Saturday, October 31, 2020

Another Marriage Story

"I was just being sarcastic," katanya setelah membaca tulisan saya. 

Saya memang suka usil. Beberapa kali percakapan kami jadi topik tulisan di medsos. Dia, yg bukan aktivis medsos, kadang saya bagi link untuk akses tulisan saya. Kalau saya ingat. Seringnya sih saya lupa jadi kemungkinan dia nggak baca. Hahaha.... 

Tulisan tempo hari itu salah satunya. Percakapan sambil jalan pagi yang entah bagaimana awalnya saya lupa, tapi akhirnya jadi membahas soal preferensi pasangan (kalau ada) di masa depan. 

"Ya masak ada pasangan yang mau mengalah terus-terusan?"

Ada. Tapi pasangan yg begitu kemungkinan besar akan kena kanker, sih. Hahahahaha....

Itulah. Menikah seharusnya membuat nyaman kedua pihak yg menjalankan pernikahan. Tidak boleh ada yg sedih. Ya kalau sedih, buat apa? Apalagi bagi saya, yg tujuan pernikahannya jelas untuk melengkapi kebahagiaan yg sekarang sudah saya punya. Saat ini saya sudah merasa cukup. Secara finansial Alhamdulillah aman. Punya anak sehat (dan pintar serta manis, baik hatinya). Ada keluarga yg mendukung. Ngapain saya mau kawin (lagi) kalau hanya bikin ruwet hidup? 

Saya sadar, tidak pernah ada yg bilang bahwa menikah itu mudah. Saat ini, saat sudah tidak ada di dalam pernikahan, saya bisa melihat di mana kiranya ada "lubang" di pernikahan saya dulu. Pembuat lubangnya bisa saya, bisa juga ayahnya anak saya. Yg jelas, lubang itu kami biarkan tidak terurus, hingga akhirnya membesar dan tidak bisa ditambal lagi. 

Jadinya, jika kelak (insya Allah) menikah lagi, tentu saya harus berusaha keras menjaga agar tidak ada yg berlubang. Buat saya, semakin tidak mudah, karena setahu saya pernikahan kedua (dan seterusnya) lebih rentan bercerai. 

Apa iya? Sayangnya begitu.... 

Angka statistik dari biro kependudukan Amerika menyebutkan bahwa pada 2018, 60% pernikahan kedua gagal. Oops. Saya belum dapat data akurat tentang nasib pernikahan kedua di Indonesia, tapi pengalaman beberapa kawan di sekitar saya... ada yg nggak terlalu menarik juga sih. Oh ya, ini ceritanya untuk yg pernikahan pertamanya gagal, ya, bukan yang single karena ditinggal meninggal. Kenapa gagal lagi? Karena ada kecenderungan menganggap menikah lagi (segera ataupun setelah lama bercerai) sebagai pelipur lara dari perceraian sebelumnya. Kondisinya akan semakin rumit ketika masing-masing membawa anak dari pernikahan terdahulu. Bukan hal mudah menyatukan elemen masing-masing ini.  

Saya pernah dekat dengan duda beranak tiga. Dan memang sempat merasakan sulitnya menyatukan pikiran kami kalau menyangkut masalah anak-anak. Jika dalam hubungan pernikahan dengan ayah anak saya, yang harus menyesuaikan diri hanya saya dan mantan suami, dalam hubungan dengan mas duda ini, semakin banyak yang harus didekati terkait penyesuaian ini. Anak saya dan anak-anaknya tentu harus terlibat, sementara kami berdua pun sering sulit sepaham. 

Saya tahu dia sering tidak setuju pada perlakuan saya yang cenderung memanjakan Aria. Sementara, saya juga sering tak sekata dgn yg dia lakukan ketika mengarahkan anak-anaknya. Boleh tidak, mengasuh anak masing-masing? Ya boleh saja. Tp kok gatel juga kalau dengar ada yg nggak sejalan dengan yg saya percaya....  Ah, rumit sekali, ya. Padahal itu baru tentang anak, belum membicarakan anggota keluarga lain, misalnya ibu saya, orang tuanya, kakak dan adik saya, paman dan bibinya.... Intinya, saya jadi yakin bahwa untuk pernikahan kedua memang harus ada usaha ekstra.   

Urusan aset bisa dipagari dengan perjanjian pranikah. Tapi ya masak mau memborgol perasaan anak-anak dan keluarga?

Entahlah benar atau tidak. Tetapi, kesulitan pernikahan kedua bisa timbul karena selama ini lembaga pernikahan dianggap sebagai wadah untuk membentuk keluarga yg dalam hal ini bertujuan membesarkan anak. Jadi ketika menikah lagi dan hubungan anak dengan orang tua baru tidak sejalan... runyamlah pernikahan itu. Dalam kasus saya, pernikahan kami belum terjadi, jadi nggak runyam-runyam amat. Hanya sempat bikin sakit kepala....

Salah satu kenalan ada yg baru saja bercerai setelah menikah untuk kedua kalinya. Keputusan bercerai ini sama gegap gempitanya dgn waktu dia memutuskan menikah lagi. Mau cepat-cepat, seperti nggak bisa menunggu. Kenapa cinta yg dulu datang bagai kejutan itu akhirnya menghilang juga secara tiba-tiba? "Ternyata dia jorok. Huh. Kayaknya gue pernah hidup sendiri dan oke aja, nggak perlu mikirin orang jorok," katanya ketus. Oh baiklah. 

Betul, toleransi bisa jadi kata kunci. Ketika kita mau berkompromi, bisa saja segalanya menjadi lebih mudah. Sejauh apa bisa saling menerima dan berkompromi... kembali pada pasangan yg menjalani. Ada yang bilang cinta akan memuluskan segalanya. Bisa jadi. Cinta bisa bikin kita mudah kompromi, mungkin saja terjadi. Karena saya mengalami bahwa frasa "terbutakan cinta" itu benar adanya, kok. 

Bukan selalu berarti bahwa cinta kenalan saya yg baru bercerai itu tidak terlalu besar ya... Tapi... entahlah, kalau dia bisa berkompromi, mungkin perceraian (lagi) tidak perlu terjadi. Yaaa... bisa saja cintanya yg besar membuat dia jadi bisa bertoleransi saat (mantan) suaminya agak nggak rapi? Jadi jorok tapi cuma dikit-dikit gitu.... Siapa tahu?

Pernah ada pengusaha sukses yg menasehati saya, "Kalau nanti ketemu jodoh lagi, asal orangnya tidak mukul dan tidak pelit, sudahlah... cocok-cocokin saja! Punya teman berbagi lebih penting ketimbang mikirin mau menang sendiri."

Tidak semudah itu, Ibu. Eh... hmmm.... tapi mungkin juga tidak sesulit itu? 

Banyak teori bisa dipelajari, dan tentunya dijalankan, untuk menyukseskan pernikahan kedua. Saya pikir, yg paling penting adalah menyembuhkan luka batin diri sendiri dulu. Kita harus bereskan perasaan kita, dibersihkan dari semua rasa warisan masa lalu. Kita juga harus benahi hati anak (anak) kita, sebelum memulai hubungan baru. Kita harus sembuh seutuhnya, sehingga ketika cinta yg baru hadir, kita bisa percaya bahwa itulah cinta, lalu menerimanya. Dengan bahagia.

Bahkan jika kita harus mengalah terus, kita akan tetap bahagia melakukannya dengan landasan cinta pada pasangan kita. Kesal menjadi biasa bila kita terlanjur cinta.... Kita tidak akan merasa sedang mengalah. Kita hanya sedang mencintai. Tidak ada yg kalah, dan tidak ada yg menang. Yg ada adalah saling menyayangi setulusnya. Sepenuh hati, jiwa, dan raga.  

"Jadi, ada ya yg beneran mau ngalah terus?"

"Ya kalau sudah sangat sangat cinta... bisa saja... yg penting harus ikhlas, biar nggak jadi kanker...." 



Thursday, October 29, 2020

I Do Believe

One day, Franz Kafka (1883-1924), who never married and had no children, walked through the park in Berlin when he met a girl who was crying because she had lost her favourite doll. She and Kafka searched for the doll unsuccessfully.

Kafka told her to meet him there the next day and they would come back to look for her.

The next day, when they had not yet found the doll, Kafka gave the girl a letter "written" by the doll saying, "Please don't cry. I took a trip to see the world. I will write to you about my adventures."

Thus began a story which continued until the end of Kafka's life.

During their meetings, Kafka read the letters of the doll carefully written with adventures and conversations that the girl found adorable.

Finally, Kafka brought back the doll that had returned to Berlin. "It doesn't look like my doll at all," said the girl.

Kafka handed her another letter in which the doll wrote, "My travels have changed me." 

The little girl hugged the new doll and brought her happy home.

A year later Kafka died.

Many years later, the now-adult girl found a letter inside the doll. In the tiny letter signed by Kafka, it was written, "Everything you love will probably be lost, but in the end, love will return in another way."



(Found this in the net and thought it is a very good reminder for someone.)

Friday, October 23, 2020

About My Sonshine

Tanggal ini, 16 tahun lalu... jatuh di hari Sabtu. Aria lahir, lewat proses operasi yg dilakukan krn dia nggak bisa turun ke jalan lahir, terbebat tali pusatnya sendiri yg panjangnya 1 m. Operasi yg menyenangkan krn gue sama sekali nggak merasa kesakitan. Sesudahnya pun oke saja. Dua minggu setelah melahirkan... kontrol ke dokter pun sudah nyetir sendiri. Hehehe.... 

Aria lahir sbg bayi yg tenang. Banyak tidur. Tidak pernah menangis keras. Sangat gampang diatur. Dibuatin jadwal biar ibunya nggak perlu begadang. Dia menjadi bayi yg sangat pengertian bahwa ibunya hrs mengurus banyak hal. Saking rusuhnya, Aria jarang banget digendong. Dia ikut ke mana pun gue pergi, duduk di car seat sejak bayi. Pakai stroller ke mana2... bahkan di rumah. Dia akan tetap di stroller sementara ibu di dapur, atau kerja di depan komputer... atau di kamar mandi. Dia duduk di high chair khusus bayi kalau sdh ngantuk... yg akan diayun sampai dia pulas. 

Mungkin krn itu, sampai skrg dia gampang sekali tidur. Bisa di mana saja. Kalau ibunya akan rusuh dulu, Aria nggak... langsung tidur kalau waktunya tiba. Di dalam tenda, di mobil, di pesawat... di mana saja dgn mudahnya dia akan terlelap. 

"Ibu dulu stres nggak waktu melahirkan aku?"

"Nggak dong. Happy banget mau ketemu kamu."

"Atau stres-nya baru sekarang? Hahahahaha...."

Dan dia akan ngakak sendiri setelah godain ibunya. Tawa yg menular... jadi akhirnya kami berdua akan ketawa2.... 

Terima kasih sdh memilih aku menjadi ibumu, anak sayang. Hari kelahiranmu menjadi sebuah hari yg mengubah hidup. Selamanya. Menjadi lebih berwarna, penuh tantangan, air mata, juga bahagia. Selamat ulang tahun. 




PS: He mentioned about you sent him a private message this morning. He sounded so happy receiving your birthday wish. Thank you. I know you always treat him passionately, with lots of love. No worries, he remembers you as a very good person too. I know, because your name popped up some while ago over dinner. Seems he holds you dearly in his heart. You know who you are. 

Tuesday, October 20, 2020

Menjadi Tua Itu.... 😃

Saat ini, di kantor sedang ada project social media management. Kami, gue dan 2 kurcaci, production manager, konsultan, dan bos besar pun turun tangan... harus bikin plan, riset materi, dan nulis konten utk 4 medsos milik klien. Seru? Banget. Mari salahkan Roro Jonggrang yg telah mengajarkan adanya permintaan 1000 candi dalam semalam... akibatnya klien ini pun terinpirasi melakukan hal yg sama.

Ttd kontrak tgl 13 dan tgl 15 sdh harus tayang posting pertama di 2 kanal. 

Oh jangan sedih... karena kami semua ambisius... tidak ada yg mau posting hal yg sama di semua kanal. Jadinya? Setiap kanal dibuatin table plan sendiri2, apa isi kanalnya, lengkap dengan sasaran pembaca yg berbeda (artinya beda gaya bahasa)... tiap hari. 

Dung plak dung plak dung plak. 

Karena deadline mepet, akhirnya approval ditunggu smp tengah malam. Jam 11... gue mulai lucu. Hahahahahaha.... 

Ternyata itulah pengaruh umur ya. Kyknya 5 thn lalu bisa jreng banget pegang bbrp projek di satu saat. Lalu kerja sampai tengah malam. Besoknya jam 8 pagi sdh stand by. Dan sebelum masuk ruang meeting masih sempat berenang dulu.... 

Ke mana perginya masa mudaku? 

Setelah begadang semalam, besoknya gue spt shut down. Ga bisa mikir yg berat2 (dipaksa jg tetep ga bisa). Akhirnya hanya edit tulisan2 cimit aja. 

Eh... besoknya lagi, waktu di kantor, seperti dikeplak lagi. Waktu harus pindah dari satu projek ke projek lain, butuh waktu. Hahahahaha.... Lucu aja. Ditanya A. Jawab A. Tp setelahnya ditanya B... gue bengong dulu bbrp saat. Semacam otak gue loading nyari barang B ini di mana.... 

Duh duh duh... ini toh yg namanya faktor U.... 

Monday, October 19, 2020

Old Habit Never Dies?

Di ponsel saya, ada satu nama yang pesannya akan dibalas lebih cepat dari bertepuk tangan. Dulu. Sebetulnya, pesan-pesan itu masih ada. Tapi, saat ini bukan waktu yg tepat untuk membalas dengan cepat. Atau mungkin sebaiknya membiasakan diri untuk tidak menggubrisnya. 

Karena memang harus menerima bahwa tidak seharusnya pesan itu ada. 


Meskipun masih peduli. 

Meskipun masih rindu. 

Meskipun masih (sangat) sayang. 

Wednesday, October 14, 2020

Sungguh....

Seandainya kamu membiarkan saya memelukmu erat, kamu akan paham bahwa beberapa manusia memang terlahir penuh cinta. Kamu akan bisa merasakan kenyamanan yang seharusnya ditemukan seseorang pada belahan hatinya. Tapi, kamu bahkan sulit menerima kehangatan senyuman. Kedamaian seolah tak tertakar oleh nalarmu. 

Begitu suramkah masa lalumu? Hingga dendam kamu taburkan, bahkan pada mereka yang tidak sepenuhnya bersalah? 

Seandainya kamu membiarkan saya menyayangimu, kamu akan tahu bahwa dunia tidak selalu berisi amarah. Saya tidak tahu, hal buruk apa saja yang pernah kamu lalui, hingga kamu memagari diri dengan benteng yang begitu tinggi, yang mustahil tertembus oleh kelembutan hati. 


Wednesday, October 07, 2020

On Remarriage part 3

Menikah lagi jadi materi diskusi yang nggak pernah basi. 

 

Sama-sama pernah bercerai, sadar atau tidak, saya dan teman saya jadi sering bahas topik pernikahan. Kadang sambil lalu, lebih sering sambil nggak jelas alias sekadar curhat saja. 

 

Jika pernikahan diibaratkan ruangan berpintu, kami saat ini memang ada di luarnya. Dan berada di luar, memudahkan kami melihat hal-hal yang dulu tidak kami lihat. Biasa kan, penonton selalu lebih jeli ketimbang pemain. Atau penontonnya yang sok tahu, ya? 

 

“Satu yang saya sesali adalah tidak pernah membantah pasangan saya dulu. Saya tidak mendidik dia dengan baik. Padahal, itu tanggung jawab saya,” katanya separuh menyesal separuh emosional. 

“Iya memang. Nggak bisa kamu berharap begitu saja dapat sosok yang sempurna sebagai istri dan sebagai ibu. Kan nggak ada sekolahnya.”

“Nah iya. Saya pikir, dia bisa jadi seperti ibu saya, lho. Cantik dan pintar. Tapi saya salah.”

“Jadi, kita memang nggak boleh berasumsi, ya. Semua harus didiskusikan. Dibicarakan. Masing-masing mau apa, bisa kompromi di mana… gitu?”

“Mungkin.”

 

Komunikasi adalah salah satu kata sakti dalam pernikahan. Saya sekarang sangat percaya itu. Diskusi jadi hal penting. Bahkan meskipun sambil cakar-cakaran - maaf lebay-  tetap harus dilakukan. Tidak boleh ada ganjalan. Hal lain yang saya masih harus terus latih adalah bertoleransi. Karena mau nggak mau, kompromi jadi jalan tengah yang harus diambil pasangan jika berbeda pendapat. Namanya dua orang dengan latar belakang berbeda, kemungkinan beda pendapatnya akan besar sekali. Seberapa jauh saya mau berkompromi? Sampai saat ini, terus terang saya belum bisa menjawab. 

 

Salah satu ironi dalam hidup saya adalah punya ijazah master komunikasi dari sekolah di Amerika, tapi gagal membangun komunikasi yang baik dengan (saat itu) suami. Ini menjadi catatan yang sangat penting, yang tentunya tidak boleh saya abaikan jika kelak (insya Allah) ada jodoh lagi untuk saya. 

 

Memang, saya belajar tentang pernikahan sehat dengan cara yang pahit dan sangat menyakitkan hati. Pelajaran yang sangat mahal. Meskipun begitu, boleh dong saya tetap berangan tentang pasangan di masa depan? Saya masih berharap menemukan pasangan yang sukarela mendampingi saya, bisa bertukar pikiran tentang segalanya, tidak terintimidasi karier saya, mendukung saya sepenuhnya, dan jatuh cinta pada saya setiap hari. Klise? Biarin. Saya juga paham kok, untuk mendapatkannya, saya pun harus siap bertindak resiprokal. 

 

“Pengen juga sih ada pasangan. Hmm… tapi saya maunya dapat pasangan yang mengalah, terus-terusan,” katanya tiba-tiba. 

“Eh… gimana….”

“Ya pokoknya semua tergantung maunya saya. Ide saya saja yang dikerjakan. Terserah saya. Dia nggak boleh punya suara.”

“Bisa gitu, ya? Mana dong, kesetaraan dan konsep-konsep ideal yang lain?”

“Ideal itu buat siapa, sih? Bayangkan, kalau hanya ada satu suara, rumah tangga pasti aman damai. Langgeng.”

 

Saya sebetulnya nggak setuju. Tapi karena nggak mau berbantahan tanpa ujung, saya kok merasa sebaiknya saya pilih makan es krim saja.  




Tulisan ini ditayangkan di blog Single Mom Indonesia. 

Wednesday, September 30, 2020

Jadwal

Jadi, hari pertama gimana?

Ibu akan yoga. Trus mungkin jogging dulu sebentar ya. Sampai jam 8 deh. Jam 10 sdh hrs ada meeting zoom, jadi aku akan kembali ke pinggir hutan sekitar jam 9.30 ya. Habis meeting, biasanya hrs ngerjain sesuatu sampai sore. Ada yg mau nengokin kita. Pergi bareng deh habis itu ya. 

Trus, hari kedua? 

Main sepeda yuk. Sampai ke tempat yg bagus itu lho. 

Oke. Habis itu? 

Ya... paling jam 9 sdh harus di hutan lagi kan. Pasti sudah panas. Ya terserah kamu sih mau ngapain lagi, bilang aja mau ke mana, nanti dianterin.  

Heeee Ibu, kok bisa tiba2 lupa kerja? Nggak ada meeting?  

Oh iya. Hahaha.... 

Jangan pacaran terus. 

Eh.... 

Sunday, September 27, 2020

On Remarriage part 2

Mendiskusikan tulisan saya tentang Aminah, teman saya berkomentar tentang dua jenis manusia di dunia. 

 

“Jadi ya, ada yang gampang menikah, ada juga yang susah menikah.”

“Iyaaaa… sama seperti ada yang gampang saja beli sepatu, dan ada yang perlu mikir-mikir dulu…,” sambung saya. 

“Nah, kalau analoginya beli sepatu… berarti ada satu jenis lagi. Yaitu yang sebetulnya gampang saja beli… tapi nggak ada ukurannya,” sambutnya. 

 

Hmm…. Maksudnya yang nggak dapat-dapat jodoh nih? Lho… kok ngegas…. 

 

“Kita kan sedang membicarakan orang yang menikah lagi…,” dia mencoba menjelaskan. Menurutnya, pengalaman bercerai memberi efek yang berbeda-beda pada tiap orang. “Ada yang karena pernah bercerai, lalu hidup melajang lagi dan kemudian menikmatinya sehingga tidak merasa perlu menikah lagi. Ada yang setelah bercerai merasa harus segera menemukan pendamping baru karena pernah merasakan kenyamanan punya pasangan,” jawabnya. 

 

Baiklah. Jadi ada yang melihat dari sisi bahagia pernikahan. Ada juga yang menilai dari kehidupan setelah (atau mungkin proses menyakitkan dari) perceraian. 

 

Salah satu kenalan saya, perempuan, menikah untuk ketiga kalinya baru-baru ini. Pernikahan pertama berjalan selama kira-kira 5 tahun, dengan dua anak. Pernikahan kedua kandas setelah tujuh tahun. Kini, dia memutuskan menikah lagi dengan duda beranak dua, setahun setelah ia resmi menjadi orang tua tunggal. 

 

Menariknya, duda itu baru ia kenal kurang dari tiga bulan. Ketika banyak yang mempertanyakan keputusannya, dia menjawab, “Ya aku tahu lah bedanya antara cinta atau bukan… kan aku sudah pernah menikah….” 

 

Iya sih… tapi kok…. Hmm…. 

 

Saya bukan “perusak pesta.”  Apa hak saya? Tapi saya belum lupa kehebohan dua perceraian dia yang terdahulu…. 

 

Perceraian pertamanya cukup alot, karena terjadi perebutan hak asuh dua anak. Saya ingat kenalan saya itu seperti tak punya waktu mengurus diri karena semua daya dan tenaga terkuras untuk upaya memenangkan hak asuh. Dari penampilan saja sudah menyedihkan, tak terbayang isi hatinya yang pasti berantakan. Ketika akhirnya sidang berakhir dan dia berhasil mendapatkan hak asuh anak, dia pun perlu cuti lama dari kegiatannya untuk menata hidupnya kembali. 

 

Lalu baru saja mapan, dia menikah lagi. Semua teman gembira belaka, tentu saja. Bahkan cenderung terkejut ketika akhirnya dia melayangkan gugatan cerai. “Suami KDRT,” alasannya. Setelah tujuh tahun, dia tak tahan. Bercerai. 

 

Saya memang hanya penonton. Dan memang suami KDRT harus dijauhi. Tapi membayangkan naik turun emosional yang dia alami, rasanya kok lelah sekali. Saya tahu rasanya, karena saya juga pernah mengurus perceraian dan menjalani sidang yang menyakitkan hati. Rasanya saya tidak akan sanggup jika –amit-amit- harus menjalani proses semacam itu lagi.  

 

Dan sekarang si teman menikah lagi dengan seseorang yang bisa dibilang belum dia kenal seutuhnya. Atau bisa ya mengenali seseorang hanya dalam waktu singkat? 

 

“Itu kan kamu,” kata sahabat saya. Ah… lagi-lagi keluar kata-kata itu. 

“Rasanya kok capek sekali hidup nggak pernah tenang….”

“Iya, kamu mikirnya begitu. Siapa tahu dia selama pernikahan senang-senang? Dan semua huru-hara itu terjadi di ujungnya saja? Buktinya, dia dengan gagah berani mengambil keputusan menikah lagi. Kalau kata orang tua… dia belum kapok.”

 

Bisa jadi. Lalu kalau nanti –amit-amit- ternyata ada ketidakcocokan lagi, tinggal gugat cerai lagi. Begitu? Teman saya hanya mengangkat bahu. 

 

“Ya mestinya, apa pun yang dia putuskan, sudah dia pikir masak-masak. Bisa saja ketika menemukan masalah, dia ingat lagi bahwa ternyata dia bisa bangkit lagi setelah bercerai. Jadi ya… cerai lagi pun tidak apa-apa.”

 

Tanpa memikirkan keluarga yang sedikit banyak ikut terlibat dalam arus kerusuhan? Tanpa memikirkan perasaan anak-anak yang pasti cemas melihat ibunya dalam satu masa terlihat sedih berkepanjangan? Tanpa memikirkan waktu yang terbuang untuk mengurus sesuatu yang memberatkan kepala? Tak hendak menyalahkan keputusannya menikah lagi, pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi benak saya. 

 

“Dia perempuan kuat. Tahan banting,” kesimpulan sahabat saya. 

“Untuk urusan pernikahan, mungkin iya. Duh… aku kok cemas…. Iya iya… itu kan akuuuu….”




Tulisan ini ditayangkan di blog Single Mom Indonesia. 

 

Friday, September 25, 2020

The Winner

You should know that you are out of the competition. You already win. You just do not have the chance to pick up the prize. And it is not my fault. So I would thank you if you let someone else standing in the podium. 

Thursday, September 24, 2020

On Remarriage

Mantan embak di rumah saya, namanya Aminah, cantik dan manis. Pertama kali dia datang ke rumah, saya sempat ragu akan mempekerjakan dia. Dengan tubuh langsing, rambut panjang, dan kulit putih, jangan-jangan nanti dia malah lebih sibuk bergaya-gaya menarik perhatian supir pak RT tetangga sebelah? 

 

“Aminah kerja untuk cari uang, menyekolahkan anak, Ibu,” katanya saat itu. 

“Anakmu umur berapa?”

“Sekarang kelas 2 SMP,” jawabnya. Oh, berarti seumur anak saya. 

 

Aminah bercerita bahwa Ryan, nama anaknya, ditinggal bapaknya setahun lalu. Si bapak kawin lagi. Aminah yang nggak bersedia dipoligami, memilih cerai. Ia titipkan anak pada orangtuanya, dan bekerja sebagai ART untuk menghidupi Ryan. 

 

Hmm… kenapa ceritanya kok agak mirip dengan kisah hidup saya? 

 

Singkat cerita, Aminah akhirnya bekerja di rumah saya. Dia ternyata tidak hanya cantik dan manis, tapi juga tekun dan teliti. Semua urusan rumah beres. Saya bisa tenang-tenang di kantor, karena tahu bahwa kebutuhan Aria, anak saya, terjamin sepenuhnya. Pulang kantor, sampai rumah, semua rapi kinclong. Saya bisa santai. Wah, sungguh dia termasuk jenis ART yang patut dilestarikan. 

 

Dari awal bekerja, Aminah sudah menyampaikan bahwa sebulan sekali dia akan pulang menengok Ryan. Hari libur yang seharusnya seminggu sekali, akan dia ambil sekaligus 4 hari dalam sebulan. Baiklah, saya paham sekali kebutuhannya melihat bahwa anak sehat dan baik-baik saja. Saya kan punya anak juga…. 

 

Biasanya, Aminah akan mengambil libur di hari Sabtu, lalu kembali ke rumah saya pada Selasa malam. Hari itu pun demikian. Sepulang dari olah raga pagi, saya dapati dia sudah berdandan rapi, siap menjenguk anaknya. Rumahnya tidak jauh. Naik kendaraan umum paling hanya dua jam dari rumah saya. Jadi Aminah pulang nyaris tidak membawa apa-apa. Hanya tas kecil berisi dompet dan ponsel. Mengingat anaknya seusia anak saya, saya sempatkan mengambil sesuatu dari persediaan di lemari, sekadar oleh-oleh untuk Ryan. Saya tahu, anaknya pasti suka sekali, persis seperti anak saya yang selalu gembira menerima apa pun yang saya bawa ketika pulang ke rumah. 

 

“Terima kasih, Bu. Aminah pamit,” katanya sopan memberi salam. 

 

Siapa mengira bahwa itulah akhir dari riwayat kerja Aminah di rumah saya? 

 

Ketika Selasa malam dia tak juga hadir, saya segera menghubunginya di ponsel. Saya kuatir dia sakit, atau terjadi sesuatu di perjalanan. Lega hati saya mendengar suara Aminah yang ceria ketika menerima telepon, meski sempat dongkol juga. Kalau sehat-sehat saja, kenapa tidak kembali bekerja? 

 

“Ibu… Aminah kawin. Hihihi…,” suaranya centil sekali seperti perawan pulang kencan. 

“Ya Allah… kamu kawin sama siapa?”

“Hihihi… kemarin itu waktu pulang, di rumah ada pak guru dari pesantren di Lampung. Trus dia minta Aminah ke Ayah. Aminah mau. Maaf, Ibu… Aminah mau telepon Ibu tapi tidak punya pulsa…. Nanti Aminah sowan ke Ibu sekalian beres-beres barang Aminah, ya Bu.”

 

Saya sungguh tidak bisa membayangkan, Aminah tiba-tiba menikah. Saya ingat sekali dia tidak membawa apa-apa ketika pulang, semua barangnya masih rapi di kamarnya, di rumah saya. Artinya, dia tidak berencana untuk tidak kembali. Apa yang dia lihat di pak guru itu, sehingga hatinya terpikat, lalu begitu saja menerima pinangan? Sungguh saya tidak paham.

 

Ketika saya ceritakan hal ini kepada salah satu kawan, dia sok menganalisa. 

 

“Mungkin Aminah butuh uang. Pak guru kan punya gaji tetap. Lumayan lah dia nggak usah kerja keras, dapat uang. Hidup nyaman, anak terjamin,” katanya.

 

Analisa ini saya tolak karena saya ingat, selama di rumah saya, Aminah bukan model perempuan yang menggantungkan diri pada laki-laki. Urusan anak pun, sempat kami bicarakan rencana memindahkan sekolah Ryan ke dekat rumah saya. Jadi, ibu dan anak sekalian tinggal sama-sama.

 

“Jangan-jangan dia capek jadi janda,” tambah teman saya. 

“Apa iya?”

“Bisa jadi.”

“Tapi pernikahan juga bukan solusi. Apalagi dengan orang yang tidak dikenal sebelumnya.”

“Itu kan kamu. Kamu berpendidikan tinggi. Berkarier bagus. Buat kamu, prioritas jelas: anak dan kantor. Kamu mandiri 100%. Banyak perempuan yang tidak seberuntung kamu,” sanggah teman saya.

 

Kata-katanya itu membuat saya berpikir-pikir lama. Mengurai lagi apa saja yang sudah terjadi sejak perceraian saya 15 tahun lalu. Betul, saya bekerja, berupaya menghidupi anak semata wayang saya. Saya putuskan fokus pada karier, yang dengan sendirinya membuat saya mapan secara finansial. 

 

Keinginan menikah lagi masih ada dalam angan. Maka dalam 15 tahun itu sempat kenal dan dekat dengan beberapa laki-laki. Tapi tidak ada yang berlabuh di pelaminan. Semua kandas dengan alasan masing-masing. Ada yang tidak siap punya anak tiri. Ada yang anaknya tidak setuju ayahnya menikah lagi. Ada juga yang resah karena gaji saya lebih besar dari penghasilannya. Intinya, tidak berhasil. Saya? Ya biasa saja. Tidak risau, hanya berpikir, barangkali memang dunia pernikahan belum menjadi hak saya. Tujuan pernikahan buat saya saat ini jelas: melengkapi kebahagiaan. Kalau hanya tambah bikin pusing, untuk apa? 

 

“Ya itu kan kamu,” bantah teman saya. Menurutnya, beberapa perempuan akan merasa lebih aman jika punya pendamping. Aman? Tidak perlu meladeni omongan miring, syukur-syukur kalau kehidupan ekonominya jadi membaik. Tak heran, ada yang memutuskan menikah lagi secepat memutuskan membeli sepatu baru: kalau suka, boleh langsung dibungkus. Kalau nanti gagal lagi, bagaimana? Ya nggak apa-apa. Coba lagi terus…. 

 

“Astaga,” kata saya. “Milih sepatu saja, gue perlu waktu….”

“Ya makanya lu nggak kawin-kawin lagi setelah sendirian lama banget,” pungkasnya. Galak. 





Tulisan ini dibuat untuk blog Single Mom Indonesia. 

Wednesday, September 23, 2020

My Personal Coach

Meskipun jarang tatap muka, kami rutin berkomunikasi. Tentunya dengan bantuan segala alat dan cara. Kecuali metode asap Hiawata....
Setiap hari kami pasti berkomunikasi. Mengobrol ketika waktu mengizinkan, atau paling tidak bertukar pesan pendek. Email juga. Tidak melalui sosmed, karena dia bukan pengguna (hanya punya akun untuk stalking saya hahahaha he admitted it. Dan komplen berat kalau ada foto yg dia cemburui).
Notifikasi di ponsel, yg isinya sekadar menanyakan kabar, mengingatkan untuk tidak lupa makan dan sholat, juga pesan untuk hati-hati di jalan... nampak simpel sekali tapi menjadi sesuatu yg selalu ditunggu. Biasa, sedang jatuh cinta. Tapi ternyata setelah bertahun2 juga rasanya tetap sama, kok.
Ketika awal jumpa, saya masih editor level cupu... posisi terbawah yg pernah ada... hahaha.... Dan dialah yg membuka wawasan untuk meraih kemajuan. Mendorong untuk melihat kesempatan yg lain. Ketika ada tawaran untuk naik jabatan, dia membantu mengatur "skenario" supaya semua lancar sesuai apa yg saya butuhkan.
Dalam saat seperti ini, ia menjadi personal coach yg siaga 24 jam. Di tempat masing2, kami sama2 memegang "tabel untung-rugi" lalu mendiskusikan tiap isinya. Dia akan menyemangati dan memberikan saran supaya saya bisa melewati tahapan interview. Dengan suka rela dia membaca semua kontrak yang ditawarkan pada saya, lalu menandai bagian-bagian yg bisa saya negosiasikan, juga bagian yg harus diubah agar saya tak dirugikan di masa depan. Dia akan memberi tips & trik (yg sangat jitu) agar saya mendapat yg saya mau.
Dan itu masih terus ia lakukan. Tidak ada yg berubah.


Monday, September 21, 2020

Y.O.U

Rasanya sungguh merindu. 

Friday, September 18, 2020

About My Late Dad

Kalau cerita soal almarhum Bapak, nggak akan lupa betapa posesif beliau sama saya. Mungkin karena nggak tahu cara menunjukkan rasa sayang dgn manis atau dgn bunga2... caranya mencintai saya sangat kaku dan model siap grak maju jalan. Gimana coba bisa aplikasi afeksi dengan gaya baris-berbaris ala tentara?
Saya berteman dengan keluarga di medsos. Jadi waktu dua posting soal si dia ada di FB, Mama pun langsung tahu saya cerita soal siapa. Oh ya, Mama kenal kok sm obyek cerita itu. Sangat kenal. Saya mmg selalu kenalin siapa saja yg sedang dekat dgn saya pada keluarga. Hal ini sudah dilakukan sejak duluuuu sekali, sejak pacar pertama.
Dulu, kalau dekat dengan cowok, dan dia mau diajak ke rumah, pasti kenalan sm Bapak. Waktu salaman, pertanyaan Bapak sudah pasti, "Sekolah di mana, Dik?"
Kalau si cowok menyebut nama sekolah yg nggak bunyi di telinga Bapak, silakan duduk di teras aja ya maaaasss.... Yg lolos bisa langsung masuk ruang tamu adalah mahasiswa UI atau ITB. Hahahahahaha....
Suatu masa, saya pacaran sama kakak kelas di sekolah. Orangnya pinter dan menarik sekali di mata saya. Jago main musik pula. Kelar kan... bikin saya meleleh berderai2....
Kenalan sama Bapak kayaknya aman2 saja, tapi setelahnya, Bapak selalu uring2an kalau saya pergi sama si mas. Melarang langsung juga nggak, tp keliatan nggak seneng. Diskusi? Hmm... Bapak bukan model yg mau ngobrol2 gitu. Kaku. Jadinya? Ya setiap saya pergi, pulangnya pasti nggak diajak omong. Sampai besoknya. Saya? Ya ikutan nggak ngajak omonglah... hahaha... gengsi dong mau ngobrol duluan. Gitu aja terus sepanjang umur saya pacaran sama si mas itu.
Belakangan, saya baru sadar, jangan2 Bapak visioner. Mas pacar yg dulu saya puja itu mmg pinter dan juara, tp ya seniman banget yg nggak ketebak besok mau apa dan ngapain. Bisa tiba2 iseng jualan reptil, jadi pelukis, jadi penyanyi.... Update dari dia sekarang sering bikin saya kaget2 krn sangat nyeleneh sak enak udele dhewe. Meskipun mungkin seru, tapi kayaknya memang saya gak akan tahan dgn gaya hidup ga beraturan spt itu. Jalan hidup yg dia pilih sungguh bukan untuk semua orang, dan Bapak kok kayaknya sudah tahu, makanya sangat nggak menerima dia.
Ya ya ya... skrg baru paham kalau orangtua posesif pasti ada alasannya. Meskipun cara komunikasinya suka jaka sembung alias nggak nyambung... bukannya diskusi kok malah ngambek. Hahahaha....
Al Fatihah buat Bapak.
Hi, Dad, hope you're having fun up there, while we're doing great here as well. And missing you always ❤️

Thursday, September 17, 2020

About You

I need the world to know how special you are to me, the main reasons I put those stories about you on my social media accounts. 

So far, the responses were all fantastic. My friends said nice things about the posts. I never received so many comments before. Well, you were always nice, indeed. Their comments only reassured me that you were amazing. Your persona is one of a kind.  

I hope I will not do any harm to you by posting more stories in the future. Somehow I believe that is the way I can completely let you go. 


Wednesday, September 16, 2020

My Memory

Sepanjang (atau sependek?) karier saya menulis di media massa, pernah tulisan saya diapresiasi oleh salah satu instansi pemerintah. Kalau tidak salah, temanya tentang menabung. Iya... saya lupa tulisan yg mana & kapan... krn ingatan saya tentang hal itu lbh fokus pada momen lain. 


Apa itu?

Hadiah utk tulisan itu saya terima ketika saya sedang dekat dengan seseorang. Orang pertama yg saya jatuhi cinta sejak perceraian dgn ayahnya @ariagaung. Dia tinggal & bekerja di negara lain. Sehingga jadwal pertemuan kami dalam satu tahun maksimal hanya sejumlah jari tangan.

Lewat telepon, saya kabarkan bahwa saya akan menerima hadiah. 

“Tell me where & when, will you?” 

Saya jawab seperlunya tanpa punya pikiran apa2.

Lalu hari itu tiba. Sebuah seremoni di ballroom salah satu hotel di Jakarta digelar utk pemberian hadiah. Saya hadir sendirian malam itu, krn merasa acaranya tdk istimewa. Mengikuti prosesi dgn sedikit mengantuk, saya iseng cek ponsel. Namanya berpendar di layar. Pesan pendek masuk.

“How is the event?”
“Nothing special.”
“Really? It looks nice, everyone dress up pretty.”
“Hmm... what do you mean?”
“Can you please stand up so I can see the prettiest lady among the crowd?”

Saya merasa wajah saya memerah & hati berdebar kencang. Saya sangat yakin tadi dia cerita masih makan siang di Port Dickson....

Begitu saja saya berdiri menghadap pintu masuk. Dan saya lihat dia di sana... tersenyum lebar, melambaikan tangan, lalu menghampiri saya yg berdiri kaku tak menyangka mendapat kejutan luar biasa.

“Congratulations,” bisiknya sambil mengecup pipi saya.

@ibunyaaria
#youknowwhoyouare #day3 #30harimenulisdirumah #30daychallenge #30harimenulisdiinstagram #30daywritingchallenge #30day#memory #mysunshine

Friday, September 11, 2020

Norma Sosial, Norma Agama, Norma Anaknya Pak RT....

Selalu senang gembira kalau diingat sama teman-teman lama... atau yg pernah jadi teammates... atau anak buah. Diingat dalam konteks sbg orang yg bisa diajak omong. Kenapa senang? Senang krn berarti mmg gue bukan orang yg judgemental. 

Seperti kemarin. Ada yg tiba2 pop up, said hi... lalu.... "Aku skrg hamil masuk bulan ke-5, mbak."

Padahal dia belum menikah. 

Ya sudah. 

Tidak perlu dibahas kan bapaknya siapa. Nggak usah kepo kalau dia nggak mau cerita. Fokus sm proses kehamilan. Tips & trick sbg yg sudah pernah hamil pada yg newbie (meskipun tnyt rada lupa juga krn sdh 16 thn lalu yaaaa). 

Cukup senang bhw anak ini memilih utk tetap hamil. Dan senang sekali bhw ternyata pacarnya bersedia menempuh perjalanan panjang utk bertanggung jawab: saat ini sedang menjalani sidang izin poligami. 

Di luar cerita kehamilan itu, sepertinya memang banyak hal2 yg sdh bergeser dalam hidup kita ya. Kemarin sempat ada diskusi ringan dan lucu selewatnya, tentang anak skrg yang pilihannya begitu banyak... sampai kadang yg dipilih sangat random. 

Ya nggak? 

Dulu sih kayaknya setiap anak cuma punya pilihan untuk sekolah-kerja-menikah-punya anak. Seragam semua. Sekolah pun hanya itu2 saja. Kerja juga bidangnya itu2 saja. Ya... seiring berjalannya waktu, sesuatu yg sama menimbulkan kebosanan. Termasuk bahwa being ordinary is boring. 

Keren bahwa lalu banyak anak muda yg menjadi unordinary dgn gebrakannya masing2. Ada yg masih muda banget bisa sukses mengelola start up. Ada yg pinter banget punya ide jualan barang yg kelihatan remeh tp tnyt penting dan laku banget, macam cilok.... 

Kehidupan sosial juga bergeser. Jarang ada anak skrg yg mikir akan menikah segera setelah dapat pekerjaan. Beli rumah? Hmm.... Gaji lebih menarik ditabung untuk jalan2. Nggak segera menikah bukan karena nggak laku lho. Pacar punya... tp ya itu... lbh seru traveling the world ketimbang settle down. Katanya sih gitu....

Setuju atau nggak? 

Krn gue bukan orang yg judgemental, ga bisa bilang setuju atau nggak, krn semua balik lagi ke tujuan hidup orang yg menjalani. Seharusnya semua orang bebas memilih apa pun jalan yg dia mau tempuh, asal nggak menyusahkan orang lain. Gue juga bukan orang suci. Dalam perjalanan hidup gue, beberapa kali gue pilih jalan yg gue tahu nggak betul. Gue punya alasan sendiri untuk itu. Jadi yaaa... gue rasa setiap orang merdeka menentukan arah hidup dan proses yg mereka pilih utk hidup di dunia. Gue hanya bisa mendoakan spy nggak lupa pada norma sosial, dan yg utama norma agama. Implementasi bebas lah.... Sing penting sehat, kuat, dan selamat dunia akhirat. Aamiiin. 


Thursday, September 10, 2020

Allow Me, Please....

...

Let me be the one to break it up

So you won't have to make excuses

We don't need to find a set up 

Where someone wins and someone loses

We just have to say our love was true, but has now become a lie

So I'm telling you I love you one last time

And goodbye

Just turn around and walk away

You don't have to live like this, but if you love me still then stay

Don't keep me waiting for that final kiss

We can work together through this test or we can work through it apart

I just need to get this off my chest, that you will always have my heart

...


(Jimmy Bondoc)

Wednesday, September 09, 2020

The Story of Dingklik Tua

Tadi pagi terjadi huru hara... yg sebenernya lucu juga sih kalau sekarang dipikir. Waktu kejadian sih sempat bikin tensi naik.... Apa coba? Yaaaakkkk... adegan dgn ibu suri a.k.a eyang. 

Jadi, sejak pindah ke BSD... gue berusaha banget utk tidak menimbun barang. Apa pun itu, hanya punya 2 kemungkinan: dipakai atau dibuang (dikasihkan ke orang). Alasannya krn nggak mau nimbun, kedua jg krn maunya rumah ini isinya barang2 yg gue suka. Ya kaaannn.... 

Nah... dgn sharing rumah sm eyang... seringkali ada hal yg ga sejalan. Sepele sih, misalnya kebiasaan eyang pakai taplak, yg gue nggak suka. Solusi, eyang bebas pasang taplak di meja mana pun di rumah no 16. Silakaaann.... Yg penting rumah gue (no 17) no taplak. Trus, gue suka ngumpulin botol beling segala ukuran untuk diisi tanaman. Sementara menurut eyang, kalau mau pajang botol, ukuran harus sama dan motifnya jg hrs spesial. Hmm... tp akhirnya eyang menyerah krn botol2 itu gue pajang di rumah gue. 

Tp yaaa... namanya sharing live, tentu nggak semua sesimpel urusan taplak dan botol pajangan ini. Kyk misalnya microwave, adalah nggak praktis kalau sampai hrs punya 2, kan? Jadi satu aja, ditaruh di tempat gue. Juga dapur, meskipun ada 2, tp yg cukup besar utk bisa leluasa memasak ya hanya satu, di rumah gue. Hmm... yg gemes adalah krn tempat yg menurut gue pas untuk naruh microwave oven di dapur menurut eyang jadi bikin tempat masak jadi sempit. Du du du du.... Trus gue merasa perlu punya oven listrik untuk iseng berhadiah cookies, cake, atau macaroni dan brulee. Juga perlu deep fryer dan breadmaker. 

"Ini mau disimpen di mana?" adalah pertanyaan eyang waktu semua perangkat dapur itu tiba, kira2 ratusan purnama silam. 

"Ya nggak disimpen, kan dipakai." 

"Memang mau dipakai tiap hari?"

"Ya enggak, tapi krn dipakai, ngapain dimasukin dus lagi? Ya sudah biar saja di dapur."

"Tapi dapur jadi sempit."

Endebraaa... endebraaaaiii... endebraaaa.....

"Maaf ya, Ma. Ini kan dapur di rumahku. Boleh ya di rumahkku ada oven dan deep fryer-nya." 

Kalau sdh gitu, biasanya eyang baru ingat lagi kalau gue sdh cukup umur untuk boleh ngapain aja di rumah gue sendiri. Ngambek? Ya udahlah.... 

Akhirnya sih skrg ada rak yg khusus isinya perangkat dapur itu semua. Kenapa jadi ada rak ini? Krn waktu pakai meja pendek, sisi bawah meja itu diisi macem2 yg nggak jelas. Tas belanja, botol plastik (utk jamu), dll yg menurut eyang pas disimpen di situ, tp menurut gue enggak sama sekali krn jadi uwel2an. Ada dua meja utk dua oven, dan dua2nya semakin penuh. Makin lama kok masuk rumah kyk masuk gudang umpel2.... Dan solusi dari eyang utk menutup uwel2an itu adalah... pakai taplak! Oh no! Gue beresin semua. Beliin rak yg pas utk semua perangkat, nggak ada ruang utk sumpelan2. Beres. 

Kadang mmg eyang "nggak adil" juga sih. Barang2 yg dia nggak suka, tp masih mau dia simpen (entah utk apa ya menyimpan barang yg nggak disuka), disumputin di rumah no 17. Karpet, peti beras, lemari pendek, koper, dan macam2 lain... termasuk satu dingklik warna coklat yg menurut gue sih bentuknya nggak jelas. 

Jadi dingklik ini dibawa dari Depok. Dulu, ada rumah kerabat ipar gue yg mau dijual, dan hrs dikosongkan. Pdh isinya masih lumayan banyak. Mulai dari kipas angin, panci2, meja tv segala hal... termasuk dingklik atau kursi kecil ini. Iya, ini kursi lama, kursi kuno, dari kayu jati dgn rangka besi. Bagus? Biasa aja sih, tp mmg berkualitas. Tapi krn cuma satu, jadi kagok, sementara mau jadi kursi biasa ukurannya kekecilan. Akhirnya dibawa ke BSD... tp difungsikan sbg "meja antah berantah" yg kadang di atasnya ditaruh pot. Kadang buat naruh kotak pompa rusak (sblm dibawa sm tukang pompa). Nyebelin banget rasanya di mata gue. Gatel. 

Sejak WFH, gue tuh sering bongkar lemari. Beresin baju-sepatu-tas. Kalau ada yg sdh lama nggak dipakai, dikasih ke siapa saja yg mau. Nah, kemarin ini kamar sdh beres dan kinclong. Merembetlah beres2 ini ke kamar Aria, lalu ruang cuci di atas, lalu sampai ke ruang tengah. Semua yg menurut gue nggak penting... silakan dadaaaahhh... hahaha.... Banyak banget printilan2 nggak jelas... yg entahlah kenapa nggak segera dibuang padahal sdh bertahun nggak kepakai juga, temasuk dus2 bekas sepatu (yg disimpan dgn semangat "siapa tahu kapan2 perlu kotak"). OMG. Dan gue beres2 dgn semangat banget. Sampai beli rak baru. Beli kasur dan meja kursi baru utk Aria. Karena rasanya, banyak di rumah selama pandemi, kalau rapi dan cantik kan yo ayem tentrem.... 

Koper, kalau kira2 masih bagus, masuk lemari. Karpet masih bisa masuk ke gudang, beberapa diangkut sm para backstage crew. Peti beras akhirnya jadi tempat kantong dan segala hal printilan. Dus sepatu tentu tanpa ampun dihibahkan ke pemulung. 

Tadi pagi, sampailah gue ke kursi coklat yang setelah gue lihat kok ya bentuknya miring dan sudah dicat jadi tekstur kayu jatinya hilang. 

"Ma, aku nggak pakai kursi ini."

"Oh, mama masih mau pakai."

"Untuk apa?"

"Kalau motong2 sayur... enak di situ, pendek." 

"Kependekan ini. Motong sayur ya di dapur aja, Ma."

"Ya... buat kalau di kebun deh. Pas ganti2 pot."

"Nah, kalau itu, pakai dingklik aja. Ini ketinggian."

"Nggak kok, ini pas."

"Coba, deh."

"Hmm... iya ya. Ini kok agak tinggi."

"Ya sudah, aku kasih orang ya."

"Lho jangan! Itu jati lho. Bagus itu."

"Ya memang. Tapi berguna nggak? Kita pakai apa nggak? Aku nggak pakai...."

"Mama pakai!"

"Untuk?"

"Ya... untuk apa gitu... pokoknya kepakai."

"Tp aku nggak mau ini ada di sini."

"Ya sudah, taruh di atas saja, di kamar Aria."

"Untuk apa?"

"Untuk Mama."

"Memang Mama suka ke kamar Aria?"

"Pokoknya jangan dibuang!"

"Ya sudah. Tapi jangan ditaruh di sini. Dan jangan di kamar Aria. Kasihan kalau kamarnya jadi sumpek."

"Taruh saja di kamar Mama."

"Ok."

"Eh tapi nanti kamar Mama jadi sempit...."

"Ya sudah, untuk orang aja ya."

"Ini tuh bagus. Siapa tahu kapan2 kita butuh kursi...."

Ini mulai melelahkan... krn FYI... di rumah kami itu ada sekitar 25 kursi dan sofa dan tempat duduk... sementara sehari2 kami hanya bertiga.... 

"Jangan suka buang2 barang. Nanti kalau kita butuh, gimana?"

"Iya. Kan aku tanya, kita perlu kursi ini nggak? Kyknya sih nggak perlu, kita nggak butuh...." 

"Ya sudah. Buang aja. Buang semua yg kamu nggak suka. Ya sudah, sana buang.... "

Laaah... nadanya jadi tinggi, hmm... yo wis gue diem. Pengennya sih bales njerit, tp takut durhaka.... Tapi sungguh... gue capek lihat ada kursi nggak jelas. Secara fungsi nggak genah, secara bentuk juga nyebelin. Dan siapa tahu ada orang yg bisa memanfaatkan, kan lebih berguna. 

Kepala udah cenut2 banget... tensi pasti naik deh nih.... 

Ya sudah, daripada nggak kelar2, dan rasanya gue udah mumet banget... takut mood rusak seharian, akhirnya gue tinggal ke kantor. Lumayan. Seneng sih bisa ada di kantor, tempat buat nggak ketemu eyang bbrp jam, dan nggak perlu lihat kursi coklat biang perkara. 

Barusan eyang wa, "Kursi coklat sdh aku kasih Wahid. Dia mau."

Alhamdulillah.... 

The end. 


 


Friday, September 04, 2020

The Plan B

 Kemarin, duduk bareng Aria membahas "things to do if Ibu suddenly pass away."

"Ibu, ini nggak lucu."

Iya memang nggak lucu. Tp kan tetep harus dilakukan. Krn siapa lagi yg mau urus? Jadi kemarin memaksa Aria tahu semua surat2 penting, termasuk nomor2 yg dia harus hubungi untuk urusan asuransi. 

"Ini perhiasan, buat kamu kalau melamar seseorang. Ini ada yg hadiah dari eyangma, ada yg ibu beli. Sengaja aku beli yg mirip supaya jadi satu set yg bagus."

"Ibu, ini kalau dijual, mahal nggak?" Aria ngakak. Kayaknya skrg dia lebih suka jual berlian lalu pakai uangnya untuk belanja sepatu ketimbang mikirin hrs melamar perempuan....

"Dan jangan lupa telepon .... (you know who you are)." 

"Oh my goodness." 

Tuesday, September 01, 2020

Mind Your Own Steps

People come and go. We just need to embrace each other when we are crossing path. I need to walk carefully for I do not want to step on your foot. I hope you will do the same. 


Friday, August 28, 2020

Click (Draft)

Dalam daftar kelebihan-kekurangan yang kubuat untuknya, salah satu kelebihannya adalah ia paham bahwa bantuan sekecil apa pun akan bisa mencuri hatiku. 

Ketika dia lihat botol air mineral di tanganku masih rapat, segera dia ambil dan buka segel plastiknya. Dia buka tutupnya, lalu botol itu ia kembalikan padaku. 

Melihatku berjinjit di depan lemari dapur, ia akan segera menghampiri dan bertanya, "Kamu perlu apa?" Sambil berjalan mendekat, dia ambil tangga kecil, dia letakkan dekat kakiku. "Mau aku ambilkan, atau kamu tetap mau cari sendiri?" Ia memang jauh lebih tinggi, sehingga dengan mudah bisa menemukan botol rosemary di antara jajaran macam-macam botol bumbu di lemari dapurku. 

Saat mobilku memasuki tempat parkir, ia menghentikan apa pun yang sedang ia lakukan. Jika setelah parkir aku membuka bagasi, ia akan serta merta mengambil alih membawa apa pun yang aku ambil. "Sudah, kamu tunggu saja di dalam." 

Hal-hal sederhana seperti membukakan pintu atau membawakan tas belaja, ia lakukan dengan gembira. Dan ia lakukan semuanya seolah sudah terbiasa begitu. Seperti sudah seharusnya begitu. Tanpa banyak bicara, tanpa bertanya-tanya. Sederhana, memang. Tapi buatku, yang selama ini terbiasa melakukan segalanya sendiri, justru hal-hal kecil itulah yang menyenangkanku. 

Dia memang hadir untuk membuat hidupku lebih mudah. 




Friday, August 14, 2020

It Is Not That Easy....

Mungkin yg dibutuhkan memang hanya kupu2 di perut. Tp lalu digandeng, dibukain pintu, dibawain belanjaan, ditemenin beli ini itu.... Bikin goyah. Poninya yg diacak, hatinya yg berserakan.... 

Dangdut.

Biarin.

Katanya mau dengerin kata hati. 

Mana? 

Besok aja deh. 


Wednesday, August 05, 2020

Promise Me

Kamu pernah berjanji untuk selalu mendengarkan kata hatimu, sepelan apa pun suaranya. 

Thursday, July 30, 2020

Run for Your (My) Life

Beneran jadi inget film Spongebob yg waktu kecil sering diulang2 sm Aria... run for your life.... Trus Aria ketawa2 sampai matanya hilang.... 

Kok tumben ke kantor hari Kamis? Iya memang seharusnya jadwal ngantor itu hanya selasa-rabu-jumat.... tp bbrp hari ini kayaknya perlu ke kantor tiap hari. Karena... hrs keluar rumah aja.... 

Hahaha.... 

Sebenernya karena merasa sdh sangat perlu liburan. Kyknya kok semua jadi serba salah di rumah. Apalagi dengan Mama yg semakin lucu dari hari ke hari. Ya biasa kan, ibu ke anak itu kayaknya di mana2 akan gitu sih. Kadang gue jg ga bisa menahan diri memperlakukan Aria kyk bayi.... 

Tp lama2 ternyata lelah juga. Perlu istirahat. 

Plus, rasanya makin macem2 krn gue mikirnya, ini kan rumah gue... dibeli pakai duit gue... kenapa aturan2 gue jadi suka nggak jalan di sini? Dududududu.... 

Don't get me wrong. I love my mom dearly. Surga gue di kakinya. 

Tapi tetep boleh kan gue break dulu dari interaksi yg melelahkan... demi kesehatan jiwa. Hahaha.... 

Jadi skrg gue di kantor. Kerja kerja kerja. Kabur kabur kabur. 


Wednesday, July 29, 2020

Jatuh Cinta

15 tahun bukan waktu yg singkat. Jika memang saatnya tiba untuk memutuskan sesuatu, pertimbangkan baik2. Katamu, dan aku setuju. 

Seorang teman bilang, ketika kita jatuh cinta, kita menjatuhkan diri ke dalam sebuah ketidakpastian, karena kita nggak pernah tahu apa yg terjadi dengan cinta kita di masa depan. Bener juga. 

Dan ketika ketidakpastian itu mulai menjelma kejelasan, yg tidak sesuai dgn mau kita, apakah kita lalu menyesal pernah jatuh cinta? Untungnya, aku tidak pernah menyesal jatuh cinta padamu. 15 tahun lalu, atau kemarin, tidak ada satu pun yg aku sesali. 

Bahkan jika nantinya yg terjadi tidak sesuai dengan rencana kita, jatuh cinta padamu tetap menjadi sesuatu yg membahagiakan aku.

Cinta, dalam hidup, adalah sesuatu yg indah. Padamu, keindahan itu menjadi berlipat ganda. Tidak perlu ada penyesalan untuk itu. 





Tuesday, July 28, 2020

Jangan Sakit Saat Pandemi

Entah kenapa... kemarin pagi jam 9 tiba2 suhu tubuh gue naik tinggi banget smp 38. Padahal paginya masih olah raga biasa... masih masak ini itu sajen pangeran.... kok tahu2 badan anget, lalu kepala rasanya berat.

Semua orang langsung parno krn tiga hari sebelumnya gue ke supermarket....

Gue pun parno. Aduh ampun. Memang bener, jgn sakit saat pandemi... bikin kecil hati.

Minum obat penurun panas, pereda sakit kepala, seduhan jahe... lalu membaluri sekujur tubuh dgn minyak kayu putih. Nyalain diffuser lavender dan lemon. Siap tidur seharian.

Oh ya, sebelumnya tentu ngabarin kantor kalau akan sangat slow respon tp tetep boleh dicolek utk hal2 urgent. Dan sempat ngobrol dulu agak lama di telepon sambil rebahan... sm yg sedang berjarak 439km itu...  sungguh sedih tak bisa nyender secara langsung.... #dangdut

Setelah tidur dari jam 11-17... bangun dengan baju basah keringetan. Badan terasa lbh ringan... demam berlalu sudah. Alhamdulillah. Habis mandi lalu makan yg hangat, minum banyak, and I felt myself again. Alhamdulillah.... Sumpah parno banget ya kalau demam2 di kala wabah begini. Susah banget nggak cemas.

Malamnya bisa gelar laptop lagi meskipun membatasi diri hanya smp jam 9. Habis itu minum obat lagi dan tidur.

Pagi ini sdh gembira. Meskipun ttp blm berani ke kantor, gelar lapak di rumah aja.

Happy Tuesday, y'all.

 

Friday, July 24, 2020

You....

Ten years ago today....

Sebuah reminder popped up tadi pagi. Kalau umurnya 10 tahunan... reminder ini suka bikin cenut2... hahaha... .

Dan bener. Yg pagi ini nongol adalah tentang Aria ikut ke event, tapi ada babysitter istimewanya. Yes, that was you. Thank you for taking my son with you while I was hosting the event.

I am always happy when having Aria and you in one place :)

Wednesday, July 22, 2020

He's Waking Up

Alhamdulillah setelah 10 hari di ICU, Adit bangun kembali. Seorang teman baik mengirim foto dr ICU, Adit yg menatap kamera. Tetap bukan foto yg nyaman dilihat krn masih ada alat bantu di sekitar bapaknya anak gue itu. Tp Alhamdulillah, dia akhirnya kembali sadar.

Perjuangan menuju full recovery masih perlu usaha yg tidak mudah, tp bahwa dia bangun, cukup melegakan. Semoga tidur panjang kemarin memberinya kesempatan berkontemplasi, yg akan membuat dia jadi manusia yg lbh baik dari sebelumnya. SehatNya semoga jadi milikmu, Dit. Aamiiin....

Tuesday, July 21, 2020

Where are You?

Been waiting for your morning call.... Have you walked the dogs?

Monday, July 20, 2020

I am Sorry I Forgot

I wrote this long time ago. How can I forget? No wonder my son does not care at all....

Sunday, July 19, 2020

Today

This is one of the day when I feel lonely. None seems to care and nobody understand. Mom doesn't have any intention to make it easier either. So yes... it is a bit chaos here at my end.

But still if anyone ever ask whether I am okay, my answer would still be yes. I know I'll manage eventually.


Saturday, July 18, 2020

You are 100% in Charge

Cara Aria menghadapi situasi ayahnya saat ini mengajarkan ke gue bahwa: kita bertanggung jawab dan berkuasa pada reaksi kita terhadap semua kejadian di sekitar kita.

Apa yg akan kita pilih? Terbawa arus kesedihan? Mencari kegembiraan? Biasa saja dan terus berjalan? Semua itu pilihan yg kita buat sendiri. Norma sosial dan norma agama memang akan menjadi pagar saat kita memilih apa pun, namun tetap, keputusan terakhir ada di tangan kita.

Thursday, July 16, 2020

Yours or Mine or His?

Sakitnya Adit, ternyata membuka jalur komunikasi kepada istrinya. Beberapa hari lalu kami ngobrol di whatsapp. Belum terbayang apakah akan bisa ngobrol begini terus, tp yaaa... obrolan kami kemarin cukup bermartabat lah.... Nggak pakai tegangan tinggi, nggak ada rusuh2. Layaknya obrolan dua perempuan (berpendidikan dan santun) yg normal saja. Ngobrol antara dua ibu yang peduli pada anak2nya.

Dari obrolan itu, terkuak banyak cerita yang kalau buat gue sih seperti konfirmasi saja. Bahwa iya bapaknya anak gue itu peduli sama Aria tapi nggak tahu cara menunjukkan dan memilih hanya mengamati dari jauh. Iya bahwa keluarga barunya juga menunggu kesempatan ketemu dengan Aria, yg sampai hari blm disediakan oleh ybs. Termasuk alasan2 tidak ada kiriman uang selama belasan tahun... semuanya kok rasanya sdh gue ketahui meski hanya dari kemampuan aplikasi ilmu tebak2 buah manggis... hahaha.....

Entah kenapa gue yakin akan banyak orang yang mempertanyakan komunikasi gue dengan salah satu keluarga baru ini (iya, ada lagi yg lain hehe, kapan2 aja ceritanya, kalau gue mau). Yg tentunya semua akan berputar di sekitar hak Aria yg tidak dipenuhi, dan kewajiban ayahnya yg tdk ditunaikan.

Tapi ya, coba dipikir ulang. Sebenernya kenapa kita merepotkan apakah yg terjadi selama ini fair atau tidak untuk Aria? Kenapa tidak dilihat dari apakah dia bahagia atau tidak?

Aria tidak mendapatkan kasih sayang ayahnya secara utuh. Iya. Nggak pernah ditengokin. Betul. Nggak dibiayain. Iya banget. Nggak pernah disekolahin. Bener. Tapi apakah dia bahagia? SANGAT. Dia sangat bahagia dengan hidup yg dia jalani. Tanya aja sendiri. Percaya deh, dia bahagia, sehat, dan ganteng. Kalau nggak bahagia, nggak akan sesehat itu anak ganteng gue....

Jadi, apakah yg dilakukan si ayah adil atau tidak pd Aria, jadinya nggak relevan. Aria nggak butuh kok semua itu. Insya Allah semua akan selalu cukup untuk Aria. Dan tidak perlu dipikirkan lebih jauh apakah ayahnya terlibat atau tidak dalam kebahagiaan di hidup dia itu. Karena pada kenyataannya, Arianya sendiri tidak peduli ayahnya mau berperan atau tidak. That is my practical and realistic son. I am a proud mom.

Monday, July 13, 2020

Expiration Date

I should be fair. I know.

I cannot fathom how Aria feels at the moment. What appears to me right now, he looks okay. This is just a usual first school day for him. And yesterday was just another Sunday. So far, what I can comprehend, for my son, Adit is just an ex husband of ibu. Nothing more and nothing less. Father? The concept is rather blur, since he didn't know him at all.

So yes, I need to be fair. I promise not to bug him to do anything in this situation. It is completely his call, if he wants to pray or not. There may not be an ex son or ex dad or whatever, but there is still an expiration date for any love connection to develop. And once it is expired, the love is likely to be out of your heart. It's gone... and that means you lost your chance to take it back. You lost your chance to reconnect.


Sunday, July 12, 2020

Surat untuk Adit

Dear Adit,

Aku nggak tahu surat ini akan sampai ke kamu atau tidak, tapi aku harap kamu akan membacanya.

Tgl 10 Juli kemarin, kamu ulang tahun. 47 tahun. What did you do all these years? Semoga kamu cukup gembira dengan apa yg sudah kamu capai. Memuaskan atau tidak, tentu kamu yg merasakan, dan bukan didasarkan pada penilaian orang lain.

Kamu ingat kan, hari Jumat itu kamu balas ucapan ultah dariku. Kamu cerita kalau sedang demam, tp hasil swab negatif. Jadi kita berdua berpikir positif bahwa kamu hanya kena flu biasa. Dan ternyata kamu hampir tidak pernah WFH selama PSBB? Astaga. Mungkin kamu kecapekan ya kan.... Trus aku kirim foto Aria yg gondrong. Rambut kriwil (persis rambutmu... dulu... haha). Yg kamu komentarin dengan "keren."

Little did I know that you were in hospital bed while replying my whatsapps messages. So it was indeed a shocking news to hear that you were now in ICU... battling against Covid-19.

Tadi, Sari, istrimu (yes I finally contacted her), mentioned about your latest condition. The doc already put on the ventilator and you are unconscious now. "Maafin mas Adit, mbak."

Sejak saat itu (sampai sekarang) aku menangis. Semprul kamu ya, masih bisa bikin aku nangis setelah kita cerai belasan tahun. Hmm...

Aku sedih banget dengar kamu nggak sadar. Iya deh... ternyata, aku masih peduli....

Aku makin sedih waktu ngasih tahu Aria, dan reaksi dia hanya, "Trus?" I suddenly know I taught him well on being practical. Tp reaksi itu makin menyadarkan aku bahwa dia memang nggak kenal kamu. You are in his blood but never in his mind (not to mention in his heart). And I am so sorry for that. I am deeply sorry. I feel so sorry for all the things you missed on raising him.

Deep in my heart I wish you will get better, Adit. I really wish you'll be okay and come home to your family. I do. Semoga Allah SWT beri kamu kesempatan untuk bisa menjadi ayah yg baik bagi Aria. Semoga kamu bisa menunaikan kewajiban kamu sebagai ayah buat anak laki-laki kamu. Semoga masih ada kesempatan buat kamu melakukan semua hal yg pernah kamu janjikan. Amiin ya rabbal alamiiinn.....

When was the last time you both meet? Saking lamanya... aku sampai sudah lupa. Tapi percaya nggak, beberapa bulan terakhir ini, aku sering bilang ke Aria, "Kayaknya kamu perlu deh, tinggal sm Ayah." Ide yg sampai skrg blm bisa dia terima, tp aku selalu berpikir bahwa hal itu penting. Atau mungkin aku aja yg merasa kamu perlu berperan dalam hidup dia? Semoga nggak ya. I know you love him too, even if you never really said that....

Aku merasa bhw selama ini kita sudah selesai. Tp ternyata belum ya. Atau nggak bisa? Karena bagaimana pun, kita punya Aria. So I really hope you can see him again, sometimes soon. Be strong, and win the battle, please. Fight hard, will you!