I feel lonely. There is a big hollow in my heart. I still think of you hundred times a day. I wish you know, I wish you give me clue.
Takdir itu ada, hari esok itu ada.
Thursday, August 15, 2019
Wednesday, August 14, 2019
Missing... Who? What?
It has been a while since the last time we talked. And there are so many things I want to share with you. So many moments I want you to witness. But... where are you?
And then I learnt to let things go by, try to swallow everything, keep them all by myself. And amazingly, I can do that. I am indeed stronger than I thought. Everything went on very well.
Then one thing crossed my mind... do I really miss you?
Or I just miss the light conversations with you on my way to office? Your calls during the day? Your story of the kids? Your notes, here and there, asking about my whereabout? Your lunch reminders? Your smile when seeing me in my office lobby? Your gentle ways of driving me home? Your surprise flowers? Your hand holding mine? Our midnight chat about your dreams? Our ideas of future homes?
Basically those were merely things. And we know for sure: things disappeared eventually. So... why bother?
And then I learnt to let things go by, try to swallow everything, keep them all by myself. And amazingly, I can do that. I am indeed stronger than I thought. Everything went on very well.
Then one thing crossed my mind... do I really miss you?
Or I just miss the light conversations with you on my way to office? Your calls during the day? Your story of the kids? Your notes, here and there, asking about my whereabout? Your lunch reminders? Your smile when seeing me in my office lobby? Your gentle ways of driving me home? Your surprise flowers? Your hand holding mine? Our midnight chat about your dreams? Our ideas of future homes?
Basically those were merely things. And we know for sure: things disappeared eventually. So... why bother?
Tuesday, August 13, 2019
Be Happy
Ketika tahu mama akan naik haji... banyak sekali yang titip doa. Dari mulai doa sehat, doa rejeki yang beragam banget mulai dari sukses usaha sampai sukses bayi tabung... dan yg nggak kalah banyak adalah titipan doa supaya pernikahan langgeng.
Waktu dengar ada yg titip doa pernikahan langgeng, pap hanya komentar pendek, "Langgeng tapi nggak bahagia, buat apa?"
Baiklah mengaminkan saja doa2 yg dititip ke mama... hanya jadi pengen bahas soal bahagia dalam companionship.
Dulu itu, ketika keputusan gue untuk bercerai sdh "bisa diumumkan" ke keluarga... reaksi pertama sebagian besar anggota keluarga di sana... nyaris sama. Mereka menolak. Alasannya macam2. Dari mulai kecemasan soal finansial sampai soal nama baik. Herannya, jarang banget yg memikirkan masalah kebahagiaan gue yg menjalani pernikahan itu. Dan yg lebih hrs ditanya adalah ... tokoh satunya mau apa nggak menjalani terus?
Gini, gue ditinggal. Trus gue memaafkan, menerima kembali. Tapi tetep ditinggal. Dan nggak ada yg peduli apakah gue bahagia atau enggak, yg penting jangan cerai. Huehehehehe... tidak demikian ceritanya, Fulgoso! Kenapa ya nggak ada yg kepikiran hal happy itu (terutama dari keluarga sana). Seolah kebahagiaan gue nggak ada urusannya dalam pernikahan gue sendiri, nggak penting. Yg penting status, yg penting materi. Sepertinya ada keyakinan kalau bahagia akan datang sendiri setelah ada status istri dan dihujani materi. Hmm....
Dan pikiran itu pun sempat meracuni gue, dalam arti, gue "sempat tergoda" buat mencoba tetap berstatus istri yg terjamin kehidupan finansialnya. Hahaha.... Bayangin aja, pegawai kroco di kantor, tapi ke mana2 naik mercy seri tebaru yg supirnya pakai baju safari, dan pulang pergi dari rumah yg ukurannya seluas SD Inpres. But then I understood that happiness comes from inside my heart. Jadi semua atribut itu nggak penting banget. Sejujurnya... naik turun mercy itu malah bikin gue merasa spt perempuan simpanan pejabat hahahaha....
Ketika gue sadar soal bahagia yg harus diwujudkan, gue memutuskan pulang ke rumah nyokap, kembali ke kamar mungil gue. Mengganti kasur ukuran queen dengan kasur single plus satu boks bayi (krn kamarnya sempit banget) ternyata lebih membahagiakan. Pulang pergi kantor naik mikrolet juga nggak apa2... apalagi kalau hari2 gajian masih bisa kok bayar taksi. Oke2 aja. Mungkin krn gue paham apa pun yg gue pakai dan manfaatkan beneran punya gue tanpa embel2 apa pun, bukan pinjaman bukan pemberian yang akan membuat gue spt punya utang... gue merasa lebih tenang. Dan ketenangan itu bikin gue merasa lebih happy. Saat itulah gue yakin bahwa merasa bahagia sangat penting buat kesehatan jiwa. Dalam kondisi gue yg hamil saat itu, bahagia ini ternyata menjaga anak gue dari menyandang sindrom2 macam2.
Dari pengalaman finding happiness... kalau skrg ada teman yg cerita ttg nggak bahagia dalam pernikahan tp juga nggak bisa memutuskan untuk melangkah bertindak.... gue nggak habis pikir. Nggak harus selalu cerai lho ya. Kan bisa diurai dulu di sebelah mana yang nggak bahagia, lalu dicarilah cara supaya menemukan kembali bahagia. Ya mbok ngobrol sm pasangannya, curhat gitu... masak nggak didengerin.... Kalau sama pasangan udah nggak didengerin... pernikahannya pasti udah ga bener. Ya itu dulu yg dibenerin. Easier said than done? Ya memang siapa yg bilang menikah itu gampang?
Nah... patokan bahagia ini jugalah yg bikin gue hati2 kalau dekat sm seseorang. Seberapa besar pun keinginan gue menikah lagi, ketika kenal orang baru, gue akan sangat ngitung ini itu. Begitu ada satu hal aja yg "nyangkut" ... gue akan langsung back off dan berkontemplasi. Bukan nggak mau berusaha ya, hanya mencoba menakar sejauh mana gue bisa berkompromi. Beberapa kali sih batas komprominya memang tipis banget hahahaha... Apakah gue akan sebahagia ini kalau ada dia tiap hari? Dan... selama ini terbukti, kalau di awal ada tanda2 yg gue abaikan, pasti akhirnya ketahuan juga bahwa kami nggak compatible. Denial mmg bukan rumus yg tepat untuk semua hal... terutama urusan cinta2an ini.
Akhirnya, gue akan dan harus tetap mengedepankan kebahagiaan gue. Gue akan dan harus mendengar kata hati, mencermati jika ada yg tidak setuju, sepelan apa pun suaranya.
Waktu dengar ada yg titip doa pernikahan langgeng, pap hanya komentar pendek, "Langgeng tapi nggak bahagia, buat apa?"
Baiklah mengaminkan saja doa2 yg dititip ke mama... hanya jadi pengen bahas soal bahagia dalam companionship.
Dulu itu, ketika keputusan gue untuk bercerai sdh "bisa diumumkan" ke keluarga... reaksi pertama sebagian besar anggota keluarga di sana... nyaris sama. Mereka menolak. Alasannya macam2. Dari mulai kecemasan soal finansial sampai soal nama baik. Herannya, jarang banget yg memikirkan masalah kebahagiaan gue yg menjalani pernikahan itu. Dan yg lebih hrs ditanya adalah ... tokoh satunya mau apa nggak menjalani terus?
Gini, gue ditinggal. Trus gue memaafkan, menerima kembali. Tapi tetep ditinggal. Dan nggak ada yg peduli apakah gue bahagia atau enggak, yg penting jangan cerai. Huehehehehe... tidak demikian ceritanya, Fulgoso! Kenapa ya nggak ada yg kepikiran hal happy itu (terutama dari keluarga sana). Seolah kebahagiaan gue nggak ada urusannya dalam pernikahan gue sendiri, nggak penting. Yg penting status, yg penting materi. Sepertinya ada keyakinan kalau bahagia akan datang sendiri setelah ada status istri dan dihujani materi. Hmm....
Dan pikiran itu pun sempat meracuni gue, dalam arti, gue "sempat tergoda" buat mencoba tetap berstatus istri yg terjamin kehidupan finansialnya. Hahaha.... Bayangin aja, pegawai kroco di kantor, tapi ke mana2 naik mercy seri tebaru yg supirnya pakai baju safari, dan pulang pergi dari rumah yg ukurannya seluas SD Inpres. But then I understood that happiness comes from inside my heart. Jadi semua atribut itu nggak penting banget. Sejujurnya... naik turun mercy itu malah bikin gue merasa spt perempuan simpanan pejabat hahahaha....
Ketika gue sadar soal bahagia yg harus diwujudkan, gue memutuskan pulang ke rumah nyokap, kembali ke kamar mungil gue. Mengganti kasur ukuran queen dengan kasur single plus satu boks bayi (krn kamarnya sempit banget) ternyata lebih membahagiakan. Pulang pergi kantor naik mikrolet juga nggak apa2... apalagi kalau hari2 gajian masih bisa kok bayar taksi. Oke2 aja. Mungkin krn gue paham apa pun yg gue pakai dan manfaatkan beneran punya gue tanpa embel2 apa pun, bukan pinjaman bukan pemberian yang akan membuat gue spt punya utang... gue merasa lebih tenang. Dan ketenangan itu bikin gue merasa lebih happy. Saat itulah gue yakin bahwa merasa bahagia sangat penting buat kesehatan jiwa. Dalam kondisi gue yg hamil saat itu, bahagia ini ternyata menjaga anak gue dari menyandang sindrom2 macam2.
Dari pengalaman finding happiness... kalau skrg ada teman yg cerita ttg nggak bahagia dalam pernikahan tp juga nggak bisa memutuskan untuk melangkah bertindak.... gue nggak habis pikir. Nggak harus selalu cerai lho ya. Kan bisa diurai dulu di sebelah mana yang nggak bahagia, lalu dicarilah cara supaya menemukan kembali bahagia. Ya mbok ngobrol sm pasangannya, curhat gitu... masak nggak didengerin.... Kalau sama pasangan udah nggak didengerin... pernikahannya pasti udah ga bener. Ya itu dulu yg dibenerin. Easier said than done? Ya memang siapa yg bilang menikah itu gampang?
Nah... patokan bahagia ini jugalah yg bikin gue hati2 kalau dekat sm seseorang. Seberapa besar pun keinginan gue menikah lagi, ketika kenal orang baru, gue akan sangat ngitung ini itu. Begitu ada satu hal aja yg "nyangkut" ... gue akan langsung back off dan berkontemplasi. Bukan nggak mau berusaha ya, hanya mencoba menakar sejauh mana gue bisa berkompromi. Beberapa kali sih batas komprominya memang tipis banget hahahaha... Apakah gue akan sebahagia ini kalau ada dia tiap hari? Dan... selama ini terbukti, kalau di awal ada tanda2 yg gue abaikan, pasti akhirnya ketahuan juga bahwa kami nggak compatible. Denial mmg bukan rumus yg tepat untuk semua hal... terutama urusan cinta2an ini.
Akhirnya, gue akan dan harus tetap mengedepankan kebahagiaan gue. Gue akan dan harus mendengar kata hati, mencermati jika ada yg tidak setuju, sepelan apa pun suaranya.
Monday, August 12, 2019
Only Words
"I will never leave you."
"Love you. I did, I do, I will."
"I will stay, forever...."
And at the end of the day... none of those happen. At least not in my life. Yet.
"Love you. I did, I do, I will."
"I will stay, forever...."
And at the end of the day... none of those happen. At least not in my life. Yet.
Monday, August 05, 2019
How Romantic
Kemarin di Ndalem Prosotan ada mini reunion temen2 SMA. Ini sebenernya minggu ke-2 kumpul2... dari yg niat dateng segambreng... akhirnya yg muncul hanya berempat... hahaha... pdh sdh disiapin makanan banyak banget. Alhamdulillah deh kenyaaaangg... ahahaha....
Tp yg lucu adalah Aria kalau lagi ada teman2 ibu... selalu masuk hibernate mode.... mengurung diri. Entah di kamarnya atau di kamar gue.... Kadang2 aja nongol buat lihat2 ibunya sedang apa trus ganggu2 dikit.
Kemarin itu, pas gue lagi ke dapur... pas dia keluar dari kamar gue.
- Cari apa sih, Ibu, kok mondar-mandir....
+ Aku cari kecap.
- Nggak ada?
+ Tadi ada kok... sudah aku taruh di mangkok....
- Mana?
+ Nggak tahu... mana ya?
- Ini lho... ini lho....
Trus dia tiba2 deketin gue dan kecup pipi kanan kiri. "Nih, kecap... eh itu kecup ya.... "
Halaaaaahhh.... romantis bener, ibunya sampai speechless.... Beda tipis deh romantis sama gombal mukiyo... ini siapa yg ngajarin ya....
Tp yg lucu adalah Aria kalau lagi ada teman2 ibu... selalu masuk hibernate mode.... mengurung diri. Entah di kamarnya atau di kamar gue.... Kadang2 aja nongol buat lihat2 ibunya sedang apa trus ganggu2 dikit.
Kemarin itu, pas gue lagi ke dapur... pas dia keluar dari kamar gue.
- Cari apa sih, Ibu, kok mondar-mandir....
+ Aku cari kecap.
- Nggak ada?
+ Tadi ada kok... sudah aku taruh di mangkok....
- Mana?
+ Nggak tahu... mana ya?
- Ini lho... ini lho....
Trus dia tiba2 deketin gue dan kecup pipi kanan kiri. "Nih, kecap... eh itu kecup ya.... "
Halaaaaahhh.... romantis bener, ibunya sampai speechless.... Beda tipis deh romantis sama gombal mukiyo... ini siapa yg ngajarin ya....
Wednesday, July 24, 2019
The Job in My World
Karena hari ini eyang pergi haji (mohon doa supaya lancar yaaaa... aamiinn), gue ijin pulang lebih cepat. Dan ternyata nggak bisa antar sampai airport, hanya sampai meeting point dgn biro perjalanan di daerah Tangerang. Ya udah, hbs dadah2... pulang... jam 5 sdh duduk manis di rumah.
Meskipun sdh di rumah, ttp memenuhi janji sm tim yg di kantor utk segera gelar laptop dan nerusin kerja ini itu. Tentunya lbh gembira krn bisa sambil ngemil es krim dan ga usah pakai sepatu jinjit.
Yg sangat menyenangkan adalah reaksi Aria yg ttp sama, nggak berubah sejak dulu, kalau ibunya pulang lbh cepat. Dia tetap gembira. Seneng deh lihatnya hahaha.... Dan waktu makan malam bisa siapin proper dinner trus makan sambil ketawa2 di pantry sm anak semata wayang itu. Ngobrol macem2. Seru. This only reassures me that amongst all the title I obtained, being his mom is the one I am most proud of.
Monday, July 22, 2019
On (Financing Thingy of) Marriage Life
Beberapa teman secara langsung maupun tidak menceritakan ttg pola mereka berkeuangan setelah menikah. "Modal dasar" teman2 itu mirip: perempuan, bekerja, sukses dalam karier. Seru juga bisa mengintip cara mereka atur keuangan sbg pasangan.
Si A, menikah dengan laki2 yg secara finansial biasa saja. Menariknya, bbrp minggu sblm menikah, si laki2 ini khusus datang ke rumah si A, bawa kalkulator beras. Dia ajak si A utk buka2an secara finansial. Brp gaji dia, gaji si A. Kewajiban apa saja yg skrg sedang hrs dibayar. Lalu mengajak si A diskusi soal rencana keuangan setelah menikah. Siapa yg hrs ngapain. Berapa tabungan wajib. Asuransi apa saja yg hrs dipunya. Dll dll dll.... Ini terdengar sangat realistis dan menyenangkan. Krn rencana punya anak pun dibarengi dgn kegiatan investasi utk pendidikan dan proteksi kesehatan si anak. Keren ya. Dan si A pun mengakui, "Asli laki gue seksi banget waktu dia jabarin rencana finansial itu. Terasa bhw dia megang banget deh." Ahahaha....
Si B, menikah dgn laki2 penulis yg tadinya kerja di media tp lalu pindah jadi PR perusahaan multinasional. Si B ini gue kenal sbg perempuan yg ambisius dan selalu punya cara buat mewujudkan ambisinya. Berani mati aja deh. Merasa suami kerja di perusahaan besar, si B keluar dari kantornya. Alasan klise adalah mengurus anak (mereka lgs punya anak setahun stlh menikah) dan mau bisnis sendiri. Berani mati krn bidang bisnis yg dia geluti sdh banyak dikerjakan oleh sejuta umat. Kemarin ketemu sm si B dan keluar juga curhat soal suami yg ternyata sangat woles dalam karier jd spt pasrah aja kerjaan banyak dgn gaji kecil. Promosi dgn kenaikan gaji minim diterima gitu aja tanpa nawar. Hehe... gemes tp ya gimana? Mmg suaminya model gitu. Jadi akhirnya yg tadinya bisnis untuk iseng2 jadi harus untuk tulang punggung krn si B nggak mau juga menurunkan standard hidup. Tetep pengen liburan 2x setahun dan belanja barang branded. "Apa aja aku kerjain deh, mbak. Lha piye, ngenteni bojoku lak aku iso ora lunga2," katanya. Risikonya dia jadi tampak lelah luar biasa. Tp ya sudah, sepanjang dia menerima ya ga apa2 dong....
Si C, menikah krn terlanjur hamil dgn laki2 yg masih sekolah sambil kerja serabutan. Sempat menjadi backbone dlm keluarga kecil dan bertahun2 mereka berdua hrs ngontrak rumah dan ke mana2 naik angkutan umum. Kalau dengar ceritanya, sedih dan miris. Tp memang rejeki, suaminya pinter. Jadi begitu lulus bisa lgs berkarier bagus. Lalu memutuskan berbisnis, dan sukses. Keuangan mereka sempat morat-marit dalam 8 thn pertama pernikahan. Meski bergaji besar, selalu habis. Nggak bisa nabung. Masing2 mengurus sendiri gaji masing2. Lalu si C ini mulai mikir, mau sampai kapan awut2an? Akhirnya dia ambil kursus keuangan dan mengajukan diri sbg menteri keuangan keluarga. Suaminya setuju. Caranya? Dia bikin list semua kewajiban berdua. Lalu buka2an soal pendapatan. Dari mana dan berapa. Gaji berdua digabung, dikurangi semua kewajiban, dan disisihkan untuk investasi. Lalu masing2 diberi "uang saku" yg jumlahnya sama, untuk dihabiskan. Jd si C mau ke salon ya bisaaaa pakai uang itu... suami mau borong printilan sepeda ya silakaaan diambil dr uang itu. Dgn cara ini, lumayan bisa nabung. "Paling nggak masing2 anak sdh disediakan untuk sekolah sampai sarjana," kata si C. Ini keren.
Nah... gue jadi belajar juga sih dari mereka2 itu. Belajar utk punya metode investasi. Belajar utk ngatur duit... yg menurut gue susahnya minta ampun hahahaha.... Tp krn skrg masih kerja sendiri dan hasilnya boleh bebas dihabis2kan sendiri... ya... masih suka2 gue dong. Hahaha.... Nggak boleh ada yg komplen ttg cara gue habisin uang, yg penting Aria seneng. Ye kaaaannn.... Tp kemudian kepikiran... lucu juga ya kalau punya suatu tujuan keuangan dan bisa mencapainya bareng2. Bareng siapa? Embuh. Hayo siapa yg mau? Lah... jadi jualan....
Si A, menikah dengan laki2 yg secara finansial biasa saja. Menariknya, bbrp minggu sblm menikah, si laki2 ini khusus datang ke rumah si A, bawa kalkulator beras. Dia ajak si A utk buka2an secara finansial. Brp gaji dia, gaji si A. Kewajiban apa saja yg skrg sedang hrs dibayar. Lalu mengajak si A diskusi soal rencana keuangan setelah menikah. Siapa yg hrs ngapain. Berapa tabungan wajib. Asuransi apa saja yg hrs dipunya. Dll dll dll.... Ini terdengar sangat realistis dan menyenangkan. Krn rencana punya anak pun dibarengi dgn kegiatan investasi utk pendidikan dan proteksi kesehatan si anak. Keren ya. Dan si A pun mengakui, "Asli laki gue seksi banget waktu dia jabarin rencana finansial itu. Terasa bhw dia megang banget deh." Ahahaha....
Si B, menikah dgn laki2 penulis yg tadinya kerja di media tp lalu pindah jadi PR perusahaan multinasional. Si B ini gue kenal sbg perempuan yg ambisius dan selalu punya cara buat mewujudkan ambisinya. Berani mati aja deh. Merasa suami kerja di perusahaan besar, si B keluar dari kantornya. Alasan klise adalah mengurus anak (mereka lgs punya anak setahun stlh menikah) dan mau bisnis sendiri. Berani mati krn bidang bisnis yg dia geluti sdh banyak dikerjakan oleh sejuta umat. Kemarin ketemu sm si B dan keluar juga curhat soal suami yg ternyata sangat woles dalam karier jd spt pasrah aja kerjaan banyak dgn gaji kecil. Promosi dgn kenaikan gaji minim diterima gitu aja tanpa nawar. Hehe... gemes tp ya gimana? Mmg suaminya model gitu. Jadi akhirnya yg tadinya bisnis untuk iseng2 jadi harus untuk tulang punggung krn si B nggak mau juga menurunkan standard hidup. Tetep pengen liburan 2x setahun dan belanja barang branded. "Apa aja aku kerjain deh, mbak. Lha piye, ngenteni bojoku lak aku iso ora lunga2," katanya. Risikonya dia jadi tampak lelah luar biasa. Tp ya sudah, sepanjang dia menerima ya ga apa2 dong....
Si C, menikah krn terlanjur hamil dgn laki2 yg masih sekolah sambil kerja serabutan. Sempat menjadi backbone dlm keluarga kecil dan bertahun2 mereka berdua hrs ngontrak rumah dan ke mana2 naik angkutan umum. Kalau dengar ceritanya, sedih dan miris. Tp memang rejeki, suaminya pinter. Jadi begitu lulus bisa lgs berkarier bagus. Lalu memutuskan berbisnis, dan sukses. Keuangan mereka sempat morat-marit dalam 8 thn pertama pernikahan. Meski bergaji besar, selalu habis. Nggak bisa nabung. Masing2 mengurus sendiri gaji masing2. Lalu si C ini mulai mikir, mau sampai kapan awut2an? Akhirnya dia ambil kursus keuangan dan mengajukan diri sbg menteri keuangan keluarga. Suaminya setuju. Caranya? Dia bikin list semua kewajiban berdua. Lalu buka2an soal pendapatan. Dari mana dan berapa. Gaji berdua digabung, dikurangi semua kewajiban, dan disisihkan untuk investasi. Lalu masing2 diberi "uang saku" yg jumlahnya sama, untuk dihabiskan. Jd si C mau ke salon ya bisaaaa pakai uang itu... suami mau borong printilan sepeda ya silakaaan diambil dr uang itu. Dgn cara ini, lumayan bisa nabung. "Paling nggak masing2 anak sdh disediakan untuk sekolah sampai sarjana," kata si C. Ini keren.
Nah... gue jadi belajar juga sih dari mereka2 itu. Belajar utk punya metode investasi. Belajar utk ngatur duit... yg menurut gue susahnya minta ampun hahahaha.... Tp krn skrg masih kerja sendiri dan hasilnya boleh bebas dihabis2kan sendiri... ya... masih suka2 gue dong. Hahaha.... Nggak boleh ada yg komplen ttg cara gue habisin uang, yg penting Aria seneng. Ye kaaaannn.... Tp kemudian kepikiran... lucu juga ya kalau punya suatu tujuan keuangan dan bisa mencapainya bareng2. Bareng siapa? Embuh. Hayo siapa yg mau? Lah... jadi jualan....
Friday, July 19, 2019
On Parenting
Being parents, you need to be prepared. I warn you. You know why? I give you example. I was so surprised when my son, out of the blue asked me, “Mom, what if I am bisexual?”
He was 13 by then. In his early teenager life.
Oh yes, this is not his first surprising questions. As a boy who is growing up in modern world, he is exposed to so many things. So there was time, he was six, he already asked about the function of condom after he found one in my drawer. Can I explain? Sure, with shacking hands that I covered very well.
I remembered I answered by explaining that condom is only for a man. “I am a man,” he said. “I mean, for adult,” was my closure. He seemed a bit confuse, but he didn’t ask anything further.
That is the moment I assure myself to be well prepared about any “cute” questions he may ask along the way. And as his parent, I have to have a ready weapon in hand, whether I am ready or not to answer. So I read all the things regarding boys, kids, teenagers. Anything they might be interesting in suddenly matters to me.
Why do I feel I need to be prepared? Not only because I want him to get the best answer, but also because I need him to know that even I am his parent, I can be his best friend too. Best friend he can count on, to whom he can go to seek any answer for any question, or later for any problem he may encounter. I may not always give him best solution, but I need him to know that I will always be there.
So when he came up with his bisexual question, I thought I was ready with my answer. I read somewhere about the key to discuss sexual orientation, in a religious newsletter. But then something crossed my mind, will it be okay if I use that answer? The explanation I read was merely about growing up, the pain any kids need to go through, the “right way” to be a girl or a boy, and something like that. Things which base on common belief that pink is the color for girl while blue is only suitable for boy. Will that be okay for my son? I think I need to find the right word. Not only because I want him to understand about the sexual orientation well, but also because I do not want him to feel rejected, if, only if he is indeed bisexual like he said he is.
And right there and then, I suddenly realized that to be prepared being a parent did not only mean you have to be ready with things related to house you can call a home, the meal, the tuition, and health insurance for your kids. As a matter of fact, become a parent, you have to be prepared to accept your children as they are. And still love them as they truly are.
(This is the piece I wrote for my smart living writing class today)
Tuesday, July 16, 2019
Can You Imagine?
Coba khayalkan sejenak
Sepuluh tahun nanti
Hidupmu
Coba bayangkan sejenak
Misalkan ada aku
Yang menemani
Hari demi hari yang tak terhitung
Misalkan itu aku yang terakhir untukmu
Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku
Di aku
Dan kamu
Pastikan kau melihat aku
Saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi
Misalkan semua terjadi
Meski belum terjadi
Sekarang kita renungkan sejenak
Cara agar semua bisa terjadi
Walau kutahu tak semudah itu
Tapi coba sekali lagi bayangkan aku
(Himalaya - Maliq and d'Essentials)
Sepuluh tahun nanti
Hidupmu
Coba bayangkan sejenak
Misalkan ada aku
Yang menemani
Hari demi hari yang tak terhitung
Misalkan itu aku yang terakhir untukmu
Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku
Di aku
Dan kamu
Pastikan kau melihat aku
Saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi
Misalkan semua terjadi
Meski belum terjadi
Sekarang kita renungkan sejenak
Cara agar semua bisa terjadi
Walau kutahu tak semudah itu
Tapi coba sekali lagi bayangkan aku
(Himalaya - Maliq and d'Essentials)
Wednesday, July 10, 2019
Big Bear Hug
Pagi ini membaca cerita seorang teman yg punya sertifikat pedagogi utk anak2 istimewa, tentang salah satu muridnya, kasih nama Adinda ya.
Adinda umurnya 10 tahun. Berkebutuhan khusus. Nggak tahu judulnya apa, nggak berani tanya juga sih... yg jelas punya kesulitan berkomunikasi. Tapi karena sdh dipegang sm teman gue sejak kecil sekali, Adinda ini skrg mahir berkuda, bisa menyapu, gesit kalau berenang, dan sudah bisa makan sendiri. Hm... baru sadar gue cukup lama mendengar soal Adinda ini. Jadi seperti mengikuti dia belajar makan nasi dan roti (sampai umur 9, semua makanan masih diblender dan harus disuapin).
Dari kisah Adinda juga, gue jadi belajar bersyukur bahwa Aria itu anak yang normal dan tumbuh spt seharusnya menjadi seorang anak yg sehat dan gembira. Alhamdulillah.
Bayangin bhw ada anak yg nggak bisa ngomong ke ibunya bahwa dia lapar, atau haus, atau mau duduk saja nggak mau apa2... sedih bener....
Dan semalam... Adinda ini tantrum. Tnyt sdh bbrp hari dia ribut dan kisruh di rumah. Nggak tahu mau apa... semua barang diberantakin. Majalah disobekin. Mainan dituang di mana2. Acak2 sana sini sampai ibunya lelah benah2. Belum berhenti juga... ke taman... petik bunga, cabut rumput.... Namanya ibu, biasanya punya insting yg nggak bisa ditipu. Dan mengikuti kata hati, ibunya Adinda cuti kerja. Nemenin anaknya. Sesuai ajaran coach, kalau acak2 barang... harus dihukum. Adinda bbrp kali kena time out. Tp lalu hbs itu dielus, dipeluk, diajak ngobrol pelan2. Meskipun nggak bisa jawab... Adinda jadi tenang. Dan, setelahnya mereka berpelukan berdua. Ke mana2 pelukan aja terus.
Si ibu langsung kirim pesan ke coach, "Ternyata Adinda itu rusuh krn kangen saya.... "
Ya Allah... gue langsung pengen peluk2 anak gue....
Adinda umurnya 10 tahun. Berkebutuhan khusus. Nggak tahu judulnya apa, nggak berani tanya juga sih... yg jelas punya kesulitan berkomunikasi. Tapi karena sdh dipegang sm teman gue sejak kecil sekali, Adinda ini skrg mahir berkuda, bisa menyapu, gesit kalau berenang, dan sudah bisa makan sendiri. Hm... baru sadar gue cukup lama mendengar soal Adinda ini. Jadi seperti mengikuti dia belajar makan nasi dan roti (sampai umur 9, semua makanan masih diblender dan harus disuapin).
Dari kisah Adinda juga, gue jadi belajar bersyukur bahwa Aria itu anak yang normal dan tumbuh spt seharusnya menjadi seorang anak yg sehat dan gembira. Alhamdulillah.
Bayangin bhw ada anak yg nggak bisa ngomong ke ibunya bahwa dia lapar, atau haus, atau mau duduk saja nggak mau apa2... sedih bener....
Dan semalam... Adinda ini tantrum. Tnyt sdh bbrp hari dia ribut dan kisruh di rumah. Nggak tahu mau apa... semua barang diberantakin. Majalah disobekin. Mainan dituang di mana2. Acak2 sana sini sampai ibunya lelah benah2. Belum berhenti juga... ke taman... petik bunga, cabut rumput.... Namanya ibu, biasanya punya insting yg nggak bisa ditipu. Dan mengikuti kata hati, ibunya Adinda cuti kerja. Nemenin anaknya. Sesuai ajaran coach, kalau acak2 barang... harus dihukum. Adinda bbrp kali kena time out. Tp lalu hbs itu dielus, dipeluk, diajak ngobrol pelan2. Meskipun nggak bisa jawab... Adinda jadi tenang. Dan, setelahnya mereka berpelukan berdua. Ke mana2 pelukan aja terus.
Si ibu langsung kirim pesan ke coach, "Ternyata Adinda itu rusuh krn kangen saya.... "
Ya Allah... gue langsung pengen peluk2 anak gue....
Thursday, July 04, 2019
Tentang Rumput Tetangga
Semalam ada percakapan menarik antara gue dan adik ipar… yg sampai skrg masih satu2nya hahahaha… OOT….
Jadi si adik ini bekerja untuk orang yg gue kenal baik. Hmm… namanya Susi aja ya. Dan gue kenal Susi sudah lama… jd gue lumayan paham kondisi dia, bahkan kenal personal dgn anggota keluarganya, yg ya nggak banyak sih, hanya dia, suami, dan anak.
Gue kenal anaknya, anggap namanya Citra, anak tunggal, perempuan, sejak anak itu SD. Masih kecil sekali. Spt juga gue dan Aria, Citra sering diajak ibunya ke tempat kerja, atau menyelesaikan pekerjaan. Dan kebetulan ibunya banyak berhubungan dengan seni, klop sama minat Citra. Gue ga terlalu heran waktu Citra lalu masuk kelas menggambar. Lalu suatu saat gue lihat dia menggambar manga yang bagus banget. Bahwa akhirnya dia masuk sekolah seni rupa terbaik di Indonesia, gue merasa sudah seperti seharusnya begitu.
Sementara Susi juga semakin bersinar… masuk dunia politik dan berpendar luar biasa di sana. Gue pernah diajak utk bergabung dgn tim Susi. Baru coba2 aja rasanya gue ga tertarik. Pernah ikut sampai ketemu bapak (waktu itu) capres. Nunggu dari jam 8 malam, baru bisa jumpa jam 12. Dan waktu ketemu itu kok menurut gue cuma ngomong utara selatan nggak ada tujuan hidup. Hmm… apa krn gue sdh terlanjur ngantuk? Intinya, gue nggak tertarik dgn kondisi itu. Jadwal kerja kok nggak jelas. Ya mungkin duitnya banyak… it is just not for me.
Kemarin bahasan masuk ke kondisi finansial Susi yang semakin membaik sejak terlibat dalam politik. Lalu krn Jokowi menang lagi, Susi pun “menang” lagi.
“Wis mulyo, Mercy ganti anyar… byar…,” kata adik ipar gue.
Weleh… sementara gue ganti si kentang dgn yg mudaan aja seneng bukan main, gimana rasanya ganti Mercy?
Tapiiiii… lalu terbukalah cerita lbh lengkap… .
Jadi bbrp tahun terakhir, Susi bekerja keras atau dituntut bekerja lebih keras, yg ternyata berimbas pd anaknya. Mendampingi remaja tumbuh dewasa memang nggak mudah. Dan dgn kesibukan yg segudang, semakin sulit lagi bagi Susi utk pegang anaknya.
Lalu anak ini pacaran dgn orang asing. Dan pergi ke negara pacarnya. Aman? Sampai sini tampaknya ya.
Masalah baru ada ketika Citra putus dari pacarnya. Dia patah hati. Berkepanjangan. Sampai nyaris depresi.
Dan… Citra minggat.
Susi tentu panik. Mau cari ke mana? Trus mau nyari juga gimana caranya, sementara klien sedang rusuh2nya. Suami berusaha juga. Maksimal. Mengerahkan semua sumber daya yg dipunya. Kisruh. Rusuh.
Alhamdulillah akhirnya ketemu, setelah bbrp lama. Dan skrg Citra hrs rutin konsultasi ke psikiater untuk menenangkan jiwanya.
Kalau denger yg begini… gue akan settle dgn apa pun yg gue punya skrg. Anak sehat selamat. Nggak usahlah pakai Mercy kalau hrs melewati acara anak hilang segala macam. Cukup. Sampun. Matur nuwun Gusti Allah. How it is true that most of the time we only see something just as we see an iceberg. We see only the beauty of it afloat, while what we don’t see beneath is something bigger and –might be- crazier and dangerous.
Maybe the grass in greener in other's house, but trust me, we do not know how much the owner of that house spent for the grass. And it might be too expensive.
Tuesday, June 11, 2019
High Heels
Have you tried wearing a high heels? It is a lot of fun, I tell you....
Pakai sepatu tinggi itu sangat menantang. Seru. Harus jaga keseimbangan, dan perlu banyak latihan biar nggak nyungsep. Beneran ga bohong. Tapi lihat kan efeknya? Kalau pakai high heels itu, kaki jadi jenjang, seksi, menawan. Ayune ciamik tenan. Pakai sepatu flat memang lebih nyaman. Bisa buat lari-lari. Tapi... kurang ayuuuu... percaya deh. Kadang boleh aja sih nggak peduli sm ayu nggak ayu yg penting sigap cas cuuusss dan ga pegel setelahnya.
Rasanya hidup juga begitu deh. Kalau lebih menantang, akan lebih seru. Yang seru ini biasanya akan berhasil lbh memuaskan. Paling nggak, ada kepuasan bisa melewati tantangan. Ya kan?
Jadi, untuk yang sedang galau, sedang rusuh, sedang sakit... sabar ya. Banyak berdoa, dan terus berusaha. Jangan terlalu khawatir, pasrahkan pada Tuhan. Tidak ada yg abadi di dunia ini. Galau itu, rusuh itu, sakit itu juga tidak akan selamanya. It is going to be over eventually.
Good luck!
Pakai sepatu tinggi itu sangat menantang. Seru. Harus jaga keseimbangan, dan perlu banyak latihan biar nggak nyungsep. Beneran ga bohong. Tapi lihat kan efeknya? Kalau pakai high heels itu, kaki jadi jenjang, seksi, menawan. Ayune ciamik tenan. Pakai sepatu flat memang lebih nyaman. Bisa buat lari-lari. Tapi... kurang ayuuuu... percaya deh. Kadang boleh aja sih nggak peduli sm ayu nggak ayu yg penting sigap cas cuuusss dan ga pegel setelahnya.
Rasanya hidup juga begitu deh. Kalau lebih menantang, akan lebih seru. Yang seru ini biasanya akan berhasil lbh memuaskan. Paling nggak, ada kepuasan bisa melewati tantangan. Ya kan?
Jadi, untuk yang sedang galau, sedang rusuh, sedang sakit... sabar ya. Banyak berdoa, dan terus berusaha. Jangan terlalu khawatir, pasrahkan pada Tuhan. Tidak ada yg abadi di dunia ini. Galau itu, rusuh itu, sakit itu juga tidak akan selamanya. It is going to be over eventually.
Good luck!
Tuesday, June 04, 2019
Sunday, June 02, 2019
Stories
I miss to tell you about all of my daily activities. How the traffic was so bearable, even Bekasi-BSD can be done by 45 minutes only. Or about my mom who was cleaning up the house and became everyone's enemy since she tend to throw away anything she dislike. Hmm... first, she dislike something didn't always mean the thing was bad or ugly... and 2nd... it is not her own house, right? So, with a lot of Lebaran hampers coming to the house lately, things has been going funny with her.
I miss to tell you about my son's final grade which was not as bad as he presumes. Some of the scores were so amazing, he even surprise himself. And we celebrated it at the Sushi Matsu, his favourite place.
I miss to greet you good morning, and receiving those eye-openers video links from the kajian you attended at the masjid. And you would tell me what you did the whole day when you stay there. Was it still packs? Was the food good? Where did you sleep?
I miss to see your face in my office lobby. Surprising me in one pretty afternoon, saying you just stopped by but then you ended up driving me home.
The bottom line is: I miss you.
I miss to tell you about my son's final grade which was not as bad as he presumes. Some of the scores were so amazing, he even surprise himself. And we celebrated it at the Sushi Matsu, his favourite place.
I miss to greet you good morning, and receiving those eye-openers video links from the kajian you attended at the masjid. And you would tell me what you did the whole day when you stay there. Was it still packs? Was the food good? Where did you sleep?
I miss to see your face in my office lobby. Surprising me in one pretty afternoon, saying you just stopped by but then you ended up driving me home.
The bottom line is: I miss you.
Wednesday, May 29, 2019
Belated Birthday Gift
Should I still send it to you? Or better give it to anyone who may also enjoy similar stuff?
Tuesday, May 28, 2019
Are They All The Same?
Bbrp hari yg lalu, ada seorang istri ke rumah. Nyari suaminya. Suaminya pamit kerja di Playhouse. Pdh itu hari libur. Ngakunya lembur. Lemburin apa? Wong nggak ada apa2... serumah Playhouse malah semua tidur. Si istri, dgn mata sembab dan nggak nyaman, cuma bilang, "Ya udah Bu. Ibu jangan bilang ya, kalau saya ke sini."
Sebuah pesan yg sederhana, nggak susah buat dikerjakan. Tp kok nyesek bener. Ini pasti ada hubungannya sama laki-laki mata keranjang.
Langsung lapor pak boss. Yg lalu setelah mencerna dan mengeja, ingat sesuatu soal percakapan dalam perjalanan, yg diyakini bukan dilakukan laki-laki itu ke istrinya. Oalah. Jadi laki-laki itu selingkuh? "Mungkin enggak. Atau belum. Krn kesempatannya nggak ada sih," jawabnya.
Apa pun itu... kenapa laki-laki mudah (tergoda) cari selingan? Nggak perlu kaya, nggak perlu ganteng... begitu ada kesempatan... cuss.... Njaluk disampluk sandal.
Dan mau nggak mau, percakapan soal selingkuh ini membawa ingatan ke momen sekian belas tahun silam. Ketika satu perselingkuhan terkuak, dan gue memilih untuk nggak terlibat di dalamnya. Meskipun gue lebih berhak, secara hukum negara maupun hukum agama. I resigned.
Trus ingat ada pakde yg ketahuan menikah lagi ketika dia meninggal. Krn istri berikutnya (dan anak2) hadir di pemakaman. Astaga. Sementara anak2 sdh besar. Dan harus apa coba kalau begitu? Warisan kok bentuknya keluarga lain....
Juga ingat seseorang, teman keluarga, yg terlihat baik2 saja, tp ternyata menyimpan rahasia. "He built another house for her, a nice one, somewhere in Bekasi," kata informan yg layak dipercaya tentang istri kedua. Oh My God.
Semua hal soal selingkuh ini masih terbayang di ingatan. Kok ya tadi pagi ditelpon sama orang yang mengaku sebagai istri seseorang. Nada tinggi. Suara emosi. Marah.
"Dia sudah beristri. Punya dua anak yg sudah besar. Dan sudah kawin lagi 2 kali. Kamu yg kesekian."
"Marahnya jangan sama saya, salah alamat. Tanya suamimu saja."
Gue tutup telepon. Rasanya nggak tahu harus apa dan ngapain. Rasanya pengen ngrawus laki-lakinya. Tp lalu seperti biasa, sadar bahwa gue jg mungkin ada andil salah. Meskipun tetap kembali ke pertanyaan, "Kenapa laki-laki mudah berselingkuh?"
Sungguh sebuah cara aneh mengawali hari.
Sebuah pesan yg sederhana, nggak susah buat dikerjakan. Tp kok nyesek bener. Ini pasti ada hubungannya sama laki-laki mata keranjang.
Langsung lapor pak boss. Yg lalu setelah mencerna dan mengeja, ingat sesuatu soal percakapan dalam perjalanan, yg diyakini bukan dilakukan laki-laki itu ke istrinya. Oalah. Jadi laki-laki itu selingkuh? "Mungkin enggak. Atau belum. Krn kesempatannya nggak ada sih," jawabnya.
Apa pun itu... kenapa laki-laki mudah (tergoda) cari selingan? Nggak perlu kaya, nggak perlu ganteng... begitu ada kesempatan... cuss.... Njaluk disampluk sandal.
Dan mau nggak mau, percakapan soal selingkuh ini membawa ingatan ke momen sekian belas tahun silam. Ketika satu perselingkuhan terkuak, dan gue memilih untuk nggak terlibat di dalamnya. Meskipun gue lebih berhak, secara hukum negara maupun hukum agama. I resigned.
Trus ingat ada pakde yg ketahuan menikah lagi ketika dia meninggal. Krn istri berikutnya (dan anak2) hadir di pemakaman. Astaga. Sementara anak2 sdh besar. Dan harus apa coba kalau begitu? Warisan kok bentuknya keluarga lain....
Juga ingat seseorang, teman keluarga, yg terlihat baik2 saja, tp ternyata menyimpan rahasia. "He built another house for her, a nice one, somewhere in Bekasi," kata informan yg layak dipercaya tentang istri kedua. Oh My God.
Semua hal soal selingkuh ini masih terbayang di ingatan. Kok ya tadi pagi ditelpon sama orang yang mengaku sebagai istri seseorang. Nada tinggi. Suara emosi. Marah.
"Dia sudah beristri. Punya dua anak yg sudah besar. Dan sudah kawin lagi 2 kali. Kamu yg kesekian."
"Marahnya jangan sama saya, salah alamat. Tanya suamimu saja."
Gue tutup telepon. Rasanya nggak tahu harus apa dan ngapain. Rasanya pengen ngrawus laki-lakinya. Tp lalu seperti biasa, sadar bahwa gue jg mungkin ada andil salah. Meskipun tetap kembali ke pertanyaan, "Kenapa laki-laki mudah berselingkuh?"
Sungguh sebuah cara aneh mengawali hari.
Wednesday, May 15, 2019
Draft 4
Bagaimana aku bisa lupa?
Tante Emmy seperti tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupku. Dia hadir, lalu tinggal di hari-hariku. Begitu saja. Sepertinya selamanya. Sejak ada dia, rumah ini semakin ramai. Tidak seperti biasanya yang sepi sunyi karena hanya ada aku dan ayah.
"Halo, saya Emmy. Kamu pasti Idam, kan? Ayahmu sudah cerita banyak sekali tentang kamu."
Mataku justru terpaku ke anting besar yang menggantung di telinganya. Besar, berbentuk melingkar. Mengingatkanku pada gelang raksasa yang dipergunakan di pertunjukan ketangkasan lumba-lumba.
Aku tidak akan lupa, tante Emmy menarik sekali di mataku saat itu. Rambutnya pedek, sesuai dengan gayanya yang sigap. Ia mengenakan gaun terusan warna gelap sepanjang mata kaki, menyembunyikan kaki berbalut sneaker yang memberinya tampilan sportif. Dia tampak cantik, sekaligus kokoh di saat bersamaan. Suatu penampilan yang mencuri hatiku. Seluruhnya.
Tante Emmy seperti tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupku. Dia hadir, lalu tinggal di hari-hariku. Begitu saja. Sepertinya selamanya. Sejak ada dia, rumah ini semakin ramai. Tidak seperti biasanya yang sepi sunyi karena hanya ada aku dan ayah.
"Halo, saya Emmy. Kamu pasti Idam, kan? Ayahmu sudah cerita banyak sekali tentang kamu."
Mataku justru terpaku ke anting besar yang menggantung di telinganya. Besar, berbentuk melingkar. Mengingatkanku pada gelang raksasa yang dipergunakan di pertunjukan ketangkasan lumba-lumba.
Aku tidak akan lupa, tante Emmy menarik sekali di mataku saat itu. Rambutnya pedek, sesuai dengan gayanya yang sigap. Ia mengenakan gaun terusan warna gelap sepanjang mata kaki, menyembunyikan kaki berbalut sneaker yang memberinya tampilan sportif. Dia tampak cantik, sekaligus kokoh di saat bersamaan. Suatu penampilan yang mencuri hatiku. Seluruhnya.
Friday, April 26, 2019
An Uneasy Day
Ada hari2 yg tidak nyaman, dan mungkin hari ini salah satunya.
Tadi pagi harus berbesar hati memutuskan untuk mengakhiri kegembiraan2 yg biasanya didapat hanya dgn mengangkat telepon atau chat lewat wa. Ya memang sdh seharusnya diselesaikan secara sadar. Karena selama ini yg dilakukan tidak benar.
Sungguh, hari menjadi sangat tidak nyaman.
Tapi mungkin hidup memang harus begitu. Ada saatnya nyaman, ada saatnya resah. Gembira bergantian datang dengan duka. Kadang banyak suka cita, lalu ada bumbu sedih lara. Namanya bumbu... secukupnya saja. Supaya sedap.
Rasanya, hidup memang sudah semestinya demikian.
Jadi kalau ada suara sedot2 ingus dari pojokan, itu gue. Mohon maaf.
Tadi pagi harus berbesar hati memutuskan untuk mengakhiri kegembiraan2 yg biasanya didapat hanya dgn mengangkat telepon atau chat lewat wa. Ya memang sdh seharusnya diselesaikan secara sadar. Karena selama ini yg dilakukan tidak benar.
Sungguh, hari menjadi sangat tidak nyaman.
Tapi mungkin hidup memang harus begitu. Ada saatnya nyaman, ada saatnya resah. Gembira bergantian datang dengan duka. Kadang banyak suka cita, lalu ada bumbu sedih lara. Namanya bumbu... secukupnya saja. Supaya sedap.
Rasanya, hidup memang sudah semestinya demikian.
Jadi kalau ada suara sedot2 ingus dari pojokan, itu gue. Mohon maaf.
Tuesday, April 02, 2019
Subscribe to:
Posts (Atom)