You know I want you
It's not a secret I try to hide
I know you want me
So don't keep saying our hands are tied
You claim it's not in the cards
But fate is pulling you miles away
And out of reach from me
But you're here in my heart
So who can stop me if I decide
That you're my destiny?
What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You'd be the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
So why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours tonight
You think it's easy
You think I don't want to run to you
But there are mountains
And there are doors that we can't walk through
I know you're wondering why
Because we're able to be
Just you and me
Within these walls
But when we go outside
You're gonna wake up and see that it was hopeless after all
No one can rewrite the stars
How can you say you'll be mine
Everything keeps us apart
And I'm not the one you were meant to find
It's not up to you
It's not up to me
When everyone tells us what we can be
How can we rewrite the stars?
Say that the world can be ours tonight
All I want is to fly with you
All I want is to fall with you
So just give me all of you
It feels impossible
It's not impossible
Is it impossible?
Say that it's possible
How do we rewrite the stars?
Say you were made to be mine?
Nothing can keep us apart
Cause you are the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
Why don't we rewrite the stars?
Changing the world to be ours
You know I want you
It's not a secret I try to hide
But I can't have you
We're bound to break and my hands are tied
Rewrite the Stars from The Greatest Showman
Tuesday, January 23, 2018
Friday, January 19, 2018
Rindu
Dan
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.
Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal ras.
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.
Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal ras.
Enak (Atau Enggak)
Barusan dengar lagunya Tulus "Pamit"... tiba2 pengen posting tulisan ini.
Jadi gue single sudah sejak 2004. Pernah punya pacar sejak kira2 tahun 2006, tapi LDR sepanjang masa pacaran. Data2 statistik ini perlu untuk menjelaskan bahwa gue hidup sendirian sudah cukup lama. Lalu? Gue lupa gimana caranya berdiskusi dengan benar sebagaimana pasangan laki2 dan perempuan.
Hahahaha....
Gue lupa caranya minta izin. Kalau pergi2... selama ini, entah itu pergi ke luar kota atau ke luar negeri, yang diberikan ke orang2 adalah sebatas pemberitahuan saja. Cuma ngasih tahu bahwa gue akan ke mana tanggal berapa. Pamit... konteksnya hanya untuk ke nyokap dan Aria. Yg ya pamit aja bye mama bye anak sayang see you later gitu. Minta izin? Hmm... yg hubungannya dgn boleh atau enggak sih udah lama banget nggak gue lakukan.... Mau ke Kendari, cek atm... masih ada duit buat tiket... cuuuusss sampai di Kendari. Mau ke Singapore over the weekend... Aria mau ikut... ya udah, beli tiket... trus langsung berangkat, sore2 udah di Marina Bay ngopi2 sambil ketawa2. Nggak ada yg dimintain izin... wong tiket juga bayar sendiri....
Nggak hanya untuk yg bentuknya pergi2... beli2 barang yg besar juga nggak pernah tanya siapa2. Beli rumah. Beli mobil. Beli berlian. Semua dilihat, dikalkulasi, dipertimbangkan, lalu dibayar sendiri kalau duitnya cukup. Kalau duitnya nggak cukup... bikin masa hitam dulu bbrp bulan... Hehe. Intinya sih semua tergantung diri sendiri. Pernah sih tanya2 ini itu sama OmD... tp ya sekadar tanya saja . He knew for sure he has no right to say anything in terms of giving any permission. Siapa eluuuuu.... hahahaha.... (cium jauh utk OmD).
Kenapa ini jadi pikiran? Karena bbrp hari lalu ada diskusi soal pembagian harta gono gini yg skrg sedang dilewati seorang teman. Oooh... iya baru sadar kalau selama ini temen gue dan suaminya mengumpulkan aset itu berdua, jadi sekarang pusing urusan bagi2 ini itu. Hmm... trus teman yg lain juga barusan mengeluh krn dilarang sama suaminya pergi ke Pulau Ora. Mahal, kata suaminya. Pdh dia bayar sendiri sih pakai gajinya sendiri... tp ya kalau suami nggak kasih izin kan nggak berani juga mau melawan... nggak boleh pula secara agama ye kaaaan....
Lucunya, akhir dari pembicaraan tadi kok intinya sama: "Enak kamu, mbak... nggak ada suami... "
Apa iya memang begitu?
Jadi gue single sudah sejak 2004. Pernah punya pacar sejak kira2 tahun 2006, tapi LDR sepanjang masa pacaran. Data2 statistik ini perlu untuk menjelaskan bahwa gue hidup sendirian sudah cukup lama. Lalu? Gue lupa gimana caranya berdiskusi dengan benar sebagaimana pasangan laki2 dan perempuan.
Hahahaha....
Gue lupa caranya minta izin. Kalau pergi2... selama ini, entah itu pergi ke luar kota atau ke luar negeri, yang diberikan ke orang2 adalah sebatas pemberitahuan saja. Cuma ngasih tahu bahwa gue akan ke mana tanggal berapa. Pamit... konteksnya hanya untuk ke nyokap dan Aria. Yg ya pamit aja bye mama bye anak sayang see you later gitu. Minta izin? Hmm... yg hubungannya dgn boleh atau enggak sih udah lama banget nggak gue lakukan.... Mau ke Kendari, cek atm... masih ada duit buat tiket... cuuuusss sampai di Kendari. Mau ke Singapore over the weekend... Aria mau ikut... ya udah, beli tiket... trus langsung berangkat, sore2 udah di Marina Bay ngopi2 sambil ketawa2. Nggak ada yg dimintain izin... wong tiket juga bayar sendiri....
Nggak hanya untuk yg bentuknya pergi2... beli2 barang yg besar juga nggak pernah tanya siapa2. Beli rumah. Beli mobil. Beli berlian. Semua dilihat, dikalkulasi, dipertimbangkan, lalu dibayar sendiri kalau duitnya cukup. Kalau duitnya nggak cukup... bikin masa hitam dulu bbrp bulan... Hehe. Intinya sih semua tergantung diri sendiri. Pernah sih tanya2 ini itu sama OmD... tp ya sekadar tanya saja . He knew for sure he has no right to say anything in terms of giving any permission. Siapa eluuuuu.... hahahaha.... (cium jauh utk OmD).
Kenapa ini jadi pikiran? Karena bbrp hari lalu ada diskusi soal pembagian harta gono gini yg skrg sedang dilewati seorang teman. Oooh... iya baru sadar kalau selama ini temen gue dan suaminya mengumpulkan aset itu berdua, jadi sekarang pusing urusan bagi2 ini itu. Hmm... trus teman yg lain juga barusan mengeluh krn dilarang sama suaminya pergi ke Pulau Ora. Mahal, kata suaminya. Pdh dia bayar sendiri sih pakai gajinya sendiri... tp ya kalau suami nggak kasih izin kan nggak berani juga mau melawan... nggak boleh pula secara agama ye kaaaan....
Lucunya, akhir dari pembicaraan tadi kok intinya sama: "Enak kamu, mbak... nggak ada suami... "
Apa iya memang begitu?
Friday, January 12, 2018
Seandainya Bisa....
Aku kehabisan cara, 'tuk jelaskan padamu
Mengapa sulit 'tuk lupakanmu
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku, dari sudut pandangku
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
Seandainya satu hari bertukar jiwa
Kau akan mengerti dan berhenti bertanya-tanya
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku... dari sudut pandangku
Tukar Jiwa - Tulus
Mengapa sulit 'tuk lupakanmu
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku, dari sudut pandangku
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
Seandainya satu hari bertukar jiwa
Kau akan mengerti dan berhenti bertanya-tanya
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu
(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku... dari sudut pandangku
Tukar Jiwa - Tulus
Thursday, January 11, 2018
Adik Aria
Sekian lama menjadi anak tunggal... tahun 2016 Aria punya adik. Sepupunya, Jawa, lahir. Siplah ya mereka satu shio: monyet. Yg bisa diartikan usilnya bukan main... hahaha.... Beda 12 tahun ini pula yg mungkin bikin Aria sudah bisa jatuh hati sama Jawa. Dia yg dulu2 ngotot nggak mau punya adik... akhirnya meleleh juga.
Jawa tinggal di Apt Rasuna sejak awal 2017. Ke BSD sebulan sekali atau dua kali, pas weekend. Kalau sdh dibilang Jawa akan datang, Aria pasti girang. Dia akan manis sekali les piano lalu pulang dan nunggu Jawa hadir. Dia bisa dengan telaten nemenin Jawa main ini itu.Waktu Jawa sudah mulai merangkak... Aria akan jadi sweeper yg bersihin jalur yg mau dilewati. Luar biasa...
Skrg Jawa sudah mulai bisa berjalan. Masih agak goyang2 suka gampang jatuh, tapi sdh mulai sering jalan agak cepet alias lari. Dan Aria akan dengan setia jadi bodyguard. Manis banget deh. Dia bahkan ga marah waktu mainannya diacak sama Jawa. Atau waktu Jawa mau ikut2 melukis. Heran banget ternyata anak gue bisa sesabar itu.
Yg belum berubah adalah panggilannya. Aria tetep nggak mau dipanggil "mas". "Aku tetep Adik Aria. Jawa aja yang jadi Mbak Ja."
Teges bener.
Jawa tinggal di Apt Rasuna sejak awal 2017. Ke BSD sebulan sekali atau dua kali, pas weekend. Kalau sdh dibilang Jawa akan datang, Aria pasti girang. Dia akan manis sekali les piano lalu pulang dan nunggu Jawa hadir. Dia bisa dengan telaten nemenin Jawa main ini itu.Waktu Jawa sudah mulai merangkak... Aria akan jadi sweeper yg bersihin jalur yg mau dilewati. Luar biasa...
Skrg Jawa sudah mulai bisa berjalan. Masih agak goyang2 suka gampang jatuh, tapi sdh mulai sering jalan agak cepet alias lari. Dan Aria akan dengan setia jadi bodyguard. Manis banget deh. Dia bahkan ga marah waktu mainannya diacak sama Jawa. Atau waktu Jawa mau ikut2 melukis. Heran banget ternyata anak gue bisa sesabar itu.
Yg belum berubah adalah panggilannya. Aria tetep nggak mau dipanggil "mas". "Aku tetep Adik Aria. Jawa aja yang jadi Mbak Ja."
Teges bener.
Wednesday, January 03, 2018
2018
Ini postingan pertama di 2018....
Mau nulis apa ya? Tentang 2017? Ya begitulah.... 2017 berlalu dengan semangat "life should be like shoes, would be more interesting when they were not flat." Gonjang ganjing ini itu di segala lini... hahaha.... Yg paling nendang memang hidup percintaan. Krn setelah sekian lama... akhirnya... tidak ada apa2 yg terjadi, dalam arti, status gue belum berubah juga di 2017. Masih single.
Aria sbg fokus utama hidup gue cukup oke di 2017. Sehat dan gembira. Alhamdulillah. Tetep konsisten memberikan ibunya pelajaran2 parenting yg seru2. Hahaha... I love him nonetheless. Selalu mensyukuri adanya dia dalam hidup. The star that guide me home and the anchor that always keep my feet on the ground.
Kesehatan... oke juga. Alhamdulillah. Hanya perlu perhatiin sinyal tubuh lbh teliti. Krn kadang badan sdh hrs merem, tp ga nurut. Hahaha.... Sempat "kebablasan" diare bbrp hari. Yg ternyata karena stres (disinyalir karena kisah cinta yg berakhir tragis hahahaha). Herannya, sudah diare bbrp hari kok ya perutgendut tetap teguh kokoh hadir di antara kita. Nggak ada penghargaan sama sekali utk frequent trips to the loo. Weleh weleh.
Tahun 2017, lumayan banyak jalan2. Dan merasa bahwa jalan2 itu mendekatkan sama keluarga. Waktu serumah pergi ke Semarang-Salatiga di awal tahun, terasa banget bhw kami semua belajar bertoleransi. No complaints at all. Semua berupaya menyenangkan yg lain dgn selalu tenang. Wonderful.
Waktu Aria outing sm sekolahnya, sengaja gue ajak nyokap jalan juga ke Madiun & Yogya. Nggak ada agenda khusus, nemenin nyokap aja napak tilas masa dulunya di kota itu. Nengok rumah (hotel), makam mbah (sampai ke Nganjuk), trus sekolahnya.... Di Yogya juga gitu. Banyak leyeh2 aja. Seneng. Seneng karena lihat nyokap seneng.
Ada rencana perjalanan yg bubar sebubar-bubarnya. Krn partner jalannya ngaco dan ngawur. Sempat kecewa bbrp hari. Dan kalau skrg diinget yaaaa masih nyesel juga. Lbh karena perjalanannya batal. Di sisi lain, bersyukur juga karena jadi tahu kalau partner yg baik punya sisi brengsek juga. Jadi waspadalah waspadalah di masa depan.
Trus akhir tahun ditutup dgn liburan ke Danau Toba. Melihat pemandangan yg mahal harganya. Iri banget sama penduduk sekitar danau yg tiap hari bangun tidur melihat million dollar view. Merasakan bedanya aura hidup di Jawa dan Sumatera. Dan akhirnya bisa melihat Medan (serta memutuskan untuk tidak menyukainya.... hahaha). Lagi2 senang. Senang bisa mengenalkan Aria ke budaya lain yg kadang bikin dia kaget (krn ada orang ngomong kayak berantem).
Tahun 2017, ada harapan2 yang dipupuk, tapi lalu ambyar. Karena satu dan lain hal. Pacaran yg gue pikir akan berbeda akhirannya... ternyata nggak juga tuh. Berakhir dgn tidak terlalu menyenangkan. Dgn alasan2 yg konyol dan bodoh. Tapi tetap bersyukur merasakan mencintai (dan dicintai) begitu dalamnya. Meski semarah apa pun, nggak bisa berbuat apa2 begitu teringat cinta itu. Haha... Basi? Biar aja.... I wish him a very good life ahead. More prosperous and happy one. Hopefully we can still be friend. A very good friend.
Kantor... biasa aja. Semakin merasa bhw ini masa2 gawat. Masuk ke comfort zone yg gawat bentuknya. Project masih ada (banyak) dan sebetulnya lumayan seru. Tp akhirnya kok merasa gitu2 aja.... hohohoho.... Harus ada tindakan nih.... Ada beberapa projects kecil di luar kantor yg datang. Semua bentuknya roro jonggrang krn yg minta tolong sdh kepepet.... semua tiba2 urgent urgent urgent sampai nyaris gue suruh masuk UGD aja deh ah. Hahaha... untunglah semua bisa selesai dgn baik.
Semua yg terjadi di 2017, baik atau buruk, tetap harus diingat sebagai bentuk perhatian Tuhan YME. Gue percaya bhw Allah SWT Maha Baik & Maha Penyayang. Apa pun yg terjadi, itulah bentuk rasa sayang dan kebaikanNya. Alhamdulillah.
So, 2018... bring it on!
Mau nulis apa ya? Tentang 2017? Ya begitulah.... 2017 berlalu dengan semangat "life should be like shoes, would be more interesting when they were not flat." Gonjang ganjing ini itu di segala lini... hahaha.... Yg paling nendang memang hidup percintaan. Krn setelah sekian lama... akhirnya... tidak ada apa2 yg terjadi, dalam arti, status gue belum berubah juga di 2017. Masih single.
Aria sbg fokus utama hidup gue cukup oke di 2017. Sehat dan gembira. Alhamdulillah. Tetep konsisten memberikan ibunya pelajaran2 parenting yg seru2. Hahaha... I love him nonetheless. Selalu mensyukuri adanya dia dalam hidup. The star that guide me home and the anchor that always keep my feet on the ground.
Kesehatan... oke juga. Alhamdulillah. Hanya perlu perhatiin sinyal tubuh lbh teliti. Krn kadang badan sdh hrs merem, tp ga nurut. Hahaha.... Sempat "kebablasan" diare bbrp hari. Yg ternyata karena stres (disinyalir karena kisah cinta yg berakhir tragis hahahaha). Herannya, sudah diare bbrp hari kok ya perutgendut tetap teguh kokoh hadir di antara kita. Nggak ada penghargaan sama sekali utk frequent trips to the loo. Weleh weleh.
Tahun 2017, lumayan banyak jalan2. Dan merasa bahwa jalan2 itu mendekatkan sama keluarga. Waktu serumah pergi ke Semarang-Salatiga di awal tahun, terasa banget bhw kami semua belajar bertoleransi. No complaints at all. Semua berupaya menyenangkan yg lain dgn selalu tenang. Wonderful.
Waktu Aria outing sm sekolahnya, sengaja gue ajak nyokap jalan juga ke Madiun & Yogya. Nggak ada agenda khusus, nemenin nyokap aja napak tilas masa dulunya di kota itu. Nengok rumah (hotel), makam mbah (sampai ke Nganjuk), trus sekolahnya.... Di Yogya juga gitu. Banyak leyeh2 aja. Seneng. Seneng karena lihat nyokap seneng.
Ada rencana perjalanan yg bubar sebubar-bubarnya. Krn partner jalannya ngaco dan ngawur. Sempat kecewa bbrp hari. Dan kalau skrg diinget yaaaa masih nyesel juga. Lbh karena perjalanannya batal. Di sisi lain, bersyukur juga karena jadi tahu kalau partner yg baik punya sisi brengsek juga. Jadi waspadalah waspadalah di masa depan.
Trus akhir tahun ditutup dgn liburan ke Danau Toba. Melihat pemandangan yg mahal harganya. Iri banget sama penduduk sekitar danau yg tiap hari bangun tidur melihat million dollar view. Merasakan bedanya aura hidup di Jawa dan Sumatera. Dan akhirnya bisa melihat Medan (serta memutuskan untuk tidak menyukainya.... hahaha). Lagi2 senang. Senang bisa mengenalkan Aria ke budaya lain yg kadang bikin dia kaget (krn ada orang ngomong kayak berantem).
Tahun 2017, ada harapan2 yang dipupuk, tapi lalu ambyar. Karena satu dan lain hal. Pacaran yg gue pikir akan berbeda akhirannya... ternyata nggak juga tuh. Berakhir dgn tidak terlalu menyenangkan. Dgn alasan2 yg konyol dan bodoh. Tapi tetap bersyukur merasakan mencintai (dan dicintai) begitu dalamnya. Meski semarah apa pun, nggak bisa berbuat apa2 begitu teringat cinta itu. Haha... Basi? Biar aja.... I wish him a very good life ahead. More prosperous and happy one. Hopefully we can still be friend. A very good friend.
Kantor... biasa aja. Semakin merasa bhw ini masa2 gawat. Masuk ke comfort zone yg gawat bentuknya. Project masih ada (banyak) dan sebetulnya lumayan seru. Tp akhirnya kok merasa gitu2 aja.... hohohoho.... Harus ada tindakan nih.... Ada beberapa projects kecil di luar kantor yg datang. Semua bentuknya roro jonggrang krn yg minta tolong sdh kepepet.... semua tiba2 urgent urgent urgent sampai nyaris gue suruh masuk UGD aja deh ah. Hahaha... untunglah semua bisa selesai dgn baik.
Semua yg terjadi di 2017, baik atau buruk, tetap harus diingat sebagai bentuk perhatian Tuhan YME. Gue percaya bhw Allah SWT Maha Baik & Maha Penyayang. Apa pun yg terjadi, itulah bentuk rasa sayang dan kebaikanNya. Alhamdulillah.
So, 2018... bring it on!
Thursday, December 07, 2017
Rindu
Dan....
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.
Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal rasa.
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.
Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal rasa.
Monday, November 27, 2017
Forget Me Not
Remember me
Though I have to say goodbye
Remember me
Don't let it make you cry
For even if I'm far away I hold you in my heart
I sing a secret song to you each night we are apart
Remember me
Though I have to travel far
Remember me
Each time you hear a sad guitar
Know that I'm with you the only way that I can be
Until you're in my arms again
Remember me
(Remember Me, Coco Soundtrack)
Though I have to say goodbye
Remember me
Don't let it make you cry
For even if I'm far away I hold you in my heart
I sing a secret song to you each night we are apart
Remember me
Though I have to travel far
Remember me
Each time you hear a sad guitar
Know that I'm with you the only way that I can be
Until you're in my arms again
Remember me
(Remember Me, Coco Soundtrack)
Thursday, November 02, 2017
A Tiny Little Dot
When you feel your love's been taken
When you know there's something missing
In the dark, we're barely hangin' on
Then you rest your head upon my chest
And you feel like there ain't nothing left
I'm afraid that what we had is gone
Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave
When you lay there and you're sleeping
Hear the patterns of your breathing
And I tell you things you've never heard before
Asking questions to the ceiling
Never knowing what you're thinking
I'm afraid that what we had is gone
Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave
And I want this to pass
And I hope this won't last
Last too long
(Niall Horan - Flicker)
When you know there's something missing
In the dark, we're barely hangin' on
Then you rest your head upon my chest
And you feel like there ain't nothing left
I'm afraid that what we had is gone
Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave
When you lay there and you're sleeping
Hear the patterns of your breathing
And I tell you things you've never heard before
Asking questions to the ceiling
Never knowing what you're thinking
I'm afraid that what we had is gone
Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave
And I want this to pass
And I hope this won't last
Last too long
(Niall Horan - Flicker)
Monday, October 30, 2017
Mom R Us
Beberapa kali dapat pertanyaan, "Gimana caranya mengubah nyokap supaya gini gini gitu..."
'Gini-gini-gitu' bisa diganti macam2... intinya sih supaya nyokap nggak kayak sekarang. Jawabnya? Nggak bisa lah yaw. Hahahaha....
Nyokap, seperti juga orang2 lain... nggak akan bisa berubah kalau nggak karena keinginan beliau sendiri. Pengen beliau lebih mandiri? Lebih royal? Lebih nggak panikan? Lebih nggak kepo? Ya nggak bisa kalau beliau nggak mau. Maaf ajaaaaa....
Gue adalah contoh anak yg nggak pernah keluar dari rumah. Iya. Selalu tinggal sama orang tua. Gue rasa memang rejeki gue aja. Anaknya nyokap ada 3, yg 2 kuliah di luar Jakarta. Hanya gue yg di UI Depok. Punya kamar kos, tp tetep lebih sering pulang hahahaha.
Ditakdirkan nggak boleh pisah jauh2 dr nyokap... waktu punya anak kok ya balik ke rumah nyokap. Trus waktu Aria sdh agak besar, sdh mulai harus mikir sekolah... memutuskan pindah ke BSD. Nyokap? Ikut. Beliau jual rumahnya buat bangun tanah sebelah rumah gue. Hahahaha.... Jadi skrg gue dan nyokap ya tetep satu rumah. Practically ada kakak gue yg tinggal di rumah juga. Tp tetep aja kayaknya nyokap ya maunya apa2 ke gue... hahaha... mungkin krn gue anak perempuan?
Nah... selama ini hidup sama nyokap, nggak mungkin lah kalau nggak ada perselisihan. Tp makin ke sini, kok ya rasanya semakin nggak pengen rusuh2. Udahlah.... Memang ada bbrp sikap nyokap yg gue nggak setuju. Kebiasaan2 beliau juga banyak yg menurut gue 'kurang kekinian'... hahaha.... Tapi ya gimana? Nggak akan berubah kalau beliau tak ingin ganti sendiri. Gue merasa cukup bilang sekali kalau gue ga setuju. Habis itu terserah. Kalau masih berulang lagi, gue akan melipir aja pura2 nggak lihat. Beres. Gengges? Iya sih. Tp trus gimana? Sebentar kemudian juga beliau akan lupa. Jadi percuma juga marah2 tarik urat.
Yang paling penting adalah gue akan ingat2... duluuu... dulu banget waktu gue kecil... gue pasti juga gengges macam begitu. Iya kan.... Jadi kalau skrg digenggesin.... ya udahlah yaaaa... Enjoy aja!
'Gini-gini-gitu' bisa diganti macam2... intinya sih supaya nyokap nggak kayak sekarang. Jawabnya? Nggak bisa lah yaw. Hahahaha....
Nyokap, seperti juga orang2 lain... nggak akan bisa berubah kalau nggak karena keinginan beliau sendiri. Pengen beliau lebih mandiri? Lebih royal? Lebih nggak panikan? Lebih nggak kepo? Ya nggak bisa kalau beliau nggak mau. Maaf ajaaaaa....
Gue adalah contoh anak yg nggak pernah keluar dari rumah. Iya. Selalu tinggal sama orang tua. Gue rasa memang rejeki gue aja. Anaknya nyokap ada 3, yg 2 kuliah di luar Jakarta. Hanya gue yg di UI Depok. Punya kamar kos, tp tetep lebih sering pulang hahahaha.
Ditakdirkan nggak boleh pisah jauh2 dr nyokap... waktu punya anak kok ya balik ke rumah nyokap. Trus waktu Aria sdh agak besar, sdh mulai harus mikir sekolah... memutuskan pindah ke BSD. Nyokap? Ikut. Beliau jual rumahnya buat bangun tanah sebelah rumah gue. Hahahaha.... Jadi skrg gue dan nyokap ya tetep satu rumah. Practically ada kakak gue yg tinggal di rumah juga. Tp tetep aja kayaknya nyokap ya maunya apa2 ke gue... hahaha... mungkin krn gue anak perempuan?
Nah... selama ini hidup sama nyokap, nggak mungkin lah kalau nggak ada perselisihan. Tp makin ke sini, kok ya rasanya semakin nggak pengen rusuh2. Udahlah.... Memang ada bbrp sikap nyokap yg gue nggak setuju. Kebiasaan2 beliau juga banyak yg menurut gue 'kurang kekinian'... hahaha.... Tapi ya gimana? Nggak akan berubah kalau beliau tak ingin ganti sendiri. Gue merasa cukup bilang sekali kalau gue ga setuju. Habis itu terserah. Kalau masih berulang lagi, gue akan melipir aja pura2 nggak lihat. Beres. Gengges? Iya sih. Tp trus gimana? Sebentar kemudian juga beliau akan lupa. Jadi percuma juga marah2 tarik urat.
Yang paling penting adalah gue akan ingat2... duluuu... dulu banget waktu gue kecil... gue pasti juga gengges macam begitu. Iya kan.... Jadi kalau skrg digenggesin.... ya udahlah yaaaa... Enjoy aja!
Friday, October 20, 2017
Addiction
.... Being without you
Takes a lot of getting used to
Should learn to live with it
But I don't want to....
(Hard Habit to Break - Chicago)
Takes a lot of getting used to
Should learn to live with it
But I don't want to....
(Hard Habit to Break - Chicago)
Thursday, October 19, 2017
To Fall in Love
Dreams... you've been afraid to have dreams
Here in my arms lying face to face
It's a tender place
Just lay back and see
You could be saved loving me
Don't pull away when I call you're mine
What you need is time
And I just want you...
To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask
To fall in love is what you have to do
Just like I have to fall in love with you
Friends, we started out more than friends
We should have known when we touch too deep,
It was far too sweet
Don't let this feeling end
'Cause I want to touch you again
If you could see that your heart is mine just a bit too kind
And how I need you...
To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
You are a part of me won't ever be just a memory
Sometimes you really have to love
And I know I can make you...
Baby, I love you....
To fall in love....
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
I just have to fall in love with you.
(Phil Perry)
Here in my arms lying face to face
It's a tender place
Just lay back and see
You could be saved loving me
Don't pull away when I call you're mine
What you need is time
And I just want you...
To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask
To fall in love is what you have to do
Just like I have to fall in love with you
Friends, we started out more than friends
We should have known when we touch too deep,
It was far too sweet
Don't let this feeling end
'Cause I want to touch you again
If you could see that your heart is mine just a bit too kind
And how I need you...
To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
You are a part of me won't ever be just a memory
Sometimes you really have to love
And I know I can make you...
Baby, I love you....
To fall in love....
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
I just have to fall in love with you.
(Phil Perry)
Wednesday, October 18, 2017
I Love You
... if I keep my feeling strong... I'll find a song you sing....
Born to Love You (George Duke)
Born to Love You (George Duke)
Tuesday, October 17, 2017
Bercerai Kita...
Nggak akan ada orang yang berencana untuk bercerai. Nggak ada. Namanya menikah, pasti niatnya untuk selamanya. Jadi kalau memang harus bercerai, pasti... dan harus... ada alasan kuat. Kuat saja tidak cukup, alasan untuk bercerai harus sangat sangat sangat kuat.
Gue mungkin bukan "contoh yang baik" mewakili perempuan yang bercerai. Karena gue bisa tuh, mengabarkan perceraian dengan nada yang sama seperti bilang, "Lihat deh, sepatu gue baru, bagus ya." Hahaha.... ya gue memang gitu. Cuek. Sejak bercerai, kecuekan ini makin menjadi karena gue tahu, sejauh ini, ga ada kejadian di dunia yang lebih buruk akibatnya dalam hidup gue sehebat perceraian dan anak masuk RS.
Tapi itu kan sekarang....
Dulu, gue pun melewati masa galau, bercerai atau enggak, nanti kalau sudah bercerai gimana... tinggal di mana... Anakku piye? Tapi toh gue tetap bercerai karena tidak ada pilihan lain.
Sekarang, setelah kurang lebih 13 tahun menjadi single mom... banyak yang melihat bahwa gue baik2 saja. Anak sehat. Sekolahnya betul. Gue sendiri sehat juga (fat overdose malahan hahaha), dengan karier yang bener. Punya rumah. Punya kendaraan. Bisa liburan sekali atau bahkan dua kali setahun. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Ga bisa bilang apa2 selain bersyukur bisa sampai di titik yang sekarang.
Karena sebenernya, masalah yg utama bukan bercerai atau tidak bercerai. Perceraian itu hanya semacam pintu. Yang mestinya dipikirin adalah dunia di balik pintu itu, yang tidak akan kamu tahu sebelum kamu masuk ke dalamnya. Di balik pintu perceraian itu, lagu2nya nggak selalu merdu... kalau kata salah satu fellow single mom.... lagu2nya terserah DJ mau muterin apa... pengunjung harus goyang ajalah pokona mah... kalau enggak goyang pilihannya edan.
Nah, kehidupan di balik pintu perceraian itulah yang banyak tidak disangka oleh orang2. Seolah2 setelah bercerai, hidupmu akan baik2 saja dan mulus2 saja karena persoalan besar sudah kau lalui. Maaf cyin... belum tentu begitu ceritanya....
Betul... setelah proses perceraian usai, hakim ketok palu... kamu resmi jadi single lagi. Oke. Single... bisa pacaran lagi dong? Bisa banget... itu juga salah satu dunia baru. Bayangkan... saat temen2 lain (yg sudah menikah) sibuk ngurusin pasangan yg ngambekan, lagi bosen, mulai merasa rutin... kita para single bisa punya pacar, dating, dan kalau marahan suruh pulang aja tuh laki! Enak? Enak sih... kalau bener bisa begitu saja urusannya. Karena oh karena... selain bahwa kita para single ini boleh dating lagi... ada konsekuensi sosial juga yang hrs dipikul. Misalnya... akan ada cowok2 yg merasa perempuan (berumur) single ini perlu dikasihani karena haus kasih sayang dan haus belaian, dan mereka suka cita memberikan tanpa pamrih (pret). Di sisi lain, akan ada cewek2 yg ketakutan dgn keberadaan single mom. Seolah setiap single mom adalah perempuan gatal yang akan mengganggu suami2 mereka, jadi harus dijauhi dan dimusuhi. Ngadepin begini2 kalau nggak pinter bisa jadi masalah baru. Yg juga perlu diurus adalah masalah stigma di masyarakat. Printilan2 ga penting ini baru akan terjadi (dan mengganggu pikiranmu) setelah kamu resmi bercerai.
Mau cuek aja? Boleh banget. Dan memang seharusnya begitu. Cuek aja. Tapi tentu saja bukan lalu cuek aja menghampiri tiap laki2 yg royal dgn belaian dan pelukan dong... Cuek tetap harus yg bermartabat. Siap2 menampar semua laki2 beristri yg mendatangi dgn kedok cinta. Tabok aja. Cuek. Tp harus tetap berkarya. Bukan masalah pembuktian, berkarya itu harus krn itulah kodrat manusia. Kalau berkarya bisa menghasilkan... bagus juga.
Ngomongin berkarya yang menghasilkan... harus juga dipikirin, setelah cerai, gimana menghidupi anak2. Oke... tentu ada keputusan pengadilan bahwa bapak anak2 harus membiayai. Bagus sih, kalau keputusan ini dijalankan. Kalau enggak? Mau nuntut hak boleh2 aja... lapor polisi juga silakan... tp kalau nggak dikasih juga, mau apa? Bapaknya anak2 ditangkap polisi biar kapok? Memang kalau kapok trus ada jaminan ngasih duit? Enggak cyin.... You will be on your own once the knot were broken. Camkan itu. Lu harus bisa berdiri sendiri. Jungkir balik kadang2... ya dijalani ajalah... bisa jadi ada tanggal2 mepet jurang... hahaha... sudahlah... dinikmati aja. Percaya kalau rejeki sudah diatur Tuhan YME, tinggal cari cara menjemput yg halal.
Ada banyak hal yang nggak dialami orang2 yg belum pernah bercerai.
"Biasa juga sendirian kalau suami pergi ke luar kota."
Gundulmu amoh. Beda tauk. Sendirian untuk sesaat karena tahu akan ada yang pulang (meskipun pulang cuma sehari), beda dengan sendirian dan tahu pasti besok pun akan tetap sendirian. Minggu depan juga masih akan sendirian. Bedanya di mana? Nggak bisa diceritain. Harus dirasain sendiri.
"Selama ini kan gue kerja juga, bisalah menghidupi anak2."
Ya bagus kalau begitu. Jangan lupa, kalau sdh cerai, keluar dari rumah, atau pisah rumah sama bapaknya anak2... berarti ada tambahan biaya listrik, air, bensin (atau malah mobilnya sekalian yg hrs diurus), juga uang sekolah anak2 yg selama ini mungkin jadi tanggung jawab suami... dan skrg semua hrs lu lunasin sendiri. Sendiri. Syukur2 kalau ada allowance rutin dari doi tiap bulan... kalau nggak? Bayar tuh sendiri. Apalagi kalau ternyata kehidupan selama ini 100% ditunjang suami.... Nah... kalau sendiri gimana? Sudah siap?
"Ternyata banyak kok yg masih naksir gue, di dating site gue masih laku."
Tobil anak kadal. Dating site itu nggak bisa dipercaya. Ya tetep ada kemungkinan ketemu jodoh. Tapi udahlah jangan diharapkan terlalu banyak... pacaran belasan tahun aja bisa cerai, kok masih percaya dating site.... Intinya juga, jangan buru2 mau cari pasangan lagi. Apa salahnya? Nggak ada. Tapiiii... ketemu orang baru saat hati masih galau... apa yg kau harapkan? Setiap hubungan, sebentar atau lama, ketika usai pasti meninggalkan kekosongan di hati. Itu yg harus dibenahi dulu. Beres2 dulu deh. Jangan terlalu gegabah mau dapat pasangan lagi. Hati yang belum bener bisa mengelabui. Kayaknya cinta... padahal cuma nafsu. Kayaknya tertarik... padahal cuma karena nggak ada yg lain aja. Gawat kan?
"Gue sih nggak mau urus cerai, enak aja, dia yg salah. Dia yg urus. Jangan sampai gue rugi dua kali."
Gombal mukiyo. Ini pernikahan atau kontrak dagang... kok ada untung rugi.... Jangan pernah melihat perceraian sebagai masalah untung atau masalah rugi... karena itu semestinya jadi jalan keluar yg paling akhir (kalau beneran sudah nggak ada cara lain). Siapa yang urus perceraian jadi nggak penting, karena itu tadi... yg penting adalah kenapa bercerai dan setelah cerai situ mau apa.... Ini bukan mainan yang bisa di-delete, atau di-undo....
Hmm... panjang juga postingan ini ya. Tumben. Mudah2an ada gunanya sih. Ini semua berdasarkan pengalaman personal yang... hmm... mungkin berbeda untuk tiap orang. Tetap yg perlu digarisbawahi: bercerai perlu alasan yang sangat kuat. Dan yang menjalankan harus siap. Bye.
Gue mungkin bukan "contoh yang baik" mewakili perempuan yang bercerai. Karena gue bisa tuh, mengabarkan perceraian dengan nada yang sama seperti bilang, "Lihat deh, sepatu gue baru, bagus ya." Hahaha.... ya gue memang gitu. Cuek. Sejak bercerai, kecuekan ini makin menjadi karena gue tahu, sejauh ini, ga ada kejadian di dunia yang lebih buruk akibatnya dalam hidup gue sehebat perceraian dan anak masuk RS.
Tapi itu kan sekarang....
Dulu, gue pun melewati masa galau, bercerai atau enggak, nanti kalau sudah bercerai gimana... tinggal di mana... Anakku piye? Tapi toh gue tetap bercerai karena tidak ada pilihan lain.
Sekarang, setelah kurang lebih 13 tahun menjadi single mom... banyak yang melihat bahwa gue baik2 saja. Anak sehat. Sekolahnya betul. Gue sendiri sehat juga (fat overdose malahan hahaha), dengan karier yang bener. Punya rumah. Punya kendaraan. Bisa liburan sekali atau bahkan dua kali setahun. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Ga bisa bilang apa2 selain bersyukur bisa sampai di titik yang sekarang.
Karena sebenernya, masalah yg utama bukan bercerai atau tidak bercerai. Perceraian itu hanya semacam pintu. Yang mestinya dipikirin adalah dunia di balik pintu itu, yang tidak akan kamu tahu sebelum kamu masuk ke dalamnya. Di balik pintu perceraian itu, lagu2nya nggak selalu merdu... kalau kata salah satu fellow single mom.... lagu2nya terserah DJ mau muterin apa... pengunjung harus goyang ajalah pokona mah... kalau enggak goyang pilihannya edan.
Nah, kehidupan di balik pintu perceraian itulah yang banyak tidak disangka oleh orang2. Seolah2 setelah bercerai, hidupmu akan baik2 saja dan mulus2 saja karena persoalan besar sudah kau lalui. Maaf cyin... belum tentu begitu ceritanya....
Betul... setelah proses perceraian usai, hakim ketok palu... kamu resmi jadi single lagi. Oke. Single... bisa pacaran lagi dong? Bisa banget... itu juga salah satu dunia baru. Bayangkan... saat temen2 lain (yg sudah menikah) sibuk ngurusin pasangan yg ngambekan, lagi bosen, mulai merasa rutin... kita para single bisa punya pacar, dating, dan kalau marahan suruh pulang aja tuh laki! Enak? Enak sih... kalau bener bisa begitu saja urusannya. Karena oh karena... selain bahwa kita para single ini boleh dating lagi... ada konsekuensi sosial juga yang hrs dipikul. Misalnya... akan ada cowok2 yg merasa perempuan (berumur) single ini perlu dikasihani karena haus kasih sayang dan haus belaian, dan mereka suka cita memberikan tanpa pamrih (pret). Di sisi lain, akan ada cewek2 yg ketakutan dgn keberadaan single mom. Seolah setiap single mom adalah perempuan gatal yang akan mengganggu suami2 mereka, jadi harus dijauhi dan dimusuhi. Ngadepin begini2 kalau nggak pinter bisa jadi masalah baru. Yg juga perlu diurus adalah masalah stigma di masyarakat. Printilan2 ga penting ini baru akan terjadi (dan mengganggu pikiranmu) setelah kamu resmi bercerai.
Mau cuek aja? Boleh banget. Dan memang seharusnya begitu. Cuek aja. Tapi tentu saja bukan lalu cuek aja menghampiri tiap laki2 yg royal dgn belaian dan pelukan dong... Cuek tetap harus yg bermartabat. Siap2 menampar semua laki2 beristri yg mendatangi dgn kedok cinta. Tabok aja. Cuek. Tp harus tetap berkarya. Bukan masalah pembuktian, berkarya itu harus krn itulah kodrat manusia. Kalau berkarya bisa menghasilkan... bagus juga.
Ngomongin berkarya yang menghasilkan... harus juga dipikirin, setelah cerai, gimana menghidupi anak2. Oke... tentu ada keputusan pengadilan bahwa bapak anak2 harus membiayai. Bagus sih, kalau keputusan ini dijalankan. Kalau enggak? Mau nuntut hak boleh2 aja... lapor polisi juga silakan... tp kalau nggak dikasih juga, mau apa? Bapaknya anak2 ditangkap polisi biar kapok? Memang kalau kapok trus ada jaminan ngasih duit? Enggak cyin.... You will be on your own once the knot were broken. Camkan itu. Lu harus bisa berdiri sendiri. Jungkir balik kadang2... ya dijalani ajalah... bisa jadi ada tanggal2 mepet jurang... hahaha... sudahlah... dinikmati aja. Percaya kalau rejeki sudah diatur Tuhan YME, tinggal cari cara menjemput yg halal.
Ada banyak hal yang nggak dialami orang2 yg belum pernah bercerai.
"Biasa juga sendirian kalau suami pergi ke luar kota."
Gundulmu amoh. Beda tauk. Sendirian untuk sesaat karena tahu akan ada yang pulang (meskipun pulang cuma sehari), beda dengan sendirian dan tahu pasti besok pun akan tetap sendirian. Minggu depan juga masih akan sendirian. Bedanya di mana? Nggak bisa diceritain. Harus dirasain sendiri.
"Selama ini kan gue kerja juga, bisalah menghidupi anak2."
Ya bagus kalau begitu. Jangan lupa, kalau sdh cerai, keluar dari rumah, atau pisah rumah sama bapaknya anak2... berarti ada tambahan biaya listrik, air, bensin (atau malah mobilnya sekalian yg hrs diurus), juga uang sekolah anak2 yg selama ini mungkin jadi tanggung jawab suami... dan skrg semua hrs lu lunasin sendiri. Sendiri. Syukur2 kalau ada allowance rutin dari doi tiap bulan... kalau nggak? Bayar tuh sendiri. Apalagi kalau ternyata kehidupan selama ini 100% ditunjang suami.... Nah... kalau sendiri gimana? Sudah siap?
"Ternyata banyak kok yg masih naksir gue, di dating site gue masih laku."
Tobil anak kadal. Dating site itu nggak bisa dipercaya. Ya tetep ada kemungkinan ketemu jodoh. Tapi udahlah jangan diharapkan terlalu banyak... pacaran belasan tahun aja bisa cerai, kok masih percaya dating site.... Intinya juga, jangan buru2 mau cari pasangan lagi. Apa salahnya? Nggak ada. Tapiiii... ketemu orang baru saat hati masih galau... apa yg kau harapkan? Setiap hubungan, sebentar atau lama, ketika usai pasti meninggalkan kekosongan di hati. Itu yg harus dibenahi dulu. Beres2 dulu deh. Jangan terlalu gegabah mau dapat pasangan lagi. Hati yang belum bener bisa mengelabui. Kayaknya cinta... padahal cuma nafsu. Kayaknya tertarik... padahal cuma karena nggak ada yg lain aja. Gawat kan?
"Gue sih nggak mau urus cerai, enak aja, dia yg salah. Dia yg urus. Jangan sampai gue rugi dua kali."
Gombal mukiyo. Ini pernikahan atau kontrak dagang... kok ada untung rugi.... Jangan pernah melihat perceraian sebagai masalah untung atau masalah rugi... karena itu semestinya jadi jalan keluar yg paling akhir (kalau beneran sudah nggak ada cara lain). Siapa yang urus perceraian jadi nggak penting, karena itu tadi... yg penting adalah kenapa bercerai dan setelah cerai situ mau apa.... Ini bukan mainan yang bisa di-delete, atau di-undo....
Hmm... panjang juga postingan ini ya. Tumben. Mudah2an ada gunanya sih. Ini semua berdasarkan pengalaman personal yang... hmm... mungkin berbeda untuk tiap orang. Tetap yg perlu digarisbawahi: bercerai perlu alasan yang sangat kuat. Dan yang menjalankan harus siap. Bye.
Wednesday, October 11, 2017
Cinta Itu...
Mencintai seseorang tapi nggak bisa apa2. Sedih ya. Tapi tetep nggak boleh merasa diri paling menderita karena banyak yang lebih rusuh lagi hidupnya. Dibandingkan mereka yang nggak bisa makan, nggak punya tempat tinggal, anaknya masuk rumah sakit... sekadar urusan cinta sih cuma remahan rempeyek....
Meskipun mungkin rempeyeknya kelas atas yang harganya 1 ons Rp 600 ribu....
Seorang teman menceritakan kembali hidup pernikahan dia selama 16 tahun. Bersama orang yang dia cintai. Yang akhirnya dipisahkan oleh maut. Tapi pembukaan ceritanya aja sudah ngenes... "Memang janda yang ditinggal mati sepertinya lebih manis didengar. Meskipun hidupnya bisa saja lebih pahit."
Dia sudah jadi single mom 10 tahun. Sejak suami meninggal, dia tidak (atau belum?) menikah lagi. Pernikahan 16 tahun dengan orang yang dia cintai itu ternyata isinya duri melulu. Dari mulai nggak dikasih nafkah, diperlakukan seperti pembantu, dicaci maki, sampai ditinggal pergi. Bahkan waktu suaminya itu sakit pun, di rumah sakit, paralyzed due to terminal illness, dia masih bisa memaki dan membentak. Dan teman gue itu tetap melayani, menemani, mengurusi... sepenuh hati. Edan tenan.
Sejak kapan verbal KDRT? Sejak tamu-tamu pesta pernikahan pulang. Astaga.
Jadi hidup pernikahan diawali dengan, "Kamu nggak boleh tidur sebelum aku tidur, perempuan tolol."
Dan teman gue bertahan. Mengurusi tiga anak, rumah besar tanpa pembantu, dan suami yang sulit dibendung amarahnya. Dia akui, 16 tahun itu ia jalani dalam keadaan bahagia karena menikahi orang yg dia cinta. Meskipun dimaki? "Nggak apa2 dibentak juga, aku tetap cinta. Dari dia aku dapat tiga anak yang aku cinta juga." Meskipun selama itu tidak pernah dinafkahi, jadi dia dan anak-anak mengandalkan uang kiriman dari orangtua.
Suatu saat suaminya tidak bisa berjalan. Dan kesakitan. Dia pontang panting mencarikan kursi roda, cari taksi, ke rumah sakit. Dan sepanjang perjalanan itu suaminya tetap memaki, mengatai dia bodoh, lambat bekerja, tidak bisa apa2. Kok bisa? Kalau gue... udah gue tinggal dari kapan2....
Dia bahkan menyembunyikan penyakit suaminya, karena masih ingin sang suami bersemangat, jadi cepat sembuh, dan bisa pulang ke rumah. Susah payah dia kongkalikong sama dokter, suster... semua orang yang menjenguk untuk nggak membahas penyakit. Sampai akhirnya si suami meninggal. "Tugas gue sebagai istri sudah selesai. Mudah-mudahan gue menjalankan peran gue dengan baik," katanya.
Astaga.
Sekarang, 10 tahun setelah sang suami wafat... teman gue itu baru bisa menceritakan yang terjadi. Dan dia menangis, tersenyum, geram, tertawa, menangis, tersenyum... campur aduk... seperti merasakan kembali yang dia alami selama 16 tahun. Ketika ceritanya tuntas, dia tersenyum lebar sekali. "Gue berhasil mengeluarkan semua cinta gue buat suami. Terserah bagaimana balasan dia atas cinta gue. Semua sudah berlalu. Sudah gue ceritakan, jadi orang-orang tahu. Bukan, bukan untuk menjelekkan yg sudah tiada. Ini adalah upaya gue mengosongkan bagasi. Supaya lega. Sekarang gue bisa tenang menjalankan tugas gue menemani anak-anak."
Cinta. Katanya. Cinta yang aneh? Nggak tahu.
Dan gue yakin, yang model kyk temen gue itu banyak....
Ya kan, setelah tahu ada yang mengalami cinta yg "ajaib"... kisah cinta gue jadi biasa aja. Hahaha....
Meskipun mungkin rempeyeknya kelas atas yang harganya 1 ons Rp 600 ribu....
Seorang teman menceritakan kembali hidup pernikahan dia selama 16 tahun. Bersama orang yang dia cintai. Yang akhirnya dipisahkan oleh maut. Tapi pembukaan ceritanya aja sudah ngenes... "Memang janda yang ditinggal mati sepertinya lebih manis didengar. Meskipun hidupnya bisa saja lebih pahit."
Dia sudah jadi single mom 10 tahun. Sejak suami meninggal, dia tidak (atau belum?) menikah lagi. Pernikahan 16 tahun dengan orang yang dia cintai itu ternyata isinya duri melulu. Dari mulai nggak dikasih nafkah, diperlakukan seperti pembantu, dicaci maki, sampai ditinggal pergi. Bahkan waktu suaminya itu sakit pun, di rumah sakit, paralyzed due to terminal illness, dia masih bisa memaki dan membentak. Dan teman gue itu tetap melayani, menemani, mengurusi... sepenuh hati. Edan tenan.
Sejak kapan verbal KDRT? Sejak tamu-tamu pesta pernikahan pulang. Astaga.
Jadi hidup pernikahan diawali dengan, "Kamu nggak boleh tidur sebelum aku tidur, perempuan tolol."
Dan teman gue bertahan. Mengurusi tiga anak, rumah besar tanpa pembantu, dan suami yang sulit dibendung amarahnya. Dia akui, 16 tahun itu ia jalani dalam keadaan bahagia karena menikahi orang yg dia cinta. Meskipun dimaki? "Nggak apa2 dibentak juga, aku tetap cinta. Dari dia aku dapat tiga anak yang aku cinta juga." Meskipun selama itu tidak pernah dinafkahi, jadi dia dan anak-anak mengandalkan uang kiriman dari orangtua.
Suatu saat suaminya tidak bisa berjalan. Dan kesakitan. Dia pontang panting mencarikan kursi roda, cari taksi, ke rumah sakit. Dan sepanjang perjalanan itu suaminya tetap memaki, mengatai dia bodoh, lambat bekerja, tidak bisa apa2. Kok bisa? Kalau gue... udah gue tinggal dari kapan2....
Dia bahkan menyembunyikan penyakit suaminya, karena masih ingin sang suami bersemangat, jadi cepat sembuh, dan bisa pulang ke rumah. Susah payah dia kongkalikong sama dokter, suster... semua orang yang menjenguk untuk nggak membahas penyakit. Sampai akhirnya si suami meninggal. "Tugas gue sebagai istri sudah selesai. Mudah-mudahan gue menjalankan peran gue dengan baik," katanya.
Astaga.
Sekarang, 10 tahun setelah sang suami wafat... teman gue itu baru bisa menceritakan yang terjadi. Dan dia menangis, tersenyum, geram, tertawa, menangis, tersenyum... campur aduk... seperti merasakan kembali yang dia alami selama 16 tahun. Ketika ceritanya tuntas, dia tersenyum lebar sekali. "Gue berhasil mengeluarkan semua cinta gue buat suami. Terserah bagaimana balasan dia atas cinta gue. Semua sudah berlalu. Sudah gue ceritakan, jadi orang-orang tahu. Bukan, bukan untuk menjelekkan yg sudah tiada. Ini adalah upaya gue mengosongkan bagasi. Supaya lega. Sekarang gue bisa tenang menjalankan tugas gue menemani anak-anak."
Cinta. Katanya. Cinta yang aneh? Nggak tahu.
Dan gue yakin, yang model kyk temen gue itu banyak....
Ya kan, setelah tahu ada yang mengalami cinta yg "ajaib"... kisah cinta gue jadi biasa aja. Hahaha....
Thursday, September 28, 2017
Hujan
Di luar hujan. Untung aku ada di dalam ruangan. Untung? Iya... karena jadi tidak kehujanan. Tapi... sayangnya, ruangan ini berpendingin udara. AC ditambah hujan... jadinya dingin yang menggigit sampai ke tulang. Semriwing. Kayaknya bisa masuk angin deh ini.
Di luar masih hujan. Kelihatan orang-orang yang baru turun dari kendaraan mengembangkan payung. Yang berpindah dari satu toko ke toko lain juga berpayung. Payung mengembang. Warna warni segera memenuhi jalan. Merah, biru, kuning... tapi kenapa kebanyakan payung berwarna hitam?
Hujan ini sepertinya akan sering datang. Karena sekarang sudah bulan September. Kata ibuku, nama bulan yang berakhiran -ber seperti pertanda akan datangnya hujan. Siap-siap untuk kehabisan baju, karena yang dijemur tidak kunjung kering.
Kamu suka tidak kalau hujan? Aku sebenarnya suka. Hawa jadi sejuk. Lalu, debu jalanan juga berkurang. Sayangnya, hujan sering membuat lalu lintas tersendat. Entah untuk alasan apa. Mungkin karena pengendara mobil berjalan lebih lambat? Atau karena pemotor banyak yang berhenti sembarangan untuk berteduh sementara? Yang jelas... akibatnya... macet. Nah, kalau begitu, aku jadi tidak senang hujan. Macet bikin sakit kepala.
Yang paling aku suka ketika hujan adalah mencium bau tanah basah. Baunya membawaku pada kenangan keluar masuk hutan belantara, yang basah berembun, bersama kamu.
(ditulis untuk pelatihan BI Blogger & Vlogger, Yogyakarta September 2017)
Di luar masih hujan. Kelihatan orang-orang yang baru turun dari kendaraan mengembangkan payung. Yang berpindah dari satu toko ke toko lain juga berpayung. Payung mengembang. Warna warni segera memenuhi jalan. Merah, biru, kuning... tapi kenapa kebanyakan payung berwarna hitam?
Hujan ini sepertinya akan sering datang. Karena sekarang sudah bulan September. Kata ibuku, nama bulan yang berakhiran -ber seperti pertanda akan datangnya hujan. Siap-siap untuk kehabisan baju, karena yang dijemur tidak kunjung kering.
Kamu suka tidak kalau hujan? Aku sebenarnya suka. Hawa jadi sejuk. Lalu, debu jalanan juga berkurang. Sayangnya, hujan sering membuat lalu lintas tersendat. Entah untuk alasan apa. Mungkin karena pengendara mobil berjalan lebih lambat? Atau karena pemotor banyak yang berhenti sembarangan untuk berteduh sementara? Yang jelas... akibatnya... macet. Nah, kalau begitu, aku jadi tidak senang hujan. Macet bikin sakit kepala.
Yang paling aku suka ketika hujan adalah mencium bau tanah basah. Baunya membawaku pada kenangan keluar masuk hutan belantara, yang basah berembun, bersama kamu.
(ditulis untuk pelatihan BI Blogger & Vlogger, Yogyakarta September 2017)
Monday, September 25, 2017
Hidup di Kota
Kemarin menghadiri syukuran lahirnya Rimbun Khatulistiwa, di Bandung. Selain keriaan ada bayi baru di keluarga Maskoem, kesempatan kumpul2 keluarga selalu menyenangkan karena adanya update ini itu.
Yang kemarin jadi highlight adalah adanya cucu mbah Payaman (sebutan untuk keluarga dari pihak nyokap), yang menikah di usia 24. Sebenernya bukan usianya yg bikin heboh. Secara umur memang sdh cukup, secara agama maupun negara sdh boleh menikah. Hanya, anak laki2, baru saja lulus, dan dia adalah yg terkecil di silsilah keluarganya. Oh ya, dia ini anaknya sepupu nyokap. Jadi mestinya Rio ini sepupu gue ya. Haha....
Rio ini menikah, di usia muda, bukan karena dia yg pingin menikah. Lho kok bisa? Iya, dia menikah karena disuruh menikah oleh keluarga (calon) istrinya. Rio ini kerja di BUMN. Ditempatkan di proyek di desa Sambi. Nah... di sinilah dia ketemu kekasih hatinya. Konon sih sebenernya mereka ini sempat satu sekolah... entah di SMA atau di SMP... tp setelah lulus, si mbak kembali ke desa Sambi ini.
Adanya mbak cantik di desa ini ternyata cukup meresahkan. Meresahkan orangtuanya... karena sdh umur 25 belum kawin juga. Yaaaa gimana... untuk anak2 milenial, umur 25 kan belum apa2 ya. Tp menjadi millenials di desa Sambi ternyata berat, cyin. Si mbak ini sdh "dipinang" beberapa laki-laki. Yg dia tolak mentah2 krn hatinya sdh tertambat pada kangmas Rio. Dijodohin sama siapa2 juga menolak, maunya Rio semata. Ohohoho....
Bapaknya kalau ga salah pemuka desa. Jadi kehadiran Rio ini segera jadi sorotan. Nambah2 pusing aja nih... setelah pusing anaknya udah umur 25 blm kawin... ada lagi nih laki2 namanya Rio asyik2 ngapel. Rencanamu apa, le? Haha.... beneran akhirnya Rio "ditantang" sama (calon) mertuanya. "Kamu mau apa sama anakku?"
Rio... karena sdh cinta dan juga merasa bertanggungjawab... akhirnya mengajukan pinangan. Begitulah kisahnya hingga satu milenial melepas masa lajang di desa Sambi....
Gue sih nggak pro atau kontra soal pernikahan Rio. Ya kalau sudah jodoh, nggak akan ke mana juga.... yg gue lihat unik adalah bagaimana lingkungan bisa membuatmu melakukan sesuatu. Umur 25, di desa, belum kawin... jadi bahan gunjingan di desa. Bisa saja krn nggak tahan jadi gunjingan, seseorang akan melakukan hal yang di luar rencana. Termasuk mendadak kawin.
Hoaaaah... apa kabar ya kalau ada janda bercerai umur 30?
Cerita soal living single in the village ini kebawa ke kantor, dan terkuaklah cerita2 lain yang lebih "seru". Ada seorang tante yg lalu dilamar sama kelapa desa setelah setahun ditinggal meninggal suaminya. Ada yang didatengin beberapa laki-laki yg antri... setelah kembali ke desa dgn status janda. Pilihannya banyak, dari jawara sampai kepala desa. Dia pilih... pensiunan PNS. Krn PNS itu statusnya paling tinggi di desa.
Jreng.... semakin gue bersyukur tinggal di BSD. Yg mana orang2 nggak peduli (atau peduli tp nggak berani ngomong) kalau gue ini single, punya anak satu. Mereka nggak ngurus kenapa gue nggak kawin lagi. Mereka nggak tanya2 kapan gue berencana menikah lagi... dll...dst... dsb.
Semua aman. Hidup di kota memang menyenangkan.
Yang kemarin jadi highlight adalah adanya cucu mbah Payaman (sebutan untuk keluarga dari pihak nyokap), yang menikah di usia 24. Sebenernya bukan usianya yg bikin heboh. Secara umur memang sdh cukup, secara agama maupun negara sdh boleh menikah. Hanya, anak laki2, baru saja lulus, dan dia adalah yg terkecil di silsilah keluarganya. Oh ya, dia ini anaknya sepupu nyokap. Jadi mestinya Rio ini sepupu gue ya. Haha....
Rio ini menikah, di usia muda, bukan karena dia yg pingin menikah. Lho kok bisa? Iya, dia menikah karena disuruh menikah oleh keluarga (calon) istrinya. Rio ini kerja di BUMN. Ditempatkan di proyek di desa Sambi. Nah... di sinilah dia ketemu kekasih hatinya. Konon sih sebenernya mereka ini sempat satu sekolah... entah di SMA atau di SMP... tp setelah lulus, si mbak kembali ke desa Sambi ini.
Adanya mbak cantik di desa ini ternyata cukup meresahkan. Meresahkan orangtuanya... karena sdh umur 25 belum kawin juga. Yaaaa gimana... untuk anak2 milenial, umur 25 kan belum apa2 ya. Tp menjadi millenials di desa Sambi ternyata berat, cyin. Si mbak ini sdh "dipinang" beberapa laki-laki. Yg dia tolak mentah2 krn hatinya sdh tertambat pada kangmas Rio. Dijodohin sama siapa2 juga menolak, maunya Rio semata. Ohohoho....
Bapaknya kalau ga salah pemuka desa. Jadi kehadiran Rio ini segera jadi sorotan. Nambah2 pusing aja nih... setelah pusing anaknya udah umur 25 blm kawin... ada lagi nih laki2 namanya Rio asyik2 ngapel. Rencanamu apa, le? Haha.... beneran akhirnya Rio "ditantang" sama (calon) mertuanya. "Kamu mau apa sama anakku?"
Rio... karena sdh cinta dan juga merasa bertanggungjawab... akhirnya mengajukan pinangan. Begitulah kisahnya hingga satu milenial melepas masa lajang di desa Sambi....
Gue sih nggak pro atau kontra soal pernikahan Rio. Ya kalau sudah jodoh, nggak akan ke mana juga.... yg gue lihat unik adalah bagaimana lingkungan bisa membuatmu melakukan sesuatu. Umur 25, di desa, belum kawin... jadi bahan gunjingan di desa. Bisa saja krn nggak tahan jadi gunjingan, seseorang akan melakukan hal yang di luar rencana. Termasuk mendadak kawin.
Hoaaaah... apa kabar ya kalau ada janda bercerai umur 30?
Cerita soal living single in the village ini kebawa ke kantor, dan terkuaklah cerita2 lain yang lebih "seru". Ada seorang tante yg lalu dilamar sama kelapa desa setelah setahun ditinggal meninggal suaminya. Ada yang didatengin beberapa laki-laki yg antri... setelah kembali ke desa dgn status janda. Pilihannya banyak, dari jawara sampai kepala desa. Dia pilih... pensiunan PNS. Krn PNS itu statusnya paling tinggi di desa.
Jreng.... semakin gue bersyukur tinggal di BSD. Yg mana orang2 nggak peduli (atau peduli tp nggak berani ngomong) kalau gue ini single, punya anak satu. Mereka nggak ngurus kenapa gue nggak kawin lagi. Mereka nggak tanya2 kapan gue berencana menikah lagi... dll...dst... dsb.
Semua aman. Hidup di kota memang menyenangkan.
Wednesday, September 20, 2017
Where....
Tadi rasanya semangat buka blog... mau nulis ttg rame2 politik. Hahaha... tumben amat ya. Tp lalu malah tertahan baca sesuatu dan akhirnya bikin mood nulis berlalu... jreng...
Ya sudah, nanti aja nulis lagi kalau sdh pengen nulis. Bye now.
Ya sudah, nanti aja nulis lagi kalau sdh pengen nulis. Bye now.
Thursday, September 07, 2017
Sungguh
Dalam Doaku
(by Sapardi Joko Damono)
Dalam doaku subuh ini
kau menjelma langit
yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara
karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara
yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin
yang mendesau entah dari mana
yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang
lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku
bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.
Friday, August 25, 2017
Current Situation
I feel like having a hollow in me. Try to fill the gap with anything crossing my mind.... it didn't work. At least not now.
I feel empty.
I feel empty.
Subscribe to:
Posts (Atom)