Kira2 16 tahun lalu, gue masih ngantor di Kuningan. Masih punya mertua kaya raya, jadi ke mana2 diantar mobil (yg bagus banget, seri yg lbh baru ketimbang yg dipakai CEO perusahaan gue waktu itu) dan supirnya. Tiap pagi rutin ngantor sambil menikmati kehamilan.
Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?
Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.
He has gone.
Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.
Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.
Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.
Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.
Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.
Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.
Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.
Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.
Apa akibatnya?
Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.
Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).
Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.
Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....
Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.
Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....
Friday, February 21, 2020
Tuesday, February 11, 2020
Monday, February 10, 2020
Draft Berikutnya 6
"Perasaan progress-nya lama banget."
"Ya... gimana...."
"Sebenernya berminat enggak sih?"
"Kan sudah dibilang... gue enggak punya trauma apa-apa. Gue nggak pengen yang aneh-aneh. Gue nggak pengen yang gimana-gimana...."
"Tapi masak selama ini nggak ada yang nyangkut...."
"Macam-macam alasannya...."
"Pasti... pasti... karena benchmark yang sudah tinggi banget. Gara-gara cowok lu itu...."
"Ya enggak hanya karena itu sih... meskipun... mau nggak mau memang selalu dibandingkan sama dia."
"Nah kan...."
"Ya... tapi gimana...."
"Harusnya mungkin lu lebih... lebih apa ya.... Gimana, gitu?"
"Gimana?"
"Lu kan baik hati. Manis. Penyayang...."
"Rasanya sih bukan tugas gue membuktikan bahwa gue ini seperti yang lu bilang. Ya kan?"
"Ya... gimana...."
"Sebenernya berminat enggak sih?"
"Kan sudah dibilang... gue enggak punya trauma apa-apa. Gue nggak pengen yang aneh-aneh. Gue nggak pengen yang gimana-gimana...."
"Tapi masak selama ini nggak ada yang nyangkut...."
"Macam-macam alasannya...."
"Pasti... pasti... karena benchmark yang sudah tinggi banget. Gara-gara cowok lu itu...."
"Ya enggak hanya karena itu sih... meskipun... mau nggak mau memang selalu dibandingkan sama dia."
"Nah kan...."
"Ya... tapi gimana...."
"Harusnya mungkin lu lebih... lebih apa ya.... Gimana, gitu?"
"Gimana?"
"Lu kan baik hati. Manis. Penyayang...."
"Rasanya sih bukan tugas gue membuktikan bahwa gue ini seperti yang lu bilang. Ya kan?"
Sunday, February 09, 2020
The Devil is in Detail
So. Here. They. Are.
... and when every details lead me to you.... what can I do?
Saturday, February 08, 2020
Draft Berikutnya 5
"Ikut dating apps?"
"Nggak usah melotot. Coba aja. Siapa tahu berhasil."
"Nggak jelas siapa aja yang di situ."
"Di dunia ini memang ada yang jelas?"
"Duh pedes."
"Iya, karetnya dua."
"Bawel."
"Gue kasihan lihat elu sendirian ke mana-mana. Cakep-cakep kok nggak punya pasangan."
"Sialan."
"Seriuuuussss... ayolah daftar aja. Iseng-iseng berhadiah."
"Kalau ketemu scammer?"
"Ya jangan diladenin. Elu kan pinter. Masak nggak bisa bedain scammer sama mas ganteng."
"Matahari gimana?"
"Anak lu? Yah nanti aja dipikir kalau sudah ada mas gantengnya...."
"Nggak usah melotot. Coba aja. Siapa tahu berhasil."
"Nggak jelas siapa aja yang di situ."
"Di dunia ini memang ada yang jelas?"
"Duh pedes."
"Iya, karetnya dua."
"Bawel."
"Gue kasihan lihat elu sendirian ke mana-mana. Cakep-cakep kok nggak punya pasangan."
"Sialan."
"Seriuuuussss... ayolah daftar aja. Iseng-iseng berhadiah."
"Kalau ketemu scammer?"
"Ya jangan diladenin. Elu kan pinter. Masak nggak bisa bedain scammer sama mas ganteng."
"Matahari gimana?"
"Anak lu? Yah nanti aja dipikir kalau sudah ada mas gantengnya...."
Friday, February 07, 2020
I Wish, Over and Over Again
Dalam harapku
Dan inginku
Kau ada di sana
Di setiap langkahku
Dan mimpiku
Kau ada di sana
Mungkin suatu saat nanti
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Kaulah hasratku
Dan cintaku
Kaulah segalanya
Izinkan diriku
Bersamamu
Karena sesungguhnya
Kurindukan dekapanmu
Kujanjikan setia
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Dan cintaku
Kaulah segalanya
Izinkan diriku
Bersamamu
Karena sesungguhnya
Kurindukan dekapanmu
Kujanjikan setia
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Meski ku dan dirinya terpisah jarak dan waktu
Namun kuyakin dirimu hanya untukku
Namun kuyakin dirimu hanya untukku
Tak perlu kau ragu kasih
Kuyakin cinta kita kan abadi dan indah pada waktunya
Kuyakin cinta kita kan abadi dan indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Jaga dirinya
Aku menunggu
Hingga dirimu dan diriku
Jaga dirinya
Aku menunggu
Hingga dirimu dan diriku
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Indah Pada Waktunya
Thursday, February 06, 2020
Draft Berikutnya 4
Debar dadaku sepertinya begitu kencang, hingga akan terdengar oleh orang yang berdiri di depanku. Aku berhenti di depan pintu restoran Indonesia di sebuah mal. Sekali lagi kubaca pesan singkat di ponselku.
"Saya di meja nomor 31. Baju putih, celana cokelat."
Mataku menyapu seluruh ruang dan dengan mudah menemukan meja yang dimaksud. Itu pasti dia. Dia menyebutkan bahwa tubuhnya tinggi besar. Dan ya, memang betul, sosok itu memenuhi satu kursi, kakinya terlihat terlalu panjang di bawah meja. Wajahnya tak tampak jelas karena penerangan restoran yang remang. Tapi hidung bagus dan kulit putih tetap terlihat dari kejauhan. Tampan.
Aku sedikit ragu. Kuteliti lagi penampilanku. Celana khaki dan atasan putih ini seharusnya tidak mengecewakan. Sneakers sudah kutinggal di mobil. Berganti sepatu tinggi warna pink muda, senada dengan tas tangan kecil dalam genggamanku. Sekilas kuintip pantulan wajahku di kaca pintu. Lumayan lah.
Ini akan menjadi kali pertama kami bertemu, setelah selama sekitar dua minggu hanya saling bertukar pesan pendek. Bagiku, ini juga kali pertama aku bertemu seseorang yang kukenal lewat aplikasi kencan. Belum pernah mengalaminya, aku tak yakin apa yang harus aku lakukan.
"Selamat malam," sapaku saat sudah cukup dekat dengan meja nomor 31. Bagaimana pun, aku berusaha keras terdengar ceria dan ramah, menyembunyikan resah hatiku yang sangat mengganggu.
Dia mengangkat wajah. Senyum lebar segera tersuguh. Duh... tampan sekali.
"Hai. Saya Prasetya. Okay... hmm... kamu sudah tahu nama saya, ya...," dia tampak tersipu, lalu segera berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman. "Have a seat," katanya sambil menarik salah satu kursi untukku.
"Terima kasih," kataku sambil duduk. Setelah membetulkan kursiku, dia kembali ke kursinya. Samar, aroma parfum yang lembut membelai hidungku.
"Sudah pesan makanan?" aku kehilangan kata melihat wajahnya yang jauh lebih tampan ketimbang di foto profil yang selama ini kulihat. Resah, kubuka buku menu untuk menyalurkan debar di dadaku yang semakin kencang.
"Belum. Menunggu kamu," katanya ramah.
"Maaf menunggu. Saya tertahan sesuatu di kantor."
"No worries. Saya belum lama, kok," jawabnya sambil melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Kami mau pesan, mas." Lalu kepadaku, dia berkata, "Kamu jauh lebih cantik daripada fotomu."
Tiba-tiba lidahku seperti kelu.
"Saya di meja nomor 31. Baju putih, celana cokelat."
Mataku menyapu seluruh ruang dan dengan mudah menemukan meja yang dimaksud. Itu pasti dia. Dia menyebutkan bahwa tubuhnya tinggi besar. Dan ya, memang betul, sosok itu memenuhi satu kursi, kakinya terlihat terlalu panjang di bawah meja. Wajahnya tak tampak jelas karena penerangan restoran yang remang. Tapi hidung bagus dan kulit putih tetap terlihat dari kejauhan. Tampan.
Aku sedikit ragu. Kuteliti lagi penampilanku. Celana khaki dan atasan putih ini seharusnya tidak mengecewakan. Sneakers sudah kutinggal di mobil. Berganti sepatu tinggi warna pink muda, senada dengan tas tangan kecil dalam genggamanku. Sekilas kuintip pantulan wajahku di kaca pintu. Lumayan lah.
Ini akan menjadi kali pertama kami bertemu, setelah selama sekitar dua minggu hanya saling bertukar pesan pendek. Bagiku, ini juga kali pertama aku bertemu seseorang yang kukenal lewat aplikasi kencan. Belum pernah mengalaminya, aku tak yakin apa yang harus aku lakukan.
"Selamat malam," sapaku saat sudah cukup dekat dengan meja nomor 31. Bagaimana pun, aku berusaha keras terdengar ceria dan ramah, menyembunyikan resah hatiku yang sangat mengganggu.
Dia mengangkat wajah. Senyum lebar segera tersuguh. Duh... tampan sekali.
"Hai. Saya Prasetya. Okay... hmm... kamu sudah tahu nama saya, ya...," dia tampak tersipu, lalu segera berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman. "Have a seat," katanya sambil menarik salah satu kursi untukku.
"Terima kasih," kataku sambil duduk. Setelah membetulkan kursiku, dia kembali ke kursinya. Samar, aroma parfum yang lembut membelai hidungku.
"Sudah pesan makanan?" aku kehilangan kata melihat wajahnya yang jauh lebih tampan ketimbang di foto profil yang selama ini kulihat. Resah, kubuka buku menu untuk menyalurkan debar di dadaku yang semakin kencang.
"Belum. Menunggu kamu," katanya ramah.
"Maaf menunggu. Saya tertahan sesuatu di kantor."
"No worries. Saya belum lama, kok," jawabnya sambil melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Kami mau pesan, mas." Lalu kepadaku, dia berkata, "Kamu jauh lebih cantik daripada fotomu."
Tiba-tiba lidahku seperti kelu.
Wednesday, February 05, 2020
Draft Berikutnya 3
Aku agak terkejut mendapati berkas-berkas di dalam tas yang ada di jok belakang mobilku. Di kepala suratnya, tertera nama klinik fertilitas ternama. Sekilas saja, aku tahu bahwa itu adalah rekam medis milik pasien. Yang membuatku nyaris tersedak adalah nama yang tertulis di sampulnya: Prasetya Andika. Kemarin, Pras memang meminjam mobilku.
"Jadi kamu masih berminat punya anak?"
"Kamu?"
"Nope."
"Hmm... karena kamu sudah punya...."
"Iya. Mungkin itu ya...."
"Maksudmu?"
"Saya paham kalau kamu masih ingin berusaha. Wajar."
"Memang tidak akan mudah...."
Kami pernah membicarakan hal ini sekilas. Bahkan di beberapa kesempatan. Di antara kopi dan kue keju dan tumpukan pekerjaan. Aku dan Pras memang tidak pernah serius membicarakan kebersamaan kami. Mengapa? Aku tidak tahu. Sepertinya karena kami paham bahwa sebetulnya tujuan perjalanan kami berbeda. Tapi kami sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan berdua.
Salah satu perbedaannya adalah tentang keturunan. Dari awal perkenalan, kami tahu, masing-masing dari kami pernah menikah. Bedanya, aku punya Matahari. Sementara Pras belum memiliki anak.
"Saya tidak seberuntung kamu," katanya suatu kali.
"Atau mungkin malah lebih beruntung."
"Maksudmu?"
"Punya anak bukan perkara mudah. Tidak hanya tanggung jawab finansial yang harus dipikirkan, tapi juga perkara mendidik dan membesarkan dia. Lalu menerima dia apa adanya.... Kamu tahu? Anak tidak selamanya membahagiakan kita. Dia kadang melakukan hal-hal yang mengecewakan, membuat kita sedih, yang harus kita hadapi. Bukan hal yang sederhana."
"Saya tahu. Tapi bukankah manusiawi bahwa setiap orang ingin punya keturunan?"
"Ya. Dan saya tahu kamu pasti sudah berusaha."
"Ke klinik, maksudmu? Iya, tapi tahapan penyembuhannya belum selesai."
"Kamu ingin lanjutkan?"
"I don't know."
Menemukan rekam medis itu, aku paham bahwa Pras sedang melanjutkan proses pengobatan alat reproduksinya. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku. Aku sangat sadar, bukan aku orang yang tepat mendampingi Pras di masa depan, jika ia masih menginginkan memiliki darah dagingnya sendiri.
"Jadi kamu masih berminat punya anak?"
"Kamu?"
"Nope."
"Hmm... karena kamu sudah punya...."
"Iya. Mungkin itu ya...."
"Maksudmu?"
"Saya paham kalau kamu masih ingin berusaha. Wajar."
"Memang tidak akan mudah...."
Kami pernah membicarakan hal ini sekilas. Bahkan di beberapa kesempatan. Di antara kopi dan kue keju dan tumpukan pekerjaan. Aku dan Pras memang tidak pernah serius membicarakan kebersamaan kami. Mengapa? Aku tidak tahu. Sepertinya karena kami paham bahwa sebetulnya tujuan perjalanan kami berbeda. Tapi kami sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan berdua.
Salah satu perbedaannya adalah tentang keturunan. Dari awal perkenalan, kami tahu, masing-masing dari kami pernah menikah. Bedanya, aku punya Matahari. Sementara Pras belum memiliki anak.
"Saya tidak seberuntung kamu," katanya suatu kali.
"Atau mungkin malah lebih beruntung."
"Maksudmu?"
"Punya anak bukan perkara mudah. Tidak hanya tanggung jawab finansial yang harus dipikirkan, tapi juga perkara mendidik dan membesarkan dia. Lalu menerima dia apa adanya.... Kamu tahu? Anak tidak selamanya membahagiakan kita. Dia kadang melakukan hal-hal yang mengecewakan, membuat kita sedih, yang harus kita hadapi. Bukan hal yang sederhana."
"Saya tahu. Tapi bukankah manusiawi bahwa setiap orang ingin punya keturunan?"
"Ya. Dan saya tahu kamu pasti sudah berusaha."
"Ke klinik, maksudmu? Iya, tapi tahapan penyembuhannya belum selesai."
"Kamu ingin lanjutkan?"
"I don't know."
Menemukan rekam medis itu, aku paham bahwa Pras sedang melanjutkan proses pengobatan alat reproduksinya. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku. Aku sangat sadar, bukan aku orang yang tepat mendampingi Pras di masa depan, jika ia masih menginginkan memiliki darah dagingnya sendiri.
Tuesday, February 04, 2020
Draft Berikutnya 2
"Jadi kami terpaksa berhenti di tempat itu, lalu susah payah memundurkan mobil yang terjepit. Ah... siapa bilang kompas digital memudahkan hidup? Beberapa kali kami disesatkannya!"
Pras tergelak. Mengenang kembali perjalanannya Jakarta-Bali mengendarai mobil.
Mengamatinya ketika bercakap, melihat matanya mengerjap berbinar... aku tak bisa membendung gembira akibat tertular keceriaannya. Sulit menahan rasa di dadaku. Apa nama rasa itu? Terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang keluar dari dalam dada. Tiba-tiba aku merasa ujung-ujung jariku kebas. Ini apa?
Rasanya sudah lama sekali saat aku terakhir merasakan hal ini. Duduk bersisian. Tertawa bersama. Membiarkannya menggenggam tanganku. Hatiku terasa aman dan tenteram. Getar rasa ajaib itu lalu menjalari bahu, hingga punggungku. Membuatku ingin bersandar. Sambil tersenyum.
Tiba-tiba aku ingat lagi apa nama rasa itu: bahagia.
Pras tergelak. Mengenang kembali perjalanannya Jakarta-Bali mengendarai mobil.
Mengamatinya ketika bercakap, melihat matanya mengerjap berbinar... aku tak bisa membendung gembira akibat tertular keceriaannya. Sulit menahan rasa di dadaku. Apa nama rasa itu? Terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang keluar dari dalam dada. Tiba-tiba aku merasa ujung-ujung jariku kebas. Ini apa?
Rasanya sudah lama sekali saat aku terakhir merasakan hal ini. Duduk bersisian. Tertawa bersama. Membiarkannya menggenggam tanganku. Hatiku terasa aman dan tenteram. Getar rasa ajaib itu lalu menjalari bahu, hingga punggungku. Membuatku ingin bersandar. Sambil tersenyum.
Tiba-tiba aku ingat lagi apa nama rasa itu: bahagia.
Sunday, February 02, 2020
Draft Berikutnya
Nomornya berpendar di layar ponsel. Segera kujawab dengan senyum lebar.
"Halo!"
"Mau makan siang sama saya?"
"Mau!"
Jawaban yang keluar dari mulutku lebih cepat dari kemampuan otakku berpikir dan mencerna pertanyaannya.
"Share location, ya. Saya jemput."
Dan tak berapa lama, hanya cukup memberi waktu bagiku mengganti baju saja, hadirlah dia di depan rumahku. Memarkir mobil dengan rapi, lalu turun tanpa mematikan mesin. Tubuhnya yang tinggi besar terbungkus kemeja warna hitam. Kacamata hitam bertengger di wajahnya. Tampan.
"Kamu mau masuk dulu?"
"Nggak. Kita langsung saja. Nggak ada Ibu, kan?"
"Nggak. Ya lalu kenapa turun?"
Pertanyaanku mengambang di udara.
Setelah memastikan aku mengunci pintu, dia gandeng tanganku. Membukakan pintu kendaraan, lalu menungguku masuk mobilnya sebelum menutup pintu dan berjalan ke balik kemudi.
"Itu kebiasaan saya."
Aku terpana. Hatiku tercuri sudah. Seluruhnya.
"Halo!"
"Mau makan siang sama saya?"
"Mau!"
Jawaban yang keluar dari mulutku lebih cepat dari kemampuan otakku berpikir dan mencerna pertanyaannya.
"Share location, ya. Saya jemput."
Dan tak berapa lama, hanya cukup memberi waktu bagiku mengganti baju saja, hadirlah dia di depan rumahku. Memarkir mobil dengan rapi, lalu turun tanpa mematikan mesin. Tubuhnya yang tinggi besar terbungkus kemeja warna hitam. Kacamata hitam bertengger di wajahnya. Tampan.
"Kamu mau masuk dulu?"
"Nggak. Kita langsung saja. Nggak ada Ibu, kan?"
"Nggak. Ya lalu kenapa turun?"
Pertanyaanku mengambang di udara.
Setelah memastikan aku mengunci pintu, dia gandeng tanganku. Membukakan pintu kendaraan, lalu menungguku masuk mobilnya sebelum menutup pintu dan berjalan ke balik kemudi.
"Itu kebiasaan saya."
Aku terpana. Hatiku tercuri sudah. Seluruhnya.
Thursday, January 30, 2020
Mari Berbahagia
Bagaimana bisa bahagia, kalau sedih aja nggak tahu rasanya?
Kira2 begitulah kesimpulan (dan ada sih dialognya) dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini yg kemarin gue tonton sm Aria. Film yg bagus, adaptasi dari buku yg juga bagus. Sutradara juara banget. Angle kamera jempolan. Nonton di premiere. Puas.
Film ini akhirnya membuka diskusi yg lumayan serius (tp kocak) dgn anak gue. Terutama tentang cara keluarga handling things.
"What if someday your dad comes and says he is sorry for all the mess?"
"Hmmm... if he ever comes, I'll ask about my right."
"What is that?"
"You know, my right. I am entitled of certain amount of money he should provide. So that will be my first question."
"Matre, kamu."
"Itu hakku, mamiiiiiii...."
"But do you think it is a mess? This situation?"
"Hmm... it will be a mess when you can't provide me with things. I am okay, so far."
Alhamdulillah kalau Aria baik2 saja. Memang kata seorang teman, kalau anak satu, standardnya akan beda. Ya juga sih. Toh semua resource tersedia buat dia seorang saja. Tujuan utamanya: dia bahagia.
Intinya, seringkali memang orang mengabaikan perasaan. Sedih. Marah. Luka. Bahagia. Semua diperlakukan sama saja. Ketika sedih, bukannya dirasakan lalu dikenali perasaannya, tapi dipendam. Ketika marah, bukan dicarikan solusi, tapi diabaikan. Ketika luka, bukan dicari sumbernya lalu diberesin, tapi ditutupi. Bahkan ketika bahagia, tidak dirasakan dengan sukacita, tapi dibiarkan berlalu seolah itu hal biasa. Jadinya hidup terasa datar saja. Kayak nggak ngapa2in.
Padahal, semestinya hidup itu dirayakan.
Mungkin gue memang harus mempelajari lagi perasaan2 gue. Sama ketika dulu ngajarin Aria tentang emosi. Sedih itu gimana? Harus diapain? Gembira itu apa? Harus ngapain? Karena skrg ini gue mulai merasa hidup yg datar saja. Lurus tanpa ekspresi.
Beberapa hari lalu, Aria selesai internship nggak pulang ke rumah, tapi ke kantor Palmerah. Dia cerita nggak dapat TransJ dan cari jalan ke stasiun Kebayoran. Tp lalu commuter line penuh sekali, jadi dia naik yg ke Palmerah. Oh how I was so proud he could find his way commuting by himself. Pilihan ke Palmerah memang nyenengin sih... wifi kenceng dan banyak ransum. Cocok buat ABG yg dalam masa pertumbuhan hahaha.... Yg juga menyenangkan adalah di jalan pulang kami bisa bercerita macam2. Dari mulai Korean wave sampai curhat percintaan yawlaaaaa.... "Ibu, jangan lupa bahwa peraturan masih sama, ibu punya pacar, atau menikah lagi, berarti aku ganti handphone." Tobat.
But I was beyond happy to find time to talk to him. Pulang bareng Aria itu meyakinkan gue bahwa bahagia itu nggak harus dicari di mana2. Cukup bisa bareng sama yg disayang aja, juga sudah bahagia. Semua kesempatan hrs disyukuri. Lalu segala kemudahan dan kegembiraan juga hrs diterima dengan syukur. Semoga bisa lebih mudah berbahagia. Alhamdulillah.
Kira2 begitulah kesimpulan (dan ada sih dialognya) dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini yg kemarin gue tonton sm Aria. Film yg bagus, adaptasi dari buku yg juga bagus. Sutradara juara banget. Angle kamera jempolan. Nonton di premiere. Puas.
Film ini akhirnya membuka diskusi yg lumayan serius (tp kocak) dgn anak gue. Terutama tentang cara keluarga handling things.
"What if someday your dad comes and says he is sorry for all the mess?"
"Hmmm... if he ever comes, I'll ask about my right."
"What is that?"
"You know, my right. I am entitled of certain amount of money he should provide. So that will be my first question."
"Matre, kamu."
"Itu hakku, mamiiiiiii...."
"But do you think it is a mess? This situation?"
"Hmm... it will be a mess when you can't provide me with things. I am okay, so far."
Alhamdulillah kalau Aria baik2 saja. Memang kata seorang teman, kalau anak satu, standardnya akan beda. Ya juga sih. Toh semua resource tersedia buat dia seorang saja. Tujuan utamanya: dia bahagia.
Intinya, seringkali memang orang mengabaikan perasaan. Sedih. Marah. Luka. Bahagia. Semua diperlakukan sama saja. Ketika sedih, bukannya dirasakan lalu dikenali perasaannya, tapi dipendam. Ketika marah, bukan dicarikan solusi, tapi diabaikan. Ketika luka, bukan dicari sumbernya lalu diberesin, tapi ditutupi. Bahkan ketika bahagia, tidak dirasakan dengan sukacita, tapi dibiarkan berlalu seolah itu hal biasa. Jadinya hidup terasa datar saja. Kayak nggak ngapa2in.
Padahal, semestinya hidup itu dirayakan.
Mungkin gue memang harus mempelajari lagi perasaan2 gue. Sama ketika dulu ngajarin Aria tentang emosi. Sedih itu gimana? Harus diapain? Gembira itu apa? Harus ngapain? Karena skrg ini gue mulai merasa hidup yg datar saja. Lurus tanpa ekspresi.
Beberapa hari lalu, Aria selesai internship nggak pulang ke rumah, tapi ke kantor Palmerah. Dia cerita nggak dapat TransJ dan cari jalan ke stasiun Kebayoran. Tp lalu commuter line penuh sekali, jadi dia naik yg ke Palmerah. Oh how I was so proud he could find his way commuting by himself. Pilihan ke Palmerah memang nyenengin sih... wifi kenceng dan banyak ransum. Cocok buat ABG yg dalam masa pertumbuhan hahaha.... Yg juga menyenangkan adalah di jalan pulang kami bisa bercerita macam2. Dari mulai Korean wave sampai curhat percintaan yawlaaaaa.... "Ibu, jangan lupa bahwa peraturan masih sama, ibu punya pacar, atau menikah lagi, berarti aku ganti handphone." Tobat.
But I was beyond happy to find time to talk to him. Pulang bareng Aria itu meyakinkan gue bahwa bahagia itu nggak harus dicari di mana2. Cukup bisa bareng sama yg disayang aja, juga sudah bahagia. Semua kesempatan hrs disyukuri. Lalu segala kemudahan dan kegembiraan juga hrs diterima dengan syukur. Semoga bisa lebih mudah berbahagia. Alhamdulillah.
Wednesday, January 29, 2020
Is There Any Left for Me?
Find someone who wants to invest in you, learn from you, see you win, support your vision and fall in love with you daily.
I stumbled upon those words and suddenly my heart itches. I know someone who will tick all the boxes with happy face. And yes, once I thought I already found the one, but had to let him go.
If love is a once-in-a-lifetime chance, I think I used mine already.
I stumbled upon those words and suddenly my heart itches. I know someone who will tick all the boxes with happy face. And yes, once I thought I already found the one, but had to let him go.
If love is a once-in-a-lifetime chance, I think I used mine already.
Tuesday, January 28, 2020
Ujian Mental & Iman
Hey you... thanks for giving me the idea for this post (and the title is exactly your word).
Ngobrol2 soal pengalaman ada di dating site. Pernah ketemu yg aneh2? Gue sih pernah. Banget.
Ada yg mengaku tinggal dan bekerja di Bali. Krn kami sama2 berdarah Jawa Timur, jadi akhirnya ngobrol pakai bahasa ibu. Mungkin itu suatu "keuntungan" krn dalam bahasa itu, omongan2 yg kesannya jorok dan porno bisa jadi biasa aja. Tp lalu dia merasa sudah begitu dekat dgn gue dan tiba2 seminggu setelah kenalan dia bilang dia sdh di Jkt trus mau melamar. Eh! Edan tenan. Unmatch lah. Gila.
Lalu... ada lagi yg sejak day one ngomongnya kesulitan keuangan melulu. Masak ngomongin menu makanan bisa tiba2 belok ke tagihan kartu kredit. Ngomongin iklan kecap bisa berakhir dengan rekening tabungan dia yg ga ada isinya. Lah iya kalau ngomong sama akuntan sih gapapa ya. Ini selalu berakhir dengan, "duh aku ini ga punya apa2." Yo wis lah mas... nek ra duwe opo2... golek dhisik yo. Mengko balik maneh. Bhay sblm dia minta bantuan bayarin sekolah anaknya.
Yang ngajakin one night stand juga banyak. Banget. Dan ini sih biasanya langsung gue unmatch tanpa ampun. Tp memang kebanyakan yg ngajak itu gaya bahasanya jg sdh nggak bener sih dr awal. I should know better.
Herannya, yg ngajakin ONS ini banyak banget yg berpenampilan santun dan agamis. Ya... you know. Bahkan beberapa mencantumkan ayat2 di bio. Hmm... kok gue yg sakit hati kalau mereka nggak sesuai dgn penampilannya ya?
Gue pikir, match aneh2 ini tidak berlaku untuk cowok. Ternyata tidaaaakkk.... Sama saja sih. Katanya. Bbrp cowok (single) yg mencoba dating site sharing pengalaman yg gemblung menjurus horor.
Satu yg ngeri banget waktu dia merasa nyaris diperkosa sm perempuan yg dia ajak dating. Rencana awal mau ngopi2 sambil ngobrol di apartemen si perempuan. Sesampai di sana, baru ngobrol sebentar tiba2 si perempuan ini sdh duduk di pangkuan dia. Gesture tubuhnya sangat menjurus dan mengundang, menyampaikan kebutuhan. Eh eh eh.... Temen gue cemas. Dan menolak krn merasa tidak pada tempatnya. Ceweknya gimana? Ambil vibrator dan beraktivitas sendirian. Sementara si cowok milih nonton tv.... "It ended awkwardly." Awkward dan ngeri sih kalau buat gue....
Trus ada juga yg setelah kenal selalu diajak ketemu dan jelas2 diminta untuk meniduri. Segala rayuan dan bujukan dilancarkan di jendela chat untuk mengajak si cowok datang. Daaan... dari chat yg dikasih lihat ke gue, nggak cuma satu perempuan yg melakukannya. Ada beberapa. Dan ada yg cantik manis berkerudung rapat. Hmm.... "Dia pun ternyata bersuami," kata si cowok. What?
Gue yg terlalu kuno apa gimana sih? Nggak ngerti lagi. Apa gue salah ya kalau susah buat buka baju? Tp bukankah seharusnya begitu? Gue bisa aja ceplas ceplos... tp untuk hal2 privat yg intimate, itu hanya utk gue dan my special one. Dan jadi special one itu pun jalannya panjang dan terjal deh ah. Ya kalau gampang kan nanti hadiahnya kipas angin, bukan tambatan hati. Gue setuju dgn kata2 bahwa masuk dating site ini adalah ujian mental dan iman. Yg nggak kuat iman ya dadah aja... rentan kecemplung yg ga bener.
Intinya, budi pekerti dan sopan santun sudah mulai menipis. Jadi yaaaa... masing2 orang hrs pasang pagar yg lebih kokoh. PR banget.
Ngobrol2 soal pengalaman ada di dating site. Pernah ketemu yg aneh2? Gue sih pernah. Banget.
Ada yg mengaku tinggal dan bekerja di Bali. Krn kami sama2 berdarah Jawa Timur, jadi akhirnya ngobrol pakai bahasa ibu. Mungkin itu suatu "keuntungan" krn dalam bahasa itu, omongan2 yg kesannya jorok dan porno bisa jadi biasa aja. Tp lalu dia merasa sudah begitu dekat dgn gue dan tiba2 seminggu setelah kenalan dia bilang dia sdh di Jkt trus mau melamar. Eh! Edan tenan. Unmatch lah. Gila.
Lalu... ada lagi yg sejak day one ngomongnya kesulitan keuangan melulu. Masak ngomongin menu makanan bisa tiba2 belok ke tagihan kartu kredit. Ngomongin iklan kecap bisa berakhir dengan rekening tabungan dia yg ga ada isinya. Lah iya kalau ngomong sama akuntan sih gapapa ya. Ini selalu berakhir dengan, "duh aku ini ga punya apa2." Yo wis lah mas... nek ra duwe opo2... golek dhisik yo. Mengko balik maneh. Bhay sblm dia minta bantuan bayarin sekolah anaknya.
Yang ngajakin one night stand juga banyak. Banget. Dan ini sih biasanya langsung gue unmatch tanpa ampun. Tp memang kebanyakan yg ngajak itu gaya bahasanya jg sdh nggak bener sih dr awal. I should know better.
Herannya, yg ngajakin ONS ini banyak banget yg berpenampilan santun dan agamis. Ya... you know. Bahkan beberapa mencantumkan ayat2 di bio. Hmm... kok gue yg sakit hati kalau mereka nggak sesuai dgn penampilannya ya?
Gue pikir, match aneh2 ini tidak berlaku untuk cowok. Ternyata tidaaaakkk.... Sama saja sih. Katanya. Bbrp cowok (single) yg mencoba dating site sharing pengalaman yg gemblung menjurus horor.
Satu yg ngeri banget waktu dia merasa nyaris diperkosa sm perempuan yg dia ajak dating. Rencana awal mau ngopi2 sambil ngobrol di apartemen si perempuan. Sesampai di sana, baru ngobrol sebentar tiba2 si perempuan ini sdh duduk di pangkuan dia. Gesture tubuhnya sangat menjurus dan mengundang, menyampaikan kebutuhan. Eh eh eh.... Temen gue cemas. Dan menolak krn merasa tidak pada tempatnya. Ceweknya gimana? Ambil vibrator dan beraktivitas sendirian. Sementara si cowok milih nonton tv.... "It ended awkwardly." Awkward dan ngeri sih kalau buat gue....
Trus ada juga yg setelah kenal selalu diajak ketemu dan jelas2 diminta untuk meniduri. Segala rayuan dan bujukan dilancarkan di jendela chat untuk mengajak si cowok datang. Daaan... dari chat yg dikasih lihat ke gue, nggak cuma satu perempuan yg melakukannya. Ada beberapa. Dan ada yg cantik manis berkerudung rapat. Hmm.... "Dia pun ternyata bersuami," kata si cowok. What?
Gue yg terlalu kuno apa gimana sih? Nggak ngerti lagi. Apa gue salah ya kalau susah buat buka baju? Tp bukankah seharusnya begitu? Gue bisa aja ceplas ceplos... tp untuk hal2 privat yg intimate, itu hanya utk gue dan my special one. Dan jadi special one itu pun jalannya panjang dan terjal deh ah. Ya kalau gampang kan nanti hadiahnya kipas angin, bukan tambatan hati. Gue setuju dgn kata2 bahwa masuk dating site ini adalah ujian mental dan iman. Yg nggak kuat iman ya dadah aja... rentan kecemplung yg ga bener.
Intinya, budi pekerti dan sopan santun sudah mulai menipis. Jadi yaaaa... masing2 orang hrs pasang pagar yg lebih kokoh. PR banget.
Friday, January 17, 2020
Beautiful Love Journey
Our love.
We cannot be together. How can it be beautiful?
We still love each other, no matter how many times we were arguing. No matter how far we were apart. No matter how we felt we were so incompatible to one another. No matter how mad you were to me (or vice versa).
We do still love each other, even though we know we cannot be together. And we know, the love is getting stronger each passing day. Not many people are lucky enough, to be given the chance to love, unconditional love. And that exact fact made this love journey so very beautiful.
Don't you think?
We cannot be together. How can it be beautiful?
We still love each other, no matter how many times we were arguing. No matter how far we were apart. No matter how we felt we were so incompatible to one another. No matter how mad you were to me (or vice versa).
We do still love each other, even though we know we cannot be together. And we know, the love is getting stronger each passing day. Not many people are lucky enough, to be given the chance to love, unconditional love. And that exact fact made this love journey so very beautiful.
Don't you think?
Friday, January 10, 2020
Kamu Itu....
Bagaimana rasanya jatuh cinta berkali-kali, pada orang yang sama? Rasanya indah sekali. Bahkan ketika tahu bahwa cinta itu hanya bisa dari jauh saja, tetap indah. Mencintaimu, dari jauh atau dekat, sama saja. Tetap indah. Tetap megah.
Mengagumi. Selalu. Apa pun yang kamu buat. Bagaimana rasanya terpesona setiap saat? Setiap menit? Setiap detik?
Mencintaimu akan tetap menjadi bagian dari hidupku. Sampai kapan pun.
Mengagumi. Selalu. Apa pun yang kamu buat. Bagaimana rasanya terpesona setiap saat? Setiap menit? Setiap detik?
Mencintaimu akan tetap menjadi bagian dari hidupku. Sampai kapan pun.
Tuesday, January 07, 2020
The Findings
Salah satu "hasil" dari dolanan dating site sepanjang tahun lalu adalah menemukan orang2 yg dikenal di dalamnya. Ada yg suaminya temen, temen kantor lama, tetangga, suaminya klien....
Ada apa dgn orang2 itu?
Mereka mestinya cukup dewasa untuk paham fungsi dan kegunaan dating site. Da-ting. Apa yg mereka harapkan? Bhw mereka akan menemukan teman2 baru? Perempuan? Untuk apa?
Pertanyaan sama jg untuk laki2 beristri yg masang foto di dating site dan berdalih hanya ingin mencari hiburan. Apakah dunia sudah sesakit itu?
Apa yg ada di pikiran para suami2 ngawuran itu ya? Nggak ingat istrinya? Okay, bisa lupa itu gimana? Amnesia?
Kalau sdh begitu, gue kok rasanya beruntung nggak punya suami. Plg nggak, satu drama bisa dicoret dari kehidupan gue.
Ada apa dgn orang2 itu?
Mereka mestinya cukup dewasa untuk paham fungsi dan kegunaan dating site. Da-ting. Apa yg mereka harapkan? Bhw mereka akan menemukan teman2 baru? Perempuan? Untuk apa?
Pertanyaan sama jg untuk laki2 beristri yg masang foto di dating site dan berdalih hanya ingin mencari hiburan. Apakah dunia sudah sesakit itu?
Apa yg ada di pikiran para suami2 ngawuran itu ya? Nggak ingat istrinya? Okay, bisa lupa itu gimana? Amnesia?
Kalau sdh begitu, gue kok rasanya beruntung nggak punya suami. Plg nggak, satu drama bisa dicoret dari kehidupan gue.
Saturday, January 04, 2020
Friday, January 03, 2020
It Has Been A While
I miss discussing a lot of things with you. Talking until we lost track of time. And then we argue, stop talking for a while... but then we continue to find another interesting topic to be shared or you just throw one of your collection from gombal mukiyo album that never fail to make me smile. How I miss you so much.
Tuesday, December 31, 2019
Monday, December 30, 2019
Embracing 2020
Tiga hari sebelum 2020... apa yg gue rasa?
2019 berlalu dgn lucu. Seperti juga tahun2 sebelumnya sih... hidup gue memang selalu gemes ya kan.... Yg seru adalah karena tepat setahun lalu memutuskan untuk mencoba masuk bursa... dating site. Hahaha....
Gara2nya ada yg ngomporin bahwa "jodoh harus dicari, nggak hanya ditunggu" dan kayaknya kok bener juga dan siapa tahu.... Akhirnya masuklah ke sebuah dating site. Mengisi semua data dengan sejujurnya krn ya apa gunanya sih tipu2 atau palsu2.
Tepat tgl 1 Januari... yg komen di profil ada beberapa. Oooh... gitu to rasanya "ternyata masih laku" hahaha... ndeso. Dari beberapa itu, pilihan dikerucutkan dengan segala hal2 demi menyaring yg sekiranya paling yahud. Dan jadilah kenalan sama Bravo.
Bapak2 anak tiga. Ngobrolnya nyambung banget... jadi ya... kenapa nggak ketemuan. Sedikit cemas bhw setelah ketemu dia akan nggak telepon lagi.... Ternyata enggak kok. Telepon tetep rajin... video call tetap sering... krn tempat tinggalnya yg jauh. Ahaha... gue bisa ambil ijazah soal LDR nih kayaknya.
Tp memang LDR itu lawak sih ya. Nggak bisa sepenuhnya menunjukkan emosi. Apalah... trus di suatu ketika, gue menemukan kejanggalan2 yg nggak pas dgn ceritanya. Atau... cerita2nya mulai nggak sinkron gitu deh. Lebih tentang sehari2 dia tp kok ganggu banget kalau nggak dibahas. Yah namanya baru kenal gitu doang sih. Tp lalu pertanyaan2 kritis gue bikin dia menarik diri. Mungkin merasa gue telanjangi... yaaaaa... atau nggak jodoh aja? Intinya mulai tampak halu.... Biasa kan.. kehaluan harus ditutup dengan kehaluan... ketika lupa pd kehaluan yg pertama, cerita jd nggak nyambung. Krn ini... lama2 telepon nggak asyik lagi. Cerita ttg Bravo hanya sekian sampai di situ.
Balik lagi deh ke bursa. Tentu blm pudar dong ya euforianya. Dan bener. Begitu aktif lagi di dating site... langsung ada yg menyambut. Lagi2 diadakan proses penyaringan dgn segala macam rambu2 yg kira2 sesuai dgn mau gue. Siapa yg nyangkut? Sebut saja Doni. Anaknya tiga dan terpencar di mana2 sementara dia pun kerja di pelosok Kalimantan sana. Eeeeh... LDR lagi, mbak? Ya gitu deh... ahaha....
Menyenangkan ngobrol sama Doni ini. Nyambung segala lawakan garing dan dia pun selalu bisa bikin gue ngakak2 gembira ria. Mungkin usia jg sih. Ga beda jauh, jd masa kecilnya dilewati dgn benda2 yg kira2 sama. Trus dia juga pernah tinggal di Jerman. Dan anak teknik. Hahaha... entah kenapa, buat gue anak teknik itu lebih pas ketimbang anak sosial. Jd seru aja ngobrolnya. Agak lumayan bertahan lah si Doni... sampai saling mengirimi ini itu. Yg sini lbh sering ngirim ke pedalaman sih... makanan biasanya. Melas ya. Hahahaha....
Tapi... sudah lama hidup sendiri ternyata juga jadi ganjalan... mungkin kebiasaan sendirian itu bikin gue nggak terlalu peka dgn orang lain. Terutama masalah gengsi yg berhubungan dgn finansial. Ya gimana? Gue kan sekian lama hidup sendiri. Semua dilihat, dipilih, dan dibayar sendiri tanpa harus mikir siapa2.
Suatu ketika, anaknya yg paling besar harus bayar kuliah dan Doni cerita kebingungan ttg biaya kuliah (di universitas swasta) yg nggak sedikit. Gue spontan aja nawarin "mau pakai uangku dulu?" Yg ternyata ditanggapi dgn salah. Hmm... dia kayaknya tersinggung banget. Dan sejak itu pelan2 membatasi kontak. Sampai akhirnya nggak telepon lagi. Dan nggak bisa dihubungi. Hal yg simpel sekali menurut gue... tp bisa jadi sesuatu yg luar biasa buat dia. Oops... maaf. Tp yaaaa... mungkin mmg bukan jodoh juga sih. Gue pun tidak berusaha mencari. Ketika telepon gue nggak dijawab... ya sudah. Biarkan saja kalau dia mau berlalu. Sekian dan terima kasih.
Tp memang attachment dgn Doni ini lumayan perlu waktu untuk bisa dihapuskan. Krn biar gimana, bbrp bulan teleponan setiap hari dan video call tiap saat itu jadi isi hari2 yg menyenangkan. Keseruan bisa terjadi waktu dia "nemenin" gue di jalan pergi atau pulang kantor... lewat telepon. Ketika semua hilang, ya rasanya ada yg nggak lengkap. Hmm... tapi latihan 13 tahun sendirian jitu juga sih buat masalah gini2. Krn akhirnya biasa lagi kok. Bisa juga menganggap semua hanya bayangan yg berlalu bersama perginya matahari.
Oh ya, sebetulnya di saat yg sama, ada juga yg approaching... dari dating site yg berbeda. Ahahahaha... lucu ternyata ya permainan dating site ini. Si mas Suryo ini punya usaha di bidang kreatif... yang nggak jauh2 dari pekerjaan gue. Dan ternyata beberapa orang dari kantor dulu kenal jg sm dia. Dia pun mengakui berusaha cari tahu ttg gue ke mereka2 itu. Ahahaha... sungguh membuatku ge-er. Seru dan lucu karena omongannya jadi sangat nyambung... tp sebagian besar kok jadi ngomongin kerjaan. Hmm... entah di mana yg nggak klop... akhirnya nggak ke mana2 juga sih. Sampai skrg kami masih saling kontak, terutama kalau ada urusan kerjaan yg perlu diskusi. Ya mungkin memang hanya itu yg kami butuhkan dari satu sama lain? Entahlah. Setelah diingat dan dirasa, nggak ada perasaan yg gimana2 juga sih di gue....
Trus suatu ketika muncul di notifikasi seorang laki2. Menyapa dgn manis banget. Dgn bahasa yg rapi dan tata bahasa yg benar. Menarik sekali. Trus ngobrol. Dan nyambung. Dan terasa dia sangat pintar. Tnyt dia pun sama spt gue, pakai nama asli. Gue google namanya dan keluarlah semua literature yg dia tulis. Hmm... pantesan pinter... kandidat profesor. Hehe.... Impian melambung sampai ke mana2 krn rasanya kok too good to be true bisa nemu orang sepinter itu ya. Suatu hari, dia tiba2 usul utk jalan2 malam mingguan. Gue yg udah lamaaaa banget nggak dating sm siapa2 jadi gembira. Waktu dia minta izin mau bawa anaknya yg umur 4 thn, gue iya2 aja. Nggak mikir apa2.
Lalu terjadilah kunjungan dari provinsi tetangga itu. Anaknya perempuan. Cantik dan manis. Bukan model anak yg rewel, dan suka buku. Jadi di rumah gue anteng ayem. Tp namanya anak2, tentunya segera bosan dgn buku2 saja, mau main2. Ayolah ke playground. Jadilah kami berempat: dia-anaknya-gue-Aria ke mall. Sampai di mall, anak gue nggak mau kehilangan ritual buat langsung ke tempat makan. Sementara anaknya langsung "Aku nggak mau makan." Dan rasanya kok saat itu gue sdh berasa lelah bagi2 perhatian. Hahaha.... Jadilah gue dan Aria masuk restoran, dia dan anaknya embuh ke mana. Ketika akhirnya dia nyusul ke restoran, ternyata anaknya belum puas main. Jd masih tetap "Aku nggak mau makan." Tante Bubu semacam kehilangan akal menghadapi balita. Tiba2 lelah tiada tara dan pengen pulang saja.... Pdh bapaknya si anak (yg memang usianya sdh agak banyak) sepertinya berharap gue bisa main2 sm anaknya. Ahahaha... apa yg kau cari, pak? Baby sitter untuk anakmu? Gue langsung membayangkan hrs mulai mikirin lagi bekal sekolah... antar jemput ke sana ke mari... urus ini itu.... ini anak masih 4 thn kok masih lama perjuangannya ya. Sementara gue baru saja merasa "merdeka" dari mengurus anak sejak Aria masuk SMA. Dgn sangat menyesal... mas profesor hrs gue coret dr daftar hadir. Nggak sanggup deh kalau hrs berhadapan dgn balita. Mohon maaf lahir batin, silakan mencari yg lain.
Ada satu lagi musisi yg kenalan di dating site juga. Tapi nggak ada rasa apa2 juga sih. Mungkin gue capek juga ya krn bbrp bulan terakhir siklusnya naik turun. Melelahkan. Hingga akhirnya yaaaa dia bertahan hanya sampai di whatsapp saja.
Hmm... sempat saling sapa sama mas2 pesepeda. Juga sama ahli waris perusahaan tambang pasir di Garut. Lalu sm pengusaha restoran Manado. Sama pegawai NGO juga pernah. Ada akuntan juga. Tapi yaaa... gitu2 aja sih. Dan tanpa terasa, berlalulah 2019. Sebentar lagi masuk 2020 dan gue masih tetap single. Tidak punya pacar. Sempat berpikir jangan2 ada yg salah dgn gue ya. Tapi lalu nggak nemu juga salahnya di mana.... Mungkin gue sdh keterlaluan mapan jadi perempuan. Krn beberapa "kandidat" tiba2 menghilang begitu tahu gue di kantor kerja (jabatannya) apa.... Berkarier kan nggak salah ya?
Kadang kepikir juga, jangan2 benchmark gue juga yg ketinggian. Hahaha... ya mohon maaf kalau sebelum ini mmg pacar gue yahud banget sih! Udahlah ganteng, pinter, jagoan memberantas kejahatan... hahaha.... Genggesin untuk nggak kelewat sholat dan ngaji tiap hari, tp ya masuk akal kan... jd gengges yang cinta gitu lhooooo.... Paket komplitlah dia itu. Masak iya gue rela dapat ganti yg nggak sampai secuilnya? Yo emoh.... Terlalu milih2? Ya masak sih nggak pilih2....
Hmm... menyedihkan juga ya... umur segini masih hrs menerka2 reaksi orang ttg gue. Berusaha manis2 menarik perhatian. Harus juga menjelaskan bhw gue nggak perlu harta, nggak peduli dia anak siapa... krn banyak jg yg curiga kalau perempuan di dating site banyak yg nggak bener. Hmmm... sini udah punya sendiri sih. Dan bisa cari sendiri juga. Alhamdulillah. Di sisi lain, gue juga hrs waspada, meneliti motif berkenalan mereka2 itu, karena terus terang aja... yg niat banget mau morotin juga ada. Di mana2 yg namanya maling tetep eksis, dalam bentuk apa pun. Jadi ya memang harus hati2 juga....
Soal ajakan one night stand? Banyak. Banget. Kampret memang. Seolah dunia ini bisa damai hanya dgn seks saja. Dan single mom selalu mengejar hubungan seksual. Mbahmu.
Dari dating site itu, ada bbrp yg bertahan menjadi teman di whatsapp chat. Ada satu orang yg berpotensi tp kayaknya semakin lama semakin jauh dari asa. Ada yg masih gue harapkan suatu ketika akan tergerak untuk mengenal gue lebih dekat dan bisa gue telisik lebih jauh. Tp ya itu semua baru sampai harapan. Mari biarkan saja alam yg mengatur. Gue memilih bertindak seperti layaknya perempuan Jawa yg hanya akan menunggu laki2 yg maju. Jodoh harus dijemput? Iya sih... tp tetep ada titik batas penjemputan kan yaaaa....
Jadi begitulah 2019 gue dalam hal mencari cinta. Mungkin mmg tidak akan mudah karena sebenarnya cinta di hati gue sdh jelas maunya ke mana. Sayangnya mentok. Hmmm... itu dulu yg hrs dibelokkan kali yaaaa....
Oke deh, dgn kerusuhan kantor yg bisa diprediksi akan terjadi tahun depan (I will run a brand new agency), sepertinya gue akan cukup rusuh jadi nggak akan terlalu peduli dgn kehidupan percintaan. Anyway, I will still open up the door, and will embrace anyone who knocks and tries to enter. But... of course... if I really want to and still have the energy to do it.
So, 2020... bring it on!
2019 berlalu dgn lucu. Seperti juga tahun2 sebelumnya sih... hidup gue memang selalu gemes ya kan.... Yg seru adalah karena tepat setahun lalu memutuskan untuk mencoba masuk bursa... dating site. Hahaha....
Gara2nya ada yg ngomporin bahwa "jodoh harus dicari, nggak hanya ditunggu" dan kayaknya kok bener juga dan siapa tahu.... Akhirnya masuklah ke sebuah dating site. Mengisi semua data dengan sejujurnya krn ya apa gunanya sih tipu2 atau palsu2.
Tepat tgl 1 Januari... yg komen di profil ada beberapa. Oooh... gitu to rasanya "ternyata masih laku" hahaha... ndeso. Dari beberapa itu, pilihan dikerucutkan dengan segala hal2 demi menyaring yg sekiranya paling yahud. Dan jadilah kenalan sama Bravo.
Bapak2 anak tiga. Ngobrolnya nyambung banget... jadi ya... kenapa nggak ketemuan. Sedikit cemas bhw setelah ketemu dia akan nggak telepon lagi.... Ternyata enggak kok. Telepon tetep rajin... video call tetap sering... krn tempat tinggalnya yg jauh. Ahaha... gue bisa ambil ijazah soal LDR nih kayaknya.
Tp memang LDR itu lawak sih ya. Nggak bisa sepenuhnya menunjukkan emosi. Apalah... trus di suatu ketika, gue menemukan kejanggalan2 yg nggak pas dgn ceritanya. Atau... cerita2nya mulai nggak sinkron gitu deh. Lebih tentang sehari2 dia tp kok ganggu banget kalau nggak dibahas. Yah namanya baru kenal gitu doang sih. Tp lalu pertanyaan2 kritis gue bikin dia menarik diri. Mungkin merasa gue telanjangi... yaaaaa... atau nggak jodoh aja? Intinya mulai tampak halu.... Biasa kan.. kehaluan harus ditutup dengan kehaluan... ketika lupa pd kehaluan yg pertama, cerita jd nggak nyambung. Krn ini... lama2 telepon nggak asyik lagi. Cerita ttg Bravo hanya sekian sampai di situ.
Balik lagi deh ke bursa. Tentu blm pudar dong ya euforianya. Dan bener. Begitu aktif lagi di dating site... langsung ada yg menyambut. Lagi2 diadakan proses penyaringan dgn segala macam rambu2 yg kira2 sesuai dgn mau gue. Siapa yg nyangkut? Sebut saja Doni. Anaknya tiga dan terpencar di mana2 sementara dia pun kerja di pelosok Kalimantan sana. Eeeeh... LDR lagi, mbak? Ya gitu deh... ahaha....
Menyenangkan ngobrol sama Doni ini. Nyambung segala lawakan garing dan dia pun selalu bisa bikin gue ngakak2 gembira ria. Mungkin usia jg sih. Ga beda jauh, jd masa kecilnya dilewati dgn benda2 yg kira2 sama. Trus dia juga pernah tinggal di Jerman. Dan anak teknik. Hahaha... entah kenapa, buat gue anak teknik itu lebih pas ketimbang anak sosial. Jd seru aja ngobrolnya. Agak lumayan bertahan lah si Doni... sampai saling mengirimi ini itu. Yg sini lbh sering ngirim ke pedalaman sih... makanan biasanya. Melas ya. Hahahaha....
Tapi... sudah lama hidup sendiri ternyata juga jadi ganjalan... mungkin kebiasaan sendirian itu bikin gue nggak terlalu peka dgn orang lain. Terutama masalah gengsi yg berhubungan dgn finansial. Ya gimana? Gue kan sekian lama hidup sendiri. Semua dilihat, dipilih, dan dibayar sendiri tanpa harus mikir siapa2.
Suatu ketika, anaknya yg paling besar harus bayar kuliah dan Doni cerita kebingungan ttg biaya kuliah (di universitas swasta) yg nggak sedikit. Gue spontan aja nawarin "mau pakai uangku dulu?" Yg ternyata ditanggapi dgn salah. Hmm... dia kayaknya tersinggung banget. Dan sejak itu pelan2 membatasi kontak. Sampai akhirnya nggak telepon lagi. Dan nggak bisa dihubungi. Hal yg simpel sekali menurut gue... tp bisa jadi sesuatu yg luar biasa buat dia. Oops... maaf. Tp yaaaa... mungkin mmg bukan jodoh juga sih. Gue pun tidak berusaha mencari. Ketika telepon gue nggak dijawab... ya sudah. Biarkan saja kalau dia mau berlalu. Sekian dan terima kasih.
Tp memang attachment dgn Doni ini lumayan perlu waktu untuk bisa dihapuskan. Krn biar gimana, bbrp bulan teleponan setiap hari dan video call tiap saat itu jadi isi hari2 yg menyenangkan. Keseruan bisa terjadi waktu dia "nemenin" gue di jalan pergi atau pulang kantor... lewat telepon. Ketika semua hilang, ya rasanya ada yg nggak lengkap. Hmm... tapi latihan 13 tahun sendirian jitu juga sih buat masalah gini2. Krn akhirnya biasa lagi kok. Bisa juga menganggap semua hanya bayangan yg berlalu bersama perginya matahari.
Oh ya, sebetulnya di saat yg sama, ada juga yg approaching... dari dating site yg berbeda. Ahahahaha... lucu ternyata ya permainan dating site ini. Si mas Suryo ini punya usaha di bidang kreatif... yang nggak jauh2 dari pekerjaan gue. Dan ternyata beberapa orang dari kantor dulu kenal jg sm dia. Dia pun mengakui berusaha cari tahu ttg gue ke mereka2 itu. Ahahaha... sungguh membuatku ge-er. Seru dan lucu karena omongannya jadi sangat nyambung... tp sebagian besar kok jadi ngomongin kerjaan. Hmm... entah di mana yg nggak klop... akhirnya nggak ke mana2 juga sih. Sampai skrg kami masih saling kontak, terutama kalau ada urusan kerjaan yg perlu diskusi. Ya mungkin memang hanya itu yg kami butuhkan dari satu sama lain? Entahlah. Setelah diingat dan dirasa, nggak ada perasaan yg gimana2 juga sih di gue....
Trus suatu ketika muncul di notifikasi seorang laki2. Menyapa dgn manis banget. Dgn bahasa yg rapi dan tata bahasa yg benar. Menarik sekali. Trus ngobrol. Dan nyambung. Dan terasa dia sangat pintar. Tnyt dia pun sama spt gue, pakai nama asli. Gue google namanya dan keluarlah semua literature yg dia tulis. Hmm... pantesan pinter... kandidat profesor. Hehe.... Impian melambung sampai ke mana2 krn rasanya kok too good to be true bisa nemu orang sepinter itu ya. Suatu hari, dia tiba2 usul utk jalan2 malam mingguan. Gue yg udah lamaaaa banget nggak dating sm siapa2 jadi gembira. Waktu dia minta izin mau bawa anaknya yg umur 4 thn, gue iya2 aja. Nggak mikir apa2.
Lalu terjadilah kunjungan dari provinsi tetangga itu. Anaknya perempuan. Cantik dan manis. Bukan model anak yg rewel, dan suka buku. Jadi di rumah gue anteng ayem. Tp namanya anak2, tentunya segera bosan dgn buku2 saja, mau main2. Ayolah ke playground. Jadilah kami berempat: dia-anaknya-gue-Aria ke mall. Sampai di mall, anak gue nggak mau kehilangan ritual buat langsung ke tempat makan. Sementara anaknya langsung "Aku nggak mau makan." Dan rasanya kok saat itu gue sdh berasa lelah bagi2 perhatian. Hahaha.... Jadilah gue dan Aria masuk restoran, dia dan anaknya embuh ke mana. Ketika akhirnya dia nyusul ke restoran, ternyata anaknya belum puas main. Jd masih tetap "Aku nggak mau makan." Tante Bubu semacam kehilangan akal menghadapi balita. Tiba2 lelah tiada tara dan pengen pulang saja.... Pdh bapaknya si anak (yg memang usianya sdh agak banyak) sepertinya berharap gue bisa main2 sm anaknya. Ahahaha... apa yg kau cari, pak? Baby sitter untuk anakmu? Gue langsung membayangkan hrs mulai mikirin lagi bekal sekolah... antar jemput ke sana ke mari... urus ini itu.... ini anak masih 4 thn kok masih lama perjuangannya ya. Sementara gue baru saja merasa "merdeka" dari mengurus anak sejak Aria masuk SMA. Dgn sangat menyesal... mas profesor hrs gue coret dr daftar hadir. Nggak sanggup deh kalau hrs berhadapan dgn balita. Mohon maaf lahir batin, silakan mencari yg lain.
Ada satu lagi musisi yg kenalan di dating site juga. Tapi nggak ada rasa apa2 juga sih. Mungkin gue capek juga ya krn bbrp bulan terakhir siklusnya naik turun. Melelahkan. Hingga akhirnya yaaaa dia bertahan hanya sampai di whatsapp saja.
Hmm... sempat saling sapa sama mas2 pesepeda. Juga sama ahli waris perusahaan tambang pasir di Garut. Lalu sm pengusaha restoran Manado. Sama pegawai NGO juga pernah. Ada akuntan juga. Tapi yaaa... gitu2 aja sih. Dan tanpa terasa, berlalulah 2019. Sebentar lagi masuk 2020 dan gue masih tetap single. Tidak punya pacar. Sempat berpikir jangan2 ada yg salah dgn gue ya. Tapi lalu nggak nemu juga salahnya di mana.... Mungkin gue sdh keterlaluan mapan jadi perempuan. Krn beberapa "kandidat" tiba2 menghilang begitu tahu gue di kantor kerja (jabatannya) apa.... Berkarier kan nggak salah ya?
Kadang kepikir juga, jangan2 benchmark gue juga yg ketinggian. Hahaha... ya mohon maaf kalau sebelum ini mmg pacar gue yahud banget sih! Udahlah ganteng, pinter, jagoan memberantas kejahatan... hahaha.... Genggesin untuk nggak kelewat sholat dan ngaji tiap hari, tp ya masuk akal kan... jd gengges yang cinta gitu lhooooo.... Paket komplitlah dia itu. Masak iya gue rela dapat ganti yg nggak sampai secuilnya? Yo emoh.... Terlalu milih2? Ya masak sih nggak pilih2....
Hmm... menyedihkan juga ya... umur segini masih hrs menerka2 reaksi orang ttg gue. Berusaha manis2 menarik perhatian. Harus juga menjelaskan bhw gue nggak perlu harta, nggak peduli dia anak siapa... krn banyak jg yg curiga kalau perempuan di dating site banyak yg nggak bener. Hmmm... sini udah punya sendiri sih. Dan bisa cari sendiri juga. Alhamdulillah. Di sisi lain, gue juga hrs waspada, meneliti motif berkenalan mereka2 itu, karena terus terang aja... yg niat banget mau morotin juga ada. Di mana2 yg namanya maling tetep eksis, dalam bentuk apa pun. Jadi ya memang harus hati2 juga....
Soal ajakan one night stand? Banyak. Banget. Kampret memang. Seolah dunia ini bisa damai hanya dgn seks saja. Dan single mom selalu mengejar hubungan seksual. Mbahmu.
Dari dating site itu, ada bbrp yg bertahan menjadi teman di whatsapp chat. Ada satu orang yg berpotensi tp kayaknya semakin lama semakin jauh dari asa. Ada yg masih gue harapkan suatu ketika akan tergerak untuk mengenal gue lebih dekat dan bisa gue telisik lebih jauh. Tp ya itu semua baru sampai harapan. Mari biarkan saja alam yg mengatur. Gue memilih bertindak seperti layaknya perempuan Jawa yg hanya akan menunggu laki2 yg maju. Jodoh harus dijemput? Iya sih... tp tetep ada titik batas penjemputan kan yaaaa....
Jadi begitulah 2019 gue dalam hal mencari cinta. Mungkin mmg tidak akan mudah karena sebenarnya cinta di hati gue sdh jelas maunya ke mana. Sayangnya mentok. Hmmm... itu dulu yg hrs dibelokkan kali yaaaa....
Oke deh, dgn kerusuhan kantor yg bisa diprediksi akan terjadi tahun depan (I will run a brand new agency), sepertinya gue akan cukup rusuh jadi nggak akan terlalu peduli dgn kehidupan percintaan. Anyway, I will still open up the door, and will embrace anyone who knocks and tries to enter. But... of course... if I really want to and still have the energy to do it.
So, 2020... bring it on!
Subscribe to:
Posts (Atom)