Monday, January 02, 2023

Janji Kali Ini

 Janji Meniti Pelangi


Sungguh, ternyata saya tidak ingin kehilangan dia. 


Dia melihat saya memasang tangga lipat di depan lemari dapur. Segera dia berdiri, menghampiri saya yang mulai menapak naik. Dengan manis, dia tuntun saya turun dari tangga. Saya terpana sesaat. 


"Kok aku disuruh turun?"
"Mau ambil apa?"
"Teh."


Segera dia buka lemari dapur, lalu mengambil teh di kotak yang tersimpan di sudut paling atas. Baginya yang jangkung... tidak perlu tangga hanya untuk menggapai rak teratas lemari dapur saya. “Tolong biasakan bahwa sekarang ada aku. Kamu bilang saja mau ambil apa,” katanya sambil tersenyum manis dan menyerahkan teh pada saya. "Toh, itu untuk aku juga, kan? Terima kasih ya, sudah membuatkan aku teh hangat."  


Saya membisu. 


Di lain hari, tanpa rencana, ia menunggu saya di lobby kantor. Saya sempat terkejut ketika menjumpainya. 


“Kamu mau apa?”

“Jemput kamu.”

“Lho, aku kan bawa mobil.”

“Iya. Aku tahu. Kamu duduk manis saja. Biarkan aku menyetir pulang supaya kamu tidak capek terkena macet.”


Saya terpesona mengingat dia meluangkan waktu datang ke kantor saya, memberi kejutan manis. Tak terhitung perlakuan-perlakuan sederhana, hal-hal remeh temeh semacam membukakan kemasan air minum atau membawakan belanjaan, yang dia lakukan tanpa komentar. Dengan santai, ia akan mengeringkan sendok dan garpu di restoran, memastikan kebersihan sendok garpu dengan tisu, lalu menyerahkannya pada saya. Tindakannya selalu spontan dan, terus terang, sedikit demi sedikit mulai mencuri hati saya.


Namun, berjuta pertanyaan masih terus mengisi kepala saya. Justru tindakannya yang memanjakan saya, dan melindungi saya bagai porselen langka dari Cina, jadi hal yang meresahkan. Saya bingung. 


“Kamu kok baik hati banget.” Saya lihat dia sedang membersihkan mobil saya. 

“I care about you.” 

“I know. Dan itu merisaukan.”

“Kenapa? Bahkan kalau kamu tidak suka padaku, ya tidak apa-apa. Aku akan tetap membantumu. Jangan khawatir, aku akan tetap sayang.”

“You know, it’s weird….”

“Aku tahu. Bukan hal mudah bagimu menerima seseorang lagi di dalam hidupmu. I do understand.” 


Bertahun-tahun sendirian, saya terbiasa mandiri. Saya bahkan menikmati membuat keputusan-keputusan, kecil atau besar, dengan merdeka. Tidak pernah saya harus mendiskusikan apa pun yang saya lakukan dengan siapa pun. Keputusan membeli sabun cuci piring merek apa hingga memilih tempat tinggal, saya pertimbangkan dan buat sendiri, dengan cukup memperhatikan isi tabungan saja. 


Dengan kehadiran dia, semua jadi berbeda. 


Dan bukan hal mudah untuk saya menerima perbedaan itu. Apalagi saya paham, perhatian yang dia berikan dilandasi harapan bahwa saya akan jatuh cinta padanya. Sebuah keinginan yang wajar, sewajar mengharapkan hujan saat langit mulai mendung. 


“Melamun?”
“I was just thinking about us.”

“What is about us?”
“Kurasa, ini tidak mungkin buat aku.”

“Kamu rasa? Atau kamu tidak mau?”

“Hmmm….”

“Apa yang tidak mungkin?”

“Kita….”

“Rasanya kita tidak perlu berpikir macam-macam saat ini. Kamu jalani hidupmu seperti biasa. Sudah, begitu saja. Tapi biarkan aku tetap mencintaimu.”


Saya bimbang. Mengapa dia begitu sabar dan mau mengerti?


Jatuh cinta telah menjadi topik ke sekian dalam hidup saya. Selama ini hidup saya hanya berisi pekerjaan. Sejak bercerai belasan tahun lalu, tak sekali pun keinginan menikah kembali hadir dalam benak saya. Nyaman hidup soliter, rasanya saya tidak akan sanggup punya komitmen. Apalagi jika harus berkompromi untuk hal-hal yang sulit saya toleransi. Di kepala saya sudah tidak ada lagi ruang untuk drama percintaan. Memang, dalam perjalanan, beberapa laki-laki datang, ternyata hanya singgah saja. Mereka menyingkir segera setelah mendeteksi bahwa saya tidak punya minat menjadi pasangan abadi mereka. 


Tapi dia berbeda. Dia sama sekali tidak pernah secara khusus membahas perasaannya, apalagi hubungan kami. Percakapan saya dan dia selalu hanya seputar kehidupan masing-masing, hobi dan kesukaan, serta mimpi yang belum tercapai. Sama sekali tidak pernah membahas percintaan, walaupun dia tetap menghujani saya dengan perhatian penuh. Di satu sisi, saya menikmati dimanjakan bertubi-tubi. Semua kebutuhan saya dipenuhi tanpa ada pertanyaan. Di sisi lain, saya kadang merasa tertekan saat dia menanyakan detail jadwal harian saya. Mengapa ia harus tahu? Mengapa ia begitu mau terlibat? Di luar dugaan, nada suaranya datar saja, tidak tersinggung atau sakit hati saat saya nyatakan keberatan. “Aku perlu tahu kamu ke mana dan ngapain saja, supaya bisa atur jadwal untuk sering-sering menjemput kamu di kantor,” jawabnya ringan. Sungguh laki-laki yang luar biasa.  


Saya sedang sarapan dan bersiap berangkat bekerja ketika mendengar televisi menyiarkan berita tentang kecelakaan pesawat dengan rute Singapura – Tokyo. Ya Tuhan, apakah itu pesawat yang dia naiki? Saya keraskan volume untuk mendengar detail berita. 


Boeing 777-300ER dengan 382 penumpang menghilang dari radar setelah 35 menit mengudara. Astaga. 


Saya berusaha keras mengingat percakapan kami dua hari lalu, dalam perjalanan pulang dari kantor. Seperti biasa, dia mengemudi dengan santai sambil menceritakan hari yang dia lalui. 


“Besok saya akan terbang ke Tokyo. Ada konferensi selama lima hari. Maaf, kamu pulang sendiri, ya.”

“Hahaha… iya. Biasanya juga pulang sendiri.”

“Ya siapa tahu kangen, kamu boleh kok telepon aku,” godanya. 


Merasa wajah saya memerah, saya alihkan pembicaraan mengenai maskapai yang akan dia gunakan. Dari Jakarta, dia akan terbang ke Singapura lebih dulu untuk rapat di kantor pusat. Setelahnya, baru ke Tokyo. Baiklah. 


Dan sekarang, di layar televisi ada berita pesawat menuju Tokyo yang hilang. Astaga. Astaga. Astaga.


Panik, saya aduk tas saya, mencari telepon genggam. Segera saya hubungi dia. Dan nada panggil saya tidak terjawab. Sungguh, perasaan saya menjadi sangat kacau. 


Saya terduduk di meja makan. Di kepala saya, berputar kembali adegan-adegan kebaikan hatinya. Dia rajin membawakan oleh-oleh, dan semuanya selalu kesukaan saya, ke mana pun dia bertugas. Dia tanpa segan memasak dan membersihkan rumah, ketika saya sakit. Dia pula yang mengatur agar donasi saya untuk shelter anjing terlantar bisa betul-betul mencapai sasaran. Dan lain sebagainya. Banyak sekali. Semua hal yang dia lakukan, membuktikan bahwa dia laki-laki yang baik. Dia laki-laki yang peduli dan mencintai saya. 


Mengikuti berita di televisi, tiba-tiba saya merasakan ada lubang menganga di hati. Apakah dia betul-betul sudah tiada? Mata saya penuh airmata.

Dering ponsel mengagetkan saya, hingga nyaris terlonjak. Namanya berpendar di layar!

“Essa?”

“Asti… maaf aku tadi tidak menjawab teleponmu. Kami sedang berusaha mengubah jadwal penerbangan. You know, due to the accident… Rasanya lebih bijaksana kalau kami tunda keberangkatan ke Tokyo.”

“Essa… ini betul-betul kamu?”
“Yes, of course. What do you mean?”
“Ya Allah, aku pikir kamu ikut dalam penerbangan yang hilang. Aku cemas sekali.”

“Tidak. Tiketku untuk besok. Bukan hari ini.”

“Syukurlah….”

“Asti, are you okay?”

“Essa… I just thought you were gone.” 

“Hey, I am okay. Aku nggak apa-apa. Kamu tenang saja. Begini, aku bereskan dulu beberapa urusan, lalu nanti aku telepon kamu lagi. Ya?”
“Sure.”


Saya termangu ketika dia memutuskan sambungan telepon. Hati saya merasa lega luar biasa mendengar suaranya. Saya tiba-tiba tersadar telah merasa takut kehilangan dia. Perasaan apa ini?


Pukul 12.00. Saya memutuskan tidak ke kantor hari ini. Rasanya kejadian tadi pagi begitu mengguncang perasaan, hingga saya tak sanggup berangkat. Untung jadwal saya hari ini memungkinkan untuk bekerja dari rumah. 


Ponsel saya berdering. Essa. 


“Halo.”

“Asti, how are you?”

“Aku tidak ke kantor hari ini.”

“Ah… baguslah. Jadi tidak ada risiko terjebak kemacetan. Ok, do you mind telling me what is going on inside your head?”


Dan begitu saja saya ceritakan semua yang saya lalui sepagian. Perasaan hampa saat mendengar berita pesawat hilang, karena membayangkan dia adalah salah satu penumpangnya. Kesedihan  karena membayangkan tawanya tidak akan saya dengar lagi. Ketakutan karena saya tak bisa melihat wajahnya lagi. Lalu betapa lega hati saya saat dia menelepon dan ternyata baik-baik saja. 


“Terima kasih sudah mencemaskan aku,” katanya setelah beberapa saat tekun mendengar. 

“Aku tidak tahu ini perasaan apa.”

“Tidak perlu kita bahas sekarang, Asti. Biarkan saja. Yang penting, aku di sini. Aman. Sehat.”

“Tapi aku resah. Ini apa?”

“Boleh aku usul, agar kamu nikmati saja perasaan itu? Biarkan rasanya berkembang ke arah yang seharusnya. Sekali lagi, yang penting, aku akan selalu di sini.”

“Promise me, please.”

“Apa?”

“Jangan pergi.”

“Tidak, Asti. Aku akan tetap ada di sini. Aku janji. Aku selalu berdoa agar kelak kita bisa meniti pelangi bahagia berdua. Mimpiku adalah menghabiskan hidup bersamamu. Tapi untuk saat ini, biar saja begini dulu. Beri waktu pada hatimu, pada dirimu, untuk menerima cintaku. Waktu yang akan membuktikan.”

“Terima kasih untuk selalu baik hati, Essa.”

“Kembali kasih. So, I think, until I see you again?”

“Sure. Take care, Essa.”

“You too take care, Asti.”


Setelah bertahun-tahun, inilah kali pertama saya akhiri pembicaraan di telepon dengan hati berbunga-bunga. Saya masih mempertanyakan tentang cinta di hati saya dan apakah saya mampu mengejar mimpi masa depan bersama Essa. Namun saya percaya, seperti kata Essa, biarkan saja perasaan saya berkembang dengan sendirinya. Saat ini, saya akan menikmati hati saya yang hangat, yang penuh suka cita menanti perwujudan janji meniti pelangi bahagia. 



(Inspired by a true story, this will be published for Buku Janji, Elfa Mediatama Publishing)

Sunday, December 18, 2022

Taking a Career Break

Akhirnya saya memutuskan jeda sejenak dari pekerjaan. Bagi yang mengenal saya, pasti paham bahwa memutuskan tidak bekerja bukan perkara sepele buat saya. Memang, saya membutuhkan waktu hampir dua bulan sebelum akhirnya memasukkan surat pengunduran diri. 


Banyak hal terjadi selama setahun terakhir. Yang paling menguras pikiran adalah pekerjaan yang (buat saya) menjadi begitu sulit. Keharusan menambah produk dan memperbarui servis hanyalah salah dua dari beberapa perubahan. Saya paham, semua dilakukan untuk tetap relevan dengan kondisi pasar. 


Ok. Tapi apa masih sesuai dengan kebutuhan saya? 


Saya bisa menulis. Merangkai kata menjadi kesukaan saya sejak lama. Sayangnya, kewajiban sebagai karyawan mengharuskan saya menulis hal-hal yang tidak saya akrabi (dan sering tidak saya sukai). Semakin runyam ketika saya harus mengerjakan beberapa produk dengan jenis dan topik berbeda-beda.  Kecepatan berpindah dari satu topik dalam suatu produk ke produk lain dengan topik berbeda sangatlah berkurang jauh. Saya seringkali merasa kelelahan luar biasa di akhir hari. 


Sebetulnya, masa-masa ini adalah saat saya punya lebih banyak waktu luang. Sejak Aria tinggal di kota lain, saya tidak perlu tergesa-gesa pulang ke rumah di hari kerja. Akhir pekan relatif sepi buat saya. Namun, pekerjaan yang melelahkan di kantor membuat saya tetap merasa tidak bisa punya cukup waktu untuk beristirahat. 


Kegalauan pada kelanjutan karier membuat saya memutuskan berkonsultasi pada career coach. Saya perlu orang lain yang bisa melihat potensi dan membantu saya memetakan perkembangan diri saya. Hasilnya? Saya dalam kondisi aman jika memutuskan untuk mengambil career break. Dia juga membantu saya menyusun strategi untuk kembali bekerja saat saya sudah siap. 


Begitulah. Saya masukkan surat pengunduran diri. 


Ternyata, hari-hari setelahnya, saya galau lagi. Meskipun sudah merasa memikirkan semua hal secara matang, saya tetap cemas. Apakah saya sudah mengambil keputusan yang tepat? 


1 Desember 2022 menjadi hari pertama saya tidak bekerja. Rasanya? Senang! Saya lewatkan hari itu untuk berjalan-jalan ke tempat yang selama ini selalu ingin saya datangi. Ternyata enak juga bangun tidur tanpa memikirkan deadline dan job desk. 


Esoknya, saya dapati Ibu saya sibuk membuka beberapa dokumen. Ternyata tahun ini adalah pertama kali pemerintah mengharuskan penerima pensiun untuk memperbarui data dan melakukan pendaftaran agar sistem pensiun bisa didigitalisasi. 


Ibu saya yang berusia 72 tahun itu terlihat panik di antara tumpukan berkas-berkas SK pensiun ayah saya. Ini untuk apa? Mau daftar ke mana? Ke kantor ASABRI naik apa? Dan kecemasan-kecemasan yang beliau katakan berulang-ulang karena kebetulan juga beliau mulai pikun. 


Saya berusaha membantu sebisanya. Selain memilah berkas, juga untuk mengantar-antar dari satu kantor ke kantor lain. Dan… ibu saya terlihat tenang. Beberapa hari saya habiskan untuk mengurus keperluan beliau. Tak hanya soal pensiun, tapi juga bpjs kesehatan. Saya mulai bersyukur bahwa saya cuti, sehingga saya bisa sepenuhnya mengurus kebutuhan Ibu saya. Terbayang jika saya masih harus bekerja… kepala pasti retak. 


Suatu pagi, saya mendapati Ibu saya termenung sedih sambil menatap layar ponsel. Ternyata, sahabat dekatnya divonis kanker dan harus menjalani serangkaian pengobatan. 


“Aku pengen ke Yogya, deh,” katanya.

 “We can,” jawab saya pendek. 


Kakak saya segera mengatur transportasi bagi kami dari BSD ke Yogya. Dirancang bahwa kami akan menginap di Salatiga saja. Sekalian saya akan membantu beberapa hal di hotel kakak saya yang baru dibuka. 


“Kamu nggak sibuk?” Ibu saya menatap cemas. 

“Nggak dong. Aku kan cuti.” 


Dan jadilah. Kami berangkat ke Salatiga, lalu ke Yogya. Ibu saya berjumpa sahabatnya. Melihat mereka bisa saling bercerita, yang satu menguatkan yang lain, lalu tertawa bersama… saya ikut bahagia. Lagi-lagi saya bersyukur bisa menemani Ibu saya. Sampai kapan? Sebisa saya. 


Melihat Ibu saya yang lebih tenang dan gembira karena selalu saya dampingi ke mana-mana, akhirnya saya yakin bahwa keputusan cuti panjang ini adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup. Alhamdulillah. 






Thursday, December 08, 2022

Is It?

Dia melihat saya memasang tangga lipat di depan lemari dapur. Segera dia berdiri, menghampiri saya yang mulai menapak naik. Dengan manis, dia tuntun saya turun dari tangga. Saya terpana sesaat, hingga dia mengecup pipi saya. 

"Kok aku disuruh turun?"
"Mau ambil apa?"
"Teh."

Segera dia buka lemari dapur, lalu mengambil teh di kotak yang tersimpan di sudut paling atas. Baginya yang jangkung... tidak perlu tangga hanya untuk menggapai rak teratas lemari dapur saya. “Tolong biasakan bahwa sekarang ada aku. Kamu bilang saja mau ambil apa,” katanya sambil tersenyum manis dan menyerahkan teh pada saya. "Toh, itu untuk aku juga, kan? Terima kasih ya, aku sudah dibuatin teh hangat."  

Di lain hari, dia akan meluangkan waktu datang ke kantor saya. Sebuah kejutan manis melihatnya di lobby kantor. Lalu dia akan membiarkan saya duduk di kursi penumpang, sementara dia mengemudikan mobil saya hingga tiba di rumah. Rasanya nyaman sekali, saya bisa bersantai. “Ya memang itu tujuan saya, biar kamu tidak capek kena macet.” 

Dia memang datang dengan penuh kejutan manis. Sikapnya sopan dan ramah, tak segan menolong. Tentu saja banyak hal-hal remeh semacam membukakan kemasan air minum atau membawakan belanjaan, yang dia lakukan tanpa komentar. Dengan santai, ia akan mengeringkan sendok dan garpu di restoran lalu menyerahkannya pada saya. Tindakannya selalu sederhana dan spontan. Dan justru spontanitas itu yang sedikit demi sedikit berhasil mencuri hati saya.

Bertahun-tahun sendirian, saya terbiasa mandiri. Semua saya pertimbangkan dan putuskan sendiri. Seperti autopilot, saya akan menyetir ke mana-mana. Dengan dia, semua jadi berbeda. Saya bisa merasakan nyamannya dimanjakan. Selain semua kebutuhan dipenuhi, saya merasa dijaga bagai porselen Cina yang tak boleh tergores sedikit pun.
However, there is no free lunch. Saya paham bahwa semua perhatian dan afeksi dia lakukan dengan harapan saya akan jatuh hati bertubi-tubi padanya. Sebuah keinginan yang wajar, sewajar mengharapkan hujan saat langit mulai mendung. 

Sebuah kewajaran yang bagi saya bukan perkara mudah. Jatuh cinta, buat saya menjadi topik ke sekian.  Bertahun-tahun punya kebebasan memutuskan apa pun sendirian, membuat saya langsung merasa terkekang saat dia menanyakan detail rencana harian saya. Saya resah ketika nada suaranya saya dengar mencemburui masa lalu saya. Saya tertekan ketika harus berkompromi, saat keleluasaan bercakap  terbatasi perbedaan sudut pandang yang sulit dicari jalan tengahnya karena kesenjangan pengalaman dan latar belakang.

Sementara saat ini saya ada di tengah pekerjaan, urusan rumah, dan diri saya sendiri. Saya merasa tidak punya lagi ruang di kepala untuk hal-hal lainnya.

Apa yang harus saya lakukan? 

Saya tahu, pada akhirnya, saya harus bersikap. Sebaiknya saya berpikir ulang sebelum melanjutkan perjalanan. Is it what I need? Is it what I want? 

Tiba-tiba hati saya pilu karena membiarkan otak memikirkan jawabannya.


Thursday, November 17, 2022

Semua Akan Covid pada Waktunya

Jadi, akhir bulan lalu, Aria menghabiskan weekend di BSD. Kami sempat belanja bareng, sebelum dia malam mingguan dengan sahabatnya. Tengah malam, kesayangan saya itu mengendap-endap masuk kamar saya. Lalu meringkuk di pelukan. Duh... enak bener ngelonin anak tuh.... 

Sekitar jam 3 pagi, saya terbangun karena merasa tubuh Aria agak hangat. Tapi karena dia tetap tidur tenang, akhirnya saya biarkan saja dan saya kembali tidur tanpa merasa ada yang aneh. 

Ketika dia terbangun dan agak grumpy, yang saya pikirkan justru separation anxiety. Saya sempat cek suhu, dan baik-baik saja. Dia pun tetap lahap makan. Nggak banyak omong. Ya... selama ini juga cenderung banyak diam sih.... 

Waktu saya antar ke gerai shuttle, dia sempat berpikir untuk reschedule tiketnya. 

"Kok aku rasanya nggak enak sih, Bu?" 

Tetap berpikir bahwa dia sedang merasakan separation anxiety, saya cuma peluk dia erat-erat. "Minum yang banyak. Jaga makan ya. Jangan banyak konsumsi gula." 

Dan begitulah, dia kembali ke Bandung. Saat mengabari bahwa dia sudah tiba di Bandung pun, dia mengaku baik-baik saja. 

Baru besok paginya dia merasa makin nggak nyaman seluruh tubuh... dan batuk-batuk. Sepulang kuliah, dia mampir ke bumame. Cek. And it turned out positive. 

Tentunya saya langsung terpikir untuk mengangkut dia pulang ke BSD lagi. Tapi bagaimana caranya? Realistis saja, saya nggak mungkin nyetir bolak balik. Aria sudah ketahuan positif, kalau saya sewa mobil, bawa pulang ke BSD, kasihan supirnya. Dan bahaya nggak buat yang di rumah? 

Tapi dia juga nggak bisa isoman di kos karena kondisi kamar terlalu rapat dan banyak orang. Alhamdulillah, ada bala bantuan. Satu apartemen milik om saya ada yang tidak berpenghuni. Bisa digunakan untuk isoman sampai sembuh. Alhamdulillah. Aria dievakuasi malam itu juga.  

Saat itulah Aria betul-betul belajar menjadi dewasa. Dia terpaksa mengurus semua kebutuhannya sendiri, termasuk mengurus izin sakit ke kampus. Di apartement pun, sendiri. Ibu hanya bisa mengisi gopay saja hahahaha.... Alhamdulillah dia tidak bergejala berat. Tidak pusing. Jadi bisa turun ke lobby untuk ambil makanan (lalu kembali ke unitnya sambil menyemprot jejaknya dengan disinfectant). Banyak yang mengirim dia makanan, meskipun berkali-kali dia telepon hanya untuk mengeluh kalau bosan. Aria isoman selama 7 hari. Hari ke-8 dia test dan negatif. Jadi segera kembali ke kos untuk berkuliah biasa. Alhamdulillah. 

Ibu nggak nengok? 

Nggak... soalnya ibunya juga akhirnya positif. Hadeh. Saat Aria memberitahu bahwa dia positif, saya sedang di kantor. Dalam perjalanan pulang, saya mampir bumame untuk tes juga. Sebagai yang kontak erat, rasanya wajar kalau saya cemas. Hasil antigen negatif. Tapi tetap kantor mewajibkan saya WFH selama 3 hari. Ok deh. Benar saja. Esok sorenya badan saya demam. Lalu tenggorokan sakit. Saya PCR, dan pedulilindungi menghitam. Yah. Oke deh. Akhirnya terkapar 3 hari. Tidur saja. Nggak bisa mikir. Dan saya baru negatif setelah 20 hari. Lama beneeeerrr..... 

Alhamdulillah sekarang sudah ok semua. Sudah ngantor dengan riang gembira lagi. Yang di Bandung sudah ceria. Dahlah... kopit ini memang menyebalkan. 


Tuesday, November 01, 2022

Tentang Status

Tadi pagi ada yang bertanya pada saya: saya termasuk yang mana, yang terbuka atau yang menutup-nutupi status ibu tunggal?

Hmm... bahkan sebelum resmi bercerai pun, saya "lapor" kepada bos di kantor bahwa saya sedang proses persidangan. Lapor ini konteksnya untuk membuat bos paham bahwa saya akan perlu izin setidaknya sebulan sekali untuk menghadiri sidang cerai.
Ketika pindah kantor, sebelum masuk, saya utarakan bahwa saya single mom. Ini bukan untuk pamer, tapi untuk memberi gambaran pada calon atasan bahwa saya kemungkinan akan perlu izin untuk mengurus hal-hal terkait anak saya. Misalnya untuk imunisasi, atau urusan sekolah, atau -amit-amit- kalau anak sakit, saya tidak akan bisa hadir di kantor. Tapi tentu saja T&C ini saya barengi dengan kinerja 100%.
Keterbukaan ini terbukti memudahkan saya dalam perjalanan karier. Saya sering bawa anak saya ke kantor. Dia beberapa kali ikut masuk ruang meeting dan bikin semacam playground mini di sudut. Pernah juga dia ikut tugas ke luar kota karena ketika hari penugasan, susternya sakit. Karena tidak ada yang bisa menggantikan tugas, saya angkut anak saya -waktu itu dia usia 4 tahun- ke tempat tugas. Bos ya oke saja, yang penting tugas saya selesai tepat waktu.
Btw, anak juga harus dijelaskan tentang urusan kantor ini. Jadi dia paham bahwa kalau pergi-pergi di hari kerja bukan untuk dolan, tapi menemani ibu bekerja. Akhirnya anak saya terbiasa main sendiri tanpa rewel kalau sedang di kantor ibunya. Aman. Alhamdulillah.
Saat pindah kantor lagi, di awal HRD menyebutkan bahwa kantor mulai pukul 8. Hmmm... sulit buat saya, karena saat itu anak saya masih di SD dan saya harus menyiapkan sendiri bekal makan siang dia. Kalau harus sampai kantor jam 8... kapan gue masaknyaaaaa.... Akhirnya saya diskusi dengan HRD, lagi-lagi saya sampaikan bahwa saya ibu tunggal. Dan akhirnya saya terima pekerjaan itu setelah HRD mengizinkan saya untuk datang pukul 9.30.
Dari semua pengalaman itu, saya belajar bahwa membuka diri soal status ternyata bisa memudahkan pekerjaan saya. Tidak ada yang perlu saya tutupi karena status janda bukan aib kok. Itu nasib yang harus saya jalani. Nggak takut digodain? Oh, saya cukup galak kalau ada yang bercanda tentang status janda.
Tentu saja, perlu saya buktikan dengan kinerja dan sikap yang betul, sehingga pada akhirnya semua orang tahu bahwa janda pun perempuan biasa yang juga bisa bekerja dengan baik dan tidak melulu kecentilan haus belaian laki-laki.
Hmm... kalau ngomongin haus ya hauuussss, Marimaaaarrrr... tapi nggak sembarangan juga yekaaaan....

Wednesday, September 21, 2022

Jatuh Cinta Lagi, Patah Hati Lagi

Senyum yang mengembang di wajahnya persis seperti yang saya lihat sekitar 13 tahun lalu, di halaman sebuah TK di Jakarta Timur. Senyum yang selalu membuat saya jatuh cinta. Bedanya, si pemilik senyum saat ini sudah lebih tinggi dari saya, sehingga, saat jumpa, dia bisa langsung memeluk bahu saya. 

Ternyata bukan hanya senyumnya, pelukannya juga masih sama. Erat. Seolah tak ingin lepas. Persis waktu dia kecil dulu. Saya pun sukarela melakukan hal yang sama, memeluknya bagai tak ingin berpisah sedetik pun. Dia adalah milik saya yang paling berharga. 

Kami baru berpisah dua hari. Dua hari yang menurut saya sangat lama. 

"Ibu nggak pengen pindah ke Bandung saja?" 

Pertanyaan itu sudah dia ajukan berkali-kali sejak dia tiba di kamar kosnya, dua hari sebelum kami berjumpa kembali. Dan pagi itu, di halaman rumah kos, dia ulangi lagi. Rasanya dia pun mengerti, dua hari berpisah darinya membuat perasaan saya kacau balau hingga sempat berpikir untuk pindah menyusulnya. 

Ya, Aria kuliah di Bandung. For some of you who have been following this blog since the beginning, in 2004... that little boy is now entering his university life. Yes, you read it right. My big boy is becoming a man. 

Sejak awal milih-milih sekolah, Aria memang nggak terlalu tertarik kuliah di Jakarta. Saya setuju saja, dan mendorong dia untuk memilih Yogya, atau Semarang. Saya selalu ingin dia merasakan hidup di kota yang dekat dengan darahnya sebagai orang Jawa. 

Kami sempat ke Yogya beberapa saat lalu. Mengintip ruang-ruang kelas di UGM. Karena hasil psikotes mengarahkan Aria ke jurusan arsitektur, kami blusukan hingga ke lab arsitektur UGM. Kami "disambut" pak ketua jurusan, yang terlihat gembira karena "anaknya Pak Ary mau kuliah di UGM". Iya, kakak saya beberapa kali menjadi dosen tamu di sana. Sambutan yang justru semakin membuat Aria tidak tertarik kuliah arsitektur karena belum-belum sudah tidak nyaman diidentifikasi sebagai "anak arsitek Indonesia yang disegani." Dan saya paham betul perasaan itu :) 

Lalu kami ke ISI Yogya. Ibu saya sempat bersekolah di sana. Dan Aria merasa jurusan seni murni atau desain bisa dijajaki. Ya sudah. Saya temani dia berkeliling kampus yang juga belum terlalu ramai saat itu. 

Perjalanan berakhir dengan... Aria belum memutuskan mau ke mana, tapi tetap mendaftar IUP Communication di UGM dan di Undip. Kenapa jadi mau masuk jurusan komunikasi? Dia hanya menjelaskan selintas bahwa dia tertarik pada apa yang saya kerjakan selama ini. Oh, okay.... 

Sekitar seminggu sebelum ujian IUP,  Aria liburan ke Bandung bersama teman-teman akrabnya. Berlima mereka menginap 2 malam di Bandung. Mungkin kota itu sangat mengesankan buat dia, karena sepulang dari sana, dia minta uang untuk beli formulir ujian masuk HI di Universitas Parahyangan Bandung. 

Bahkan Bandung tidak pernah masuk daftar kota yang saya sukai. Menurut saya, kotanya semrawut dan ruwet. Saya juga tidak paham Bahasa Sunda. Tidak ada kedekatan apa pun antara saya dan Aria dengan kota itu. Namun sebagaimana orang tua yang mendukung, saya mengizinkan Aria mendaftar. Toh, reputasi HI Unpar sangat bagus. Tapi karena Aria lebih ingin masuk komunikasi, dia lebih serius belajar untuk tes UGM & Undip. Meskipun ternyata... dia diterima di HI Unpar. Saya masih berpikir dia punya kesempatan menjajal masuk UGM atau Undip lewat SBMPTN. Tapi, Aria menolak. Dia nggak mau ikut SBMPTN, dan memutuskan akan kuliah di Bandung saja.  

Just as simple as that. He picked Bandung.  

Saya hanya bisa mendukung. 

Kami hitung segala kebutuhan dia. Oh, tabungan cukup sampai dia lulus. Alhamdulillah aman. Langkah berikutnya adalah mencari tempat tinggal. 

Perburuan kamar kos ini sungguh menggambarkan kepribadian Aria, sesuai cara dia dibesarkan. Sejak dia lahir, dia selalu tinggal di kamar yang berjendela besar. Kamarnya tidak selalu luas, tapi dia bisa melihat langit kapan saja dia mau. Kamar mandinya pun selalu kering dan bersih. Itulah yang dia cari sebagai tempat tinggal di Bandung. Susahnya minta ampun. Ha ha ha.... 

Dia tidak pernah mempermasalahkan ukuran kamar. Kamar kos yang standar memang jarang ada yang luas, kan? Tapi dia resah dengan ukuran jendela yang seringkali hanya selebar kertas HVS. Kami keluar masuk rumah kos di Ciumbuleuit hingga ke jalan Ranca Bentang. 

Sebetulnya, ada rumah om dan tante saya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus Unpar. Banyak kamar kosong di rumah itu karena dua sepupu saya tinggal di Jakarta. Om dan tante menyambut gembira Aria di rumah mereka. Tapi, Aria tidak mau. Dia lebih memilih di kamar kos. Dan berjanji akan sering-sering menemui eyang dan tuniangnya. 

Akhirnya Aria menemukan kamar yang dia mau di sebuah bangunan 4 lantai yang bentuknya mirip hotel kelas melati. Sejak awal melihat dari video yang dikirim pemilik kos (untuk bisa masuk, harus janjian dulu lewat wa, sehingga perlu hari lain untuk cek kamar itu), Aria sudah jatuh cinta pada satu kamar di lantai 3. Bukan karena kamarnya berperabot lengkap, tapi lebih karena kamar itu terlihat terang benderang dibandingkan kamar-kamar lain. Dan betul saja, ketika dijenguk, kamar itu berjendela besar sekali. Meskipun pemandangannya adalah atap, tapi bisa melihat langit. Kamar mandinya juga bersih. Rapi. Aria bahkan nggak peduli bahwa satu dindingnya miring, sehingga kamarnya jadi asimetris... ha ha ha.... 

Kegalauan saya dimulai sejak dia menemukan tempat tinggal baru. 

Terus terang saya tidak habis memikirkan apa yang terjadi jika tidak bisa melihat hidung anak saya saban hari. Saya sadar betul bahwa random peluk cium akan jadi hal yang sangat saya rindukan. Tapi tentu saja saya juga tidak bisa mengikatnya terus menerus. Sudah waktunya dia dilepas, melanjutkan jalan hidup yang dia pilih. 

Untuk "latihan", buat saya dan Aria, saya biarkan Aria berangkat lebih dulu, sendirian. Dia sempat tidak menyangka bahwa saya tidak mau mengantar, tapi saya tahu dia terlalu keras kepala untuk minta saya cuti. Hehehe... Jadilah dia pergi sendiri, di suatu hari Kamis pagi. Saya antar ke gerai travel, sebelum ngantor. 

Begitu travelnya berangkat, air mata saya nggak bisa berhenti. Sepanjang perjalanan ke kantor, saya mewek habis-habisan. Entahlah itu air mata apa, karena saya rasanya tidak boleh bersedih. Bangga mungkin? Ada unsur patah hati juga di dalamnya. Tapi juga bahagia. Hmmm... atau saya merasakan campur aduk antara semuanya. Yang jelas, tiba-tiba saya menghadapi kenyataan bahwa Aria meninggalkan rumah. Welcome to adulthood, son. 

Belakangan, Aria mengakui dia cemas, galau, juga sedih saat harus pergi dari rumah. Karena itu dia senang sekali saat tahu saya akan datang di akhir pekan, 2 hari setelah dia berangkat. Hahaha... iya... saya nggak mau nganter tapi nyusulnya cepet banget ya! 

Hari Sabtu, kami ketemu. Seolah sudah lama sekali nggak saling jumpa! Saya tahu, Aria kesepian. Dia memang bukan anak yang mudah bergaul, jadi akan sulit menemukan teman baru. Tapi saya sadar juga ini saat yang tepat mengajari dia untuk membuka diri pada pertemanan, selalu fleksibel pada perubahan, juga supaya bisa beradaptasi dengan cepat. Jadi saya habiskan hari Sabtu itu untuk membekalinya dengan segala tips and tricks. Knowing him... nggak bisa ngasih tahunya sekadar harus A, B, C... ngomong standar nggak akan dia pikirin. Hmm... untung ibunya storyteller... jadi bisa pakai dongeng-dongeng dan ngobrol sambil milih jaket atau celana panjang.

Hari Minggunya, Aria mengantar saya ke travel. Gandengan tangannya makin erat waktu kendaraan saya datang. Saya tahu, dia cemas. 

"Ibu beneran nggak mau pindah ke Bandung?"

"Kalau ibu di Bandung, kamu nggak bisa pulang ke BSD, dong?"

Wajahnya datar. Tapi matanya cemas. 

Saya cium tangannya yang menggenggam tangan saya. 

"Be brave. Be strong." 

Dia lalu memeluk saya. Kuat sekali. Saya balas dengan pelukan yang menggambarkan rindu saya yang tak akan pernah tuntas. Susah payah saya menahan air mata.

"Ibu harus sering-sering ke sini."

Saya mengangguk. Lalu naik ke mobil. Saya melambai. Dia menunggu hingga mobil saya berangkat. Leher saya tercekat saat melihat Aria melambaikan tangannya. 

Di dalam kendaraan, sepanjang jalan menuju BSD, air mata saya tumpah. Lagi-lagi saya menangis. Berderai-derai air mata, tidak bisa saya hentikan. Saya masih belum paham apa yang saya tangisi. Mungkin saya bangga karena anak saya bisa memaksa diri untuk tegar dan tangguh bersekolah di kota lain yang asing. Being brave and being strong. Mungkin saya cemas karena membayangkan kesulitan Aria beradaptasi. Mungkin juga hati saya seperti kosong saat membayangkan kamar anak saya yang tidak ada penghuninya. Atau, lagi-lagi, saya rasakan campuran dari semuanya, yang membuat dada sesak dan air mata membanjir. 

Bagaimana pun, saya tahu bahwa saya harus belajar melepaskan diri dari kemelekatan dengan Aria. Dia harus menyongsong masa depannya sendiri. Sebagian tugas saya usai, begitu dia menginjak dewasa dan pergi dari rumah. Saya hanya bisa mendampinginya dalam doa. Semoga dia selalu sehat, lancar bersekolah, dilindungi Allah SWT dalam setiap langkah. Aamiin. 

Akhirnya saya tahu, saya patah hati lagi. 



Friday, June 03, 2022

Perlukah Berduka

Saat libur lebaran kemarin, salah satu kenalan kehilangan suami. Meninggal dengan virus COVID-19, jenazah dimakamkan di Surabaya dengan protokol khusus. Beberapa hari sebelum meninggal, sang kenalan sudah mengabarkan soal suami yang kritis di ICU lewat semua kanal media sosial yang ia miliki. 

Kemarin, saya kontak salah satu teman di lingkaran pertemanan. Bertanya apakah akan menjadwalkan kunjungan ke rumah sang kenalan. Kalau ada, saya mau ikut. 

"Sudah, nanti saja datangnya. Dia nggak apa-apa, kok. Kesedihan sudah berlalu. Dia malah sekarang tampak lega dan merdeka." 

Saya agak tidak paham maksudnya, sehingga perlu bertanya lebih jauh. Dan penjelasannya bikin merinding. 

Ternyata,  yang dijalani teman saya bukanlah pernikahan bahagia. Dia banyak disakiti, secara fisik dan mental. Dipukul sudah jadi makanan sehari-hari. Dihina sudah seperti ngobrol biasa, katanya. Padahal yang terlihat dari luar adalah pasangan yang selalu romantis (paling tidak dari sisi si istri). Meskipun setelah saya ingat-ingat lagi, pujian serta cerita manis hanya datang dari satu sisi. Dan di foto pun, si suami akan selalu tampak garang dan siap berkelahi. Tapi kan memang ada orang yang wajahnya ngajak berantem melulu ya? 

Saya mendapat cerita bahwa beberapa kali teman-teman akan datang menghibur sambil membawakan makanan, karena si kenalan tidak bisa keluar rumah dengan wajah biru lebam. Astaga. 

Yang juga menyedihkan, si istri dipaksa mengikuti kesenangan suami memelihara anjing. Dari awalnya takut setengah mati, sampai akhirnya berhasil merawat belasan anjing ras. Untungnya, binatang-binatang ini adalah peliharaan yang manis dan tahu terima kasih. Mereka sayang sekali pada teman saya itu. 

Cerita masih berlanjut bahwa setahun terakhir, si suami terserang kanker. Sehingga harus menjalani pengobatan berbelit yang panjang, menguras tenaga juga dompet. Nggak usah dibahas siapa yang bayar, karena selama ini semua orang juga tahu bahwa teman sayalah bread winner keluarga itu. 

Sebuah cerita yang pilu. Bahwa 19 tahun pernikahan dipenuhi KDRT.  Dan semua pelukan mesra serta ucapan cinta yang diumbar di mana-mana lewat foto atau cerita hanyalah kisah yang nggak bisa dideteksi kebenarannya.  

Saya tidak bisa membayangkan. Dan tidak mau. Hanya bisa mendoakan, semoga inilah waktu si kenalan menjemput kebahagiaan yang sesungguhnya, yaitu setelah suaminya berpulang. Allah SWT selalu memberi jalan terbaik. Alhamdulillah. 

Thursday, April 28, 2022

Standard & Expectation

Di posting yang lalu, saya sudah menyebut soal beberapa orang yang saya kenal dari dating site dan menjadi teman ngobrol sampai saat ini. Tidak sekadar ngobrol, ada yang akhirnya jadi freelancer untuk kantor saya dan ada juga yang bersedia membantu Aria saat perlu mentor untuk tugasnya. Intinya, masih ada kok orang-orang baik di sana. 

Percakapan dengan mereka sangatlah random. Tapi baru-baru ini, ada yang bertanya, apakah saya memang masih butuh pendamping? Saya tanya alasannya bertanya. 

"Karena sepertinya lu ga butuh siapa-siapa. Lu dipuji aja nggak mempan. Ngerayu lu pasti susah minta ampun."

Saya ngakak. 

Bisa jadi, itu gara-gara dia. Selama saya menjadi singlemom, mungkin separuh perjalanan ada dia yang menemani saya. Seseorang yang baik hati. Tak hanya manis budi, dia pun cerdas luar biasa, taat beragama, dan selalu mau membantu saya. Saya bisa bilang bahwa dialah yang menuntun karier saya hingga seperti sekarang. Tanpa basa-basi berlebihan, dia akan datang dan membereskan hal-hal yang sekiranya memberatkan hidup saya, di kantor atau di rumah. Bantuannya sering hadir tanpa diminta. Belum lagi kejutan, kecil atau besar, yang sering dia buat. Intinya dia sudah mencuri hati saya habis-habisan. 

Si pencuri hati ini sekaligus juga membuat sebuah standard soal laki-laki yang saya pikir sepatutnya ada di sisi saya. 

Ketika akhirnya kami tidak bisa bersama, dia pergi. Tapi, standard yang dia susun tertinggal di kepala saya. 

Sejak itu, belum pernah saya menemukan lagi seseorang yang bisa memenuhi semua standard yang saya buat gara-gara dia. Bisa dibilang, misalnya di daftar ada 7... nilai tertinggi yang bisa dicapai laki-laki setelahnya -sampai hari ini- paling hanya 4. Hehehe.... 

"Tapi, lu mesti nurunin ekspektasi kalau masih mau cari suami."

"Setuju. Gue udah gak berharap apa-apa kok. Tapi kalau misalnya nih, ada yang deketin gue, trus nggak oke. Ya masak gue terusin? Ekspektasi boleh turun... standard sih kayaknya jangan yaaa...." 

"Harus milih sampai segitunya?"

"Ya... gue beli sepatu aja lama, apalagi pilih suami."

Gantian dia yang tertawa ngakak susah berhenti. 

"Cah edan, suami disamain sama sepatu."


Saturday, April 23, 2022

Tipa Tipu Playboy Kemplu

Laporan mendalam hasil survey harian Kompas, tampil dua hari berturut-turut. Soal scammer lokal dari situs kencan, mirip Tinder Swindler. Korbannya pasti banyak. Rugi puluhan juta & terjerat pinjol. Jangan dikira yang jadi korban sekadar perempuan bucin, karena ada yang dokter, pengusaha, PNs. Artinya? Perempuan pintar pun bisa teperdaya.

Dating side memang fenomena menarik. Apalagi saat perjumpaan dibatasi karena pandemi. Seru sih, kenalan dengan orang baru yang sama sekali nggak tahu latar belakangnya. Ngobrol tanpa saling tahu apa-apa, lalu menemukan bahwa dia ternyata pandai main biola atau punya usaha tambang di pulau terluar Indonesia. 

Tapi… yang tipu-tipu juga ada (banyak banget). Misalnya baru kenal seminggu trus hp-nya kecemplung sumur jadi minta dibelikan hp baru. Atau tiba-tiba ibunya masuk ICU padahal ga punya BPJS jadi minta bantuan dana. Atau pas tahun ajaran baru, anaknya perlu buku baru padahal motor juga pas masuk bengkel alias banyak pengeluaran. Ealah… 

Yang saya paham, hanya laki-laki ra duwe udel yang minta duit sama perempuan. Terserah perempuannya sih. Kalau mau ngasih… apalagi karena alasan cinta (gundul amoh)… ya siap-siap aja terjerat bujuk rayu playboy cap tikus.

Saya pun beberapa kali kenal teman baru lewat situs kencan. Tidak selamanya harus jadi pasangan, beberapa jadi teman ngobrol sampai saat ini (hello, you 🥰). Yang mau minta uang juga ada. Tapi yaaaa… ga bakal saya kasih wong saya juga nabung sampai mringis-mringis. Sebagai sahabat pegadaian, saya akan anjurkan para peminta sumbangan itu buat menggadaikan barang-barang. Ga punya? Ya gadaikan saja cintamu, mas…. Gombal mukiyomu kuwi jajal… iso ra mbok dol.

Balik lagi ke liputan Kompas… saya bayangkan banyak juga perempuan yang tidak melapor setelah jadi korban. Malu karena tertipu? Malas berurusan dengan hukum? Menyebalkan sekali memang bahwa pria mbelgedhes itu jadi masih terus berkeliaran cari korban baru. Karena itu, wahai para perempuan… waspadalah waspadalah!

Friday, January 28, 2022

Away, for A While

Sudah sejak awal bulan, saya sering uring-uringan. Beberapa orang yang kenal dekat dengan saya paham bahwa ada yang tidak beres, ketika saya malas ke kantor. Saya? Yang selama ini cuma punya dua dunia: kantor & Aria, dan tiba-tiba nggak suka ke kantor. Nggak bener itu. 

"Kamu burn out." Kesimpulan dia setelah saya ceritakan apa yang saya lalui. 

Bisa jadi. 

"Take some time off," sarannya.

Kebetulan yang sangat menyenangkan adalah bahwa mulai tahun ini, kantor saya memberlakukan unlimited leave. Jangan tanya bagaimana dan kenapa ya. Memang keren kok kantor ini... hahaha.... Tapi, kok ya nggak nyaman mau ninggalin tim gusrak-gusruk tanpa saya. Ya dah... nggak usah cuti... WFE, work from everywhere aja deh. Yuk. 

Aria gimana? Ikut dong....  Saya (dan Aria) akhirnya keluar dari BSD. Rencananya, kami akan menghabiskan beberapa hari di beberapa tempat. Mengarah ke Timur, sambil melihat-lihat kemungkinan tempat sekolah Aria nantinya. 

HORE! 




Monday, January 10, 2022

Time Flies When We are Having Fun

Saya tidak akan pernah lupa sore itu. Kami ngobrol sambil ngemil di depan sebuah gedung pertunjukan, menunggu pementasan dimulai. Gedung itu ada di dalam kompleks fasum di tengah Jakarta. Sudah ada sejak lama. Dan di dalamnya ada sekolah seni. Jadi, mahasiswa sekolah seni biasa mementaskan tugas akhir mereka di gedung itu. Banyak nama tenar mengawali karier dari wilayah gedung itu. Sementara di hari biasa, para mahasiswa ini akan terlihat di mana-mana. Sore itu pun begitu. Sekeliling kami nampak beberapa mahasiswa dengan aktivitas masing-masing. Ada yang ganteng, tapi lebih banyak yang awut-awutan, seperti mengonfirmasi gambaran seniman. 

"Anak-anak ini... jangan-jangan nggak pernah mandi?" kata teman saya. 

"Hahahahaha... apa kelihatan?" jawab saya sambil tertawa. 

Waktu itu, Aria masih kecil. Mungkin sekitar 2 tahun umurnya. Anak yang manis. Jarang rewel. Cukup mudah diatur. Dan, menurut saya, ganteng. 

"Nggak kebayang sih, kalau Aria suatu saat akan minta sekolah di sini. Trus jadi seperti anak-anak itu. Yang nggak pernah mandi. Hahaha...." 

"Duh, itu nanti saja dipikir kalau Aria sudah besar. Masih lama."

Lalu... siapa yang menyangka bahwa "masih lama" itu saat ini sudah jadi "sekarang"? Sungguh. Aria betulan mengajak diskusi untuk masuk sekolah seni itu. Dan saya, sebagai orang tua masa kini yang harus mendukung kebaikan, tidak punya pilihan selain menanggapi diskusi sebaik mungkin. 

Kami bicarakan konsekuensi, kelebihan, kekurangan, dan lain-lain yang mungkin akan dihadapi para seniman (dan yang terlibat di dalamnya). Kami pelajari kesanggupan Aria mengatasi semua yang mungkin terjadi. Kami cari info tentang kesempatan yang tersuguh di dunia seni ini. Apakah hingga 10 atau 20 tahun ke depan masih akan tetap menarik? Dan lain-lain.... 

Sungguh saya tidak menyangka bahwa kejadian yang kami bicarakan sore itu akan hadir secepat ini. Seperti tiba-tiba, saya harus menghadapi diskusi dengan Aria perihal pendidikan lanjutan. Dia yang semasa kecil manis dan jarang rewel itu... sudah akan menjadi mahasiswa. Rasanya kok baru kemarin dia hadir, belajar bicara, belajar berjalan... dan seterusnya. Lalu, sekarang saya harus bersiap melepasnya menghadapi dunia di atas kakinya sendiri. 

Fix, ibu sudah tua. 


Friday, January 07, 2022

Tersembunyi

"Kenapa orang itu hubungi kita kalau ada keperluan saja?"

Teman saya gusar. Ia bercerita bahwa beberapa hari terakhir, teman dan kerabat bergantian menghubungi. Sungguh tiba-tiba, setelah sekian lama diam saja. Dan dia sudah menduga, ada saus kinca di balik serabi. Setelah basa-basi, lalu minta bantuan dana. 

"Sudahlah. Bosan saya," gerutunya. "Kenapa nggak ada yang peduli tanya kabar? Kok nggak ada yang memang pengen tahu saya bagaimana? Saya sakit juga nggak ada yang tengok."

"Aku peduli. Aku cemas kalau kamu sakit. Dan sekarang aku kangen kamu," jawab saya cepat, lebih cepat dari menarik napas. 

Yang di sana diam. Jeda sesaat. Saya bayangkan dia nggak tahu harus bereaksi bagaimana. Hahaha... rasain. 

"Kalau saya mati, mungkin nggak ada yang gubris." 

"Kata siapa?"

"Kata saya." Keluar lagi edisi keras kepala. 

"Aku peduli."

"Ya sekarang."

"Aku nggak ngerepotin kan? Nggak pernah nelepon cuma buat pinjam uang, kan?"

"Ya sekarang. Bisa berubah. Bisa berbeda. Nanti. Siapa tahu." Makin kepala batu. 

"Aku nggak gitu, lho."

"Ya... semoga.... "

"Ya sudah. Yang penting, kamu jangan mati dulu. Jangan sekarang. Nanti aku sedih," kata saya. 

"Ya ya... baiklah. Kebetulan saya bukan PLN, jadi memang nggak nyala mati, kok." 

Intinya, kamu nggak tahu ada yang kangen, bukan berarti nggak ada yang merindukan kamu. 





Thursday, December 16, 2021

Bye Bye

Pagi itu, sebuah foto dia kirim ke ponsel saya. 

Keterangannya singkat saja, "Finally." 

Saya tidak pernah tahu objeknya. Yang saya tahu, beberapa minggu terakhir dia sibuk memperbarui kandang ternaknya. Ada beberapa ternak yang siap melahirkan, dan dia tak ingin induk-induk itu melahirkan di kandang bobrok yang menurut ceritanya sudah nyaris rubuh. 

Karena cerita soal kesibukan dengan kandang itulah, saya berkesimpulan bahwa foto itu adalah foto kandang baru. Bangunannya kokoh. Tampak rapi dan presisi. Dia kerjakan dengan tangannya sendiri. 

Apa pun yang saya lihat, komentar pertama saya adalah memberinya selamat. Tak lama, ponsel saya berdering, namanya berpendar di layar. 

"Hey you, selamat pagi dan selamat berbangga atas kandang baru." 

Tawanya panjang sebelum menyahuti salam saya. Tawa penuh kepuasan. Kemudian dia bercerita proses membangun kandang itu. Sambil menjelaskan fungsi tiap bagian yang saya tidak paham. Lalu dia bawa saya berkelana dalam kisahnya mencari kayu yang bagus, besi yang sesuai, hingga lapisan plastik yang dia inginkan. Dia ceritakan juga bahwa proses membangun kandang membuatnya punya banyak alat bertukang yang baru. Alat yang lebih lengkap, yang menginspirasinya untuk membuat kandang ke-2 dan ke-3. Juga rumah olah pakan. Hampir dua jam kami membicarakan kandang dan perlengkapannya, juga kisah-kisah lucu yang membuatnya belajar dan kemudian ahli kerja tukang untuk segala hal tentang kandang, sesuatu yang hingga tahun lalu pun tak pernah dia lakukan. Percakapan kali ini membuatnya terdengar bahagia. Dan bangga. 

Hmm... sampai kapan sibuk dengan kandang? 

Dia tertawa sebelum menjawab, "Saya serius menggarap ini. Berurusan dengan manusia sangatlah melelahkan saya."

Saya tidak punya pilihan selain menyemangati, seperti yang biasa saya lakukan. Saya janji akan menemuinya kapan-kapan, jika jadwal memungkinkan kunjungan ke arah Timur. Dia tertawa lagi dan mengatakan tidak sabar memamerkan lingkungan barunya pada saya. 

Lalu dia teruskan bercerita lagi tentang rencana-rencananya dengan kandang 1, 2, 3, dan macam-macamnya. Saya tidak pernah mendengarnya sesemangat itu. Dan... hati saya seperti dicubit karena merasa bahwa saya tidak ada dalam rencananya itu. 

Kandang dan segala isinya adalah dunianya yang baru. Yang dia bentuk dan susun melalui rencana cermat. Hingga dia memutuskan sepenuhnya meninggalkan hidup di kota besar. Sepertinya dia telah memilih perjalanannya yang berikut. Dia semakin menjauhi saya. 



Thursday, December 02, 2021

Gaya Hidup atau Hidup Gaya?

Percakapan random semalam sempat nyerempet topik UMR. Lalu gimana rasanya punya gaji Jakarta dan hidup di Jawa Tengah? 

"Ya pasti gembira banget," kata saya, ingat pernah makan mewah tapi membayar hanya setengah dari harga makanan serupa di Jakarta. 

Dia yang tinggal sekitar 460 km dari rumah saya cuma ketawa. "Ya makanya saya jarang ke Jakarta. Dulu tinggal di Jakarta, gaji rasanya nggak pernah cukup." 

"Gajimu dulu kan nggak kecil."

"Hitung lagi deh, kamu bisa hidup dengan gaji sebesar itu?"

Lalu tadi pagi, setelah drop Aria di sekolah, saya ke supermarket langganan. Belanja ini itu termasuk makanan-makanan kesukaan dan buah yang kualitasnya jempolan karena ini supermarket kelas A. Sampai di kasir, seperti biasa tinggal bayar nggak usah mikir dan tanpa cemas. Ciri khas ibu tunggal yang mandiri secara finansial kan ya... hahahahaha.... 

Lalu ingat obrolan semalam, kalau gajinya tidak sebesar sekarang, apa masih bisa hidup segembira ini? 

Sampai rumah, setelah mandi dan beresin belanjaan... keluarin bon dan mulai cek ini itu. 

Misalnya... Pyramid diganti Filma. Trus Fillipo Berio jadi Bertoli? Atau nggak usah? Pasta pakai Mamasuka. Wisjman buat bikin kue? Anchor olesan roti sarapan? Wis to Blueband wae! Nggak usah beli pesto sauce, bolognaise bikin sendiri saja. Beli matoa sama kelengkeng buat apa? Asupan buah? Pepaya sama jeruk medan kan bisa. Sushi? Lemper aja lah.... 

... dan seterusnya... dan seterusnya... sampai "mengubah" secara khayal angka yang harus dibayar jadi cuma 1/3-nya. 

Bisa. Sejuta cukup buat sebulan serumah. 

Cek buku pengeluaran, yang terbesar ya sekolah Aria. Kalau ibunya nggak punya uang banyak, masuk sekolah negeri saja. Gratis. 

Semua dihitung ulang. Seandainya budget jajan, jalan-jalan, hura-hura dikurangi, tapi investasi dan asuransi tetap... perlu gaji berapa? Oh. Ya.  

Kesimpulannya? Semua cukup. Selalu cukup. Karena memang sudah porsinya. Pengeluaran mengikuti pemasukan. Supaya nggak sesak nafas. Belanja yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan, biar nggak cegukan. 

Hidup buat bergembira, bukan buat gaya-gaya. Rumah ada. Mobil ada. Ukuran standard, cukup buat berdua. Aman lah. Alhamdulillah. Selama ini ternyata lumayan bisa mengatur budget. Ternyata bisa. Alhamdulillah. 

Tuh... bisa kan.... 






#ehkelepasanmaubilangsa... (hilang sinyal) 

Wednesday, December 01, 2021

Cannot Wait

 ... tell me everything about you...

never felt like this before... the love is so true. 

I won't take two, just you.

Saturday, October 23, 2021

The Morning Glory

 Beberapa orang yang keluar dari mesjid usai sholat Subuh menganggukan kepala pada kami. 

"Bade tindak pundi, Bu?" seseorang menyapa kami dengan ramah. 

Ketika saya katakan bahwa kami sedang mencari tempat sembahyang, segera dia antar kami ke mesjid kecil. Satu-satunya di wilayah itu, bersebelahan dengan gereja. Dia tunjukkan pula tempat wudhu, dengan melepaskan sumbat yang tertempel di sebuah guci besar. Dia lalu mengatupkan tangan di dada, pamit.  

"Matur nuwun." 

Saya nikmati kesegaran pagi di tempat itu. Air wudhu yang membasuh kepala bisa mengusir kepenatan saya. Kesegaran udara memenuhi paru-paru saya. Selesai berdoa, kesunyian di ketinggian 1720 meter melingkupi saya. 

"Tempat ini luar biasa." Suaranya memecah hening. "Coba lihat ke luar. Kalau langit cerah, akan tampak bayangan gunung di sekitar. Ada enam. Atau tujuh, ya? You have to see, it is magical," tambahnya.

Saya kenakan alas kaki sebelum menyambut gandengan tangannya. Dia bimbing saya menuju jalur pendakian terdekat. Sebagai pecinta alam, kawasan di dalam Taman Nasional ini tentu ia akrabi.  

Betul katanya, pemandangan sekitar kampung kecil itu luar biasa mencengangkan. Matahari terbit mengantar sinar cemerlang ke langit. Pagi itu, saya melihat Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Telomoyo. Tiga lainnya tampak mengintip dari balik kabut yang perlahan pudar. 

"Tunggu sampai semua kabut terangkat...."

Ketika kami duduk di sebuah luasan tanah, menghadap salah satu gunung, matahari sudah naik seutuhnya. Seluruh gunung di sekitar kami menampakkan diri. Megah. Saya dengar dentang lonceng dari gereja di sebelah mesjid, menunggu jemaah ibadah Minggu. Gema lonceng terdengar hingga jauh. Gaung yang terbawa angin, meninggalkan suasana syahdu dalam kalbu. 


Friday, October 22, 2021

Puja

Kami baru selesai olah raga pagi. Hari Minggu selayaknya dihabiskan untuk bersantai sepuasnya sebelum besok kami harus kembali ke rutinitas kerja yang seolah tak berjeda. Hmm... mau makan siang apa ya enaknya? 

Saya baru saja hendak menyalakan televisi ketika dia keluar dari kamar. 

"Aku harus ke Timur." 
"Hari ini?"
"Puja kritis." 

Kekesalan mendadak hadir di hati saya mendengar nama itu. Setelah sudah cukup lama tidak terdengar, kenapa sekarang ada lagi? 

"Betul-betul harus?"
"Dia kritis, Mas. Rasanya...hmm... okay, mobilku baru minggu lalu dari bengkel. Mestinya aman dibawa sejauh 400 kilometer."
"Kamu menyetir?"
"Rasanya naik pesawat pun tidak akan mudah, Mas. Kalau berangkat sekarang dengan mobil, pukul 17 aku sudah ada di sana. Siapa tahu masih sempat...," dia tidak meneruskan kalimatnya. Saya lihat luka di sorotan matanya. 
"Ayo, saya antar." Tiba-tiba saja kalimat itu keluar dari bibir saya. Sekesal apa pun, tidak mungkin saya biarkan dia sendirian mengendarai mobil sejauh 459 kilometer. "Saya pulang sebentar, ambil baju ganti dan komputer jinjing. Ada meeting yang tidak bisa ditunda, besok bisa saya lakukan dari sana. Saya temani. Biar saya yang mengemudi."
"Kamu nggak harus...."
"Sudah. Kamu siap-siap saja. Saya antar. Tidak apa-apa. Sejam lagi saya kembali. Tapi maaf, kita harus pakai mobilmu karena mobil saya sudah waktunya servis. Kamu sudah hubungi Radya?"

Dia diam saja. Wajahnya bingung. Saya kecup pipinya. "Mudah-mudahan kita tidak terlambat."

Dia mengangguk. "Terima kasih," gumamnya. 

"Telepon Radya. Dia harus tahu kondisi ayahnya." Saya kecup lagi pipinya sebelum bergegas pulang mengambil keperluan saya. 

Satu jam kemudian, kami sudah melaju di jalan tol menuju Jawa Tengah. Kota-kota di Pulau Jawa seolah jadi dekat dengan adanya jalan tol ini. Perkiraan saya, sebelum senja kami akan tiba di kota tempat kelahiran Radya. 

"Apa kata Radya tadi?"
"Ya... dia nyaris tidak berkomentar. Kuduga dia tidak tahu harus bilang apa." 
"Yang penting dia sudah tahu."
"Aku malah merasa bersalah, jangan-jangan membuat dia memikirkan hal yang mungkin tidak penting buatnya." 
"Saya rasa Radya sudah cukup dewasa untuk bisa mengabaikan hal-hal yang menurutnya tidak perlu dia pikirkan."
"Selama ini, toh ayahnya tidak pernah ada dalam hidupnya. Apa bedanya ada atau tidak ada?"
"Dalam hal ini, saya harus sepakat dengan Radya."
"Tentang?"
"Puja mungkin tidak penting buat Radya, tapi dia tetap bagian dari masa lalu yang masih melingkupi kamu." 
"Ya...." 
"Sudahlah. Tidak apa-apa. Saya paham." 

 

 

Thursday, October 21, 2021

Untukku

 "Ini. Calon profesor. Pinter laaah.... Kamu kan bawel kalau aku kenalin sama yang menurutmu tidak oke secara akademis... ha-ha-ha...."

Sambil tertawa, tangan Mitcha mengulurkan ponselnya. Tampak sesosok pria di layarnya. Lumayan tampan. 

"Hmm...."

"Kok cuma hmm.... Gimana, gimana?" Mitcha mengedip-ngedipkan matanya. 

"Single?"

"Iya dong! Makanya kukenalkan ke kamu. Sudah dua tahun istrinya wafat. Anaknya satu, perempuan. Masih balita."

"Sudah mau jadi profesor tapi punya balita?"

"Yaaa... bisa saja terlambat menikah karena terlalu asyik belajar."

"Umur berapa dia?"

"Hmm... 50? Ayolah... coba kenalan saja dulu. Tidak ada ruginya menambah teman." 

Mitcha tertawa lagi. 

"Pasrah aku, Mi." 

"Mau ya... mau ya... nanti aku berikan nomor ponselmu ke dia. Biar dia urus sendirilah. Masak sudah mau jadi profesor, beginian nggak bisa." 


***


Friday, October 15, 2021

Let Me Try

Saya sedang merapikan buku di rak buku panjang, ketika saya lihat mobil putih berhenti di ujung kampung. Mobil itu. Yang tiga tahun lalu sering menjemput saya dari kantor dan menjadi saksi kebahagiaan saya bisa bercakap-cakap dengan dia sepanjang perjalanan pulang. Ketika pemiliknya keluar, dunia saya seperti berhenti. Betul itu dia. Jangkung menjulang. Tampan. Berjalan mendekati rumah saya. Saya menyambutnya di pintu. 

"Tempatmu ini terkenal sekali di medsos!" 

Khas dia. Tidak pernah membuka percakapan dengan "halo" atau "apa kabar." 

Dia serahkan bunga di tangannya. "Beautiful flowers for beautiful lady," katanya sambil mengecup pipi saya. "Bau apa ini? Sepertinya enak." Lalu dia berjalan menuju lemari kaca. Di sana ada Anin, asisten saya, yang sedang memasukkan piring-piring berisi mangkuk makaroni yang baru matang. Saya beri kode pada Anin untuk melayani yang dia mau. 

"Saya mau cappucino. Hmm... saya mau itu juga, kelihatan lezat." Lalu dia bercakap-cakap dengan Anin sambil memilih topping donat, sementara saya mencari vas. Hati saya hangat. Dia belum lupa bahwa saya sangat suka mawar segar warna putih. 

Ketika saya kembali ke depan dengan vas yang penuh bunga, dia sudah duduk nyaman di salah satu meja dekat jendela. Di depannya, secangkir kopi, donat yang sudah digigit, dan buku yang terbuka. Sikapnya seperti sudah terbiasa melakukan itu. Ah... mungkin memang dia sudah terbiasa. Toh dia sering begitu. Dulu. Di dapur rumah saya di Jakarta. 

"Ini enak banget," dia mengacungkan jempol ketika melihat saya mendekat. Tangan yang satu menunjuk ke piring dan cangkirnya. 

"Terima kasih. Aku memang beruntung kenal Anin. Dia yang mengatur semua makanan dan minuman."

"Begitu foto-foto tempat ini beredar, saya langsung tahu, ini pasti milik kamu. Selamat ya. Kamu berhasil mewujudkan impianmu." 

Dia. Masih. Ingat. 

"How did you know it is mine? Rasanya tidak pernah ada namaku di mana-mana...." 
"Tahulaaahh.... Bentuk bangunannya. Warna interiornya. Dan buku-buku yang ada. Sepertinya mereka bisa mengatakan pada saya bahwa mereka itu pilihan kamu." 
"Gombal."
"Hahaha... kamu memang tidak pernah percaya pujian saya. Tapi, serius, kali ini kamu harus percaya bahwa ini enak sekali," lalu dia gigit donatnya. 

Dan begitu saja dia makan sambil bercerita tentang kesibukannya. Tentang tempat-tempat yang disinggahinya selama empat tahun belakangan. Dia ceritakan bahwa anjingnya yang saya kenal sudah wafat, lalu dia mengadopsi anjing lain dari tempat penampungan. 

Dia tidak berubah. Dia masih sama. 

Orang yang sama yang saya jatuhi cinta bertahun-tahun lalu. 



(Part 1) 




 



Friday, August 27, 2021

After 10 Years

Hello there.... 

Tadi pagi diingatkan oleh FB bahwa Aria pernah mengirim sederet permintaan for you. Lupa konteksnya apa, tapi sepertinya dia perlu upeti sebelum ibunya boleh diajak pelesir. Astaga... ibu ditukar dengan benda-benda.... 

Meskipun kondisi sudah sangat berbeda, diingatkan pada kejadian bertahun lalu, rasanya seru juga. Rasanya beruntung pernah mencatat yang dilakukan atau dialami pada satu waktu, dan kemudian mengenangnya setelah sekian lama berlalu. 

Kemarin, dalam ngobrol santai cekakakan bersama teman penulis yang ada di satu grup wa, kami teringat bahwa tahun depan adalah tepat 10 tahun sejak antologi The Single Moms diterbitkan.  Apa saja yang terjadi selama 10 tahun ini? 

Ternyata... kami masih single di tahun ke-9 hahahahahaha.... 

Lalu tercetus ide untuk menulis yang terjadi setelah 10 tahun. Apakah yang kami tulis di buku itu masih bisa dijalankan saat ini? Seandainya ada rencana-rencana, bagaimana perwujudannya? 

Jadi saat ini, saya mengumpulkan niat untuk menuliskan gegap gempita hidup saya 10 tahun terakhir. Seru. Lucu. Kadang gagu juga sih. Banyak tulisan di blog ini yang akan saya intip, untuk sumber inspirasi. 

The challenge: can I minimize your "domination" in the story? Ahahahaha....