New post on Dunia Ella. It is about the Learning Studio. How did we transform all the program into online classes?
Thursday, April 22, 2021
Wednesday, April 21, 2021
Tuesday, April 20, 2021
Makan Buah Biar Sehat
“Mas, mau pepaya satu, yang ukuran sedang. Lalu jeruk yang kecil-kecil… berapa harganya per kilogram?”
Sunday, April 18, 2021
Kamu
Aku, tak pandai menafsir tenang
Apalagi mencerna diam
Mungkin karena gempita seperti nama tengahku
Semua yang meriah, lebih mudah akrab.
Kamu memang tak selalu senyap
Namun sebagian waktu kau isi bisu
Dan aku, tak ingin menduga, tak mau menerka.
Aku, menunggu kamu.
Thursday, March 25, 2021
Love - Peace - Joy
"Enjoy your last day of being 46," my boss said after zoom meeting.
Hmm... iya juga. Hari ini masih 46. Besok ... insya Allah jadi 47. Sudah semakin banyak yaaa angkanya. Hahaha....
How's life? It was wonderful. A little hiccup here and there only telling me that it is indeed a wonderful life.
Kemarin menemukan sebuah diskusi menarik di medsos. Tentang cara kerja semesta. Pernah... sering, malahan... dengar kata semesta mendukung, tapi baru kemarin ini bisa merasakan koneksinya.
Dalam diskusi itu, dibahas soal energi semesta. Seperti juga sifat Tuhan yang Maha Baik dan Maha Pemurah, semesta dipercaya punya banyak sekali energi positif, kalau nggak bisa dibilang semuanya seharusnya positif. Semesta punya love-peace-joy. Dan jika kita ingin semesta mendukung kita, semua yang kita lakukan harus selaras dengan konsep love-peace-joy itu.
Kesialan hanya upaya semesta untuk mengatakan bahwa yang kita lakukan tidak sejalan dengan energi alam. Mungkin kita terlalu marah, terlalu dendam, terlalu membenci?
Hmm....
Boleh percaya boleh nggak, sejak memutuskan untuk hanya berbaik sangka kepada semua di sekitar saya, hanya kebaikan pulalah yang hadir. Bahkan sesuatu yang awalnya terasa seperti sulit dan runyam, akhirnya berlalu juga. Riang gembira lagi.
Berbaik sangka dan manis budi bahasa ini berlaku untuk semua orang. Kadang memang ada yang memanfaatkan, tapi ya biar sajalah. Itu urusan dia dengan Gusti Allah.
Pernah nggak merasakan hati yang penuh kehangatan setelah berbagi? Nah, perasaan itu akan membuat ketagihan untuk terus berbagi. Dan herannya, yang dibagi nggak kunjung habis lho. Itu rasanya love-peace-joy. Jadi memang ya, kalau kita bergerak sesuai love-peace-joy... ya hanya love-peace-joy yang menaungi kita.
Memang, bukan hal mudah melatih diri berpikir positif. Juga bertindak positif. Mencegah untuk tidak berkomentar negatif, susahnyaaaa.... Tapi harus membiasakan diri. Supaya nggak cepat keriput keningnya.... Hahaha....
Ini tiba-tiba Aria masuk kamar ibu. Ngintip-ngintip... lalu masuk dan berbaring di sebelah. Rambut kriwilnya bikin geli waktu dia ndusel. Tapi percayalah, di sebelah dia, hidup saya sungguh indah tiada tara.
Matur nuwun, Gusti Allah, dalem diparingi urip ingkang sae. Matur nuwun. Alhamdulillah.
Wednesday, March 17, 2021
Yes, You Can
I Just Couldn't Save You Tonight
Living with something that I couldn't see
And somehow fade internally
If you came a long way to get to know me
Or maybe it just meant to be
Come here, I just found a new recipe
The flower, the bricks and the sea
My intuition says you will like me
And I don't know where should I be
And maybe you wanna be a star
It may seem you wanna be in love
I don't care it taking me apart
But I just couldn't save you tonight
Falling in love is a new world for me
Do you wanna be my company?
From thousand of miles you will like gettin' here
No need no anniversary
And maybe you wanna be a star
It may seem you wanna be in love
I don't care it taking me apart
But I just couldn't save you tonight
And maybe you wanna be a star
It may seem you wanna be in love
I don't care it taking me apart
But I just couldn't save you tonight
I just couldn't save you tonight
I just couldn't save you tonight
(Ardhito Pramono ft. Aurelie Moeremans)
Sunday, February 28, 2021
Semoga... Semoga....
Patah Hati
Dari awal, dia sudah mencuri hati saya.
Setahun lalu, dia baru saja bercerai. Usai mengambil akta cerai di pengadilan agama, dia temui saya. Kami kenal lewat aplikasi kencan. Saat berjumpa, perut saya seperti dipenuhi kupu-kupu melihatnya begitu tampan.
“Wah, kamu seperti ibu saya, suka Loewe,” ujarnya setelah kami bersalaman.
Laki-laki yang paham soal tas perempuan. Wow. Saya terpesona.
Kami langsung mengobrol akrab layaknya dua orang teman lama. Dia menertawakan saya yang baru sekali itu berani copy darat. Hmm… ada berapa perempuan yang pernah ia bawa dari dunia maya ke alam nyata?
Ketika esoknya ia menelepon mengajak makan malam, saya begitu girang hingga hendak meloncat ke bulan. Melegakan bahwa kekaguman saya tidak bertepuk sebelah tangan. Masa bodoh seandainya saya bukan perempuan pertama yang pernah hadir dalam hidupnya.
Dia tinggal di kota lain, sekitar 400km dari rumah saya. Jadi, kami jarang bertatap muka. Kami terkendala jarak untuk saling mengenal dan menyelami hati satu sama lain secara langsung. Saya juga paham dia masih perlu menyembuhkan luka hati dari pernikahan yang gagal. Namun jujur, harapan saya sangat tinggi bahwa hubungan ini akan berhasil.
Kemarin, dia berkunjung. Menjemput di kantor, sikapnya sangat manis, membuat saya jatuh cinta bertubi-tubi. Sungguh sulit menahan diri untuk tetap tenang dan tidak vulgar menunjukkan perasaan saya yang berbunga-bunga.
Duduk di restoran, dia buka daftar menu, langsung menunjuk satu masakan. “Kamu pasti mau pesan ini.”
Saya mengangguk sukacita, makin terpukau bahwa dia ingat makanan kesukaan saya.
Namun, ketika pesanan datang, bencana terjadi. Pelayan tanpa sengaja menggulingkan gelas. Airnya tumpah, mengenai sebagian celananya.
Refleks dia berdiri.
Sambil memaki. Kasar sekali.
Saya terkejut.
“Bangsat!” teriaknya lagi, kali ini ke arah pelayan yang tergopoh-gopoh membersihkan gelas yang jadi sumber keributan. Sekali lagi, dia memaki. Lebih kasar.
Seketika, saya patah hati.
Telinga saya pedih mendengar makian. Nurani saya nyeri melihat pelayan yang sudah mengucap maaf puluhan kali ia teriaki begitu keras. Toh, itu hanya air putih. Tidak akan meninggalkan noda dan bisa segera dia keringkan di mesin pengering tangan di toilet. Dia tak perlu marah tanpa kendali.
Tiba-tiba saya melihat kenyataan tentang sifat aslinya yang selama ini tidak bisa saya deteksi lewat percakapan-percakapan telepon yang nyaris tiap hari kami lakukan.
Saya membisu. Patah hati luar biasa.
Ketika sadar saya ada di sana dan menonton semua huru-hara, dia gumamkan maaf beberapa kali. Dia pasti melihat raut wajah saya yang kacau balau, mewakili perasaan saya saat itu. Suasana telanjur rusak. Saya minta diantar pulang.
Terus terang, saya kecewa. Sempat terlintas di benak, dialah pelabuhan terakhir. Tapi sungguh, sulit bagi saya membayangkan harus menyaksikan banyak keributan. Laki-laki pemarah bukan dambaan saya. Makian keji dan umpatan bengis tidak masuk daftar hal yang bisa saya toleransi dalam menjalin hubungan. Mengubah dia? Memangnya dia kayu yang bisa saya pahat sesuka hati?
Saya putuskan, semua selesai. Total sudah patah hati saya.
Saat ini, PR terbesar saya adalah membujuk perasaan agar sepakat menerima buah pikiran. Batin saya masih belum rela menjauh darinya, meski otak telah berkali-kali menampilkan tombol “off”.
Rasanya, menyelaraskan kepala dan hati tidak pernah sesulit sekarang.
Tulisan ini saya masukkan untuk tugas kelas menulis, weekend kemarin. Bu gurunya - penulis ternama- bilang, tulisan ini menarik dan dia ingin tulisan ini dikembangkan menjadi sesuatu. Ah... bangganya. Doakan ya beneran jadi sesuatu.
Wednesday, February 24, 2021
Bisa Jadi
Mungkin memang seharusnya begini. Selalu ingin memaafkan, selalu ingin menerima kembali. Karena cinta yang begitu besar. Mungkin....
Wednesday, February 17, 2021
Monday, February 15, 2021
At The Moment....
I miss talking to you, until we lost track of time. I miss telling you about my daily activities. I miss discussing the book I read to you. I miss listening to your stories. I miss your smile and your laugh.
I miss you.
Thursday, February 11, 2021
Cerita Tentang Cerita
Meskipun saya bukan pemakan mie instan... tapi ini seru banget. Ella & Indomie.
Sunday, February 07, 2021
Friday, February 05, 2021
Langkah Berikut
Hampir setahun menjalani hari bersama mentor ketiga, akhir-akhir ini saya mulai mempelajari lagi "tabel untung rugi" yang saya buat. Saya sadar bahwa pasangan bukan art and craft project. Dia bukan kertas origami yg bisa saya lipat sekehendak hati. Saya tidak punya pilihan selain menerima dia as he is. Baik dan buruknya adalah satu paket yang tidak bisa dipilah-pilah. Karena itu, saya merasa perlu "mencatat pros and cons" supaya betul2 memahami dia. Tepatnya supaya nalar saya tetap berjalan seperti seharusnya.
Karena tempat tinggal kami berjarak lebih dari 400km, kami jarang berjumpa. Pandemi juga tidak mendukung kami sering-sering tatap muka. Jadi memang agak sulit bagi saya bisa mendeteksi sifatnya lebih cepat. Meskipun kami mengobrol nyaris saban hari, tetap ada hal-hal yang baru tampak ketika kami bersama secara fisik. Pengalaman lama menjalani LDR di masa lalu mengajarkan saya untuk memanfaatkan betul saat berjumpa yang sangat jarang. Jejak kunjungannya lalu melengkapi "tabel pro and cons" itu.
Harus saya akui bahwa sejauh ini kecenderungannya adalah "tidak". Semakin hari, saya semakin merasa jauh darinya. Ternyata, ada hal-hal yang tidak bisa saya toleransi. Oh, dia selalu manis, baik tutur kata maupun tindakan. Banyak perbuatannya yang membuat saya jatuh cinta bertubi-tubi. Namun ada satu hal yang tidak bisa saya terima dari sifatnya. Karena itu, saya harus jujur akui, bahwa saya bukan orang yang tepat untuk dia. Saya tahu saya tidak bisa mengubah dia. Memangnya dia kayu yang bisa dipahat?
Saya masih setia pada tujuan saya untuk menemukan pelengkap kebahagiaan dalam perjalanan saya mencari pasangan meneruskan hidup. Ketika saya mendapati bahwa dia bukan orang yang bisa menggenapkan rasa bahagia saya, saya harus membiarkannya menjauh.
Kecewa? Tentu saja. Terus terang saya sempat berharap banyak (sampai saat ini pun masih terus berharap). Tadinya saya pikir kami ini seperti mur dan baut. Kadang harus diputar supaya kami makin kuat. Itulah yang terjadi, tapi dalam prosesnya beberapa kali tautan terasa mengendor. Saya masih berharap dia bisa berubah, suatu saat nanti. Hingga mur dan baut ini bisa kencang dan berfungsi sempurna. Tapi saya pun paham harus bersiap jika dia tak hadir lagi di hari-hari saya.
Saat ini PR terbesar saya adalah membujuk perasaan agar bisa menerima buah pikiran dengan ikhlas, agar saya bisa tetap fokus pada tujuan. Hati saya masih belum rela menempatkan dia hanya di zona perkawanan saja. Rasanya, menyelaraskan pikiran dan hati tidak pernah sesulit ini.
Wednesday, January 27, 2021
Berhak Bahagia
Seorang teman sedang menyelesaikan perceraian. Urusan sidang cerai beres, sekarang dilanjutkan dengan sidang pisah harta. Menikah 20 tahun lebih, tentu banyak yg harus dibagi. Saya hanya bisa mendoakan agar semua segera usai. Amin.
Saya pernah mengalami gonjang ganjing serupa, sekitar 16 tahun lalu. Saya yg sangat benci konflik, berupaya melakukannya macam operasi senyap, tanpa suara berusaha meminimalkan huru hara dengan mengondisikan ayahnya Aria menandatangani kesepakatan perceraian. Kami memang tidak punya harta benda yang layak diperebutkan. Yang penting, hak asuh Aria harus jadi milik saya. Dengan surat kesepakatan itu, hakim pengadilan tidak bisa banyak intervensi. Kalau pasangan sdh bulat tekad hendak bercerai, mau didamaikan dari sisi mana pun juga tidak akan bisa. Di kemudian hari, saya sangat bersyukur mencantumkan perihal hak asuh di dalam tuntutan perceraian sehingga pasal itu pun ada di akta cerai. Krn tanpa itu, saya akan diharuskan punya izin tertulis untuk hal-hal terkait Aria.
Perceraian memang tidak pernah jadi perkara mudah. Ketika secara hukum semua sudah beres, bisa saja masih ada hal di luar itu yg harus diselesaikan. Yang paling sulit tentu menyangkut perasaan, sesuatu yg intangible. Rasanya pengen garuk-garuk aspal tiap selesai sidang. Atau ngrawus hidung mantan saat dicecar pertanyaan hakim. Bahkan yang proses hukumnya berlangsung adem ayem pun, di dalam hatinya nggak tahu kan....
Saya baru merasa nyaman menghubungi (dan dihubungi) keluarga mantan setelah sekitar 10 tahun berpisah. Sebelumnya, selalu ada bayang-bayang entah apa, yang membuat saya resah justru karena pernah menjadi bagian keluarga. Meskipun tiap tahun saya akan berkunjung saat lebaran, saya tidak akan bisa berlama-lama di sana. Rasanya tidak ada posisi yang pas untuk saya di antara mereka, bahkan untuk anak saya yang punya hubungan darah dengan mereka. Kenyataan bahwa foto pernikahan saya masih terpasang gagah di salah satu rumah, ikut memengaruhi rasa campur aduk ini.
Setelah 10 tahun, anak saya bisa memahami situasi ayah dan ibunya. Saya minta dia memilih, mau tersambung atau tidak? Mau berkomunikasi atau tidak? Dia sudah cukup besar untuk bisa melakukan apa-apa sendiri, saya tidak perlu lagi jadi perantara. Kalaupun ia ingin berkunjung, saya bisa menyediakan kendaraan dan supir untuk mengantarnya. Kalau tidak, ya sudah. Ternyata Aria memilih yang terakhir. Dia tidak butuh keluarga selain yg membesarkannya. Saya mungkin perlu merasa beruntung bahwa secara finansial kami memang merdeka. Tidak ada campur tangan sedikit pun dari pihak ayahnya. Sehingga ketika Aria memutuskan untuk tidak lagi terkoneksi dengan keluarga ayahnya, saya seperti terbebas dari beban. Plong.
Pengalaman itulah yang membuat saya mudah berempati pada para ibu yang baru saja bercerai. Ada hal yang sulit dipahami oleh mereka yang tidak mengalami. Kondisi hati perempuan yang ditinggal menikah lagi dengan yang ditinggal meninggal pun berbeda. Sama-sama sedih, tapi dalam spektrum yang tidak sama. Jadi memang komunitas ibu tunggal menjadi tempat tepat untuk curhat. Tidak akan ada yang menghakimi. Kami semua akan saling menyediakan telinga.
Sebelum ini, saya tidak pernah terlibat dalam komunitas apa pun. Tapi di komunitas Ibu Tunggal Indonesia ini, saya seperti terpanggil untuk bertahan dan kadangkala ikut berperan. Banyak yang butuh bantuan. Dari mulai pertolongan melaporkan KDRT pada polisi, hingga sesederhana membelikan kado ulang tahun untuk anak yang baru saja kehilangan bapak.
Program empowerment juga macam-macam. Meskipun belum skala besar, beberapa kelas sudah terlaksana, membekali para ibu tunggal kemampuan untuk mencoba mandiri. Misalnya sebagai pengusaha makanan atau penulis.
Yang membanggakan adalah ketika ada ibu yang dulu pernah terpuruk, sekarang bisa tegak berdiri menjadi tonggak kuat bagi anaknya. Salah satunya pernah menelepon saya di pagi buta, suaranya dilatarbelakangi deru air sungai. Saat itu, dia sudah berencana hendak terjun, bunuh diri. Kami lalu berbicara. Ngobrol ngalor ngidul tanpa tema, sedapat yg bisa saya bicarakan untuk menenangkan dia dan yang penting mengurungkan niat mengakhiri hidup. Lega sekali ketika dia akhirnya mau pulang ke rumah. Saya ingat, saya bilang, "Kalau kamu bisa melewati ini, kamu akan bisa melewati apa pun dalam hidupmu di masa depan."
Tak lama, si ibu memutuskan untuk sekolah lagi. Dia titipkan anak pada orang tua, dan menjalani weekend commuting home, karena ia harus bekerja sambil menyelesaikan sekolah di kota yang jaraknya 6 jam berkendara dari tempat tinggal orang tuanya. "I did what you told me, mbak. Terima kasih," katanya suatu kali. Saya terus terang tidak ingat jelas bagian mana yang mengesankan dia. But it didn't matter. Her happiness today is what matters the most.
Sekarang, dia sudah membuka kantor konsultan sendiri. Masih terpisah jarak dengan anaknya, tapi karena secara finansial sudah membaik, ia lebih leluasa mengajak buah hatinya piknik. Kedekatan antarmereka selalu menyenangkan dilihat. Masa lalu betul-betul sudah terkubur dan hanya masa depan cerahlah yang harus disongsong dengan bahagia. Kebahagiaan mereka yang saya lihat dari foto-foto, senantiasa berhasil menghangatkan hati saya. Sekali lagi saya percaya, semua orang memang berhak bahagia.
Tuesday, January 19, 2021
Kamu Bisa, Saya Bisa
Percayalah bahwa bahagia adalah tanggung jawabmu sendiri.
Ada satu hal yang saya sesali karena tidak saya lakukan, soal ayahnya Aria. Waktu itu, kami sedang makan malam yang (seharusnya) romantis di sebuah restoran mahal. Dia menyampaikan ide berpoligami. Saya sungguh marah, dan ingin segera pulang. Saya bisa pulang. Saya tahu jalan. Saya bisa nyetir mobil. Okay, kalau kunci mobil dia pegang, saya bisa naik taksi. Saya berani. Dan saya mampu membayar ongkos taksinya.
Tapi, saat itu saya tidak pulang. Saya urung karena dia bilang, "Please stay. Let me finish my part."
Dan saya patuh. Mematuhi kata-kata suami (saat itu). Berusaha (tetap) menghormatinya. Mendengarkan semua yg dia mau. Yg dia harap. Yg dia ingin. Tapi tidak saya dukung. Saya dengarkan dengan rasa sakit hati yg terasa tidak nyaman bahkan hingga hari ini.
Di kemudian hari, ketika rencana poligami itu dia lakukan, saya sudah tidak di sebelahnya. Jadi, saya nggak ikutan....
Kami masing-masing sudah move on.
Tapi, ternyata saya tidak lupa kejadian itu. Dan masih sering menyesali, kenapa waktu itu saya tidak pergi saja. Supaya tidak perlu mendengar detail rencananya yang saya benci. Sampai saat ini, 17 tahun setelahnya, saya masih ingat perasaan sakit hati saya ketika itu. Dan karena rasa itu tersimpan di bawah sadar, sering muncul tanpa permisi. Bikin saya nggak tahu mau apa, selain menyesal kenapa dulu nggak mengikuti kata hati untuk pulang duluan.
Pelajaran berharga yg saya ambil: you have all the right to leave anytime. Saya tidak perlu tinggal hanya untuk menjaga perasaan orang lain. Siapa pun dia.
Saat ini, jika ada hal yg tidak berkenan di hati, sudah pasti saya akan pergi. Nggak perlu pikir-pikir lagi. Bahkan jika itu mengecewakan orang yg saya suka atau juga yg pernah saya sayang. Ya tidak apa-apa. Saya akan tetap pergi kalau saya pikir dia melakukan hal yang tidak menyenangkan saya. Bukan kewajiban saya membahagiakan dia. Bahagia itu tanggung jawab masing-masing.
Karena bahagia saya adalah tanggung jawab saya sendiri, saya akan mencarinya. Dan saya yakin bisa menemukannya. Sendiri. Meskipun artinya saya harus meninggalkan orang yg (pernah) mengisi hati dan hari saya.
Kamu, juga bisa begitu. Dan boleh.
Monday, January 18, 2021
Sekali, Selamanya
Sudah cukup lama kami tidak ngobrol. Sudah cukup lama tidak ada lagi berbalasan teks yang intensif di antara kami.
Salah satu kehilangan yang aku rasakan dengan tidak adanya kesempatan berkomunikasi dengannya adalah perdebatan atau ketidaksepahaman yang kemudian mencerdaskan dan menyatukan. Betul. Ketidaksepahaman.
Lho? Bukankah sebaiknya untuk berteman dengan seseorang seharusnya ada kesamaan pandangan? Tidak seratus persen, ternyata.
Kami memang punya "platform" yang berbeda, meskipun rasanya sistem nilai kami serupa. Aku lebih melihat sesuatu di permukaan, cenderung nyinyir. Caraku menilai sesuatu sering hitam-putih, banyak dipengaruhi lingkungan kawan-kawan yang sejak dulu selalu dari kalangan yang lebih religius.
Sementara dia sangat moderat, tidak menghakimi, karena ditumbuhkan di lingkungan yang lebih memberikan ruang bebas.
Jadi seringkali kami berbeda pendapat dalam melihat suatu hal. Paling tidak pada awalnya.
Tapi rupanya ketidaksepahaman itu yang membuat kami akhirnya saling berbagi masukan saat ngobrol. Perbedaan itu bisa ditelusuri hingga mengerucut ke posisi yang bisa diterima oleh masing-masing. Dan ini, terutama untukku, adalah proses pembelajaran yang luar biasa.
Kenyinyiranku berkurang banyak karena dia. Kemampuanku melihat dari kacamata yang lain rasanya jadi lebih baik. Aku bisa menerima pandangan-pandangannya yang liberal (meski masih sampai batas tertentu). Tapi yang lebih penting, itu membuat belahan otak kananku bekerja lebih seimbang dengan otak kiriku yang selama ini dominan.
Bayangkan saja, tidak pernah dalam hidupku seseorang mengajakku ke ruang teater, sesuatu yang tidak pernah kuapresiasi selama ini. Atau hadir di acara-acara yang sebelumnya aku anggap remeh-temeh, namun setelah kupikirkan punya sisi kuat membentuk jaringan pertemanan.
Selama ini hanya bagian otak kiriku yang lebih banyak diasah. Bagian kanan terlantar. Sampai dia hadir memolesnya.
Mencerdaskan bukan?
Aku harap sih dia pun mendapatkan tambahan kecerdasan dari komunikasi kami selama ini. Paling tidak secara spiritual.
Jadi kurasa wajar kalau aku sekarang merasa kehilangan. Kehilangan sesuatu yang menyatukan kami dulu. Sesuatu yang harus kutemukan kembali. Entah di mana. Di dia? Mungkin sudah tidak bisa. Karena dia saat ini sedang mengarah dan mengharapkan sesuatu yang lain. Kuharap, sesuatu itu mudah-mudahan tetap mencerdaskannya.
A dear good friend sent this just a while ago. A very nice write up, which I know came from his heart.
Thank you. You know who you are.
Wednesday, January 13, 2021
Sunday, January 10, 2021
My Duty, Your Duty
Seminggu terakhir ini, linimasa media sosial saya lumayan menyesakkan dada. Salah satu teman dari lingkaran penulis wafat. Laki-laki, usianya 40 tahun. Teman-teman dekatnya curiga setelah dia dua hari tidak menyahuti semua pesan wa. Mereka lalu mendatangi kediaman almarhum, di salah satu apartemen di Jaksel. Didampingi satpam dan polisi setempat, mereka dobrak pintu. Almarhum masih bernyawa, namun sudah tidak sadarkan diri, tergeletak di samping tempat tidur.
Beliau meninggal di RS. Di laporan kematian, penyebabnya adalah serangan jantung.
Innalillahi wa innailaihi rojiuun.
Salah satu komentar di beragam postingan yg saya sempat baca adalah mengapa dia tidak menghubungi siapa-siapa saat lemas?
Lalu ada yg menjawab, "Mungkin karena dia melihat penjemputnya sudah hadir." Dan jawaban ini menuai ikon airmata cukup banyak.
Mendiskusikan kejadian tersebut, teman saya berkomentar, "Kalau sudah ada di fase itu, memang rasanya yaaa... biasa saja. Tidak ada rasa sakit. Perasaan marah, dendam, terburu-buru juga nggak ada."
Dia lalu cerita pengalaman berada di antara hidup dan mati, ketika kehabisan darah setelah berjibaku melawan perampok di rumahnya bertahun silam.
"Luka saya cukup parah. Saya nyaris kehabisan darah. Tubuh saya dijahit di mana-mana. Total 70 jahitan kayaknya. Tapi saya tidak merasa sakit. Saya malah merasa nyaman. Eh... tahu-tahu saya bangun lagi. Sehat lagi. Ah... padahal sudah enak lho saat itu," katanya.
"Tandanya tugasmu belum selesai."
"Dan sampai sekarang saya belum paham tugas saya apa...."
Memang, banyak sekali yg bilang bahwa kita akan meninggalkan dunia fana begitu tugas kita tunai. Saya juga percaya itu.
Kepastian hadirnya Aria (dari dua garis di test pack), saya terima saat saya sedang mengumpulkan surat-surat untuk gugatan perceraian. Lima tahun saya dan ayahnya menanti, anak itu tak kunjung tiba. Jadi, ketika dia akhirnya hadir saat saya sendiri, saya gagah berani bikin kesimpulan sepihak bahwa tugas saya dalam hidup adalah menjadi ibu, dan bukan sebagai istri.
Ketika sampai saat ini pun saya masih sendiri, semakin saya yakin bahwa memang saya harus fokus pada Aria saja. Sebaik-baiknya menjalankan tugas di dunia. Yuk lah.
Kemarin pembicaraan tentang tugas ini muncul saat sahabat saya mengeluhkan soal pernikahannya.
"Sulit ya, kehidupan pernikahan itu."
"Campur-campur pastinya, mbak. Namanya rumah tangga. Kalau enak semua... hmm... itu Rumah Makan Pagi Sore."
"Trus harus gimana dong?"
"None said it is easy. Tapi jangan tanya gue. Gue kan drop out."
"Ya tapi lu punya anak. Gue kan enggak."
"Mungkin jadi ibu nggak termasuk dalam daftar tugas lu, mbak."
"Trus, tugas gue apa?"
Rasanya kita memang harus menemukan tugas kita di dunia. Apakah itu yang dinamakan tujuan hidup? Bisa jadi. Karena ketika kita tahu tujuan kita, akan lebih mudah bagi kita memetakan jalan menuju ke sana. Ya nggak sih? Passion... true calling... hayo... cari deh sampai ketemu.
Saya jadi ingat lagi beberapa hal setelah bertahun lalu memastikan diri menjadi orang tua tunggal. Semua gonjang-ganjing hidup saya ternyata tujuannya memang hanya satu: Aria. Beli rumah, beli mobil, liburan... semua selalu arahnya untuk si semata wayang kesayangan itu.
Yang terasa adalah hubungan antara tujuan hidup saya dengan pekerjaan. Selain bahwa saya bekerja untuk menafkahi Aria, saya selalu memasukkan dia dalam negosiasi jika mendapat tawaran pekerjaan baru. Soal asuransi kesehatan, misalnya. Dulu yang berhak dapat untuk keluarga hanya laki-laki, jadi saya selalu nego agar Aria juga kebagian asuransi dari kantor. Kalaupun tidak bisa, gaji saya harus ditambah supaya bisa membeli asuransi kesehatan sendiri. Lalu saya juga akan nego tentang waktu kerja yang fleksibel, terutama masalah kehadiran. Saya selalu mau menyiapkan sendiri bekal sekolah Aria, jadi saya perlu waktu buat beres-beres, yang karenanya bikin saya baru bisa berangkat paling pagi jam 8. Kalau jam kantor mulai jam 8 ya nggak mungkin....
Tiba saat jabatan menuntut saya harus sering bekerja di akhir pekan dan keluar kota atau keluar negeri. Saya selalu nego bahwa semua jadwal di luar jam kantor normal harus mengikuti kegiatan sekolah anak saya. Atau jika anak saya sakit, saya akan boleh menemaninya saja, dan menunjuk siapa pun agar menggantikan saya bertugas di luar kantor, lalu perusahaan tidak akan mengenakan sanksi apa pun. Semua detail macam itu, yang mungkin tidak jadi permintaan pegawai lain, buat saya penting. Jadi semua jelas hitam di atas putih. Alhamdulillah selalu berhasil.
Pernah ada satu perusahaan yang menarik sekali dinamika kerjanya menawari saya untuk bergabung. Saya sudah bersemangat. Namun, ketika bertemu petingginya, ia bertanya, "Kalau anakmu sakit, dan saat itu ada event. Kamu pilih yang mana?"
Tanpa harus menjawab pertanyaan itu, saya langsung memutuskan bahwa perusahaan itu bukan untuk saya. Seorang atasan, perempuan pula, yang mengajukan pertanyaan mancing-mancing kayak gitu menurut saya menunjukkan kantornya yg nggak jelas.... Saya kerja untuk anak saya. Saat anak saya sakit dan saya nggak bisa bareng dia, tujuan kerja saya nggak tercapai dong. Salah? Biarin. Hehehe.... Mohon maaf sini sih fokusnya sudah pasti, kan sudah paham tujuan hidupnya....
Saat ini, ketika saya punya beberapa anggota tim perempuan yang punya anak, saya pun selalu memberi mereka ruang seluasnya untuk lebih terlibat dengan buah hati mereka. Saya senang saat salah satu di antara mereka akhirnya memilih full WFH di Bandung setelah melalui diskusi panjang dengan saya. Dia legowo menerima gaji lebih kecil, tapi setiap hari bisa melihat perkembangan putri kecilnya. Pilihan yang saya pikir lebih masuk akal ketimbang gaji full tapi karena pandemi jadi susah commuting. Belum lagi harus tes swab setiap kali kembali ke kantor dan juga ada kecemasan dia membawa virus saat pulang.
"Saya jadi ingat lagi, waktu di kondisi mau mati itu, rasanya enak betul lho. Mungkin karena nggak mikir kewajiban ya. Nggak ada pikiran lain selain damai."
"Hmm... gitu ya?"
"Iya. Nggak percaya? Mau coba?"
"Sambit nih, pakai bolu kukus."
Lalu dia tertawa, kayaknya senang banget bisa godain saya.
Ah... dengar suara tawanya, kok saya lalu berharap bahwa salah satu tugasnya di dunia adalah selalu mengajak saya tertawa :) Gapapa lah modus dikit ya kan.... Hehehe.
Saturday, January 09, 2021
Thursday, December 31, 2020
Bye 2020
Today is the last day of 2020.
How was it?
Tahun ini dengan segala kerusuhannya tetap menarik buat saya. Masih gegap gempita.
Career wise, not bad.
Life wise, not bad either. Banyak masalah... krn kita manusia. Kalau banyak wijen, kita sudah jadi onde-onde.
Pandemi sempat memunculkan "ide" untuk uninstall 2020... tapi, tnyt ada hal manis yang mengurungkan niat itu 100%: bumping into someone that spark my soul.
So, 2020 wasn't that bad after all, and I am so ready for 2021. Bring it on!