Riuh rendah pilkada paling terasa di medsos. Asli panas. Dan semua kok seperti mengarah ke DKI. Ya ampun... padahal pilkada itu di seluruh Indonesia!! Bahkan Banten aja, yg tetanggaan sm DKI, spt nggak tersentuh. Paslon jadi enak2an nggak bikin kampanye program. Duileh.
Yg paling hot tentu topik cagub yg didakwa sebagai penista agama. Entah kenapa topik itu nggak habis2. Dan lalu dikait-kaitkan dgn ayat dalam Al Quran soal memilih pemimpin muslim. Hmm... tapi masak ayat itu hanya berlaku buat pilkada DKI?
Dari semua orang yg ada di timeline gue, ada satu yg sangat "garing" dalam arti selalu berusaha ikut menista cagub DKI, tapi kalau dikonfrontasi selalu berkata seolah tidak membela siapa2. Alias cari aman aja terus. Tp cari aman dgn aneh dan sibuk ngeles sana sini. Yaaa... mirip junjungannya sih. Hahahaha...
Terserah sih, dia mau ngomong apa juga di medsos dia. Yg gue sayangkan adalah... krn dulu gue pernah punya perasaan khusus padanya. Hah! Memang Tuhan selalu menolong gue. Terima kasih ya Allah. Alhamdulillah selalu dijauhkan dari orang2 yg aneh.
Friday, February 17, 2017
Tuesday, February 14, 2017
Orang Jakarta
Salah satu dari banyak hal yang menyenangkan dari perjalanan Semarang minggu lalu adalah kenyataan kalau waktu seakan berhenti setelah kita keluar dari Jakarta :D
Terbiasa dgn kemacetan dan jarak yang astaganaga di Jakarta, sejak kecil banget kami di rumah diajarin untuk sediakan waktu sela. Selalu on time. Keluarga tentara bener....Didikan bokap yg begitu, bikin kami semua agak lucu sama jadwal2. Apalagi Jakarta makin hari makin macet... makin luculah kami serumah. Pesawat jam 5.40. Jam 3 akan sudah berangkat dari rumah. Kereta jam 7.00, jam 5 akan sudah ada di jalan. Mendingan nunggu lama di airport atau stasiun, timbang ketinggalan.
Nah, sering banget hal2 begini nggak dipahami sama saudara2 yg tidak tinggal di Jakarta.Mereka mungkin nggak paham deg2an takut ketinggalan pesawat karena macet... krn nggak pernah mengalami. Hahaha.... Kyk di Lombok, pesawat jam 12.20, check in jam 12 jg masih bisa. Trus ke airport nggak macet.
Di Semarang, saat waktu terasa berhenti, kebiasaan on time dan spare time ini jadi lucu banget. Karena kami keluarga Jakarta selalu jadi yg pertama siap. Hahaha.... Hari pertama, ada acara seserahan yang katanya jam 4. Jam 3 kami sdh ada di venue. Ternyata calon pengantin malah belum mandi....
Perhitungan waktu, bikin kaget banget waktu ada di luar Jakarta. Di Salatiga, pagi2 whatsapp-an sm temen SD, dia cuma bilang, "Tunggu, aku ke situ." Trus nggak sampai 5 menit dia sdh hadir. Padahal rumahnya sekitar 12 km dari hotel.
Di Salatiga juga, jam 7 kami keluarga Jakarta sdh keluar dr kamar dan rapi berbusana. Nggak ada jadwal apa2 sih.... cuma biasanya kalau di Jkt kan jam 6 sdh berangkat dari rumah.... hahaha.... Ternyata, Salatiga jam 7 belum ada aktivitas kecuali warung2 yang buka untuk sarapan.
Enaaaak banget rasanya nggak dikejar waktu. Nggak ada macet. Nggak grusa grusu. Kayaknya kalau lama2 tinggal di luar Jakarta... kita semua bisa awet muda dan waras.
Hmm... tapi krn waktu kyk nggak ada harganya, orang2 yg di sektor servis jg kayak lambaaaaat banget. Panggil bellboy, 30 menit. Check in counter, petugasnya bisa alon alon waton suwi masukin data stroller dan carseat buat bagasi.
Jadi gimana ya, enaknya? Hahahaha....
Terbiasa dgn kemacetan dan jarak yang astaganaga di Jakarta, sejak kecil banget kami di rumah diajarin untuk sediakan waktu sela. Selalu on time. Keluarga tentara bener....Didikan bokap yg begitu, bikin kami semua agak lucu sama jadwal2. Apalagi Jakarta makin hari makin macet... makin luculah kami serumah. Pesawat jam 5.40. Jam 3 akan sudah berangkat dari rumah. Kereta jam 7.00, jam 5 akan sudah ada di jalan. Mendingan nunggu lama di airport atau stasiun, timbang ketinggalan.
Nah, sering banget hal2 begini nggak dipahami sama saudara2 yg tidak tinggal di Jakarta.Mereka mungkin nggak paham deg2an takut ketinggalan pesawat karena macet... krn nggak pernah mengalami. Hahaha.... Kyk di Lombok, pesawat jam 12.20, check in jam 12 jg masih bisa. Trus ke airport nggak macet.
Di Semarang, saat waktu terasa berhenti, kebiasaan on time dan spare time ini jadi lucu banget. Karena kami keluarga Jakarta selalu jadi yg pertama siap. Hahaha.... Hari pertama, ada acara seserahan yang katanya jam 4. Jam 3 kami sdh ada di venue. Ternyata calon pengantin malah belum mandi....
Perhitungan waktu, bikin kaget banget waktu ada di luar Jakarta. Di Salatiga, pagi2 whatsapp-an sm temen SD, dia cuma bilang, "Tunggu, aku ke situ." Trus nggak sampai 5 menit dia sdh hadir. Padahal rumahnya sekitar 12 km dari hotel.
Di Salatiga juga, jam 7 kami keluarga Jakarta sdh keluar dr kamar dan rapi berbusana. Nggak ada jadwal apa2 sih.... cuma biasanya kalau di Jkt kan jam 6 sdh berangkat dari rumah.... hahaha.... Ternyata, Salatiga jam 7 belum ada aktivitas kecuali warung2 yang buka untuk sarapan.
Enaaaak banget rasanya nggak dikejar waktu. Nggak ada macet. Nggak grusa grusu. Kayaknya kalau lama2 tinggal di luar Jakarta... kita semua bisa awet muda dan waras.
Hmm... tapi krn waktu kyk nggak ada harganya, orang2 yg di sektor servis jg kayak lambaaaaat banget. Panggil bellboy, 30 menit. Check in counter, petugasnya bisa alon alon waton suwi masukin data stroller dan carseat buat bagasi.
Jadi gimana ya, enaknya? Hahahaha....
Thursday, February 09, 2017
Asik Asik Aja....
So we did a little vacation last week.
Kami di sini adalah 7 anggota keluarga nDalem Prosotan. Tujuh? Iya... sejak Oktober 2016, ada tambahan anggota baru: Jawa Malaika.
Minggu lalu, ada kawinan sepupu di Semarang. Para ortu langsung ambisius ambil cuti Jumat dan Senin, manjangin weekend. Hehehe....
Ternyata oh ternyata, bepergian sama satu bayi dan satu eyang sungguh menantang ya! Hahaha.... Mau nggak mau, hrs meng-cater kebutuhan semua orang. Supaya semua senang, karena ini kan liburan.... Diusahakan agar semua bahagia. Ini sekaligus latihan memanjangkan usus, juga latihan untuk cuek tapi tetap peduli. Dan tantangannya adalah agar setelah ini tetap saling menyayangi.... Ahaha....
Misalnya, sdh ditetapkan mau ke sini ke sini ke situ. Tapi harus berubah karena tiba2 ada yg berubah mood. Hehehe... ya nggak pa pa juga sih. Kan nggak ada deadline :p
Atau pengen banget makan sesuatu, tapi ternyata yg lain nggak mau... ya udah, ngalah berhenti sebentar untuk beli makanan yg disuka. Atau stop 2x. Nggak apa2, ada mobil dan lagi2 karena nggak ada yg dikejar. Jadwal mau molor kayak apa juga bebas kok.
Di situlah latihan kesabarannya. Hahaha... Tapi untungnya semua orang kayaknya punya pikiran yg sama. Hrs sabar dan berusus panjang. Jadi minim konflik. Bahkan waktu ke tempat wisata, ternyata nggak asyik, nggak ada yg komplen. Eyang tadinya sdh menunjukkan tanda2 mau komplen, tp lihat yg lain seru, batal komplen. Di tempat wisata, supaya nggak kecewa, cari kesenangan lain. Aria dengan balon2, gue pesta kelengkeng, Galuh cari lekker, Cay cari bakso. Pap mainan sama Jawa. Hahaha... tetap seru dan bergembira.
Jadi memang kuncinya pergi sama2: lemesin aja saaaayyyy.... :D
Kami di sini adalah 7 anggota keluarga nDalem Prosotan. Tujuh? Iya... sejak Oktober 2016, ada tambahan anggota baru: Jawa Malaika.
Minggu lalu, ada kawinan sepupu di Semarang. Para ortu langsung ambisius ambil cuti Jumat dan Senin, manjangin weekend. Hehehe....
Ternyata oh ternyata, bepergian sama satu bayi dan satu eyang sungguh menantang ya! Hahaha.... Mau nggak mau, hrs meng-cater kebutuhan semua orang. Supaya semua senang, karena ini kan liburan.... Diusahakan agar semua bahagia. Ini sekaligus latihan memanjangkan usus, juga latihan untuk cuek tapi tetap peduli. Dan tantangannya adalah agar setelah ini tetap saling menyayangi.... Ahaha....
Misalnya, sdh ditetapkan mau ke sini ke sini ke situ. Tapi harus berubah karena tiba2 ada yg berubah mood. Hehehe... ya nggak pa pa juga sih. Kan nggak ada deadline :p
Atau pengen banget makan sesuatu, tapi ternyata yg lain nggak mau... ya udah, ngalah berhenti sebentar untuk beli makanan yg disuka. Atau stop 2x. Nggak apa2, ada mobil dan lagi2 karena nggak ada yg dikejar. Jadwal mau molor kayak apa juga bebas kok.
Di situlah latihan kesabarannya. Hahaha... Tapi untungnya semua orang kayaknya punya pikiran yg sama. Hrs sabar dan berusus panjang. Jadi minim konflik. Bahkan waktu ke tempat wisata, ternyata nggak asyik, nggak ada yg komplen. Eyang tadinya sdh menunjukkan tanda2 mau komplen, tp lihat yg lain seru, batal komplen. Di tempat wisata, supaya nggak kecewa, cari kesenangan lain. Aria dengan balon2, gue pesta kelengkeng, Galuh cari lekker, Cay cari bakso. Pap mainan sama Jawa. Hahaha... tetap seru dan bergembira.
Jadi memang kuncinya pergi sama2: lemesin aja saaaayyyy.... :D
Monday, January 30, 2017
Yang Tersisa
Leapt, without looking
And tumbled into the Seine
The water was freezing
She spent a month sneezing
But said she would do it again
Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make
She captured a feeling
Sky with no ceiling
The sunset inside a frame
She lived in her liquor
And died with a flicker
I'll always remember the flame
Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make
She told me:
"A bit of madness is key
To give us new colors to see
Who knows where it will lead us?
And that's why they need us"
So bring on the rebels
The ripples from pebbles
The painters, and poets, and plays
And here's to the fools who dream
Crazy as they may seem
Here's to the hearts that break
Here's to the mess we make
I trace it all back to then
Her, and the snow, and the Seine
Smiling through it
She said she'd do it again
Audition (The Fools Who Dream) - Emma Stone
And tumbled into the Seine
The water was freezing
She spent a month sneezing
But said she would do it again
Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make
She captured a feeling
Sky with no ceiling
The sunset inside a frame
She lived in her liquor
And died with a flicker
I'll always remember the flame
Here's to the ones who dream
Foolish as they may seem
Here's to the hearts that ache
Here's to the mess we make
She told me:
"A bit of madness is key
To give us new colors to see
Who knows where it will lead us?
And that's why they need us"
So bring on the rebels
The ripples from pebbles
The painters, and poets, and plays
And here's to the fools who dream
Crazy as they may seem
Here's to the hearts that break
Here's to the mess we make
I trace it all back to then
Her, and the snow, and the Seine
Smiling through it
She said she'd do it again
Audition (The Fools Who Dream) - Emma Stone
Wednesday, January 11, 2017
Driving Miss Crazy
Hurah! Sudah lama ya nggak nulis di blog. Padahal ini sarana melatih kelancaran berbahasa (ngaco). Terbukti dgn semakin jarangnya update blog, kemampuan menulis pun menurun drastis. Sigh.
Dari kemarin2 sdh sangat pengen nulis soal pengalaman nyetir di Jakarta. Coba kita lihat... apakah hasilnya sesuai harapan? Hahaha....
Gue nyetir sejak kelas 3 SMA. Diajarin bokap. Belajarnya tiap hari Minggu di daerah Kemayoran. Dulu kan daerah situ masih sepi banget. Bekas landasan pacu pesawat kan panjang dan lurus. Jadi belajar nyetir lebih masuk akal. Hoho... bokap tentara bener dah kalau ngajar nyetir. Meskipun skrg ada hal2 yg gue pikir "kok gitu sih ngajarinnya" tapi toh gue bisa juga keliling2 Jakarta berkat bokap. Bokap yg ngajarin ibu gue nyetir, juga kakak dan adik gue.... Thanks lho Kap....
Kemahiran menyetir ini diuji antarkota juga lho. Jangan sediiiiih... dulu kami sekeluarga termasuk yang rajin mudik. Jakarta-Madiun cap cus. Biasanya berangkat dari Jakarta jam 4.30 hbs subuh. Teng. Pernah ada adik nyokap yg mau nebeng. Ditungguin sampai jam 4.45 nggak datang... ditinggal sama pak tentara. Mau naik apa mudik? Emang gue pikirin....
Kami sering lewat pantai utara. Pembagian nyetir biasanya nyokap duluan. Sampai di daerah Purwakarta atau lebih dikit deh. Habis itu gue sampai Tegal. Trus gantian bokap dan kakak gue sampai masuk Jawa Timur. Adik gue kayaknya punya SIM tuh pas jaman mudik. Nanti di Madiun, dalam kota adalah bagian gue. Trus rute pulang jd tugas para pria. Ibu2 mah tidur aja kali yak.
Kebiasaan mudik ini berhenti di masa2 akhir gue sekolah. Mudik terakhir pakai Toyota Kijang thn 1996. Sengaja lewat Selatan. Sampai di Nagrek... ditabrak bus. Penyok barah di belakang. Sedih bener. Kayaknya terpengaruh itu, menjelang sampai Jawa Timur bokap kayak pusing gitu, mobil keluar dari jalur trus sempat muter.. nggak tahu deh kok bisa.... Mungkin beliau ngantuk ya, karena itu sudah malam dan jalan sepiiiii banget. Akhirnya perjalanan diterusin kakak gue. Pulangnya untuk pertama kali gantian nyetir gue dan kakak gue. Habis itu... tahun depannya nggak mudik lagi. Sejak itu... kalau mudik naik pesawat aja lah. Cepet dan ringkes. Apalagi sekarang tiket pesawat juga banyak yg nggak mahal.
Balik lagi ke soal setir menyetir.... Waktu di Amerika, meskipun pegang SIM Internasional, tetap aja lebih baik ujian nyetir supaya dapat SIM lokal. Asyik. Nyari SIM Amrik. Susah. Hahahaha.... Sebenernya bukan susah gimana2 tp karena semua sdh teratur dan lewat jalur yang semestinya jadi bikin deg2an. Akhirnya harus tahu rambu2 yang kadang semacam nggak ada artinya di Jakarta. Misalnya: kalau ada tanda "stop" di perempatan, harus ngapain? Hayoooo... ngapain hayoooo... hahaha.... Juga cara parkir paralel di tanjakan atau di turunan. Hayooo... gimana hayooo.... Udahlah setir di kiri, posisi jalan di kanan... rambu2nya banyak. Enakan tidur....
Nyetir di Amrik ngajarin gue menjadi supir yang "rapi". Misalnya lampu merah mati, nggak ada tuh yg jadi kusut kayak di Jakarta. Hahaha... Kalau lampu merah mati, pengemudi akan mengikuti tanda "stop" di perempatan. Artinya... mereka akan berhenti, full stop, dan yang menunggu sampai orang di jalan yang sisi sebelah kiri mereka jalan duluan. Itu sdh konsensus yg sangat dipatuhi. Begitu juga kalau ada ambulance (yg biasanya satu set sama polisi dan pemadam kebakaran). Begitu kedengeran nguing2... semua akan berhenti seketika. Full stop. Dan si nguing2 ini akan melintas bebas di antara yg berhenti. Oh yaaa... karena semua lurus baris sesuai marka jalan, jalur darurat nggak dilewati, jadi nguing2 ini leluasa jalan. Di sini? Nguing2 selain juga kadang tipu2... agak susah juga mau melintas karena jalurnya full house cyiiiinnn.... Boro2 ngikut marka jalan, jalur darurat aja susah dilewati. Astaga astaga astaga.
Makanya kebayanglah ada kejadian Brexit si Brebes Exit lebaran lalu. Gimana nggak... semua hanya mikir diri sendiri.
Kacau balau memang pengemudi Jakarta. Misalnya gue berhenti sebelum belokan, karena setelah belokan itu jalur gue macet... pasti yg belakang klakson... nyangka gue ngelamun. Hahahaha... padahal kan memang aturannya begitu, supaya yang mau keluar masuk belokan nggak terhalang. Yakin banget jarang ada yg paham beginian. Trus marka jalan itu juga kayaknya dianggap coretan iseng petugas DLLAJR. Jarang ada mobil yg luruuuuus aja di dalam marka, terutama setelah belok. Kalau gue tetep di jalur gue setelah membelok, yg di sisi kanan pasti nglakson menganggap gue terlalu lambat. Laaaahhh....
Trus... siapa tuh yg ngajarin kasih lampu hazard kalau hujan? Dodol.
Hmm... hmm... karena gue supir yg rapi, susah banget gue bisa dapat supir yg cocok (untuk mobil gue). Beberapa kali pasti nggak cocok lebih karena dia banyak melanggar aturan lalu lintas. Masuk jalur TransJ, nerobos lampu merah, berhenti di bawah rambu larangan stop, pindah2 jalur ga puguh.... Sampai pernah suatu ketika punya supir, trus berangkat ke kantor, trus supirnya melanggar bbrp kali, dan gue tegur. Eh... dia bilang, "Ibu tenang saja duduk, saya yang nyetir." Bikin emosi. You know what... sampai kantor, gue suruh parkir, gue kasih gaji dia bulan itu plus ongkos kereta. Gue suruh pulang. Lu pikir gue ga bisa nyetir? Bhaaaaayyyy....
Sampai kapan ya nyetir di Indonesia awut2an kayak gini?
Dari kemarin2 sdh sangat pengen nulis soal pengalaman nyetir di Jakarta. Coba kita lihat... apakah hasilnya sesuai harapan? Hahaha....
Gue nyetir sejak kelas 3 SMA. Diajarin bokap. Belajarnya tiap hari Minggu di daerah Kemayoran. Dulu kan daerah situ masih sepi banget. Bekas landasan pacu pesawat kan panjang dan lurus. Jadi belajar nyetir lebih masuk akal. Hoho... bokap tentara bener dah kalau ngajar nyetir. Meskipun skrg ada hal2 yg gue pikir "kok gitu sih ngajarinnya" tapi toh gue bisa juga keliling2 Jakarta berkat bokap. Bokap yg ngajarin ibu gue nyetir, juga kakak dan adik gue.... Thanks lho Kap....
Kemahiran menyetir ini diuji antarkota juga lho. Jangan sediiiiih... dulu kami sekeluarga termasuk yang rajin mudik. Jakarta-Madiun cap cus. Biasanya berangkat dari Jakarta jam 4.30 hbs subuh. Teng. Pernah ada adik nyokap yg mau nebeng. Ditungguin sampai jam 4.45 nggak datang... ditinggal sama pak tentara. Mau naik apa mudik? Emang gue pikirin....
Kami sering lewat pantai utara. Pembagian nyetir biasanya nyokap duluan. Sampai di daerah Purwakarta atau lebih dikit deh. Habis itu gue sampai Tegal. Trus gantian bokap dan kakak gue sampai masuk Jawa Timur. Adik gue kayaknya punya SIM tuh pas jaman mudik. Nanti di Madiun, dalam kota adalah bagian gue. Trus rute pulang jd tugas para pria. Ibu2 mah tidur aja kali yak.
Kebiasaan mudik ini berhenti di masa2 akhir gue sekolah. Mudik terakhir pakai Toyota Kijang thn 1996. Sengaja lewat Selatan. Sampai di Nagrek... ditabrak bus. Penyok barah di belakang. Sedih bener. Kayaknya terpengaruh itu, menjelang sampai Jawa Timur bokap kayak pusing gitu, mobil keluar dari jalur trus sempat muter.. nggak tahu deh kok bisa.... Mungkin beliau ngantuk ya, karena itu sudah malam dan jalan sepiiiii banget. Akhirnya perjalanan diterusin kakak gue. Pulangnya untuk pertama kali gantian nyetir gue dan kakak gue. Habis itu... tahun depannya nggak mudik lagi. Sejak itu... kalau mudik naik pesawat aja lah. Cepet dan ringkes. Apalagi sekarang tiket pesawat juga banyak yg nggak mahal.
Balik lagi ke soal setir menyetir.... Waktu di Amerika, meskipun pegang SIM Internasional, tetap aja lebih baik ujian nyetir supaya dapat SIM lokal. Asyik. Nyari SIM Amrik. Susah. Hahahaha.... Sebenernya bukan susah gimana2 tp karena semua sdh teratur dan lewat jalur yang semestinya jadi bikin deg2an. Akhirnya harus tahu rambu2 yang kadang semacam nggak ada artinya di Jakarta. Misalnya: kalau ada tanda "stop" di perempatan, harus ngapain? Hayoooo... ngapain hayoooo... hahaha.... Juga cara parkir paralel di tanjakan atau di turunan. Hayooo... gimana hayooo.... Udahlah setir di kiri, posisi jalan di kanan... rambu2nya banyak. Enakan tidur....
Nyetir di Amrik ngajarin gue menjadi supir yang "rapi". Misalnya lampu merah mati, nggak ada tuh yg jadi kusut kayak di Jakarta. Hahaha... Kalau lampu merah mati, pengemudi akan mengikuti tanda "stop" di perempatan. Artinya... mereka akan berhenti, full stop, dan yang menunggu sampai orang di jalan yang sisi sebelah kiri mereka jalan duluan. Itu sdh konsensus yg sangat dipatuhi. Begitu juga kalau ada ambulance (yg biasanya satu set sama polisi dan pemadam kebakaran). Begitu kedengeran nguing2... semua akan berhenti seketika. Full stop. Dan si nguing2 ini akan melintas bebas di antara yg berhenti. Oh yaaa... karena semua lurus baris sesuai marka jalan, jalur darurat nggak dilewati, jadi nguing2 ini leluasa jalan. Di sini? Nguing2 selain juga kadang tipu2... agak susah juga mau melintas karena jalurnya full house cyiiiinnn.... Boro2 ngikut marka jalan, jalur darurat aja susah dilewati. Astaga astaga astaga.
Makanya kebayanglah ada kejadian Brexit si Brebes Exit lebaran lalu. Gimana nggak... semua hanya mikir diri sendiri.
Kacau balau memang pengemudi Jakarta. Misalnya gue berhenti sebelum belokan, karena setelah belokan itu jalur gue macet... pasti yg belakang klakson... nyangka gue ngelamun. Hahahaha... padahal kan memang aturannya begitu, supaya yang mau keluar masuk belokan nggak terhalang. Yakin banget jarang ada yg paham beginian. Trus marka jalan itu juga kayaknya dianggap coretan iseng petugas DLLAJR. Jarang ada mobil yg luruuuuus aja di dalam marka, terutama setelah belok. Kalau gue tetep di jalur gue setelah membelok, yg di sisi kanan pasti nglakson menganggap gue terlalu lambat. Laaaahhh....
Trus... siapa tuh yg ngajarin kasih lampu hazard kalau hujan? Dodol.
Hmm... hmm... karena gue supir yg rapi, susah banget gue bisa dapat supir yg cocok (untuk mobil gue). Beberapa kali pasti nggak cocok lebih karena dia banyak melanggar aturan lalu lintas. Masuk jalur TransJ, nerobos lampu merah, berhenti di bawah rambu larangan stop, pindah2 jalur ga puguh.... Sampai pernah suatu ketika punya supir, trus berangkat ke kantor, trus supirnya melanggar bbrp kali, dan gue tegur. Eh... dia bilang, "Ibu tenang saja duduk, saya yang nyetir." Bikin emosi. You know what... sampai kantor, gue suruh parkir, gue kasih gaji dia bulan itu plus ongkos kereta. Gue suruh pulang. Lu pikir gue ga bisa nyetir? Bhaaaaayyyy....
Sampai kapan ya nyetir di Indonesia awut2an kayak gini?
Tuesday, December 20, 2016
Pilih yang Mana?
Been a while since my last post. Yes, I know. Been extremely busy with office thingy.
Kantor lagi gila2an load-nya. Semua terengah2. Kadang nyesel juga sudah berani mati terima projek macem2. Seringnya memang krn penasaran sih... Hahaha.... gemblung ya?
Sangat sangat sangat menghargai tim redaksi dan art yg bisa dibawa ngebut. Mereka -meskipun tidak terlalu suka cita- mau berusaha keras menaklukkan pekerjaan. Yg aneh2 sekalipun. Gue pun menanggung konsekuensi harus muter kayak gasing sekaligus berpikir keras smp otak serasa gosong....
Jadi yg skrg sedang dikerjakan adalah.... 3 buku, 1 annual report, dan 1 majalah. Yang "cuma" satu majalah ini memuat tentang 14 kota di Indonesia, dan harus dikerjakan untuk konsumsi 9 region, dalam 6 bahasa. Haha.... Bagi tugas sama 2 penerbitan lain. Lumayan, tim gue kebagian 4 kota. Mumet setengah gembira dimulai ketika menyusun perjalanan ke 4 kota itu. Dari awalnya gue nggak ikut, lalu karena ada anggota yg resign, nama gue masuk jd peserta. Tp krn ada projek lain di tengah jalan, gue tuker jadwal dgn kloter pergi yg terakhir. Sampai akhirnya ada jadwal bentrok, yg mengharuskan gue tinggal di warung, nggak boleh pergi. Baiklaaaaahhhh.... Jd Raja Ampat, Lombok, Kepri, Semarang.... gue cuma nonton aja! Fine! #mutung
Tim oke. Semua -meski nggak selalu mulus kayak wajah artis Korea- bisa berjalan.
Kantor lagi gila2an load-nya. Semua terengah2. Kadang nyesel juga sudah berani mati terima projek macem2. Seringnya memang krn penasaran sih... Hahaha.... gemblung ya?
Sangat sangat sangat menghargai tim redaksi dan art yg bisa dibawa ngebut. Mereka -meskipun tidak terlalu suka cita- mau berusaha keras menaklukkan pekerjaan. Yg aneh2 sekalipun. Gue pun menanggung konsekuensi harus muter kayak gasing sekaligus berpikir keras smp otak serasa gosong....
Jadi yg skrg sedang dikerjakan adalah.... 3 buku, 1 annual report, dan 1 majalah. Yang "cuma" satu majalah ini memuat tentang 14 kota di Indonesia, dan harus dikerjakan untuk konsumsi 9 region, dalam 6 bahasa. Haha.... Bagi tugas sama 2 penerbitan lain. Lumayan, tim gue kebagian 4 kota. Mumet setengah gembira dimulai ketika menyusun perjalanan ke 4 kota itu. Dari awalnya gue nggak ikut, lalu karena ada anggota yg resign, nama gue masuk jd peserta. Tp krn ada projek lain di tengah jalan, gue tuker jadwal dgn kloter pergi yg terakhir. Sampai akhirnya ada jadwal bentrok, yg mengharuskan gue tinggal di warung, nggak boleh pergi. Baiklaaaaahhhh.... Jd Raja Ampat, Lombok, Kepri, Semarang.... gue cuma nonton aja! Fine! #mutung
Tim oke. Semua -meski nggak selalu mulus kayak wajah artis Korea- bisa berjalan.
Tuesday, November 15, 2016
Pria Cekeremes
Hahaha... mau ketawa karena di grup ibu2 bahas pria cekeremes. Sejenis apakah mereka? Yaitu pria2 ra mutu.... hahaha.... ngakak lagi. Kasihan sekali ya mereka bisa masuk kategori ra mutu alias tidak berkualitas.
Sbg perempuan yang punya privilege boleh pacaran setelah mapan (aha!), gue jg beberapa kali "terjebak" dgn para cekeremes itu. Duh duh duh. Kok bisa? Ya embuh... mungkin gue terbutakan oleh hal2 lain.... ihik...
Si cekeremes 01 adalah yg matanya membelalak waktu ketemu di mal. Sayangnya, dia membelalak bukan karena terpesona kecantikan gue, tp karena lihat tentengan gue. Ho oh... waktu itu habis dpt bonus trus gue beli tas KS. Hahahaha... dia bisa intip sih harganya di butiknya. Lihat dia membelalak, gue langsung kuncup. Yah... harusnya kan dia yg beliin gue ya.... knp kok trus dia jadi resah.... Dan ini baru KS belum LV kakaaaaakkk....
Cekeremes 02 adalah yg ngajakin makan di food court trus dia sibuk dgn nampannya sendiri. Gue nggak pa pa lhoooo diajak makan di food court. Kadang memang lebih enak makan mpek2 daripada segala rupa steak di resto fancy... tp boleh nggak sih, kalau lagi dating gitu trus gue dpt kehormatan dibayarin makan? Catet... ini di food court. Kalau makan di Syailendra atau Sumire, trus mau going dutch... yaaa masih masuk akal (meskipun jadinya kok tetep nggak banget di umur segini!). Ini food court lho! Hmm... kalau jaman kuliah dulu blm punya duit, wajarlah... pelit2 sama pengeluaran, hitung semua sampai sen terakhir. Tapi skrg? Ya nehi ah!
Cekeremes 03 adalah yang mengomentari pilihan barang2 gue sebagai "terlalu mahal" dan "nggak merakyat" lalu "sebaiknya berhemat dan menabung untuk masa depan." Oke. Satu, nggak semuanya mahal. Hanya memang untuk sepatu, nggak ada pilihan krn kaki gue genduuuutt. Dua... gue toh nggak keberatan naik comm line, naik trans J, masak dibilang ga merakyat krn pakai barang branded? Lah.... Tiga... itu kan duit gue sendiri ya? Mau mahal mau murah mau branded mau kakilima... gue bayar sendiri. Tabungan? Udah punya cyin! Alhamdulillah rumah juga sudah. Mobil juga ada. Culek nih!
Cekeremes 04 adalah yg keukeuh ngajak nonton di Love, krn itu lebih dekat dgn tempat tinggal dia. Lah? Nggak dipikirin apa ya, gue tinggal di BSD? Dia pikir Love-BSD itu bisa 10 menit? Bahkan geser ke Gancit aja nggak mau lho. Masih manis kalau dia mau antar pulang. "BSD jauh. Kamu kan punya mobil," katanya. Bhaaaaayyyyy.....
Mungkin gue jg yg dodol, jadi bisa punya date cekeremes ya. Hahaha... Nggak heran, suatu kali, temen deket gue wanti2 "Jangan terlalu banyak berkorban." Ahahaha... now I get it.
Tapi kehadiran para cekeremes ini dalam hidup gue juga membawa kebaikan. Dalam arti... bisa menginspirasi gue tentang cara membesarkan Aria. Tentu gue nggak mau dia jadi pria cekeremes yg nggak ngerti tata cara pergaulan laki2 dan perempuan yg bener. Gue berharap sangat dia akan bisa dgn gampang membawa pacarnya kelak makan di tempat bagus, bisa beliin barang bagus, bisa menyayangi dan memanjakan sekaligus (aamiin). Tapi toh kalaupun dia belum sanggup, dia harus punya cara supaya nggak perlu pacarnya yg susah. He needs to know the basic rule: if you are dating a girl, don't let her touch the door nor the bill.
Sbg perempuan yang punya privilege boleh pacaran setelah mapan (aha!), gue jg beberapa kali "terjebak" dgn para cekeremes itu. Duh duh duh. Kok bisa? Ya embuh... mungkin gue terbutakan oleh hal2 lain.... ihik...
Si cekeremes 01 adalah yg matanya membelalak waktu ketemu di mal. Sayangnya, dia membelalak bukan karena terpesona kecantikan gue, tp karena lihat tentengan gue. Ho oh... waktu itu habis dpt bonus trus gue beli tas KS. Hahahaha... dia bisa intip sih harganya di butiknya. Lihat dia membelalak, gue langsung kuncup. Yah... harusnya kan dia yg beliin gue ya.... knp kok trus dia jadi resah.... Dan ini baru KS belum LV kakaaaaakkk....
Cekeremes 02 adalah yg ngajakin makan di food court trus dia sibuk dgn nampannya sendiri. Gue nggak pa pa lhoooo diajak makan di food court. Kadang memang lebih enak makan mpek2 daripada segala rupa steak di resto fancy... tp boleh nggak sih, kalau lagi dating gitu trus gue dpt kehormatan dibayarin makan? Catet... ini di food court. Kalau makan di Syailendra atau Sumire, trus mau going dutch... yaaa masih masuk akal (meskipun jadinya kok tetep nggak banget di umur segini!). Ini food court lho! Hmm... kalau jaman kuliah dulu blm punya duit, wajarlah... pelit2 sama pengeluaran, hitung semua sampai sen terakhir. Tapi skrg? Ya nehi ah!
Cekeremes 03 adalah yang mengomentari pilihan barang2 gue sebagai "terlalu mahal" dan "nggak merakyat" lalu "sebaiknya berhemat dan menabung untuk masa depan." Oke. Satu, nggak semuanya mahal. Hanya memang untuk sepatu, nggak ada pilihan krn kaki gue genduuuutt. Dua... gue toh nggak keberatan naik comm line, naik trans J, masak dibilang ga merakyat krn pakai barang branded? Lah.... Tiga... itu kan duit gue sendiri ya? Mau mahal mau murah mau branded mau kakilima... gue bayar sendiri. Tabungan? Udah punya cyin! Alhamdulillah rumah juga sudah. Mobil juga ada. Culek nih!
Cekeremes 04 adalah yg keukeuh ngajak nonton di Love, krn itu lebih dekat dgn tempat tinggal dia. Lah? Nggak dipikirin apa ya, gue tinggal di BSD? Dia pikir Love-BSD itu bisa 10 menit? Bahkan geser ke Gancit aja nggak mau lho. Masih manis kalau dia mau antar pulang. "BSD jauh. Kamu kan punya mobil," katanya. Bhaaaaayyyyy.....
Mungkin gue jg yg dodol, jadi bisa punya date cekeremes ya. Hahaha... Nggak heran, suatu kali, temen deket gue wanti2 "Jangan terlalu banyak berkorban." Ahahaha... now I get it.
Tapi kehadiran para cekeremes ini dalam hidup gue juga membawa kebaikan. Dalam arti... bisa menginspirasi gue tentang cara membesarkan Aria. Tentu gue nggak mau dia jadi pria cekeremes yg nggak ngerti tata cara pergaulan laki2 dan perempuan yg bener. Gue berharap sangat dia akan bisa dgn gampang membawa pacarnya kelak makan di tempat bagus, bisa beliin barang bagus, bisa menyayangi dan memanjakan sekaligus (aamiin). Tapi toh kalaupun dia belum sanggup, dia harus punya cara supaya nggak perlu pacarnya yg susah. He needs to know the basic rule: if you are dating a girl, don't let her touch the door nor the bill.
Monday, October 03, 2016
Note for Next
Kemarin ketemuan dengan ibu2 sesama single mom. Beragam cerita, beragam latar belakang, beragam sikap menghadapinya. Pd akhirnya semua survive. Atau hrs survive....
Yg menarik adalah ketika ada yg share materi workshop tentang healing. Self acceptance dll... hmm... jadi kepikiran pengen ikut (do I need that?).
Ada yg share pengalaman selama ini menghadapi pasangan yg sulit. Lalu menyerah. Bercerai. Dan ternyata itu mempengaruhi cara dia menyelesaikan masalah2 dalam periode hidup setelahnya. Bener nggak sih bahwa periode cinta2an itu hanya bertahan 2 tahun (katanya)? Setelah itu akan ada storm dan cara kita handle itu akan mempengaruhi hidup sesudahnya.
Hmm....
Lucu juga ya.
Krn mungkin memang begitulah. Berpasangan itu bukan masalah bisa hidup dengan dia. Maunya sih berpasangan itu krn memang nggak bisa hidup tanpa dia. Jd nggak ada jalan lain. Harus sama dia. Caranya? Ya mungkin hrs kompromi. Habis gimana? Daripada nggak hidup?
Baiklah, mari kita camkan hal itu baik2.
Yg menarik adalah ketika ada yg share materi workshop tentang healing. Self acceptance dll... hmm... jadi kepikiran pengen ikut (do I need that?).
Ada yg share pengalaman selama ini menghadapi pasangan yg sulit. Lalu menyerah. Bercerai. Dan ternyata itu mempengaruhi cara dia menyelesaikan masalah2 dalam periode hidup setelahnya. Bener nggak sih bahwa periode cinta2an itu hanya bertahan 2 tahun (katanya)? Setelah itu akan ada storm dan cara kita handle itu akan mempengaruhi hidup sesudahnya.
Hmm....
Lucu juga ya.
Krn mungkin memang begitulah. Berpasangan itu bukan masalah bisa hidup dengan dia. Maunya sih berpasangan itu krn memang nggak bisa hidup tanpa dia. Jd nggak ada jalan lain. Harus sama dia. Caranya? Ya mungkin hrs kompromi. Habis gimana? Daripada nggak hidup?
Baiklah, mari kita camkan hal itu baik2.
For Good
I've heard it said
That people come into our lives for a reason
Bringing something we must learn
And we are led
To those who help us most to grow
If we let them
And we help them in return
Well, I don't know if I believe that's true
But I know I'm who I am today
Because I knew you...
Like a comet pulled from orbit
As it passes a sun
Like a stream that meets a boulder
Halfway through the wood
Who can say if I've been changed for the better?
But because I knew you
I have been changed for good
It well may be
That we will never meet again
In this lifetime
So let me say before we part
So much of me
Is made of what I learned from you
You'll be with me
Like a handprint on my heart
And now whatever way our stories end
I know you have re-written mine
By being my friend...
Like a ship blown from its mooring
By a wind off the sea
Like a seed dropped by a skybird
In a distant wood
Who can say if I've been changed for the better?
But because I knew you
But then, I guess we know
There's blame to share
Like a comet pulled from orbit
As it passes the sun
Like a stream that meets a boulder
Halfway through the wood
That people come into our lives for a reason
Bringing something we must learn
And we are led
To those who help us most to grow
If we let them
And we help them in return
Well, I don't know if I believe that's true
But I know I'm who I am today
Because I knew you...
Like a comet pulled from orbit
As it passes a sun
Like a stream that meets a boulder
Halfway through the wood
Who can say if I've been changed for the better?
But because I knew you
I have been changed for good
It well may be
That we will never meet again
In this lifetime
So let me say before we part
So much of me
Is made of what I learned from you
You'll be with me
Like a handprint on my heart
And now whatever way our stories end
I know you have re-written mine
By being my friend...
Like a ship blown from its mooring
By a wind off the sea
Like a seed dropped by a skybird
In a distant wood
Who can say if I've been changed for the better?
But because I knew you
I have been changed for good
And just to clear the air
I ask forgiveness
For the things I've done, you blame me for
I ask forgiveness
For the things I've done, you blame me for
But then, I guess we know
There's blame to share
And none of it seems to matter anymore
Like a comet pulled from orbit
As it passes the sun
Like a stream that meets a boulder
Halfway through the wood
Who can say if I've been changed for the better?
I do believe I have been changed for the better
I do believe I have been changed for the better
And because I knew you...
Because I knew you...
I have been changed for good...
For Good - Wicked
(Missing you badly today. This song reminds me of you who came into my life and changed me for good, for always. Thank you, you know who you are.)
Friday, September 30, 2016
Mencari Udara Segar
Gonjang ganjing deadline di kantor dan kerusuhan di rumah bikin kisruh kepala dan hatiku....
Sampai di suatu akhir pekan ada undangan ke Bandung. Acara keluarga. Sudah sempat berpikir untuk mangkir aja.... sampai akhirnya ada tawaran pakai vina mobil juara (lengkap dengan supirnya). Ya udah. Kenapa ga liburan aja sekalian ya?Acaranya di Cimahi, tp start dari Bandung. Gimana kalau nginep di Lembang?
Beberapa hari sebelum, di bbrp path, kebaca nama Imah Seniman. Apa sih itu? Penginapan di daerah Lembang. Katanya di hutan. Di tepi sungai. Di tengah danau. Lha? Yg bener yg mana ya.... Lihat foto2nya kok tertarik tinggal di hutan. Mau di pinggir sungai, tengah hutan, tengah danau.... semua oke. Sekali-kali bolehlah.... Jangan mikir pantai melulu. Juga nggak mau kamar hotel yg bentuknya persegi dan ber-AC. Oke deh, booked!
Jd pada suatu sabtu pagi, gerombolan playhouse eyang-gue-Aria plus Iwan, meluncur menuju Bandung. Nggak macet. Alhamdulillah. Tp ya nggak cepet juga sih. Spt biasa Aria kalau di jalan kelamaan rada cranky. Dihibur dengan main kuartet dan main segala macem... termasuk makan ini itu.... Dan akhirnya sampai di Pasteur, dia tertidur. Halaaaah....
Mampir ke Hegarmanah. Asli cuma mampir. Nggak pengen lama2 bukan krn nggak seneng... tp nggak pengen kena macet Bandung di akhir pekan. Kira2 jam 12 segera meluncur ke Lembang. Meninggalkan Bandung yg di waze warnanya merah semua.
Ternyata yg namanya Imah Seniman ya sesuai dgn harapan. Bentuk penginapannya rumah2 kayu yang bisa dipilih: satu kamar, dua kamar, tiga kamar. Krn cuma bertiga, milih junior suite sdh cukup. Pas dapat yg di pinggir sungai. Jd denger suara air. Trus di dekatnya ada pohon, yg waktu sore jadi tempat mainan tupai. "Ibu, ada chip and chap!" Maksudnya chip & dale, gitu ya Nak?
Sebenernya rada ngeri kalau ada ular sih. Hahahaha.....
Cukup beruntung bahwa kami dapat unit yg di depan. Krn kalau di belakang.... hmm... selain jauh dr resto, juga spooky.... hahahahaha.....
Sore itu sempat jalan2 keliling resort. Dan beneran ada di hutan. Dengan sungai alami. Danau yg sempat meluap.... seru amat sih ini tempatnya. Tadinya Aria niat mau berenang, tapi karena kolamnya nggak kelihatan dasarnya... dia jadi ngeri. Takut ada buaya kali ya.... hahahaha.... Lagipula sore itu tiba2 hujan rintik2. Ya sudah, jalan2 saja, lihat2....
Enak memang ya, ada di udara segar yg bukang kalengan. Alias bukan udara AC. Rasanya langsung sehat bugar gembira! Waktu mandi sore.... kedinginan! Hahaha.... Lucu lihat Aria kedinginan. Yg selama ini kayaknya nggak pernah.... Ada sih air panas. Tp kalau hbs mandi air panas efeknya malah lebih kedinginan kan.... Aria agak resah dgn serangga2 yg banyak di mana2. Juga sama bantal yg agak lembab. Tp setelah bantal dikasih alas baru... dan serangga diusir... oke lah.... Tidur malam itu ada iringan suara binatang2 dari pohon dan suara air sungai. Seru!
Minggu paginya, semua kedinginan! Hahaha.... Seneng banget deh dingin yg bukan AC ini. Enak banget buat leyeh2. Seger banget. Trus jalan2 lagi keliling property. Sarapan di saung tepi danau. Sarapannya sih biasa aja. Tapi suasananya... ya ampun... seneng banget. Puas....
Imah Seniman berhasil menghilangkan penat. Hahahaha.... Memang suasana hutan nggak cocok buat anak kota. Banyak serangga kalau malam. Dan di kamar mandi bisa dipastikan banyak binatang kecil macam kelabang atau semut. Ya di hutan gitu lho....
Pantesan ada yg review hotelnya jelek, tua, kotor... dll.... Hmm.... salah sendiri mau nginep di hutan!
Note utk yg mau ke sini, bawa bantal sendiri.... kalau perlu bawa sprei sendiri krn yg dari hotel rasanya dingin2 lembab. Buat yg suka camping sih biasa aja. Tp yg lbh sering centil2 di hotel bintang lima pasti resah. Trus juga, kalau nggak suka suasana hutan, pilih unit yg dekat restoran. Ada yg di tepi danau atau di tepi sungai. Enak, nggak terlalu sepi.
Intinya setelah dari situ trus... pengen tinggal lebih lama nggak mikirin deadline. Hahaha.... maaf permintaan Anda tidak dikabulkan!
Sampai di suatu akhir pekan ada undangan ke Bandung. Acara keluarga. Sudah sempat berpikir untuk mangkir aja.... sampai akhirnya ada tawaran pakai vina mobil juara (lengkap dengan supirnya). Ya udah. Kenapa ga liburan aja sekalian ya?Acaranya di Cimahi, tp start dari Bandung. Gimana kalau nginep di Lembang?
Beberapa hari sebelum, di bbrp path, kebaca nama Imah Seniman. Apa sih itu? Penginapan di daerah Lembang. Katanya di hutan. Di tepi sungai. Di tengah danau. Lha? Yg bener yg mana ya.... Lihat foto2nya kok tertarik tinggal di hutan. Mau di pinggir sungai, tengah hutan, tengah danau.... semua oke. Sekali-kali bolehlah.... Jangan mikir pantai melulu. Juga nggak mau kamar hotel yg bentuknya persegi dan ber-AC. Oke deh, booked!
Jd pada suatu sabtu pagi, gerombolan playhouse eyang-gue-Aria plus Iwan, meluncur menuju Bandung. Nggak macet. Alhamdulillah. Tp ya nggak cepet juga sih. Spt biasa Aria kalau di jalan kelamaan rada cranky. Dihibur dengan main kuartet dan main segala macem... termasuk makan ini itu.... Dan akhirnya sampai di Pasteur, dia tertidur. Halaaaah....
Mampir ke Hegarmanah. Asli cuma mampir. Nggak pengen lama2 bukan krn nggak seneng... tp nggak pengen kena macet Bandung di akhir pekan. Kira2 jam 12 segera meluncur ke Lembang. Meninggalkan Bandung yg di waze warnanya merah semua.
Ternyata yg namanya Imah Seniman ya sesuai dgn harapan. Bentuk penginapannya rumah2 kayu yang bisa dipilih: satu kamar, dua kamar, tiga kamar. Krn cuma bertiga, milih junior suite sdh cukup. Pas dapat yg di pinggir sungai. Jd denger suara air. Trus di dekatnya ada pohon, yg waktu sore jadi tempat mainan tupai. "Ibu, ada chip and chap!" Maksudnya chip & dale, gitu ya Nak?
Sebenernya rada ngeri kalau ada ular sih. Hahahaha.....
Cukup beruntung bahwa kami dapat unit yg di depan. Krn kalau di belakang.... hmm... selain jauh dr resto, juga spooky.... hahahahaha.....
Sore itu sempat jalan2 keliling resort. Dan beneran ada di hutan. Dengan sungai alami. Danau yg sempat meluap.... seru amat sih ini tempatnya. Tadinya Aria niat mau berenang, tapi karena kolamnya nggak kelihatan dasarnya... dia jadi ngeri. Takut ada buaya kali ya.... hahahaha.... Lagipula sore itu tiba2 hujan rintik2. Ya sudah, jalan2 saja, lihat2....
Enak memang ya, ada di udara segar yg bukang kalengan. Alias bukan udara AC. Rasanya langsung sehat bugar gembira! Waktu mandi sore.... kedinginan! Hahaha.... Lucu lihat Aria kedinginan. Yg selama ini kayaknya nggak pernah.... Ada sih air panas. Tp kalau hbs mandi air panas efeknya malah lebih kedinginan kan.... Aria agak resah dgn serangga2 yg banyak di mana2. Juga sama bantal yg agak lembab. Tp setelah bantal dikasih alas baru... dan serangga diusir... oke lah.... Tidur malam itu ada iringan suara binatang2 dari pohon dan suara air sungai. Seru!
Minggu paginya, semua kedinginan! Hahaha.... Seneng banget deh dingin yg bukan AC ini. Enak banget buat leyeh2. Seger banget. Trus jalan2 lagi keliling property. Sarapan di saung tepi danau. Sarapannya sih biasa aja. Tapi suasananya... ya ampun... seneng banget. Puas....
Imah Seniman berhasil menghilangkan penat. Hahahaha.... Memang suasana hutan nggak cocok buat anak kota. Banyak serangga kalau malam. Dan di kamar mandi bisa dipastikan banyak binatang kecil macam kelabang atau semut. Ya di hutan gitu lho....
Pantesan ada yg review hotelnya jelek, tua, kotor... dll.... Hmm.... salah sendiri mau nginep di hutan!
Note utk yg mau ke sini, bawa bantal sendiri.... kalau perlu bawa sprei sendiri krn yg dari hotel rasanya dingin2 lembab. Buat yg suka camping sih biasa aja. Tp yg lbh sering centil2 di hotel bintang lima pasti resah. Trus juga, kalau nggak suka suasana hutan, pilih unit yg dekat restoran. Ada yg di tepi danau atau di tepi sungai. Enak, nggak terlalu sepi.
Intinya setelah dari situ trus... pengen tinggal lebih lama nggak mikirin deadline. Hahaha.... maaf permintaan Anda tidak dikabulkan!
Tuesday, July 12, 2016
Are We There Yet?
Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat ku menanti fajar
Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut ku hilang
Perdebatan apa pun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu
Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi ku milikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu
Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut ku hilang
Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu
Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi ku milikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu
(TULUS - Pamit)
Ke arah mata angin berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat ku menanti fajar
Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut ku hilang
Perdebatan apa pun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu
Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi ku milikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu
Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut ku hilang
Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu
Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi ku milikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Ku tetap teman baikmu
(TULUS - Pamit)
Monday, July 11, 2016
Wishful Thinking
...
Cukup sekali saja
Aku pernah merasa
Betapa menyiksa kehilanganmu....
...
(Raisa - Kali Kedua)
Sunday, July 10, 2016
Saturday Cheating
I saw the picture. Of you. With her.
And I was wondering, who was calling me saying he was above the hill with his bike?
Wasn't it you?
Oh, seems that you are now mastering other skill: to be in 2 places at once.
And I was wondering, who was calling me saying he was above the hill with his bike?
Wasn't it you?
Oh, seems that you are now mastering other skill: to be in 2 places at once.
Monday, May 16, 2016
For Future Reference
Be with someone who brings you closer to God. Because at the end, that is the only thing matters.
Monday, April 25, 2016
With You
Sometimes I remember reasons I let you go
Inside them I see your face and all I really know
I was scared to share the love I have inside of me
Through all the heartache I know that I was meant to be
Inside them I see your face and all I really know
I was scared to share the love I have inside of me
Through all the heartache I know that I was meant to be
With you
I have everything I've ever wanted
Simple and true
With you
Crying eyes so beautiful
It's you who always thought our love would see us through
If I could follow my heart again it would be yours
with every breath I would find a way to love you more
I can't imagine life without your silent bravery
And I'm grateful for every moment that I get to be...
With you, I have everything I've ever wanted
Simple and true
With you, loving eyes so beautiful
It's you who always finds a way
And if the stars should disappear
In the dark I'll still be here
Forever in your arms... where I belong
With you, I have everything I've ever wanted
Simple and true
With you, loving eyes so beautiful
It's you who always knew our love would see us through
With you
(Josh Groban)
Friday, April 08, 2016
Dia
Lalu? Kamu pikir aku ini apa?
Aku ini istrinya. Istrinya!
Ya! Aku belum mati....
Apa? Dia pernah bilang bahwa aku sekarat?
Apa? Setelah aku mati, kau akan dia kawini?
Tahukah kamu kalau selama ini kamu hanya dia tipu.
Dia bilang dia cinta kau? Cih! Dan kamu percaya?
Hahaha... dia itu penipu....
Dia itu penipu ulung, yg siap menerkam semua perempuan yg mengaguminya
Ya... ya... dia memang berotak cemerlang
Senjata ampuh untuk menjerat perempuan kesepian
Kamu bilang, kamu tidak termasuk?
Coba pikir lagi. Ingat-ingatlah... jangan pura-pura lupa begitu.
Sejak kapan kamu mengenal dia?
Dengan cara apa dia mendekatimu?
Puisi yang dia kirim setiap pagi?
Kata-kata manis di kartu yang dikirimnya dalam jangka waktu tertentu?
Ya...ya... dia masih bersahabat dengan kartu pos dan perangko
Di masa kini, itu pun bisa jadi amunisi untuk melumpuhkan perempuan melankolis.
Apa katamu? Dia cinta kau?
Ah, cinta lagi yang kau sebut-sebut.
Ini tidak ada urusannya dengan cinta. Dia itu penipu, sadar tidak kau?
Dulu juga dia bilang dia cinta aku.
Hanya aku, katanya waktu itu.
Cuma aku, selamanya....
Buktinya?
Sudahlah... sebelum kau, sudah ada yang lain.
Banyak.
Hingga aku lupa.
Apa? Dia berjanji menikahimu?
Hahaha... dan kamu mau?
Setelah aku mati... ya?
Percayalah, dia itu penipu!
Ya... ya... aku ini istrinya. Istrinya!
Aku belum mati.
Aku ini istrinya. Istrinya!
Ya! Aku belum mati....
Apa? Dia pernah bilang bahwa aku sekarat?
Apa? Setelah aku mati, kau akan dia kawini?
Tahukah kamu kalau selama ini kamu hanya dia tipu.
Dia bilang dia cinta kau? Cih! Dan kamu percaya?
Hahaha... dia itu penipu....
Dia itu penipu ulung, yg siap menerkam semua perempuan yg mengaguminya
Ya... ya... dia memang berotak cemerlang
Senjata ampuh untuk menjerat perempuan kesepian
Kamu bilang, kamu tidak termasuk?
Coba pikir lagi. Ingat-ingatlah... jangan pura-pura lupa begitu.
Sejak kapan kamu mengenal dia?
Dengan cara apa dia mendekatimu?
Puisi yang dia kirim setiap pagi?
Kata-kata manis di kartu yang dikirimnya dalam jangka waktu tertentu?
Ya...ya... dia masih bersahabat dengan kartu pos dan perangko
Di masa kini, itu pun bisa jadi amunisi untuk melumpuhkan perempuan melankolis.
Apa katamu? Dia cinta kau?
Ah, cinta lagi yang kau sebut-sebut.
Ini tidak ada urusannya dengan cinta. Dia itu penipu, sadar tidak kau?
Dulu juga dia bilang dia cinta aku.
Hanya aku, katanya waktu itu.
Cuma aku, selamanya....
Buktinya?
Sudahlah... sebelum kau, sudah ada yang lain.
Banyak.
Hingga aku lupa.
Apa? Dia berjanji menikahimu?
Hahaha... dan kamu mau?
Setelah aku mati... ya?
Percayalah, dia itu penipu!
Ya... ya... aku ini istrinya. Istrinya!
Aku belum mati.
Thursday, April 07, 2016
Karena Rindu
Tergesa tapi tertata.
Waspada. Dan waspada. Ambil buku. Pura-pura baca.
Bagaimana mungkin Yati akan lupa. Solemah selalu mengulangi
kata-kata itu. Waspada, katanya. Harus hati-hati, tidak boleh gegabah.
Kecerobohan Yati bisa mencelakakan seluruh anggota.
"Kamu tidak mau, kan, kita semua dipenjara?" tanya
Solemah ketus. "Heh! Jawab!"
Yati hanya mengangguk. Pelan. Ragu. Nada bicara Solemah
selalu tinggi. Dan ia mudah sekali memaki. Yati seringkali takut. Tapi dia tak
punya pilihan selain bertahan. Termasuk bertahan dalam diam ketika Solemah
memakinya. Sudah untung ia tak pernah ditampar. Tidak seperti Sofi.
"Bloon kamu! Bloon! Kalau dibilangin, nurut! Disuruh
cepat ya cepat. Belok ya belok. Jangan maumu sendiri. Bloon!"
Sejak sebulan lalu, Yati tinggal bersama Solemah. Di sebuah
kontrakan kecil di daerah padat Tangerang Selatan. Pemukiman itu bersebelahan
dengan kompleks baru yang dibangun pengembang raksasa. Rumah-rumah bagus dalam
kompleks yang rapi menutupi kampung-kampung kumuh milik warga asli.
"Kalau kerja, jangan kebanyakan melamun! Kamu harus
waspada. Waspada!"
Solemah masih berteriak-teriak.
Mata Yati nanar menatap tembok. Tembok besar itu membatasi
akses warga ke jalan utama. Kabarnya, dulu tembok itu rapat. Tapi setelah warga
berkali-kali mengajukan protes, hingga mengundang wartawan, masuk koran juga
televisi, akhirnya dibuka dua buah pintu kecil di sisi utara dan sisi selatan.
Pintu kecil itu menjadi jalan bagi warga untuk keluar masuk perkampungan. Kecil
saja. Hanya pas untuk sepeda motor.
Kontrakan Solemah adalah salah satu dari rumah petak yang
ada di situ. Terletak persis di samping tembok pembatas kompleks besar. Rumah
kontrakan yang kecil, tapi disesaki penghuninya. Sebelum Yati datang, sudah ada
Maryam dan Sofi. Karena itu Yati harus puas mendapat tempat di depan televisi,
menggelar tikar di lantai, untuk sekadar tidur di malam hari.
"Awas kamu! Lain kali kamu begitu lagi, aku
tinggal!"
Solemah masih belum menuntaskan amarah. Yati pasrah.
***
Yati menghela napas. Dia ingat-ingat lagi, apa yang
membawanya ke sini? Ke pinggiran Jakarta yang tidak seindah gambar di televisi?
Jawabannya berbentuk wajah Rafi, anak semata wayangnya. Wajah yang tampan dan
menggemaskan. Yang membuat Yati menghela napas semakin dalam, saat teringat
ayah Rafi yang tak berkabar lagi semenjak berangkat ke Taiwan setahun silam.
Ya, Rafi adalah alasan utamanya pergi ke Jakarta. Mencari
nafkah. Tepatnya, Rafi menjadi alasannya untuk terus hidup. Yati menghela napas lagi.
"Ayo Ti. Ayo... cepat!" Terdengar teriakan
Solemah. Pemilik suara itu tiba-tiba muncul dari balik warung rokok yang menempel
di balik pagar pertokoan mewah.
Yati bergegas mengikuti Solemah, sebisa mungkin merapikan
rambutnya. Solemah mengajarinya untuk berdandan rapi. Dengan bedak tipis dan
pemulas bibir. Meskipun harganya murah, dan kalau dipakai lama-lama terasa
gatal, lumayan juga wajah Yati dengan tata rias itu. Jadi rapi. Cantik. Mereka
semua yang tinggal bersama Solemah, selalu cantik ketika keluar rumah. Baju
mereka bagus, meski dibeli di pasar gaplok. Meski tidak secantik ibu-ibu yang
turun dari mobil-mobil bagus itu, Yati sudah merasa puas, ia jauh lebih cantik
jika dibandingkan saat dulu masih berkutat dengan pohon cabai di desa.
"Ayo, cepat Yati! Jangan banyak ngelamun!"
Yati mempercepat langkah mendekati Solemah. Bersama Sofi dan
Maryam, mereka masuk pertokoan. Hawa dingin dari mesin pendingin ruangan
menusuk tubuh Yati. Tapi tak ada waktu untuk berdiam sejenak, Solemah
mengajaknya bergegas. Dua teman lain pun mengikuti tanpa bersuara.
Di depan sebuah toko buku, mereka berhenti. Sofi dan Maryam
bercanda berdua, tertawa-tawa. Solemah mengangkat-angkat ponselnya, sambil
memunggungi kaca pajang toko buku. "Ini supaya yang di dalam tidak lihat
aku! Sudah kamu nggak usah ikut lihat aku, kamu pura-pura ngapain, gitu,"
katanya ketus, ketika mendapati Yati menatapnya heran.
"Yati, kamu ingat. Nanti begitu di dalam, kamu ambil
satu buku. Pura-pura baca. Sudah begitu saja. Selanjutnya ikuti Sofi. Ya?"
Yati mengangguk.
"Awas kamu!" Nada suara Solemah penuh ancaman.
Langkah Yati sempat tersendat, tapi Sofi sudah menarik
tangannya. Maryam menepuk pelan pipinya, sambil memberi tanda agar tersenyum.
Bertiga mereka masuk toko buku.
Menyusuri rak-rak. Tapi matanya tak bisa membaca satu pun judul buku
yang terpampang. Bahkan warna-warna buku itu pun rasanya membaur tidak jelas.
Yati bergegas menunduk. Dadanya berdetak kencang sekali. Maryam dan Sofi
mengambil satu buku dan melihat-lihatnya. Apa yang mereka baca? Yati ingat
pesan Solemah, ambil buku, pura-pura baca. Segera ia mengambil apa saja yang
ada di dekatnya.
"Yati... Yati... yang itu... yang itu...," Sofi
berbisik. Matanya menuju ke arah seorang ibu yang sedang membantu anaknya
mengambil buku besar. Si anak melompat-lompat tidak sabaran.
Oh ya... yang itu... Yati segera menuju ke arah ibu dan anak
itu. Tadi Solemah menyuruhnya ada di dekat ibu ini. Ibu yang turun dari mobil
warna merah. Anaknya lucu. Kira-kira umurnya sama dengan Rafi. Rambutnya lebat,
juga seperti Rafi. Wajahnya tampan, badannya sehat sekali. Wah, Rafi pasti juga
akan tampan kalau bajunya bagus seperti itu. Hm... Rafi sekarang sedang apa ya?
"Mbak, permisi. Mbak, maaf saya mau ambil buku
itu," suara si ibu menghentikan lamunan Yati. Ibu itu menatap heran.
Karena Yati berdiri tegak di depannya, diam saja, menghalangi dan mengganggu
sekali.
"Oh ya bu. Ya. Maaf," tergopoh-gopoh Yati minggir.
Apa pesan Solemah tadi? Ambil buku? Pura-pura baca?
Tangan Yati secara asal
bergoyang. Akibatnya, tumpukan buku di sebelahnya rebah. Aduh!
Ibu itu masih menatap heran. Tapi dengan sigap lalu
memanggil pelayan toko. "Mas... mas... tolong mas. Bukunya berantakan
ini."
Seorang pelayan toko segera menghampiri. Lalu menata
buku-buku yang tadi dijatuhkan Yati.
Jantung Yati berdegup keras sekali. Ia sesaat ragu. Tapi ia
masih ingat kata-kata Solemah. Ambil buku. Pura-pura baca. Ambil buku.
Pura-pura baca.
Ibu itu melaluinya. Menuju anaknya yang tampak tekun
mengamati buku besar bergambar binatang. Mereka lalu tertawa bersama. Yati
menatap iri. Kangen Rafi. Oh. Ambil buku. Pura-pura baca. Ia segera mengalihkan
mata ke buku di tangannya. Gambar apa ini? Oh, bukunya ternyata terbalik.
Pantas tidak jelas.
Ia lihat Sofi dan Maryam sudah berada di dekat ibu itu juga.
Solemah ada di dekat rak buku yang satunya. Matanya menatap Yati tajam. Yati
beringsut mendekat. Ambil buku. Pura-pura baca. Ambil buku. Pura-pura baca.
Anak itu melihat ke ibunya, lalu tertawa lagi, berseru-seru sambil melihat ke
buku, "Wah, monyetnya bisa menari!"
Rafi pasti juga akan senang kalau punya buku bagus seperti
itu.
Ibu itu tiba-tiba menatap Yati. Heran melihat Yati mengamati
anaknya begitu lekat. Yati menunduk. Ambil buku. Pura-pura baca.
Tiba-tiba Yati melihat ibu itu bergerak cepat, balik badan,
setengah berteriak, "Eh... eh... kok tas saya terbuka? Eh... ada apa
ini?" Ibu itu tampak panik sesaat. Tapi masih waspada, ia sekali lagi
memanggil pelayan toko, "Mas... mas... tolong mas... ini ada yang nggak
bener nih.... Mas!"
Yati melihat Sofi dan Maryam sigap melesat. Bagai terbang
mereka keluar toko. Solemah pun tampak beringsut mendekati pintu. Yati bingung
sesaat. Ambil buku. Pura-pura baca. Eh... tapi mereka keluar. Segera ia kembalikan buku di tangannya, ingin
menyusul Sofi dan Maryam. Juga ingin segera mendekati Solemah. Lho? Mana Solemah?
Yati celingukan ketika petugas toko menangkap tangannya.
"Ayo kamu ikut saya!"
Jantung Yati seakan jatuh ke lantai. Ia didudukkan di lantai
dekat meja kasir.
"Iya, saya lihat tas saya tiba-tiba terbuka... mbak ini
tadi melihat-lihat terus... aneh sekali... tas saya terbuka. Tidak... tidak ada
yang hilang.... Tapi coba lihat di CCTV. Sepertinya teman-teman mbak ini tadi
mencurigakan sekali. Mereka pasti komplotan...."
"Bloon kamu! Bloon! Kita semua bisa masuk
penjara."
"Coba mas, periksa rekaman CCTV. Lihat, ada empat
perempuan yang masuk toko ini setelah saya. Nah, iya... itu mereka...."
"Ambil buku. Pura-pura baca. Jangan suka bengong
seperti itu. Mereka bisa curiga."
Samar-samar Yati masih mendengar suara-suara itu. Samar. Perasaannya
berkecamuk. Ia kangen Rafi. Ia ingin pulang ke Kebumen. Ke anaknya.
"Nah, betul kan mas. Betul kan... yang baju kuning yang
membuka tas saya! Astaga. Mereka ini penjahat! Saya sudah curiga karena saya
lihat mbak ini baca buku kok terbalik. Mereka komplotan ya. Aduh. Saya akan
lapor polisi."
Tidak ada lagi mereka. Hanya tinggal Yati. Hanya ia yang
akan dipenjara. Dia. Yati. Anggota baru komplotan copet. Yati jatuh pingsan. Ia
hanya kangen anaknya.
(Dimuat di salah satu Majalah Femina yang terbit bulan Maret 2016)
Wednesday, April 06, 2016
Tentang Kita. Atau Aku? (Yang Lain)
Dan pagi pun datang.
Biasanya, aku akan melihatmu begitu aku tersadar dari tidur. Beberapa kali terjadi momen jenaka, saat kita membuka mata bersama-sama. Ah... begitu besarnya cinta kita, hingga mengakhiri mimpi pun bisa berdua. Lalu kau akan berjingkat membuka jendela, membiarkan hawa sejuk dari halaman mengalir masuk.
"Aku tidak akan bisa tinggal di bangunan yang penuh sekat," katamu suatu hari.
Ya, aku tahu. Kau harus bisa menyapa pohon besar begitu kau bangun di pagi hari. Kecintaanmu pada alam, kesukaanmu pada tanaman, adalah hal yang akan membuatmu resah jika kita tinggal di apartemen di tengah kota. Karena itulah kau membawaku tinggal di tempat ini. Jauh dari kota, jauh dari hiruk pikuk gaya hidup yang terselip di sela-sela bangunan pencakar langit. Kita seperti menyingkir dari kehidupan yang bergerak cepat.
Kita jauh dari mana-mana, kecuali dari hutan dan tanaman. Sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah kita, ada air terjun alami. Kau sering mengajakku ke sana. Lalu kita akan berlama-lama berada di bawah tirai airnya. Menikmati suara gemuruh, merasakan percikan air mengenai wajah, sambil duduk di atas lumut yang basah.
Berdampingan dengan alam membuatmu ceria.
Aku? Mengikutimu adalah nama tengah yang kupilih sendiri. Aku dilahirkan di tengah kegaduhan metropolitan, dibesarkan di antara bangunan beton, dan selalu memilih kepraktisan yang disuguhkan kehidupan modern. Sebetulnya, aku suka tanaman, mencintai hewan, dan selalu mencari angin segar dari jendela yang terbuka. Tapi, kehidupan sejak kecil mengajarkan aku untuk menerima yang tersedia di depan mata.
Karena tinggal di apartemen, aku terpaksa menghirup udara kalengan air conditioner, kecuali di pagi buta ketika polusi kendaraan hanya tinggal sedikit, aku baru bisa bebas membuka jendela. Tanaman air yg dipelihara di gelas kaca sudah cukup memuaskan aku. Binatang peliharaan? Ah, aku memilih pergi ke taman, memberi makan ikan di danau atau menebarkan biji untuk burung-burung liar saja. Kehidupan yang serba cepat adalah yang aku kenal sejak dulu, kuakrabi sepenuh hati, dan kunikmati hingga tuntas.
Lalu, aku mengenalmu. Kau yang memuja alam sepenuh hati dan selalu ingin berada di dekatnya. Kau perkenalkan aku pada kehidupan yang jauh dari ingar bingar kota besar yang seperti tak pernah tidur. Kau bawa aku mendaki gunung, bermain di laut, bahkan menyusuri goa-goa gelap penuh misteri. Hal yang tak pernah kusentuh. Bahkan berpikir untuk mengenalnya pun, dulu aku sudah merasa lelah. Dulu. Berbeda dengan aku yang setelah mengenalmu. Sedikit demi sedikit, kau tularkan padaku kecintaanmu pada pohon, kucing, anjing, bahkan ular. Dan aku mengikutimu. Meski merasa mau mati saat mendaki gunung, toh aku bisa menggapai puncaknya. Terengah menyusuri goa batu, perjalanan tetap bisa kuselesaikan hingga ujungnya. Aku yang dulu sering cemas diserang hiu saat di laut lepas, kini berani menyelam di antara manta raksasa yang sedang mencari plankton. Semua kujalani karena aku tahu, kau menggenggam tanganku erat-erat. Hingga aku tak akan tersesat.
Banyak yang mencibir bahwa aku hanya ikut-ikutan kamu. Cintaku padamu membutakan, hingga aku mau-mau saja kau bawa keluar masuk hutan atau menaklukkan ombak di pantai-pantai yang jauh. Mereka mencemooh kulitku yang menggelap.
Apa salahnya? Kulitku memang tidak seputih dulu, tapi menurutku, yang sekarang ini lebih alami. Coklat mengilap. Sehat. Alam yang kau kenalkan padaku selalu indah. Jadi, kalau aku jatuh cinta padanya, tentu bukan semata karena perasaanku padamu. Bagiku, kau hanya membukakan pintu-pintu yang selama ini kukira tertutup.
***
Tapi pagi ini berbeda.
Pagi ini, aku tak melihat senyummu. Sisi tempat tidur yang biasa kau huni, sepi dan dingin. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Hampa mungkin belum cukup dalam menggambarkannya.
Ketika aku berjingkat membuka jendela, hawa yang masuk tak juga menyegarkanku. Rasa dingin justru membuatku meneteskan air mata. Aku rindu kamu. Dan alam akan selalu mengingatkanku bahwa kamu kini tak ada lagi.
Kamu pergi.
Dengan mengherankan, kau tak hanya meninggalkan aku, tapi juga meninggalkan semua yang, kupikir, kau cintai sepenuh hati. Kau tinggalkan semua pohon, semua tanaman, semua ayam, dan semua kelinci. Yang selama ini kau rawat tanpa jeda. Kau tinggalkan rumah kayu yang dulu sangat kau banggakan.
Seakan terserang amnesia akut, kau seperti lupa bahwa dulu kita memulai semuanya dari titik yang paling bawah. Ingatkah kau saat kutinggalkan hidupku yang gemerlap? Pindah ke rumah kayu ini. Menyongsong kegembiraan hati yang kau janjikan. Betul. Aku gembira. Bersamamu, aku bahagia. Meski ternyata tidak selamanya. Lupakah kau bahwa dulu kita harus memilih antara membeli kasur atau membeli meja. Harus ada yang didahulukan, tidak bisa dua-duanya sekaligus... karena dana kita yang terbatas.
Aku ingat matamu yang berbinar ketika aku berhasil memasak menu makan siang dengan kompor yang kita beli setelah menabung beberapa lama. Lupakah kau?
Aku juga tak lupa pada ekspresi gembiramu melihat aku berhasil menyemaikan sepetak taman di bawah jendela kamar kita. Lupakah kau?
Kini, tanpamu, aku gamang.
Kau tinggalkan aku, yang dulu kau akui sebagai matahari hidupmu.
Kamu memilih bersama dia. Apakah dia juga suka hutan? Apakah dia pecinta tanaman? Apakah dia pandai menaklukkan binatang? Aku tak paham di mana kau mengenalnya. Bagaimana? Kapan?
Yang kutahu, kau pergi. Meninggalkan aku.
Aku tidak ingat manakah celah hatimu yang tidak kuisi, sehingga ada tempat bagi perempuan itu.
Biasanya, aku akan melihatmu begitu aku tersadar dari tidur. Beberapa kali terjadi momen jenaka, saat kita membuka mata bersama-sama. Ah... begitu besarnya cinta kita, hingga mengakhiri mimpi pun bisa berdua. Lalu kau akan berjingkat membuka jendela, membiarkan hawa sejuk dari halaman mengalir masuk.
"Aku tidak akan bisa tinggal di bangunan yang penuh sekat," katamu suatu hari.
Ya, aku tahu. Kau harus bisa menyapa pohon besar begitu kau bangun di pagi hari. Kecintaanmu pada alam, kesukaanmu pada tanaman, adalah hal yang akan membuatmu resah jika kita tinggal di apartemen di tengah kota. Karena itulah kau membawaku tinggal di tempat ini. Jauh dari kota, jauh dari hiruk pikuk gaya hidup yang terselip di sela-sela bangunan pencakar langit. Kita seperti menyingkir dari kehidupan yang bergerak cepat.
Kita jauh dari mana-mana, kecuali dari hutan dan tanaman. Sekitar 10 menit berjalan kaki dari rumah kita, ada air terjun alami. Kau sering mengajakku ke sana. Lalu kita akan berlama-lama berada di bawah tirai airnya. Menikmati suara gemuruh, merasakan percikan air mengenai wajah, sambil duduk di atas lumut yang basah.
Berdampingan dengan alam membuatmu ceria.
Aku? Mengikutimu adalah nama tengah yang kupilih sendiri. Aku dilahirkan di tengah kegaduhan metropolitan, dibesarkan di antara bangunan beton, dan selalu memilih kepraktisan yang disuguhkan kehidupan modern. Sebetulnya, aku suka tanaman, mencintai hewan, dan selalu mencari angin segar dari jendela yang terbuka. Tapi, kehidupan sejak kecil mengajarkan aku untuk menerima yang tersedia di depan mata.
Karena tinggal di apartemen, aku terpaksa menghirup udara kalengan air conditioner, kecuali di pagi buta ketika polusi kendaraan hanya tinggal sedikit, aku baru bisa bebas membuka jendela. Tanaman air yg dipelihara di gelas kaca sudah cukup memuaskan aku. Binatang peliharaan? Ah, aku memilih pergi ke taman, memberi makan ikan di danau atau menebarkan biji untuk burung-burung liar saja. Kehidupan yang serba cepat adalah yang aku kenal sejak dulu, kuakrabi sepenuh hati, dan kunikmati hingga tuntas.
Lalu, aku mengenalmu. Kau yang memuja alam sepenuh hati dan selalu ingin berada di dekatnya. Kau perkenalkan aku pada kehidupan yang jauh dari ingar bingar kota besar yang seperti tak pernah tidur. Kau bawa aku mendaki gunung, bermain di laut, bahkan menyusuri goa-goa gelap penuh misteri. Hal yang tak pernah kusentuh. Bahkan berpikir untuk mengenalnya pun, dulu aku sudah merasa lelah. Dulu. Berbeda dengan aku yang setelah mengenalmu. Sedikit demi sedikit, kau tularkan padaku kecintaanmu pada pohon, kucing, anjing, bahkan ular. Dan aku mengikutimu. Meski merasa mau mati saat mendaki gunung, toh aku bisa menggapai puncaknya. Terengah menyusuri goa batu, perjalanan tetap bisa kuselesaikan hingga ujungnya. Aku yang dulu sering cemas diserang hiu saat di laut lepas, kini berani menyelam di antara manta raksasa yang sedang mencari plankton. Semua kujalani karena aku tahu, kau menggenggam tanganku erat-erat. Hingga aku tak akan tersesat.
Banyak yang mencibir bahwa aku hanya ikut-ikutan kamu. Cintaku padamu membutakan, hingga aku mau-mau saja kau bawa keluar masuk hutan atau menaklukkan ombak di pantai-pantai yang jauh. Mereka mencemooh kulitku yang menggelap.
Apa salahnya? Kulitku memang tidak seputih dulu, tapi menurutku, yang sekarang ini lebih alami. Coklat mengilap. Sehat. Alam yang kau kenalkan padaku selalu indah. Jadi, kalau aku jatuh cinta padanya, tentu bukan semata karena perasaanku padamu. Bagiku, kau hanya membukakan pintu-pintu yang selama ini kukira tertutup.
***
Tapi pagi ini berbeda.
Pagi ini, aku tak melihat senyummu. Sisi tempat tidur yang biasa kau huni, sepi dan dingin. Jangan tanya bagaimana perasaanku. Hampa mungkin belum cukup dalam menggambarkannya.
Ketika aku berjingkat membuka jendela, hawa yang masuk tak juga menyegarkanku. Rasa dingin justru membuatku meneteskan air mata. Aku rindu kamu. Dan alam akan selalu mengingatkanku bahwa kamu kini tak ada lagi.
Kamu pergi.
Dengan mengherankan, kau tak hanya meninggalkan aku, tapi juga meninggalkan semua yang, kupikir, kau cintai sepenuh hati. Kau tinggalkan semua pohon, semua tanaman, semua ayam, dan semua kelinci. Yang selama ini kau rawat tanpa jeda. Kau tinggalkan rumah kayu yang dulu sangat kau banggakan.
Seakan terserang amnesia akut, kau seperti lupa bahwa dulu kita memulai semuanya dari titik yang paling bawah. Ingatkah kau saat kutinggalkan hidupku yang gemerlap? Pindah ke rumah kayu ini. Menyongsong kegembiraan hati yang kau janjikan. Betul. Aku gembira. Bersamamu, aku bahagia. Meski ternyata tidak selamanya. Lupakah kau bahwa dulu kita harus memilih antara membeli kasur atau membeli meja. Harus ada yang didahulukan, tidak bisa dua-duanya sekaligus... karena dana kita yang terbatas.
Aku ingat matamu yang berbinar ketika aku berhasil memasak menu makan siang dengan kompor yang kita beli setelah menabung beberapa lama. Lupakah kau?
Aku juga tak lupa pada ekspresi gembiramu melihat aku berhasil menyemaikan sepetak taman di bawah jendela kamar kita. Lupakah kau?
Kini, tanpamu, aku gamang.
Kau tinggalkan aku, yang dulu kau akui sebagai matahari hidupmu.
Kamu memilih bersama dia. Apakah dia juga suka hutan? Apakah dia pecinta tanaman? Apakah dia pandai menaklukkan binatang? Aku tak paham di mana kau mengenalnya. Bagaimana? Kapan?
Yang kutahu, kau pergi. Meninggalkan aku.
Aku tidak ingat manakah celah hatimu yang tidak kuisi, sehingga ada tempat bagi perempuan itu.
Tuesday, April 05, 2016
Tentang Kamu. Atau Aku?
Kita tidak pernah punya waktu untuk bercakap dgn betul. Membahas semua tentang kita dgn seksama. Apa rencanamu? Apa rencanaku?
Ada di mana aku dalam pikiranmu? Seringkali aku merasa seperti berusaha keras memasuki celah2 yang tersisa di kepalamu. Di antara pekerjaanmu yg padat dan hobi yang kau tekuni sepenuh hati.
Untukmu, semua terjadwal dgn tertib. Pertemuan jam sekian. Makan siang. Janji temu dgn investor. Olahraga. Lalu jadwal pertandingan dan kompetisi yang kau ikuti karena hobi. Semua tertata dari hari ke hari dengan teratur. Semua, kecuali janji jumpa kita.
Beberapa kali aku merelakan rencanaku berantakan. Karena kau tiba2 datang. Kejutan yg manis, tentu saja, mengingat jarak yg kau tempuh begitu jauh. Tapi... rencanaku yang berantakan itu, tidakkah pernah kau pikirkan? Rasanya tidak. karena hal itu tidak terjadi hanya sekali saja. Dan aku tidak pernah menunjukkan keberatan. Karena aku menghargai usahamu untuk menemuiku.
Sebetulnya, aku pun menikmatinya. Menikmati perjumpaan kita yg kadang berhari2, tapi lebih sering hanya dalam hitungan jam saja. Setidaknya, aku berusaha menikmati setiap perjumpaan lalu menghiasinya dengan berbagai keriangan. Menghiburmu yg telah bersusah payah menempuh penerbangan panjang. Juga menghibur diriku sendiri yang telah merindukanmu sekian lama. Kehadiranmu menuntaskan semua rindu. Terima kasih telah melakukannya, ya.
Banyak yang ingin kutanyakan. Yang terutama, ada di manakah aku? Apakah ada tempat khusus untukku di bilik hatimu dan di dalam benakmu? Pertanyaan itu selalu sudah ada di ujung lidah. Tapi lalu berhenti di sana. Aku tidak pernah menanyakan. Aku tidak berani. Karena aku tahu, kau akan pergi begitu aku selesai bertanya. Bukan jawaban yang akan aku dapatkan. Tapi kehilanganmu. Aku sungguh tak mau itu. Aku, dan cintaku yang besar, selalu ingin kamu.
Namun setelah tahun2 berlalu, akhirnya aku merasa bahwa salah satu di antara kita harus lebih tegar. Harus ada di antara kita yang sadar untuk mencari tujuan yg benar. Sebenar2nya.
Akhirnya aku bertanya: aku ada di mana?
Dan persis seperti yg kuduga, bukan jawaban yang aku peroleh. Pertanyaan itu seperti garam yg kusebar di lautan maha luas. Dgn mudah ia larut. Hilang.
Hilang membawamu.
Aku tidak berharap kamu akan kembali lalu menjawab pertanyaanku. Bahkan meski aku telah bersiap menghadapi jawaban yg paling menyakitkan hati. Tidak. Aku tidak berharap apa2.Seperti aku tidak pernah berharap kamu akan hadir di hari2 penting dalam hidupku. Sekali lagi, aku tidak mengharapkan apa pun. Aku bisa apa?
Rasanya memang aku tidak perlu ada di mana2. Termasuk di dalam pikiranmu. Apalagi di hatimu.
Dan cintaku padamu yg begitu besar akan mengaburkan semua perasaanku yg tidak nyaman.
Ada di mana aku dalam pikiranmu? Seringkali aku merasa seperti berusaha keras memasuki celah2 yang tersisa di kepalamu. Di antara pekerjaanmu yg padat dan hobi yang kau tekuni sepenuh hati.
Untukmu, semua terjadwal dgn tertib. Pertemuan jam sekian. Makan siang. Janji temu dgn investor. Olahraga. Lalu jadwal pertandingan dan kompetisi yang kau ikuti karena hobi. Semua tertata dari hari ke hari dengan teratur. Semua, kecuali janji jumpa kita.
Beberapa kali aku merelakan rencanaku berantakan. Karena kau tiba2 datang. Kejutan yg manis, tentu saja, mengingat jarak yg kau tempuh begitu jauh. Tapi... rencanaku yang berantakan itu, tidakkah pernah kau pikirkan? Rasanya tidak. karena hal itu tidak terjadi hanya sekali saja. Dan aku tidak pernah menunjukkan keberatan. Karena aku menghargai usahamu untuk menemuiku.
Sebetulnya, aku pun menikmatinya. Menikmati perjumpaan kita yg kadang berhari2, tapi lebih sering hanya dalam hitungan jam saja. Setidaknya, aku berusaha menikmati setiap perjumpaan lalu menghiasinya dengan berbagai keriangan. Menghiburmu yg telah bersusah payah menempuh penerbangan panjang. Juga menghibur diriku sendiri yang telah merindukanmu sekian lama. Kehadiranmu menuntaskan semua rindu. Terima kasih telah melakukannya, ya.
Banyak yang ingin kutanyakan. Yang terutama, ada di manakah aku? Apakah ada tempat khusus untukku di bilik hatimu dan di dalam benakmu? Pertanyaan itu selalu sudah ada di ujung lidah. Tapi lalu berhenti di sana. Aku tidak pernah menanyakan. Aku tidak berani. Karena aku tahu, kau akan pergi begitu aku selesai bertanya. Bukan jawaban yang akan aku dapatkan. Tapi kehilanganmu. Aku sungguh tak mau itu. Aku, dan cintaku yang besar, selalu ingin kamu.
Namun setelah tahun2 berlalu, akhirnya aku merasa bahwa salah satu di antara kita harus lebih tegar. Harus ada di antara kita yang sadar untuk mencari tujuan yg benar. Sebenar2nya.
Akhirnya aku bertanya: aku ada di mana?
Dan persis seperti yg kuduga, bukan jawaban yang aku peroleh. Pertanyaan itu seperti garam yg kusebar di lautan maha luas. Dgn mudah ia larut. Hilang.
Hilang membawamu.
Aku tidak berharap kamu akan kembali lalu menjawab pertanyaanku. Bahkan meski aku telah bersiap menghadapi jawaban yg paling menyakitkan hati. Tidak. Aku tidak berharap apa2.Seperti aku tidak pernah berharap kamu akan hadir di hari2 penting dalam hidupku. Sekali lagi, aku tidak mengharapkan apa pun. Aku bisa apa?
Rasanya memang aku tidak perlu ada di mana2. Termasuk di dalam pikiranmu. Apalagi di hatimu.
Dan cintaku padamu yg begitu besar akan mengaburkan semua perasaanku yg tidak nyaman.
Monday, April 04, 2016
For Sure
...wherever you go I still know in my heart you will be with me....
(For Always, Josh Groban)
(For Always, Josh Groban)
Subscribe to:
Posts (Atom)