Salah satu teman cerita, dia punya sahabat yg bikin dia merasa nyaman. Bahkan tanpa hrs ngomong apa2, cukup lihat wajahnya... wis ayem. Dia cerita suatu saat sahabatnya itu datang ke rumahnya. Cuma say hi, lalu main sm anjing2 peliharaan. Trus krn teman ini sedang sibuk, ya dia duduk di meja kerja, meneruskan tugas. Si teman ini ya bebas aja ngapain, tanpa mengganggu tuan rumah sama sekali. Kadang malah ambilin minum atau makan, supaya yg kerja tetep gembira. Ini berlangsung sudah bertahun-tahun. Kalau sedang butuh cerita ya cerita... tp kalau mau diem2 aja ya bisa. Nggak semua hal perlu dirayakan dengan gegap gempita. Kadang hanya saling lihat saja sudah cukup membahagiakan.
Itu mungkin namanya soulmate? Tanpa diminta akan datang. Hadir menemani dan menjaga.
Gue pikir2... kenapa gue nyaman banget waktu di Selojene, mungkin krn dikelilingi sm orang2 yg sayang sama gue tanpa ada itung2an. Inget banget waktu di sana itu gak banyak omong. Minim cerita2... tp kami bertiga tetap gembira. Kami seperti bisa membaca pikiran satu sama lain, bahwa masing2 kami perlu punya waktu sendiri, untuk membebaskan pikiran, tanpa mikir ada tuntutan. Dan suasana ini kebawa terus sampai setelahnya. Komunikasi nggak perlu dengan bicara (apalagi nada tinggi), cukup saling lihat, dan kami bisa paham apa yg hrs dilakukan.
And that was really comforting, knowing I have some people around that I can always count on.
Monday, August 19, 2019
Friday, August 16, 2019
Me Time
Minggu lalu gue datang ke kawinan ipar di Boyolali. Sebetulnya kawinan ini hanya alasan saja utk bisa kabur dari Jakarta. Entah kenapa kok pengen nggak di rumah bbrp hari. Pengen dpt suasana baru.
Jadilah Aria bolos hari Jumat. Jam 4 berangkat dari rumah, naik pesawat pertama yg mendarat jam 7 di Solo. Ke kawinan di Boyolali... sampai kira2 jam 10. Ini kawinan tradisional ya. Yg semua hadirin hanya duduk saja, menonton pengantin... dikasih hiburan, lalu makanannya dibagikan secara estafet. Very cute.
Habis itu ke mana? Keliling Boyolali. Melihat bahwa di sana ada menara Eiffel, menara Pisa, patung Liberty, Sphinx, Taj Mahal, dan Borobudur. Kok bisa? Ya mungkin krn bupatinya mau pamer dulu pernah ke tempat2 itu. Agak heran kenapa nggak dibikin ala Madurodam yg bisa buat latar foto ya? Ini semacam diletakkan begitu saja di sembarang tempat.... hiks....
Setelah itu mampir di Ketep Pass. Sepanjang perjalanan pemandangannya baguuuus banget. Gunung Merapi, Merbabu, Telomoyo.... baris di sisi jalan. Hawa sejuk. Enak banget.
Trus habis itu ke Salatiga, tujuan utama... Selojene, the sanctuary. Ini rumah pap... di desaaaa banget. Namanya desa Kalilondo, Tingkir, di ujung Salatiga. Kalau mau ke sini dari arah kota, selalu melewati Jalan Nanggulan, tempat rumah masa kecil kami di kompleks tentara. Rumah Selojene ini lucu, cute, pretty... and every adjectives that connected with beautiful can be addressed to the house, definitely.
Rumah 49m persegi itu bentuknya limasan. Rumah lama, sdh ada di atas tanahnya sejak dibeli. Tapi tentu saja nggak dibiarkan apa adanya. Dinding kayunya semua diganti jadi kaca nako, jadi isi rumah akan kelihatan kalau kita kelilingi dari luar. Pintu2 kayunya dibetulin, ditambah besi2 jadi keren. Lucunya, begitu masuk pintu, akan langsung berhadapan dengan dinding melengkung yg terbuat dari polycarbonate. Ternyata lengkungan itu adalah kamar tidur. Yup... kamar tidur berbentuk lingkaran... haha.... Luasnya cukup buat mewadahi satu kasur queen, dengan meja kursi secukupnya, dan kamar mandi yg cukup nyaman. Jangan sedih... kamar mandinya banyak bolong2... haha.... Harus tengok kanan kiri kalau mau apa2... krn yg di luar bisa intip2 tanpa perlu usaha.... Ada salah satu cekungan di polycarbonate... yg ternyata dapur mungil. Dan di depannya ada ayunan, digantung di bubungan atap. Haha... ini pasti pap reminiscing ayunan di dekat dapur rumah Nanggulan yg dulu digantung sama bapak.
Gue dan Aria sangat betah ada di Selojene Padahal nggak ngapa2in... selain duduk2, leyeh2, golar goler.... Dengerin lagu yg suaranya nyatu sama cuitan burung di luar. Rasanya enak banget. Bahkan Aria pun nggak nyalain tv.
Aktivitas kami selama di situ: tiduran di kamar, keluar kamar pindah ke sofa, keluar dari rumah pindah ke meja makan di bawah pohon, geser ke kursi malas di teras, kalau mau jalan2 ke kebun, duduk di bangku menghadap sawah, ngelamun....inget2 patah hati... trus jalan lagi ke tepi sungai.... balik ke rumah lagi. Gitu aja terus diulangi dan nggak pernah bosen.
Sungguh rumah yg bisa saja egois, karena yg di dalam nggak perlu saling ngomong, sudah kelihatan... yet intimate. Semua terbuka, jujur, dan dekat... krn ruangannya kecil dan cuma itu2 saja. Yg masuk ke rumah itu pasti sudah diseleksi pakai cinta....
Sore2... pap masuk dapur, bikin kue. Sementara gue siapin buka puasa dan makan malam. Aria pindah ke ayunan. Nunggu makanan matang. Trus ketika sdh adzan, waktunya buka, dia tetep di ayunan krn itu posisi strategis bisa langsung ambil makanan hangat di meja dapur. Tinggal emplok....
Ya ampun... bahkan saat menulis ini pun masih terbayang rasa nyamannya ada di rumah itu. I had my me time. And it made me miss you more.
Jadilah Aria bolos hari Jumat. Jam 4 berangkat dari rumah, naik pesawat pertama yg mendarat jam 7 di Solo. Ke kawinan di Boyolali... sampai kira2 jam 10. Ini kawinan tradisional ya. Yg semua hadirin hanya duduk saja, menonton pengantin... dikasih hiburan, lalu makanannya dibagikan secara estafet. Very cute.
Habis itu ke mana? Keliling Boyolali. Melihat bahwa di sana ada menara Eiffel, menara Pisa, patung Liberty, Sphinx, Taj Mahal, dan Borobudur. Kok bisa? Ya mungkin krn bupatinya mau pamer dulu pernah ke tempat2 itu. Agak heran kenapa nggak dibikin ala Madurodam yg bisa buat latar foto ya? Ini semacam diletakkan begitu saja di sembarang tempat.... hiks....
Setelah itu mampir di Ketep Pass. Sepanjang perjalanan pemandangannya baguuuus banget. Gunung Merapi, Merbabu, Telomoyo.... baris di sisi jalan. Hawa sejuk. Enak banget.
Trus habis itu ke Salatiga, tujuan utama... Selojene, the sanctuary. Ini rumah pap... di desaaaa banget. Namanya desa Kalilondo, Tingkir, di ujung Salatiga. Kalau mau ke sini dari arah kota, selalu melewati Jalan Nanggulan, tempat rumah masa kecil kami di kompleks tentara. Rumah Selojene ini lucu, cute, pretty... and every adjectives that connected with beautiful can be addressed to the house, definitely.
Rumah 49m persegi itu bentuknya limasan. Rumah lama, sdh ada di atas tanahnya sejak dibeli. Tapi tentu saja nggak dibiarkan apa adanya. Dinding kayunya semua diganti jadi kaca nako, jadi isi rumah akan kelihatan kalau kita kelilingi dari luar. Pintu2 kayunya dibetulin, ditambah besi2 jadi keren. Lucunya, begitu masuk pintu, akan langsung berhadapan dengan dinding melengkung yg terbuat dari polycarbonate. Ternyata lengkungan itu adalah kamar tidur. Yup... kamar tidur berbentuk lingkaran... haha.... Luasnya cukup buat mewadahi satu kasur queen, dengan meja kursi secukupnya, dan kamar mandi yg cukup nyaman. Jangan sedih... kamar mandinya banyak bolong2... haha.... Harus tengok kanan kiri kalau mau apa2... krn yg di luar bisa intip2 tanpa perlu usaha.... Ada salah satu cekungan di polycarbonate... yg ternyata dapur mungil. Dan di depannya ada ayunan, digantung di bubungan atap. Haha... ini pasti pap reminiscing ayunan di dekat dapur rumah Nanggulan yg dulu digantung sama bapak.
Gue dan Aria sangat betah ada di Selojene Padahal nggak ngapa2in... selain duduk2, leyeh2, golar goler.... Dengerin lagu yg suaranya nyatu sama cuitan burung di luar. Rasanya enak banget. Bahkan Aria pun nggak nyalain tv.
Aktivitas kami selama di situ: tiduran di kamar, keluar kamar pindah ke sofa, keluar dari rumah pindah ke meja makan di bawah pohon, geser ke kursi malas di teras, kalau mau jalan2 ke kebun, duduk di bangku menghadap sawah, ngelamun....inget2 patah hati... trus jalan lagi ke tepi sungai.... balik ke rumah lagi. Gitu aja terus diulangi dan nggak pernah bosen.
Sungguh rumah yg bisa saja egois, karena yg di dalam nggak perlu saling ngomong, sudah kelihatan... yet intimate. Semua terbuka, jujur, dan dekat... krn ruangannya kecil dan cuma itu2 saja. Yg masuk ke rumah itu pasti sudah diseleksi pakai cinta....
Sore2... pap masuk dapur, bikin kue. Sementara gue siapin buka puasa dan makan malam. Aria pindah ke ayunan. Nunggu makanan matang. Trus ketika sdh adzan, waktunya buka, dia tetep di ayunan krn itu posisi strategis bisa langsung ambil makanan hangat di meja dapur. Tinggal emplok....
Ya ampun... bahkan saat menulis ini pun masih terbayang rasa nyamannya ada di rumah itu. I had my me time. And it made me miss you more.
Thursday, August 15, 2019
This Is Me
I feel lonely. There is a big hollow in my heart. I still think of you hundred times a day. I wish you know, I wish you give me clue.
Takdir itu ada, hari esok itu ada.
Takdir itu ada, hari esok itu ada.
Wednesday, August 14, 2019
Missing... Who? What?
It has been a while since the last time we talked. And there are so many things I want to share with you. So many moments I want you to witness. But... where are you?
And then I learnt to let things go by, try to swallow everything, keep them all by myself. And amazingly, I can do that. I am indeed stronger than I thought. Everything went on very well.
Then one thing crossed my mind... do I really miss you?
Or I just miss the light conversations with you on my way to office? Your calls during the day? Your story of the kids? Your notes, here and there, asking about my whereabout? Your lunch reminders? Your smile when seeing me in my office lobby? Your gentle ways of driving me home? Your surprise flowers? Your hand holding mine? Our midnight chat about your dreams? Our ideas of future homes?
Basically those were merely things. And we know for sure: things disappeared eventually. So... why bother?
And then I learnt to let things go by, try to swallow everything, keep them all by myself. And amazingly, I can do that. I am indeed stronger than I thought. Everything went on very well.
Then one thing crossed my mind... do I really miss you?
Or I just miss the light conversations with you on my way to office? Your calls during the day? Your story of the kids? Your notes, here and there, asking about my whereabout? Your lunch reminders? Your smile when seeing me in my office lobby? Your gentle ways of driving me home? Your surprise flowers? Your hand holding mine? Our midnight chat about your dreams? Our ideas of future homes?
Basically those were merely things. And we know for sure: things disappeared eventually. So... why bother?
Tuesday, August 13, 2019
Be Happy
Ketika tahu mama akan naik haji... banyak sekali yang titip doa. Dari mulai doa sehat, doa rejeki yang beragam banget mulai dari sukses usaha sampai sukses bayi tabung... dan yg nggak kalah banyak adalah titipan doa supaya pernikahan langgeng.
Waktu dengar ada yg titip doa pernikahan langgeng, pap hanya komentar pendek, "Langgeng tapi nggak bahagia, buat apa?"
Baiklah mengaminkan saja doa2 yg dititip ke mama... hanya jadi pengen bahas soal bahagia dalam companionship.
Dulu itu, ketika keputusan gue untuk bercerai sdh "bisa diumumkan" ke keluarga... reaksi pertama sebagian besar anggota keluarga di sana... nyaris sama. Mereka menolak. Alasannya macam2. Dari mulai kecemasan soal finansial sampai soal nama baik. Herannya, jarang banget yg memikirkan masalah kebahagiaan gue yg menjalani pernikahan itu. Dan yg lebih hrs ditanya adalah ... tokoh satunya mau apa nggak menjalani terus?
Gini, gue ditinggal. Trus gue memaafkan, menerima kembali. Tapi tetep ditinggal. Dan nggak ada yg peduli apakah gue bahagia atau enggak, yg penting jangan cerai. Huehehehehe... tidak demikian ceritanya, Fulgoso! Kenapa ya nggak ada yg kepikiran hal happy itu (terutama dari keluarga sana). Seolah kebahagiaan gue nggak ada urusannya dalam pernikahan gue sendiri, nggak penting. Yg penting status, yg penting materi. Sepertinya ada keyakinan kalau bahagia akan datang sendiri setelah ada status istri dan dihujani materi. Hmm....
Dan pikiran itu pun sempat meracuni gue, dalam arti, gue "sempat tergoda" buat mencoba tetap berstatus istri yg terjamin kehidupan finansialnya. Hahaha.... Bayangin aja, pegawai kroco di kantor, tapi ke mana2 naik mercy seri tebaru yg supirnya pakai baju safari, dan pulang pergi dari rumah yg ukurannya seluas SD Inpres. But then I understood that happiness comes from inside my heart. Jadi semua atribut itu nggak penting banget. Sejujurnya... naik turun mercy itu malah bikin gue merasa spt perempuan simpanan pejabat hahahaha....
Ketika gue sadar soal bahagia yg harus diwujudkan, gue memutuskan pulang ke rumah nyokap, kembali ke kamar mungil gue. Mengganti kasur ukuran queen dengan kasur single plus satu boks bayi (krn kamarnya sempit banget) ternyata lebih membahagiakan. Pulang pergi kantor naik mikrolet juga nggak apa2... apalagi kalau hari2 gajian masih bisa kok bayar taksi. Oke2 aja. Mungkin krn gue paham apa pun yg gue pakai dan manfaatkan beneran punya gue tanpa embel2 apa pun, bukan pinjaman bukan pemberian yang akan membuat gue spt punya utang... gue merasa lebih tenang. Dan ketenangan itu bikin gue merasa lebih happy. Saat itulah gue yakin bahwa merasa bahagia sangat penting buat kesehatan jiwa. Dalam kondisi gue yg hamil saat itu, bahagia ini ternyata menjaga anak gue dari menyandang sindrom2 macam2.
Dari pengalaman finding happiness... kalau skrg ada teman yg cerita ttg nggak bahagia dalam pernikahan tp juga nggak bisa memutuskan untuk melangkah bertindak.... gue nggak habis pikir. Nggak harus selalu cerai lho ya. Kan bisa diurai dulu di sebelah mana yang nggak bahagia, lalu dicarilah cara supaya menemukan kembali bahagia. Ya mbok ngobrol sm pasangannya, curhat gitu... masak nggak didengerin.... Kalau sama pasangan udah nggak didengerin... pernikahannya pasti udah ga bener. Ya itu dulu yg dibenerin. Easier said than done? Ya memang siapa yg bilang menikah itu gampang?
Nah... patokan bahagia ini jugalah yg bikin gue hati2 kalau dekat sm seseorang. Seberapa besar pun keinginan gue menikah lagi, ketika kenal orang baru, gue akan sangat ngitung ini itu. Begitu ada satu hal aja yg "nyangkut" ... gue akan langsung back off dan berkontemplasi. Bukan nggak mau berusaha ya, hanya mencoba menakar sejauh mana gue bisa berkompromi. Beberapa kali sih batas komprominya memang tipis banget hahahaha... Apakah gue akan sebahagia ini kalau ada dia tiap hari? Dan... selama ini terbukti, kalau di awal ada tanda2 yg gue abaikan, pasti akhirnya ketahuan juga bahwa kami nggak compatible. Denial mmg bukan rumus yg tepat untuk semua hal... terutama urusan cinta2an ini.
Akhirnya, gue akan dan harus tetap mengedepankan kebahagiaan gue. Gue akan dan harus mendengar kata hati, mencermati jika ada yg tidak setuju, sepelan apa pun suaranya.
Waktu dengar ada yg titip doa pernikahan langgeng, pap hanya komentar pendek, "Langgeng tapi nggak bahagia, buat apa?"
Baiklah mengaminkan saja doa2 yg dititip ke mama... hanya jadi pengen bahas soal bahagia dalam companionship.
Dulu itu, ketika keputusan gue untuk bercerai sdh "bisa diumumkan" ke keluarga... reaksi pertama sebagian besar anggota keluarga di sana... nyaris sama. Mereka menolak. Alasannya macam2. Dari mulai kecemasan soal finansial sampai soal nama baik. Herannya, jarang banget yg memikirkan masalah kebahagiaan gue yg menjalani pernikahan itu. Dan yg lebih hrs ditanya adalah ... tokoh satunya mau apa nggak menjalani terus?
Gini, gue ditinggal. Trus gue memaafkan, menerima kembali. Tapi tetep ditinggal. Dan nggak ada yg peduli apakah gue bahagia atau enggak, yg penting jangan cerai. Huehehehehe... tidak demikian ceritanya, Fulgoso! Kenapa ya nggak ada yg kepikiran hal happy itu (terutama dari keluarga sana). Seolah kebahagiaan gue nggak ada urusannya dalam pernikahan gue sendiri, nggak penting. Yg penting status, yg penting materi. Sepertinya ada keyakinan kalau bahagia akan datang sendiri setelah ada status istri dan dihujani materi. Hmm....
Dan pikiran itu pun sempat meracuni gue, dalam arti, gue "sempat tergoda" buat mencoba tetap berstatus istri yg terjamin kehidupan finansialnya. Hahaha.... Bayangin aja, pegawai kroco di kantor, tapi ke mana2 naik mercy seri tebaru yg supirnya pakai baju safari, dan pulang pergi dari rumah yg ukurannya seluas SD Inpres. But then I understood that happiness comes from inside my heart. Jadi semua atribut itu nggak penting banget. Sejujurnya... naik turun mercy itu malah bikin gue merasa spt perempuan simpanan pejabat hahahaha....
Ketika gue sadar soal bahagia yg harus diwujudkan, gue memutuskan pulang ke rumah nyokap, kembali ke kamar mungil gue. Mengganti kasur ukuran queen dengan kasur single plus satu boks bayi (krn kamarnya sempit banget) ternyata lebih membahagiakan. Pulang pergi kantor naik mikrolet juga nggak apa2... apalagi kalau hari2 gajian masih bisa kok bayar taksi. Oke2 aja. Mungkin krn gue paham apa pun yg gue pakai dan manfaatkan beneran punya gue tanpa embel2 apa pun, bukan pinjaman bukan pemberian yang akan membuat gue spt punya utang... gue merasa lebih tenang. Dan ketenangan itu bikin gue merasa lebih happy. Saat itulah gue yakin bahwa merasa bahagia sangat penting buat kesehatan jiwa. Dalam kondisi gue yg hamil saat itu, bahagia ini ternyata menjaga anak gue dari menyandang sindrom2 macam2.
Dari pengalaman finding happiness... kalau skrg ada teman yg cerita ttg nggak bahagia dalam pernikahan tp juga nggak bisa memutuskan untuk melangkah bertindak.... gue nggak habis pikir. Nggak harus selalu cerai lho ya. Kan bisa diurai dulu di sebelah mana yang nggak bahagia, lalu dicarilah cara supaya menemukan kembali bahagia. Ya mbok ngobrol sm pasangannya, curhat gitu... masak nggak didengerin.... Kalau sama pasangan udah nggak didengerin... pernikahannya pasti udah ga bener. Ya itu dulu yg dibenerin. Easier said than done? Ya memang siapa yg bilang menikah itu gampang?
Nah... patokan bahagia ini jugalah yg bikin gue hati2 kalau dekat sm seseorang. Seberapa besar pun keinginan gue menikah lagi, ketika kenal orang baru, gue akan sangat ngitung ini itu. Begitu ada satu hal aja yg "nyangkut" ... gue akan langsung back off dan berkontemplasi. Bukan nggak mau berusaha ya, hanya mencoba menakar sejauh mana gue bisa berkompromi. Beberapa kali sih batas komprominya memang tipis banget hahahaha... Apakah gue akan sebahagia ini kalau ada dia tiap hari? Dan... selama ini terbukti, kalau di awal ada tanda2 yg gue abaikan, pasti akhirnya ketahuan juga bahwa kami nggak compatible. Denial mmg bukan rumus yg tepat untuk semua hal... terutama urusan cinta2an ini.
Akhirnya, gue akan dan harus tetap mengedepankan kebahagiaan gue. Gue akan dan harus mendengar kata hati, mencermati jika ada yg tidak setuju, sepelan apa pun suaranya.
Monday, August 12, 2019
Only Words
"I will never leave you."
"Love you. I did, I do, I will."
"I will stay, forever...."
And at the end of the day... none of those happen. At least not in my life. Yet.
"Love you. I did, I do, I will."
"I will stay, forever...."
And at the end of the day... none of those happen. At least not in my life. Yet.
Monday, August 05, 2019
How Romantic
Kemarin di Ndalem Prosotan ada mini reunion temen2 SMA. Ini sebenernya minggu ke-2 kumpul2... dari yg niat dateng segambreng... akhirnya yg muncul hanya berempat... hahaha... pdh sdh disiapin makanan banyak banget. Alhamdulillah deh kenyaaaangg... ahahaha....
Tp yg lucu adalah Aria kalau lagi ada teman2 ibu... selalu masuk hibernate mode.... mengurung diri. Entah di kamarnya atau di kamar gue.... Kadang2 aja nongol buat lihat2 ibunya sedang apa trus ganggu2 dikit.
Kemarin itu, pas gue lagi ke dapur... pas dia keluar dari kamar gue.
- Cari apa sih, Ibu, kok mondar-mandir....
+ Aku cari kecap.
- Nggak ada?
+ Tadi ada kok... sudah aku taruh di mangkok....
- Mana?
+ Nggak tahu... mana ya?
- Ini lho... ini lho....
Trus dia tiba2 deketin gue dan kecup pipi kanan kiri. "Nih, kecap... eh itu kecup ya.... "
Halaaaaahhh.... romantis bener, ibunya sampai speechless.... Beda tipis deh romantis sama gombal mukiyo... ini siapa yg ngajarin ya....
Tp yg lucu adalah Aria kalau lagi ada teman2 ibu... selalu masuk hibernate mode.... mengurung diri. Entah di kamarnya atau di kamar gue.... Kadang2 aja nongol buat lihat2 ibunya sedang apa trus ganggu2 dikit.
Kemarin itu, pas gue lagi ke dapur... pas dia keluar dari kamar gue.
- Cari apa sih, Ibu, kok mondar-mandir....
+ Aku cari kecap.
- Nggak ada?
+ Tadi ada kok... sudah aku taruh di mangkok....
- Mana?
+ Nggak tahu... mana ya?
- Ini lho... ini lho....
Trus dia tiba2 deketin gue dan kecup pipi kanan kiri. "Nih, kecap... eh itu kecup ya.... "
Halaaaaahhh.... romantis bener, ibunya sampai speechless.... Beda tipis deh romantis sama gombal mukiyo... ini siapa yg ngajarin ya....
Wednesday, July 24, 2019
The Job in My World
Karena hari ini eyang pergi haji (mohon doa supaya lancar yaaaa... aamiinn), gue ijin pulang lebih cepat. Dan ternyata nggak bisa antar sampai airport, hanya sampai meeting point dgn biro perjalanan di daerah Tangerang. Ya udah, hbs dadah2... pulang... jam 5 sdh duduk manis di rumah.
Meskipun sdh di rumah, ttp memenuhi janji sm tim yg di kantor utk segera gelar laptop dan nerusin kerja ini itu. Tentunya lbh gembira krn bisa sambil ngemil es krim dan ga usah pakai sepatu jinjit.
Yg sangat menyenangkan adalah reaksi Aria yg ttp sama, nggak berubah sejak dulu, kalau ibunya pulang lbh cepat. Dia tetap gembira. Seneng deh lihatnya hahaha.... Dan waktu makan malam bisa siapin proper dinner trus makan sambil ketawa2 di pantry sm anak semata wayang itu. Ngobrol macem2. Seru. This only reassures me that amongst all the title I obtained, being his mom is the one I am most proud of.
Monday, July 22, 2019
On (Financing Thingy of) Marriage Life
Beberapa teman secara langsung maupun tidak menceritakan ttg pola mereka berkeuangan setelah menikah. "Modal dasar" teman2 itu mirip: perempuan, bekerja, sukses dalam karier. Seru juga bisa mengintip cara mereka atur keuangan sbg pasangan.
Si A, menikah dengan laki2 yg secara finansial biasa saja. Menariknya, bbrp minggu sblm menikah, si laki2 ini khusus datang ke rumah si A, bawa kalkulator beras. Dia ajak si A utk buka2an secara finansial. Brp gaji dia, gaji si A. Kewajiban apa saja yg skrg sedang hrs dibayar. Lalu mengajak si A diskusi soal rencana keuangan setelah menikah. Siapa yg hrs ngapain. Berapa tabungan wajib. Asuransi apa saja yg hrs dipunya. Dll dll dll.... Ini terdengar sangat realistis dan menyenangkan. Krn rencana punya anak pun dibarengi dgn kegiatan investasi utk pendidikan dan proteksi kesehatan si anak. Keren ya. Dan si A pun mengakui, "Asli laki gue seksi banget waktu dia jabarin rencana finansial itu. Terasa bhw dia megang banget deh." Ahahaha....
Si B, menikah dgn laki2 penulis yg tadinya kerja di media tp lalu pindah jadi PR perusahaan multinasional. Si B ini gue kenal sbg perempuan yg ambisius dan selalu punya cara buat mewujudkan ambisinya. Berani mati aja deh. Merasa suami kerja di perusahaan besar, si B keluar dari kantornya. Alasan klise adalah mengurus anak (mereka lgs punya anak setahun stlh menikah) dan mau bisnis sendiri. Berani mati krn bidang bisnis yg dia geluti sdh banyak dikerjakan oleh sejuta umat. Kemarin ketemu sm si B dan keluar juga curhat soal suami yg ternyata sangat woles dalam karier jd spt pasrah aja kerjaan banyak dgn gaji kecil. Promosi dgn kenaikan gaji minim diterima gitu aja tanpa nawar. Hehe... gemes tp ya gimana? Mmg suaminya model gitu. Jadi akhirnya yg tadinya bisnis untuk iseng2 jadi harus untuk tulang punggung krn si B nggak mau juga menurunkan standard hidup. Tetep pengen liburan 2x setahun dan belanja barang branded. "Apa aja aku kerjain deh, mbak. Lha piye, ngenteni bojoku lak aku iso ora lunga2," katanya. Risikonya dia jadi tampak lelah luar biasa. Tp ya sudah, sepanjang dia menerima ya ga apa2 dong....
Si C, menikah krn terlanjur hamil dgn laki2 yg masih sekolah sambil kerja serabutan. Sempat menjadi backbone dlm keluarga kecil dan bertahun2 mereka berdua hrs ngontrak rumah dan ke mana2 naik angkutan umum. Kalau dengar ceritanya, sedih dan miris. Tp memang rejeki, suaminya pinter. Jadi begitu lulus bisa lgs berkarier bagus. Lalu memutuskan berbisnis, dan sukses. Keuangan mereka sempat morat-marit dalam 8 thn pertama pernikahan. Meski bergaji besar, selalu habis. Nggak bisa nabung. Masing2 mengurus sendiri gaji masing2. Lalu si C ini mulai mikir, mau sampai kapan awut2an? Akhirnya dia ambil kursus keuangan dan mengajukan diri sbg menteri keuangan keluarga. Suaminya setuju. Caranya? Dia bikin list semua kewajiban berdua. Lalu buka2an soal pendapatan. Dari mana dan berapa. Gaji berdua digabung, dikurangi semua kewajiban, dan disisihkan untuk investasi. Lalu masing2 diberi "uang saku" yg jumlahnya sama, untuk dihabiskan. Jd si C mau ke salon ya bisaaaa pakai uang itu... suami mau borong printilan sepeda ya silakaaan diambil dr uang itu. Dgn cara ini, lumayan bisa nabung. "Paling nggak masing2 anak sdh disediakan untuk sekolah sampai sarjana," kata si C. Ini keren.
Nah... gue jadi belajar juga sih dari mereka2 itu. Belajar utk punya metode investasi. Belajar utk ngatur duit... yg menurut gue susahnya minta ampun hahahaha.... Tp krn skrg masih kerja sendiri dan hasilnya boleh bebas dihabis2kan sendiri... ya... masih suka2 gue dong. Hahaha.... Nggak boleh ada yg komplen ttg cara gue habisin uang, yg penting Aria seneng. Ye kaaaannn.... Tp kemudian kepikiran... lucu juga ya kalau punya suatu tujuan keuangan dan bisa mencapainya bareng2. Bareng siapa? Embuh. Hayo siapa yg mau? Lah... jadi jualan....
Si A, menikah dengan laki2 yg secara finansial biasa saja. Menariknya, bbrp minggu sblm menikah, si laki2 ini khusus datang ke rumah si A, bawa kalkulator beras. Dia ajak si A utk buka2an secara finansial. Brp gaji dia, gaji si A. Kewajiban apa saja yg skrg sedang hrs dibayar. Lalu mengajak si A diskusi soal rencana keuangan setelah menikah. Siapa yg hrs ngapain. Berapa tabungan wajib. Asuransi apa saja yg hrs dipunya. Dll dll dll.... Ini terdengar sangat realistis dan menyenangkan. Krn rencana punya anak pun dibarengi dgn kegiatan investasi utk pendidikan dan proteksi kesehatan si anak. Keren ya. Dan si A pun mengakui, "Asli laki gue seksi banget waktu dia jabarin rencana finansial itu. Terasa bhw dia megang banget deh." Ahahaha....
Si B, menikah dgn laki2 penulis yg tadinya kerja di media tp lalu pindah jadi PR perusahaan multinasional. Si B ini gue kenal sbg perempuan yg ambisius dan selalu punya cara buat mewujudkan ambisinya. Berani mati aja deh. Merasa suami kerja di perusahaan besar, si B keluar dari kantornya. Alasan klise adalah mengurus anak (mereka lgs punya anak setahun stlh menikah) dan mau bisnis sendiri. Berani mati krn bidang bisnis yg dia geluti sdh banyak dikerjakan oleh sejuta umat. Kemarin ketemu sm si B dan keluar juga curhat soal suami yg ternyata sangat woles dalam karier jd spt pasrah aja kerjaan banyak dgn gaji kecil. Promosi dgn kenaikan gaji minim diterima gitu aja tanpa nawar. Hehe... gemes tp ya gimana? Mmg suaminya model gitu. Jadi akhirnya yg tadinya bisnis untuk iseng2 jadi harus untuk tulang punggung krn si B nggak mau juga menurunkan standard hidup. Tetep pengen liburan 2x setahun dan belanja barang branded. "Apa aja aku kerjain deh, mbak. Lha piye, ngenteni bojoku lak aku iso ora lunga2," katanya. Risikonya dia jadi tampak lelah luar biasa. Tp ya sudah, sepanjang dia menerima ya ga apa2 dong....
Si C, menikah krn terlanjur hamil dgn laki2 yg masih sekolah sambil kerja serabutan. Sempat menjadi backbone dlm keluarga kecil dan bertahun2 mereka berdua hrs ngontrak rumah dan ke mana2 naik angkutan umum. Kalau dengar ceritanya, sedih dan miris. Tp memang rejeki, suaminya pinter. Jadi begitu lulus bisa lgs berkarier bagus. Lalu memutuskan berbisnis, dan sukses. Keuangan mereka sempat morat-marit dalam 8 thn pertama pernikahan. Meski bergaji besar, selalu habis. Nggak bisa nabung. Masing2 mengurus sendiri gaji masing2. Lalu si C ini mulai mikir, mau sampai kapan awut2an? Akhirnya dia ambil kursus keuangan dan mengajukan diri sbg menteri keuangan keluarga. Suaminya setuju. Caranya? Dia bikin list semua kewajiban berdua. Lalu buka2an soal pendapatan. Dari mana dan berapa. Gaji berdua digabung, dikurangi semua kewajiban, dan disisihkan untuk investasi. Lalu masing2 diberi "uang saku" yg jumlahnya sama, untuk dihabiskan. Jd si C mau ke salon ya bisaaaa pakai uang itu... suami mau borong printilan sepeda ya silakaaan diambil dr uang itu. Dgn cara ini, lumayan bisa nabung. "Paling nggak masing2 anak sdh disediakan untuk sekolah sampai sarjana," kata si C. Ini keren.
Nah... gue jadi belajar juga sih dari mereka2 itu. Belajar utk punya metode investasi. Belajar utk ngatur duit... yg menurut gue susahnya minta ampun hahahaha.... Tp krn skrg masih kerja sendiri dan hasilnya boleh bebas dihabis2kan sendiri... ya... masih suka2 gue dong. Hahaha.... Nggak boleh ada yg komplen ttg cara gue habisin uang, yg penting Aria seneng. Ye kaaaannn.... Tp kemudian kepikiran... lucu juga ya kalau punya suatu tujuan keuangan dan bisa mencapainya bareng2. Bareng siapa? Embuh. Hayo siapa yg mau? Lah... jadi jualan....
Friday, July 19, 2019
On Parenting
Being parents, you need to be prepared. I warn you. You know why? I give you example. I was so surprised when my son, out of the blue asked me, “Mom, what if I am bisexual?”
He was 13 by then. In his early teenager life.
Oh yes, this is not his first surprising questions. As a boy who is growing up in modern world, he is exposed to so many things. So there was time, he was six, he already asked about the function of condom after he found one in my drawer. Can I explain? Sure, with shacking hands that I covered very well.
I remembered I answered by explaining that condom is only for a man. “I am a man,” he said. “I mean, for adult,” was my closure. He seemed a bit confuse, but he didn’t ask anything further.
That is the moment I assure myself to be well prepared about any “cute” questions he may ask along the way. And as his parent, I have to have a ready weapon in hand, whether I am ready or not to answer. So I read all the things regarding boys, kids, teenagers. Anything they might be interesting in suddenly matters to me.
Why do I feel I need to be prepared? Not only because I want him to get the best answer, but also because I need him to know that even I am his parent, I can be his best friend too. Best friend he can count on, to whom he can go to seek any answer for any question, or later for any problem he may encounter. I may not always give him best solution, but I need him to know that I will always be there.
So when he came up with his bisexual question, I thought I was ready with my answer. I read somewhere about the key to discuss sexual orientation, in a religious newsletter. But then something crossed my mind, will it be okay if I use that answer? The explanation I read was merely about growing up, the pain any kids need to go through, the “right way” to be a girl or a boy, and something like that. Things which base on common belief that pink is the color for girl while blue is only suitable for boy. Will that be okay for my son? I think I need to find the right word. Not only because I want him to understand about the sexual orientation well, but also because I do not want him to feel rejected, if, only if he is indeed bisexual like he said he is.
And right there and then, I suddenly realized that to be prepared being a parent did not only mean you have to be ready with things related to house you can call a home, the meal, the tuition, and health insurance for your kids. As a matter of fact, become a parent, you have to be prepared to accept your children as they are. And still love them as they truly are.
(This is the piece I wrote for my smart living writing class today)
Tuesday, July 16, 2019
Can You Imagine?
Coba khayalkan sejenak
Sepuluh tahun nanti
Hidupmu
Coba bayangkan sejenak
Misalkan ada aku
Yang menemani
Hari demi hari yang tak terhitung
Misalkan itu aku yang terakhir untukmu
Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku
Di aku
Dan kamu
Pastikan kau melihat aku
Saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi
Misalkan semua terjadi
Meski belum terjadi
Sekarang kita renungkan sejenak
Cara agar semua bisa terjadi
Walau kutahu tak semudah itu
Tapi coba sekali lagi bayangkan aku
(Himalaya - Maliq and d'Essentials)
Sepuluh tahun nanti
Hidupmu
Coba bayangkan sejenak
Misalkan ada aku
Yang menemani
Hari demi hari yang tak terhitung
Misalkan itu aku yang terakhir untukmu
Untuk itu kan kupersembahkan Himalaya
Bahkan akan aku taklukkan
Tanpa cahaya di kegelapan
Berbalutkan pelita hatimu
Di aku
Di aku
Dan kamu
Pastikan kau melihat aku
Saat kugapai puncak tertinggi
Bersama tujuh warna pelangi
Misalkan semua terjadi
Meski belum terjadi
Sekarang kita renungkan sejenak
Cara agar semua bisa terjadi
Walau kutahu tak semudah itu
Tapi coba sekali lagi bayangkan aku
(Himalaya - Maliq and d'Essentials)
Wednesday, July 10, 2019
Big Bear Hug
Pagi ini membaca cerita seorang teman yg punya sertifikat pedagogi utk anak2 istimewa, tentang salah satu muridnya, kasih nama Adinda ya.
Adinda umurnya 10 tahun. Berkebutuhan khusus. Nggak tahu judulnya apa, nggak berani tanya juga sih... yg jelas punya kesulitan berkomunikasi. Tapi karena sdh dipegang sm teman gue sejak kecil sekali, Adinda ini skrg mahir berkuda, bisa menyapu, gesit kalau berenang, dan sudah bisa makan sendiri. Hm... baru sadar gue cukup lama mendengar soal Adinda ini. Jadi seperti mengikuti dia belajar makan nasi dan roti (sampai umur 9, semua makanan masih diblender dan harus disuapin).
Dari kisah Adinda juga, gue jadi belajar bersyukur bahwa Aria itu anak yang normal dan tumbuh spt seharusnya menjadi seorang anak yg sehat dan gembira. Alhamdulillah.
Bayangin bhw ada anak yg nggak bisa ngomong ke ibunya bahwa dia lapar, atau haus, atau mau duduk saja nggak mau apa2... sedih bener....
Dan semalam... Adinda ini tantrum. Tnyt sdh bbrp hari dia ribut dan kisruh di rumah. Nggak tahu mau apa... semua barang diberantakin. Majalah disobekin. Mainan dituang di mana2. Acak2 sana sini sampai ibunya lelah benah2. Belum berhenti juga... ke taman... petik bunga, cabut rumput.... Namanya ibu, biasanya punya insting yg nggak bisa ditipu. Dan mengikuti kata hati, ibunya Adinda cuti kerja. Nemenin anaknya. Sesuai ajaran coach, kalau acak2 barang... harus dihukum. Adinda bbrp kali kena time out. Tp lalu hbs itu dielus, dipeluk, diajak ngobrol pelan2. Meskipun nggak bisa jawab... Adinda jadi tenang. Dan, setelahnya mereka berpelukan berdua. Ke mana2 pelukan aja terus.
Si ibu langsung kirim pesan ke coach, "Ternyata Adinda itu rusuh krn kangen saya.... "
Ya Allah... gue langsung pengen peluk2 anak gue....
Adinda umurnya 10 tahun. Berkebutuhan khusus. Nggak tahu judulnya apa, nggak berani tanya juga sih... yg jelas punya kesulitan berkomunikasi. Tapi karena sdh dipegang sm teman gue sejak kecil sekali, Adinda ini skrg mahir berkuda, bisa menyapu, gesit kalau berenang, dan sudah bisa makan sendiri. Hm... baru sadar gue cukup lama mendengar soal Adinda ini. Jadi seperti mengikuti dia belajar makan nasi dan roti (sampai umur 9, semua makanan masih diblender dan harus disuapin).
Dari kisah Adinda juga, gue jadi belajar bersyukur bahwa Aria itu anak yang normal dan tumbuh spt seharusnya menjadi seorang anak yg sehat dan gembira. Alhamdulillah.
Bayangin bhw ada anak yg nggak bisa ngomong ke ibunya bahwa dia lapar, atau haus, atau mau duduk saja nggak mau apa2... sedih bener....
Dan semalam... Adinda ini tantrum. Tnyt sdh bbrp hari dia ribut dan kisruh di rumah. Nggak tahu mau apa... semua barang diberantakin. Majalah disobekin. Mainan dituang di mana2. Acak2 sana sini sampai ibunya lelah benah2. Belum berhenti juga... ke taman... petik bunga, cabut rumput.... Namanya ibu, biasanya punya insting yg nggak bisa ditipu. Dan mengikuti kata hati, ibunya Adinda cuti kerja. Nemenin anaknya. Sesuai ajaran coach, kalau acak2 barang... harus dihukum. Adinda bbrp kali kena time out. Tp lalu hbs itu dielus, dipeluk, diajak ngobrol pelan2. Meskipun nggak bisa jawab... Adinda jadi tenang. Dan, setelahnya mereka berpelukan berdua. Ke mana2 pelukan aja terus.
Si ibu langsung kirim pesan ke coach, "Ternyata Adinda itu rusuh krn kangen saya.... "
Ya Allah... gue langsung pengen peluk2 anak gue....
Thursday, July 04, 2019
Tentang Rumput Tetangga
Semalam ada percakapan menarik antara gue dan adik ipar… yg sampai skrg masih satu2nya hahahaha… OOT….
Jadi si adik ini bekerja untuk orang yg gue kenal baik. Hmm… namanya Susi aja ya. Dan gue kenal Susi sudah lama… jd gue lumayan paham kondisi dia, bahkan kenal personal dgn anggota keluarganya, yg ya nggak banyak sih, hanya dia, suami, dan anak.
Gue kenal anaknya, anggap namanya Citra, anak tunggal, perempuan, sejak anak itu SD. Masih kecil sekali. Spt juga gue dan Aria, Citra sering diajak ibunya ke tempat kerja, atau menyelesaikan pekerjaan. Dan kebetulan ibunya banyak berhubungan dengan seni, klop sama minat Citra. Gue ga terlalu heran waktu Citra lalu masuk kelas menggambar. Lalu suatu saat gue lihat dia menggambar manga yang bagus banget. Bahwa akhirnya dia masuk sekolah seni rupa terbaik di Indonesia, gue merasa sudah seperti seharusnya begitu.
Sementara Susi juga semakin bersinar… masuk dunia politik dan berpendar luar biasa di sana. Gue pernah diajak utk bergabung dgn tim Susi. Baru coba2 aja rasanya gue ga tertarik. Pernah ikut sampai ketemu bapak (waktu itu) capres. Nunggu dari jam 8 malam, baru bisa jumpa jam 12. Dan waktu ketemu itu kok menurut gue cuma ngomong utara selatan nggak ada tujuan hidup. Hmm… apa krn gue sdh terlanjur ngantuk? Intinya, gue nggak tertarik dgn kondisi itu. Jadwal kerja kok nggak jelas. Ya mungkin duitnya banyak… it is just not for me.
Kemarin bahasan masuk ke kondisi finansial Susi yang semakin membaik sejak terlibat dalam politik. Lalu krn Jokowi menang lagi, Susi pun “menang” lagi.
“Wis mulyo, Mercy ganti anyar… byar…,” kata adik ipar gue.
Weleh… sementara gue ganti si kentang dgn yg mudaan aja seneng bukan main, gimana rasanya ganti Mercy?
Tapiiiii… lalu terbukalah cerita lbh lengkap… .
Jadi bbrp tahun terakhir, Susi bekerja keras atau dituntut bekerja lebih keras, yg ternyata berimbas pd anaknya. Mendampingi remaja tumbuh dewasa memang nggak mudah. Dan dgn kesibukan yg segudang, semakin sulit lagi bagi Susi utk pegang anaknya.
Lalu anak ini pacaran dgn orang asing. Dan pergi ke negara pacarnya. Aman? Sampai sini tampaknya ya.
Masalah baru ada ketika Citra putus dari pacarnya. Dia patah hati. Berkepanjangan. Sampai nyaris depresi.
Dan… Citra minggat.
Susi tentu panik. Mau cari ke mana? Trus mau nyari juga gimana caranya, sementara klien sedang rusuh2nya. Suami berusaha juga. Maksimal. Mengerahkan semua sumber daya yg dipunya. Kisruh. Rusuh.
Alhamdulillah akhirnya ketemu, setelah bbrp lama. Dan skrg Citra hrs rutin konsultasi ke psikiater untuk menenangkan jiwanya.
Kalau denger yg begini… gue akan settle dgn apa pun yg gue punya skrg. Anak sehat selamat. Nggak usahlah pakai Mercy kalau hrs melewati acara anak hilang segala macam. Cukup. Sampun. Matur nuwun Gusti Allah. How it is true that most of the time we only see something just as we see an iceberg. We see only the beauty of it afloat, while what we don’t see beneath is something bigger and –might be- crazier and dangerous.
Maybe the grass in greener in other's house, but trust me, we do not know how much the owner of that house spent for the grass. And it might be too expensive.
Tuesday, June 11, 2019
High Heels
Have you tried wearing a high heels? It is a lot of fun, I tell you....
Pakai sepatu tinggi itu sangat menantang. Seru. Harus jaga keseimbangan, dan perlu banyak latihan biar nggak nyungsep. Beneran ga bohong. Tapi lihat kan efeknya? Kalau pakai high heels itu, kaki jadi jenjang, seksi, menawan. Ayune ciamik tenan. Pakai sepatu flat memang lebih nyaman. Bisa buat lari-lari. Tapi... kurang ayuuuu... percaya deh. Kadang boleh aja sih nggak peduli sm ayu nggak ayu yg penting sigap cas cuuusss dan ga pegel setelahnya.
Rasanya hidup juga begitu deh. Kalau lebih menantang, akan lebih seru. Yang seru ini biasanya akan berhasil lbh memuaskan. Paling nggak, ada kepuasan bisa melewati tantangan. Ya kan?
Jadi, untuk yang sedang galau, sedang rusuh, sedang sakit... sabar ya. Banyak berdoa, dan terus berusaha. Jangan terlalu khawatir, pasrahkan pada Tuhan. Tidak ada yg abadi di dunia ini. Galau itu, rusuh itu, sakit itu juga tidak akan selamanya. It is going to be over eventually.
Good luck!
Pakai sepatu tinggi itu sangat menantang. Seru. Harus jaga keseimbangan, dan perlu banyak latihan biar nggak nyungsep. Beneran ga bohong. Tapi lihat kan efeknya? Kalau pakai high heels itu, kaki jadi jenjang, seksi, menawan. Ayune ciamik tenan. Pakai sepatu flat memang lebih nyaman. Bisa buat lari-lari. Tapi... kurang ayuuuu... percaya deh. Kadang boleh aja sih nggak peduli sm ayu nggak ayu yg penting sigap cas cuuusss dan ga pegel setelahnya.
Rasanya hidup juga begitu deh. Kalau lebih menantang, akan lebih seru. Yang seru ini biasanya akan berhasil lbh memuaskan. Paling nggak, ada kepuasan bisa melewati tantangan. Ya kan?
Jadi, untuk yang sedang galau, sedang rusuh, sedang sakit... sabar ya. Banyak berdoa, dan terus berusaha. Jangan terlalu khawatir, pasrahkan pada Tuhan. Tidak ada yg abadi di dunia ini. Galau itu, rusuh itu, sakit itu juga tidak akan selamanya. It is going to be over eventually.
Good luck!
Tuesday, June 04, 2019
Sunday, June 02, 2019
Stories
I miss to tell you about all of my daily activities. How the traffic was so bearable, even Bekasi-BSD can be done by 45 minutes only. Or about my mom who was cleaning up the house and became everyone's enemy since she tend to throw away anything she dislike. Hmm... first, she dislike something didn't always mean the thing was bad or ugly... and 2nd... it is not her own house, right? So, with a lot of Lebaran hampers coming to the house lately, things has been going funny with her.
I miss to tell you about my son's final grade which was not as bad as he presumes. Some of the scores were so amazing, he even surprise himself. And we celebrated it at the Sushi Matsu, his favourite place.
I miss to greet you good morning, and receiving those eye-openers video links from the kajian you attended at the masjid. And you would tell me what you did the whole day when you stay there. Was it still packs? Was the food good? Where did you sleep?
I miss to see your face in my office lobby. Surprising me in one pretty afternoon, saying you just stopped by but then you ended up driving me home.
The bottom line is: I miss you.
I miss to tell you about my son's final grade which was not as bad as he presumes. Some of the scores were so amazing, he even surprise himself. And we celebrated it at the Sushi Matsu, his favourite place.
I miss to greet you good morning, and receiving those eye-openers video links from the kajian you attended at the masjid. And you would tell me what you did the whole day when you stay there. Was it still packs? Was the food good? Where did you sleep?
I miss to see your face in my office lobby. Surprising me in one pretty afternoon, saying you just stopped by but then you ended up driving me home.
The bottom line is: I miss you.
Wednesday, May 29, 2019
Belated Birthday Gift
Should I still send it to you? Or better give it to anyone who may also enjoy similar stuff?
Tuesday, May 28, 2019
Are They All The Same?
Bbrp hari yg lalu, ada seorang istri ke rumah. Nyari suaminya. Suaminya pamit kerja di Playhouse. Pdh itu hari libur. Ngakunya lembur. Lemburin apa? Wong nggak ada apa2... serumah Playhouse malah semua tidur. Si istri, dgn mata sembab dan nggak nyaman, cuma bilang, "Ya udah Bu. Ibu jangan bilang ya, kalau saya ke sini."
Sebuah pesan yg sederhana, nggak susah buat dikerjakan. Tp kok nyesek bener. Ini pasti ada hubungannya sama laki-laki mata keranjang.
Langsung lapor pak boss. Yg lalu setelah mencerna dan mengeja, ingat sesuatu soal percakapan dalam perjalanan, yg diyakini bukan dilakukan laki-laki itu ke istrinya. Oalah. Jadi laki-laki itu selingkuh? "Mungkin enggak. Atau belum. Krn kesempatannya nggak ada sih," jawabnya.
Apa pun itu... kenapa laki-laki mudah (tergoda) cari selingan? Nggak perlu kaya, nggak perlu ganteng... begitu ada kesempatan... cuss.... Njaluk disampluk sandal.
Dan mau nggak mau, percakapan soal selingkuh ini membawa ingatan ke momen sekian belas tahun silam. Ketika satu perselingkuhan terkuak, dan gue memilih untuk nggak terlibat di dalamnya. Meskipun gue lebih berhak, secara hukum negara maupun hukum agama. I resigned.
Trus ingat ada pakde yg ketahuan menikah lagi ketika dia meninggal. Krn istri berikutnya (dan anak2) hadir di pemakaman. Astaga. Sementara anak2 sdh besar. Dan harus apa coba kalau begitu? Warisan kok bentuknya keluarga lain....
Juga ingat seseorang, teman keluarga, yg terlihat baik2 saja, tp ternyata menyimpan rahasia. "He built another house for her, a nice one, somewhere in Bekasi," kata informan yg layak dipercaya tentang istri kedua. Oh My God.
Semua hal soal selingkuh ini masih terbayang di ingatan. Kok ya tadi pagi ditelpon sama orang yang mengaku sebagai istri seseorang. Nada tinggi. Suara emosi. Marah.
"Dia sudah beristri. Punya dua anak yg sudah besar. Dan sudah kawin lagi 2 kali. Kamu yg kesekian."
"Marahnya jangan sama saya, salah alamat. Tanya suamimu saja."
Gue tutup telepon. Rasanya nggak tahu harus apa dan ngapain. Rasanya pengen ngrawus laki-lakinya. Tp lalu seperti biasa, sadar bahwa gue jg mungkin ada andil salah. Meskipun tetap kembali ke pertanyaan, "Kenapa laki-laki mudah berselingkuh?"
Sungguh sebuah cara aneh mengawali hari.
Sebuah pesan yg sederhana, nggak susah buat dikerjakan. Tp kok nyesek bener. Ini pasti ada hubungannya sama laki-laki mata keranjang.
Langsung lapor pak boss. Yg lalu setelah mencerna dan mengeja, ingat sesuatu soal percakapan dalam perjalanan, yg diyakini bukan dilakukan laki-laki itu ke istrinya. Oalah. Jadi laki-laki itu selingkuh? "Mungkin enggak. Atau belum. Krn kesempatannya nggak ada sih," jawabnya.
Apa pun itu... kenapa laki-laki mudah (tergoda) cari selingan? Nggak perlu kaya, nggak perlu ganteng... begitu ada kesempatan... cuss.... Njaluk disampluk sandal.
Dan mau nggak mau, percakapan soal selingkuh ini membawa ingatan ke momen sekian belas tahun silam. Ketika satu perselingkuhan terkuak, dan gue memilih untuk nggak terlibat di dalamnya. Meskipun gue lebih berhak, secara hukum negara maupun hukum agama. I resigned.
Trus ingat ada pakde yg ketahuan menikah lagi ketika dia meninggal. Krn istri berikutnya (dan anak2) hadir di pemakaman. Astaga. Sementara anak2 sdh besar. Dan harus apa coba kalau begitu? Warisan kok bentuknya keluarga lain....
Juga ingat seseorang, teman keluarga, yg terlihat baik2 saja, tp ternyata menyimpan rahasia. "He built another house for her, a nice one, somewhere in Bekasi," kata informan yg layak dipercaya tentang istri kedua. Oh My God.
Semua hal soal selingkuh ini masih terbayang di ingatan. Kok ya tadi pagi ditelpon sama orang yang mengaku sebagai istri seseorang. Nada tinggi. Suara emosi. Marah.
"Dia sudah beristri. Punya dua anak yg sudah besar. Dan sudah kawin lagi 2 kali. Kamu yg kesekian."
"Marahnya jangan sama saya, salah alamat. Tanya suamimu saja."
Gue tutup telepon. Rasanya nggak tahu harus apa dan ngapain. Rasanya pengen ngrawus laki-lakinya. Tp lalu seperti biasa, sadar bahwa gue jg mungkin ada andil salah. Meskipun tetap kembali ke pertanyaan, "Kenapa laki-laki mudah berselingkuh?"
Sungguh sebuah cara aneh mengawali hari.
Wednesday, May 15, 2019
Draft 4
Bagaimana aku bisa lupa?
Tante Emmy seperti tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupku. Dia hadir, lalu tinggal di hari-hariku. Begitu saja. Sepertinya selamanya. Sejak ada dia, rumah ini semakin ramai. Tidak seperti biasanya yang sepi sunyi karena hanya ada aku dan ayah.
"Halo, saya Emmy. Kamu pasti Idam, kan? Ayahmu sudah cerita banyak sekali tentang kamu."
Mataku justru terpaku ke anting besar yang menggantung di telinganya. Besar, berbentuk melingkar. Mengingatkanku pada gelang raksasa yang dipergunakan di pertunjukan ketangkasan lumba-lumba.
Aku tidak akan lupa, tante Emmy menarik sekali di mataku saat itu. Rambutnya pedek, sesuai dengan gayanya yang sigap. Ia mengenakan gaun terusan warna gelap sepanjang mata kaki, menyembunyikan kaki berbalut sneaker yang memberinya tampilan sportif. Dia tampak cantik, sekaligus kokoh di saat bersamaan. Suatu penampilan yang mencuri hatiku. Seluruhnya.
Tante Emmy seperti tiba-tiba saja masuk ke dalam hidupku. Dia hadir, lalu tinggal di hari-hariku. Begitu saja. Sepertinya selamanya. Sejak ada dia, rumah ini semakin ramai. Tidak seperti biasanya yang sepi sunyi karena hanya ada aku dan ayah.
"Halo, saya Emmy. Kamu pasti Idam, kan? Ayahmu sudah cerita banyak sekali tentang kamu."
Mataku justru terpaku ke anting besar yang menggantung di telinganya. Besar, berbentuk melingkar. Mengingatkanku pada gelang raksasa yang dipergunakan di pertunjukan ketangkasan lumba-lumba.
Aku tidak akan lupa, tante Emmy menarik sekali di mataku saat itu. Rambutnya pedek, sesuai dengan gayanya yang sigap. Ia mengenakan gaun terusan warna gelap sepanjang mata kaki, menyembunyikan kaki berbalut sneaker yang memberinya tampilan sportif. Dia tampak cantik, sekaligus kokoh di saat bersamaan. Suatu penampilan yang mencuri hatiku. Seluruhnya.
Friday, April 26, 2019
An Uneasy Day
Ada hari2 yg tidak nyaman, dan mungkin hari ini salah satunya.
Tadi pagi harus berbesar hati memutuskan untuk mengakhiri kegembiraan2 yg biasanya didapat hanya dgn mengangkat telepon atau chat lewat wa. Ya memang sdh seharusnya diselesaikan secara sadar. Karena selama ini yg dilakukan tidak benar.
Sungguh, hari menjadi sangat tidak nyaman.
Tapi mungkin hidup memang harus begitu. Ada saatnya nyaman, ada saatnya resah. Gembira bergantian datang dengan duka. Kadang banyak suka cita, lalu ada bumbu sedih lara. Namanya bumbu... secukupnya saja. Supaya sedap.
Rasanya, hidup memang sudah semestinya demikian.
Jadi kalau ada suara sedot2 ingus dari pojokan, itu gue. Mohon maaf.
Tadi pagi harus berbesar hati memutuskan untuk mengakhiri kegembiraan2 yg biasanya didapat hanya dgn mengangkat telepon atau chat lewat wa. Ya memang sdh seharusnya diselesaikan secara sadar. Karena selama ini yg dilakukan tidak benar.
Sungguh, hari menjadi sangat tidak nyaman.
Tapi mungkin hidup memang harus begitu. Ada saatnya nyaman, ada saatnya resah. Gembira bergantian datang dengan duka. Kadang banyak suka cita, lalu ada bumbu sedih lara. Namanya bumbu... secukupnya saja. Supaya sedap.
Rasanya, hidup memang sudah semestinya demikian.
Jadi kalau ada suara sedot2 ingus dari pojokan, itu gue. Mohon maaf.
Tuesday, April 02, 2019
Monday, March 25, 2019
Incoming Complaint
"I need to do a lot of thing once I come home. Of course I need to fix many things for my sons. But first I have to renew my passport, driving license, my Jakarta ID... oh and yes I want to renew my life with you."
"...."
"Did you still pretend not to hear anything about that?"
"...."
"Did you still pretend not to hear anything about that?"
Wednesday, March 13, 2019
Tuesday, March 12, 2019
Which One?
Maukah lagi kau mengulang ragu
Dan sendu yang lama
Dia yang dulu pernah bersamamu
Memahat kecewa
Atau kau inginkan yang baru
Sungguh menyayangimu
Aku ingin dirimu
Yang menjadi milikku
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Separuh jalan pernah dilewati
Meski ada kecewa
Aku yang dulu tak begitu lagi
Takkan 'ku ulangi
Jangan dulu engkau berpaling
Beriku kesempatan
Aku ingin dirimu
Tetap jadi milikku
Bersamaku mulai hari baru
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Lupakan dia pergi denganku
Lupakanlah ragu denganku
Ooooo... Aku...
Aku ingin dirimu (Aku ingin dirimu) Yang menjadi milikku....
Layak untuk cantikmu, itu aku....
(Adu Rayu)
Dan sendu yang lama
Dia yang dulu pernah bersamamu
Memahat kecewa
Atau kau inginkan yang baru
Sungguh menyayangimu
Aku ingin dirimu
Yang menjadi milikku
Bersamaku mulai hari ini
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Separuh jalan pernah dilewati
Meski ada kecewa
Aku yang dulu tak begitu lagi
Takkan 'ku ulangi
Jangan dulu engkau berpaling
Beriku kesempatan
Aku ingin dirimu
Tetap jadi milikku
Bersamaku mulai hari baru
Hilang ruang untuk cinta yang lain
Lupakan dia pergi denganku
Lupakanlah ragu denganku
Ooooo... Aku...
Aku ingin dirimu (Aku ingin dirimu) Yang menjadi milikku....
Layak untuk cantikmu, itu aku....
(Adu Rayu)
Tuesday, February 19, 2019
Always Look at The Bright Side!
Ketika kecil dulu, adakah di antara ibu-ibu yang mengkhayalkan pesta pernikahan? Maksud saya, berangan mau menikah pakai baju apa? Lalu mahkotanya seperti apa.... *tunjukjari*
Angan-angan ini makin luar biasa ketika saya berkesempatan kerja di majalah gaya hidup, yang menerbitkan edisi khusus pernikahan. Setiap tahun, mempersiapkan edisi khusus ini sangat menyenangkan sekaligus bikin deg-degan. Trend kartu undangan terbaru, dekorasi terbaru, potongan gaun pengantin, karangan bunga, souvenir ucapan terima kasih... lengkap dibahas dan diulas. Karena majalahnya cukup beken, banyak desainer khusus membuatkan untuk difoto di edisi ini. Duuuuhhh seruuuu....
Seringkali yang keluar adalah ide personal, alias ambisi pribadi.... Itulah yang bikin deg-degan, karena serasa saya yang mau kawin hahahaha....
"Saya mau undangan yang kayak gini, mas.... Dikemas di kotak, terus selain undangan, kotaknya diisi bungkusan-bungkusan kecil permen, kacang, potpourri, dan printilan-printilan gitu ya...."
"Mbak, boleh nggak dekorasinya ada kandang burung? Dalamnya ya bunga saja."
"Hantaran bikin yang beda dong... misalnya satu set peralatan lukis... atau satu set alat-alat menyulam."
"Boleh ya, live music saja, atau acapella...."
Semua redaksi biasanya khayal babu... . hahahaha....
Dan... seringkali semua diwujudkan lho, oleh para desainer itu. Dan kami foto. Diulas lengkap. Tampil di majalah. Lalu jadi trend. Seru kan.
Saat itulah khayalan saya soal pernikahan makin membabi buta sekaligus makin spesifik. Mau pakai baju Obin. Mau di poolside. Mau bunga Amarylis. Iringannya lagu keroncong. Intinya chic simple manis.
Ternyata oh ternyata ... ketika pernikahan itu betul jadi nyata, impian saya terpaksa saya pinggirkan. Alasan utama karena nggak mau ribut dengan (calon) ibu mertua yang semangat sekali mengurus pernikahan putra satu-satunya.
"Baju Obin? Aduh mbak... nanti pengantinnya kalah mewah lho, dibanding para tetamu...," adalah kalimat yang membuat saya memutuskan tutup mulut dan nrimo saja.... Enak juga, sih, nggak pusing. Semua sudah diatur dan disiapkan dengan seksama. Saya nggak ikut hiruk pikuk sama sekali. Dan kemudian memang yang terjadi adalah pesta-kayak-gitu-deh ala Jawa yang megah gebyar berwarna keemasan dengan rombongan pemain gamelan dan sinden ternama yang didatangkan khusus dari Yogyakarta. Semoga menyenangkan orangtua berpahala... saya ucapkan selamat tinggal pada gaya chic simple idaman!
Namun jalan kehidupan membawa banyak hal. Khayalan polos saya di masa lalu soal pernikahan hanyalah sekadar bungkus. Saya tidak mengkhayalkan cara menjalaninya, tidak memikirkan cara menjaganya, juga tidak memperhitungkan segala kerikil sandungan dan hantaman ombak yang mungkin datang. Jadi, ketika akhirnya terhantam badai, runtuhlah semuanya. Pernikahan itu terpaksa diakhiri.
Sedih? Tentu. Saat itu. Dan beberapa saat setelahnya juga sih....
Tapi, hidup jalan terus. Kini, setelah hampir 12 tahun bercerai, sedih sudah hilang. I am moving on. Termasuk punya pacar lalu putus, pacaran lagi lalu putus lagi. Hahahaha.... Ya nasib, ya nasib.
Tapi... sekarang ini lucunya, khayalan saya soal pernikahan idaman kok muncul lagi! Hahahaha.... Tentunya menjadi lebih dewasa, dalam arti nggak cuma sekadar mikirin bungkus. Pengalaman mengajarkan untuk mempertimbangkan segala aral melintang yang mungkin hadir dalam pernikahan. Apakah memang saya siap, juga anak saya. Dengan kondisi sudah memiliki anak dan aset, mulai cari info soal prenuptial agreement untuk melindungi hak anak saya. Kenyamanan hidup sendiri (mau pulang selarut apa atau bangun sesiang apa nggak ada yang urus), tentu harus dikompromikan jika menikah lagi. Apakah saya siap? Lalu, karena sudah pernah punya pengalaman dengan infidelity, sekarang jadi lebih kritis sama pacar....
Tapi... selain itu, tetap lho saya pengen menikah pakai baju Obin, tetep pengen karangan bunga Amarylis, tetep berkhayal soal lokasi di poolside, dengan iringan lagu keroncong.... Ah... Tuhan Maha Baik. Pernikahan pertama saya tidak langgeng, karena Dia akan beri saya kesempatan untuk menikah lagi. Marilah lihat sisi baiknya: saya tentu bisa menikah lagi dengan gaya chic simple idaman. Alhamdulillah....
Hhhmmm... Tuhan, calon suami saya dong segera didatangkan.... Aamiiin.
*Ditulis untuk komunitas Single Mom Indonesia pada 2016
Tuesday, February 12, 2019
What Matters The Most
...
Lebih baik kita usai di sini
Sebelum cerita indah tergantikan pahitnya sakit hati
Bukannya aku mudah menyerah, tapi bijaksana
Mengerti kapan harus berhenti
Ku kan menunggu, tapi tak selamanya
...
Saturday, February 09, 2019
Will You?
Somehow I miss to have somebody holding my hand the whole night, when I am sleeping. So I know I am loved. That much.
Friday, February 08, 2019
What If....
So... my son is facing a crucial phase on his life at the moment. Or so I thought.... And when it comes to my son... not in a good circumstances... I cannot help but to blame myself. How can I let that happen?
Kemarin2 ini pikiran rasanya penuh banget. Selain pekerjaan yg memang sedang lucu2nya (plus laptop ngadat. Lalu file yg hilang di komputer backup....), ada sesuatu yg menghantui. Gue nggak tahu apa... dan sambil menjalani hari, berusaha mencari jawaban atas sosok hantu itu.
Semalam lagi seru2nya di kantor, tiba2 ingat kalau sudah janji mau jemput Aria di tempat les. Les selesai 20.30, gue sadar jam 19.25. Gue baru berangkat dr parkiran kantor jam 19.45 Ok... unless I am the flash... there is no way I can drive through Jakarta traffic... straight to BSD... in less than 1 hour. So, it will be impossible to pick him up on time. Pikiran sehat mengutus Wahid the gardener untuk jemput anak gue. Apa boleh buat.... Akhirnya si pangeran negosiasi bhw ibu gapapa batal jemput asal pulangnya bawain mentaiko salmon dr Aeon. Oh... okay... as you wish, my love.
Setelah selesai beli titipan, on the way home... spt biasa di dalam si kentang suka cari inspirasi. Mikir2... gimana cara benerin ini itu... sampai tiba pada pikiran soal masalah anak gue. Hmm... tiba2 gue sadar kesalahan terbesar gue adalah membiarkan Aria bertumbuh dgn sendirinya. Okay, gue ada di sebelahnya. Secara fisik atau secara apa pun deh... kapan saja dia perlu, gue akan ada. Bbrp kali gue sengaja cuti, untuk dia. Tapiiii... apakah itu cukup? Bahwa gue nggak berhasil menahan ayahnya untuk tdk pergi dr rumah, itu sdh salah. Lalu... gue ternyata jg tidak cukup intens mendampingi, jadi dia terpaksa membereskan masalah2nya sendiri. Gue... terlalu asyik dgn diri gue sendiri. Di kantor berlama2... pacaran nggak pulang2.... hiks....
I cannot help but to blame myself. I feel like an egoistic mom. Rasanya belum lama gue merasa I raised him right... ketika dia berhasil melewati tes masuk SMA. Ternyata oh ternyata... bukan cuma itu ukuran raising a son.... I (almost) failed.
"Growing up is uninteresting."
"Yes, sometimes. But most of the time it is wonderful. For me, having you... since the day you were born, and now, with you here, is the best part of being a grown up."
Well... I hope I can mend this up. I really do hope it can be fixed. Somehow. Please help me God. Aamiin.
Kemarin2 ini pikiran rasanya penuh banget. Selain pekerjaan yg memang sedang lucu2nya (plus laptop ngadat. Lalu file yg hilang di komputer backup....), ada sesuatu yg menghantui. Gue nggak tahu apa... dan sambil menjalani hari, berusaha mencari jawaban atas sosok hantu itu.
Semalam lagi seru2nya di kantor, tiba2 ingat kalau sudah janji mau jemput Aria di tempat les. Les selesai 20.30, gue sadar jam 19.25. Gue baru berangkat dr parkiran kantor jam 19.45 Ok... unless I am the flash... there is no way I can drive through Jakarta traffic... straight to BSD... in less than 1 hour. So, it will be impossible to pick him up on time. Pikiran sehat mengutus Wahid the gardener untuk jemput anak gue. Apa boleh buat.... Akhirnya si pangeran negosiasi bhw ibu gapapa batal jemput asal pulangnya bawain mentaiko salmon dr Aeon. Oh... okay... as you wish, my love.
Setelah selesai beli titipan, on the way home... spt biasa di dalam si kentang suka cari inspirasi. Mikir2... gimana cara benerin ini itu... sampai tiba pada pikiran soal masalah anak gue. Hmm... tiba2 gue sadar kesalahan terbesar gue adalah membiarkan Aria bertumbuh dgn sendirinya. Okay, gue ada di sebelahnya. Secara fisik atau secara apa pun deh... kapan saja dia perlu, gue akan ada. Bbrp kali gue sengaja cuti, untuk dia. Tapiiii... apakah itu cukup? Bahwa gue nggak berhasil menahan ayahnya untuk tdk pergi dr rumah, itu sdh salah. Lalu... gue ternyata jg tidak cukup intens mendampingi, jadi dia terpaksa membereskan masalah2nya sendiri. Gue... terlalu asyik dgn diri gue sendiri. Di kantor berlama2... pacaran nggak pulang2.... hiks....
I cannot help but to blame myself. I feel like an egoistic mom. Rasanya belum lama gue merasa I raised him right... ketika dia berhasil melewati tes masuk SMA. Ternyata oh ternyata... bukan cuma itu ukuran raising a son.... I (almost) failed.
"Growing up is uninteresting."
"Yes, sometimes. But most of the time it is wonderful. For me, having you... since the day you were born, and now, with you here, is the best part of being a grown up."
Well... I hope I can mend this up. I really do hope it can be fixed. Somehow. Please help me God. Aamiin.
Friday, February 01, 2019
Where Are We?
I never have the feeling of "we" in a man-woman relationship.
Maksud gue... ga pernah merasakan menjadi "kita" atau "kami"... bahkan ketika menikah dulu. Kayaknya pernikahannya terlalu cepet usai, belum sempat bener2 dipikirin dan dijalani. Baru nikah bbrp bulan... ikut pindah ke Cilegon... sibuk beresin rumah di sana. Belum juga beres... rencana berubah jadi dipercepat berangkat ke US. Sampai di US, masing2 kisruh dgn sekolahnya sendiri2. Sekolahnya di tempat yg sama tp subjek-nya ga ada hubungan blas.... Sekolah selesai... langsung pulang. Di Jkt... baru sebentar banget... baru mikir2 mau tinggal di mana... eh... ada yg punya pikiran buat main rumah2an sendiri. Ya udah. Bhay.
Jadi, dalam pernikahan yg singkat itu, belum pernah sekali pun ada keputusan yang sepakat tentang "kita" atau "kami" kecuali satu: waktu mau bercerai. Oalah... melas yo. Hahaha.... Dan bisa ditebak bahwa setelah perceraian, semakin nggak pernah mikir jadi "kita" atau "kami". Lah ga ada teammates.... Ngapain mikirin?
Jadi... rasanya menarik juga kalau ada yang berani menawarkan konsep menjadi "kita" atau "kami" itu ke gue. Kok kayaknya lucu.... Mungkin seru juga ya mikirin sesuatu berdua? Meskipun lalu mikir2 juga, apa gue bisa? Setelah selama ini begitu keras kepala menjalani kehidupan sbg diri sendiri. Nggak perlu kompromi, nggak perlu tanya ini itu, nggak perlu diskusi....
Nah nah nah... jadi gimana?
Entah kenapa bbrp hari ini kok ya baca2 tulisan ttg #therealmarriagelife di medsos. Lalu bbrp waktu lalu baca buku juga yg isinya ttg kompromi dalam hidup pernikahan. Hmm... apa bisa ya gue begitu?
Ahahaha... ini kenapa jadi bahas topik ini? Kayak punya pacar aja....
Maksud gue... ga pernah merasakan menjadi "kita" atau "kami"... bahkan ketika menikah dulu. Kayaknya pernikahannya terlalu cepet usai, belum sempat bener2 dipikirin dan dijalani. Baru nikah bbrp bulan... ikut pindah ke Cilegon... sibuk beresin rumah di sana. Belum juga beres... rencana berubah jadi dipercepat berangkat ke US. Sampai di US, masing2 kisruh dgn sekolahnya sendiri2. Sekolahnya di tempat yg sama tp subjek-nya ga ada hubungan blas.... Sekolah selesai... langsung pulang. Di Jkt... baru sebentar banget... baru mikir2 mau tinggal di mana... eh... ada yg punya pikiran buat main rumah2an sendiri. Ya udah. Bhay.
Jadi, dalam pernikahan yg singkat itu, belum pernah sekali pun ada keputusan yang sepakat tentang "kita" atau "kami" kecuali satu: waktu mau bercerai. Oalah... melas yo. Hahaha.... Dan bisa ditebak bahwa setelah perceraian, semakin nggak pernah mikir jadi "kita" atau "kami". Lah ga ada teammates.... Ngapain mikirin?
Jadi... rasanya menarik juga kalau ada yang berani menawarkan konsep menjadi "kita" atau "kami" itu ke gue. Kok kayaknya lucu.... Mungkin seru juga ya mikirin sesuatu berdua? Meskipun lalu mikir2 juga, apa gue bisa? Setelah selama ini begitu keras kepala menjalani kehidupan sbg diri sendiri. Nggak perlu kompromi, nggak perlu tanya ini itu, nggak perlu diskusi....
Nah nah nah... jadi gimana?
Entah kenapa bbrp hari ini kok ya baca2 tulisan ttg #therealmarriagelife di medsos. Lalu bbrp waktu lalu baca buku juga yg isinya ttg kompromi dalam hidup pernikahan. Hmm... apa bisa ya gue begitu?
Ahahaha... ini kenapa jadi bahas topik ini? Kayak punya pacar aja....
Thursday, January 31, 2019
Just Once... RIP James
I did my best but I guess my best wasn't good enough
'Cause here we are back where we were before
Seems nothing ever changes, we're back to being strangers
Wondering if we oughta stay or head on out the door
'Cause here we are back where we were before
Seems nothing ever changes, we're back to being strangers
Wondering if we oughta stay or head on out the door
Just once, can't we figure out what we keep doing wrong
Why we never last for very long
What are we doing wrong
Just once, can't we find a way to finally make it right
Make the magic last for more than just one night
If we could just get to it, I know we could break through it
Why we never last for very long
What are we doing wrong
Just once, can't we find a way to finally make it right
Make the magic last for more than just one night
If we could just get to it, I know we could break through it
I gave my all but I think my all may have been too much
'Cause Lord knows we're not getting anywhere
Seems we're always blowing whatever we got going
And it seems at times with all we've got we haven't got a prayer
'Cause Lord knows we're not getting anywhere
Seems we're always blowing whatever we got going
And it seems at times with all we've got we haven't got a prayer
Just once, can't we figure out what we keep doing wrong
Why the good times never last for long
Where're we going wrong
Just once, can't we find a way to finally make it right
Make the magic last for more than just one night
I know we could break through it, if we could just get to it
Why the good times never last for long
Where're we going wrong
Just once, can't we find a way to finally make it right
Make the magic last for more than just one night
I know we could break through it, if we could just get to it
Just once, I want to understand
Why it always come back to good-bye
Why can't we get ourselves in hand and admit to one another
We're no good with out the other
Take the best and make it better
Find a way to stay together
Why it always come back to good-bye
Why can't we get ourselves in hand and admit to one another
We're no good with out the other
Take the best and make it better
Find a way to stay together
Just once can't we find a way to finally make it right
Make the magic last for more than just one night
I know we could break through it, if we could just get to it
Just once
I know we can get through it
Just once
Make the magic last for more than just one night
I know we could break through it, if we could just get to it
Just once
I know we can get through it
Just once
Tuesday, January 29, 2019
New Chapter
Suddenly I realised I haven't posted any update on my work journey in this blog.
Jadi... tahun 2018 gue akhiri dengan pindah ke The Jakarta Post. Masih mengerjakan hal yang sama... magazines & books publishing. Dan ini divisi baru, unit bisnis baru TJP. Jadi... marilah kita membangun candi... setiap hari. Hahahaha....
Begitulah senyatanya yang terjadi. Akhirnya gue meninggalkan my comfort zone di Media Indonesia. Setelah 7 tahun... bukan keputusan yg mudah. Apalagi bisa dibilang tim MI Publishing adalah hasil didikan gue. Waaahhh... waktu di dalam sih biasa aja... begitu keluar... baru bisa lihat... "oooh... itu gue yg ngajarin lho!" #jumawa How I miss them to the moon and back!
Pamitan sm klien jadi lucu krn ternyata bbrp klien sdh attached... sm Budiana. Alhamdulillah sih. Ini ada yg sdh pasti akan masuk ke projek TJP. Hmm... hmm... ya gimana.... hehehe. Maafkan hamba.
Yg juga seru adalah karena di TJP, gue masih single fighter. Pdh, begitu masuk... sdh ada projek Asian Games, Asian Para Games, KKP, Adaro, BCA... lalu setelah usai "batch" yg awal... segera disusul dgn projek2 lain dgn gegap gempita berkat AE yg trengginas! Hahahaha... jadi inget tim AE di tempat dulu yg lemes. Melas banget....
Yg ga seru adalah kalau masih sendirian itu... brainstorming aja kok sama tembok to ya. Sungguh pilu. Bbrp kali mau pitching... akhirnya bajak2 anak2 AE utk mancing ide. Ya kan mana bisa cuma melotot2... Terakhir... gue paksa COO gue ikutan cari keywords! Haha... kapan lagi bisa nodong boss buat kerjaan remah rengginang....
Trus... kocak pas dapat anak baru. Fresh grad dr sekolah yg hmmm... ga terlalu bunyi sih di kuping gue. Anaknya awal2 tampak semangat. Mau masuk setelah Januari krn hrs ke Aussie dulu utk urusan keluarga. Fine. Gue udah berharap banyak banget. Waktu dia masuk, gue lgs semangat ini itu ini itu... anaknya agak bengong, tp krn gue pikir dia masih baru lulus banget jd masih jet lag... ya udahlah. Eh... masak jam 5 dia tahu2 hilang dari mejanya. Lalu besoknya nggak tampak. Ditelepon di-wa nggak balas (malah akhirnya dia blocked semua kontak tim TJP). Trus waktu gue iseng lewatin mejanya... gue nemu post-it yg isinya dia minta maaf kalau dia nggak bisa datang lagi... alasannya krn mau nerusin sekolah. Whaaattt.... ah tipu. Sudahlah. Coret ajalah dari daftar hadir. Ngeselin. Bikin trauma. Skrg kalau dipikir kocak sih... waktu kejadian... rasanya pengen balikin meja!
Anyway... when life gives you lemon... make lemon tea!
Setelah tahun lalu bisa semacam leha2... kerasa banget skrg ini gedubrakan tiap hari. Seru... iya ... jadi hidup kembali! Tp akibatnya weekend lbh sering pingsan. Hahahaha.... Asli kerjaan kok kayaknya nggak habis2. Waktu bulan lalu ke Banyuwangi... hanya kekuatan bulan saja yg akhirnya berhasil menghentikan niat bawa laptop. Wek wek....
Bbrp bulan di tempat baru... rasanya memang seru. Pekerjaan banyak... ya sudahlah... Pas dgn kondisi yg Aria jg sdh mulai punya kegiatan sendiri jd nggak banyak perlu ibu. Dan... secara finansial memang di sini hidup jadi lebih leluasa. Aria seneng banget tuh. Ya kan... Tuhan Maha Baik. Semua diatur secara pas. Matur nuwun Gusti Allah.
Jadi... tahun 2018 gue akhiri dengan pindah ke The Jakarta Post. Masih mengerjakan hal yang sama... magazines & books publishing. Dan ini divisi baru, unit bisnis baru TJP. Jadi... marilah kita membangun candi... setiap hari. Hahahaha....
Begitulah senyatanya yang terjadi. Akhirnya gue meninggalkan my comfort zone di Media Indonesia. Setelah 7 tahun... bukan keputusan yg mudah. Apalagi bisa dibilang tim MI Publishing adalah hasil didikan gue. Waaahhh... waktu di dalam sih biasa aja... begitu keluar... baru bisa lihat... "oooh... itu gue yg ngajarin lho!" #jumawa How I miss them to the moon and back!
Pamitan sm klien jadi lucu krn ternyata bbrp klien sdh attached... sm Budiana. Alhamdulillah sih. Ini ada yg sdh pasti akan masuk ke projek TJP. Hmm... hmm... ya gimana.... hehehe. Maafkan hamba.
Yg juga seru adalah karena di TJP, gue masih single fighter. Pdh, begitu masuk... sdh ada projek Asian Games, Asian Para Games, KKP, Adaro, BCA... lalu setelah usai "batch" yg awal... segera disusul dgn projek2 lain dgn gegap gempita berkat AE yg trengginas! Hahahaha... jadi inget tim AE di tempat dulu yg lemes. Melas banget....
Yg ga seru adalah kalau masih sendirian itu... brainstorming aja kok sama tembok to ya. Sungguh pilu. Bbrp kali mau pitching... akhirnya bajak2 anak2 AE utk mancing ide. Ya kan mana bisa cuma melotot2... Terakhir... gue paksa COO gue ikutan cari keywords! Haha... kapan lagi bisa nodong boss buat kerjaan remah rengginang....
Trus... kocak pas dapat anak baru. Fresh grad dr sekolah yg hmmm... ga terlalu bunyi sih di kuping gue. Anaknya awal2 tampak semangat. Mau masuk setelah Januari krn hrs ke Aussie dulu utk urusan keluarga. Fine. Gue udah berharap banyak banget. Waktu dia masuk, gue lgs semangat ini itu ini itu... anaknya agak bengong, tp krn gue pikir dia masih baru lulus banget jd masih jet lag... ya udahlah. Eh... masak jam 5 dia tahu2 hilang dari mejanya. Lalu besoknya nggak tampak. Ditelepon di-wa nggak balas (malah akhirnya dia blocked semua kontak tim TJP). Trus waktu gue iseng lewatin mejanya... gue nemu post-it yg isinya dia minta maaf kalau dia nggak bisa datang lagi... alasannya krn mau nerusin sekolah. Whaaattt.... ah tipu. Sudahlah. Coret ajalah dari daftar hadir. Ngeselin. Bikin trauma. Skrg kalau dipikir kocak sih... waktu kejadian... rasanya pengen balikin meja!
Anyway... when life gives you lemon... make lemon tea!
Setelah tahun lalu bisa semacam leha2... kerasa banget skrg ini gedubrakan tiap hari. Seru... iya ... jadi hidup kembali! Tp akibatnya weekend lbh sering pingsan. Hahahaha.... Asli kerjaan kok kayaknya nggak habis2. Waktu bulan lalu ke Banyuwangi... hanya kekuatan bulan saja yg akhirnya berhasil menghentikan niat bawa laptop. Wek wek....
Bbrp bulan di tempat baru... rasanya memang seru. Pekerjaan banyak... ya sudahlah... Pas dgn kondisi yg Aria jg sdh mulai punya kegiatan sendiri jd nggak banyak perlu ibu. Dan... secara finansial memang di sini hidup jadi lebih leluasa. Aria seneng banget tuh. Ya kan... Tuhan Maha Baik. Semua diatur secara pas. Matur nuwun Gusti Allah.
Monday, January 28, 2019
I Want More
For once, finally, once in my life... I felt I was really loved.
Rasanya manis sekali kalau mengenang rasa cinta yang pernah ada. Dan sepertinya akan selalu ada. Hmm... banyak yang bilang cinta harus dipupuk, supaya lestari. Kali ini rasanya nggak perlu. Dibiarkan saja dan dia akan tetap ada di situ. Kalau mau dihilangkan... harus dibunuh. Tapi, gue nggak rela....
For once, in my life, I felt I was really loved.
Oleh orang yg tidak terduga kedatangannya. Orang yg tadinya sungguh asing... sama sekali tidak gue kenal. Tapi lalu menjadi orang yg terdekat. Mengetahui apa pun yg terjadi pada gue, bahkan sebelum gue sadar (haha... kadang ini menakutkan sih).
Tapi sungguh, merasa dicintai sebesar itu membuat gue yakin bahwa gue adalah orang yang sangat beruntung. Bayangkan, siapalah gue di antara belantara kekisruhan dunia? Tapi toh Tuhan memilih gue sbg orang yg layak merasakan cinta begitu besar. Besar sekali. Tuhan menentukan gue adalah orang yang boleh dicintai habis-habisan.... dan gue merasakannya.
For once, in my life, I felt I was really loved. Real love.
Entah apa namanya ya... keras kepala? Atau ngeyel saja... merasa melihat ada cahaya di ujung terowongan... yang panjang... sangat panjang... padahal seharusnya pertanyaannya disederhanakan: memang terowongannya ada? Jangan2 itu hanya halusinasi belaka.
But still, for once, in my life, I felt I was really loved.
Apa namanya kalau bukan cinta, yg membuat semua jadi indah belaka? Bahkan rasa sakit hati, menderita, duka tiada tara, patah hati bertubi-tubi... tetap dinikmati menjadi bagian dari perjalanan menuju kebahagiaan. Padahal... perjalanannya semu. Mungkin juga bukan perjalanan yang sebenarnya.
For once, in my life, I felt I was really loved. It was chaotic and painful, yet, if I had to, I don't mind to go through the same path again. As long as I am with you.
Rasanya manis sekali kalau mengenang rasa cinta yang pernah ada. Dan sepertinya akan selalu ada. Hmm... banyak yang bilang cinta harus dipupuk, supaya lestari. Kali ini rasanya nggak perlu. Dibiarkan saja dan dia akan tetap ada di situ. Kalau mau dihilangkan... harus dibunuh. Tapi, gue nggak rela....
For once, in my life, I felt I was really loved.
Oleh orang yg tidak terduga kedatangannya. Orang yg tadinya sungguh asing... sama sekali tidak gue kenal. Tapi lalu menjadi orang yg terdekat. Mengetahui apa pun yg terjadi pada gue, bahkan sebelum gue sadar (haha... kadang ini menakutkan sih).
Tapi sungguh, merasa dicintai sebesar itu membuat gue yakin bahwa gue adalah orang yang sangat beruntung. Bayangkan, siapalah gue di antara belantara kekisruhan dunia? Tapi toh Tuhan memilih gue sbg orang yg layak merasakan cinta begitu besar. Besar sekali. Tuhan menentukan gue adalah orang yang boleh dicintai habis-habisan.... dan gue merasakannya.
For once, in my life, I felt I was really loved. Real love.
Entah apa namanya ya... keras kepala? Atau ngeyel saja... merasa melihat ada cahaya di ujung terowongan... yang panjang... sangat panjang... padahal seharusnya pertanyaannya disederhanakan: memang terowongannya ada? Jangan2 itu hanya halusinasi belaka.
But still, for once, in my life, I felt I was really loved.
Apa namanya kalau bukan cinta, yg membuat semua jadi indah belaka? Bahkan rasa sakit hati, menderita, duka tiada tara, patah hati bertubi-tubi... tetap dinikmati menjadi bagian dari perjalanan menuju kebahagiaan. Padahal... perjalanannya semu. Mungkin juga bukan perjalanan yang sebenarnya.
For once, in my life, I felt I was really loved. It was chaotic and painful, yet, if I had to, I don't mind to go through the same path again. As long as I am with you.
Monday, January 14, 2019
Draft 3
Dari jauh, senyummu terlihat mengembang. Aku melihat binar matamu. Mungkin, hal yang sama kamu lihat terjadi juga padaku ya. Mata berbinar ketika bertemu dengan yang disayang. Wajah yang seketika menjadi lebih cerah.
"Hey you...." Kecupan di dahi. Lembut. Hangat. Hal yang pernah sangat kurindukan. "So... how are you?"
Aku tidak menjawab karena kamu belum melihatku sepenuhnya. Pada waiter yang mengantarmu ke mejaku, kau mendiktekan beberapa pesanan. Udang goreng tepung. Brokoli cah jamur. Es jeruk. Pasti. Menu yang kuhapal karena sudah kau pesan ribuan kali bersamaku. Lalu kau duduk.
"Ok... how are you?" Kau ulang lagi pertanyaan itu.
Aku tersenyum.
"Oh my God... that smile, your smile...," kamu mendesah. Aku salah tingkah.
"Anything new?"
"Hmmm... how can I say this...," aku sungguh mencari kata-kata yang tepat. "Thank you for giving me the advice so I took that offer." Aku memilih menceritakan perihal pekerjaan lebih dulu.
Beberapa bulan lalu, aku mendapat tawaran ini. Tentu saja kau menjadi yang pertama kali tahu. Dan mendukung sepenuhnya. Justru aku yang ragu. Apa aku mampu? Lalu tak lama, melalui video call, karena kau sedang di negara lain, kau ajari aku bernegosiasi. Agar tempat baru mau memberi kompensasi ini itu, termasuk beasiswa pendidikan di tempat bermutu. Jadi, kepindahanku ke tempat baru sungguh sangat menguntungkan kedua belah pihak. Dan kau benar, aku sangat menikmati pekerjaan ini. Menyenangkan.
"See... they should value you more. Aku senang kalau kamu lebih gembira sekarang."
"Tapi pekerjaannya banyak sekali, membuatku sulit bernapas."
"Ya... itulah perusahaan rintisan... di mana-mana akan seperti itu."
Lalu kau ceritakan pengalamanmu. Di perusahaan Jepang. Perusahaan Jerman. Perusahaan Inggris. Seru. Berbincang denganmu selalu menambah pengetahuan. Kamu memang selalu seperti ensiklopedia berjalan.
Aku ingat ketika pertama kali mengenalmu. Kapan ya itu? 14 tahun lalu?
Tiba-tiba namamu muncul di jendela percakapan yang baru saja aku unduh. Ahaha... ternyata kita pun "korban" dunia digital. Kamu dan aku yang tidak saling kenal pada awalnya, toh akhirnya bisa menjadi dekat dan kemudian bersama-sama melangkah.
Masa awal mengenalmu, aku kau buat jatuh hati habis-habisan. Bagaimana tidak? Kau seperti sumber ilmu yang tidak ada habisnya. Apa saja yang kau ketahui? Ketika aku kebingungan mencari materi untuk sebuah tulisan tentang kesehatan, kau datang dengan ide dan masukan yang sangat berguna. Ah.... Ide tulisan hanya satu saja dari kelebihanmu. Yang lain? Masih banyak! Dari urusan pekerjaan hingga pengasuhan anak. Atau masalah bos lemes dan kolega gembel... semua seperti bisa kau bereskan. Termasuk mengajakku menjadi lebih relijius mendalami agama.
Sungguh membuatku benar-benar terpikat.
Tapi memang rupanya, kau bukan untukku. Rasanya seperti disambar petir ketika mendengarmu ternyata pada akhirnya tidak memilih aku. Hmm... aku bukan orang yang suka memaksa. Kalau kamu memang tidak mau, ya tidak apa-apa.... Aku kecewa? Tentu saja. Tapi siapa pun yang kau pilih, aku bisa apa?
Herannya, kamu seolah enggan beranjak. Kamu tetap hadir, meski secara fisik tak lagi sesering dulu. Kamu tetap mengirim bunga di saat-saat istimewa. Kamu tetap memberi kejutan-kejutan sebagai penggembira, meski tidak hadir secara nyata. Dan... kamu tetap cemburu ketika aku dekat dengan seseorang. Maksudmu apa?
"Will you leave me?"
"As you wish."
"Tapi kok datang lagi?"
"Nggak boleh?"
Tapi sepertinya, kali ini harus berbeda. Harus ada grand closure. Karena kita tahu, yang kita lakukan tidak akan ada ujungnya. Dan hanya semakin menyakitkan hati saja. Lalu kau pun memenuhi permintaanku untuk berjumpa. Tanpa kau tahu, aku merencanakan bahwa inilah pernjumpaan terakhir kita.
"And how is life?" Sepertinya kamu tahu bahwa aku akan menceritakan sesuatu.
"Life is good."
"In terms of...."
"I met someone."
"Oh... ok...."
"And I think I like him."
"You think?"
"He helped me solve some problems at new office."
"Hmm...."
"And he knows everything... he has answers to all of my questions."
"Hmm...."
"Romantic in his own way. Caring and so on."
"Ok... so... those flowers... those were from him?"
"Haha... lihat di Instagram, ya? Isn't that cute? You used to be the one sending me flowers, and now he continues what you did...."
Aku tiba-tiba teringat bunga-bunga yang kau kirim ke kantor. Bertubi-tubi. Membuatku merasa jadi perempuan paling penting di dunia. Menjadi yang paling dicinta. Harus aku akui, rasa itu masih sama. Tapi aku tahu, perasaan itu harus aku bunuh perlahan.
"Do you meet him regularly?"
"Nope. He works in remote area. Somewhere in the east. We always joke that he lives a life of Crocodile Dundee. He is only able to go home once in every other month and he needs to divide the break time he has between visiting me and visiting his sons."
"Seems familiar...."
"Yeah... you know... the life of a site engineer..."
"Been there, done that."
"What? The work? Or the date?
"Both...."
"Hehehe... I knew. He is just like you.... years ago.... Still remember the midnite driving, huh?"
"And those stops at a coffee joint? How can I forget that?"
"Those were our past...."
"Those were proof of love."
"Still...."
"Hmmm...."
"But seriously, I am thinking of trying to make this work with him."
"Maksudmu?"
"Yaaaa.... aku mau coba... untuk memikirkan ini secara serius."
"Did he propose?"
"Ah... ya belum...."
"He will...."
"Maybe...."
"You already decided...."
"I did."
Kamu hanya menatap. Aku tidak mau melihat luka di matamu. Tahukah kamu jika aku pun susah payah menyembunyikan luka hatiku? Sudah cukup. Ini saatnya aku melanjutkan perjalananku. Tanpa kamu. Ini tidak ada hubungannya dengan rasa yang kupunya untukmu. Aku hanya ingin melangkah.
"So, what do you want from me?"
"I think you know what to do."
"Boleh nggak sih, berlagak bego saja?"
"Jangan. Nanti bego beneran."
Lalu kita tertawa bersama. Menertawai luka di hati kita masing-masing. Luka yang mungkin tak tersembuhkan. Yang sakitnya justru kita nikmati sebagai milik kita yang berharga. Bukti cinta yang tiada habisnya. Tapi kupikir, aku juga perlu memberi diriku kesempatan lain. Dan kupikir, juga kurasa, dia adalah orang yang tepat untuk diberi kesempatan.
"Hey you...." Kecupan di dahi. Lembut. Hangat. Hal yang pernah sangat kurindukan. "So... how are you?"
Aku tidak menjawab karena kamu belum melihatku sepenuhnya. Pada waiter yang mengantarmu ke mejaku, kau mendiktekan beberapa pesanan. Udang goreng tepung. Brokoli cah jamur. Es jeruk. Pasti. Menu yang kuhapal karena sudah kau pesan ribuan kali bersamaku. Lalu kau duduk.
"Ok... how are you?" Kau ulang lagi pertanyaan itu.
Aku tersenyum.
"Oh my God... that smile, your smile...," kamu mendesah. Aku salah tingkah.
"Anything new?"
"Hmmm... how can I say this...," aku sungguh mencari kata-kata yang tepat. "Thank you for giving me the advice so I took that offer." Aku memilih menceritakan perihal pekerjaan lebih dulu.
Beberapa bulan lalu, aku mendapat tawaran ini. Tentu saja kau menjadi yang pertama kali tahu. Dan mendukung sepenuhnya. Justru aku yang ragu. Apa aku mampu? Lalu tak lama, melalui video call, karena kau sedang di negara lain, kau ajari aku bernegosiasi. Agar tempat baru mau memberi kompensasi ini itu, termasuk beasiswa pendidikan di tempat bermutu. Jadi, kepindahanku ke tempat baru sungguh sangat menguntungkan kedua belah pihak. Dan kau benar, aku sangat menikmati pekerjaan ini. Menyenangkan.
"See... they should value you more. Aku senang kalau kamu lebih gembira sekarang."
"Tapi pekerjaannya banyak sekali, membuatku sulit bernapas."
"Ya... itulah perusahaan rintisan... di mana-mana akan seperti itu."
Lalu kau ceritakan pengalamanmu. Di perusahaan Jepang. Perusahaan Jerman. Perusahaan Inggris. Seru. Berbincang denganmu selalu menambah pengetahuan. Kamu memang selalu seperti ensiklopedia berjalan.
Aku ingat ketika pertama kali mengenalmu. Kapan ya itu? 14 tahun lalu?
Tiba-tiba namamu muncul di jendela percakapan yang baru saja aku unduh. Ahaha... ternyata kita pun "korban" dunia digital. Kamu dan aku yang tidak saling kenal pada awalnya, toh akhirnya bisa menjadi dekat dan kemudian bersama-sama melangkah.
Masa awal mengenalmu, aku kau buat jatuh hati habis-habisan. Bagaimana tidak? Kau seperti sumber ilmu yang tidak ada habisnya. Apa saja yang kau ketahui? Ketika aku kebingungan mencari materi untuk sebuah tulisan tentang kesehatan, kau datang dengan ide dan masukan yang sangat berguna. Ah.... Ide tulisan hanya satu saja dari kelebihanmu. Yang lain? Masih banyak! Dari urusan pekerjaan hingga pengasuhan anak. Atau masalah bos lemes dan kolega gembel... semua seperti bisa kau bereskan. Termasuk mengajakku menjadi lebih relijius mendalami agama.
Sungguh membuatku benar-benar terpikat.
Tapi memang rupanya, kau bukan untukku. Rasanya seperti disambar petir ketika mendengarmu ternyata pada akhirnya tidak memilih aku. Hmm... aku bukan orang yang suka memaksa. Kalau kamu memang tidak mau, ya tidak apa-apa.... Aku kecewa? Tentu saja. Tapi siapa pun yang kau pilih, aku bisa apa?
Herannya, kamu seolah enggan beranjak. Kamu tetap hadir, meski secara fisik tak lagi sesering dulu. Kamu tetap mengirim bunga di saat-saat istimewa. Kamu tetap memberi kejutan-kejutan sebagai penggembira, meski tidak hadir secara nyata. Dan... kamu tetap cemburu ketika aku dekat dengan seseorang. Maksudmu apa?
"Will you leave me?"
"As you wish."
"Tapi kok datang lagi?"
"Nggak boleh?"
Tapi sepertinya, kali ini harus berbeda. Harus ada grand closure. Karena kita tahu, yang kita lakukan tidak akan ada ujungnya. Dan hanya semakin menyakitkan hati saja. Lalu kau pun memenuhi permintaanku untuk berjumpa. Tanpa kau tahu, aku merencanakan bahwa inilah pernjumpaan terakhir kita.
"And how is life?" Sepertinya kamu tahu bahwa aku akan menceritakan sesuatu.
"Life is good."
"In terms of...."
"I met someone."
"Oh... ok...."
"And I think I like him."
"You think?"
"He helped me solve some problems at new office."
"Hmm...."
"And he knows everything... he has answers to all of my questions."
"Hmm...."
"Romantic in his own way. Caring and so on."
"Ok... so... those flowers... those were from him?"
"Haha... lihat di Instagram, ya? Isn't that cute? You used to be the one sending me flowers, and now he continues what you did...."
Aku tiba-tiba teringat bunga-bunga yang kau kirim ke kantor. Bertubi-tubi. Membuatku merasa jadi perempuan paling penting di dunia. Menjadi yang paling dicinta. Harus aku akui, rasa itu masih sama. Tapi aku tahu, perasaan itu harus aku bunuh perlahan.
"Do you meet him regularly?"
"Nope. He works in remote area. Somewhere in the east. We always joke that he lives a life of Crocodile Dundee. He is only able to go home once in every other month and he needs to divide the break time he has between visiting me and visiting his sons."
"Seems familiar...."
"Yeah... you know... the life of a site engineer..."
"Been there, done that."
"What? The work? Or the date?
"Both...."
"Hehehe... I knew. He is just like you.... years ago.... Still remember the midnite driving, huh?"
"And those stops at a coffee joint? How can I forget that?"
"Those were our past...."
"Those were proof of love."
"Still...."
"Hmmm...."
"But seriously, I am thinking of trying to make this work with him."
"Maksudmu?"
"Yaaaa.... aku mau coba... untuk memikirkan ini secara serius."
"Did he propose?"
"Ah... ya belum...."
"He will...."
"Maybe...."
"You already decided...."
"I did."
Kamu hanya menatap. Aku tidak mau melihat luka di matamu. Tahukah kamu jika aku pun susah payah menyembunyikan luka hatiku? Sudah cukup. Ini saatnya aku melanjutkan perjalananku. Tanpa kamu. Ini tidak ada hubungannya dengan rasa yang kupunya untukmu. Aku hanya ingin melangkah.
"So, what do you want from me?"
"I think you know what to do."
"Boleh nggak sih, berlagak bego saja?"
"Jangan. Nanti bego beneran."
Lalu kita tertawa bersama. Menertawai luka di hati kita masing-masing. Luka yang mungkin tak tersembuhkan. Yang sakitnya justru kita nikmati sebagai milik kita yang berharga. Bukti cinta yang tiada habisnya. Tapi kupikir, aku juga perlu memberi diriku kesempatan lain. Dan kupikir, juga kurasa, dia adalah orang yang tepat untuk diberi kesempatan.
Friday, January 04, 2019
I Raised Him Right (Hopefully)
Jadi... anak semata wayang itu sudah mau masuk SMA tahun ini. Time does flies when we had fun....
Seperti juga ketika mau masuk SMP... dia pilih sendiri sekolahnya. Tadinya pengen masuk SMA 2 Serpong. Lihat saingannya... pedih. Trus masih penasaran mau masuk Labschool Kebayoran. Ya itu sih selain saingannya dari seluruh dunia juga jauh banget dari rumah. Mau berangkat jam berapa? Lalu cek SMA 3.... hmm... hmm... sambil berjalan kok melihat bahwa Aria bukan tipe "anak negeri." Dia beda banget sama gue, atau kakak gue, atau adik gue. Kami2 ini merasa anak sekolah negeri yg lumayan. Hahaha.... Tapi bener nggak sih... sekolah negeri itu kan identik dengan siswa yang banyak... guru yg sedikit. Siswa harus aktif dan tekun belajar. Paling nggak bisa mengatur dirinya sendiri. Iya nggak? Atau paling nggak punya orang tua yg bawel ngaturin dan nungguin anak belajar. Yang... tidak dipunyai oleh Aria.
Akhirnya, dengan segala pertimbangan perdamaian dan kegembiraan... pilihan SMA adalah Sekolah Cikal Serpong.
Sempat ragu krn tahun ini baru angkatan pertama. Murid sedikit. Tapi lalu mikir... ya anak skrg juga banyak kok yg homeschooling. Ya sudah. Mari mendaftar (dan membayar).
Ternyata ada beberapa tes yg hrs dilewati sebelum Aria bisa diterima sebagai siswa SMA Cikal Serpong. Pertama, dia hrs psikotest dulu utk tahu kesiapan dia menjadi murid SMA. Lalu setelah itu ada assessment test, Matematika dan Bahasa Inggris. Dan terakhir adalah presentasi tentang passion, lalu wawancara orang tua.
Alhamdulillah semua test berhasil dilampaui anak ganteng kesayanganku itu. Meskipun dia cranky luar biasa sebelum presentasi... ternyata menurut kepsek, he did great. Alhamdulillah. Gue memang ga tahu apa yang dia presentasikan. Hanya pernah dia kasih tahu bahwa dia akan cerita tentang Film The Greatest Showman. Okay.
Untuk wawancara orangtua, Aria wanti2 bahwa yg datang adalah ibu dan papap. Ayah tidak usah. Oke nak... as you wish.... Nah... waktu wawancara inilah yg ternyata membuat gue nggak berhenti bersyukur. Jadi wawancara hanya dengan orangtua, anak tidak dihadirkan. Saat itu kepsek mendiskusikan rencana Aria, dan mempelajari apa yang bisa dibantu sekolah untuk mengembangkan, tentunya dgn dukungan orangtua.
Menyenangkan ya mendengar bu kepsek ini menilai bahwa Aria cukup mature, cukup cerdas, pendek kata cukup oke, dan tahu apa yang dia mau. Hal yang selama ini jarang gue lihat krn di mata gue dia akan selalu jadi my baby.
Menurut bu kepsek, Aria bisa identifikasi dirinya dengan baik. Dia paham kekurangannya yang tidak suka pelajaran hafalan dan bisa bilang "I know I am lazy." Tapi dia juga tahu bahwa "I want to be an actor who appear on silverscreen." Ohohoho.... Meskipun dia juga mempertimbangkan ingin menjadi arsitek. Tapi kok ya nggak ada sisa2 darah ayahnya yg akademisi dan sangat eksakta....
Lalu dia sempat menceritakan hubungan dengan ayahnya, yang menurutnya "biasa saja." "I don't think I missed anything even though I only meet him once a year." Membayangkan bahwa anak yang sampai skrg masih suka cranky bisa bilang begitu kok rasanya wooowowowow.....
Kenyataan bahwa nilai2 assessment test Aria cukup baik, lalu presentasi yang menarik (menurut bu kepsek), dan jawaban2 dia yg lumayan... I know I raised him right. Alhamdulillah. Di tengah segala kekurangan dan keterbatasan, ketiadaan ayah kandung, dan macam2 halang rintang yang terjadi... alhamdulillah anak gue baik2 saja.
Gue berharap (dan berdoa) Aria akan selalu menjadi orang yg bahagia. Aamiin.
Seperti juga ketika mau masuk SMP... dia pilih sendiri sekolahnya. Tadinya pengen masuk SMA 2 Serpong. Lihat saingannya... pedih. Trus masih penasaran mau masuk Labschool Kebayoran. Ya itu sih selain saingannya dari seluruh dunia juga jauh banget dari rumah. Mau berangkat jam berapa? Lalu cek SMA 3.... hmm... hmm... sambil berjalan kok melihat bahwa Aria bukan tipe "anak negeri." Dia beda banget sama gue, atau kakak gue, atau adik gue. Kami2 ini merasa anak sekolah negeri yg lumayan. Hahaha.... Tapi bener nggak sih... sekolah negeri itu kan identik dengan siswa yang banyak... guru yg sedikit. Siswa harus aktif dan tekun belajar. Paling nggak bisa mengatur dirinya sendiri. Iya nggak? Atau paling nggak punya orang tua yg bawel ngaturin dan nungguin anak belajar. Yang... tidak dipunyai oleh Aria.
Akhirnya, dengan segala pertimbangan perdamaian dan kegembiraan... pilihan SMA adalah Sekolah Cikal Serpong.
Sempat ragu krn tahun ini baru angkatan pertama. Murid sedikit. Tapi lalu mikir... ya anak skrg juga banyak kok yg homeschooling. Ya sudah. Mari mendaftar (dan membayar).
Ternyata ada beberapa tes yg hrs dilewati sebelum Aria bisa diterima sebagai siswa SMA Cikal Serpong. Pertama, dia hrs psikotest dulu utk tahu kesiapan dia menjadi murid SMA. Lalu setelah itu ada assessment test, Matematika dan Bahasa Inggris. Dan terakhir adalah presentasi tentang passion, lalu wawancara orang tua.
Alhamdulillah semua test berhasil dilampaui anak ganteng kesayanganku itu. Meskipun dia cranky luar biasa sebelum presentasi... ternyata menurut kepsek, he did great. Alhamdulillah. Gue memang ga tahu apa yang dia presentasikan. Hanya pernah dia kasih tahu bahwa dia akan cerita tentang Film The Greatest Showman. Okay.
Untuk wawancara orangtua, Aria wanti2 bahwa yg datang adalah ibu dan papap. Ayah tidak usah. Oke nak... as you wish.... Nah... waktu wawancara inilah yg ternyata membuat gue nggak berhenti bersyukur. Jadi wawancara hanya dengan orangtua, anak tidak dihadirkan. Saat itu kepsek mendiskusikan rencana Aria, dan mempelajari apa yang bisa dibantu sekolah untuk mengembangkan, tentunya dgn dukungan orangtua.
Menyenangkan ya mendengar bu kepsek ini menilai bahwa Aria cukup mature, cukup cerdas, pendek kata cukup oke, dan tahu apa yang dia mau. Hal yang selama ini jarang gue lihat krn di mata gue dia akan selalu jadi my baby.
Menurut bu kepsek, Aria bisa identifikasi dirinya dengan baik. Dia paham kekurangannya yang tidak suka pelajaran hafalan dan bisa bilang "I know I am lazy." Tapi dia juga tahu bahwa "I want to be an actor who appear on silverscreen." Ohohoho.... Meskipun dia juga mempertimbangkan ingin menjadi arsitek. Tapi kok ya nggak ada sisa2 darah ayahnya yg akademisi dan sangat eksakta....
Lalu dia sempat menceritakan hubungan dengan ayahnya, yang menurutnya "biasa saja." "I don't think I missed anything even though I only meet him once a year." Membayangkan bahwa anak yang sampai skrg masih suka cranky bisa bilang begitu kok rasanya wooowowowow.....
Kenyataan bahwa nilai2 assessment test Aria cukup baik, lalu presentasi yang menarik (menurut bu kepsek), dan jawaban2 dia yg lumayan... I know I raised him right. Alhamdulillah. Di tengah segala kekurangan dan keterbatasan, ketiadaan ayah kandung, dan macam2 halang rintang yang terjadi... alhamdulillah anak gue baik2 saja.
Gue berharap (dan berdoa) Aria akan selalu menjadi orang yg bahagia. Aamiin.
Friday, December 28, 2018
Draft 2
Where are you?
Why do you need to know?
Will you tell me?
Why?
Just do, please....
Are you here?
Hmm....
Are you?
Here? Where?
My place....
Are you there?
Hmm....
Where are you?
Where are you?
I am here.
*sound of door knocking*
Why do you need to know?
Will you tell me?
Why?
Just do, please....
Are you here?
Hmm....
Are you?
Here? Where?
My place....
Are you there?
Hmm....
Where are you?
Where are you?
I am here.
*sound of door knocking*
Wednesday, November 21, 2018
Still Hoping... Wishful Thinking
99 Years
Boy meets girl and the world stops turning
She makes him forget all the rules he was learning
They give a toast to the ones who never stop hoping
With not much to lean on eyes wide open
And they look up high and wonder what the future's gonna hold
Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"
So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that,
At 99 years like that
They build a house of love in the face of worry
But life has a way of rewriting the story
There were times when it looked like nothing could save them
And there were times when it looked like nothing could break them
They keep promising each other what the future's gonna hold
Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed and we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"
So let's look forward to you and I looking back
To 99 years
Of nothing unspoken
Live every day hoping
That when we feel broken
Our scars make us golden
Still choose you and I
Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love was stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"
So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that
Oh, at 99 years like that
At 99 years like that
(Josh Groban & Jennifer Nettles)
Boy meets girl and the world stops turning
She makes him forget all the rules he was learning
They give a toast to the ones who never stop hoping
With not much to lean on eyes wide open
And they look up high and wonder what the future's gonna hold
Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"
So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that,
At 99 years like that
They build a house of love in the face of worry
But life has a way of rewriting the story
There were times when it looked like nothing could save them
And there were times when it looked like nothing could break them
They keep promising each other what the future's gonna hold
Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed and we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"
So let's look forward to you and I looking back
To 99 years
Of nothing unspoken
Live every day hoping
That when we feel broken
Our scars make us golden
Still choose you and I
Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love was stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"
So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that
Oh, at 99 years like that
At 99 years like that
(Josh Groban & Jennifer Nettles)
Wednesday, September 19, 2018
Yes or No
Jika ada cara baru 'tuk mengungkap rasa rindu
Aku ingin tahu
Jika ada cara yang belum dicipta untuk cinta
Aku ingin bisa
Aku ingin bisa
Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku
Berdiam tanpa daya hanya karena kehadiranmu
Sementara jiwaku ingin berseru
Setengah mati ingin kubilang
Jika ada nada baru 'tuk nyanyikan lagu cinta
Aku kan bernyanyi
Aku kan bernyanyi
Jika ada kata yang belum dicipta oleh pujangga
Aku kan bersuara
Aku kan bersuara
Saat semua resah meluluh sayapnya
Saat yang yang kumiliki hanya nafas ini
Sekaranglah itu
Beginilah aku
Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang
Jika mampu kubawa engkau menembus ruang dan waktu
Kuingin pergi
Percuma di sini
Jika mampu ku menyatu dalam darahmu, dalam nadimu
Agar engkau tahu
Agar engkau tahu
Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku
Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang
Apa yang kurasakan
Apa yang kau dengarkan
Bukan lagu cinta
Lebih dari semua
Bukan lagu cinta
Semua lagu cinta
Bukan lagu cinta
(Bukan Lagu Cinta - Marcell)
Aku ingin tahu
Jika ada cara yang belum dicipta untuk cinta
Aku ingin bisa
Aku ingin bisa
Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku
Berdiam tanpa daya hanya karena kehadiranmu
Sementara jiwaku ingin berseru
Setengah mati ingin kubilang
Jika ada nada baru 'tuk nyanyikan lagu cinta
Aku kan bernyanyi
Aku kan bernyanyi
Jika ada kata yang belum dicipta oleh pujangga
Aku kan bersuara
Aku kan bersuara
Saat semua resah meluluh sayapnya
Saat yang yang kumiliki hanya nafas ini
Sekaranglah itu
Beginilah aku
Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang
Jika mampu kubawa engkau menembus ruang dan waktu
Kuingin pergi
Percuma di sini
Jika mampu ku menyatu dalam darahmu, dalam nadimu
Agar engkau tahu
Agar engkau tahu
Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku
Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang
Apa yang kurasakan
Apa yang kau dengarkan
Bukan lagu cinta
Lebih dari semua
Bukan lagu cinta
Semua lagu cinta
Bukan lagu cinta
(Bukan Lagu Cinta - Marcell)
Thursday, July 26, 2018
Terjadilah....
Sebetulnya sudah tahu, bahwa memang tidak akan ke mana-mana
Merasa ada sinar di ujung terowongan
Yang meski jauh, tapi layak ditunggu, layak diperjuangkan
Apa benar ada sinar itu?
Atau hanya ilusi semata?
Halusinasi
Jadi memang sudah tahu, sebenarnya
Hanya berusaha menghindar
Melawan yang nyata
Karena memang rasa tidak bisa ditawar
Ya sudah. Ini pun akan berlalu
Ini... pasti berlalu
Seperti juga yang dulu-dulu.
Merasa ada sinar di ujung terowongan
Yang meski jauh, tapi layak ditunggu, layak diperjuangkan
Apa benar ada sinar itu?
Atau hanya ilusi semata?
Halusinasi
Jadi memang sudah tahu, sebenarnya
Hanya berusaha menghindar
Melawan yang nyata
Karena memang rasa tidak bisa ditawar
Ya sudah. Ini pun akan berlalu
Ini... pasti berlalu
Seperti juga yang dulu-dulu.
Thursday, May 31, 2018
You
Knowing that you are there, safe and sound, already makes me happy. Talking to you will always brighten up my day. You are indeed my matahari.
Monday, May 28, 2018
Friday, May 25, 2018
A Birthday Note
May 25th, 2018
Happy birthday, to you
The one who hold my heart dearly
Whose eyes were always spark
With the best smile I ever encountered
Wish you nothing but the best
With lots of sugar & spice on your path
I know you will fly higher
Embracing many new things life offers.
And I will hold on to the love in my heart.
PS: And thank you so much.
Happy birthday, to you
The one who hold my heart dearly
Whose eyes were always spark
With the best smile I ever encountered
Wish you nothing but the best
With lots of sugar & spice on your path
I know you will fly higher
Embracing many new things life offers.
And I will hold on to the love in my heart.
PS: And thank you so much.
Thursday, May 24, 2018
Berita Duka
Bbrp hari terakhir di medsos, teman2 kantor lama menampilkan berita duka. Seseorang yg kehilangan putrinya. Nama yg kehilangan itu nggak gue inget sama sekali. Jadi agak lama juga gue berusaha mencerna. Itu siapa yg mana ya? Baru semalam paham bahwa mbak itu adalah teman yang pernah satu lantai. Tp krn pertemanan kami tdk intens, jadi ya gitu2 aja. Ikut berduka, tetep. Bagaimana pun, kehilangan anak adalah hal yg luar biasa berat.
Sementara itu, di grup chat teman kuliah rame banget ada anak yang bunuh diri. Loncat dari lt 33 apartemen. Karena nggak bisa pelajaran Bahasa Mandarin. Makanya guru2 Mandarin pada prihatin. Apa iya gara2 itu? Tuhanku... kok gampang sekali mengakhiri hidup. Pdh dunia ini begitu indahnya....
Jadi tadi pagi pas jalan ke sekolah... berusaha ngobrol sm Aria soal ini. Gimana kalau ada masalah... hadapi... jangan mudah putus asa dll.... Kerasa deh tanggung jawab berat banget jadi orang tua....
Dua berita di atas itu cukup bikin gue goncang. Trus... sampai di kantor gue tahu bahwa dua berita itu berhubungan. Yup. Anak yg loncat itu adalah putrinya teman kantor lama gue. Sedih banget. Lalu setelah gue dapat nickname teman gue itu... gue pun ingat lagi yg mana dia... dan rasanya saat itu dada gue bolong besar saking sedihnya.
Gue kenal Atie adalah anak yg ceria dan selalu gembira. Sama lah modelnya spt teman2 gue lain yg kadang edan kadang waras seringnya amburadul. Yg memandang hidup dgn seru dan berani. Dia menunggu kehadiran anaknya itu cukup lama. Bayangkan bahagianya ketika akhirnya ia punya Leialoha. Kalau nggak salah, lahirnya di Hawaii. Anak itu tumbuh menjadi anak yg santun dan manis. Teman2 yg sering ketemu di kantor mengingat dia sebagai anak penurut yg mandiri.
Gue bayangkan interaksi Atie ke anaknya mirip2 dgn interaksi gue ke anak gue. Ibu dan anak tunggal yg punya bonding kuat. Dan mengingat Atie... rasanya dia mencintai anaknya sebesar gue mencintai Aria.Tentunya dia juga akan membekali anaknya dengan nilai2 yg baik, menyekolahkannya di tempat yg terbaik, memberikan semua fasilitas terbaik buat kesayangannya itu. Gue percaya sekali, seharusnya Atie dan anaknya bahagia.
Dan... anak itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri setelah 14 tahun menjadi permata yg begitu berharga.
Rest in peace, little girl.
Ini adalah hari puasa yg paling sedih. Sungguh gue mewek.
PS: So, you... this is really not a good time to discuss about the guru. I don't think I can handle anything more at the moment.
Sementara itu, di grup chat teman kuliah rame banget ada anak yang bunuh diri. Loncat dari lt 33 apartemen. Karena nggak bisa pelajaran Bahasa Mandarin. Makanya guru2 Mandarin pada prihatin. Apa iya gara2 itu? Tuhanku... kok gampang sekali mengakhiri hidup. Pdh dunia ini begitu indahnya....
Jadi tadi pagi pas jalan ke sekolah... berusaha ngobrol sm Aria soal ini. Gimana kalau ada masalah... hadapi... jangan mudah putus asa dll.... Kerasa deh tanggung jawab berat banget jadi orang tua....
Dua berita di atas itu cukup bikin gue goncang. Trus... sampai di kantor gue tahu bahwa dua berita itu berhubungan. Yup. Anak yg loncat itu adalah putrinya teman kantor lama gue. Sedih banget. Lalu setelah gue dapat nickname teman gue itu... gue pun ingat lagi yg mana dia... dan rasanya saat itu dada gue bolong besar saking sedihnya.
Gue kenal Atie adalah anak yg ceria dan selalu gembira. Sama lah modelnya spt teman2 gue lain yg kadang edan kadang waras seringnya amburadul. Yg memandang hidup dgn seru dan berani. Dia menunggu kehadiran anaknya itu cukup lama. Bayangkan bahagianya ketika akhirnya ia punya Leialoha. Kalau nggak salah, lahirnya di Hawaii. Anak itu tumbuh menjadi anak yg santun dan manis. Teman2 yg sering ketemu di kantor mengingat dia sebagai anak penurut yg mandiri.
Gue bayangkan interaksi Atie ke anaknya mirip2 dgn interaksi gue ke anak gue. Ibu dan anak tunggal yg punya bonding kuat. Dan mengingat Atie... rasanya dia mencintai anaknya sebesar gue mencintai Aria.Tentunya dia juga akan membekali anaknya dengan nilai2 yg baik, menyekolahkannya di tempat yg terbaik, memberikan semua fasilitas terbaik buat kesayangannya itu. Gue percaya sekali, seharusnya Atie dan anaknya bahagia.
Dan... anak itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri setelah 14 tahun menjadi permata yg begitu berharga.
Rest in peace, little girl.
Ini adalah hari puasa yg paling sedih. Sungguh gue mewek.
PS: So, you... this is really not a good time to discuss about the guru. I don't think I can handle anything more at the moment.
Monday, April 30, 2018
Orang Baik
Beberapa hari yg lalu, di wa group kantor beredar pesan soal charity yg dibuat salah satu kontributor. Jadi mas kontrib ini anaknya sakit, perlu MRI. Kalau nunggu antrian BPJS, baru bisa dikerjakan bbrp bulan dari skrg. Padahal, kondisi anaknya perlu segera. Lewat jalur swasta, perlu sekitar 9 juta. Duit dari mana? Jadi dia bikin semacam charity, jualan dimsum. Ada keuntungan yg disisihkan untuk tabungan MRI.
Ketika gue sebarkan ke wa group tim kecil, responnya lumayan menarik. Selain ada yg pesan dimsum, ada juga yg mau langsung sumbang uang saja. Antusiasme tim kecil ini kok membuat gue semangat... menyebarkan berita itu ke grup2 lain yg ada di hp gue.Ada sekitar 4 group, plus beberapa orang yg gue japri soal dimsum charity ini.
Respon awal adalah: "Ini orangnya lo kenal baik kan?"
Yg hanya perlu gue validasi: iya. Ini bukan hoax. Udah gitu doang... Ada yg habis itu langsung pesan dimsum bbrp pack. Ada yg langsung transfer uang ke rekening mas kontrib. Menyenangkan ya.
Menyenangkan bahwa gue kenal orang2 baik. Mereka membantu tanpa tanya macem2 yg rumit. Asal bukan tipu2... sudah.... Pdh beberapa orang di wa group itu ada yg sdh nggak ketemu gue 10 tahun. Ada juga yg hanya pernah ketemu sekali... kira2 9 tahun silam. Tp krn kami di group yg sama, dia merasa bisa percaya judgment gue. Dan ikut membantu juga. Kerennya, sebagian besar orang2 itu nggak mau disebutkan namanya. Mereka hanya mau bantu. Sudah.
Sedikit2 lama2 jadi bukit. Dari jumlah nominal yg masuk memang variatif, kecil besarnya... relatif. Tapi dalam semalam, terkumpul 9 juta. Mudah banget. Nggak perlu bertele2... Mas kontrib bisa segera membawa anaknya MRI. Semoga sakitnya bisa segera ditangani.
Sampai skrg, gue masih takjub dgn keajaiban wa group. Juga bahwa gue selalu dikelilingi banyak sekali orang2 baik, yg masih peduli, masih mau membantu dgn segera. Alhamdulillah. Semoga mereka diberi rejeki berlipat ganda oleh Allah SWT. Aamiin.
Ketika gue sebarkan ke wa group tim kecil, responnya lumayan menarik. Selain ada yg pesan dimsum, ada juga yg mau langsung sumbang uang saja. Antusiasme tim kecil ini kok membuat gue semangat... menyebarkan berita itu ke grup2 lain yg ada di hp gue.Ada sekitar 4 group, plus beberapa orang yg gue japri soal dimsum charity ini.
Respon awal adalah: "Ini orangnya lo kenal baik kan?"
Yg hanya perlu gue validasi: iya. Ini bukan hoax. Udah gitu doang... Ada yg habis itu langsung pesan dimsum bbrp pack. Ada yg langsung transfer uang ke rekening mas kontrib. Menyenangkan ya.
Menyenangkan bahwa gue kenal orang2 baik. Mereka membantu tanpa tanya macem2 yg rumit. Asal bukan tipu2... sudah.... Pdh beberapa orang di wa group itu ada yg sdh nggak ketemu gue 10 tahun. Ada juga yg hanya pernah ketemu sekali... kira2 9 tahun silam. Tp krn kami di group yg sama, dia merasa bisa percaya judgment gue. Dan ikut membantu juga. Kerennya, sebagian besar orang2 itu nggak mau disebutkan namanya. Mereka hanya mau bantu. Sudah.
Sedikit2 lama2 jadi bukit. Dari jumlah nominal yg masuk memang variatif, kecil besarnya... relatif. Tapi dalam semalam, terkumpul 9 juta. Mudah banget. Nggak perlu bertele2... Mas kontrib bisa segera membawa anaknya MRI. Semoga sakitnya bisa segera ditangani.
Sampai skrg, gue masih takjub dgn keajaiban wa group. Juga bahwa gue selalu dikelilingi banyak sekali orang2 baik, yg masih peduli, masih mau membantu dgn segera. Alhamdulillah. Semoga mereka diberi rejeki berlipat ganda oleh Allah SWT. Aamiin.
Friday, April 27, 2018
Remaja Jaman Now, WTF & Sekolah Kehidupan
Minggu lalu, Aria dan sekolahnya outing ke Trawas, Jawa Timur. Perjalanan ini sudah diinformasikan sejak awal Aria masuk Mentari. Jadwal mereka sudah jelas: kelas 7 ke Bali, kelas 8 ke Trawas, kelas 9 ke Padang. Bukan perjalanan yang wajib. Tapi kalau bisa, kenapa enggak? Dan mendengar dari teman2 yg anaknya pernah ikut, field trip ke Trawas ini akan jadi the most memorable one.
Baiklah. Pergilah anakku dengan kecemasan, "Menurut kakak kelas, di sana sinyalnya jelek!"
Hahahahaha... dasar anak jaman now.
Gue bukan model ibu2 yg cemas sama anak, trus menelepon sehari 10 kali. Mungkin malah gue termasuk yg cuek. Guru2 juga cukup pengertian terhadap emak2 (yg kepo maupun yg tidak), jadi mereka bikin grup wa, dan setiap malam secara berkala jam 20.00 akan mengirim foto kegiatan anak2 seharian itu ngapain aja. 100 anak, 100+ foto. Seru amat grup ini. Tentu nggak semua akan dpt foto close up, jadi para emak (apalagi yang sudah pakai kacamata plus macam gue) harus siap nyungir2 nyari wajah anaknya.
Aria cukup sering tampil di foto2 itu. Semua dgn wajah semringah, senyum lebar pipi gembul yg anak gue banget :D Foto dia ngasih makan kambing, masak di dapur, main ke air terjun, nyemplung di sawah... semua ada. Anak gue terlihat bahagia (dan nggak peduli soal sinyal). Banyak foto yg dia sedang sama geng cewek2. Ada pula yg macam tercyduk di tengah sawah sama Alika. Panas koncrang nggak peduli, tetep bahagia, ketawa2. Nggak mungkin terjadi kalau perginya sama ibu... Hahaha....
Dan memang Aria cukup bersenang2 selama di Trawas. Ceritanya banyak. Dan seperti biasa anak cowok, ceritanya nggak langsung... tapi sedikit2... jadi sepanjang akhir minggu, cerita Trawas ini ada di mana2....
Nah... yg menarik memang imbas gaul2 sama remaja seumuran dalam waktu lama. Dgn gampang... bisa terbawa ke pergaulan temannya. Peer pressure. Hmm... mungkin skalanya masih biasa aja krn objeknya tidak bahaya utk press pressure kali ini. Apa itu? We the fest, alias WTF. Festival musik Gen Z.
Festival musiknya sih ok. Dan mengingat Aria juga diarahkan ke hal-hal yg musikal, mungkin perlu juga nonton ini. Yg nggak ok adalah harga tiketnya. Dan nggak mungkin gue lepas sendirian kan anak SMP itu? Mau nggak mau... akhirnya lebih baik nggak diizinkan.
"Tunggu sampai kamu SMA,"
Apakah mempan? Tentu tidak. Hahahaha....
Aria sebetulnya bisa beli tiket WTF dgn nabung uang sakunya. Tapi buat gue... masalahnya bukan (cuma) itu.... Kok cemas juga ya membiarkan anak gue itu ada di sebuah lokasi yg sangat luas tanpa ada yg jelas bisa tanggung jawab. Aria? Halah... sepatu aja suka berceceran.... kayaknya memang belum bisa dikasih tanggung jawab mengatur diri sendiri. Jadilah harus berjibaku mencari cara untuk menenangkan dan mengalihkan pikiran si ABG ini dari WTF.
Gue inget dulu itu seumur dia, gue juga pengen nonton NKOTB. Atau Rick Astley. Atau siapa lagi ya musisi jaman old.... hahaha.... Akhirnya nggak nonton juga. Ya iyalah krn nggak punya duit. Minta bokap? Bisa dipentung. Dan yg gue ingat, temen2 gue anak Menteng yg pada nonton itu... akhirnya skrg juga biasa aja kok. Nggak jadi lebih sukses atau lebih berjaya. Biasa saja. Kesimpulannya: yg elu tonton di masa SMP itu efeknya nggak gitu2 amat ke kehidupan elu.
Gimana cara ngasih taunya ke Aria? Ga ada cara lain... ya udah bilang aja begitu. Gue ceritain dulu gimana. Gue pengen apa. Jadinya gimana. Trus kapan gue nonton konser pertama kali. Karena apa. Termasuk sederet kelebihan Aria sbg anak sekarang yg dibesarkan di keluarga yg (alhamdulillah) cukup.
Ngambek lah dia. Nggak mau ngomong sama ibu krn kecewa nggak boleh beli tiket WTF. Sampai akhirnya dia ikut kelas pendidikan seks di sekolah. Ada tentang fedofilia. Nah!
"Dari mana kamu bisa yakin, bahwa semua orang yg masuk WTF itu baik hatinya? Bahwa nggak ada dari mereka yg fedofil... mencari2 kesempatan untuk dapat korban? Dan kamu, buat orang2 itu adalah anak kecil. Kamu masih anak2 yg bisa mereka perdaya. For all the things in this world, one thing I am sure: I cannot afford to see you injured."
Wis.
Aria melotot (nggak sepenuhnya sih, wong matanya sipit). Tapi lalu dia diam. Trus nggak lama dia lalu ngomongin hal lain. Sejam kemudian dia minta sepatu baru. Damai pun turun di bumi.
Baiklah. Pergilah anakku dengan kecemasan, "Menurut kakak kelas, di sana sinyalnya jelek!"
Hahahahaha... dasar anak jaman now.
Gue bukan model ibu2 yg cemas sama anak, trus menelepon sehari 10 kali. Mungkin malah gue termasuk yg cuek. Guru2 juga cukup pengertian terhadap emak2 (yg kepo maupun yg tidak), jadi mereka bikin grup wa, dan setiap malam secara berkala jam 20.00 akan mengirim foto kegiatan anak2 seharian itu ngapain aja. 100 anak, 100+ foto. Seru amat grup ini. Tentu nggak semua akan dpt foto close up, jadi para emak (apalagi yang sudah pakai kacamata plus macam gue) harus siap nyungir2 nyari wajah anaknya.
Aria cukup sering tampil di foto2 itu. Semua dgn wajah semringah, senyum lebar pipi gembul yg anak gue banget :D Foto dia ngasih makan kambing, masak di dapur, main ke air terjun, nyemplung di sawah... semua ada. Anak gue terlihat bahagia (dan nggak peduli soal sinyal). Banyak foto yg dia sedang sama geng cewek2. Ada pula yg macam tercyduk di tengah sawah sama Alika. Panas koncrang nggak peduli, tetep bahagia, ketawa2. Nggak mungkin terjadi kalau perginya sama ibu... Hahaha....
Dan memang Aria cukup bersenang2 selama di Trawas. Ceritanya banyak. Dan seperti biasa anak cowok, ceritanya nggak langsung... tapi sedikit2... jadi sepanjang akhir minggu, cerita Trawas ini ada di mana2....
Nah... yg menarik memang imbas gaul2 sama remaja seumuran dalam waktu lama. Dgn gampang... bisa terbawa ke pergaulan temannya. Peer pressure. Hmm... mungkin skalanya masih biasa aja krn objeknya tidak bahaya utk press pressure kali ini. Apa itu? We the fest, alias WTF. Festival musik Gen Z.
Festival musiknya sih ok. Dan mengingat Aria juga diarahkan ke hal-hal yg musikal, mungkin perlu juga nonton ini. Yg nggak ok adalah harga tiketnya. Dan nggak mungkin gue lepas sendirian kan anak SMP itu? Mau nggak mau... akhirnya lebih baik nggak diizinkan.
"Tunggu sampai kamu SMA,"
Apakah mempan? Tentu tidak. Hahahaha....
Aria sebetulnya bisa beli tiket WTF dgn nabung uang sakunya. Tapi buat gue... masalahnya bukan (cuma) itu.... Kok cemas juga ya membiarkan anak gue itu ada di sebuah lokasi yg sangat luas tanpa ada yg jelas bisa tanggung jawab. Aria? Halah... sepatu aja suka berceceran.... kayaknya memang belum bisa dikasih tanggung jawab mengatur diri sendiri. Jadilah harus berjibaku mencari cara untuk menenangkan dan mengalihkan pikiran si ABG ini dari WTF.
Gue inget dulu itu seumur dia, gue juga pengen nonton NKOTB. Atau Rick Astley. Atau siapa lagi ya musisi jaman old.... hahaha.... Akhirnya nggak nonton juga. Ya iyalah krn nggak punya duit. Minta bokap? Bisa dipentung. Dan yg gue ingat, temen2 gue anak Menteng yg pada nonton itu... akhirnya skrg juga biasa aja kok. Nggak jadi lebih sukses atau lebih berjaya. Biasa saja. Kesimpulannya: yg elu tonton di masa SMP itu efeknya nggak gitu2 amat ke kehidupan elu.
Gimana cara ngasih taunya ke Aria? Ga ada cara lain... ya udah bilang aja begitu. Gue ceritain dulu gimana. Gue pengen apa. Jadinya gimana. Trus kapan gue nonton konser pertama kali. Karena apa. Termasuk sederet kelebihan Aria sbg anak sekarang yg dibesarkan di keluarga yg (alhamdulillah) cukup.
Ngambek lah dia. Nggak mau ngomong sama ibu krn kecewa nggak boleh beli tiket WTF. Sampai akhirnya dia ikut kelas pendidikan seks di sekolah. Ada tentang fedofilia. Nah!
"Dari mana kamu bisa yakin, bahwa semua orang yg masuk WTF itu baik hatinya? Bahwa nggak ada dari mereka yg fedofil... mencari2 kesempatan untuk dapat korban? Dan kamu, buat orang2 itu adalah anak kecil. Kamu masih anak2 yg bisa mereka perdaya. For all the things in this world, one thing I am sure: I cannot afford to see you injured."
Wis.
Aria melotot (nggak sepenuhnya sih, wong matanya sipit). Tapi lalu dia diam. Trus nggak lama dia lalu ngomongin hal lain. Sejam kemudian dia minta sepatu baru. Damai pun turun di bumi.
Subscribe to:
Posts (Atom)