Thursday, September 07, 2017

Sungguh

Dalam Doaku

(by Sapardi Joko Damono)

Dalam doaku subuh ini
kau menjelma langit
yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara
yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang
lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.

Friday, August 25, 2017

Current Situation

I feel like having a hollow in me. Try to fill the gap with anything crossing my mind.... it didn't work. At least not now.






















I feel empty.

Tuesday, August 22, 2017

Nyeri di Ulu Hati

Ada rasa nyeri di ulu hati, ketika melihat foto-foto itu, kamu. Dengan mereka. Dan aku tidak di sana, tentu saja. Rasa nyeri itu terasa menggigit. Kadang samar saja, seperti angin yang keluar dari mesin pendingin ruangan. Tapi seringkali begitu jelas, hingga bulu kudukku berdiri.


Nyeri itu tidak hilang, meski aku sudah berusaha bersenang-senang. Kucoba banyak hal baru, bertemu banyak orang yang selama ini tak kukenal. Kami melakukan banyak hal yang selama ini tak pernah kupikir akan kulakukan (Atau mungkin selama ini aku menunggu. Berharap punya kesempatan melakukannya denganmu. Yang ternyata sia-sia saja ditunggu). Apapun, nyeri itu tidak hilang juga meski aku pikir aku sudah bergembira ria.

Rasa nyeri itu kemudian semakin menjadi, datang dan pergi sesukanya. Karena apa pun yang terlihat, terdengar, terasa... seringkali membawa pikiranku kepadamu. Terlebih ketika aku bersendiri. Juga ketika melewati beberapa tempat yang dulu sering menjadi kesukaan kita. Kita. Kamu dan aku. Kita, yang saat ini, ternyata menimbulkan rasa nyeri di ulu hati.

Aku tahu rasa nyeri ini tidak ada obatnya. Tanpa harus konsultasi dokter, aku berkesimpulan begitu. Rasa nyeri ini hanya akan hilang, seiring dengan perginya bayang-bayangmu. Jadi, mungkin tidak sekarang. Karena aku masih belum bisa melepaskan seluruh ingatan tentang kamu.

Baiklah, aku akan berteman saja dengan rasa nyeri ini. Rasa nyeri di ulu hatiku. 

Saturday, August 12, 2017

Fragments


Stage 1

She has been waiting for a nice short break in between work. Finally found a specific date and started her trip itinerary. She put everything in detail. Not only where to have lunch or dinner but also what to wear on those occasion. Then, view days before the d-day she found out that her partner -whom she would meet during the trip- was cheating on her. She canceled everything.

Stage 21

They've been longing to have a kid since day 1 they tied the knot. 10 years later she finally delivered a baby. Unfortunately, the baby was blind and deaf. And has more fingers than any other baby. They cried a little before planed every best treatment available for the baby.

Stage 33

She is a very beautiful girl, daughter of a director in one big famous company. With her parents wealth, she can have everything she wants, including the best European car to drive to private school. She just earned her diploma in management when she found out that all this time her father, her idol, was cheating on her mother.

Stage 56

Not long after graduated from university, she married to her long time boyfriend, a bright and brilliant accountant. They lived happily with their 2 beautiful kids. Just before they went to their son's graduation ceremony, she found out she had lump in her right breast. At the age of 53, she started her journey to fight against cancer.


Stage 78
...

Stage 102
...

Stage 323
...

...


...


So everyone has their own drama. Everybody has to play their role in this world, whatever it is, whether like it or not. So please do not feel as if you are the most unfortunate person. We all have to endure our own battle.

Thursday, August 10, 2017

Why? How?

Why did you ever come back?
Why did you ever give me hope?
Why did you do that? Why?
How could you?


Update:
I just cancelled my trip for next week. It hurt me more since I planed it in detail. As detail as possible, hoping it would be a memorable one. Yes it is your fault.

Tuesday, August 08, 2017

Tentang Perempuan Pintar

Bukaaaaannn... postingan ini bukan tentang gue... hahahaha...

Jadi ternyata sekarang lagi rame soal postingan seorang cowok yg mendamba istri soleha. Cukup soleha saja. Nggak perlu pintar. Bahkan disebut nggak perlu bergelar S ini S itu....

Ya terserah dia sih, mau istri macam apa.

Hanya menurut gue... itu ungkapan rasa minder bin kurang percaya diri berlebihan. Kalau mau lebay lagi... takut banget saingan sama perempuan, mas....

Soal laki2 minder ini memang jadi kompleks. Kalau sdh nggak percaya diri, ya susah lah mau "megang" perempuan. Apalagi yg pinter. Gini ya, perempuan pinter itu akan selalu merasa berada dalam cangkir. Artinya, dia selalu merasa kesempitan... pengen selalu pindah ke mangkok (biar agak lega). Ih... kenapa jadinya malah inget ke gue yg gendut? Rese. Huh....

Tapi serius. Gue percaya perempuan yg isi kepalanya jalan terus nggak akan nerimo aja dalam sebuah kenyamanan. Di kantor, misalnya. Kalau dia merasa ruang geraknya sudah terbatas... dia akan cari tempat main baru. Bbrp perempuan pintar yg gue kenal bahkan mengorbankan kenyamanan (misalnya gaji besar) untuk pindah ke tempat lain karena di tempat lain itu dia bisa berkembang lebih cepat dari sisi intelektual. Ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar nggak terasa ada bedanya lagi. Yg penting hati senang dan otak berjalan. Setelah gue tanya2, kenapa kok mau aja meninggalkan fasilitas yg mapan utk hal lain, rata2 jawabnya sama: krn semua hal yg berbentuk tantangan lebih asyik daripada yg woles2. Dan dengan modal kepintaran... duit sih jadi gampang ditemukan. Katanya sih begitu....

Balik lagi ke pernyataan mas2 di atas tadi... kayaknya sih nggak hanya soal kepintaran yg bisa bikin minder. Sering juga bentuk fisik. Yg sering gue denger... karena ceweknya lebih tinggi, nggak boleh pakai high heels (krn doi akan makin menjulang dan masnya akan makin tenggelam).

Hmmm....

Pada akhirnya, laki2 minder akan tidak menarik di mata perempuan. Apalagi kalau mindernya karena perempuan lebih pintar. Terhadap pernyataan seperti itu, perempuan juga bisa bales: yang pinter2 juga ga bakal mau sama situ. Bhay.

Monday, July 31, 2017

Today's Mood

Sampai Jadi Debu


Badai Tuan telah berlalu 
Salahkah ku menuntut mesra? 
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku 
Ku aman ada bersamamu 

Selamanya
Sampai kita tua 
Sampai jadi debu 
Ku di liang yang satu 
Ku di sebelahmu 

Badai Puan telah berlalu 
Salahkah ku menuntut mesra? 
Tiap taufan menyerang 
Kau di sampingku 
Kau aman ada bersamaku 

Selamanya 
Sampai kita tua 
Sampai jadi debu 
Ku di liang yang satu 
Ku di sebelahmu


Banda Neira

Monday, June 05, 2017

Love

You know I love you. Endlessly.

Friday, May 26, 2017

Puasa

Selamat datang bulan suci Ramadhan. Alhamdulillah dipertemukan lagi. Terima kasih, ya Allah.

Semoga bulan ini bisa menjadi masa kontemplasi yg panjang. Istirahat sambil berpikir (& berdoa). Mencari jawaban atas semua pertanyaan yg selama ini tersimpan. Semoga lancar. Aamiin.

Selamat puasa, teman2. Damai selalu.

Wednesday, May 24, 2017

Not A Fairy Tale

The first time we met, you hand carried a very big bouquet of roses. Since then, you sent a lot of them everywhere I worked. To 3 places to be punctual. Sometimes you just showed up in the middle of the day, asking me out to have a quick lunch, before you headed back to your place, in another city (or later on, another country).

Several times, you were at my office, without letting me know in advance. It was a very beautiful surprise. 

I will never forget the day you made me gasped by showing up on one event held by government institution, when I won something for my writing. You asked me to stand up, so you can see me among the crowd. How lovely.

The long, big and tight hug on my birthday last year was one of  the moments I will treasure. It will stay forever in my head, along with other times when you suddenly appeared in front of me. Those moments will warm my heart forever. I never felt to be loved the way you made me feel.

I really wish you will do those surprises again. I wish my cell phone will beep with your message to meet you somewhere for a nice talk over coffee. But I know I can only wish. I guess I should start to learn not to think of you as the prince charming to my cinderella anymore. 




Tuesday, May 23, 2017

Semua akan Indah pada WaktuNya

....
Waktu takkan pernah mengulang
Dan rahasia kan menyapa
Tanpa salah

Di hari yang ditentukan
Dilahirkan
Ditemukan
Dan dipisahkan....

(Semesta - Maliq & d'Essentials)

Monday, May 22, 2017

Merindu

Adakah yang bisa mengukur rindu?
Sedalam apa?
Sepanjang apa?
Tidak ada yang bisa menakarnya
Mungkin juga tidak perlu direka-reka

Jumpai saja 

Karena rindu hanya bisa hilang
Ketika bertemu.


Wednesday, May 17, 2017

Ternyata....

Pernah nggak, merasa sudah melakukan sesuatu, sudah menyelesaikannya... ternyata belum? Rasanya konyol. Gue kemarin merasa begitu.

Setelah hampir 13 tahun berpisah, dan secara legal 12 tahun bercerai... gue pikir gue sudah berdamai dgn keadaan. Ya... maksudnya... gue pikir gue sudah bisa menerima apalah konsekuensi dari perceraian itu. Apa pun. Termasuk menghadapi orang2 yg nggak sepaham, teman2 yg kaget, atau lingkungan yg kepo. Dan yg utama tentu menerima kalau bapaknya anak gue memang sdh selayaknya dicoret dari daftar hadir.

Gue pikir gue sudah kelar dalam urusan itu.

Ternyata belum lho. Dan mungkin memang nggak akan bisa.

Sekian lama, kami hanya ketemu setahun sekali di acara Idul Fitri. Kalau Aria ultah, dia akan langsung telepon anaknya. Kalau Aria nggak cerita, ya gue nggak tahu. Kado... Aria sdh nggak mengharap. Kunjungan? Halah... sudah lupa kayaknya anak gue dgn kunjungan2 bapaknya. Sama seperti gue sudah melupakan kewajiban dia soal tunjangan anak yg nggak pernah dipenuhi. Uang sekolah yg dulu pernah dijanjikan (sampai setinggi apa pun), nggak hadir2 juga hahahaha....

Lalu tiba2 bbrp hari lalu dia kirim uang. Jumlahnya nggak banyak (apalagi dibanding "utang" kewajiban dia selama ini). Dan itu nggak penting buat gue. Yg ternyata penting, kiriman itu mengejutkan (selain perlu disyukuri). Reaksi Aria pun lucu sekali. Dia senang banget waktu gue bilang ada kiriman uang. Meskipun seperti biasa... dia nggak terlalu merasa uang itu penting banget dalam hidupnya... jd dia seneng aja. Tp nggak lalu minta atau gimana2. Gue suruh dia sms bapaknya, bilang terima kasih. Dan kata Aria, "Ayah janji mau kirim lagi."

Alhamdulillah.

Mungkin gara2 kiriman itu, gue jadi kepikiran lagi sama bapaknya anak gue. Bukan mikir yg gimana2 sih. Cinta? Sdh habis. Nggak pengen balik juga lah. Entah apa yg gue pikir ya... sampai kemarin, di jalan pulang dari kantor... radio tiba2 muter lagu jadul. And that is when the sweet memories kicked in. Gue tiba2 mewek. Nangis sejadi2nya. Sampai tersedu2 kyk waktu patah hati dulu. Halaaaahhh... kenapa ini....

Nggak tahu ada apa ya? Tiba2 nangis aja. Kayaknya gue nggak pernah nangis sampai segitunya.

Setelahnya gue baru mikir... jangan2 ada unfinished business.... Apa iya?

Hmmm....

Nggak tahu apa. Nggak tahu juga harus benerinnya dari mana. Ya ampun... setelah sekian lama... harus beres2 lagi. Artinya kan harus buka2 "kotak ajaib" lagi. Kebayang lelah hatiku.... Wedew. Pelik amat sih. Tapi gimana dong? Apa dibiarin aja ya?

Embuh wis.     

Friday, May 12, 2017

Mind You?

Apa salahnya jadi single mom?

Oke... oke... apa salahnya jadi janda (yg bercerai)?

Pertanyaan ini sudah lamaaaa banget nggak pernah hadir. Tp gara2 kemarin ketemu teman2 nyokap, mau nggak mau jadi hadir kembali. Apa salahnya?

Gara2nya setiap salaman, dgn siapa pun... apakah tante atau bude atau om atau pakde... teman2 nyokap yg sdh lamaaaa sekali nggak ketemu.... pertanyaan berikut adalah, "Masih betah single?" Atau ada yg lebih nekad lagi dengan langsung cap cus 'jualan' sepupunya, anaknya sahabatnya, atau tetangganya. Yg gue ga tahu di belahan dunia mana... yg mungkin kenalan aja belum tentu mau (huh. Kibas rambut. Pongah dan congkak :D).

Pertanyaan dan selorohan itu jadi bikin gue tanya2 lagi: apa salahnya jadi janda?

Setelah hampir 13 tahun sendirian (ada Aria ding), rasanya kok kosakata "menikah lagi" semakin jauh dan jauh saja. Bbrp tahun lalu memang sempat pengen punya pasangan lagi. Pacaran lagi. Melawati masa berantem-putus-sambung-putus lagi. Seru juga...

Tapi lalu, setelah sekian lama nggak jadi2 juga... mulai kepikiran: memang perlu ya menikah lagi? Perlu apa sebenarnya? Mau apa?

Kok ya kebetulan bbrp bulan terakhir ini dengar2 soal teman2 dekat yg bermasalah dgn perkawinannya. Kalau  masih saling cinta, ada aja masalah lain seperti finansial atau urusan anak, yg bikin hubungan mereka goncang. Skala goncangnya dari yg ringan sampai berat. Tapi tetap aja goncang. Malesin.

Kalau dengar2 yg begitu, alangkah nikmatnya hidup gue (berdua anak gue). Apa2 ya dipikir sendiri. Mau beli sepatu, tinggal hitung saldo ATM. Masih cukup? Beli. Mau bangun siang di tanggal merah, nggak ada yg melarang. Bangun jam 8. Yoga jam 9. Mandi jam 10. Jam 11 tidur lagi? Boleh aja. Mau mogok masuk dapur ya terserah aja... hahaha... selama masih ada gofood, artinya Aria masih punya pengasup ransum. Aman dunia gue.

Nah, dengan segala kenikmatan duniawi semacam itu... apa ya masih perlu punya pasangan (lagi)?


Friday, May 05, 2017

Surprise

It can be as simple as a one line text. Saying that he sent me something. Wow.

Thursday, May 04, 2017

SE-LA-LU

Selalu ada yg lebih penting. Pekerjaan. Perasaan. Mereka.






Sepertinya aku ngga penting2 amat.

Monday, April 10, 2017

Why?

Ku ingin cinta hadir untuk selamanya 
Bukan hanyalah untuk sementara 

Menyapa dan hilang 
Terbit tenggelam bagai pelangi 
Yang indahnya hanya sesaat 
Tuk kulihat dia mewarnai hari
 
Tetaplah engkau di sini 
Jangan datang lalu kau pergi 
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu 
Untuk cinta sesaat
 
Mengapa ku tak bisa jadi 
Cinta yang tak akan pernah terganti 
Cinta yg tak kan terjadi
 Lalu mengapa kau masih di sini 
Memperpanjang harapan
 
Tetaplah engkau di sini 
Jangan datang lalu kau pergi 
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu 
Untuk cinta sesaat
 
Kau bagai kata yg terus melaju 
Di luasnya ombak samudera biru 
Namun sayangnya kau tak pilih aku 
Jadi pelabuhanmu
 
Tetaplah engkau di sini 
Jangan datang lalu kau pergi
Jangan anggap hatiku 
Jadi tempat persinggahanmu
 
Bila tak ingin di sini 
Jangan berlalu lalang lagi 
Biarkanlah hatiku  
Mencari cinta sejati 
Wahai cintaku 
Wahai cinta sesaat

Pelangi - HIVI

Friday, March 17, 2017

Missing You

I may not be a missing piece looking for others to take me rolling. But it doesn't mean I don't need you in my life. I need you to roll closer, balancing my step, so together we can pass the crookedest path. If any.

Thursday, March 16, 2017

The Missing Piece Meets the Big O

Ceritanya ada sebuah segitiga yg pengen sekali menggelinding. Dia mencari teman yg kira2 perlu kepingan segitiga, supaya bisa menyatu, jadi bola sempurna, lalu mereka menggelinding bersama. Setelah gagal beberapa kali, ada satu bola yg salah satu sisinya koyak. Pas dengan bentuk segitiga. Klop. Menyatulah mereka, lalu menggelindinglah bersama.

Dalam perjalanan, si segitiga ternyata berkembang. Ia membesar, hingga celah di bola menjadi sesak. Akhirnya mereka berpisah. Si segitiga sedih sekali. Ia putus asa, sudut2nya membuat dia merasa nggak bisa menggelinding. Dia kangen bola.

Tapi lalu, dia mencoba menyemangati diri. Ia coba berguling. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Bisa. Tapi tentu tidak mulus karena bentuknya segitiga. Dia nggak putus asa. Terus berguling... berguling... berguling... sampai akhirnya tubuhnya berubah, sudut2nya jadi tumpul... lama2 membulat. Dia bisa lancar menggelinding. Dalam perjalanan, dia bertemu bola2 lain. Dan menggelindinglah mereka bersama. Tapi, ketika tiba di persimpangan, kadang ada bola yang memisahkan diri, ada juga yang tetap di sampingnya.

Itu cerita yg nulis Shel Silverstein. Jenius, karena itulah yg terjadi dalam kehidupan. Sometimes we think we cannot function because we need other people to help us. And when we found someone, we stick to him or her, thingking about not moving nowhere had we weren't with him or her. Do we really?

Kita masing2 bertumbuh. Ketika menyatu dengan orang lain, seharusnyalah kita tetap bertumbuh menjadi lebih baik. Ketika orang lain tidak bisa menerima perkembangan kita, ya... mungkin sudah saatnya kita tidak bersama dia lagi. Tugasnya sudah selesai. Silakan melanjutkan perjalanan sendiri2. Dalam perjalanan, pasti kita akan menemukan orang2 lain lagi. Yg akan bersama kita dalam suatu waktu. Untuk kemudian mencari jalan sendiri2.

Itu pula kayaknya yg terjadi dalam dunia pekerjaan sekarang ini. Media cetak sudah seperti barang mewah. Mahal sekali, hanya sedikit orang yg mampu memiliki dan mengerjakannya. Lalu bagaimana? Harus apa? Bergerak. Bertumbuh. Berkembang. Harus terus melangkah, jangan berhenti. Kalau memang hrs berpindah ke digital. Kenapa tidak? Awalnya mungkin sulit beradaptasi dengan trend media sekarang yang sangat cepat. Tapi, perjalanan akan membuat kita menemukan fleksibilitas.

So, let's go.

Friday, March 10, 2017

Next: Contemplating Session

Sesi berpikir2 lama kembali terjadi di tengah minggu. Dengan semakin banyak pertanyaan dan kegalauan. Hahahaha....

Banyak pemicunya. Salah satunya grup wa ibu2 single. Anggota grup itu macam2 banget kisahnya. Dari yg lucu sampai yg pilu... semua ada. Dan semua dituturkan oleh pelaku atau korban lho. Jadi itu kisah nyata.

Entah mulainya gimana, salah satu topik kemarin adalah "suami selingkuh." Macem2 cerita langsung hadir. Gue yg di kantor kyk kepontalan "ngejar" chatting. Gimana nggak, ditinggal meeting 30 menit, sudah ada 762 notifikasi. Edun.

Macam2 cerita perselingkuhan itu (aduh mak sumpah gue parno bacanya), menimbulkan pertanyaan: kenapa mereka selingkuh. Apa ada yang salah dengan si perempuan? Perempuan yg istri atau yg selingkuhan? Tapi kenapa? Dan tentunya nggak ada yang terjawab dengan jelas. Malah membawa gue ke masa silam, jadi tanya lagi... kok dulu suami gue selingkuh kenapa? Nggak terjawab juga, malah diikuti kesadaran kalau ternyata tidak semua istri mengenal suaminya dengan baik.

Masih kepikiran sama topik wag itu, tiba2 malamnya terjadi percakapan wa dgn OmD. Tp sialnya ngomong di wa kan nggak kelihatan wajah, nggak ada ekspresi, nggak jelas apakah penjelasan gue dibaca atau nggak. Menurut gue sih akhirnya nggak gitu menarik karena terlihat perbedaan pandangan yang jelas. Sampai dalam perjalanan pulang gue mikir keras banget: kami ini sebenarnya mau apa?

Terjadi selisih paham soal perempuan bekerja. OmD masih berpikiran bahwa bekerja itu ya secukupnya saja. Sementara gue yg suka seru sendiri ini kadang2 perlu keriaan. Waktu ada undangan meeting jam 22.00, masih tergoda utk ikut karena materi meeting terdengar seru. Buat OmD, meeting jam 22.00 nggak masuk akal. Tanpa pernah mengalami langsung situasi runyam traffic ibukota, jadwal padat merayap pejabat, juga meeting back to back non stop yg bikin kesepatan meeting tengah malam.... buat OmD yg nggak umum itu jadi nggak layak. Sementara buat gue? Laaah... meeting sampai jam 1 pagi juga pernah kok. Dan nggak tiap hari sih. Paling pol 2 tahun sekali... jadi... it was not a big deal at all. Lha kalau memang kerjanya begitu ya gimana? Dan gue suka2 aja.

Meskipun kami sdh lama sekali sama2, tapi nggak pernah ada masa kami bareng. Dia nggak tahu apa yg gue alami on site. Dia nggak lihat gimana gue dari redaktur kroco trus bisa jadi spt skrg. Dia nggak lihat langsung gimana gue merintis karier gue sambil gonjang ganjing ngurus rumah. Dia nggak paham dunia gue karena selama ini toh dia juga nggak pernah ada di situ. Buat gue, nggak ada kamus: mengorbankan karier untuk anak. Atau menelantarkan anak demi karier. No. I have to have both. Dan yg penting, gue toh nggak menelantarkan anak gue. Anak gue itu demikiran gembira dan ceria, sungguh jauh dari gambaran anak terlantar. Nggak mungkin? Kata siapa?  

Hal yg sama... gue jg nggak tahu apa yg dia alami. Day to day. Gue nggak lihat bagaimana lingkungannya bisa membentuk pola pikir dia sekarang. Gue nggak paham dasar penilaian dia, karena gue juga nggak pernah ada di dunia dia.

Yg kami punya selama ini adalah saling tukar cerita. Sudah, cuma itu. Kalau ceritanya ngawur atau nggak sesuai kenyataan, yg tahu hanya yg bercerita. Pikir sendirilah jadinya.

Do I love him? Of course I do. Tapi apakah cinta itu bisa membuat gue tenang2 saja seandainya gue harus ikut dia? Apakah cinta itu cukup besar untuk gue bisa berkompromi pada hal2 yang tidak gue sukai? Apakah cinta itu nggak terbatas, sampai gue bisa mengikuti cara hidupnya tanpa frustrasi?

Bagaimana juga dengan dia? Gue nggak tahu.

Selama ini yg terjadi dengan kami adalah LDR tak kunjung henti. Pertemuan2 cuma sebentar, nggak mungkin diisi berantem. Berantem jarak jauh ya udah gitu aja. Nggak bikin kita makin saling kenal dgn baik. Apakah semua bekal ini cukup untuk melangkah lebih jauh?

Gue nggak tahu.

Yg gue tahu, ada rasa yg gue nggak nyaman. Ada sesuatu yg mengatakan ada hal yg nggak bener. Dan tentunya gue nggak boleh diam saja. Kali ini gue akan mengikuti kata hati gue.