I really miss your morning greeting. I have this habit to grab my phone while waking up in the morning. For years, I used to see your name blinking and just a little note from you would work as a booster of the day.
I miss to see you here in my house. Sitting in my kitchen, eating while talking about life and work, and everything in between.
I also miss to see you sit behind the steering wheel, driving me after office. And we could stop by somewhere to have a very nice dinner before reaching home.
I really do miss you.
Monday, June 29, 2020
Saturday, June 27, 2020
You
...
(You're Still You - Josh Groban)
I look up to
Everything you are
In my eyes you do no wrong
I've loved you for so long
And after all is said and done
You're still you
After all
You're still you
Everything you are
In my eyes you do no wrong
I've loved you for so long
And after all is said and done
You're still you
After all
You're still you
...
(You're Still You - Josh Groban)
Friday, June 26, 2020
You Are Always Welcome
The persons that belong to you will come and stay. You do not have to chase them.
Thursday, June 25, 2020
Tuesday, June 23, 2020
Is It?
On a moonlit night together
How could such bliss
End up like this
At a table meant for two
And I miss the conversation
Now that you've gone away
If like me you lay awake
That's the risk that people take
Saying it's over
Well, I pour myself a drink
From an almost empty bottle
Downing it fast
Drowning the past
I hear the phone
And I almost hesitate
'Cause it might be you that's callin'
Saying you're still awake
Wishing you could change events
Then I guess it made no sense
Saying it's over
Love slip through our hands
Are we living to regret
Saying it's over
Wishing you could change events
Guess we let it make no sense
Saying it's over
Saying it's over
Monday, June 22, 2020
Same Here, Sunshine
They say that if someone misses you, there's an 80% chance he will show up in your dream. So happy to see you last night. And... I miss you too, for sure.
Monday, June 08, 2020
Morning Routine
I am still doing my morning routine, walk 2 or 3 km a day. And of course I miss the moment you surprised me with your presence. Or the moment we do the walk together in those parks, near or far. Likely I need to add one thing in my routine: to miss you.
Saturday, June 06, 2020
Traditional Cloth
Entah sejak kapan... gue tertarik dgn kain2 batik. Tanpa peduli batik tulis atau batik cap atau kain-motif-batik... kalau suka ya dibeli. Dari jaman kuliah, sdh punya terusan batik. Sementara banyak orang hanya pakai batik kalau untuk kondangan (terutama bapak2).
10 tahun lalu gue sudah pakai kain batik ke kantor. Atasannya pakai t-shirt dan cardigan. Pakai boot. The first time we met, I wore one of my fine silk collection, if you still remember :)
Trus beberapa tahun belakangan, punya kesempatan ke tempat2 pengrajin batik. Hanya beli2 aja sih, niatnya mau dijahit jadi baju, tapi setelah membayangkan proses menggambar mori, membatik, mewedel, melorod... kok ya sayang kalau kain ini digunting. Akibatnya? Kain2 itu menumpuk dgn manis di lemari. Kalau yg sutra, sempat dipakai ke kondangan juga sih, dengan kebaya manis atau seragaman.
Baru sejak tahun lalu, atau dua tahun lalu... sejak pindah ke TJP, pas juga orang2 sedang "melek batik" dan menggiatkan kebaya. Sampai ada tagar #selasaberkebaya. Krn gue nggak punya banyak kebaya, jadi ya gue ramaikan dengan #selasaberkain. Hehehe.... Dan kalau ngantor, seringnya mix kain batik dgn sneaker. Lucu lhoooo.... Hanya yg jadi PR kalau mau sholat. Kain2 ini bikin gue susah duduk tahiyat. Ya ampun. Gadis2 kraton itu dulu gimana ya kalau mau sholat? Jd kalau pas berkain, mau sholat... ya gue ganti dulu pakai sarung.... Sering jadi bahan ketawaan sih kalau pas ada yg barengan sholat. Bodo amat deh ah. Oh ya, agak ribet juga kalau mau pipis, krn gue nggak suka kain yg nggak rapi. Jadi? Terpaksa ucul2 semua, lalu setelah selesai hajat, dipakai lagi pelan2. Keribetan yg sukarela dijalani demi menunjukkan kalau gue bangga jadi perempuan Indonesia (dan sangat bangga lahir sebagai perempuan Jawa tempat batik2 ini berasal).
Dan... baru sadarlah gue kalau koleksi gue cukup banyak. Mungkin kalau digelar semua, bisa menutup satu lapangan kasti. Hahahaha....
Gue punya apa saja? Ada batik Indramayu, batik Lasem (ini banyak banget, ada kali 10 pcs), batik Bayat, batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Gresik, batik Madura, dan tentu dari Solo & Yogya (meski sering nyaru juga sih yg mana kalau dua ini krn sama2 warna sogan). Batiknya warna-warni, seru dan ceria.
Tadi pagi, nyokap sedang ritual bulanan ngeluarin kain2 batik dari lemari. Sudah sering sih lihat batik2 lama nyokap, tp kok kurang tertarik krn warna2 yg monoton khas batik orang dulu. Tapi tadi baru lihat ada batik lawasan. Yg memang sudah lawas, wong itu dibatik sendiri sama almarhumah eyang putri.... Gue pakai... kok lucu. Trus gue liatin nyokap. "Ya udah bawa sana, wong aku ya nggak pakai. Dua kain yg lain kan sudah dibawa sama ibunya Jawa. Kemarin buat main kemah2an." Ladalah....
Jadi gue tiba2 beride untuk ke kantor pakai kain aja. Nah kan... makin ga kepakai deh segala gaun2 gue. Hehehehe....
10 tahun lalu gue sudah pakai kain batik ke kantor. Atasannya pakai t-shirt dan cardigan. Pakai boot. The first time we met, I wore one of my fine silk collection, if you still remember :)
Trus beberapa tahun belakangan, punya kesempatan ke tempat2 pengrajin batik. Hanya beli2 aja sih, niatnya mau dijahit jadi baju, tapi setelah membayangkan proses menggambar mori, membatik, mewedel, melorod... kok ya sayang kalau kain ini digunting. Akibatnya? Kain2 itu menumpuk dgn manis di lemari. Kalau yg sutra, sempat dipakai ke kondangan juga sih, dengan kebaya manis atau seragaman.
Baru sejak tahun lalu, atau dua tahun lalu... sejak pindah ke TJP, pas juga orang2 sedang "melek batik" dan menggiatkan kebaya. Sampai ada tagar #selasaberkebaya. Krn gue nggak punya banyak kebaya, jadi ya gue ramaikan dengan #selasaberkain. Hehehe.... Dan kalau ngantor, seringnya mix kain batik dgn sneaker. Lucu lhoooo.... Hanya yg jadi PR kalau mau sholat. Kain2 ini bikin gue susah duduk tahiyat. Ya ampun. Gadis2 kraton itu dulu gimana ya kalau mau sholat? Jd kalau pas berkain, mau sholat... ya gue ganti dulu pakai sarung.... Sering jadi bahan ketawaan sih kalau pas ada yg barengan sholat. Bodo amat deh ah. Oh ya, agak ribet juga kalau mau pipis, krn gue nggak suka kain yg nggak rapi. Jadi? Terpaksa ucul2 semua, lalu setelah selesai hajat, dipakai lagi pelan2. Keribetan yg sukarela dijalani demi menunjukkan kalau gue bangga jadi perempuan Indonesia (dan sangat bangga lahir sebagai perempuan Jawa tempat batik2 ini berasal).
Dan... baru sadarlah gue kalau koleksi gue cukup banyak. Mungkin kalau digelar semua, bisa menutup satu lapangan kasti. Hahahaha....
Gue punya apa saja? Ada batik Indramayu, batik Lasem (ini banyak banget, ada kali 10 pcs), batik Bayat, batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Gresik, batik Madura, dan tentu dari Solo & Yogya (meski sering nyaru juga sih yg mana kalau dua ini krn sama2 warna sogan). Batiknya warna-warni, seru dan ceria.
Tadi pagi, nyokap sedang ritual bulanan ngeluarin kain2 batik dari lemari. Sudah sering sih lihat batik2 lama nyokap, tp kok kurang tertarik krn warna2 yg monoton khas batik orang dulu. Tapi tadi baru lihat ada batik lawasan. Yg memang sudah lawas, wong itu dibatik sendiri sama almarhumah eyang putri.... Gue pakai... kok lucu. Trus gue liatin nyokap. "Ya udah bawa sana, wong aku ya nggak pakai. Dua kain yg lain kan sudah dibawa sama ibunya Jawa. Kemarin buat main kemah2an." Ladalah....
Jadi gue tiba2 beride untuk ke kantor pakai kain aja. Nah kan... makin ga kepakai deh segala gaun2 gue. Hehehehe....
Friday, June 05, 2020
My Posting
Someone asked me to post something in my blog. Just to indicate that I am ok. Here you go.
I am ok. Or maybe not... and pretend that I am... but still... this is my normal, try hard to be ok.
I am ok. Or maybe not... and pretend that I am... but still... this is my normal, try hard to be ok.
Thursday, May 28, 2020
New Normal. What is New Normal?
Kemarin ada yg tanya, apa pendapat gue tentang new normal.
Hmmm... buat gue, nggak ada new normal. Gue nggak bisa terima. Ini tuh nggak normal.
Nggak normal karena kalau pulang kantor gue ga boleh langsung cium anak gue. Gue harus mandi dulu, keramas dulu, cuci baju... baru boleh peluk cium anak gue. Dan gue ngetik itu aja kok sedih. Tersiksa banget ternyata nggak bisa meluapkan afeksi dengan segera.
Nggak normal karena gue ga bisa sembarang semau gue ketemu sama orang2 yg gue sayang. Dan begitu ketemu pun ga bisa main peluk2. Harus jaga jarak, harus patuh protokol kesehatan. Apa2an tuh?
Nggak normal karena gue harus pakai masker kalau keluar rumah, termasuk kalau olahraga. Engap. Nggak suka.
Nggak normal karena kakak dan adik gue nggak bisa sesukanya mondar-mandir jengukin rumah BSD. Khawatir jadi carrier yg membahayakan nyokap.
Ini semua nggak normal.
Okay, gue mau nggak mau harus berdamai dgn ini. Gue patuhi semua protokol kesehatan. Gue rela nggak ketemu2 dulu sama orang2 yg gue sayang. Nggak ngantor. Nggak main ke mana2. Nggak liburan. Nggak olahraga di luar yg jauh2. Duduk manis di rumah. Ok. Gue berdamai dan gue jalani.
Tapi gue masih mau suatu saat kembali lagi ke normal. Hugging you tight and kissing you madly, one day.
Hmmm... buat gue, nggak ada new normal. Gue nggak bisa terima. Ini tuh nggak normal.
Nggak normal karena kalau pulang kantor gue ga boleh langsung cium anak gue. Gue harus mandi dulu, keramas dulu, cuci baju... baru boleh peluk cium anak gue. Dan gue ngetik itu aja kok sedih. Tersiksa banget ternyata nggak bisa meluapkan afeksi dengan segera.
Nggak normal karena gue ga bisa sembarang semau gue ketemu sama orang2 yg gue sayang. Dan begitu ketemu pun ga bisa main peluk2. Harus jaga jarak, harus patuh protokol kesehatan. Apa2an tuh?
Nggak normal karena gue harus pakai masker kalau keluar rumah, termasuk kalau olahraga. Engap. Nggak suka.
Nggak normal karena kakak dan adik gue nggak bisa sesukanya mondar-mandir jengukin rumah BSD. Khawatir jadi carrier yg membahayakan nyokap.
Ini semua nggak normal.
Okay, gue mau nggak mau harus berdamai dgn ini. Gue patuhi semua protokol kesehatan. Gue rela nggak ketemu2 dulu sama orang2 yg gue sayang. Nggak ngantor. Nggak main ke mana2. Nggak liburan. Nggak olahraga di luar yg jauh2. Duduk manis di rumah. Ok. Gue berdamai dan gue jalani.
Tapi gue masih mau suatu saat kembali lagi ke normal. Hugging you tight and kissing you madly, one day.
Wednesday, May 27, 2020
Happy Belated Birthday
Posting this on May 25, and the responds were awesome :)
Actually, May 25 was also a special day for another special someone. Yes, I got 2 boys celebrating their birthday on the same day. One is my brother, the other one is... what should I call him now? I am not so sure....
But still, I need to wish him happy birthday. Somewhere publicly... so he will know that I still remember his birthday. And I still care.
Happy birthday, dear you... you know who you are. Thank you for supporting me all along. Never be this far without your criticism/guidance/cynicalcomment/trust/LOVE.
Thank you.
Actually, May 25 was also a special day for another special someone. Yes, I got 2 boys celebrating their birthday on the same day. One is my brother, the other one is... what should I call him now? I am not so sure....
But still, I need to wish him happy birthday. Somewhere publicly... so he will know that I still remember his birthday. And I still care.
Happy birthday, dear you... you know who you are. Thank you for supporting me all along. Never be this far without your criticism/guidance/cynicalcomment/trust/LOVE.
Thank you.
Tuesday, May 26, 2020
Life Without You
Never imagine....
Since I thought our loves were the kind that only shared by just a few people. Weird enough, but cute as well.
I love you. You know who you are.
Since I thought our loves were the kind that only shared by just a few people. Weird enough, but cute as well.
I love you. You know who you are.
Sunday, May 17, 2020
Do You Need Other Reason?
...
Sometimes it's all so clear
There's a reason you
Are here
With me
Life has its ups and downs
But I'll get through
If I can stay with you
Forever
Who could have planned
That I would be
Such a lucky man
(Lucky Man, Dave Koz featuring Charles Pettigrew)
Sometimes it's all so clear
There's a reason you
Are here
With me
Life has its ups and downs
But I'll get through
If I can stay with you
Forever
Who could have planned
That I would be
Such a lucky man
(Lucky Man, Dave Koz featuring Charles Pettigrew)
Thursday, May 14, 2020
Naturally Yours
Tadi pagi, setelah sahur, ada yg tumben2an wa. Mmg kapan itu sempat rencana mau ketemu tp lalu ybs kena PSBB nggak bisa keluar dari kotanya (damned Corona). Gue pikir ya udahlah. Ternyata tadi pagi ngajak ngobrol panjang... mungkin dia hbs minum vitamin... hahaha....
Salah satu pertanyaannya adalah, "Selama ini, sejak bercerai, pernah seriously dating?"
Trus jadi ingat bahwa satu2nya yg bisa dianggap seriously dating ya sm OmD. Sekian lama? Iya. Hahaha... lama sekali....
Tp jadi ingat juga bahwa nggak pernah berencana untuk seriously dating sih. Membiarkan semua berjalan begitu saja, nggak pakai rekayasa, nggak pakai rencana. Awalnya kan ya kenalan biasa, berteman saja. Lalu semakin hari semakin dekat dan at one point merasa mulai ketergantungan satu sama lain. Trus mulai merasa harus bertanggung jawab. Tanpa dirancang untuk begitu, ketergantungan & tanggung jawab itulah yg akhirnya menelurkan rencana ini itu berhubungan dgn masa depan....
Bahwa akhirnya tidak sesuai rencana.... Ya berarti memang rencana kami nggak sesuai dgn rencana Sang Maha Planner....
Gitu sih.
Inilah satu postingan bosan WFH.
Salah satu pertanyaannya adalah, "Selama ini, sejak bercerai, pernah seriously dating?"
Trus jadi ingat bahwa satu2nya yg bisa dianggap seriously dating ya sm OmD. Sekian lama? Iya. Hahaha... lama sekali....
Tp jadi ingat juga bahwa nggak pernah berencana untuk seriously dating sih. Membiarkan semua berjalan begitu saja, nggak pakai rekayasa, nggak pakai rencana. Awalnya kan ya kenalan biasa, berteman saja. Lalu semakin hari semakin dekat dan at one point merasa mulai ketergantungan satu sama lain. Trus mulai merasa harus bertanggung jawab. Tanpa dirancang untuk begitu, ketergantungan & tanggung jawab itulah yg akhirnya menelurkan rencana ini itu berhubungan dgn masa depan....
Bahwa akhirnya tidak sesuai rencana.... Ya berarti memang rencana kami nggak sesuai dgn rencana Sang Maha Planner....
Gitu sih.
Inilah satu postingan bosan WFH.
Friday, May 01, 2020
The Marriage Story
Kelar nonton Marriage Story di Netflix... hmm... jadi berpikir2 lama... lama sekali....
Memang pernikahan bukan sesuatu yg mudah. Semua orang juga tahu. Kok ada yg nampak lancar2 aja menjalaninya? Ya itu mungkin rejeki. But still, we never know....
Dalam film itu, terlihat bahwa memang kerja keras perlu juga dilakukan dalam pernikahan... kalau mau selamat. Jadi mengenang kembali pernikahan 20 tahun silam... ternyata setelah diingat lagi, banyak banget PR yg nggak diberesin. Hiks.
Di Marriage Story, setelah sekian tahun menikah, pasangan itu baru sadar bahwa cinta saja nggak cukup. Mereka tetep perlu ruang untuk berkembang. Setelah sekian tahun menikah, baru sadar bahwa cinta yg menggebu itu membutakan nalar. Juga menghilangkan kewarasan. Dulu sih nggak apa2 kehilangan jati diri, semua jadi tergantung pasangan... tp lama2 kok capek, ya? Dulu sih seru2 aja ledek2an... tp lama2 kok ngeselin, ya? Dulu sih rasanya lucu lihat dia bangun tidur awut2an panik krn kesiangan... tp lama2 kok bosen lihat dia nggak jadi dewasa, ya? Dan yg penting adalah komunikasi. Di mana2 dibilang bahwa komunikasi dalam pernikahan penting banget nget nget nget.... Keren banget ini film bisa pas menggambarkan bahwa meskipun ada saling mengerti antara dua pihak... tetep aja kalau komunikasi nggak bener, jadi pincang krn berat sebelah. Dan ketika cinta itu nggak dijaga apinya... ya lama2 padam. Menjalankan pernikahan hanya sebagai sebuah kewajiban. Ujung2nya bosan... lalu memutuskan perlu tempat baru untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Yungalah... angel'e....
Trus jadi ingat banyak banget PR nggak dikumpulin, dulu itu... haiyoooohhh.... Dan skrg masih niat mau coba lagi? Yakin? Bener?
Mbuh ah....
Memang pernikahan bukan sesuatu yg mudah. Semua orang juga tahu. Kok ada yg nampak lancar2 aja menjalaninya? Ya itu mungkin rejeki. But still, we never know....
Dalam film itu, terlihat bahwa memang kerja keras perlu juga dilakukan dalam pernikahan... kalau mau selamat. Jadi mengenang kembali pernikahan 20 tahun silam... ternyata setelah diingat lagi, banyak banget PR yg nggak diberesin. Hiks.
Di Marriage Story, setelah sekian tahun menikah, pasangan itu baru sadar bahwa cinta saja nggak cukup. Mereka tetep perlu ruang untuk berkembang. Setelah sekian tahun menikah, baru sadar bahwa cinta yg menggebu itu membutakan nalar. Juga menghilangkan kewarasan. Dulu sih nggak apa2 kehilangan jati diri, semua jadi tergantung pasangan... tp lama2 kok capek, ya? Dulu sih seru2 aja ledek2an... tp lama2 kok ngeselin, ya? Dulu sih rasanya lucu lihat dia bangun tidur awut2an panik krn kesiangan... tp lama2 kok bosen lihat dia nggak jadi dewasa, ya? Dan yg penting adalah komunikasi. Di mana2 dibilang bahwa komunikasi dalam pernikahan penting banget nget nget nget.... Keren banget ini film bisa pas menggambarkan bahwa meskipun ada saling mengerti antara dua pihak... tetep aja kalau komunikasi nggak bener, jadi pincang krn berat sebelah. Dan ketika cinta itu nggak dijaga apinya... ya lama2 padam. Menjalankan pernikahan hanya sebagai sebuah kewajiban. Ujung2nya bosan... lalu memutuskan perlu tempat baru untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Yungalah... angel'e....
Trus jadi ingat banyak banget PR nggak dikumpulin, dulu itu... haiyoooohhh.... Dan skrg masih niat mau coba lagi? Yakin? Bener?
Mbuh ah....
Sunday, April 12, 2020
Granted Wish?
What if God grant you with whatever you ever wish?
Ada seorang teman dekat yg sudah beberapa tahun ini punya masalah dalam pernikahannya. Sebetulnya, masalah sudah ada sejak awal sekali. Kebetulan gue kenal dia (& pasangannya) sebelum mereka menikah. Dan memang dari dulu juga sdh terlihat bahwa ada "ketimpangan" di antara mereka, tp yaaa... rasanya cinta kan bisa mengalahkan apa saja ya?
Bener juga sih, masalah demi masalah dilewati dengan cinta itulah. Si mas ini seperti menggenapi stereotipe suku tertentu yg demen pesta dan punya pacar di mana. Duh. Tp yaaa... entah kenapa si mbak nrimo aja. Mereka punya anak banyak... seperti membuktikan bahwa mereka tetap saling cinta no matter what. Meskipun kalau buat gue sih... infidelity yg berkali2 bisa malesin juga... tp orang kan beda2 yaaaa....
Sepanjang pernikahan, setahu gue, si mbak yg menjadi bread winner. Menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak2. Kadang gembira, kadang cemas nggak punya uang, seringnya pasrah kalau cerita ke gue. Termasuk kalau dia lagi gemes krn nggak punya duit trus suaminya minta uang rokok. Sebisanya gue hanya menenangkan. Mengingatkan dia pada cintanya....
Sampai pd suatu hari si suami sakit. Kena serangan jantung ketika sedang tugas ke luar kota. Istri menyusul dong. Gedubrakan ke Rumah Sakit. Mendapati si suami belum sadarkan diri, ditemani pacarnya-yg-entah-siapa-lagi. Duh Gusti....
Mbak Istri nggak peduli. Tetap dengan manis menjalankan tugasnya sbg istri (yg sah). Mengurus suami yg sakit. Menunggui sampai sembuh. Lalu mereka kembali ke Jakarta.
Sejak itu, konon... mas suami menjadi lebih manis. Merasa bersalah dll dll... lagu lama sih. Krn dulu2 juga ketahuan selingkuh kok. Ini krn sampai masuk RS aja jd merasa bersalah banget? Semprul.
Yak betooolll... gue yg emosi duluan. "Gapapa... sudah takdir gue," kata si mbak. Dan mereka pun melanjutkan hidup (pernikahan).
Tp memang ya... kalau sdh dasarnya ngaco... ya ngaco aja. "Bertahan" setahun ayem2... selingkuh lagi dong mas suami. Tuhanku....
Si mbak sempat tanya2 soal perceraian ke gue. Yg jawaban gue sih standard aja: "Nggak enak prosesnya. Setelahnya juga nggak tahu ya. Gue menikmati, tapi bisa aja beda di kamu, mbak."
Akhirnya niat bercerai dilupakan. Dijalani saja, katanya. Syukurlah. Meskipun tetep selintas2 ada kata2, "Bodo amat... gue tinggalin aja." Yg intinya si mbak mempertimbangkan untuk lebih baik sendiri saja daripada berdua tapi nggak jelas. Atau kadang kalau sdh gemes banget, dia akan bilang, "Duh Gusti, monggo dipun pundhut mawon...."
Kalau gue sih, sudah jelas lah akan sangat mendukung misalnya si mbak mau berpisah. Secara finansial juga nggak ada masalah krn selama ini pun dia yang cari uang kok. Mereka tinggal di rumah warisan orang tua si mbak yg dulunya pejabat. Aman lah. Tapi sekali lagi... bukan gue yg berhak menyarankan apa2....
Kemudian siklus hidup si mbak dan si mas itu jadi semacam gini: selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai - selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai... gitu aja terus.... Gue tahu. Krn setiap sampai di "berantem", si mbak pasti cerita. Yang lalu dia akan bilang, "Bentar lagi pasti masuk RS. Percaya deh sm gue." Dan selalu tebakan itu benar. Melelahkan.
Bulan ini, si mbak ulang tahun. Dan tadi pagi gue dikabari kalau si mas meninggal dunia. Dalam tidur. Dengan tenang. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.
Krn sedang hrs social distancing, si mbak bikin pengumuman bhw dia sangat paham jika kami2 para sahabat tidak datang ke rumah duka. Bahkan dia khusus wa gue utk "Nggak usah ke sini ya Di. Udah, doakan saja. Maafkan masmu. Aku ikhlas. Aku cukup keras kepala ternyata, jadi bisa menemani dia smp akhir. Wis bar saiki, wis dipundhut sing kagungan."
Bikin mewek.
Gue semakin percaya bahwa Tuhan Maha Lucu. Komedian yang tiada tandingannya, yg memberi hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa buat si mbak.
Ada seorang teman dekat yg sudah beberapa tahun ini punya masalah dalam pernikahannya. Sebetulnya, masalah sudah ada sejak awal sekali. Kebetulan gue kenal dia (& pasangannya) sebelum mereka menikah. Dan memang dari dulu juga sdh terlihat bahwa ada "ketimpangan" di antara mereka, tp yaaa... rasanya cinta kan bisa mengalahkan apa saja ya?
Bener juga sih, masalah demi masalah dilewati dengan cinta itulah. Si mas ini seperti menggenapi stereotipe suku tertentu yg demen pesta dan punya pacar di mana. Duh. Tp yaaa... entah kenapa si mbak nrimo aja. Mereka punya anak banyak... seperti membuktikan bahwa mereka tetap saling cinta no matter what. Meskipun kalau buat gue sih... infidelity yg berkali2 bisa malesin juga... tp orang kan beda2 yaaaa....
Sepanjang pernikahan, setahu gue, si mbak yg menjadi bread winner. Menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak2. Kadang gembira, kadang cemas nggak punya uang, seringnya pasrah kalau cerita ke gue. Termasuk kalau dia lagi gemes krn nggak punya duit trus suaminya minta uang rokok. Sebisanya gue hanya menenangkan. Mengingatkan dia pada cintanya....
Sampai pd suatu hari si suami sakit. Kena serangan jantung ketika sedang tugas ke luar kota. Istri menyusul dong. Gedubrakan ke Rumah Sakit. Mendapati si suami belum sadarkan diri, ditemani pacarnya-yg-entah-siapa-lagi. Duh Gusti....
Mbak Istri nggak peduli. Tetap dengan manis menjalankan tugasnya sbg istri (yg sah). Mengurus suami yg sakit. Menunggui sampai sembuh. Lalu mereka kembali ke Jakarta.
Sejak itu, konon... mas suami menjadi lebih manis. Merasa bersalah dll dll... lagu lama sih. Krn dulu2 juga ketahuan selingkuh kok. Ini krn sampai masuk RS aja jd merasa bersalah banget? Semprul.
Yak betooolll... gue yg emosi duluan. "Gapapa... sudah takdir gue," kata si mbak. Dan mereka pun melanjutkan hidup (pernikahan).
Tp memang ya... kalau sdh dasarnya ngaco... ya ngaco aja. "Bertahan" setahun ayem2... selingkuh lagi dong mas suami. Tuhanku....
Si mbak sempat tanya2 soal perceraian ke gue. Yg jawaban gue sih standard aja: "Nggak enak prosesnya. Setelahnya juga nggak tahu ya. Gue menikmati, tapi bisa aja beda di kamu, mbak."
Akhirnya niat bercerai dilupakan. Dijalani saja, katanya. Syukurlah. Meskipun tetep selintas2 ada kata2, "Bodo amat... gue tinggalin aja." Yg intinya si mbak mempertimbangkan untuk lebih baik sendiri saja daripada berdua tapi nggak jelas. Atau kadang kalau sdh gemes banget, dia akan bilang, "Duh Gusti, monggo dipun pundhut mawon...."
Kalau gue sih, sudah jelas lah akan sangat mendukung misalnya si mbak mau berpisah. Secara finansial juga nggak ada masalah krn selama ini pun dia yang cari uang kok. Mereka tinggal di rumah warisan orang tua si mbak yg dulunya pejabat. Aman lah. Tapi sekali lagi... bukan gue yg berhak menyarankan apa2....
Kemudian siklus hidup si mbak dan si mas itu jadi semacam gini: selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai - selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai... gitu aja terus.... Gue tahu. Krn setiap sampai di "berantem", si mbak pasti cerita. Yang lalu dia akan bilang, "Bentar lagi pasti masuk RS. Percaya deh sm gue." Dan selalu tebakan itu benar. Melelahkan.
Bulan ini, si mbak ulang tahun. Dan tadi pagi gue dikabari kalau si mas meninggal dunia. Dalam tidur. Dengan tenang. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.
Krn sedang hrs social distancing, si mbak bikin pengumuman bhw dia sangat paham jika kami2 para sahabat tidak datang ke rumah duka. Bahkan dia khusus wa gue utk "Nggak usah ke sini ya Di. Udah, doakan saja. Maafkan masmu. Aku ikhlas. Aku cukup keras kepala ternyata, jadi bisa menemani dia smp akhir. Wis bar saiki, wis dipundhut sing kagungan."
Bikin mewek.
Gue semakin percaya bahwa Tuhan Maha Lucu. Komedian yang tiada tandingannya, yg memberi hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa buat si mbak.
Saturday, April 11, 2020
The Differences
Ini WFH... diperpanjang terus... dan lagi... dan lagi.... Seketika krisis ekonomi membayangi di ujung belokan.... Denger2 bbrp kantor mulai "efisiensi" yg seringkali artinya potong gaji. Yaaa... yg dipotong duluan gaji bos-nya pastinya....
Ok... masih bersyukur Alhamdulillah punya gaji. Berapa pun jumlahnya, ada yg bisa diharapkan hadir secara kontinyu. Berempati sm para pebisnis yg terpaksa mengurangi karyawan, krn kurang pemasukan. Semoga badai segera berlalu. Aamiiinnn....
Spt biasa, membiasakan diskusi, hal ini juga dibicarakan sm si ganteng Aria. Krn dia pun sdh mulai paham belanja, jadi hrs ada konsensus bhw tahun ini nggak beli2 tas/sepatu/baju lagi. Kok ya ibu dan anak kesukaannya sama....
Jadi gue jelaskan efek pandemi korona ini pada perekonomian global. Lalu apa pengaruhnya ke ekonomi Indonesia, dan gimana kondisi dompet ibu. Gue tenangkan bahwa dia nggak perlu cemas, krn ibu masih punya gaji, dan juga ada tabungan yg Insya Allah cukup untuk kebutuhan primer. Apa saja yg primer? Sekolah dia, kebutuhan bulanan, makan dan transport... Insya Allah aman. Rumah ini pun baru saja lunas, jadi nggak perlu jadi pikiran lagi. Hanya mungkin rencana renovasi besar perlu dipertimbangkan lagi urgensinya. Gue bilang juga bhw uang saku dia jumlahnya akan tetap, tp sebaiknya dia hemat krn we never know how long this rainy days going to be.
Aria diam aja. Angguk2. Krn memang selama ini kebutuhan dia jg nggak banyak sih (selain belanja sepatu yg aduhai deh...).
Trus tiba2 setelah diam cukup lama, dia bilang, "Ayah gimana ya, Bu?"
Hmm... selain hanya bisa menjawab "I don't know" ... tiba2 seperti ada yg mencubit hatiku. Anak gue yg tampaknya cuek dan ga peduli... ternyata tetap memikirkan ayahnya. Dan itu menyadarkan gue soal perbedaan dlm hal ini. Buat gue, masalah dgn ayahnya anak gue mungkin sdh (gue anggap) selesai. Gue jg nggak mau lagi berurusan ttg apa pun sm dia. Tapi buat anak gue, ayahnya akan selalu ada, entah dia mau atau tidak. Buat anak gue, masalah ayahnya akan menjadi hal yg tidak pernah usai, bahkan mungkin meskipun urusan duniawi sudah selesai. Dan gue merasa berkewajiban mendampingi dia, membantunya saat dibutuhkan, tetap support.... Yah... akhirnya urusan gue sama mansu ga boleh kelar juga dong. Sigh.
Ok... masih bersyukur Alhamdulillah punya gaji. Berapa pun jumlahnya, ada yg bisa diharapkan hadir secara kontinyu. Berempati sm para pebisnis yg terpaksa mengurangi karyawan, krn kurang pemasukan. Semoga badai segera berlalu. Aamiiinnn....
Spt biasa, membiasakan diskusi, hal ini juga dibicarakan sm si ganteng Aria. Krn dia pun sdh mulai paham belanja, jadi hrs ada konsensus bhw tahun ini nggak beli2 tas/sepatu/baju lagi. Kok ya ibu dan anak kesukaannya sama....
Jadi gue jelaskan efek pandemi korona ini pada perekonomian global. Lalu apa pengaruhnya ke ekonomi Indonesia, dan gimana kondisi dompet ibu. Gue tenangkan bahwa dia nggak perlu cemas, krn ibu masih punya gaji, dan juga ada tabungan yg Insya Allah cukup untuk kebutuhan primer. Apa saja yg primer? Sekolah dia, kebutuhan bulanan, makan dan transport... Insya Allah aman. Rumah ini pun baru saja lunas, jadi nggak perlu jadi pikiran lagi. Hanya mungkin rencana renovasi besar perlu dipertimbangkan lagi urgensinya. Gue bilang juga bhw uang saku dia jumlahnya akan tetap, tp sebaiknya dia hemat krn we never know how long this rainy days going to be.
Aria diam aja. Angguk2. Krn memang selama ini kebutuhan dia jg nggak banyak sih (selain belanja sepatu yg aduhai deh...).
Trus tiba2 setelah diam cukup lama, dia bilang, "Ayah gimana ya, Bu?"
Hmm... selain hanya bisa menjawab "I don't know" ... tiba2 seperti ada yg mencubit hatiku. Anak gue yg tampaknya cuek dan ga peduli... ternyata tetap memikirkan ayahnya. Dan itu menyadarkan gue soal perbedaan dlm hal ini. Buat gue, masalah dgn ayahnya anak gue mungkin sdh (gue anggap) selesai. Gue jg nggak mau lagi berurusan ttg apa pun sm dia. Tapi buat anak gue, ayahnya akan selalu ada, entah dia mau atau tidak. Buat anak gue, masalah ayahnya akan menjadi hal yg tidak pernah usai, bahkan mungkin meskipun urusan duniawi sudah selesai. Dan gue merasa berkewajiban mendampingi dia, membantunya saat dibutuhkan, tetap support.... Yah... akhirnya urusan gue sama mansu ga boleh kelar juga dong. Sigh.
Thursday, April 09, 2020
From the WFH Experience
Kemarin dibagi screen shot chat ibu2 yg emosi jiwa karena harus mengajari anaknya selama di rumah. Nemenin belajar, sambil sendirinya juga kerja, belum lagi beresin rumah, dll, dll, dll... memang bikin tekanan darah naik sih.
Gue bukan orang yang bisa kerja di rumah (dulunya). Rumah seperti sdh diatur untuk bergembira, leyeh2, dan bersenang2. Kebiasaan juga sampai rumah sdh teler banget utk bekerja, jadi memang hrs ada tingkat urgensi tinggi banget sampai gue bisa buka laptop di rumah. Pdh sebetulnya gue sdh siapkan meja merah di depan rak buku, yg enak banget untuk bekerja. Dekat jendela besar yg mengantar sinar matahari dan angin sepoi2....
Bahkan waktu Jakarta huru hara dan kantor tutup, gue memilih gotong laptop ke cafe. Biasanya sih ngajak2 temen bertengger setiaku... *wink*. Jadi sambil gelar laptop bisa gosip2 plus aleman dikit2 laaaah.... Kenapa harus keluar rumah? Krn bukan cuma gue yg nggak bisa kerja di rumah, orang2 rumah pun (oke... be specific... Eyang...) akan mengira bahwa kalau gue di rumah artinya gue nggak bekerja. Yg jadinya "boleh diganggu" benerin hp, rapihin lemari tv, atau bongkar gudang. Hmmm....
Tp ketika pandemi 2020 dan semua orang hrs social distancing lalu #dirumahaja.... ya mau nggak mau gue hrs gelar laptop di rumah. Perlu penyesuaian? Iya banget... juga perlu membiasakan bhw gue ini kerja... jadi please jangan tiba2 ada yg teriak minta tolong angkat jemuran....
Bisa kerja di rumah? Akhirnya bisa juga. Trus menemukan bahwa kalau lagi capek sekali bisa dapat hiburan lucu2 macam masuk dapur klutekan atau baca2 buku yg segudang ini yekaaaannn.... Kemarin malah ekstrim banget, krn di luar terlihat panas terang benderang... di antara dua zoom meeting, gue putuskan untuk nyuci sprei....
Akhirnya bisa efektif juga kok ini kerja di rumah. Meeting ini itu... termasuk bungkus perjanjian baru lewat zoom. Kemarin sempat assessment test juga 2 orang. Memang, lebih melelahkan krn selama meeting hrs melototin layar laptop dan kalau mau ngomong hrs nunggu giliran dgn sabar dan manis nggak bisa langsung jerit. Padahal kadang2 pengen langsung noyor.... hahaha....
Di ruangan lain, ada Aria yg juga SFH. Wah udahlah... kalau dia sih gue bebasin aja deh. Yg penting gurunya nggak colek2 gue krn anak gue lupa absen... dan yg penting tugas selesai. Mau bikinnya sambil telungkup, miring2 atau sambil ndlosor di perosotan... bebas. Sdh cukup ini gue rusuh dgn urusan kantor yg semacam neverending... nggak usahlah gue jadi berantem sm anak segala... apalagi sampai stress kyk ibu2 yg marah2 sm guru. Hahahaha.....
Pandemi korona kapan kelarnyaaaaa......
Gue bukan orang yang bisa kerja di rumah (dulunya). Rumah seperti sdh diatur untuk bergembira, leyeh2, dan bersenang2. Kebiasaan juga sampai rumah sdh teler banget utk bekerja, jadi memang hrs ada tingkat urgensi tinggi banget sampai gue bisa buka laptop di rumah. Pdh sebetulnya gue sdh siapkan meja merah di depan rak buku, yg enak banget untuk bekerja. Dekat jendela besar yg mengantar sinar matahari dan angin sepoi2....
Bahkan waktu Jakarta huru hara dan kantor tutup, gue memilih gotong laptop ke cafe. Biasanya sih ngajak2 temen bertengger setiaku... *wink*. Jadi sambil gelar laptop bisa gosip2 plus aleman dikit2 laaaah.... Kenapa harus keluar rumah? Krn bukan cuma gue yg nggak bisa kerja di rumah, orang2 rumah pun (oke... be specific... Eyang...) akan mengira bahwa kalau gue di rumah artinya gue nggak bekerja. Yg jadinya "boleh diganggu" benerin hp, rapihin lemari tv, atau bongkar gudang. Hmmm....
Tp ketika pandemi 2020 dan semua orang hrs social distancing lalu #dirumahaja.... ya mau nggak mau gue hrs gelar laptop di rumah. Perlu penyesuaian? Iya banget... juga perlu membiasakan bhw gue ini kerja... jadi please jangan tiba2 ada yg teriak minta tolong angkat jemuran....
Bisa kerja di rumah? Akhirnya bisa juga. Trus menemukan bahwa kalau lagi capek sekali bisa dapat hiburan lucu2 macam masuk dapur klutekan atau baca2 buku yg segudang ini yekaaaannn.... Kemarin malah ekstrim banget, krn di luar terlihat panas terang benderang... di antara dua zoom meeting, gue putuskan untuk nyuci sprei....
Akhirnya bisa efektif juga kok ini kerja di rumah. Meeting ini itu... termasuk bungkus perjanjian baru lewat zoom. Kemarin sempat assessment test juga 2 orang. Memang, lebih melelahkan krn selama meeting hrs melototin layar laptop dan kalau mau ngomong hrs nunggu giliran dgn sabar dan manis nggak bisa langsung jerit. Padahal kadang2 pengen langsung noyor.... hahaha....
Di ruangan lain, ada Aria yg juga SFH. Wah udahlah... kalau dia sih gue bebasin aja deh. Yg penting gurunya nggak colek2 gue krn anak gue lupa absen... dan yg penting tugas selesai. Mau bikinnya sambil telungkup, miring2 atau sambil ndlosor di perosotan... bebas. Sdh cukup ini gue rusuh dgn urusan kantor yg semacam neverending... nggak usahlah gue jadi berantem sm anak segala... apalagi sampai stress kyk ibu2 yg marah2 sm guru. Hahahaha.....
Pandemi korona kapan kelarnyaaaaa......
Wednesday, March 11, 2020
Memories
Diingatkan oleh FB bahwa 4 tahun lalu sempat berkelana masuk sebuah gua di daerah Kebumen. Guanya mungkin ga terlalu penting lagi, krn jadinya yg penting adalah dengan siapa masuknya. Duh.
Cerita lengkapnya ada di sini... dan sampai skrg masih terbayang serunya (rusuhnya) perjalanan itu.... But surely I still feel my blush when seeing him in the airport that exact morning.... ish....
Yg sangat disayangkan adalah pertemanan kami yg lalu berakhir bbrp bulan setelahnya. Beneran berakhir. Tuntas. Krn gue males. Males banget. Ternyata dia cukup mengecewakan. Yg gue tahu, dia memanfaatkan nama gue (dan teman gue) utk dapat diskonan dinner di hotel bintang 5 Jkt. Ya Allah. Segitunya mas? Jadi sepertinya dia mau memamerkan koneksi yg dia punya ke teman2 kantornya, dan dia sebutlah nama gue dan temen gue waktu reservasi, dgn harapan akan dapat harga khusus. Sebetulnya sdh ada paket khusus yg dibuatin sm temen gue itu (yg kebetulan salah satu direkturnya)... jadi mestinya dia nggak usah ribet. Tp namanya org mau pamer... sok2 mau kuasa... yg ada malah bikin malu.
Malu. Mungkin itu alasannya kenapa gue begitu marah. Apalagi, pertemanan dengan para hotelier itu kan gue mulai sejak lama sekali, masak gara2 diskonan 100rb trus bubar? Aku kesal....
Dan lebih kesal lagi krn dia tidak menyesal dan tidak minta maaf. Duh. Bye banget. Tuhan baik banget mengingatkan gue utk nggak dekat2 dgn dia sama sekali.
Anyway, perjalanan ke Goa Barat itu juga akhirnya mengingatkan pada telepon dari d-i-a. Sore2... tanpa dia ingat kalau gue sedang liburan. Trus waktu dia sadar, dia cemburu. Hahaha... tp justru sm dia, sampai skrg masih manis. Dan masih cinta. Ahahahaha... do you remember that as well?
Cerita lengkapnya ada di sini... dan sampai skrg masih terbayang serunya (rusuhnya) perjalanan itu.... But surely I still feel my blush when seeing him in the airport that exact morning.... ish....
Yg sangat disayangkan adalah pertemanan kami yg lalu berakhir bbrp bulan setelahnya. Beneran berakhir. Tuntas. Krn gue males. Males banget. Ternyata dia cukup mengecewakan. Yg gue tahu, dia memanfaatkan nama gue (dan teman gue) utk dapat diskonan dinner di hotel bintang 5 Jkt. Ya Allah. Segitunya mas? Jadi sepertinya dia mau memamerkan koneksi yg dia punya ke teman2 kantornya, dan dia sebutlah nama gue dan temen gue waktu reservasi, dgn harapan akan dapat harga khusus. Sebetulnya sdh ada paket khusus yg dibuatin sm temen gue itu (yg kebetulan salah satu direkturnya)... jadi mestinya dia nggak usah ribet. Tp namanya org mau pamer... sok2 mau kuasa... yg ada malah bikin malu.
Malu. Mungkin itu alasannya kenapa gue begitu marah. Apalagi, pertemanan dengan para hotelier itu kan gue mulai sejak lama sekali, masak gara2 diskonan 100rb trus bubar? Aku kesal....
Dan lebih kesal lagi krn dia tidak menyesal dan tidak minta maaf. Duh. Bye banget. Tuhan baik banget mengingatkan gue utk nggak dekat2 dgn dia sama sekali.
Anyway, perjalanan ke Goa Barat itu juga akhirnya mengingatkan pada telepon dari d-i-a. Sore2... tanpa dia ingat kalau gue sedang liburan. Trus waktu dia sadar, dia cemburu. Hahaha... tp justru sm dia, sampai skrg masih manis. Dan masih cinta. Ahahahaha... do you remember that as well?
Friday, February 21, 2020
Jangan Menghilang....
Kira2 16 tahun lalu, gue masih ngantor di Kuningan. Masih punya mertua kaya raya, jadi ke mana2 diantar mobil (yg bagus banget, seri yg lbh baru ketimbang yg dipakai CEO perusahaan gue waktu itu) dan supirnya. Tiap pagi rutin ngantor sambil menikmati kehamilan.
Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?
Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.
He has gone.
Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.
Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.
Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.
Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.
Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.
Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.
Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.
Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.
Apa akibatnya?
Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.
Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).
Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.
Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....
Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.
Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....
Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?
Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.
He has gone.
Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.
Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.
Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.
Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.
Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.
Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.
Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.
Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.
Apa akibatnya?
Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.
Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).
Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.
Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....
Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.
Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....
Subscribe to:
Posts (Atom)