Monday, January 28, 2019

I Want More

For once, finally, once in my life... I felt I was really loved.

Rasanya manis sekali kalau mengenang rasa cinta yang pernah ada. Dan sepertinya akan selalu ada. Hmm... banyak yang bilang cinta harus dipupuk, supaya lestari. Kali ini rasanya nggak perlu. Dibiarkan saja dan dia akan tetap ada di situ. Kalau mau dihilangkan... harus dibunuh. Tapi, gue nggak rela....

For once, in my life, I felt I was really loved.

Oleh orang yg tidak terduga kedatangannya. Orang yg tadinya sungguh asing... sama sekali tidak gue kenal. Tapi lalu menjadi orang yg terdekat. Mengetahui apa pun yg terjadi pada gue, bahkan sebelum gue sadar (haha... kadang ini menakutkan sih).

Tapi sungguh, merasa dicintai sebesar itu membuat gue yakin bahwa gue adalah orang yang sangat beruntung. Bayangkan, siapalah gue di antara belantara kekisruhan dunia? Tapi toh Tuhan memilih gue sbg orang yg layak merasakan cinta begitu besar. Besar sekali. Tuhan menentukan gue adalah orang yang boleh dicintai habis-habisan.... dan gue merasakannya.

For once, in my life, I felt I was really loved. Real love.

Entah apa namanya ya... keras kepala? Atau ngeyel saja... merasa melihat ada cahaya di ujung terowongan... yang panjang... sangat panjang... padahal seharusnya pertanyaannya disederhanakan: memang terowongannya ada? Jangan2 itu hanya halusinasi belaka.

But still, for once, in my life, I felt I was really loved.

Apa namanya kalau bukan cinta, yg membuat semua jadi indah belaka? Bahkan rasa sakit hati, menderita, duka tiada tara, patah hati bertubi-tubi... tetap dinikmati menjadi bagian dari perjalanan menuju kebahagiaan. Padahal... perjalanannya semu. Mungkin juga bukan perjalanan yang sebenarnya.

For once, in my life, I felt I was really loved. It was chaotic and painful, yet, if I had to, I don't mind to go through the same path again. As long as I am with you.

Monday, January 14, 2019

Draft 3

Dari jauh, senyummu terlihat mengembang. Aku melihat binar matamu. Mungkin, hal yang sama kamu lihat terjadi juga padaku ya. Mata berbinar ketika bertemu dengan yang disayang. Wajah yang seketika menjadi lebih cerah.

"Hey you...." Kecupan di dahi. Lembut. Hangat. Hal yang pernah sangat kurindukan. "So... how are you?"

Aku tidak menjawab karena kamu belum melihatku sepenuhnya. Pada waiter yang mengantarmu ke mejaku, kau mendiktekan beberapa pesanan. Udang goreng tepung. Brokoli cah jamur. Es jeruk. Pasti. Menu yang kuhapal karena sudah kau pesan ribuan kali bersamaku. Lalu kau duduk.

"Ok... how are you?" Kau ulang lagi pertanyaan itu.

Aku tersenyum.

"Oh my God... that smile, your smile...," kamu mendesah. Aku salah tingkah.
"Anything new?"

"Hmmm... how can I say this...," aku sungguh mencari kata-kata yang tepat. "Thank you for giving me the advice so I took that offer." Aku memilih menceritakan perihal pekerjaan lebih dulu.

Beberapa bulan lalu, aku mendapat tawaran ini. Tentu saja kau menjadi yang pertama kali tahu. Dan mendukung sepenuhnya. Justru aku yang ragu. Apa aku mampu? Lalu tak lama, melalui video call, karena kau sedang di negara lain,  kau ajari aku bernegosiasi. Agar tempat baru mau memberi kompensasi ini itu, termasuk beasiswa pendidikan di tempat bermutu. Jadi, kepindahanku ke tempat baru sungguh sangat menguntungkan kedua belah pihak. Dan kau benar, aku sangat menikmati pekerjaan ini. Menyenangkan.

"See... they should value you more. Aku senang kalau kamu lebih gembira sekarang."
"Tapi pekerjaannya banyak sekali, membuatku sulit bernapas."
"Ya... itulah perusahaan rintisan... di mana-mana akan seperti itu."

Lalu kau ceritakan pengalamanmu. Di perusahaan Jepang. Perusahaan Jerman. Perusahaan Inggris. Seru. Berbincang denganmu selalu menambah pengetahuan. Kamu memang selalu seperti ensiklopedia berjalan.

Aku ingat ketika pertama kali mengenalmu. Kapan ya itu? 14 tahun lalu?
Tiba-tiba namamu muncul di jendela percakapan yang baru saja aku unduh. Ahaha... ternyata kita pun "korban" dunia digital. Kamu dan aku yang tidak saling kenal pada awalnya, toh akhirnya bisa menjadi dekat dan kemudian bersama-sama melangkah.

Masa awal mengenalmu, aku kau buat jatuh hati habis-habisan. Bagaimana tidak? Kau seperti sumber ilmu yang tidak ada habisnya. Apa saja yang kau ketahui? Ketika aku kebingungan mencari materi untuk sebuah tulisan tentang kesehatan, kau datang dengan ide dan masukan yang sangat berguna. Ah.... Ide tulisan hanya satu saja dari kelebihanmu. Yang lain? Masih banyak! Dari urusan pekerjaan hingga pengasuhan anak. Atau masalah bos lemes dan kolega gembel... semua seperti bisa kau bereskan. Termasuk mengajakku menjadi lebih relijius mendalami agama.

Sungguh membuatku benar-benar terpikat.

Tapi memang rupanya, kau bukan untukku. Rasanya seperti disambar petir ketika mendengarmu ternyata pada akhirnya tidak memilih aku. Hmm... aku bukan orang yang suka memaksa. Kalau kamu memang tidak mau, ya tidak apa-apa.... Aku kecewa? Tentu saja. Tapi siapa pun yang kau pilih, aku bisa apa?

Herannya, kamu seolah enggan beranjak. Kamu tetap hadir, meski secara fisik tak lagi sesering dulu. Kamu tetap mengirim bunga di saat-saat istimewa. Kamu tetap memberi kejutan-kejutan sebagai penggembira, meski tidak hadir secara nyata. Dan... kamu tetap cemburu ketika aku dekat dengan seseorang. Maksudmu apa?

"Will you leave me?"
"As you wish."
"Tapi kok datang lagi?"
"Nggak boleh?"

Tapi sepertinya, kali ini harus berbeda. Harus ada grand closure. Karena kita tahu, yang kita lakukan tidak akan ada ujungnya. Dan hanya semakin menyakitkan hati saja. Lalu kau pun memenuhi permintaanku untuk berjumpa. Tanpa kau tahu, aku merencanakan bahwa inilah pernjumpaan terakhir kita.

"And how is life?" Sepertinya kamu tahu bahwa aku akan menceritakan sesuatu.
"Life is good."
"In terms of...."
"I met someone."
"Oh... ok...."
"And I think I like him."
"You think?"
"He helped me solve some problems at new office."
"Hmm...."
"And he knows everything... he has answers to all of my questions."
"Hmm...."
"Romantic in his own way. Caring and so on."
"Ok... so... those flowers... those were from him?"
"Haha... lihat di Instagram, ya? Isn't that cute? You used to be the one sending me flowers, and now he continues what you did...."

Aku tiba-tiba teringat bunga-bunga yang kau kirim ke kantor. Bertubi-tubi. Membuatku merasa jadi perempuan paling penting di dunia. Menjadi yang paling dicinta. Harus aku akui, rasa itu masih sama. Tapi aku tahu, perasaan itu harus aku bunuh perlahan.

"Do you meet him regularly?"
"Nope. He works in remote area. Somewhere in the east. We always joke that he lives a life of Crocodile Dundee. He is only able to go home once in every other month and he needs to divide the break time he has between visiting me and visiting his sons."
"Seems familiar...."
"Yeah... you know... the life of a site engineer..."
"Been there, done that."
"What? The work? Or the date?
"Both...."
"Hehehe... I knew. He is just like you.... years ago.... Still remember the midnite driving, huh?"
"And those stops at a coffee joint? How can I forget that?"
"Those were our past...."
"Those were proof of love."
"Still...."
"Hmmm...."
"But seriously, I am thinking of trying to make this work with him."
"Maksudmu?"
"Yaaaa.... aku mau coba... untuk memikirkan ini secara serius."
"Did he propose?"
"Ah... ya belum...."
"He will...."
"Maybe...."
"You already decided...."
"I did."

Kamu hanya menatap. Aku tidak mau melihat luka di matamu. Tahukah kamu jika aku pun susah payah menyembunyikan luka hatiku? Sudah cukup. Ini saatnya aku melanjutkan perjalananku. Tanpa kamu. Ini tidak ada hubungannya dengan rasa yang kupunya untukmu. Aku hanya ingin melangkah.

"So, what do you want from me?"
"I think you know what to do."
"Boleh nggak sih, berlagak bego saja?"
"Jangan. Nanti bego beneran."

Lalu kita tertawa bersama. Menertawai luka di hati kita masing-masing. Luka yang mungkin tak tersembuhkan. Yang sakitnya justru kita nikmati sebagai milik kita yang berharga. Bukti cinta yang tiada habisnya. Tapi kupikir, aku juga perlu memberi diriku kesempatan lain. Dan kupikir, juga kurasa, dia adalah orang yang tepat untuk diberi kesempatan.





Friday, January 04, 2019

I Raised Him Right (Hopefully)

Jadi... anak semata wayang itu sudah mau masuk SMA tahun ini. Time does flies when we had fun....

Seperti juga ketika mau masuk SMP... dia pilih sendiri sekolahnya. Tadinya pengen masuk SMA 2 Serpong. Lihat saingannya... pedih. Trus masih penasaran mau masuk Labschool Kebayoran. Ya itu sih selain saingannya dari seluruh dunia juga jauh banget dari rumah. Mau berangkat jam berapa? Lalu cek SMA 3.... hmm... hmm... sambil berjalan kok melihat bahwa Aria bukan tipe "anak negeri." Dia beda banget sama gue, atau kakak gue, atau adik gue. Kami2 ini merasa anak sekolah negeri yg lumayan. Hahaha.... Tapi bener nggak sih... sekolah negeri itu kan identik dengan siswa yang banyak... guru yg sedikit. Siswa harus aktif dan tekun belajar. Paling nggak bisa mengatur dirinya sendiri. Iya nggak? Atau paling nggak punya orang tua yg bawel ngaturin dan nungguin anak belajar. Yang... tidak dipunyai oleh Aria.

Akhirnya, dengan segala pertimbangan perdamaian dan kegembiraan... pilihan SMA adalah Sekolah Cikal Serpong.

Sempat ragu krn tahun ini baru angkatan pertama. Murid sedikit. Tapi lalu mikir... ya anak skrg juga banyak kok yg homeschooling. Ya sudah. Mari mendaftar (dan membayar).

Ternyata ada beberapa tes yg hrs dilewati sebelum Aria bisa diterima sebagai siswa SMA Cikal Serpong. Pertama, dia hrs psikotest dulu utk tahu kesiapan dia menjadi murid SMA. Lalu setelah itu ada assessment test, Matematika dan Bahasa Inggris. Dan terakhir adalah presentasi tentang passion, lalu wawancara orang tua.

Alhamdulillah semua test berhasil dilampaui anak ganteng kesayanganku itu. Meskipun dia cranky luar biasa sebelum presentasi... ternyata menurut kepsek, he did great. Alhamdulillah. Gue memang ga tahu apa yang dia presentasikan. Hanya pernah dia kasih tahu bahwa dia akan cerita tentang Film The Greatest Showman. Okay.

Untuk wawancara orangtua, Aria wanti2 bahwa yg datang adalah ibu dan papap. Ayah tidak usah. Oke nak... as you wish.... Nah... waktu wawancara inilah yg ternyata membuat gue nggak berhenti bersyukur. Jadi wawancara hanya dengan orangtua, anak tidak dihadirkan. Saat itu kepsek mendiskusikan rencana Aria, dan mempelajari apa yang bisa dibantu sekolah untuk mengembangkan, tentunya dgn dukungan orangtua.

Menyenangkan ya mendengar bu kepsek ini menilai bahwa Aria cukup mature, cukup cerdas, pendek kata cukup oke, dan tahu apa yang dia mau. Hal yang selama ini jarang gue lihat krn di mata gue dia akan selalu jadi my baby.

Menurut bu kepsek, Aria bisa identifikasi dirinya dengan baik. Dia paham kekurangannya yang tidak suka pelajaran hafalan dan bisa bilang "I know I am lazy." Tapi dia juga tahu bahwa "I want to be an actor who appear on silverscreen." Ohohoho.... Meskipun dia juga mempertimbangkan ingin menjadi arsitek. Tapi kok ya nggak ada sisa2 darah ayahnya yg akademisi dan sangat eksakta....

Lalu dia sempat menceritakan hubungan dengan ayahnya, yang menurutnya "biasa saja." "I don't think I missed anything even though I only meet him once a year." Membayangkan bahwa anak yang sampai skrg masih suka cranky bisa bilang begitu kok rasanya wooowowowow.....

Kenyataan bahwa nilai2 assessment test Aria cukup baik, lalu presentasi yang menarik (menurut bu kepsek), dan jawaban2 dia yg lumayan... I know I raised him right. Alhamdulillah. Di tengah segala kekurangan dan keterbatasan, ketiadaan ayah kandung, dan macam2 halang rintang yang terjadi... alhamdulillah anak gue baik2 saja.

Gue berharap (dan berdoa) Aria akan selalu menjadi orang yg bahagia. Aamiin.

Friday, December 28, 2018

Draft 2

Where are you?

Why do you need to know?

Will you tell me?

Why?

Just do, please....

Are you here?

Hmm....

Are you?

Here? Where?

My place....

Are you there?

Hmm....

Where are you?

Where are you?

I am here.

*sound of door knocking*


Wednesday, November 21, 2018

Still Hoping... Wishful Thinking

99 Years

Boy meets girl and the world stops turning
She makes him forget all the rules he was learning
They give a toast to the ones who never stop hoping
With not much to lean on eyes wide open
And they look up high and wonder what the future's gonna hold

Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"

So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that, 
At 99 years like that

They build a house of love in the face of worry
But life has a way of rewriting the story
There were times when it looked like nothing could save them
And there were times when it looked like nothing could break them
They keep promising each other what the future's gonna hold

Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed and we cried and our love grew stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"

So let's look forward to you and I looking back
To 99 years

Of nothing unspoken
Live every day hoping
That when we feel broken
Our scars make us golden
Still choose you and I

Will we look back down on 99 years of a wonderful life?
Where we laughed till we cried and our love was stronger with every fight
There'll be a thousand moments for you to say "I told you"
And a million more for us to say "I love you"

So let's look forward to you and I looking back
At 99 years like that
Oh, at 99 years like that
At 99 years like that

(Josh Groban & Jennifer Nettles)

Wednesday, September 19, 2018

Yes or No

Jika ada cara baru 'tuk mengungkap rasa rindu
Aku ingin tahu

Jika ada cara yang belum dicipta untuk cinta 
Aku ingin bisa
Aku ingin bisa

Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku

Berdiam tanpa daya hanya karena kehadiranmu
Sementara jiwaku ingin berseru
Setengah mati ingin kubilang

Jika ada nada baru 'tuk nyanyikan lagu cinta
Aku kan bernyanyi
Aku kan bernyanyi

Jika ada kata yang belum dicipta oleh pujangga
Aku kan bersuara
Aku kan bersuara

Saat semua resah meluluh sayapnya
Saat yang yang kumiliki hanya nafas ini
Sekaranglah itu
Beginilah aku

Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang

Jika mampu kubawa engkau menembus ruang dan waktu
Kuingin pergi  
Percuma di sini

Jika mampu ku menyatu dalam darahmu, dalam nadimu
Agar engkau tahu
Agar engkau tahu

Saat semua kata kehilangan makna
Dan saat segala upaya terasa hampa
Sekaranglah itu
Beginilah aku

Hanya detak jantungku yang mampu jujur kepadamu
Sementara lidahku beku dan kelu
Setengah mati ingin menghilang

Apa yang kurasakan
Apa yang kau dengarkan
Bukan lagu cinta
Lebih dari semua 
Bukan lagu cinta

Semua lagu cinta
Bukan lagu cinta

(Bukan Lagu Cinta - Marcell)

Thursday, July 26, 2018

Terjadilah....

Sebetulnya sudah tahu, bahwa memang tidak akan ke mana-mana
Merasa ada sinar di ujung terowongan
Yang meski jauh, tapi layak ditunggu, layak diperjuangkan

Apa benar ada sinar itu?
Atau hanya ilusi semata?
Halusinasi

Jadi memang sudah tahu, sebenarnya
Hanya berusaha menghindar
Melawan yang nyata
Karena memang rasa tidak bisa ditawar

Ya sudah. Ini pun akan berlalu
Ini... pasti berlalu
Seperti juga yang dulu-dulu.

Thursday, May 31, 2018

You

Knowing that you are there, safe and sound, already makes me happy. Talking to you will always brighten up my day. You are indeed my matahari.

Monday, May 28, 2018

I Miss You

Absolutely. I do.

Friday, May 25, 2018

A Birthday Note

May 25th, 2018

Happy birthday, to you
The one who hold my heart dearly
Whose eyes were always spark
With the best smile I ever encountered
Wish you nothing but the best
With lots of sugar & spice on your path

I know you will fly higher
Embracing many new things life offers.

And I will hold on to the love in my heart.





PS: And thank you so much.




Thursday, May 24, 2018

Berita Duka

Bbrp hari terakhir di medsos, teman2 kantor lama menampilkan berita duka. Seseorang yg kehilangan putrinya. Nama yg kehilangan itu nggak gue inget sama sekali. Jadi agak lama juga gue berusaha mencerna. Itu siapa yg mana ya? Baru semalam paham bahwa mbak itu adalah teman yang pernah satu lantai. Tp krn pertemanan kami tdk intens, jadi ya gitu2 aja. Ikut berduka, tetep. Bagaimana pun, kehilangan anak adalah hal yg luar biasa berat.

Sementara itu, di grup chat teman kuliah rame banget ada anak yang bunuh diri. Loncat dari lt 33 apartemen. Karena nggak bisa pelajaran Bahasa Mandarin. Makanya guru2 Mandarin pada prihatin. Apa iya gara2 itu?  Tuhanku... kok gampang sekali mengakhiri hidup. Pdh dunia ini begitu indahnya....

Jadi tadi pagi pas jalan ke sekolah... berusaha ngobrol sm Aria soal ini. Gimana kalau ada masalah... hadapi... jangan mudah putus asa dll.... Kerasa deh tanggung jawab berat banget jadi orang tua....

Dua berita di atas itu cukup bikin gue goncang. Trus... sampai di kantor gue tahu bahwa dua berita itu berhubungan. Yup. Anak yg loncat itu adalah putrinya teman kantor lama gue. Sedih banget. Lalu setelah gue dapat nickname teman gue itu... gue pun ingat lagi yg mana dia... dan rasanya saat itu dada gue bolong besar saking sedihnya.

Gue kenal Atie adalah anak yg ceria dan selalu gembira. Sama lah modelnya spt teman2 gue lain yg kadang edan kadang waras seringnya amburadul. Yg memandang hidup dgn seru dan berani. Dia menunggu kehadiran anaknya itu cukup lama. Bayangkan bahagianya ketika akhirnya ia punya Leialoha. Kalau nggak salah, lahirnya di Hawaii. Anak itu tumbuh menjadi anak yg santun dan manis. Teman2 yg sering ketemu di kantor mengingat dia sebagai anak penurut yg mandiri.

Gue bayangkan interaksi Atie ke anaknya mirip2 dgn interaksi gue ke anak gue. Ibu dan anak tunggal yg punya bonding kuat. Dan mengingat Atie... rasanya dia mencintai anaknya sebesar gue mencintai Aria.Tentunya dia juga akan membekali anaknya dengan nilai2 yg baik, menyekolahkannya di tempat yg terbaik, memberikan semua fasilitas terbaik buat kesayangannya itu. Gue percaya sekali, seharusnya Atie dan anaknya bahagia.

Dan... anak itu memilih mengakhiri hidupnya sendiri setelah 14 tahun menjadi permata yg begitu berharga.

Rest in peace, little girl.

Ini adalah hari puasa yg paling sedih. Sungguh gue mewek.




PS: So, you... this is really not a good time to discuss about the guru. I don't think I can handle anything more at the moment. 

Monday, April 30, 2018

Orang Baik

Beberapa hari yg lalu, di wa group kantor beredar pesan soal charity yg dibuat salah satu kontributor. Jadi mas kontrib ini anaknya sakit, perlu MRI. Kalau nunggu antrian BPJS, baru bisa dikerjakan bbrp bulan dari skrg. Padahal, kondisi anaknya perlu segera. Lewat jalur swasta, perlu sekitar 9 juta. Duit dari mana? Jadi dia bikin semacam charity, jualan dimsum. Ada keuntungan yg disisihkan untuk tabungan MRI.

Ketika gue sebarkan ke wa group tim kecil, responnya lumayan menarik. Selain ada yg pesan dimsum, ada juga yg mau langsung sumbang uang saja. Antusiasme tim kecil ini kok membuat gue semangat... menyebarkan berita itu ke grup2 lain yg ada di hp gue.Ada sekitar 4 group, plus beberapa orang yg gue japri soal dimsum charity ini.

Respon awal adalah: "Ini orangnya lo kenal baik kan?"

Yg hanya perlu gue validasi: iya. Ini bukan hoax. Udah gitu doang... Ada yg habis itu langsung pesan dimsum bbrp pack. Ada yg langsung transfer uang ke rekening mas kontrib. Menyenangkan ya.

Menyenangkan bahwa gue kenal orang2 baik. Mereka membantu tanpa tanya macem2 yg rumit. Asal bukan tipu2... sudah.... Pdh beberapa orang di wa group itu ada yg sdh nggak ketemu gue 10 tahun. Ada juga yg hanya pernah ketemu sekali... kira2 9 tahun silam. Tp krn kami di group yg sama, dia merasa bisa percaya judgment gue. Dan ikut membantu juga. Kerennya, sebagian besar orang2 itu nggak mau disebutkan namanya. Mereka hanya mau bantu. Sudah.

Sedikit2 lama2 jadi bukit. Dari jumlah nominal yg masuk memang variatif, kecil besarnya... relatif. Tapi dalam semalam, terkumpul 9 juta. Mudah banget. Nggak perlu bertele2... Mas kontrib bisa segera membawa anaknya MRI. Semoga sakitnya bisa segera ditangani.

Sampai skrg, gue masih takjub dgn keajaiban wa group. Juga bahwa gue selalu dikelilingi banyak sekali orang2 baik, yg masih peduli, masih mau membantu dgn segera. Alhamdulillah. Semoga mereka diberi rejeki berlipat ganda oleh Allah SWT. Aamiin. 


Friday, April 27, 2018

Remaja Jaman Now, WTF & Sekolah Kehidupan

Minggu lalu, Aria dan sekolahnya outing ke Trawas, Jawa Timur. Perjalanan ini sudah diinformasikan sejak awal Aria masuk Mentari. Jadwal mereka sudah jelas: kelas 7 ke Bali, kelas 8 ke Trawas, kelas 9 ke Padang. Bukan perjalanan yang wajib. Tapi kalau bisa, kenapa enggak? Dan mendengar dari teman2 yg anaknya pernah ikut, field trip ke Trawas ini akan jadi the most memorable one.

Baiklah. Pergilah anakku dengan kecemasan, "Menurut kakak kelas, di sana sinyalnya jelek!"

Hahahahaha... dasar anak jaman now.

Gue bukan model ibu2 yg cemas sama anak, trus menelepon sehari 10 kali. Mungkin malah gue termasuk yg cuek. Guru2 juga cukup pengertian terhadap emak2 (yg kepo maupun yg tidak), jadi mereka bikin grup wa, dan setiap malam secara berkala jam 20.00 akan mengirim foto kegiatan anak2 seharian itu ngapain aja. 100 anak, 100+ foto. Seru amat grup ini. Tentu nggak semua akan dpt foto close up, jadi para emak (apalagi yang sudah pakai kacamata plus macam gue) harus siap nyungir2 nyari wajah anaknya.

Aria cukup sering tampil di foto2 itu. Semua dgn wajah semringah, senyum lebar pipi gembul yg anak gue banget :D Foto dia ngasih makan kambing, masak di dapur, main ke air terjun, nyemplung di sawah... semua ada. Anak gue terlihat bahagia (dan nggak peduli soal sinyal). Banyak foto yg dia sedang sama geng cewek2. Ada pula yg macam tercyduk di tengah sawah sama Alika. Panas koncrang nggak peduli, tetep bahagia, ketawa2. Nggak mungkin terjadi kalau perginya sama ibu... Hahaha....

Dan memang Aria cukup bersenang2 selama di Trawas. Ceritanya banyak. Dan seperti biasa anak cowok, ceritanya nggak langsung... tapi sedikit2... jadi sepanjang akhir minggu, cerita Trawas ini ada di mana2....

Nah... yg menarik memang imbas gaul2 sama remaja seumuran dalam waktu lama. Dgn gampang... bisa terbawa ke pergaulan temannya. Peer pressure. Hmm... mungkin skalanya masih biasa aja krn objeknya tidak bahaya utk press pressure kali ini. Apa itu? We the fest, alias WTF. Festival musik Gen Z.

Festival musiknya sih ok. Dan mengingat Aria juga diarahkan ke hal-hal yg musikal, mungkin perlu juga nonton ini. Yg nggak ok adalah harga tiketnya. Dan nggak mungkin gue lepas sendirian kan anak SMP itu? Mau nggak mau... akhirnya lebih baik nggak diizinkan.

"Tunggu sampai kamu SMA,"

Apakah mempan? Tentu tidak. Hahahaha....

Aria sebetulnya bisa beli tiket WTF dgn nabung uang sakunya. Tapi buat gue... masalahnya bukan (cuma) itu.... Kok cemas juga ya membiarkan anak gue itu ada di sebuah lokasi yg sangat luas tanpa ada yg jelas bisa tanggung jawab. Aria? Halah... sepatu aja suka berceceran.... kayaknya memang belum bisa dikasih tanggung jawab mengatur diri sendiri. Jadilah harus berjibaku mencari cara untuk menenangkan dan mengalihkan pikiran si ABG ini dari WTF.

Gue inget dulu itu seumur dia, gue juga pengen nonton NKOTB. Atau Rick Astley. Atau siapa lagi ya musisi jaman old.... hahaha.... Akhirnya nggak nonton juga. Ya iyalah krn nggak punya duit. Minta bokap? Bisa dipentung. Dan yg gue ingat, temen2 gue anak Menteng yg pada nonton itu... akhirnya skrg juga biasa aja kok. Nggak jadi lebih sukses atau lebih berjaya. Biasa saja. Kesimpulannya: yg elu tonton di masa SMP itu efeknya nggak gitu2 amat ke kehidupan elu.

Gimana cara ngasih taunya ke Aria? Ga ada cara lain... ya udah bilang aja begitu. Gue ceritain dulu gimana. Gue pengen apa. Jadinya gimana. Trus kapan gue nonton konser pertama kali. Karena apa. Termasuk sederet kelebihan Aria sbg anak sekarang yg dibesarkan di keluarga yg (alhamdulillah) cukup.

Ngambek lah dia. Nggak mau ngomong sama ibu krn kecewa nggak boleh beli tiket WTF. Sampai akhirnya dia ikut kelas pendidikan seks di sekolah. Ada tentang fedofilia. Nah!

"Dari mana kamu bisa yakin, bahwa semua orang yg masuk WTF itu baik hatinya? Bahwa nggak ada dari mereka yg fedofil... mencari2 kesempatan untuk dapat korban? Dan kamu, buat orang2 itu adalah anak kecil. Kamu masih anak2 yg bisa mereka perdaya. For all the things in this world, one thing I am sure: I cannot afford to see you injured."

Wis.

Aria melotot (nggak sepenuhnya sih, wong matanya sipit). Tapi lalu dia diam. Trus nggak lama dia lalu ngomongin hal lain. Sejam kemudian dia minta sepatu baru. Damai pun turun di bumi.




Tuesday, March 13, 2018

Menulis & Membaca

Sudah lama banget nggak nulis2 yg bener nih. Padahal di bio IG bilangnya love to read, love to write. Buktinya manaaaaa.... Banyak banget alasannya. Hahaha.. apa sebaiknya mulai menuliskan alasan?

Entah kenapa, susah banget menemukan waktu buat membaca. Kayaknya dulu itu baca bisa kapan aja di mana aja, nggak duli sekeliling. Bisa baca buku setebal apa pun, dengan segera. Cap cus. Sekarang... kok gadget lebih menarik?

Dulu juga sering nulis2 di mana2. Catatan kecil, update blog, atau notes ini itu di mana2. Sekarang... nulis status aja kadang iya kadang enggak.

Wahai aku... ada apakah gerangan?

Mungkin gue harus puasa gadget kali ya. Sabtu Minggu ini? Coba ah. Siapa tahu jadi sesuatu.



Wednesday, February 21, 2018

Mencari Renjana

Tibalah gue pada saat anak gue bukan lagi anak kecil lucu yang bisa gue dandanin sesuka gue pakai baju warna kuning dan sepatu orange. Dia sudah besar. Dan skrg sedang dalam masa, "Aku mau jadi apa ya?"

Gue sedang berusaha untuk membuat dia nggak terpaku harus jadi ini atau jadi itu. Gue pengen sekali Aria melakukan apa pun yg ia suka (selama di jalan yg benar & sewajarnya). Dia sepertinya belum yakin betul tentang apa yang dia suka. Ya... tugas gue menggali renjana yg dia punya.

Gue sih merasa dia cukup sensitif untuk suara dan bunyi. Jadi sejak kecil sebetulnya dia sudah gue arahkan ikut les musik. Biola, sempat setahun lebih. Lalu berhenti karena gurunya diganti dan dia nggak cocok sama gurunya, dan pihak sekolahnya gemblung banget bikin emosi urusan ganti2 guru ini. Jadi pindah ke piano. Agak lumayan. Sudah 2 tahun. Kemarin sempat mau mogok, tapi lalu bisa dimotivasi lagi. Karena sebetulnya bukan dia nggak bisa, tapi dia malas latihan. Biasa kan... entahlah kenapa ada kata "malas" di kamus... jadi bikin kisruh aja. Haha....

Bulan lalu, gue ajak dia nonton Tulus, lalu minggu lalu kami nonton Tohpati. Supaya dia tahu bahwa ada orang2 yg sekolah dan kariernya berbeda. Tulus itu arsitek, tp lalu memilih jadi penyanyi. Dan nggak apa2 juga. Tohpati dari lulus SMA sudah tahu kalau suka musik. Jadi dia konsisten. Belajar gitar di mana2. Sukses juga. Trus di dalam konser itu juga ada orang2 yg macem2. Pemain musik pun banyak. Ditambah manager artis, stage manager, floor manager, yg ngurus penonton, dll. Dia bisa lihat bahwa semua ada yg mengerjakan. Do what you love, and be the best in it.

Dalam hidup sehari2... Aria lihat ada papap yg bisa dibilang sukses sbg arsitek. Terkenal pula (jangan sedih, sering lho kami ini disapa orang waktu jalan2. "Ini anaknya pak Ary kan?" Duh... gimana kalau jadi anaknya Ahmad Albar ya? Sorry oot). Trus gue ini kan ya nggak kusut2 amat dalam karier... sekolah bener, kerja bener.... Yg penting, papap dan gue sama2 menunjukkan kecintaan (yg luar biasa) pada pekerjaan (atau yg dikerjakan). Mau ngasih lihat ke Aria bahwa kalau kita melakukan yg disukai, insya Allah ada rejeki yg mengikuti. Jadi contoh2 orang kantoran yg berhasil juga banyak. Mudah2an semua bisa jadi referensi bagus buat anak gue itu. Aamiin.

Perjalanan mencari renjana ini memang masih akan sangat panjang. Krn Aria juga perlu terus didorong mencoba hal2 baru. Memasak, menari hiphop, dan yg sekarang2 ini sedang mau gue carikan jalan adalah kerja sosial. Semoga memang ada yg bisa membuat dia lebih paham dirinya sendiri. Lalu bisa dikembangkan menjadi keindahan tiada tara untuk masa depannya.

Semoga juga gue yg diberi tanggung jawab membesarkan Aria bisa membimbing dia menemukan jalan hidup yg benar. Duh, doa gue nggak putus deh buat ini.

Bbrp hari lalu, dalam perjalanan di mobil kentang, tiba2 dia tanya, "Eyang itu punya uang dari mana? Kan eyang nggak kerja, tapi uangnya banyak."

"Eyang kan bikin jamu, dapat uang. Trus ada tabungan juga. Tapi, memang papap, aku, papcay... selalu kirim uang tiap bulan, buat eyang."

"Hmm... ibu... eyang kan anaknya 3, jadi yg kasih uang banyak. Uang eyang jadi banyak. Ibu karena anaknya cuma 1, jangan marah ya kalau besok uangnya sedikit."

Hahahahahahaha.... oalah nak...

Wednesday, February 14, 2018

Draft 1



Waktu aku lihat Mbok Dinar masuk rumah, setelah ibu membukakan pintu, aku tidak berpikir ada sesuatu yang penting. Jadi, aku masuk kamar dan mulai membereskan tas serta seragam sekolah untuk besok. Tapi, tak lama, ibu mengetuk pintu kamarku. 

"Adi... " Raut wajah ibu tampak aneh. Aku melihatnya antara sedih, tapi juga cemas, meski kulihat ibu berusaha tetap tenang. 

"Adi, kamu ikut Mbok Dinar ya. Ke rumah Bu Supangat. Sekarang."

"Malam-malam begini?" 

"Iya. Ikut saja. Kamu sudah ditunggu Bu Supangat." 

Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi melihat sikap Ibu, kusimpan pertanyaan itu di hati. Lagipula, ada perasaan bahwa aku sebaiknya menurut saja. Jadi tak lama, aku sudah berjalan bersama Mbok Dinar, menyusuri gang kampung yang hanya diterangi titik-titik lentera kecil di sana-sini. Kami berdua membisu. 

Rumah Bu Supangat adalah rumah besar yang terletak di pinggir jalan utama. Halamannya luas. Sering kulihat Lik Tarjo, adik bapakku, membereskan semak dan menebas ranting di halaman itu. Saat ini, di halaman ada tenda putih yang besar. Tenda yang bagus. Tapi, mengapa suasananya begitu muram? 

Mbok Dinar menemaniku masuk ke rumah. Baru kali ini aku masuk ke rumah yang begitu indah. Kursi-kursi besar yang tampak nyaman, dipinggirkan menempel ke tembok, bersisian dengan lemari-lemari berpintu kaca yang menyimpan banyak benda warna-warni. Sepertinya pajangan oleh-oleh dari luar negeri, yang fotonya sering aku lihat di majalah. Lampu gantung yang mengilap menambah keindahan ruangan. Gelaran karpet yang lebar-lebar memenuhi seluruh lantai. Tampak empuk dan nyaman. Namun, seperti di luar, di dalam ruangan pun semuanya tampak berduka. 

Aku tidak punya waktu mengagumi ruangan itu lebih lama, juga ruangan sebelahnya yang nampak lebih luas,  karena Mbok Dinar yang memegang tanganku mengajakku mendekati seorang ibu. Kulihat Mbok Dinar mengatakan sesuatu. Ibu itu segera mengangkat wajah, menatapku, dan tersenyum sedikit. Matanya yang bersedih tak bisa disembunyikan oleh senyumnya. 

"Adi? Betul, kowe Adi to? Cerita panjangnya nanti saja. Pokoke, yang jelas, mengko arep ono jenazah teka, jenazah suami Ibu. Iyo. Kuwi jenazah Pak Supangat. Dia suami Ibu, tapi dia juga ayahmu. Kewajiban kamu, sebagai anak, adalah ikut memandikan jenazahnya," suara lembut Bu Supangat seketika menyuntikkan kebingungan di kepalaku. 

Kutengok kanan dan kiri, mencari-cari wajah Mbok Dinar. Dia ada di sudut. Dengan mataku, aku bertanya, "Iki opo? Apa ini?" Mbok Dinar mengibaskan tangan. Menyuruhku tetap di tempatku berdiri. 

"Mbok, ambilkan teh hangat," kata Bu Supangat pada salah satu pembantunya. Yang disuruh segera mengambil segelas minuman dan memberikannya padaku yang masih terpaku. 

"Bapakku? Meninggal?" hatiku mendadak kacau. Otakku seperti tidak berdaya berpikir apa-apa. Bapakku di rumah tadi sepertinya baik-baik saja. Lalu ini siapa? Mengapa? Lalu aku ingat raut wajah aneh ibuku ketika tadi menyuruhku mengikuti Mbok Dinar. 

Kurasa tepukan lembut di bahuku. Bu Supangat menggandengku, bersimpuh di karpet, lalu mendudukkan aku di sisinya. Aku tidak punya pilihan selain ikut duduk. Kulihat Ibu mengambil Al Quran. Dua buah. Satu dia serahkan padaku, satu lagi dia pangku, dibuka pada halaman tertentu. Kudengar dia mulai mengaji. Aku masih bingung, tapi seperti ada sesuatu yang menggerakkan, aku mulai ikut menggumamkan ayat demi ayat, dengan pikiran yang seolah tidak pada tempatnya.

(bersambung)

    

Monday, February 05, 2018

Reaksi

Gue sekarang percaya bahwa kita memang nggak bisa kontrol tindakan orang lain. Yg bisa sepenuhnya kita atur adalah reaksi kita terhadap tingkah laku orang lain. Dan reaksi ini kalau dipikirin bener bisa menjadi sesuatu yang akhirnya menyenangkan.

Bbrp hari lalu satu jendela wa menyala di hp. Dari bapaknya anak gue. Haha.... Pernah ada masa gue menyesal nggak pernah ngruwes hidungnya. Atau ngeplak dahinya. Atau gigit tangannya.... Kapan itu ya? Bbrp saat lalu lah.... Hahahaha.... Skrg, apa rasanya? Masih ada mixed feeling. Tapi entah kenapa reaksi gue waktu lihat jendela wa menyala itu kok tenang. Mungkin krn ngantuk habis lembur semalam? Embuh. Yg jelas... gue biasa aja, (berusaha) nggak ada emosi. Jawab datar: yes, what can I do for you?

Lalu dia bilang barusan transfer untuk Aria. "Ok, thank you."

Gue kira, akan berhenti di situ saja. Tapi ternyata enggak.... Dimulai dari satu pertanyaan soal Aria, yg gue jawab biasa aja. Terus... tanya lagi yg gue jawab lagi. Terus... terus... terus.... sampai akhirnya kami ngomongin Jokowi & Ahok. Hahahaha.... Aneh? Lumayan... krn selama ini nggak kebayang akan ngomongin sesuatu dgn santai. Yg kemudian gue sadar, bisa kejadian krn gue pun santai aja jawabnya. Udah ga pakai semangat mau ngrawus lagi... hahaha....

Untuk coparenting kayaknya sih udah telat banget ya. We'll see.... hmm... belum kepikiran bisa ke sana tapi ya siapa tahu. Skrg ini bisa jadi temen aja udah cukup kok. Nggak pengen apa2 lagi. Sudah seneng.

If you ever read this, hopefully you understand how meaningful the conversation was. Thank you.

 

Thursday, February 01, 2018

Say Hello

Do you know how a morning greeting can boost your mood up?

Tuesday, January 23, 2018

The Fault is in Our Stars

You know I want you
It's not a secret I try to hide
I know you want me
So don't keep saying our hands are tied
You claim it's not in the cards
But fate is pulling you miles away
And out of reach from me
But you're here in my heart
So who can stop me if I decide
That you're my destiny?

What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You'd be the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
So why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours tonight

You think it's easy
You think I don't want to run to you
But there are mountains
And there are doors that we can't walk through
I know you're wondering why
Because we're able to be
Just you and me
Within these walls
But when we go outside
You're gonna wake up and see that it was hopeless after all

No one can rewrite the stars
How can you say you'll be mine
Everything keeps us apart
And I'm not the one you were meant to find
It's not up to you
It's not up to me
When everyone tells us what we can be
How can we rewrite the stars?
Say that the world can be ours tonight

All I want is to fly with you
All I want is to fall with you
So just give me all of you

It feels impossible
 
It's not impossible

Is it impossible?

Say that it's possible

How do we rewrite the stars?
Say you were made to be mine?
Nothing can keep us apart
Cause you are the one I was meant to find
It's up to you
And it's up to me
No one can say what we get to be
Why don't we rewrite the stars?
Changing the world to be ours


You know I want you
It's not a secret I try to hide
But I can't have you
We're bound to break and my hands are tied

Rewrite the Stars from The Greatest Showman

Friday, January 19, 2018

Rindu

Dan
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.

Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal ras.

Enak (Atau Enggak)

Barusan dengar lagunya Tulus "Pamit"... tiba2 pengen posting tulisan ini.

Jadi gue single sudah sejak 2004. Pernah punya pacar sejak kira2 tahun 2006, tapi LDR sepanjang masa pacaran. Data2 statistik ini perlu untuk menjelaskan bahwa gue hidup sendirian sudah cukup lama. Lalu? Gue lupa gimana caranya berdiskusi dengan benar sebagaimana pasangan laki2 dan perempuan.

Hahahaha....

Gue lupa caranya minta izin. Kalau pergi2... selama ini, entah itu pergi ke luar kota atau ke luar negeri, yang diberikan ke orang2 adalah sebatas pemberitahuan saja. Cuma ngasih tahu bahwa gue akan ke mana tanggal berapa. Pamit... konteksnya hanya untuk ke nyokap dan Aria. Yg ya pamit aja bye mama bye anak sayang see you later gitu. Minta izin? Hmm... yg hubungannya dgn boleh atau enggak sih udah lama banget nggak gue lakukan.... Mau ke Kendari, cek atm... masih ada duit buat tiket... cuuuusss sampai di Kendari. Mau ke Singapore over the weekend... Aria mau ikut... ya udah, beli tiket... trus langsung berangkat, sore2 udah di Marina Bay ngopi2 sambil ketawa2. Nggak ada yg dimintain izin... wong tiket juga bayar sendiri....

Nggak hanya untuk yg bentuknya pergi2... beli2 barang yg besar juga nggak pernah tanya siapa2. Beli rumah. Beli mobil. Beli berlian. Semua dilihat, dikalkulasi, dipertimbangkan, lalu dibayar sendiri kalau duitnya cukup. Kalau duitnya nggak cukup... bikin masa hitam dulu bbrp bulan... Hehe. Intinya sih semua tergantung diri sendiri. Pernah sih tanya2 ini itu sama OmD... tp ya sekadar tanya saja . He knew for sure he has no right to say anything in terms of giving any permission. Siapa eluuuuu.... hahahaha.... (cium jauh utk OmD).

Kenapa ini jadi pikiran? Karena bbrp hari lalu ada diskusi soal pembagian harta gono gini yg skrg sedang dilewati seorang teman. Oooh... iya baru sadar kalau selama ini temen gue dan suaminya mengumpulkan aset itu berdua, jadi sekarang pusing urusan bagi2 ini itu. Hmm... trus teman yg lain juga barusan mengeluh krn dilarang sama suaminya pergi ke Pulau Ora. Mahal, kata suaminya. Pdh dia bayar sendiri sih pakai gajinya sendiri... tp ya kalau suami nggak kasih izin kan nggak berani juga mau melawan... nggak boleh pula secara agama ye kaaaan....

Lucunya, akhir dari pembicaraan tadi kok intinya sama: "Enak kamu, mbak... nggak ada suami... "

Apa iya memang begitu?  

Friday, January 12, 2018

Seandainya Bisa....

Aku kehabisan cara, 'tuk jelaskan padamu
Mengapa sulit 'tuk lupakanmu
Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku 


(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku, dari sudut pandangku


Aku kehabisan cara 'tuk gambarkan padamu
Kau di mata dan di pandanganku
Seandainya satu hari bertukar jiwa
Kau akan mengerti dan berhenti bertanya-tanya


(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti bagaimana ku melihatmu

(Coba sehari saja) coba satu hari saja kau jadi diriku
(Kau akan mengerti) kau akan mengerti
Bagaimana ku melihatmu, mengagumimu, menyayangimu
 

Mengagumimu, menyayangimu
Dari sudut pandangku... dari sudut pandangku 


Tukar Jiwa - Tulus 

Thursday, January 11, 2018

Adik Aria

Sekian lama menjadi anak tunggal... tahun 2016 Aria punya adik. Sepupunya, Jawa, lahir. Siplah ya mereka satu shio: monyet. Yg bisa diartikan usilnya bukan main... hahaha.... Beda 12 tahun ini pula yg mungkin bikin Aria sudah bisa jatuh hati sama Jawa. Dia yg dulu2 ngotot nggak mau punya adik... akhirnya meleleh juga.

Jawa tinggal di Apt Rasuna sejak awal 2017. Ke BSD sebulan sekali atau dua kali, pas weekend. Kalau sdh dibilang Jawa akan datang, Aria pasti girang. Dia akan manis sekali les piano lalu pulang dan nunggu Jawa hadir. Dia bisa dengan telaten nemenin Jawa main ini itu.Waktu Jawa sudah mulai merangkak... Aria akan jadi sweeper yg bersihin jalur yg mau dilewati. Luar biasa...

Skrg Jawa sudah mulai bisa berjalan. Masih agak goyang2 suka gampang jatuh, tapi sdh mulai sering jalan agak cepet alias lari. Dan Aria akan dengan setia jadi bodyguard. Manis banget deh. Dia bahkan ga marah waktu mainannya diacak sama Jawa. Atau waktu Jawa mau ikut2 melukis. Heran banget ternyata anak gue bisa sesabar itu.

Yg belum berubah adalah panggilannya. Aria tetep nggak mau dipanggil "mas". "Aku tetep Adik Aria. Jawa aja yang jadi Mbak Ja."

Teges bener.

Wednesday, January 03, 2018

2018

Ini postingan pertama di 2018....

Mau nulis apa ya? Tentang 2017? Ya begitulah.... 2017 berlalu dengan semangat "life should be like shoes, would be more interesting when they were not flat." Gonjang ganjing ini itu di segala lini... hahaha.... Yg paling nendang memang hidup percintaan. Krn setelah sekian lama... akhirnya... tidak ada apa2 yg terjadi, dalam arti, status gue belum berubah juga di 2017. Masih single.

Aria sbg fokus utama hidup gue cukup oke di 2017. Sehat dan gembira. Alhamdulillah. Tetep konsisten memberikan ibunya pelajaran2 parenting yg seru2. Hahaha... I love him nonetheless. Selalu mensyukuri adanya dia dalam hidup. The star that guide me home and  the anchor that always keep my feet on the ground.

Kesehatan... oke juga. Alhamdulillah. Hanya perlu perhatiin sinyal tubuh lbh teliti. Krn kadang badan sdh hrs merem, tp ga nurut. Hahaha.... Sempat "kebablasan" diare bbrp hari. Yg ternyata karena stres (disinyalir karena kisah cinta yg berakhir tragis hahahaha). Herannya, sudah diare bbrp hari kok ya perutgendut tetap teguh kokoh hadir di antara kita. Nggak ada penghargaan sama sekali utk frequent trips to the loo. Weleh weleh. 

Tahun 2017, lumayan banyak jalan2. Dan merasa bahwa jalan2 itu mendekatkan sama keluarga. Waktu serumah pergi ke Semarang-Salatiga di awal tahun, terasa banget bhw kami semua belajar bertoleransi. No complaints at all. Semua berupaya menyenangkan yg lain dgn selalu tenang. Wonderful.

Waktu Aria outing sm sekolahnya, sengaja gue ajak nyokap jalan juga ke Madiun & Yogya. Nggak ada agenda khusus, nemenin nyokap aja napak tilas masa dulunya di kota itu. Nengok rumah (hotel), makam mbah (sampai ke Nganjuk), trus sekolahnya.... Di Yogya juga gitu. Banyak leyeh2 aja. Seneng. Seneng karena lihat nyokap seneng.

Ada rencana perjalanan yg bubar sebubar-bubarnya. Krn partner jalannya ngaco dan ngawur. Sempat kecewa bbrp hari. Dan kalau skrg diinget yaaaa masih nyesel juga. Lbh karena perjalanannya batal. Di sisi lain, bersyukur juga karena jadi tahu kalau partner yg baik punya sisi brengsek juga. Jadi waspadalah waspadalah di masa depan.  

Trus akhir tahun ditutup dgn liburan ke Danau Toba. Melihat pemandangan yg mahal harganya. Iri banget sama penduduk sekitar danau yg tiap hari bangun tidur melihat million dollar view. Merasakan bedanya aura hidup di Jawa dan Sumatera. Dan akhirnya bisa melihat Medan (serta memutuskan untuk tidak menyukainya.... hahaha). Lagi2 senang. Senang bisa mengenalkan Aria ke budaya lain yg kadang bikin dia kaget (krn ada orang ngomong kayak berantem).

Tahun 2017, ada harapan2 yang dipupuk, tapi lalu ambyar. Karena satu dan lain hal. Pacaran yg gue pikir akan berbeda akhirannya... ternyata nggak juga tuh. Berakhir dgn tidak terlalu menyenangkan. Dgn alasan2 yg konyol dan bodoh. Tapi tetap bersyukur merasakan mencintai (dan dicintai) begitu dalamnya. Meski semarah apa pun, nggak bisa berbuat apa2 begitu teringat cinta itu. Haha... Basi? Biar aja.... I wish him a very good life ahead. More prosperous and happy one. Hopefully we can still be friend. A very good friend.

Kantor... biasa aja. Semakin merasa bhw ini masa2 gawat. Masuk ke comfort zone yg gawat bentuknya. Project masih ada (banyak) dan sebetulnya lumayan seru. Tp akhirnya kok merasa gitu2 aja.... hohohoho.... Harus ada tindakan nih.... Ada beberapa projects kecil di luar kantor yg datang. Semua bentuknya roro jonggrang krn yg minta tolong sdh kepepet.... semua tiba2 urgent urgent urgent sampai nyaris gue suruh masuk UGD aja deh ah. Hahaha... untunglah semua bisa selesai dgn baik.

Semua yg terjadi di 2017, baik atau buruk, tetap harus diingat sebagai bentuk perhatian Tuhan YME. Gue percaya bhw Allah SWT Maha Baik & Maha Penyayang. Apa pun yg terjadi, itulah bentuk rasa sayang dan kebaikanNya. Alhamdulillah. 

So, 2018... bring it on!

Thursday, December 07, 2017

Rindu

Dan....
Rindu itu melanda
Menderu-deru di dada.

Harus berbuat apa, entahlah
Mungkin menikmatinya saja sebagai sepenggal rasa.

Monday, November 27, 2017

Forget Me Not

Remember me
Though I have to say goodbye
Remember me
Don't let it make you cry
For even if I'm far away I hold you in my heart
I sing a secret song to you each night we are apart

Remember me
Though I have to travel far
Remember me
Each time you hear a sad guitar
Know that I'm with you the only way that I can be
Until you're in my arms again
Remember me


(Remember Me, Coco Soundtrack) 

Thursday, November 02, 2017

A Tiny Little Dot

When you feel your love's been taken
When you know there's something missing
In the dark, we're barely hangin' on
Then you rest your head upon my chest
And you feel like there ain't nothing left
I'm afraid that what we had is gone


Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave


When you lay there and you're sleeping
Hear the patterns of your breathing
And I tell you things you've never heard before
Asking questions to the ceiling
Never knowing what you're thinking
I'm afraid that what we had is gone


Then I think of the start
And it echoes a spark
I remember the magic electricity
Then I look in my heart
There's a light in the dark
Still a flicker of hope that you first gave to me
That I wanna keep
Please don't leave
Please don't leave


And I want this to pass
And I hope this won't last
Last too long

(Niall Horan - Flicker)

Monday, October 30, 2017

Mom R Us

Beberapa kali dapat pertanyaan, "Gimana caranya mengubah nyokap supaya gini gini gitu..."

'Gini-gini-gitu' bisa diganti macam2... intinya sih supaya nyokap nggak kayak sekarang. Jawabnya? Nggak bisa lah yaw. Hahahaha....

Nyokap, seperti juga orang2 lain... nggak akan bisa berubah kalau nggak karena keinginan beliau sendiri. Pengen beliau lebih mandiri? Lebih royal? Lebih nggak panikan? Lebih nggak kepo? Ya nggak bisa kalau beliau nggak mau. Maaf ajaaaaa....

Gue adalah contoh anak yg nggak pernah keluar dari rumah. Iya. Selalu tinggal sama orang tua. Gue rasa memang rejeki gue aja. Anaknya nyokap ada 3, yg 2 kuliah di luar Jakarta. Hanya gue yg di UI Depok. Punya kamar kos, tp tetep lebih sering pulang hahahaha.

Ditakdirkan nggak boleh pisah jauh2 dr nyokap... waktu punya anak kok ya balik ke rumah nyokap. Trus waktu Aria sdh agak besar, sdh mulai harus mikir sekolah... memutuskan pindah ke BSD. Nyokap? Ikut. Beliau jual rumahnya buat bangun tanah sebelah rumah gue. Hahahaha.... Jadi skrg gue dan nyokap ya tetep satu rumah. Practically ada kakak gue yg tinggal di rumah juga. Tp tetep aja kayaknya nyokap ya maunya apa2 ke gue... hahaha... mungkin krn gue anak perempuan?

Nah... selama ini hidup sama nyokap, nggak mungkin lah kalau nggak ada perselisihan. Tp makin ke sini, kok ya rasanya semakin nggak pengen rusuh2. Udahlah.... Memang ada bbrp sikap nyokap yg gue nggak setuju. Kebiasaan2 beliau juga banyak yg menurut gue 'kurang kekinian'... hahaha.... Tapi ya gimana? Nggak akan berubah kalau beliau tak ingin ganti sendiri. Gue merasa cukup bilang sekali kalau gue ga setuju. Habis itu terserah. Kalau masih berulang lagi, gue akan melipir aja pura2 nggak lihat. Beres. Gengges? Iya sih. Tp trus gimana? Sebentar kemudian juga beliau akan lupa. Jadi percuma juga marah2 tarik urat.

Yang paling penting adalah gue akan ingat2... duluuu... dulu banget waktu gue kecil... gue pasti juga gengges macam begitu. Iya kan.... Jadi kalau skrg digenggesin.... ya udahlah yaaaa... Enjoy aja!
 


  

Friday, October 20, 2017

Addiction

.... Being without you
Takes a lot of getting used to
Should learn to live with it
But I don't want to....


(Hard Habit to Break - Chicago)

Thursday, October 19, 2017

To Fall in Love

Dreams... you've been afraid to have dreams
Here in my arms lying face to face
It's a tender place
Just lay back and see 

You could be saved loving me
Don't pull away when I call you're mine
What you need is time

And I just want you...

To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask

To fall in love is what you have to do
Just like I have to fall in love with you


Friends, we started out more than friends
We should have known when we touch too deep,
It was far too sweet
Don't let this feeling end
'Cause I want to touch you again
If you could see that your heart is mine just a bit too kind

And how I need you...


To fall in love
To take the chance
Giving your heart
That's all I ask

To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you


You are a part of me won't ever be just a memory
Sometimes you really have to love
And I know I can make you...
Baby, I love you....

To fall in love....
To fall in love is what you have to do
Like I have to fall in love with you
I just have to fall in love with you.

(Phil Perry)

Wednesday, October 18, 2017

I Love You

... if I keep my feeling strong... I'll find a song you sing....


Born to Love You (George Duke)

Tuesday, October 17, 2017

Bercerai Kita...

Nggak akan ada orang yang berencana untuk bercerai. Nggak ada. Namanya menikah, pasti niatnya untuk selamanya. Jadi kalau memang harus bercerai, pasti... dan harus... ada alasan kuat. Kuat saja tidak cukup, alasan untuk bercerai harus sangat sangat sangat kuat.

Gue mungkin bukan "contoh yang baik" mewakili perempuan yang bercerai. Karena gue bisa tuh, mengabarkan perceraian dengan nada yang sama seperti bilang, "Lihat deh, sepatu gue baru, bagus ya." Hahaha.... ya gue memang gitu. Cuek. Sejak bercerai, kecuekan ini makin menjadi karena gue tahu, sejauh ini, ga ada kejadian di dunia yang lebih buruk akibatnya dalam hidup gue sehebat perceraian dan anak masuk RS.

Tapi itu kan sekarang....

Dulu, gue pun melewati masa galau, bercerai atau enggak, nanti kalau sudah bercerai gimana... tinggal di mana... Anakku piye? Tapi toh gue tetap bercerai karena tidak ada pilihan lain.

Sekarang, setelah kurang lebih 13 tahun menjadi single mom... banyak yang melihat bahwa gue baik2 saja. Anak sehat. Sekolahnya betul. Gue sendiri sehat juga (fat overdose malahan hahaha), dengan karier yang bener. Punya rumah. Punya kendaraan. Bisa liburan sekali atau bahkan dua kali setahun. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.

Ga bisa bilang apa2 selain bersyukur bisa sampai di titik yang sekarang.

Karena sebenernya, masalah yg utama bukan bercerai atau tidak bercerai. Perceraian itu hanya semacam pintu. Yang mestinya dipikirin adalah dunia di balik pintu itu, yang tidak akan kamu tahu sebelum kamu masuk  ke dalamnya. Di balik pintu perceraian itu, lagu2nya nggak selalu merdu... kalau kata salah satu fellow single mom.... lagu2nya terserah DJ mau muterin apa... pengunjung harus goyang ajalah pokona mah... kalau enggak goyang pilihannya edan.

Nah, kehidupan di balik pintu perceraian itulah yang banyak tidak disangka oleh orang2. Seolah2 setelah bercerai, hidupmu akan baik2 saja dan mulus2 saja karena persoalan besar sudah kau lalui. Maaf cyin... belum tentu begitu ceritanya....

Betul... setelah proses perceraian usai, hakim ketok palu... kamu resmi jadi single lagi. Oke. Single... bisa pacaran lagi dong? Bisa banget... itu juga salah satu dunia baru. Bayangkan... saat temen2 lain (yg sudah menikah) sibuk ngurusin pasangan yg ngambekan, lagi bosen, mulai merasa rutin... kita para single bisa punya pacar, dating, dan kalau marahan suruh pulang aja tuh laki! Enak? Enak sih... kalau bener bisa begitu saja urusannya. Karena oh karena... selain bahwa kita para single ini boleh dating lagi... ada konsekuensi sosial juga yang hrs dipikul. Misalnya... akan ada cowok2 yg merasa perempuan (berumur) single ini perlu dikasihani karena haus kasih sayang dan haus belaian, dan mereka suka cita memberikan tanpa pamrih (pret). Di sisi lain, akan ada cewek2 yg ketakutan dgn keberadaan single mom. Seolah setiap single mom adalah perempuan gatal yang akan mengganggu suami2 mereka, jadi harus dijauhi dan dimusuhi. Ngadepin begini2 kalau nggak pinter bisa jadi masalah baru. Yg juga perlu diurus adalah masalah stigma di masyarakat. Printilan2 ga penting ini baru akan terjadi (dan mengganggu pikiranmu) setelah kamu resmi bercerai.

Mau cuek aja? Boleh banget. Dan memang seharusnya begitu. Cuek aja. Tapi tentu saja bukan lalu cuek aja menghampiri tiap laki2 yg royal dgn belaian dan pelukan dong... Cuek tetap harus yg bermartabat. Siap2 menampar semua laki2 beristri yg mendatangi dgn kedok cinta. Tabok aja. Cuek. Tp harus tetap berkarya. Bukan masalah pembuktian, berkarya itu harus krn itulah kodrat manusia. Kalau berkarya bisa menghasilkan... bagus juga.

Ngomongin berkarya yang menghasilkan... harus juga dipikirin, setelah cerai, gimana menghidupi anak2. Oke... tentu ada keputusan pengadilan bahwa bapak anak2 harus membiayai. Bagus sih, kalau keputusan ini dijalankan. Kalau enggak? Mau nuntut hak boleh2 aja... lapor polisi juga silakan... tp kalau nggak dikasih juga, mau apa? Bapaknya anak2 ditangkap polisi biar kapok? Memang kalau kapok trus ada jaminan ngasih duit? Enggak cyin.... You will be on your own once the knot were broken. Camkan itu. Lu  harus bisa berdiri sendiri. Jungkir balik kadang2... ya dijalani ajalah... bisa jadi ada tanggal2 mepet jurang... hahaha... sudahlah... dinikmati aja. Percaya kalau rejeki sudah diatur Tuhan YME, tinggal cari cara menjemput yg halal. 

Ada banyak hal yang nggak dialami orang2 yg belum pernah bercerai.

"Biasa juga sendirian kalau suami pergi ke luar kota."
Gundulmu amoh. Beda tauk. Sendirian untuk sesaat karena tahu akan ada yang pulang (meskipun pulang cuma sehari), beda dengan sendirian dan tahu pasti besok pun akan tetap sendirian. Minggu depan juga masih akan sendirian. Bedanya di mana? Nggak bisa diceritain. Harus dirasain sendiri.

"Selama ini kan gue kerja juga, bisalah menghidupi anak2."
Ya bagus kalau begitu. Jangan lupa, kalau sdh cerai, keluar dari rumah, atau pisah rumah sama bapaknya anak2... berarti ada tambahan biaya listrik, air, bensin (atau malah mobilnya sekalian yg hrs diurus), juga uang sekolah anak2 yg selama ini mungkin jadi tanggung jawab suami... dan skrg semua hrs lu lunasin sendiri. Sendiri. Syukur2 kalau ada allowance rutin dari doi tiap bulan... kalau nggak? Bayar tuh sendiri. Apalagi kalau ternyata kehidupan selama ini 100% ditunjang suami.... Nah... kalau sendiri gimana? Sudah siap?

"Ternyata banyak kok yg masih naksir gue, di dating site gue masih laku."
Tobil anak kadal. Dating site itu nggak bisa dipercaya. Ya tetep ada kemungkinan ketemu jodoh. Tapi udahlah jangan diharapkan terlalu banyak... pacaran belasan tahun aja bisa cerai, kok masih percaya dating site.... Intinya juga, jangan buru2 mau cari pasangan lagi. Apa salahnya? Nggak ada. Tapiiii... ketemu orang baru saat hati masih galau... apa yg kau harapkan? Setiap hubungan, sebentar atau lama, ketika usai pasti meninggalkan kekosongan di hati. Itu yg harus dibenahi dulu. Beres2 dulu deh. Jangan terlalu gegabah mau dapat pasangan lagi. Hati yang belum bener bisa mengelabui. Kayaknya cinta... padahal cuma nafsu. Kayaknya tertarik... padahal cuma karena nggak ada yg lain aja. Gawat kan?

"Gue sih nggak mau urus cerai, enak aja, dia yg salah. Dia yg urus. Jangan sampai gue rugi dua kali."
Gombal mukiyo. Ini pernikahan atau kontrak dagang... kok ada untung rugi.... Jangan pernah melihat perceraian sebagai masalah untung atau masalah rugi... karena itu semestinya jadi jalan keluar yg paling akhir (kalau beneran sudah nggak ada cara lain). Siapa yang urus perceraian jadi nggak penting, karena itu tadi... yg penting adalah kenapa bercerai dan setelah cerai situ mau apa.... Ini bukan mainan yang bisa di-delete, atau di-undo....

Hmm... panjang juga postingan ini ya. Tumben. Mudah2an ada gunanya sih. Ini semua berdasarkan pengalaman personal yang... hmm... mungkin berbeda untuk tiap orang. Tetap yg perlu digarisbawahi: bercerai perlu alasan yang sangat kuat. Dan yang menjalankan harus siap. Bye.



Wednesday, October 11, 2017

Cinta Itu...

Mencintai seseorang tapi nggak bisa apa2. Sedih ya. Tapi tetep nggak boleh merasa diri paling menderita karena banyak yang lebih rusuh lagi hidupnya. Dibandingkan mereka yang nggak bisa makan, nggak punya tempat tinggal, anaknya masuk rumah sakit... sekadar urusan cinta sih cuma remahan rempeyek....

Meskipun mungkin rempeyeknya kelas atas yang harganya 1 ons Rp 600 ribu....

Seorang teman menceritakan kembali hidup pernikahan dia selama 16 tahun. Bersama orang yang dia cintai. Yang akhirnya dipisahkan oleh maut. Tapi pembukaan ceritanya aja sudah ngenes... "Memang janda yang ditinggal mati sepertinya lebih manis didengar. Meskipun hidupnya bisa saja lebih pahit."

Dia sudah jadi single mom 10 tahun. Sejak suami meninggal, dia tidak (atau belum?) menikah lagi. Pernikahan 16 tahun dengan orang yang dia cintai itu ternyata isinya duri melulu. Dari mulai nggak dikasih nafkah, diperlakukan seperti pembantu, dicaci maki, sampai ditinggal pergi. Bahkan waktu suaminya itu sakit pun, di rumah sakit, paralyzed due to terminal illness, dia masih bisa memaki dan membentak. Dan teman gue itu tetap melayani, menemani, mengurusi... sepenuh hati. Edan tenan.

Sejak kapan verbal KDRT? Sejak tamu-tamu pesta pernikahan pulang. Astaga.

Jadi hidup pernikahan diawali dengan, "Kamu nggak boleh tidur sebelum aku tidur, perempuan tolol."

Dan teman gue bertahan. Mengurusi tiga anak, rumah besar tanpa pembantu, dan suami yang sulit dibendung amarahnya.  Dia akui, 16 tahun itu ia jalani dalam keadaan bahagia karena menikahi orang yg dia cinta. Meskipun dimaki? "Nggak apa2 dibentak juga, aku tetap cinta. Dari dia aku dapat tiga anak yang aku cinta juga." Meskipun selama itu tidak pernah dinafkahi, jadi dia dan anak-anak mengandalkan uang kiriman dari orangtua.

Suatu saat suaminya tidak bisa berjalan. Dan kesakitan. Dia pontang panting mencarikan kursi roda, cari taksi, ke rumah sakit. Dan sepanjang perjalanan itu suaminya tetap memaki, mengatai dia bodoh, lambat bekerja, tidak bisa apa2. Kok bisa? Kalau gue... udah gue tinggal dari kapan2....

Dia bahkan menyembunyikan penyakit suaminya, karena masih ingin sang suami bersemangat, jadi cepat sembuh, dan bisa pulang ke rumah. Susah payah dia kongkalikong sama dokter, suster... semua orang yang menjenguk untuk nggak membahas penyakit. Sampai akhirnya si suami meninggal. "Tugas gue sebagai istri sudah selesai. Mudah-mudahan gue menjalankan peran gue dengan baik," katanya.

Astaga.

Sekarang, 10 tahun setelah sang suami wafat... teman gue itu baru bisa menceritakan yang terjadi. Dan dia menangis, tersenyum, geram, tertawa, menangis, tersenyum... campur aduk... seperti merasakan kembali yang dia alami selama 16 tahun. Ketika ceritanya tuntas, dia tersenyum lebar sekali. "Gue berhasil mengeluarkan semua cinta gue buat suami. Terserah bagaimana balasan dia atas cinta gue. Semua sudah berlalu. Sudah gue ceritakan, jadi orang-orang tahu. Bukan, bukan untuk menjelekkan yg sudah tiada. Ini adalah upaya gue mengosongkan bagasi. Supaya lega. Sekarang gue bisa tenang menjalankan tugas gue menemani anak-anak."

Cinta. Katanya. Cinta yang aneh? Nggak tahu.

Dan gue yakin, yang model kyk temen gue itu banyak....

Ya kan, setelah tahu ada yang mengalami cinta yg "ajaib"... kisah cinta gue jadi biasa aja. Hahaha....

Thursday, September 28, 2017

Hujan

Di luar hujan. Untung aku ada di dalam ruangan. Untung? Iya... karena jadi tidak kehujanan. Tapi... sayangnya, ruangan ini berpendingin udara. AC ditambah hujan... jadinya dingin yang menggigit sampai ke tulang. Semriwing. Kayaknya bisa masuk angin deh ini.

Di luar masih hujan. Kelihatan orang-orang yang baru turun dari kendaraan mengembangkan payung. Yang berpindah dari satu toko ke toko lain juga berpayung. Payung mengembang. Warna warni segera memenuhi jalan. Merah, biru, kuning... tapi kenapa kebanyakan payung berwarna hitam?

Hujan ini sepertinya akan sering datang. Karena sekarang sudah bulan September. Kata ibuku, nama bulan yang berakhiran -ber seperti pertanda akan datangnya hujan. Siap-siap untuk kehabisan baju, karena yang dijemur tidak kunjung kering.

Kamu suka tidak kalau hujan? Aku sebenarnya suka. Hawa jadi sejuk. Lalu, debu jalanan juga berkurang. Sayangnya, hujan sering membuat lalu lintas tersendat. Entah untuk alasan apa. Mungkin karena pengendara mobil berjalan lebih lambat? Atau karena pemotor banyak yang berhenti sembarangan untuk berteduh sementara? Yang jelas... akibatnya... macet. Nah, kalau begitu, aku jadi tidak senang hujan. Macet bikin sakit kepala.

Yang paling aku suka ketika hujan adalah mencium bau tanah basah. Baunya membawaku pada kenangan keluar masuk hutan belantara, yang basah berembun, bersama kamu.


(ditulis untuk pelatihan BI Blogger & Vlogger, Yogyakarta September 2017)

Monday, September 25, 2017

Hidup di Kota

Kemarin menghadiri syukuran lahirnya Rimbun Khatulistiwa, di Bandung. Selain keriaan ada bayi baru di keluarga Maskoem, kesempatan kumpul2 keluarga selalu menyenangkan karena adanya update ini itu.

Yang kemarin jadi highlight adalah adanya cucu mbah Payaman (sebutan untuk keluarga dari pihak nyokap), yang menikah di usia 24. Sebenernya bukan usianya yg bikin heboh. Secara umur memang sdh cukup, secara agama maupun negara sdh boleh menikah. Hanya, anak laki2, baru saja lulus, dan dia adalah yg terkecil di silsilah keluarganya. Oh ya, dia ini anaknya sepupu nyokap. Jadi mestinya Rio ini sepupu gue ya. Haha....

Rio ini menikah, di usia muda, bukan karena dia yg pingin menikah. Lho kok bisa? Iya, dia menikah karena disuruh menikah oleh keluarga (calon) istrinya. Rio ini kerja di BUMN. Ditempatkan di proyek di desa Sambi. Nah... di sinilah dia ketemu kekasih hatinya. Konon sih sebenernya mereka ini sempat satu sekolah... entah di SMA atau di SMP... tp setelah lulus, si mbak kembali ke desa Sambi ini.

Adanya mbak cantik di desa ini ternyata cukup meresahkan. Meresahkan orangtuanya... karena sdh umur 25 belum kawin juga. Yaaaa gimana... untuk anak2 milenial, umur 25 kan belum apa2 ya. Tp menjadi millenials di desa Sambi ternyata berat, cyin. Si mbak ini sdh "dipinang" beberapa laki-laki. Yg dia tolak mentah2 krn hatinya sdh tertambat pada kangmas Rio. Dijodohin sama siapa2 juga menolak, maunya Rio semata. Ohohoho....

Bapaknya kalau ga salah pemuka desa. Jadi kehadiran Rio ini segera jadi sorotan. Nambah2 pusing aja nih... setelah pusing anaknya udah umur 25 blm kawin... ada lagi nih laki2 namanya Rio asyik2 ngapel. Rencanamu apa, le? Haha.... beneran akhirnya Rio "ditantang" sama (calon) mertuanya. "Kamu mau apa sama anakku?"

Rio... karena sdh cinta dan juga merasa bertanggungjawab... akhirnya mengajukan pinangan. Begitulah kisahnya hingga satu milenial melepas masa lajang di desa Sambi....

Gue sih nggak pro atau kontra soal pernikahan Rio. Ya kalau sudah jodoh, nggak akan ke mana juga.... yg gue lihat unik adalah bagaimana lingkungan bisa membuatmu melakukan sesuatu. Umur 25, di desa, belum kawin... jadi bahan gunjingan di desa. Bisa saja krn nggak tahan jadi gunjingan, seseorang akan melakukan hal yang di luar rencana. Termasuk mendadak kawin.

Hoaaaah... apa kabar ya kalau ada janda bercerai umur 30?

Cerita soal living single in the village ini kebawa ke kantor, dan terkuaklah cerita2 lain yang lebih "seru". Ada seorang tante yg lalu dilamar sama kelapa desa setelah setahun ditinggal meninggal suaminya. Ada yang didatengin beberapa laki-laki yg antri... setelah kembali ke desa dgn status janda. Pilihannya banyak, dari jawara sampai kepala desa. Dia pilih... pensiunan PNS. Krn PNS itu statusnya paling tinggi di desa.

Jreng.... semakin gue bersyukur tinggal di BSD. Yg mana orang2 nggak peduli (atau peduli tp nggak berani ngomong) kalau gue ini single, punya anak satu. Mereka nggak ngurus kenapa gue nggak kawin lagi. Mereka nggak tanya2 kapan gue berencana menikah lagi... dll...dst... dsb.

Semua aman. Hidup di kota memang menyenangkan.

Wednesday, September 20, 2017

Where....

Tadi rasanya semangat buka blog... mau nulis ttg rame2 politik. Hahaha... tumben amat ya. Tp lalu malah tertahan baca sesuatu dan akhirnya bikin mood nulis berlalu... jreng...

Ya sudah, nanti aja nulis lagi kalau sdh pengen nulis. Bye now.

Thursday, September 07, 2017

Sungguh

Dalam Doaku

(by Sapardi Joko Damono)

Dalam doaku subuh ini
kau menjelma langit
yang semalaman tak memejamkan mata,
yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama,
yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara
yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja
yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,
yang tiba-tiba gelisah dan terbang
lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan
dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya,
yang setia mengusut rahasia demi rahasia,
yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.