Thursday, December 07, 2017

Rindu

Dan....
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.

Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal rasa.

Monday, November 27, 2017

Forget Me Not

Remember me
Though I have to say goodbye
Remember me
Don't let it make you cry
For even if I'm far away I hold you in my heart
I sing a secret song to you each night we are apart

Remember me
Though I have to travel far
Remember me
Each time you hear a sad guitar
Know that I'm with you the only way that I can be
Until you're in my arms again
Remember me


(Remember Me, Coco Soundtrack) 

Thursday, November 02, 2017

A Tiny Little Dot

When you feel your love's been taken
When you know there's something missing
In the dark, we're barely hangin' on
Then you rest your head upon my chest
And you feel like there ain't nothing left
I'm afraid that what we had is gone


Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave


When you lay there and you're sleeping
Hear the patterns of your breathing
And I tell you things you've never heard before
Asking questions to the ceiling
Never knowing what you're thinking
I'm afraid that what we had is gone


Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave


And I want this to pass
And I hope this won't last
Last too long

(Niall Horan - Flicker)

Monday, October 30, 2017

Mom R Us

Beberapa kali dapat pertanyaan, "Gimana caranya mengubah nyokap supaya gini gini gitu..."

'Gini-gini-gitu' bisa diganti macam2... intinya sih supaya nyokap nggak kayak sekarang. Jawabnya? Nggak bisa lah yaw. Hahahaha....

Nyokap, seperti juga orang2 lain... nggak akan bisa berubah kalau nggak karena keinginan beliau sendiri. Pengen beliau lebih mandiri? Lebih royal? Lebih nggak panikan? Lebih nggak kepo? Ya nggak bisa kalau beliau nggak mau. Maaf ajaaaaa....

Gue adalah contoh anak yg nggak pernah keluar dari rumah. Iya. Selalu tinggal sama orang tua. Gue rasa memang rejeki gue aja. Anaknya nyokap ada 3, yg 2 kuliah di luar Jakarta. Hanya gue yg di UI Depok. Punya kamar kos, tp tetep lebih sering pulang hahahaha.

Ditakdirkan nggak boleh pisah jauh2 dr nyokap... waktu punya anak kok ya balik ke rumah nyokap. Trus waktu Aria sdh agak besar, sdh mulai harus mikir sekolah... memutuskan pindah ke BSD. Nyokap? Ikut. Beliau jual rumahnya buat bangun tanah sebelah rumah gue. Hahahaha.... Jadi skrg gue dan nyokap ya tetep satu rumah. Practically ada kakak gue yg tinggal di rumah juga. Tp tetep aja kayaknya nyokap ya maunya apa2 ke gue... hahaha... mungkin krn gue anak perempuan?

Nah... selama ini hidup sama nyokap, nggak mungkin lah kalau nggak ada perselisihan. Tp makin ke sini, kok ya rasanya semakin nggak pengen rusuh2. Udahlah.... Memang ada bbrp sikap nyokap yg gue nggak setuju. Kebiasaan2 beliau juga banyak yg menurut gue 'kurang kekinian'... hahaha.... Tapi ya gimana? Nggak akan berubah kalau beliau tak ingin ganti sendiri. Gue merasa cukup bilang sekali kalau gue ga setuju. Habis itu terserah. Kalau masih berulang lagi, gue akan melipir aja pura2 nggak lihat. Beres. Gengges? Iya sih. Tp trus gimana? Sebentar kemudian juga beliau akan lupa. Jadi percuma juga marah2 tarik urat.

Yang paling penting adalah gue akan ingat2... duluuu... dulu banget waktu gue kecil... gue pasti juga gengges macam begitu. Iya kan.... Jadi kalau skrg digenggesin.... ya udahlah yaaaa... Enjoy aja!
 


  

Friday, October 20, 2017

Addiction

.... Being without you
Takes a lot of getting used to
Should learn to live with it
But I don't want to....


(Hard Habit to Break - Chicago)

Thursday, October 19, 2017

To Fall in Love

Dreams... you've been afraid to have dreams
Here in my arms lying face to face
It's a tender place
Just lay back and see 

You could be saved loving me
Don't pull away when I call you're mine
What you need is time

And I just want you...

To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask

To fall in love is what you have to do
Just like I have to fall in love with you


Friends, we started out more than friends
We should have known when we touch too deep,
It was far too sweet
Don't let this feeling end
'Cause I want to touch you again
If you could see that your heart is mine just a bit too kind

And how I need you...


To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask

To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you


You are a part of me won't ever be just a memory
Sometimes you really have to love
And I know I can make you...
Baby, I love you....

To fall in love....
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
I just have to fall in love with you.

(Phil Perry)

Wednesday, October 18, 2017

I Love You

... if I keep my feeling strong... I'll find a song you sing....


Born to Love You (George Duke)

Tuesday, October 17, 2017

Bercerai Kita...

Nggak akan ada orang yang berencana untuk bercerai. Nggak ada. Namanya menikah, pasti niatnya untuk selamanya. Jadi kalau memang harus bercerai, pasti... dan harus... ada alasan kuat. Kuat saja tidak cukup, alasan untuk bercerai harus sangat sangat sangat kuat.

Gue mungkin bukan "contoh yang baik" mewakili perempuan yang bercerai. Karena gue bisa tuh, mengabarkan perceraian dengan nada yang sama seperti bilang, "Lihat deh, sepatu gue baru, bagus ya." Hahaha.... ya gue memang gitu. Cuek. Sejak bercerai, kecuekan ini makin menjadi karena gue tahu, sejauh ini, ga ada kejadian di dunia yang lebih buruk akibatnya dalam hidup gue sehebat perceraian dan anak masuk RS.

Tapi itu kan sekarang....

Dulu, gue pun melewati masa galau, bercerai atau enggak, nanti kalau sudah bercerai gimana... tinggal di mana... Anakku piye? Tapi toh gue tetap bercerai karena tidak ada pilihan lain.

Sekarang, setelah kurang lebih 13 tahun menjadi single mom... banyak yang melihat bahwa gue baik2 saja. Anak sehat. Sekolahnya betul. Gue sendiri sehat juga (fat overdose malahan hahaha), dengan karier yang bener. Punya rumah. Punya kendaraan. Bisa liburan sekali atau bahkan dua kali setahun. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Ga bisa bilang apa2 selain bersyukur bisa sampai di titik yang sekarang.

Karena sebenernya, masalah yg utama bukan bercerai atau tidak bercerai. Perceraian itu hanya semacam pintu. Yang mestinya dipikirin adalah dunia di balik pintu itu, yang tidak akan kamu tahu sebelum kamu masuk  ke dalamnya. Di balik pintu perceraian itu, lagu2nya nggak selalu merdu... kalau kata salah satu fellow single mom.... lagu2nya terserah DJ mau muterin apa... pengunjung harus goyang ajalah pokona mah... kalau enggak goyang pilihannya edan.

Nah, kehidupan di balik pintu perceraian itulah yang banyak tidak disangka oleh orang2. Seolah2 setelah bercerai, hidupmu akan baik2 saja dan mulus2 saja karena persoalan besar sudah kau lalui. Maaf cyin... belum tentu begitu ceritanya....

Betul... setelah proses perceraian usai, hakim ketok palu... kamu resmi jadi single lagi. Oke. Single... bisa pacaran lagi dong? Bisa banget... itu juga salah satu dunia baru. Bayangkan... saat temen2 lain (yg sudah menikah) sibuk ngurusin pasangan yg ngambekan, lagi bosen, mulai merasa rutin... kita para single bisa punya pacar, dating, dan kalau marahan suruh pulang aja tuh laki! Enak? Enak sih... kalau bener bisa begitu saja urusannya. Karena oh karena... selain bahwa kita para single ini boleh dating lagi... ada konsekuensi sosial juga yang hrs dipikul. Misalnya... akan ada cowok2 yg merasa perempuan (berumur) single ini perlu dikasihani karena haus kasih sayang dan haus belaian, dan mereka suka cita memberikan tanpa pamrih (pret). Di sisi lain, akan ada cewek2 yg ketakutan dgn keberadaan single mom. Seolah setiap single mom adalah perempuan gatal yang akan mengganggu suami2 mereka, jadi harus dijauhi dan dimusuhi. Ngadepin begini2 kalau nggak pinter bisa jadi masalah baru. Yg juga perlu diurus adalah masalah stigma di masyarakat. Printilan2 ga penting ini baru akan terjadi (dan mengganggu pikiranmu) setelah kamu resmi bercerai.

Mau cuek aja? Boleh banget. Dan memang seharusnya begitu. Cuek aja. Tapi tentu saja bukan lalu cuek aja menghampiri tiap laki2 yg royal dgn belaian dan pelukan dong... Cuek tetap harus yg bermartabat. Siap2 menampar semua laki2 beristri yg mendatangi dgn kedok cinta. Tabok aja. Cuek. Tp harus tetap berkarya. Bukan masalah pembuktian, berkarya itu harus krn itulah kodrat manusia. Kalau berkarya bisa menghasilkan... bagus juga.

Ngomongin berkarya yang menghasilkan... harus juga dipikirin, setelah cerai, gimana menghidupi anak2. Oke... tentu ada keputusan pengadilan bahwa bapak anak2 harus membiayai. Bagus sih, kalau keputusan ini dijalankan. Kalau enggak? Mau nuntut hak boleh2 aja... lapor polisi juga silakan... tp kalau nggak dikasih juga, mau apa? Bapaknya anak2 ditangkap polisi biar kapok? Memang kalau kapok trus ada jaminan ngasih duit? Enggak cyin.... You will be on your own once the knot were broken. Camkan itu. Lu  harus bisa berdiri sendiri. Jungkir balik kadang2... ya dijalani ajalah... bisa jadi ada tanggal2 mepet jurang... hahaha... sudahlah... dinikmati aja. Percaya kalau rejeki sudah diatur Tuhan YME, tinggal cari cara menjemput yg halal. 

Ada banyak hal yang nggak dialami orang2 yg belum pernah bercerai.

"Biasa juga sendirian kalau suami pergi ke luar kota."
Gundulmu amoh. Beda tauk. Sendirian untuk sesaat karena tahu akan ada yang pulang (meskipun pulang cuma sehari), beda dengan sendirian dan tahu pasti besok pun akan tetap sendirian. Minggu depan juga masih akan sendirian. Bedanya di mana? Nggak bisa diceritain. Harus dirasain sendiri.

"Selama ini kan gue kerja juga, bisalah menghidupi anak2."
Ya bagus kalau begitu. Jangan lupa, kalau sdh cerai, keluar dari rumah, atau pisah rumah sama bapaknya anak2... berarti ada tambahan biaya listrik, air, bensin (atau malah mobilnya sekalian yg hrs diurus), juga uang sekolah anak2 yg selama ini mungkin jadi tanggung jawab suami... dan skrg semua hrs lu lunasin sendiri. Sendiri. Syukur2 kalau ada allowance rutin dari doi tiap bulan... kalau nggak? Bayar tuh sendiri. Apalagi kalau ternyata kehidupan selama ini 100% ditunjang suami.... Nah... kalau sendiri gimana? Sudah siap?

"Ternyata banyak kok yg masih naksir gue, di dating site gue masih laku."
Tobil anak kadal. Dating site itu nggak bisa dipercaya. Ya tetep ada kemungkinan ketemu jodoh. Tapi udahlah jangan diharapkan terlalu banyak... pacaran belasan tahun aja bisa cerai, kok masih percaya dating site.... Intinya juga, jangan buru2 mau cari pasangan lagi. Apa salahnya? Nggak ada. Tapiiii... ketemu orang baru saat hati masih galau... apa yg kau harapkan? Setiap hubungan, sebentar atau lama, ketika usai pasti meninggalkan kekosongan di hati. Itu yg harus dibenahi dulu. Beres2 dulu deh. Jangan terlalu gegabah mau dapat pasangan lagi. Hati yang belum bener bisa mengelabui. Kayaknya cinta... padahal cuma nafsu. Kayaknya tertarik... padahal cuma karena nggak ada yg lain aja. Gawat kan?

"Gue sih nggak mau urus cerai, enak aja, dia yg salah. Dia yg urus. Jangan sampai gue rugi dua kali."
Gombal mukiyo. Ini pernikahan atau kontrak dagang... kok ada untung rugi.... Jangan pernah melihat perceraian sebagai masalah untung atau masalah rugi... karena itu semestinya jadi jalan keluar yg paling akhir (kalau beneran sudah nggak ada cara lain). Siapa yang urus perceraian jadi nggak penting, karena itu tadi... yg penting adalah kenapa bercerai dan setelah cerai situ mau apa.... Ini bukan mainan yang bisa di-delete, atau di-undo....

Hmm... panjang juga postingan ini ya. Tumben. Mudah2an ada gunanya sih. Ini semua berdasarkan pengalaman personal yang... hmm... mungkin berbeda untuk tiap orang. Tetap yg perlu digarisbawahi: bercerai perlu alasan yang sangat kuat. Dan yang menjalankan harus siap. Bye.



Wednesday, October 11, 2017

Cinta Itu...

Mencintai seseorang tapi nggak bisa apa2. Sedih ya. Tapi tetep nggak boleh merasa diri paling menderita karena banyak yang lebih rusuh lagi hidupnya. Dibandingkan mereka yang nggak bisa makan, nggak punya tempat tinggal, anaknya masuk rumah sakit... sekadar urusan cinta sih cuma remahan rempeyek....

Meskipun mungkin rempeyeknya kelas atas yang harganya 1 ons Rp 600 ribu....

Seorang teman menceritakan kembali hidup pernikahan dia selama 16 tahun. Bersama orang yang dia cintai. Yang akhirnya dipisahkan oleh maut. Tapi pembukaan ceritanya aja sudah ngenes... "Memang janda yang ditinggal mati sepertinya lebih manis didengar. Meskipun hidupnya bisa saja lebih pahit."

Dia sudah jadi single mom 10 tahun. Sejak suami meninggal, dia tidak (atau belum?) menikah lagi. Pernikahan 16 tahun dengan orang yang dia cintai itu ternyata isinya duri melulu. Dari mulai nggak dikasih nafkah, diperlakukan seperti pembantu, dicaci maki, sampai ditinggal pergi. Bahkan waktu suaminya itu sakit pun, di rumah sakit, paralyzed due to terminal illness, dia masih bisa memaki dan membentak. Dan teman gue itu tetap melayani, menemani, mengurusi... sepenuh hati. Edan tenan.

Sejak kapan verbal KDRT? Sejak tamu-tamu pesta pernikahan pulang. Astaga.

Jadi hidup pernikahan diawali dengan, "Kamu nggak boleh tidur sebelum aku tidur, perempuan tolol."

Dan teman gue bertahan. Mengurusi tiga anak, rumah besar tanpa pembantu, dan suami yang sulit dibendung amarahnya.  Dia akui, 16 tahun itu ia jalani dalam keadaan bahagia karena menikahi orang yg dia cinta. Meskipun dimaki? "Nggak apa2 dibentak juga, aku tetap cinta. Dari dia aku dapat tiga anak yang aku cinta juga." Meskipun selama itu tidak pernah dinafkahi, jadi dia dan anak-anak mengandalkan uang kiriman dari orangtua.

Suatu saat suaminya tidak bisa berjalan. Dan kesakitan. Dia pontang panting mencarikan kursi roda, cari taksi, ke rumah sakit. Dan sepanjang perjalanan itu suaminya tetap memaki, mengatai dia bodoh, lambat bekerja, tidak bisa apa2. Kok bisa? Kalau gue... udah gue tinggal dari kapan2....

Dia bahkan menyembunyikan penyakit suaminya, karena masih ingin sang suami bersemangat, jadi cepat sembuh, dan bisa pulang ke rumah. Susah payah dia kongkalikong sama dokter, suster... semua orang yang menjenguk untuk nggak membahas penyakit. Sampai akhirnya si suami meninggal. "Tugas gue sebagai istri sudah selesai. Mudah-mudahan gue menjalankan peran gue dengan baik," katanya.

Astaga.

Sekarang, 10 tahun setelah sang suami wafat... teman gue itu baru bisa menceritakan yang terjadi. Dan dia menangis, tersenyum, geram, tertawa, menangis, tersenyum... campur aduk... seperti merasakan kembali yang dia alami selama 16 tahun. Ketika ceritanya tuntas, dia tersenyum lebar sekali. "Gue berhasil mengeluarkan semua cinta gue buat suami. Terserah bagaimana balasan dia atas cinta gue. Semua sudah berlalu. Sudah gue ceritakan, jadi orang-orang tahu. Bukan, bukan untuk menjelekkan yg sudah tiada. Ini adalah upaya gue mengosongkan bagasi. Supaya lega. Sekarang gue bisa tenang menjalankan tugas gue menemani anak-anak."

Cinta. Katanya. Cinta yang aneh? Nggak tahu.

Dan gue yakin, yang model kyk temen gue itu banyak....

Ya kan, setelah tahu ada yang mengalami cinta yg "ajaib"... kisah cinta gue jadi biasa aja. Hahaha....

Thursday, September 28, 2017

Hujan

Di luar hujan. Untung aku ada di dalam ruangan. Untung? Iya... karena jadi tidak kehujanan. Tapi... sayangnya, ruangan ini berpendingin udara. AC ditambah hujan... jadinya dingin yang menggigit sampai ke tulang. Semriwing. Kayaknya bisa masuk angin deh ini.

Di luar masih hujan. Kelihatan orang-orang yang baru turun dari kendaraan mengembangkan payung. Yang berpindah dari satu toko ke toko lain juga berpayung. Payung mengembang. Warna warni segera memenuhi jalan. Merah, biru, kuning... tapi kenapa kebanyakan payung berwarna hitam?

Hujan ini sepertinya akan sering datang. Karena sekarang sudah bulan September. Kata ibuku, nama bulan yang berakhiran -ber seperti pertanda akan datangnya hujan. Siap-siap untuk kehabisan baju, karena yang dijemur tidak kunjung kering.

Kamu suka tidak kalau hujan? Aku sebenarnya suka. Hawa jadi sejuk. Lalu, debu jalanan juga berkurang. Sayangnya, hujan sering membuat lalu lintas tersendat. Entah untuk alasan apa. Mungkin karena pengendara mobil berjalan lebih lambat? Atau karena pemotor banyak yang berhenti sembarangan untuk berteduh sementara? Yang jelas... akibatnya... macet. Nah, kalau begitu, aku jadi tidak senang hujan. Macet bikin sakit kepala.

Yang paling aku suka ketika hujan adalah mencium bau tanah basah. Baunya membawaku pada kenangan keluar masuk hutan belantara, yang basah berembun, bersama kamu.


(ditulis untuk pelatihan BI Blogger & Vlogger, Yogyakarta September 2017)

Monday, September 25, 2017

Hidup di Kota

Kemarin menghadiri syukuran lahirnya Rimbun Khatulistiwa, di Bandung. Selain keriaan ada bayi baru di keluarga Maskoem, kesempatan kumpul2 keluarga selalu menyenangkan karena adanya update ini itu.

Yang kemarin jadi highlight adalah adanya cucu mbah Payaman (sebutan untuk keluarga dari pihak nyokap), yang menikah di usia 24. Sebenernya bukan usianya yg bikin heboh. Secara umur memang sdh cukup, secara agama maupun negara sdh boleh menikah. Hanya, anak laki2, baru saja lulus, dan dia adalah yg terkecil di silsilah keluarganya. Oh ya, dia ini anaknya sepupu nyokap. Jadi mestinya Rio ini sepupu gue ya. Haha....

Rio ini menikah, di usia muda, bukan karena dia yg pingin menikah. Lho kok bisa? Iya, dia menikah karena disuruh menikah oleh keluarga (calon) istrinya. Rio ini kerja di BUMN. Ditempatkan di proyek di desa Sambi. Nah... di sinilah dia ketemu kekasih hatinya. Konon sih sebenernya mereka ini sempat satu sekolah... entah di SMA atau di SMP... tp setelah lulus, si mbak kembali ke desa Sambi ini.

Adanya mbak cantik di desa ini ternyata cukup meresahkan. Meresahkan orangtuanya... karena sdh umur 25 belum kawin juga. Yaaaa gimana... untuk anak2 milenial, umur 25 kan belum apa2 ya. Tp menjadi millenials di desa Sambi ternyata berat, cyin. Si mbak ini sdh "dipinang" beberapa laki-laki. Yg dia tolak mentah2 krn hatinya sdh tertambat pada kangmas Rio. Dijodohin sama siapa2 juga menolak, maunya Rio semata. Ohohoho....

Bapaknya kalau ga salah pemuka desa. Jadi kehadiran Rio ini segera jadi sorotan. Nambah2 pusing aja nih... setelah pusing anaknya udah umur 25 blm kawin... ada lagi nih laki2 namanya Rio asyik2 ngapel. Rencanamu apa, le? Haha.... beneran akhirnya Rio "ditantang" sama (calon) mertuanya. "Kamu mau apa sama anakku?"

Rio... karena sdh cinta dan juga merasa bertanggungjawab... akhirnya mengajukan pinangan. Begitulah kisahnya hingga satu milenial melepas masa lajang di desa Sambi....

Gue sih nggak pro atau kontra soal pernikahan Rio. Ya kalau sudah jodoh, nggak akan ke mana juga.... yg gue lihat unik adalah bagaimana lingkungan bisa membuatmu melakukan sesuatu. Umur 25, di desa, belum kawin... jadi bahan gunjingan di desa. Bisa saja krn nggak tahan jadi gunjingan, seseorang akan melakukan hal yang di luar rencana. Termasuk mendadak kawin.

Hoaaaah... apa kabar ya kalau ada janda bercerai umur 30?

Cerita soal living single in the village ini kebawa ke kantor, dan terkuaklah cerita2 lain yang lebih "seru". Ada seorang tante yg lalu dilamar sama kelapa desa setelah setahun ditinggal meninggal suaminya. Ada yang didatengin beberapa laki-laki yg antri... setelah kembali ke desa dgn status janda. Pilihannya banyak, dari jawara sampai kepala desa. Dia pilih... pensiunan PNS. Krn PNS itu statusnya paling tinggi di desa.

Jreng.... semakin gue bersyukur tinggal di BSD. Yg mana orang2 nggak peduli (atau peduli tp nggak berani ngomong) kalau gue ini single, punya anak satu. Mereka nggak ngurus kenapa gue nggak kawin lagi. Mereka nggak tanya2 kapan gue berencana menikah lagi... dll...dst... dsb.

Semua aman. Hidup di kota memang menyenangkan.

Wednesday, September 20, 2017

Where....

Tadi rasanya semangat buka blog... mau nulis ttg rame2 politik. Hahaha... tumben amat ya. Tp lalu malah tertahan baca sesuatu dan akhirnya bikin mood nulis berlalu... jreng...

Ya sudah, nanti aja nulis lagi kalau sdh pengen nulis. Bye now.

Thursday, September 07, 2017

Sungguh

Dalam Doaku

(by Sapardi Joko Damono)

Dalam doaku subuh ini
kau menjelma langit
yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara
yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang
lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.

Friday, August 25, 2017

Current Situation

I feel like having a hollow in me. Try to fill the gap with anything crossing my mind.... it didn't work. At least not now.






















I feel empty.

Tuesday, August 22, 2017

Nyeri di Ulu Hati

Ada rasa nyeri di ulu hati, ketika melihat foto-foto itu, kamu. Dengan mereka. Dan aku tidak di sana, tentu saja. Rasa nyeri itu terasa menggigit. Kadang samar saja, seperti angin yang keluar dari mesin pendingin ruangan. Tapi seringkali begitu jelas, hingga bulu kudukku berdiri.


Nyeri itu tidak hilang, meski aku sudah berusaha bersenang-senang. Kucoba banyak hal baru, bertemu banyak orang yang selama ini tak kukenal. Kami melakukan banyak hal yang selama ini tak pernah kupikir akan kulakukan (Atau mungkin selama ini aku menunggu. Berharap punya kesempatan melakukannya denganmu. Yang ternyata sia-sia saja ditunggu). Apapun, nyeri itu tidak hilang juga meski aku pikir aku sudah bergembira ria.

Rasa nyeri itu kemudian semakin menjadi, datang dan pergi sesukanya. Karena apa pun yang terlihat, terdengar, terasa... seringkali membawa pikiranku kepadamu. Terlebih ketika aku bersendiri. Juga ketika melewati beberapa tempat yang dulu sering menjadi kesukaan kita. Kita. Kamu dan aku. Kita, yang saat ini, ternyata menimbulkan rasa nyeri di ulu hati.

Aku tahu rasa nyeri ini tidak ada obatnya. Tanpa harus konsultasi dokter, aku berkesimpulan begitu. Rasa nyeri ini hanya akan hilang, seiring dengan perginya bayang-bayangmu. Jadi, mungkin tidak sekarang. Karena aku masih belum bisa melepaskan seluruh ingatan tentang kamu.

Baiklah, aku akan berteman saja dengan rasa nyeri ini. Rasa nyeri di ulu hatiku. 

Saturday, August 12, 2017

Fragments


Stage 1

She has been waiting for a nice short break in between work. Finally found a specific date and started her trip itinerary. She put everything in detail. Not only where to have lunch or dinner but also what to wear on those occasion. Then, view days before the d-day she found out that her partner -whom she would meet during the trip- was cheating on her. She canceled everything.

Stage 21

They've been longing to have a kid since day 1 they tied the knot. 10 years later she finally delivered a baby. Unfortunately, the baby was blind and deaf. And has more fingers than any other baby. They cried a little before planed every best treatment available for the baby.

Stage 33

She is a very beautiful girl, daughter of a director in one big famous company. With her parents wealth, she can have everything she wants, including the best European car to drive to private school. She just earned her diploma in management when she found out that all this time her father, her idol, was cheating on her mother.

Stage 56

Not long after graduated from university, she married to her long time boyfriend, a bright and brilliant accountant. They lived happily with their 2 beautiful kids. Just before they went to their son's graduation ceremony, she found out she had lump in her right breast. At the age of 53, she started her journey to fight against cancer.


Stage 78
...

Stage 102
...

Stage 323
...

...


...


So everyone has their own drama. Everybody has to play their role in this world, whatever it is, whether like it or not. So please do not feel as if you are the most unfortunate person. We all have to endure our own battle.

Thursday, August 10, 2017

Why? How?

Why did you ever come back?
Why did you ever give me hope?
Why did you do that? Why?
How could you?


Update:
I just cancelled my trip for next week. It hurt me more since I planed it in detail. As detail as possible, hoping it would be a memorable one. Yes it is your fault.

Tuesday, August 08, 2017

Tentang Perempuan Pintar

Bukaaaaannn... postingan ini bukan tentang gue... hahahaha...

Jadi ternyata sekarang lagi rame soal postingan seorang cowok yg mendamba istri soleha. Cukup soleha saja. Nggak perlu pintar. Bahkan disebut nggak perlu bergelar S ini S itu....

Ya terserah dia sih, mau istri macam apa.

Hanya menurut gue... itu ungkapan rasa minder bin kurang percaya diri berlebihan. Kalau mau lebay lagi... takut banget saingan sama perempuan, mas....

Soal laki2 minder ini memang jadi kompleks. Kalau sdh nggak percaya diri, ya susah lah mau "megang" perempuan. Apalagi yg pinter. Gini ya, perempuan pinter itu akan selalu merasa berada dalam cangkir. Artinya, dia selalu merasa kesempitan... pengen selalu pindah ke mangkok (biar agak lega). Ih... kenapa jadinya malah inget ke gue yg gendut? Rese. Huh....

Tapi serius. Gue percaya perempuan yg isi kepalanya jalan terus nggak akan nerimo aja dalam sebuah kenyamanan. Di kantor, misalnya. Kalau dia merasa ruang geraknya sudah terbatas... dia akan cari tempat main baru. Bbrp perempuan pintar yg gue kenal bahkan mengorbankan kenyamanan (misalnya gaji besar) untuk pindah ke tempat lain karena di tempat lain itu dia bisa berkembang lebih cepat dari sisi intelektual. Ikan besar di kolam kecil atau ikan kecil di kolam besar nggak terasa ada bedanya lagi. Yg penting hati senang dan otak berjalan. Setelah gue tanya2, kenapa kok mau aja meninggalkan fasilitas yg mapan utk hal lain, rata2 jawabnya sama: krn semua hal yg berbentuk tantangan lebih asyik daripada yg woles2. Dan dengan modal kepintaran... duit sih jadi gampang ditemukan. Katanya sih begitu....

Balik lagi ke pernyataan mas2 di atas tadi... kayaknya sih nggak hanya soal kepintaran yg bisa bikin minder. Sering juga bentuk fisik. Yg sering gue denger... karena ceweknya lebih tinggi, nggak boleh pakai high heels (krn doi akan makin menjulang dan masnya akan makin tenggelam).

Hmmm....

Pada akhirnya, laki2 minder akan tidak menarik di mata perempuan. Apalagi kalau mindernya karena perempuan lebih pintar. Terhadap pernyataan seperti itu, perempuan juga bisa bales: yang pinter2 juga ga bakal mau sama situ. Bhay.

Monday, July 31, 2017

Today's Mood

Sampai Jadi Debu


Badai Tuan telah berlalu 
Salahkah ku menuntut mesra? 
Tiap pagi menjelang
Kau di sampingku 
Ku aman ada bersamamu 

Selamanya
Sampai kita tua 
Sampai jadi debu 
Ku di liang yang satu 
Ku di sebelahmu 

Badai Puan telah berlalu 
Salahkah ku menuntut mesra? 
Tiap taufan menyerang 
Kau di sampingku 
Kau aman ada bersamaku 

Selamanya 
Sampai kita tua 
Sampai jadi debu 
Ku di liang yang satu 
Ku di sebelahmu


Banda Neira

Monday, June 05, 2017

Love

You know I love you. Endlessly.