Saturday, November 28, 2020
Love
Friday, November 27, 2020
Happy Heart for a Healthy You
Ndalem prosotan sedang direnovasi. Setelah 12 thn ditinggali... perlu dirawat spy tetap cantik. Dan memang sdh diprediksi kerusuhan dan debu yg akan terjadi. Sebetulnya, karena gue banyak WFH, Aria sedang SFH... gue lebih pengen kami ngungsi sebentar ke manaaa gitu. Ada apartment adik gue yg kosong, dan di tengah Jakarta. Menarik sih. Tp eyang menolak ide untuk pindah sementara.
Kenapa?
Karena beliau sulit berpisah dari ingon2.
Jadi, setiap hari, setelah sholat subuh, jadwal beliau adalah jalan pagi keliling kompleks. Kira2 satu jam. Sampai rumah lagi jam 6... mulai deh inspeksi halaman. Dari sudut ke sudut. Dari depan ke belakang. Semua pot dan semak akan disapa. Kalau ada yg layu, dicari masalahnya. Kurang matahari? Dipindah ke depan. Kepanasan jadi daunnya menguning? Dipindah ke belakang. Halaman ini nggak luas2 amat... tp ya kalau semua daun dipegang... butuh 2 jam. Habis itu beliau akan duduk di samping kolam ikan... ngasih makan sambil "ngobrol".
Tanaman di rumah semua subur. Ikan2 nggak berhenti beranak pinak sampai tiap 2 bulan akan dibagikan ke siapa saja yg mau. Eyang juga sehat2, selama pandemi ini sama sekali nggak ke dokter, yg dulu biasanya sebulan sekali, paling nggak untuk kontrol tensi dan asam urat. Ternyata kuncinya itu: komunikasi sama semua penghuni rumah. Setiap pagi.
Baiklah. Tetep di rumah selama renovasi.
Tuesday, November 24, 2020
Sawang Sinawang
Friday, November 20, 2020
My Man
Thursday, November 19, 2020
Begitulah....
Tadi pagi bangun tidur dengar gusar. Agak bingung kenapa kok rasanya kesal. Ternyata setelah tenang dan ingat2... ooh... mimpinya kisruh. Mimpi apa sih? Mimpi lihat dia jalan sama orang lain. Dengan mesra. Huh. Jadi selama tidur, gue cemburu. Astaga. Ini pasti karena kangen. Sementara kayaknya yang dikangenin nggak sadar. Yo wis. Nasib.
Tuesday, November 17, 2020
Thursday, November 12, 2020
Menyambut Hari Ayah
Aku tidak pernah mencari ayah. Tapi toh, aku menemukannya.
Sejauh ingatanku, hanya ada aku dan Ibu. Sempat ada eyang putri. Tapi saat aku berumur tujuh tahun, eyang putri meninggal dunia. Aku ingat mengantar jenazah beliau ke sebuah makam di Salatiga. Semua orang menangis. Beberapa saudara memeluk erat Ibu dan menepuk bahuku. Tetangga bergantian datang , melakukan pengajian. Tiga hari. Tujuh hari. Sebulan.
100 hari setelah eyang putri dimakamkan, Ibu menjual rumah eyang lalu pindah ke Jakarta.
Sejak itu, kami hanya berdua. Kami pindah ke sebuah kompleks kecil. Ini perumahan yang aman, dilengkapi satpam yang bergantian menjaga gerbang. Jadi bisa dibilang ada yang menjaga kami 24 jam.
Aku ingat Ibu memulai kariernya dengan bekerja di sebuah majalah perempuan. Setiap pagi aku diantar ke sekolah, lalu pulang naik mobil jemputan. Di rumah, ada bibi tukang cuci yang menemaniku sampai Ibu pulang. Ibu mendidikku dengan tegas dan tertib. Dan bibi pun mematuhi perintah Ibu untuk mengawasiku mengerjakan PR, makan, dan mandi, dengan rapi dan teratur. Tidak hanya teratur, bibi memastikan aku mengerjakan semuanya tepat waktu.
Ibu dengan segala upaya mengajariku menjadi laki-laki serba bisa. Tak hanya sekadar membereskan tempat tidur, tapi juga menjadi laki-laki yang bisa diandalkan ketika beliau perlu seseorang untuk disuruh ke pasar atau menyetor uang ke bank. Saat aku berusia sembilan, disuruhnya aku memperhatikan tukang listrik, agar tahu cara mengganti bohlam yang putus. Lalu aku juga ikut tukang kebun belanja tanah dan batu, untuk mempercantik taman kecil di rumah kami. Ketika libur sekolah, saat Ibu tak harus ke kantor, ia mengajakku ke pasar, berbelanja kebutuhan sehari-hari. Aku diajari menawar belanjaan. Sesekali Ibu membekaliku uang, menyuruhku belanja ini itu, tak lupa dengan pesan, "Catat semua pengeluaran." Akhirnya aku pun paham pembukuan sederhana.
Berkat Ibu, aku bisa menangani segala hal. Memasak. Membersihkan rumah. Mengatur uang. Kemudian setelah lebih besar: mengemudi. Dan tentu saja bersekolah dengan lancar. Sekali aku bertanya pada Ibu tentang ayah. Jawabnya, "Ayahmu adalah petualang yang hilang dalam perjalanan." Wajah Ibu nampak sangat tertekan saat mengatakannya. Sejak itu, kuputuskan untuk tak bertanya-tanya lagi.
Seiring naiknya karier ibu, tugasnya makin banyak. Ibu sering luar kota, meninggalkanku berhari-hari. Saat itu, aku sudah duduk di bangku SMP. Ibu menasehati bermacam-macam, terutama soal keamanan di rumah. Saat demikian, bibi tukang cuci akan bermalam. Tukang kebun juga tetap datang secara rutin. Aku akhirnya terbiasa mengatur rumah. Termasuk tepat waktu memberikan gaji bibi dan tukang kebun, jika tanggal gajian bertepatan dengan Ibu masih di luar kota. Saat itu usiaku lima belas tahun, tapi aku sudah bisa mengurus diriku sendiri. Berangkat sekolah. Pergi pulang ke tempat les biola naik ojek. Sibuk di dapur. Belajar. Semua beres, sesuai didikan Ibu.
***
Sejak aku ulang tahun ke tujuh belas, Ibu keluar masuk rumah sakit. Berkali-kali aku dikejutkan berita bahwa beliau tak sadarkan diri saat di kantor, lalu dilarikan ke rumah sakit. Sekali ia kutemukan terduduk lemas di meja dapur. Kali lain terjatuh di kamar mandi. Aku tak sempat panik. Ibu mendidikku dengan benar hingga saat melihat Ibu sakit, aku bisa segera menghubungi rumah sakit, meminta ambulance (nomor teleponnya sudah ditempel oleh Ibu di dinding dekat pesawat telepon).
Pemandangan sama selalu terjadi saat pulang dari rumah sakit. Wajah Ibu pucat tapi bahagia melihat rumahnya tetap tertata, seolah ia tak pernah pergi. Aku yang menjaga agar semua tetap rapi. Lalu Ibu mengelus kepalaku. "Aku bangga. Kamu memang anakku," bisiknya pelan.
Aku cium pipinya. Dan Ibu tertawa tanpa suara. "Rumah ini memang tak berubah tatanannya, Ibu. Tapi Ibu jangan pergi lama-lama. Aku kangen lihat Ibu berangkat dan pulang dari kantor. Kalaupun aku bisa masak sendiri, tapi masakan Ibu tetap yang paling lezat di dunia," sahutku. Selalu begitu.
Ibu lagi-lagi pasti tertawa. Tangannya terbentang lebar, mengundangku ke pelukannya. Kami akan berpelukan. Lama sekali. Demikian berulang-ulang.
Sekali waktu, saat aku SMA, Ibu masuk rumah sakit saat pembagian rapor di sekolah. Ketika aku menunjukkan raporku, Ibu sempat tercenung.
"Siapa yang mengambilkan?"
"Ayah Manda."
"Siapa Manda?" senyum Ibu terlihat menggoda.
"Nanti juga Ibu akan kenal," aku merasa pipiku merah.
Senyum Ibu makin lebar. Ia pasti tahu bahwa Manda adalah teman spesial.
Sejak itu, Manda kadangkala datang menemani Ibu. Apakah kami berpacaran? Ya. Tapi tidak lama. Kami lebih nyaman berteman saja. Manda menjadi sahabat terbaik di dunia. Dan menjadi semacam kurator untuk gadis-gadis yang kukencani. Dia memang lebih cocok menjadi saudaraku. Ibu pun senang karena seperti mempunyai anak perempuan yang datang mengunjunginya sekali waktu.
Ibu masih tetap menjadi pelanggan rumah sakit. Kadang kutemani, kadang bersama Manda.
Dua hari setelah aku berulang tahun ke-23, aku yang hendak berangkat bekerja mendapati Ibu tak bisa dibangunkan. Tubuhnya dingin, wajahnya memutih, tapi bibirnya tersenyum. Seketika aku tahu, Ibu benar-benar pergi. Setelah enam tahun, kanker itu mengalahkannya.
***
Ibu telah tiada, tapi hidupku berjalan terus.
Hampir setahun setelah Ibu meninggal, bersama Manda kubongkar kamar Ibu, berniat menyumbangkan baju-bajunya ke rumah jompo. Sepatu dan tas juga pasti bisa dimanfaatkan penghuni penampungan. Ibu pasti setuju. Terutama, aku tak ingin tenggelam lama-lama dalam kenangan yang menyedihkan gara-gara melihat barang-barang Ibu yang masih ada di mana-mana. Aku ingin mengingat Ibu dengan gembira, melalui kenangan-kenangan di hatiku saja.
"Aku kagum, kamu tabah sekali menerima kenyataan kehilangan Ibu," kata Manda sambil melipat setumpuk baju dan memasukkannya ke dalam koper. "Kamu tegar."
"Ibu yang mendidikku seperti ini," jawabku. "Jujur, kadangkala aku tak tahu bedanya antara tegar, atau tidak berperasaan."
Manda menatapku heran. Tapi aku tak sempat memperhatikannya. Aku sedang memanjat kursi untuk menjangkau sisi atas lemari, agar bisa mengeluarkan setumpuk kotak dari sana. Entah apa saja yang disimpan Ibuku selama hidupnya. Satu per satu kotak itu kubuka. Ada surat-surat dari kantornya. Ada yang berisi foto-fotoku saat bayi. Ada yang berisi surat-surat tagihan lama. Satu kotak agak besar menarik perhatianku. Tidak seperti kotak lain yang bekas sepatu, kotak ini tampak istimewa, meski telah usang. Hatiku berdesir ketika membukanya.
"Apa itu?" tanya Manda. Ia tentu melihat perubahan raut wajahku.
"Ini surat-surat ayah, untuk Ibu."
***
Akhirnya aku menemukanmu, Ayah.
Di antara surat-surat yang dikirim ayahku untuk Ibu, terdapat secarik pemberitahuan duka cita. Alamat di pemberitahuan tersebut membawakau ke pemakaman ini.
Di salah satu nisan, terbaca nama: Ryan Andika. Meninggal 2003. Nama belakangnya sama seperti nama belakangku, Andika. Aku usap rumput hijau yang melapisi makam itu. Nampak terawat dan subur. Syukurlah makam ayah tidak tersia-sia. Dan ternyata petualangan yang menghilangkan nyawa ayah tidak seperti yang kubayangkan selama ini. Ia bukan hilang di laut, atau diserang binatang buas kala di hutan. Bukan begitu ceritanya. Dari surat-surat itu, aku paham bahwa cinta ayah dan Ibu tak bisa bersatu.
"Halo, kamu siapa?" sebuah suara ceria menyapaku, membuyarkan lamunanku tentang ayah. Pemilik suara ternyata seorang anak perempuan lucu berbaju warna merah dan kuning. Rambutnya dikuncir dua.
"Maafkan. Dia tidak bermaksud mengganggu," seorang Ibu muda menarik tangan anak itu. Wajah mereka mirip, pasti ibunya.
"Om siapa? Kenapa ada di makam kakek?" anak itu masih bertanya.
Kakek?
"Ini makam ayah saya," tutur sang ibu. Matanya mengamatiku lekat-lekat. "Apakah kita pernah bertemu sebelum ini?"
Seorang ibu paruh baya yang berlindung di bawah payung tampak berjalan di belakang mereka. Aku seketika bisa menebak. Merekalah yang beberapa kali diceritakan Ayah di surat-surat untuk Ibu.
"Ia ayah saya juga," suaraku tercekat di tenggorokan. "Saya Rudy Andika."
Nyata-nyata ia terkejut, sebelum berbisik sangat pelan, "Saya Desiana Andika."
Ibu yang memegang payung sekarang ada di hadapanku, terpaku tak bisa berkata-kata, menatap wajahku yang juga membisu. Aku tahu, ia pasti terkejut melihatku. Berulang kali Ibu mengatakan aku sangat mirip dengan ayah di masa muda.
Ah Ayah, bukan saja aku menemukanmu, tapi aku juga menemukan keluargamu. Merekalah yang tak kau tinggalkan meski dalam perjalanan hidupmu kau bertemu lalu jatuh cinta pada Ibu.
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Femina dengan judul JEJAK PETUALANG.
Monday, November 09, 2020
Those Sparks in Your Eyes....
Teman kesayangan ada yg kehilangan ibunya awal tahun ini. Sebagai anak laki-laki pertama, dia sangat dekat dengan ibunya. Apalagi, menurutnya, sifat dan kegemaran ibu dan anak ini saling melengkapi satu sama lain. Mereka jadi dekat sekali. Semacam klik. Menarik banget.
Berbulan setelah ibunda mangkat, ia masih saja merasa kehilangan. Apalagi, ibunya pergi ketika rencana tinggal bersama sudah nyaris terwujud. Paviliun untuk sang ibu sudah selesai dibangun. Dan, ibunda berpulang ketika waktu pindah telah tiba, si teman dalam perjalanan menjemput. Sayang, ada penjemput lain, yang lebih penting dan tak bisa ditunda. Penjemput yang meninggalkan duka sekaligus memaksa semua ikhlas pada ajal.
Saya jumpa dia ketika ibunya sudah tiada. Beberapa kali, saat membicarakan sesuatu, perbincangan akan sampai pada almarhumah sang ibu. Ceritanya sering lucu, apalagi membayangkan cara bicara ibunya yang mirip ibu saya, punya logat dan dialek khas Madiun. Dari ceritanya, ibunya "lebih seru" karena sering ambrol remnya jika sedang berdua saja. Artinya: banyak misuh yang saru. Hahaha... lumayan akrab dengan makian-makian gaya jawa timuran, saya membayangkan kalau kata-kata ibunya pasti sering bikin ngakak.
Buat saya, yang paling menarik adalah ekspresi dia ketika berbicara tentang ibunya. Tidak hanya nada suaranya yg berubah jadi ceria, tapi wajahnya pun mendadak seperti orang yang berbeda. Dia yang biasa serius dan "lurus" cenderung galak, seketika berubah menjadi lembut dan manis. Dan yang membuat pemandangan semakin indah adalah matanya yang seakan penuh jutaan bintang. Berpendar-pendar. So lovely.
Binar mata itulah yang membuat saya, mau tak mau, membayangkan raut macam apa yang akan ada di wajah Aria jika kelak bercerita soal saya. Saya juga punya anak laki-laki. Sedikit banyak, saya paham rasa sayang ibu pada teman saya itu. Cinta ibu pada anak laki-laki sepertinya khas. Saya bisa mengerti juga kedekatan seperti apa yang bisa memahat memori hingga membentuk dia menjadi seperti sekarang. Alangkah bangga saya kelak (meskipun sudah tidak ada), jika Aria bercerita tentang saya dengan binar mata seperti yang ditampilkan teman saya saat bercerita tentang ibunya.
Beberapa hari terakhir, beredar di wag pesan untuk para ibu yang memiliki anak laki-laki. Inti pesannya kira-kira agar si ibu bisa menyiapkan anak menjadi "suami yang tidak menyebalkan." Suami seperti apa sih, yg tidak menyebalkan buat istri? Saya berharap punya suami yg setia, mau membantu saya dalam rumah tangga dan karier. Jadi tentu saya ingin anak saya menjadi laki-laki seperti idaman saya itu. Betul sekali, tugas saya mengajarkannya, kan? PR saya masih banyak, tentu saja. Mudah-mudahan dengan besarnya cinta yang saya miliki untuknya, Aria bisa belajar menjadi laki-laki yang penuh cinta kasih juga.
"Seingat saya, Ibu kok nggak mengajarkan saya menyapu dan bergiat di dapur. Saya dulu diajari jadi raja, lho," kata teman saya.
"Hmm... kamu nggak sadar ya, kalau Ibu mengajari kamu menjadi laki-laki penyayang?" kata saya.
Dia terdiam, lalu tersenyum. Manis sekali.
Saya pikir, di surga, sang ibu pasti bahagia.
Friday, November 06, 2020
Apa?
Cukup mendengar, lalu langsung menulis. Bisa. Sering terjadi. Ini trik yang biasanya sangat membius para klien rewel. Mereka cukup puas kalau penulis bisa merumuskan sesuatu dengan sangat cepat dalam tulisan yang enak dibaca. Seperti berlomba dengan bayangan (dan jadi pemenangnya). Dan hasil tulisannya juga bermutu, lho. Pilihan diksinya juara, tata bahasanya tanpa cela.
Seandainya mereka tahu, ada kalanya penulis merasa buntu. Kata-kata bagai tercekat, mampat tak bisa dikeluarkan. Seperti jalan tol yang macet total: parkir.
Mungkin memang harus begitu. Supaya semakin paham bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuka hati. Di tengah-tengah jalan cepat, tetap harus ada masa menunggu. Bersabar tanpa pernah tahu batas akhirnya. Menjalani yang di depan mata karena nggak punya pilihan lainnya.
Cukup bersyukur bahwa buntu-buntu itu terjadi kadang-kadang saja. Biasanya kalau banyak sekali gangguan di kepala, atau di hati. Di kepala karena tugas-tugas yang masih antri. Kalau hati biasanya sih karena rindu yang nggak kunjung pergi.
Ah, alasan bisa selalu dicari, ya.
Thursday, November 05, 2020
Merindu Kamu
Di tengah deraan deadline hari ini, tiba2 aku ingat kamu. Ini pasti gara2 playlist spotify.... Hahaha....
Kamu sedang apa?
Sungguh aku ingin kamu ada di sini juga. Membuka laptop di depanku. Bekerja. Ada kamu, selalu seru. Menyenangkan. Krn aku bisa mencuri pandang ke arahmu. Aku tahu... kamu pun sesekali melihatku dari sudut matamu. Kadang mata kita bertemu, lalu kita saling senyum, tersipu.... Ahaha....
Selamat hari ini, hey you.... Sehat selalu, ya.
Wednesday, November 04, 2020
In My Life (With You)
There are places I'll remember
All my life, though some have changed
Thank you for sending this song to me the other day. You know who you are.
Tuesday, November 03, 2020
Your Life, Your Decision
It is okay to forgive people but in the same time deny their access to you. You can do whatever you want in your own territory. You have all the rights. No worries.
Saturday, October 31, 2020
Another Marriage Story
"I was just being sarcastic," katanya setelah membaca tulisan saya.
Saya memang suka usil. Beberapa kali percakapan kami jadi topik tulisan di medsos. Dia, yg bukan aktivis medsos, kadang saya bagi link untuk akses tulisan saya. Kalau saya ingat. Seringnya sih saya lupa jadi kemungkinan dia nggak baca. Hahaha....
Tulisan tempo hari itu salah satunya. Percakapan sambil jalan pagi yang entah bagaimana awalnya saya lupa, tapi akhirnya jadi membahas soal preferensi pasangan (kalau ada) di masa depan.
"Ya masak ada pasangan yang mau mengalah terus-terusan?"
Ada. Tapi pasangan yg begitu kemungkinan besar akan kena kanker, sih. Hahahahaha....
Itulah. Menikah seharusnya membuat nyaman kedua pihak yg menjalankan pernikahan. Tidak boleh ada yg sedih. Ya kalau sedih, buat apa? Apalagi bagi saya, yg tujuan pernikahannya jelas untuk melengkapi kebahagiaan yg sekarang sudah saya punya. Saat ini saya sudah merasa cukup. Secara finansial Alhamdulillah aman. Punya anak sehat (dan pintar serta manis, baik hatinya). Ada keluarga yg mendukung. Ngapain saya mau kawin (lagi) kalau hanya bikin ruwet hidup?
Saya sadar, tidak pernah ada yg bilang bahwa menikah itu mudah. Saat ini, saat sudah tidak ada di dalam pernikahan, saya bisa melihat di mana kiranya ada "lubang" di pernikahan saya dulu. Pembuat lubangnya bisa saya, bisa juga ayahnya anak saya. Yg jelas, lubang itu kami biarkan tidak terurus, hingga akhirnya membesar dan tidak bisa ditambal lagi.
Jadinya, jika kelak (insya Allah) menikah lagi, tentu saya harus berusaha keras menjaga agar tidak ada yg berlubang. Buat saya, semakin tidak mudah, karena setahu saya pernikahan kedua (dan seterusnya) lebih rentan bercerai.
Apa iya? Sayangnya begitu....
Angka statistik dari biro kependudukan Amerika menyebutkan bahwa pada 2018, 60% pernikahan kedua gagal. Oops. Saya belum dapat data akurat tentang nasib pernikahan kedua di Indonesia, tapi pengalaman beberapa kawan di sekitar saya... ada yg nggak terlalu menarik juga sih. Oh ya, ini ceritanya untuk yg pernikahan pertamanya gagal, ya, bukan yang single karena ditinggal meninggal. Kenapa gagal lagi? Karena ada kecenderungan menganggap menikah lagi (segera ataupun setelah lama bercerai) sebagai pelipur lara dari perceraian sebelumnya. Kondisinya akan semakin rumit ketika masing-masing membawa anak dari pernikahan terdahulu. Bukan hal mudah menyatukan elemen masing-masing ini.
Saya pernah dekat dengan duda beranak tiga. Dan memang sempat merasakan sulitnya menyatukan pikiran kami kalau menyangkut masalah anak-anak. Jika dalam hubungan pernikahan dengan ayah anak saya, yang harus menyesuaikan diri hanya saya dan mantan suami, dalam hubungan dengan mas duda ini, semakin banyak yang harus didekati terkait penyesuaian ini. Anak saya dan anak-anaknya tentu harus terlibat, sementara kami berdua pun sering sulit sepaham.
Saya tahu dia sering tidak setuju pada perlakuan saya yang cenderung memanjakan Aria. Sementara, saya juga sering tak sekata dgn yg dia lakukan ketika mengarahkan anak-anaknya. Boleh tidak, mengasuh anak masing-masing? Ya boleh saja. Tp kok gatel juga kalau dengar ada yg nggak sejalan dengan yg saya percaya.... Ah, rumit sekali, ya. Padahal itu baru tentang anak, belum membicarakan anggota keluarga lain, misalnya ibu saya, orang tuanya, kakak dan adik saya, paman dan bibinya.... Intinya, saya jadi yakin bahwa untuk pernikahan kedua memang harus ada usaha ekstra.
Urusan aset bisa dipagari dengan perjanjian pranikah. Tapi ya masak mau memborgol perasaan anak-anak dan keluarga?
Entahlah benar atau tidak. Tetapi, kesulitan pernikahan kedua bisa timbul karena selama ini lembaga pernikahan dianggap sebagai wadah untuk membentuk keluarga yg dalam hal ini bertujuan membesarkan anak. Jadi ketika menikah lagi dan hubungan anak dengan orang tua baru tidak sejalan... runyamlah pernikahan itu. Dalam kasus saya, pernikahan kami belum terjadi, jadi nggak runyam-runyam amat. Hanya sempat bikin sakit kepala....
Salah satu kenalan ada yg baru saja bercerai setelah menikah untuk kedua kalinya. Keputusan bercerai ini sama gegap gempitanya dgn waktu dia memutuskan menikah lagi. Mau cepat-cepat, seperti nggak bisa menunggu. Kenapa cinta yg dulu datang bagai kejutan itu akhirnya menghilang juga secara tiba-tiba? "Ternyata dia jorok. Huh. Kayaknya gue pernah hidup sendiri dan oke aja, nggak perlu mikirin orang jorok," katanya ketus. Oh baiklah.
Betul, toleransi bisa jadi kata kunci. Ketika kita mau berkompromi, bisa saja segalanya menjadi lebih mudah. Sejauh apa bisa saling menerima dan berkompromi... kembali pada pasangan yg menjalani. Ada yang bilang cinta akan memuluskan segalanya. Bisa jadi. Cinta bisa bikin kita mudah kompromi, mungkin saja terjadi. Karena saya mengalami bahwa frasa "terbutakan cinta" itu benar adanya, kok.
Bukan selalu berarti bahwa cinta kenalan saya yg baru bercerai itu tidak terlalu besar ya... Tapi... entahlah, kalau dia bisa berkompromi, mungkin perceraian (lagi) tidak perlu terjadi. Yaaa... bisa saja cintanya yg besar membuat dia jadi bisa bertoleransi saat (mantan) suaminya agak nggak rapi? Jadi jorok tapi cuma dikit-dikit gitu.... Siapa tahu?
Pernah ada pengusaha sukses yg menasehati saya, "Kalau nanti ketemu jodoh lagi, asal orangnya tidak mukul dan tidak pelit, sudahlah... cocok-cocokin saja! Punya teman berbagi lebih penting ketimbang mikirin mau menang sendiri."
Tidak semudah itu, Ibu. Eh... hmmm.... tapi mungkin juga tidak sesulit itu?
Banyak teori bisa dipelajari, dan tentunya dijalankan, untuk menyukseskan pernikahan kedua. Saya pikir, yg paling penting adalah menyembuhkan luka batin diri sendiri dulu. Kita harus bereskan perasaan kita, dibersihkan dari semua rasa warisan masa lalu. Kita juga harus benahi hati anak (anak) kita, sebelum memulai hubungan baru. Kita harus sembuh seutuhnya, sehingga ketika cinta yg baru hadir, kita bisa percaya bahwa itulah cinta, lalu menerimanya. Dengan bahagia.
Bahkan jika kita harus mengalah terus, kita akan tetap bahagia melakukannya dengan landasan cinta pada pasangan kita. Kesal menjadi biasa bila kita terlanjur cinta.... Kita tidak akan merasa sedang mengalah. Kita hanya sedang mencintai. Tidak ada yg kalah, dan tidak ada yg menang. Yg ada adalah saling menyayangi setulusnya. Sepenuh hati, jiwa, dan raga.
"Jadi, ada ya yg beneran mau ngalah terus?"
"Ya kalau sudah sangat sangat cinta... bisa saja... yg penting harus ikhlas, biar nggak jadi kanker...."
Thursday, October 29, 2020
I Do Believe
One day, Franz Kafka (1883-1924), who never married and had no children, walked through the park in Berlin when he met a girl who was crying because she had lost her favourite doll. She and Kafka searched for the doll unsuccessfully.
Friday, October 23, 2020
About My Sonshine
Tanggal ini, 16 tahun lalu... jatuh di hari Sabtu. Aria lahir, lewat proses operasi yg dilakukan krn dia nggak bisa turun ke jalan lahir, terbebat tali pusatnya sendiri yg panjangnya 1 m. Operasi yg menyenangkan krn gue sama sekali nggak merasa kesakitan. Sesudahnya pun oke saja. Dua minggu setelah melahirkan... kontrol ke dokter pun sudah nyetir sendiri. Hehehe....
Aria lahir sbg bayi yg tenang. Banyak tidur. Tidak pernah menangis keras. Sangat gampang diatur. Dibuatin jadwal biar ibunya nggak perlu begadang. Dia menjadi bayi yg sangat pengertian bahwa ibunya hrs mengurus banyak hal. Saking rusuhnya, Aria jarang banget digendong. Dia ikut ke mana pun gue pergi, duduk di car seat sejak bayi. Pakai stroller ke mana2... bahkan di rumah. Dia akan tetap di stroller sementara ibu di dapur, atau kerja di depan komputer... atau di kamar mandi. Dia duduk di high chair khusus bayi kalau sdh ngantuk... yg akan diayun sampai dia pulas.
Mungkin krn itu, sampai skrg dia gampang sekali tidur. Bisa di mana saja. Kalau ibunya akan rusuh dulu, Aria nggak... langsung tidur kalau waktunya tiba. Di dalam tenda, di mobil, di pesawat... di mana saja dgn mudahnya dia akan terlelap.
"Ibu dulu stres nggak waktu melahirkan aku?"
"Nggak dong. Happy banget mau ketemu kamu."
"Atau stres-nya baru sekarang? Hahahahaha...."
Dan dia akan ngakak sendiri setelah godain ibunya. Tawa yg menular... jadi akhirnya kami berdua akan ketawa2....
Terima kasih sdh memilih aku menjadi ibumu, anak sayang. Hari kelahiranmu menjadi sebuah hari yg mengubah hidup. Selamanya. Menjadi lebih berwarna, penuh tantangan, air mata, juga bahagia. Selamat ulang tahun.
PS: He mentioned about you sent him a private message this morning. He sounded so happy receiving your birthday wish. Thank you. I know you always treat him passionately, with lots of love. No worries, he remembers you as a very good person too. I know, because your name popped up some while ago over dinner. Seems he holds you dearly in his heart. You know who you are.
Tuesday, October 20, 2020
Menjadi Tua Itu.... 😃
Saat ini, di kantor sedang ada project social media management. Kami, gue dan 2 kurcaci, production manager, konsultan, dan bos besar pun turun tangan... harus bikin plan, riset materi, dan nulis konten utk 4 medsos milik klien. Seru? Banget. Mari salahkan Roro Jonggrang yg telah mengajarkan adanya permintaan 1000 candi dalam semalam... akibatnya klien ini pun terinpirasi melakukan hal yg sama.
Ttd kontrak tgl 13 dan tgl 15 sdh harus tayang posting pertama di 2 kanal.
Oh jangan sedih... karena kami semua ambisius... tidak ada yg mau posting hal yg sama di semua kanal. Jadinya? Setiap kanal dibuatin table plan sendiri2, apa isi kanalnya, lengkap dengan sasaran pembaca yg berbeda (artinya beda gaya bahasa)... tiap hari.
Dung plak dung plak dung plak.
Karena deadline mepet, akhirnya approval ditunggu smp tengah malam. Jam 11... gue mulai lucu. Hahahahahaha....
Ternyata itulah pengaruh umur ya. Kyknya 5 thn lalu bisa jreng banget pegang bbrp projek di satu saat. Lalu kerja sampai tengah malam. Besoknya jam 8 pagi sdh stand by. Dan sebelum masuk ruang meeting masih sempat berenang dulu....
Ke mana perginya masa mudaku?
Setelah begadang semalam, besoknya gue spt shut down. Ga bisa mikir yg berat2 (dipaksa jg tetep ga bisa). Akhirnya hanya edit tulisan2 cimit aja.
Eh... besoknya lagi, waktu di kantor, seperti dikeplak lagi. Waktu harus pindah dari satu projek ke projek lain, butuh waktu. Hahahahaha.... Lucu aja. Ditanya A. Jawab A. Tp setelahnya ditanya B... gue bengong dulu bbrp saat. Semacam otak gue loading nyari barang B ini di mana....
Duh duh duh... ini toh yg namanya faktor U....
Monday, October 19, 2020
Old Habit Never Dies?
Di ponsel saya, ada satu nama yang pesannya akan dibalas lebih cepat dari bertepuk tangan. Dulu. Sebetulnya, pesan-pesan itu masih ada. Tapi, saat ini bukan waktu yg tepat untuk membalas dengan cepat. Atau mungkin sebaiknya membiasakan diri untuk tidak menggubrisnya.
Karena memang harus menerima bahwa tidak seharusnya pesan itu ada.
Meskipun masih peduli.
Meskipun masih rindu.
Meskipun masih (sangat) sayang.
Wednesday, October 14, 2020
Sungguh....
Seandainya kamu membiarkan saya memelukmu erat, kamu akan paham bahwa beberapa manusia memang terlahir penuh cinta. Kamu akan bisa merasakan kenyamanan yang seharusnya ditemukan seseorang pada belahan hatinya. Tapi, kamu bahkan sulit menerima kehangatan senyuman. Kedamaian seolah tak tertakar oleh nalarmu.
Begitu suramkah masa lalumu? Hingga dendam kamu taburkan, bahkan pada mereka yang tidak sepenuhnya bersalah?
Wednesday, October 07, 2020
On Remarriage part 3
Menikah lagi jadi materi diskusi yang nggak pernah basi.
Sama-sama pernah bercerai, sadar atau tidak, saya dan teman saya jadi sering bahas topik pernikahan. Kadang sambil lalu, lebih sering sambil nggak jelas alias sekadar curhat saja.
Jika pernikahan diibaratkan ruangan berpintu, kami saat ini memang ada di luarnya. Dan berada di luar, memudahkan kami melihat hal-hal yang dulu tidak kami lihat. Biasa kan, penonton selalu lebih jeli ketimbang pemain. Atau penontonnya yang sok tahu, ya?
“Satu yang saya sesali adalah tidak pernah membantah pasangan saya dulu. Saya tidak mendidik dia dengan baik. Padahal, itu tanggung jawab saya,” katanya separuh menyesal separuh emosional.
“Iya memang. Nggak bisa kamu berharap begitu saja dapat sosok yang sempurna sebagai istri dan sebagai ibu. Kan nggak ada sekolahnya.”
“Nah iya. Saya pikir, dia bisa jadi seperti ibu saya, lho. Cantik dan pintar. Tapi saya salah.”
“Jadi, kita memang nggak boleh berasumsi, ya. Semua harus didiskusikan. Dibicarakan. Masing-masing mau apa, bisa kompromi di mana… gitu?”
“Mungkin.”
Komunikasi adalah salah satu kata sakti dalam pernikahan. Saya sekarang sangat percaya itu. Diskusi jadi hal penting. Bahkan meskipun sambil cakar-cakaran - maaf lebay- tetap harus dilakukan. Tidak boleh ada ganjalan. Hal lain yang saya masih harus terus latih adalah bertoleransi. Karena mau nggak mau, kompromi jadi jalan tengah yang harus diambil pasangan jika berbeda pendapat. Namanya dua orang dengan latar belakang berbeda, kemungkinan beda pendapatnya akan besar sekali. Seberapa jauh saya mau berkompromi? Sampai saat ini, terus terang saya belum bisa menjawab.
Salah satu ironi dalam hidup saya adalah punya ijazah master komunikasi dari sekolah di Amerika, tapi gagal membangun komunikasi yang baik dengan (saat itu) suami. Ini menjadi catatan yang sangat penting, yang tentunya tidak boleh saya abaikan jika kelak (insya Allah) ada jodoh lagi untuk saya.
Memang, saya belajar tentang pernikahan sehat dengan cara yang pahit dan sangat menyakitkan hati. Pelajaran yang sangat mahal. Meskipun begitu, boleh dong saya tetap berangan tentang pasangan di masa depan? Saya masih berharap menemukan pasangan yang sukarela mendampingi saya, bisa bertukar pikiran tentang segalanya, tidak terintimidasi karier saya, mendukung saya sepenuhnya, dan jatuh cinta pada saya setiap hari. Klise? Biarin. Saya juga paham kok, untuk mendapatkannya, saya pun harus siap bertindak resiprokal.
“Pengen juga sih ada pasangan. Hmm… tapi saya maunya dapat pasangan yang mengalah, terus-terusan,” katanya tiba-tiba.
“Eh… gimana….”
“Ya pokoknya semua tergantung maunya saya. Ide saya saja yang dikerjakan. Terserah saya. Dia nggak boleh punya suara.”
“Bisa gitu, ya? Mana dong, kesetaraan dan konsep-konsep ideal yang lain?”
“Ideal itu buat siapa, sih? Bayangkan, kalau hanya ada satu suara, rumah tangga pasti aman damai. Langgeng.”
Saya sebetulnya nggak setuju. Tapi karena nggak mau berbantahan tanpa ujung, saya kok merasa sebaiknya saya pilih makan es krim saja.
Tulisan ini ditayangkan di blog Single Mom Indonesia.
Wednesday, September 30, 2020
Jadwal
Jadi, hari pertama gimana?
Ibu akan yoga. Trus mungkin jogging dulu sebentar ya. Sampai jam 8 deh. Jam 10 sdh hrs ada meeting zoom, jadi aku akan kembali ke pinggir hutan sekitar jam 9.30 ya. Habis meeting, biasanya hrs ngerjain sesuatu sampai sore. Ada yg mau nengokin kita. Pergi bareng deh habis itu ya.
Trus, hari kedua?
Main sepeda yuk. Sampai ke tempat yg bagus itu lho.
Oke. Habis itu?
Ya... paling jam 9 sdh harus di hutan lagi kan. Pasti sudah panas. Ya terserah kamu sih mau ngapain lagi, bilang aja mau ke mana, nanti dianterin.
Heeee Ibu, kok bisa tiba2 lupa kerja? Nggak ada meeting?
Oh iya. Hahaha....
Jangan pacaran terus.
Eh....