Pagi tadi di grup bbm ada 'protes'. Jadi katanya sejak banjir melanda Jkt, FPI sdh langsung buka posko bantuan, tp nggak ada satu pun media yg meliput. Beda dengan partai atau institusi besar yang liputan soal bantuannya bergaung sampai jauh. Protes itu jg menyesalkan karena pemberitaan FPI selama ini hanya seputar penumpasan maksiat. Bla bla bla....
Tanggapan gue untuk bbm-nya adalah langsung end chat. hehehe.... Dan ini nggak ada hubungan dengan pro atau kontra pada FPI, tapi lbh kepada tdk pengen membuat pikiran gue terganggu.
Tp ya tnyt jadi kepikiran juga. Karena sejak banjir itu, bukan posko FPI yg kelihatan di media, tp justru salah satu petingginya yg digelendoti Jupe waktu mau nengok korban. Trus akhirnya bahasan malah sekitar si habib yg akhirnya mau pegang2 Jupe. Oot habis2an tp itu yg akhirnya dibesarkan krn jelas bertentangan dengan aktivitas FPI selama ini.
Sebetulnya mungkin FPI itu tdk perlu media (mainstream). Makanya dia nggak peduli apakah mau diliput atau enggak. Mereka mau ngancur2in kelab malam, mau nyumbang korban banjir atau mau bantu Palestina... ya mereka kerjakan saja. Nggak perlu liputan ini itu.
Sayangnya, tujuan mereka memperjuangkan ajaran yg bener (menurut mereka) jadi buram di mata banyak orang. Ada kesalahan komunikasi mereka yg seperti nggak bisa baca situasi, bhw zaman sdh berubah. Tapi sekali lagi, mungkin mereka nggak peduli? Buat mrk yg penting mengerjakan yg menurut mrk benar. Terserah yg lain ikut apa nggak. Kalau ikut ya mari, kalau nggak ya sudah (yg pd akhirnya sering di golongan anggota yg kroco2 gemblung, kalau ada yg nggak sepaham trus dipukul juga.... ). Ini sih yg perlu dibenerin.
Akhirnya gue pun mengambil sikap menjaga jarak pd sikap2 yg tdk sesuai dgn hati gue. Termasuk tdk mau ambil peduli pada forum itu. Seperti juga gue nggak ambil pusing sama orang2 yg ngaku2 nggak minum alkohol tapi lalu tinggal serumah tanpa nikah. Halaaaaah....
Gue lahir dalam keluarga Islam. Meskipun tidak lalu diajari taat agama sejak kecil, landasan Islam itu sdh ada semacam template-nya dalam diri gue, nggak bisa diganti dgn yg lain. Gue pun tahu pengetahuan agama gue nggak bagus2 amat, masih hrs belajar sangat banyak. Tp gue percaya bahwa hidup itu harus diisi dgn hal2 yg baik dan bermanfaat. Kalau bisa berguna buat orang lain, alhamdulillah.
Sudahlah, hubungan dengan Tuhan (dalam kepercayaan gue namaNya Allah SWT) adalah yg sangat personal dan intim. Tdk perlu harus disiarkan bahwa gue sholat 5 waktu dan baca Al Quran. Terserah gue dong kalau mau sholat buat curhat atau buat ketawa2. Jg terserah orang lain kalau dia mau menganggap penciptanya seperti apa dan bagaimana.
Balik lagi ke FPI yg buka posko dan ga ada liputannya... yaaa itu masalah bad communication saja sih. Tp toh org FPI-nya sendiri jg ga peduli kok. Buat mrk yg penting mrk bantu korban bencana. Akhirnya kan memang orang2 yg sekitarnya, yg hanya menonton, yg bawel soal liput2an ini. Kalau begini, yg kasihan sih jadi yg cerewet ya, bisanya kok hanya ngomong doang. Hahahaha.....
Monday, January 21, 2013
Wednesday, January 09, 2013
Friday, January 04, 2013
Membiasakan Bersyukur
Mulai hari ini akan menuliskan kebaikan orang yg gue sayang, jadi gue akan selalu bersyukur memiliki dia.
1. Cinta pada Tuhan
2. Pintar
3. Pengetahuannya luas
4. Suka olahraga
5. Baik hati
6. Sayang sama Aria
1. Cinta pada Tuhan
2. Pintar
3. Pengetahuannya luas
4. Suka olahraga
5. Baik hati
6. Sayang sama Aria
Wednesday, January 02, 2013
Cinta
Dunia berwarna biru, kuning, merah, dan hijau
Tak ada kelabu
Apalagi hitam
Langit tak berawan
Dengan hiasan pelangi melintang
Semua jadi indah
Ceria
Karena suaramu yang membangunkan aku pagi tadi.
Tak ada kelabu
Apalagi hitam
Langit tak berawan
Dengan hiasan pelangi melintang
Semua jadi indah
Ceria
Karena suaramu yang membangunkan aku pagi tadi.
Kenangan?
Tiba-tiba
Beberapa benda yang sama dengan yang minggu lalu
Ada, terlihat, kutemukan
Tentu saja semua mengingatkan padamu.
Beberapa benda yang sama dengan yang minggu lalu
Ada, terlihat, kutemukan
Tentu saja semua mengingatkan padamu.
Saturday, December 29, 2012
Subuh Tadi
Azan berkumandang
Membangunkan yang lelap lena
Kuberdiri
Tegak siap melantun doa
Yang terngiang di telinga
Gaung suaramu
MemohonNya
Ingatkah kamu?
Pagi itu
Berdiri
Memimpinku
Membacakan doa
Yang tak pernah kuhafal
Menenangkanku
Mengajak pasrah dan berserah
Lalu salam menutup doa
Kau ucap
Bersamaku
Suatu pagi
Kuingin mengulangnya
Lagi
Membangunkan yang lelap lena
Kuberdiri
Tegak siap melantun doa
Yang terngiang di telinga
Gaung suaramu
MemohonNya
Ingatkah kamu?
Pagi itu
Berdiri
Memimpinku
Membacakan doa
Yang tak pernah kuhafal
Menenangkanku
Mengajak pasrah dan berserah
Lalu salam menutup doa
Kau ucap
Bersamaku
Suatu pagi
Kuingin mengulangnya
Lagi
Friday, December 28, 2012
Gemintang
Namamu terlihat di angkasa
Susunan huruf di antara bintang
Gemilang
Awan hitam terkadang lalu
Menutup sebagian ejaan
Hanya huruf depan terlihat
Atau akhirannya saja
Tapi aku tahu, itu tetap namamu.
Susunan huruf di antara bintang
Gemilang
Awan hitam terkadang lalu
Menutup sebagian ejaan
Hanya huruf depan terlihat
Atau akhirannya saja
Tapi aku tahu, itu tetap namamu.
Wednesday, December 26, 2012
Friday, December 07, 2012
Kangen
Selalu...selalu...se-la-lu kangen sama Aria. Seneng sekali membayangkan akan liburan dgn dia. Ndaksabal.
Monday, November 26, 2012
(Un)Conditional Love
Gue selalu berdoa agar dijauhkan dari kancah pergunjingan. Hadeeeeuuuh.... biasa kan ibu2 kalau ngumpul yg diomongin pasti orang lain. Bahkan yg nggak dikenal pun jadi korban (gara2 nonton infotainment).
Bbrp hari lalu doa gue ga terkabul, jadilah gue terjerumus dalam ajang pergosipan gila. Gara2 gue ketemu sama temen gue di majalah yg dulu, kok skrg jadi kuruuuuussss banget. Asli tinggal tulang belulang. Dan dia pun curhit (krn hanya sempat sebentar) kalau suaminya punya pacar lagi. Gue kenal suaminya dan sangat ga menyangka bahwa a family man bisa punya pacar. Hmm.... selain bahwa gue jadi mikir lagi 'kok gue nggak kurus ya waktu dicerai', gue sempat mikir: apa memang laki2 itu harus selingkuh... minimal sekali dalam hidupnya?
Lalu serunya, gosipan ini bersambung. Astaga. Ternyata pacar si suami itu adalah 'seseorang' di dunianya. Yang artinya, banyak yg tahu ttg perselingkuhan itu. Jadi si mbak ini adalah mantan PR otomotif. Mrk ketemu pertama kali dalam journalist trip ke Jepang (si suami penulis top di majalah otomotif). Dan sejak itu mrk sangat sangat sangat dekat. Si mbak ini single parent yg kebagian gono gini lumayan yahuuuud... Jd secara materi sama sekali nggak ganggu2 pacarnya. Hmm.... apakah dia laki2 yg beruntung?
Yg mengejutkan adalah berita kalau si suami sebenarnya sdh menikah dgn pacarnya ini. Krn dia bangga bahwa dia berhasil mempertahankan rumah tangganya tapi sekaligus membahagiakan pacar (istri kedua). Menurut si suami, tidak ada yg berubah dari hubungan dia dgn keluarga setelah ada istri kedua. Secara finansial ttp sama. Kapan pun dia diperlukan dia akan ada. Pekerjaan yg sering pergi2 kan sudah biasa? Jadi dia tidak merasa anak2 dan istri pertama bisa komplen.
Di sisi lain, istri kedua jg nggak punya tuntutan apa2. Merasa sudah punya materi, dia hanya perlu dicintai. Ketika cinta itu datangnya dari suami orang, ya sudah. Gapapa yg penting ga ganggu2 yg lain.
Teman gue (istri pertama) akhirnya pun seperti pasrah. Krn memang terbukti suami ttp siaga, kapan pun diperlukan akan hadir. Secara materi jg ttp dicukupi sampai dia nggak kerja pun masih ttp hidup nyaman.
Trus, gue sebagai penonton sibuk menilai ini itu. Usil memikirkan, apa ini ya yg disebut unconditional love? I love you just because I love you? Nggak ada yg menuntut apa2, nggak ada yg dituntut apa2. Ya udah semua berjalan saja. Iya memang secara norma pasti ada yg terganggu...tp trus kenapa?
Pusing deh sama dunia.
Bbrp hari lalu doa gue ga terkabul, jadilah gue terjerumus dalam ajang pergosipan gila. Gara2 gue ketemu sama temen gue di majalah yg dulu, kok skrg jadi kuruuuuussss banget. Asli tinggal tulang belulang. Dan dia pun curhit (krn hanya sempat sebentar) kalau suaminya punya pacar lagi. Gue kenal suaminya dan sangat ga menyangka bahwa a family man bisa punya pacar. Hmm.... selain bahwa gue jadi mikir lagi 'kok gue nggak kurus ya waktu dicerai', gue sempat mikir: apa memang laki2 itu harus selingkuh... minimal sekali dalam hidupnya?
Lalu serunya, gosipan ini bersambung. Astaga. Ternyata pacar si suami itu adalah 'seseorang' di dunianya. Yang artinya, banyak yg tahu ttg perselingkuhan itu. Jadi si mbak ini adalah mantan PR otomotif. Mrk ketemu pertama kali dalam journalist trip ke Jepang (si suami penulis top di majalah otomotif). Dan sejak itu mrk sangat sangat sangat dekat. Si mbak ini single parent yg kebagian gono gini lumayan yahuuuud... Jd secara materi sama sekali nggak ganggu2 pacarnya. Hmm.... apakah dia laki2 yg beruntung?
Yg mengejutkan adalah berita kalau si suami sebenarnya sdh menikah dgn pacarnya ini. Krn dia bangga bahwa dia berhasil mempertahankan rumah tangganya tapi sekaligus membahagiakan pacar (istri kedua). Menurut si suami, tidak ada yg berubah dari hubungan dia dgn keluarga setelah ada istri kedua. Secara finansial ttp sama. Kapan pun dia diperlukan dia akan ada. Pekerjaan yg sering pergi2 kan sudah biasa? Jadi dia tidak merasa anak2 dan istri pertama bisa komplen.
Di sisi lain, istri kedua jg nggak punya tuntutan apa2. Merasa sudah punya materi, dia hanya perlu dicintai. Ketika cinta itu datangnya dari suami orang, ya sudah. Gapapa yg penting ga ganggu2 yg lain.
Teman gue (istri pertama) akhirnya pun seperti pasrah. Krn memang terbukti suami ttp siaga, kapan pun diperlukan akan hadir. Secara materi jg ttp dicukupi sampai dia nggak kerja pun masih ttp hidup nyaman.
Trus, gue sebagai penonton sibuk menilai ini itu. Usil memikirkan, apa ini ya yg disebut unconditional love? I love you just because I love you? Nggak ada yg menuntut apa2, nggak ada yg dituntut apa2. Ya udah semua berjalan saja. Iya memang secara norma pasti ada yg terganggu...tp trus kenapa?
Pusing deh sama dunia.
Tuesday, November 13, 2012
Biar Tahu
Adanya kolam ikan di halaman rumah ternyata memang jadi tontonan menarik untuk semua orang, terutama balita, tentu saja. Apalagi skrg ikannya sudah besar2 banget. Anak2 pasti seneng liat ikan mondar-mandir gerumbulan.
Yang seru adalah kalau dikasih makan. Namanya ikan mas, apa saja pasti mau. Nah, anak2 ini kan sering banget diajak para nanny ke dekat kolam sambil disuapin. Awalnya sih gue pikir ya memang makan sambil dihibur kan penting banget buat anak ya. Meskipun gue nggak pernah membolehkan Aria makan sambil jalan2, tapi ya biar aja kalau anak orang mau makan di samping kolam ikan Playhouse.
Nah, karena ikan mas ini nggragas, akibatnya macem2. Ada anak yg kalau nanny-nya ga lihat, di lepeh itu makanan yg ada di mulutnya. Yuuuk... diserbu ikan2, seneng lah dia tanpa sadar kalau dia bisa kekurangan gizi krn makanannya bukannya masuk perut malah masuk kolam. Kadang ada nanny yg jahat yg sepertinya sengaja mbuang makanan momongannya ke situ. Kan biar cepet selesai pekerjaan nyuapin anak. Haduuuuh.... blm pernah mergoki langsung sih, tp sering heran kalau lihat ada roti masih utuh setangkup dengan isi2nya ngambang di situ, atau ada nasi komplit sama lauk pauk nyemplung di situ. Lhadalah.... semoga nanny yg kejam ini bisa segera sadar. Amin.
Lucu kalau anak2 itu sdh pengen nyemplung. Kalau gue sih, Aria dulu sering banget pengen nyemplung, dan seringkali gue kasih izin. Dia hanya nggak boleh masuk kolam kalau pas mau pergi saja. Selain itu, kapan pun dia mau, silakan. Dan gue nebak2 buah manggis, makin dia dilarang kan makin penasaran. Jadi gue biarkan dia main di kolam sepuasnya, asal setelah itu mandi bersih pakai sabun antibakteri. Sepertinya berhasil, karena skrg Aria sdh nggak pernah pengen nyemplung lagi. Kan dia sudah tahu rasanya di dalam kolam seperti apa. Kalau dia nggak pernah mengalami, pasti sampai skrg masih rewel mau nyemplung.
Kadang2 kalau ada anak yg pengen nyebur, nanny-nya suka nakut2in spy momongannya berhenti merengek: "Jangan masuk, adik... nanti tantenya marah." Dan akan gue jawab: "Masuk aja, nggak pa pa, ikannya nggak gigit kok. Asal habis itu mandi ya." Trus biasanya si nanny akan cemberut. Yeeee... lagian kenapa juga bawa2 gue? Wong situ yg males mandiin momongan.... hahahahaha.....
Yang seru adalah kalau dikasih makan. Namanya ikan mas, apa saja pasti mau. Nah, anak2 ini kan sering banget diajak para nanny ke dekat kolam sambil disuapin. Awalnya sih gue pikir ya memang makan sambil dihibur kan penting banget buat anak ya. Meskipun gue nggak pernah membolehkan Aria makan sambil jalan2, tapi ya biar aja kalau anak orang mau makan di samping kolam ikan Playhouse.
Nah, karena ikan mas ini nggragas, akibatnya macem2. Ada anak yg kalau nanny-nya ga lihat, di lepeh itu makanan yg ada di mulutnya. Yuuuk... diserbu ikan2, seneng lah dia tanpa sadar kalau dia bisa kekurangan gizi krn makanannya bukannya masuk perut malah masuk kolam. Kadang ada nanny yg jahat yg sepertinya sengaja mbuang makanan momongannya ke situ. Kan biar cepet selesai pekerjaan nyuapin anak. Haduuuuh.... blm pernah mergoki langsung sih, tp sering heran kalau lihat ada roti masih utuh setangkup dengan isi2nya ngambang di situ, atau ada nasi komplit sama lauk pauk nyemplung di situ. Lhadalah.... semoga nanny yg kejam ini bisa segera sadar. Amin.
Lucu kalau anak2 itu sdh pengen nyemplung. Kalau gue sih, Aria dulu sering banget pengen nyemplung, dan seringkali gue kasih izin. Dia hanya nggak boleh masuk kolam kalau pas mau pergi saja. Selain itu, kapan pun dia mau, silakan. Dan gue nebak2 buah manggis, makin dia dilarang kan makin penasaran. Jadi gue biarkan dia main di kolam sepuasnya, asal setelah itu mandi bersih pakai sabun antibakteri. Sepertinya berhasil, karena skrg Aria sdh nggak pernah pengen nyemplung lagi. Kan dia sudah tahu rasanya di dalam kolam seperti apa. Kalau dia nggak pernah mengalami, pasti sampai skrg masih rewel mau nyemplung.
Kadang2 kalau ada anak yg pengen nyebur, nanny-nya suka nakut2in spy momongannya berhenti merengek: "Jangan masuk, adik... nanti tantenya marah." Dan akan gue jawab: "Masuk aja, nggak pa pa, ikannya nggak gigit kok. Asal habis itu mandi ya." Trus biasanya si nanny akan cemberut. Yeeee... lagian kenapa juga bawa2 gue? Wong situ yg males mandiin momongan.... hahahahaha.....
Wednesday, November 07, 2012
The End
So there it goes. OmD & I decided that we did not have similar view on some important things. Then we called it an end.
Iya, akhirnya udahan. Setelah sekian lama. Ya nggak apa2, dalam arti, masak kalau nggak klop mau dipaksa? Kenapa baru ketahuan nggak klop setelah sekian lama, ya banyak sih alasannya. Yang jelas, skrg kami jalan sendiri2. Yang mudah2an akan lebih menyenangkan. Demikian.
Iya, akhirnya udahan. Setelah sekian lama. Ya nggak apa2, dalam arti, masak kalau nggak klop mau dipaksa? Kenapa baru ketahuan nggak klop setelah sekian lama, ya banyak sih alasannya. Yang jelas, skrg kami jalan sendiri2. Yang mudah2an akan lebih menyenangkan. Demikian.
Tuesday, November 06, 2012
Maaf, Salah....
Mengerjakan majalah ini ... handmade.... tentu rentan kesalahan. Salah ketik alias typo adalah satu hal yg cukup ngeri. Kapan itu di majalah tetangga pernah nulis 3th Year Anniversary. Dueeeeng....
Yg paling ngeri adalah salah nama. Sudah nulis nama orang (kadang di cover pula), ternyata salah eja. Aduuuuuh....
Semua kesalahan itu bisa bikin gue mules berbulan2. Sumpah. Akibatnya, gue selama ini agak nazi untuk urusan ini. Yg jadinyalah lelah lahir dan batin.... Trus sampai pada kesimpulan, jangan2 hanya gue aja yg rusuh kalau ada ini? Jangan2 pembacanya nggak peduli? Oh no.
Yg paling ngeri adalah salah nama. Sudah nulis nama orang (kadang di cover pula), ternyata salah eja. Aduuuuuh....
Semua kesalahan itu bisa bikin gue mules berbulan2. Sumpah. Akibatnya, gue selama ini agak nazi untuk urusan ini. Yg jadinyalah lelah lahir dan batin.... Trus sampai pada kesimpulan, jangan2 hanya gue aja yg rusuh kalau ada ini? Jangan2 pembacanya nggak peduli? Oh no.
Thursday, November 01, 2012
Monday, October 29, 2012
Went Back to Japan
Rasanya lucu, setahun bisa dua kali ke Jepang. Jepang gitu lhoooo... negara yg katanya mahal.
Pergi pertama bulan Maret lalu. Ngintili papap yg outing sama kantornya. Enak juga ya punya kakak jomblo. Begitu ada outing yg bisa bawa family, dia bawa kita2... hahahaha....
Trus, dua minggu lalu, orang harian masuk ke ruangan gue. Dia bawa2 surat, semacam print email gitu.
"Neng, ini ada undangan. Datengin, deh."
Setelah gue cermati, itu adalah undangan dari Garuda Indonesia. Ke Jepang. Buat bersepeda. Ding dong.
Lucu sekali deh waktu itu, ekspresi gue. Ke Jepang (lagi), seru. Ke Gunung Fuji? Asyik banget! Tapi bersepeda? Ahahahahaha.... ini undangan yg jauuuuh akan lebih dihargai oleh OmD :p
Entah kenapa gue selalu merasa perlu siap2 utk acara2 semacam gini. Dulu waktu diundang Ford, juga siap2 fisik buat lari2. Jadilah kemarin itu gue siap2 juga, dengan main sepeda lebih sering. Hehehe....
Gue hitung, ada waktu sekitar dua minggu untuk coba bersepeda tiap hari. Kalau dibiasain bersepeda tiap hari, mestinya sih bisa ya dapat paling nggak 1/2 trip di Jepang (yg artinya adalah 15km).
Minggu pertama, bersepeda pakai sepeda lipat. Pantat pegelnya ampuuuun deh. Berhasil 30 menit non stop keliling kompleks. Di akhir minggu pertama, akhirnya bisa bersepeda 1 jam tanpa stop, sampai masuk keluar kampung. Dan mulai paham kenapa OmD suka sekali bersepeda. Apalagi membayangkan jalurnya OmD yg sdh advance, pasti seru banget.
Minggu kedua, pas OmD ke BsD (akhirnya setelah 6 bulan), MTB diberesin setelannya. Dasar gue nggak sabar, blm beres sdh gue cobain. Yg ada.... jatuh. Hahahaha... lebam dan luka di tangan. Dikit sih. Soalnya ternyata juga, beda banget ya gaya sepeda lipat, sepeda mini, & MTB (ya iyalah). Jd gue persis Aria waktu belajar roda dua dulu... alon bener. Takut jatuh soalnya.
OmD juga yg maksa beli helmet, sarung tangan, padding pants supaya bersepeda di Jepang jadi lebih enak. Oke deh. Kita memang harus menyerahkan pada ahlinya ya....
Akhirnya, setelah berlatih babak belur sekitar 12 hari, tibalah hari yg seru itu. Perjalanan ini diikuti 40 orang, 6 di antaranya wartawan. Bbrp orang bawa sepeda dari rumah, dikemas dalam kotak dan tas sepeda. Tas sepeda ini bentuknya spt gajah kecil. Jd bayangin aja, di airport, kelihatan banget rombongan ini bawaannya lebih dari selusin gajah :p
Berangkat dari Jakarta jam 11 malam, sampai Tokyo sekitar jam 8 pagi. Hebat ya, jadwal Garuda ini pas banget buat orang yg mau bisnis. Krn begitu mendarat bisa langsung cap cus kalau meeting. Nah, krn kami ini nggak meeting, jd begitu mendarat langsung dibawa ke Asakusa buat jalan2. Namanya pergi sama grup, pasti banyak 'nyangkut' tunggu2an. Apalagi dengan bagasi gajah2 kecil yang banyak itu. Horeeee.... keluar dari airport baru jam 10.
Di Asakusa, langsung gue menuju toko Gibli. Jadi ceritanya, waktu ke Jepang bln Maret, Aria ke tempat ini dan beli boneka jari tokoh2 Spirited Away. Entah kenapa dia ragu mau beli tokoh hantu. Pdh kan itu tokoh utama. Jd begitu tahu gue akan ke Jepang lagi, dia semangat mau nitip hantu. Hahahahaha....
Hebatnya orang Indonesia, di perhentian pertama ini sdh ada yg belanja sampai 2 koper. Yahuuuuddd tenaaaaan....
Setelah puas lihat2 kuil dan foto2 secukupnya, makan siang di Sansada Kaminarimon, di sebelah toko Gibli. Restoran tempura ini katanya sudah 160 tahun. Astaga... tuanya! Tempuranya sih menurut gue biasa aja.... hehehe... Sebelum makan siang ini, gue sempat lihat ada orang makan ocha ice cream. Wah, menyenangkan ya. Antrilah gue untuk beli. Lhadalah.... ternyata sama mbak yg jual disodori kertas yg isinya tulisan macam2 bahasa. Intinya: dilarang makan es krim sambil jalan2. Ya ampuuuuun.... Pantesan kok orang2 pada merubung warung itu. Ternyata memang itu aturannya. Krn sdh waktunya makan siang, gue harus buru2 makan es krimnya, takut ditungguin. Sumpah, rasanya kayak dihukum. Idih.... Untung gue cukup 'bandel' bisa makan sambil melipir2... jd ga harus habis sekaligus es krim sebesar itu.
Habis dari situ, krn para peserta ini pesepeda akut, dibawalah ke toko alat2 sepeda di daerah Akibahara. Edaaaan... 4 lantai isinya pernik2 sepeda. Lagi2 gue membayangkan OmD kalau ikut pasti bisa saingan koper sama gue.... Krn gue nggak ngerti apa2 soal persepedaan... toko 4 lantai itu nggak ada artinya lah yaaawww.... Jadilah gue memutuskan keliling2 ke sekitarnya. Biasa sih, menurut gue, mal dan mal dan mal. Nggak seru. Ada satu toko Second Best Branded, ternyata isinya barang2 branded yg sudah dipakai alias bekas. Lumayan seru... tp ya ngapain gue beli ya? Nggak segitunya juga sama barang branded :p Ya udahlah muter2 aja, lihat2, foto2....
Kelar di Akibahara, menuju Tokyo Tower. Serem krn bangunan ini sempat miring setelah gempa. Haiiiissss.... Bagus ya, konstruksinya besi2 terisnpirasi Eiffel. Hmm.... jd inget ke Paris di zaman baheula. Ahahaha.... Di sini, nggak lupa gue beli snow ball. Krn kebetulan di bawahnya ada toko2 souvenir. Waktu bln Maret, ga nemu snow ball yg bagus soalnya... krn nggak ke tempat turis jd nggak nemu toko cinderamata yg menarik.
Sudah cukup malam waktu selesai di Tokyo Tower. Lagi2 banyakan nungguin aja kalau pergi sama grup ya. Makan malam di resto shabu2 di Shinagawa. Ini sumpah nggak enak. Hehehehe.... Sudahlah ya... kan gue gratisan ini. Weeeehehehe....
Malamnya nginap di hotel di Prince Shinagawa. Bintang 5. Yahuuud.... Dan krn perempuan yg single hanya 3 orang, 2 itu panitia, gue dapat kemewahan tidur sendiri. Ciamik tenan. Inilah bedanya pergi dalam kemewahan dgn pergi sama keluarga yg kelasnya backpacker. Hahaha... Meskipun hotel waktu bulan Maret jg nggak jelek, tapi hotel yg kemarin ini sih juaraaaa.... krn nggak beda dgn hotel2 di Jakarta. Bayangin aja, di Jepang lhooooo.... Mahalnya kayak apa ya....
Besoknya, habis sarapan langsung transfer ke Fujiyama. Lagi2 kerusuhan krn pergi rombongan, jadwal jam 8 berangkat, baru bisa take off dari hotel jam 9 lebih. Astaga. Di jalan sempat jadi saksi mata kecelakaan Harley Davidson. Si motor itu entah mabuk entah edan, nyalip2 ga karuan di sisi paling kanan jalan tol, trus nyenggol mobil di depannya. Krn kecepatan tinggi banget, dia sempat terpelanting ke semak2 lalu muter balik dan mendarat telungkup di aspal. Nyaris di depan bis. Ya Allah. Cameraman SCTV langsung nyalain kameranya, siap rekam. Waktu kita lewatin, orang itu kayaknya sdh tewas. Darahnya di mana2. Duh. Orang Jepang yg taat aturan itu, nggak ada yg berani nolongin, ndeketin aja nggak. Teman2 si motor yg jalan lebih pelan, begitu tahu temannya kecelakaan 'hanya' berhenti di sisi kiri, dgn panik angkat telpon (mungkin telp polisi & ambulan), sama sekali ga berani ndeketin temannya yg tergeletak di jalan. Serem.
Perjalanan dilanjutkan dgn cerita2 soal HD yg horor. Krn banyak orang yg punya motor besar tapi nggak cukup punya otak buat lebih cerdas mengendarainya. Di Jepang aja ada yg ugal2an gitu (pdh negerinya tertib tingkat dewa). Gimana di Indonesia?
Untungnya insiden itu nggak bikin mood para pesepeda ini drop. Krn begitu nyampe di daerah danau Kawaguchi-ko di Fuji, mereka langsung ga sabar mau ketemu sepedanya. Bongkar sana sini, rakit sana sini. Gue dan wartawan2 lain langsung digiring ke ruang konferensi pers. Ternyata ada dubes Indonesia. Oh ya, serunya, asisten bu dubes tuh temen lama waktu masih hore2 di MRA group, namanya Denny. Ahahahaha.... seru deh foto2nya.
Tapi tentu saja pagi itu jg jadi moment of truth: berani ga gue bersepeda? Ahahahaha.... Sepeda yg tersedia buat gue merknya Specialized. Warna hitam. Bagus deh. Dan tinggi. Nah lho.... Ditemenin Denny, gue nyobain di sekitar tempat parkir. Belajar mana rem depan mana rem belakang. Kalau salah kan gawat. Cupu yaaaaa..... Pak Dubes langsung bilang, "Serius kamu berani?" Gue: "Saya sudah pesen seat di evacuation car." Pak Dubes langsung ngakak.
Ada satu ibu yg tadinya ragu bersepeda krn takut nggak bisa. Dan dari 3 istri yg hadir, memang hanya dia yg bawa sepeda. Yg lain sih sdh pasti mau shopping aja. Ibu itu udah galau banget, tp krn melihat gue semangat, dia jd tertarik. Kita janjian nanti kalau salah satu berhenti, yg lain akan berhenti. Hahaha... solider yaaaa....
Ternyata memang kamseupay bersepeda di Fujiyama. Jalan aspal tapi naik turun dodol. 2km pertama masih lumayan. Berhenti sebentar utk foto2 dgn latar gunung Fuji. Kilometer berikutnya gue nyaris pingsan krn jalannya nanjaaaaaakkk... semprul deh. Jadilah gue yg paling belakang, sdh nyaris mau dorong sepeda aja. Eh... operator sepeda lokal yg jadi partner Garuda tiba2 ada di belakang gue. Ya iya sih, dia pasti paling belakang kan ngawasin kalau ada yg mau mati (spt gue saat itu ;p). Trus dia kasih aba2, kapan gue hrs pakai gigi berapa di ban depan dan belakang. Eh... tnyt memang kalau bener caranya, bisa juga ya. Alhamdulillah lhoooo... tanjakan semprul itu terlewati. Hahahaha.... Paul, si operator itu, bilang kalau habis ini nggak bakal ada tanjakan dahsyat lagi. Hanya waktu pulang agak painful krn jalurnya sama. Hehehehe... iya lah skrg boleh nurun ya, berarti pulangnya naik.
Setelah itu, bersepeda dengan senang. Krn banyak jalan turun. Tp juga hrs serius nih, krn kan sepedanya blm akrab. Jadi gue sih nggak banyak liat pemandangan. Ahahaha... rugi ya. Habis gimana dong. Si ibu yg galau itu udah jauh di depan. Krn kalau dia, maunya biar cepet kelar. Hahahaha....
Rencananya, rute hari pertama ini keliling 5 danau. 40km totalnya. Yuuuukkk....
Makan siang di resto kecil di tepi danau. Menunya kari rusa. Hehehe... Konon, ini menu terobosan baru, krn penduduk mulai terganggu membengkaknya populasi rusa di hutan. Hebat ya. Binatangnya udah nyaman bener sampai membludak. Rasanya sih spt daging sapi muda. Enak? Iyaaaa... kan gue laper banget habis gowes.... makan kayak kuli.
Habis makan siang, lanjuuuut gowes lagi. Sampai di sebuah titik pemandangan yg katanya terindah. Haduh, kaki sdh mau copot nih.... Eh... kok ya spt telepati di tempat foto2 itu, si ibu nyamperin gue, "Sudahan yuk, Dian. Pegel nih." Si Paul bilang, "This is the end of our route, we need to go back." Hahahaha... mari bu.... daripada nanjak pelan2, yuk kita duduk manis aja di dalam CRV....
Jadilah gue "hanya" berhasil 20 km lebih dikit. Wow... buat gue yg baru pertama kali bersepeda jauh... gue sih bangga yeeee....
Setelahnya, gue duduk manis di evacuation car. Foto2, ngeliatin orang2 yg kepayahan di jalur jalan pulang. Dasar orang Jepang kan OCD, ada rambu2 di beberapa titik, tulisannya: the road is going up 5%. Cuma 5% cin, tapi panjaaaaaaaannngggg.... Selamat menikmati deh yg terus gowes. Hehehehe....
Gue angkat topi sama crew SCTV, bapak2 itu tetap giat gowes sampai akhir. Pdh mrk juga bukan pesepeda lho. Hebat ya.
Malam itu kaki kemeng. Tp herannya, setelah nyemplung di on sen, ga kerasa capek lagi. Beneran. On sen ini pemandian umum. Airnya panas mencorong. Kebetulan ada di hotel, jadi sepi. Oh ya, semua yg masuk on sen harus bugil. Nah, kalau di tempat umum kan ya wassalam. Krn di hotel, gue mau cobain. Ternyata memang bener. Cukup 10 menit, pegel2 langsung hilang. Enaknya.
Besok paginya gowes diterusin di Nagano, nama daerahnya Fujimi Kogen. Ini downhill nih. Si Paul udah ngasih tau, akan ada rute2 yg sebaiknya gue nggak ikut. Baiklah. Kecurangan pertama dimulai, dgn gue naik mobil waktu nanjak curam... hihihihi.... Tp trus gowes lagi sampai masuk hutan lindung. Gue pikir daripada ganggu rute orang2, mending gue tungguin aja deh. Ternyata Paul jg saranin gitu, krn medan setelahnya memang downhill beneran sampai ketemu sungai. Ya udah, gue nunggu dng manis di tepi hutan. Evacuation car ga bisa masuk. Dudududu.... saatnya foto2, latarnya Yatsugatake.
Sebenernya ya, kalau pemandangan aja sih, Indonesia ga kalah. Beneran. Danau yg kemarin? Halah, bagusan Danau Toba kali. Jalur yg ada pemandangan? Rasain tuh kelok 44 di Bukittinggi. Yatsugatake ini ya semacam Ubud deh. Ada gunung, ada sawah. Tapiiiiiiii ya itu, Jepang itu bersiiiiiiih banget. Langitnya biruuuuu kayak warna crayon. Trus udaranya segar. Jarang sekali ada kendaraan bermotor, jadi nggak ada tuh asap knalpot. Sudah gowes jauuuuuh banget, kalau lap muka, lapnya tetep bersih. Bayangin kalau di Jkt, wajah aja jadi jerawatan kan kalau kebanyakan olahraga outdoor.
Setelah menunggu dengan manis, jalur dilanjutkan. Lewatin kebun kubis. Jalan rada nanjak. Heh heh heh.... kehabisan napas nih. Tp setelah itu nurun terus masuk hutan. Astaga. Ini sih buat orang2 ga ada apa2nya, tp gue takut banget! Jadi jalannya turun, jalan setapak gitu, persis di pinggir got. Halaaaaah.... Yg ada gue kebanyakan rem. Hahahhaha... serem ciiiiin... kalau nyungsep, kan wassalam.
Itulah akhir dari perjalanan gowes gue di Jepang. Krn setelahnya, habis makan siang semangkok gajah udon, gue (dan para wartawan lain) memutuskan lbh baik kita tidur di bis daripada ngerepotin. Hahahahaha.... Paul sdh bilang sih kalau jalur berikutnya akan cukup ekstrim. Meskipun dia mau nemenin, tp kok kasihan ya, nanti buang waktu. Ya udahlah. Silakaaaan para pegowes... Kami manis2 aja nunggu ya. Ternyata ada bbrp bapak yg juga memutuskan nggak nerusin gowes.
Titik akhir trip sore itu di sebuah rest area di tepi sungai. Bersih dan sepi. Yaelah, nyesel deh hanya ngantongin duit 3000 yen, krn jadi nggak bisa bela beli. Nunggunya cukup lama.... 4 jam mak. Astaga. Tp memang track-nya nampak yahud, krn keluar masuk hutan dan nyeberang bbrp sungai... kalau liat petanya ya. Waktu akhirnya para pegowes itu hadir... menyusuri sungai.... wajahnya pada puas dan semringah. Katanya sih track-nya dahsyat. Weleh.... pasti OmD seneng banget kalau ikut. Huhuhu... jadi kangen to the max.
Bongkar2 sepeda makan waktu sejam lebih. Pdh sdh gelap. Perjalanan 2 jam. Hayaaaaahhh.... ditungguin buat dinner sampai jam 7.30. Ngebut deh bis-nya. Pas sampai di hotel jam 7. Semua orang langsung menyerbu ruang makan.... giant crab!
Malam itu packing, krn besoknya, hari terakhir di Jepang, hanya jalan2 dan langsung take off. Jadwalnya pagi ke pabrik Sake, mampir Gotemba, lalu ke Ginza. Jam 9 harus sdh di Narita. Bener kan, jadwal pulang pesawat pun yahud. Jd kalau meeting di Tokyo, bisa pas habis dinner langsung cap cus.
Pabrik sake itu kecil dan masuk gang. Ternyata memang banyakan yg di gunung, krn katanya kalau dibuat dengan air gunung, rasanya lebih lezat. Meneketehe bener apa nggak krn nggak minum. Hahaha.... Btw, Gotemba itu Premium FO. Tp barang2nya kok nggak menarik hatiku. Hahahaha... tumben. Waktu di Ginza juga hanya masuk Uniqlo sm masuk supermarket. Beli 1 baju dan 8 kantong kitkat rasa greentea yg di Jkt mahalnya nggak jelas. Oh ya, seru lihat belanjaan para bapak pegowes ini. Mrk banyak belikan barang2 mahal untuk istri. Tas sih sebagian besar. Furla, Coach, Tods.... wooooh.... "Iya mbak, ini kan untuk exit permit berikutnya." Hoooo... gitu ya mikirnya?
Penutupan adalah makan malam di Ginza Carne Station. Ini semacam Hanamasa tapi lebih awut2an. Hahaha.... Sayang banyak daging babi. Jadi untuk amannya, gue nggiling sushi saja.
Btw, untuk perjalanan ke Jepang yg konon mahal, trip kemarin itu cukup lumayan, 'hanya' USD 2000. Nggak heran ada yg bawa keluarga. Selama bapaknya gowes, anaknya keluyuran di Disneyland. Iya ya, untuk fasilitas sebagus kemarin, hotel bintang 5, makanan yg melimpah ruah, buah dan air non stop, harga segitu ya masuk akal banget. Dan kata beberapa orang sih itungannya murah.
Jadi gitu deh cerita perjalanan Jepang. Lucunya, krn cuaca Maret nggak beda jauh sama cuaca Oktober... kostum gue pun sama: winter collection. Hahahaha.... Sebelum dadah2an, panitianya bilang, "Tahun depan ikut lagi ya mbak, ke Melbourne." Hohohoho... mari berlatih mulai sekarang.
Pergi pertama bulan Maret lalu. Ngintili papap yg outing sama kantornya. Enak juga ya punya kakak jomblo. Begitu ada outing yg bisa bawa family, dia bawa kita2... hahahaha....
Trus, dua minggu lalu, orang harian masuk ke ruangan gue. Dia bawa2 surat, semacam print email gitu.
"Neng, ini ada undangan. Datengin, deh."
Setelah gue cermati, itu adalah undangan dari Garuda Indonesia. Ke Jepang. Buat bersepeda. Ding dong.
Lucu sekali deh waktu itu, ekspresi gue. Ke Jepang (lagi), seru. Ke Gunung Fuji? Asyik banget! Tapi bersepeda? Ahahahahaha.... ini undangan yg jauuuuh akan lebih dihargai oleh OmD :p
Entah kenapa gue selalu merasa perlu siap2 utk acara2 semacam gini. Dulu waktu diundang Ford, juga siap2 fisik buat lari2. Jadilah kemarin itu gue siap2 juga, dengan main sepeda lebih sering. Hehehe....
Gue hitung, ada waktu sekitar dua minggu untuk coba bersepeda tiap hari. Kalau dibiasain bersepeda tiap hari, mestinya sih bisa ya dapat paling nggak 1/2 trip di Jepang (yg artinya adalah 15km).
Minggu pertama, bersepeda pakai sepeda lipat. Pantat pegelnya ampuuuun deh. Berhasil 30 menit non stop keliling kompleks. Di akhir minggu pertama, akhirnya bisa bersepeda 1 jam tanpa stop, sampai masuk keluar kampung. Dan mulai paham kenapa OmD suka sekali bersepeda. Apalagi membayangkan jalurnya OmD yg sdh advance, pasti seru banget.
Minggu kedua, pas OmD ke BsD (akhirnya setelah 6 bulan), MTB diberesin setelannya. Dasar gue nggak sabar, blm beres sdh gue cobain. Yg ada.... jatuh. Hahahaha... lebam dan luka di tangan. Dikit sih. Soalnya ternyata juga, beda banget ya gaya sepeda lipat, sepeda mini, & MTB (ya iyalah). Jd gue persis Aria waktu belajar roda dua dulu... alon bener. Takut jatuh soalnya.
OmD juga yg maksa beli helmet, sarung tangan, padding pants supaya bersepeda di Jepang jadi lebih enak. Oke deh. Kita memang harus menyerahkan pada ahlinya ya....
Akhirnya, setelah berlatih babak belur sekitar 12 hari, tibalah hari yg seru itu. Perjalanan ini diikuti 40 orang, 6 di antaranya wartawan. Bbrp orang bawa sepeda dari rumah, dikemas dalam kotak dan tas sepeda. Tas sepeda ini bentuknya spt gajah kecil. Jd bayangin aja, di airport, kelihatan banget rombongan ini bawaannya lebih dari selusin gajah :p
Berangkat dari Jakarta jam 11 malam, sampai Tokyo sekitar jam 8 pagi. Hebat ya, jadwal Garuda ini pas banget buat orang yg mau bisnis. Krn begitu mendarat bisa langsung cap cus kalau meeting. Nah, krn kami ini nggak meeting, jd begitu mendarat langsung dibawa ke Asakusa buat jalan2. Namanya pergi sama grup, pasti banyak 'nyangkut' tunggu2an. Apalagi dengan bagasi gajah2 kecil yang banyak itu. Horeeee.... keluar dari airport baru jam 10.
Di Asakusa, langsung gue menuju toko Gibli. Jadi ceritanya, waktu ke Jepang bln Maret, Aria ke tempat ini dan beli boneka jari tokoh2 Spirited Away. Entah kenapa dia ragu mau beli tokoh hantu. Pdh kan itu tokoh utama. Jd begitu tahu gue akan ke Jepang lagi, dia semangat mau nitip hantu. Hahahahaha....
Hebatnya orang Indonesia, di perhentian pertama ini sdh ada yg belanja sampai 2 koper. Yahuuuuddd tenaaaaan....
Setelah puas lihat2 kuil dan foto2 secukupnya, makan siang di Sansada Kaminarimon, di sebelah toko Gibli. Restoran tempura ini katanya sudah 160 tahun. Astaga... tuanya! Tempuranya sih menurut gue biasa aja.... hehehe... Sebelum makan siang ini, gue sempat lihat ada orang makan ocha ice cream. Wah, menyenangkan ya. Antrilah gue untuk beli. Lhadalah.... ternyata sama mbak yg jual disodori kertas yg isinya tulisan macam2 bahasa. Intinya: dilarang makan es krim sambil jalan2. Ya ampuuuuun.... Pantesan kok orang2 pada merubung warung itu. Ternyata memang itu aturannya. Krn sdh waktunya makan siang, gue harus buru2 makan es krimnya, takut ditungguin. Sumpah, rasanya kayak dihukum. Idih.... Untung gue cukup 'bandel' bisa makan sambil melipir2... jd ga harus habis sekaligus es krim sebesar itu.
Habis dari situ, krn para peserta ini pesepeda akut, dibawalah ke toko alat2 sepeda di daerah Akibahara. Edaaaan... 4 lantai isinya pernik2 sepeda. Lagi2 gue membayangkan OmD kalau ikut pasti bisa saingan koper sama gue.... Krn gue nggak ngerti apa2 soal persepedaan... toko 4 lantai itu nggak ada artinya lah yaaawww.... Jadilah gue memutuskan keliling2 ke sekitarnya. Biasa sih, menurut gue, mal dan mal dan mal. Nggak seru. Ada satu toko Second Best Branded, ternyata isinya barang2 branded yg sudah dipakai alias bekas. Lumayan seru... tp ya ngapain gue beli ya? Nggak segitunya juga sama barang branded :p Ya udahlah muter2 aja, lihat2, foto2....
Kelar di Akibahara, menuju Tokyo Tower. Serem krn bangunan ini sempat miring setelah gempa. Haiiiissss.... Bagus ya, konstruksinya besi2 terisnpirasi Eiffel. Hmm.... jd inget ke Paris di zaman baheula. Ahahaha.... Di sini, nggak lupa gue beli snow ball. Krn kebetulan di bawahnya ada toko2 souvenir. Waktu bln Maret, ga nemu snow ball yg bagus soalnya... krn nggak ke tempat turis jd nggak nemu toko cinderamata yg menarik.
Sudah cukup malam waktu selesai di Tokyo Tower. Lagi2 banyakan nungguin aja kalau pergi sama grup ya. Makan malam di resto shabu2 di Shinagawa. Ini sumpah nggak enak. Hehehehe.... Sudahlah ya... kan gue gratisan ini. Weeeehehehe....
Malamnya nginap di hotel di Prince Shinagawa. Bintang 5. Yahuuud.... Dan krn perempuan yg single hanya 3 orang, 2 itu panitia, gue dapat kemewahan tidur sendiri. Ciamik tenan. Inilah bedanya pergi dalam kemewahan dgn pergi sama keluarga yg kelasnya backpacker. Hahaha... Meskipun hotel waktu bulan Maret jg nggak jelek, tapi hotel yg kemarin ini sih juaraaaa.... krn nggak beda dgn hotel2 di Jakarta. Bayangin aja, di Jepang lhooooo.... Mahalnya kayak apa ya....
Besoknya, habis sarapan langsung transfer ke Fujiyama. Lagi2 kerusuhan krn pergi rombongan, jadwal jam 8 berangkat, baru bisa take off dari hotel jam 9 lebih. Astaga. Di jalan sempat jadi saksi mata kecelakaan Harley Davidson. Si motor itu entah mabuk entah edan, nyalip2 ga karuan di sisi paling kanan jalan tol, trus nyenggol mobil di depannya. Krn kecepatan tinggi banget, dia sempat terpelanting ke semak2 lalu muter balik dan mendarat telungkup di aspal. Nyaris di depan bis. Ya Allah. Cameraman SCTV langsung nyalain kameranya, siap rekam. Waktu kita lewatin, orang itu kayaknya sdh tewas. Darahnya di mana2. Duh. Orang Jepang yg taat aturan itu, nggak ada yg berani nolongin, ndeketin aja nggak. Teman2 si motor yg jalan lebih pelan, begitu tahu temannya kecelakaan 'hanya' berhenti di sisi kiri, dgn panik angkat telpon (mungkin telp polisi & ambulan), sama sekali ga berani ndeketin temannya yg tergeletak di jalan. Serem.
Perjalanan dilanjutkan dgn cerita2 soal HD yg horor. Krn banyak orang yg punya motor besar tapi nggak cukup punya otak buat lebih cerdas mengendarainya. Di Jepang aja ada yg ugal2an gitu (pdh negerinya tertib tingkat dewa). Gimana di Indonesia?
Untungnya insiden itu nggak bikin mood para pesepeda ini drop. Krn begitu nyampe di daerah danau Kawaguchi-ko di Fuji, mereka langsung ga sabar mau ketemu sepedanya. Bongkar sana sini, rakit sana sini. Gue dan wartawan2 lain langsung digiring ke ruang konferensi pers. Ternyata ada dubes Indonesia. Oh ya, serunya, asisten bu dubes tuh temen lama waktu masih hore2 di MRA group, namanya Denny. Ahahahaha.... seru deh foto2nya.
Tapi tentu saja pagi itu jg jadi moment of truth: berani ga gue bersepeda? Ahahahaha.... Sepeda yg tersedia buat gue merknya Specialized. Warna hitam. Bagus deh. Dan tinggi. Nah lho.... Ditemenin Denny, gue nyobain di sekitar tempat parkir. Belajar mana rem depan mana rem belakang. Kalau salah kan gawat. Cupu yaaaaa..... Pak Dubes langsung bilang, "Serius kamu berani?" Gue: "Saya sudah pesen seat di evacuation car." Pak Dubes langsung ngakak.
Ada satu ibu yg tadinya ragu bersepeda krn takut nggak bisa. Dan dari 3 istri yg hadir, memang hanya dia yg bawa sepeda. Yg lain sih sdh pasti mau shopping aja. Ibu itu udah galau banget, tp krn melihat gue semangat, dia jd tertarik. Kita janjian nanti kalau salah satu berhenti, yg lain akan berhenti. Hahaha... solider yaaaa....
Ternyata memang kamseupay bersepeda di Fujiyama. Jalan aspal tapi naik turun dodol. 2km pertama masih lumayan. Berhenti sebentar utk foto2 dgn latar gunung Fuji. Kilometer berikutnya gue nyaris pingsan krn jalannya nanjaaaaaakkk... semprul deh. Jadilah gue yg paling belakang, sdh nyaris mau dorong sepeda aja. Eh... operator sepeda lokal yg jadi partner Garuda tiba2 ada di belakang gue. Ya iya sih, dia pasti paling belakang kan ngawasin kalau ada yg mau mati (spt gue saat itu ;p). Trus dia kasih aba2, kapan gue hrs pakai gigi berapa di ban depan dan belakang. Eh... tnyt memang kalau bener caranya, bisa juga ya. Alhamdulillah lhoooo... tanjakan semprul itu terlewati. Hahahaha.... Paul, si operator itu, bilang kalau habis ini nggak bakal ada tanjakan dahsyat lagi. Hanya waktu pulang agak painful krn jalurnya sama. Hehehehe... iya lah skrg boleh nurun ya, berarti pulangnya naik.
Setelah itu, bersepeda dengan senang. Krn banyak jalan turun. Tp juga hrs serius nih, krn kan sepedanya blm akrab. Jadi gue sih nggak banyak liat pemandangan. Ahahaha... rugi ya. Habis gimana dong. Si ibu yg galau itu udah jauh di depan. Krn kalau dia, maunya biar cepet kelar. Hahahaha....
Rencananya, rute hari pertama ini keliling 5 danau. 40km totalnya. Yuuuukkk....
Makan siang di resto kecil di tepi danau. Menunya kari rusa. Hehehe... Konon, ini menu terobosan baru, krn penduduk mulai terganggu membengkaknya populasi rusa di hutan. Hebat ya. Binatangnya udah nyaman bener sampai membludak. Rasanya sih spt daging sapi muda. Enak? Iyaaaa... kan gue laper banget habis gowes.... makan kayak kuli.
Habis makan siang, lanjuuuut gowes lagi. Sampai di sebuah titik pemandangan yg katanya terindah. Haduh, kaki sdh mau copot nih.... Eh... kok ya spt telepati di tempat foto2 itu, si ibu nyamperin gue, "Sudahan yuk, Dian. Pegel nih." Si Paul bilang, "This is the end of our route, we need to go back." Hahahaha... mari bu.... daripada nanjak pelan2, yuk kita duduk manis aja di dalam CRV....
Jadilah gue "hanya" berhasil 20 km lebih dikit. Wow... buat gue yg baru pertama kali bersepeda jauh... gue sih bangga yeeee....
Setelahnya, gue duduk manis di evacuation car. Foto2, ngeliatin orang2 yg kepayahan di jalur jalan pulang. Dasar orang Jepang kan OCD, ada rambu2 di beberapa titik, tulisannya: the road is going up 5%. Cuma 5% cin, tapi panjaaaaaaaannngggg.... Selamat menikmati deh yg terus gowes. Hehehehe....
Gue angkat topi sama crew SCTV, bapak2 itu tetap giat gowes sampai akhir. Pdh mrk juga bukan pesepeda lho. Hebat ya.
Malam itu kaki kemeng. Tp herannya, setelah nyemplung di on sen, ga kerasa capek lagi. Beneran. On sen ini pemandian umum. Airnya panas mencorong. Kebetulan ada di hotel, jadi sepi. Oh ya, semua yg masuk on sen harus bugil. Nah, kalau di tempat umum kan ya wassalam. Krn di hotel, gue mau cobain. Ternyata memang bener. Cukup 10 menit, pegel2 langsung hilang. Enaknya.
Besok paginya gowes diterusin di Nagano, nama daerahnya Fujimi Kogen. Ini downhill nih. Si Paul udah ngasih tau, akan ada rute2 yg sebaiknya gue nggak ikut. Baiklah. Kecurangan pertama dimulai, dgn gue naik mobil waktu nanjak curam... hihihihi.... Tp trus gowes lagi sampai masuk hutan lindung. Gue pikir daripada ganggu rute orang2, mending gue tungguin aja deh. Ternyata Paul jg saranin gitu, krn medan setelahnya memang downhill beneran sampai ketemu sungai. Ya udah, gue nunggu dng manis di tepi hutan. Evacuation car ga bisa masuk. Dudududu.... saatnya foto2, latarnya Yatsugatake.
Sebenernya ya, kalau pemandangan aja sih, Indonesia ga kalah. Beneran. Danau yg kemarin? Halah, bagusan Danau Toba kali. Jalur yg ada pemandangan? Rasain tuh kelok 44 di Bukittinggi. Yatsugatake ini ya semacam Ubud deh. Ada gunung, ada sawah. Tapiiiiiiii ya itu, Jepang itu bersiiiiiiih banget. Langitnya biruuuuu kayak warna crayon. Trus udaranya segar. Jarang sekali ada kendaraan bermotor, jadi nggak ada tuh asap knalpot. Sudah gowes jauuuuuh banget, kalau lap muka, lapnya tetep bersih. Bayangin kalau di Jkt, wajah aja jadi jerawatan kan kalau kebanyakan olahraga outdoor.
Setelah menunggu dengan manis, jalur dilanjutkan. Lewatin kebun kubis. Jalan rada nanjak. Heh heh heh.... kehabisan napas nih. Tp setelah itu nurun terus masuk hutan. Astaga. Ini sih buat orang2 ga ada apa2nya, tp gue takut banget! Jadi jalannya turun, jalan setapak gitu, persis di pinggir got. Halaaaaah.... Yg ada gue kebanyakan rem. Hahahhaha... serem ciiiiin... kalau nyungsep, kan wassalam.
Itulah akhir dari perjalanan gowes gue di Jepang. Krn setelahnya, habis makan siang semangkok gajah udon, gue (dan para wartawan lain) memutuskan lbh baik kita tidur di bis daripada ngerepotin. Hahahahaha.... Paul sdh bilang sih kalau jalur berikutnya akan cukup ekstrim. Meskipun dia mau nemenin, tp kok kasihan ya, nanti buang waktu. Ya udahlah. Silakaaaan para pegowes... Kami manis2 aja nunggu ya. Ternyata ada bbrp bapak yg juga memutuskan nggak nerusin gowes.
Titik akhir trip sore itu di sebuah rest area di tepi sungai. Bersih dan sepi. Yaelah, nyesel deh hanya ngantongin duit 3000 yen, krn jadi nggak bisa bela beli. Nunggunya cukup lama.... 4 jam mak. Astaga. Tp memang track-nya nampak yahud, krn keluar masuk hutan dan nyeberang bbrp sungai... kalau liat petanya ya. Waktu akhirnya para pegowes itu hadir... menyusuri sungai.... wajahnya pada puas dan semringah. Katanya sih track-nya dahsyat. Weleh.... pasti OmD seneng banget kalau ikut. Huhuhu... jadi kangen to the max.
Bongkar2 sepeda makan waktu sejam lebih. Pdh sdh gelap. Perjalanan 2 jam. Hayaaaaahhh.... ditungguin buat dinner sampai jam 7.30. Ngebut deh bis-nya. Pas sampai di hotel jam 7. Semua orang langsung menyerbu ruang makan.... giant crab!
Malam itu packing, krn besoknya, hari terakhir di Jepang, hanya jalan2 dan langsung take off. Jadwalnya pagi ke pabrik Sake, mampir Gotemba, lalu ke Ginza. Jam 9 harus sdh di Narita. Bener kan, jadwal pulang pesawat pun yahud. Jd kalau meeting di Tokyo, bisa pas habis dinner langsung cap cus.
Pabrik sake itu kecil dan masuk gang. Ternyata memang banyakan yg di gunung, krn katanya kalau dibuat dengan air gunung, rasanya lebih lezat. Meneketehe bener apa nggak krn nggak minum. Hahaha.... Btw, Gotemba itu Premium FO. Tp barang2nya kok nggak menarik hatiku. Hahahaha... tumben. Waktu di Ginza juga hanya masuk Uniqlo sm masuk supermarket. Beli 1 baju dan 8 kantong kitkat rasa greentea yg di Jkt mahalnya nggak jelas. Oh ya, seru lihat belanjaan para bapak pegowes ini. Mrk banyak belikan barang2 mahal untuk istri. Tas sih sebagian besar. Furla, Coach, Tods.... wooooh.... "Iya mbak, ini kan untuk exit permit berikutnya." Hoooo... gitu ya mikirnya?
Penutupan adalah makan malam di Ginza Carne Station. Ini semacam Hanamasa tapi lebih awut2an. Hahaha.... Sayang banyak daging babi. Jadi untuk amannya, gue nggiling sushi saja.
Btw, untuk perjalanan ke Jepang yg konon mahal, trip kemarin itu cukup lumayan, 'hanya' USD 2000. Nggak heran ada yg bawa keluarga. Selama bapaknya gowes, anaknya keluyuran di Disneyland. Iya ya, untuk fasilitas sebagus kemarin, hotel bintang 5, makanan yg melimpah ruah, buah dan air non stop, harga segitu ya masuk akal banget. Dan kata beberapa orang sih itungannya murah.
Jadi gitu deh cerita perjalanan Jepang. Lucunya, krn cuaca Maret nggak beda jauh sama cuaca Oktober... kostum gue pun sama: winter collection. Hahahaha.... Sebelum dadah2an, panitianya bilang, "Tahun depan ikut lagi ya mbak, ke Melbourne." Hohohoho... mari berlatih mulai sekarang.
Tuesday, October 23, 2012
8 Tahun
Orang yg percaya karma, tahu bahwa hidup yg skrg adalah membayar karma kehidupannya yg telah lalu. Aku sangat bersyukur, karmaku menjadi ibumu. Karunia terindah adalah diberi Tuhan kesempatan membesarkan dan membimbingmu. Delapan tahun sudah kau hadir menceriakan hari. Alhamdulillah. Selamat ulang tahun, Aria sayang. Doa yg terbaik selalu untukmu. I love you
Wednesday, October 10, 2012
Monday, October 08, 2012
Happy vs. Sad
One of my teammate showed us a new ring. Yes it is an engagement ring she got over the weekend. She spent her 3 days leave in Bali to attend Ubud Writers Festival, and her boyfriend proposed in between event.
Of course I am happy for her. Wearing a pretty ring always makes us -girls- glowing. But after what I heard 3 days ago, that pretty ring gave me a little heartache.
Of course I am happy for her. Wearing a pretty ring always makes us -girls- glowing. But after what I heard 3 days ago, that pretty ring gave me a little heartache.
Wednesday, October 03, 2012
Titin Si Embak
Setelah drama di rumah gue yang membuat Titin si embak dimutasi ke rumah teman.... Ternyata belum selesai ceritanya. Hehehehehehe....
Memang karena sdh cukup lama Titin ikut gue, jd dia sepertinya jg nyaman mau curhat ini itu. Lebaran kemarin, dia bbm, tanya gue butuh tenaga bantuan apa nggak. Tahun2 sebelumnya memang lebaran di rumah gue selalu heboh, dan Titin selalu ada. Jadi dia tahu pasti gue butuh orang buat beres2 di rumah. Gue pun seneng minta ampun waktu dia bbm. Jadi akhirnya disepakati dia akan di rumah gue selama embak baru cuti lebaran, atau selama majikan baru masih mudik... tergantung mana yg selesai lebih dulu. Oke sip.
Tentunya sbg bukti kemanisan budi pekerti, gue kabarin hal ini ke majikan baru. Yg dijawab dgn kaget, "Lho mbak, katanya dia mau mudik? Kutawari infal di rumahku kok nggak mau? Katanya dia mau pulang saja karena sdh lama nggak pulang."
Eng ing eng....
Tp pertanyaan terjawab waktu Titin sdh nongol di rumah gue, 4 hari sebelum lebaran. Dia cerita kalau dia habis mudik. Trus ya dia cerita juga kalau dia nggak mau infal di majikan baru krn katanya banyak yg diurus. Hehehehe... sementara dia tahu banget di rumah gue yg diurus ya hanya Aria. Ya sudah, yg penting nggak bohong.
Trus lalu dia cerita kalau dia nggak krasan di tempat baru. Oke. Memang secara kondisi juga berbeda banget sih. Banyak alasan yang dibilang sama si Titin. Yaaa... tadinya sih gue pikir itu hanya alasan dia saja, tp setelah gue pikir lagi, masak iya kalau nggak kepepet banget dia mau lepasin gitu aja pekerjaan yg lumayan. Trus nganggur gitu? Mau makan apa?
Dia sih ceritanya karena sdh dpt ijazah SMA, mau kerja di KFC atau di Matahari. Yaaa... secara gengsi mungkin lebih tinggi dibanding jd pengasuh atau asisten RT. Tp gajinya kan ya bisa habis untuk makan/transport/tempat tinggal....
Hanya karena dia sdh nggak tinggal sama gue lagi, yaaaa gue hanya bisa ngasih tahua saja kan.
Jadi bbrp hari setelah lebaran, dia keluar dr rumah majikan baru (sebelumnya dia dgn manis mencarikan ganti. Hebat lah si embak ini.)
Memang rejeki sudah diatur.... di suatu pagi gue di bbm temen gue yg (waktu itu) hamil besar. Dia cari info soal asisten RT, yg mau dia bawa ke Singapore. Ohohohohoho... Tentu saja gue langsung ingat si Titin yg kebetulan jg sdh mulai di rumah saja, katanya lagi nungguin kepastian utk kerja di Busana Raya.
Titin, seperti juga orang2 lain yg blm pernah ke luar negeri, awalnya ragu ketika gue tawarin ikut temen gue. Dia takut kalau kenapa2 di negeri orang. Tapi gue yakinkan kalau temen gue baik hatinya, dan pekerjaan dia mestinya juga nggak terlalu berbeda dgn yg sekarang. Kalaupun ada yg nggak cocok, toh ada 3 bulan percobaan. Kalau nggak suka ya pulang saja. Gue bilang, kesempatan nggak datang dua kali. Kalau dia nggak mau, banyak sekali orang yg antri mau berangkat.
Akhirnya dia mau.
Waktu urus paspor... baru ketahuan kalau KTP dia salah tulis, jenis kelamin laki2. Ahahahaha... apaan siiiiih.... Akhirnya ya dia hrs ke Ciamis dulu untuk urus KTP. Untungnya nggak lama. Krn kalau kelamaan kan ya kasihan temen gue. Eh... bener sih, temen gue akhirnya melahirkan sebelum Titin hadir... haduuuuh....
Singkat cerita, sekarang Titin sdh ada di Singapura. Gue seneng sekali. Paling nggak dia dapat pengalaman baru. Mudah2an sih dia senang di sana dan majikan barunya jg senang. Gue masih menyimpan harapan suatu saat si Titin bisa kuliah spt cita2nya. Amin.
Memang karena sdh cukup lama Titin ikut gue, jd dia sepertinya jg nyaman mau curhat ini itu. Lebaran kemarin, dia bbm, tanya gue butuh tenaga bantuan apa nggak. Tahun2 sebelumnya memang lebaran di rumah gue selalu heboh, dan Titin selalu ada. Jadi dia tahu pasti gue butuh orang buat beres2 di rumah. Gue pun seneng minta ampun waktu dia bbm. Jadi akhirnya disepakati dia akan di rumah gue selama embak baru cuti lebaran, atau selama majikan baru masih mudik... tergantung mana yg selesai lebih dulu. Oke sip.
Tentunya sbg bukti kemanisan budi pekerti, gue kabarin hal ini ke majikan baru. Yg dijawab dgn kaget, "Lho mbak, katanya dia mau mudik? Kutawari infal di rumahku kok nggak mau? Katanya dia mau pulang saja karena sdh lama nggak pulang."
Eng ing eng....
Tp pertanyaan terjawab waktu Titin sdh nongol di rumah gue, 4 hari sebelum lebaran. Dia cerita kalau dia habis mudik. Trus ya dia cerita juga kalau dia nggak mau infal di majikan baru krn katanya banyak yg diurus. Hehehehe... sementara dia tahu banget di rumah gue yg diurus ya hanya Aria. Ya sudah, yg penting nggak bohong.
Trus lalu dia cerita kalau dia nggak krasan di tempat baru. Oke. Memang secara kondisi juga berbeda banget sih. Banyak alasan yang dibilang sama si Titin. Yaaa... tadinya sih gue pikir itu hanya alasan dia saja, tp setelah gue pikir lagi, masak iya kalau nggak kepepet banget dia mau lepasin gitu aja pekerjaan yg lumayan. Trus nganggur gitu? Mau makan apa?
Dia sih ceritanya karena sdh dpt ijazah SMA, mau kerja di KFC atau di Matahari. Yaaa... secara gengsi mungkin lebih tinggi dibanding jd pengasuh atau asisten RT. Tp gajinya kan ya bisa habis untuk makan/transport/tempat tinggal....
Hanya karena dia sdh nggak tinggal sama gue lagi, yaaaa gue hanya bisa ngasih tahua saja kan.
Jadi bbrp hari setelah lebaran, dia keluar dr rumah majikan baru (sebelumnya dia dgn manis mencarikan ganti. Hebat lah si embak ini.)
Memang rejeki sudah diatur.... di suatu pagi gue di bbm temen gue yg (waktu itu) hamil besar. Dia cari info soal asisten RT, yg mau dia bawa ke Singapore. Ohohohohoho... Tentu saja gue langsung ingat si Titin yg kebetulan jg sdh mulai di rumah saja, katanya lagi nungguin kepastian utk kerja di Busana Raya.
Titin, seperti juga orang2 lain yg blm pernah ke luar negeri, awalnya ragu ketika gue tawarin ikut temen gue. Dia takut kalau kenapa2 di negeri orang. Tapi gue yakinkan kalau temen gue baik hatinya, dan pekerjaan dia mestinya juga nggak terlalu berbeda dgn yg sekarang. Kalaupun ada yg nggak cocok, toh ada 3 bulan percobaan. Kalau nggak suka ya pulang saja. Gue bilang, kesempatan nggak datang dua kali. Kalau dia nggak mau, banyak sekali orang yg antri mau berangkat.
Akhirnya dia mau.
Waktu urus paspor... baru ketahuan kalau KTP dia salah tulis, jenis kelamin laki2. Ahahahaha... apaan siiiiih.... Akhirnya ya dia hrs ke Ciamis dulu untuk urus KTP. Untungnya nggak lama. Krn kalau kelamaan kan ya kasihan temen gue. Eh... bener sih, temen gue akhirnya melahirkan sebelum Titin hadir... haduuuuh....
Singkat cerita, sekarang Titin sdh ada di Singapura. Gue seneng sekali. Paling nggak dia dapat pengalaman baru. Mudah2an sih dia senang di sana dan majikan barunya jg senang. Gue masih menyimpan harapan suatu saat si Titin bisa kuliah spt cita2nya. Amin.
Thursday, September 27, 2012
Tujuanmu Apa?
Pecandu jagat twitter pasti kenal gaya nge-twit Ligwina Hananto. Perencana keuangan itu selalu tanya kepada siapa pun yang mau konsultasi soal tabungan atau asuransi dengan kalimat: tujuan lo apa?
Wina selalu berusaha membuat orang berpikir dalam sebelum memulai investasi. Bukan hanya karena "dapat return besar" atau "mumpung punya duit." Dia selalu menyarankan, sebelum menabung, atau beli asuransi, pastikan dulu tujuannya apa. Kalau tujuannya mau menyiapkan dana sekolah anak, asuransi pendidikan bukan yang jadi pilihan, karena return kecil. Mendingan reksadana. Kalau mau menabung untuk beli rumah, tentukan dulu harga rumahnya, trus cari sumber2 dana (investasi) yang bisa memberi bunga spy rumah idaman itu tercapai dalam waktu sekian lama. Gitu deh kira2.
Pertanyaan soal tujuan ini sebenarnya memang hrs kita tanyakan dalam setiap hal dalam hidup yang ingin kita lakukan. Ya nggak sih?
Beberapa minggu lalu sempat ngobrol -via bbm- sama seorang PR produk terkenal. Exchanging updates sambil salam2 perpisahan krn ybs dapat posting di luar Indonesia untuk bbrp tahun ke depan. Gue selalu menganggap dia sebagai PR andal. Trus masih muda, cantik, sukses... event yang dia rancang diadopsi di negara lain karena dianggap sangat berhasil menaikkan image brand yang dia usung. Dua jempol. Eh laaaah... dalam obrolan dia juga memuji sampai gue malu2 kucing karena menurutnya gue ini sangat oke. Jadi pemred majalah lisensi sekian tahun dan (konon) berhasil menaikkan readership (jadi ingel lagi si semprul krn data valid-nya nggak ada). Katanya banyak hal di majalah itu yang blm pernah dilakukan sblm gue hadir. Ah, jadi malu deh ih. Hidup memang sawang sinawang yessss.... yg sana kagum sama sini, yg sini kagum sama sana.
Trus, di tengah obrolan haha hihi, muncul pertanyaan, "Kenapa sih mbak, berhenti jadi pemred majalah itu? Kan saat ditinggal sedang bagus sekali?"
Waktu ngobrol itu sih gue jawab 'seadanya': karena sdh kehabisan ide, manajemen juga lagi nggak menyenangkan dst dst dst.
Tapi ternyata pertanyaan itu jadi kepikiran. Karena terus terang bukan hanya dia yang bertanya soal itu. Beberapa orang yg tahu pasti spt apa majalah itu sebelumnya juga menanyakan hal yang sama. Banyak yang menyayangkan karena seharusnya gue tinggal lanjutin saja dgn senyum2. Apalagi setelah lepas dari majalah itu, gue pun silam dari 'pergaulan sosialita majalah' karena kantor baru jauh di pinggir kota dan merasa nggak terlalu punya kepentingan (dan energi lebih) untuk tekjing2 bareng yang lain2, mengingat macet Jakarta makin menggila. Dan melepaskan majalah itu berarti melepaskan segala fasilitas yang yahud. Belum lagi banyak kesempatan yang baru saja terbuka, tidak sempat gue nikmati.
Sebenernya, apa ya tujuan gue?
Pertanyaan ini terjawab dgn sendirinya di suatu hari Sabtu. Waktu nganterin Aria les biola. Di antara praktek & teori, ada jeda 45 menit. Jadi biasanya urutannya: habis nge-drop dia, gue punya 45 menit untuk belanja atau ke bank atau cuci mobil, lalu balik bawa lunch, punya waktu 45 menit makan. Trus Aria masuk kelas lagi, gue nungguin 30 menit. Saat makan siang itulah, Aria lihat iklan di majalah yang gue baca.
"Kenapa ibu nggak tetap di majalah yang dulu? Kan aku jadi nggak kebagian tiket gratis lagi."
"Hmm... Ibu capek deh kayaknya. Kalau di sana, hari Sabtu tetep bekerja, meskipun hanya datang acara."
"Oh iya ya. Ibu kalau di sana, hari Sabtu sering bicara-bicara. Jadi aku nggak bisa diantar les."
Cling.
Akhirnya memang semua gonjang ganjing kehidupan gue bermuara pada kebutuhan si ganteng anak semata wayang ini. Inget banget, dulu waktu ngurus majalah itu, Sabtu-Minggu sering terpakai untuk event, di Jakarta atau pun di luar Jakarta. Makanya nggak pernah bisa daftarin Aria untuk les renang atau les musik di hari sabtu, karena nggak bisa nganterin. Terus di hari kerja sering harus datang ke acara-acara, yang artinya pulang malam sekali, melewatkan waktu haha hihi bareng Aria. Kalaupun ada hari libur, gue sudah terlalu lelah untuk ngapa2in saking banyaknya energi terkuras di hari lain. Kalau mau flash back lebih jauh lagi, di majalah sebelumnya, gue bisa sebulan sekali ke luar kota atau luar negeri yang artinya melewatkan banyak sekali milestone si ganteng. Gue lelah selalu merasa nggak ada waktu untuk anak gue. Apalah artinya fasilitas segunung kalau nggak bisa dinikmati sama Aria saking sibuknya gue? That pretty car (uhuk) jadi nggak menarik lagi. Mending juga si kentang, biarpun kecil tapi gue sering ada di dalamnya sama2 Aria.
Di kantor skrg, jadwal gue lebih jelas. Senin-jumat ngantor, sabtu-minggu libur. Ngantor hanya sampai jam 7, sampai rumah jam 8 (krn relatif lebih nggak macet). Sampai rumah masih bisa ketawa2 sama Aria. Sabtu-minggu bisa nemenin dia les, atau nonton, atau main, atau ya tidur siang aja dengan damai. Yg jelas, waktu untuk Aria makin banyak, sesuai dgn kebutuhan dia.
Memang itulah tujuan hidup gue: mengurus Aria, berdekatan dgn dia, membesarkan dia spy jadi anak yang berguna. Ah... terjawablah pertanyaan itu!
Pada akhirnya, semua atribut yang ditempelin ke nama gue ya hanya sekadar status saja. Jadi pemred atau askadiv atau manager tentu saja membanggakan, karena itulah pencapaian gue. Tapi, gue ternyata lebih bangga ketika orang mengenal gue sebagai ibu (yang baik) untuk anak gue. As simple as that.
Wina selalu berusaha membuat orang berpikir dalam sebelum memulai investasi. Bukan hanya karena "dapat return besar" atau "mumpung punya duit." Dia selalu menyarankan, sebelum menabung, atau beli asuransi, pastikan dulu tujuannya apa. Kalau tujuannya mau menyiapkan dana sekolah anak, asuransi pendidikan bukan yang jadi pilihan, karena return kecil. Mendingan reksadana. Kalau mau menabung untuk beli rumah, tentukan dulu harga rumahnya, trus cari sumber2 dana (investasi) yang bisa memberi bunga spy rumah idaman itu tercapai dalam waktu sekian lama. Gitu deh kira2.
Pertanyaan soal tujuan ini sebenarnya memang hrs kita tanyakan dalam setiap hal dalam hidup yang ingin kita lakukan. Ya nggak sih?
Beberapa minggu lalu sempat ngobrol -via bbm- sama seorang PR produk terkenal. Exchanging updates sambil salam2 perpisahan krn ybs dapat posting di luar Indonesia untuk bbrp tahun ke depan. Gue selalu menganggap dia sebagai PR andal. Trus masih muda, cantik, sukses... event yang dia rancang diadopsi di negara lain karena dianggap sangat berhasil menaikkan image brand yang dia usung. Dua jempol. Eh laaaah... dalam obrolan dia juga memuji sampai gue malu2 kucing karena menurutnya gue ini sangat oke. Jadi pemred majalah lisensi sekian tahun dan (konon) berhasil menaikkan readership (jadi ingel lagi si semprul krn data valid-nya nggak ada). Katanya banyak hal di majalah itu yang blm pernah dilakukan sblm gue hadir. Ah, jadi malu deh ih. Hidup memang sawang sinawang yessss.... yg sana kagum sama sini, yg sini kagum sama sana.
Trus, di tengah obrolan haha hihi, muncul pertanyaan, "Kenapa sih mbak, berhenti jadi pemred majalah itu? Kan saat ditinggal sedang bagus sekali?"
Waktu ngobrol itu sih gue jawab 'seadanya': karena sdh kehabisan ide, manajemen juga lagi nggak menyenangkan dst dst dst.
Tapi ternyata pertanyaan itu jadi kepikiran. Karena terus terang bukan hanya dia yang bertanya soal itu. Beberapa orang yg tahu pasti spt apa majalah itu sebelumnya juga menanyakan hal yang sama. Banyak yang menyayangkan karena seharusnya gue tinggal lanjutin saja dgn senyum2. Apalagi setelah lepas dari majalah itu, gue pun silam dari 'pergaulan sosialita majalah' karena kantor baru jauh di pinggir kota dan merasa nggak terlalu punya kepentingan (dan energi lebih) untuk tekjing2 bareng yang lain2, mengingat macet Jakarta makin menggila. Dan melepaskan majalah itu berarti melepaskan segala fasilitas yang yahud. Belum lagi banyak kesempatan yang baru saja terbuka, tidak sempat gue nikmati.
Sebenernya, apa ya tujuan gue?
Pertanyaan ini terjawab dgn sendirinya di suatu hari Sabtu. Waktu nganterin Aria les biola. Di antara praktek & teori, ada jeda 45 menit. Jadi biasanya urutannya: habis nge-drop dia, gue punya 45 menit untuk belanja atau ke bank atau cuci mobil, lalu balik bawa lunch, punya waktu 45 menit makan. Trus Aria masuk kelas lagi, gue nungguin 30 menit. Saat makan siang itulah, Aria lihat iklan di majalah yang gue baca.
"Kenapa ibu nggak tetap di majalah yang dulu? Kan aku jadi nggak kebagian tiket gratis lagi."
"Hmm... Ibu capek deh kayaknya. Kalau di sana, hari Sabtu tetep bekerja, meskipun hanya datang acara."
"Oh iya ya. Ibu kalau di sana, hari Sabtu sering bicara-bicara. Jadi aku nggak bisa diantar les."
Cling.
Akhirnya memang semua gonjang ganjing kehidupan gue bermuara pada kebutuhan si ganteng anak semata wayang ini. Inget banget, dulu waktu ngurus majalah itu, Sabtu-Minggu sering terpakai untuk event, di Jakarta atau pun di luar Jakarta. Makanya nggak pernah bisa daftarin Aria untuk les renang atau les musik di hari sabtu, karena nggak bisa nganterin. Terus di hari kerja sering harus datang ke acara-acara, yang artinya pulang malam sekali, melewatkan waktu haha hihi bareng Aria. Kalaupun ada hari libur, gue sudah terlalu lelah untuk ngapa2in saking banyaknya energi terkuras di hari lain. Kalau mau flash back lebih jauh lagi, di majalah sebelumnya, gue bisa sebulan sekali ke luar kota atau luar negeri yang artinya melewatkan banyak sekali milestone si ganteng. Gue lelah selalu merasa nggak ada waktu untuk anak gue. Apalah artinya fasilitas segunung kalau nggak bisa dinikmati sama Aria saking sibuknya gue? That pretty car (uhuk) jadi nggak menarik lagi. Mending juga si kentang, biarpun kecil tapi gue sering ada di dalamnya sama2 Aria.
Di kantor skrg, jadwal gue lebih jelas. Senin-jumat ngantor, sabtu-minggu libur. Ngantor hanya sampai jam 7, sampai rumah jam 8 (krn relatif lebih nggak macet). Sampai rumah masih bisa ketawa2 sama Aria. Sabtu-minggu bisa nemenin dia les, atau nonton, atau main, atau ya tidur siang aja dengan damai. Yg jelas, waktu untuk Aria makin banyak, sesuai dgn kebutuhan dia.
Memang itulah tujuan hidup gue: mengurus Aria, berdekatan dgn dia, membesarkan dia spy jadi anak yang berguna. Ah... terjawablah pertanyaan itu!
Pada akhirnya, semua atribut yang ditempelin ke nama gue ya hanya sekadar status saja. Jadi pemred atau askadiv atau manager tentu saja membanggakan, karena itulah pencapaian gue. Tapi, gue ternyata lebih bangga ketika orang mengenal gue sebagai ibu (yang baik) untuk anak gue. As simple as that.
Subscribe to:
Posts (Atom)
