Friday, February 21, 2020

Jangan Menghilang....

Kira2 16 tahun lalu, gue masih ngantor di Kuningan. Masih punya mertua kaya raya, jadi ke mana2 diantar mobil (yg bagus banget, seri yg lbh baru ketimbang yg dipakai CEO perusahaan gue waktu itu) dan supirnya. Tiap pagi rutin ngantor sambil menikmati kehamilan.

Sampai suatu hari di bulan Mei, pulang kantor spt biasa, sampai rumah seperti sudah ditunggu bapak dan ibu (mantan) mertua. Ada apa?

Setelah muter2 cukup lama, bicara ini itu, akhirnya mereka menyampaikan satu berita: bapaknya anak gue minggat.

He has gone.

Dia keluar rumah lewat pintu belakang kira2 tengah hari. Nggak ada yang tahu dia ke mana. Tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati.

Gue ingat sekali waktu itu hanya bisa diam. Memang gue agak lambat bereaksi untuk segala hal. Dan ternyata untuk hal sepenting "suami hilang" pun, reaksi gue cukup lama keluar.

Baru setelah gue mandi, diam di kamar, gue baru paham: I will be alone for then on. All alone.

Dan saat itulah gue baru bisa menangis. Lama. Nggak ada yg tahu. Bayangkan, gue hamil, dan nggak lama lagi akan melahirkan. Dan nggak ada suaminya.

Waktu itu gue sedang dalam tahap konseling ke psikolog. Tadinya buat konseling perkawinan. Tp krn "mempelai pria" melarikan diri... ya udah jadinya bu psikolog itu berubah haluan jadi support gue saja. Oh ya, gue masih ke sana, meskipun sendiri, karena sudah terlanjur bayar bbrp sesi. Kalau ga salah waktu itu masih ada 2 sesi yg tersisa. Gue inget banget, bu psikolog bilang, "Ibu harus segera gembira lagi. Kesedihan akan memicu hormon-hormon, salah satunya kortisol. Masih banyak penelitian tentang hormon ini, tapi saya curiga bahwa hormon kortisol yang masuk ke placenta bisa membuat bayi menyandang autism." Oh no.

Sejak saat itu, gue tidak lagi memikirkan kesendirian. Dan berhasil memecut diri untuk mulai berpikir bahwa ke mana pun ada anak gue yg anak menemani. I am not alone after all.

Semua pun berjalan sebagaimana seharusnya. Alhamdulillah anak gue lahir dengan sempurna. Sehat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah wa syukurillah.

Yang ternyata tersimpan di bilik otak gue adalah trauma pada kehilangan. Dlm hal ini kehilangan seseorang. Ketika Bapak meninggal, gue nggak bisa pulang. Tapi gue sempat komunikasi lewat telepon, dan gue paham betul bahwa Bapak pergi. Gue tidak merasa kehilangan, karena gue tahu Bapak tidak hilang. Hanya tugas beliau sudah usai. Ketika (mantan) suami gue pergi, dia menghilang. Nggak bisa dihubungi dan nggak diketahui di mana keberadaannya. Ketika akhirnya sebulan kemudian dia bisa ditelepon, rasanya sih sudah telat. Dalam arti, gue sudah menyimpan kesedihan karena kehilangan di otak gue.

Apa akibatnya?

Sekarang2 ini gue sangat anxious ketika ada orang2 tertentu yg tiba2 hilang dari radar. Mantan pacar salah satunya. Kalau gue nggak bisa menghubungi dia, secara tiba2, gue akan sangat cemas. Dan kecemasan itu menyakitkan hati. Lalu ketika tempo hari ada seseorang yg gue pikir sudah dekat tapi gagal menjadi makin dekat... lalu nggak bisa lagi dihubungi dan tidak lagi menghubungi, gue juga merasakan sakit hati karena kehilangan.

Tapi kehilangan2 itu meskipun cukup meresahkan, bisa tertanggulangi. Biar bagaimana, mereka yang hadir, tetap saja hanya singgah. Selama apa pun, attachment terhadap mereka bisa dihilangkan (meskipun sulitnya setengah mati).

Bbrp hari lalu, Aria pamit mau main ke mall sepulang sekolah. Tapi ternyata sampai gue pulang jam 9, dia blm hadir di rumah. Ditelepon nggak bisa. WA nggak dibalas. Gue panik. Tumben reaksi gue kok lumayan cepat ya. Gue sangat takut kalau dia hilang. Trus gue nangis deh. Nggak tahu juga mau cari dia di mana. Waktu dia akhirnya bisa dihubungi, ternyata dia sudah dekat rumah, naik taksi.

Ya ampun... rasanya separuh nyawa kok sdh entah di mana. Akhirnya malam itu ada adegan drama deh. Ibu anak tangis2an. Lah beneran sedih amat sih membayangkan anak gue hilang (amit2 jabang bayi). Aria juga kayaknya menyesal banget bikin ibunya nangis. Mewek lah kami berdua....

Sejak itu, Aria nggak pernah lagi pergi tanpa bawa power bank yg full terisi.

Tapi gue pun merasa bahwa gue harus belajar detachment. Krn biar bagaimana, tidak ada yg abadi, semua ini titipan Tuhan. Bisa diambil kapan saja. Hmm... baiklah, gue akan belajar. Tp kalau boleh memohon, jangan menghilang, please....

Tuesday, February 11, 2020

I Still Love You

Monday, February 10, 2020

Draft Berikutnya 6

"Perasaan progress-nya lama banget."
"Ya... gimana...."
"Sebenernya berminat enggak sih?"
"Kan sudah dibilang... gue enggak punya trauma apa-apa. Gue nggak pengen yang aneh-aneh. Gue nggak pengen yang gimana-gimana...."
"Tapi masak selama ini nggak ada yang nyangkut...."
"Macam-macam alasannya...."
"Pasti... pasti... karena benchmark yang sudah tinggi banget. Gara-gara cowok lu itu...."
"Ya enggak hanya karena itu sih... meskipun... mau nggak mau memang selalu dibandingkan sama dia."
"Nah kan...."
"Ya... tapi gimana...."
"Harusnya mungkin lu lebih... lebih apa ya.... Gimana, gitu?"
"Gimana?"
"Lu kan baik hati. Manis. Penyayang...."
"Rasanya sih bukan tugas gue membuktikan bahwa gue ini seperti yang lu bilang. Ya kan?"

Sunday, February 09, 2020

The Devil is in Detail


So. Here. They. Are.











... and when every details lead me to you.... what can I do?

Saturday, February 08, 2020

Draft Berikutnya 5

"Ikut dating apps?"
"Nggak usah melotot. Coba aja. Siapa tahu berhasil."
"Nggak jelas siapa aja yang di situ."
"Di dunia ini memang ada yang jelas?"
"Duh pedes."
"Iya, karetnya dua."
"Bawel."
"Gue kasihan lihat elu sendirian ke mana-mana. Cakep-cakep kok nggak punya pasangan."
"Sialan."
"Seriuuuussss... ayolah daftar aja. Iseng-iseng berhadiah."
"Kalau ketemu scammer?"
"Ya jangan diladenin. Elu kan pinter. Masak nggak bisa bedain scammer sama mas ganteng."
"Matahari gimana?"
"Anak lu? Yah nanti aja dipikir kalau sudah ada mas gantengnya...."

Friday, February 07, 2020

I Wish, Over and Over Again







Dalam harapku
Dan inginku
Kau ada di sana
Di setiap langkahku
Dan mimpiku
Kau ada di sana
Mungkin suatu saat nanti
Kau dan aku bersama
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Kaulah hasratku
Dan cintaku
Kaulah segalanya
Izinkan diriku
Bersamamu
Karena sesungguhnya
Kurindukan dekapanmu
Kujanjikan setia
Berdua kita jalin kasih
Dalam satu ikatan cinta
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya
Meski ku dan dirinya terpisah jarak dan waktu
Namun kuyakin dirimu hanya untukku
Tak perlu kau ragu kasih
Kuyakin cinta kita kan abadi dan indah pada waktunya
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Jaga dirinya
Aku menunggu
Hingga dirimu dan diriku
Tuhan tolong jaga dirinya di sana
Aku di sini kan menunggu
Hingga diriku dan dirinya
Indah pada waktunya


Indah Pada Waktunya

Thursday, February 06, 2020

Draft Berikutnya 4

Debar dadaku sepertinya begitu kencang, hingga akan terdengar oleh orang yang berdiri di depanku. Aku berhenti di depan pintu restoran Indonesia di sebuah mal. Sekali lagi kubaca pesan singkat di ponselku.

"Saya di meja nomor 31. Baju putih, celana cokelat."

Mataku menyapu seluruh ruang dan dengan mudah menemukan meja yang dimaksud. Itu pasti dia. Dia menyebutkan bahwa tubuhnya tinggi besar. Dan ya, memang betul, sosok itu memenuhi satu kursi, kakinya terlihat terlalu panjang di bawah meja. Wajahnya tak tampak jelas karena penerangan restoran yang remang. Tapi hidung bagus dan kulit putih tetap terlihat dari kejauhan. Tampan.

Aku sedikit ragu. Kuteliti lagi penampilanku. Celana khaki dan atasan putih ini seharusnya tidak mengecewakan. Sneakers sudah kutinggal di mobil. Berganti sepatu tinggi warna pink muda, senada dengan tas tangan kecil dalam genggamanku. Sekilas kuintip pantulan wajahku di kaca pintu. Lumayan lah.

Ini akan menjadi kali pertama kami bertemu, setelah selama sekitar dua minggu hanya saling bertukar pesan pendek. Bagiku, ini juga kali pertama aku bertemu seseorang yang kukenal lewat aplikasi kencan. Belum pernah mengalaminya, aku tak yakin apa yang harus aku lakukan.

"Selamat malam," sapaku saat sudah cukup dekat dengan meja nomor 31. Bagaimana pun, aku berusaha keras terdengar ceria dan ramah, menyembunyikan resah hatiku yang sangat mengganggu.

Dia mengangkat wajah. Senyum lebar segera tersuguh. Duh... tampan sekali.

"Hai. Saya Prasetya. Okay... hmm... kamu sudah tahu nama saya, ya...," dia tampak tersipu, lalu segera berdiri dan mengulurkan tangan. Kami bersalaman. "Have a seat," katanya sambil menarik salah satu kursi untukku.

"Terima kasih," kataku sambil duduk. Setelah membetulkan kursiku, dia kembali ke kursinya. Samar, aroma parfum yang lembut membelai hidungku.

"Sudah pesan makanan?" aku kehilangan kata melihat wajahnya yang jauh lebih tampan ketimbang di foto profil yang selama ini kulihat. Resah, kubuka buku menu untuk menyalurkan debar di dadaku yang semakin kencang.

"Belum. Menunggu kamu," katanya ramah.
"Maaf menunggu. Saya tertahan sesuatu di kantor."

"No worries. Saya belum lama, kok," jawabnya sambil melambaikan tangan pada salah satu pelayan. "Kami mau pesan, mas." Lalu kepadaku, dia berkata, "Kamu jauh lebih cantik daripada fotomu."

Tiba-tiba lidahku seperti kelu.



Wednesday, February 05, 2020

Draft Berikutnya 3

Aku agak terkejut mendapati berkas-berkas di dalam tas yang ada di jok belakang mobilku. Di kepala suratnya, tertera nama klinik fertilitas ternama. Sekilas saja, aku tahu bahwa itu adalah rekam medis milik pasien. Yang membuatku nyaris tersedak adalah nama yang tertulis di sampulnya: Prasetya Andika. Kemarin, Pras memang meminjam mobilku.

"Jadi kamu masih berminat punya anak?"
"Kamu?"
"Nope."
"Hmm... karena kamu sudah punya...."
"Iya. Mungkin itu ya...."
"Maksudmu?"
"Saya paham kalau kamu masih ingin berusaha. Wajar."
"Memang tidak akan mudah...."

Kami pernah membicarakan hal ini sekilas. Bahkan di beberapa kesempatan. Di antara kopi dan kue keju dan tumpukan pekerjaan. Aku dan Pras memang tidak pernah serius membicarakan kebersamaan kami. Mengapa? Aku tidak tahu. Sepertinya karena kami paham bahwa sebetulnya tujuan perjalanan kami berbeda. Tapi kami sama-sama tak ingin kehilangan kesempatan berdua.

Salah satu perbedaannya adalah tentang keturunan. Dari awal perkenalan, kami tahu, masing-masing dari kami pernah menikah. Bedanya, aku punya Matahari. Sementara Pras belum memiliki anak.

"Saya tidak seberuntung kamu," katanya suatu kali.
"Atau mungkin malah lebih beruntung."
"Maksudmu?"
"Punya anak bukan perkara mudah. Tidak hanya tanggung jawab finansial yang harus dipikirkan, tapi juga perkara mendidik dan membesarkan dia. Lalu menerima dia apa adanya.... Kamu tahu? Anak tidak selamanya membahagiakan kita. Dia kadang melakukan hal-hal yang mengecewakan, membuat kita sedih, yang harus kita hadapi. Bukan hal yang sederhana."
"Saya tahu. Tapi bukankah manusiawi bahwa setiap orang ingin punya keturunan?"
"Ya. Dan saya tahu kamu pasti sudah berusaha."
"Ke klinik, maksudmu? Iya, tapi tahapan penyembuhannya belum selesai."
"Kamu ingin lanjutkan?"
"I don't know."

Menemukan rekam medis itu, aku paham bahwa Pras sedang melanjutkan proses pengobatan alat reproduksinya. Saat itu aku merasa ada sesuatu yang mencubit hatiku. Aku sangat sadar, bukan aku orang yang tepat mendampingi Pras di masa depan, jika ia masih menginginkan memiliki darah dagingnya sendiri.

Tuesday, February 04, 2020

Draft Berikutnya 2

"Jadi kami terpaksa berhenti di tempat itu, lalu susah payah memundurkan mobil yang terjepit. Ah... siapa bilang kompas digital memudahkan hidup? Beberapa kali kami disesatkannya!"

Pras tergelak. Mengenang kembali perjalanannya Jakarta-Bali mengendarai mobil.

Mengamatinya ketika bercakap, melihat matanya mengerjap berbinar... aku tak bisa membendung gembira akibat tertular keceriaannya. Sulit menahan rasa di dadaku. Apa nama rasa itu? Terasa seperti ribuan kupu-kupu terbang keluar dari dalam dada. Tiba-tiba aku merasa ujung-ujung jariku kebas. Ini apa?

Rasanya sudah lama sekali saat aku terakhir merasakan hal ini. Duduk bersisian. Tertawa bersama. Membiarkannya menggenggam tanganku. Hatiku terasa aman dan tenteram. Getar rasa ajaib itu lalu menjalari bahu, hingga punggungku. Membuatku ingin bersandar. Sambil tersenyum.

Tiba-tiba aku ingat lagi apa nama rasa itu: bahagia.





Sunday, February 02, 2020

Draft Berikutnya

Nomornya berpendar di layar ponsel. Segera kujawab dengan senyum lebar.

"Halo!"
"Mau makan siang sama saya?"
"Mau!"
Jawaban yang keluar dari mulutku lebih cepat dari kemampuan otakku berpikir dan mencerna pertanyaannya.

"Share location, ya. Saya jemput."

Dan tak berapa lama, hanya cukup memberi waktu bagiku mengganti baju saja, hadirlah dia di depan rumahku. Memarkir mobil dengan rapi, lalu turun tanpa mematikan mesin. Tubuhnya yang tinggi besar terbungkus kemeja warna hitam. Kacamata hitam bertengger di wajahnya. Tampan.

"Kamu mau masuk dulu?"
"Nggak. Kita langsung saja. Nggak ada Ibu, kan?"
"Nggak. Ya lalu kenapa turun?"

Pertanyaanku mengambang di udara.

Setelah memastikan aku mengunci pintu, dia gandeng tanganku. Membukakan pintu kendaraan, lalu menungguku masuk mobilnya sebelum menutup pintu dan berjalan ke balik kemudi.

"Itu kebiasaan saya."

Aku terpana. Hatiku tercuri sudah. Seluruhnya.

Thursday, January 30, 2020

Mari Berbahagia

Bagaimana bisa bahagia, kalau sedih aja nggak tahu rasanya?

Kira2 begitulah kesimpulan (dan ada sih dialognya) dari film Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini yg kemarin gue tonton sm Aria. Film yg bagus, adaptasi dari buku yg juga bagus. Sutradara juara banget. Angle kamera jempolan. Nonton di premiere. Puas.

Film ini akhirnya membuka diskusi yg lumayan serius (tp kocak) dgn anak gue. Terutama tentang cara keluarga handling things.

"What if someday your dad comes and says he is sorry for all the mess?"
"Hmmm... if he ever comes, I'll ask about my right."
"What is that?"
"You know, my right. I am entitled of certain amount of money he should provide. So that will be my first question."
"Matre, kamu."
"Itu hakku, mamiiiiiii...."
"But do you think it is a mess? This situation?"
"Hmm... it will be a mess when you can't provide me with things. I am okay, so far."

Alhamdulillah kalau Aria baik2 saja. Memang kata seorang teman, kalau anak satu, standardnya akan beda. Ya juga sih. Toh semua resource tersedia buat dia seorang saja. Tujuan utamanya: dia bahagia.

Intinya, seringkali memang orang mengabaikan perasaan. Sedih. Marah. Luka. Bahagia. Semua diperlakukan sama saja. Ketika sedih, bukannya dirasakan lalu dikenali perasaannya, tapi dipendam. Ketika marah, bukan dicarikan solusi, tapi diabaikan. Ketika luka, bukan dicari sumbernya lalu diberesin, tapi ditutupi. Bahkan ketika bahagia, tidak dirasakan dengan sukacita, tapi dibiarkan berlalu seolah itu hal biasa. Jadinya hidup terasa datar saja. Kayak nggak ngapa2in.

Padahal, semestinya hidup itu dirayakan.

Mungkin gue memang harus mempelajari lagi perasaan2 gue. Sama ketika dulu ngajarin Aria tentang emosi. Sedih itu gimana? Harus diapain? Gembira itu apa? Harus ngapain? Karena skrg ini gue mulai merasa hidup yg datar saja. Lurus tanpa ekspresi.

Beberapa hari lalu, Aria selesai internship nggak pulang ke rumah, tapi ke kantor Palmerah. Dia cerita nggak dapat TransJ dan cari jalan ke stasiun Kebayoran. Tp lalu commuter line penuh sekali, jadi dia naik yg ke Palmerah. Oh how I was so proud he could find his way commuting by himself. Pilihan ke Palmerah memang nyenengin sih... wifi kenceng dan banyak ransum. Cocok buat ABG yg dalam masa pertumbuhan hahaha.... Yg juga menyenangkan adalah di jalan pulang kami bisa bercerita macam2. Dari mulai Korean wave sampai curhat percintaan yawlaaaaa.... "Ibu, jangan lupa bahwa peraturan masih sama, ibu punya pacar, atau menikah lagi, berarti aku ganti handphone." Tobat.

But I was beyond happy to find time to talk to him. Pulang bareng Aria itu meyakinkan gue bahwa bahagia itu nggak harus dicari di mana2. Cukup bisa bareng sama yg disayang aja, juga sudah bahagia. Semua kesempatan hrs disyukuri. Lalu segala kemudahan dan kegembiraan juga hrs diterima dengan syukur. Semoga bisa lebih mudah berbahagia. Alhamdulillah.



Wednesday, January 29, 2020

Is There Any Left for Me?

Find someone who wants to invest in you, learn from you, see you win, support your vision and fall in love with you daily.

I stumbled upon those words and suddenly my heart itches. I know someone who will tick all the boxes with happy face. And yes, once I thought I already found the one, but had to let him go.

If love is a once-in-a-lifetime chance, I think I used mine already.

Tuesday, January 28, 2020

Ujian Mental & Iman

Hey you... thanks for giving me the idea for this post (and the title is exactly your word).

Ngobrol2 soal pengalaman ada di dating site. Pernah ketemu yg aneh2? Gue sih pernah. Banget.

Ada yg mengaku tinggal dan bekerja di Bali. Krn kami sama2 berdarah Jawa Timur, jadi akhirnya ngobrol pakai bahasa ibu. Mungkin itu suatu "keuntungan" krn dalam bahasa itu, omongan2 yg kesannya jorok dan porno bisa jadi biasa aja. Tp lalu dia merasa sudah begitu dekat dgn gue dan tiba2 seminggu setelah kenalan dia bilang dia sdh di Jkt trus mau melamar. Eh! Edan tenan. Unmatch lah. Gila.

Lalu... ada lagi yg sejak day one ngomongnya kesulitan keuangan melulu. Masak ngomongin menu makanan bisa tiba2 belok ke tagihan kartu kredit. Ngomongin iklan kecap bisa berakhir dengan rekening tabungan dia yg ga ada isinya. Lah iya kalau ngomong sama akuntan sih gapapa ya. Ini selalu berakhir dengan, "duh aku ini ga punya apa2." Yo wis lah mas... nek ra duwe opo2... golek dhisik yo. Mengko balik maneh. Bhay sblm dia minta bantuan bayarin sekolah anaknya.

Yang ngajakin one night stand juga banyak. Banget. Dan ini sih biasanya langsung gue unmatch tanpa ampun. Tp memang kebanyakan yg ngajak itu gaya bahasanya jg sdh nggak bener sih dr awal. I should know better.

Herannya, yg ngajakin ONS ini banyak banget yg berpenampilan santun dan agamis. Ya... you know. Bahkan beberapa mencantumkan ayat2 di bio. Hmm... kok gue yg sakit hati kalau mereka nggak sesuai dgn penampilannya ya?

Gue pikir, match aneh2 ini tidak berlaku untuk cowok. Ternyata tidaaaakkk.... Sama saja sih. Katanya. Bbrp cowok (single) yg mencoba dating site sharing pengalaman yg gemblung menjurus horor.

Satu yg ngeri banget waktu dia merasa nyaris diperkosa sm perempuan yg dia ajak dating. Rencana awal mau ngopi2 sambil ngobrol di apartemen si perempuan. Sesampai di sana, baru ngobrol sebentar tiba2 si perempuan ini sdh duduk di pangkuan dia. Gesture tubuhnya sangat menjurus dan mengundang, menyampaikan kebutuhan. Eh eh eh.... Temen gue cemas. Dan menolak krn merasa tidak pada tempatnya. Ceweknya gimana? Ambil vibrator dan beraktivitas sendirian. Sementara si cowok milih nonton tv.... "It ended awkwardly." Awkward dan ngeri sih kalau buat gue....

Trus ada juga yg setelah kenal selalu diajak ketemu dan jelas2 diminta untuk meniduri. Segala rayuan dan bujukan dilancarkan di jendela chat untuk mengajak si cowok datang. Daaan... dari chat yg dikasih lihat ke gue, nggak cuma satu perempuan yg melakukannya. Ada beberapa. Dan ada yg cantik manis berkerudung rapat. Hmm.... "Dia pun ternyata bersuami," kata si cowok. What?

Gue yg terlalu kuno apa gimana sih? Nggak ngerti lagi. Apa gue salah ya kalau susah buat buka baju? Tp bukankah seharusnya begitu? Gue bisa aja ceplas ceplos... tp untuk hal2 privat yg intimate, itu hanya utk gue dan my special one. Dan jadi special one itu pun jalannya panjang dan terjal deh ah. Ya kalau gampang kan nanti hadiahnya kipas angin, bukan tambatan hati. Gue setuju dgn kata2 bahwa masuk dating site ini adalah ujian mental dan iman. Yg nggak kuat iman ya dadah aja... rentan kecemplung yg ga bener.

Intinya, budi pekerti dan sopan santun sudah mulai menipis. Jadi yaaaa... masing2 orang hrs pasang pagar yg lebih kokoh. PR banget.



Friday, January 17, 2020

Beautiful Love Journey

Our love.

We cannot be together. How can it be beautiful?

We still love each other, no matter how many times we were arguing. No matter how far we were apart. No matter how we felt we were so incompatible to one another. No matter how mad you were to me (or vice versa).

We do still love each other, even though we know we cannot be together. And we know, the love is getting stronger each passing day. Not many people are lucky enough, to be given the chance to love, unconditional love. And that exact fact made this love journey so very beautiful.

Don't you think?

Friday, January 10, 2020

Kamu Itu....

Bagaimana rasanya jatuh cinta berkali-kali, pada orang yang sama? Rasanya indah sekali. Bahkan ketika tahu bahwa cinta itu hanya bisa dari jauh saja, tetap indah. Mencintaimu, dari jauh atau dekat, sama saja. Tetap indah. Tetap megah.

Mengagumi. Selalu. Apa pun yang kamu buat. Bagaimana rasanya terpesona setiap saat? Setiap menit? Setiap detik?

Mencintaimu akan tetap menjadi bagian dari hidupku. Sampai kapan pun.

Tuesday, January 07, 2020

The Findings

Salah satu "hasil" dari dolanan dating site sepanjang tahun lalu adalah menemukan orang2 yg dikenal di dalamnya. Ada yg suaminya temen, temen kantor lama, tetangga, suaminya klien....

Ada apa dgn orang2 itu?

Mereka mestinya cukup dewasa untuk paham fungsi dan kegunaan dating site. Da-ting. Apa yg mereka harapkan? Bhw mereka akan menemukan teman2 baru? Perempuan? Untuk apa?

Pertanyaan sama jg untuk laki2 beristri yg masang foto di dating site dan berdalih hanya ingin mencari hiburan. Apakah dunia sudah sesakit itu?

Apa yg ada di pikiran para suami2 ngawuran itu ya? Nggak ingat istrinya? Okay, bisa lupa itu gimana? Amnesia?

Kalau sdh begitu, gue kok rasanya beruntung nggak punya suami. Plg nggak, satu drama bisa dicoret dari kehidupan gue.

Saturday, January 04, 2020

How Are You?

I know you are just okay. I know. And we will be okay. I know. I just miss you. I do.

Friday, January 03, 2020

It Has Been A While

I miss discussing a lot of things with you. Talking until we lost track of time. And then we argue, stop talking for a while... but then we continue to find another interesting topic to be shared or you just throw one of your collection from gombal mukiyo album that never fail to make me smile. How I miss you so much.

Tuesday, December 31, 2019

Monday, December 30, 2019

Embracing 2020

Tiga hari sebelum 2020... apa yg gue rasa?

2019 berlalu dgn lucu. Seperti juga tahun2 sebelumnya sih... hidup gue memang selalu gemes ya kan.... Yg seru adalah karena tepat setahun lalu memutuskan untuk mencoba masuk bursa... dating site. Hahaha....

Gara2nya ada yg ngomporin bahwa "jodoh harus dicari, nggak hanya ditunggu" dan kayaknya kok bener juga dan siapa tahu.... Akhirnya masuklah ke sebuah dating site. Mengisi semua data dengan sejujurnya krn ya apa gunanya sih tipu2 atau palsu2.

Tepat tgl 1 Januari... yg komen di profil ada beberapa. Oooh... gitu to rasanya "ternyata masih laku" hahaha... ndeso. Dari beberapa itu, pilihan dikerucutkan dengan segala hal2 demi menyaring yg sekiranya paling yahud. Dan jadilah kenalan sama Bravo.

Bapak2 anak tiga. Ngobrolnya nyambung banget... jadi ya... kenapa nggak ketemuan. Sedikit cemas bhw setelah ketemu dia akan nggak telepon lagi.... Ternyata enggak kok. Telepon tetep rajin... video call tetap sering... krn tempat tinggalnya yg jauh. Ahaha... gue bisa ambil ijazah soal LDR nih kayaknya.

Tp memang LDR itu lawak sih ya. Nggak bisa sepenuhnya menunjukkan emosi. Apalah... trus di suatu ketika, gue menemukan kejanggalan2 yg nggak pas dgn ceritanya. Atau... cerita2nya mulai nggak sinkron gitu deh. Lebih tentang sehari2 dia tp kok ganggu banget kalau nggak dibahas. Yah namanya baru kenal gitu doang sih. Tp lalu pertanyaan2 kritis gue bikin dia menarik diri. Mungkin merasa gue telanjangi... yaaaaa... atau nggak jodoh aja? Intinya mulai tampak halu.... Biasa kan.. kehaluan harus ditutup dengan kehaluan... ketika lupa pd kehaluan yg pertama, cerita jd nggak nyambung. Krn ini... lama2 telepon nggak asyik lagi. Cerita ttg Bravo hanya sekian sampai di situ.

Balik lagi deh ke bursa. Tentu blm pudar dong ya euforianya. Dan bener. Begitu aktif lagi di dating site... langsung ada yg menyambut. Lagi2 diadakan proses penyaringan dgn segala macam rambu2 yg kira2 sesuai dgn mau gue. Siapa yg nyangkut? Sebut saja Doni. Anaknya tiga dan terpencar di mana2 sementara dia pun kerja di pelosok Kalimantan sana. Eeeeh... LDR lagi, mbak? Ya gitu deh... ahaha....

Menyenangkan ngobrol sama Doni ini. Nyambung segala lawakan garing dan dia pun selalu bisa bikin gue ngakak2 gembira ria. Mungkin usia jg sih. Ga beda jauh, jd masa kecilnya dilewati dgn benda2 yg kira2 sama. Trus dia juga pernah tinggal di Jerman. Dan anak teknik. Hahaha... entah kenapa, buat gue anak teknik itu lebih pas ketimbang anak sosial. Jd seru aja ngobrolnya. Agak lumayan bertahan lah si Doni... sampai saling mengirimi ini itu. Yg sini lbh sering ngirim ke pedalaman sih... makanan biasanya. Melas ya. Hahahaha....

Tapi... sudah lama hidup sendiri ternyata juga jadi ganjalan... mungkin kebiasaan sendirian itu bikin gue nggak terlalu peka dgn orang lain. Terutama masalah gengsi yg berhubungan dgn finansial. Ya gimana? Gue kan sekian lama hidup sendiri. Semua dilihat, dipilih, dan dibayar sendiri tanpa harus mikir siapa2.

Suatu ketika, anaknya yg paling besar harus bayar kuliah dan Doni cerita kebingungan ttg biaya kuliah (di universitas swasta) yg nggak sedikit. Gue spontan aja nawarin "mau pakai uangku dulu?" Yg ternyata ditanggapi dgn salah. Hmm... dia kayaknya tersinggung banget. Dan sejak itu pelan2 membatasi kontak. Sampai akhirnya nggak telepon lagi. Dan nggak bisa dihubungi. Hal yg simpel sekali menurut gue... tp bisa jadi sesuatu yg luar biasa buat dia. Oops... maaf. Tp yaaaa... mungkin mmg bukan jodoh juga sih. Gue pun tidak berusaha mencari. Ketika telepon gue nggak dijawab... ya sudah. Biarkan saja kalau dia mau berlalu. Sekian dan terima kasih.

Tp memang attachment dgn Doni ini lumayan perlu waktu untuk bisa dihapuskan. Krn biar gimana, bbrp bulan teleponan setiap hari dan video call tiap saat itu jadi isi hari2 yg menyenangkan. Keseruan bisa terjadi waktu dia "nemenin" gue di jalan pergi atau pulang kantor... lewat telepon. Ketika semua hilang, ya rasanya ada yg nggak lengkap. Hmm... tapi latihan 13 tahun sendirian jitu juga sih buat masalah gini2. Krn akhirnya biasa lagi kok. Bisa juga menganggap semua hanya bayangan yg berlalu bersama perginya matahari.

Oh ya, sebetulnya di saat yg sama, ada juga yg approaching... dari dating site yg berbeda. Ahahahaha... lucu ternyata ya permainan dating site ini. Si mas Suryo ini punya usaha di bidang kreatif... yang nggak jauh2 dari pekerjaan gue. Dan ternyata beberapa orang dari kantor dulu kenal jg sm dia. Dia pun mengakui berusaha cari tahu ttg gue ke mereka2 itu. Ahahaha... sungguh membuatku ge-er. Seru dan lucu karena omongannya jadi sangat nyambung... tp sebagian besar kok jadi ngomongin kerjaan. Hmm... entah di mana yg nggak klop... akhirnya nggak ke mana2 juga sih. Sampai skrg kami masih saling kontak, terutama kalau ada urusan kerjaan yg perlu diskusi. Ya mungkin memang hanya itu yg kami butuhkan dari satu sama lain? Entahlah. Setelah diingat dan dirasa, nggak ada perasaan yg gimana2 juga sih di gue....

Trus suatu ketika muncul di notifikasi seorang laki2. Menyapa dgn manis banget. Dgn bahasa yg rapi dan tata bahasa yg benar. Menarik sekali. Trus ngobrol. Dan nyambung. Dan terasa dia sangat pintar. Tnyt dia pun sama spt gue, pakai nama asli. Gue google namanya dan keluarlah semua literature yg dia tulis. Hmm... pantesan pinter... kandidat profesor. Hehe.... Impian melambung sampai ke mana2 krn rasanya kok too good to be true bisa nemu orang sepinter itu ya. Suatu hari, dia tiba2 usul utk jalan2 malam mingguan. Gue yg udah lamaaaa banget nggak dating sm siapa2 jadi gembira. Waktu dia minta izin mau bawa anaknya yg umur 4 thn, gue iya2 aja. Nggak mikir apa2.

Lalu terjadilah kunjungan dari provinsi tetangga itu. Anaknya perempuan. Cantik dan manis. Bukan model anak yg rewel, dan suka buku. Jadi di rumah gue anteng ayem. Tp namanya anak2, tentunya segera bosan dgn buku2 saja, mau main2. Ayolah ke playground. Jadilah kami berempat: dia-anaknya-gue-Aria ke mall. Sampai di mall, anak gue nggak mau kehilangan ritual buat langsung ke tempat makan. Sementara anaknya langsung "Aku nggak mau makan." Dan rasanya kok saat itu gue sdh berasa lelah bagi2 perhatian. Hahaha.... Jadilah gue dan Aria masuk restoran, dia dan anaknya embuh ke mana. Ketika akhirnya dia nyusul ke restoran, ternyata anaknya belum puas main. Jd masih tetap "Aku nggak mau makan." Tante Bubu semacam kehilangan akal menghadapi balita. Tiba2 lelah tiada tara dan pengen pulang saja.... Pdh bapaknya si anak (yg memang usianya sdh agak banyak) sepertinya berharap gue bisa main2 sm anaknya. Ahahaha... apa yg kau cari, pak? Baby sitter untuk anakmu? Gue langsung membayangkan hrs mulai mikirin lagi bekal sekolah... antar jemput ke sana ke mari... urus ini itu.... ini anak masih 4 thn kok masih lama perjuangannya ya. Sementara gue baru saja merasa "merdeka" dari mengurus anak sejak Aria masuk SMA. Dgn sangat menyesal... mas profesor hrs gue coret dr daftar hadir. Nggak sanggup deh kalau hrs berhadapan dgn balita. Mohon maaf lahir batin, silakan mencari yg lain.

Ada satu lagi musisi yg kenalan di dating site juga. Tapi nggak ada rasa apa2 juga sih. Mungkin gue capek juga ya krn bbrp bulan terakhir siklusnya naik turun. Melelahkan. Hingga akhirnya yaaaa dia bertahan hanya sampai di whatsapp saja.

Hmm... sempat saling sapa sama mas2 pesepeda. Juga sama ahli waris perusahaan tambang pasir di Garut. Lalu sm pengusaha restoran Manado. Sama pegawai NGO juga pernah. Ada akuntan juga. Tapi yaaa... gitu2 aja sih. Dan tanpa terasa, berlalulah 2019. Sebentar lagi masuk 2020 dan gue masih tetap single. Tidak punya pacar. Sempat berpikir jangan2 ada yg salah dgn gue ya. Tapi lalu nggak nemu juga salahnya di mana.... Mungkin gue sdh keterlaluan mapan jadi perempuan. Krn beberapa "kandidat" tiba2 menghilang begitu tahu gue di kantor kerja (jabatannya) apa.... Berkarier kan nggak salah ya?

Kadang kepikir juga, jangan2 benchmark gue juga yg ketinggian. Hahaha... ya mohon maaf kalau sebelum ini mmg pacar gue yahud banget sih! Udahlah ganteng, pinter, jagoan memberantas kejahatan... hahaha.... Genggesin untuk nggak kelewat sholat dan ngaji tiap hari, tp ya masuk akal kan... jd gengges yang cinta gitu lhooooo.... Paket komplitlah dia itu. Masak iya gue rela dapat ganti yg nggak sampai secuilnya? Yo emoh.... Terlalu milih2? Ya masak sih nggak pilih2....

Hmm... menyedihkan juga ya... umur segini masih hrs menerka2 reaksi orang ttg gue. Berusaha manis2 menarik perhatian. Harus juga menjelaskan bhw gue nggak perlu harta, nggak peduli dia anak siapa... krn banyak jg yg curiga kalau perempuan di dating site banyak yg nggak bener. Hmmm... sini udah punya sendiri sih. Dan bisa cari sendiri juga. Alhamdulillah. Di sisi lain, gue juga hrs waspada, meneliti motif berkenalan mereka2 itu, karena terus terang aja... yg niat banget mau morotin juga ada. Di mana2 yg namanya maling tetep eksis, dalam bentuk apa pun. Jadi ya memang harus hati2 juga....

Soal ajakan one night stand? Banyak. Banget. Kampret memang. Seolah dunia ini bisa damai hanya dgn seks saja. Dan single mom selalu mengejar hubungan seksual. Mbahmu.

Dari dating site itu, ada bbrp yg bertahan menjadi teman di whatsapp chat. Ada satu orang yg berpotensi tp kayaknya semakin lama semakin jauh dari asa. Ada yg masih gue harapkan suatu ketika akan tergerak untuk mengenal gue lebih dekat dan bisa gue telisik lebih jauh. Tp ya itu semua baru sampai harapan. Mari biarkan saja alam yg mengatur. Gue memilih bertindak seperti layaknya perempuan Jawa yg hanya akan menunggu laki2 yg maju. Jodoh harus dijemput? Iya sih... tp tetep ada titik batas penjemputan kan yaaaa....

Jadi begitulah 2019 gue dalam hal mencari cinta. Mungkin mmg tidak akan mudah karena sebenarnya cinta di hati gue sdh jelas maunya ke mana. Sayangnya mentok. Hmmm... itu dulu yg hrs dibelokkan kali yaaaa....

Oke deh, dgn kerusuhan kantor yg bisa diprediksi akan terjadi tahun depan (I will run a brand new agency), sepertinya gue akan cukup rusuh jadi nggak akan terlalu peduli dgn kehidupan percintaan. Anyway, I will still open up the door, and will embrace anyone who knocks and tries to enter. But... of course... if I really want to and still have the energy to do it.

So, 2020... bring it on!



Friday, December 20, 2019

Day One

Maybe... just maybe... you wonder why I told you I want to go away. Go away from you. I know we've been trying to live separate life several times before, and failed, because we always think that we will have us, one day. But no. I don't think so. We need to stop. There will be no us. Not if only me doing the job....

That is the main reason I took the day one. Day one of not having you around.

So, no more one day. Only day one. Take care and be good, will you? Cheers.


Friday, December 13, 2019

Cinta Adalah Ruang dan Waktu


Mungkinkah kamu sedang menatap bulan?
Bulan sabit yang sedang kupandangi....

Mungkinkah kamu menangis
di atas bintang khayalku?

Maafkanlah cinta,
Atas kabut jiwa
yang menutupi pandangan kalbu

...

Lagu Cinta

Thursday, December 12, 2019

Draft Entah 2

"Jadi Pras kenal sama Asti di mana sih?" Pertanyaan itu seperti menarik perhatian semua yang ada di dalam ruangan. Entah siapa yang menanyakan, arahnya dari sisi belakangku. Spontan mataku membesar. Untung kudengar Pras yang duduk santai di sebelahku bersuara, "Dikenalkan sama teman."

Ah Pras... lagi-lagi menyelamatkanku dari situasi aneh. Kan tidak mungkin kami jujur, setidaknya saat ini, bahwa kami berjumpa dengan perantara situs jodoh online.

Kakak sulung Pras mengedarkan piring berisi jeruk manis yang sudah dipotong. "Ibu harus cicip. Jeruk dari Asti ini juara banget rasanya!"

Ibu Pras tersenyum kecil. Diberikannya piring kepada anak tertuanya. "Nanti saja, ibu masih kenyang," katanya.

"Ini jeruk dibawa dari Kopeng, ya, Asti? Wah, memang kalau tanah masih subur, hasil tanamnya juga bagus-bagus ya!"

Ternyata kemudian semua orang tertarik membicarakan tentang Kopeng. Ada yang mengingat tempat wisata dengan kolam renang berair sedingin es. Kakak sulung Pras rupanya sering ke sana. Dengan kocak, dia ceritakan situasi liburan terakhir, saat anaknya masuk ke dalam kolam renang lalu keluar lagi dengan segera. "Baru satu detik di dalam kolam, Andika keluar lagi dan jalan berjinjit-jinjit. Beku katanya!" Yang lain terbahak membayangkan anak lucu itu bergerak seperti pinguin yang kedinginan.

Daerah liburan di sekitar Salatiga, Jawa Tengah, itu berhasil menyelamatkan aku dari  wawancara dengan topik utama tentang aku dan Pras. Untuk sesaat, aku merasa lega.


***






Tuesday, November 12, 2019

Hari Ayah Nasional 2019

Halo kamu, ayahnya anakku....

Apa kabarmu, di mana pun kamu berada? Semoga kamu baik2 saja. Aku selalu mendoakan yg baik2 untuk kamu. Karena bukankah doa seharusnya begitu? Hanya berpikir yg baik2... supaya semua juga baik2.

Bahwa doa yang baik2 itu jugalah yang menguatkan aku, menjalankan kewajiban mengurus anakmu selama ini, tanpa ada kamu. 15 tahun bukan waktu yg singkat. Lama sekali atau cepat sekali, semua relatif. Yg jelas, banyak hal terjadi. Pahit dan manis silih berganti. Dan... kamu ada di mana? Tapi terima kasih... bahwa kamu tidak ada, memberi banyak sekali kebebasan dalam menentukan langkah yg harus ditempuh untuk membesarkan anak kita. Bahkan namanya pun kupilih tanpa melalui perdebatan apa2 denganmu. Cukup aku yg memutuskan. Sendiri. Maaf, kamu tidak aku beri hak untuk itu. Kamu juga tidak berhak menentukan sekolahnya, bahkan caraku membesarkannya. Karena kamu tidak ada di sana.

Aku bangga menjadi bagian penting dalam hidup anakku, anakmu itu. Aku menikmati semuanya. Sebisaku menjalani 15 tahun ini dgn bahagia. Entah bagaimana caranya, yg jelas... ternyata aku bisa. Melihat anak kita tumbuh dari hari ke hari adalah hal yang membuat bahagia itu menjadi nyata. Tertawanya akan membuat aku ikut tertawa. Pelukan eratnya akan membuat aku merasa luar biasa berharga. Ciumannya selalu berhasil membuat aku berpikir bahwa bahagia memang takdir setiap manusia. Dan aku tahu bahwa rasa bahagia ini akan selalu hadir. Tidak hanya untuk 15 tahun yg telah berlalu, tapi juga untuk masa2 yg akan datang. Karena anakku, anakmu itu, kupercayai memang datang hanya untuk menyebarkan kebahagiaan. Meski dia lahir kala badai menerpa hati dan jiwa ibunya, dia tetap bagai serpihan bintang cemerlang yang menyala, menunjukkan jalan terang menuju bahagia. Dan dia menghalau badai itu. Menggantikannya dengan langit cerah nyaris tanpa awan, yang penuh sinar mentari kala siang dan dipercantik benderang bulan saat malam. Bahagia senantiasa.

Jika kamu tidak bahagia, atau belum bahagia, mungkin karena kamu belum mengenalnya dengan baik. Cobalah mengenali anakmu lebih dekat. Maka kamu akan tahu: dia adalah kebahagiaan. Tapi percayalah, aku selalu berdoa bahwa kamu pun bahagia, di mana pun kau berada.

Memang, beberapa kali melihatmu berdekatan dengan anakku, anakmu itu, aku melihat tidak ada ikatan apa pun antara kalian berdua. Kalian seperti orang asing, yg bahkan tidak tahu cara memulai pertemanan. Mungkin salahku? Karena sejak dia lahir kamu tidak hadir, aku merasa tidak berhak memaksa anakku, anakmu itu, untuk mencari tahu tentangmu. Padahal, bukankah dgn cara begitu dia akan mengenalmu? Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjawab semua pertanyaannya tentangmu. Semuanya. Betapa pun jawabannya mungkin akan menyakiti hatiku.

Tapi dia tidak pernah bertanya.

Dia seolah tidak mau tahu. Tidak ada hal tentangmu yg menarik hatinya. Benci? Tidak. Kurasa dia bahkan tidak cukup mengenalmu untuk sampai menyimpan rasa tidak suka. Maafkan aku bahwa sampai saat ini aku tidak bisa memaksakan kehadiranmu bahkan di sisi paling terpencil di dalam kepalanya. Percaya atau tidak, aku berkali-kali mencoba menghadirkan kamu dalam percakapan kami. Namun, bagi anakku, anakmu itu, kamu tidak pernah ada. Tidak ada tempat bagimu dalam pikirannya, dalam hatinya, apalagi di dalam jiwanya. Meski kamu ada di darahnya, tapi ia tidak merasakan keberadaanmu. Baginya, kamu hanyalah nama yang ada di akte kelahiran. Bahkan nama itu pun sangat ingin dia hapus, tanpa alasan (doa anak2 sering manjur. Tiba2 namamu hilang dari paspor anakku, anak kita itu. Pada suatu hari, anakku tidak lagi menyandang namamu di dokumen resmi negara itu. Jangan tanya bagaimana bisa begitu, aku pun tak paham).

Seingatku, ketika dia lahir dulu, wajahnya mirip sekali denganmu. Dengan mata sipit yg akan membuat siapa saja jatuh cinta. Namun, lihatlah dia kini. Semua orang akan melihat anakku, anak kita, sebagai versi mini dari aku, ibunya. Matanya masih sipit, tentu saja, tapi kilatnya adalah yg ia pelajari dariku. Raut wajahnya yg bisa seketika sangat keras kepala, nampaknya dia warisi dari sikapku sehari-hari. Bahkan cara dia bergerak dan bertutur akan selalu mengingatkan siapa pun yang mengenalku pada sosokku saat seusianya. Aku bangga, bukan saja karena dia dan aku kini nyaris tanpa beda, tapi karena aku tahu dia akan setangguh aku menghadapi dunia.

Lima belas tahun bukan masa yg singkat. Dan selama itu pula aku sudah berusaha semampuku menghadirkan kamu. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kamu. Sayang, tidak pernah kamu manfaatkan. Karena kamu seolah tidak pernah mau ada dalam hidup kami, aku rasa sudah saatnya usahaku akan aku hentikan juga. Boleh ya, aku buat janji pada diriku sendiri untuk tidak lagi membicarakan kamu pada anakku. Aku juga tidak akan berusaha membawanya mendekat padamu. Bagiku, semua sudah selesai. Kalau kamu merasa penting bagimu untuk menjadi bagian dari anakku, anakmu itu, silakan kamu usahakan sendiri segalanya. Aku berdoa, upayamu belum terlambat.

Anak kita sudah besar. Kamu tentu setuju bahwa dia bisa menentukan yg ia inginkan. Bahkan jika dia memutuskan untuk tidak mau mengenalmu lagi sama sekali, kita tidak akan bisa memaksanya. Doakan saja yg terbaik baginya.

Aku percaya kamu adalah ayah yang baik. Tapi mungkin bukan untuk anakku. Selamat Hari Ayah.



Tuesday, November 05, 2019

Penting?

 .... Berikan ku alasan, untuk tetap bersamamu, setelah lelah berharap....



(Kembali ke Awal, Glenn Fredly)

Monday, October 28, 2019

I Still Write

No worries. I do still write. But not here. There are so many things happen. Work, love, life... so many things coming up all at once! Will update this blog later. Wish me luck.

Friday, October 04, 2019

Yes Indeed

It is not always the food... nor the movie... nor the coffee... nor the place.... 

Sometimes it is just the person we enjoy all of those things with. And yes, I kinda miss the moments. 

Friday, September 13, 2019

My Sunshine

Today someone was accompanying me on my morning walk. Yes yes yes indeed... he is that special someone. And as usual, our meeting would not be just a simple one. Nope. It was full of fruitful discussion. We talked about work, life, love, and everything in between. It was a brisk 45 minutes walk that felt like a blink of an eye. Short but powerful. Thing I am always be sure of: the sun will shine on me. He is nonetheless my sunshine. No matter what.

Thursday, September 12, 2019

The Journey So Far

It is almost official that I am now a permanent employer of TJP. Alhamdulillah.

Lucu dan seru adalah kata yg bisa menggambarkan proses pengangkatan. Krn perlu gue akui, tidak mudah. Tidak spt perusahaan2 sebelum ini yg gue mmg sdh dipastikan akan menjadi karyawan tetap dan probation hanya basa-basi... di sini semua diukur dan dinilai dgn gamblang dan terbuka. Jadi mmg hrs dihadapi dgn benar. Gue hrs bikin presentasi ttg pekerjaan, rencana ke depan, manajerial di divisi ini dll... hal baru yg bikin merinding disko.

Anyway, I passed the test. Skrg tinggal tunggu MCU, and I am all set.

Tahun lalu sempat berpikir untuk ada di MI sampai pensiun. Tentunya krn pekerjaan yg menyenangkan dan tim yg sampai skrg blm tertandingi. Tp lalu ada tawaran yg menarik dan akhirnya krn beberapa push & pull factors jd diterima. Dan ini adalah pencapaian yg buat gue cukup signifikan.

Jadi terkenang di masa2 dulu, masa masih cupu. Bahkan bingung mau embellish cv.... Lalu menerima tawaran jadi pemred. Lalu pindah media, dan skrg ada di sini. Di tempat yg kalau gue sebut namanya akan mendapat tatapan "waaaaah" gitu....

Hmm... bisa sampai di titik skrg nggak mudah. Tp setelah sampai di sini, semua terasa natural... semacam "memang seharusnya begitu". Tentu ada alasannya. Apa? Personal coach :)

Yes I do have my own personal coach. Yg selalu mendampingi di saat2 harus mengambil keputusan, terutama soal karier. Dia yg akan mengatur semuanya supaya berjalan sebagaimana seharusnya. Supporting me all around, non stop, since the beginning of my career. Cannot thank him enough. He is one specific person who -I believe- will also read this post. Thank you. Thank you. Thank you.


















And you know... I love you.

Wednesday, September 11, 2019

Are You Real?

Maybe you are not
missing the person,
missing the moment,
or even missing the pain.

Maybe you just miss
being a part of something,
something you think
you never had before.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Monday, September 09, 2019

My Bad

I'm always addicted
to the wrong things.

You for instance.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Sunday, September 08, 2019

Wounded

From the
darkest heartbreaks
our wounds
bleed poetry.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Saturday, September 07, 2019

Ouch!

There are
mighty strings
that always pulling
me back to you,
called good
memories.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Friday, September 06, 2019

Same Old Story

I know you'd prefer
to be there
than here
because there,
even though stormy,
is home
and here,
even though sunny,
is only an adventure.



(A Poem with Your Name - Adi K)

Thursday, September 05, 2019

Thank You

Terima kasih untuk tetap konsisten mencemaskan aku selama 14 tahun terakhir. #youknowwhoyouare

Sunday, September 01, 2019

Maybe....

“Budiana, people are not bandaids.”

Selama ini tnyt gue sering salah. Gue tahu bhw orang2 yg datang dalam kehidupan gue kemungkinan membawa sesuatu utk gue, good or bad. So I treat them as I wish.  Maaf utk orang2 yg gue manfaatkan sbg penyembuh luka (atau penambal luka?).

Friday, August 30, 2019

Sebabnya....

Selasa

09.00 report tambang batu bara
11.20 tulisan tentang buah tropis
13.00 tema seputar art jakarta
16.00 brainstorming soal Jeep

Rabu

09.15 investasi Papua Barat
13.00 asuransi petani udang
15.30 permintaan ide untuk Pegadaian
17.00 tulisan tentang club aerobic & club vespa

Kamis

09.00 investasi Papua Barat
11.00 tema seputar gaming industry
15.00 assesment


Pertanyaan: yg mengerjakan semua di atas itu pekerjaannya apa? Kenapa semua nampak random.... Pantes kepala rasanya panas bener, kyknya terlalu banyak switch left switch right....

Thursday, August 29, 2019

Bete of The Day

Sekolah Aria punya kebijakan sendiri yg mengatur kurikulum. Tiap orang tua hrs paham supaya bisa kerja sama dgn sekolah. Nah, akhirnya ada mandatory workshop utk ini. Gue yg ortu baru nggak paham bahwa utk ikut workshop harus mendaftar. Yak... jadi telat daftar. Akibatnya? Gue dapat slot hari ini di sekolah Cilandak. Yuk mariii....

Jadi tadi pagi berangkat pagi dr rumah, krn jadwal workshop jam 8. Jam 6.30 udah cuuusss... yg artinya hari ini nggak sempat jogging. Bete no 1. Krn di kantor sebetulnya sedang rusuh, jadi kesempatan jogging pagi itu sekalian buat nabung energi positif. Hari ini nggak sempat. Well....

Setelah muter2 krn nggak paham jalan, sampai sekolah jam 7.30. Aman? Nggak. Krn nggak boleh parkir di sekolah. What? Harus parkir di mall terdekat, dari sana akan ada shuttle. What? Kok nggak ada info.... Bete no 2. Jadilah harus muter kaaaakkk.... Tahu sendiri wilayah Cilandak macetnya kan cihuy banget kalau pagi.

Sampai di mall itu jam 7.50. Tanya sama satpam, di mana biasanya shuttle sekolah berhenti. Satpam nunjuk ke spot di dekat loket karcis parkir. Oke. Nunggu di situ... mulai curiga... kok sepi.... Mulai telepon sekolah Cilandak. Dijawab sm mesin... dibilang baru akan aktif jam 8. Telepon ke sekolah Serpong. Trus disuruh tunggu 5 menit krn mereka hrs konfirmasi juga.

Lima menit kemudian sekolah Serpong telepon, ngasih tahu kalau shuttle untuk Sekolah Cilandak akan take off dr spot di dekat UKM. Ealaaaah... tadi itu gue nunggu di spot untuk shuttle ke Sekolah Setu... OMG.

Begitu sampai di spot UKM... ada mbak2 berseragam petugas sekolah. "Ya Bunda... baru aja berangkat mobilnya...." Dan itu sdh jam 8.05. Hmm.... katanya sih tiap 15 menit akan ada lagi. Tp mengingat macetnya jalan menuju mall... rasanya sih tinta mungkaraaaaaa.... Ah... kzl.... Bete no 3. Dan kalau berangkat dr mall jam 8.15... sampai sekolah jam berapa? Dan gue nggak suka banget telat untuk acara2 semacam itu. Beteeeeee maksimal....

Akhirnya? Gue tinggal. Ke kantor. Bodo amat ah. Sampai kantor, coba lihat schedule workshop yg masih open... tinggal di sekolah Bandung dan Surabaya. Ahahaha... menurut ngana???? Ya wis lah embuh. Terserah yg sekolah aja. Hahahahaha....


Wednesday, August 28, 2019

Draft Entah

Aku baru selesai meletakkan piring ke-20 ketika kudengar suara Pras di pintu. 

“Kok malah kabur ke sini, Sayang? Bik Nah… ini tamunya kok dibiarin aja sih cuci piring sebanyak itu?” 

“Sudah saya bilang non Asti jangan cuci piring, nggak mau, Mas. Katanya suka. Suka apa ya? Main air? Koyo cah cilik….” 

Bik Nah yang separuh membela diri dan separuh menggerutu itu tak urung membuatku tersenyum. 

“Hey… sebentar ya. Ini sedikit lagi selesai kok. Nggak apa-apa kan aku bantuin Bik Nah?”

“Nggak boleh. Kamu seharusnya di depan saja. Ibu kan mau ngobrol macam-macam, tadi belum selesai….” 

“Hmmm…..”

“Iya, aku tahu, pasti malas ya ditanya-tanya… kan kita sudah bahas, kalau kamu nggak mau jawab, ya sudah… . Tidak perlu menjawab. Tersenyum saja,” bujuk Pras.

Aku tersenyum. Pras selalu begitu. Menenangkan. 

“Terima kasih untuk selalu memahami aku.”

“Hey… I love you. Never forget that.” Ciumannya sekilas mendarat di pipiku. 

Setelah menyelesaikan mencuci beberapa gelas, yang lalu diambil alih secara paksa oleh Bik Nah, aku keringkan tangan dan sekilas melihat cermin di dapur untuk memeriksa penampilanku. Masih cukup rapi. Pras mengulurkan tangan, menggandeng tanganku yang masih lembab. Dibimbingnya aku kembali ke ruang tengah, bergabung dengan keluarga besarnya yang siang itu berkumpul merayakan ulang tahun pernikahan ayah dan ibunya. 50 tahun. Pernikahan emas. Bagiku, yang tak sukses melewati masa lima tahun pernikahan, angka 50 tahun itu sungguh semacam hal yang luar biasa. 


Monday, August 26, 2019

Hi!

How are you today?

As usual I woke up in the morning, prepared the lunch box for my son (and myself), then went out for morning walk. Do you still remember my daily activity?

I greeted the elderly couple lived one block away. Once I told you, how I envy their morning routine.  I always see them in their porch, drinking tea while reading newspaper. Together. How sweet. You said that is your relationship goal too. To be able to grow old with someone you love.

Ah how my heart itches to recall everything you said (and done). I miss you.


Thursday, August 22, 2019

Q & A

With you being so busy with work and everything... how do you manage your private life... err... love life?

I can't. Maybe that is the main reason for me being single.

Wednesday, August 21, 2019

Missing You

Being a very busy bee lately. But all of those marathon meetings, million of client's inquiries, tons of proofread materials... still cannot replace a very bold thought of you in my head. I miss you so much.

Tuesday, August 20, 2019

Monday, August 19, 2019

Soulmate

Salah satu teman cerita, dia punya sahabat yg bikin dia merasa nyaman. Bahkan tanpa hrs ngomong apa2, cukup lihat wajahnya... wis ayem. Dia cerita suatu saat sahabatnya itu datang ke rumahnya. Cuma say hi, lalu main sm anjing2 peliharaan. Trus krn teman ini sedang sibuk, ya dia duduk di meja kerja, meneruskan tugas. Si teman ini ya bebas aja ngapain, tanpa mengganggu tuan rumah sama sekali. Kadang malah ambilin minum atau makan, supaya yg kerja tetep gembira. Ini berlangsung sudah bertahun-tahun. Kalau sedang butuh cerita ya cerita... tp kalau mau diem2 aja ya bisa. Nggak semua hal perlu dirayakan dengan gegap gempita. Kadang hanya saling lihat saja sudah cukup membahagiakan.

Itu mungkin namanya soulmate? Tanpa diminta akan datang. Hadir menemani dan menjaga.

Gue pikir2... kenapa gue nyaman banget waktu di Selojene, mungkin krn dikelilingi sm orang2 yg sayang sama gue tanpa ada itung2an. Inget banget waktu di sana itu gak banyak omong. Minim cerita2... tp kami bertiga tetap gembira. Kami seperti bisa membaca pikiran satu sama lain, bahwa masing2 kami perlu punya waktu sendiri, untuk membebaskan pikiran, tanpa mikir ada tuntutan. Dan suasana ini kebawa terus sampai setelahnya. Komunikasi nggak perlu dengan bicara (apalagi nada tinggi), cukup saling lihat, dan kami bisa paham apa yg hrs dilakukan.

And that was really comforting, knowing I have some people around that I can always count on.

Friday, August 16, 2019

Me Time

Minggu lalu gue datang ke kawinan ipar di Boyolali. Sebetulnya kawinan ini hanya alasan saja utk bisa kabur dari Jakarta. Entah kenapa kok pengen nggak di rumah bbrp hari. Pengen dpt suasana baru.

Jadilah Aria bolos hari Jumat. Jam 4 berangkat dari rumah, naik pesawat pertama yg mendarat jam 7 di Solo. Ke kawinan di Boyolali... sampai kira2 jam 10. Ini kawinan tradisional ya. Yg semua hadirin hanya duduk saja, menonton pengantin... dikasih hiburan, lalu makanannya dibagikan secara estafet. Very cute.

Habis itu ke mana? Keliling Boyolali. Melihat bahwa di sana ada menara Eiffel, menara Pisa, patung Liberty, Sphinx, Taj Mahal, dan Borobudur. Kok bisa? Ya mungkin krn bupatinya mau pamer dulu pernah ke tempat2 itu. Agak heran kenapa nggak dibikin ala Madurodam yg bisa buat latar foto ya? Ini semacam diletakkan begitu saja di sembarang tempat.... hiks....

Setelah itu mampir di Ketep Pass. Sepanjang perjalanan pemandangannya baguuuus banget. Gunung Merapi, Merbabu, Telomoyo.... baris di sisi jalan. Hawa sejuk. Enak banget.

Trus habis itu ke Salatiga, tujuan utama... Selojene, the sanctuary. Ini rumah pap... di desaaaa banget. Namanya desa Kalilondo, Tingkir, di ujung Salatiga. Kalau mau ke sini dari arah kota, selalu melewati Jalan Nanggulan, tempat rumah masa kecil kami di kompleks tentara. Rumah Selojene ini  lucu, cute, pretty... and every adjectives that connected with beautiful can be addressed to the house, definitely.

Rumah 49m persegi itu bentuknya limasan. Rumah lama, sdh ada di atas tanahnya sejak dibeli. Tapi tentu saja nggak dibiarkan apa adanya. Dinding kayunya semua diganti jadi kaca nako, jadi isi rumah akan kelihatan kalau kita kelilingi dari luar. Pintu2 kayunya dibetulin, ditambah besi2 jadi keren. Lucunya, begitu masuk pintu, akan langsung berhadapan dengan dinding melengkung yg terbuat dari polycarbonate. Ternyata lengkungan itu adalah kamar tidur. Yup... kamar tidur berbentuk lingkaran... haha.... Luasnya cukup buat mewadahi satu kasur queen, dengan meja kursi secukupnya, dan kamar mandi yg cukup nyaman. Jangan sedih... kamar mandinya banyak bolong2... haha.... Harus tengok kanan kiri kalau mau apa2... krn yg di luar bisa intip2 tanpa perlu usaha.... Ada salah satu cekungan di polycarbonate... yg ternyata dapur mungil. Dan di depannya ada ayunan, digantung di bubungan atap. Haha... ini pasti pap reminiscing ayunan di dekat dapur rumah Nanggulan yg dulu digantung sama bapak.

Gue dan Aria sangat betah ada di Selojene Padahal nggak ngapa2in... selain duduk2, leyeh2, golar goler.... Dengerin lagu yg suaranya nyatu sama cuitan burung di luar. Rasanya enak banget. Bahkan Aria pun nggak nyalain tv.

Aktivitas kami selama di situ: tiduran di kamar, keluar kamar pindah ke sofa, keluar dari rumah pindah ke meja makan di bawah pohon, geser ke kursi malas di teras, kalau mau jalan2 ke kebun, duduk di bangku menghadap sawah, ngelamun....inget2 patah hati... trus jalan lagi ke tepi sungai.... balik ke rumah lagi. Gitu aja terus diulangi dan nggak pernah bosen.

Sungguh rumah yg bisa saja egois, karena yg di dalam nggak perlu saling ngomong, sudah kelihatan... yet intimate. Semua terbuka, jujur, dan dekat... krn ruangannya kecil dan cuma itu2 saja. Yg masuk ke rumah itu pasti sudah diseleksi pakai cinta....

Sore2... pap masuk dapur, bikin kue. Sementara gue siapin buka puasa dan makan malam. Aria pindah ke ayunan. Nunggu makanan matang. Trus ketika sdh adzan, waktunya buka, dia tetep di ayunan krn itu posisi strategis bisa langsung ambil makanan hangat di meja dapur. Tinggal emplok....

Ya ampun... bahkan saat menulis ini pun masih terbayang rasa nyamannya ada di rumah itu. I had my me time. And it made me miss you more.






Thursday, August 15, 2019

This Is Me

I feel lonely. There is a big hollow in my heart. I still think of you hundred times a day. I wish you know, I wish you give me clue.

Takdir itu ada, hari esok itu ada.

Do Not Know What To Do


Wednesday, August 14, 2019

Missing... Who? What?

It has been a while since the last time we talked. And there are so many things I want to share with you. So many moments I want you to witness. But... where are you?

And then I learnt to let things go by, try to swallow everything, keep them all by myself. And amazingly, I can do that. I am indeed stronger than I thought. Everything went on very well.

Then one thing crossed my mind... do I really miss you?

Or I just miss the light conversations with you on my way to office? Your calls during the day? Your story of the kids? Your notes, here and there, asking about my whereabout? Your lunch reminders? Your smile when seeing me in my office lobby? Your gentle ways of driving me home? Your surprise flowers? Your hand holding mine? Our midnight chat about your dreams? Our ideas of future homes?

Basically those were merely things. And we know for sure: things disappeared eventually. So... why bother?

Tuesday, August 13, 2019

Be Happy

Ketika tahu mama akan naik haji... banyak sekali yang titip doa. Dari mulai doa sehat, doa rejeki yang beragam banget mulai dari sukses usaha sampai sukses bayi tabung... dan yg nggak kalah banyak adalah titipan doa supaya pernikahan langgeng.

Waktu dengar ada yg titip doa pernikahan langgeng, pap hanya komentar pendek, "Langgeng tapi nggak bahagia, buat apa?"

Baiklah mengaminkan saja doa2 yg dititip ke mama... hanya jadi pengen bahas soal bahagia dalam companionship.

Dulu itu, ketika keputusan gue untuk bercerai sdh "bisa diumumkan" ke keluarga... reaksi pertama sebagian besar anggota keluarga di sana... nyaris sama. Mereka menolak. Alasannya macam2. Dari mulai kecemasan soal finansial sampai soal nama baik. Herannya, jarang banget yg memikirkan masalah kebahagiaan gue yg menjalani pernikahan itu. Dan yg lebih hrs ditanya adalah ... tokoh satunya mau apa nggak menjalani terus?

Gini, gue ditinggal. Trus gue memaafkan, menerima kembali. Tapi tetep ditinggal. Dan nggak ada yg peduli apakah gue bahagia atau enggak, yg penting jangan cerai. Huehehehehe... tidak demikian ceritanya, Fulgoso! Kenapa ya nggak ada yg kepikiran hal happy itu (terutama dari keluarga sana). Seolah kebahagiaan gue nggak ada urusannya dalam pernikahan gue sendiri, nggak penting. Yg penting status, yg penting materi. Sepertinya ada keyakinan kalau bahagia akan datang sendiri setelah ada status istri dan dihujani materi. Hmm....

Dan pikiran itu pun sempat meracuni gue, dalam arti, gue "sempat tergoda" buat mencoba tetap berstatus istri yg terjamin kehidupan finansialnya. Hahaha.... Bayangin aja, pegawai kroco di kantor, tapi ke mana2 naik mercy seri tebaru yg supirnya pakai baju safari, dan pulang pergi dari rumah yg ukurannya seluas SD Inpres. But then I understood that happiness comes from inside my heart. Jadi semua atribut itu nggak penting banget. Sejujurnya... naik turun mercy itu malah bikin gue merasa spt perempuan simpanan pejabat hahahaha....

Ketika gue sadar soal bahagia yg harus diwujudkan, gue memutuskan pulang ke rumah nyokap, kembali ke kamar mungil gue. Mengganti kasur ukuran queen dengan kasur single plus satu boks bayi (krn kamarnya sempit banget) ternyata lebih membahagiakan. Pulang pergi kantor naik mikrolet juga nggak apa2... apalagi kalau hari2 gajian masih bisa kok bayar taksi. Oke2 aja. Mungkin krn gue paham apa pun yg gue pakai dan manfaatkan beneran punya gue tanpa embel2 apa pun, bukan pinjaman bukan pemberian yang akan membuat gue spt punya utang... gue merasa lebih tenang. Dan ketenangan itu bikin gue merasa lebih happy. Saat itulah gue yakin bahwa merasa bahagia sangat penting buat kesehatan jiwa. Dalam kondisi gue yg hamil saat itu, bahagia ini ternyata menjaga anak gue dari menyandang sindrom2 macam2.

Dari pengalaman finding happiness... kalau skrg ada teman yg cerita ttg nggak bahagia dalam pernikahan tp juga nggak bisa memutuskan untuk melangkah bertindak.... gue nggak habis pikir. Nggak harus selalu cerai lho ya. Kan bisa diurai dulu di sebelah mana yang nggak bahagia, lalu dicarilah cara supaya menemukan kembali bahagia. Ya mbok ngobrol sm pasangannya, curhat gitu... masak nggak didengerin.... Kalau sama pasangan udah nggak didengerin... pernikahannya pasti udah ga bener. Ya itu dulu yg dibenerin. Easier said than done? Ya memang siapa yg bilang menikah itu gampang?

Nah... patokan bahagia ini jugalah yg bikin gue hati2 kalau dekat sm seseorang. Seberapa besar pun keinginan gue menikah lagi, ketika kenal orang baru, gue akan sangat ngitung ini itu. Begitu ada satu hal aja yg "nyangkut" ... gue akan langsung back off dan berkontemplasi. Bukan nggak mau berusaha ya, hanya mencoba menakar sejauh mana gue bisa berkompromi. Beberapa kali sih batas komprominya memang tipis banget hahahaha... Apakah gue akan sebahagia ini kalau ada dia tiap hari? Dan... selama ini terbukti, kalau di awal ada tanda2 yg gue abaikan, pasti akhirnya ketahuan juga bahwa kami nggak compatible. Denial mmg bukan rumus yg tepat untuk semua hal... terutama urusan cinta2an ini.

Akhirnya, gue akan dan harus tetap mengedepankan kebahagiaan gue. Gue akan dan harus mendengar kata hati, mencermati jika ada yg tidak setuju, sepelan apa pun suaranya.




Monday, August 12, 2019

Only Words

"I will never leave you."
"Love you. I did, I do, I will."
"I will stay, forever...."

And at the end of the day... none of those happen. At least not in my life. Yet.

Monday, August 05, 2019

How Romantic

Kemarin di Ndalem Prosotan ada mini reunion temen2 SMA. Ini sebenernya minggu ke-2 kumpul2... dari yg niat dateng segambreng... akhirnya yg muncul hanya berempat... hahaha... pdh sdh disiapin makanan banyak banget. Alhamdulillah deh kenyaaaangg... ahahaha....

Tp yg lucu adalah Aria kalau lagi ada teman2 ibu... selalu masuk hibernate mode.... mengurung diri. Entah di kamarnya atau di kamar gue.... Kadang2 aja nongol buat lihat2 ibunya sedang apa trus ganggu2 dikit.

Kemarin itu, pas gue lagi ke dapur... pas dia keluar dari kamar gue.

-  Cari apa sih, Ibu, kok mondar-mandir....
+ Aku cari kecap.
-  Nggak ada?
+ Tadi ada kok... sudah aku taruh di mangkok....
-  Mana?
+ Nggak tahu... mana ya?
-  Ini lho... ini lho....

Trus dia tiba2 deketin gue dan kecup pipi kanan kiri. "Nih, kecap... eh itu kecup ya.... "

Halaaaaahhh.... romantis bener, ibunya sampai speechless.... Beda tipis deh romantis sama gombal mukiyo... ini siapa yg ngajarin ya....

Wednesday, July 24, 2019

The Job in My World

Karena hari ini eyang pergi haji (mohon doa supaya lancar yaaaa... aamiinn), gue ijin pulang lebih cepat. Dan ternyata nggak bisa antar sampai airport, hanya sampai meeting point dgn biro perjalanan di daerah Tangerang. Ya udah, hbs dadah2... pulang... jam 5 sdh duduk manis di rumah.

Meskipun sdh di rumah, ttp memenuhi janji sm tim yg di kantor utk segera gelar laptop dan nerusin kerja ini itu. Tentunya lbh gembira krn bisa sambil ngemil es krim dan ga usah pakai sepatu jinjit. 

Yg sangat menyenangkan adalah reaksi Aria yg ttp sama, nggak berubah sejak dulu, kalau ibunya pulang lbh cepat. Dia tetap gembira. Seneng deh lihatnya hahaha.... Dan waktu makan malam bisa siapin proper dinner trus makan sambil ketawa2 di pantry sm anak semata wayang itu. Ngobrol macem2. Seru. This only reassures me that amongst all the title I obtained, being his mom is the one I am most proud of. 

Monday, July 22, 2019

On (Financing Thingy of) Marriage Life

Beberapa teman secara langsung maupun tidak menceritakan ttg pola mereka berkeuangan setelah menikah. "Modal dasar" teman2 itu mirip: perempuan, bekerja, sukses dalam karier. Seru juga bisa mengintip cara mereka atur keuangan sbg pasangan.

Si A, menikah dengan laki2 yg secara finansial biasa saja. Menariknya, bbrp minggu sblm menikah, si laki2 ini khusus datang ke rumah si A, bawa kalkulator beras. Dia ajak si A utk buka2an secara finansial. Brp gaji dia, gaji si A. Kewajiban apa saja yg skrg sedang hrs dibayar. Lalu mengajak si A diskusi soal rencana keuangan setelah menikah. Siapa yg hrs ngapain. Berapa tabungan wajib. Asuransi apa saja yg hrs dipunya. Dll dll dll.... Ini terdengar sangat realistis dan menyenangkan. Krn rencana punya anak pun dibarengi dgn kegiatan investasi utk pendidikan dan proteksi kesehatan si anak. Keren ya. Dan si A pun mengakui, "Asli laki gue seksi banget waktu dia jabarin rencana finansial itu. Terasa bhw dia megang banget deh." Ahahaha....


Si B, menikah dgn laki2 penulis yg tadinya kerja di media tp lalu pindah jadi PR perusahaan multinasional. Si B ini gue kenal sbg perempuan yg ambisius dan selalu punya cara buat mewujudkan ambisinya. Berani mati aja deh. Merasa suami kerja di perusahaan besar, si B keluar dari kantornya. Alasan klise adalah mengurus anak (mereka lgs punya anak setahun stlh menikah) dan mau bisnis sendiri. Berani mati krn bidang bisnis yg dia geluti sdh banyak dikerjakan oleh sejuta umat. Kemarin ketemu sm si B dan keluar juga curhat soal suami yg ternyata sangat woles dalam karier jd spt pasrah aja kerjaan banyak dgn gaji kecil. Promosi dgn kenaikan gaji minim diterima gitu aja tanpa nawar. Hehe... gemes tp ya gimana? Mmg suaminya model gitu. Jadi akhirnya yg tadinya bisnis untuk iseng2 jadi harus untuk tulang punggung krn si B nggak mau juga menurunkan standard hidup. Tetep pengen liburan 2x setahun dan belanja barang branded. "Apa aja aku kerjain deh, mbak. Lha piye, ngenteni bojoku lak aku iso ora lunga2," katanya. Risikonya dia jadi tampak lelah luar biasa. Tp ya sudah, sepanjang dia menerima ya ga apa2 dong....

Si C, menikah krn terlanjur hamil dgn laki2 yg masih sekolah sambil kerja serabutan. Sempat menjadi backbone dlm keluarga kecil dan bertahun2 mereka berdua hrs ngontrak rumah dan ke mana2 naik angkutan umum. Kalau dengar ceritanya, sedih dan miris. Tp memang rejeki, suaminya pinter. Jadi begitu lulus bisa lgs berkarier bagus. Lalu memutuskan berbisnis, dan sukses. Keuangan mereka sempat morat-marit dalam 8 thn pertama pernikahan. Meski bergaji besar, selalu habis. Nggak bisa nabung. Masing2 mengurus sendiri gaji masing2. Lalu si C ini mulai mikir, mau sampai kapan awut2an? Akhirnya dia ambil kursus keuangan dan mengajukan diri sbg menteri keuangan keluarga. Suaminya setuju. Caranya? Dia bikin list semua kewajiban berdua. Lalu buka2an soal pendapatan. Dari mana dan berapa. Gaji berdua digabung, dikurangi semua kewajiban, dan disisihkan untuk investasi. Lalu masing2 diberi "uang saku" yg jumlahnya sama, untuk dihabiskan. Jd si C mau ke salon ya bisaaaa pakai uang itu... suami mau borong printilan sepeda ya silakaaan diambil dr uang itu. Dgn cara ini, lumayan bisa nabung. "Paling nggak masing2 anak sdh disediakan untuk sekolah sampai sarjana," kata si C. Ini keren.

Nah... gue jadi belajar juga sih dari mereka2 itu. Belajar utk punya metode investasi. Belajar utk ngatur duit... yg menurut gue susahnya minta ampun hahahaha.... Tp krn skrg masih kerja sendiri dan hasilnya boleh bebas dihabis2kan sendiri... ya... masih suka2 gue dong. Hahaha.... Nggak boleh ada yg komplen ttg cara gue habisin uang, yg penting Aria seneng. Ye kaaaannn.... Tp kemudian kepikiran... lucu juga ya kalau punya suatu tujuan keuangan dan bisa mencapainya bareng2. Bareng siapa? Embuh. Hayo siapa yg mau? Lah... jadi jualan....

Friday, July 19, 2019

On Parenting

Being parents, you need to be prepared. I warn you. You know why? I give you example. I was so surprised when my son, out of the blue asked me, “Mom, what if I am bisexual?”

He was 13 by then. In his early teenager life. 

Oh yes, this is not his first surprising questions. As a boy who is growing up in modern world, he is exposed to so many things. So there was time, he was six, he already asked about the function of  condom after he found one in my drawer. Can I explain? Sure, with shacking hands that I covered very well.

I remembered I answered by explaining that condom is only for a man. “I am a man,” he said. “I mean, for adult,” was my closure. He seemed a bit confuse, but he didn’t ask anything further. 

That is the moment I assure myself to be well prepared about any “cute” questions he may ask along the way. And as his parent, I have to have a ready weapon in hand, whether I am ready or not to answer. So I read all the things regarding boys, kids, teenagers. Anything they might be interesting in suddenly matters to me. 

Why do I feel I need to be prepared? Not only because I want him to get the best answer, but also because I need him to know that even I am his parent, I can be his best friend too. Best friend he can count on, to whom he can go to seek any answer for any question, or later for any problem he may encounter. I may not always give him best solution, but I need him to know that I will always be there. 

So when he came up with his bisexual question, I thought I was ready with my answer. I read somewhere about the key to discuss sexual orientation, in a religious newsletter. But then something crossed my mind, will it be okay if  I use that answer? The explanation I read was merely about growing up, the pain any kids need to go through, the “right way” to be a girl or a boy, and something like that. Things which base on common belief that pink is the color for girl while blue is only suitable for boy.  Will that be okay for my son? I think I need to find the right word. Not only because I want him to understand about the sexual orientation well, but also because I do not want him to feel rejected, if, only if he is indeed bisexual like he said he is. 

And right there and then, I suddenly realized that to be prepared being a parent did not only mean you have to be ready with things related to house you can call a home, the meal, the tuition, and health insurance for your kids. As a matter of fact, become a parent, you have to be prepared to accept your children as they are. And still love them as they truly are. 


(This is the piece I wrote for my smart living writing class today)

Tuesday, July 16, 2019

Can You Imagine?

Coba khayalkan sejenak
Sepuluh tahun nanti
Hidupmu

Coba bayangkan sejenak
Misalkan ada aku
Yang menemani
Hari demi hari yang tak terhitung

Misalkan itu aku yang terakhir untukmu

Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku
Di aku
Dan kamu

Pastikan kau melihat aku
Saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi

Misalkan semua terjadi
Meski belum terjadi
Sekarang kita renungkan sejenak
Cara agar semua bisa terjadi
Walau kutahu tak semudah itu

Tapi coba sekali lagi bayangkan aku



(Himalaya - Maliq and d'Essentials)


Wednesday, July 10, 2019

Big Bear Hug

Pagi ini membaca cerita seorang teman yg punya sertifikat pedagogi utk anak2 istimewa, tentang salah satu muridnya, kasih nama Adinda ya.

Adinda umurnya 10 tahun. Berkebutuhan khusus. Nggak tahu judulnya apa, nggak berani tanya juga sih... yg jelas punya kesulitan berkomunikasi. Tapi karena sdh dipegang sm teman gue sejak kecil sekali, Adinda ini skrg mahir berkuda, bisa menyapu, gesit kalau berenang, dan sudah bisa makan sendiri. Hm... baru sadar gue cukup lama mendengar soal Adinda ini. Jadi seperti mengikuti dia belajar makan nasi dan roti (sampai umur 9, semua makanan masih diblender dan harus disuapin).

Dari kisah Adinda juga, gue jadi belajar bersyukur bahwa Aria itu anak yang normal dan tumbuh spt seharusnya menjadi seorang anak yg sehat dan gembira. Alhamdulillah.

Bayangin bhw ada anak yg nggak bisa ngomong ke ibunya bahwa dia lapar, atau haus, atau mau duduk saja nggak mau apa2... sedih bener....

Dan semalam... Adinda ini tantrum. Tnyt sdh bbrp hari dia ribut dan kisruh di rumah. Nggak tahu mau apa... semua barang diberantakin. Majalah disobekin. Mainan dituang di mana2. Acak2 sana sini sampai ibunya lelah benah2. Belum berhenti juga... ke taman... petik bunga, cabut rumput.... Namanya ibu, biasanya punya insting yg nggak bisa ditipu. Dan mengikuti kata hati, ibunya Adinda cuti kerja. Nemenin anaknya. Sesuai ajaran coach, kalau acak2 barang... harus dihukum. Adinda bbrp kali kena time out. Tp lalu hbs itu dielus, dipeluk, diajak ngobrol pelan2. Meskipun nggak bisa jawab... Adinda jadi tenang. Dan, setelahnya mereka berpelukan berdua. Ke mana2 pelukan aja terus.

Si ibu langsung kirim pesan ke coach, "Ternyata Adinda itu rusuh krn kangen saya.... "

Ya Allah... gue langsung pengen peluk2 anak gue....

Thursday, July 04, 2019

Tentang Rumput Tetangga

Semalam ada percakapan menarik antara gue dan adik ipar… yg sampai skrg masih satu2nya hahahaha… OOT…. 

Jadi si adik ini bekerja untuk orang yg gue kenal baik. Hmm… namanya Susi aja ya. Dan gue kenal Susi sudah lama… jd gue lumayan paham kondisi dia, bahkan kenal personal dgn anggota keluarganya, yg ya nggak banyak sih, hanya dia, suami, dan anak. 

Gue kenal anaknya, anggap namanya Citra, anak tunggal, perempuan, sejak anak itu SD. Masih kecil sekali. Spt juga gue dan Aria, Citra sering diajak ibunya ke tempat kerja, atau menyelesaikan pekerjaan. Dan kebetulan ibunya banyak berhubungan dengan seni, klop sama minat Citra. Gue ga terlalu heran waktu Citra lalu masuk kelas menggambar. Lalu suatu saat gue lihat dia menggambar manga yang bagus banget. Bahwa akhirnya dia masuk sekolah seni rupa terbaik di Indonesia, gue merasa sudah seperti seharusnya begitu. 

Sementara Susi juga semakin bersinar… masuk dunia politik dan berpendar luar biasa di sana. Gue pernah diajak utk bergabung dgn tim Susi. Baru coba2 aja rasanya gue ga tertarik. Pernah ikut sampai ketemu bapak (waktu itu) capres. Nunggu dari jam 8 malam, baru bisa jumpa jam 12. Dan waktu ketemu itu kok menurut gue cuma ngomong utara selatan nggak ada tujuan hidup. Hmm… apa krn gue sdh terlanjur ngantuk? Intinya, gue nggak tertarik dgn kondisi itu. Jadwal kerja kok nggak jelas. Ya mungkin duitnya banyak… it is just not for me.

Kemarin bahasan masuk ke kondisi finansial Susi yang semakin membaik sejak terlibat dalam politik. Lalu krn Jokowi menang lagi, Susi pun “menang” lagi. 

“Wis mulyo, Mercy ganti anyar… byar…,” kata adik ipar gue. 

Weleh… sementara gue ganti si kentang dgn yg mudaan aja seneng bukan main, gimana rasanya ganti Mercy? 

Tapiiiii… lalu terbukalah cerita lbh lengkap… . 

Jadi bbrp tahun terakhir, Susi bekerja keras atau dituntut bekerja lebih keras, yg ternyata berimbas pd anaknya. Mendampingi remaja tumbuh dewasa memang nggak mudah. Dan dgn kesibukan yg segudang, semakin sulit lagi bagi Susi utk pegang anaknya. 

Lalu anak ini pacaran dgn orang asing. Dan pergi ke negara pacarnya. Aman? Sampai sini tampaknya ya. 

Masalah baru ada ketika Citra putus dari pacarnya. Dia patah hati. Berkepanjangan. Sampai nyaris depresi. 

Dan… Citra minggat. 

Susi tentu panik. Mau cari ke mana? Trus mau nyari juga gimana caranya, sementara klien sedang rusuh2nya. Suami berusaha juga. Maksimal. Mengerahkan semua sumber daya yg dipunya. Kisruh. Rusuh. 

Alhamdulillah akhirnya ketemu, setelah bbrp lama. Dan skrg Citra hrs rutin konsultasi ke psikiater untuk menenangkan jiwanya. 

Kalau denger yg begini… gue akan settle dgn apa pun yg gue punya skrg.  Anak sehat selamat. Nggak usahlah pakai Mercy kalau hrs melewati acara anak hilang segala macam. Cukup. Sampun. Matur nuwun Gusti Allah. How it is true that most of the time we only see something just as we see an iceberg. We see only the beauty of it afloat, while what we don’t see beneath is something bigger and –might be- crazier and dangerous. 

Maybe the grass in greener in other's house, but trust me, we do not know how much the owner of that house spent for the grass. And it might be too expensive. 

Tuesday, June 11, 2019

High Heels

Have you tried wearing a high heels? It is a lot of fun, I tell you....

Pakai sepatu tinggi itu sangat menantang. Seru. Harus jaga keseimbangan, dan perlu banyak latihan biar nggak nyungsep. Beneran ga bohong. Tapi lihat kan efeknya? Kalau pakai high heels itu, kaki jadi jenjang, seksi, menawan. Ayune ciamik tenan. Pakai sepatu flat memang lebih nyaman. Bisa buat lari-lari. Tapi... kurang ayuuuu... percaya deh. Kadang boleh aja sih nggak peduli sm ayu nggak ayu yg penting sigap cas cuuusss dan ga pegel setelahnya.

Rasanya hidup juga begitu deh. Kalau lebih menantang, akan lebih seru. Yang seru ini biasanya akan berhasil lbh memuaskan. Paling nggak, ada kepuasan bisa melewati tantangan. Ya kan?

Jadi, untuk yang sedang galau, sedang rusuh, sedang sakit... sabar ya. Banyak berdoa, dan terus berusaha. Jangan terlalu khawatir, pasrahkan pada Tuhan. Tidak ada yg abadi di dunia ini. Galau itu, rusuh itu, sakit itu juga tidak akan selamanya. It is going to be over eventually.

Good luck!






Tuesday, June 04, 2019

Doa Pagi

Mudah-mudahan banyak yang melihat lalu menyebarluaskan.



Sunday, June 02, 2019

Stories

I miss to tell you about all of my daily activities. How the traffic was so bearable, even Bekasi-BSD can be done by 45 minutes only. Or about my mom who was cleaning up the house and became everyone's enemy since she tend to throw away anything she dislike. Hmm... first, she dislike something didn't always mean the thing was bad or ugly... and 2nd... it is not her own house, right? So, with a lot of Lebaran hampers coming to the house lately, things has been going funny with her.

I miss to tell you about my son's final grade which was not as bad as he presumes. Some of the scores were so amazing, he even surprise himself. And we celebrated it at the Sushi Matsu, his favourite place.

I miss to greet you good morning, and receiving those eye-openers video links from the kajian you attended at the masjid. And you would tell me what you did the whole day when you stay there. Was it still packs? Was the food good? Where did you sleep?

I miss to see your face in my office lobby. Surprising me in one pretty afternoon, saying you just stopped by but then you ended up driving me home.

The bottom line is: I miss you.

Wednesday, May 29, 2019

Belated Birthday Gift

Should I still send it to you? Or better give it to anyone who may also enjoy similar stuff?

Tuesday, May 28, 2019

Are They All The Same?

Bbrp hari yg lalu, ada seorang istri ke rumah. Nyari suaminya. Suaminya pamit kerja di Playhouse. Pdh itu hari libur. Ngakunya lembur. Lemburin apa? Wong nggak ada apa2... serumah Playhouse malah semua tidur. Si istri, dgn mata sembab dan nggak nyaman, cuma bilang, "Ya udah Bu. Ibu jangan bilang ya, kalau saya ke sini."

Sebuah pesan yg sederhana, nggak susah buat dikerjakan. Tp kok nyesek bener. Ini pasti ada hubungannya sama laki-laki mata keranjang.

Langsung lapor pak boss. Yg lalu setelah mencerna dan mengeja, ingat sesuatu soal percakapan dalam perjalanan, yg diyakini bukan dilakukan laki-laki itu ke istrinya. Oalah. Jadi laki-laki itu selingkuh? "Mungkin enggak. Atau belum. Krn kesempatannya nggak ada sih," jawabnya.

Apa pun itu... kenapa laki-laki mudah (tergoda) cari selingan? Nggak perlu kaya, nggak perlu ganteng... begitu ada kesempatan... cuss.... Njaluk disampluk sandal.

Dan mau nggak mau, percakapan soal selingkuh ini membawa ingatan ke momen sekian belas tahun silam. Ketika satu perselingkuhan terkuak, dan gue memilih untuk nggak terlibat di dalamnya. Meskipun gue lebih berhak, secara hukum negara maupun hukum agama. I resigned.

Trus ingat ada pakde yg ketahuan menikah lagi ketika dia meninggal. Krn istri berikutnya (dan anak2) hadir di pemakaman. Astaga. Sementara anak2 sdh besar. Dan harus apa coba kalau begitu? Warisan kok bentuknya keluarga lain....

Juga ingat seseorang, teman keluarga, yg terlihat baik2 saja, tp ternyata menyimpan rahasia. "He built another house for her, a nice one, somewhere in Bekasi," kata informan yg layak dipercaya tentang istri kedua. Oh My God.

Semua hal soal selingkuh ini masih terbayang di ingatan. Kok ya tadi pagi ditelpon sama orang yang mengaku sebagai istri seseorang. Nada tinggi. Suara emosi. Marah.

"Dia sudah beristri. Punya dua anak yg sudah besar. Dan sudah kawin lagi 2 kali. Kamu yg kesekian."

"Marahnya jangan sama saya, salah alamat. Tanya suamimu saja."

Gue tutup telepon. Rasanya nggak tahu harus apa dan ngapain.  Rasanya pengen ngrawus laki-lakinya. Tp lalu seperti biasa, sadar bahwa gue jg mungkin ada andil salah. Meskipun tetap kembali ke pertanyaan, "Kenapa laki-laki mudah berselingkuh?"

Sungguh sebuah cara aneh mengawali hari.

Wednesday, May 15, 2019

Draft 4

Bagaimana aku bisa lupa?

Tante Emmy seperti tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupku. Dia hadir, lalu tinggal di hari-hariku. Begitu saja. Sepertinya selamanya. Sejak ada dia, rumah ini semakin ramai. Tidak seperti biasanya yang sepi sunyi karena hanya ada aku dan ayah.

"Halo, saya Emmy. Kamu pasti Idam, kan? Ayahmu sudah cerita banyak sekali tentang kamu."

Mataku justru terpaku ke anting besar yang menggantung di telinganya. Besar, berbentuk melingkar. Mengingatkanku pada gelang raksasa yang dipergunakan di pertunjukan ketangkasan lumba-lumba.

Aku tidak akan lupa, tante Emmy menarik sekali di mataku saat itu. Rambutnya pedek, sesuai dengan gayanya yang sigap. Ia mengenakan gaun terusan warna gelap sepanjang mata kaki, menyembunyikan kaki berbalut sneaker yang memberinya tampilan sportif. Dia tampak cantik, sekaligus kokoh di saat bersamaan. Suatu penampilan yang mencuri hatiku. Seluruhnya.


Friday, April 26, 2019

An Uneasy Day

Ada hari2 yg tidak nyaman, dan mungkin hari ini salah satunya.

Tadi pagi harus berbesar hati memutuskan untuk mengakhiri kegembiraan2 yg biasanya didapat hanya dgn mengangkat telepon atau chat lewat wa. Ya memang sdh seharusnya diselesaikan secara sadar. Karena selama ini yg dilakukan tidak benar.

Sungguh, hari menjadi sangat tidak nyaman.

Tapi mungkin hidup memang harus begitu. Ada saatnya nyaman, ada saatnya resah. Gembira bergantian datang dengan duka. Kadang banyak suka cita, lalu ada bumbu sedih lara. Namanya bumbu... secukupnya saja. Supaya sedap.

Rasanya, hidup memang sudah semestinya demikian.

Jadi kalau ada suara sedot2 ingus dari pojokan, itu gue. Mohon maaf.

Monday, March 25, 2019

Incoming Complaint

"I need to do a lot of thing once I come home. Of course I need to fix many things for my sons. But first I have to renew my passport, driving license, my Jakarta ID... oh and yes I want to renew my life with you."

"...."

"Did you still pretend not to hear anything about that?"

Wednesday, March 13, 2019

Let's....

If you cannot see the bright side, I'll be sitting with you in the dark.

Tuesday, March 12, 2019

Which One?

Maukah lagi kau mengulang ragu
Dan sendu yang lama
Dia yang dulu pernah bersamamu
Memahat kecewa
Atau kau inginkan yang baru
Sungguh menyayangimu

Aku ingin dirimu
Yang menjadi milikku
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain

Separuh jalan pernah dilewati
Meski ada kecewa
Aku yang dulu tak begitu lagi
Takkan 'ku ulangi
Jangan dulu engkau berpaling
Beriku kesempatan

Aku ingin dirimu
Tetap jadi milikku
Bersamaku mulai hari baru
Hilang ruang untuk cinta yang lain

Lupakan dia pergi denganku

Lupakanlah ragu denganku

Ooooo... Aku...

Aku ingin dirimu (Aku ingin dirimu) Yang menjadi milikku.... 
Layak untuk cantikmu, itu aku.... 

(Adu Rayu