What if God grant you with whatever you ever wish?
Ada seorang teman dekat yg sudah beberapa tahun ini punya masalah dalam pernikahannya. Sebetulnya, masalah sudah ada sejak awal sekali. Kebetulan gue kenal dia (& pasangannya) sebelum mereka menikah. Dan memang dari dulu juga sdh terlihat bahwa ada "ketimpangan" di antara mereka, tp yaaa... rasanya cinta kan bisa mengalahkan apa saja ya?
Bener juga sih, masalah demi masalah dilewati dengan cinta itulah. Si mas ini seperti menggenapi stereotipe suku tertentu yg demen pesta dan punya pacar di mana. Duh. Tp yaaa... entah kenapa si mbak nrimo aja. Mereka punya anak banyak... seperti membuktikan bahwa mereka tetap saling cinta no matter what. Meskipun kalau buat gue sih... infidelity yg berkali2 bisa malesin juga... tp orang kan beda2 yaaaa....
Sepanjang pernikahan, setahu gue, si mbak yg menjadi bread winner. Menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak2. Kadang gembira, kadang cemas nggak punya uang, seringnya pasrah kalau cerita ke gue. Termasuk kalau dia lagi gemes krn nggak punya duit trus suaminya minta uang rokok. Sebisanya gue hanya menenangkan. Mengingatkan dia pada cintanya....
Sampai pd suatu hari si suami sakit. Kena serangan jantung ketika sedang tugas ke luar kota. Istri menyusul dong. Gedubrakan ke Rumah Sakit. Mendapati si suami belum sadarkan diri, ditemani pacarnya-yg-entah-siapa-lagi. Duh Gusti....
Mbak Istri nggak peduli. Tetap dengan manis menjalankan tugasnya sbg istri (yg sah). Mengurus suami yg sakit. Menunggui sampai sembuh. Lalu mereka kembali ke Jakarta.
Sejak itu, konon... mas suami menjadi lebih manis. Merasa bersalah dll dll... lagu lama sih. Krn dulu2 juga ketahuan selingkuh kok. Ini krn sampai masuk RS aja jd merasa bersalah banget? Semprul.
Yak betooolll... gue yg emosi duluan. "Gapapa... sudah takdir gue," kata si mbak. Dan mereka pun melanjutkan hidup (pernikahan).
Tp memang ya... kalau sdh dasarnya ngaco... ya ngaco aja. "Bertahan" setahun ayem2... selingkuh lagi dong mas suami. Tuhanku....
Si mbak sempat tanya2 soal perceraian ke gue. Yg jawaban gue sih standard aja: "Nggak enak prosesnya. Setelahnya juga nggak tahu ya. Gue menikmati, tapi bisa aja beda di kamu, mbak."
Akhirnya niat bercerai dilupakan. Dijalani saja, katanya. Syukurlah. Meskipun tetep selintas2 ada kata2, "Bodo amat... gue tinggalin aja." Yg intinya si mbak mempertimbangkan untuk lebih baik sendiri saja daripada berdua tapi nggak jelas. Atau kadang kalau sdh gemes banget, dia akan bilang, "Duh Gusti, monggo dipun pundhut mawon...."
Kalau gue sih, sudah jelas lah akan sangat mendukung misalnya si mbak mau berpisah. Secara finansial juga nggak ada masalah krn selama ini pun dia yang cari uang kok. Mereka tinggal di rumah warisan orang tua si mbak yg dulunya pejabat. Aman lah. Tapi sekali lagi... bukan gue yg berhak menyarankan apa2....
Kemudian siklus hidup si mbak dan si mas itu jadi semacam gini: selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai - selingkuh - berantem - masuk rumah sakit - insaf - damai... gitu aja terus.... Gue tahu. Krn setiap sampai di "berantem", si mbak pasti cerita. Yang lalu dia akan bilang, "Bentar lagi pasti masuk RS. Percaya deh sm gue." Dan selalu tebakan itu benar. Melelahkan.
Bulan ini, si mbak ulang tahun. Dan tadi pagi gue dikabari kalau si mas meninggal dunia. Dalam tidur. Dengan tenang. Innalillahi wa innailaihi rojiuun.
Krn sedang hrs social distancing, si mbak bikin pengumuman bhw dia sangat paham jika kami2 para sahabat tidak datang ke rumah duka. Bahkan dia khusus wa gue utk "Nggak usah ke sini ya Di. Udah, doakan saja. Maafkan masmu. Aku ikhlas. Aku cukup keras kepala ternyata, jadi bisa menemani dia smp akhir. Wis bar saiki, wis dipundhut sing kagungan."
Bikin mewek.
Gue semakin percaya bahwa Tuhan Maha Lucu. Komedian yang tiada tandingannya, yg memberi hadiah ulang tahun yang sangat luar biasa buat si mbak.
Sunday, April 12, 2020
Saturday, April 11, 2020
The Differences
Ini WFH... diperpanjang terus... dan lagi... dan lagi.... Seketika krisis ekonomi membayangi di ujung belokan.... Denger2 bbrp kantor mulai "efisiensi" yg seringkali artinya potong gaji. Yaaa... yg dipotong duluan gaji bos-nya pastinya....
Ok... masih bersyukur Alhamdulillah punya gaji. Berapa pun jumlahnya, ada yg bisa diharapkan hadir secara kontinyu. Berempati sm para pebisnis yg terpaksa mengurangi karyawan, krn kurang pemasukan. Semoga badai segera berlalu. Aamiiinnn....
Spt biasa, membiasakan diskusi, hal ini juga dibicarakan sm si ganteng Aria. Krn dia pun sdh mulai paham belanja, jadi hrs ada konsensus bhw tahun ini nggak beli2 tas/sepatu/baju lagi. Kok ya ibu dan anak kesukaannya sama....
Jadi gue jelaskan efek pandemi korona ini pada perekonomian global. Lalu apa pengaruhnya ke ekonomi Indonesia, dan gimana kondisi dompet ibu. Gue tenangkan bahwa dia nggak perlu cemas, krn ibu masih punya gaji, dan juga ada tabungan yg Insya Allah cukup untuk kebutuhan primer. Apa saja yg primer? Sekolah dia, kebutuhan bulanan, makan dan transport... Insya Allah aman. Rumah ini pun baru saja lunas, jadi nggak perlu jadi pikiran lagi. Hanya mungkin rencana renovasi besar perlu dipertimbangkan lagi urgensinya. Gue bilang juga bhw uang saku dia jumlahnya akan tetap, tp sebaiknya dia hemat krn we never know how long this rainy days going to be.
Aria diam aja. Angguk2. Krn memang selama ini kebutuhan dia jg nggak banyak sih (selain belanja sepatu yg aduhai deh...).
Trus tiba2 setelah diam cukup lama, dia bilang, "Ayah gimana ya, Bu?"
Hmm... selain hanya bisa menjawab "I don't know" ... tiba2 seperti ada yg mencubit hatiku. Anak gue yg tampaknya cuek dan ga peduli... ternyata tetap memikirkan ayahnya. Dan itu menyadarkan gue soal perbedaan dlm hal ini. Buat gue, masalah dgn ayahnya anak gue mungkin sdh (gue anggap) selesai. Gue jg nggak mau lagi berurusan ttg apa pun sm dia. Tapi buat anak gue, ayahnya akan selalu ada, entah dia mau atau tidak. Buat anak gue, masalah ayahnya akan menjadi hal yg tidak pernah usai, bahkan mungkin meskipun urusan duniawi sudah selesai. Dan gue merasa berkewajiban mendampingi dia, membantunya saat dibutuhkan, tetap support.... Yah... akhirnya urusan gue sama mansu ga boleh kelar juga dong. Sigh.
Ok... masih bersyukur Alhamdulillah punya gaji. Berapa pun jumlahnya, ada yg bisa diharapkan hadir secara kontinyu. Berempati sm para pebisnis yg terpaksa mengurangi karyawan, krn kurang pemasukan. Semoga badai segera berlalu. Aamiiinnn....
Spt biasa, membiasakan diskusi, hal ini juga dibicarakan sm si ganteng Aria. Krn dia pun sdh mulai paham belanja, jadi hrs ada konsensus bhw tahun ini nggak beli2 tas/sepatu/baju lagi. Kok ya ibu dan anak kesukaannya sama....
Jadi gue jelaskan efek pandemi korona ini pada perekonomian global. Lalu apa pengaruhnya ke ekonomi Indonesia, dan gimana kondisi dompet ibu. Gue tenangkan bahwa dia nggak perlu cemas, krn ibu masih punya gaji, dan juga ada tabungan yg Insya Allah cukup untuk kebutuhan primer. Apa saja yg primer? Sekolah dia, kebutuhan bulanan, makan dan transport... Insya Allah aman. Rumah ini pun baru saja lunas, jadi nggak perlu jadi pikiran lagi. Hanya mungkin rencana renovasi besar perlu dipertimbangkan lagi urgensinya. Gue bilang juga bhw uang saku dia jumlahnya akan tetap, tp sebaiknya dia hemat krn we never know how long this rainy days going to be.
Aria diam aja. Angguk2. Krn memang selama ini kebutuhan dia jg nggak banyak sih (selain belanja sepatu yg aduhai deh...).
Trus tiba2 setelah diam cukup lama, dia bilang, "Ayah gimana ya, Bu?"
Hmm... selain hanya bisa menjawab "I don't know" ... tiba2 seperti ada yg mencubit hatiku. Anak gue yg tampaknya cuek dan ga peduli... ternyata tetap memikirkan ayahnya. Dan itu menyadarkan gue soal perbedaan dlm hal ini. Buat gue, masalah dgn ayahnya anak gue mungkin sdh (gue anggap) selesai. Gue jg nggak mau lagi berurusan ttg apa pun sm dia. Tapi buat anak gue, ayahnya akan selalu ada, entah dia mau atau tidak. Buat anak gue, masalah ayahnya akan menjadi hal yg tidak pernah usai, bahkan mungkin meskipun urusan duniawi sudah selesai. Dan gue merasa berkewajiban mendampingi dia, membantunya saat dibutuhkan, tetap support.... Yah... akhirnya urusan gue sama mansu ga boleh kelar juga dong. Sigh.
Thursday, April 09, 2020
From the WFH Experience
Kemarin dibagi screen shot chat ibu2 yg emosi jiwa karena harus mengajari anaknya selama di rumah. Nemenin belajar, sambil sendirinya juga kerja, belum lagi beresin rumah, dll, dll, dll... memang bikin tekanan darah naik sih.
Gue bukan orang yang bisa kerja di rumah (dulunya). Rumah seperti sdh diatur untuk bergembira, leyeh2, dan bersenang2. Kebiasaan juga sampai rumah sdh teler banget utk bekerja, jadi memang hrs ada tingkat urgensi tinggi banget sampai gue bisa buka laptop di rumah. Pdh sebetulnya gue sdh siapkan meja merah di depan rak buku, yg enak banget untuk bekerja. Dekat jendela besar yg mengantar sinar matahari dan angin sepoi2....
Bahkan waktu Jakarta huru hara dan kantor tutup, gue memilih gotong laptop ke cafe. Biasanya sih ngajak2 temen bertengger setiaku... *wink*. Jadi sambil gelar laptop bisa gosip2 plus aleman dikit2 laaaah.... Kenapa harus keluar rumah? Krn bukan cuma gue yg nggak bisa kerja di rumah, orang2 rumah pun (oke... be specific... Eyang...) akan mengira bahwa kalau gue di rumah artinya gue nggak bekerja. Yg jadinya "boleh diganggu" benerin hp, rapihin lemari tv, atau bongkar gudang. Hmmm....
Tp ketika pandemi 2020 dan semua orang hrs social distancing lalu #dirumahaja.... ya mau nggak mau gue hrs gelar laptop di rumah. Perlu penyesuaian? Iya banget... juga perlu membiasakan bhw gue ini kerja... jadi please jangan tiba2 ada yg teriak minta tolong angkat jemuran....
Bisa kerja di rumah? Akhirnya bisa juga. Trus menemukan bahwa kalau lagi capek sekali bisa dapat hiburan lucu2 macam masuk dapur klutekan atau baca2 buku yg segudang ini yekaaaannn.... Kemarin malah ekstrim banget, krn di luar terlihat panas terang benderang... di antara dua zoom meeting, gue putuskan untuk nyuci sprei....
Akhirnya bisa efektif juga kok ini kerja di rumah. Meeting ini itu... termasuk bungkus perjanjian baru lewat zoom. Kemarin sempat assessment test juga 2 orang. Memang, lebih melelahkan krn selama meeting hrs melototin layar laptop dan kalau mau ngomong hrs nunggu giliran dgn sabar dan manis nggak bisa langsung jerit. Padahal kadang2 pengen langsung noyor.... hahaha....
Di ruangan lain, ada Aria yg juga SFH. Wah udahlah... kalau dia sih gue bebasin aja deh. Yg penting gurunya nggak colek2 gue krn anak gue lupa absen... dan yg penting tugas selesai. Mau bikinnya sambil telungkup, miring2 atau sambil ndlosor di perosotan... bebas. Sdh cukup ini gue rusuh dgn urusan kantor yg semacam neverending... nggak usahlah gue jadi berantem sm anak segala... apalagi sampai stress kyk ibu2 yg marah2 sm guru. Hahahaha.....
Pandemi korona kapan kelarnyaaaaa......
Gue bukan orang yang bisa kerja di rumah (dulunya). Rumah seperti sdh diatur untuk bergembira, leyeh2, dan bersenang2. Kebiasaan juga sampai rumah sdh teler banget utk bekerja, jadi memang hrs ada tingkat urgensi tinggi banget sampai gue bisa buka laptop di rumah. Pdh sebetulnya gue sdh siapkan meja merah di depan rak buku, yg enak banget untuk bekerja. Dekat jendela besar yg mengantar sinar matahari dan angin sepoi2....
Bahkan waktu Jakarta huru hara dan kantor tutup, gue memilih gotong laptop ke cafe. Biasanya sih ngajak2 temen bertengger setiaku... *wink*. Jadi sambil gelar laptop bisa gosip2 plus aleman dikit2 laaaah.... Kenapa harus keluar rumah? Krn bukan cuma gue yg nggak bisa kerja di rumah, orang2 rumah pun (oke... be specific... Eyang...) akan mengira bahwa kalau gue di rumah artinya gue nggak bekerja. Yg jadinya "boleh diganggu" benerin hp, rapihin lemari tv, atau bongkar gudang. Hmmm....
Tp ketika pandemi 2020 dan semua orang hrs social distancing lalu #dirumahaja.... ya mau nggak mau gue hrs gelar laptop di rumah. Perlu penyesuaian? Iya banget... juga perlu membiasakan bhw gue ini kerja... jadi please jangan tiba2 ada yg teriak minta tolong angkat jemuran....
Bisa kerja di rumah? Akhirnya bisa juga. Trus menemukan bahwa kalau lagi capek sekali bisa dapat hiburan lucu2 macam masuk dapur klutekan atau baca2 buku yg segudang ini yekaaaannn.... Kemarin malah ekstrim banget, krn di luar terlihat panas terang benderang... di antara dua zoom meeting, gue putuskan untuk nyuci sprei....
Akhirnya bisa efektif juga kok ini kerja di rumah. Meeting ini itu... termasuk bungkus perjanjian baru lewat zoom. Kemarin sempat assessment test juga 2 orang. Memang, lebih melelahkan krn selama meeting hrs melototin layar laptop dan kalau mau ngomong hrs nunggu giliran dgn sabar dan manis nggak bisa langsung jerit. Padahal kadang2 pengen langsung noyor.... hahaha....
Di ruangan lain, ada Aria yg juga SFH. Wah udahlah... kalau dia sih gue bebasin aja deh. Yg penting gurunya nggak colek2 gue krn anak gue lupa absen... dan yg penting tugas selesai. Mau bikinnya sambil telungkup, miring2 atau sambil ndlosor di perosotan... bebas. Sdh cukup ini gue rusuh dgn urusan kantor yg semacam neverending... nggak usahlah gue jadi berantem sm anak segala... apalagi sampai stress kyk ibu2 yg marah2 sm guru. Hahahaha.....
Pandemi korona kapan kelarnyaaaaa......
Wednesday, March 11, 2020
Memories
Diingatkan oleh FB bahwa 4 tahun lalu sempat berkelana masuk sebuah gua di daerah Kebumen. Guanya mungkin ga terlalu penting lagi, krn jadinya yg penting adalah dengan siapa masuknya. Duh.
Cerita lengkapnya ada di sini... dan sampai skrg masih terbayang serunya (rusuhnya) perjalanan itu.... But surely I still feel my blush when seeing him in the airport that exact morning.... ish....
Yg sangat disayangkan adalah pertemanan kami yg lalu berakhir bbrp bulan setelahnya. Beneran berakhir. Tuntas. Krn gue males. Males banget. Ternyata dia cukup mengecewakan. Yg gue tahu, dia memanfaatkan nama gue (dan teman gue) utk dapat diskonan dinner di hotel bintang 5 Jkt. Ya Allah. Segitunya mas? Jadi sepertinya dia mau memamerkan koneksi yg dia punya ke teman2 kantornya, dan dia sebutlah nama gue dan temen gue waktu reservasi, dgn harapan akan dapat harga khusus. Sebetulnya sdh ada paket khusus yg dibuatin sm temen gue itu (yg kebetulan salah satu direkturnya)... jadi mestinya dia nggak usah ribet. Tp namanya org mau pamer... sok2 mau kuasa... yg ada malah bikin malu.
Malu. Mungkin itu alasannya kenapa gue begitu marah. Apalagi, pertemanan dengan para hotelier itu kan gue mulai sejak lama sekali, masak gara2 diskonan 100rb trus bubar? Aku kesal....
Dan lebih kesal lagi krn dia tidak menyesal dan tidak minta maaf. Duh. Bye banget. Tuhan baik banget mengingatkan gue utk nggak dekat2 dgn dia sama sekali.
Anyway, perjalanan ke Goa Barat itu juga akhirnya mengingatkan pada telepon dari d-i-a. Sore2... tanpa dia ingat kalau gue sedang liburan. Trus waktu dia sadar, dia cemburu. Hahaha... tp justru sm dia, sampai skrg masih manis. Dan masih cinta. Ahahahaha... do you remember that as well?
Cerita lengkapnya ada di sini... dan sampai skrg masih terbayang serunya (rusuhnya) perjalanan itu.... But surely I still feel my blush when seeing him in the airport that exact morning.... ish....
Yg sangat disayangkan adalah pertemanan kami yg lalu berakhir bbrp bulan setelahnya. Beneran berakhir. Tuntas. Krn gue males. Males banget. Ternyata dia cukup mengecewakan. Yg gue tahu, dia memanfaatkan nama gue (dan teman gue) utk dapat diskonan dinner di hotel bintang 5 Jkt. Ya Allah. Segitunya mas? Jadi sepertinya dia mau memamerkan koneksi yg dia punya ke teman2 kantornya, dan dia sebutlah nama gue dan temen gue waktu reservasi, dgn harapan akan dapat harga khusus. Sebetulnya sdh ada paket khusus yg dibuatin sm temen gue itu (yg kebetulan salah satu direkturnya)... jadi mestinya dia nggak usah ribet. Tp namanya org mau pamer... sok2 mau kuasa... yg ada malah bikin malu.
Malu. Mungkin itu alasannya kenapa gue begitu marah. Apalagi, pertemanan dengan para hotelier itu kan gue mulai sejak lama sekali, masak gara2 diskonan 100rb trus bubar? Aku kesal....
Dan lebih kesal lagi krn dia tidak menyesal dan tidak minta maaf. Duh. Bye banget. Tuhan baik banget mengingatkan gue utk nggak dekat2 dgn dia sama sekali.
Anyway, perjalanan ke Goa Barat itu juga akhirnya mengingatkan pada telepon dari d-i-a. Sore2... tanpa dia ingat kalau gue sedang liburan. Trus waktu dia sadar, dia cemburu. Hahaha... tp justru sm dia, sampai skrg masih manis. Dan masih cinta. Ahahahaha... do you remember that as well?
Friday, February 21, 2020
Jangan Menghilang....
Kira2 16 tahun lalu, gue masih ngantor di Kuningan. Masih punya mertua kaya raya, jadi ke mana2 diantar mobil (yg bagus banget, seri yg lbh baru ketimbang yg dipakai CEO perusahaan gue waktu itu) dan supirnya. Tiap pagi rutin ngantor sambil menikmati kehamilan.
Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?
Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.
He has gone.
Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.
Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.
Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.
Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.
Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.
Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.
Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.
Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.
Apa akibatnya?
Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.
Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).
Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.
Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....
Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.
Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....
Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?
Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.
He has gone.
Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.
Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.
Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.
Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.
Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.
Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.
Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.
Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.
Apa akibatnya?
Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.
Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).
Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.
Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....
Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.
Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....
Tuesday, February 11, 2020
Monday, February 10, 2020
Draft Berikutnya 6
"Perasaan progress-nya lama banget."
"Ya... gimana...."
"Sebenernya berminat enggak sih?"
"Kan sudah dibilang... gue enggak punya trauma apa-apa. Gue nggak pengen yang aneh-aneh. Gue nggak pengen yang gimana-gimana...."
"Tapi masak selama ini nggak ada yang nyangkut...."
"Macam-macam alasannya...."
"Pasti... pasti... karena benchmark yang sudah tinggi banget. Gara-gara cowok lu itu...."
"Ya enggak hanya karena itu sih... meskipun... mau nggak mau memang selalu dibandingkan sama dia."
"Nah kan...."
"Ya... tapi gimana...."
"Harusnya mungkin lu lebih... lebih apa ya.... Gimana, gitu?"
"Gimana?"
"Lu kan baik hati. Manis. Penyayang...."
"Rasanya sih bukan tugas gue membuktikan bahwa gue ini seperti yang lu bilang. Ya kan?"
"Ya... gimana...."
"Sebenernya berminat enggak sih?"
"Kan sudah dibilang... gue enggak punya trauma apa-apa. Gue nggak pengen yang aneh-aneh. Gue nggak pengen yang gimana-gimana...."
"Tapi masak selama ini nggak ada yang nyangkut...."
"Macam-macam alasannya...."
"Pasti... pasti... karena benchmark yang sudah tinggi banget. Gara-gara cowok lu itu...."
"Ya enggak hanya karena itu sih... meskipun... mau nggak mau memang selalu dibandingkan sama dia."
"Nah kan...."
"Ya... tapi gimana...."
"Harusnya mungkin lu lebih... lebih apa ya.... Gimana, gitu?"
"Gimana?"
"Lu kan baik hati. Manis. Penyayang...."
"Rasanya sih bukan tugas gue membuktikan bahwa gue ini seperti yang lu bilang. Ya kan?"
Sunday, February 09, 2020
The Devil is in Detail
So. Here. They. Are.
... and when every details lead me to you.... what can I do?
Saturday, February 08, 2020
Draft Berikutnya 5
"Ikut dating apps?"
"Nggak usah melotot. Coba aja. Siapa tahu berhasil."
"Nggak jelas siapa aja yang di situ."
"Di dunia ini memang ada yang jelas?"
"Duh pedes."
"Iya, karetnya dua."
"Bawel."
"Gue kasihan lihat elu sendirian ke mana-mana. Cakep-cakep kok nggak punya pasangan."
"Sialan."
"Seriuuuussss... ayolah daftar aja. Iseng-iseng berhadiah."
"Kalau ketemu scammer?"
"Ya jangan diladenin. Elu kan pinter. Masak nggak bisa bedain scammer sama mas ganteng."
"Matahari gimana?"
"Anak lu? Yah nanti aja dipikir kalau sudah ada mas gantengnya...."
"Nggak usah melotot. Coba aja. Siapa tahu berhasil."
"Nggak jelas siapa aja yang di situ."
"Di dunia ini memang ada yang jelas?"
"Duh pedes."
"Iya, karetnya dua."
"Bawel."
"Gue kasihan lihat elu sendirian ke mana-mana. Cakep-cakep kok nggak punya pasangan."
"Sialan."
"Seriuuuussss... ayolah daftar aja. Iseng-iseng berhadiah."
"Kalau ketemu scammer?"
"Ya jangan diladenin. Elu kan pinter. Masak nggak bisa bedain scammer sama mas ganteng."
"Matahari gimana?"
"Anak lu? Yah nanti aja dipikir kalau sudah ada mas gantengnya...."
Friday, February 07, 2020
I Wish, Over and Over Again
Dalam harapku
Dan inginku
Kau ada di sana
Di setiap langkahku
Dan mimpiku
Kau ada di sana
Mungkin suatu saat nanti
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Kaulah hasratku
Dan cintaku
Kaulah segalanya
Izinkan diriku
Bersamamu
Karena sesungguhnya
Kurindukan dekapanmu
Kujanjikan setia
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Dan cintaku
Kaulah segalanya
Izinkan diriku
Bersamamu
Karena sesungguhnya
Kurindukan dekapanmu
Kujanjikan setia
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Meski ku dan dirinya terpisah jarak dan waktu
Namun kuyakin dirimu hanya untukku
Namun kuyakin dirimu hanya untukku
Tak perlu kau ragu kasih
Kuyakin cinta kita kan abadi dan indah pada waktunya
Kuyakin cinta kita kan abadi dan indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Jaga dirinya
Aku menunggu
Hingga dirimu dan diriku
Jaga dirinya
Aku menunggu
Hingga dirimu dan diriku
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Indah Pada Waktunya
Thursday, February 06, 2020
Draft Berikutnya 4
Debar dadaku sepertinya begitu kencang, hingga akan terdengar oleh orang yang berdiri di depanku. Aku berhenti di depan pintu restoran Indonesia di sebuah mal. Sekali lagi kubaca pesan singkat di ponselku.
"Saya di meja nomor 31. Baju putih, celana cokelat."
Mataku menyapu seluruh ruang dan dengan mudah menemukan meja yang dimaksud. Itu pasti dia. Dia menyebutkan bahwa tubuhnya tinggi besar. Dan ya, memang betul, sosok itu memenuhi satu kursi, kakinya terlihat terlalu panjang di bawah meja. Wajahnya tak tampak jelas karena penerangan restoran yang remang. Tapi hidung bagus dan kulit putih tetap terlihat dari kejauhan. Tampan.
Aku sedikit ragu. Kuteliti lagi penampilanku. Celana khaki dan atasan putih ini seharusnya tidak mengecewakan. Sneakers sudah kutinggal di mobil. Berganti sepatu tinggi warna pink muda, senada dengan tas tangan kecil dalam genggamanku. Sekilas kuintip pantulan wajahku di kaca pintu. Lumayan lah.
Ini akan menjadi kali pertama kami bertemu, setelah selama sekitar dua minggu hanya saling bertukar pesan pendek. Bagiku, ini juga kali pertama aku bertemu seseorang yang kukenal lewat aplikasi kencan. Belum pernah mengalaminya, aku tak yakin apa yang harus aku lakukan.
"Selamat malam," sapaku saat sudah cukup dekat dengan meja nomor 31. Bagaimana pun, aku berusaha keras terdengar ceria dan ramah, menyembunyikan resah hatiku yang sangat mengganggu.
Dia mengangkat wajah. Senyum lebar segera tersuguh. Duh... tampan sekali.
"Hai. Saya Prasetya. Okay... hmm... kamu sudah tahu nama saya, ya...," dia tampak tersipu, lalu segera berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman. "Have a seat," katanya sambil menarik salah satu kursi untukku.
"Terima kasih," kataku sambil duduk. Setelah membetulkan kursiku, dia kembali ke kursinya. Samar, aroma parfum yang lembut membelai hidungku.
"Sudah pesan makanan?" aku kehilangan kata melihat wajahnya yang jauh lebih tampan ketimbang di foto profil yang selama ini kulihat. Resah, kubuka buku menu untuk menyalurkan debar di dadaku yang semakin kencang.
"Belum. Menunggu kamu," katanya ramah.
"Maaf menunggu. Saya tertahan sesuatu di kantor."
"No worries. Saya belum lama, kok," jawabnya sambil melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Kami mau pesan, mas." Lalu kepadaku, dia berkata, "Kamu jauh lebih cantik daripada fotomu."
Tiba-tiba lidahku seperti kelu.
"Saya di meja nomor 31. Baju putih, celana cokelat."
Mataku menyapu seluruh ruang dan dengan mudah menemukan meja yang dimaksud. Itu pasti dia. Dia menyebutkan bahwa tubuhnya tinggi besar. Dan ya, memang betul, sosok itu memenuhi satu kursi, kakinya terlihat terlalu panjang di bawah meja. Wajahnya tak tampak jelas karena penerangan restoran yang remang. Tapi hidung bagus dan kulit putih tetap terlihat dari kejauhan. Tampan.
Aku sedikit ragu. Kuteliti lagi penampilanku. Celana khaki dan atasan putih ini seharusnya tidak mengecewakan. Sneakers sudah kutinggal di mobil. Berganti sepatu tinggi warna pink muda, senada dengan tas tangan kecil dalam genggamanku. Sekilas kuintip pantulan wajahku di kaca pintu. Lumayan lah.
Ini akan menjadi kali pertama kami bertemu, setelah selama sekitar dua minggu hanya saling bertukar pesan pendek. Bagiku, ini juga kali pertama aku bertemu seseorang yang kukenal lewat aplikasi kencan. Belum pernah mengalaminya, aku tak yakin apa yang harus aku lakukan.
"Selamat malam," sapaku saat sudah cukup dekat dengan meja nomor 31. Bagaimana pun, aku berusaha keras terdengar ceria dan ramah, menyembunyikan resah hatiku yang sangat mengganggu.
Dia mengangkat wajah. Senyum lebar segera tersuguh. Duh... tampan sekali.
"Hai. Saya Prasetya. Okay... hmm... kamu sudah tahu nama saya, ya...," dia tampak tersipu, lalu segera berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman. "Have a seat," katanya sambil menarik salah satu kursi untukku.
"Terima kasih," kataku sambil duduk. Setelah membetulkan kursiku, dia kembali ke kursinya. Samar, aroma parfum yang lembut membelai hidungku.
"Sudah pesan makanan?" aku kehilangan kata melihat wajahnya yang jauh lebih tampan ketimbang di foto profil yang selama ini kulihat. Resah, kubuka buku menu untuk menyalurkan debar di dadaku yang semakin kencang.
"Belum. Menunggu kamu," katanya ramah.
"Maaf menunggu. Saya tertahan sesuatu di kantor."
"No worries. Saya belum lama, kok," jawabnya sambil melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Kami mau pesan, mas." Lalu kepadaku, dia berkata, "Kamu jauh lebih cantik daripada fotomu."
Tiba-tiba lidahku seperti kelu.
Wednesday, February 05, 2020
Draft Berikutnya 3
Aku agak terkejut mendapati berkas-berkas di dalam tas yang ada di jok belakang mobilku. Di kepala suratnya, tertera nama klinik fertilitas ternama. Sekilas saja, aku tahu bahwa itu adalah rekam medis milik pasien. Yang membuatku nyaris tersedak adalah nama yang tertulis di sampulnya: Prasetya Andika. Kemarin, Pras memang meminjam mobilku.
"Jadi kamu masih berminat punya anak?"
"Kamu?"
"Nope."
"Hmm... karena kamu sudah punya...."
"Iya. Mungkin itu ya...."
"Maksudmu?"
"Saya paham kalau kamu masih ingin berusaha. Wajar."
"Memang tidak akan mudah...."
Kami pernah membicarakan hal ini sekilas. Bahkan di beberapa kesempatan. Di antara kopi dan kue keju dan tumpukan pekerjaan. Aku dan Pras memang tidak pernah serius membicarakan kebersamaan kami. Mengapa? Aku tidak tahu. Sepertinya karena kami paham bahwa sebetulnya tujuan perjalanan kami berbeda. Tapi kami sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan berdua.
Salah satu perbedaannya adalah tentang keturunan. Dari awal perkenalan, kami tahu, masing-masing dari kami pernah menikah. Bedanya, aku punya Matahari. Sementara Pras belum memiliki anak.
"Saya tidak seberuntung kamu," katanya suatu kali.
"Atau mungkin malah lebih beruntung."
"Maksudmu?"
"Punya anak bukan perkara mudah. Tidak hanya tanggung jawab finansial yang harus dipikirkan, tapi juga perkara mendidik dan membesarkan dia. Lalu menerima dia apa adanya.... Kamu tahu? Anak tidak selamanya membahagiakan kita. Dia kadang melakukan hal-hal yang mengecewakan, membuat kita sedih, yang harus kita hadapi. Bukan hal yang sederhana."
"Saya tahu. Tapi bukankah manusiawi bahwa setiap orang ingin punya keturunan?"
"Ya. Dan saya tahu kamu pasti sudah berusaha."
"Ke klinik, maksudmu? Iya, tapi tahapan penyembuhannya belum selesai."
"Kamu ingin lanjutkan?"
"I don't know."
Menemukan rekam medis itu, aku paham bahwa Pras sedang melanjutkan proses pengobatan alat reproduksinya. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku. Aku sangat sadar, bukan aku orang yang tepat mendampingi Pras di masa depan, jika ia masih menginginkan memiliki darah dagingnya sendiri.
"Jadi kamu masih berminat punya anak?"
"Kamu?"
"Nope."
"Hmm... karena kamu sudah punya...."
"Iya. Mungkin itu ya...."
"Maksudmu?"
"Saya paham kalau kamu masih ingin berusaha. Wajar."
"Memang tidak akan mudah...."
Kami pernah membicarakan hal ini sekilas. Bahkan di beberapa kesempatan. Di antara kopi dan kue keju dan tumpukan pekerjaan. Aku dan Pras memang tidak pernah serius membicarakan kebersamaan kami. Mengapa? Aku tidak tahu. Sepertinya karena kami paham bahwa sebetulnya tujuan perjalanan kami berbeda. Tapi kami sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan berdua.
Salah satu perbedaannya adalah tentang keturunan. Dari awal perkenalan, kami tahu, masing-masing dari kami pernah menikah. Bedanya, aku punya Matahari. Sementara Pras belum memiliki anak.
"Saya tidak seberuntung kamu," katanya suatu kali.
"Atau mungkin malah lebih beruntung."
"Maksudmu?"
"Punya anak bukan perkara mudah. Tidak hanya tanggung jawab finansial yang harus dipikirkan, tapi juga perkara mendidik dan membesarkan dia. Lalu menerima dia apa adanya.... Kamu tahu? Anak tidak selamanya membahagiakan kita. Dia kadang melakukan hal-hal yang mengecewakan, membuat kita sedih, yang harus kita hadapi. Bukan hal yang sederhana."
"Saya tahu. Tapi bukankah manusiawi bahwa setiap orang ingin punya keturunan?"
"Ya. Dan saya tahu kamu pasti sudah berusaha."
"Ke klinik, maksudmu? Iya, tapi tahapan penyembuhannya belum selesai."
"Kamu ingin lanjutkan?"
"I don't know."
Menemukan rekam medis itu, aku paham bahwa Pras sedang melanjutkan proses pengobatan alat reproduksinya. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku. Aku sangat sadar, bukan aku orang yang tepat mendampingi Pras di masa depan, jika ia masih menginginkan memiliki darah dagingnya sendiri.
Tuesday, February 04, 2020
Draft Berikutnya 2
"Jadi kami terpaksa berhenti di tempat itu, lalu susah payah memundurkan mobil yang terjepit. Ah... siapa bilang kompas digital memudahkan hidup? Beberapa kali kami disesatkannya!"
Pras tergelak. Mengenang kembali perjalanannya Jakarta-Bali mengendarai mobil.
Mengamatinya ketika bercakap, melihat matanya mengerjap berbinar... aku tak bisa membendung gembira akibat tertular keceriaannya. Sulit menahan rasa di dadaku. Apa nama rasa itu? Terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang keluar dari dalam dada. Tiba-tiba aku merasa ujung-ujung jariku kebas. Ini apa?
Rasanya sudah lama sekali saat aku terakhir merasakan hal ini. Duduk bersisian. Tertawa bersama. Membiarkannya menggenggam tanganku. Hatiku terasa aman dan tenteram. Getar rasa ajaib itu lalu menjalari bahu, hingga punggungku. Membuatku ingin bersandar. Sambil tersenyum.
Tiba-tiba aku ingat lagi apa nama rasa itu: bahagia.
Pras tergelak. Mengenang kembali perjalanannya Jakarta-Bali mengendarai mobil.
Mengamatinya ketika bercakap, melihat matanya mengerjap berbinar... aku tak bisa membendung gembira akibat tertular keceriaannya. Sulit menahan rasa di dadaku. Apa nama rasa itu? Terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang keluar dari dalam dada. Tiba-tiba aku merasa ujung-ujung jariku kebas. Ini apa?
Rasanya sudah lama sekali saat aku terakhir merasakan hal ini. Duduk bersisian. Tertawa bersama. Membiarkannya menggenggam tanganku. Hatiku terasa aman dan tenteram. Getar rasa ajaib itu lalu menjalari bahu, hingga punggungku. Membuatku ingin bersandar. Sambil tersenyum.
Tiba-tiba aku ingat lagi apa nama rasa itu: bahagia.
Sunday, February 02, 2020
Draft Berikutnya
Nomornya berpendar di layar ponsel. Segera kujawab dengan senyum lebar.
"Halo!"
"Mau makan siang sama saya?"
"Mau!"
Jawaban yang keluar dari mulutku lebih cepat dari kemampuan otakku berpikir dan mencerna pertanyaannya.
"Share location, ya. Saya jemput."
Dan tak berapa lama, hanya cukup memberi waktu bagiku mengganti baju saja, hadirlah dia di depan rumahku. Memarkir mobil dengan rapi, lalu turun tanpa mematikan mesin. Tubuhnya yang tinggi besar terbungkus kemeja warna hitam. Kacamata hitam bertengger di wajahnya. Tampan.
"Kamu mau masuk dulu?"
"Nggak. Kita langsung saja. Nggak ada Ibu, kan?"
"Nggak. Ya lalu kenapa turun?"
Pertanyaanku mengambang di udara.
Setelah memastikan aku mengunci pintu, dia gandeng tanganku. Membukakan pintu kendaraan, lalu menungguku masuk mobilnya sebelum menutup pintu dan berjalan ke balik kemudi.
"Itu kebiasaan saya."
Aku terpana. Hatiku tercuri sudah. Seluruhnya.
"Halo!"
"Mau makan siang sama saya?"
"Mau!"
Jawaban yang keluar dari mulutku lebih cepat dari kemampuan otakku berpikir dan mencerna pertanyaannya.
"Share location, ya. Saya jemput."
Dan tak berapa lama, hanya cukup memberi waktu bagiku mengganti baju saja, hadirlah dia di depan rumahku. Memarkir mobil dengan rapi, lalu turun tanpa mematikan mesin. Tubuhnya yang tinggi besar terbungkus kemeja warna hitam. Kacamata hitam bertengger di wajahnya. Tampan.
"Kamu mau masuk dulu?"
"Nggak. Kita langsung saja. Nggak ada Ibu, kan?"
"Nggak. Ya lalu kenapa turun?"
Pertanyaanku mengambang di udara.
Setelah memastikan aku mengunci pintu, dia gandeng tanganku. Membukakan pintu kendaraan, lalu menungguku masuk mobilnya sebelum menutup pintu dan berjalan ke balik kemudi.
"Itu kebiasaan saya."
Aku terpana. Hatiku tercuri sudah. Seluruhnya.
Thursday, January 30, 2020
Mari Berbahagia
Bagaimana bisa bahagia, kalau sedih aja nggak tahu rasanya?
Kira2 begitulah kesimpulan (dan ada sih dialognya) dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini yg kemarin gue tonton sm Aria. Film yg bagus, adaptasi dari buku yg juga bagus. Sutradara juara banget. Angle kamera jempolan. Nonton di premiere. Puas.
Film ini akhirnya membuka diskusi yg lumayan serius (tp kocak) dgn anak gue. Terutama tentang cara keluarga handling things.
"What if someday your dad comes and says he is sorry for all the mess?"
"Hmmm... if he ever comes, I'll ask about my right."
"What is that?"
"You know, my right. I am entitled of certain amount of money he should provide. So that will be my first question."
"Matre, kamu."
"Itu hakku, mamiiiiiii...."
"But do you think it is a mess? This situation?"
"Hmm... it will be a mess when you can't provide me with things. I am okay, so far."
Alhamdulillah kalau Aria baik2 saja. Memang kata seorang teman, kalau anak satu, standardnya akan beda. Ya juga sih. Toh semua resource tersedia buat dia seorang saja. Tujuan utamanya: dia bahagia.
Intinya, seringkali memang orang mengabaikan perasaan. Sedih. Marah. Luka. Bahagia. Semua diperlakukan sama saja. Ketika sedih, bukannya dirasakan lalu dikenali perasaannya, tapi dipendam. Ketika marah, bukan dicarikan solusi, tapi diabaikan. Ketika luka, bukan dicari sumbernya lalu diberesin, tapi ditutupi. Bahkan ketika bahagia, tidak dirasakan dengan sukacita, tapi dibiarkan berlalu seolah itu hal biasa. Jadinya hidup terasa datar saja. Kayak nggak ngapa2in.
Padahal, semestinya hidup itu dirayakan.
Mungkin gue memang harus mempelajari lagi perasaan2 gue. Sama ketika dulu ngajarin Aria tentang emosi. Sedih itu gimana? Harus diapain? Gembira itu apa? Harus ngapain? Karena skrg ini gue mulai merasa hidup yg datar saja. Lurus tanpa ekspresi.
Beberapa hari lalu, Aria selesai internship nggak pulang ke rumah, tapi ke kantor Palmerah. Dia cerita nggak dapat TransJ dan cari jalan ke stasiun Kebayoran. Tp lalu commuter line penuh sekali, jadi dia naik yg ke Palmerah. Oh how I was so proud he could find his way commuting by himself. Pilihan ke Palmerah memang nyenengin sih... wifi kenceng dan banyak ransum. Cocok buat ABG yg dalam masa pertumbuhan hahaha.... Yg juga menyenangkan adalah di jalan pulang kami bisa bercerita macam2. Dari mulai Korean wave sampai curhat percintaan yawlaaaaa.... "Ibu, jangan lupa bahwa peraturan masih sama, ibu punya pacar, atau menikah lagi, berarti aku ganti handphone." Tobat.
But I was beyond happy to find time to talk to him. Pulang bareng Aria itu meyakinkan gue bahwa bahagia itu nggak harus dicari di mana2. Cukup bisa bareng sama yg disayang aja, juga sudah bahagia. Semua kesempatan hrs disyukuri. Lalu segala kemudahan dan kegembiraan juga hrs diterima dengan syukur. Semoga bisa lebih mudah berbahagia. Alhamdulillah.
Kira2 begitulah kesimpulan (dan ada sih dialognya) dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini yg kemarin gue tonton sm Aria. Film yg bagus, adaptasi dari buku yg juga bagus. Sutradara juara banget. Angle kamera jempolan. Nonton di premiere. Puas.
Film ini akhirnya membuka diskusi yg lumayan serius (tp kocak) dgn anak gue. Terutama tentang cara keluarga handling things.
"What if someday your dad comes and says he is sorry for all the mess?"
"Hmmm... if he ever comes, I'll ask about my right."
"What is that?"
"You know, my right. I am entitled of certain amount of money he should provide. So that will be my first question."
"Matre, kamu."
"Itu hakku, mamiiiiiii...."
"But do you think it is a mess? This situation?"
"Hmm... it will be a mess when you can't provide me with things. I am okay, so far."
Alhamdulillah kalau Aria baik2 saja. Memang kata seorang teman, kalau anak satu, standardnya akan beda. Ya juga sih. Toh semua resource tersedia buat dia seorang saja. Tujuan utamanya: dia bahagia.
Intinya, seringkali memang orang mengabaikan perasaan. Sedih. Marah. Luka. Bahagia. Semua diperlakukan sama saja. Ketika sedih, bukannya dirasakan lalu dikenali perasaannya, tapi dipendam. Ketika marah, bukan dicarikan solusi, tapi diabaikan. Ketika luka, bukan dicari sumbernya lalu diberesin, tapi ditutupi. Bahkan ketika bahagia, tidak dirasakan dengan sukacita, tapi dibiarkan berlalu seolah itu hal biasa. Jadinya hidup terasa datar saja. Kayak nggak ngapa2in.
Padahal, semestinya hidup itu dirayakan.
Mungkin gue memang harus mempelajari lagi perasaan2 gue. Sama ketika dulu ngajarin Aria tentang emosi. Sedih itu gimana? Harus diapain? Gembira itu apa? Harus ngapain? Karena skrg ini gue mulai merasa hidup yg datar saja. Lurus tanpa ekspresi.
Beberapa hari lalu, Aria selesai internship nggak pulang ke rumah, tapi ke kantor Palmerah. Dia cerita nggak dapat TransJ dan cari jalan ke stasiun Kebayoran. Tp lalu commuter line penuh sekali, jadi dia naik yg ke Palmerah. Oh how I was so proud he could find his way commuting by himself. Pilihan ke Palmerah memang nyenengin sih... wifi kenceng dan banyak ransum. Cocok buat ABG yg dalam masa pertumbuhan hahaha.... Yg juga menyenangkan adalah di jalan pulang kami bisa bercerita macam2. Dari mulai Korean wave sampai curhat percintaan yawlaaaaa.... "Ibu, jangan lupa bahwa peraturan masih sama, ibu punya pacar, atau menikah lagi, berarti aku ganti handphone." Tobat.
But I was beyond happy to find time to talk to him. Pulang bareng Aria itu meyakinkan gue bahwa bahagia itu nggak harus dicari di mana2. Cukup bisa bareng sama yg disayang aja, juga sudah bahagia. Semua kesempatan hrs disyukuri. Lalu segala kemudahan dan kegembiraan juga hrs diterima dengan syukur. Semoga bisa lebih mudah berbahagia. Alhamdulillah.
Wednesday, January 29, 2020
Is There Any Left for Me?
Find someone who wants to invest in you, learn from you, see you win, support your vision and fall in love with you daily.
I stumbled upon those words and suddenly my heart itches. I know someone who will tick all the boxes with happy face. And yes, once I thought I already found the one, but had to let him go.
If love is a once-in-a-lifetime chance, I think I used mine already.
I stumbled upon those words and suddenly my heart itches. I know someone who will tick all the boxes with happy face. And yes, once I thought I already found the one, but had to let him go.
If love is a once-in-a-lifetime chance, I think I used mine already.
Tuesday, January 28, 2020
Ujian Mental & Iman
Hey you... thanks for giving me the idea for this post (and the title is exactly your word).
Ngobrol2 soal pengalaman ada di dating site. Pernah ketemu yg aneh2? Gue sih pernah. Banget.
Ada yg mengaku tinggal dan bekerja di Bali. Krn kami sama2 berdarah Jawa Timur, jadi akhirnya ngobrol pakai bahasa ibu. Mungkin itu suatu "keuntungan" krn dalam bahasa itu, omongan2 yg kesannya jorok dan porno bisa jadi biasa aja. Tp lalu dia merasa sudah begitu dekat dgn gue dan tiba2 seminggu setelah kenalan dia bilang dia sdh di Jkt trus mau melamar. Eh! Edan tenan. Unmatch lah. Gila.
Lalu... ada lagi yg sejak day one ngomongnya kesulitan keuangan melulu. Masak ngomongin menu makanan bisa tiba2 belok ke tagihan kartu kredit. Ngomongin iklan kecap bisa berakhir dengan rekening tabungan dia yg ga ada isinya. Lah iya kalau ngomong sama akuntan sih gapapa ya. Ini selalu berakhir dengan, "duh aku ini ga punya apa2." Yo wis lah mas... nek ra duwe opo2... golek dhisik yo. Mengko balik maneh. Bhay sblm dia minta bantuan bayarin sekolah anaknya.
Yang ngajakin one night stand juga banyak. Banget. Dan ini sih biasanya langsung gue unmatch tanpa ampun. Tp memang kebanyakan yg ngajak itu gaya bahasanya jg sdh nggak bener sih dr awal. I should know better.
Herannya, yg ngajakin ONS ini banyak banget yg berpenampilan santun dan agamis. Ya... you know. Bahkan beberapa mencantumkan ayat2 di bio. Hmm... kok gue yg sakit hati kalau mereka nggak sesuai dgn penampilannya ya?
Gue pikir, match aneh2 ini tidak berlaku untuk cowok. Ternyata tidaaaakkk.... Sama saja sih. Katanya. Bbrp cowok (single) yg mencoba dating site sharing pengalaman yg gemblung menjurus horor.
Satu yg ngeri banget waktu dia merasa nyaris diperkosa sm perempuan yg dia ajak dating. Rencana awal mau ngopi2 sambil ngobrol di apartemen si perempuan. Sesampai di sana, baru ngobrol sebentar tiba2 si perempuan ini sdh duduk di pangkuan dia. Gesture tubuhnya sangat menjurus dan mengundang, menyampaikan kebutuhan. Eh eh eh.... Temen gue cemas. Dan menolak krn merasa tidak pada tempatnya. Ceweknya gimana? Ambil vibrator dan beraktivitas sendirian. Sementara si cowok milih nonton tv.... "It ended awkwardly." Awkward dan ngeri sih kalau buat gue....
Trus ada juga yg setelah kenal selalu diajak ketemu dan jelas2 diminta untuk meniduri. Segala rayuan dan bujukan dilancarkan di jendela chat untuk mengajak si cowok datang. Daaan... dari chat yg dikasih lihat ke gue, nggak cuma satu perempuan yg melakukannya. Ada beberapa. Dan ada yg cantik manis berkerudung rapat. Hmm.... "Dia pun ternyata bersuami," kata si cowok. What?
Gue yg terlalu kuno apa gimana sih? Nggak ngerti lagi. Apa gue salah ya kalau susah buat buka baju? Tp bukankah seharusnya begitu? Gue bisa aja ceplas ceplos... tp untuk hal2 privat yg intimate, itu hanya utk gue dan my special one. Dan jadi special one itu pun jalannya panjang dan terjal deh ah. Ya kalau gampang kan nanti hadiahnya kipas angin, bukan tambatan hati. Gue setuju dgn kata2 bahwa masuk dating site ini adalah ujian mental dan iman. Yg nggak kuat iman ya dadah aja... rentan kecemplung yg ga bener.
Intinya, budi pekerti dan sopan santun sudah mulai menipis. Jadi yaaaa... masing2 orang hrs pasang pagar yg lebih kokoh. PR banget.
Ngobrol2 soal pengalaman ada di dating site. Pernah ketemu yg aneh2? Gue sih pernah. Banget.
Ada yg mengaku tinggal dan bekerja di Bali. Krn kami sama2 berdarah Jawa Timur, jadi akhirnya ngobrol pakai bahasa ibu. Mungkin itu suatu "keuntungan" krn dalam bahasa itu, omongan2 yg kesannya jorok dan porno bisa jadi biasa aja. Tp lalu dia merasa sudah begitu dekat dgn gue dan tiba2 seminggu setelah kenalan dia bilang dia sdh di Jkt trus mau melamar. Eh! Edan tenan. Unmatch lah. Gila.
Lalu... ada lagi yg sejak day one ngomongnya kesulitan keuangan melulu. Masak ngomongin menu makanan bisa tiba2 belok ke tagihan kartu kredit. Ngomongin iklan kecap bisa berakhir dengan rekening tabungan dia yg ga ada isinya. Lah iya kalau ngomong sama akuntan sih gapapa ya. Ini selalu berakhir dengan, "duh aku ini ga punya apa2." Yo wis lah mas... nek ra duwe opo2... golek dhisik yo. Mengko balik maneh. Bhay sblm dia minta bantuan bayarin sekolah anaknya.
Yang ngajakin one night stand juga banyak. Banget. Dan ini sih biasanya langsung gue unmatch tanpa ampun. Tp memang kebanyakan yg ngajak itu gaya bahasanya jg sdh nggak bener sih dr awal. I should know better.
Herannya, yg ngajakin ONS ini banyak banget yg berpenampilan santun dan agamis. Ya... you know. Bahkan beberapa mencantumkan ayat2 di bio. Hmm... kok gue yg sakit hati kalau mereka nggak sesuai dgn penampilannya ya?
Gue pikir, match aneh2 ini tidak berlaku untuk cowok. Ternyata tidaaaakkk.... Sama saja sih. Katanya. Bbrp cowok (single) yg mencoba dating site sharing pengalaman yg gemblung menjurus horor.
Satu yg ngeri banget waktu dia merasa nyaris diperkosa sm perempuan yg dia ajak dating. Rencana awal mau ngopi2 sambil ngobrol di apartemen si perempuan. Sesampai di sana, baru ngobrol sebentar tiba2 si perempuan ini sdh duduk di pangkuan dia. Gesture tubuhnya sangat menjurus dan mengundang, menyampaikan kebutuhan. Eh eh eh.... Temen gue cemas. Dan menolak krn merasa tidak pada tempatnya. Ceweknya gimana? Ambil vibrator dan beraktivitas sendirian. Sementara si cowok milih nonton tv.... "It ended awkwardly." Awkward dan ngeri sih kalau buat gue....
Trus ada juga yg setelah kenal selalu diajak ketemu dan jelas2 diminta untuk meniduri. Segala rayuan dan bujukan dilancarkan di jendela chat untuk mengajak si cowok datang. Daaan... dari chat yg dikasih lihat ke gue, nggak cuma satu perempuan yg melakukannya. Ada beberapa. Dan ada yg cantik manis berkerudung rapat. Hmm.... "Dia pun ternyata bersuami," kata si cowok. What?
Gue yg terlalu kuno apa gimana sih? Nggak ngerti lagi. Apa gue salah ya kalau susah buat buka baju? Tp bukankah seharusnya begitu? Gue bisa aja ceplas ceplos... tp untuk hal2 privat yg intimate, itu hanya utk gue dan my special one. Dan jadi special one itu pun jalannya panjang dan terjal deh ah. Ya kalau gampang kan nanti hadiahnya kipas angin, bukan tambatan hati. Gue setuju dgn kata2 bahwa masuk dating site ini adalah ujian mental dan iman. Yg nggak kuat iman ya dadah aja... rentan kecemplung yg ga bener.
Intinya, budi pekerti dan sopan santun sudah mulai menipis. Jadi yaaaa... masing2 orang hrs pasang pagar yg lebih kokoh. PR banget.
Friday, January 17, 2020
Beautiful Love Journey
Our love.
We cannot be together. How can it be beautiful?
We still love each other, no matter how many times we were arguing. No matter how far we were apart. No matter how we felt we were so incompatible to one another. No matter how mad you were to me (or vice versa).
We do still love each other, even though we know we cannot be together. And we know, the love is getting stronger each passing day. Not many people are lucky enough, to be given the chance to love, unconditional love. And that exact fact made this love journey so very beautiful.
Don't you think?
We cannot be together. How can it be beautiful?
We still love each other, no matter how many times we were arguing. No matter how far we were apart. No matter how we felt we were so incompatible to one another. No matter how mad you were to me (or vice versa).
We do still love each other, even though we know we cannot be together. And we know, the love is getting stronger each passing day. Not many people are lucky enough, to be given the chance to love, unconditional love. And that exact fact made this love journey so very beautiful.
Don't you think?
Friday, January 10, 2020
Kamu Itu....
Bagaimana rasanya jatuh cinta berkali-kali, pada orang yang sama? Rasanya indah sekali. Bahkan ketika tahu bahwa cinta itu hanya bisa dari jauh saja, tetap indah. Mencintaimu, dari jauh atau dekat, sama saja. Tetap indah. Tetap megah.
Mengagumi. Selalu. Apa pun yang kamu buat. Bagaimana rasanya terpesona setiap saat? Setiap menit? Setiap detik?
Mencintaimu akan tetap menjadi bagian dari hidupku. Sampai kapan pun.
Mengagumi. Selalu. Apa pun yang kamu buat. Bagaimana rasanya terpesona setiap saat? Setiap menit? Setiap detik?
Mencintaimu akan tetap menjadi bagian dari hidupku. Sampai kapan pun.
Tuesday, January 07, 2020
The Findings
Salah satu "hasil" dari dolanan dating site sepanjang tahun lalu adalah menemukan orang2 yg dikenal di dalamnya. Ada yg suaminya temen, temen kantor lama, tetangga, suaminya klien....
Ada apa dgn orang2 itu?
Mereka mestinya cukup dewasa untuk paham fungsi dan kegunaan dating site. Da-ting. Apa yg mereka harapkan? Bhw mereka akan menemukan teman2 baru? Perempuan? Untuk apa?
Pertanyaan sama jg untuk laki2 beristri yg masang foto di dating site dan berdalih hanya ingin mencari hiburan. Apakah dunia sudah sesakit itu?
Apa yg ada di pikiran para suami2 ngawuran itu ya? Nggak ingat istrinya? Okay, bisa lupa itu gimana? Amnesia?
Kalau sdh begitu, gue kok rasanya beruntung nggak punya suami. Plg nggak, satu drama bisa dicoret dari kehidupan gue.
Ada apa dgn orang2 itu?
Mereka mestinya cukup dewasa untuk paham fungsi dan kegunaan dating site. Da-ting. Apa yg mereka harapkan? Bhw mereka akan menemukan teman2 baru? Perempuan? Untuk apa?
Pertanyaan sama jg untuk laki2 beristri yg masang foto di dating site dan berdalih hanya ingin mencari hiburan. Apakah dunia sudah sesakit itu?
Apa yg ada di pikiran para suami2 ngawuran itu ya? Nggak ingat istrinya? Okay, bisa lupa itu gimana? Amnesia?
Kalau sdh begitu, gue kok rasanya beruntung nggak punya suami. Plg nggak, satu drama bisa dicoret dari kehidupan gue.
Subscribe to:
Posts (Atom)