Rasanya sungguh merindu.
Monday, September 21, 2020
Friday, September 18, 2020
About My Late Dad
Thursday, September 17, 2020
About You
I need the world to know how special you are to me, the main reasons I put those stories about you on my social media accounts.
So far, the responses were all fantastic. My friends said nice things about the posts. I never received so many comments before. Well, you were always nice, indeed. Their comments only reassured me that you were amazing. Your persona is one of a kind.
I hope I will not do any harm to you by posting more stories in the future. Somehow I believe that is the way I can completely let you go.
Wednesday, September 16, 2020
My Memory
Sepanjang (atau sependek?) karier saya menulis di media massa, pernah tulisan saya diapresiasi oleh salah satu instansi pemerintah. Kalau tidak salah, temanya tentang menabung. Iya... saya lupa tulisan yg mana & kapan... krn ingatan saya tentang hal itu lbh fokus pada momen lain.
Apa itu?
Hadiah utk tulisan itu saya terima ketika saya sedang dekat dengan seseorang. Orang pertama yg saya jatuhi cinta sejak perceraian dgn ayahnya @ariagaung. Dia tinggal & bekerja di negara lain. Sehingga jadwal pertemuan kami dalam satu tahun maksimal hanya sejumlah jari tangan.
Lewat telepon, saya kabarkan bahwa saya akan menerima hadiah.
“Tell me where & when, will you?”
Saya jawab seperlunya tanpa punya pikiran apa2.
Lalu hari itu tiba. Sebuah seremoni di ballroom salah satu hotel di Jakarta digelar utk pemberian hadiah. Saya hadir sendirian malam itu, krn merasa acaranya tdk istimewa. Mengikuti prosesi dgn sedikit mengantuk, saya iseng cek ponsel. Namanya berpendar di layar. Pesan pendek masuk.
“How is the event?”
“Nothing special.”
“Really? It looks nice, everyone dress up pretty.”
“Hmm... what do you mean?”
“Can you please stand up so I can see the prettiest lady among the crowd?”
Saya merasa wajah saya memerah & hati berdebar kencang. Saya sangat yakin tadi dia cerita masih makan siang di Port Dickson....
Begitu saja saya berdiri menghadap pintu masuk. Dan saya lihat dia di sana... tersenyum lebar, melambaikan tangan, lalu menghampiri saya yg berdiri kaku tak menyangka mendapat kejutan luar biasa.
“Congratulations,” bisiknya sambil mengecup pipi saya.
@ibunyaaria
#youknowwhoyouare #day3 #30harimenulisdirumah #30daychallenge #30harimenulisdiinstagram #30daywritingchallenge #30day#memory #mysunshine
Friday, September 11, 2020
Norma Sosial, Norma Agama, Norma Anaknya Pak RT....
Selalu senang gembira kalau diingat sama teman-teman lama... atau yg pernah jadi teammates... atau anak buah. Diingat dalam konteks sbg orang yg bisa diajak omong. Kenapa senang? Senang krn berarti mmg gue bukan orang yg judgemental.
Seperti kemarin. Ada yg tiba2 pop up, said hi... lalu.... "Aku skrg hamil masuk bulan ke-5, mbak."
Padahal dia belum menikah.
Ya sudah.
Tidak perlu dibahas kan bapaknya siapa. Nggak usah kepo kalau dia nggak mau cerita. Fokus sm proses kehamilan. Tips & trick sbg yg sudah pernah hamil pada yg newbie (meskipun tnyt rada lupa juga krn sdh 16 thn lalu yaaaa).
Cukup senang bhw anak ini memilih utk tetap hamil. Dan senang sekali bhw ternyata pacarnya bersedia menempuh perjalanan panjang utk bertanggung jawab: saat ini sedang menjalani sidang izin poligami.
Di luar cerita kehamilan itu, sepertinya memang banyak hal2 yg sdh bergeser dalam hidup kita ya. Kemarin sempat ada diskusi ringan dan lucu selewatnya, tentang anak skrg yang pilihannya begitu banyak... sampai kadang yg dipilih sangat random.
Ya nggak?
Dulu sih kayaknya setiap anak cuma punya pilihan untuk sekolah-kerja-menikah-punya anak. Seragam semua. Sekolah pun hanya itu2 saja. Kerja juga bidangnya itu2 saja. Ya... seiring berjalannya waktu, sesuatu yg sama menimbulkan kebosanan. Termasuk bahwa being ordinary is boring.
Keren bahwa lalu banyak anak muda yg menjadi unordinary dgn gebrakannya masing2. Ada yg masih muda banget bisa sukses mengelola start up. Ada yg pinter banget punya ide jualan barang yg kelihatan remeh tp tnyt penting dan laku banget, macam cilok....
Kehidupan sosial juga bergeser. Jarang ada anak skrg yg mikir akan menikah segera setelah dapat pekerjaan. Beli rumah? Hmm.... Gaji lebih menarik ditabung untuk jalan2. Nggak segera menikah bukan karena nggak laku lho. Pacar punya... tp ya itu... lbh seru traveling the world ketimbang settle down. Katanya sih gitu....
Setuju atau nggak?
Krn gue bukan orang yg judgemental, ga bisa bilang setuju atau nggak, krn semua balik lagi ke tujuan hidup orang yg menjalani. Seharusnya semua orang bebas memilih apa pun jalan yg dia mau tempuh, asal nggak menyusahkan orang lain. Gue juga bukan orang suci. Dalam perjalanan hidup gue, beberapa kali gue pilih jalan yg gue tahu nggak betul. Gue punya alasan sendiri untuk itu. Jadi yaaa... gue rasa setiap orang merdeka menentukan arah hidup dan proses yg mereka pilih utk hidup di dunia. Gue hanya bisa mendoakan spy nggak lupa pada norma sosial, dan yg utama norma agama. Implementasi bebas lah.... Sing penting sehat, kuat, dan selamat dunia akhirat. Aamiiin.
Thursday, September 10, 2020
Allow Me, Please....
...
Let me be the one to break it up
So you won't have to make excuses
We don't need to find a set upWe just have to say our love was true, but has now become a lie
You don't have to live like this, but if you love me still then stay
Don't keep me waiting for that final kiss
Wednesday, September 09, 2020
The Story of Dingklik Tua
Tadi pagi terjadi huru hara... yg sebenernya lucu juga sih kalau sekarang dipikir. Waktu kejadian sih sempat bikin tensi naik.... Apa coba? Yaaaakkkk... adegan dgn ibu suri a.k.a eyang.
Jadi, sejak pindah ke BSD... gue berusaha banget utk tidak menimbun barang. Apa pun itu, hanya punya 2 kemungkinan: dipakai atau dibuang (dikasihkan ke orang). Alasannya krn nggak mau nimbun, kedua jg krn maunya rumah ini isinya barang2 yg gue suka. Ya kaaannn....
Nah... dgn sharing rumah sm eyang... seringkali ada hal yg ga sejalan. Sepele sih, misalnya kebiasaan eyang pakai taplak, yg gue nggak suka. Solusi, eyang bebas pasang taplak di meja mana pun di rumah no 16. Silakaaann.... Yg penting rumah gue (no 17) no taplak. Trus, gue suka ngumpulin botol beling segala ukuran untuk diisi tanaman. Sementara menurut eyang, kalau mau pajang botol, ukuran harus sama dan motifnya jg hrs spesial. Hmm... tp akhirnya eyang menyerah krn botol2 itu gue pajang di rumah gue.
Tp yaaa... namanya sharing live, tentu nggak semua sesimpel urusan taplak dan botol pajangan ini. Kyk misalnya microwave, adalah nggak praktis kalau sampai hrs punya 2, kan? Jadi satu aja, ditaruh di tempat gue. Juga dapur, meskipun ada 2, tp yg cukup besar utk bisa leluasa memasak ya hanya satu, di rumah gue. Hmm... yg gemes adalah krn tempat yg menurut gue pas untuk naruh microwave oven di dapur menurut eyang jadi bikin tempat masak jadi sempit. Du du du du.... Trus gue merasa perlu punya oven listrik untuk iseng berhadiah cookies, cake, atau macaroni dan brulee. Juga perlu deep fryer dan breadmaker.
"Ini mau disimpen di mana?" adalah pertanyaan eyang waktu semua perangkat dapur itu tiba, kira2 ratusan purnama silam.
"Ya nggak disimpen, kan dipakai."
"Memang mau dipakai tiap hari?"
"Ya enggak, tapi krn dipakai, ngapain dimasukin dus lagi? Ya sudah biar saja di dapur."
"Tapi dapur jadi sempit."
Endebraaa... endebraaaaiii... endebraaaa.....
"Maaf ya, Ma. Ini kan dapur di rumahku. Boleh ya di rumahkku ada oven dan deep fryer-nya."
Kalau sdh gitu, biasanya eyang baru ingat lagi kalau gue sdh cukup umur untuk boleh ngapain aja di rumah gue sendiri. Ngambek? Ya udahlah....
Akhirnya sih skrg ada rak yg khusus isinya perangkat dapur itu semua. Kenapa jadi ada rak ini? Krn waktu pakai meja pendek, sisi bawah meja itu diisi macem2 yg nggak jelas. Tas belanja, botol plastik (utk jamu), dll yg menurut eyang pas disimpen di situ, tp menurut gue enggak sama sekali krn jadi uwel2an. Ada dua meja utk dua oven, dan dua2nya semakin penuh. Makin lama kok masuk rumah kyk masuk gudang umpel2.... Dan solusi dari eyang utk menutup uwel2an itu adalah... pakai taplak! Oh no! Gue beresin semua. Beliin rak yg pas utk semua perangkat, nggak ada ruang utk sumpelan2. Beres.
Kadang mmg eyang "nggak adil" juga sih. Barang2 yg dia nggak suka, tp masih mau dia simpen (entah utk apa ya menyimpan barang yg nggak disuka), disumputin di rumah no 17. Karpet, peti beras, lemari pendek, koper, dan macam2 lain... termasuk satu dingklik warna coklat yg menurut gue sih bentuknya nggak jelas.
Jadi dingklik ini dibawa dari Depok. Dulu, ada rumah kerabat ipar gue yg mau dijual, dan hrs dikosongkan. Pdh isinya masih lumayan banyak. Mulai dari kipas angin, panci2, meja tv segala hal... termasuk dingklik atau kursi kecil ini. Iya, ini kursi lama, kursi kuno, dari kayu jati dgn rangka besi. Bagus? Biasa aja sih, tp mmg berkualitas. Tapi krn cuma satu, jadi kagok, sementara mau jadi kursi biasa ukurannya kekecilan. Akhirnya dibawa ke BSD... tp difungsikan sbg "meja antah berantah" yg kadang di atasnya ditaruh pot. Kadang buat naruh kotak pompa rusak (sblm dibawa sm tukang pompa). Nyebelin banget rasanya di mata gue. Gatel.
Sejak WFH, gue tuh sering bongkar lemari. Beresin baju-sepatu-tas. Kalau ada yg sdh lama nggak dipakai, dikasih ke siapa saja yg mau. Nah, kemarin ini kamar sdh beres dan kinclong. Merembetlah beres2 ini ke kamar Aria, lalu ruang cuci di atas, lalu sampai ke ruang tengah. Semua yg menurut gue nggak penting... silakan dadaaaahhh... hahaha.... Banyak banget printilan2 nggak jelas... yg entahlah kenapa nggak segera dibuang padahal sdh bertahun nggak kepakai juga, temasuk dus2 bekas sepatu (yg disimpan dgn semangat "siapa tahu kapan2 perlu kotak"). OMG. Dan gue beres2 dgn semangat banget. Sampai beli rak baru. Beli kasur dan meja kursi baru utk Aria. Karena rasanya, banyak di rumah selama pandemi, kalau rapi dan cantik kan yo ayem tentrem....
Koper, kalau kira2 masih bagus, masuk lemari. Karpet masih bisa masuk ke gudang, beberapa diangkut sm para backstage crew. Peti beras akhirnya jadi tempat kantong dan segala hal printilan. Dus sepatu tentu tanpa ampun dihibahkan ke pemulung.
Tadi pagi, sampailah gue ke kursi coklat yang setelah gue lihat kok ya bentuknya miring dan sudah dicat jadi tekstur kayu jatinya hilang.
"Ma, aku nggak pakai kursi ini."
"Oh, mama masih mau pakai."
"Untuk apa?"
"Kalau motong2 sayur... enak di situ, pendek."
"Kependekan ini. Motong sayur ya di dapur aja, Ma."
"Ya... buat kalau di kebun deh. Pas ganti2 pot."
"Nah, kalau itu, pakai dingklik aja. Ini ketinggian."
"Nggak kok, ini pas."
"Coba, deh."
"Hmm... iya ya. Ini kok agak tinggi."
"Ya sudah, aku kasih orang ya."
"Lho jangan! Itu jati lho. Bagus itu."
"Ya memang. Tapi berguna nggak? Kita pakai apa nggak? Aku nggak pakai...."
"Mama pakai!"
"Untuk?"
"Ya... untuk apa gitu... pokoknya kepakai."
"Tp aku nggak mau ini ada di sini."
"Ya sudah, taruh di atas saja, di kamar Aria."
"Untuk apa?"
"Untuk Mama."
"Memang Mama suka ke kamar Aria?"
"Pokoknya jangan dibuang!"
"Ya sudah. Tapi jangan ditaruh di sini. Dan jangan di kamar Aria. Kasihan kalau kamarnya jadi sumpek."
"Taruh saja di kamar Mama."
"Ok."
"Eh tapi nanti kamar Mama jadi sempit...."
"Ya sudah, untuk orang aja ya."
"Ini tuh bagus. Siapa tahu kapan2 kita butuh kursi...."
Ini mulai melelahkan... krn FYI... di rumah kami itu ada sekitar 25 kursi dan sofa dan tempat duduk... sementara sehari2 kami hanya bertiga....
"Jangan suka buang2 barang. Nanti kalau kita butuh, gimana?"
"Iya. Kan aku tanya, kita perlu kursi ini nggak? Kyknya sih nggak perlu, kita nggak butuh...."
"Ya sudah. Buang aja. Buang semua yg kamu nggak suka. Ya sudah, sana buang.... "
Laaah... nadanya jadi tinggi, hmm... yo wis gue diem. Pengennya sih bales njerit, tp takut durhaka.... Tapi sungguh... gue capek lihat ada kursi nggak jelas. Secara fungsi nggak genah, secara bentuk juga nyebelin. Dan siapa tahu ada orang yg bisa memanfaatkan, kan lebih berguna.
Kepala udah cenut2 banget... tensi pasti naik deh nih....
Ya sudah, daripada nggak kelar2, dan rasanya gue udah mumet banget... takut mood rusak seharian, akhirnya gue tinggal ke kantor. Lumayan. Seneng sih bisa ada di kantor, tempat buat nggak ketemu eyang bbrp jam, dan nggak perlu lihat kursi coklat biang perkara.
Barusan eyang wa, "Kursi coklat sdh aku kasih Wahid. Dia mau."
Alhamdulillah....
Friday, September 04, 2020
The Plan B
Kemarin, duduk bareng Aria membahas "things to do if Ibu suddenly pass away."
"Ibu, ini nggak lucu."
Iya memang nggak lucu. Tp kan tetep harus dilakukan. Krn siapa lagi yg mau urus? Jadi kemarin memaksa Aria tahu semua surat2 penting, termasuk nomor2 yg dia harus hubungi untuk urusan asuransi.
"Ini perhiasan, buat kamu kalau melamar seseorang. Ini ada yg hadiah dari eyangma, ada yg ibu beli. Sengaja aku beli yg mirip supaya jadi satu set yg bagus."
"Ibu, ini kalau dijual, mahal nggak?" Aria ngakak. Kayaknya skrg dia lebih suka jual berlian lalu pakai uangnya untuk belanja sepatu ketimbang mikirin hrs melamar perempuan....
"Dan jangan lupa telepon .... (you know who you are)."
"Oh my goodness."
Tuesday, September 01, 2020
Mind Your Own Steps
People come and go. We just need to embrace each other when we are crossing path. I need to walk carefully for I do not want to step on your foot. I hope you will do the same.
Friday, August 28, 2020
Click (Draft)
Dalam daftar kelebihan-kekurangan yang kubuat untuknya, salah satu kelebihannya adalah ia paham bahwa bantuan sekecil apa pun akan bisa mencuri hatiku.
Ketika dia lihat botol air mineral di tanganku masih rapat, segera dia ambil dan buka segel plastiknya. Dia buka tutupnya, lalu botol itu ia kembalikan padaku.
Melihatku berjinjit di depan lemari dapur, ia akan segera menghampiri dan bertanya, "Kamu perlu apa?" Sambil berjalan mendekat, dia ambil tangga kecil, dia letakkan dekat kakiku. "Mau aku ambilkan, atau kamu tetap mau cari sendiri?" Ia memang jauh lebih tinggi, sehingga dengan mudah bisa menemukan botol rosemary di antara jajaran macam-macam botol bumbu di lemari dapurku.
Saat mobilku memasuki tempat parkir, ia menghentikan apa pun yang sedang ia lakukan. Jika setelah parkir aku membuka bagasi, ia akan serta merta mengambil alih membawa apa pun yang aku ambil. "Sudah, kamu tunggu saja di dalam."
Hal-hal sederhana seperti membukakan pintu atau membawakan tas belaja, ia lakukan dengan gembira. Dan ia lakukan semuanya seolah sudah terbiasa begitu. Seperti sudah seharusnya begitu. Tanpa banyak bicara, tanpa bertanya-tanya. Sederhana, memang. Tapi buatku, yang selama ini terbiasa melakukan segalanya sendiri, justru hal-hal kecil itulah yang menyenangkanku.
Dia memang hadir untuk membuat hidupku lebih mudah.
Friday, August 14, 2020
It Is Not That Easy....
Mungkin yg dibutuhkan memang hanya kupu2 di perut. Tp lalu digandeng, dibukain pintu, dibawain belanjaan, ditemenin beli ini itu.... Bikin goyah. Poninya yg diacak, hatinya yg berserakan....
Dangdut.
Biarin.
Katanya mau dengerin kata hati.
Mana?
Besok aja deh.
Wednesday, August 05, 2020
Thursday, July 30, 2020
Run for Your (My) Life
Wednesday, July 29, 2020
Jatuh Cinta
Tuesday, July 28, 2020
Jangan Sakit Saat Pandemi
Semua orang langsung parno krn tiga hari sebelumnya gue ke supermarket....
Gue pun parno. Aduh ampun. Memang bener, jgn sakit saat pandemi... bikin kecil hati.
Minum obat penurun panas, pereda sakit kepala, seduhan jahe... lalu membaluri sekujur tubuh dgn minyak kayu putih. Nyalain diffuser lavender dan lemon. Siap tidur seharian.
Oh ya, sebelumnya tentu ngabarin kantor kalau akan sangat slow respon tp tetep boleh dicolek utk hal2 urgent. Dan sempat ngobrol dulu agak lama di telepon sambil rebahan... sm yg sedang berjarak 439km itu... sungguh sedih tak bisa nyender secara langsung.... #dangdut
Setelah tidur dari jam 11-17... bangun dengan baju basah keringetan. Badan terasa lbh ringan... demam berlalu sudah. Alhamdulillah. Habis mandi lalu makan yg hangat, minum banyak, and I felt myself again. Alhamdulillah.... Sumpah parno banget ya kalau demam2 di kala wabah begini. Susah banget nggak cemas.
Malamnya bisa gelar laptop lagi meskipun membatasi diri hanya smp jam 9. Habis itu minum obat lagi dan tidur.
Pagi ini sdh gembira. Meskipun ttp blm berani ke kantor, gelar lapak di rumah aja.
Happy Tuesday, y'all.
Friday, July 24, 2020
You....
Sebuah reminder popped up tadi pagi. Kalau umurnya 10 tahunan... reminder ini suka bikin cenut2... hahaha... .
Dan bener. Yg pagi ini nongol adalah tentang Aria ikut ke event, tapi ada babysitter istimewanya. Yes, that was you. Thank you for taking my son with you while I was hosting the event.
I am always happy when having Aria and you in one place :)
Wednesday, July 22, 2020
He's Waking Up
Perjuangan menuju full recovery masih perlu usaha yg tidak mudah, tp bahwa dia bangun, cukup melegakan. Semoga tidur panjang kemarin memberinya kesempatan berkontemplasi, yg akan membuat dia jadi manusia yg lbh baik dari sebelumnya. SehatNya semoga jadi milikmu, Dit. Aamiiin....
Tuesday, July 21, 2020
Monday, July 20, 2020
I am Sorry I Forgot
Sunday, July 19, 2020
Today
But still if anyone ever ask whether I am okay, my answer would still be yes. I know I'll manage eventually.