Entah sejak kapan gue selalu pakai highheels. Kayaknya sejak masuk dewi deh. Ya gitulah... dipandang dan dinilai dari penampakan, jd terpaksa pakai heels. Dan memang penampilan jadi paripurna bener deh kalau sdh pakai sepatu jinjit. Rasanya kaki jadi panjang. Rasanya. Sebenernya mah tetep bantet hahahaha....
Pindah ke GH jg tetep dgn heels. Krn alasan sdh kebiasaan. Jd kalau pakai flat, rasanya kaki kok bentuknya kayak dadah dadah gitu alias lebar. Ngeri. Krn waktu di GH mulai naik kereta, akhirnya pilih wedges. Tetep jinjit.
Jd kira2 sejak umur 25 pakai sepatu tinggi. Berhenti sebentar waktu di US. Diganti sama boots dan sneaker. Kalau summer pakai sepatu sandal.
Balik Jkt lagi... balik higheels lagi lah yaaaa.... Dan semakin berani dgn stilleto segala macamnya itulah. Killer heels. Kalau sdh pakai sepatu begitu, kok ya bisa jalan lurus dan tegak. Rasanya pede. Meskipun setelahnya kaki rasa ketuker kanan dan kiri saking pegelnya. Sementara kalau pakai yg agak pendek aja haknya, lgs terasa spt "mendarat". Hahahaha... korban mode. Tp skrg sdh tahu hanya enak pakai Hush Puppies. Clarks & Rockport... hanya cantik tp di kaki gue sakitnya minta ampun. Satu lagi: Bata Comfy. Tp yg terakhir ini umurnya paling 6 bulan. Lebih dari itu bentuknya udah ga karuan gegara menahan beban badan gue... hahahaha....
Nah, sampai skrg sebetulnya blm ada masalah dgn segala heels itu. Wedges makin banyak. Dan rasanya nggak ada masalah jalan jauh pakai sepatu2 itu. Sering kok jalan kaki dari BI ke PI atau GI. Oke saja.
Tapiiiiii waktu puasa kemarin nemu ballerina shoes yg enak bgt dan nggak bikin kaki terlihat njembluk. Hehehehe... Sumpah deh jadi ayu,
Ceritanya setiap sabtu kan ke Aeon antar Aria les piano. Nah, tentunya kan ya jarang bgt gue duduk manis, tp jalan2 dong ah. Suatu hari di bulan puasa itu, gue sm eyang jalan2 di Aeon. Masuk gerai Bata. Maunya lihat2 Bata Comfy kali2 ada wedges baru. Eh... kok malah ditawari sepatu edisi baru mereka: Ballerina Shoes Marie Claire. Gue pilih warna coklat muda gold gitu. Surprisingly enak banget, nyaman di kaki. Dan bentuknya entah gimana nggak bikin kaki dadah. Beda sama TB. Kok tumben? Langsung bungkus dong ah.
Sejak itu, si BS ini jd bestfriend. Ke mana2, kalau nggak pakai sneaker yg BS ini deh. Udahlah enak di kaki, gampang dibawa krn modelnya dilipet. Ya sepatu balerina gitu deh. Bisa masuk tas! Sudah gitu krn bentuknya full tutup depan, jd cukup resmi utk dipakai meeting di kantor pemerintah yg mengharamkan sepatu terbuka. Hahahaha... Jd skrg kalau jalan dari BI, bisa ganti sepatu dulu... supaya malamnya nggak berasa kaki mau copot.
Nah, tadi tergoda beli BS lagi yg warna lain. Spy bisa ganti2 gitu lhoooo... Ternyata, BS ini jg hrs pilih2 bahannya. Hrs yg lembut halus banget. Tadi ada satu yg penampakannya cantik dan tegas. Tp ternyata materialnya kaku, jd kemungkinan lecet besar bgt. Eeeeh... si mbak sales nggak putus asa, dia keluarin semua model BS Marie Claire. Termasuk yg aksen depannya batu2an. Akhirnya bungkus satu yg warna hitam. Hehehehe....
Dan tnyt peralihan dari highheels ke BS ini ada jg yg merhatiin. Mungkin krn gimana pun, kaki gue jd kelihatan hanya sejengkal ya (alias pendek hahaha). Barusan ada yg bilang, "Baru skrg lihat mbak Dian pakai sepatu flat." Entah maksudnya apa.
Hahahahaha... Bodo ah, yg penting enak.
Thursday, August 27, 2015
Friday, August 21, 2015
Forgiveness
I forgive people. I don't accept their bad behavior. But by forgiving them, I can move on and continue my beautiful life.
Thursday, August 20, 2015
Moving On
I am over it now.
Yes of course it was a heartbreaking moment, realizing the one you count on the most (and you loved dearly) was leaving the picture. And I was heart broken.
But then again, it was a total mistake depending your happiness into someone's hand. You have to create your own. And when someone special comes, it has to be effortless. Just like puzzle... it supposed to be click easily since the beginning. And you will know when it comes. You will know.
So I guess I am over it now.
Yes of course it was a heartbreaking moment, realizing the one you count on the most (and you loved dearly) was leaving the picture. And I was heart broken.
But then again, it was a total mistake depending your happiness into someone's hand. You have to create your own. And when someone special comes, it has to be effortless. Just like puzzle... it supposed to be click easily since the beginning. And you will know when it comes. You will know.
So I guess I am over it now.
Friday, August 07, 2015
Take Out the Trash, Please!
"You need to clean up, so you can start feeling fresh," suggested by a good friend today.
I know.
Where do I begin?
I know.
Where do I begin?
Thursday, August 06, 2015
Setelah 10 Tahun
Waktu tidak pernah berjalan mundur.
Mungkin ini saatnya melihat lagi jalan yang ditempuh, apakah sudah yg benar, atau mau berganti jalur? Jika memang tidak terlihat ujung yang jelas, mungkin sebaiknya berganti arah saja. Karena waktu tidak akan berhenti, tidak akan menunggu sesuatu yg tidak pasti.
Mungkin ini saatnya melihat lagi jalan yang ditempuh, apakah sudah yg benar, atau mau berganti jalur? Jika memang tidak terlihat ujung yang jelas, mungkin sebaiknya berganti arah saja. Karena waktu tidak akan berhenti, tidak akan menunggu sesuatu yg tidak pasti.
Wednesday, August 05, 2015
The Evening Drama
I hate it when I need to be extra firm to my son.
Males rasanya hbs ngantor hrs mayah2. Tp gimana? Kalau nggak gitu nanti dia nggak paham sdh bikin salah. Krn gue nggak bisa marah, jadinya seluruh gesture gue akan aneh. Aria tahu itu. Dia tahu bhw artinya dia salah.
Berkaca dr pengalaman bbrp single mom... yg anaknya jd ngawuran krn selalu dibela dimanja... tentu gue ga pengen kan?
I do not want him to be seen as a typical broken home kid. Because he is not.
Males rasanya hbs ngantor hrs mayah2. Tp gimana? Kalau nggak gitu nanti dia nggak paham sdh bikin salah. Krn gue nggak bisa marah, jadinya seluruh gesture gue akan aneh. Aria tahu itu. Dia tahu bhw artinya dia salah.
Berkaca dr pengalaman bbrp single mom... yg anaknya jd ngawuran krn selalu dibela dimanja... tentu gue ga pengen kan?
I do not want him to be seen as a typical broken home kid. Because he is not.
Lady Gaga is in My Cluster
Gue sebel sama orang2 yg ignorant. Nggak mikirin orang lain. Contoh yg paling nyebelin adalah yg buang sampah sembarangan. Contoh lain lagi... tetangga yg nggak peduli sama jemuran.
Jadi gue ini kan tinggal di sebuah cluster ya. Masuknya dijaga satpam, sebagian besar rumah punya mobil lebih dari satu. Maunya kan yaaaa latar belakang pikirannya sama soal keindahan dan kerapihan dan tata tertib. Apalagi waktu beli dulu ada banyak peraturan yg sok iye dari developer. Tp sebetulnya ya memang untuk keindahan perlu sok iye sih. Misalnya: dilarang mengubah tampak depan bangunan, dilarang mengecat exterior dgn warna menyolok, dilarang menjemur pakaian di halaman depan... dll... yg intinya satu: demi keindahan cluster.
Bbrp tahun... aman sih. Mulai tidak aman ketika ada pembeli2 rumah baru... yg tidak menerima peraturan dr developer itu. Akhirnya skrg rumah cluster itu warna warni. Bagus? Bisa jadi... sayangnya selera warna itu kan luaaaaas banget spektrumnya. Jadi yaaaaa... gitu deh. Ada yg suka hijau, dgn tanpa basa basi dia ubah seluruh rumah jadi ijo royo-royo... hmm... semacam ketumpahan klorofil sih menurut gue. Yg paling seru adalah rumah orange. Kyk matahari raksasa. Hahaha...
Udahlah kalau cat rumah. Namanya kesenengan, gue bisa apa?
Yg nyebelin adalah yg sembarangan taruh jemuran. Awalnya cuma naruh jemuran lipat di depan halaman... nyari matahari. Krn lahan belakang mungkin sempit jadi yaaa... terpaksa "ngejar" sinar matahari ke depan. Tapiiii... jemuran lipat ini lama2 kok jadi besar ukurannya ya? Trus... gong banget adalah ada yg menjemur di pagar balkon. Iya siiiih... itu rumahnya sendiri. Tapi kok ya nggak ada estetikanya sama sekali lho njemur baju di situ....
Trus... skrg lebih parah adalah rumah di deretan depan, persis setelah pintu gerbang cluster. Dia memang membuat tiang jemuran di depan! Astaga! Rumahnya hook... dan apa yg dia buat? Dia pasang melintang sebuah bambu... dari satu pohon ke pohon lain! Astagaaaaaaaa....
Tadi pagi gemes banget lihat jemuran2 itu melambai-lambai... asliiii... masuk gerbang langsung ada jemuran. Rasanya pengen gue siram pasir! Trus... parah bahwa ada jemuran baju dalam juga! Sinting. Oalaaaah... rumah boleh ya bagus, di cluster bagus, mobil bagus... tp kelakuan ndeso ndlosor.
Gue jd ingat kapan itu pernah bersepeda keliling sama Aria, dan tiba2 dia ngakak2...
"Ada Lady Gaga di situ."
"Ha? Di mana?"
"Itu...."
"Apa sih?"
"Itu lhooo... ada Lady Gaga... tuh jemurannya Lady Gaga kan...bra merah...."
Jadi gue ini kan tinggal di sebuah cluster ya. Masuknya dijaga satpam, sebagian besar rumah punya mobil lebih dari satu. Maunya kan yaaaa latar belakang pikirannya sama soal keindahan dan kerapihan dan tata tertib. Apalagi waktu beli dulu ada banyak peraturan yg sok iye dari developer. Tp sebetulnya ya memang untuk keindahan perlu sok iye sih. Misalnya: dilarang mengubah tampak depan bangunan, dilarang mengecat exterior dgn warna menyolok, dilarang menjemur pakaian di halaman depan... dll... yg intinya satu: demi keindahan cluster.
Bbrp tahun... aman sih. Mulai tidak aman ketika ada pembeli2 rumah baru... yg tidak menerima peraturan dr developer itu. Akhirnya skrg rumah cluster itu warna warni. Bagus? Bisa jadi... sayangnya selera warna itu kan luaaaaas banget spektrumnya. Jadi yaaaaa... gitu deh. Ada yg suka hijau, dgn tanpa basa basi dia ubah seluruh rumah jadi ijo royo-royo... hmm... semacam ketumpahan klorofil sih menurut gue. Yg paling seru adalah rumah orange. Kyk matahari raksasa. Hahaha...
Udahlah kalau cat rumah. Namanya kesenengan, gue bisa apa?
Yg nyebelin adalah yg sembarangan taruh jemuran. Awalnya cuma naruh jemuran lipat di depan halaman... nyari matahari. Krn lahan belakang mungkin sempit jadi yaaa... terpaksa "ngejar" sinar matahari ke depan. Tapiiii... jemuran lipat ini lama2 kok jadi besar ukurannya ya? Trus... gong banget adalah ada yg menjemur di pagar balkon. Iya siiiih... itu rumahnya sendiri. Tapi kok ya nggak ada estetikanya sama sekali lho njemur baju di situ....
Trus... skrg lebih parah adalah rumah di deretan depan, persis setelah pintu gerbang cluster. Dia memang membuat tiang jemuran di depan! Astaga! Rumahnya hook... dan apa yg dia buat? Dia pasang melintang sebuah bambu... dari satu pohon ke pohon lain! Astagaaaaaaaa....
Tadi pagi gemes banget lihat jemuran2 itu melambai-lambai... asliiii... masuk gerbang langsung ada jemuran. Rasanya pengen gue siram pasir! Trus... parah bahwa ada jemuran baju dalam juga! Sinting. Oalaaaah... rumah boleh ya bagus, di cluster bagus, mobil bagus... tp kelakuan ndeso ndlosor.
Gue jd ingat kapan itu pernah bersepeda keliling sama Aria, dan tiba2 dia ngakak2...
"Ada Lady Gaga di situ."
"Ha? Di mana?"
"Itu...."
"Apa sih?"
"Itu lhooo... ada Lady Gaga... tuh jemurannya Lady Gaga kan...bra merah...."
Friday, July 31, 2015
Baik-baik Saja
Mana yang lebih berat? Memutuskan bercerai, atau menjadi orang tua tunggal ketika anak sakit, dan menangis sendirian di depan ruang ICU with no one to share the pain?
Saya tidak pernah berpikir mana yang lebih berat. Mungkin karena saya tidak lagi sempat berpikir. Saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan mana yang lebih berat. Waktu yang ada sudah saya habiskan untuk bekerja. Dengan bekerja saya bisa menghidupi diri dan anak saya. Tentu saja semakin lama anak saya semakin besar, kebutuhannya kian banyak, hingga saya pun harus lebih giat bekerja.
Kesibukan menghidupi ini akhirnya memang lebih penting, ketimbang merenung memikirkan kondisi menjadi orang tua tunggal. Bahkan ketika di suatu saat harus menangis sendirian (karena anak sakit, karena kehabisan uang, atau karena belum sempat belanja isi kulkas...), akhirnya pun semua menjadi seperti biasa saja.
Semua dibiarkan berjalan sebagaimana seharusnya. Hidup mungkin memang harus dibiarkan seperti air. Kadang perlu diatur, dibendung di sana sini, tapi kadang perlu dibiarkan saja. Bahkan kalau meluber sekali pun... tidak apa2. Siapa tahu luberannya memberi penghidupan pada yang di sekitarnya?
Kembali kepada pertanyaan awal, mana yang lebih berat? Rasanya tidak ada yg lebih berat. Tidak ada juga yg lebih ringan. Pilihan berat atau ringan tidak lagi relevan. Lebih baik memikirkan cara untuk melanjutkan hidup, ketimbang menyesali yang sudah lewat.
Saya tidak pernah berpikir mana yang lebih berat. Mungkin karena saya tidak lagi sempat berpikir. Saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan mana yang lebih berat. Waktu yang ada sudah saya habiskan untuk bekerja. Dengan bekerja saya bisa menghidupi diri dan anak saya. Tentu saja semakin lama anak saya semakin besar, kebutuhannya kian banyak, hingga saya pun harus lebih giat bekerja.
Kesibukan menghidupi ini akhirnya memang lebih penting, ketimbang merenung memikirkan kondisi menjadi orang tua tunggal. Bahkan ketika di suatu saat harus menangis sendirian (karena anak sakit, karena kehabisan uang, atau karena belum sempat belanja isi kulkas...), akhirnya pun semua menjadi seperti biasa saja.
Semua dibiarkan berjalan sebagaimana seharusnya. Hidup mungkin memang harus dibiarkan seperti air. Kadang perlu diatur, dibendung di sana sini, tapi kadang perlu dibiarkan saja. Bahkan kalau meluber sekali pun... tidak apa2. Siapa tahu luberannya memberi penghidupan pada yang di sekitarnya?
Kembali kepada pertanyaan awal, mana yang lebih berat? Rasanya tidak ada yg lebih berat. Tidak ada juga yg lebih ringan. Pilihan berat atau ringan tidak lagi relevan. Lebih baik memikirkan cara untuk melanjutkan hidup, ketimbang menyesali yang sudah lewat.
Junya Ishigami
Do you remember my big brother the architect? Serumah dgn seorang arsitek yang (katanya) kondang... seru juga. Perkara rumah kedatangan tamu yang mau keliling lihat2 sih udah mulai biasa. Dari mulai orang lewat yg penasaran sama prosotan, sampai fotografer Iwan Baan... pernah blusukan di rumah. Shooting TV sudah sering (termasuk dari Aussie untuk Extreme Houses). Foto majalah sudah bosen saking seringnya sejak akhir 2008 smp skrg. Tadi pagi 3 arsitek muda dari Surabaya nongol, mau ngintip2 Ndalem Prosotan. Monggo... dan gue pun tetep nyetrika plus cuci piring saat mereka "touring".
Selain adanya tamu2 ini... gue jd lebih gampang terekspos dgn perkara arsitek yang kekinian. Spt sekarang ini. Sedang ada Triennale Arsitektur UPH 2015. Betul... kerjaannya anak2 UPH. Pameran di gedung Tjipta Niaga, Kota Tua.
Bukan UPH yg menarik hatiku... tp Junya Ishigami. Jadi, di Triennale itu ada banyak talkshow. Hari terakhir, tgl. 8 Agustus, yg ngomong ada Junya ini. Orang Jepang. Masih muda dan kalau lihat bentuknya sih... biasa banget. Tp karyanya ciamik lho. Di Jepang, dia lagi banyak dibicarakan karena hbs terima sebuah award prestisius mbuh opo untuk arsitektur. Karyanya selalu ringan melayang mengambang, melawan gravitasi. Nggak tahu apa yg nyambet dia waktu kecil sampai dia bisa punya khayalan soal bangunan2 yg aneh2... dan ternyata tetap bisa dibangun.
So, he'll be here on August 8. Be there and be ready to fall in love with him :)
Selain adanya tamu2 ini... gue jd lebih gampang terekspos dgn perkara arsitek yang kekinian. Spt sekarang ini. Sedang ada Triennale Arsitektur UPH 2015. Betul... kerjaannya anak2 UPH. Pameran di gedung Tjipta Niaga, Kota Tua.
Bukan UPH yg menarik hatiku... tp Junya Ishigami. Jadi, di Triennale itu ada banyak talkshow. Hari terakhir, tgl. 8 Agustus, yg ngomong ada Junya ini. Orang Jepang. Masih muda dan kalau lihat bentuknya sih... biasa banget. Tp karyanya ciamik lho. Di Jepang, dia lagi banyak dibicarakan karena hbs terima sebuah award prestisius mbuh opo untuk arsitektur. Karyanya selalu ringan melayang mengambang, melawan gravitasi. Nggak tahu apa yg nyambet dia waktu kecil sampai dia bisa punya khayalan soal bangunan2 yg aneh2... dan ternyata tetap bisa dibangun.
So, he'll be here on August 8. Be there and be ready to fall in love with him :)
Thursday, July 30, 2015
Jatuh Hati
Ada ruang hatiku, yang kau temukan
Sempat aku lupakan, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta
Sempat aku lupakan, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Bolehkah ku selalu di dekatmu?
Katanya cinta, memang banyak bentuknya
Ku tahu pasti... sungguh aku jatuh hati....
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Katanya cinta, memang banyak bentuknya
Ku tahu pasti... sungguh aku jatuh hati....
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Bolehkah ku selalu di dekatmu?
Jatuh Hati by Raisa
Friday, July 24, 2015
Selamat Lebaran Tahun 2015
Seorang teman yg bbrp saat lalu mencoba mendekat (ealah ini keterangan kok panjang amat), minggu lalu mengirim pesan lewat wa. Dia menulis sederetan kalimat bahasa Arab yg gue tidak paham. Pakai emoticon salaman. Belum sempat cari di google, dan krn menurut gue moment saat itu adalah Idul Fitri, gue balas: Selamat Lebaran. Maaf lahir batin ya.
Krn kesibukan maha dahsyat sbg bibik inem, gue ga pegang hp lagi sampai kira2 jam 10 malamnya. Dan saat itu gue temukan sebuah balasan panjang kali lebar kali tinggi yang intinya "menuduh" gue tidak mengaminkan doa, dan tidak mendoakan dia.
Hmm... hmm... (kalau di film2 anak2 brandal, instead of "hmm" they would say "wtf").
Gue heran banget sama orang itu. Dia kirim kalimat bahasa asing yg gue nggak ngerti. Trus dia nggak kirim terjemahannya. Trus dia mengharapkan gue tahu bahwa isinya doa? Mengaminkan dan mendoakan dia kembali. Oh Tuhan ampuni saya.
Satu, gue nggak suka dengan caranya yg bilang gue nggak mengaminkan doa. Trus? Memang dia pikir dia itu siapa ya. Lalu, dua, dia kok pamrih amat ya. Bahkan doa aja, yg tinggal ngomong, dia mengharap balasannya. Ada ya orang yg begitu.... Oh Tuham ampuni saya lagi.
Akhirnya, krn gue nggak mau tidur dgn perasaan sebal dan kesal, gue balas pesan itu dgn panjang kali lebar kali tinggi juga. I gave him my two cents. Oh maybe it wasn't only two cents, it was 10 thousands. Hahaha.... Entah kenapa gue kok jadi nyolot. Oh Tuhan ampuni saya beribu kali.
Anyway, selamat lebaran, maaf lahir batin bila ada kesalahan dalam tulisan. Semoga Allah SWT selalu meridhoi semua langkah kita. Amin.
Krn kesibukan maha dahsyat sbg bibik inem, gue ga pegang hp lagi sampai kira2 jam 10 malamnya. Dan saat itu gue temukan sebuah balasan panjang kali lebar kali tinggi yang intinya "menuduh" gue tidak mengaminkan doa, dan tidak mendoakan dia.
Hmm... hmm... (kalau di film2 anak2 brandal, instead of "hmm" they would say "wtf").
Gue heran banget sama orang itu. Dia kirim kalimat bahasa asing yg gue nggak ngerti. Trus dia nggak kirim terjemahannya. Trus dia mengharapkan gue tahu bahwa isinya doa? Mengaminkan dan mendoakan dia kembali. Oh Tuhan ampuni saya.
Satu, gue nggak suka dengan caranya yg bilang gue nggak mengaminkan doa. Trus? Memang dia pikir dia itu siapa ya. Lalu, dua, dia kok pamrih amat ya. Bahkan doa aja, yg tinggal ngomong, dia mengharap balasannya. Ada ya orang yg begitu.... Oh Tuham ampuni saya lagi.
Akhirnya, krn gue nggak mau tidur dgn perasaan sebal dan kesal, gue balas pesan itu dgn panjang kali lebar kali tinggi juga. I gave him my two cents. Oh maybe it wasn't only two cents, it was 10 thousands. Hahaha.... Entah kenapa gue kok jadi nyolot. Oh Tuhan ampuni saya beribu kali.
Anyway, selamat lebaran, maaf lahir batin bila ada kesalahan dalam tulisan. Semoga Allah SWT selalu meridhoi semua langkah kita. Amin.
Monday, June 22, 2015
Dad
Everyone can be a father, but only special man can be a dad.
Lupa siapa yg ngomong, tp memang bener banget. Jd jawaban kenapa anak gue nggak pernah nanyain ayahnya. He got a dad already... Pap... he clearly doesn't need his biological father. Sad. But what can I say?
Happy father's day to all the father in the world. And please become a dad to your children.
Lupa siapa yg ngomong, tp memang bener banget. Jd jawaban kenapa anak gue nggak pernah nanyain ayahnya. He got a dad already... Pap... he clearly doesn't need his biological father. Sad. But what can I say?
Happy father's day to all the father in the world. And please become a dad to your children.
Thursday, June 18, 2015
Godaan Ramadhan
Di kantor ini ada orang baru yg langsung menduduki jabatan (tidak) terhormat sebagai enemy of public. Dgn segala kekacauan yg dia buat dan beking terang2an dari bos yg tdk adil, cukup 6 bulan dan sebagian besar pegawai sdh membencinya dgn sukarela.
Sejak kemarin tim gue sdh bilang bahwa dia akan hadir sebagai "cobaan puasa yg paling hebat." Kemarin sih gue ketawa2 dengernya. Tapi barusan dia masuk ruangan gue dan baru ngomong 2 kalimat saja, langsung rasanya ambyar. Kalau di hari biasa sih nada gue akan jd sangat tinggi. Tp ini kan puasa ya. Jd sebaiknya gue istighfar saja.
Skrg rasanya gue sesak napas.
Sejak kemarin tim gue sdh bilang bahwa dia akan hadir sebagai "cobaan puasa yg paling hebat." Kemarin sih gue ketawa2 dengernya. Tapi barusan dia masuk ruangan gue dan baru ngomong 2 kalimat saja, langsung rasanya ambyar. Kalau di hari biasa sih nada gue akan jd sangat tinggi. Tp ini kan puasa ya. Jd sebaiknya gue istighfar saja.
Skrg rasanya gue sesak napas.
Wednesday, June 17, 2015
Missing... Who?
Karena mengenal gue sebagai single mom, seorang reporter telepon, bilang pengen wawancara soal single parenting.
Meskipun merasa "gue kan gini2 aja, nggak istimewa" tp tentu saja gue nggak menolak jd narasumber. Gue selalu berusaha membantu orang lain beresin pekerjaannya. You know, doing good karma.
Jd di pengantar dikasih tahu bahwa artikel ini tujuannya untuk bantu orang lain menjawab pertanyaan anak. Dan nanti akan diperkuat oleh pendapat psikolog. Oke deh. Tapi, ternyata baru satu pertanyaan aja, wawancara lgs selesai. Krn jawaban gue nggak bisa dikembangkan jadi apa2.
Pertanyaan: Kalau anak tanya soal ayahnya, mbak jawab apa?
Hmm... hmm... Aria nggak pernah tanya soal ayahnya. Not even once. For the whole 11 years.
Trus saat itulah gue merasa bersalah, jangan2 gue menghilangkan figur ayah? Eh, apa iya ya? Padahal gue nggak menutup komunikasi. Gue nggak pernah melarang apa2 (ngomong aja nggak). Trus hrs gimana dong?
Asli gue kok jd kepikiran ya. Huh. Ternyata tidak semua niat menjadikan good karma itu berakhir baik.
Meskipun merasa "gue kan gini2 aja, nggak istimewa" tp tentu saja gue nggak menolak jd narasumber. Gue selalu berusaha membantu orang lain beresin pekerjaannya. You know, doing good karma.
Jd di pengantar dikasih tahu bahwa artikel ini tujuannya untuk bantu orang lain menjawab pertanyaan anak. Dan nanti akan diperkuat oleh pendapat psikolog. Oke deh. Tapi, ternyata baru satu pertanyaan aja, wawancara lgs selesai. Krn jawaban gue nggak bisa dikembangkan jadi apa2.
Pertanyaan: Kalau anak tanya soal ayahnya, mbak jawab apa?
Hmm... hmm... Aria nggak pernah tanya soal ayahnya. Not even once. For the whole 11 years.
Trus saat itulah gue merasa bersalah, jangan2 gue menghilangkan figur ayah? Eh, apa iya ya? Padahal gue nggak menutup komunikasi. Gue nggak pernah melarang apa2 (ngomong aja nggak). Trus hrs gimana dong?
Asli gue kok jd kepikiran ya. Huh. Ternyata tidak semua niat menjadikan good karma itu berakhir baik.
Tuesday, June 16, 2015
The Beauty and The Beast
Teater selalu menarik gue. Entah kenapa. Terutama yg
Sekitar 4 tahun yg lalu, waktu ke KL, di sana pas ada musikal The Beauty and The Beast. Sebetulnya pengen ajak Aria nonton. Tp karena pertimbangan waktu itu Aria belum berbahasa Inggris, jd akhirnya batal.
Nah... bulan lalu si B&B ini mampir ke Jakarta. Di teater baru: Ciputra Artpreneur. Semangat dong gue. Asliiiii mahalnya ampun deh. Tp ya sudahlah. Sebelum nanti nonton di Broadway beneran, baiklah kita coba nonton teater Broadway di Jakarta.
Krn budget terbatas... beli tiket yg paling murah dong ya. Di atas dan di ujung. Hahahaha... Tp Ciputra Artpreneur bagus kok. Untuk anak2 disediakan tambahan cushion.
Tontonannya sendiri... as expected... bagus. Iya lah kan kelas dunia. Dengan suara yg bagus dan artikulate, para pemain menyanyi dan bergerak. Memang sih, tetap ada unsur lebay terutama utk tokoh yg di-bully (entourage-nya Gaston... lupa namanya). Krn ceritanya sdh tahu, jd bisa konsentrasi lihat detail... trus menikmati teknik panggung, sama kostum yg lucu2. Paling seru waktu adegan dinner. Penari2nya dgn pakaian macam... mewakili piring, sendok garpu, gelas, dll... meriah banget!
Mudah2an show ini bisa berkesan buat Aria ya. Jadi kelak bisa berguna kalau dia mau bikin sesuatu. Gue inget bgt dulu sempat ikut kuliah drama dan waktu bikin skenario yg teringat adalah setting panggung Teater Koma. Moga2 Aria jg bisa seperti itu.
Sekitar 4 tahun yg lalu, waktu ke KL, di sana pas ada musikal The Beauty and The Beast. Sebetulnya pengen ajak Aria nonton. Tp karena pertimbangan waktu itu Aria belum berbahasa Inggris, jd akhirnya batal.
Nah... bulan lalu si B&B ini mampir ke Jakarta. Di teater baru: Ciputra Artpreneur. Semangat dong gue. Asliiiii mahalnya ampun deh. Tp ya sudahlah. Sebelum nanti nonton di Broadway beneran, baiklah kita coba nonton teater Broadway di Jakarta.
Krn budget terbatas... beli tiket yg paling murah dong ya. Di atas dan di ujung. Hahahaha... Tp Ciputra Artpreneur bagus kok. Untuk anak2 disediakan tambahan cushion.
Tontonannya sendiri... as expected... bagus. Iya lah kan kelas dunia. Dengan suara yg bagus dan artikulate, para pemain menyanyi dan bergerak. Memang sih, tetap ada unsur lebay terutama utk tokoh yg di-bully (entourage-nya Gaston... lupa namanya). Krn ceritanya sdh tahu, jd bisa konsentrasi lihat detail... trus menikmati teknik panggung, sama kostum yg lucu2. Paling seru waktu adegan dinner. Penari2nya dgn pakaian macam... mewakili piring, sendok garpu, gelas, dll... meriah banget!
Mudah2an show ini bisa berkesan buat Aria ya. Jadi kelak bisa berguna kalau dia mau bikin sesuatu. Gue inget bgt dulu sempat ikut kuliah drama dan waktu bikin skenario yg teringat adalah setting panggung Teater Koma. Moga2 Aria jg bisa seperti itu.
La Traviata
Hari Minggu gue ditutup secara berbudaya. Hahaha... yaitu dgn nonton La Traviata dari Artemis Danza. Imported from Italy.
Jadi ceritanya, waktu nonton Beauty and The Beast sm Aria, iklan LT ini sudah bertebaran di Ciputra Artpreneur. Aria jg sudah cerewet banget lihat yang balet auranya gothic. Hahahaha.... Tp ternyata waktu gue bilang mau nonton itu, dia males ikut. Malah janjian sm Pap buat nonton Jurassic World saja. Baiklah.
Jadilah ibu sendirian nonton balet modern itu. Dan memang modern banget yah ini!
La Traviata itu ternyata cerita dari zaman dahulu kala. Bagian dari opera Verdi. Ceritanya tentang kisah cinta seorang pelacur dan anak bangsawan. Nah, Grup Artemis Danza yang anggotanya cuma 7 orang ini mencoba menampilkan sisi pelacur, cara dia memandang dan menghadapi cinta.
Jadi dalam pertunjukan ada 3 warna: putih, merah, hitam. Putih untuk kesucian dan cita-cita cinta bahagia (asli kayak gaun pengantin), merah itu pemberontakan, dan hitam mewakili lingkungan yg nggak mendukung.
Ini memang bukan balet yang halus seperti Swan Lake. Ciri khas Monica Casadei yg punya Artemis Danza konon memang gerakan-gerakan yang menampilkan otot (doi atlet aikido). Penari yang mewakili tokoh-tokoh itu bergerak lompat-lompat, kadang ada unsur martrial arts, trus yang sering terlihat adalah gerakan-gerakan kaku. Beberapa kali tampil tarian punggung (jadi inget Eko Supriyanto).
Ekspresi penarinya memang bagus banget. Bisa kelihatan jatuh cinta, sakit hati, merana, sedih banget.... Ada satu scene yang penarinya muter-muter-muter sampai bajunya lepas. Trus kelihatan punggungnya bergerak, kakinya bergetar, tangannya tegang-lemas-tegang-lemas.... asli itu mencekam banget. Gue merasa selamat karena nggak ngerti arti lagu2nya. Coba gue paham, pasti gue akan makin tercekat....
Tapi ya, setelahnya gue kok merasa tidak damai. Hahaha... terbawa emosi penari, gue jd rasanya "penuh" pengen teriak2. Ini gimana sih, nonton kok bukannya jd happy. Padahal tontonannya bagus. Beda banget rasanya nonton ini sama nonton Matah Ati, misalnya. Memang, ending ceritanya beda sih. Tapi gue bandingkan cara dua repertoir ini menunjukkan cinta. Kalau cinta di Matah Ati itu bisa halus, meneduhkan, meski bergairah tapi menenangkan dan anggun. Cinta di La Traviata penuh gairah yg bergejolak. Sama2 anggun tapi yg di LT lebih congkak. Itu sih menurut gue yaaaa....
Dasar mungkin gue saja ya yang gadis desa (Jawa). Lebih cocok nonton tari Bedoyo dengan gamelan klenthung kloneng gong... yang auranya tentrem dan ayem. Hahaha... Anyway, tetap saja gembira punya kesempatan nonton pertunjukan bagus di gedung yg baru (baca: bukan GKJ). Marilah menanti tontonan berikutnya.
Jadi ceritanya, waktu nonton Beauty and The Beast sm Aria, iklan LT ini sudah bertebaran di Ciputra Artpreneur. Aria jg sudah cerewet banget lihat yang balet auranya gothic. Hahahaha.... Tp ternyata waktu gue bilang mau nonton itu, dia males ikut. Malah janjian sm Pap buat nonton Jurassic World saja. Baiklah.
Jadilah ibu sendirian nonton balet modern itu. Dan memang modern banget yah ini!
La Traviata itu ternyata cerita dari zaman dahulu kala. Bagian dari opera Verdi. Ceritanya tentang kisah cinta seorang pelacur dan anak bangsawan. Nah, Grup Artemis Danza yang anggotanya cuma 7 orang ini mencoba menampilkan sisi pelacur, cara dia memandang dan menghadapi cinta.
Jadi dalam pertunjukan ada 3 warna: putih, merah, hitam. Putih untuk kesucian dan cita-cita cinta bahagia (asli kayak gaun pengantin), merah itu pemberontakan, dan hitam mewakili lingkungan yg nggak mendukung.
Ini memang bukan balet yang halus seperti Swan Lake. Ciri khas Monica Casadei yg punya Artemis Danza konon memang gerakan-gerakan yang menampilkan otot (doi atlet aikido). Penari yang mewakili tokoh-tokoh itu bergerak lompat-lompat, kadang ada unsur martrial arts, trus yang sering terlihat adalah gerakan-gerakan kaku. Beberapa kali tampil tarian punggung (jadi inget Eko Supriyanto).
Ekspresi penarinya memang bagus banget. Bisa kelihatan jatuh cinta, sakit hati, merana, sedih banget.... Ada satu scene yang penarinya muter-muter-muter sampai bajunya lepas. Trus kelihatan punggungnya bergerak, kakinya bergetar, tangannya tegang-lemas-tegang-lemas.... asli itu mencekam banget. Gue merasa selamat karena nggak ngerti arti lagu2nya. Coba gue paham, pasti gue akan makin tercekat....
Tapi ya, setelahnya gue kok merasa tidak damai. Hahaha... terbawa emosi penari, gue jd rasanya "penuh" pengen teriak2. Ini gimana sih, nonton kok bukannya jd happy. Padahal tontonannya bagus. Beda banget rasanya nonton ini sama nonton Matah Ati, misalnya. Memang, ending ceritanya beda sih. Tapi gue bandingkan cara dua repertoir ini menunjukkan cinta. Kalau cinta di Matah Ati itu bisa halus, meneduhkan, meski bergairah tapi menenangkan dan anggun. Cinta di La Traviata penuh gairah yg bergejolak. Sama2 anggun tapi yg di LT lebih congkak. Itu sih menurut gue yaaaa....
Dasar mungkin gue saja ya yang gadis desa (Jawa). Lebih cocok nonton tari Bedoyo dengan gamelan klenthung kloneng gong... yang auranya tentrem dan ayem. Hahaha... Anyway, tetap saja gembira punya kesempatan nonton pertunjukan bagus di gedung yg baru (baca: bukan GKJ). Marilah menanti tontonan berikutnya.
Monday, May 25, 2015
Monday, May 18, 2015
Recovery
I put away my phone to avoid office calls on my off days last week. So it was in silent mode since Thursday. Told the secretary to call home if any urgent matter happen.
Now I checked my call log to see if any client need something from me or my team.
And I found a missed call from unknown number on Friday.
Was that you?
Just think about it and I already feel so much better. Haha....
Now I checked my call log to see if any client need something from me or my team.
And I found a missed call from unknown number on Friday.
Was that you?
Just think about it and I already feel so much better. Haha....
Saturday, May 16, 2015
Malam Minggu
Status malming orang2 d sosmed variatif banget: jfff kelapa gading, market & museum lippo kemang, i love bazaar jakarta di senayan. Gue? Di rumah. Flu berat. Hiks.
Monday, May 11, 2015
What a Nice Dream
Tadi malam bermimpi digandeng sama seseorang lalu jalan berkeliling untuk ini itu. Nggak jelas jg untuk apa, tp rasanya kok seneng banget. Sampai bangun tidur masih terasa senengnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)