Wednesday, September 23, 2020
My Personal Coach
Monday, September 21, 2020
Friday, September 18, 2020
About My Late Dad
Thursday, September 17, 2020
About You
I need the world to know how special you are to me, the main reasons I put those stories about you on my social media accounts.
So far, the responses were all fantastic. My friends said nice things about the posts. I never received so many comments before. Well, you were always nice, indeed. Their comments only reassured me that you were amazing. Your persona is one of a kind.
I hope I will not do any harm to you by posting more stories in the future. Somehow I believe that is the way I can completely let you go.
Wednesday, September 16, 2020
My Memory
Sepanjang (atau sependek?) karier saya menulis di media massa, pernah tulisan saya diapresiasi oleh salah satu instansi pemerintah. Kalau tidak salah, temanya tentang menabung. Iya... saya lupa tulisan yg mana & kapan... krn ingatan saya tentang hal itu lbh fokus pada momen lain.
Apa itu?
Hadiah utk tulisan itu saya terima ketika saya sedang dekat dengan seseorang. Orang pertama yg saya jatuhi cinta sejak perceraian dgn ayahnya @ariagaung. Dia tinggal & bekerja di negara lain. Sehingga jadwal pertemuan kami dalam satu tahun maksimal hanya sejumlah jari tangan.
Lewat telepon, saya kabarkan bahwa saya akan menerima hadiah.
“Tell me where & when, will you?”
Saya jawab seperlunya tanpa punya pikiran apa2.
Lalu hari itu tiba. Sebuah seremoni di ballroom salah satu hotel di Jakarta digelar utk pemberian hadiah. Saya hadir sendirian malam itu, krn merasa acaranya tdk istimewa. Mengikuti prosesi dgn sedikit mengantuk, saya iseng cek ponsel. Namanya berpendar di layar. Pesan pendek masuk.
“How is the event?”
“Nothing special.”
“Really? It looks nice, everyone dress up pretty.”
“Hmm... what do you mean?”
“Can you please stand up so I can see the prettiest lady among the crowd?”
Saya merasa wajah saya memerah & hati berdebar kencang. Saya sangat yakin tadi dia cerita masih makan siang di Port Dickson....
Begitu saja saya berdiri menghadap pintu masuk. Dan saya lihat dia di sana... tersenyum lebar, melambaikan tangan, lalu menghampiri saya yg berdiri kaku tak menyangka mendapat kejutan luar biasa.
“Congratulations,” bisiknya sambil mengecup pipi saya.
@ibunyaaria
#youknowwhoyouare #day3 #30harimenulisdirumah #30daychallenge #30harimenulisdiinstagram #30daywritingchallenge #30day#memory #mysunshine
Friday, September 11, 2020
Norma Sosial, Norma Agama, Norma Anaknya Pak RT....
Selalu senang gembira kalau diingat sama teman-teman lama... atau yg pernah jadi teammates... atau anak buah. Diingat dalam konteks sbg orang yg bisa diajak omong. Kenapa senang? Senang krn berarti mmg gue bukan orang yg judgemental.
Seperti kemarin. Ada yg tiba2 pop up, said hi... lalu.... "Aku skrg hamil masuk bulan ke-5, mbak."
Padahal dia belum menikah.
Ya sudah.
Tidak perlu dibahas kan bapaknya siapa. Nggak usah kepo kalau dia nggak mau cerita. Fokus sm proses kehamilan. Tips & trick sbg yg sudah pernah hamil pada yg newbie (meskipun tnyt rada lupa juga krn sdh 16 thn lalu yaaaa).
Cukup senang bhw anak ini memilih utk tetap hamil. Dan senang sekali bhw ternyata pacarnya bersedia menempuh perjalanan panjang utk bertanggung jawab: saat ini sedang menjalani sidang izin poligami.
Di luar cerita kehamilan itu, sepertinya memang banyak hal2 yg sdh bergeser dalam hidup kita ya. Kemarin sempat ada diskusi ringan dan lucu selewatnya, tentang anak skrg yang pilihannya begitu banyak... sampai kadang yg dipilih sangat random.
Ya nggak?
Dulu sih kayaknya setiap anak cuma punya pilihan untuk sekolah-kerja-menikah-punya anak. Seragam semua. Sekolah pun hanya itu2 saja. Kerja juga bidangnya itu2 saja. Ya... seiring berjalannya waktu, sesuatu yg sama menimbulkan kebosanan. Termasuk bahwa being ordinary is boring.
Keren bahwa lalu banyak anak muda yg menjadi unordinary dgn gebrakannya masing2. Ada yg masih muda banget bisa sukses mengelola start up. Ada yg pinter banget punya ide jualan barang yg kelihatan remeh tp tnyt penting dan laku banget, macam cilok....
Kehidupan sosial juga bergeser. Jarang ada anak skrg yg mikir akan menikah segera setelah dapat pekerjaan. Beli rumah? Hmm.... Gaji lebih menarik ditabung untuk jalan2. Nggak segera menikah bukan karena nggak laku lho. Pacar punya... tp ya itu... lbh seru traveling the world ketimbang settle down. Katanya sih gitu....
Setuju atau nggak?
Krn gue bukan orang yg judgemental, ga bisa bilang setuju atau nggak, krn semua balik lagi ke tujuan hidup orang yg menjalani. Seharusnya semua orang bebas memilih apa pun jalan yg dia mau tempuh, asal nggak menyusahkan orang lain. Gue juga bukan orang suci. Dalam perjalanan hidup gue, beberapa kali gue pilih jalan yg gue tahu nggak betul. Gue punya alasan sendiri untuk itu. Jadi yaaa... gue rasa setiap orang merdeka menentukan arah hidup dan proses yg mereka pilih utk hidup di dunia. Gue hanya bisa mendoakan spy nggak lupa pada norma sosial, dan yg utama norma agama. Implementasi bebas lah.... Sing penting sehat, kuat, dan selamat dunia akhirat. Aamiiin.
Thursday, September 10, 2020
Allow Me, Please....
...
Let me be the one to break it up
So you won't have to make excuses
We don't need to find a set upWe just have to say our love was true, but has now become a lie
You don't have to live like this, but if you love me still then stay
Don't keep me waiting for that final kiss
Wednesday, September 09, 2020
The Story of Dingklik Tua
Tadi pagi terjadi huru hara... yg sebenernya lucu juga sih kalau sekarang dipikir. Waktu kejadian sih sempat bikin tensi naik.... Apa coba? Yaaaakkkk... adegan dgn ibu suri a.k.a eyang.
Jadi, sejak pindah ke BSD... gue berusaha banget utk tidak menimbun barang. Apa pun itu, hanya punya 2 kemungkinan: dipakai atau dibuang (dikasihkan ke orang). Alasannya krn nggak mau nimbun, kedua jg krn maunya rumah ini isinya barang2 yg gue suka. Ya kaaannn....
Nah... dgn sharing rumah sm eyang... seringkali ada hal yg ga sejalan. Sepele sih, misalnya kebiasaan eyang pakai taplak, yg gue nggak suka. Solusi, eyang bebas pasang taplak di meja mana pun di rumah no 16. Silakaaann.... Yg penting rumah gue (no 17) no taplak. Trus, gue suka ngumpulin botol beling segala ukuran untuk diisi tanaman. Sementara menurut eyang, kalau mau pajang botol, ukuran harus sama dan motifnya jg hrs spesial. Hmm... tp akhirnya eyang menyerah krn botol2 itu gue pajang di rumah gue.
Tp yaaa... namanya sharing live, tentu nggak semua sesimpel urusan taplak dan botol pajangan ini. Kyk misalnya microwave, adalah nggak praktis kalau sampai hrs punya 2, kan? Jadi satu aja, ditaruh di tempat gue. Juga dapur, meskipun ada 2, tp yg cukup besar utk bisa leluasa memasak ya hanya satu, di rumah gue. Hmm... yg gemes adalah krn tempat yg menurut gue pas untuk naruh microwave oven di dapur menurut eyang jadi bikin tempat masak jadi sempit. Du du du du.... Trus gue merasa perlu punya oven listrik untuk iseng berhadiah cookies, cake, atau macaroni dan brulee. Juga perlu deep fryer dan breadmaker.
"Ini mau disimpen di mana?" adalah pertanyaan eyang waktu semua perangkat dapur itu tiba, kira2 ratusan purnama silam.
"Ya nggak disimpen, kan dipakai."
"Memang mau dipakai tiap hari?"
"Ya enggak, tapi krn dipakai, ngapain dimasukin dus lagi? Ya sudah biar saja di dapur."
"Tapi dapur jadi sempit."
Endebraaa... endebraaaaiii... endebraaaa.....
"Maaf ya, Ma. Ini kan dapur di rumahku. Boleh ya di rumahkku ada oven dan deep fryer-nya."
Kalau sdh gitu, biasanya eyang baru ingat lagi kalau gue sdh cukup umur untuk boleh ngapain aja di rumah gue sendiri. Ngambek? Ya udahlah....
Akhirnya sih skrg ada rak yg khusus isinya perangkat dapur itu semua. Kenapa jadi ada rak ini? Krn waktu pakai meja pendek, sisi bawah meja itu diisi macem2 yg nggak jelas. Tas belanja, botol plastik (utk jamu), dll yg menurut eyang pas disimpen di situ, tp menurut gue enggak sama sekali krn jadi uwel2an. Ada dua meja utk dua oven, dan dua2nya semakin penuh. Makin lama kok masuk rumah kyk masuk gudang umpel2.... Dan solusi dari eyang utk menutup uwel2an itu adalah... pakai taplak! Oh no! Gue beresin semua. Beliin rak yg pas utk semua perangkat, nggak ada ruang utk sumpelan2. Beres.
Kadang mmg eyang "nggak adil" juga sih. Barang2 yg dia nggak suka, tp masih mau dia simpen (entah utk apa ya menyimpan barang yg nggak disuka), disumputin di rumah no 17. Karpet, peti beras, lemari pendek, koper, dan macam2 lain... termasuk satu dingklik warna coklat yg menurut gue sih bentuknya nggak jelas.
Jadi dingklik ini dibawa dari Depok. Dulu, ada rumah kerabat ipar gue yg mau dijual, dan hrs dikosongkan. Pdh isinya masih lumayan banyak. Mulai dari kipas angin, panci2, meja tv segala hal... termasuk dingklik atau kursi kecil ini. Iya, ini kursi lama, kursi kuno, dari kayu jati dgn rangka besi. Bagus? Biasa aja sih, tp mmg berkualitas. Tapi krn cuma satu, jadi kagok, sementara mau jadi kursi biasa ukurannya kekecilan. Akhirnya dibawa ke BSD... tp difungsikan sbg "meja antah berantah" yg kadang di atasnya ditaruh pot. Kadang buat naruh kotak pompa rusak (sblm dibawa sm tukang pompa). Nyebelin banget rasanya di mata gue. Gatel.
Sejak WFH, gue tuh sering bongkar lemari. Beresin baju-sepatu-tas. Kalau ada yg sdh lama nggak dipakai, dikasih ke siapa saja yg mau. Nah, kemarin ini kamar sdh beres dan kinclong. Merembetlah beres2 ini ke kamar Aria, lalu ruang cuci di atas, lalu sampai ke ruang tengah. Semua yg menurut gue nggak penting... silakan dadaaaahhh... hahaha.... Banyak banget printilan2 nggak jelas... yg entahlah kenapa nggak segera dibuang padahal sdh bertahun nggak kepakai juga, temasuk dus2 bekas sepatu (yg disimpan dgn semangat "siapa tahu kapan2 perlu kotak"). OMG. Dan gue beres2 dgn semangat banget. Sampai beli rak baru. Beli kasur dan meja kursi baru utk Aria. Karena rasanya, banyak di rumah selama pandemi, kalau rapi dan cantik kan yo ayem tentrem....
Koper, kalau kira2 masih bagus, masuk lemari. Karpet masih bisa masuk ke gudang, beberapa diangkut sm para backstage crew. Peti beras akhirnya jadi tempat kantong dan segala hal printilan. Dus sepatu tentu tanpa ampun dihibahkan ke pemulung.
Tadi pagi, sampailah gue ke kursi coklat yang setelah gue lihat kok ya bentuknya miring dan sudah dicat jadi tekstur kayu jatinya hilang.
"Ma, aku nggak pakai kursi ini."
"Oh, mama masih mau pakai."
"Untuk apa?"
"Kalau motong2 sayur... enak di situ, pendek."
"Kependekan ini. Motong sayur ya di dapur aja, Ma."
"Ya... buat kalau di kebun deh. Pas ganti2 pot."
"Nah, kalau itu, pakai dingklik aja. Ini ketinggian."
"Nggak kok, ini pas."
"Coba, deh."
"Hmm... iya ya. Ini kok agak tinggi."
"Ya sudah, aku kasih orang ya."
"Lho jangan! Itu jati lho. Bagus itu."
"Ya memang. Tapi berguna nggak? Kita pakai apa nggak? Aku nggak pakai...."
"Mama pakai!"
"Untuk?"
"Ya... untuk apa gitu... pokoknya kepakai."
"Tp aku nggak mau ini ada di sini."
"Ya sudah, taruh di atas saja, di kamar Aria."
"Untuk apa?"
"Untuk Mama."
"Memang Mama suka ke kamar Aria?"
"Pokoknya jangan dibuang!"
"Ya sudah. Tapi jangan ditaruh di sini. Dan jangan di kamar Aria. Kasihan kalau kamarnya jadi sumpek."
"Taruh saja di kamar Mama."
"Ok."
"Eh tapi nanti kamar Mama jadi sempit...."
"Ya sudah, untuk orang aja ya."
"Ini tuh bagus. Siapa tahu kapan2 kita butuh kursi...."
Ini mulai melelahkan... krn FYI... di rumah kami itu ada sekitar 25 kursi dan sofa dan tempat duduk... sementara sehari2 kami hanya bertiga....
"Jangan suka buang2 barang. Nanti kalau kita butuh, gimana?"
"Iya. Kan aku tanya, kita perlu kursi ini nggak? Kyknya sih nggak perlu, kita nggak butuh...."
"Ya sudah. Buang aja. Buang semua yg kamu nggak suka. Ya sudah, sana buang.... "
Laaah... nadanya jadi tinggi, hmm... yo wis gue diem. Pengennya sih bales njerit, tp takut durhaka.... Tapi sungguh... gue capek lihat ada kursi nggak jelas. Secara fungsi nggak genah, secara bentuk juga nyebelin. Dan siapa tahu ada orang yg bisa memanfaatkan, kan lebih berguna.
Kepala udah cenut2 banget... tensi pasti naik deh nih....
Ya sudah, daripada nggak kelar2, dan rasanya gue udah mumet banget... takut mood rusak seharian, akhirnya gue tinggal ke kantor. Lumayan. Seneng sih bisa ada di kantor, tempat buat nggak ketemu eyang bbrp jam, dan nggak perlu lihat kursi coklat biang perkara.
Barusan eyang wa, "Kursi coklat sdh aku kasih Wahid. Dia mau."
Alhamdulillah....
Friday, September 04, 2020
The Plan B
Kemarin, duduk bareng Aria membahas "things to do if Ibu suddenly pass away."
"Ibu, ini nggak lucu."
Iya memang nggak lucu. Tp kan tetep harus dilakukan. Krn siapa lagi yg mau urus? Jadi kemarin memaksa Aria tahu semua surat2 penting, termasuk nomor2 yg dia harus hubungi untuk urusan asuransi.
"Ini perhiasan, buat kamu kalau melamar seseorang. Ini ada yg hadiah dari eyangma, ada yg ibu beli. Sengaja aku beli yg mirip supaya jadi satu set yg bagus."
"Ibu, ini kalau dijual, mahal nggak?" Aria ngakak. Kayaknya skrg dia lebih suka jual berlian lalu pakai uangnya untuk belanja sepatu ketimbang mikirin hrs melamar perempuan....
"Dan jangan lupa telepon .... (you know who you are)."
"Oh my goodness."
Tuesday, September 01, 2020
Mind Your Own Steps
People come and go. We just need to embrace each other when we are crossing path. I need to walk carefully for I do not want to step on your foot. I hope you will do the same.
Friday, August 28, 2020
Click (Draft)
Dalam daftar kelebihan-kekurangan yang kubuat untuknya, salah satu kelebihannya adalah ia paham bahwa bantuan sekecil apa pun akan bisa mencuri hatiku.
Ketika dia lihat botol air mineral di tanganku masih rapat, segera dia ambil dan buka segel plastiknya. Dia buka tutupnya, lalu botol itu ia kembalikan padaku.
Melihatku berjinjit di depan lemari dapur, ia akan segera menghampiri dan bertanya, "Kamu perlu apa?" Sambil berjalan mendekat, dia ambil tangga kecil, dia letakkan dekat kakiku. "Mau aku ambilkan, atau kamu tetap mau cari sendiri?" Ia memang jauh lebih tinggi, sehingga dengan mudah bisa menemukan botol rosemary di antara jajaran macam-macam botol bumbu di lemari dapurku.
Saat mobilku memasuki tempat parkir, ia menghentikan apa pun yang sedang ia lakukan. Jika setelah parkir aku membuka bagasi, ia akan serta merta mengambil alih membawa apa pun yang aku ambil. "Sudah, kamu tunggu saja di dalam."
Hal-hal sederhana seperti membukakan pintu atau membawakan tas belaja, ia lakukan dengan gembira. Dan ia lakukan semuanya seolah sudah terbiasa begitu. Seperti sudah seharusnya begitu. Tanpa banyak bicara, tanpa bertanya-tanya. Sederhana, memang. Tapi buatku, yang selama ini terbiasa melakukan segalanya sendiri, justru hal-hal kecil itulah yang menyenangkanku.
Dia memang hadir untuk membuat hidupku lebih mudah.
Friday, August 14, 2020
It Is Not That Easy....
Mungkin yg dibutuhkan memang hanya kupu2 di perut. Tp lalu digandeng, dibukain pintu, dibawain belanjaan, ditemenin beli ini itu.... Bikin goyah. Poninya yg diacak, hatinya yg berserakan....
Dangdut.
Biarin.
Katanya mau dengerin kata hati.
Mana?
Besok aja deh.
Wednesday, August 05, 2020
Thursday, July 30, 2020
Run for Your (My) Life
Wednesday, July 29, 2020
Jatuh Cinta
Tuesday, July 28, 2020
Jangan Sakit Saat Pandemi
Semua orang langsung parno krn tiga hari sebelumnya gue ke supermarket....
Gue pun parno. Aduh ampun. Memang bener, jgn sakit saat pandemi... bikin kecil hati.
Minum obat penurun panas, pereda sakit kepala, seduhan jahe... lalu membaluri sekujur tubuh dgn minyak kayu putih. Nyalain diffuser lavender dan lemon. Siap tidur seharian.
Oh ya, sebelumnya tentu ngabarin kantor kalau akan sangat slow respon tp tetep boleh dicolek utk hal2 urgent. Dan sempat ngobrol dulu agak lama di telepon sambil rebahan... sm yg sedang berjarak 439km itu... sungguh sedih tak bisa nyender secara langsung.... #dangdut
Setelah tidur dari jam 11-17... bangun dengan baju basah keringetan. Badan terasa lbh ringan... demam berlalu sudah. Alhamdulillah. Habis mandi lalu makan yg hangat, minum banyak, and I felt myself again. Alhamdulillah.... Sumpah parno banget ya kalau demam2 di kala wabah begini. Susah banget nggak cemas.
Malamnya bisa gelar laptop lagi meskipun membatasi diri hanya smp jam 9. Habis itu minum obat lagi dan tidur.
Pagi ini sdh gembira. Meskipun ttp blm berani ke kantor, gelar lapak di rumah aja.
Happy Tuesday, y'all.
Friday, July 24, 2020
You....
Sebuah reminder popped up tadi pagi. Kalau umurnya 10 tahunan... reminder ini suka bikin cenut2... hahaha... .
Dan bener. Yg pagi ini nongol adalah tentang Aria ikut ke event, tapi ada babysitter istimewanya. Yes, that was you. Thank you for taking my son with you while I was hosting the event.
I am always happy when having Aria and you in one place :)
Wednesday, July 22, 2020
He's Waking Up
Perjuangan menuju full recovery masih perlu usaha yg tidak mudah, tp bahwa dia bangun, cukup melegakan. Semoga tidur panjang kemarin memberinya kesempatan berkontemplasi, yg akan membuat dia jadi manusia yg lbh baik dari sebelumnya. SehatNya semoga jadi milikmu, Dit. Aamiiin....
Tuesday, July 21, 2020
Monday, July 20, 2020
I am Sorry I Forgot
Sunday, July 19, 2020
Today
But still if anyone ever ask whether I am okay, my answer would still be yes. I know I'll manage eventually.
Saturday, July 18, 2020
You are 100% in Charge
Apa yg akan kita pilih? Terbawa arus kesedihan? Mencari kegembiraan? Biasa saja dan terus berjalan? Semua itu pilihan yg kita buat sendiri. Norma sosial dan norma agama memang akan menjadi pagar saat kita memilih apa pun, namun tetap, keputusan terakhir ada di tangan kita.
Thursday, July 16, 2020
Yours or Mine or His?
Dari obrolan itu, terkuak banyak cerita yang kalau buat gue sih seperti konfirmasi saja. Bahwa iya bapaknya anak gue itu peduli sama Aria tapi nggak tahu cara menunjukkan dan memilih hanya mengamati dari jauh. Iya bahwa keluarga barunya juga menunggu kesempatan ketemu dengan Aria, yg sampai hari blm disediakan oleh ybs. Termasuk alasan2 tidak ada kiriman uang selama belasan tahun... semuanya kok rasanya sdh gue ketahui meski hanya dari kemampuan aplikasi ilmu tebak2 buah manggis... hahaha.....
Entah kenapa gue yakin akan banyak orang yang mempertanyakan komunikasi gue dengan salah satu keluarga baru ini (iya, ada lagi yg lain hehe, kapan2 aja ceritanya, kalau gue mau). Yg tentunya semua akan berputar di sekitar hak Aria yg tidak dipenuhi, dan kewajiban ayahnya yg tdk ditunaikan.
Tapi ya, coba dipikir ulang. Sebenernya kenapa kita merepotkan apakah yg terjadi selama ini fair atau tidak untuk Aria? Kenapa tidak dilihat dari apakah dia bahagia atau tidak?
Aria tidak mendapatkan kasih sayang ayahnya secara utuh. Iya. Nggak pernah ditengokin. Betul. Nggak dibiayain. Iya banget. Nggak pernah disekolahin. Bener. Tapi apakah dia bahagia? SANGAT. Dia sangat bahagia dengan hidup yg dia jalani. Tanya aja sendiri. Percaya deh, dia bahagia, sehat, dan ganteng. Kalau nggak bahagia, nggak akan sesehat itu anak ganteng gue....
Jadi, apakah yg dilakukan si ayah adil atau tidak pd Aria, jadinya nggak relevan. Aria nggak butuh kok semua itu. Insya Allah semua akan selalu cukup untuk Aria. Dan tidak perlu dipikirkan lebih jauh apakah ayahnya terlibat atau tidak dalam kebahagiaan di hidup dia itu. Karena pada kenyataannya, Arianya sendiri tidak peduli ayahnya mau berperan atau tidak. That is my practical and realistic son. I am a proud mom.
Monday, July 13, 2020
Expiration Date
I cannot fathom how Aria feels at the moment. What appears to me right now, he looks okay. This is just a usual first school day for him. And yesterday was just another Sunday. So far, what I can comprehend, for my son, Adit is just an ex husband of ibu. Nothing more and nothing less. Father? The concept is rather blur, since he didn't know him at all.
So yes, I need to be fair. I promise not to bug him to do anything in this situation. It is completely his call, if he wants to pray or not. There may not be an ex son or ex dad or whatever, but there is still an expiration date for any love connection to develop. And once it is expired, the love is likely to be out of your heart. It's gone... and that means you lost your chance to take it back. You lost your chance to reconnect.
Sunday, July 12, 2020
Surat untuk Adit
Aku nggak tahu surat ini akan sampai ke kamu atau tidak, tapi aku harap kamu akan membacanya.
Tgl 10 Juli kemarin, kamu ulang tahun. 47 tahun. What did you do all these years? Semoga kamu cukup gembira dengan apa yg sudah kamu capai. Memuaskan atau tidak, tentu kamu yg merasakan, dan bukan didasarkan pada penilaian orang lain.
Kamu ingat kan, hari Jumat itu kamu balas ucapan ultah dariku. Kamu cerita kalau sedang demam, tp hasil swab negatif. Jadi kita berdua berpikir positif bahwa kamu hanya kena flu biasa. Dan ternyata kamu hampir tidak pernah WFH selama PSBB? Astaga. Mungkin kamu kecapekan ya kan.... Trus aku kirim foto Aria yg gondrong. Rambut kriwil (persis rambutmu... dulu... haha). Yg kamu komentarin dengan "keren."
Little did I know that you were in hospital bed while replying my whatsapps messages. So it was indeed a shocking news to hear that you were now in ICU... battling against Covid-19.
Tadi, Sari, istrimu (yes I finally contacted her), mentioned about your latest condition. The doc already put on the ventilator and you are unconscious now. "Maafin mas Adit, mbak."
Sejak saat itu (sampai sekarang) aku menangis. Semprul kamu ya, masih bisa bikin aku nangis setelah kita cerai belasan tahun. Hmm...
Aku sedih banget dengar kamu nggak sadar. Iya deh... ternyata, aku masih peduli....
Aku makin sedih waktu ngasih tahu Aria, dan reaksi dia hanya, "Trus?" I suddenly know I taught him well on being practical. Tp reaksi itu makin menyadarkan aku bahwa dia memang nggak kenal kamu. You are in his blood but never in his mind (not to mention in his heart). And I am so sorry for that. I am deeply sorry. I feel so sorry for all the things you missed on raising him.
Deep in my heart I wish you will get better, Adit. I really wish you'll be okay and come home to your family. I do. Semoga Allah SWT beri kamu kesempatan untuk bisa menjadi ayah yg baik bagi Aria. Semoga kamu bisa menunaikan kewajiban kamu sebagai ayah buat anak laki-laki kamu. Semoga masih ada kesempatan buat kamu melakukan semua hal yg pernah kamu janjikan. Amiin ya rabbal alamiiinn.....
When was the last time you both meet? Saking lamanya... aku sampai sudah lupa. Tapi percaya nggak, beberapa bulan terakhir ini, aku sering bilang ke Aria, "Kayaknya kamu perlu deh, tinggal sm Ayah." Ide yg sampai skrg blm bisa dia terima, tp aku selalu berpikir bahwa hal itu penting. Atau mungkin aku aja yg merasa kamu perlu berperan dalam hidup dia? Semoga nggak ya. I know you love him too, even if you never really said that....
Aku merasa bhw selama ini kita sudah selesai. Tp ternyata belum ya. Atau nggak bisa? Karena bagaimana pun, kita punya Aria. So I really hope you can see him again, sometimes soon. Be strong, and win the battle, please. Fight hard, will you!
Thursday, July 09, 2020
Semoga Selamat dan Kaya Raya
Pilihan tas gue yg US brand dan bukan European pernah "dipertanyakan" sama seorang teman. Udah gitu kalaupun beli tas merek Eropa, model yg gue pilih pun bukan yg populer. Hmm... pertanyaan dia, "Ngapain pilih model itu? Nggak ada yg tahu kalau itu T**s."
Du... du... du....
Sementara gue pilih tas itu ya krn gue suka. Seperti jg pilih sepatu. Krn suka modelnya, enak dipakai. Kalau tas, sesuai kebutuhan dan memang bagus. Knp US brand, krn harganya lbh miring jadi kalau gue lagi teledor dan kena2 noda ... gue ga akan terlalu sakit hati.... Hahaha....
Ternyata, menurut si teman, pola pikir seperti itu nggak tepat nih. Hahaha.... dia bilang, kalau pilih barang branded, hrs yg populer "Supaya gampang dijual lagi." Waduh. Ngapain ya kok dijual lagi.... Eh tp kalau LV atau Chanel... dijual lagi ya masih bisa sih.... Hanya tujuan belinya apa kok smp mikir hrs dijual?
Lebih kacau lagi, pilihan model juga harus yg populer supaya orang langsung kenal sm barang itu dan paham kalau "Kita juga bisa lhooooo punya barang bermerk yg sama spt jij punyaaaa...."
Kan... status lagi, kan....
Eh buset.
"Kayaknya orang mestinya tahu sih, gue mampu kok beli tas kyk apa juga.... Gue aja yg nggak mau belinya. Buat apa? Gue sih nggak segitunya insecure smp hrs berlindung di balik barang branded."
Dan berhentilah diskusi kami soal tas branded sbg lambang status.
Wednesday, July 08, 2020
Start New
Only you and I that count. Now.
Tuesday, July 07, 2020
Monday, July 06, 2020
The Rank
A dear friend stopped by and we had a cute chat over a box of fresh lychee when he casually mentioned about the rank my rational mind has made all this time. "Your son is first, no question about that. And it is also clear that the work comes second. Others can be on the third or fourth place, if you want and if they agree. And as far as I know, only limited man willing to be considered number 3, voluntarily. No exception. Nor for me. "
Suddenly I miss the one that will be there all the way. You know who you are.
Monday, June 29, 2020
Hello, Monday
I miss to see you here in my house. Sitting in my kitchen, eating while talking about life and work, and everything in between.
I also miss to see you sit behind the steering wheel, driving me after office. And we could stop by somewhere to have a very nice dinner before reaching home.
I really do miss you.
Saturday, June 27, 2020
You
Everything you are
In my eyes you do no wrong
I've loved you for so long
And after all is said and done
You're still you
After all
You're still you
(You're Still You - Josh Groban)
Friday, June 26, 2020
You Are Always Welcome
Thursday, June 25, 2020
Tuesday, June 23, 2020
Is It?
On a moonlit night together
How could such bliss
End up like this
At a table meant for two
And I miss the conversation
Now that you've gone away
If like me you lay awake
That's the risk that people take
Saying it's over
Well, I pour myself a drink
From an almost empty bottle
Downing it fast
Drowning the past
I hear the phone
And I almost hesitate
'Cause it might be you that's callin'
Saying you're still awake
Wishing you could change events
Then I guess it made no sense
Saying it's over
Love slip through our hands
Are we living to regret
Saying it's over
Wishing you could change events
Guess we let it make no sense
Saying it's over
Saying it's over
Monday, June 22, 2020
Same Here, Sunshine
Monday, June 08, 2020
Morning Routine
Saturday, June 06, 2020
Traditional Cloth
10 tahun lalu gue sudah pakai kain batik ke kantor. Atasannya pakai t-shirt dan cardigan. Pakai boot. The first time we met, I wore one of my fine silk collection, if you still remember :)
Trus beberapa tahun belakangan, punya kesempatan ke tempat2 pengrajin batik. Hanya beli2 aja sih, niatnya mau dijahit jadi baju, tapi setelah membayangkan proses menggambar mori, membatik, mewedel, melorod... kok ya sayang kalau kain ini digunting. Akibatnya? Kain2 itu menumpuk dgn manis di lemari. Kalau yg sutra, sempat dipakai ke kondangan juga sih, dengan kebaya manis atau seragaman.
Baru sejak tahun lalu, atau dua tahun lalu... sejak pindah ke TJP, pas juga orang2 sedang "melek batik" dan menggiatkan kebaya. Sampai ada tagar #selasaberkebaya. Krn gue nggak punya banyak kebaya, jadi ya gue ramaikan dengan #selasaberkain. Hehehe.... Dan kalau ngantor, seringnya mix kain batik dgn sneaker. Lucu lhoooo.... Hanya yg jadi PR kalau mau sholat. Kain2 ini bikin gue susah duduk tahiyat. Ya ampun. Gadis2 kraton itu dulu gimana ya kalau mau sholat? Jd kalau pas berkain, mau sholat... ya gue ganti dulu pakai sarung.... Sering jadi bahan ketawaan sih kalau pas ada yg barengan sholat. Bodo amat deh ah. Oh ya, agak ribet juga kalau mau pipis, krn gue nggak suka kain yg nggak rapi. Jadi? Terpaksa ucul2 semua, lalu setelah selesai hajat, dipakai lagi pelan2. Keribetan yg sukarela dijalani demi menunjukkan kalau gue bangga jadi perempuan Indonesia (dan sangat bangga lahir sebagai perempuan Jawa tempat batik2 ini berasal).
Dan... baru sadarlah gue kalau koleksi gue cukup banyak. Mungkin kalau digelar semua, bisa menutup satu lapangan kasti. Hahahaha....
Gue punya apa saja? Ada batik Indramayu, batik Lasem (ini banyak banget, ada kali 10 pcs), batik Bayat, batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Gresik, batik Madura, dan tentu dari Solo & Yogya (meski sering nyaru juga sih yg mana kalau dua ini krn sama2 warna sogan). Batiknya warna-warni, seru dan ceria.
Tadi pagi, nyokap sedang ritual bulanan ngeluarin kain2 batik dari lemari. Sudah sering sih lihat batik2 lama nyokap, tp kok kurang tertarik krn warna2 yg monoton khas batik orang dulu. Tapi tadi baru lihat ada batik lawasan. Yg memang sudah lawas, wong itu dibatik sendiri sama almarhumah eyang putri.... Gue pakai... kok lucu. Trus gue liatin nyokap. "Ya udah bawa sana, wong aku ya nggak pakai. Dua kain yg lain kan sudah dibawa sama ibunya Jawa. Kemarin buat main kemah2an." Ladalah....
Jadi gue tiba2 beride untuk ke kantor pakai kain aja. Nah kan... makin ga kepakai deh segala gaun2 gue. Hehehehe....
Friday, June 05, 2020
My Posting
I am ok. Or maybe not... and pretend that I am... but still... this is my normal, try hard to be ok.
Thursday, May 28, 2020
New Normal. What is New Normal?
Hmmm... buat gue, nggak ada new normal. Gue nggak bisa terima. Ini tuh nggak normal.
Nggak normal karena kalau pulang kantor gue ga boleh langsung cium anak gue. Gue harus mandi dulu, keramas dulu, cuci baju... baru boleh peluk cium anak gue. Dan gue ngetik itu aja kok sedih. Tersiksa banget ternyata nggak bisa meluapkan afeksi dengan segera.
Nggak normal karena gue ga bisa sembarang semau gue ketemu sama orang2 yg gue sayang. Dan begitu ketemu pun ga bisa main peluk2. Harus jaga jarak, harus patuh protokol kesehatan. Apa2an tuh?
Nggak normal karena gue harus pakai masker kalau keluar rumah, termasuk kalau olahraga. Engap. Nggak suka.
Nggak normal karena kakak dan adik gue nggak bisa sesukanya mondar-mandir jengukin rumah BSD. Khawatir jadi carrier yg membahayakan nyokap.
Ini semua nggak normal.
Okay, gue mau nggak mau harus berdamai dgn ini. Gue patuhi semua protokol kesehatan. Gue rela nggak ketemu2 dulu sama orang2 yg gue sayang. Nggak ngantor. Nggak main ke mana2. Nggak liburan. Nggak olahraga di luar yg jauh2. Duduk manis di rumah. Ok. Gue berdamai dan gue jalani.
Tapi gue masih mau suatu saat kembali lagi ke normal. Hugging you tight and kissing you madly, one day.
Wednesday, May 27, 2020
Happy Belated Birthday
Actually, May 25 was also a special day for another special someone. Yes, I got 2 boys celebrating their birthday on the same day. One is my brother, the other one is... what should I call him now? I am not so sure....
But still, I need to wish him happy birthday. Somewhere publicly... so he will know that I still remember his birthday. And I still care.
Happy birthday, dear you... you know who you are. Thank you for supporting me all along. Never be this far without your criticism/guidance/cynicalcomment/trust/LOVE.
Thank you.
Tuesday, May 26, 2020
Life Without You
Since I thought our loves were the kind that only shared by just a few people. Weird enough, but cute as well.
I love you. You know who you are.
Sunday, May 17, 2020
Do You Need Other Reason?
Sometimes it's all so clear
There's a reason you
Are here
With me
Life has its ups and downs
But I'll get through
If I can stay with you
Forever
Who could have planned
That I would be
Such a lucky man
(Lucky Man, Dave Koz featuring Charles Pettigrew)
Thursday, May 14, 2020
Naturally Yours
Salah satu pertanyaannya adalah, "Selama ini, sejak bercerai, pernah seriously dating?"
Trus jadi ingat bahwa satu2nya yg bisa dianggap seriously dating ya sm OmD. Sekian lama? Iya. Hahaha... lama sekali....
Tp jadi ingat juga bahwa nggak pernah berencana untuk seriously dating sih. Membiarkan semua berjalan begitu saja, nggak pakai rekayasa, nggak pakai rencana. Awalnya kan ya kenalan biasa, berteman saja. Lalu semakin hari semakin dekat dan at one point merasa mulai ketergantungan satu sama lain. Trus mulai merasa harus bertanggung jawab. Tanpa dirancang untuk begitu, ketergantungan & tanggung jawab itulah yg akhirnya menelurkan rencana ini itu berhubungan dgn masa depan....
Bahwa akhirnya tidak sesuai rencana.... Ya berarti memang rencana kami nggak sesuai dgn rencana Sang Maha Planner....
Gitu sih.
Inilah satu postingan bosan WFH.
Friday, May 01, 2020
The Marriage Story
Memang pernikahan bukan sesuatu yg mudah. Semua orang juga tahu. Kok ada yg nampak lancar2 aja menjalaninya? Ya itu mungkin rejeki. But still, we never know....
Dalam film itu, terlihat bahwa memang kerja keras perlu juga dilakukan dalam pernikahan... kalau mau selamat. Jadi mengenang kembali pernikahan 20 tahun silam... ternyata setelah diingat lagi, banyak banget PR yg nggak diberesin. Hiks.
Di Marriage Story, setelah sekian tahun menikah, pasangan itu baru sadar bahwa cinta saja nggak cukup. Mereka tetep perlu ruang untuk berkembang. Setelah sekian tahun menikah, baru sadar bahwa cinta yg menggebu itu membutakan nalar. Juga menghilangkan kewarasan. Dulu sih nggak apa2 kehilangan jati diri, semua jadi tergantung pasangan... tp lama2 kok capek, ya? Dulu sih seru2 aja ledek2an... tp lama2 kok ngeselin, ya? Dulu sih rasanya lucu lihat dia bangun tidur awut2an panik krn kesiangan... tp lama2 kok bosen lihat dia nggak jadi dewasa, ya? Dan yg penting adalah komunikasi. Di mana2 dibilang bahwa komunikasi dalam pernikahan penting banget nget nget nget.... Keren banget ini film bisa pas menggambarkan bahwa meskipun ada saling mengerti antara dua pihak... tetep aja kalau komunikasi nggak bener, jadi pincang krn berat sebelah. Dan ketika cinta itu nggak dijaga apinya... ya lama2 padam. Menjalankan pernikahan hanya sebagai sebuah kewajiban. Ujung2nya bosan... lalu memutuskan perlu tempat baru untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Yungalah... angel'e....
Trus jadi ingat banyak banget PR nggak dikumpulin, dulu itu... haiyoooohhh.... Dan skrg masih niat mau coba lagi? Yakin? Bener?
Mbuh ah....
Sunday, April 12, 2020
Granted Wish?
Ada seorang teman dekat yg sudah beberapa tahun ini punya masalah dalam pernikahannya. Sebetulnya, masalah sudah ada sejak awal sekali. Kebetulan gue kenal dia (& pasangannya) sebelum mereka menikah. Dan memang dari dulu juga sdh terlihat bahwa ada "ketimpangan" di antara mereka, tp yaaa... rasanya cinta kan bisa mengalahkan apa saja ya?
Bener juga sih, masalah demi masalah dilewati dengan cinta itulah. Si mas ini seperti menggenapi stereotipe suku tertentu yg demen pesta dan punya pacar di mana. Duh. Tp yaaa... entah kenapa si mbak nrimo aja. Mereka punya anak banyak... seperti membuktikan bahwa mereka tetap saling cinta no matter what. Meskipun kalau buat gue sih... infidelity yg berkali2 bisa malesin juga... tp orang kan beda2 yaaaa....
Sepanjang pernikahan, setahu gue, si mbak yg menjadi bread winner. Menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak2. Kadang gembira, kadang cemas nggak punya uang, seringnya pasrah kalau cerita ke gue. Termasuk kalau dia lagi gemes krn nggak punya duit trus suaminya minta uang rokok. Sebisanya gue hanya menenangkan. Mengingatkan dia pada cintanya....
Sampai pd suatu hari si suami sakit. Kena serangan jantung ketika sedang tugas ke luar kota. Istri menyusul dong. Gedubrakan ke Rumah Sakit. Mendapati si suami belum sadarkan diri, ditemani pacarnya-yg-entah-siapa-lagi. Duh Gusti....
Mbak Istri nggak peduli. Tetap dengan manis menjalankan tugasnya sbg istri (yg sah). Mengurus suami yg sakit. Menunggui sampai sembuh. Lalu mereka kembali ke Jakarta.
Sejak itu, konon... mas suami menjadi lebih manis. Merasa bersalah dll dll... lagu lama sih. Krn dulu2 juga ketahuan selingkuh kok. Ini krn sampai masuk RS aja jd merasa bersalah banget? Semprul.
Yak betooolll... gue yg emosi duluan. "Gapapa... sudah takdir gue," kata si mbak. Dan mereka pun melanjutkan hidup (pernikahan).
Tp memang ya... kalau sdh dasarnya ngaco... ya ngaco aja. "Bertahan" setahun ayem2... selingkuh lagi dong mas suami. Tuhanku....
Si mbak sempat tanya2 soal perceraian ke gue. Yg jawaban gue sih standard aja: "Nggak enak prosesnya. Setelahnya juga nggak tahu ya. Gue menikmati, tapi bisa aja beda di kamu, mbak."
Akhirnya niat bercerai dilupakan. Dijalani saja, katanya. Syukurlah. Meskipun tetep selintas2 ada kata2, "Bodo amat... gue tinggalin aja." Yg intinya si mbak mempertimbangkan untuk lebih baik sendiri saja daripada berdua tapi nggak jelas. Atau kadang kalau sdh gemes banget, dia akan bilang, "Duh Gusti, monggo dipun pundhut mawon...."
Kalau gue sih, sudah jelas lah akan sangat mendukung misalnya si mbak mau berpisah. Secara finansial juga nggak ada masalah krn selama ini pun dia yang cari uang kok. Mereka tinggal di rumah warisan orang tua si mbak yg dulunya pejabat. Aman lah. Tapi sekali lagi... bukan gue yg berhak menyarankan apa2....
Kemudian siklus hidup si mbak dan si mas itu jadi semacam gini: selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai - selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai... gitu aja terus.... Gue tahu. Krn setiap sampai di "berantem", si mbak pasti cerita. Yang lalu dia akan bilang, "Bentar lagi pasti masuk RS. Percaya deh sm gue." Dan selalu tebakan itu benar. Melelahkan.
Bulan ini, si mbak ulang tahun. Dan tadi pagi gue dikabari kalau si mas meninggal dunia. Dalam tidur. Dengan tenang. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.
Krn sedang hrs social distancing, si mbak bikin pengumuman bhw dia sangat paham jika kami2 para sahabat tidak datang ke rumah duka. Bahkan dia khusus wa gue utk "Nggak usah ke sini ya Di. Udah, doakan saja. Maafkan masmu. Aku ikhlas. Aku cukup keras kepala ternyata, jadi bisa menemani dia smp akhir. Wis bar saiki, wis dipundhut sing kagungan."
Bikin mewek.
Gue semakin percaya bahwa Tuhan Maha Lucu. Komedian yang tiada tandingannya, yg memberi hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa buat si mbak.
Saturday, April 11, 2020
The Differences
Ok... masih bersyukur Alhamdulillah punya gaji. Berapa pun jumlahnya, ada yg bisa diharapkan hadir secara kontinyu. Berempati sm para pebisnis yg terpaksa mengurangi karyawan, krn kurang pemasukan. Semoga badai segera berlalu. Aamiiinnn....
Spt biasa, membiasakan diskusi, hal ini juga dibicarakan sm si ganteng Aria. Krn dia pun sdh mulai paham belanja, jadi hrs ada konsensus bhw tahun ini nggak beli2 tas/sepatu/baju lagi. Kok ya ibu dan anak kesukaannya sama....
Jadi gue jelaskan efek pandemi korona ini pada perekonomian global. Lalu apa pengaruhnya ke ekonomi Indonesia, dan gimana kondisi dompet ibu. Gue tenangkan bahwa dia nggak perlu cemas, krn ibu masih punya gaji, dan juga ada tabungan yg Insya Allah cukup untuk kebutuhan primer. Apa saja yg primer? Sekolah dia, kebutuhan bulanan, makan dan transport... Insya Allah aman. Rumah ini pun baru saja lunas, jadi nggak perlu jadi pikiran lagi. Hanya mungkin rencana renovasi besar perlu dipertimbangkan lagi urgensinya. Gue bilang juga bhw uang saku dia jumlahnya akan tetap, tp sebaiknya dia hemat krn we never know how long this rainy days going to be.
Aria diam aja. Angguk2. Krn memang selama ini kebutuhan dia jg nggak banyak sih (selain belanja sepatu yg aduhai deh...).
Trus tiba2 setelah diam cukup lama, dia bilang, "Ayah gimana ya, Bu?"
Hmm... selain hanya bisa menjawab "I don't know" ... tiba2 seperti ada yg mencubit hatiku. Anak gue yg tampaknya cuek dan ga peduli... ternyata tetap memikirkan ayahnya. Dan itu menyadarkan gue soal perbedaan dlm hal ini. Buat gue, masalah dgn ayahnya anak gue mungkin sdh (gue anggap) selesai. Gue jg nggak mau lagi berurusan ttg apa pun sm dia. Tapi buat anak gue, ayahnya akan selalu ada, entah dia mau atau tidak. Buat anak gue, masalah ayahnya akan menjadi hal yg tidak pernah usai, bahkan mungkin meskipun urusan duniawi sudah selesai. Dan gue merasa berkewajiban mendampingi dia, membantunya saat dibutuhkan, tetap support.... Yah... akhirnya urusan gue sama mansu ga boleh kelar juga dong. Sigh.
Thursday, April 09, 2020
From the WFH Experience
Gue bukan orang yang bisa kerja di rumah (dulunya). Rumah seperti sdh diatur untuk bergembira, leyeh2, dan bersenang2. Kebiasaan juga sampai rumah sdh teler banget utk bekerja, jadi memang hrs ada tingkat urgensi tinggi banget sampai gue bisa buka laptop di rumah. Pdh sebetulnya gue sdh siapkan meja merah di depan rak buku, yg enak banget untuk bekerja. Dekat jendela besar yg mengantar sinar matahari dan angin sepoi2....
Bahkan waktu Jakarta huru hara dan kantor tutup, gue memilih gotong laptop ke cafe. Biasanya sih ngajak2 temen bertengger setiaku... *wink*. Jadi sambil gelar laptop bisa gosip2 plus aleman dikit2 laaaah.... Kenapa harus keluar rumah? Krn bukan cuma gue yg nggak bisa kerja di rumah, orang2 rumah pun (oke... be specific... Eyang...) akan mengira bahwa kalau gue di rumah artinya gue nggak bekerja. Yg jadinya "boleh diganggu" benerin hp, rapihin lemari tv, atau bongkar gudang. Hmmm....
Tp ketika pandemi 2020 dan semua orang hrs social distancing lalu #dirumahaja.... ya mau nggak mau gue hrs gelar laptop di rumah. Perlu penyesuaian? Iya banget... juga perlu membiasakan bhw gue ini kerja... jadi please jangan tiba2 ada yg teriak minta tolong angkat jemuran....
Bisa kerja di rumah? Akhirnya bisa juga. Trus menemukan bahwa kalau lagi capek sekali bisa dapat hiburan lucu2 macam masuk dapur klutekan atau baca2 buku yg segudang ini yekaaaannn.... Kemarin malah ekstrim banget, krn di luar terlihat panas terang benderang... di antara dua zoom meeting, gue putuskan untuk nyuci sprei....
Akhirnya bisa efektif juga kok ini kerja di rumah. Meeting ini itu... termasuk bungkus perjanjian baru lewat zoom. Kemarin sempat assessment test juga 2 orang. Memang, lebih melelahkan krn selama meeting hrs melototin layar laptop dan kalau mau ngomong hrs nunggu giliran dgn sabar dan manis nggak bisa langsung jerit. Padahal kadang2 pengen langsung noyor.... hahaha....
Di ruangan lain, ada Aria yg juga SFH. Wah udahlah... kalau dia sih gue bebasin aja deh. Yg penting gurunya nggak colek2 gue krn anak gue lupa absen... dan yg penting tugas selesai. Mau bikinnya sambil telungkup, miring2 atau sambil ndlosor di perosotan... bebas. Sdh cukup ini gue rusuh dgn urusan kantor yg semacam neverending... nggak usahlah gue jadi berantem sm anak segala... apalagi sampai stress kyk ibu2 yg marah2 sm guru. Hahahaha.....
Pandemi korona kapan kelarnyaaaaa......
Wednesday, March 11, 2020
Memories
Cerita lengkapnya ada di sini... dan sampai skrg masih terbayang serunya (rusuhnya) perjalanan itu.... But surely I still feel my blush when seeing him in the airport that exact morning.... ish....
Yg sangat disayangkan adalah pertemanan kami yg lalu berakhir bbrp bulan setelahnya. Beneran berakhir. Tuntas. Krn gue males. Males banget. Ternyata dia cukup mengecewakan. Yg gue tahu, dia memanfaatkan nama gue (dan teman gue) utk dapat diskonan dinner di hotel bintang 5 Jkt. Ya Allah. Segitunya mas? Jadi sepertinya dia mau memamerkan koneksi yg dia punya ke teman2 kantornya, dan dia sebutlah nama gue dan temen gue waktu reservasi, dgn harapan akan dapat harga khusus. Sebetulnya sdh ada paket khusus yg dibuatin sm temen gue itu (yg kebetulan salah satu direkturnya)... jadi mestinya dia nggak usah ribet. Tp namanya org mau pamer... sok2 mau kuasa... yg ada malah bikin malu.
Malu. Mungkin itu alasannya kenapa gue begitu marah. Apalagi, pertemanan dengan para hotelier itu kan gue mulai sejak lama sekali, masak gara2 diskonan 100rb trus bubar? Aku kesal....
Dan lebih kesal lagi krn dia tidak menyesal dan tidak minta maaf. Duh. Bye banget. Tuhan baik banget mengingatkan gue utk nggak dekat2 dgn dia sama sekali.
Anyway, perjalanan ke Goa Barat itu juga akhirnya mengingatkan pada telepon dari d-i-a. Sore2... tanpa dia ingat kalau gue sedang liburan. Trus waktu dia sadar, dia cemburu. Hahaha... tp justru sm dia, sampai skrg masih manis. Dan masih cinta. Ahahahaha... do you remember that as well?
Friday, February 21, 2020
Jangan Menghilang....
Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?
Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.
He has gone.
Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.
Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.
Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.
Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.
Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.
Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.
Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.
Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.
Apa akibatnya?
Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.
Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).
Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.
Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....
Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.
Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....
Tuesday, February 11, 2020
Monday, February 10, 2020
Draft Berikutnya 6
"Ya... gimana...."
"Sebenernya berminat enggak sih?"
"Kan sudah dibilang... gue enggak punya trauma apa-apa. Gue nggak pengen yang aneh-aneh. Gue nggak pengen yang gimana-gimana...."
"Tapi masak selama ini nggak ada yang nyangkut...."
"Macam-macam alasannya...."
"Pasti... pasti... karena benchmark yang sudah tinggi banget. Gara-gara cowok lu itu...."
"Ya enggak hanya karena itu sih... meskipun... mau nggak mau memang selalu dibandingkan sama dia."
"Nah kan...."
"Ya... tapi gimana...."
"Harusnya mungkin lu lebih... lebih apa ya.... Gimana, gitu?"
"Gimana?"
"Lu kan baik hati. Manis. Penyayang...."
"Rasanya sih bukan tugas gue membuktikan bahwa gue ini seperti yang lu bilang. Ya kan?"
Sunday, February 09, 2020
The Devil is in Detail
So. Here. They. Are.
... and when every details lead me to you.... what can I do?
Saturday, February 08, 2020
Draft Berikutnya 5
"Nggak usah melotot. Coba aja. Siapa tahu berhasil."
"Nggak jelas siapa aja yang di situ."
"Di dunia ini memang ada yang jelas?"
"Duh pedes."
"Iya, karetnya dua."
"Bawel."
"Gue kasihan lihat elu sendirian ke mana-mana. Cakep-cakep kok nggak punya pasangan."
"Sialan."
"Seriuuuussss... ayolah daftar aja. Iseng-iseng berhadiah."
"Kalau ketemu scammer?"
"Ya jangan diladenin. Elu kan pinter. Masak nggak bisa bedain scammer sama mas ganteng."
"Matahari gimana?"
"Anak lu? Yah nanti aja dipikir kalau sudah ada mas gantengnya...."
Friday, February 07, 2020
I Wish, Over and Over Again
Dalam harapku
Dan inginku
Kau ada di sana
Di setiap langkahku
Dan mimpiku
Kau ada di sana
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Dan cintaku
Kaulah segalanya
Izinkan diriku
Bersamamu
Karena sesungguhnya
Kurindukan dekapanmu
Kujanjikan setia
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Namun kuyakin dirimu hanya untukku
Kuyakin cinta kita kan abadi dan indah pada waktunya
Jaga dirinya
Aku menunggu
Hingga dirimu dan diriku
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Thursday, February 06, 2020
Draft Berikutnya 4
"Saya di meja nomor 31. Baju putih, celana cokelat."
Mataku menyapu seluruh ruang dan dengan mudah menemukan meja yang dimaksud. Itu pasti dia. Dia menyebutkan bahwa tubuhnya tinggi besar. Dan ya, memang betul, sosok itu memenuhi satu kursi, kakinya terlihat terlalu panjang di bawah meja. Wajahnya tak tampak jelas karena penerangan restoran yang remang. Tapi hidung bagus dan kulit putih tetap terlihat dari kejauhan. Tampan.
Aku sedikit ragu. Kuteliti lagi penampilanku. Celana khaki dan atasan putih ini seharusnya tidak mengecewakan. Sneakers sudah kutinggal di mobil. Berganti sepatu tinggi warna pink muda, senada dengan tas tangan kecil dalam genggamanku. Sekilas kuintip pantulan wajahku di kaca pintu. Lumayan lah.
Ini akan menjadi kali pertama kami bertemu, setelah selama sekitar dua minggu hanya saling bertukar pesan pendek. Bagiku, ini juga kali pertama aku bertemu seseorang yang kukenal lewat aplikasi kencan. Belum pernah mengalaminya, aku tak yakin apa yang harus aku lakukan.
"Selamat malam," sapaku saat sudah cukup dekat dengan meja nomor 31. Bagaimana pun, aku berusaha keras terdengar ceria dan ramah, menyembunyikan resah hatiku yang sangat mengganggu.
Dia mengangkat wajah. Senyum lebar segera tersuguh. Duh... tampan sekali.
"Hai. Saya Prasetya. Okay... hmm... kamu sudah tahu nama saya, ya...," dia tampak tersipu, lalu segera berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman. "Have a seat," katanya sambil menarik salah satu kursi untukku.
"Terima kasih," kataku sambil duduk. Setelah membetulkan kursiku, dia kembali ke kursinya. Samar, aroma parfum yang lembut membelai hidungku.
"Sudah pesan makanan?" aku kehilangan kata melihat wajahnya yang jauh lebih tampan ketimbang di foto profil yang selama ini kulihat. Resah, kubuka buku menu untuk menyalurkan debar di dadaku yang semakin kencang.
"Belum. Menunggu kamu," katanya ramah.
"Maaf menunggu. Saya tertahan sesuatu di kantor."
"No worries. Saya belum lama, kok," jawabnya sambil melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Kami mau pesan, mas." Lalu kepadaku, dia berkata, "Kamu jauh lebih cantik daripada fotomu."
Tiba-tiba lidahku seperti kelu.
Wednesday, February 05, 2020
Draft Berikutnya 3
"Jadi kamu masih berminat punya anak?"
"Kamu?"
"Nope."
"Hmm... karena kamu sudah punya...."
"Iya. Mungkin itu ya...."
"Maksudmu?"
"Saya paham kalau kamu masih ingin berusaha. Wajar."
"Memang tidak akan mudah...."
Kami pernah membicarakan hal ini sekilas. Bahkan di beberapa kesempatan. Di antara kopi dan kue keju dan tumpukan pekerjaan. Aku dan Pras memang tidak pernah serius membicarakan kebersamaan kami. Mengapa? Aku tidak tahu. Sepertinya karena kami paham bahwa sebetulnya tujuan perjalanan kami berbeda. Tapi kami sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan berdua.
Salah satu perbedaannya adalah tentang keturunan. Dari awal perkenalan, kami tahu, masing-masing dari kami pernah menikah. Bedanya, aku punya Matahari. Sementara Pras belum memiliki anak.
"Saya tidak seberuntung kamu," katanya suatu kali.
"Atau mungkin malah lebih beruntung."
"Maksudmu?"
"Punya anak bukan perkara mudah. Tidak hanya tanggung jawab finansial yang harus dipikirkan, tapi juga perkara mendidik dan membesarkan dia. Lalu menerima dia apa adanya.... Kamu tahu? Anak tidak selamanya membahagiakan kita. Dia kadang melakukan hal-hal yang mengecewakan, membuat kita sedih, yang harus kita hadapi. Bukan hal yang sederhana."
"Saya tahu. Tapi bukankah manusiawi bahwa setiap orang ingin punya keturunan?"
"Ya. Dan saya tahu kamu pasti sudah berusaha."
"Ke klinik, maksudmu? Iya, tapi tahapan penyembuhannya belum selesai."
"Kamu ingin lanjutkan?"
"I don't know."
Menemukan rekam medis itu, aku paham bahwa Pras sedang melanjutkan proses pengobatan alat reproduksinya. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku. Aku sangat sadar, bukan aku orang yang tepat mendampingi Pras di masa depan, jika ia masih menginginkan memiliki darah dagingnya sendiri.