Tuesday, February 12, 2019

What Matters The Most


...
Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah, tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti


Ku kan menunggu, tapi tak selamanya


...



Saturday, February 09, 2019

Will You?

Somehow I miss to have somebody holding my hand the whole night, when I am sleeping. So I know I am loved. That much.

Friday, February 08, 2019

What If....

So... my son is facing a crucial phase on his life at the moment. Or so I thought.... And when it comes to my son... not in a good circumstances... I cannot help but to blame myself. How can I let that happen?

Kemarin2 ini pikiran rasanya penuh banget. Selain pekerjaan yg memang sedang lucu2nya (plus laptop ngadat. Lalu file yg hilang di komputer backup....), ada sesuatu yg menghantui. Gue nggak tahu apa... dan sambil menjalani hari, berusaha mencari jawaban atas sosok hantu itu.

Semalam lagi seru2nya di kantor, tiba2 ingat kalau sudah janji mau jemput Aria di tempat les. Les selesai 20.30, gue sadar jam 19.25. Gue baru berangkat dr parkiran kantor jam 19.45 Ok... unless I am the flash... there is no way I can drive through Jakarta traffic... straight to BSD... in less than 1 hour. So, it will be impossible to pick him up on time. Pikiran sehat mengutus Wahid the gardener untuk jemput anak gue. Apa boleh buat.... Akhirnya si pangeran negosiasi bhw ibu gapapa batal jemput asal pulangnya bawain mentaiko salmon dr Aeon. Oh... okay... as you wish, my love.

Setelah selesai beli titipan, on the way home... spt biasa di dalam si kentang suka cari inspirasi. Mikir2... gimana cara benerin ini itu... sampai tiba pada pikiran soal masalah anak gue. Hmm... tiba2 gue sadar kesalahan terbesar gue adalah membiarkan Aria bertumbuh dgn sendirinya. Okay, gue ada di sebelahnya. Secara fisik atau secara apa pun deh... kapan saja dia perlu, gue akan ada. Bbrp kali gue sengaja cuti, untuk dia. Tapiiii... apakah itu cukup? Bahwa gue nggak berhasil menahan ayahnya untuk tdk pergi dr rumah, itu sdh salah. Lalu... gue ternyata jg tidak cukup intens mendampingi, jadi dia terpaksa membereskan masalah2nya sendiri. Gue... terlalu asyik dgn diri gue sendiri. Di kantor berlama2... pacaran nggak pulang2.... hiks....

I cannot help but to blame myself. I feel like an egoistic mom.  Rasanya belum lama gue merasa I raised him right... ketika dia berhasil melewati tes masuk SMA. Ternyata oh ternyata... bukan cuma itu ukuran raising a son.... I (almost) failed.

"Growing up is uninteresting."
"Yes, sometimes. But most of the time it is wonderful. For me, having you... since the day you were born, and now, with  you here, is the best part of being a grown up."

Well... I hope I can mend this up. I really do hope it can be fixed. Somehow. Please help me God. Aamiin.




Friday, February 01, 2019

Where Are We?

I never have the feeling of "we" in a man-woman relationship.

Maksud gue... ga pernah merasakan menjadi "kita" atau "kami"... bahkan ketika menikah dulu. Kayaknya pernikahannya terlalu cepet usai, belum sempat bener2 dipikirin dan dijalani. Baru nikah bbrp bulan... ikut pindah ke Cilegon... sibuk beresin rumah di sana. Belum juga beres... rencana berubah jadi dipercepat berangkat ke US. Sampai di US, masing2 kisruh dgn sekolahnya sendiri2. Sekolahnya di tempat yg sama tp subjek-nya ga ada hubungan blas.... Sekolah selesai... langsung pulang. Di Jkt... baru sebentar banget... baru mikir2 mau tinggal di mana... eh... ada yg punya pikiran buat main rumah2an sendiri. Ya udah. Bhay.

Jadi, dalam pernikahan yg singkat itu, belum pernah sekali pun ada keputusan yang sepakat tentang "kita" atau "kami" kecuali satu: waktu mau bercerai. Oalah... melas yo. Hahaha.... Dan bisa ditebak bahwa setelah perceraian, semakin nggak pernah mikir jadi "kita" atau "kami". Lah ga ada teammates.... Ngapain mikirin?

Jadi... rasanya menarik juga kalau ada yang berani menawarkan konsep menjadi "kita" atau "kami" itu ke gue. Kok kayaknya lucu.... Mungkin seru juga ya mikirin sesuatu berdua? Meskipun lalu mikir2 juga, apa gue bisa? Setelah selama ini begitu keras kepala menjalani kehidupan sbg diri sendiri. Nggak perlu kompromi, nggak perlu tanya ini itu, nggak perlu diskusi....

Nah nah nah... jadi gimana?

Entah kenapa bbrp hari ini kok ya baca2 tulisan ttg #therealmarriagelife di medsos. Lalu bbrp waktu lalu baca buku juga yg isinya ttg kompromi dalam hidup pernikahan. Hmm... apa bisa ya gue begitu?

Ahahaha... ini kenapa jadi bahas topik ini? Kayak punya pacar aja....




Thursday, January 31, 2019

Just Once... RIP James

 I did my best but I guess my best wasn't good enough
'Cause here we are back where we were before
Seems nothing ever changes, we're back to being strangers
Wondering if we oughta stay or head on out the door
Just once, can't we figure out what we keep doing wrong
Why we never last for very long
What are we doing wrong
Just once, can't we find a way to finally make it right
Make the magic last for more than just one night
If we could just get to it, I know we could break through it
I gave my all but I think my all may have been too much
'Cause Lord knows we're not getting anywhere
Seems we're always blowing whatever we got going
And it seems at times with all we've got we haven't got a prayer
Just once, can't we figure out what we keep doing wrong
Why the good times never last for long
Where're we going wrong
Just once, can't we find a way to finally make it right
Make the magic last for more than just one night
I know we could break through it, if we could just get to it
Just once, I want to understand
Why it always come back to good-bye
Why can't we get ourselves in hand and admit to one another
We're no good with out the other
Take the best and make it better
Find a way to stay together
Just once can't we find a way to finally make it right
Make the magic last for more than just one night
I know we could break through it, if we could just get to it
Just once
I know we can get through it
Just once


Tuesday, January 29, 2019

New Chapter

Suddenly I realised I haven't posted any update on my work journey in this blog.

Jadi... tahun 2018 gue akhiri dengan pindah ke The Jakarta Post. Masih mengerjakan hal yang sama... magazines & books publishing. Dan ini divisi baru, unit bisnis baru TJP. Jadi... marilah kita membangun candi... setiap hari. Hahahaha....

Begitulah senyatanya yang terjadi. Akhirnya gue meninggalkan my comfort zone di Media Indonesia. Setelah  7 tahun... bukan keputusan yg mudah. Apalagi bisa dibilang tim MI Publishing adalah hasil didikan gue. Waaahhh... waktu di dalam sih biasa aja... begitu keluar... baru bisa lihat... "oooh... itu gue yg ngajarin lho!" #jumawa  How I miss them to the moon and back!

Pamitan sm klien jadi lucu krn ternyata bbrp klien sdh attached... sm Budiana. Alhamdulillah sih. Ini ada yg sdh pasti akan masuk ke projek TJP. Hmm... hmm... ya gimana.... hehehe. Maafkan hamba.

Yg juga seru adalah karena di TJP, gue masih single fighter. Pdh, begitu masuk... sdh ada projek Asian Games, Asian Para Games, KKP, Adaro, BCA... lalu setelah usai "batch" yg awal... segera disusul dgn projek2 lain dgn gegap gempita berkat AE yg trengginas! Hahahaha... jadi inget tim AE di tempat dulu yg lemes. Melas banget....

Yg ga seru adalah kalau masih sendirian itu... brainstorming aja kok sama tembok to ya. Sungguh pilu. Bbrp kali mau pitching... akhirnya bajak2 anak2 AE utk mancing ide. Ya kan mana bisa cuma melotot2... Terakhir... gue paksa COO gue ikutan cari keywords! Haha... kapan lagi bisa nodong boss buat kerjaan remah rengginang....

Trus... kocak pas dapat anak baru. Fresh grad dr sekolah yg hmmm... ga terlalu bunyi sih di kuping gue. Anaknya awal2 tampak semangat. Mau masuk setelah Januari krn hrs ke Aussie dulu utk urusan keluarga. Fine. Gue udah berharap banyak banget. Waktu dia masuk, gue lgs semangat ini itu ini itu...  anaknya agak bengong, tp krn gue pikir dia masih baru lulus banget jd masih jet lag... ya udahlah. Eh... masak jam 5 dia tahu2 hilang dari mejanya. Lalu besoknya nggak tampak. Ditelepon di-wa nggak balas (malah akhirnya dia blocked semua kontak tim TJP). Trus waktu gue iseng lewatin mejanya... gue nemu post-it yg isinya dia minta maaf kalau dia nggak bisa datang lagi... alasannya krn mau nerusin sekolah. Whaaattt.... ah tipu. Sudahlah. Coret ajalah dari daftar hadir. Ngeselin. Bikin trauma. Skrg kalau dipikir kocak sih... waktu kejadian... rasanya pengen balikin meja!

Anyway... when life gives you lemon... make lemon tea!

Setelah tahun lalu bisa semacam leha2... kerasa banget skrg ini gedubrakan tiap hari. Seru... iya ... jadi hidup kembali! Tp akibatnya weekend lbh sering pingsan. Hahahaha.... Asli kerjaan kok kayaknya nggak habis2. Waktu bulan lalu ke Banyuwangi... hanya kekuatan bulan saja yg akhirnya berhasil menghentikan niat bawa laptop. Wek wek....

Bbrp bulan di tempat baru... rasanya memang seru. Pekerjaan banyak... ya sudahlah... Pas dgn kondisi yg Aria jg sdh mulai punya kegiatan sendiri jd nggak banyak perlu ibu. Dan... secara finansial memang di sini hidup jadi lebih leluasa. Aria seneng banget tuh. Ya kan... Tuhan Maha Baik. Semua diatur secara pas. Matur nuwun Gusti Allah.

Monday, January 28, 2019

I Want More

For once, finally, once in my life... I felt I was really loved.

Rasanya manis sekali kalau mengenang rasa cinta yang pernah ada. Dan sepertinya akan selalu ada. Hmm... banyak yang bilang cinta harus dipupuk, supaya lestari. Kali ini rasanya nggak perlu. Dibiarkan saja dan dia akan tetap ada di situ. Kalau mau dihilangkan... harus dibunuh. Tapi, gue nggak rela....

For once, in my life, I felt I was really loved.

Oleh orang yg tidak terduga kedatangannya. Orang yg tadinya sungguh asing... sama sekali tidak gue kenal. Tapi lalu menjadi orang yg terdekat. Mengetahui apa pun yg terjadi pada gue, bahkan sebelum gue sadar (haha... kadang ini menakutkan sih).

Tapi sungguh, merasa dicintai sebesar itu membuat gue yakin bahwa gue adalah orang yang sangat beruntung. Bayangkan, siapalah gue di antara belantara kekisruhan dunia? Tapi toh Tuhan memilih gue sbg orang yg layak merasakan cinta begitu besar. Besar sekali. Tuhan menentukan gue adalah orang yang boleh dicintai habis-habisan.... dan gue merasakannya.

For once, in my life, I felt I was really loved. Real love.

Entah apa namanya ya... keras kepala? Atau ngeyel saja... merasa melihat ada cahaya di ujung terowongan... yang panjang... sangat panjang... padahal seharusnya pertanyaannya disederhanakan: memang terowongannya ada? Jangan2 itu hanya halusinasi belaka.

But still, for once, in my life, I felt I was really loved.

Apa namanya kalau bukan cinta, yg membuat semua jadi indah belaka? Bahkan rasa sakit hati, menderita, duka tiada tara, patah hati bertubi-tubi... tetap dinikmati menjadi bagian dari perjalanan menuju kebahagiaan. Padahal... perjalanannya semu. Mungkin juga bukan perjalanan yang sebenarnya.

For once, in my life, I felt I was really loved. It was chaotic and painful, yet, if I had to, I don't mind to go through the same path again. As long as I am with you.

Monday, January 14, 2019

Draft 3

Dari jauh, senyummu terlihat mengembang. Aku melihat binar matamu. Mungkin, hal yang sama kamu lihat terjadi juga padaku ya. Mata berbinar ketika bertemu dengan yang disayang. Wajah yang seketika menjadi lebih cerah.

"Hey you...." Kecupan di dahi. Lembut. Hangat. Hal yang pernah sangat kurindukan. "So... how are you?"

Aku tidak menjawab karena kamu belum melihatku sepenuhnya. Pada waiter yang mengantarmu ke mejaku, kau mendiktekan beberapa pesanan. Udang goreng tepung. Brokoli cah jamur. Es jeruk. Pasti. Menu yang kuhapal karena sudah kau pesan ribuan kali bersamaku. Lalu kau duduk.

"Ok... how are you?" Kau ulang lagi pertanyaan itu.

Aku tersenyum.

"Oh my God... that smile, your smile...," kamu mendesah. Aku salah tingkah.
"Anything new?"

"Hmmm... how can I say this...," aku sungguh mencari kata-kata yang tepat. "Thank you for giving me the advice so I took that offer." Aku memilih menceritakan perihal pekerjaan lebih dulu.

Beberapa bulan lalu, aku mendapat tawaran ini. Tentu saja kau menjadi yang pertama kali tahu. Dan mendukung sepenuhnya. Justru aku yang ragu. Apa aku mampu? Lalu tak lama, melalui video call, karena kau sedang di negara lain,  kau ajari aku bernegosiasi. Agar tempat baru mau memberi kompensasi ini itu, termasuk beasiswa pendidikan di tempat bermutu. Jadi, kepindahanku ke tempat baru sungguh sangat menguntungkan kedua belah pihak. Dan kau benar, aku sangat menikmati pekerjaan ini. Menyenangkan.

"See... they should value you more. Aku senang kalau kamu lebih gembira sekarang."
"Tapi pekerjaannya banyak sekali, membuatku sulit bernapas."
"Ya... itulah perusahaan rintisan... di mana-mana akan seperti itu."

Lalu kau ceritakan pengalamanmu. Di perusahaan Jepang. Perusahaan Jerman. Perusahaan Inggris. Seru. Berbincang denganmu selalu menambah pengetahuan. Kamu memang selalu seperti ensiklopedia berjalan.

Aku ingat ketika pertama kali mengenalmu. Kapan ya itu? 14 tahun lalu?
Tiba-tiba namamu muncul di jendela percakapan yang baru saja aku unduh. Ahaha... ternyata kita pun "korban" dunia digital. Kamu dan aku yang tidak saling kenal pada awalnya, toh akhirnya bisa menjadi dekat dan kemudian bersama-sama melangkah.

Masa awal mengenalmu, aku kau buat jatuh hati habis-habisan. Bagaimana tidak? Kau seperti sumber ilmu yang tidak ada habisnya. Apa saja yang kau ketahui? Ketika aku kebingungan mencari materi untuk sebuah tulisan tentang kesehatan, kau datang dengan ide dan masukan yang sangat berguna. Ah.... Ide tulisan hanya satu saja dari kelebihanmu. Yang lain? Masih banyak! Dari urusan pekerjaan hingga pengasuhan anak. Atau masalah bos lemes dan kolega gembel... semua seperti bisa kau bereskan. Termasuk mengajakku menjadi lebih relijius mendalami agama.

Sungguh membuatku benar-benar terpikat.

Tapi memang rupanya, kau bukan untukku. Rasanya seperti disambar petir ketika mendengarmu ternyata pada akhirnya tidak memilih aku. Hmm... aku bukan orang yang suka memaksa. Kalau kamu memang tidak mau, ya tidak apa-apa.... Aku kecewa? Tentu saja. Tapi siapa pun yang kau pilih, aku bisa apa?

Herannya, kamu seolah enggan beranjak. Kamu tetap hadir, meski secara fisik tak lagi sesering dulu. Kamu tetap mengirim bunga di saat-saat istimewa. Kamu tetap memberi kejutan-kejutan sebagai penggembira, meski tidak hadir secara nyata. Dan... kamu tetap cemburu ketika aku dekat dengan seseorang. Maksudmu apa?

"Will you leave me?"
"As you wish."
"Tapi kok datang lagi?"
"Nggak boleh?"

Tapi sepertinya, kali ini harus berbeda. Harus ada grand closure. Karena kita tahu, yang kita lakukan tidak akan ada ujungnya. Dan hanya semakin menyakitkan hati saja. Lalu kau pun memenuhi permintaanku untuk berjumpa. Tanpa kau tahu, aku merencanakan bahwa inilah pernjumpaan terakhir kita.

"And how is life?" Sepertinya kamu tahu bahwa aku akan menceritakan sesuatu.
"Life is good."
"In terms of...."
"I met someone."
"Oh... ok...."
"And I think I like him."
"You think?"
"He helped me solve some problems at new office."
"Hmm...."
"And he knows everything... he has answers to all of my questions."
"Hmm...."
"Romantic in his own way. Caring and so on."
"Ok... so... those flowers... those were from him?"
"Haha... lihat di Instagram, ya? Isn't that cute? You used to be the one sending me flowers, and now he continues what you did...."

Aku tiba-tiba teringat bunga-bunga yang kau kirim ke kantor. Bertubi-tubi. Membuatku merasa jadi perempuan paling penting di dunia. Menjadi yang paling dicinta. Harus aku akui, rasa itu masih sama. Tapi aku tahu, perasaan itu harus aku bunuh perlahan.

"Do you meet him regularly?"
"Nope. He works in remote area. Somewhere in the east. We always joke that he lives a life of Crocodile Dundee. He is only able to go home once in every other month and he needs to divide the break time he has between visiting me and visiting his sons."
"Seems familiar...."
"Yeah... you know... the life of a site engineer..."
"Been there, done that."
"What? The work? Or the date?
"Both...."
"Hehehe... I knew. He is just like you.... years ago.... Still remember the midnite driving, huh?"
"And those stops at a coffee joint? How can I forget that?"
"Those were our past...."
"Those were proof of love."
"Still...."
"Hmmm...."
"But seriously, I am thinking of trying to make this work with him."
"Maksudmu?"
"Yaaaa.... aku mau coba... untuk memikirkan ini secara serius."
"Did he propose?"
"Ah... ya belum...."
"He will...."
"Maybe...."
"You already decided...."
"I did."

Kamu hanya menatap. Aku tidak mau melihat luka di matamu. Tahukah kamu jika aku pun susah payah menyembunyikan luka hatiku? Sudah cukup. Ini saatnya aku melanjutkan perjalananku. Tanpa kamu. Ini tidak ada hubungannya dengan rasa yang kupunya untukmu. Aku hanya ingin melangkah.

"So, what do you want from me?"
"I think you know what to do."
"Boleh nggak sih, berlagak bego saja?"
"Jangan. Nanti bego beneran."

Lalu kita tertawa bersama. Menertawai luka di hati kita masing-masing. Luka yang mungkin tak tersembuhkan. Yang sakitnya justru kita nikmati sebagai milik kita yang berharga. Bukti cinta yang tiada habisnya. Tapi kupikir, aku juga perlu memberi diriku kesempatan lain. Dan kupikir, juga kurasa, dia adalah orang yang tepat untuk diberi kesempatan.





Friday, January 04, 2019

I Raised Him Right (Hopefully)

Jadi... anak semata wayang itu sudah mau masuk SMA tahun ini. Time does flies when we had fun....

Seperti juga ketika mau masuk SMP... dia pilih sendiri sekolahnya. Tadinya pengen masuk SMA 2 Serpong. Lihat saingannya... pedih. Trus masih penasaran mau masuk Labschool Kebayoran. Ya itu sih selain saingannya dari seluruh dunia juga jauh banget dari rumah. Mau berangkat jam berapa? Lalu cek SMA 3.... hmm... hmm... sambil berjalan kok melihat bahwa Aria bukan tipe "anak negeri." Dia beda banget sama gue, atau kakak gue, atau adik gue. Kami2 ini merasa anak sekolah negeri yg lumayan. Hahaha.... Tapi bener nggak sih... sekolah negeri itu kan identik dengan siswa yang banyak... guru yg sedikit. Siswa harus aktif dan tekun belajar. Paling nggak bisa mengatur dirinya sendiri. Iya nggak? Atau paling nggak punya orang tua yg bawel ngaturin dan nungguin anak belajar. Yang... tidak dipunyai oleh Aria.

Akhirnya, dengan segala pertimbangan perdamaian dan kegembiraan... pilihan SMA adalah Sekolah Cikal Serpong.

Sempat ragu krn tahun ini baru angkatan pertama. Murid sedikit. Tapi lalu mikir... ya anak skrg juga banyak kok yg homeschooling. Ya sudah. Mari mendaftar (dan membayar).

Ternyata ada beberapa tes yg hrs dilewati sebelum Aria bisa diterima sebagai siswa SMA Cikal Serpong. Pertama, dia hrs psikotest dulu utk tahu kesiapan dia menjadi murid SMA. Lalu setelah itu ada assessment test, Matematika dan Bahasa Inggris. Dan terakhir adalah presentasi tentang passion, lalu wawancara orang tua.

Alhamdulillah semua test berhasil dilampaui anak ganteng kesayanganku itu. Meskipun dia cranky luar biasa sebelum presentasi... ternyata menurut kepsek, he did great. Alhamdulillah. Gue memang ga tahu apa yang dia presentasikan. Hanya pernah dia kasih tahu bahwa dia akan cerita tentang Film The Greatest Showman. Okay.

Untuk wawancara orangtua, Aria wanti2 bahwa yg datang adalah ibu dan papap. Ayah tidak usah. Oke nak... as you wish.... Nah... waktu wawancara inilah yg ternyata membuat gue nggak berhenti bersyukur. Jadi wawancara hanya dengan orangtua, anak tidak dihadirkan. Saat itu kepsek mendiskusikan rencana Aria, dan mempelajari apa yang bisa dibantu sekolah untuk mengembangkan, tentunya dgn dukungan orangtua.

Menyenangkan ya mendengar bu kepsek ini menilai bahwa Aria cukup mature, cukup cerdas, pendek kata cukup oke, dan tahu apa yang dia mau. Hal yang selama ini jarang gue lihat krn di mata gue dia akan selalu jadi my baby.

Menurut bu kepsek, Aria bisa identifikasi dirinya dengan baik. Dia paham kekurangannya yang tidak suka pelajaran hafalan dan bisa bilang "I know I am lazy." Tapi dia juga tahu bahwa "I want to be an actor who appear on silverscreen." Ohohoho.... Meskipun dia juga mempertimbangkan ingin menjadi arsitek. Tapi kok ya nggak ada sisa2 darah ayahnya yg akademisi dan sangat eksakta....

Lalu dia sempat menceritakan hubungan dengan ayahnya, yang menurutnya "biasa saja." "I don't think I missed anything even though I only meet him once a year." Membayangkan bahwa anak yang sampai skrg masih suka cranky bisa bilang begitu kok rasanya wooowowowow.....

Kenyataan bahwa nilai2 assessment test Aria cukup baik, lalu presentasi yang menarik (menurut bu kepsek), dan jawaban2 dia yg lumayan... I know I raised him right. Alhamdulillah. Di tengah segala kekurangan dan keterbatasan, ketiadaan ayah kandung, dan macam2 halang rintang yang terjadi... alhamdulillah anak gue baik2 saja.

Gue berharap (dan berdoa) Aria akan selalu menjadi orang yg bahagia. Aamiin.

Friday, December 28, 2018

Draft 2

Where are you?

Why do you need to know?

Will you tell me?

Why?

Just do, please....

Are you here?

Hmm....

Are you?

Here? Where?

My place....

Are you there?

Hmm....

Where are you?

Where are you?

I am here.

*sound of door knocking*


Wednesday, November 21, 2018

Still Hoping... Wishful Thinking

99 Years

Boy meets girl and the world stops turning
She makes him forget all the rules he was learning
They give a toast to the ones who never stop hoping
With not much to lean on eyes wide open
And they look up high and wonder what the future's gonna hold

Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"

So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that, 
At 99 years like that

They build a house of love in the face of worry
But life has a way of rewriting the story
There were times when it looked like nothing could save them
And there were times when it looked like nothing could break them
They keep promising each other what the future's gonna hold

Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed and we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"

So let's look forward to you and I looking back
To 99 years

Of nothing unspoken
Live every day hoping
That when we feel broken
Our scars make us golden
Still choose you and I

Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love was stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"

So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that
Oh, at 99 years like that
At 99 years like that

(Josh Groban & Jennifer Nettles)

Wednesday, September 19, 2018

Yes or No

Jika ada cara baru 'tuk mengungkap rasa rindu
Aku ingin tahu

Jika ada cara yang belum dicipta untuk cinta 
Aku ingin bisa
Aku ingin bisa

Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku

Berdiam tanpa daya hanya karena kehadiranmu
Sementara jiwaku ingin berseru
Setengah mati ingin kubilang

Jika ada nada baru 'tuk nyanyikan lagu cinta
Aku kan bernyanyi
Aku kan bernyanyi

Jika ada kata yang belum dicipta oleh pujangga
Aku kan bersuara
Aku kan bersuara

Saat semua resah meluluh sayapnya
Saat yang yang kumiliki hanya nafas ini
Sekaranglah itu
Beginilah aku

Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang

Jika mampu kubawa engkau menembus ruang dan waktu
Kuingin pergi  
Percuma di sini

Jika mampu ku menyatu dalam darahmu, dalam nadimu
Agar engkau tahu
Agar engkau tahu

Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku

Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang

Apa yang kurasakan
Apa yang kau dengarkan
Bukan lagu cinta
Lebih dari semua 
Bukan lagu cinta

Semua lagu cinta
Bukan lagu cinta

(Bukan Lagu Cinta - Marcell)

Thursday, July 26, 2018

Terjadilah....

Sebetulnya sudah tahu, bahwa memang tidak akan ke mana-mana
Merasa ada sinar di ujung terowongan
Yang meski jauh, tapi layak ditunggu, layak diperjuangkan

Apa benar ada sinar itu?
Atau hanya ilusi semata?
Halusinasi

Jadi memang sudah tahu, sebenarnya
Hanya berusaha menghindar
Melawan yang nyata
Karena memang rasa tidak bisa ditawar

Ya sudah. Ini pun akan berlalu
Ini... pasti berlalu
Seperti juga yang dulu-dulu.

Thursday, May 31, 2018

You

Knowing that you are there, safe and sound, already makes me happy. Talking to you will always brighten up my day. You are indeed my matahari.

Monday, May 28, 2018

I Miss You

Absolutely. I do.

Friday, May 25, 2018

A Birthday Note

May 25th, 2018

Happy birthday, to you
The one who hold my heart dearly
Whose eyes were always spark
With the best smile I ever encountered
Wish you nothing but the best
With lots of sugar & spice on your path

I know you will fly higher
Embracing many new things life offers.

And I will hold on to the love in my heart.





PS: And thank you so much.




Thursday, May 24, 2018

Berita Duka

Bbrp hari terakhir di medsos, teman2 kantor lama menampilkan berita duka. Seseorang yg kehilangan putrinya. Nama yg kehilangan itu nggak gue inget sama sekali. Jadi agak lama juga gue berusaha mencerna. Itu siapa yg mana ya? Baru semalam paham bahwa mbak itu adalah teman yang pernah satu lantai. Tp krn pertemanan kami tdk intens, jadi ya gitu2 aja. Ikut berduka, tetep. Bagaimana pun, kehilangan anak adalah hal yg luar biasa berat.

Sementara itu, di grup chat teman kuliah rame banget ada anak yang bunuh diri. Loncat dari lt 33 apartemen. Karena nggak bisa pelajaran Bahasa Mandarin. Makanya guru2 Mandarin pada prihatin. Apa iya gara2 itu?  Tuhanku... kok gampang sekali mengakhiri hidup. Pdh dunia ini begitu indahnya....

Jadi tadi pagi pas jalan ke sekolah... berusaha ngobrol sm Aria soal ini. Gimana kalau ada masalah... hadapi... jangan mudah putus asa dll.... Kerasa deh tanggung jawab berat banget jadi orang tua....

Dua berita di atas itu cukup bikin gue goncang. Trus... sampai di kantor gue tahu bahwa dua berita itu berhubungan. Yup. Anak yg loncat itu adalah putrinya teman kantor lama gue. Sedih banget. Lalu setelah gue dapat nickname teman gue itu... gue pun ingat lagi yg mana dia... dan rasanya saat itu dada gue bolong besar saking sedihnya.

Gue kenal Atie adalah anak yg ceria dan selalu gembira. Sama lah modelnya spt teman2 gue lain yg kadang edan kadang waras seringnya amburadul. Yg memandang hidup dgn seru dan berani. Dia menunggu kehadiran anaknya itu cukup lama. Bayangkan bahagianya ketika akhirnya ia punya Leialoha. Kalau nggak salah, lahirnya di Hawaii. Anak itu tumbuh menjadi anak yg santun dan manis. Teman2 yg sering ketemu di kantor mengingat dia sebagai anak penurut yg mandiri.

Gue bayangkan interaksi Atie ke anaknya mirip2 dgn interaksi gue ke anak gue. Ibu dan anak tunggal yg punya bonding kuat. Dan mengingat Atie... rasanya dia mencintai anaknya sebesar gue mencintai Aria.Tentunya dia juga akan membekali anaknya dengan nilai2 yg baik, menyekolahkannya di tempat yg terbaik, memberikan semua fasilitas terbaik buat kesayangannya itu. Gue percaya sekali, seharusnya Atie dan anaknya bahagia.

Dan... anak itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri setelah 14 tahun menjadi permata yg begitu berharga.

Rest in peace, little girl.

Ini adalah hari puasa yg paling sedih. Sungguh gue mewek.




PS: So, you... this is really not a good time to discuss about the guru. I don't think I can handle anything more at the moment. 

Monday, April 30, 2018

Orang Baik

Beberapa hari yg lalu, di wa group kantor beredar pesan soal charity yg dibuat salah satu kontributor. Jadi mas kontrib ini anaknya sakit, perlu MRI. Kalau nunggu antrian BPJS, baru bisa dikerjakan bbrp bulan dari skrg. Padahal, kondisi anaknya perlu segera. Lewat jalur swasta, perlu sekitar 9 juta. Duit dari mana? Jadi dia bikin semacam charity, jualan dimsum. Ada keuntungan yg disisihkan untuk tabungan MRI.

Ketika gue sebarkan ke wa group tim kecil, responnya lumayan menarik. Selain ada yg pesan dimsum, ada juga yg mau langsung sumbang uang saja. Antusiasme tim kecil ini kok membuat gue semangat... menyebarkan berita itu ke grup2 lain yg ada di hp gue.Ada sekitar 4 group, plus beberapa orang yg gue japri soal dimsum charity ini.

Respon awal adalah: "Ini orangnya lo kenal baik kan?"

Yg hanya perlu gue validasi: iya. Ini bukan hoax. Udah gitu doang... Ada yg habis itu langsung pesan dimsum bbrp pack. Ada yg langsung transfer uang ke rekening mas kontrib. Menyenangkan ya.

Menyenangkan bahwa gue kenal orang2 baik. Mereka membantu tanpa tanya macem2 yg rumit. Asal bukan tipu2... sudah.... Pdh beberapa orang di wa group itu ada yg sdh nggak ketemu gue 10 tahun. Ada juga yg hanya pernah ketemu sekali... kira2 9 tahun silam. Tp krn kami di group yg sama, dia merasa bisa percaya judgment gue. Dan ikut membantu juga. Kerennya, sebagian besar orang2 itu nggak mau disebutkan namanya. Mereka hanya mau bantu. Sudah.

Sedikit2 lama2 jadi bukit. Dari jumlah nominal yg masuk memang variatif, kecil besarnya... relatif. Tapi dalam semalam, terkumpul 9 juta. Mudah banget. Nggak perlu bertele2... Mas kontrib bisa segera membawa anaknya MRI. Semoga sakitnya bisa segera ditangani.

Sampai skrg, gue masih takjub dgn keajaiban wa group. Juga bahwa gue selalu dikelilingi banyak sekali orang2 baik, yg masih peduli, masih mau membantu dgn segera. Alhamdulillah. Semoga mereka diberi rejeki berlipat ganda oleh Allah SWT. Aamiin. 


Friday, April 27, 2018

Remaja Jaman Now, WTF & Sekolah Kehidupan

Minggu lalu, Aria dan sekolahnya outing ke Trawas, Jawa Timur. Perjalanan ini sudah diinformasikan sejak awal Aria masuk Mentari. Jadwal mereka sudah jelas: kelas 7 ke Bali, kelas 8 ke Trawas, kelas 9 ke Padang. Bukan perjalanan yang wajib. Tapi kalau bisa, kenapa enggak? Dan mendengar dari teman2 yg anaknya pernah ikut, field trip ke Trawas ini akan jadi the most memorable one.

Baiklah. Pergilah anakku dengan kecemasan, "Menurut kakak kelas, di sana sinyalnya jelek!"

Hahahahaha... dasar anak jaman now.

Gue bukan model ibu2 yg cemas sama anak, trus menelepon sehari 10 kali. Mungkin malah gue termasuk yg cuek. Guru2 juga cukup pengertian terhadap emak2 (yg kepo maupun yg tidak), jadi mereka bikin grup wa, dan setiap malam secara berkala jam 20.00 akan mengirim foto kegiatan anak2 seharian itu ngapain aja. 100 anak, 100+ foto. Seru amat grup ini. Tentu nggak semua akan dpt foto close up, jadi para emak (apalagi yang sudah pakai kacamata plus macam gue) harus siap nyungir2 nyari wajah anaknya.

Aria cukup sering tampil di foto2 itu. Semua dgn wajah semringah, senyum lebar pipi gembul yg anak gue banget :D Foto dia ngasih makan kambing, masak di dapur, main ke air terjun, nyemplung di sawah... semua ada. Anak gue terlihat bahagia (dan nggak peduli soal sinyal). Banyak foto yg dia sedang sama geng cewek2. Ada pula yg macam tercyduk di tengah sawah sama Alika. Panas koncrang nggak peduli, tetep bahagia, ketawa2. Nggak mungkin terjadi kalau perginya sama ibu... Hahaha....

Dan memang Aria cukup bersenang2 selama di Trawas. Ceritanya banyak. Dan seperti biasa anak cowok, ceritanya nggak langsung... tapi sedikit2... jadi sepanjang akhir minggu, cerita Trawas ini ada di mana2....

Nah... yg menarik memang imbas gaul2 sama remaja seumuran dalam waktu lama. Dgn gampang... bisa terbawa ke pergaulan temannya. Peer pressure. Hmm... mungkin skalanya masih biasa aja krn objeknya tidak bahaya utk press pressure kali ini. Apa itu? We the fest, alias WTF. Festival musik Gen Z.

Festival musiknya sih ok. Dan mengingat Aria juga diarahkan ke hal-hal yg musikal, mungkin perlu juga nonton ini. Yg nggak ok adalah harga tiketnya. Dan nggak mungkin gue lepas sendirian kan anak SMP itu? Mau nggak mau... akhirnya lebih baik nggak diizinkan.

"Tunggu sampai kamu SMA,"

Apakah mempan? Tentu tidak. Hahahaha....

Aria sebetulnya bisa beli tiket WTF dgn nabung uang sakunya. Tapi buat gue... masalahnya bukan (cuma) itu.... Kok cemas juga ya membiarkan anak gue itu ada di sebuah lokasi yg sangat luas tanpa ada yg jelas bisa tanggung jawab. Aria? Halah... sepatu aja suka berceceran.... kayaknya memang belum bisa dikasih tanggung jawab mengatur diri sendiri. Jadilah harus berjibaku mencari cara untuk menenangkan dan mengalihkan pikiran si ABG ini dari WTF.

Gue inget dulu itu seumur dia, gue juga pengen nonton NKOTB. Atau Rick Astley. Atau siapa lagi ya musisi jaman old.... hahaha.... Akhirnya nggak nonton juga. Ya iyalah krn nggak punya duit. Minta bokap? Bisa dipentung. Dan yg gue ingat, temen2 gue anak Menteng yg pada nonton itu... akhirnya skrg juga biasa aja kok. Nggak jadi lebih sukses atau lebih berjaya. Biasa saja. Kesimpulannya: yg elu tonton di masa SMP itu efeknya nggak gitu2 amat ke kehidupan elu.

Gimana cara ngasih taunya ke Aria? Ga ada cara lain... ya udah bilang aja begitu. Gue ceritain dulu gimana. Gue pengen apa. Jadinya gimana. Trus kapan gue nonton konser pertama kali. Karena apa. Termasuk sederet kelebihan Aria sbg anak sekarang yg dibesarkan di keluarga yg (alhamdulillah) cukup.

Ngambek lah dia. Nggak mau ngomong sama ibu krn kecewa nggak boleh beli tiket WTF. Sampai akhirnya dia ikut kelas pendidikan seks di sekolah. Ada tentang fedofilia. Nah!

"Dari mana kamu bisa yakin, bahwa semua orang yg masuk WTF itu baik hatinya? Bahwa nggak ada dari mereka yg fedofil... mencari2 kesempatan untuk dapat korban? Dan kamu, buat orang2 itu adalah anak kecil. Kamu masih anak2 yg bisa mereka perdaya. For all the things in this world, one thing I am sure: I cannot afford to see you injured."

Wis.

Aria melotot (nggak sepenuhnya sih, wong matanya sipit). Tapi lalu dia diam. Trus nggak lama dia lalu ngomongin hal lain. Sejam kemudian dia minta sepatu baru. Damai pun turun di bumi.




Tuesday, March 13, 2018

Menulis & Membaca

Sudah lama banget nggak nulis2 yg bener nih. Padahal di bio IG bilangnya love to read, love to write. Buktinya manaaaaa.... Banyak banget alasannya. Hahaha.. apa sebaiknya mulai menuliskan alasan?

Entah kenapa, susah banget menemukan waktu buat membaca. Kayaknya dulu itu baca bisa kapan aja di mana aja, nggak duli sekeliling. Bisa baca buku setebal apa pun, dengan segera. Cap cus. Sekarang... kok gadget lebih menarik?

Dulu juga sering nulis2 di mana2. Catatan kecil, update blog, atau notes ini itu di mana2. Sekarang... nulis status aja kadang iya kadang enggak.

Wahai aku... ada apakah gerangan?

Mungkin gue harus puasa gadget kali ya. Sabtu Minggu ini? Coba ah. Siapa tahu jadi sesuatu.