Kemarin ada yg tanya, apa pendapat gue tentang new normal.
Hmmm... buat gue, nggak ada new normal. Gue nggak bisa terima. Ini tuh nggak normal.
Nggak normal karena kalau pulang kantor gue ga boleh langsung cium anak gue. Gue harus mandi dulu, keramas dulu, cuci baju... baru boleh peluk cium anak gue. Dan gue ngetik itu aja kok sedih. Tersiksa banget ternyata nggak bisa meluapkan afeksi dengan segera.
Nggak normal karena gue ga bisa sembarang semau gue ketemu sama orang2 yg gue sayang. Dan begitu ketemu pun ga bisa main peluk2. Harus jaga jarak, harus patuh protokol kesehatan. Apa2an tuh?
Nggak normal karena gue harus pakai masker kalau keluar rumah, termasuk kalau olahraga. Engap. Nggak suka.
Nggak normal karena kakak dan adik gue nggak bisa sesukanya mondar-mandir jengukin rumah BSD. Khawatir jadi carrier yg membahayakan nyokap.
Ini semua nggak normal.
Okay, gue mau nggak mau harus berdamai dgn ini. Gue patuhi semua protokol kesehatan. Gue rela nggak ketemu2 dulu sama orang2 yg gue sayang. Nggak ngantor. Nggak main ke mana2. Nggak liburan. Nggak olahraga di luar yg jauh2. Duduk manis di rumah. Ok. Gue berdamai dan gue jalani.
Tapi gue masih mau suatu saat kembali lagi ke normal. Hugging you tight and kissing you madly, one day.
Thursday, May 28, 2020
Wednesday, May 27, 2020
Happy Belated Birthday
Posting this on May 25, and the responds were awesome :)
Actually, May 25 was also a special day for another special someone. Yes, I got 2 boys celebrating their birthday on the same day. One is my brother, the other one is... what should I call him now? I am not so sure....
But still, I need to wish him happy birthday. Somewhere publicly... so he will know that I still remember his birthday. And I still care.
Happy birthday, dear you... you know who you are. Thank you for supporting me all along. Never be this far without your criticism/guidance/cynicalcomment/trust/LOVE.
Thank you.
Actually, May 25 was also a special day for another special someone. Yes, I got 2 boys celebrating their birthday on the same day. One is my brother, the other one is... what should I call him now? I am not so sure....
But still, I need to wish him happy birthday. Somewhere publicly... so he will know that I still remember his birthday. And I still care.
Happy birthday, dear you... you know who you are. Thank you for supporting me all along. Never be this far without your criticism/guidance/cynicalcomment/trust/LOVE.
Thank you.
Tuesday, May 26, 2020
Life Without You
Never imagine....
Since I thought our loves were the kind that only shared by just a few people. Weird enough, but cute as well.
I love you. You know who you are.
Since I thought our loves were the kind that only shared by just a few people. Weird enough, but cute as well.
I love you. You know who you are.
Sunday, May 17, 2020
Do You Need Other Reason?
...
Sometimes it's all so clear
There's a reason you
Are here
With me
Life has its ups and downs
But I'll get through
If I can stay with you
Forever
Who could have planned
That I would be
Such a lucky man
(Lucky Man, Dave Koz featuring Charles Pettigrew)
Sometimes it's all so clear
There's a reason you
Are here
With me
Life has its ups and downs
But I'll get through
If I can stay with you
Forever
Who could have planned
That I would be
Such a lucky man
(Lucky Man, Dave Koz featuring Charles Pettigrew)
Thursday, May 14, 2020
Naturally Yours
Tadi pagi, setelah sahur, ada yg tumben2an wa. Mmg kapan itu sempat rencana mau ketemu tp lalu ybs kena PSBB nggak bisa keluar dari kotanya (damned Corona). Gue pikir ya udahlah. Ternyata tadi pagi ngajak ngobrol panjang... mungkin dia hbs minum vitamin... hahaha....
Salah satu pertanyaannya adalah, "Selama ini, sejak bercerai, pernah seriously dating?"
Trus jadi ingat bahwa satu2nya yg bisa dianggap seriously dating ya sm OmD. Sekian lama? Iya. Hahaha... lama sekali....
Tp jadi ingat juga bahwa nggak pernah berencana untuk seriously dating sih. Membiarkan semua berjalan begitu saja, nggak pakai rekayasa, nggak pakai rencana. Awalnya kan ya kenalan biasa, berteman saja. Lalu semakin hari semakin dekat dan at one point merasa mulai ketergantungan satu sama lain. Trus mulai merasa harus bertanggung jawab. Tanpa dirancang untuk begitu, ketergantungan & tanggung jawab itulah yg akhirnya menelurkan rencana ini itu berhubungan dgn masa depan....
Bahwa akhirnya tidak sesuai rencana.... Ya berarti memang rencana kami nggak sesuai dgn rencana Sang Maha Planner....
Gitu sih.
Inilah satu postingan bosan WFH.
Salah satu pertanyaannya adalah, "Selama ini, sejak bercerai, pernah seriously dating?"
Trus jadi ingat bahwa satu2nya yg bisa dianggap seriously dating ya sm OmD. Sekian lama? Iya. Hahaha... lama sekali....
Tp jadi ingat juga bahwa nggak pernah berencana untuk seriously dating sih. Membiarkan semua berjalan begitu saja, nggak pakai rekayasa, nggak pakai rencana. Awalnya kan ya kenalan biasa, berteman saja. Lalu semakin hari semakin dekat dan at one point merasa mulai ketergantungan satu sama lain. Trus mulai merasa harus bertanggung jawab. Tanpa dirancang untuk begitu, ketergantungan & tanggung jawab itulah yg akhirnya menelurkan rencana ini itu berhubungan dgn masa depan....
Bahwa akhirnya tidak sesuai rencana.... Ya berarti memang rencana kami nggak sesuai dgn rencana Sang Maha Planner....
Gitu sih.
Inilah satu postingan bosan WFH.
Friday, May 01, 2020
The Marriage Story
Kelar nonton Marriage Story di Netflix... hmm... jadi berpikir2 lama... lama sekali....
Memang pernikahan bukan sesuatu yg mudah. Semua orang juga tahu. Kok ada yg nampak lancar2 aja menjalaninya? Ya itu mungkin rejeki. But still, we never know....
Dalam film itu, terlihat bahwa memang kerja keras perlu juga dilakukan dalam pernikahan... kalau mau selamat. Jadi mengenang kembali pernikahan 20 tahun silam... ternyata setelah diingat lagi, banyak banget PR yg nggak diberesin. Hiks.
Di Marriage Story, setelah sekian tahun menikah, pasangan itu baru sadar bahwa cinta saja nggak cukup. Mereka tetep perlu ruang untuk berkembang. Setelah sekian tahun menikah, baru sadar bahwa cinta yg menggebu itu membutakan nalar. Juga menghilangkan kewarasan. Dulu sih nggak apa2 kehilangan jati diri, semua jadi tergantung pasangan... tp lama2 kok capek, ya? Dulu sih seru2 aja ledek2an... tp lama2 kok ngeselin, ya? Dulu sih rasanya lucu lihat dia bangun tidur awut2an panik krn kesiangan... tp lama2 kok bosen lihat dia nggak jadi dewasa, ya? Dan yg penting adalah komunikasi. Di mana2 dibilang bahwa komunikasi dalam pernikahan penting banget nget nget nget.... Keren banget ini film bisa pas menggambarkan bahwa meskipun ada saling mengerti antara dua pihak... tetep aja kalau komunikasi nggak bener, jadi pincang krn berat sebelah. Dan ketika cinta itu nggak dijaga apinya... ya lama2 padam. Menjalankan pernikahan hanya sebagai sebuah kewajiban. Ujung2nya bosan... lalu memutuskan perlu tempat baru untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Yungalah... angel'e....
Trus jadi ingat banyak banget PR nggak dikumpulin, dulu itu... haiyoooohhh.... Dan skrg masih niat mau coba lagi? Yakin? Bener?
Mbuh ah....
Memang pernikahan bukan sesuatu yg mudah. Semua orang juga tahu. Kok ada yg nampak lancar2 aja menjalaninya? Ya itu mungkin rejeki. But still, we never know....
Dalam film itu, terlihat bahwa memang kerja keras perlu juga dilakukan dalam pernikahan... kalau mau selamat. Jadi mengenang kembali pernikahan 20 tahun silam... ternyata setelah diingat lagi, banyak banget PR yg nggak diberesin. Hiks.
Di Marriage Story, setelah sekian tahun menikah, pasangan itu baru sadar bahwa cinta saja nggak cukup. Mereka tetep perlu ruang untuk berkembang. Setelah sekian tahun menikah, baru sadar bahwa cinta yg menggebu itu membutakan nalar. Juga menghilangkan kewarasan. Dulu sih nggak apa2 kehilangan jati diri, semua jadi tergantung pasangan... tp lama2 kok capek, ya? Dulu sih seru2 aja ledek2an... tp lama2 kok ngeselin, ya? Dulu sih rasanya lucu lihat dia bangun tidur awut2an panik krn kesiangan... tp lama2 kok bosen lihat dia nggak jadi dewasa, ya? Dan yg penting adalah komunikasi. Di mana2 dibilang bahwa komunikasi dalam pernikahan penting banget nget nget nget.... Keren banget ini film bisa pas menggambarkan bahwa meskipun ada saling mengerti antara dua pihak... tetep aja kalau komunikasi nggak bener, jadi pincang krn berat sebelah. Dan ketika cinta itu nggak dijaga apinya... ya lama2 padam. Menjalankan pernikahan hanya sebagai sebuah kewajiban. Ujung2nya bosan... lalu memutuskan perlu tempat baru untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Yungalah... angel'e....
Trus jadi ingat banyak banget PR nggak dikumpulin, dulu itu... haiyoooohhh.... Dan skrg masih niat mau coba lagi? Yakin? Bener?
Mbuh ah....
Sunday, April 12, 2020
Granted Wish?
What if God grant you with whatever you ever wish?
Ada seorang teman dekat yg sudah beberapa tahun ini punya masalah dalam pernikahannya. Sebetulnya, masalah sudah ada sejak awal sekali. Kebetulan gue kenal dia (& pasangannya) sebelum mereka menikah. Dan memang dari dulu juga sdh terlihat bahwa ada "ketimpangan" di antara mereka, tp yaaa... rasanya cinta kan bisa mengalahkan apa saja ya?
Bener juga sih, masalah demi masalah dilewati dengan cinta itulah. Si mas ini seperti menggenapi stereotipe suku tertentu yg demen pesta dan punya pacar di mana. Duh. Tp yaaa... entah kenapa si mbak nrimo aja. Mereka punya anak banyak... seperti membuktikan bahwa mereka tetap saling cinta no matter what. Meskipun kalau buat gue sih... infidelity yg berkali2 bisa malesin juga... tp orang kan beda2 yaaaa....
Sepanjang pernikahan, setahu gue, si mbak yg menjadi bread winner. Menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak2. Kadang gembira, kadang cemas nggak punya uang, seringnya pasrah kalau cerita ke gue. Termasuk kalau dia lagi gemes krn nggak punya duit trus suaminya minta uang rokok. Sebisanya gue hanya menenangkan. Mengingatkan dia pada cintanya....
Sampai pd suatu hari si suami sakit. Kena serangan jantung ketika sedang tugas ke luar kota. Istri menyusul dong. Gedubrakan ke Rumah Sakit. Mendapati si suami belum sadarkan diri, ditemani pacarnya-yg-entah-siapa-lagi. Duh Gusti....
Mbak Istri nggak peduli. Tetap dengan manis menjalankan tugasnya sbg istri (yg sah). Mengurus suami yg sakit. Menunggui sampai sembuh. Lalu mereka kembali ke Jakarta.
Sejak itu, konon... mas suami menjadi lebih manis. Merasa bersalah dll dll... lagu lama sih. Krn dulu2 juga ketahuan selingkuh kok. Ini krn sampai masuk RS aja jd merasa bersalah banget? Semprul.
Yak betooolll... gue yg emosi duluan. "Gapapa... sudah takdir gue," kata si mbak. Dan mereka pun melanjutkan hidup (pernikahan).
Tp memang ya... kalau sdh dasarnya ngaco... ya ngaco aja. "Bertahan" setahun ayem2... selingkuh lagi dong mas suami. Tuhanku....
Si mbak sempat tanya2 soal perceraian ke gue. Yg jawaban gue sih standard aja: "Nggak enak prosesnya. Setelahnya juga nggak tahu ya. Gue menikmati, tapi bisa aja beda di kamu, mbak."
Akhirnya niat bercerai dilupakan. Dijalani saja, katanya. Syukurlah. Meskipun tetep selintas2 ada kata2, "Bodo amat... gue tinggalin aja." Yg intinya si mbak mempertimbangkan untuk lebih baik sendiri saja daripada berdua tapi nggak jelas. Atau kadang kalau sdh gemes banget, dia akan bilang, "Duh Gusti, monggo dipun pundhut mawon...."
Kalau gue sih, sudah jelas lah akan sangat mendukung misalnya si mbak mau berpisah. Secara finansial juga nggak ada masalah krn selama ini pun dia yang cari uang kok. Mereka tinggal di rumah warisan orang tua si mbak yg dulunya pejabat. Aman lah. Tapi sekali lagi... bukan gue yg berhak menyarankan apa2....
Kemudian siklus hidup si mbak dan si mas itu jadi semacam gini: selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai - selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai... gitu aja terus.... Gue tahu. Krn setiap sampai di "berantem", si mbak pasti cerita. Yang lalu dia akan bilang, "Bentar lagi pasti masuk RS. Percaya deh sm gue." Dan selalu tebakan itu benar. Melelahkan.
Bulan ini, si mbak ulang tahun. Dan tadi pagi gue dikabari kalau si mas meninggal dunia. Dalam tidur. Dengan tenang. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.
Krn sedang hrs social distancing, si mbak bikin pengumuman bhw dia sangat paham jika kami2 para sahabat tidak datang ke rumah duka. Bahkan dia khusus wa gue utk "Nggak usah ke sini ya Di. Udah, doakan saja. Maafkan masmu. Aku ikhlas. Aku cukup keras kepala ternyata, jadi bisa menemani dia smp akhir. Wis bar saiki, wis dipundhut sing kagungan."
Bikin mewek.
Gue semakin percaya bahwa Tuhan Maha Lucu. Komedian yang tiada tandingannya, yg memberi hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa buat si mbak.
Ada seorang teman dekat yg sudah beberapa tahun ini punya masalah dalam pernikahannya. Sebetulnya, masalah sudah ada sejak awal sekali. Kebetulan gue kenal dia (& pasangannya) sebelum mereka menikah. Dan memang dari dulu juga sdh terlihat bahwa ada "ketimpangan" di antara mereka, tp yaaa... rasanya cinta kan bisa mengalahkan apa saja ya?
Bener juga sih, masalah demi masalah dilewati dengan cinta itulah. Si mas ini seperti menggenapi stereotipe suku tertentu yg demen pesta dan punya pacar di mana. Duh. Tp yaaa... entah kenapa si mbak nrimo aja. Mereka punya anak banyak... seperti membuktikan bahwa mereka tetap saling cinta no matter what. Meskipun kalau buat gue sih... infidelity yg berkali2 bisa malesin juga... tp orang kan beda2 yaaaa....
Sepanjang pernikahan, setahu gue, si mbak yg menjadi bread winner. Menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak2. Kadang gembira, kadang cemas nggak punya uang, seringnya pasrah kalau cerita ke gue. Termasuk kalau dia lagi gemes krn nggak punya duit trus suaminya minta uang rokok. Sebisanya gue hanya menenangkan. Mengingatkan dia pada cintanya....
Sampai pd suatu hari si suami sakit. Kena serangan jantung ketika sedang tugas ke luar kota. Istri menyusul dong. Gedubrakan ke Rumah Sakit. Mendapati si suami belum sadarkan diri, ditemani pacarnya-yg-entah-siapa-lagi. Duh Gusti....
Mbak Istri nggak peduli. Tetap dengan manis menjalankan tugasnya sbg istri (yg sah). Mengurus suami yg sakit. Menunggui sampai sembuh. Lalu mereka kembali ke Jakarta.
Sejak itu, konon... mas suami menjadi lebih manis. Merasa bersalah dll dll... lagu lama sih. Krn dulu2 juga ketahuan selingkuh kok. Ini krn sampai masuk RS aja jd merasa bersalah banget? Semprul.
Yak betooolll... gue yg emosi duluan. "Gapapa... sudah takdir gue," kata si mbak. Dan mereka pun melanjutkan hidup (pernikahan).
Tp memang ya... kalau sdh dasarnya ngaco... ya ngaco aja. "Bertahan" setahun ayem2... selingkuh lagi dong mas suami. Tuhanku....
Si mbak sempat tanya2 soal perceraian ke gue. Yg jawaban gue sih standard aja: "Nggak enak prosesnya. Setelahnya juga nggak tahu ya. Gue menikmati, tapi bisa aja beda di kamu, mbak."
Akhirnya niat bercerai dilupakan. Dijalani saja, katanya. Syukurlah. Meskipun tetep selintas2 ada kata2, "Bodo amat... gue tinggalin aja." Yg intinya si mbak mempertimbangkan untuk lebih baik sendiri saja daripada berdua tapi nggak jelas. Atau kadang kalau sdh gemes banget, dia akan bilang, "Duh Gusti, monggo dipun pundhut mawon...."
Kalau gue sih, sudah jelas lah akan sangat mendukung misalnya si mbak mau berpisah. Secara finansial juga nggak ada masalah krn selama ini pun dia yang cari uang kok. Mereka tinggal di rumah warisan orang tua si mbak yg dulunya pejabat. Aman lah. Tapi sekali lagi... bukan gue yg berhak menyarankan apa2....
Kemudian siklus hidup si mbak dan si mas itu jadi semacam gini: selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai - selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai... gitu aja terus.... Gue tahu. Krn setiap sampai di "berantem", si mbak pasti cerita. Yang lalu dia akan bilang, "Bentar lagi pasti masuk RS. Percaya deh sm gue." Dan selalu tebakan itu benar. Melelahkan.
Bulan ini, si mbak ulang tahun. Dan tadi pagi gue dikabari kalau si mas meninggal dunia. Dalam tidur. Dengan tenang. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.
Krn sedang hrs social distancing, si mbak bikin pengumuman bhw dia sangat paham jika kami2 para sahabat tidak datang ke rumah duka. Bahkan dia khusus wa gue utk "Nggak usah ke sini ya Di. Udah, doakan saja. Maafkan masmu. Aku ikhlas. Aku cukup keras kepala ternyata, jadi bisa menemani dia smp akhir. Wis bar saiki, wis dipundhut sing kagungan."
Bikin mewek.
Gue semakin percaya bahwa Tuhan Maha Lucu. Komedian yang tiada tandingannya, yg memberi hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa buat si mbak.
Saturday, April 11, 2020
The Differences
Ini WFH... diperpanjang terus... dan lagi... dan lagi.... Seketika krisis ekonomi membayangi di ujung belokan.... Denger2 bbrp kantor mulai "efisiensi" yg seringkali artinya potong gaji. Yaaa... yg dipotong duluan gaji bos-nya pastinya....
Ok... masih bersyukur Alhamdulillah punya gaji. Berapa pun jumlahnya, ada yg bisa diharapkan hadir secara kontinyu. Berempati sm para pebisnis yg terpaksa mengurangi karyawan, krn kurang pemasukan. Semoga badai segera berlalu. Aamiiinnn....
Spt biasa, membiasakan diskusi, hal ini juga dibicarakan sm si ganteng Aria. Krn dia pun sdh mulai paham belanja, jadi hrs ada konsensus bhw tahun ini nggak beli2 tas/sepatu/baju lagi. Kok ya ibu dan anak kesukaannya sama....
Jadi gue jelaskan efek pandemi korona ini pada perekonomian global. Lalu apa pengaruhnya ke ekonomi Indonesia, dan gimana kondisi dompet ibu. Gue tenangkan bahwa dia nggak perlu cemas, krn ibu masih punya gaji, dan juga ada tabungan yg Insya Allah cukup untuk kebutuhan primer. Apa saja yg primer? Sekolah dia, kebutuhan bulanan, makan dan transport... Insya Allah aman. Rumah ini pun baru saja lunas, jadi nggak perlu jadi pikiran lagi. Hanya mungkin rencana renovasi besar perlu dipertimbangkan lagi urgensinya. Gue bilang juga bhw uang saku dia jumlahnya akan tetap, tp sebaiknya dia hemat krn we never know how long this rainy days going to be.
Aria diam aja. Angguk2. Krn memang selama ini kebutuhan dia jg nggak banyak sih (selain belanja sepatu yg aduhai deh...).
Trus tiba2 setelah diam cukup lama, dia bilang, "Ayah gimana ya, Bu?"
Hmm... selain hanya bisa menjawab "I don't know" ... tiba2 seperti ada yg mencubit hatiku. Anak gue yg tampaknya cuek dan ga peduli... ternyata tetap memikirkan ayahnya. Dan itu menyadarkan gue soal perbedaan dlm hal ini. Buat gue, masalah dgn ayahnya anak gue mungkin sdh (gue anggap) selesai. Gue jg nggak mau lagi berurusan ttg apa pun sm dia. Tapi buat anak gue, ayahnya akan selalu ada, entah dia mau atau tidak. Buat anak gue, masalah ayahnya akan menjadi hal yg tidak pernah usai, bahkan mungkin meskipun urusan duniawi sudah selesai. Dan gue merasa berkewajiban mendampingi dia, membantunya saat dibutuhkan, tetap support.... Yah... akhirnya urusan gue sama mansu ga boleh kelar juga dong. Sigh.
Ok... masih bersyukur Alhamdulillah punya gaji. Berapa pun jumlahnya, ada yg bisa diharapkan hadir secara kontinyu. Berempati sm para pebisnis yg terpaksa mengurangi karyawan, krn kurang pemasukan. Semoga badai segera berlalu. Aamiiinnn....
Spt biasa, membiasakan diskusi, hal ini juga dibicarakan sm si ganteng Aria. Krn dia pun sdh mulai paham belanja, jadi hrs ada konsensus bhw tahun ini nggak beli2 tas/sepatu/baju lagi. Kok ya ibu dan anak kesukaannya sama....
Jadi gue jelaskan efek pandemi korona ini pada perekonomian global. Lalu apa pengaruhnya ke ekonomi Indonesia, dan gimana kondisi dompet ibu. Gue tenangkan bahwa dia nggak perlu cemas, krn ibu masih punya gaji, dan juga ada tabungan yg Insya Allah cukup untuk kebutuhan primer. Apa saja yg primer? Sekolah dia, kebutuhan bulanan, makan dan transport... Insya Allah aman. Rumah ini pun baru saja lunas, jadi nggak perlu jadi pikiran lagi. Hanya mungkin rencana renovasi besar perlu dipertimbangkan lagi urgensinya. Gue bilang juga bhw uang saku dia jumlahnya akan tetap, tp sebaiknya dia hemat krn we never know how long this rainy days going to be.
Aria diam aja. Angguk2. Krn memang selama ini kebutuhan dia jg nggak banyak sih (selain belanja sepatu yg aduhai deh...).
Trus tiba2 setelah diam cukup lama, dia bilang, "Ayah gimana ya, Bu?"
Hmm... selain hanya bisa menjawab "I don't know" ... tiba2 seperti ada yg mencubit hatiku. Anak gue yg tampaknya cuek dan ga peduli... ternyata tetap memikirkan ayahnya. Dan itu menyadarkan gue soal perbedaan dlm hal ini. Buat gue, masalah dgn ayahnya anak gue mungkin sdh (gue anggap) selesai. Gue jg nggak mau lagi berurusan ttg apa pun sm dia. Tapi buat anak gue, ayahnya akan selalu ada, entah dia mau atau tidak. Buat anak gue, masalah ayahnya akan menjadi hal yg tidak pernah usai, bahkan mungkin meskipun urusan duniawi sudah selesai. Dan gue merasa berkewajiban mendampingi dia, membantunya saat dibutuhkan, tetap support.... Yah... akhirnya urusan gue sama mansu ga boleh kelar juga dong. Sigh.
Thursday, April 09, 2020
From the WFH Experience
Kemarin dibagi screen shot chat ibu2 yg emosi jiwa karena harus mengajari anaknya selama di rumah. Nemenin belajar, sambil sendirinya juga kerja, belum lagi beresin rumah, dll, dll, dll... memang bikin tekanan darah naik sih.
Gue bukan orang yang bisa kerja di rumah (dulunya). Rumah seperti sdh diatur untuk bergembira, leyeh2, dan bersenang2. Kebiasaan juga sampai rumah sdh teler banget utk bekerja, jadi memang hrs ada tingkat urgensi tinggi banget sampai gue bisa buka laptop di rumah. Pdh sebetulnya gue sdh siapkan meja merah di depan rak buku, yg enak banget untuk bekerja. Dekat jendela besar yg mengantar sinar matahari dan angin sepoi2....
Bahkan waktu Jakarta huru hara dan kantor tutup, gue memilih gotong laptop ke cafe. Biasanya sih ngajak2 temen bertengger setiaku... *wink*. Jadi sambil gelar laptop bisa gosip2 plus aleman dikit2 laaaah.... Kenapa harus keluar rumah? Krn bukan cuma gue yg nggak bisa kerja di rumah, orang2 rumah pun (oke... be specific... Eyang...) akan mengira bahwa kalau gue di rumah artinya gue nggak bekerja. Yg jadinya "boleh diganggu" benerin hp, rapihin lemari tv, atau bongkar gudang. Hmmm....
Tp ketika pandemi 2020 dan semua orang hrs social distancing lalu #dirumahaja.... ya mau nggak mau gue hrs gelar laptop di rumah. Perlu penyesuaian? Iya banget... juga perlu membiasakan bhw gue ini kerja... jadi please jangan tiba2 ada yg teriak minta tolong angkat jemuran....
Bisa kerja di rumah? Akhirnya bisa juga. Trus menemukan bahwa kalau lagi capek sekali bisa dapat hiburan lucu2 macam masuk dapur klutekan atau baca2 buku yg segudang ini yekaaaannn.... Kemarin malah ekstrim banget, krn di luar terlihat panas terang benderang... di antara dua zoom meeting, gue putuskan untuk nyuci sprei....
Akhirnya bisa efektif juga kok ini kerja di rumah. Meeting ini itu... termasuk bungkus perjanjian baru lewat zoom. Kemarin sempat assessment test juga 2 orang. Memang, lebih melelahkan krn selama meeting hrs melototin layar laptop dan kalau mau ngomong hrs nunggu giliran dgn sabar dan manis nggak bisa langsung jerit. Padahal kadang2 pengen langsung noyor.... hahaha....
Di ruangan lain, ada Aria yg juga SFH. Wah udahlah... kalau dia sih gue bebasin aja deh. Yg penting gurunya nggak colek2 gue krn anak gue lupa absen... dan yg penting tugas selesai. Mau bikinnya sambil telungkup, miring2 atau sambil ndlosor di perosotan... bebas. Sdh cukup ini gue rusuh dgn urusan kantor yg semacam neverending... nggak usahlah gue jadi berantem sm anak segala... apalagi sampai stress kyk ibu2 yg marah2 sm guru. Hahahaha.....
Pandemi korona kapan kelarnyaaaaa......
Gue bukan orang yang bisa kerja di rumah (dulunya). Rumah seperti sdh diatur untuk bergembira, leyeh2, dan bersenang2. Kebiasaan juga sampai rumah sdh teler banget utk bekerja, jadi memang hrs ada tingkat urgensi tinggi banget sampai gue bisa buka laptop di rumah. Pdh sebetulnya gue sdh siapkan meja merah di depan rak buku, yg enak banget untuk bekerja. Dekat jendela besar yg mengantar sinar matahari dan angin sepoi2....
Bahkan waktu Jakarta huru hara dan kantor tutup, gue memilih gotong laptop ke cafe. Biasanya sih ngajak2 temen bertengger setiaku... *wink*. Jadi sambil gelar laptop bisa gosip2 plus aleman dikit2 laaaah.... Kenapa harus keluar rumah? Krn bukan cuma gue yg nggak bisa kerja di rumah, orang2 rumah pun (oke... be specific... Eyang...) akan mengira bahwa kalau gue di rumah artinya gue nggak bekerja. Yg jadinya "boleh diganggu" benerin hp, rapihin lemari tv, atau bongkar gudang. Hmmm....
Tp ketika pandemi 2020 dan semua orang hrs social distancing lalu #dirumahaja.... ya mau nggak mau gue hrs gelar laptop di rumah. Perlu penyesuaian? Iya banget... juga perlu membiasakan bhw gue ini kerja... jadi please jangan tiba2 ada yg teriak minta tolong angkat jemuran....
Bisa kerja di rumah? Akhirnya bisa juga. Trus menemukan bahwa kalau lagi capek sekali bisa dapat hiburan lucu2 macam masuk dapur klutekan atau baca2 buku yg segudang ini yekaaaannn.... Kemarin malah ekstrim banget, krn di luar terlihat panas terang benderang... di antara dua zoom meeting, gue putuskan untuk nyuci sprei....
Akhirnya bisa efektif juga kok ini kerja di rumah. Meeting ini itu... termasuk bungkus perjanjian baru lewat zoom. Kemarin sempat assessment test juga 2 orang. Memang, lebih melelahkan krn selama meeting hrs melototin layar laptop dan kalau mau ngomong hrs nunggu giliran dgn sabar dan manis nggak bisa langsung jerit. Padahal kadang2 pengen langsung noyor.... hahaha....
Di ruangan lain, ada Aria yg juga SFH. Wah udahlah... kalau dia sih gue bebasin aja deh. Yg penting gurunya nggak colek2 gue krn anak gue lupa absen... dan yg penting tugas selesai. Mau bikinnya sambil telungkup, miring2 atau sambil ndlosor di perosotan... bebas. Sdh cukup ini gue rusuh dgn urusan kantor yg semacam neverending... nggak usahlah gue jadi berantem sm anak segala... apalagi sampai stress kyk ibu2 yg marah2 sm guru. Hahahaha.....
Pandemi korona kapan kelarnyaaaaa......
Wednesday, March 11, 2020
Memories
Diingatkan oleh FB bahwa 4 tahun lalu sempat berkelana masuk sebuah gua di daerah Kebumen. Guanya mungkin ga terlalu penting lagi, krn jadinya yg penting adalah dengan siapa masuknya. Duh.
Cerita lengkapnya ada di sini... dan sampai skrg masih terbayang serunya (rusuhnya) perjalanan itu.... But surely I still feel my blush when seeing him in the airport that exact morning.... ish....
Yg sangat disayangkan adalah pertemanan kami yg lalu berakhir bbrp bulan setelahnya. Beneran berakhir. Tuntas. Krn gue males. Males banget. Ternyata dia cukup mengecewakan. Yg gue tahu, dia memanfaatkan nama gue (dan teman gue) utk dapat diskonan dinner di hotel bintang 5 Jkt. Ya Allah. Segitunya mas? Jadi sepertinya dia mau memamerkan koneksi yg dia punya ke teman2 kantornya, dan dia sebutlah nama gue dan temen gue waktu reservasi, dgn harapan akan dapat harga khusus. Sebetulnya sdh ada paket khusus yg dibuatin sm temen gue itu (yg kebetulan salah satu direkturnya)... jadi mestinya dia nggak usah ribet. Tp namanya org mau pamer... sok2 mau kuasa... yg ada malah bikin malu.
Malu. Mungkin itu alasannya kenapa gue begitu marah. Apalagi, pertemanan dengan para hotelier itu kan gue mulai sejak lama sekali, masak gara2 diskonan 100rb trus bubar? Aku kesal....
Dan lebih kesal lagi krn dia tidak menyesal dan tidak minta maaf. Duh. Bye banget. Tuhan baik banget mengingatkan gue utk nggak dekat2 dgn dia sama sekali.
Anyway, perjalanan ke Goa Barat itu juga akhirnya mengingatkan pada telepon dari d-i-a. Sore2... tanpa dia ingat kalau gue sedang liburan. Trus waktu dia sadar, dia cemburu. Hahaha... tp justru sm dia, sampai skrg masih manis. Dan masih cinta. Ahahahaha... do you remember that as well?
Cerita lengkapnya ada di sini... dan sampai skrg masih terbayang serunya (rusuhnya) perjalanan itu.... But surely I still feel my blush when seeing him in the airport that exact morning.... ish....
Yg sangat disayangkan adalah pertemanan kami yg lalu berakhir bbrp bulan setelahnya. Beneran berakhir. Tuntas. Krn gue males. Males banget. Ternyata dia cukup mengecewakan. Yg gue tahu, dia memanfaatkan nama gue (dan teman gue) utk dapat diskonan dinner di hotel bintang 5 Jkt. Ya Allah. Segitunya mas? Jadi sepertinya dia mau memamerkan koneksi yg dia punya ke teman2 kantornya, dan dia sebutlah nama gue dan temen gue waktu reservasi, dgn harapan akan dapat harga khusus. Sebetulnya sdh ada paket khusus yg dibuatin sm temen gue itu (yg kebetulan salah satu direkturnya)... jadi mestinya dia nggak usah ribet. Tp namanya org mau pamer... sok2 mau kuasa... yg ada malah bikin malu.
Malu. Mungkin itu alasannya kenapa gue begitu marah. Apalagi, pertemanan dengan para hotelier itu kan gue mulai sejak lama sekali, masak gara2 diskonan 100rb trus bubar? Aku kesal....
Dan lebih kesal lagi krn dia tidak menyesal dan tidak minta maaf. Duh. Bye banget. Tuhan baik banget mengingatkan gue utk nggak dekat2 dgn dia sama sekali.
Anyway, perjalanan ke Goa Barat itu juga akhirnya mengingatkan pada telepon dari d-i-a. Sore2... tanpa dia ingat kalau gue sedang liburan. Trus waktu dia sadar, dia cemburu. Hahaha... tp justru sm dia, sampai skrg masih manis. Dan masih cinta. Ahahahaha... do you remember that as well?
Friday, February 21, 2020
Jangan Menghilang....
Kira2 16 tahun lalu, gue masih ngantor di Kuningan. Masih punya mertua kaya raya, jadi ke mana2 diantar mobil (yg bagus banget, seri yg lbh baru ketimbang yg dipakai CEO perusahaan gue waktu itu) dan supirnya. Tiap pagi rutin ngantor sambil menikmati kehamilan.
Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?
Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.
He has gone.
Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.
Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.
Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.
Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.
Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.
Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.
Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.
Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.
Apa akibatnya?
Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.
Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).
Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.
Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....
Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.
Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....
Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?
Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.
He has gone.
Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.
Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.
Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.
Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.
Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.
Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.
Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.
Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.
Apa akibatnya?
Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.
Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).
Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.
Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....
Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.
Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....
Tuesday, February 11, 2020
Monday, February 10, 2020
Draft Berikutnya 6
"Perasaan progress-nya lama banget."
"Ya... gimana...."
"Sebenernya berminat enggak sih?"
"Kan sudah dibilang... gue enggak punya trauma apa-apa. Gue nggak pengen yang aneh-aneh. Gue nggak pengen yang gimana-gimana...."
"Tapi masak selama ini nggak ada yang nyangkut...."
"Macam-macam alasannya...."
"Pasti... pasti... karena benchmark yang sudah tinggi banget. Gara-gara cowok lu itu...."
"Ya enggak hanya karena itu sih... meskipun... mau nggak mau memang selalu dibandingkan sama dia."
"Nah kan...."
"Ya... tapi gimana...."
"Harusnya mungkin lu lebih... lebih apa ya.... Gimana, gitu?"
"Gimana?"
"Lu kan baik hati. Manis. Penyayang...."
"Rasanya sih bukan tugas gue membuktikan bahwa gue ini seperti yang lu bilang. Ya kan?"
"Ya... gimana...."
"Sebenernya berminat enggak sih?"
"Kan sudah dibilang... gue enggak punya trauma apa-apa. Gue nggak pengen yang aneh-aneh. Gue nggak pengen yang gimana-gimana...."
"Tapi masak selama ini nggak ada yang nyangkut...."
"Macam-macam alasannya...."
"Pasti... pasti... karena benchmark yang sudah tinggi banget. Gara-gara cowok lu itu...."
"Ya enggak hanya karena itu sih... meskipun... mau nggak mau memang selalu dibandingkan sama dia."
"Nah kan...."
"Ya... tapi gimana...."
"Harusnya mungkin lu lebih... lebih apa ya.... Gimana, gitu?"
"Gimana?"
"Lu kan baik hati. Manis. Penyayang...."
"Rasanya sih bukan tugas gue membuktikan bahwa gue ini seperti yang lu bilang. Ya kan?"
Sunday, February 09, 2020
The Devil is in Detail
So. Here. They. Are.
... and when every details lead me to you.... what can I do?
Saturday, February 08, 2020
Draft Berikutnya 5
"Ikut dating apps?"
"Nggak usah melotot. Coba aja. Siapa tahu berhasil."
"Nggak jelas siapa aja yang di situ."
"Di dunia ini memang ada yang jelas?"
"Duh pedes."
"Iya, karetnya dua."
"Bawel."
"Gue kasihan lihat elu sendirian ke mana-mana. Cakep-cakep kok nggak punya pasangan."
"Sialan."
"Seriuuuussss... ayolah daftar aja. Iseng-iseng berhadiah."
"Kalau ketemu scammer?"
"Ya jangan diladenin. Elu kan pinter. Masak nggak bisa bedain scammer sama mas ganteng."
"Matahari gimana?"
"Anak lu? Yah nanti aja dipikir kalau sudah ada mas gantengnya...."
"Nggak usah melotot. Coba aja. Siapa tahu berhasil."
"Nggak jelas siapa aja yang di situ."
"Di dunia ini memang ada yang jelas?"
"Duh pedes."
"Iya, karetnya dua."
"Bawel."
"Gue kasihan lihat elu sendirian ke mana-mana. Cakep-cakep kok nggak punya pasangan."
"Sialan."
"Seriuuuussss... ayolah daftar aja. Iseng-iseng berhadiah."
"Kalau ketemu scammer?"
"Ya jangan diladenin. Elu kan pinter. Masak nggak bisa bedain scammer sama mas ganteng."
"Matahari gimana?"
"Anak lu? Yah nanti aja dipikir kalau sudah ada mas gantengnya...."
Friday, February 07, 2020
I Wish, Over and Over Again
Dalam harapku
Dan inginku
Kau ada di sana
Di setiap langkahku
Dan mimpiku
Kau ada di sana
Mungkin suatu saat nanti
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Kaulah hasratku
Dan cintaku
Kaulah segalanya
Izinkan diriku
Bersamamu
Karena sesungguhnya
Kurindukan dekapanmu
Kujanjikan setia
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Dan cintaku
Kaulah segalanya
Izinkan diriku
Bersamamu
Karena sesungguhnya
Kurindukan dekapanmu
Kujanjikan setia
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Meski ku dan dirinya terpisah jarak dan waktu
Namun kuyakin dirimu hanya untukku
Namun kuyakin dirimu hanya untukku
Tak perlu kau ragu kasih
Kuyakin cinta kita kan abadi dan indah pada waktunya
Kuyakin cinta kita kan abadi dan indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Jaga dirinya
Aku menunggu
Hingga dirimu dan diriku
Jaga dirinya
Aku menunggu
Hingga dirimu dan diriku
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Indah Pada Waktunya
Thursday, February 06, 2020
Draft Berikutnya 4
Debar dadaku sepertinya begitu kencang, hingga akan terdengar oleh orang yang berdiri di depanku. Aku berhenti di depan pintu restoran Indonesia di sebuah mal. Sekali lagi kubaca pesan singkat di ponselku.
"Saya di meja nomor 31. Baju putih, celana cokelat."
Mataku menyapu seluruh ruang dan dengan mudah menemukan meja yang dimaksud. Itu pasti dia. Dia menyebutkan bahwa tubuhnya tinggi besar. Dan ya, memang betul, sosok itu memenuhi satu kursi, kakinya terlihat terlalu panjang di bawah meja. Wajahnya tak tampak jelas karena penerangan restoran yang remang. Tapi hidung bagus dan kulit putih tetap terlihat dari kejauhan. Tampan.
Aku sedikit ragu. Kuteliti lagi penampilanku. Celana khaki dan atasan putih ini seharusnya tidak mengecewakan. Sneakers sudah kutinggal di mobil. Berganti sepatu tinggi warna pink muda, senada dengan tas tangan kecil dalam genggamanku. Sekilas kuintip pantulan wajahku di kaca pintu. Lumayan lah.
Ini akan menjadi kali pertama kami bertemu, setelah selama sekitar dua minggu hanya saling bertukar pesan pendek. Bagiku, ini juga kali pertama aku bertemu seseorang yang kukenal lewat aplikasi kencan. Belum pernah mengalaminya, aku tak yakin apa yang harus aku lakukan.
"Selamat malam," sapaku saat sudah cukup dekat dengan meja nomor 31. Bagaimana pun, aku berusaha keras terdengar ceria dan ramah, menyembunyikan resah hatiku yang sangat mengganggu.
Dia mengangkat wajah. Senyum lebar segera tersuguh. Duh... tampan sekali.
"Hai. Saya Prasetya. Okay... hmm... kamu sudah tahu nama saya, ya...," dia tampak tersipu, lalu segera berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman. "Have a seat," katanya sambil menarik salah satu kursi untukku.
"Terima kasih," kataku sambil duduk. Setelah membetulkan kursiku, dia kembali ke kursinya. Samar, aroma parfum yang lembut membelai hidungku.
"Sudah pesan makanan?" aku kehilangan kata melihat wajahnya yang jauh lebih tampan ketimbang di foto profil yang selama ini kulihat. Resah, kubuka buku menu untuk menyalurkan debar di dadaku yang semakin kencang.
"Belum. Menunggu kamu," katanya ramah.
"Maaf menunggu. Saya tertahan sesuatu di kantor."
"No worries. Saya belum lama, kok," jawabnya sambil melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Kami mau pesan, mas." Lalu kepadaku, dia berkata, "Kamu jauh lebih cantik daripada fotomu."
Tiba-tiba lidahku seperti kelu.
"Saya di meja nomor 31. Baju putih, celana cokelat."
Mataku menyapu seluruh ruang dan dengan mudah menemukan meja yang dimaksud. Itu pasti dia. Dia menyebutkan bahwa tubuhnya tinggi besar. Dan ya, memang betul, sosok itu memenuhi satu kursi, kakinya terlihat terlalu panjang di bawah meja. Wajahnya tak tampak jelas karena penerangan restoran yang remang. Tapi hidung bagus dan kulit putih tetap terlihat dari kejauhan. Tampan.
Aku sedikit ragu. Kuteliti lagi penampilanku. Celana khaki dan atasan putih ini seharusnya tidak mengecewakan. Sneakers sudah kutinggal di mobil. Berganti sepatu tinggi warna pink muda, senada dengan tas tangan kecil dalam genggamanku. Sekilas kuintip pantulan wajahku di kaca pintu. Lumayan lah.
Ini akan menjadi kali pertama kami bertemu, setelah selama sekitar dua minggu hanya saling bertukar pesan pendek. Bagiku, ini juga kali pertama aku bertemu seseorang yang kukenal lewat aplikasi kencan. Belum pernah mengalaminya, aku tak yakin apa yang harus aku lakukan.
"Selamat malam," sapaku saat sudah cukup dekat dengan meja nomor 31. Bagaimana pun, aku berusaha keras terdengar ceria dan ramah, menyembunyikan resah hatiku yang sangat mengganggu.
Dia mengangkat wajah. Senyum lebar segera tersuguh. Duh... tampan sekali.
"Hai. Saya Prasetya. Okay... hmm... kamu sudah tahu nama saya, ya...," dia tampak tersipu, lalu segera berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman. "Have a seat," katanya sambil menarik salah satu kursi untukku.
"Terima kasih," kataku sambil duduk. Setelah membetulkan kursiku, dia kembali ke kursinya. Samar, aroma parfum yang lembut membelai hidungku.
"Sudah pesan makanan?" aku kehilangan kata melihat wajahnya yang jauh lebih tampan ketimbang di foto profil yang selama ini kulihat. Resah, kubuka buku menu untuk menyalurkan debar di dadaku yang semakin kencang.
"Belum. Menunggu kamu," katanya ramah.
"Maaf menunggu. Saya tertahan sesuatu di kantor."
"No worries. Saya belum lama, kok," jawabnya sambil melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Kami mau pesan, mas." Lalu kepadaku, dia berkata, "Kamu jauh lebih cantik daripada fotomu."
Tiba-tiba lidahku seperti kelu.
Wednesday, February 05, 2020
Draft Berikutnya 3
Aku agak terkejut mendapati berkas-berkas di dalam tas yang ada di jok belakang mobilku. Di kepala suratnya, tertera nama klinik fertilitas ternama. Sekilas saja, aku tahu bahwa itu adalah rekam medis milik pasien. Yang membuatku nyaris tersedak adalah nama yang tertulis di sampulnya: Prasetya Andika. Kemarin, Pras memang meminjam mobilku.
"Jadi kamu masih berminat punya anak?"
"Kamu?"
"Nope."
"Hmm... karena kamu sudah punya...."
"Iya. Mungkin itu ya...."
"Maksudmu?"
"Saya paham kalau kamu masih ingin berusaha. Wajar."
"Memang tidak akan mudah...."
Kami pernah membicarakan hal ini sekilas. Bahkan di beberapa kesempatan. Di antara kopi dan kue keju dan tumpukan pekerjaan. Aku dan Pras memang tidak pernah serius membicarakan kebersamaan kami. Mengapa? Aku tidak tahu. Sepertinya karena kami paham bahwa sebetulnya tujuan perjalanan kami berbeda. Tapi kami sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan berdua.
Salah satu perbedaannya adalah tentang keturunan. Dari awal perkenalan, kami tahu, masing-masing dari kami pernah menikah. Bedanya, aku punya Matahari. Sementara Pras belum memiliki anak.
"Saya tidak seberuntung kamu," katanya suatu kali.
"Atau mungkin malah lebih beruntung."
"Maksudmu?"
"Punya anak bukan perkara mudah. Tidak hanya tanggung jawab finansial yang harus dipikirkan, tapi juga perkara mendidik dan membesarkan dia. Lalu menerima dia apa adanya.... Kamu tahu? Anak tidak selamanya membahagiakan kita. Dia kadang melakukan hal-hal yang mengecewakan, membuat kita sedih, yang harus kita hadapi. Bukan hal yang sederhana."
"Saya tahu. Tapi bukankah manusiawi bahwa setiap orang ingin punya keturunan?"
"Ya. Dan saya tahu kamu pasti sudah berusaha."
"Ke klinik, maksudmu? Iya, tapi tahapan penyembuhannya belum selesai."
"Kamu ingin lanjutkan?"
"I don't know."
Menemukan rekam medis itu, aku paham bahwa Pras sedang melanjutkan proses pengobatan alat reproduksinya. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku. Aku sangat sadar, bukan aku orang yang tepat mendampingi Pras di masa depan, jika ia masih menginginkan memiliki darah dagingnya sendiri.
"Jadi kamu masih berminat punya anak?"
"Kamu?"
"Nope."
"Hmm... karena kamu sudah punya...."
"Iya. Mungkin itu ya...."
"Maksudmu?"
"Saya paham kalau kamu masih ingin berusaha. Wajar."
"Memang tidak akan mudah...."
Kami pernah membicarakan hal ini sekilas. Bahkan di beberapa kesempatan. Di antara kopi dan kue keju dan tumpukan pekerjaan. Aku dan Pras memang tidak pernah serius membicarakan kebersamaan kami. Mengapa? Aku tidak tahu. Sepertinya karena kami paham bahwa sebetulnya tujuan perjalanan kami berbeda. Tapi kami sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan berdua.
Salah satu perbedaannya adalah tentang keturunan. Dari awal perkenalan, kami tahu, masing-masing dari kami pernah menikah. Bedanya, aku punya Matahari. Sementara Pras belum memiliki anak.
"Saya tidak seberuntung kamu," katanya suatu kali.
"Atau mungkin malah lebih beruntung."
"Maksudmu?"
"Punya anak bukan perkara mudah. Tidak hanya tanggung jawab finansial yang harus dipikirkan, tapi juga perkara mendidik dan membesarkan dia. Lalu menerima dia apa adanya.... Kamu tahu? Anak tidak selamanya membahagiakan kita. Dia kadang melakukan hal-hal yang mengecewakan, membuat kita sedih, yang harus kita hadapi. Bukan hal yang sederhana."
"Saya tahu. Tapi bukankah manusiawi bahwa setiap orang ingin punya keturunan?"
"Ya. Dan saya tahu kamu pasti sudah berusaha."
"Ke klinik, maksudmu? Iya, tapi tahapan penyembuhannya belum selesai."
"Kamu ingin lanjutkan?"
"I don't know."
Menemukan rekam medis itu, aku paham bahwa Pras sedang melanjutkan proses pengobatan alat reproduksinya. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku. Aku sangat sadar, bukan aku orang yang tepat mendampingi Pras di masa depan, jika ia masih menginginkan memiliki darah dagingnya sendiri.
Tuesday, February 04, 2020
Draft Berikutnya 2
"Jadi kami terpaksa berhenti di tempat itu, lalu susah payah memundurkan mobil yang terjepit. Ah... siapa bilang kompas digital memudahkan hidup? Beberapa kali kami disesatkannya!"
Pras tergelak. Mengenang kembali perjalanannya Jakarta-Bali mengendarai mobil.
Mengamatinya ketika bercakap, melihat matanya mengerjap berbinar... aku tak bisa membendung gembira akibat tertular keceriaannya. Sulit menahan rasa di dadaku. Apa nama rasa itu? Terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang keluar dari dalam dada. Tiba-tiba aku merasa ujung-ujung jariku kebas. Ini apa?
Rasanya sudah lama sekali saat aku terakhir merasakan hal ini. Duduk bersisian. Tertawa bersama. Membiarkannya menggenggam tanganku. Hatiku terasa aman dan tenteram. Getar rasa ajaib itu lalu menjalari bahu, hingga punggungku. Membuatku ingin bersandar. Sambil tersenyum.
Tiba-tiba aku ingat lagi apa nama rasa itu: bahagia.
Pras tergelak. Mengenang kembali perjalanannya Jakarta-Bali mengendarai mobil.
Mengamatinya ketika bercakap, melihat matanya mengerjap berbinar... aku tak bisa membendung gembira akibat tertular keceriaannya. Sulit menahan rasa di dadaku. Apa nama rasa itu? Terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang keluar dari dalam dada. Tiba-tiba aku merasa ujung-ujung jariku kebas. Ini apa?
Rasanya sudah lama sekali saat aku terakhir merasakan hal ini. Duduk bersisian. Tertawa bersama. Membiarkannya menggenggam tanganku. Hatiku terasa aman dan tenteram. Getar rasa ajaib itu lalu menjalari bahu, hingga punggungku. Membuatku ingin bersandar. Sambil tersenyum.
Tiba-tiba aku ingat lagi apa nama rasa itu: bahagia.
Sunday, February 02, 2020
Draft Berikutnya
Nomornya berpendar di layar ponsel. Segera kujawab dengan senyum lebar.
"Halo!"
"Mau makan siang sama saya?"
"Mau!"
Jawaban yang keluar dari mulutku lebih cepat dari kemampuan otakku berpikir dan mencerna pertanyaannya.
"Share location, ya. Saya jemput."
Dan tak berapa lama, hanya cukup memberi waktu bagiku mengganti baju saja, hadirlah dia di depan rumahku. Memarkir mobil dengan rapi, lalu turun tanpa mematikan mesin. Tubuhnya yang tinggi besar terbungkus kemeja warna hitam. Kacamata hitam bertengger di wajahnya. Tampan.
"Kamu mau masuk dulu?"
"Nggak. Kita langsung saja. Nggak ada Ibu, kan?"
"Nggak. Ya lalu kenapa turun?"
Pertanyaanku mengambang di udara.
Setelah memastikan aku mengunci pintu, dia gandeng tanganku. Membukakan pintu kendaraan, lalu menungguku masuk mobilnya sebelum menutup pintu dan berjalan ke balik kemudi.
"Itu kebiasaan saya."
Aku terpana. Hatiku tercuri sudah. Seluruhnya.
"Halo!"
"Mau makan siang sama saya?"
"Mau!"
Jawaban yang keluar dari mulutku lebih cepat dari kemampuan otakku berpikir dan mencerna pertanyaannya.
"Share location, ya. Saya jemput."
Dan tak berapa lama, hanya cukup memberi waktu bagiku mengganti baju saja, hadirlah dia di depan rumahku. Memarkir mobil dengan rapi, lalu turun tanpa mematikan mesin. Tubuhnya yang tinggi besar terbungkus kemeja warna hitam. Kacamata hitam bertengger di wajahnya. Tampan.
"Kamu mau masuk dulu?"
"Nggak. Kita langsung saja. Nggak ada Ibu, kan?"
"Nggak. Ya lalu kenapa turun?"
Pertanyaanku mengambang di udara.
Setelah memastikan aku mengunci pintu, dia gandeng tanganku. Membukakan pintu kendaraan, lalu menungguku masuk mobilnya sebelum menutup pintu dan berjalan ke balik kemudi.
"Itu kebiasaan saya."
Aku terpana. Hatiku tercuri sudah. Seluruhnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)