Wednesday, September 09, 2020

The Story of Dingklik Tua

Tadi pagi terjadi huru hara... yg sebenernya lucu juga sih kalau sekarang dipikir. Waktu kejadian sih sempat bikin tensi naik.... Apa coba? Yaaaakkkk... adegan dgn ibu suri a.k.a eyang. 

Jadi, sejak pindah ke BSD... gue berusaha banget utk tidak menimbun barang. Apa pun itu, hanya punya 2 kemungkinan: dipakai atau dibuang (dikasihkan ke orang). Alasannya krn nggak mau nimbun, kedua jg krn maunya rumah ini isinya barang2 yg gue suka. Ya kaaannn.... 

Nah... dgn sharing rumah sm eyang... seringkali ada hal yg ga sejalan. Sepele sih, misalnya kebiasaan eyang pakai taplak, yg gue nggak suka. Solusi, eyang bebas pasang taplak di meja mana pun di rumah no 16. Silakaaann.... Yg penting rumah gue (no 17) no taplak. Trus, gue suka ngumpulin botol beling segala ukuran untuk diisi tanaman. Sementara menurut eyang, kalau mau pajang botol, ukuran harus sama dan motifnya jg hrs spesial. Hmm... tp akhirnya eyang menyerah krn botol2 itu gue pajang di rumah gue. 

Tp yaaa... namanya sharing live, tentu nggak semua sesimpel urusan taplak dan botol pajangan ini. Kyk misalnya microwave, adalah nggak praktis kalau sampai hrs punya 2, kan? Jadi satu aja, ditaruh di tempat gue. Juga dapur, meskipun ada 2, tp yg cukup besar utk bisa leluasa memasak ya hanya satu, di rumah gue. Hmm... yg gemes adalah krn tempat yg menurut gue pas untuk naruh microwave oven di dapur menurut eyang jadi bikin tempat masak jadi sempit. Du du du du.... Trus gue merasa perlu punya oven listrik untuk iseng berhadiah cookies, cake, atau macaroni dan brulee. Juga perlu deep fryer dan breadmaker. 

"Ini mau disimpen di mana?" adalah pertanyaan eyang waktu semua perangkat dapur itu tiba, kira2 ratusan purnama silam. 

"Ya nggak disimpen, kan dipakai." 

"Memang mau dipakai tiap hari?"

"Ya enggak, tapi krn dipakai, ngapain dimasukin dus lagi? Ya sudah biar saja di dapur."

"Tapi dapur jadi sempit."

Endebraaa... endebraaaaiii... endebraaaa.....

"Maaf ya, Ma. Ini kan dapur di rumahku. Boleh ya di rumahkku ada oven dan deep fryer-nya." 

Kalau sdh gitu, biasanya eyang baru ingat lagi kalau gue sdh cukup umur untuk boleh ngapain aja di rumah gue sendiri. Ngambek? Ya udahlah.... 

Akhirnya sih skrg ada rak yg khusus isinya perangkat dapur itu semua. Kenapa jadi ada rak ini? Krn waktu pakai meja pendek, sisi bawah meja itu diisi macem2 yg nggak jelas. Tas belanja, botol plastik (utk jamu), dll yg menurut eyang pas disimpen di situ, tp menurut gue enggak sama sekali krn jadi uwel2an. Ada dua meja utk dua oven, dan dua2nya semakin penuh. Makin lama kok masuk rumah kyk masuk gudang umpel2.... Dan solusi dari eyang utk menutup uwel2an itu adalah... pakai taplak! Oh no! Gue beresin semua. Beliin rak yg pas utk semua perangkat, nggak ada ruang utk sumpelan2. Beres. 

Kadang mmg eyang "nggak adil" juga sih. Barang2 yg dia nggak suka, tp masih mau dia simpen (entah utk apa ya menyimpan barang yg nggak disuka), disumputin di rumah no 17. Karpet, peti beras, lemari pendek, koper, dan macam2 lain... termasuk satu dingklik warna coklat yg menurut gue sih bentuknya nggak jelas. 

Jadi dingklik ini dibawa dari Depok. Dulu, ada rumah kerabat ipar gue yg mau dijual, dan hrs dikosongkan. Pdh isinya masih lumayan banyak. Mulai dari kipas angin, panci2, meja tv segala hal... termasuk dingklik atau kursi kecil ini. Iya, ini kursi lama, kursi kuno, dari kayu jati dgn rangka besi. Bagus? Biasa aja sih, tp mmg berkualitas. Tapi krn cuma satu, jadi kagok, sementara mau jadi kursi biasa ukurannya kekecilan. Akhirnya dibawa ke BSD... tp difungsikan sbg "meja antah berantah" yg kadang di atasnya ditaruh pot. Kadang buat naruh kotak pompa rusak (sblm dibawa sm tukang pompa). Nyebelin banget rasanya di mata gue. Gatel. 

Sejak WFH, gue tuh sering bongkar lemari. Beresin baju-sepatu-tas. Kalau ada yg sdh lama nggak dipakai, dikasih ke siapa saja yg mau. Nah, kemarin ini kamar sdh beres dan kinclong. Merembetlah beres2 ini ke kamar Aria, lalu ruang cuci di atas, lalu sampai ke ruang tengah. Semua yg menurut gue nggak penting... silakan dadaaaahhh... hahaha.... Banyak banget printilan2 nggak jelas... yg entahlah kenapa nggak segera dibuang padahal sdh bertahun nggak kepakai juga, temasuk dus2 bekas sepatu (yg disimpan dgn semangat "siapa tahu kapan2 perlu kotak"). OMG. Dan gue beres2 dgn semangat banget. Sampai beli rak baru. Beli kasur dan meja kursi baru utk Aria. Karena rasanya, banyak di rumah selama pandemi, kalau rapi dan cantik kan yo ayem tentrem.... 

Koper, kalau kira2 masih bagus, masuk lemari. Karpet masih bisa masuk ke gudang, beberapa diangkut sm para backstage crew. Peti beras akhirnya jadi tempat kantong dan segala hal printilan. Dus sepatu tentu tanpa ampun dihibahkan ke pemulung. 

Tadi pagi, sampailah gue ke kursi coklat yang setelah gue lihat kok ya bentuknya miring dan sudah dicat jadi tekstur kayu jatinya hilang. 

"Ma, aku nggak pakai kursi ini."

"Oh, mama masih mau pakai."

"Untuk apa?"

"Kalau motong2 sayur... enak di situ, pendek." 

"Kependekan ini. Motong sayur ya di dapur aja, Ma."

"Ya... buat kalau di kebun deh. Pas ganti2 pot."

"Nah, kalau itu, pakai dingklik aja. Ini ketinggian."

"Nggak kok, ini pas."

"Coba, deh."

"Hmm... iya ya. Ini kok agak tinggi."

"Ya sudah, aku kasih orang ya."

"Lho jangan! Itu jati lho. Bagus itu."

"Ya memang. Tapi berguna nggak? Kita pakai apa nggak? Aku nggak pakai...."

"Mama pakai!"

"Untuk?"

"Ya... untuk apa gitu... pokoknya kepakai."

"Tp aku nggak mau ini ada di sini."

"Ya sudah, taruh di atas saja, di kamar Aria."

"Untuk apa?"

"Untuk Mama."

"Memang Mama suka ke kamar Aria?"

"Pokoknya jangan dibuang!"

"Ya sudah. Tapi jangan ditaruh di sini. Dan jangan di kamar Aria. Kasihan kalau kamarnya jadi sumpek."

"Taruh saja di kamar Mama."

"Ok."

"Eh tapi nanti kamar Mama jadi sempit...."

"Ya sudah, untuk orang aja ya."

"Ini tuh bagus. Siapa tahu kapan2 kita butuh kursi...."

Ini mulai melelahkan... krn FYI... di rumah kami itu ada sekitar 25 kursi dan sofa dan tempat duduk... sementara sehari2 kami hanya bertiga.... 

"Jangan suka buang2 barang. Nanti kalau kita butuh, gimana?"

"Iya. Kan aku tanya, kita perlu kursi ini nggak? Kyknya sih nggak perlu, kita nggak butuh...." 

"Ya sudah. Buang aja. Buang semua yg kamu nggak suka. Ya sudah, sana buang.... "

Laaah... nadanya jadi tinggi, hmm... yo wis gue diem. Pengennya sih bales njerit, tp takut durhaka.... Tapi sungguh... gue capek lihat ada kursi nggak jelas. Secara fungsi nggak genah, secara bentuk juga nyebelin. Dan siapa tahu ada orang yg bisa memanfaatkan, kan lebih berguna. 

Kepala udah cenut2 banget... tensi pasti naik deh nih.... 

Ya sudah, daripada nggak kelar2, dan rasanya gue udah mumet banget... takut mood rusak seharian, akhirnya gue tinggal ke kantor. Lumayan. Seneng sih bisa ada di kantor, tempat buat nggak ketemu eyang bbrp jam, dan nggak perlu lihat kursi coklat biang perkara. 

Barusan eyang wa, "Kursi coklat sdh aku kasih Wahid. Dia mau."

Alhamdulillah.... 

The end. 


 


Friday, September 04, 2020

The Plan B

 Kemarin, duduk bareng Aria membahas "things to do if Ibu suddenly pass away."

"Ibu, ini nggak lucu."

Iya memang nggak lucu. Tp kan tetep harus dilakukan. Krn siapa lagi yg mau urus? Jadi kemarin memaksa Aria tahu semua surat2 penting, termasuk nomor2 yg dia harus hubungi untuk urusan asuransi. 

"Ini perhiasan, buat kamu kalau melamar seseorang. Ini ada yg hadiah dari eyangma, ada yg ibu beli. Sengaja aku beli yg mirip supaya jadi satu set yg bagus."

"Ibu, ini kalau dijual, mahal nggak?" Aria ngakak. Kayaknya skrg dia lebih suka jual berlian lalu pakai uangnya untuk belanja sepatu ketimbang mikirin hrs melamar perempuan....

"Dan jangan lupa telepon .... (you know who you are)." 

"Oh my goodness." 

Tuesday, September 01, 2020

Mind Your Own Steps

People come and go. We just need to embrace each other when we are crossing path. I need to walk carefully for I do not want to step on your foot. I hope you will do the same. 


Friday, August 28, 2020

Click (Draft)

Dalam daftar kelebihan-kekurangan yang kubuat untuknya, salah satu kelebihannya adalah ia paham bahwa bantuan sekecil apa pun akan bisa mencuri hatiku. 

Ketika dia lihat botol air mineral di tanganku masih rapat, segera dia ambil dan buka segel plastiknya. Dia buka tutupnya, lalu botol itu ia kembalikan padaku. 

Melihatku berjinjit di depan lemari dapur, ia akan segera menghampiri dan bertanya, "Kamu perlu apa?" Sambil berjalan mendekat, dia ambil tangga kecil, dia letakkan dekat kakiku. "Mau aku ambilkan, atau kamu tetap mau cari sendiri?" Ia memang jauh lebih tinggi, sehingga dengan mudah bisa menemukan botol rosemary di antara jajaran macam-macam botol bumbu di lemari dapurku. 

Saat mobilku memasuki tempat parkir, ia menghentikan apa pun yang sedang ia lakukan. Jika setelah parkir aku membuka bagasi, ia akan serta merta mengambil alih membawa apa pun yang aku ambil. "Sudah, kamu tunggu saja di dalam." 

Hal-hal sederhana seperti membukakan pintu atau membawakan tas belaja, ia lakukan dengan gembira. Dan ia lakukan semuanya seolah sudah terbiasa begitu. Seperti sudah seharusnya begitu. Tanpa banyak bicara, tanpa bertanya-tanya. Sederhana, memang. Tapi buatku, yang selama ini terbiasa melakukan segalanya sendiri, justru hal-hal kecil itulah yang menyenangkanku. 

Dia memang hadir untuk membuat hidupku lebih mudah. 




Friday, August 14, 2020

It Is Not That Easy....

Mungkin yg dibutuhkan memang hanya kupu2 di perut. Tp lalu digandeng, dibukain pintu, dibawain belanjaan, ditemenin beli ini itu.... Bikin goyah. Poninya yg diacak, hatinya yg berserakan.... 

Dangdut.

Biarin.

Katanya mau dengerin kata hati. 

Mana? 

Besok aja deh. 


Wednesday, August 05, 2020

Promise Me

Kamu pernah berjanji untuk selalu mendengarkan kata hatimu, sepelan apa pun suaranya. 

Thursday, July 30, 2020

Run for Your (My) Life

Beneran jadi inget film Spongebob yg waktu kecil sering diulang2 sm Aria... run for your life.... Trus Aria ketawa2 sampai matanya hilang.... 

Kok tumben ke kantor hari Kamis? Iya memang seharusnya jadwal ngantor itu hanya selasa-rabu-jumat.... tp bbrp hari ini kayaknya perlu ke kantor tiap hari. Karena... hrs keluar rumah aja.... 

Hahaha.... 

Sebenernya karena merasa sdh sangat perlu liburan. Kyknya kok semua jadi serba salah di rumah. Apalagi dengan Mama yg semakin lucu dari hari ke hari. Ya biasa kan, ibu ke anak itu kayaknya di mana2 akan gitu sih. Kadang gue jg ga bisa menahan diri memperlakukan Aria kyk bayi.... 

Tp lama2 ternyata lelah juga. Perlu istirahat. 

Plus, rasanya makin macem2 krn gue mikirnya, ini kan rumah gue... dibeli pakai duit gue... kenapa aturan2 gue jadi suka nggak jalan di sini? Dududududu.... 

Don't get me wrong. I love my mom dearly. Surga gue di kakinya. 

Tapi tetep boleh kan gue break dulu dari interaksi yg melelahkan... demi kesehatan jiwa. Hahaha.... 

Jadi skrg gue di kantor. Kerja kerja kerja. Kabur kabur kabur. 


Wednesday, July 29, 2020

Jatuh Cinta

15 tahun bukan waktu yg singkat. Jika memang saatnya tiba untuk memutuskan sesuatu, pertimbangkan baik2. Katamu, dan aku setuju. 

Seorang teman bilang, ketika kita jatuh cinta, kita menjatuhkan diri ke dalam sebuah ketidakpastian, karena kita nggak pernah tahu apa yg terjadi dengan cinta kita di masa depan. Bener juga. 

Dan ketika ketidakpastian itu mulai menjelma kejelasan, yg tidak sesuai dgn mau kita, apakah kita lalu menyesal pernah jatuh cinta? Untungnya, aku tidak pernah menyesal jatuh cinta padamu. 15 tahun lalu, atau kemarin, tidak ada satu pun yg aku sesali. 

Bahkan jika nantinya yg terjadi tidak sesuai dengan rencana kita, jatuh cinta padamu tetap menjadi sesuatu yg membahagiakan aku.

Cinta, dalam hidup, adalah sesuatu yg indah. Padamu, keindahan itu menjadi berlipat ganda. Tidak perlu ada penyesalan untuk itu. 





Tuesday, July 28, 2020

Jangan Sakit Saat Pandemi

Entah kenapa... kemarin pagi jam 9 tiba2 suhu tubuh gue naik tinggi banget smp 38. Padahal paginya masih olah raga biasa... masih masak ini itu sajen pangeran.... kok tahu2 badan anget, lalu kepala rasanya berat.

Semua orang langsung parno krn tiga hari sebelumnya gue ke supermarket....

Gue pun parno. Aduh ampun. Memang bener, jgn sakit saat pandemi... bikin kecil hati.

Minum obat penurun panas, pereda sakit kepala, seduhan jahe... lalu membaluri sekujur tubuh dgn minyak kayu putih. Nyalain diffuser lavender dan lemon. Siap tidur seharian.

Oh ya, sebelumnya tentu ngabarin kantor kalau akan sangat slow respon tp tetep boleh dicolek utk hal2 urgent. Dan sempat ngobrol dulu agak lama di telepon sambil rebahan... sm yg sedang berjarak 439km itu...  sungguh sedih tak bisa nyender secara langsung.... #dangdut

Setelah tidur dari jam 11-17... bangun dengan baju basah keringetan. Badan terasa lbh ringan... demam berlalu sudah. Alhamdulillah. Habis mandi lalu makan yg hangat, minum banyak, and I felt myself again. Alhamdulillah.... Sumpah parno banget ya kalau demam2 di kala wabah begini. Susah banget nggak cemas.

Malamnya bisa gelar laptop lagi meskipun membatasi diri hanya smp jam 9. Habis itu minum obat lagi dan tidur.

Pagi ini sdh gembira. Meskipun ttp blm berani ke kantor, gelar lapak di rumah aja.

Happy Tuesday, y'all.

 

Friday, July 24, 2020

You....

Ten years ago today....

Sebuah reminder popped up tadi pagi. Kalau umurnya 10 tahunan... reminder ini suka bikin cenut2... hahaha... .

Dan bener. Yg pagi ini nongol adalah tentang Aria ikut ke event, tapi ada babysitter istimewanya. Yes, that was you. Thank you for taking my son with you while I was hosting the event.

I am always happy when having Aria and you in one place :)

Wednesday, July 22, 2020

He's Waking Up

Alhamdulillah setelah 10 hari di ICU, Adit bangun kembali. Seorang teman baik mengirim foto dr ICU, Adit yg menatap kamera. Tetap bukan foto yg nyaman dilihat krn masih ada alat bantu di sekitar bapaknya anak gue itu. Tp Alhamdulillah, dia akhirnya kembali sadar.

Perjuangan menuju full recovery masih perlu usaha yg tidak mudah, tp bahwa dia bangun, cukup melegakan. Semoga tidur panjang kemarin memberinya kesempatan berkontemplasi, yg akan membuat dia jadi manusia yg lbh baik dari sebelumnya. SehatNya semoga jadi milikmu, Dit. Aamiiin....

Tuesday, July 21, 2020

Where are You?

Been waiting for your morning call.... Have you walked the dogs?

Monday, July 20, 2020

I am Sorry I Forgot

I wrote this long time ago. How can I forget? No wonder my son does not care at all....

Sunday, July 19, 2020

Today

This is one of the day when I feel lonely. None seems to care and nobody understand. Mom doesn't have any intention to make it easier either. So yes... it is a bit chaos here at my end.

But still if anyone ever ask whether I am okay, my answer would still be yes. I know I'll manage eventually.


Saturday, July 18, 2020

You are 100% in Charge

Cara Aria menghadapi situasi ayahnya saat ini mengajarkan ke gue bahwa: kita bertanggung jawab dan berkuasa pada reaksi kita terhadap semua kejadian di sekitar kita.

Apa yg akan kita pilih? Terbawa arus kesedihan? Mencari kegembiraan? Biasa saja dan terus berjalan? Semua itu pilihan yg kita buat sendiri. Norma sosial dan norma agama memang akan menjadi pagar saat kita memilih apa pun, namun tetap, keputusan terakhir ada di tangan kita.

Thursday, July 16, 2020

Yours or Mine or His?

Sakitnya Adit, ternyata membuka jalur komunikasi kepada istrinya. Beberapa hari lalu kami ngobrol di whatsapp. Belum terbayang apakah akan bisa ngobrol begini terus, tp yaaa... obrolan kami kemarin cukup bermartabat lah.... Nggak pakai tegangan tinggi, nggak ada rusuh2. Layaknya obrolan dua perempuan (berpendidikan dan santun) yg normal saja. Ngobrol antara dua ibu yang peduli pada anak2nya.

Dari obrolan itu, terkuak banyak cerita yang kalau buat gue sih seperti konfirmasi saja. Bahwa iya bapaknya anak gue itu peduli sama Aria tapi nggak tahu cara menunjukkan dan memilih hanya mengamati dari jauh. Iya bahwa keluarga barunya juga menunggu kesempatan ketemu dengan Aria, yg sampai hari blm disediakan oleh ybs. Termasuk alasan2 tidak ada kiriman uang selama belasan tahun... semuanya kok rasanya sdh gue ketahui meski hanya dari kemampuan aplikasi ilmu tebak2 buah manggis... hahaha.....

Entah kenapa gue yakin akan banyak orang yang mempertanyakan komunikasi gue dengan salah satu keluarga baru ini (iya, ada lagi yg lain hehe, kapan2 aja ceritanya, kalau gue mau). Yg tentunya semua akan berputar di sekitar hak Aria yg tidak dipenuhi, dan kewajiban ayahnya yg tdk ditunaikan.

Tapi ya, coba dipikir ulang. Sebenernya kenapa kita merepotkan apakah yg terjadi selama ini fair atau tidak untuk Aria? Kenapa tidak dilihat dari apakah dia bahagia atau tidak?

Aria tidak mendapatkan kasih sayang ayahnya secara utuh. Iya. Nggak pernah ditengokin. Betul. Nggak dibiayain. Iya banget. Nggak pernah disekolahin. Bener. Tapi apakah dia bahagia? SANGAT. Dia sangat bahagia dengan hidup yg dia jalani. Tanya aja sendiri. Percaya deh, dia bahagia, sehat, dan ganteng. Kalau nggak bahagia, nggak akan sesehat itu anak ganteng gue....

Jadi, apakah yg dilakukan si ayah adil atau tidak pd Aria, jadinya nggak relevan. Aria nggak butuh kok semua itu. Insya Allah semua akan selalu cukup untuk Aria. Dan tidak perlu dipikirkan lebih jauh apakah ayahnya terlibat atau tidak dalam kebahagiaan di hidup dia itu. Karena pada kenyataannya, Arianya sendiri tidak peduli ayahnya mau berperan atau tidak. That is my practical and realistic son. I am a proud mom.

Monday, July 13, 2020

Expiration Date

I should be fair. I know.

I cannot fathom how Aria feels at the moment. What appears to me right now, he looks okay. This is just a usual first school day for him. And yesterday was just another Sunday. So far, what I can comprehend, for my son, Adit is just an ex husband of ibu. Nothing more and nothing less. Father? The concept is rather blur, since he didn't know him at all.

So yes, I need to be fair. I promise not to bug him to do anything in this situation. It is completely his call, if he wants to pray or not. There may not be an ex son or ex dad or whatever, but there is still an expiration date for any love connection to develop. And once it is expired, the love is likely to be out of your heart. It's gone... and that means you lost your chance to take it back. You lost your chance to reconnect.


Sunday, July 12, 2020

Surat untuk Adit

Dear Adit,

Aku nggak tahu surat ini akan sampai ke kamu atau tidak, tapi aku harap kamu akan membacanya.

Tgl 10 Juli kemarin, kamu ulang tahun. 47 tahun. What did you do all these years? Semoga kamu cukup gembira dengan apa yg sudah kamu capai. Memuaskan atau tidak, tentu kamu yg merasakan, dan bukan didasarkan pada penilaian orang lain.

Kamu ingat kan, hari Jumat itu kamu balas ucapan ultah dariku. Kamu cerita kalau sedang demam, tp hasil swab negatif. Jadi kita berdua berpikir positif bahwa kamu hanya kena flu biasa. Dan ternyata kamu hampir tidak pernah WFH selama PSBB? Astaga. Mungkin kamu kecapekan ya kan.... Trus aku kirim foto Aria yg gondrong. Rambut kriwil (persis rambutmu... dulu... haha). Yg kamu komentarin dengan "keren."

Little did I know that you were in hospital bed while replying my whatsapps messages. So it was indeed a shocking news to hear that you were now in ICU... battling against Covid-19.

Tadi, Sari, istrimu (yes I finally contacted her), mentioned about your latest condition. The doc already put on the ventilator and you are unconscious now. "Maafin mas Adit, mbak."

Sejak saat itu (sampai sekarang) aku menangis. Semprul kamu ya, masih bisa bikin aku nangis setelah kita cerai belasan tahun. Hmm...

Aku sedih banget dengar kamu nggak sadar. Iya deh... ternyata, aku masih peduli....

Aku makin sedih waktu ngasih tahu Aria, dan reaksi dia hanya, "Trus?" I suddenly know I taught him well on being practical. Tp reaksi itu makin menyadarkan aku bahwa dia memang nggak kenal kamu. You are in his blood but never in his mind (not to mention in his heart). And I am so sorry for that. I am deeply sorry. I feel so sorry for all the things you missed on raising him.

Deep in my heart I wish you will get better, Adit. I really wish you'll be okay and come home to your family. I do. Semoga Allah SWT beri kamu kesempatan untuk bisa menjadi ayah yg baik bagi Aria. Semoga kamu bisa menunaikan kewajiban kamu sebagai ayah buat anak laki-laki kamu. Semoga masih ada kesempatan buat kamu melakukan semua hal yg pernah kamu janjikan. Amiin ya rabbal alamiiinn.....

When was the last time you both meet? Saking lamanya... aku sampai sudah lupa. Tapi percaya nggak, beberapa bulan terakhir ini, aku sering bilang ke Aria, "Kayaknya kamu perlu deh, tinggal sm Ayah." Ide yg sampai skrg blm bisa dia terima, tp aku selalu berpikir bahwa hal itu penting. Atau mungkin aku aja yg merasa kamu perlu berperan dalam hidup dia? Semoga nggak ya. I know you love him too, even if you never really said that....

Aku merasa bhw selama ini kita sudah selesai. Tp ternyata belum ya. Atau nggak bisa? Karena bagaimana pun, kita punya Aria. So I really hope you can see him again, sometimes soon. Be strong, and win the battle, please. Fight hard, will you!







Thursday, July 09, 2020

Semoga Selamat dan Kaya Raya

Perempuan dan barang branded... gue pikir mmg ada cantelannya... haha... karena kok barang2 itu selalu manggil2 buat diraba dan dibungkus....  Tp kadang2 nggak waras jg sih hubungannya kalau landasannya status. Haha.... Jadiiii... tnyt ada orang2 yg beli sesuatu spy diterima di pergaulan. Dgn kata lain, kalau mau ada di lingkungan tertentu, barang2 itulah "tiket masuknya". Eh ladalah...  barang yg dibeli supaya naikin status itu nggak masuk akal buat gue yg sangat praktis ini.

Pilihan tas gue yg US brand dan bukan European pernah "dipertanyakan" sama seorang teman. Udah gitu kalaupun beli tas merek Eropa, model yg gue pilih pun bukan yg populer. Hmm... pertanyaan dia, "Ngapain pilih model itu? Nggak ada yg tahu kalau itu T**s."

Du... du... du....

Sementara gue pilih tas itu ya krn gue suka. Seperti jg pilih sepatu. Krn suka modelnya, enak dipakai. Kalau tas, sesuai kebutuhan dan memang bagus. Knp US brand, krn harganya lbh miring jadi kalau gue lagi teledor dan kena2 noda ... gue ga akan terlalu sakit hati.... Hahaha....

Ternyata, menurut si teman, pola pikir seperti itu nggak tepat nih. Hahaha.... dia bilang, kalau pilih barang branded, hrs yg populer "Supaya gampang dijual lagi." Waduh. Ngapain ya kok dijual lagi....  Eh tp kalau LV atau Chanel... dijual lagi ya masih bisa sih.... Hanya tujuan belinya apa kok smp mikir hrs dijual?

Lebih kacau lagi, pilihan model juga harus yg populer supaya orang langsung kenal sm barang itu dan paham kalau "Kita juga bisa lhooooo punya barang bermerk yg sama spt jij punyaaaa...."

Kan... status lagi, kan....

Eh buset.

"Kayaknya orang mestinya tahu sih, gue mampu kok beli tas kyk apa juga....  Gue aja yg nggak mau belinya. Buat apa? Gue sih nggak segitunya insecure smp hrs berlindung di balik barang branded."

Dan berhentilah diskusi kami soal tas branded sbg lambang status.

Wednesday, July 08, 2020

Start New

How hard is it to clear your mind and start over? Can we agree that what came before doesn't matter anymore?

Only you and I that count. Now.

Tuesday, July 07, 2020

Can Be....

Something's telling me it might be you... all of my life.

Monday, July 06, 2020

The Rank

For all these years, I wonder what I did wrong. Why wouldn't anyone stay? I tried to pinpoint where I misunderstood. Until today.

A dear friend stopped by and we had a cute chat over a box of fresh lychee when he casually mentioned about the rank my rational mind has made all this time. "Your son is first, no question about that. And it is also clear that the work comes second. Others can be on the third or fourth place, if you want and if they agree. And as far as I know, only limited man willing to be considered number 3, voluntarily. No exception. Nor for me. "

Suddenly I miss the one that will be there all the way. You know who you are.

Monday, June 29, 2020

Hello, Monday

I really miss your morning greeting. I have this habit to grab my phone while waking up in the morning. For years, I used to see your name blinking and just a little note from you would work as a booster of the day.

I miss to see you here in my house. Sitting in my kitchen, eating while talking about life and work, and everything in between.

I also miss to see you sit behind the steering wheel, driving me after office. And we could stop by somewhere to have a very nice dinner before reaching home.

I really do miss you.

Saturday, June 27, 2020

You

...

I look up to
Everything you are
In my eyes you do no wrong
I've loved you for so long
And after all is said and done
You're still you
After all
You're still you
...

(You're Still You - Josh Groban)

Friday, June 26, 2020

You Are Always Welcome

The persons that belong to you will come and stay. You do not have to chase them.

Thursday, June 25, 2020

Then, How?

I think I really was born to love you. You know who you are.

Tuesday, June 23, 2020

Is It?

I walk alongThe streets we used to walk
On a moonlit night together
How could such bliss
End up like this

I eat alone
At a table meant for two
And I miss the conversation
Now that you've gone away

There's no sleep for the hearts that break
If like me you lay awake
That's the risk that people take
Saying it's over

When I get home
Well, I pour myself a drink
From an almost empty bottle

Downing it fast
Drowning the past
I hear the phone
And I almost hesitate
'Cause it might be you that's callin'
Saying you're still awake

Do you miss the times we've spent
Wishing you could change events
Then I guess it made no sense
Saying it's over

We've got to be crazy to ever let
Love slip through our hands
Are we living to regret
Saying it's over

Do you miss the times we've spent
Wishing you could change events
Guess we let it make no sense
Saying it's over
Saying it's over

(Saying It's Over - Bobby Caldwell)

Monday, June 22, 2020

Same Here, Sunshine

They say that if someone misses you, there's an 80% chance he will show up in your dream. So happy to see you last night. And... I miss you too, for sure.

Monday, June 08, 2020

Morning Routine

I am still doing my morning routine, walk 2 or 3 km a day. And of course I miss the moment you surprised me with your presence. Or the moment we do the walk together in those parks, near or far. Likely I need to add one thing in my routine: to miss you.

Saturday, June 06, 2020

Traditional Cloth

Entah sejak kapan... gue tertarik dgn kain2 batik. Tanpa peduli batik tulis atau batik cap atau kain-motif-batik... kalau suka ya dibeli. Dari jaman kuliah, sdh punya terusan batik. Sementara banyak orang hanya pakai batik kalau untuk kondangan (terutama bapak2).

10 tahun lalu gue sudah pakai kain batik ke kantor. Atasannya pakai t-shirt dan cardigan. Pakai boot. The first time we met, I wore one of my fine silk collection, if you still remember :)

Trus beberapa tahun belakangan, punya kesempatan ke tempat2 pengrajin batik. Hanya beli2 aja sih, niatnya mau dijahit jadi baju, tapi setelah membayangkan proses menggambar mori, membatik, mewedel, melorod... kok ya sayang kalau kain ini digunting. Akibatnya? Kain2 itu menumpuk dgn manis di lemari. Kalau yg sutra, sempat dipakai ke kondangan juga sih, dengan kebaya manis atau seragaman.

Baru sejak tahun lalu, atau dua tahun lalu... sejak pindah ke TJP, pas juga orang2 sedang "melek batik" dan menggiatkan kebaya. Sampai ada tagar #selasaberkebaya. Krn gue nggak punya banyak kebaya, jadi ya gue ramaikan dengan #selasaberkain. Hehehe.... Dan kalau ngantor, seringnya mix kain batik dgn sneaker. Lucu lhoooo.... Hanya yg jadi PR kalau mau sholat. Kain2 ini bikin gue susah duduk tahiyat. Ya ampun. Gadis2 kraton itu dulu gimana ya kalau mau sholat? Jd kalau pas berkain, mau sholat... ya gue ganti dulu pakai sarung.... Sering jadi bahan ketawaan sih kalau pas ada yg barengan sholat. Bodo amat deh ah. Oh ya, agak ribet juga kalau mau pipis, krn gue nggak suka kain yg nggak rapi. Jadi? Terpaksa ucul2 semua, lalu setelah selesai hajat, dipakai lagi pelan2. Keribetan yg sukarela dijalani demi menunjukkan kalau gue bangga jadi perempuan Indonesia (dan sangat bangga lahir sebagai perempuan Jawa tempat batik2 ini berasal).

Dan... baru sadarlah gue kalau koleksi gue cukup banyak. Mungkin kalau digelar semua, bisa menutup satu lapangan kasti. Hahahaha....

Gue punya apa saja? Ada batik Indramayu, batik Lasem (ini banyak banget, ada kali 10 pcs), batik Bayat, batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Gresik, batik Madura, dan tentu dari Solo & Yogya (meski sering nyaru juga sih yg mana kalau dua ini krn sama2 warna sogan). Batiknya warna-warni, seru dan ceria.

Tadi pagi, nyokap sedang ritual bulanan ngeluarin kain2 batik dari lemari. Sudah sering sih lihat batik2 lama nyokap, tp kok kurang tertarik krn warna2 yg monoton khas batik orang dulu. Tapi tadi baru lihat ada batik lawasan. Yg memang sudah lawas, wong itu dibatik sendiri sama almarhumah eyang putri.... Gue pakai... kok lucu. Trus gue liatin nyokap. "Ya udah bawa sana, wong aku ya nggak pakai. Dua kain yg lain kan sudah dibawa sama ibunya Jawa. Kemarin buat main kemah2an." Ladalah....

Jadi gue tiba2 beride untuk ke kantor pakai kain aja. Nah kan... makin ga kepakai deh segala gaun2 gue. Hehehehe....


Friday, June 05, 2020

My Posting

Someone asked me to post something in my blog. Just to indicate that I am ok. Here you go.

I am ok. Or maybe not... and pretend that I am... but still... this is my normal, try hard to be ok.


Thursday, May 28, 2020

New Normal. What is New Normal?

Kemarin ada yg tanya, apa pendapat gue tentang new normal.

Hmmm... buat gue, nggak ada new normal. Gue nggak bisa terima. Ini tuh nggak normal.

Nggak normal karena kalau pulang kantor gue ga boleh langsung cium anak gue. Gue harus mandi dulu, keramas dulu, cuci baju... baru boleh peluk cium anak gue. Dan gue ngetik itu aja kok sedih. Tersiksa banget ternyata nggak bisa meluapkan afeksi dengan segera.

Nggak normal karena gue ga bisa sembarang semau gue ketemu sama orang2 yg gue sayang. Dan begitu ketemu pun ga bisa main peluk2. Harus jaga jarak, harus patuh protokol kesehatan. Apa2an tuh?

Nggak normal karena gue harus pakai masker kalau keluar rumah, termasuk kalau olahraga. Engap. Nggak suka.

Nggak normal karena kakak dan adik gue nggak bisa sesukanya mondar-mandir jengukin rumah BSD. Khawatir jadi carrier yg membahayakan nyokap.

Ini semua nggak normal.

Okay, gue mau nggak mau harus berdamai dgn ini. Gue patuhi semua protokol kesehatan. Gue rela nggak ketemu2 dulu sama orang2 yg gue sayang. Nggak ngantor. Nggak main ke mana2. Nggak liburan. Nggak olahraga di luar yg jauh2. Duduk manis di rumah. Ok. Gue berdamai dan gue jalani.

Tapi gue masih mau suatu saat kembali lagi ke normal. Hugging you tight and kissing you madly, one day.


Wednesday, May 27, 2020

Happy Belated Birthday

Posting this on May 25, and the responds were awesome :)

Actually, May 25 was also a special day for another special someone. Yes, I got 2 boys celebrating their birthday on the same day. One is my brother, the other one is... what should I call him now? I am not so sure....

But still, I need to wish him happy birthday. Somewhere publicly... so he will know that I still remember his birthday. And I still care.

Happy birthday, dear you... you know who you are. Thank you for supporting me all along. Never be this far without your criticism/guidance/cynicalcomment/trust/LOVE.

Thank you.


Tuesday, May 26, 2020

Life Without You

Never imagine....

Since I thought our loves were the kind that only shared by just a few people. Weird enough, but cute as well.

I love you. You know who you are.

Sunday, May 17, 2020

Do You Need Other Reason?

...

Sometimes it's all so clear
There's a reason you
Are here
With me

Life has its ups and downs
But I'll get through
If I can stay with you
Forever

Who could have planned
That I would be
Such a lucky man




(Lucky Man, Dave Koz featuring Charles Pettigrew) 

Thursday, May 14, 2020

Naturally Yours

Tadi pagi, setelah sahur, ada yg tumben2an wa. Mmg kapan itu sempat rencana mau ketemu tp lalu ybs kena PSBB nggak bisa keluar dari kotanya (damned Corona). Gue pikir ya udahlah. Ternyata tadi pagi ngajak ngobrol panjang... mungkin dia hbs minum vitamin... hahaha....

Salah satu pertanyaannya adalah, "Selama ini, sejak bercerai, pernah seriously dating?"

Trus jadi ingat bahwa satu2nya yg bisa dianggap seriously dating ya sm OmD. Sekian lama? Iya. Hahaha... lama sekali....

Tp jadi ingat juga bahwa nggak pernah berencana untuk seriously dating sih. Membiarkan semua berjalan begitu saja, nggak pakai rekayasa, nggak pakai rencana. Awalnya kan ya kenalan biasa, berteman saja. Lalu semakin hari semakin dekat dan at one point merasa mulai ketergantungan satu sama lain. Trus mulai merasa harus bertanggung jawab. Tanpa dirancang untuk begitu, ketergantungan  & tanggung jawab itulah yg akhirnya menelurkan rencana ini itu berhubungan dgn masa depan....

Bahwa akhirnya tidak sesuai rencana.... Ya berarti memang rencana kami nggak sesuai dgn rencana Sang Maha Planner....

Gitu sih.

Inilah satu postingan bosan WFH.

Friday, May 01, 2020

The Marriage Story

Kelar nonton Marriage Story di Netflix... hmm... jadi berpikir2 lama... lama sekali....

Memang pernikahan bukan sesuatu yg mudah. Semua orang juga tahu. Kok ada yg nampak lancar2 aja menjalaninya? Ya itu mungkin rejeki. But still, we never know....

Dalam film itu, terlihat bahwa memang kerja keras perlu juga dilakukan dalam pernikahan... kalau mau selamat. Jadi mengenang kembali pernikahan 20 tahun silam... ternyata setelah diingat lagi, banyak banget PR yg nggak diberesin. Hiks.

Di Marriage Story, setelah sekian tahun menikah, pasangan itu baru sadar bahwa cinta saja nggak cukup. Mereka tetep perlu ruang untuk berkembang. Setelah sekian tahun menikah, baru sadar bahwa cinta yg menggebu itu membutakan nalar. Juga menghilangkan kewarasan. Dulu sih nggak apa2 kehilangan jati diri, semua jadi tergantung pasangan... tp lama2 kok capek, ya? Dulu sih seru2 aja ledek2an... tp lama2 kok ngeselin, ya? Dulu sih rasanya lucu lihat dia bangun tidur awut2an panik krn kesiangan... tp lama2 kok bosen lihat dia nggak jadi dewasa, ya? Dan yg penting adalah komunikasi. Di mana2 dibilang bahwa komunikasi dalam pernikahan penting banget nget nget nget....  Keren banget ini film bisa pas menggambarkan bahwa meskipun ada saling mengerti antara dua pihak... tetep aja kalau komunikasi nggak bener, jadi pincang krn berat sebelah. Dan ketika cinta itu nggak dijaga apinya... ya lama2 padam. Menjalankan pernikahan hanya sebagai sebuah kewajiban. Ujung2nya bosan... lalu memutuskan perlu tempat baru untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Yungalah... angel'e....

Trus jadi ingat banyak banget PR nggak dikumpulin, dulu itu... haiyoooohhh.... Dan skrg masih niat mau coba lagi? Yakin? Bener?

Mbuh ah....

Sunday, April 12, 2020

Granted Wish?

What if God grant you with whatever you ever wish?

Ada seorang teman dekat yg sudah beberapa tahun ini punya masalah dalam pernikahannya. Sebetulnya, masalah sudah ada sejak awal sekali. Kebetulan gue kenal dia (& pasangannya) sebelum mereka menikah. Dan memang dari dulu juga sdh terlihat bahwa ada "ketimpangan" di antara mereka, tp yaaa... rasanya cinta kan bisa mengalahkan apa saja ya?

Bener juga sih, masalah demi masalah dilewati dengan cinta itulah. Si mas ini seperti menggenapi stereotipe suku tertentu yg demen pesta dan punya pacar di mana. Duh. Tp yaaa... entah kenapa si mbak nrimo aja. Mereka punya anak banyak... seperti membuktikan bahwa mereka tetap saling cinta no matter what. Meskipun kalau buat gue sih... infidelity yg berkali2 bisa malesin juga... tp orang kan beda2 yaaaa....

Sepanjang pernikahan, setahu gue, si mbak yg menjadi bread winner. Menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak2. Kadang gembira, kadang cemas nggak punya uang, seringnya pasrah kalau cerita ke gue. Termasuk kalau dia lagi gemes krn nggak punya duit trus suaminya minta uang rokok.  Sebisanya gue hanya menenangkan. Mengingatkan dia pada cintanya....

Sampai pd suatu hari si suami sakit. Kena serangan jantung ketika sedang tugas ke luar kota. Istri menyusul dong. Gedubrakan ke Rumah Sakit. Mendapati si suami belum sadarkan diri, ditemani pacarnya-yg-entah-siapa-lagi. Duh Gusti....

Mbak Istri nggak peduli. Tetap dengan manis menjalankan tugasnya sbg istri (yg sah). Mengurus suami yg sakit. Menunggui sampai sembuh. Lalu mereka kembali ke Jakarta.

Sejak itu, konon... mas suami menjadi lebih manis. Merasa bersalah dll dll... lagu lama sih. Krn dulu2 juga ketahuan selingkuh kok. Ini krn sampai masuk RS aja jd merasa bersalah banget? Semprul.

Yak betooolll... gue yg emosi duluan. "Gapapa... sudah takdir gue," kata si mbak. Dan mereka pun melanjutkan hidup (pernikahan).

Tp memang ya... kalau sdh dasarnya ngaco... ya ngaco aja. "Bertahan" setahun ayem2... selingkuh lagi dong mas suami. Tuhanku....

Si mbak sempat tanya2 soal perceraian ke gue. Yg jawaban gue sih standard aja: "Nggak enak prosesnya. Setelahnya juga nggak tahu ya. Gue menikmati, tapi bisa aja beda di kamu, mbak."

Akhirnya niat bercerai dilupakan. Dijalani saja, katanya. Syukurlah. Meskipun tetep selintas2 ada kata2, "Bodo amat... gue tinggalin aja." Yg intinya si mbak mempertimbangkan untuk lebih baik sendiri saja daripada berdua tapi nggak jelas. Atau kadang kalau sdh gemes banget, dia akan bilang, "Duh Gusti, monggo dipun pundhut mawon...."

Kalau gue sih, sudah jelas lah akan sangat mendukung misalnya si mbak mau berpisah. Secara finansial juga nggak ada masalah krn selama ini pun dia yang cari uang kok. Mereka tinggal di rumah warisan orang tua si mbak yg dulunya pejabat. Aman lah. Tapi sekali lagi... bukan gue yg berhak menyarankan apa2....

Kemudian siklus hidup si mbak dan si mas itu jadi semacam gini: selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai - selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai... gitu aja terus.... Gue tahu. Krn setiap sampai di "berantem", si mbak pasti cerita. Yang lalu dia akan bilang, "Bentar lagi pasti masuk RS. Percaya deh sm gue." Dan selalu tebakan itu benar. Melelahkan.

Bulan ini, si mbak ulang tahun. Dan tadi pagi gue dikabari kalau si mas meninggal dunia. Dalam tidur. Dengan tenang. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.

Krn sedang hrs social distancing, si mbak bikin pengumuman bhw dia sangat paham jika kami2 para sahabat tidak datang ke rumah duka. Bahkan dia khusus wa gue utk "Nggak usah ke sini ya Di. Udah, doakan saja. Maafkan masmu. Aku ikhlas. Aku cukup keras kepala ternyata, jadi bisa menemani dia smp akhir. Wis bar saiki, wis dipundhut sing kagungan."

Bikin mewek.

Gue semakin percaya bahwa Tuhan Maha Lucu. Komedian yang tiada tandingannya, yg memberi hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa buat si mbak.



Saturday, April 11, 2020

The Differences

Ini WFH... diperpanjang terus... dan lagi... dan lagi.... Seketika krisis ekonomi membayangi di ujung belokan.... Denger2 bbrp kantor mulai "efisiensi" yg seringkali artinya potong gaji. Yaaa... yg dipotong duluan gaji bos-nya pastinya....

Ok... masih bersyukur Alhamdulillah punya gaji. Berapa pun jumlahnya, ada yg bisa diharapkan hadir secara kontinyu. Berempati sm para pebisnis yg terpaksa mengurangi karyawan, krn kurang pemasukan. Semoga badai segera berlalu. Aamiiinnn....

Spt biasa, membiasakan diskusi, hal ini juga dibicarakan sm si ganteng Aria. Krn dia pun sdh mulai paham belanja, jadi hrs ada konsensus bhw tahun ini nggak beli2 tas/sepatu/baju lagi. Kok ya ibu dan anak kesukaannya sama....

Jadi gue jelaskan efek pandemi korona ini pada perekonomian global. Lalu apa pengaruhnya ke ekonomi Indonesia, dan gimana kondisi dompet ibu. Gue tenangkan bahwa dia nggak perlu cemas, krn ibu masih punya gaji, dan juga ada tabungan yg Insya Allah cukup untuk kebutuhan primer. Apa saja yg primer? Sekolah dia, kebutuhan bulanan, makan dan transport... Insya Allah aman. Rumah ini pun baru saja lunas, jadi nggak perlu jadi pikiran lagi. Hanya mungkin rencana renovasi besar perlu dipertimbangkan lagi urgensinya. Gue bilang juga bhw uang saku dia jumlahnya akan tetap, tp sebaiknya dia hemat krn we never know how long this rainy days going to be.

Aria diam aja. Angguk2. Krn memang selama ini kebutuhan dia jg nggak banyak sih (selain belanja sepatu yg aduhai deh...).

Trus tiba2 setelah diam cukup lama, dia bilang, "Ayah gimana ya, Bu?"

Hmm... selain hanya bisa menjawab "I don't know" ... tiba2 seperti ada yg mencubit hatiku. Anak gue yg tampaknya cuek dan ga peduli... ternyata tetap memikirkan ayahnya. Dan itu menyadarkan gue soal perbedaan dlm hal ini. Buat gue, masalah dgn ayahnya anak gue mungkin sdh (gue anggap) selesai. Gue jg nggak mau lagi berurusan ttg apa pun sm dia. Tapi buat anak gue, ayahnya akan selalu ada, entah dia mau atau tidak. Buat anak gue, masalah ayahnya akan menjadi hal yg tidak pernah usai, bahkan mungkin meskipun urusan duniawi sudah selesai. Dan gue merasa berkewajiban mendampingi dia, membantunya saat dibutuhkan, tetap support.... Yah... akhirnya urusan gue sama mansu ga boleh kelar juga dong. Sigh.

Thursday, April 09, 2020

From the WFH Experience

Kemarin dibagi screen shot chat ibu2 yg emosi jiwa karena harus mengajari anaknya selama di rumah. Nemenin belajar, sambil sendirinya juga kerja, belum lagi beresin rumah, dll, dll, dll... memang bikin tekanan darah naik sih.

Gue bukan orang yang bisa kerja di rumah (dulunya). Rumah seperti sdh diatur untuk bergembira, leyeh2, dan bersenang2. Kebiasaan juga sampai rumah sdh teler banget utk bekerja, jadi memang hrs ada tingkat urgensi tinggi banget sampai gue bisa buka laptop di rumah. Pdh sebetulnya gue sdh siapkan meja merah di depan rak buku, yg enak banget untuk bekerja. Dekat jendela besar yg mengantar sinar matahari dan angin sepoi2....

Bahkan waktu Jakarta huru hara dan kantor tutup, gue memilih gotong laptop ke cafe. Biasanya sih ngajak2 temen bertengger setiaku... *wink*. Jadi sambil gelar laptop bisa gosip2 plus aleman dikit2 laaaah.... Kenapa harus keluar rumah? Krn bukan cuma gue yg nggak bisa kerja di rumah, orang2 rumah pun (oke... be specific... Eyang...) akan mengira bahwa kalau gue di rumah artinya gue nggak bekerja. Yg jadinya "boleh diganggu" benerin hp, rapihin lemari tv, atau bongkar gudang. Hmmm....

Tp ketika pandemi 2020 dan semua orang hrs social distancing lalu #dirumahaja.... ya mau nggak mau gue hrs gelar laptop di rumah. Perlu penyesuaian? Iya banget... juga perlu membiasakan bhw gue ini kerja... jadi please jangan tiba2 ada yg teriak minta tolong angkat jemuran....

Bisa kerja di rumah? Akhirnya bisa juga. Trus menemukan bahwa kalau lagi capek sekali bisa dapat hiburan lucu2 macam masuk dapur klutekan atau baca2 buku yg segudang ini yekaaaannn.... Kemarin malah ekstrim banget, krn di luar terlihat panas terang benderang... di antara dua zoom meeting, gue putuskan untuk nyuci sprei....

Akhirnya bisa efektif juga kok ini kerja di rumah. Meeting ini itu... termasuk bungkus perjanjian baru lewat zoom. Kemarin sempat assessment test juga 2 orang. Memang, lebih melelahkan krn selama meeting hrs melototin layar laptop dan kalau mau ngomong hrs nunggu giliran dgn sabar dan manis nggak bisa langsung jerit. Padahal kadang2 pengen langsung noyor.... hahaha....

Di ruangan lain, ada Aria yg juga SFH. Wah udahlah... kalau dia sih gue bebasin aja deh. Yg penting gurunya nggak colek2 gue krn anak gue lupa absen... dan yg penting tugas selesai. Mau bikinnya sambil telungkup, miring2 atau sambil ndlosor di perosotan... bebas. Sdh cukup ini gue rusuh dgn urusan kantor yg semacam neverending... nggak usahlah gue jadi berantem sm anak segala... apalagi sampai stress kyk ibu2 yg marah2 sm guru. Hahahaha.....

Pandemi korona kapan kelarnyaaaaa......

Wednesday, March 11, 2020

Memories

Diingatkan oleh FB bahwa 4 tahun lalu sempat berkelana masuk sebuah gua di daerah Kebumen. Guanya mungkin ga terlalu penting lagi, krn jadinya yg penting adalah dengan siapa masuknya. Duh.

Cerita lengkapnya ada di sini... dan sampai skrg masih terbayang serunya (rusuhnya) perjalanan itu.... But surely I still feel my blush when seeing him in the airport that exact morning.... ish....

Yg sangat disayangkan adalah pertemanan kami yg lalu berakhir bbrp bulan setelahnya. Beneran berakhir. Tuntas. Krn gue males. Males banget. Ternyata dia cukup mengecewakan. Yg gue tahu, dia memanfaatkan nama gue (dan teman gue) utk dapat diskonan dinner di hotel bintang 5 Jkt. Ya Allah. Segitunya mas? Jadi sepertinya dia mau memamerkan koneksi yg dia punya ke teman2 kantornya, dan dia sebutlah nama gue dan temen gue waktu reservasi, dgn harapan akan dapat harga khusus. Sebetulnya sdh ada paket khusus yg dibuatin sm temen gue itu (yg kebetulan salah satu direkturnya)... jadi mestinya dia nggak usah ribet. Tp namanya org mau pamer... sok2 mau kuasa... yg ada malah bikin malu.

Malu. Mungkin itu alasannya kenapa gue begitu marah. Apalagi, pertemanan dengan para hotelier itu kan gue mulai sejak lama sekali, masak gara2 diskonan 100rb trus bubar? Aku kesal....

Dan lebih kesal lagi krn dia tidak menyesal dan tidak minta maaf. Duh. Bye banget. Tuhan baik banget mengingatkan gue utk nggak dekat2 dgn dia sama sekali.

Anyway, perjalanan ke Goa Barat itu juga akhirnya mengingatkan pada telepon dari d-i-a. Sore2... tanpa dia ingat kalau gue sedang liburan. Trus waktu dia sadar, dia cemburu. Hahaha... tp justru sm dia, sampai skrg masih manis. Dan masih cinta. Ahahahaha... do you remember that as well?


Friday, February 21, 2020

Jangan Menghilang....

Kira2 16 tahun lalu, gue masih ngantor di Kuningan. Masih punya mertua kaya raya, jadi ke mana2 diantar mobil (yg bagus banget, seri yg lbh baru ketimbang yg dipakai CEO perusahaan gue waktu itu) dan supirnya. Tiap pagi rutin ngantor sambil menikmati kehamilan.

Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?

Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.

He has gone.

Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.

Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.

Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.

Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.

Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.

Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.

Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.

Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.

Apa akibatnya?

Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.

Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).

Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.

Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....

Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.

Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....

Tuesday, February 11, 2020

Monday, February 10, 2020

Draft Berikutnya 6

"Perasaan progress-nya lama banget."
"Ya... gimana...."
"Sebenernya berminat enggak sih?"
"Kan sudah dibilang... gue enggak punya trauma apa-apa. Gue nggak pengen yang aneh-aneh. Gue nggak pengen yang gimana-gimana...."
"Tapi masak selama ini nggak ada yang nyangkut...."
"Macam-macam alasannya...."
"Pasti... pasti... karena benchmark yang sudah tinggi banget. Gara-gara cowok lu itu...."
"Ya enggak hanya karena itu sih... meskipun... mau nggak mau memang selalu dibandingkan sama dia."
"Nah kan...."
"Ya... tapi gimana...."
"Harusnya mungkin lu lebih... lebih apa ya.... Gimana, gitu?"
"Gimana?"
"Lu kan baik hati. Manis. Penyayang...."
"Rasanya sih bukan tugas gue membuktikan bahwa gue ini seperti yang lu bilang. Ya kan?"

Sunday, February 09, 2020

The Devil is in Detail


So. Here. They. Are.











... and when every details lead me to you.... what can I do?

Saturday, February 08, 2020

Draft Berikutnya 5

"Ikut dating apps?"
"Nggak usah melotot. Coba aja. Siapa tahu berhasil."
"Nggak jelas siapa aja yang di situ."
"Di dunia ini memang ada yang jelas?"
"Duh pedes."
"Iya, karetnya dua."
"Bawel."
"Gue kasihan lihat elu sendirian ke mana-mana. Cakep-cakep kok nggak punya pasangan."
"Sialan."
"Seriuuuussss... ayolah daftar aja. Iseng-iseng berhadiah."
"Kalau ketemu scammer?"
"Ya jangan diladenin. Elu kan pinter. Masak nggak bisa bedain scammer sama mas ganteng."
"Matahari gimana?"
"Anak lu? Yah nanti aja dipikir kalau sudah ada mas gantengnya...."

Friday, February 07, 2020

I Wish, Over and Over Again







Dalam harapku
Dan inginku
Kau ada di sana
Di setiap langkahku
Dan mimpiku
Kau ada di sana
Mungkin suatu saat nanti
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Kaulah hasratku
Dan cintaku
Kaulah segalanya
Izinkan diriku
Bersamamu
Karena sesungguhnya
Kurindukan dekapanmu
Kujanjikan setia
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Meski ku dan dirinya terpisah jarak dan waktu
Namun kuyakin dirimu hanya untukku
Tak perlu kau ragu kasih
Kuyakin cinta kita kan abadi dan indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Jaga dirinya
Aku menunggu
Hingga dirimu dan diriku
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya


Indah Pada Waktunya

Thursday, February 06, 2020

Draft Berikutnya 4

Debar dadaku sepertinya begitu kencang, hingga akan terdengar oleh orang yang berdiri di depanku. Aku berhenti di depan pintu restoran Indonesia di sebuah mal. Sekali lagi kubaca pesan singkat di ponselku.

"Saya di meja nomor 31. Baju putih, celana cokelat."

Mataku menyapu seluruh ruang dan dengan mudah menemukan meja yang dimaksud. Itu pasti dia. Dia menyebutkan bahwa tubuhnya tinggi besar. Dan ya, memang betul, sosok itu memenuhi satu kursi, kakinya terlihat terlalu panjang di bawah meja. Wajahnya tak tampak jelas karena penerangan restoran yang remang. Tapi hidung bagus dan kulit putih tetap terlihat dari kejauhan. Tampan.

Aku sedikit ragu. Kuteliti lagi penampilanku. Celana khaki dan atasan putih ini seharusnya tidak mengecewakan. Sneakers sudah kutinggal di mobil. Berganti sepatu tinggi warna pink muda, senada dengan tas tangan kecil dalam genggamanku. Sekilas kuintip pantulan wajahku di kaca pintu. Lumayan lah.

Ini akan menjadi kali pertama kami bertemu, setelah selama sekitar dua minggu hanya saling bertukar pesan pendek. Bagiku, ini juga kali pertama aku bertemu seseorang yang kukenal lewat aplikasi kencan. Belum pernah mengalaminya, aku tak yakin apa yang harus aku lakukan.

"Selamat malam," sapaku saat sudah cukup dekat dengan meja nomor 31. Bagaimana pun, aku berusaha keras terdengar ceria dan ramah, menyembunyikan resah hatiku yang sangat mengganggu.

Dia mengangkat wajah. Senyum lebar segera tersuguh. Duh... tampan sekali.

"Hai. Saya Prasetya. Okay... hmm... kamu sudah tahu nama saya, ya...," dia tampak tersipu, lalu segera berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman. "Have a seat," katanya sambil menarik salah satu kursi untukku.

"Terima kasih," kataku sambil duduk. Setelah membetulkan kursiku, dia kembali ke kursinya. Samar, aroma parfum yang lembut membelai hidungku.

"Sudah pesan makanan?" aku kehilangan kata melihat wajahnya yang jauh lebih tampan ketimbang di foto profil yang selama ini kulihat. Resah, kubuka buku menu untuk menyalurkan debar di dadaku yang semakin kencang.

"Belum. Menunggu kamu," katanya ramah.
"Maaf menunggu. Saya tertahan sesuatu di kantor."

"No worries. Saya belum lama, kok," jawabnya sambil melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Kami mau pesan, mas." Lalu kepadaku, dia berkata, "Kamu jauh lebih cantik daripada fotomu."

Tiba-tiba lidahku seperti kelu.



Wednesday, February 05, 2020

Draft Berikutnya 3

Aku agak terkejut mendapati berkas-berkas di dalam tas yang ada di jok belakang mobilku. Di kepala suratnya, tertera nama klinik fertilitas ternama. Sekilas saja, aku tahu bahwa itu adalah rekam medis milik pasien. Yang membuatku nyaris tersedak adalah nama yang tertulis di sampulnya: Prasetya Andika. Kemarin, Pras memang meminjam mobilku.

"Jadi kamu masih berminat punya anak?"
"Kamu?"
"Nope."
"Hmm... karena kamu sudah punya...."
"Iya. Mungkin itu ya...."
"Maksudmu?"
"Saya paham kalau kamu masih ingin berusaha. Wajar."
"Memang tidak akan mudah...."

Kami pernah membicarakan hal ini sekilas. Bahkan di beberapa kesempatan. Di antara kopi dan kue keju dan tumpukan pekerjaan. Aku dan Pras memang tidak pernah serius membicarakan kebersamaan kami. Mengapa? Aku tidak tahu. Sepertinya karena kami paham bahwa sebetulnya tujuan perjalanan kami berbeda. Tapi kami sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan berdua.

Salah satu perbedaannya adalah tentang keturunan. Dari awal perkenalan, kami tahu, masing-masing dari kami pernah menikah. Bedanya, aku punya Matahari. Sementara Pras belum memiliki anak.

"Saya tidak seberuntung kamu," katanya suatu kali.
"Atau mungkin malah lebih beruntung."
"Maksudmu?"
"Punya anak bukan perkara mudah. Tidak hanya tanggung jawab finansial yang harus dipikirkan, tapi juga perkara mendidik dan membesarkan dia. Lalu menerima dia apa adanya.... Kamu tahu? Anak tidak selamanya membahagiakan kita. Dia kadang melakukan hal-hal yang mengecewakan, membuat kita sedih, yang harus kita hadapi. Bukan hal yang sederhana."
"Saya tahu. Tapi bukankah manusiawi bahwa setiap orang ingin punya keturunan?"
"Ya. Dan saya tahu kamu pasti sudah berusaha."
"Ke klinik, maksudmu? Iya, tapi tahapan penyembuhannya belum selesai."
"Kamu ingin lanjutkan?"
"I don't know."

Menemukan rekam medis itu, aku paham bahwa Pras sedang melanjutkan proses pengobatan alat reproduksinya. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku. Aku sangat sadar, bukan aku orang yang tepat mendampingi Pras di masa depan, jika ia masih menginginkan memiliki darah dagingnya sendiri.

Tuesday, February 04, 2020

Draft Berikutnya 2

"Jadi kami terpaksa berhenti di tempat itu, lalu susah payah memundurkan mobil yang terjepit. Ah... siapa bilang kompas digital memudahkan hidup? Beberapa kali kami disesatkannya!"

Pras tergelak. Mengenang kembali perjalanannya Jakarta-Bali mengendarai mobil.

Mengamatinya ketika bercakap, melihat matanya mengerjap berbinar... aku tak bisa membendung gembira akibat tertular keceriaannya. Sulit menahan rasa di dadaku. Apa nama rasa itu? Terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang keluar dari dalam dada. Tiba-tiba aku merasa ujung-ujung jariku kebas. Ini apa?

Rasanya sudah lama sekali saat aku terakhir merasakan hal ini. Duduk bersisian. Tertawa bersama. Membiarkannya menggenggam tanganku. Hatiku terasa aman dan tenteram. Getar rasa ajaib itu lalu menjalari bahu, hingga punggungku. Membuatku ingin bersandar. Sambil tersenyum.

Tiba-tiba aku ingat lagi apa nama rasa itu: bahagia.





Sunday, February 02, 2020

Draft Berikutnya

Nomornya berpendar di layar ponsel. Segera kujawab dengan senyum lebar.

"Halo!"
"Mau makan siang sama saya?"
"Mau!"
Jawaban yang keluar dari mulutku lebih cepat dari kemampuan otakku berpikir dan mencerna pertanyaannya.

"Share location, ya. Saya jemput."

Dan tak berapa lama, hanya cukup memberi waktu bagiku mengganti baju saja, hadirlah dia di depan rumahku. Memarkir mobil dengan rapi, lalu turun tanpa mematikan mesin. Tubuhnya yang tinggi besar terbungkus kemeja warna hitam. Kacamata hitam bertengger di wajahnya. Tampan.

"Kamu mau masuk dulu?"
"Nggak. Kita langsung saja. Nggak ada Ibu, kan?"
"Nggak. Ya lalu kenapa turun?"

Pertanyaanku mengambang di udara.

Setelah memastikan aku mengunci pintu, dia gandeng tanganku. Membukakan pintu kendaraan, lalu menungguku masuk mobilnya sebelum menutup pintu dan berjalan ke balik kemudi.

"Itu kebiasaan saya."

Aku terpana. Hatiku tercuri sudah. Seluruhnya.

Thursday, January 30, 2020

Mari Berbahagia

Bagaimana bisa bahagia, kalau sedih aja nggak tahu rasanya?

Kira2 begitulah kesimpulan (dan ada sih dialognya) dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini yg kemarin gue tonton sm Aria. Film yg bagus, adaptasi dari buku yg juga bagus. Sutradara juara banget. Angle kamera jempolan. Nonton di premiere. Puas.

Film ini akhirnya membuka diskusi yg lumayan serius (tp kocak) dgn anak gue. Terutama tentang cara keluarga handling things.

"What if someday your dad comes and says he is sorry for all the mess?"
"Hmmm... if he ever comes, I'll ask about my right."
"What is that?"
"You know, my right. I am entitled of certain amount of money he should provide. So that will be my first question."
"Matre, kamu."
"Itu hakku, mamiiiiiii...."
"But do you think it is a mess? This situation?"
"Hmm... it will be a mess when you can't provide me with things. I am okay, so far."

Alhamdulillah kalau Aria baik2 saja. Memang kata seorang teman, kalau anak satu, standardnya akan beda. Ya juga sih. Toh semua resource tersedia buat dia seorang saja. Tujuan utamanya: dia bahagia.

Intinya, seringkali memang orang mengabaikan perasaan. Sedih. Marah. Luka. Bahagia. Semua diperlakukan sama saja. Ketika sedih, bukannya dirasakan lalu dikenali perasaannya, tapi dipendam. Ketika marah, bukan dicarikan solusi, tapi diabaikan. Ketika luka, bukan dicari sumbernya lalu diberesin, tapi ditutupi. Bahkan ketika bahagia, tidak dirasakan dengan sukacita, tapi dibiarkan berlalu seolah itu hal biasa. Jadinya hidup terasa datar saja. Kayak nggak ngapa2in.

Padahal, semestinya hidup itu dirayakan.

Mungkin gue memang harus mempelajari lagi perasaan2 gue. Sama ketika dulu ngajarin Aria tentang emosi. Sedih itu gimana? Harus diapain? Gembira itu apa? Harus ngapain? Karena skrg ini gue mulai merasa hidup yg datar saja. Lurus tanpa ekspresi.

Beberapa hari lalu, Aria selesai internship nggak pulang ke rumah, tapi ke kantor Palmerah. Dia cerita nggak dapat TransJ dan cari jalan ke stasiun Kebayoran. Tp lalu commuter line penuh sekali, jadi dia naik yg ke Palmerah. Oh how I was so proud he could find his way commuting by himself. Pilihan ke Palmerah memang nyenengin sih... wifi kenceng dan banyak ransum. Cocok buat ABG yg dalam masa pertumbuhan hahaha.... Yg juga menyenangkan adalah di jalan pulang kami bisa bercerita macam2. Dari mulai Korean wave sampai curhat percintaan yawlaaaaa.... "Ibu, jangan lupa bahwa peraturan masih sama, ibu punya pacar, atau menikah lagi, berarti aku ganti handphone." Tobat.

But I was beyond happy to find time to talk to him. Pulang bareng Aria itu meyakinkan gue bahwa bahagia itu nggak harus dicari di mana2. Cukup bisa bareng sama yg disayang aja, juga sudah bahagia. Semua kesempatan hrs disyukuri. Lalu segala kemudahan dan kegembiraan juga hrs diterima dengan syukur. Semoga bisa lebih mudah berbahagia. Alhamdulillah.



Wednesday, January 29, 2020

Is There Any Left for Me?

Find someone who wants to invest in you, learn from you, see you win, support your vision and fall in love with you daily.

I stumbled upon those words and suddenly my heart itches. I know someone who will tick all the boxes with happy face. And yes, once I thought I already found the one, but had to let him go.

If love is a once-in-a-lifetime chance, I think I used mine already.

Tuesday, January 28, 2020

Ujian Mental & Iman

Hey you... thanks for giving me the idea for this post (and the title is exactly your word).

Ngobrol2 soal pengalaman ada di dating site. Pernah ketemu yg aneh2? Gue sih pernah. Banget.

Ada yg mengaku tinggal dan bekerja di Bali. Krn kami sama2 berdarah Jawa Timur, jadi akhirnya ngobrol pakai bahasa ibu. Mungkin itu suatu "keuntungan" krn dalam bahasa itu, omongan2 yg kesannya jorok dan porno bisa jadi biasa aja. Tp lalu dia merasa sudah begitu dekat dgn gue dan tiba2 seminggu setelah kenalan dia bilang dia sdh di Jkt trus mau melamar. Eh! Edan tenan. Unmatch lah. Gila.

Lalu... ada lagi yg sejak day one ngomongnya kesulitan keuangan melulu. Masak ngomongin menu makanan bisa tiba2 belok ke tagihan kartu kredit. Ngomongin iklan kecap bisa berakhir dengan rekening tabungan dia yg ga ada isinya. Lah iya kalau ngomong sama akuntan sih gapapa ya. Ini selalu berakhir dengan, "duh aku ini ga punya apa2." Yo wis lah mas... nek ra duwe opo2... golek dhisik yo. Mengko balik maneh. Bhay sblm dia minta bantuan bayarin sekolah anaknya.

Yang ngajakin one night stand juga banyak. Banget. Dan ini sih biasanya langsung gue unmatch tanpa ampun. Tp memang kebanyakan yg ngajak itu gaya bahasanya jg sdh nggak bener sih dr awal. I should know better.

Herannya, yg ngajakin ONS ini banyak banget yg berpenampilan santun dan agamis. Ya... you know. Bahkan beberapa mencantumkan ayat2 di bio. Hmm... kok gue yg sakit hati kalau mereka nggak sesuai dgn penampilannya ya?

Gue pikir, match aneh2 ini tidak berlaku untuk cowok. Ternyata tidaaaakkk.... Sama saja sih. Katanya. Bbrp cowok (single) yg mencoba dating site sharing pengalaman yg gemblung menjurus horor.

Satu yg ngeri banget waktu dia merasa nyaris diperkosa sm perempuan yg dia ajak dating. Rencana awal mau ngopi2 sambil ngobrol di apartemen si perempuan. Sesampai di sana, baru ngobrol sebentar tiba2 si perempuan ini sdh duduk di pangkuan dia. Gesture tubuhnya sangat menjurus dan mengundang, menyampaikan kebutuhan. Eh eh eh.... Temen gue cemas. Dan menolak krn merasa tidak pada tempatnya. Ceweknya gimana? Ambil vibrator dan beraktivitas sendirian. Sementara si cowok milih nonton tv.... "It ended awkwardly." Awkward dan ngeri sih kalau buat gue....

Trus ada juga yg setelah kenal selalu diajak ketemu dan jelas2 diminta untuk meniduri. Segala rayuan dan bujukan dilancarkan di jendela chat untuk mengajak si cowok datang. Daaan... dari chat yg dikasih lihat ke gue, nggak cuma satu perempuan yg melakukannya. Ada beberapa. Dan ada yg cantik manis berkerudung rapat. Hmm.... "Dia pun ternyata bersuami," kata si cowok. What?

Gue yg terlalu kuno apa gimana sih? Nggak ngerti lagi. Apa gue salah ya kalau susah buat buka baju? Tp bukankah seharusnya begitu? Gue bisa aja ceplas ceplos... tp untuk hal2 privat yg intimate, itu hanya utk gue dan my special one. Dan jadi special one itu pun jalannya panjang dan terjal deh ah. Ya kalau gampang kan nanti hadiahnya kipas angin, bukan tambatan hati. Gue setuju dgn kata2 bahwa masuk dating site ini adalah ujian mental dan iman. Yg nggak kuat iman ya dadah aja... rentan kecemplung yg ga bener.

Intinya, budi pekerti dan sopan santun sudah mulai menipis. Jadi yaaaa... masing2 orang hrs pasang pagar yg lebih kokoh. PR banget.



Friday, January 17, 2020

Beautiful Love Journey

Our love.

We cannot be together. How can it be beautiful?

We still love each other, no matter how many times we were arguing. No matter how far we were apart. No matter how we felt we were so incompatible to one another. No matter how mad you were to me (or vice versa).

We do still love each other, even though we know we cannot be together. And we know, the love is getting stronger each passing day. Not many people are lucky enough, to be given the chance to love, unconditional love. And that exact fact made this love journey so very beautiful.

Don't you think?

Friday, January 10, 2020

Kamu Itu....

Bagaimana rasanya jatuh cinta berkali-kali, pada orang yang sama? Rasanya indah sekali. Bahkan ketika tahu bahwa cinta itu hanya bisa dari jauh saja, tetap indah. Mencintaimu, dari jauh atau dekat, sama saja. Tetap indah. Tetap megah.

Mengagumi. Selalu. Apa pun yang kamu buat. Bagaimana rasanya terpesona setiap saat? Setiap menit? Setiap detik?

Mencintaimu akan tetap menjadi bagian dari hidupku. Sampai kapan pun.

Tuesday, January 07, 2020

The Findings

Salah satu "hasil" dari dolanan dating site sepanjang tahun lalu adalah menemukan orang2 yg dikenal di dalamnya. Ada yg suaminya temen, temen kantor lama, tetangga, suaminya klien....

Ada apa dgn orang2 itu?

Mereka mestinya cukup dewasa untuk paham fungsi dan kegunaan dating site. Da-ting. Apa yg mereka harapkan? Bhw mereka akan menemukan teman2 baru? Perempuan? Untuk apa?

Pertanyaan sama jg untuk laki2 beristri yg masang foto di dating site dan berdalih hanya ingin mencari hiburan. Apakah dunia sudah sesakit itu?

Apa yg ada di pikiran para suami2 ngawuran itu ya? Nggak ingat istrinya? Okay, bisa lupa itu gimana? Amnesia?

Kalau sdh begitu, gue kok rasanya beruntung nggak punya suami. Plg nggak, satu drama bisa dicoret dari kehidupan gue.

Saturday, January 04, 2020

How Are You?

I know you are just okay. I know. And we will be okay. I know. I just miss you. I do.

Friday, January 03, 2020

It Has Been A While

I miss discussing a lot of things with you. Talking until we lost track of time. And then we argue, stop talking for a while... but then we continue to find another interesting topic to be shared or you just throw one of your collection from gombal mukiyo album that never fail to make me smile. How I miss you so much.

Tuesday, December 31, 2019

Monday, December 30, 2019

Embracing 2020

Tiga hari sebelum 2020... apa yg gue rasa?

2019 berlalu dgn lucu. Seperti juga tahun2 sebelumnya sih... hidup gue memang selalu gemes ya kan.... Yg seru adalah karena tepat setahun lalu memutuskan untuk mencoba masuk bursa... dating site. Hahaha....

Gara2nya ada yg ngomporin bahwa "jodoh harus dicari, nggak hanya ditunggu" dan kayaknya kok bener juga dan siapa tahu.... Akhirnya masuklah ke sebuah dating site. Mengisi semua data dengan sejujurnya krn ya apa gunanya sih tipu2 atau palsu2.

Tepat tgl 1 Januari... yg komen di profil ada beberapa. Oooh... gitu to rasanya "ternyata masih laku" hahaha... ndeso. Dari beberapa itu, pilihan dikerucutkan dengan segala hal2 demi menyaring yg sekiranya paling yahud. Dan jadilah kenalan sama Bravo.

Bapak2 anak tiga. Ngobrolnya nyambung banget... jadi ya... kenapa nggak ketemuan. Sedikit cemas bhw setelah ketemu dia akan nggak telepon lagi.... Ternyata enggak kok. Telepon tetep rajin... video call tetap sering... krn tempat tinggalnya yg jauh. Ahaha... gue bisa ambil ijazah soal LDR nih kayaknya.

Tp memang LDR itu lawak sih ya. Nggak bisa sepenuhnya menunjukkan emosi. Apalah... trus di suatu ketika, gue menemukan kejanggalan2 yg nggak pas dgn ceritanya. Atau... cerita2nya mulai nggak sinkron gitu deh. Lebih tentang sehari2 dia tp kok ganggu banget kalau nggak dibahas. Yah namanya baru kenal gitu doang sih. Tp lalu pertanyaan2 kritis gue bikin dia menarik diri. Mungkin merasa gue telanjangi... yaaaaa... atau nggak jodoh aja? Intinya mulai tampak halu.... Biasa kan.. kehaluan harus ditutup dengan kehaluan... ketika lupa pd kehaluan yg pertama, cerita jd nggak nyambung. Krn ini... lama2 telepon nggak asyik lagi. Cerita ttg Bravo hanya sekian sampai di situ.

Balik lagi deh ke bursa. Tentu blm pudar dong ya euforianya. Dan bener. Begitu aktif lagi di dating site... langsung ada yg menyambut. Lagi2 diadakan proses penyaringan dgn segala macam rambu2 yg kira2 sesuai dgn mau gue. Siapa yg nyangkut? Sebut saja Doni. Anaknya tiga dan terpencar di mana2 sementara dia pun kerja di pelosok Kalimantan sana. Eeeeh... LDR lagi, mbak? Ya gitu deh... ahaha....

Menyenangkan ngobrol sama Doni ini. Nyambung segala lawakan garing dan dia pun selalu bisa bikin gue ngakak2 gembira ria. Mungkin usia jg sih. Ga beda jauh, jd masa kecilnya dilewati dgn benda2 yg kira2 sama. Trus dia juga pernah tinggal di Jerman. Dan anak teknik. Hahaha... entah kenapa, buat gue anak teknik itu lebih pas ketimbang anak sosial. Jd seru aja ngobrolnya. Agak lumayan bertahan lah si Doni... sampai saling mengirimi ini itu. Yg sini lbh sering ngirim ke pedalaman sih... makanan biasanya. Melas ya. Hahahaha....

Tapi... sudah lama hidup sendiri ternyata juga jadi ganjalan... mungkin kebiasaan sendirian itu bikin gue nggak terlalu peka dgn orang lain. Terutama masalah gengsi yg berhubungan dgn finansial. Ya gimana? Gue kan sekian lama hidup sendiri. Semua dilihat, dipilih, dan dibayar sendiri tanpa harus mikir siapa2.

Suatu ketika, anaknya yg paling besar harus bayar kuliah dan Doni cerita kebingungan ttg biaya kuliah (di universitas swasta) yg nggak sedikit. Gue spontan aja nawarin "mau pakai uangku dulu?" Yg ternyata ditanggapi dgn salah. Hmm... dia kayaknya tersinggung banget. Dan sejak itu pelan2 membatasi kontak. Sampai akhirnya nggak telepon lagi. Dan nggak bisa dihubungi. Hal yg simpel sekali menurut gue... tp bisa jadi sesuatu yg luar biasa buat dia. Oops... maaf. Tp yaaaa... mungkin mmg bukan jodoh juga sih. Gue pun tidak berusaha mencari. Ketika telepon gue nggak dijawab... ya sudah. Biarkan saja kalau dia mau berlalu. Sekian dan terima kasih.

Tp memang attachment dgn Doni ini lumayan perlu waktu untuk bisa dihapuskan. Krn biar gimana, bbrp bulan teleponan setiap hari dan video call tiap saat itu jadi isi hari2 yg menyenangkan. Keseruan bisa terjadi waktu dia "nemenin" gue di jalan pergi atau pulang kantor... lewat telepon. Ketika semua hilang, ya rasanya ada yg nggak lengkap. Hmm... tapi latihan 13 tahun sendirian jitu juga sih buat masalah gini2. Krn akhirnya biasa lagi kok. Bisa juga menganggap semua hanya bayangan yg berlalu bersama perginya matahari.

Oh ya, sebetulnya di saat yg sama, ada juga yg approaching... dari dating site yg berbeda. Ahahahaha... lucu ternyata ya permainan dating site ini. Si mas Suryo ini punya usaha di bidang kreatif... yang nggak jauh2 dari pekerjaan gue. Dan ternyata beberapa orang dari kantor dulu kenal jg sm dia. Dia pun mengakui berusaha cari tahu ttg gue ke mereka2 itu. Ahahaha... sungguh membuatku ge-er. Seru dan lucu karena omongannya jadi sangat nyambung... tp sebagian besar kok jadi ngomongin kerjaan. Hmm... entah di mana yg nggak klop... akhirnya nggak ke mana2 juga sih. Sampai skrg kami masih saling kontak, terutama kalau ada urusan kerjaan yg perlu diskusi. Ya mungkin memang hanya itu yg kami butuhkan dari satu sama lain? Entahlah. Setelah diingat dan dirasa, nggak ada perasaan yg gimana2 juga sih di gue....

Trus suatu ketika muncul di notifikasi seorang laki2. Menyapa dgn manis banget. Dgn bahasa yg rapi dan tata bahasa yg benar. Menarik sekali. Trus ngobrol. Dan nyambung. Dan terasa dia sangat pintar. Tnyt dia pun sama spt gue, pakai nama asli. Gue google namanya dan keluarlah semua literature yg dia tulis. Hmm... pantesan pinter... kandidat profesor. Hehe.... Impian melambung sampai ke mana2 krn rasanya kok too good to be true bisa nemu orang sepinter itu ya. Suatu hari, dia tiba2 usul utk jalan2 malam mingguan. Gue yg udah lamaaaa banget nggak dating sm siapa2 jadi gembira. Waktu dia minta izin mau bawa anaknya yg umur 4 thn, gue iya2 aja. Nggak mikir apa2.

Lalu terjadilah kunjungan dari provinsi tetangga itu. Anaknya perempuan. Cantik dan manis. Bukan model anak yg rewel, dan suka buku. Jadi di rumah gue anteng ayem. Tp namanya anak2, tentunya segera bosan dgn buku2 saja, mau main2. Ayolah ke playground. Jadilah kami berempat: dia-anaknya-gue-Aria ke mall. Sampai di mall, anak gue nggak mau kehilangan ritual buat langsung ke tempat makan. Sementara anaknya langsung "Aku nggak mau makan." Dan rasanya kok saat itu gue sdh berasa lelah bagi2 perhatian. Hahaha.... Jadilah gue dan Aria masuk restoran, dia dan anaknya embuh ke mana. Ketika akhirnya dia nyusul ke restoran, ternyata anaknya belum puas main. Jd masih tetap "Aku nggak mau makan." Tante Bubu semacam kehilangan akal menghadapi balita. Tiba2 lelah tiada tara dan pengen pulang saja.... Pdh bapaknya si anak (yg memang usianya sdh agak banyak) sepertinya berharap gue bisa main2 sm anaknya. Ahahaha... apa yg kau cari, pak? Baby sitter untuk anakmu? Gue langsung membayangkan hrs mulai mikirin lagi bekal sekolah... antar jemput ke sana ke mari... urus ini itu.... ini anak masih 4 thn kok masih lama perjuangannya ya. Sementara gue baru saja merasa "merdeka" dari mengurus anak sejak Aria masuk SMA. Dgn sangat menyesal... mas profesor hrs gue coret dr daftar hadir. Nggak sanggup deh kalau hrs berhadapan dgn balita. Mohon maaf lahir batin, silakan mencari yg lain.

Ada satu lagi musisi yg kenalan di dating site juga. Tapi nggak ada rasa apa2 juga sih. Mungkin gue capek juga ya krn bbrp bulan terakhir siklusnya naik turun. Melelahkan. Hingga akhirnya yaaaa dia bertahan hanya sampai di whatsapp saja.

Hmm... sempat saling sapa sama mas2 pesepeda. Juga sama ahli waris perusahaan tambang pasir di Garut. Lalu sm pengusaha restoran Manado. Sama pegawai NGO juga pernah. Ada akuntan juga. Tapi yaaa... gitu2 aja sih. Dan tanpa terasa, berlalulah 2019. Sebentar lagi masuk 2020 dan gue masih tetap single. Tidak punya pacar. Sempat berpikir jangan2 ada yg salah dgn gue ya. Tapi lalu nggak nemu juga salahnya di mana.... Mungkin gue sdh keterlaluan mapan jadi perempuan. Krn beberapa "kandidat" tiba2 menghilang begitu tahu gue di kantor kerja (jabatannya) apa.... Berkarier kan nggak salah ya?

Kadang kepikir juga, jangan2 benchmark gue juga yg ketinggian. Hahaha... ya mohon maaf kalau sebelum ini mmg pacar gue yahud banget sih! Udahlah ganteng, pinter, jagoan memberantas kejahatan... hahaha.... Genggesin untuk nggak kelewat sholat dan ngaji tiap hari, tp ya masuk akal kan... jd gengges yang cinta gitu lhooooo.... Paket komplitlah dia itu. Masak iya gue rela dapat ganti yg nggak sampai secuilnya? Yo emoh.... Terlalu milih2? Ya masak sih nggak pilih2....

Hmm... menyedihkan juga ya... umur segini masih hrs menerka2 reaksi orang ttg gue. Berusaha manis2 menarik perhatian. Harus juga menjelaskan bhw gue nggak perlu harta, nggak peduli dia anak siapa... krn banyak jg yg curiga kalau perempuan di dating site banyak yg nggak bener. Hmmm... sini udah punya sendiri sih. Dan bisa cari sendiri juga. Alhamdulillah. Di sisi lain, gue juga hrs waspada, meneliti motif berkenalan mereka2 itu, karena terus terang aja... yg niat banget mau morotin juga ada. Di mana2 yg namanya maling tetep eksis, dalam bentuk apa pun. Jadi ya memang harus hati2 juga....

Soal ajakan one night stand? Banyak. Banget. Kampret memang. Seolah dunia ini bisa damai hanya dgn seks saja. Dan single mom selalu mengejar hubungan seksual. Mbahmu.

Dari dating site itu, ada bbrp yg bertahan menjadi teman di whatsapp chat. Ada satu orang yg berpotensi tp kayaknya semakin lama semakin jauh dari asa. Ada yg masih gue harapkan suatu ketika akan tergerak untuk mengenal gue lebih dekat dan bisa gue telisik lebih jauh. Tp ya itu semua baru sampai harapan. Mari biarkan saja alam yg mengatur. Gue memilih bertindak seperti layaknya perempuan Jawa yg hanya akan menunggu laki2 yg maju. Jodoh harus dijemput? Iya sih... tp tetep ada titik batas penjemputan kan yaaaa....

Jadi begitulah 2019 gue dalam hal mencari cinta. Mungkin mmg tidak akan mudah karena sebenarnya cinta di hati gue sdh jelas maunya ke mana. Sayangnya mentok. Hmmm... itu dulu yg hrs dibelokkan kali yaaaa....

Oke deh, dgn kerusuhan kantor yg bisa diprediksi akan terjadi tahun depan (I will run a brand new agency), sepertinya gue akan cukup rusuh jadi nggak akan terlalu peduli dgn kehidupan percintaan. Anyway, I will still open up the door, and will embrace anyone who knocks and tries to enter. But... of course... if I really want to and still have the energy to do it.

So, 2020... bring it on!



Friday, December 20, 2019

Day One

Maybe... just maybe... you wonder why I told you I want to go away. Go away from you. I know we've been trying to live separate life several times before, and failed, because we always think that we will have us, one day. But no. I don't think so. We need to stop. There will be no us. Not if only me doing the job....

That is the main reason I took the day one. Day one of not having you around.

So, no more one day. Only day one. Take care and be good, will you? Cheers.


Friday, December 13, 2019

Cinta Adalah Ruang dan Waktu


Mungkinkah kamu sedang menatap bulan?
Bulan sabit yang sedang kupandangi....

Mungkinkah kamu menangis
di atas bintang khayalku?

Maafkanlah cinta,
Atas kabut jiwa
yang menutupi pandangan kalbu

...

Lagu Cinta

Thursday, December 12, 2019

Draft Entah 2

"Jadi Pras kenal sama Asti di mana sih?" Pertanyaan itu seperti menarik perhatian semua yang ada di dalam ruangan. Entah siapa yang menanyakan, arahnya dari sisi belakangku. Spontan mataku membesar. Untung kudengar Pras yang duduk santai di sebelahku bersuara, "Dikenalkan sama teman."

Ah Pras... lagi-lagi menyelamatkanku dari situasi aneh. Kan tidak mungkin kami jujur, setidaknya saat ini, bahwa kami berjumpa dengan perantara situs jodoh online.

Kakak sulung Pras mengedarkan piring berisi jeruk manis yang sudah dipotong. "Ibu harus cicip. Jeruk dari Asti ini juara banget rasanya!"

Ibu Pras tersenyum kecil. Diberikannya piring kepada anak tertuanya. "Nanti saja, ibu masih kenyang," katanya.

"Ini jeruk dibawa dari Kopeng, ya, Asti? Wah, memang kalau tanah masih subur, hasil tanamnya juga bagus-bagus ya!"

Ternyata kemudian semua orang tertarik membicarakan tentang Kopeng. Ada yang mengingat tempat wisata dengan kolam renang berair sedingin es. Kakak sulung Pras rupanya sering ke sana. Dengan kocak, dia ceritakan situasi liburan terakhir, saat anaknya masuk ke dalam kolam renang lalu keluar lagi dengan segera. "Baru satu detik di dalam kolam, Andika keluar lagi dan jalan berjinjit-jinjit. Beku katanya!" Yang lain terbahak membayangkan anak lucu itu bergerak seperti pinguin yang kedinginan.

Daerah liburan di sekitar Salatiga, Jawa Tengah, itu berhasil menyelamatkan aku dari  wawancara dengan topik utama tentang aku dan Pras. Untuk sesaat, aku merasa lega.


***






Tuesday, November 12, 2019

Hari Ayah Nasional 2019

Halo kamu, ayahnya anakku....

Apa kabarmu, di mana pun kamu berada? Semoga kamu baik2 saja. Aku selalu mendoakan yg baik2 untuk kamu. Karena bukankah doa seharusnya begitu? Hanya berpikir yg baik2... supaya semua juga baik2.

Bahwa doa yang baik2 itu jugalah yang menguatkan aku, menjalankan kewajiban mengurus anakmu selama ini, tanpa ada kamu. 15 tahun bukan waktu yg singkat. Lama sekali atau cepat sekali, semua relatif. Yg jelas, banyak hal terjadi. Pahit dan manis silih berganti. Dan... kamu ada di mana? Tapi terima kasih... bahwa kamu tidak ada, memberi banyak sekali kebebasan dalam menentukan langkah yg harus ditempuh untuk membesarkan anak kita. Bahkan namanya pun kupilih tanpa melalui perdebatan apa2 denganmu. Cukup aku yg memutuskan. Sendiri. Maaf, kamu tidak aku beri hak untuk itu. Kamu juga tidak berhak menentukan sekolahnya, bahkan caraku membesarkannya. Karena kamu tidak ada di sana.

Aku bangga menjadi bagian penting dalam hidup anakku, anakmu itu. Aku menikmati semuanya. Sebisaku menjalani 15 tahun ini dgn bahagia. Entah bagaimana caranya, yg jelas... ternyata aku bisa. Melihat anak kita tumbuh dari hari ke hari adalah hal yang membuat bahagia itu menjadi nyata. Tertawanya akan membuat aku ikut tertawa. Pelukan eratnya akan membuat aku merasa luar biasa berharga. Ciumannya selalu berhasil membuat aku berpikir bahwa bahagia memang takdir setiap manusia. Dan aku tahu bahwa rasa bahagia ini akan selalu hadir. Tidak hanya untuk 15 tahun yg telah berlalu, tapi juga untuk masa2 yg akan datang. Karena anakku, anakmu itu, kupercayai memang datang hanya untuk menyebarkan kebahagiaan. Meski dia lahir kala badai menerpa hati dan jiwa ibunya, dia tetap bagai serpihan bintang cemerlang yang menyala, menunjukkan jalan terang menuju bahagia. Dan dia menghalau badai itu. Menggantikannya dengan langit cerah nyaris tanpa awan, yang penuh sinar mentari kala siang dan dipercantik benderang bulan saat malam. Bahagia senantiasa.

Jika kamu tidak bahagia, atau belum bahagia, mungkin karena kamu belum mengenalnya dengan baik. Cobalah mengenali anakmu lebih dekat. Maka kamu akan tahu: dia adalah kebahagiaan. Tapi percayalah, aku selalu berdoa bahwa kamu pun bahagia, di mana pun kau berada.

Memang, beberapa kali melihatmu berdekatan dengan anakku, anakmu itu, aku melihat tidak ada ikatan apa pun antara kalian berdua. Kalian seperti orang asing, yg bahkan tidak tahu cara memulai pertemanan. Mungkin salahku? Karena sejak dia lahir kamu tidak hadir, aku merasa tidak berhak memaksa anakku, anakmu itu, untuk mencari tahu tentangmu. Padahal, bukankah dgn cara begitu dia akan mengenalmu? Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjawab semua pertanyaannya tentangmu. Semuanya. Betapa pun jawabannya mungkin akan menyakiti hatiku.

Tapi dia tidak pernah bertanya.

Dia seolah tidak mau tahu. Tidak ada hal tentangmu yg menarik hatinya. Benci? Tidak. Kurasa dia bahkan tidak cukup mengenalmu untuk sampai menyimpan rasa tidak suka. Maafkan aku bahwa sampai saat ini aku tidak bisa memaksakan kehadiranmu bahkan di sisi paling terpencil di dalam kepalanya. Percaya atau tidak, aku berkali-kali mencoba menghadirkan kamu dalam percakapan kami. Namun, bagi anakku, anakmu itu, kamu tidak pernah ada. Tidak ada tempat bagimu dalam pikirannya, dalam hatinya, apalagi di dalam jiwanya. Meski kamu ada di darahnya, tapi ia tidak merasakan keberadaanmu. Baginya, kamu hanyalah nama yang ada di akte kelahiran. Bahkan nama itu pun sangat ingin dia hapus, tanpa alasan (doa anak2 sering manjur. Tiba2 namamu hilang dari paspor anakku, anak kita itu. Pada suatu hari, anakku tidak lagi menyandang namamu di dokumen resmi negara itu. Jangan tanya bagaimana bisa begitu, aku pun tak paham).

Seingatku, ketika dia lahir dulu, wajahnya mirip sekali denganmu. Dengan mata sipit yg akan membuat siapa saja jatuh cinta. Namun, lihatlah dia kini. Semua orang akan melihat anakku, anak kita, sebagai versi mini dari aku, ibunya. Matanya masih sipit, tentu saja, tapi kilatnya adalah yg ia pelajari dariku. Raut wajahnya yg bisa seketika sangat keras kepala, nampaknya dia warisi dari sikapku sehari-hari. Bahkan cara dia bergerak dan bertutur akan selalu mengingatkan siapa pun yang mengenalku pada sosokku saat seusianya. Aku bangga, bukan saja karena dia dan aku kini nyaris tanpa beda, tapi karena aku tahu dia akan setangguh aku menghadapi dunia.

Lima belas tahun bukan masa yg singkat. Dan selama itu pula aku sudah berusaha semampuku menghadirkan kamu. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kamu. Sayang, tidak pernah kamu manfaatkan. Karena kamu seolah tidak pernah mau ada dalam hidup kami, aku rasa sudah saatnya usahaku akan aku hentikan juga. Boleh ya, aku buat janji pada diriku sendiri untuk tidak lagi membicarakan kamu pada anakku. Aku juga tidak akan berusaha membawanya mendekat padamu. Bagiku, semua sudah selesai. Kalau kamu merasa penting bagimu untuk menjadi bagian dari anakku, anakmu itu, silakan kamu usahakan sendiri segalanya. Aku berdoa, upayamu belum terlambat.

Anak kita sudah besar. Kamu tentu setuju bahwa dia bisa menentukan yg ia inginkan. Bahkan jika dia memutuskan untuk tidak mau mengenalmu lagi sama sekali, kita tidak akan bisa memaksanya. Doakan saja yg terbaik baginya.

Aku percaya kamu adalah ayah yang baik. Tapi mungkin bukan untuk anakku. Selamat Hari Ayah.



Tuesday, November 05, 2019

Penting?

 .... Berikan ku alasan, untuk tetap bersamamu, setelah lelah berharap....



(Kembali ke Awal, Glenn Fredly)

Monday, October 28, 2019

I Still Write

No worries. I do still write. But not here. There are so many things happen. Work, love, life... so many things coming up all at once! Will update this blog later. Wish me luck.

Friday, October 04, 2019

Yes Indeed

It is not always the food... nor the movie... nor the coffee... nor the place.... 

Sometimes it is just the person we enjoy all of those things with. And yes, I kinda miss the moments. 

Friday, September 13, 2019

My Sunshine

Today someone was accompanying me on my morning walk. Yes yes yes indeed... he is that special someone. And as usual, our meeting would not be just a simple one. Nope. It was full of fruitful discussion. We talked about work, life, love, and everything in between. It was a brisk 45 minutes walk that felt like a blink of an eye. Short but powerful. Thing I am always be sure of: the sun will shine on me. He is nonetheless my sunshine. No matter what.

Thursday, September 12, 2019

The Journey So Far

It is almost official that I am now a permanent employer of TJP. Alhamdulillah.

Lucu dan seru adalah kata yg bisa menggambarkan proses pengangkatan. Krn perlu gue akui, tidak mudah. Tidak spt perusahaan2 sebelum ini yg gue mmg sdh dipastikan akan menjadi karyawan tetap dan probation hanya basa-basi... di sini semua diukur dan dinilai dgn gamblang dan terbuka. Jadi mmg hrs dihadapi dgn benar. Gue hrs bikin presentasi ttg pekerjaan, rencana ke depan, manajerial di divisi ini dll... hal baru yg bikin merinding disko.

Anyway, I passed the test. Skrg tinggal tunggu MCU, and I am all set.

Tahun lalu sempat berpikir untuk ada di MI sampai pensiun. Tentunya krn pekerjaan yg menyenangkan dan tim yg sampai skrg blm tertandingi. Tp lalu ada tawaran yg menarik dan akhirnya krn beberapa push & pull factors jd diterima. Dan ini adalah pencapaian yg buat gue cukup signifikan.

Jadi terkenang di masa2 dulu, masa masih cupu. Bahkan bingung mau embellish cv.... Lalu menerima tawaran jadi pemred. Lalu pindah media, dan skrg ada di sini. Di tempat yg kalau gue sebut namanya akan mendapat tatapan "waaaaah" gitu....

Hmm... bisa sampai di titik skrg nggak mudah. Tp setelah sampai di sini, semua terasa natural... semacam "memang seharusnya begitu". Tentu ada alasannya. Apa? Personal coach :)

Yes I do have my own personal coach. Yg selalu mendampingi di saat2 harus mengambil keputusan, terutama soal karier. Dia yg akan mengatur semuanya supaya berjalan sebagaimana seharusnya. Supporting me all around, non stop, since the beginning of my career. Cannot thank him enough. He is one specific person who -I believe- will also read this post. Thank you. Thank you. Thank you.


















And you know... I love you.

Wednesday, September 11, 2019

Are You Real?

Maybe you are not
missing the person,
missing the moment,
or even missing the pain.

Maybe you just miss
being a part of something,
something you think
you never had before.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Monday, September 09, 2019

My Bad

I'm always addicted
to the wrong things.

You for instance.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Sunday, September 08, 2019

Wounded

From the
darkest heartbreaks
our wounds
bleed poetry.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Saturday, September 07, 2019

Ouch!

There are
mighty strings
that always pulling
me back to you,
called good
memories.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Friday, September 06, 2019

Same Old Story

I know you'd prefer
to be there
than here
because there,
even though stormy,
is home
and here,
even though sunny,
is only an adventure.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Thursday, September 05, 2019

Thank You

Terima kasih untuk tetap konsisten mencemaskan aku selama 14 tahun terakhir. #youknowwhoyouare

Sunday, September 01, 2019

Maybe....

“Budiana, people are not bandaids.”

Selama ini tnyt gue sering salah. Gue tahu bhw orang2 yg datang dalam kehidupan gue kemungkinan membawa sesuatu utk gue, good or bad. So I treat them as I wish.  Maaf utk orang2 yg gue manfaatkan sbg penyembuh luka (atau penambal luka?).