baik punya sisi brengsek juga. Jadi waspadalah waspadalah di masa depan.
Trus akhir tahun ditutup dgn liburan ke Danau Toba. Melihat pemandangan yg mahal harganya. Iri banget sama penduduk sekitar danau yg tiap hari bangun tidur melihat million dollar view. Merasakan bedanya aura hidup di Jawa dan Sumatera. Dan akhirnya bisa melihat Medan (serta memutuskan untuk tidak menyukainya.... hahaha). Lagi2 senang. Senang bisa mengenalkan Aria ke budaya lain yg kadang bikin dia kaget (krn ada orang ngomong kayak berantem).
Tahun 2017, ada harapan2 yang dipupuk, tapi lalu ambyar. Karena satu dan lain hal. Pacaran yg gue pikir akan berbeda akhirannya... ternyata nggak juga tuh. Berakhir dgn tidak terlalu menyenangkan. Dgn alasan2 yg konyol dan bodoh. Tapi tetap bersyukur merasakan mencintai (dan dicintai) begitu dalamnya. Meski semarah apa pun, nggak bisa berbuat apa2 begitu teringat cinta itu. Haha... Basi? Biar aja.... I wish him a very good life ahead. More prosperous and happy one. Hopefully we can still be friend. A very good friend.
Kantor... biasa aja. Semakin merasa bhw ini masa2 gawat. Masuk ke comfort zone yg gawat bentuknya. Project masih ada (banyak) dan sebetulnya lumayan seru. Tp akhirnya kok merasa gitu2 aja.... hohohoho.... Harus ada tindakan nih.... Ada beberapa projects kecil di luar kantor yg datang. Semua bentuknya roro jonggrang krn yg minta tolong sdh kepepet.... semua tiba2 urgent urgent urgent sampai nyaris gue suruh masuk UGD aja deh ah. Hahaha... untunglah semua bisa selesai dgn baik.
Semua yg terjadi di 2017, baik atau buruk, tetap harus diingat sebagai bentuk perhatian Tuhan YME. Gue percaya bhw Allah SWT Maha Baik & Maha Penyayang. Apa pun yg terjadi, itulah bentuk rasa sayang dan kebaikanNya. Alhamdulillah.
So, 2018... bring it on!
Mau nulis apa ya? Tentang 2017? Ya begitulah.... 2017 berlalu dengan semangat "life should be like shoes, would be more interesting when they were not flat." Gonjang ganjing ini itu di segala lini... hahaha.... Yg paling nendang memang hidup percintaan. Krn setelah sekian lama... akhirnya... tidak ada apa2 yg terjadi, dalam arti, status gue belum berubah juga di 2017. Masih single.
Aria sbg fokus utama hidup gue cukup oke di 2017. Sehat dan gembira. Alhamdulillah. Tetep konsisten memberikan ibunya pelajaran2 parenting yg seru2. Hahaha... I love him nonetheless. Selalu mensyukuri adanya dia dalam hidup. The star that guide me home and the anchor that always keep my feet on the ground.
Kesehatan... oke juga. Alhamdulillah. Hanya perlu perhatiin sinyal tubuh lbh teliti. Krn kadang badan sdh hrs merem, tp ga nurut. Hahaha.... Sempat "kebablasan" diare bbrp hari. Yg ternyata karena stres (disinyalir karena kisah cinta yg berakhir tragis hahahaha). Herannya, sudah diare bbrp hari kok ya perutgendut tetap teguh kokoh hadir di antara kita. Nggak ada penghargaan sama sekali utk frequent trips to the loo. Weleh weleh.
Tahun 2017, lumayan banyak jalan2. Dan merasa bahwa jalan2 itu mendekatkan sama keluarga. Waktu serumah pergi ke Semarang-Salatiga di awal tahun, terasa banget bhw kami semua belajar bertoleransi. No complaints at all. Semua berupaya menyenangkan yg lain dgn selalu tenang. Wonderful.
Waktu Aria outing sm sekolahnya, sengaja gue ajak nyokap jalan juga ke Madiun & Yogya. Nggak ada agenda khusus, nemenin nyokap aja napak tilas masa dulunya di kota itu. Nengok rumah (hotel), makam mbah (sampai ke Nganjuk), trus sekolahnya.... Di Yogya juga gitu. Banyak leyeh2 aja. Seneng. Seneng karena lihat nyokap seneng.
Ada rencana perjalanan yg bubar sebubar-bubarnya. Krn partner jalannya ngaco dan ngawur. Sempat kecewa bbrp hari. Dan kalau skrg diinget yaaaa masih nyesel juga. Lbh karena perjalanannya batal. Di sisi lain, bersyukur juga karena jadi tahu kalau partner yg baik punya sisi brengsek juga. Jadi waspadalah waspadalah di masa depan.
Trus akhir tahun ditutup dgn liburan ke Danau Toba. Melihat pemandangan yg mahal harganya. Iri banget sama penduduk sekitar danau yg tiap hari bangun tidur melihat million dollar view. Merasakan bedanya aura hidup di Jawa dan Sumatera. Dan akhirnya bisa melihat Medan (serta memutuskan untuk tidak menyukainya.... hahaha). Lagi2 senang. Senang bisa mengenalkan Aria ke budaya lain yg kadang bikin dia kaget (krn ada orang ngomong kayak berantem).
Tahun 2017, ada harapan2 yang dipupuk, tapi lalu ambyar. Karena satu dan lain hal. Pacaran yg gue pikir akan berbeda akhirannya... ternyata nggak juga tuh. Berakhir dgn tidak terlalu menyenangkan. Dgn alasan2 yg konyol dan bodoh. Tapi tetap bersyukur merasakan mencintai (dan dicintai) begitu dalamnya. Meski semarah apa pun, nggak bisa berbuat apa2 begitu teringat cinta itu. Haha... Basi? Biar aja.... I wish him a very good life ahead. More prosperous and happy one. Hopefully we can still be friend. A very good friend.
Kantor... biasa aja. Semakin merasa bhw ini masa2 gawat. Masuk ke comfort zone yg gawat bentuknya. Project masih ada (banyak) dan sebetulnya lumayan seru. Tp akhirnya kok merasa gitu2 aja.... hohohoho.... Harus ada tindakan nih.... Ada beberapa projects kecil di luar kantor yg datang. Semua bentuknya roro jonggrang krn yg minta tolong sdh kepepet.... semua tiba2 urgent urgent urgent sampai nyaris gue suruh masuk UGD aja deh ah. Hahaha... untunglah semua bisa selesai dgn baik.
Semua yg terjadi di 2017, baik atau buruk, tetap harus diingat sebagai bentuk perhatian Tuhan YME. Gue percaya bhw Allah SWT Maha Baik & Maha Penyayang. Apa pun yg terjadi, itulah bentuk rasa sayang dan kebaikanNya. Alhamdulillah.
So, 2018... bring it on!
Thursday, December 07, 2017
Rindu
Dan....
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.
Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal rasa.
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.
Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal rasa.
Monday, November 27, 2017
Forget Me Not
Remember me
Though I have to say goodbye
Remember me
Don't let it make you cry
For even if I'm far away I hold you in my heart
I sing a secret song to you each night we are apart
Remember me
Though I have to travel far
Remember me
Each time you hear a sad guitar
Know that I'm with you the only way that I can be
Until you're in my arms again
Remember me
(Remember Me, Coco Soundtrack)
Though I have to say goodbye
Remember me
Don't let it make you cry
For even if I'm far away I hold you in my heart
I sing a secret song to you each night we are apart
Remember me
Though I have to travel far
Remember me
Each time you hear a sad guitar
Know that I'm with you the only way that I can be
Until you're in my arms again
Remember me
(Remember Me, Coco Soundtrack)
Thursday, November 02, 2017
A Tiny Little Dot
When you feel your love's been taken
When you know there's something missing
In the dark, we're barely hangin' on
Then you rest your head upon my chest
And you feel like there ain't nothing left
I'm afraid that what we had is gone
Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave
When you lay there and you're sleeping
Hear the patterns of your breathing
And I tell you things you've never heard before
Asking questions to the ceiling
Never knowing what you're thinking
I'm afraid that what we had is gone
Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave
And I want this to pass
And I hope this won't last
Last too long
(Niall Horan - Flicker)
When you know there's something missing
In the dark, we're barely hangin' on
Then you rest your head upon my chest
And you feel like there ain't nothing left
I'm afraid that what we had is gone
Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave
When you lay there and you're sleeping
Hear the patterns of your breathing
And I tell you things you've never heard before
Asking questions to the ceiling
Never knowing what you're thinking
I'm afraid that what we had is gone
Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave
And I want this to pass
And I hope this won't last
Last too long
(Niall Horan - Flicker)
Monday, October 30, 2017
Mom R Us
Beberapa kali dapat pertanyaan, "Gimana caranya mengubah nyokap supaya gini gini gitu..."
'Gini-gini-gitu' bisa diganti macam2... intinya sih supaya nyokap nggak kayak sekarang. Jawabnya? Nggak bisa lah yaw. Hahahaha....
Nyokap, seperti juga orang2 lain... nggak akan bisa berubah kalau nggak karena keinginan beliau sendiri. Pengen beliau lebih mandiri? Lebih royal? Lebih nggak panikan? Lebih nggak kepo? Ya nggak bisa kalau beliau nggak mau. Maaf ajaaaaa....
Gue adalah contoh anak yg nggak pernah keluar dari rumah. Iya. Selalu tinggal sama orang tua. Gue rasa memang rejeki gue aja. Anaknya nyokap ada 3, yg 2 kuliah di luar Jakarta. Hanya gue yg di UI Depok. Punya kamar kos, tp tetep lebih sering pulang hahahaha.
Ditakdirkan nggak boleh pisah jauh2 dr nyokap... waktu punya anak kok ya balik ke rumah nyokap. Trus waktu Aria sdh agak besar, sdh mulai harus mikir sekolah... memutuskan pindah ke BSD. Nyokap? Ikut. Beliau jual rumahnya buat bangun tanah sebelah rumah gue. Hahahaha.... Jadi skrg gue dan nyokap ya tetep satu rumah. Practically ada kakak gue yg tinggal di rumah juga. Tp tetep aja kayaknya nyokap ya maunya apa2 ke gue... hahaha... mungkin krn gue anak perempuan?
Nah... selama ini hidup sama nyokap, nggak mungkin lah kalau nggak ada perselisihan. Tp makin ke sini, kok ya rasanya semakin nggak pengen rusuh2. Udahlah.... Memang ada bbrp sikap nyokap yg gue nggak setuju. Kebiasaan2 beliau juga banyak yg menurut gue 'kurang kekinian'... hahaha.... Tapi ya gimana? Nggak akan berubah kalau beliau tak ingin ganti sendiri. Gue merasa cukup bilang sekali kalau gue ga setuju. Habis itu terserah. Kalau masih berulang lagi, gue akan melipir aja pura2 nggak lihat. Beres. Gengges? Iya sih. Tp trus gimana? Sebentar kemudian juga beliau akan lupa. Jadi percuma juga marah2 tarik urat.
Yang paling penting adalah gue akan ingat2... duluuu... dulu banget waktu gue kecil... gue pasti juga gengges macam begitu. Iya kan.... Jadi kalau skrg digenggesin.... ya udahlah yaaaa... Enjoy aja!
'Gini-gini-gitu' bisa diganti macam2... intinya sih supaya nyokap nggak kayak sekarang. Jawabnya? Nggak bisa lah yaw. Hahahaha....
Nyokap, seperti juga orang2 lain... nggak akan bisa berubah kalau nggak karena keinginan beliau sendiri. Pengen beliau lebih mandiri? Lebih royal? Lebih nggak panikan? Lebih nggak kepo? Ya nggak bisa kalau beliau nggak mau. Maaf ajaaaaa....
Gue adalah contoh anak yg nggak pernah keluar dari rumah. Iya. Selalu tinggal sama orang tua. Gue rasa memang rejeki gue aja. Anaknya nyokap ada 3, yg 2 kuliah di luar Jakarta. Hanya gue yg di UI Depok. Punya kamar kos, tp tetep lebih sering pulang hahahaha.
Ditakdirkan nggak boleh pisah jauh2 dr nyokap... waktu punya anak kok ya balik ke rumah nyokap. Trus waktu Aria sdh agak besar, sdh mulai harus mikir sekolah... memutuskan pindah ke BSD. Nyokap? Ikut. Beliau jual rumahnya buat bangun tanah sebelah rumah gue. Hahahaha.... Jadi skrg gue dan nyokap ya tetep satu rumah. Practically ada kakak gue yg tinggal di rumah juga. Tp tetep aja kayaknya nyokap ya maunya apa2 ke gue... hahaha... mungkin krn gue anak perempuan?
Nah... selama ini hidup sama nyokap, nggak mungkin lah kalau nggak ada perselisihan. Tp makin ke sini, kok ya rasanya semakin nggak pengen rusuh2. Udahlah.... Memang ada bbrp sikap nyokap yg gue nggak setuju. Kebiasaan2 beliau juga banyak yg menurut gue 'kurang kekinian'... hahaha.... Tapi ya gimana? Nggak akan berubah kalau beliau tak ingin ganti sendiri. Gue merasa cukup bilang sekali kalau gue ga setuju. Habis itu terserah. Kalau masih berulang lagi, gue akan melipir aja pura2 nggak lihat. Beres. Gengges? Iya sih. Tp trus gimana? Sebentar kemudian juga beliau akan lupa. Jadi percuma juga marah2 tarik urat.
Yang paling penting adalah gue akan ingat2... duluuu... dulu banget waktu gue kecil... gue pasti juga gengges macam begitu. Iya kan.... Jadi kalau skrg digenggesin.... ya udahlah yaaaa... Enjoy aja!
Friday, October 20, 2017
Addiction
.... Being without you
Takes a lot of getting used to
Should learn to live with it
But I don't want to....
(Hard Habit to Break - Chicago)
Takes a lot of getting used to
Should learn to live with it
But I don't want to....
(Hard Habit to Break - Chicago)
Thursday, October 19, 2017
To Fall in Love
Dreams... you've been afraid to have dreams
Here in my arms lying face to face
It's a tender place
Just lay back and see
You could be saved loving me
Don't pull away when I call you're mine
What you need is time
And I just want you...
To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask
To fall in love is what you have to do
Just like I have to fall in love with you
Friends, we started out more than friends
We should have known when we touch too deep,
It was far too sweet
Don't let this feeling end
'Cause I want to touch you again
If you could see that your heart is mine just a bit too kind
And how I need you...
To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
You are a part of me won't ever be just a memory
Sometimes you really have to love
And I know I can make you...
Baby, I love you....
To fall in love....
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
I just have to fall in love with you.
(Phil Perry)
Here in my arms lying face to face
It's a tender place
Just lay back and see
You could be saved loving me
Don't pull away when I call you're mine
What you need is time
And I just want you...
To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask
To fall in love is what you have to do
Just like I have to fall in love with you
Friends, we started out more than friends
We should have known when we touch too deep,
It was far too sweet
Don't let this feeling end
'Cause I want to touch you again
If you could see that your heart is mine just a bit too kind
And how I need you...
To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
You are a part of me won't ever be just a memory
Sometimes you really have to love
And I know I can make you...
Baby, I love you....
To fall in love....
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
I just have to fall in love with you.
(Phil Perry)
Wednesday, October 18, 2017
I Love You
... if I keep my feeling strong... I'll find a song you sing....
Born to Love You (George Duke)
Born to Love You (George Duke)
Tuesday, October 17, 2017
Bercerai Kita...
Nggak akan ada orang yang berencana untuk bercerai. Nggak ada. Namanya menikah, pasti niatnya untuk selamanya. Jadi kalau memang harus bercerai, pasti... dan harus... ada alasan kuat. Kuat saja tidak cukup, alasan untuk bercerai harus sangat sangat sangat kuat.
Gue mungkin bukan "contoh yang baik" mewakili perempuan yang bercerai. Karena gue bisa tuh, mengabarkan perceraian dengan nada yang sama seperti bilang, "Lihat deh, sepatu gue baru, bagus ya." Hahaha.... ya gue memang gitu. Cuek. Sejak bercerai, kecuekan ini makin menjadi karena gue tahu, sejauh ini, ga ada kejadian di dunia yang lebih buruk akibatnya dalam hidup gue sehebat perceraian dan anak masuk RS.
Tapi itu kan sekarang....
Dulu, gue pun melewati masa galau, bercerai atau enggak, nanti kalau sudah bercerai gimana... tinggal di mana... Anakku piye? Tapi toh gue tetap bercerai karena tidak ada pilihan lain.
Sekarang, setelah kurang lebih 13 tahun menjadi single mom... banyak yang melihat bahwa gue baik2 saja. Anak sehat. Sekolahnya betul. Gue sendiri sehat juga (fat overdose malahan hahaha), dengan karier yang bener. Punya rumah. Punya kendaraan. Bisa liburan sekali atau bahkan dua kali setahun. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Ga bisa bilang apa2 selain bersyukur bisa sampai di titik yang sekarang.
Karena sebenernya, masalah yg utama bukan bercerai atau tidak bercerai. Perceraian itu hanya semacam pintu. Yang mestinya dipikirin adalah dunia di balik pintu itu, yang tidak akan kamu tahu sebelum kamu masuk ke dalamnya. Di balik pintu perceraian itu, lagu2nya nggak selalu merdu... kalau kata salah satu fellow single mom.... lagu2nya terserah DJ mau muterin apa... pengunjung harus goyang ajalah pokona mah... kalau enggak goyang pilihannya edan.
Nah, kehidupan di balik pintu perceraian itulah yang banyak tidak disangka oleh orang2. Seolah2 setelah bercerai, hidupmu akan baik2 saja dan mulus2 saja karena persoalan besar sudah kau lalui. Maaf cyin... belum tentu begitu ceritanya....
Betul... setelah proses perceraian usai, hakim ketok palu... kamu resmi jadi single lagi. Oke. Single... bisa pacaran lagi dong? Bisa banget... itu juga salah satu dunia baru. Bayangkan... saat temen2 lain (yg sudah menikah) sibuk ngurusin pasangan yg ngambekan, lagi bosen, mulai merasa rutin... kita para single bisa punya pacar, dating, dan kalau marahan suruh pulang aja tuh laki! Enak? Enak sih... kalau bener bisa begitu saja urusannya. Karena oh karena... selain bahwa kita para single ini boleh dating lagi... ada konsekuensi sosial juga yang hrs dipikul. Misalnya... akan ada cowok2 yg merasa perempuan (berumur) single ini perlu dikasihani karena haus kasih sayang dan haus belaian, dan mereka suka cita memberikan tanpa pamrih (pret). Di sisi lain, akan ada cewek2 yg ketakutan dgn keberadaan single mom. Seolah setiap single mom adalah perempuan gatal yang akan mengganggu suami2 mereka, jadi harus dijauhi dan dimusuhi. Ngadepin begini2 kalau nggak pinter bisa jadi masalah baru. Yg juga perlu diurus adalah masalah stigma di masyarakat. Printilan2 ga penting ini baru akan terjadi (dan mengganggu pikiranmu) setelah kamu resmi bercerai.
Mau cuek aja? Boleh banget. Dan memang seharusnya begitu. Cuek aja. Tapi tentu saja bukan lalu cuek aja menghampiri tiap laki2 yg royal dgn belaian dan pelukan dong... Cuek tetap harus yg bermartabat. Siap2 menampar semua laki2 beristri yg mendatangi dgn kedok cinta. Tabok aja. Cuek. Tp harus tetap berkarya. Bukan masalah pembuktian, berkarya itu harus krn itulah kodrat manusia. Kalau berkarya bisa menghasilkan... bagus juga.
Ngomongin berkarya yang menghasilkan... harus juga dipikirin, setelah cerai, gimana menghidupi anak2. Oke... tentu ada keputusan pengadilan bahwa bapak anak2 harus membiayai. Bagus sih, kalau keputusan ini dijalankan. Kalau enggak? Mau nuntut hak boleh2 aja... lapor polisi juga silakan... tp kalau nggak dikasih juga, mau apa? Bapaknya anak2 ditangkap polisi biar kapok? Memang kalau kapok trus ada jaminan ngasih duit? Enggak cyin.... You will be on your own once the knot were broken. Camkan itu. Lu harus bisa berdiri sendiri. Jungkir balik kadang2... ya dijalani ajalah... bisa jadi ada tanggal2 mepet jurang... hahaha... sudahlah... dinikmati aja. Percaya kalau rejeki sudah diatur Tuhan YME, tinggal cari cara menjemput yg halal.
Ada banyak hal yang nggak dialami orang2 yg belum pernah bercerai.
"Biasa juga sendirian kalau suami pergi ke luar kota."
Gundulmu amoh. Beda tauk. Sendirian untuk sesaat karena tahu akan ada yang pulang (meskipun pulang cuma sehari), beda dengan sendirian dan tahu pasti besok pun akan tetap sendirian. Minggu depan juga masih akan sendirian. Bedanya di mana? Nggak bisa diceritain. Harus dirasain sendiri.
"Selama ini kan gue kerja juga, bisalah menghidupi anak2."
Ya bagus kalau begitu. Jangan lupa, kalau sdh cerai, keluar dari rumah, atau pisah rumah sama bapaknya anak2... berarti ada tambahan biaya listrik, air, bensin (atau malah mobilnya sekalian yg hrs diurus), juga uang sekolah anak2 yg selama ini mungkin jadi tanggung jawab suami... dan skrg semua hrs lu lunasin sendiri. Sendiri. Syukur2 kalau ada allowance rutin dari doi tiap bulan... kalau nggak? Bayar tuh sendiri. Apalagi kalau ternyata kehidupan selama ini 100% ditunjang suami.... Nah... kalau sendiri gimana? Sudah siap?
"Ternyata banyak kok yg masih naksir gue, di dating site gue masih laku."
Tobil anak kadal. Dating site itu nggak bisa dipercaya. Ya tetep ada kemungkinan ketemu jodoh. Tapi udahlah jangan diharapkan terlalu banyak... pacaran belasan tahun aja bisa cerai, kok masih percaya dating site.... Intinya juga, jangan buru2 mau cari pasangan lagi. Apa salahnya? Nggak ada. Tapiiii... ketemu orang baru saat hati masih galau... apa yg kau harapkan? Setiap hubungan, sebentar atau lama, ketika usai pasti meninggalkan kekosongan di hati. Itu yg harus dibenahi dulu. Beres2 dulu deh. Jangan terlalu gegabah mau dapat pasangan lagi. Hati yang belum bener bisa mengelabui. Kayaknya cinta... padahal cuma nafsu. Kayaknya tertarik... padahal cuma karena nggak ada yg lain aja. Gawat kan?
"Gue sih nggak mau urus cerai, enak aja, dia yg salah. Dia yg urus. Jangan sampai gue rugi dua kali."
Gombal mukiyo. Ini pernikahan atau kontrak dagang... kok ada untung rugi.... Jangan pernah melihat perceraian sebagai masalah untung atau masalah rugi... karena itu semestinya jadi jalan keluar yg paling akhir (kalau beneran sudah nggak ada cara lain). Siapa yang urus perceraian jadi nggak penting, karena itu tadi... yg penting adalah kenapa bercerai dan setelah cerai situ mau apa.... Ini bukan mainan yang bisa di-delete, atau di-undo....
Hmm... panjang juga postingan ini ya. Tumben. Mudah2an ada gunanya sih. Ini semua berdasarkan pengalaman personal yang... hmm... mungkin berbeda untuk tiap orang. Tetap yg perlu digarisbawahi: bercerai perlu alasan yang sangat kuat. Dan yang menjalankan harus siap. Bye.
Gue mungkin bukan "contoh yang baik" mewakili perempuan yang bercerai. Karena gue bisa tuh, mengabarkan perceraian dengan nada yang sama seperti bilang, "Lihat deh, sepatu gue baru, bagus ya." Hahaha.... ya gue memang gitu. Cuek. Sejak bercerai, kecuekan ini makin menjadi karena gue tahu, sejauh ini, ga ada kejadian di dunia yang lebih buruk akibatnya dalam hidup gue sehebat perceraian dan anak masuk RS.
Tapi itu kan sekarang....
Dulu, gue pun melewati masa galau, bercerai atau enggak, nanti kalau sudah bercerai gimana... tinggal di mana... Anakku piye? Tapi toh gue tetap bercerai karena tidak ada pilihan lain.
Sekarang, setelah kurang lebih 13 tahun menjadi single mom... banyak yang melihat bahwa gue baik2 saja. Anak sehat. Sekolahnya betul. Gue sendiri sehat juga (fat overdose malahan hahaha), dengan karier yang bener. Punya rumah. Punya kendaraan. Bisa liburan sekali atau bahkan dua kali setahun. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Ga bisa bilang apa2 selain bersyukur bisa sampai di titik yang sekarang.
Karena sebenernya, masalah yg utama bukan bercerai atau tidak bercerai. Perceraian itu hanya semacam pintu. Yang mestinya dipikirin adalah dunia di balik pintu itu, yang tidak akan kamu tahu sebelum kamu masuk ke dalamnya. Di balik pintu perceraian itu, lagu2nya nggak selalu merdu... kalau kata salah satu fellow single mom.... lagu2nya terserah DJ mau muterin apa... pengunjung harus goyang ajalah pokona mah... kalau enggak goyang pilihannya edan.
Nah, kehidupan di balik pintu perceraian itulah yang banyak tidak disangka oleh orang2. Seolah2 setelah bercerai, hidupmu akan baik2 saja dan mulus2 saja karena persoalan besar sudah kau lalui. Maaf cyin... belum tentu begitu ceritanya....
Betul... setelah proses perceraian usai, hakim ketok palu... kamu resmi jadi single lagi. Oke. Single... bisa pacaran lagi dong? Bisa banget... itu juga salah satu dunia baru. Bayangkan... saat temen2 lain (yg sudah menikah) sibuk ngurusin pasangan yg ngambekan, lagi bosen, mulai merasa rutin... kita para single bisa punya pacar, dating, dan kalau marahan suruh pulang aja tuh laki! Enak? Enak sih... kalau bener bisa begitu saja urusannya. Karena oh karena... selain bahwa kita para single ini boleh dating lagi... ada konsekuensi sosial juga yang hrs dipikul. Misalnya... akan ada cowok2 yg merasa perempuan (berumur) single ini perlu dikasihani karena haus kasih sayang dan haus belaian, dan mereka suka cita memberikan tanpa pamrih (pret). Di sisi lain, akan ada cewek2 yg ketakutan dgn keberadaan single mom. Seolah setiap single mom adalah perempuan gatal yang akan mengganggu suami2 mereka, jadi harus dijauhi dan dimusuhi. Ngadepin begini2 kalau nggak pinter bisa jadi masalah baru. Yg juga perlu diurus adalah masalah stigma di masyarakat. Printilan2 ga penting ini baru akan terjadi (dan mengganggu pikiranmu) setelah kamu resmi bercerai.
Mau cuek aja? Boleh banget. Dan memang seharusnya begitu. Cuek aja. Tapi tentu saja bukan lalu cuek aja menghampiri tiap laki2 yg royal dgn belaian dan pelukan dong... Cuek tetap harus yg bermartabat. Siap2 menampar semua laki2 beristri yg mendatangi dgn kedok cinta. Tabok aja. Cuek. Tp harus tetap berkarya. Bukan masalah pembuktian, berkarya itu harus krn itulah kodrat manusia. Kalau berkarya bisa menghasilkan... bagus juga.
Ngomongin berkarya yang menghasilkan... harus juga dipikirin, setelah cerai, gimana menghidupi anak2. Oke... tentu ada keputusan pengadilan bahwa bapak anak2 harus membiayai. Bagus sih, kalau keputusan ini dijalankan. Kalau enggak? Mau nuntut hak boleh2 aja... lapor polisi juga silakan... tp kalau nggak dikasih juga, mau apa? Bapaknya anak2 ditangkap polisi biar kapok? Memang kalau kapok trus ada jaminan ngasih duit? Enggak cyin.... You will be on your own once the knot were broken. Camkan itu. Lu harus bisa berdiri sendiri. Jungkir balik kadang2... ya dijalani ajalah... bisa jadi ada tanggal2 mepet jurang... hahaha... sudahlah... dinikmati aja. Percaya kalau rejeki sudah diatur Tuhan YME, tinggal cari cara menjemput yg halal.
Ada banyak hal yang nggak dialami orang2 yg belum pernah bercerai.
"Biasa juga sendirian kalau suami pergi ke luar kota."
Gundulmu amoh. Beda tauk. Sendirian untuk sesaat karena tahu akan ada yang pulang (meskipun pulang cuma sehari), beda dengan sendirian dan tahu pasti besok pun akan tetap sendirian. Minggu depan juga masih akan sendirian. Bedanya di mana? Nggak bisa diceritain. Harus dirasain sendiri.
"Selama ini kan gue kerja juga, bisalah menghidupi anak2."
Ya bagus kalau begitu. Jangan lupa, kalau sdh cerai, keluar dari rumah, atau pisah rumah sama bapaknya anak2... berarti ada tambahan biaya listrik, air, bensin (atau malah mobilnya sekalian yg hrs diurus), juga uang sekolah anak2 yg selama ini mungkin jadi tanggung jawab suami... dan skrg semua hrs lu lunasin sendiri. Sendiri. Syukur2 kalau ada allowance rutin dari doi tiap bulan... kalau nggak? Bayar tuh sendiri. Apalagi kalau ternyata kehidupan selama ini 100% ditunjang suami.... Nah... kalau sendiri gimana? Sudah siap?
"Ternyata banyak kok yg masih naksir gue, di dating site gue masih laku."
Tobil anak kadal. Dating site itu nggak bisa dipercaya. Ya tetep ada kemungkinan ketemu jodoh. Tapi udahlah jangan diharapkan terlalu banyak... pacaran belasan tahun aja bisa cerai, kok masih percaya dating site.... Intinya juga, jangan buru2 mau cari pasangan lagi. Apa salahnya? Nggak ada. Tapiiii... ketemu orang baru saat hati masih galau... apa yg kau harapkan? Setiap hubungan, sebentar atau lama, ketika usai pasti meninggalkan kekosongan di hati. Itu yg harus dibenahi dulu. Beres2 dulu deh. Jangan terlalu gegabah mau dapat pasangan lagi. Hati yang belum bener bisa mengelabui. Kayaknya cinta... padahal cuma nafsu. Kayaknya tertarik... padahal cuma karena nggak ada yg lain aja. Gawat kan?
"Gue sih nggak mau urus cerai, enak aja, dia yg salah. Dia yg urus. Jangan sampai gue rugi dua kali."
Gombal mukiyo. Ini pernikahan atau kontrak dagang... kok ada untung rugi.... Jangan pernah melihat perceraian sebagai masalah untung atau masalah rugi... karena itu semestinya jadi jalan keluar yg paling akhir (kalau beneran sudah nggak ada cara lain). Siapa yang urus perceraian jadi nggak penting, karena itu tadi... yg penting adalah kenapa bercerai dan setelah cerai situ mau apa.... Ini bukan mainan yang bisa di-delete, atau di-undo....
Hmm... panjang juga postingan ini ya. Tumben. Mudah2an ada gunanya sih. Ini semua berdasarkan pengalaman personal yang... hmm... mungkin berbeda untuk tiap orang. Tetap yg perlu digarisbawahi: bercerai perlu alasan yang sangat kuat. Dan yang menjalankan harus siap. Bye.
Wednesday, October 11, 2017
Cinta Itu...
Mencintai seseorang tapi nggak bisa apa2. Sedih ya. Tapi tetep nggak boleh merasa diri paling menderita karena banyak yang lebih rusuh lagi hidupnya. Dibandingkan mereka yang nggak bisa makan, nggak punya tempat tinggal, anaknya masuk rumah sakit... sekadar urusan cinta sih cuma remahan rempeyek....
Meskipun mungkin rempeyeknya kelas atas yang harganya 1 ons Rp 600 ribu....
Seorang teman menceritakan kembali hidup pernikahan dia selama 16 tahun. Bersama orang yang dia cintai. Yang akhirnya dipisahkan oleh maut. Tapi pembukaan ceritanya aja sudah ngenes... "Memang janda yang ditinggal mati sepertinya lebih manis didengar. Meskipun hidupnya bisa saja lebih pahit."
Dia sudah jadi single mom 10 tahun. Sejak suami meninggal, dia tidak (atau belum?) menikah lagi. Pernikahan 16 tahun dengan orang yang dia cintai itu ternyata isinya duri melulu. Dari mulai nggak dikasih nafkah, diperlakukan seperti pembantu, dicaci maki, sampai ditinggal pergi. Bahkan waktu suaminya itu sakit pun, di rumah sakit, paralyzed due to terminal illness, dia masih bisa memaki dan membentak. Dan teman gue itu tetap melayani, menemani, mengurusi... sepenuh hati. Edan tenan.
Sejak kapan verbal KDRT? Sejak tamu-tamu pesta pernikahan pulang. Astaga.
Jadi hidup pernikahan diawali dengan, "Kamu nggak boleh tidur sebelum aku tidur, perempuan tolol."
Dan teman gue bertahan. Mengurusi tiga anak, rumah besar tanpa pembantu, dan suami yang sulit dibendung amarahnya. Dia akui, 16 tahun itu ia jalani dalam keadaan bahagia karena menikahi orang yg dia cinta. Meskipun dimaki? "Nggak apa2 dibentak juga, aku tetap cinta. Dari dia aku dapat tiga anak yang aku cinta juga." Meskipun selama itu tidak pernah dinafkahi, jadi dia dan anak-anak mengandalkan uang kiriman dari orangtua.
Suatu saat suaminya tidak bisa berjalan. Dan kesakitan. Dia pontang panting mencarikan kursi roda, cari taksi, ke rumah sakit. Dan sepanjang perjalanan itu suaminya tetap memaki, mengatai dia bodoh, lambat bekerja, tidak bisa apa2. Kok bisa? Kalau gue... udah gue tinggal dari kapan2....
Dia bahkan menyembunyikan penyakit suaminya, karena masih ingin sang suami bersemangat, jadi cepat sembuh, dan bisa pulang ke rumah. Susah payah dia kongkalikong sama dokter, suster... semua orang yang menjenguk untuk nggak membahas penyakit. Sampai akhirnya si suami meninggal. "Tugas gue sebagai istri sudah selesai. Mudah-mudahan gue menjalankan peran gue dengan baik," katanya.
Astaga.
Sekarang, 10 tahun setelah sang suami wafat... teman gue itu baru bisa menceritakan yang terjadi. Dan dia menangis, tersenyum, geram, tertawa, menangis, tersenyum... campur aduk... seperti merasakan kembali yang dia alami selama 16 tahun. Ketika ceritanya tuntas, dia tersenyum lebar sekali. "Gue berhasil mengeluarkan semua cinta gue buat suami. Terserah bagaimana balasan dia atas cinta gue. Semua sudah berlalu. Sudah gue ceritakan, jadi orang-orang tahu. Bukan, bukan untuk menjelekkan yg sudah tiada. Ini adalah upaya gue mengosongkan bagasi. Supaya lega. Sekarang gue bisa tenang menjalankan tugas gue menemani anak-anak."
Cinta. Katanya. Cinta yang aneh? Nggak tahu.
Dan gue yakin, yang model kyk temen gue itu banyak....
Ya kan, setelah tahu ada yang mengalami cinta yg "ajaib"... kisah cinta gue jadi biasa aja. Hahaha....
Meskipun mungkin rempeyeknya kelas atas yang harganya 1 ons Rp 600 ribu....
Seorang teman menceritakan kembali hidup pernikahan dia selama 16 tahun. Bersama orang yang dia cintai. Yang akhirnya dipisahkan oleh maut. Tapi pembukaan ceritanya aja sudah ngenes... "Memang janda yang ditinggal mati sepertinya lebih manis didengar. Meskipun hidupnya bisa saja lebih pahit."
Dia sudah jadi single mom 10 tahun. Sejak suami meninggal, dia tidak (atau belum?) menikah lagi. Pernikahan 16 tahun dengan orang yang dia cintai itu ternyata isinya duri melulu. Dari mulai nggak dikasih nafkah, diperlakukan seperti pembantu, dicaci maki, sampai ditinggal pergi. Bahkan waktu suaminya itu sakit pun, di rumah sakit, paralyzed due to terminal illness, dia masih bisa memaki dan membentak. Dan teman gue itu tetap melayani, menemani, mengurusi... sepenuh hati. Edan tenan.
Sejak kapan verbal KDRT? Sejak tamu-tamu pesta pernikahan pulang. Astaga.
Jadi hidup pernikahan diawali dengan, "Kamu nggak boleh tidur sebelum aku tidur, perempuan tolol."
Dan teman gue bertahan. Mengurusi tiga anak, rumah besar tanpa pembantu, dan suami yang sulit dibendung amarahnya. Dia akui, 16 tahun itu ia jalani dalam keadaan bahagia karena menikahi orang yg dia cinta. Meskipun dimaki? "Nggak apa2 dibentak juga, aku tetap cinta. Dari dia aku dapat tiga anak yang aku cinta juga." Meskipun selama itu tidak pernah dinafkahi, jadi dia dan anak-anak mengandalkan uang kiriman dari orangtua.
Suatu saat suaminya tidak bisa berjalan. Dan kesakitan. Dia pontang panting mencarikan kursi roda, cari taksi, ke rumah sakit. Dan sepanjang perjalanan itu suaminya tetap memaki, mengatai dia bodoh, lambat bekerja, tidak bisa apa2. Kok bisa? Kalau gue... udah gue tinggal dari kapan2....
Dia bahkan menyembunyikan penyakit suaminya, karena masih ingin sang suami bersemangat, jadi cepat sembuh, dan bisa pulang ke rumah. Susah payah dia kongkalikong sama dokter, suster... semua orang yang menjenguk untuk nggak membahas penyakit. Sampai akhirnya si suami meninggal. "Tugas gue sebagai istri sudah selesai. Mudah-mudahan gue menjalankan peran gue dengan baik," katanya.
Astaga.
Sekarang, 10 tahun setelah sang suami wafat... teman gue itu baru bisa menceritakan yang terjadi. Dan dia menangis, tersenyum, geram, tertawa, menangis, tersenyum... campur aduk... seperti merasakan kembali yang dia alami selama 16 tahun. Ketika ceritanya tuntas, dia tersenyum lebar sekali. "Gue berhasil mengeluarkan semua cinta gue buat suami. Terserah bagaimana balasan dia atas cinta gue. Semua sudah berlalu. Sudah gue ceritakan, jadi orang-orang tahu. Bukan, bukan untuk menjelekkan yg sudah tiada. Ini adalah upaya gue mengosongkan bagasi. Supaya lega. Sekarang gue bisa tenang menjalankan tugas gue menemani anak-anak."
Cinta. Katanya. Cinta yang aneh? Nggak tahu.
Dan gue yakin, yang model kyk temen gue itu banyak....
Ya kan, setelah tahu ada yang mengalami cinta yg "ajaib"... kisah cinta gue jadi biasa aja. Hahaha....
Thursday, September 28, 2017
Hujan
Di luar hujan. Untung aku ada di dalam ruangan. Untung? Iya... karena jadi tidak kehujanan. Tapi... sayangnya, ruangan ini berpendingin udara. AC ditambah hujan... jadinya dingin yang menggigit sampai ke tulang. Semriwing. Kayaknya bisa masuk angin deh ini.
Di luar masih hujan. Kelihatan orang-orang yang baru turun dari kendaraan mengembangkan payung. Yang berpindah dari satu toko ke toko lain juga berpayung. Payung mengembang. Warna warni segera memenuhi jalan. Merah, biru, kuning... tapi kenapa kebanyakan payung berwarna hitam?
Hujan ini sepertinya akan sering datang. Karena sekarang sudah bulan September. Kata ibuku, nama bulan yang berakhiran -ber seperti pertanda akan datangnya hujan. Siap-siap untuk kehabisan baju, karena yang dijemur tidak kunjung kering.
Kamu suka tidak kalau hujan? Aku sebenarnya suka. Hawa jadi sejuk. Lalu, debu jalanan juga berkurang. Sayangnya, hujan sering membuat lalu lintas tersendat. Entah untuk alasan apa. Mungkin karena pengendara mobil berjalan lebih lambat? Atau karena pemotor banyak yang berhenti sembarangan untuk berteduh sementara? Yang jelas... akibatnya... macet. Nah, kalau begitu, aku jadi tidak senang hujan. Macet bikin sakit kepala.
Yang paling aku suka ketika hujan adalah mencium bau tanah basah. Baunya membawaku pada kenangan keluar masuk hutan belantara, yang basah berembun, bersama kamu.
(ditulis untuk pelatihan BI Blogger & Vlogger, Yogyakarta September 2017)
Di luar masih hujan. Kelihatan orang-orang yang baru turun dari kendaraan mengembangkan payung. Yang berpindah dari satu toko ke toko lain juga berpayung. Payung mengembang. Warna warni segera memenuhi jalan. Merah, biru, kuning... tapi kenapa kebanyakan payung berwarna hitam?
Hujan ini sepertinya akan sering datang. Karena sekarang sudah bulan September. Kata ibuku, nama bulan yang berakhiran -ber seperti pertanda akan datangnya hujan. Siap-siap untuk kehabisan baju, karena yang dijemur tidak kunjung kering.
Kamu suka tidak kalau hujan? Aku sebenarnya suka. Hawa jadi sejuk. Lalu, debu jalanan juga berkurang. Sayangnya, hujan sering membuat lalu lintas tersendat. Entah untuk alasan apa. Mungkin karena pengendara mobil berjalan lebih lambat? Atau karena pemotor banyak yang berhenti sembarangan untuk berteduh sementara? Yang jelas... akibatnya... macet. Nah, kalau begitu, aku jadi tidak senang hujan. Macet bikin sakit kepala.
Yang paling aku suka ketika hujan adalah mencium bau tanah basah. Baunya membawaku pada kenangan keluar masuk hutan belantara, yang basah berembun, bersama kamu.
(ditulis untuk pelatihan BI Blogger & Vlogger, Yogyakarta September 2017)
Monday, September 25, 2017
Hidup di Kota
Kemarin menghadiri syukuran lahirnya Rimbun Khatulistiwa, di Bandung. Selain keriaan ada bayi baru di keluarga Maskoem, kesempatan kumpul2 keluarga selalu menyenangkan karena adanya update ini itu.
Yang kemarin jadi highlight adalah adanya cucu mbah Payaman (sebutan untuk keluarga dari pihak nyokap), yang menikah di usia 24. Sebenernya bukan usianya yg bikin heboh. Secara umur memang sdh cukup, secara agama maupun negara sdh boleh menikah. Hanya, anak laki2, baru saja lulus, dan dia adalah yg terkecil di silsilah keluarganya. Oh ya, dia ini anaknya sepupu nyokap. Jadi mestinya Rio ini sepupu gue ya. Haha....
Rio ini menikah, di usia muda, bukan karena dia yg pingin menikah. Lho kok bisa? Iya, dia menikah karena disuruh menikah oleh keluarga (calon) istrinya. Rio ini kerja di BUMN. Ditempatkan di proyek di desa Sambi. Nah... di sinilah dia ketemu kekasih hatinya. Konon sih sebenernya mereka ini sempat satu sekolah... entah di SMA atau di SMP... tp setelah lulus, si mbak kembali ke desa Sambi ini.
Adanya mbak cantik di desa ini ternyata cukup meresahkan. Meresahkan orangtuanya... karena sdh umur 25 belum kawin juga. Yaaaa gimana... untuk anak2 milenial, umur 25 kan belum apa2 ya. Tp menjadi millenials di desa Sambi ternyata berat, cyin. Si mbak ini sdh "dipinang" beberapa laki-laki. Yg dia tolak mentah2 krn hatinya sdh tertambat pada kangmas Rio. Dijodohin sama siapa2 juga menolak, maunya Rio semata. Ohohoho....
Bapaknya kalau ga salah pemuka desa. Jadi kehadiran Rio ini segera jadi sorotan. Nambah2 pusing aja nih... setelah pusing anaknya udah umur 25 blm kawin... ada lagi nih laki2 namanya Rio asyik2 ngapel. Rencanamu apa, le? Haha.... beneran akhirnya Rio "ditantang" sama (calon) mertuanya. "Kamu mau apa sama anakku?"
Rio... karena sdh cinta dan juga merasa bertanggungjawab... akhirnya mengajukan pinangan. Begitulah kisahnya hingga satu milenial melepas masa lajang di desa Sambi....
Gue sih nggak pro atau kontra soal pernikahan Rio. Ya kalau sudah jodoh, nggak akan ke mana juga.... yg gue lihat unik adalah bagaimana lingkungan bisa membuatmu melakukan sesuatu. Umur 25, di desa, belum kawin... jadi bahan gunjingan di desa. Bisa saja krn nggak tahan jadi gunjingan, seseorang akan melakukan hal yang di luar rencana. Termasuk mendadak kawin.
Hoaaaah... apa kabar ya kalau ada janda bercerai umur 30?
Cerita soal living single in the village ini kebawa ke kantor, dan terkuaklah cerita2 lain yang lebih "seru". Ada seorang tante yg lalu dilamar sama kelapa desa setelah setahun ditinggal meninggal suaminya. Ada yang didatengin beberapa laki-laki yg antri... setelah kembali ke desa dgn status janda. Pilihannya banyak, dari jawara sampai kepala desa. Dia pilih... pensiunan PNS. Krn PNS itu statusnya paling tinggi di desa.
Jreng.... semakin gue bersyukur tinggal di BSD. Yg mana orang2 nggak peduli (atau peduli tp nggak berani ngomong) kalau gue ini single, punya anak satu. Mereka nggak ngurus kenapa gue nggak kawin lagi. Mereka nggak tanya2 kapan gue berencana menikah lagi... dll...dst... dsb.
Semua aman. Hidup di kota memang menyenangkan.
Yang kemarin jadi highlight adalah adanya cucu mbah Payaman (sebutan untuk keluarga dari pihak nyokap), yang menikah di usia 24. Sebenernya bukan usianya yg bikin heboh. Secara umur memang sdh cukup, secara agama maupun negara sdh boleh menikah. Hanya, anak laki2, baru saja lulus, dan dia adalah yg terkecil di silsilah keluarganya. Oh ya, dia ini anaknya sepupu nyokap. Jadi mestinya Rio ini sepupu gue ya. Haha....
Rio ini menikah, di usia muda, bukan karena dia yg pingin menikah. Lho kok bisa? Iya, dia menikah karena disuruh menikah oleh keluarga (calon) istrinya. Rio ini kerja di BUMN. Ditempatkan di proyek di desa Sambi. Nah... di sinilah dia ketemu kekasih hatinya. Konon sih sebenernya mereka ini sempat satu sekolah... entah di SMA atau di SMP... tp setelah lulus, si mbak kembali ke desa Sambi ini.
Adanya mbak cantik di desa ini ternyata cukup meresahkan. Meresahkan orangtuanya... karena sdh umur 25 belum kawin juga. Yaaaa gimana... untuk anak2 milenial, umur 25 kan belum apa2 ya. Tp menjadi millenials di desa Sambi ternyata berat, cyin. Si mbak ini sdh "dipinang" beberapa laki-laki. Yg dia tolak mentah2 krn hatinya sdh tertambat pada kangmas Rio. Dijodohin sama siapa2 juga menolak, maunya Rio semata. Ohohoho....
Bapaknya kalau ga salah pemuka desa. Jadi kehadiran Rio ini segera jadi sorotan. Nambah2 pusing aja nih... setelah pusing anaknya udah umur 25 blm kawin... ada lagi nih laki2 namanya Rio asyik2 ngapel. Rencanamu apa, le? Haha.... beneran akhirnya Rio "ditantang" sama (calon) mertuanya. "Kamu mau apa sama anakku?"
Rio... karena sdh cinta dan juga merasa bertanggungjawab... akhirnya mengajukan pinangan. Begitulah kisahnya hingga satu milenial melepas masa lajang di desa Sambi....
Gue sih nggak pro atau kontra soal pernikahan Rio. Ya kalau sudah jodoh, nggak akan ke mana juga.... yg gue lihat unik adalah bagaimana lingkungan bisa membuatmu melakukan sesuatu. Umur 25, di desa, belum kawin... jadi bahan gunjingan di desa. Bisa saja krn nggak tahan jadi gunjingan, seseorang akan melakukan hal yang di luar rencana. Termasuk mendadak kawin.
Hoaaaah... apa kabar ya kalau ada janda bercerai umur 30?
Cerita soal living single in the village ini kebawa ke kantor, dan terkuaklah cerita2 lain yang lebih "seru". Ada seorang tante yg lalu dilamar sama kelapa desa setelah setahun ditinggal meninggal suaminya. Ada yang didatengin beberapa laki-laki yg antri... setelah kembali ke desa dgn status janda. Pilihannya banyak, dari jawara sampai kepala desa. Dia pilih... pensiunan PNS. Krn PNS itu statusnya paling tinggi di desa.
Jreng.... semakin gue bersyukur tinggal di BSD. Yg mana orang2 nggak peduli (atau peduli tp nggak berani ngomong) kalau gue ini single, punya anak satu. Mereka nggak ngurus kenapa gue nggak kawin lagi. Mereka nggak tanya2 kapan gue berencana menikah lagi... dll...dst... dsb.
Semua aman. Hidup di kota memang menyenangkan.
Wednesday, September 20, 2017
Where....
Tadi rasanya semangat buka blog... mau nulis ttg rame2 politik. Hahaha... tumben amat ya. Tp lalu malah tertahan baca sesuatu dan akhirnya bikin mood nulis berlalu... jreng...
Ya sudah, nanti aja nulis lagi kalau sdh pengen nulis. Bye now.
Ya sudah, nanti aja nulis lagi kalau sdh pengen nulis. Bye now.
Thursday, September 07, 2017
Sungguh
Dalam Doaku
(by Sapardi Joko Damono)
Dalam doaku subuh ini
kau menjelma langit
yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara
yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin
yang mendesau entah dari mana
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang
lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.
Friday, August 25, 2017
Current Situation
I feel like having a hollow in me. Try to fill the gap with anything crossing my mind.... it didn't work. At least not now.
I feel empty.
I feel empty.
Tuesday, August 22, 2017
Nyeri di Ulu Hati
Ada rasa nyeri di ulu hati, ketika melihat foto-foto itu, kamu. Dengan mereka. Dan aku tidak di sana, tentu saja. Rasa nyeri itu terasa menggigit. Kadang samar saja, seperti angin yang keluar dari mesin pendingin ruangan. Tapi seringkali begitu jelas, hingga bulu kudukku berdiri.
Nyeri itu tidak hilang, meski aku sudah berusaha bersenang-senang. Kucoba banyak hal baru, bertemu banyak orang yang selama ini tak kukenal. Kami melakukan banyak hal yang selama ini tak pernah kupikir akan kulakukan (Atau mungkin selama ini aku menunggu. Berharap punya kesempatan melakukannya denganmu. Yang ternyata sia-sia saja ditunggu). Apapun, nyeri itu tidak hilang juga meski aku pikir aku sudah bergembira ria.
Rasa nyeri itu kemudian semakin menjadi, datang dan pergi sesukanya. Karena apa pun yang terlihat, terdengar, terasa... seringkali membawa pikiranku kepadamu. Terlebih ketika aku bersendiri. Juga ketika melewati beberapa tempat yang dulu sering menjadi kesukaan kita. Kita. Kamu dan aku. Kita, yang saat ini, ternyata menimbulkan rasa nyeri di ulu hati.
Aku tahu rasa nyeri ini tidak ada obatnya. Tanpa harus konsultasi dokter, aku berkesimpulan begitu. Rasa nyeri ini hanya akan hilang, seiring dengan perginya bayang-bayangmu. Jadi, mungkin tidak sekarang. Karena aku masih belum bisa melepaskan seluruh ingatan tentang kamu.
Baiklah, aku akan berteman saja dengan rasa nyeri ini. Rasa nyeri di ulu hatiku.
Nyeri itu tidak hilang, meski aku sudah berusaha bersenang-senang. Kucoba banyak hal baru, bertemu banyak orang yang selama ini tak kukenal. Kami melakukan banyak hal yang selama ini tak pernah kupikir akan kulakukan (Atau mungkin selama ini aku menunggu. Berharap punya kesempatan melakukannya denganmu. Yang ternyata sia-sia saja ditunggu). Apapun, nyeri itu tidak hilang juga meski aku pikir aku sudah bergembira ria.
Rasa nyeri itu kemudian semakin menjadi, datang dan pergi sesukanya. Karena apa pun yang terlihat, terdengar, terasa... seringkali membawa pikiranku kepadamu. Terlebih ketika aku bersendiri. Juga ketika melewati beberapa tempat yang dulu sering menjadi kesukaan kita. Kita. Kamu dan aku. Kita, yang saat ini, ternyata menimbulkan rasa nyeri di ulu hati.
Aku tahu rasa nyeri ini tidak ada obatnya. Tanpa harus konsultasi dokter, aku berkesimpulan begitu. Rasa nyeri ini hanya akan hilang, seiring dengan perginya bayang-bayangmu. Jadi, mungkin tidak sekarang. Karena aku masih belum bisa melepaskan seluruh ingatan tentang kamu.
Baiklah, aku akan berteman saja dengan rasa nyeri ini. Rasa nyeri di ulu hatiku.
Saturday, August 12, 2017
Fragments
Stage 1
She has been waiting for a nice short break in between work. Finally found a specific date and started her trip itinerary. She put everything in detail. Not only where to have lunch or dinner but also what to wear on those occasion. Then, view days before the d-day she found out that her partner -whom she would meet during the trip- was cheating on her. She canceled everything.
Stage 21
They've been longing to have a kid since day 1 they tied the knot. 10 years later she finally delivered a baby. Unfortunately, the baby was blind and deaf. And has more fingers than any other baby. They cried a little before planed every best treatment available for the baby.
Stage 33
She is a very beautiful girl, daughter of a director in one big famous company. With her parents wealth, she can have everything she wants, including the best European car to drive to private school. She just earned her diploma in management when she found out that all this time her father, her idol, was cheating on her mother.
Stage 56
Not long after graduated from university, she married to her long time boyfriend, a bright and brilliant accountant. They lived happily with their 2 beautiful kids. Just before they went to their son's graduation ceremony, she found out she had lump in her right breast. At the age of 53, she started her journey to fight against cancer.
Stage 78
...
Stage 102
...
Stage 323
...
...
...
So everyone has their own drama. Everybody has to play their role in this world, whatever it is, whether like it or not. So please do not feel as if you are the most unfortunate person. We all have to endure our own battle.
Thursday, August 10, 2017
Why? How?
Why did you ever come back?
Why did you ever give me hope?
Why did you do that? Why?
How could you?
Update:
I just cancelled my trip for next week. It hurt me more since I planed it in detail. As detail as possible, hoping it would be a memorable one. Yes it is your fault.
Why did you ever give me hope?
Why did you do that? Why?
How could you?
Update:
I just cancelled my trip for next week. It hurt me more since I planed it in detail. As detail as possible, hoping it would be a memorable one. Yes it is your fault.
Tuesday, August 08, 2017
Tentang Perempuan Pintar
Bukaaaaannn... postingan ini bukan tentang gue... hahahaha...
Jadi ternyata sekarang lagi rame soal postingan seorang cowok yg mendamba istri soleha. Cukup soleha saja. Nggak perlu pintar. Bahkan disebut nggak perlu bergelar S ini S itu....
Ya terserah dia sih, mau istri macam apa.
Hanya menurut gue... itu ungkapan rasa minder bin kurang percaya diri berlebihan. Kalau mau lebay lagi... takut banget saingan sama perempuan, mas....
Soal laki2 minder ini memang jadi kompleks. Kalau sdh nggak percaya diri, ya susah lah mau "megang" perempuan. Apalagi yg pinter. Gini ya, perempuan pinter itu akan selalu merasa berada dalam cangkir. Artinya, dia selalu merasa kesempitan... pengen selalu pindah ke mangkok (biar agak lega). Ih... kenapa jadinya malah inget ke gue yg gendut? Rese. Huh....
Tapi serius. Gue percaya perempuan yg isi kepalanya jalan terus nggak akan nerimo aja dalam sebuah kenyamanan. Di kantor, misalnya. Kalau dia merasa ruang geraknya sudah terbatas... dia akan cari tempat main baru. Bbrp perempuan pintar yg gue kenal bahkan mengorbankan kenyamanan (misalnya gaji besar) untuk pindah ke tempat lain karena di tempat lain itu dia bisa berkembang lebih cepat dari sisi intelektual. Ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar nggak terasa ada bedanya lagi. Yg penting hati senang dan otak berjalan. Setelah gue tanya2, kenapa kok mau aja meninggalkan fasilitas yg mapan utk hal lain, rata2 jawabnya sama: krn semua hal yg berbentuk tantangan lebih asyik daripada yg woles2. Dan dengan modal kepintaran... duit sih jadi gampang ditemukan. Katanya sih begitu....
Balik lagi ke pernyataan mas2 di atas tadi... kayaknya sih nggak hanya soal kepintaran yg bisa bikin minder. Sering juga bentuk fisik. Yg sering gue denger... karena ceweknya lebih tinggi, nggak boleh pakai high heels (krn doi akan makin menjulang dan masnya akan makin tenggelam).
Hmmm....
Pada akhirnya, laki2 minder akan tidak menarik di mata perempuan. Apalagi kalau mindernya karena perempuan lebih pintar. Terhadap pernyataan seperti itu, perempuan juga bisa bales: yang pinter2 juga ga bakal mau sama situ. Bhay.
Jadi ternyata sekarang lagi rame soal postingan seorang cowok yg mendamba istri soleha. Cukup soleha saja. Nggak perlu pintar. Bahkan disebut nggak perlu bergelar S ini S itu....
Ya terserah dia sih, mau istri macam apa.
Hanya menurut gue... itu ungkapan rasa minder bin kurang percaya diri berlebihan. Kalau mau lebay lagi... takut banget saingan sama perempuan, mas....
Soal laki2 minder ini memang jadi kompleks. Kalau sdh nggak percaya diri, ya susah lah mau "megang" perempuan. Apalagi yg pinter. Gini ya, perempuan pinter itu akan selalu merasa berada dalam cangkir. Artinya, dia selalu merasa kesempitan... pengen selalu pindah ke mangkok (biar agak lega). Ih... kenapa jadinya malah inget ke gue yg gendut? Rese. Huh....
Tapi serius. Gue percaya perempuan yg isi kepalanya jalan terus nggak akan nerimo aja dalam sebuah kenyamanan. Di kantor, misalnya. Kalau dia merasa ruang geraknya sudah terbatas... dia akan cari tempat main baru. Bbrp perempuan pintar yg gue kenal bahkan mengorbankan kenyamanan (misalnya gaji besar) untuk pindah ke tempat lain karena di tempat lain itu dia bisa berkembang lebih cepat dari sisi intelektual. Ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar nggak terasa ada bedanya lagi. Yg penting hati senang dan otak berjalan. Setelah gue tanya2, kenapa kok mau aja meninggalkan fasilitas yg mapan utk hal lain, rata2 jawabnya sama: krn semua hal yg berbentuk tantangan lebih asyik daripada yg woles2. Dan dengan modal kepintaran... duit sih jadi gampang ditemukan. Katanya sih begitu....
Balik lagi ke pernyataan mas2 di atas tadi... kayaknya sih nggak hanya soal kepintaran yg bisa bikin minder. Sering juga bentuk fisik. Yg sering gue denger... karena ceweknya lebih tinggi, nggak boleh pakai high heels (krn doi akan makin menjulang dan masnya akan makin tenggelam).
Hmmm....
Pada akhirnya, laki2 minder akan tidak menarik di mata perempuan. Apalagi kalau mindernya karena perempuan lebih pintar. Terhadap pernyataan seperti itu, perempuan juga bisa bales: yang pinter2 juga ga bakal mau sama situ. Bhay.
Monday, July 31, 2017
Today's Mood
Sampai Jadi Debu
Badai Tuan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku
Ku aman ada bersamamu
Selamanya
Sampai kita tua
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu
Badai Puan telah berlalu
Salahkah ku menuntut mesra?
Tiap taufan menyerang
Kau di sampingku
Kau aman ada bersamaku
Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
Ku di liang yang satu
Ku di sebelahmu
Banda Neira
Monday, June 05, 2017
Friday, May 26, 2017
Puasa
Selamat datang bulan suci Ramadhan. Alhamdulillah dipertemukan lagi. Terima kasih, ya Allah.
Semoga bulan ini bisa menjadi masa kontemplasi yg panjang. Istirahat sambil berpikir (& berdoa). Mencari jawaban atas semua pertanyaan yg selama ini tersimpan. Semoga lancar. Aamiin.
Selamat puasa, teman2. Damai selalu.
Semoga bulan ini bisa menjadi masa kontemplasi yg panjang. Istirahat sambil berpikir (& berdoa). Mencari jawaban atas semua pertanyaan yg selama ini tersimpan. Semoga lancar. Aamiin.
Selamat puasa, teman2. Damai selalu.
Wednesday, May 24, 2017
Not A Fairy Tale
The first time we met, you hand carried a very big bouquet of roses. Since then, you sent a lot of them everywhere I worked. To 3 places to be punctual. Sometimes you just showed up in the middle of the day, asking me out to have a quick lunch, before you headed back to your place, in another city (or later on, another country).
Several times, you were at my office, without letting me know in advance. It was a very beautiful surprise.
I will never forget the day you made me gasped by showing up on one event held by government institution, when I won something for my writing. You asked me to stand up, so you can see me among the crowd. How lovely.
The long, big and tight hug on my birthday last year was one of the moments I will treasure. It will stay forever in my head, along with other times when you suddenly appeared in front of me. Those moments will warm my heart forever. I never felt to be loved the way you made me feel.
I really wish you will do those surprises again. I wish my cell phone will beep with your message to meet you somewhere for a nice talk over coffee. But I know I can only wish. I guess I should start to learn not to think of you as the prince charming to my cinderella anymore.
Several times, you were at my office, without letting me know in advance. It was a very beautiful surprise.
I will never forget the day you made me gasped by showing up on one event held by government institution, when I won something for my writing. You asked me to stand up, so you can see me among the crowd. How lovely.
The long, big and tight hug on my birthday last year was one of the moments I will treasure. It will stay forever in my head, along with other times when you suddenly appeared in front of me. Those moments will warm my heart forever. I never felt to be loved the way you made me feel.
I really wish you will do those surprises again. I wish my cell phone will beep with your message to meet you somewhere for a nice talk over coffee. But I know I can only wish. I guess I should start to learn not to think of you as the prince charming to my cinderella anymore.
Tuesday, May 23, 2017
Semua akan Indah pada WaktuNya
....
Waktu takkan pernah mengulang
Dan rahasia kan menyapa
Tanpa salah
Di hari yang ditentukan
Dilahirkan
Ditemukan
Dan dipisahkan....
(Semesta - Maliq & d'Essentials)
Waktu takkan pernah mengulang
Dan rahasia kan menyapa
Tanpa salah
Di hari yang ditentukan
Dilahirkan
Ditemukan
Dan dipisahkan....
(Semesta - Maliq & d'Essentials)
Monday, May 22, 2017
Merindu
Adakah yang bisa mengukur rindu?
Sedalam apa?
Sepanjang apa?
Tidak ada yang bisa menakarnya
Mungkin juga tidak perlu direka-reka
Jumpai saja
Karena rindu hanya bisa hilang
Ketika bertemu.
Sedalam apa?
Sepanjang apa?
Tidak ada yang bisa menakarnya
Mungkin juga tidak perlu direka-reka
Jumpai saja
Karena rindu hanya bisa hilang
Ketika bertemu.
Wednesday, May 17, 2017
Ternyata....
Pernah nggak, merasa sudah melakukan sesuatu, sudah menyelesaikannya... ternyata belum? Rasanya konyol. Gue kemarin merasa begitu.
Setelah hampir 13 tahun berpisah, dan secara legal 12 tahun bercerai... gue pikir gue sudah berdamai dgn keadaan. Ya... maksudnya... gue pikir gue sudah bisa menerima apalah konsekuensi dari perceraian itu. Apa pun. Termasuk menghadapi orang2 yg nggak sepaham, teman2 yg kaget, atau lingkungan yg kepo. Dan yg utama tentu menerima kalau bapaknya anak gue memang sdh selayaknya dicoret dari daftar hadir.
Gue pikir gue sudah kelar dalam urusan itu.
Ternyata belum lho. Dan mungkin memang nggak akan bisa.
Sekian lama, kami hanya ketemu setahun sekali di acara Idul Fitri. Kalau Aria ultah, dia akan langsung telepon anaknya. Kalau Aria nggak cerita, ya gue nggak tahu. Kado... Aria sdh nggak mengharap. Kunjungan? Halah... sudah lupa kayaknya anak gue dgn kunjungan2 bapaknya. Sama seperti gue sudah melupakan kewajiban dia soal tunjangan anak yg nggak pernah dipenuhi. Uang sekolah yg dulu pernah dijanjikan (sampai setinggi apa pun), nggak hadir2 juga hahahaha....
Lalu tiba2 bbrp hari lalu dia kirim uang. Jumlahnya nggak banyak (apalagi dibanding "utang" kewajiban dia selama ini). Dan itu nggak penting buat gue. Yg ternyata penting, kiriman itu mengejutkan (selain perlu disyukuri). Reaksi Aria pun lucu sekali. Dia senang banget waktu gue bilang ada kiriman uang. Meskipun seperti biasa... dia nggak terlalu merasa uang itu penting banget dalam hidupnya... jd dia seneng aja. Tp nggak lalu minta atau gimana2. Gue suruh dia sms bapaknya, bilang terima kasih. Dan kata Aria, "Ayah janji mau kirim lagi."
Alhamdulillah.
Mungkin gara2 kiriman itu, gue jadi kepikiran lagi sama bapaknya anak gue. Bukan mikir yg gimana2 sih. Cinta? Sdh habis. Nggak pengen balik juga lah. Entah apa yg gue pikir ya... sampai kemarin, di jalan pulang dari kantor... radio tiba2 muter lagu jadul. And that is when the sweet memories kicked in. Gue tiba2 mewek. Nangis sejadi2nya. Sampai tersedu2 kyk waktu patah hati dulu. Halaaaahhh... kenapa ini....
Nggak tahu ada apa ya? Tiba2 nangis aja. Kayaknya gue nggak pernah nangis sampai segitunya.
Setelahnya gue baru mikir... jangan2 ada unfinished business.... Apa iya?
Hmmm....
Nggak tahu apa. Nggak tahu juga harus benerinnya dari mana. Ya ampun... setelah sekian lama... harus beres2 lagi. Artinya kan harus buka2 "kotak ajaib" lagi. Kebayang lelah hatiku.... Wedew. Pelik amat sih. Tapi gimana dong? Apa dibiarin aja ya?
Embuh wis.
Setelah hampir 13 tahun berpisah, dan secara legal 12 tahun bercerai... gue pikir gue sudah berdamai dgn keadaan. Ya... maksudnya... gue pikir gue sudah bisa menerima apalah konsekuensi dari perceraian itu. Apa pun. Termasuk menghadapi orang2 yg nggak sepaham, teman2 yg kaget, atau lingkungan yg kepo. Dan yg utama tentu menerima kalau bapaknya anak gue memang sdh selayaknya dicoret dari daftar hadir.
Gue pikir gue sudah kelar dalam urusan itu.
Ternyata belum lho. Dan mungkin memang nggak akan bisa.
Sekian lama, kami hanya ketemu setahun sekali di acara Idul Fitri. Kalau Aria ultah, dia akan langsung telepon anaknya. Kalau Aria nggak cerita, ya gue nggak tahu. Kado... Aria sdh nggak mengharap. Kunjungan? Halah... sudah lupa kayaknya anak gue dgn kunjungan2 bapaknya. Sama seperti gue sudah melupakan kewajiban dia soal tunjangan anak yg nggak pernah dipenuhi. Uang sekolah yg dulu pernah dijanjikan (sampai setinggi apa pun), nggak hadir2 juga hahahaha....
Lalu tiba2 bbrp hari lalu dia kirim uang. Jumlahnya nggak banyak (apalagi dibanding "utang" kewajiban dia selama ini). Dan itu nggak penting buat gue. Yg ternyata penting, kiriman itu mengejutkan (selain perlu disyukuri). Reaksi Aria pun lucu sekali. Dia senang banget waktu gue bilang ada kiriman uang. Meskipun seperti biasa... dia nggak terlalu merasa uang itu penting banget dalam hidupnya... jd dia seneng aja. Tp nggak lalu minta atau gimana2. Gue suruh dia sms bapaknya, bilang terima kasih. Dan kata Aria, "Ayah janji mau kirim lagi."
Alhamdulillah.
Mungkin gara2 kiriman itu, gue jadi kepikiran lagi sama bapaknya anak gue. Bukan mikir yg gimana2 sih. Cinta? Sdh habis. Nggak pengen balik juga lah. Entah apa yg gue pikir ya... sampai kemarin, di jalan pulang dari kantor... radio tiba2 muter lagu jadul. And that is when the sweet memories kicked in. Gue tiba2 mewek. Nangis sejadi2nya. Sampai tersedu2 kyk waktu patah hati dulu. Halaaaahhh... kenapa ini....
Nggak tahu ada apa ya? Tiba2 nangis aja. Kayaknya gue nggak pernah nangis sampai segitunya.
Setelahnya gue baru mikir... jangan2 ada unfinished business.... Apa iya?
Hmmm....
Nggak tahu apa. Nggak tahu juga harus benerinnya dari mana. Ya ampun... setelah sekian lama... harus beres2 lagi. Artinya kan harus buka2 "kotak ajaib" lagi. Kebayang lelah hatiku.... Wedew. Pelik amat sih. Tapi gimana dong? Apa dibiarin aja ya?
Embuh wis.
Friday, May 12, 2017
Mind You?
Apa salahnya jadi single mom?
Oke... oke... apa salahnya jadi janda (yg bercerai)?
Pertanyaan ini sudah lamaaaa banget nggak pernah hadir. Tp gara2 kemarin ketemu teman2 nyokap, mau nggak mau jadi hadir kembali. Apa salahnya?
Gara2nya setiap salaman, dgn siapa pun... apakah tante atau bude atau om atau pakde... teman2 nyokap yg sdh lamaaaa sekali nggak ketemu.... pertanyaan berikut adalah, "Masih betah single?" Atau ada yg lebih nekad lagi dengan langsung cap cus 'jualan' sepupunya, anaknya sahabatnya, atau tetangganya. Yg gue ga tahu di belahan dunia mana... yg mungkin kenalan aja belum tentu mau (huh. Kibas rambut. Pongah dan congkak :D).
Pertanyaan dan selorohan itu jadi bikin gue tanya2 lagi: apa salahnya jadi janda?
Setelah hampir 13 tahun sendirian (ada Aria ding), rasanya kok kosakata "menikah lagi" semakin jauh dan jauh saja. Bbrp tahun lalu memang sempat pengen punya pasangan lagi. Pacaran lagi. Melawati masa berantem-putus-sambung-putus lagi. Seru juga...
Tapi lalu, setelah sekian lama nggak jadi2 juga... mulai kepikiran: memang perlu ya menikah lagi? Perlu apa sebenarnya? Mau apa?
Kok ya kebetulan bbrp bulan terakhir ini dengar2 soal teman2 dekat yg bermasalah dgn perkawinannya. Kalau masih saling cinta, ada aja masalah lain seperti finansial atau urusan anak, yg bikin hubungan mereka goncang. Skala goncangnya dari yg ringan sampai berat. Tapi tetap aja goncang. Malesin.
Kalau dengar2 yg begitu, alangkah nikmatnya hidup gue (berdua anak gue). Apa2 ya dipikir sendiri. Mau beli sepatu, tinggal hitung saldo ATM. Masih cukup? Beli. Mau bangun siang di tanggal merah, nggak ada yg melarang. Bangun jam 8. Yoga jam 9. Mandi jam 10. Jam 11 tidur lagi? Boleh aja. Mau mogok masuk dapur ya terserah aja... hahaha... selama masih ada gofood, artinya Aria masih punya pengasup ransum. Aman dunia gue.
Nah, dengan segala kenikmatan duniawi semacam itu... apa ya masih perlu punya pasangan (lagi)?
Oke... oke... apa salahnya jadi janda (yg bercerai)?
Pertanyaan ini sudah lamaaaa banget nggak pernah hadir. Tp gara2 kemarin ketemu teman2 nyokap, mau nggak mau jadi hadir kembali. Apa salahnya?
Gara2nya setiap salaman, dgn siapa pun... apakah tante atau bude atau om atau pakde... teman2 nyokap yg sdh lamaaaa sekali nggak ketemu.... pertanyaan berikut adalah, "Masih betah single?" Atau ada yg lebih nekad lagi dengan langsung cap cus 'jualan' sepupunya, anaknya sahabatnya, atau tetangganya. Yg gue ga tahu di belahan dunia mana... yg mungkin kenalan aja belum tentu mau (huh. Kibas rambut. Pongah dan congkak :D).
Pertanyaan dan selorohan itu jadi bikin gue tanya2 lagi: apa salahnya jadi janda?
Setelah hampir 13 tahun sendirian (ada Aria ding), rasanya kok kosakata "menikah lagi" semakin jauh dan jauh saja. Bbrp tahun lalu memang sempat pengen punya pasangan lagi. Pacaran lagi. Melawati masa berantem-putus-sambung-putus lagi. Seru juga...
Tapi lalu, setelah sekian lama nggak jadi2 juga... mulai kepikiran: memang perlu ya menikah lagi? Perlu apa sebenarnya? Mau apa?
Kok ya kebetulan bbrp bulan terakhir ini dengar2 soal teman2 dekat yg bermasalah dgn perkawinannya. Kalau masih saling cinta, ada aja masalah lain seperti finansial atau urusan anak, yg bikin hubungan mereka goncang. Skala goncangnya dari yg ringan sampai berat. Tapi tetap aja goncang. Malesin.
Kalau dengar2 yg begitu, alangkah nikmatnya hidup gue (berdua anak gue). Apa2 ya dipikir sendiri. Mau beli sepatu, tinggal hitung saldo ATM. Masih cukup? Beli. Mau bangun siang di tanggal merah, nggak ada yg melarang. Bangun jam 8. Yoga jam 9. Mandi jam 10. Jam 11 tidur lagi? Boleh aja. Mau mogok masuk dapur ya terserah aja... hahaha... selama masih ada gofood, artinya Aria masih punya pengasup ransum. Aman dunia gue.
Nah, dengan segala kenikmatan duniawi semacam itu... apa ya masih perlu punya pasangan (lagi)?
Friday, May 05, 2017
Thursday, May 04, 2017
SE-LA-LU
Selalu ada yg lebih penting. Pekerjaan. Perasaan. Mereka.
Sepertinya aku ngga penting2 amat.
Sepertinya aku ngga penting2 amat.
Monday, April 10, 2017
Why?
Ku ingin cinta hadir untuk selamanya
Bukan hanyalah untuk sementara
Menyapa dan hilang
Terbit tenggelam bagai pelangi
Yang indahnya hanya sesaat
Tuk kulihat dia mewarnai hari
Tetaplah engkau di sini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Untuk cinta sesaat
Mengapa ku tak bisa jadi
Cinta yang tak akan pernah terganti
Cinta yg tak kan terjadi
Lalu mengapa kau masih di sini
Memperpanjang harapan
Tetaplah engkau di sini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Untuk cinta sesaat
Kau bagai kata yg terus melaju
Di luasnya ombak samudera biru
Namun sayangnya kau tak pilih aku
Jadi pelabuhanmu
Tetaplah engkau di sini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Bila tak ingin di sini
Jangan berlalu lalang lagi
Biarkanlah hatiku
Mencari cinta sejati
Wahai cintaku
Wahai cinta sesaat
Pelangi - HIVI
Bukan hanyalah untuk sementara
Menyapa dan hilang
Terbit tenggelam bagai pelangi
Yang indahnya hanya sesaat
Tuk kulihat dia mewarnai hari
Tetaplah engkau di sini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Untuk cinta sesaat
Mengapa ku tak bisa jadi
Cinta yang tak akan pernah terganti
Cinta yg tak kan terjadi
Lalu mengapa kau masih di sini
Memperpanjang harapan
Tetaplah engkau di sini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Untuk cinta sesaat
Kau bagai kata yg terus melaju
Di luasnya ombak samudera biru
Namun sayangnya kau tak pilih aku
Jadi pelabuhanmu
Tetaplah engkau di sini
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku
Jadi tempat persinggahanmu
Bila tak ingin di sini
Jangan berlalu lalang lagi
Biarkanlah hatiku
Mencari cinta sejati
Wahai cintaku
Wahai cinta sesaat
Pelangi - HIVI
Friday, March 17, 2017
Missing You
I may not be a missing piece looking for others to take me rolling. But it doesn't mean I don't need you in my life. I need you to roll closer, balancing my step, so together we can pass the crookedest path. If any.
Thursday, March 16, 2017
The Missing Piece Meets the Big O
Ceritanya ada sebuah segitiga yg pengen sekali menggelinding. Dia mencari teman yg kira2 perlu kepingan segitiga, supaya bisa menyatu, jadi bola sempurna, lalu mereka menggelinding bersama. Setelah gagal beberapa kali, ada satu bola yg salah satu sisinya koyak. Pas dengan bentuk segitiga. Klop. Menyatulah mereka, lalu menggelindinglah bersama.
Dalam perjalanan, si segitiga ternyata berkembang. Ia membesar, hingga celah di bola menjadi sesak. Akhirnya mereka berpisah. Si segitiga sedih sekali. Ia putus asa, sudut2nya membuat dia merasa nggak bisa menggelinding. Dia kangen bola.
Tapi lalu, dia mencoba menyemangati diri. Ia coba berguling. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Bisa. Tapi tentu tidak mulus karena bentuknya segitiga. Dia nggak putus asa. Terus berguling... berguling... berguling... sampai akhirnya tubuhnya berubah, sudut2nya jadi tumpul... lama2 membulat. Dia bisa lancar menggelinding. Dalam perjalanan, dia bertemu bola2 lain. Dan menggelindinglah mereka bersama. Tapi, ketika tiba di persimpangan, kadang ada bola yang memisahkan diri, ada juga yang tetap di sampingnya.
Itu cerita yg nulis Shel Silverstein. Jenius, karena itulah yg terjadi dalam kehidupan. Sometimes we think we cannot function because we need other people to help us. And when we found someone, we stick to him or her, thingking about not moving nowhere had we weren't with him or her. Do we really?
Kita masing2 bertumbuh. Ketika menyatu dengan orang lain, seharusnyalah kita tetap bertumbuh menjadi lebih baik. Ketika orang lain tidak bisa menerima perkembangan kita, ya... mungkin sudah saatnya kita tidak bersama dia lagi. Tugasnya sudah selesai. Silakan melanjutkan perjalanan sendiri2. Dalam perjalanan, pasti kita akan menemukan orang2 lain lagi. Yg akan bersama kita dalam suatu waktu. Untuk kemudian mencari jalan sendiri2.
Itu pula kayaknya yg terjadi dalam dunia pekerjaan sekarang ini. Media cetak sudah seperti barang mewah. Mahal sekali, hanya sedikit orang yg mampu memiliki dan mengerjakannya. Lalu bagaimana? Harus apa? Bergerak. Bertumbuh. Berkembang. Harus terus melangkah, jangan berhenti. Kalau memang hrs berpindah ke digital. Kenapa tidak? Awalnya mungkin sulit beradaptasi dengan trend media sekarang yang sangat cepat. Tapi, perjalanan akan membuat kita menemukan fleksibilitas.
So, let's go.
Dalam perjalanan, si segitiga ternyata berkembang. Ia membesar, hingga celah di bola menjadi sesak. Akhirnya mereka berpisah. Si segitiga sedih sekali. Ia putus asa, sudut2nya membuat dia merasa nggak bisa menggelinding. Dia kangen bola.
Tapi lalu, dia mencoba menyemangati diri. Ia coba berguling. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Bisa. Tapi tentu tidak mulus karena bentuknya segitiga. Dia nggak putus asa. Terus berguling... berguling... berguling... sampai akhirnya tubuhnya berubah, sudut2nya jadi tumpul... lama2 membulat. Dia bisa lancar menggelinding. Dalam perjalanan, dia bertemu bola2 lain. Dan menggelindinglah mereka bersama. Tapi, ketika tiba di persimpangan, kadang ada bola yang memisahkan diri, ada juga yang tetap di sampingnya.
Itu cerita yg nulis Shel Silverstein. Jenius, karena itulah yg terjadi dalam kehidupan. Sometimes we think we cannot function because we need other people to help us. And when we found someone, we stick to him or her, thingking about not moving nowhere had we weren't with him or her. Do we really?
Kita masing2 bertumbuh. Ketika menyatu dengan orang lain, seharusnyalah kita tetap bertumbuh menjadi lebih baik. Ketika orang lain tidak bisa menerima perkembangan kita, ya... mungkin sudah saatnya kita tidak bersama dia lagi. Tugasnya sudah selesai. Silakan melanjutkan perjalanan sendiri2. Dalam perjalanan, pasti kita akan menemukan orang2 lain lagi. Yg akan bersama kita dalam suatu waktu. Untuk kemudian mencari jalan sendiri2.
Itu pula kayaknya yg terjadi dalam dunia pekerjaan sekarang ini. Media cetak sudah seperti barang mewah. Mahal sekali, hanya sedikit orang yg mampu memiliki dan mengerjakannya. Lalu bagaimana? Harus apa? Bergerak. Bertumbuh. Berkembang. Harus terus melangkah, jangan berhenti. Kalau memang hrs berpindah ke digital. Kenapa tidak? Awalnya mungkin sulit beradaptasi dengan trend media sekarang yang sangat cepat. Tapi, perjalanan akan membuat kita menemukan fleksibilitas.
So, let's go.
Friday, March 10, 2017
Next: Contemplating Session
Sesi berpikir2 lama kembali terjadi di tengah minggu. Dengan semakin banyak pertanyaan dan kegalauan. Hahahaha....
Banyak pemicunya. Salah satunya grup wa ibu2 single. Anggota grup itu macam2 banget kisahnya. Dari yg lucu sampai yg pilu... semua ada. Dan semua dituturkan oleh pelaku atau korban lho. Jadi itu kisah nyata.
Entah mulainya gimana, salah satu topik kemarin adalah "suami selingkuh." Macem2 cerita langsung hadir. Gue yg di kantor kyk kepontalan "ngejar" chatting. Gimana nggak, ditinggal meeting 30 menit, sudah ada 762 notifikasi. Edun.
Macam2 cerita perselingkuhan itu (aduh mak sumpah gue parno bacanya), menimbulkan pertanyaan: kenapa mereka selingkuh. Apa ada yang salah dengan si perempuan? Perempuan yg istri atau yg selingkuhan? Tapi kenapa? Dan tentunya nggak ada yang terjawab dengan jelas. Malah membawa gue ke masa silam, jadi tanya lagi... kok dulu suami gue selingkuh kenapa? Nggak terjawab juga, malah diikuti kesadaran kalau ternyata tidak semua istri mengenal suaminya dengan baik.
Masih kepikiran sama topik wag itu, tiba2 malamnya terjadi percakapan wa dgn OmD. Tp sialnya ngomong di wa kan nggak kelihatan wajah, nggak ada ekspresi, nggak jelas apakah penjelasan gue dibaca atau nggak. Menurut gue sih akhirnya nggak gitu menarik karena terlihat perbedaan pandangan yang jelas. Sampai dalam perjalanan pulang gue mikir keras banget: kami ini sebenarnya mau apa?
Terjadi selisih paham soal perempuan bekerja. OmD masih berpikiran bahwa bekerja itu ya secukupnya saja. Sementara gue yg suka seru sendiri ini kadang2 perlu keriaan. Waktu ada undangan meeting jam 22.00, masih tergoda utk ikut karena materi meeting terdengar seru. Buat OmD, meeting jam 22.00 nggak masuk akal. Tanpa pernah mengalami langsung situasi runyam traffic ibukota, jadwal padat merayap pejabat, juga meeting back to back non stop yg bikin kesepatan meeting tengah malam.... buat OmD yg nggak umum itu jadi nggak layak. Sementara buat gue? Laaah... meeting sampai jam 1 pagi juga pernah kok. Dan nggak tiap hari sih. Paling pol 2 tahun sekali... jadi... it was not a big deal at all. Lha kalau memang kerjanya begitu ya gimana? Dan gue suka2 aja.
Meskipun kami sdh lama sekali sama2, tapi nggak pernah ada masa kami bareng. Dia nggak tahu apa yg gue alami on site. Dia nggak lihat gimana gue dari redaktur kroco trus bisa jadi spt skrg. Dia nggak lihat langsung gimana gue merintis karier gue sambil gonjang ganjing ngurus rumah. Dia nggak paham dunia gue karena selama ini toh dia juga nggak pernah ada di situ. Buat gue, nggak ada kamus: mengorbankan karier untuk anak. Atau menelantarkan anak demi karier. No. I have to have both. Dan yg penting, gue toh nggak menelantarkan anak gue. Anak gue itu demikiran gembira dan ceria, sungguh jauh dari gambaran anak terlantar. Nggak mungkin? Kata siapa?
Hal yg sama... gue jg nggak tahu apa yg dia alami. Day to day. Gue nggak lihat bagaimana lingkungannya bisa membentuk pola pikir dia sekarang. Gue nggak paham dasar penilaian dia, karena gue juga nggak pernah ada di dunia dia.
Yg kami punya selama ini adalah saling tukar cerita. Sudah, cuma itu. Kalau ceritanya ngawur atau nggak sesuai kenyataan, yg tahu hanya yg bercerita. Pikir sendirilah jadinya.
Do I love him? Of course I do. Tapi apakah cinta itu bisa membuat gue tenang2 saja seandainya gue harus ikut dia? Apakah cinta itu cukup besar untuk gue bisa berkompromi pada hal2 yang tidak gue sukai? Apakah cinta itu nggak terbatas, sampai gue bisa mengikuti cara hidupnya tanpa frustrasi?
Bagaimana juga dengan dia? Gue nggak tahu.
Selama ini yg terjadi dengan kami adalah LDR tak kunjung henti. Pertemuan2 cuma sebentar, nggak mungkin diisi berantem. Berantem jarak jauh ya udah gitu aja. Nggak bikin kita makin saling kenal dgn baik. Apakah semua bekal ini cukup untuk melangkah lebih jauh?
Gue nggak tahu.
Yg gue tahu, ada rasa yg gue nggak nyaman. Ada sesuatu yg mengatakan ada hal yg nggak bener. Dan tentunya gue nggak boleh diam saja. Kali ini gue akan mengikuti kata hati gue.
Banyak pemicunya. Salah satunya grup wa ibu2 single. Anggota grup itu macam2 banget kisahnya. Dari yg lucu sampai yg pilu... semua ada. Dan semua dituturkan oleh pelaku atau korban lho. Jadi itu kisah nyata.
Entah mulainya gimana, salah satu topik kemarin adalah "suami selingkuh." Macem2 cerita langsung hadir. Gue yg di kantor kyk kepontalan "ngejar" chatting. Gimana nggak, ditinggal meeting 30 menit, sudah ada 762 notifikasi. Edun.
Macam2 cerita perselingkuhan itu (aduh mak sumpah gue parno bacanya), menimbulkan pertanyaan: kenapa mereka selingkuh. Apa ada yang salah dengan si perempuan? Perempuan yg istri atau yg selingkuhan? Tapi kenapa? Dan tentunya nggak ada yang terjawab dengan jelas. Malah membawa gue ke masa silam, jadi tanya lagi... kok dulu suami gue selingkuh kenapa? Nggak terjawab juga, malah diikuti kesadaran kalau ternyata tidak semua istri mengenal suaminya dengan baik.
Masih kepikiran sama topik wag itu, tiba2 malamnya terjadi percakapan wa dgn OmD. Tp sialnya ngomong di wa kan nggak kelihatan wajah, nggak ada ekspresi, nggak jelas apakah penjelasan gue dibaca atau nggak. Menurut gue sih akhirnya nggak gitu menarik karena terlihat perbedaan pandangan yang jelas. Sampai dalam perjalanan pulang gue mikir keras banget: kami ini sebenarnya mau apa?
Terjadi selisih paham soal perempuan bekerja. OmD masih berpikiran bahwa bekerja itu ya secukupnya saja. Sementara gue yg suka seru sendiri ini kadang2 perlu keriaan. Waktu ada undangan meeting jam 22.00, masih tergoda utk ikut karena materi meeting terdengar seru. Buat OmD, meeting jam 22.00 nggak masuk akal. Tanpa pernah mengalami langsung situasi runyam traffic ibukota, jadwal padat merayap pejabat, juga meeting back to back non stop yg bikin kesepatan meeting tengah malam.... buat OmD yg nggak umum itu jadi nggak layak. Sementara buat gue? Laaah... meeting sampai jam 1 pagi juga pernah kok. Dan nggak tiap hari sih. Paling pol 2 tahun sekali... jadi... it was not a big deal at all. Lha kalau memang kerjanya begitu ya gimana? Dan gue suka2 aja.
Meskipun kami sdh lama sekali sama2, tapi nggak pernah ada masa kami bareng. Dia nggak tahu apa yg gue alami on site. Dia nggak lihat gimana gue dari redaktur kroco trus bisa jadi spt skrg. Dia nggak lihat langsung gimana gue merintis karier gue sambil gonjang ganjing ngurus rumah. Dia nggak paham dunia gue karena selama ini toh dia juga nggak pernah ada di situ. Buat gue, nggak ada kamus: mengorbankan karier untuk anak. Atau menelantarkan anak demi karier. No. I have to have both. Dan yg penting, gue toh nggak menelantarkan anak gue. Anak gue itu demikiran gembira dan ceria, sungguh jauh dari gambaran anak terlantar. Nggak mungkin? Kata siapa?
Hal yg sama... gue jg nggak tahu apa yg dia alami. Day to day. Gue nggak lihat bagaimana lingkungannya bisa membentuk pola pikir dia sekarang. Gue nggak paham dasar penilaian dia, karena gue juga nggak pernah ada di dunia dia.
Yg kami punya selama ini adalah saling tukar cerita. Sudah, cuma itu. Kalau ceritanya ngawur atau nggak sesuai kenyataan, yg tahu hanya yg bercerita. Pikir sendirilah jadinya.
Do I love him? Of course I do. Tapi apakah cinta itu bisa membuat gue tenang2 saja seandainya gue harus ikut dia? Apakah cinta itu cukup besar untuk gue bisa berkompromi pada hal2 yang tidak gue sukai? Apakah cinta itu nggak terbatas, sampai gue bisa mengikuti cara hidupnya tanpa frustrasi?
Bagaimana juga dengan dia? Gue nggak tahu.
Selama ini yg terjadi dengan kami adalah LDR tak kunjung henti. Pertemuan2 cuma sebentar, nggak mungkin diisi berantem. Berantem jarak jauh ya udah gitu aja. Nggak bikin kita makin saling kenal dgn baik. Apakah semua bekal ini cukup untuk melangkah lebih jauh?
Gue nggak tahu.
Yg gue tahu, ada rasa yg gue nggak nyaman. Ada sesuatu yg mengatakan ada hal yg nggak bener. Dan tentunya gue nggak boleh diam saja. Kali ini gue akan mengikuti kata hati gue.
Subscribe to:
Posts (Atom)