Friday, July 19, 2019

On Parenting

Being parents, you need to be prepared. I warn you. You know why? I give you example. I was so surprised when my son, out of the blue asked me, “Mom, what if I am bisexual?”

He was 13 by then. In his early teenager life. 

Oh yes, this is not his first surprising questions. As a boy who is growing up in modern world, he is exposed to so many things. So there was time, he was six, he already asked about the function of  condom after he found one in my drawer. Can I explain? Sure, with shacking hands that I covered very well.

I remembered I answered by explaining that condom is only for a man. “I am a man,” he said. “I mean, for adult,” was my closure. He seemed a bit confuse, but he didn’t ask anything further. 

That is the moment I assure myself to be well prepared about any “cute” questions he may ask along the way. And as his parent, I have to have a ready weapon in hand, whether I am ready or not to answer. So I read all the things regarding boys, kids, teenagers. Anything they might be interesting in suddenly matters to me. 

Why do I feel I need to be prepared? Not only because I want him to get the best answer, but also because I need him to know that even I am his parent, I can be his best friend too. Best friend he can count on, to whom he can go to seek any answer for any question, or later for any problem he may encounter. I may not always give him best solution, but I need him to know that I will always be there. 

So when he came up with his bisexual question, I thought I was ready with my answer. I read somewhere about the key to discuss sexual orientation, in a religious newsletter. But then something crossed my mind, will it be okay if  I use that answer? The explanation I read was merely about growing up, the pain any kids need to go through, the “right way” to be a girl or a boy, and something like that. Things which base on common belief that pink is the color for girl while blue is only suitable for boy.  Will that be okay for my son? I think I need to find the right word. Not only because I want him to understand about the sexual orientation well, but also because I do not want him to feel rejected, if, only if he is indeed bisexual like he said he is. 

And right there and then, I suddenly realized that to be prepared being a parent did not only mean you have to be ready with things related to house you can call a home, the meal, the tuition, and health insurance for your kids. As a matter of fact, become a parent, you have to be prepared to accept your children as they are. And still love them as they truly are. 


(This is the piece I wrote for my smart living writing class today)

Tuesday, July 16, 2019

Can You Imagine?

Coba khayalkan sejenak
Sepuluh tahun nanti
Hidupmu

Coba bayangkan sejenak
Misalkan ada aku
Yang menemani
Hari demi hari yang tak terhitung

Misalkan itu aku yang terakhir untukmu

Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku
Di aku
Dan kamu

Pastikan kau melihat aku
Saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi

Misalkan semua terjadi
Meski belum terjadi
Sekarang kita renungkan sejenak
Cara agar semua bisa terjadi
Walau kutahu tak semudah itu

Tapi coba sekali lagi bayangkan aku



(Himalaya - Maliq and d'Essentials)


Wednesday, July 10, 2019

Big Bear Hug

Pagi ini membaca cerita seorang teman yg punya sertifikat pedagogi utk anak2 istimewa, tentang salah satu muridnya, kasih nama Adinda ya.

Adinda umurnya 10 tahun. Berkebutuhan khusus. Nggak tahu judulnya apa, nggak berani tanya juga sih... yg jelas punya kesulitan berkomunikasi. Tapi karena sdh dipegang sm teman gue sejak kecil sekali, Adinda ini skrg mahir berkuda, bisa menyapu, gesit kalau berenang, dan sudah bisa makan sendiri. Hm... baru sadar gue cukup lama mendengar soal Adinda ini. Jadi seperti mengikuti dia belajar makan nasi dan roti (sampai umur 9, semua makanan masih diblender dan harus disuapin).

Dari kisah Adinda juga, gue jadi belajar bersyukur bahwa Aria itu anak yang normal dan tumbuh spt seharusnya menjadi seorang anak yg sehat dan gembira. Alhamdulillah.

Bayangin bhw ada anak yg nggak bisa ngomong ke ibunya bahwa dia lapar, atau haus, atau mau duduk saja nggak mau apa2... sedih bener....

Dan semalam... Adinda ini tantrum. Tnyt sdh bbrp hari dia ribut dan kisruh di rumah. Nggak tahu mau apa... semua barang diberantakin. Majalah disobekin. Mainan dituang di mana2. Acak2 sana sini sampai ibunya lelah benah2. Belum berhenti juga... ke taman... petik bunga, cabut rumput.... Namanya ibu, biasanya punya insting yg nggak bisa ditipu. Dan mengikuti kata hati, ibunya Adinda cuti kerja. Nemenin anaknya. Sesuai ajaran coach, kalau acak2 barang... harus dihukum. Adinda bbrp kali kena time out. Tp lalu hbs itu dielus, dipeluk, diajak ngobrol pelan2. Meskipun nggak bisa jawab... Adinda jadi tenang. Dan, setelahnya mereka berpelukan berdua. Ke mana2 pelukan aja terus.

Si ibu langsung kirim pesan ke coach, "Ternyata Adinda itu rusuh krn kangen saya.... "

Ya Allah... gue langsung pengen peluk2 anak gue....

Thursday, July 04, 2019

Tentang Rumput Tetangga

Semalam ada percakapan menarik antara gue dan adik ipar… yg sampai skrg masih satu2nya hahahaha… OOT…. 

Jadi si adik ini bekerja untuk orang yg gue kenal baik. Hmm… namanya Susi aja ya. Dan gue kenal Susi sudah lama… jd gue lumayan paham kondisi dia, bahkan kenal personal dgn anggota keluarganya, yg ya nggak banyak sih, hanya dia, suami, dan anak. 

Gue kenal anaknya, anggap namanya Citra, anak tunggal, perempuan, sejak anak itu SD. Masih kecil sekali. Spt juga gue dan Aria, Citra sering diajak ibunya ke tempat kerja, atau menyelesaikan pekerjaan. Dan kebetulan ibunya banyak berhubungan dengan seni, klop sama minat Citra. Gue ga terlalu heran waktu Citra lalu masuk kelas menggambar. Lalu suatu saat gue lihat dia menggambar manga yang bagus banget. Bahwa akhirnya dia masuk sekolah seni rupa terbaik di Indonesia, gue merasa sudah seperti seharusnya begitu. 

Sementara Susi juga semakin bersinar… masuk dunia politik dan berpendar luar biasa di sana. Gue pernah diajak utk bergabung dgn tim Susi. Baru coba2 aja rasanya gue ga tertarik. Pernah ikut sampai ketemu bapak (waktu itu) capres. Nunggu dari jam 8 malam, baru bisa jumpa jam 12. Dan waktu ketemu itu kok menurut gue cuma ngomong utara selatan nggak ada tujuan hidup. Hmm… apa krn gue sdh terlanjur ngantuk? Intinya, gue nggak tertarik dgn kondisi itu. Jadwal kerja kok nggak jelas. Ya mungkin duitnya banyak… it is just not for me.

Kemarin bahasan masuk ke kondisi finansial Susi yang semakin membaik sejak terlibat dalam politik. Lalu krn Jokowi menang lagi, Susi pun “menang” lagi. 

“Wis mulyo, Mercy ganti anyar… byar…,” kata adik ipar gue. 

Weleh… sementara gue ganti si kentang dgn yg mudaan aja seneng bukan main, gimana rasanya ganti Mercy? 

Tapiiiii… lalu terbukalah cerita lbh lengkap… . 

Jadi bbrp tahun terakhir, Susi bekerja keras atau dituntut bekerja lebih keras, yg ternyata berimbas pd anaknya. Mendampingi remaja tumbuh dewasa memang nggak mudah. Dan dgn kesibukan yg segudang, semakin sulit lagi bagi Susi utk pegang anaknya. 

Lalu anak ini pacaran dgn orang asing. Dan pergi ke negara pacarnya. Aman? Sampai sini tampaknya ya. 

Masalah baru ada ketika Citra putus dari pacarnya. Dia patah hati. Berkepanjangan. Sampai nyaris depresi. 

Dan… Citra minggat. 

Susi tentu panik. Mau cari ke mana? Trus mau nyari juga gimana caranya, sementara klien sedang rusuh2nya. Suami berusaha juga. Maksimal. Mengerahkan semua sumber daya yg dipunya. Kisruh. Rusuh. 

Alhamdulillah akhirnya ketemu, setelah bbrp lama. Dan skrg Citra hrs rutin konsultasi ke psikiater untuk menenangkan jiwanya. 

Kalau denger yg begini… gue akan settle dgn apa pun yg gue punya skrg.  Anak sehat selamat. Nggak usahlah pakai Mercy kalau hrs melewati acara anak hilang segala macam. Cukup. Sampun. Matur nuwun Gusti Allah. How it is true that most of the time we only see something just as we see an iceberg. We see only the beauty of it afloat, while what we don’t see beneath is something bigger and –might be- crazier and dangerous. 

Maybe the grass in greener in other's house, but trust me, we do not know how much the owner of that house spent for the grass. And it might be too expensive. 

Tuesday, June 11, 2019

High Heels

Have you tried wearing a high heels? It is a lot of fun, I tell you....

Pakai sepatu tinggi itu sangat menantang. Seru. Harus jaga keseimbangan, dan perlu banyak latihan biar nggak nyungsep. Beneran ga bohong. Tapi lihat kan efeknya? Kalau pakai high heels itu, kaki jadi jenjang, seksi, menawan. Ayune ciamik tenan. Pakai sepatu flat memang lebih nyaman. Bisa buat lari-lari. Tapi... kurang ayuuuu... percaya deh. Kadang boleh aja sih nggak peduli sm ayu nggak ayu yg penting sigap cas cuuusss dan ga pegel setelahnya.

Rasanya hidup juga begitu deh. Kalau lebih menantang, akan lebih seru. Yang seru ini biasanya akan berhasil lbh memuaskan. Paling nggak, ada kepuasan bisa melewati tantangan. Ya kan?

Jadi, untuk yang sedang galau, sedang rusuh, sedang sakit... sabar ya. Banyak berdoa, dan terus berusaha. Jangan terlalu khawatir, pasrahkan pada Tuhan. Tidak ada yg abadi di dunia ini. Galau itu, rusuh itu, sakit itu juga tidak akan selamanya. It is going to be over eventually.

Good luck!






Tuesday, June 04, 2019

Doa Pagi

Mudah-mudahan banyak yang melihat lalu menyebarluaskan.



Sunday, June 02, 2019

Stories

I miss to tell you about all of my daily activities. How the traffic was so bearable, even Bekasi-BSD can be done by 45 minutes only. Or about my mom who was cleaning up the house and became everyone's enemy since she tend to throw away anything she dislike. Hmm... first, she dislike something didn't always mean the thing was bad or ugly... and 2nd... it is not her own house, right? So, with a lot of Lebaran hampers coming to the house lately, things has been going funny with her.

I miss to tell you about my son's final grade which was not as bad as he presumes. Some of the scores were so amazing, he even surprise himself. And we celebrated it at the Sushi Matsu, his favourite place.

I miss to greet you good morning, and receiving those eye-openers video links from the kajian you attended at the masjid. And you would tell me what you did the whole day when you stay there. Was it still packs? Was the food good? Where did you sleep?

I miss to see your face in my office lobby. Surprising me in one pretty afternoon, saying you just stopped by but then you ended up driving me home.

The bottom line is: I miss you.

Wednesday, May 29, 2019

Belated Birthday Gift

Should I still send it to you? Or better give it to anyone who may also enjoy similar stuff?

Tuesday, May 28, 2019

Are They All The Same?

Bbrp hari yg lalu, ada seorang istri ke rumah. Nyari suaminya. Suaminya pamit kerja di Playhouse. Pdh itu hari libur. Ngakunya lembur. Lemburin apa? Wong nggak ada apa2... serumah Playhouse malah semua tidur. Si istri, dgn mata sembab dan nggak nyaman, cuma bilang, "Ya udah Bu. Ibu jangan bilang ya, kalau saya ke sini."

Sebuah pesan yg sederhana, nggak susah buat dikerjakan. Tp kok nyesek bener. Ini pasti ada hubungannya sama laki-laki mata keranjang.

Langsung lapor pak boss. Yg lalu setelah mencerna dan mengeja, ingat sesuatu soal percakapan dalam perjalanan, yg diyakini bukan dilakukan laki-laki itu ke istrinya. Oalah. Jadi laki-laki itu selingkuh? "Mungkin enggak. Atau belum. Krn kesempatannya nggak ada sih," jawabnya.

Apa pun itu... kenapa laki-laki mudah (tergoda) cari selingan? Nggak perlu kaya, nggak perlu ganteng... begitu ada kesempatan... cuss.... Njaluk disampluk sandal.

Dan mau nggak mau, percakapan soal selingkuh ini membawa ingatan ke momen sekian belas tahun silam. Ketika satu perselingkuhan terkuak, dan gue memilih untuk nggak terlibat di dalamnya. Meskipun gue lebih berhak, secara hukum negara maupun hukum agama. I resigned.

Trus ingat ada pakde yg ketahuan menikah lagi ketika dia meninggal. Krn istri berikutnya (dan anak2) hadir di pemakaman. Astaga. Sementara anak2 sdh besar. Dan harus apa coba kalau begitu? Warisan kok bentuknya keluarga lain....

Juga ingat seseorang, teman keluarga, yg terlihat baik2 saja, tp ternyata menyimpan rahasia. "He built another house for her, a nice one, somewhere in Bekasi," kata informan yg layak dipercaya tentang istri kedua. Oh My God.

Semua hal soal selingkuh ini masih terbayang di ingatan. Kok ya tadi pagi ditelpon sama orang yang mengaku sebagai istri seseorang. Nada tinggi. Suara emosi. Marah.

"Dia sudah beristri. Punya dua anak yg sudah besar. Dan sudah kawin lagi 2 kali. Kamu yg kesekian."

"Marahnya jangan sama saya, salah alamat. Tanya suamimu saja."

Gue tutup telepon. Rasanya nggak tahu harus apa dan ngapain.  Rasanya pengen ngrawus laki-lakinya. Tp lalu seperti biasa, sadar bahwa gue jg mungkin ada andil salah. Meskipun tetap kembali ke pertanyaan, "Kenapa laki-laki mudah berselingkuh?"

Sungguh sebuah cara aneh mengawali hari.

Wednesday, May 15, 2019

Draft 4

Bagaimana aku bisa lupa?

Tante Emmy seperti tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupku. Dia hadir, lalu tinggal di hari-hariku. Begitu saja. Sepertinya selamanya. Sejak ada dia, rumah ini semakin ramai. Tidak seperti biasanya yang sepi sunyi karena hanya ada aku dan ayah.

"Halo, saya Emmy. Kamu pasti Idam, kan? Ayahmu sudah cerita banyak sekali tentang kamu."

Mataku justru terpaku ke anting besar yang menggantung di telinganya. Besar, berbentuk melingkar. Mengingatkanku pada gelang raksasa yang dipergunakan di pertunjukan ketangkasan lumba-lumba.

Aku tidak akan lupa, tante Emmy menarik sekali di mataku saat itu. Rambutnya pedek, sesuai dengan gayanya yang sigap. Ia mengenakan gaun terusan warna gelap sepanjang mata kaki, menyembunyikan kaki berbalut sneaker yang memberinya tampilan sportif. Dia tampak cantik, sekaligus kokoh di saat bersamaan. Suatu penampilan yang mencuri hatiku. Seluruhnya.


Friday, April 26, 2019

An Uneasy Day

Ada hari2 yg tidak nyaman, dan mungkin hari ini salah satunya.

Tadi pagi harus berbesar hati memutuskan untuk mengakhiri kegembiraan2 yg biasanya didapat hanya dgn mengangkat telepon atau chat lewat wa. Ya memang sdh seharusnya diselesaikan secara sadar. Karena selama ini yg dilakukan tidak benar.

Sungguh, hari menjadi sangat tidak nyaman.

Tapi mungkin hidup memang harus begitu. Ada saatnya nyaman, ada saatnya resah. Gembira bergantian datang dengan duka. Kadang banyak suka cita, lalu ada bumbu sedih lara. Namanya bumbu... secukupnya saja. Supaya sedap.

Rasanya, hidup memang sudah semestinya demikian.

Jadi kalau ada suara sedot2 ingus dari pojokan, itu gue. Mohon maaf.

Monday, March 25, 2019

Incoming Complaint

"I need to do a lot of thing once I come home. Of course I need to fix many things for my sons. But first I have to renew my passport, driving license, my Jakarta ID... oh and yes I want to renew my life with you."

"...."

"Did you still pretend not to hear anything about that?"

Wednesday, March 13, 2019

Let's....

If you cannot see the bright side, I'll be sitting with you in the dark.

Tuesday, March 12, 2019

Which One?

Maukah lagi kau mengulang ragu
Dan sendu yang lama
Dia yang dulu pernah bersamamu
Memahat kecewa
Atau kau inginkan yang baru
Sungguh menyayangimu

Aku ingin dirimu
Yang menjadi milikku
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain

Separuh jalan pernah dilewati
Meski ada kecewa
Aku yang dulu tak begitu lagi
Takkan 'ku ulangi
Jangan dulu engkau berpaling
Beriku kesempatan

Aku ingin dirimu
Tetap jadi milikku
Bersamaku mulai hari baru
Hilang ruang untuk cinta yang lain

Lupakan dia pergi denganku

Lupakanlah ragu denganku

Ooooo... Aku...

Aku ingin dirimu (Aku ingin dirimu) Yang menjadi milikku.... 
Layak untuk cantikmu, itu aku.... 

(Adu Rayu) 

Tuesday, February 19, 2019

Always Look at The Bright Side!

Ketika kecil dulu, adakah di antara ibu-ibu yang mengkhayalkan pesta pernikahan? Maksud saya, berangan mau menikah pakai baju apa? Lalu mahkotanya seperti apa.... *tunjukjari*
Angan-angan ini makin luar biasa ketika saya berkesempatan kerja di majalah gaya hidup, yang menerbitkan edisi khusus pernikahan. Setiap tahun, mempersiapkan edisi khusus ini sangat menyenangkan sekaligus bikin deg-degan. Trend kartu undangan terbaru, dekorasi terbaru, potongan gaun pengantin, karangan bunga, souvenir ucapan terima kasih... lengkap dibahas dan diulas. Karena majalahnya cukup beken, banyak desainer khusus membuatkan untuk difoto di edisi ini. Duuuuhhh seruuuu.... 
Seringkali yang keluar adalah ide personal, alias ambisi pribadi.... Itulah yang bikin deg-degan, karena serasa saya yang mau kawin hahahaha.... 
"Saya mau undangan yang kayak gini, mas.... Dikemas di kotak, terus selain undangan, kotaknya diisi bungkusan-bungkusan kecil permen, kacang, potpourri, dan printilan-printilan gitu ya...."
"Mbak, boleh nggak dekorasinya ada kandang burung? Dalamnya ya bunga saja."
"Hantaran bikin yang beda dong... misalnya satu set peralatan lukis... atau satu set alat-alat menyulam."
"Boleh ya, live music saja, atau acapella...."
Semua redaksi biasanya khayal babu... . hahahaha.... 
Dan... seringkali semua diwujudkan lho, oleh para desainer itu. Dan kami foto. Diulas lengkap. Tampil di majalah. Lalu jadi trend. Seru kan. 
Saat itulah khayalan saya soal pernikahan makin membabi buta sekaligus makin spesifik. Mau pakai baju Obin. Mau di poolside. Mau bunga Amarylis.  Iringannya lagu keroncong. Intinya chic simple manis. 
Ternyata oh ternyata ... ketika pernikahan itu betul jadi nyata, impian saya terpaksa saya pinggirkan. Alasan utama karena nggak mau ribut dengan (calon) ibu mertua yang semangat sekali mengurus pernikahan putra satu-satunya. 
"Baju Obin? Aduh mbak... nanti pengantinnya kalah mewah lho, dibanding para tetamu...," adalah kalimat yang membuat saya memutuskan tutup mulut dan nrimo saja.... Enak juga, sih, nggak pusing. Semua sudah diatur dan disiapkan dengan seksama. Saya nggak ikut hiruk pikuk sama sekali. Dan kemudian memang yang terjadi adalah pesta-kayak-gitu-deh ala Jawa yang megah gebyar berwarna keemasan dengan rombongan pemain gamelan dan sinden ternama yang didatangkan khusus dari Yogyakarta. Semoga menyenangkan orangtua berpahala... saya ucapkan selamat tinggal pada gaya chic simple idaman! 
Namun jalan kehidupan membawa banyak hal. Khayalan polos saya di masa lalu soal pernikahan hanyalah sekadar bungkus. Saya tidak mengkhayalkan cara menjalaninya, tidak memikirkan cara menjaganya, juga tidak memperhitungkan segala kerikil sandungan dan hantaman ombak yang mungkin datang. Jadi, ketika akhirnya terhantam badai, runtuhlah semuanya. Pernikahan itu terpaksa diakhiri. 
Sedih? Tentu. Saat itu. Dan beberapa saat setelahnya juga sih.... 
Tapi, hidup jalan terus. Kini, setelah hampir 12 tahun bercerai, sedih sudah hilang. I am moving on. Termasuk punya pacar lalu putus, pacaran lagi lalu putus lagi. Hahahaha.... Ya nasib, ya nasib. 
Tapi... sekarang ini lucunya, khayalan saya soal pernikahan idaman kok muncul lagi! Hahahaha.... Tentunya menjadi lebih dewasa, dalam arti nggak cuma sekadar mikirin bungkus. Pengalaman mengajarkan untuk mempertimbangkan segala aral melintang yang mungkin hadir dalam pernikahan. Apakah memang saya siap, juga anak saya. Dengan kondisi sudah memiliki anak dan aset, mulai cari info soal prenuptial agreement untuk melindungi hak anak saya. Kenyamanan hidup sendiri (mau pulang selarut apa atau bangun sesiang apa nggak ada yang urus), tentu harus dikompromikan jika menikah lagi. Apakah saya siap? Lalu, karena sudah pernah punya pengalaman dengan infidelity, sekarang jadi lebih kritis sama pacar.... 
Tapi... selain itu, tetap lho saya pengen menikah pakai baju Obin, tetep pengen karangan bunga Amarylis, tetep berkhayal soal lokasi di poolside, dengan iringan lagu keroncong.... Ah... Tuhan Maha Baik. Pernikahan pertama saya tidak langgeng,  karena Dia akan beri saya kesempatan untuk menikah lagi. Marilah lihat sisi baiknya: saya tentu bisa menikah lagi dengan gaya chic simple idaman. Alhamdulillah.... 
Hhhmmm... Tuhan, calon suami saya dong segera didatangkan.... Aamiiin.

*Ditulis untuk komunitas Single Mom Indonesia pada 2016

  

Tuesday, February 12, 2019

What Matters The Most


...
Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah, tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti


Ku kan menunggu, tapi tak selamanya


...



Saturday, February 09, 2019

Will You?

Somehow I miss to have somebody holding my hand the whole night, when I am sleeping. So I know I am loved. That much.

Friday, February 08, 2019

What If....

So... my son is facing a crucial phase on his life at the moment. Or so I thought.... And when it comes to my son... not in a good circumstances... I cannot help but to blame myself. How can I let that happen?

Kemarin2 ini pikiran rasanya penuh banget. Selain pekerjaan yg memang sedang lucu2nya (plus laptop ngadat. Lalu file yg hilang di komputer backup....), ada sesuatu yg menghantui. Gue nggak tahu apa... dan sambil menjalani hari, berusaha mencari jawaban atas sosok hantu itu.

Semalam lagi seru2nya di kantor, tiba2 ingat kalau sudah janji mau jemput Aria di tempat les. Les selesai 20.30, gue sadar jam 19.25. Gue baru berangkat dr parkiran kantor jam 19.45 Ok... unless I am the flash... there is no way I can drive through Jakarta traffic... straight to BSD... in less than 1 hour. So, it will be impossible to pick him up on time. Pikiran sehat mengutus Wahid the gardener untuk jemput anak gue. Apa boleh buat.... Akhirnya si pangeran negosiasi bhw ibu gapapa batal jemput asal pulangnya bawain mentaiko salmon dr Aeon. Oh... okay... as you wish, my love.

Setelah selesai beli titipan, on the way home... spt biasa di dalam si kentang suka cari inspirasi. Mikir2... gimana cara benerin ini itu... sampai tiba pada pikiran soal masalah anak gue. Hmm... tiba2 gue sadar kesalahan terbesar gue adalah membiarkan Aria bertumbuh dgn sendirinya. Okay, gue ada di sebelahnya. Secara fisik atau secara apa pun deh... kapan saja dia perlu, gue akan ada. Bbrp kali gue sengaja cuti, untuk dia. Tapiiii... apakah itu cukup? Bahwa gue nggak berhasil menahan ayahnya untuk tdk pergi dr rumah, itu sdh salah. Lalu... gue ternyata jg tidak cukup intens mendampingi, jadi dia terpaksa membereskan masalah2nya sendiri. Gue... terlalu asyik dgn diri gue sendiri. Di kantor berlama2... pacaran nggak pulang2.... hiks....

I cannot help but to blame myself. I feel like an egoistic mom.  Rasanya belum lama gue merasa I raised him right... ketika dia berhasil melewati tes masuk SMA. Ternyata oh ternyata... bukan cuma itu ukuran raising a son.... I (almost) failed.

"Growing up is uninteresting."
"Yes, sometimes. But most of the time it is wonderful. For me, having you... since the day you were born, and now, with  you here, is the best part of being a grown up."

Well... I hope I can mend this up. I really do hope it can be fixed. Somehow. Please help me God. Aamiin.




Friday, February 01, 2019

Where Are We?

I never have the feeling of "we" in a man-woman relationship.

Maksud gue... ga pernah merasakan menjadi "kita" atau "kami"... bahkan ketika menikah dulu. Kayaknya pernikahannya terlalu cepet usai, belum sempat bener2 dipikirin dan dijalani. Baru nikah bbrp bulan... ikut pindah ke Cilegon... sibuk beresin rumah di sana. Belum juga beres... rencana berubah jadi dipercepat berangkat ke US. Sampai di US, masing2 kisruh dgn sekolahnya sendiri2. Sekolahnya di tempat yg sama tp subjek-nya ga ada hubungan blas.... Sekolah selesai... langsung pulang. Di Jkt... baru sebentar banget... baru mikir2 mau tinggal di mana... eh... ada yg punya pikiran buat main rumah2an sendiri. Ya udah. Bhay.

Jadi, dalam pernikahan yg singkat itu, belum pernah sekali pun ada keputusan yang sepakat tentang "kita" atau "kami" kecuali satu: waktu mau bercerai. Oalah... melas yo. Hahaha.... Dan bisa ditebak bahwa setelah perceraian, semakin nggak pernah mikir jadi "kita" atau "kami". Lah ga ada teammates.... Ngapain mikirin?

Jadi... rasanya menarik juga kalau ada yang berani menawarkan konsep menjadi "kita" atau "kami" itu ke gue. Kok kayaknya lucu.... Mungkin seru juga ya mikirin sesuatu berdua? Meskipun lalu mikir2 juga, apa gue bisa? Setelah selama ini begitu keras kepala menjalani kehidupan sbg diri sendiri. Nggak perlu kompromi, nggak perlu tanya ini itu, nggak perlu diskusi....

Nah nah nah... jadi gimana?

Entah kenapa bbrp hari ini kok ya baca2 tulisan ttg #therealmarriagelife di medsos. Lalu bbrp waktu lalu baca buku juga yg isinya ttg kompromi dalam hidup pernikahan. Hmm... apa bisa ya gue begitu?

Ahahaha... ini kenapa jadi bahas topik ini? Kayak punya pacar aja....