Friday, September 03, 2010

It was Wrong since the Beginning...

Di kantor ini ada seseorang yg cukup sering mengirim cerita2 menyentuh, yg akhirnya gue muat, berdasarkan pengalaman pribadi dia. Sebut saja namanya L.

Singkatnya, waktu L kecil (umur 4 thn) dan masih tinggal di kota di Jateng, ayahnya pergi dr rumah meninggalkan dia dan ibunya (jg adiknya), menikah lagi dgn perempuan lain. Sebelum huru hara ini, L dan keluarga hidup berkecukupan krn ayahnya pengusaha sukses. Tak perlu waktu lama, kekayaan itu habis, satu per satu perusahaan yg ada dijual, tanpa ibu L tahu. Trus ayahnya menghilang bersama perempuan itu. Ibunya L nyaris gila, sakit2an. Untung masih ada salah satu pembantu yg mau mengurusi L dan adiknya. Bahkan akhirnya mengurus seluruh keluarga itu krn ibunya betulan nggak bisa diharapkan lagi. Dgn susah payah nyari beasiswa, L bisa sekolah. Trus begitu bisa cari uang, dia menghidupi ibu dan adiknya.

Skrg ini, 22 thn setelah kejadian itu, L merantau ke Jkt. Spt cerita dongeng, dia akhirnya berhasil menaklukkan kejam ibu kota, jd manager bergaji lumayan besar. Dia tetap mengurusi ibunya dan adiknya yg masih kuliah. Hidup blm berlebihan... L masih kost di Jkt, rumah ibunya pun masih sering bocor, tp setidaknya, mrk tdk kelaparan. Kalau ada rejeki sedikit, misalnya komisi atau THR, pasti L berusaha menyenangkan ibu & adiknya itu. Nggak hanya benerin rumah tp jg liburan ke Yogya atau ke Bali.

Yg bikin ganggu... skrg ini ayahnya mulai lagi menghubungi L. trus mulai minta2 uang (bilangnya sih pinjem). Dr mulai untuk bayar kontrakan sampai biaya melahirkan anak terkecil. Konon sejak keluar dr rumah, perlahan tp pasti bisnis makin suram sampai akhirnya habis. Skrg, di usia 55, si ayah nggak punya rumah, nggak punya pekerjaan tetap, merintis bisnis tokek tp blm jalan, dan masih hrs mengurusi 3 anak kecil. Dan dia mulai ganggu2 L utk 'ikutan' mikirin kesusahan hidupnya.

Barusan L ke ruang gue dan curhat habis2an. Kok bisa ayahnya itu tiba2 sms minjem uang. La selama 20 thn terakhir ke mana aja? Kalau dia bisa punya keluarga baru, masak iya hrs jd tanggungan L jg.... Yg bikin gue ikut nangis, waktu dia bilang, "Tapi masak gue ga bantu, mbak... di akan ayah gue. Hanya memang Tuhan seperti menutup pintu rejekinya karena dia pernah salah melangkah."

Aduh. Gue langsung mak nyess. Mudah2an hal yg sama tdk akan terjadi pd Aria. Amin.

2 comments:

Anonymous said...

Semua mungkin terjadi. Tidak ada salahnya prepare for the worst.

Anonymous said...

Memang kadang-kadang ikut prihatin melihat nasib teman yang parah begitu,sudah sejak ecil ga pernah diurus e....baru saja merasa hidup sedikit sudah direcoki bapak sendiri ,ga ngebantu salah membantu rasanya kok ya ,kebangetan kasihan, melihat kehidupannya yang sudah bangkrut masa tega sih ,apalagi bagi anak perempuan