Jadi pengen membahas dia-yang-kemarin-ngajak-masuk-goa.
Gue kenal dia pertama kali sekitar 8 tahun lalu. Kalau diurutin sih, dia itu adik kelas gue di SMA. Tp kami nggak pernah ketemu di sekolah. Waktu di masuk, gue sudah pindah ke sekolah lain. Atau gue sudah lulus ya? Kami dikenalin sama sesama alumni. Tp perkenalan pertama itu tidak terlalu gimana2. Krn satu dan lain hal. Yg terutama sih krn dia itu rasanya kok masih "banyak main" waktu itu. Nggak gue banget. Dia pun merasa begitu kayaknya. Jadi menjauh.
Lama nggak berkabar yg serius, paling ucapan selamat lebaran - selamat ulang tahun... nggak terasa sdh lama banget nggak ketemu. Sampai kira2 bulan November lalu, out of the blue dia whatsapp. Gue pas di event di Gorontalo. Akhirnya saling halo2 kami bahas soal Gorontalo. Diakhiri dengan, "Maksi bareng, yuk!"
Dan ketemulah kami lagi, setelah sekian lama. Menurut gue sih dia nggak berubah. Tetap dengan semangat "yuk main" yg luar biasa besar. Gue beneran ingat Aria deh kalau lagi sama dia. Termasuk segala clumsy attitude yg bisa bikin nada suara gue jadi tinggi. Herannya, gue kok betah. Dalam arti, ya senang aja tuh jalan sama2. Persis spt gue senang jalan sama anak gue. Dan selama jalan itu kami sama sekali nggak romantis. Hahahaha... Jauh deh dari sayang2an. Lucunya, properti gue ya sama spt kalau jalan sm Aria: tisu basah, siap2 buat bersihin bajunya kalau kena noda makanan. Duh ampun.
Sampai dia lalu mencetuskan ide utk selusur goa krn mulai bosan sama kantor, dan tahu kalau gue juga lagi pengen liburan.
Rencana perjalanan adalah 4 hari. Gue sih iya2 aja. Dia urus semua perjalanan itu. Tp tentunya gue punya back up plan... yaitu kalau dia "nggak menarik", gue akan pulang di hari ke-2. Termasuk juga back up plan sewa mobil krn nyonya tak mau naik angkot. Hahahaha....
Ternyata... gue tidak perlu pulang di hari ke-2. Bahkan mungkin kalau extend sampai 6 hari, nggak pa pa juga deh... krn dia menyenangkan. Dia yg biasanya lurus kayak kayu tak berperasaan... ternyata kok cukup manis. Dia nggak komplen dgn gaya gue yg ratu. Dgn sabar nungguin gue yg kalau kena aura liburan akan melakukan semuanya dgn kecepatan jalan keong hamil. Termasuk waktu di goa, dia akan nungguin, jagain, dan sangat caring membiarkan gue jalan kaki pelan2 kayak sdh berumur 100 tahun. Ah, lemahlah hatiku kalau ada yg manis2 gini....
Dia hanya komentar, "Kita beda ya. Aku pencilakan gini, kamu teratur banget."
Komentar yg bikin gue ngakak krn merasa harus diayak 1000 kali sblm jadi halus teratur....
Anyway, setelah mengenal dia lebih dekat, memang dia kekanak2an. Tp bukan berarti dia nggak dewasa juga kok. Dia ya sewajarnya cowok yg sedang mendekati cewek. Dan itu cukup melegakan gue. Hahaha....
Hari ini rasanya berbunga2 banget waktu dia transfer uang ganti sewa mobil selama jalan2 kemarin. Bukan uangnya yg bikin bunga2.... Di notifikasi, di kolom berita transfer dia tulis: payment for the memory that stays in my heart forever.
Saya meleleh. Asli.
Friday, March 18, 2016
Monday, March 14, 2016
Lulus dari Goa Barat :)
Tidak pernah terpikir bahwa gue akan menyusuri gua yg gelap, lembab, basah... selama 6 jam lebih. Sampai sekarang juga masih heran kok mau2nya gue jalan2 ke tempat yg masuk kategori aneh di kepala gue.
Jadi ceritanya, bbrp minggu lalu gue sakit. Trus setelah recover, ada ajakan untuk jalan2 ke luar kota. Dari siapa? Siapa lagi.... *wink* Tanpa pikir panjang, gue iyakan. Yg di kepala gue hanya mau jalan2. Titik.
Yg paling simpel adalah ke Yogya. Nggak terlalu jauh. Ok.
Tapi ke Kebumen juga seru. Ok.
Telusur gua yuk?
Ok.
Dari awal sdh gue bilang, jangan terlalu ambisius kalau jalan2 sama gue, Krn gue ini pemalas. Dan dia iya2 aja nggak komplen. Gue sempat browsing juga soal goa2 itu. Ada Goa Petruk, tapi bau. Ogah deh kayaknya. Ada satu lagi Goa Barat. Tp panjang dan lama menelusurinya. Hah? 6 jam di goa? Ok. Kita lihat nanti.
Berangkatlah kami, selasa subuh dari Jakarta. Mendarat di Yogya, langsung dijemput mobil yg membawa kami ke Kebumen. Gue sbg nyonya ratu ikut ajalah. Itinerary pasrah, judulnya. Sudah malas mikir.
Tujuan pertama ke Benteng van Der Wijck. Peninggalan Belanda jaman dulu banget. Katanya sih ini satu2nya benteng segi delapan yang ada di Indonesia. Bangunannya besaaaaar banget. Luaaaass banget. Herannya, pintunya kok pendek2 ya? Gue bayangkan orang dulu kan besar2 gitu....
Kami sampai di benteng ini jam 12 pas. Panasnya ciamik, matahari tepat di atas kepala. Foto2 jadi bagus sih. Tp krn kami berdua nggak ada yg demen difoto, jadinya ya foto benteng aja yg banyak. Hahahaha.... Tiket masuk Rp.25ribu. Senengnya, benteng ini bersih nggak ada sampah. Memang sih masih ada pemasangan signage yg ganggu banget nggak ada estetikanya sama sekali. Tetep perlu waskat supaya jadi cakep. The Raid 2 katanya shooting di sini.
Di atas benteng, ada kereta wisata. Keliling benteng. Tapi agak nggak jelas sih tujuannya, karena pemandangan dari atas hanyalah atap benteng. Mungkin untuk pamer bahwa atapnya juga dari bata merah? Entahlah....
Habis dari benteng, kami ke waduk Sempor. Ya, waduk biasa sih, untuk PLTA. Pemandangan hijau2 di sekelilingnya lumayan untuk cuci mata. Di sekitar waduk, kami masuk ke warung pecel. Gue memuaskan diri dgn tempe mendoan sebesar nampan. Habis makan, sempat sholat dulu di Masjid Pancasila. Aduuuuh... namanya sungguh warisan Soeharto. Hahahaha.... Mesjidnya unik, atapnya segi lima. Sayangnya, materialnya bukan yg prima jadi udah bocel2 gitu atapnya.
Habis dari Sempor, ke Goa Jatijajar. Ini sebenernya lebih karena sentimental value. Duluuuuu sekali kami ke goa ini waktu masih SD. Kok gue lupa ya dulunya gimana? Yg jelas skrg ini kawasan ini dikembangkan jadi objek wisata yang bagus. Selain goa dikasih lintasan yg relatif gampang dilalui, penerangan juga cukup, juga dilengkapi diorama Raden Kamandaka - Lutung Kasarung. Konon, si raden dulu jauh2 dari Pajajaran bertapa di sini. Ada 7 mata air di dalam goa. Tp yg gampang didekati hanya 4. Airnya dingin dan agak deras arusnya. Kok serem ya mau dekat2....
Malam pertama di Kebumen, dihabiskan dgn makan sate bu Liz, lalu di Meotel saja leyeh2. Memang tujuan utamanya kan mau santai2 ya.
Besoknya, gerhana matahari! Haha... jadi bangun pagi malah lihat siaran langsung gerhana di televisi. Pdh rencananya mau ke Goa Barat pagi2. Rencana tinggal rencana, baru keluar dari hotel hampir jam 9. Jadi sampai di Goa Barat jam 10.
Goa Barat ini satu kawasan dgn Goa Jatijajar. Sudah mulai dijadikan objek wisata juga, maksudnya dibangun pintu masuk yg manusiawi dengan tangga beton. Tapi... itu hanya awalnya saja. Sekitar 2 km dari pintu, Goa Barat harus diselusuri dgn jalan kaki, istilah kerennya caving. Seumur hidup, ini pertama kalinya gue caving.
Sebelum masuk goa, kami bayar pemandu, asuransi, sewa helm, pelampung, sepatu. Sebetulnya per orang Rp.40ribu. Tp operatornya menjual sistem paket per 6 orang. Biarpun cuma berdua, kami tetap di-charge satu paket Rp.240 ribu. Nggak menyesal juga sih bayar segitu krn masing2 dapat pemandu. Buat gue ini penting banget, mengingat sbg ratu... ik tentu butuh banyak bantuan di dalam goa.... haha.... Si pemandu ini sukarela bawain botol minum gue juga sih, jd gue melambai jaya masuk goa. Sama sekali nggak pengen bawa hp atau kamera. Bawa diri aja sdh ribet rasanya dgn pelampung yg kayak guling....
Kami mulai susur gua sekitar pukul 10.25. Masuk turun tangga dgn girang gembira, krn tangga beton itu sungguh mudah disusuri. Masih segar bugar juga. Tp setelah satu jam jalan, mulai merasa menderita. Hahahaha... . Di dalam goa sama sekali tidak ada cahaya. Penerangan berasal dari lampu yg dibawa dua pemandu. Satu di depan, satu lagi di belakang. Kadang ada hiburan batu yg bagus. Semacam kristal bening. Ada juga akik yang kalau disenterin tembus cahaya. Hebat memang bumi ini ya, penuh macam2 mineral yg mempengaruhi batu2nya.
Selama di dalam, gue sempet cemas akan sesak napas. Ternyata nggak. Mungkin krn banyak air? Begitu ketemu air, nyemplung. Seneng. Seger. Kalau nggak pas kena air, gue akan berkeringat habis2an. Sampai kelihatan badan gue berasap lho. Ada beberapa batu yg mengucurkan air bening. Bisa diminum. Seneng banget deh tengadah trus minum air segar....
Setelah jalan hampir 2 jam, gue sdh agak putus asa sebenarnya. Medannya sdh semakin dahsyat dan rasanya sdh lelah sekali. Kaki kanan mulai senut2. Tp trus disemangati sama para cowok2. Krn katanya dikit lagi sdh sampai ujungnya. Huhuhu... penasaran jg sih. Akhirnya istirahat 15 menit trus lanjut lagi deh perjalanan. Bersyukur bahwa gue ini kadang2 ikutan yoga. Meskipun masih abal2 tp ternyata cukup signifikan buat latihan angkat2 kaki. Ya gitu, kadang gue hrs melewati batu setinggi kepala. Ada yg dikasih tangga, ada juga yg hrs dipanjat satu2.... Belum lompat dari satu batu ke batu lain yg jaraknya lebih dari 40cm... sambil hrs miring krn di kepala ada stalaktit.... Waktu ketemu batu2 yg susah itulah gue mulai bertanya2 what brought me here in the first place. Hahahahahahaha....
Setelah 3 jam lebih sedikit... sampailah di titik akhir goa. Berupa air terjun besar sekali yang jatuh dari langit2 yg gelap. Konon sih dalamnya lebih dari 20m. Memang, dgn air tercurah setinggi itu dan percikan yg nggak besar, curiga pasti dalam banget. Seru sih di tengah2 ada di tengah gemuruh air. Meski ngeri juga kalau tiba2 arus membesar, selesai dong... hiiiii.....
Perjalanan pulang tentu saja sekali lagi menyiksa gue. Gue sering terdiam di depan batu besar. Mikir keras gimana cara ngelewatinnya.
"Ibu, kaki kiri dulu ditumpukan ke batu."
"Oke."
Diem. Lama.
"Pak, kaki kiri itu yg mana ya?"
Dialog macam itulah yg sering sekali terjadi di depan batu2 yg sulit. Koordinasi otak ke kaki dan tangan sudah nggak bener. Hahahaha.... Semua jari2 sdh kisut, beberapa sdh luka2 krn waktu pegangan nggak sadar kalau batunya setajam pisau. Auch....
Beberapa kali pemandunya nyuruh gue jalan miring, dan gue memilih tiarap. Ya dia sih cocok ya, kalau maju sempit, dia miring, jadi gepeng, cukup masuk celah. Lha gue? Bukannya gue ini bunder? Mau miring kayak apa ya tetep bunder keleeeeuuusss.... Jadilah gue lbh baik tiarap dan merayap kayak cicak. Macam tentara. Tentara berbadan raksasa....
Setelah 3 jam kemudian, akhirnya "nemu" lubang awal gua... kelihatan ada secercah lampu di depan... rasanya sueneeeeng banget! Hahahaha... Tp tingginya itu lho cyin. Hahaha... meski tahu sdh sampai akhir pejalanan tetep aja nggak bisa jalan lebih cepet krn kaki sdh seperti ketuker yg kanan dan yg kiri....
Kami keluar dr goa tepat jam 16.00. Lama kan? Ho oh. Basah kuyup sekujur tubuh, tangan baret2, dan dengkul rasanya mau copot. Lapernya? Jgn ditanya. Sampai lupa. Yg pertama gue lakukan setelah sampai di parkiran mobil adalah minum pocari sweat 2 botol. Tandas. Setelah itu baru merasa "agak waras lagi." Banyak yg nawarin makanan tp sdh nggak pengen saking lelahnya. Rasanya cuma pengen mandi, ganti baju, tidur. Setelah bilas di kamar mandi, ganti baju, masuk mobil... langsung rebahan. Astagaaaaaa... capeknya.
Tp perlu gue akui bahwa keluar dr goa, pikiran gue cerah. Mungkin krn lihat sinar lagi setelah bbrp jam, atau memang krn seger ya. Soalnya di dalam goa, nggak ada pikiran lain selain gimana supaya selamat. 6 jam nggak mikir yg lain2 itu seperti mengistirahatkan otak lho. Bener deh. Rasanya kepala jd ringan.
Otw ke hotel, mampir ke restoran untuk very late lunch gabung sm early dinner. Makan nasi sepiring dgn lauk cumi goreng dan ikan bakar... susah payah krn ngantuk banget... tp jg paham hrs makan spy badan nggak protes. Setelah itu rasanya kok pengen digendong aja.... Situ oke minta gendong? Perlu dipanggilin gerobak kayaknya.
Rencananya, besok paginya mau pijet. Membayangkan enaknya dipijet setelah kaki ketuker kok enak banget. Tp ternyata oh ternyata, sekujur kaki biru2. Kayaknya selama di dalam goa tanpa sadar kebentur kanan kiri... yah... kalau biru2 kan dipijet sama aja nyiksa diri sendiri. Ya sudahlah... nasib....
Kamis malam balik ke Yogya. Mampir Kalibiru. Tapi tetep... nggak ada yg ngalahin sensasi bisa menelusuri Goa Barat. Sungguh nggak kebayang gue akan mau2nya masuk goa dan jalan susah2 begitu. Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup. Yakin pasti I won't do that anymore in the future. Hahahaha....
Jadi ceritanya, bbrp minggu lalu gue sakit. Trus setelah recover, ada ajakan untuk jalan2 ke luar kota. Dari siapa? Siapa lagi.... *wink* Tanpa pikir panjang, gue iyakan. Yg di kepala gue hanya mau jalan2. Titik.
Yg paling simpel adalah ke Yogya. Nggak terlalu jauh. Ok.
Tapi ke Kebumen juga seru. Ok.
Telusur gua yuk?
Ok.
Dari awal sdh gue bilang, jangan terlalu ambisius kalau jalan2 sama gue, Krn gue ini pemalas. Dan dia iya2 aja nggak komplen. Gue sempat browsing juga soal goa2 itu. Ada Goa Petruk, tapi bau. Ogah deh kayaknya. Ada satu lagi Goa Barat. Tp panjang dan lama menelusurinya. Hah? 6 jam di goa? Ok. Kita lihat nanti.
Berangkatlah kami, selasa subuh dari Jakarta. Mendarat di Yogya, langsung dijemput mobil yg membawa kami ke Kebumen. Gue sbg nyonya ratu ikut ajalah. Itinerary pasrah, judulnya. Sudah malas mikir.
Tujuan pertama ke Benteng van Der Wijck. Peninggalan Belanda jaman dulu banget. Katanya sih ini satu2nya benteng segi delapan yang ada di Indonesia. Bangunannya besaaaaar banget. Luaaaass banget. Herannya, pintunya kok pendek2 ya? Gue bayangkan orang dulu kan besar2 gitu....
Kami sampai di benteng ini jam 12 pas. Panasnya ciamik, matahari tepat di atas kepala. Foto2 jadi bagus sih. Tp krn kami berdua nggak ada yg demen difoto, jadinya ya foto benteng aja yg banyak. Hahahaha.... Tiket masuk Rp.25ribu. Senengnya, benteng ini bersih nggak ada sampah. Memang sih masih ada pemasangan signage yg ganggu banget nggak ada estetikanya sama sekali. Tetep perlu waskat supaya jadi cakep. The Raid 2 katanya shooting di sini.
Di atas benteng, ada kereta wisata. Keliling benteng. Tapi agak nggak jelas sih tujuannya, karena pemandangan dari atas hanyalah atap benteng. Mungkin untuk pamer bahwa atapnya juga dari bata merah? Entahlah....
Habis dari benteng, kami ke waduk Sempor. Ya, waduk biasa sih, untuk PLTA. Pemandangan hijau2 di sekelilingnya lumayan untuk cuci mata. Di sekitar waduk, kami masuk ke warung pecel. Gue memuaskan diri dgn tempe mendoan sebesar nampan. Habis makan, sempat sholat dulu di Masjid Pancasila. Aduuuuh... namanya sungguh warisan Soeharto. Hahahaha.... Mesjidnya unik, atapnya segi lima. Sayangnya, materialnya bukan yg prima jadi udah bocel2 gitu atapnya.
Habis dari Sempor, ke Goa Jatijajar. Ini sebenernya lebih karena sentimental value. Duluuuuu sekali kami ke goa ini waktu masih SD. Kok gue lupa ya dulunya gimana? Yg jelas skrg ini kawasan ini dikembangkan jadi objek wisata yang bagus. Selain goa dikasih lintasan yg relatif gampang dilalui, penerangan juga cukup, juga dilengkapi diorama Raden Kamandaka - Lutung Kasarung. Konon, si raden dulu jauh2 dari Pajajaran bertapa di sini. Ada 7 mata air di dalam goa. Tp yg gampang didekati hanya 4. Airnya dingin dan agak deras arusnya. Kok serem ya mau dekat2....
Malam pertama di Kebumen, dihabiskan dgn makan sate bu Liz, lalu di Meotel saja leyeh2. Memang tujuan utamanya kan mau santai2 ya.
Besoknya, gerhana matahari! Haha... jadi bangun pagi malah lihat siaran langsung gerhana di televisi. Pdh rencananya mau ke Goa Barat pagi2. Rencana tinggal rencana, baru keluar dari hotel hampir jam 9. Jadi sampai di Goa Barat jam 10.
Goa Barat ini satu kawasan dgn Goa Jatijajar. Sudah mulai dijadikan objek wisata juga, maksudnya dibangun pintu masuk yg manusiawi dengan tangga beton. Tapi... itu hanya awalnya saja. Sekitar 2 km dari pintu, Goa Barat harus diselusuri dgn jalan kaki, istilah kerennya caving. Seumur hidup, ini pertama kalinya gue caving.
Sebelum masuk goa, kami bayar pemandu, asuransi, sewa helm, pelampung, sepatu. Sebetulnya per orang Rp.40ribu. Tp operatornya menjual sistem paket per 6 orang. Biarpun cuma berdua, kami tetap di-charge satu paket Rp.240 ribu. Nggak menyesal juga sih bayar segitu krn masing2 dapat pemandu. Buat gue ini penting banget, mengingat sbg ratu... ik tentu butuh banyak bantuan di dalam goa.... haha.... Si pemandu ini sukarela bawain botol minum gue juga sih, jd gue melambai jaya masuk goa. Sama sekali nggak pengen bawa hp atau kamera. Bawa diri aja sdh ribet rasanya dgn pelampung yg kayak guling....
Kami mulai susur gua sekitar pukul 10.25. Masuk turun tangga dgn girang gembira, krn tangga beton itu sungguh mudah disusuri. Masih segar bugar juga. Tp setelah satu jam jalan, mulai merasa menderita. Hahahaha... . Di dalam goa sama sekali tidak ada cahaya. Penerangan berasal dari lampu yg dibawa dua pemandu. Satu di depan, satu lagi di belakang. Kadang ada hiburan batu yg bagus. Semacam kristal bening. Ada juga akik yang kalau disenterin tembus cahaya. Hebat memang bumi ini ya, penuh macam2 mineral yg mempengaruhi batu2nya.
Selama di dalam, gue sempet cemas akan sesak napas. Ternyata nggak. Mungkin krn banyak air? Begitu ketemu air, nyemplung. Seneng. Seger. Kalau nggak pas kena air, gue akan berkeringat habis2an. Sampai kelihatan badan gue berasap lho. Ada beberapa batu yg mengucurkan air bening. Bisa diminum. Seneng banget deh tengadah trus minum air segar....
Setelah jalan hampir 2 jam, gue sdh agak putus asa sebenarnya. Medannya sdh semakin dahsyat dan rasanya sdh lelah sekali. Kaki kanan mulai senut2. Tp trus disemangati sama para cowok2. Krn katanya dikit lagi sdh sampai ujungnya. Huhuhu... penasaran jg sih. Akhirnya istirahat 15 menit trus lanjut lagi deh perjalanan. Bersyukur bahwa gue ini kadang2 ikutan yoga. Meskipun masih abal2 tp ternyata cukup signifikan buat latihan angkat2 kaki. Ya gitu, kadang gue hrs melewati batu setinggi kepala. Ada yg dikasih tangga, ada juga yg hrs dipanjat satu2.... Belum lompat dari satu batu ke batu lain yg jaraknya lebih dari 40cm... sambil hrs miring krn di kepala ada stalaktit.... Waktu ketemu batu2 yg susah itulah gue mulai bertanya2 what brought me here in the first place. Hahahahahahaha....
Setelah 3 jam lebih sedikit... sampailah di titik akhir goa. Berupa air terjun besar sekali yang jatuh dari langit2 yg gelap. Konon sih dalamnya lebih dari 20m. Memang, dgn air tercurah setinggi itu dan percikan yg nggak besar, curiga pasti dalam banget. Seru sih di tengah2 ada di tengah gemuruh air. Meski ngeri juga kalau tiba2 arus membesar, selesai dong... hiiiii.....
Perjalanan pulang tentu saja sekali lagi menyiksa gue. Gue sering terdiam di depan batu besar. Mikir keras gimana cara ngelewatinnya.
"Ibu, kaki kiri dulu ditumpukan ke batu."
"Oke."
Diem. Lama.
"Pak, kaki kiri itu yg mana ya?"
Dialog macam itulah yg sering sekali terjadi di depan batu2 yg sulit. Koordinasi otak ke kaki dan tangan sudah nggak bener. Hahahaha.... Semua jari2 sdh kisut, beberapa sdh luka2 krn waktu pegangan nggak sadar kalau batunya setajam pisau. Auch....
Beberapa kali pemandunya nyuruh gue jalan miring, dan gue memilih tiarap. Ya dia sih cocok ya, kalau maju sempit, dia miring, jadi gepeng, cukup masuk celah. Lha gue? Bukannya gue ini bunder? Mau miring kayak apa ya tetep bunder keleeeeuuusss.... Jadilah gue lbh baik tiarap dan merayap kayak cicak. Macam tentara. Tentara berbadan raksasa....
Setelah 3 jam kemudian, akhirnya "nemu" lubang awal gua... kelihatan ada secercah lampu di depan... rasanya sueneeeeng banget! Hahahaha... Tp tingginya itu lho cyin. Hahaha... meski tahu sdh sampai akhir pejalanan tetep aja nggak bisa jalan lebih cepet krn kaki sdh seperti ketuker yg kanan dan yg kiri....
Kami keluar dr goa tepat jam 16.00. Lama kan? Ho oh. Basah kuyup sekujur tubuh, tangan baret2, dan dengkul rasanya mau copot. Lapernya? Jgn ditanya. Sampai lupa. Yg pertama gue lakukan setelah sampai di parkiran mobil adalah minum pocari sweat 2 botol. Tandas. Setelah itu baru merasa "agak waras lagi." Banyak yg nawarin makanan tp sdh nggak pengen saking lelahnya. Rasanya cuma pengen mandi, ganti baju, tidur. Setelah bilas di kamar mandi, ganti baju, masuk mobil... langsung rebahan. Astagaaaaaa... capeknya.
Tp perlu gue akui bahwa keluar dr goa, pikiran gue cerah. Mungkin krn lihat sinar lagi setelah bbrp jam, atau memang krn seger ya. Soalnya di dalam goa, nggak ada pikiran lain selain gimana supaya selamat. 6 jam nggak mikir yg lain2 itu seperti mengistirahatkan otak lho. Bener deh. Rasanya kepala jd ringan.
Otw ke hotel, mampir ke restoran untuk very late lunch gabung sm early dinner. Makan nasi sepiring dgn lauk cumi goreng dan ikan bakar... susah payah krn ngantuk banget... tp jg paham hrs makan spy badan nggak protes. Setelah itu rasanya kok pengen digendong aja.... Situ oke minta gendong? Perlu dipanggilin gerobak kayaknya.
Rencananya, besok paginya mau pijet. Membayangkan enaknya dipijet setelah kaki ketuker kok enak banget. Tp ternyata oh ternyata, sekujur kaki biru2. Kayaknya selama di dalam goa tanpa sadar kebentur kanan kiri... yah... kalau biru2 kan dipijet sama aja nyiksa diri sendiri. Ya sudahlah... nasib....
Kamis malam balik ke Yogya. Mampir Kalibiru. Tapi tetep... nggak ada yg ngalahin sensasi bisa menelusuri Goa Barat. Sungguh nggak kebayang gue akan mau2nya masuk goa dan jalan susah2 begitu. Ini adalah perjalanan sekali seumur hidup. Yakin pasti I won't do that anymore in the future. Hahahaha....
Thursday, March 03, 2016
The Recap
I miss reading your writing.
A message in the morning would brighten up my day. I would read a long write up more than thousand times. We did exchange emails and sometimes you wrote a little note on books you sent to me. And not to forget those cards accompanied bouquets of roses. I miss reading all of those. They always comforted me. Always. Never fails.
I miss seeing your name blinking on my screen.
Whether it is a small screen of my phone (been in 3 different size, time permits), or on my computer, the blink would make me happy. Oh, your name even blinked on a big screen once, when a chat box opened right before my presentation. None complained, maybe because what appeared on screen was: Mr. President.
I miss to see you smile.
You smiled, when your eyes met mine in the airport, or in the office lobby, or in front of my house. The smile would stay in my heart for days.
I miss working with you.
Yes we sometimes worked together in the sense of you and I sit side by side, working with our own laptop. I guess you contaminated me with your hardworking-workaholic habit, now I always bring laptop everywhere I go. You did that, even when we had our vacation. And we would spend hours working, while we were away from our offices. And I didn't have reason to complain, since you always... always... gave me hindsight on handling stuff. And I can ask you anything about my job. You would turn what seemed to be troubles and obstacles to become as clear as crystal. You were brilliant. You are.
I miss our arguments.
We did yell at each other several times. As healthy couple does. We would sit silently afterwards, sometimes you let me cry my heart out. But it won't last long. You would explain everything clearly so I understand you better after each quarrel. And yes, I accepted you. As you are.
I miss waking up next to you. Especially on holiday mood....
Over all, I miss you. I really do.
A message in the morning would brighten up my day. I would read a long write up more than thousand times. We did exchange emails and sometimes you wrote a little note on books you sent to me. And not to forget those cards accompanied bouquets of roses. I miss reading all of those. They always comforted me. Always. Never fails.
I miss seeing your name blinking on my screen.
Whether it is a small screen of my phone (been in 3 different size, time permits), or on my computer, the blink would make me happy. Oh, your name even blinked on a big screen once, when a chat box opened right before my presentation. None complained, maybe because what appeared on screen was: Mr. President.
I miss to see you smile.
You smiled, when your eyes met mine in the airport, or in the office lobby, or in front of my house. The smile would stay in my heart for days.
I miss working with you.
Yes we sometimes worked together in the sense of you and I sit side by side, working with our own laptop. I guess you contaminated me with your hardworking-workaholic habit, now I always bring laptop everywhere I go. You did that, even when we had our vacation. And we would spend hours working, while we were away from our offices. And I didn't have reason to complain, since you always... always... gave me hindsight on handling stuff. And I can ask you anything about my job. You would turn what seemed to be troubles and obstacles to become as clear as crystal. You were brilliant. You are.
I miss our arguments.
We did yell at each other several times. As healthy couple does. We would sit silently afterwards, sometimes you let me cry my heart out. But it won't last long. You would explain everything clearly so I understand you better after each quarrel. And yes, I accepted you. As you are.
I miss waking up next to you. Especially on holiday mood....
Over all, I miss you. I really do.
Saturday, February 27, 2016
Dia yang Peragu
Agak heran dgn satu laki2 yg mengaku sangat menyukai satu perempuan, tapi lalu tidak mau menghubungi perempuan itu. Dia tidak mau mencoba mengirim pesan, atau apa pun, karena alasan yang menurut gue absurd: takut ditolak.
Kenapa takut ditolak?
Satu, kan belum tentu ditolak? Dua, bagaimana tahu akan ditolak, seandainya tidak pernah mencoba mendekati? Tiga, at least you try!!! Damn!
Diskusi tentang ini, sampai hari ini (sejak kemarin perjalanan dari Jkt-Bandung) belum selesai juga.
Yg perempuan2 gemes kenapa si cowok begitu defensif, dgn alasan "aku ini pemalu." Dia bertahan nggak mau kirim pesan atau telepon. Pdh dari tadi pagi gelisah luar biasa, kerjanya jd lucu lucu ganggu minta dikitik pakai pisau daging.
Segitu takutnya?
Memang... sebetulnya, siapa sih yang mau ditolak? Tp rasanya ketakutan yang sampai segitunya nggak mau menghubungi sama sekali kok terlihat spt dungu. Untuk perempuan nggak sabaran seperti gue, sikap yg takut ditolak lalu jadi bloon ini sangat mengesalkan. Buat gue, ada hal2 yg nggak bisa selesai dengan sendirinya... ada hal2 yg hrs diberesin supaya kelar.... Dan orang2 yg nyari alasan ini itu untuk tidak beresin masalah adalah orang2 yg nggak bangeeeeetttt....
Inilah juga bedanya Mars & Venus. Mungkin?
At least now I understand if he may do similar thing. Huh.
Monday, February 22, 2016
For Always
I close my eyes
And there in the shadows, I see your light
You come to me out of my dreams
And there in the shadows, I see your light
You come to me out of my dreams
Across the night
You take my hand
Though you may be so many stars away
I know that our spirits and souls are one
We've circled the moon
I know that our spirits and souls are one
We've circled the moon
And we've touched the sun
So here we'll stay
For always, forever
Beyond here
And on to eternity
Beyond here
And on to eternity
For always, forever
For us there's no time and no space
No barrier love won't erase
Wherever you go, I still know
In my heart you will be
For us there's no time and no space
No barrier love won't erase
Wherever you go, I still know
In my heart you will be
With me
From this day on
I'm certain that I'll never be alone
I know what my heart must have always known
That love has a power that's all its own
I know what my heart must have always known
That love has a power that's all its own
And for always, forever
Now we can fly
Now we can fly
And for always and always
We will go on beyond goodbye
We will go on beyond goodbye
For always, forever
Beyond here and on to eternity
Beyond here and on to eternity
For always and ever
You'll be a part of me
You'll be a part of me
And for always, forever
A thousand tomorrows may cross the sky
And for always and always
We will go on beyond goodbye
A thousand tomorrows may cross the sky
And for always and always
We will go on beyond goodbye
(Josh Groban)
For you. Who will always be here. Forever. And always.
You know who you are.
Monday, February 15, 2016
Missing Who?
- Rasanya kok suntuk.
- Kurang kerjaan? Banyak kerjaan? Kurang makan? Kurang tidur?
- No. Kangen kamu.
*jreng* *tadinyabawelbangettruslangsungkuncup*
- Kurang kerjaan? Banyak kerjaan? Kurang makan? Kurang tidur?
- No. Kangen kamu.
*jreng* *tadinyabawelbangettruslangsungkuncup*
Wednesday, February 10, 2016
The Short Story
Jejak Sang Petualang
Aku tidak pernah mencari ayah. Tapi toh, aku menemukannya.
Sejauh ingatanku, hanya ada aku dan Ibu. Sempat ada eyang putri.
Tapi saat aku berumur tujuh tahun, eyang putri meninggal dunia. Aku ingat
mengantar jenazah beliau ke sebuah makam di Salatiga. Semua orang menangis.
Beberapa saudara memeluk erat Ibu dan menepuk bahuku. Tetangga bergantian
datang , melakukan pengajian. Tiga hari. Tujuh hari. Sebulan. 100 hari setelah
eyang putri dimakamkan, Ibu menjual rumah eyang lalu pindah ke Jakarta.
Sejak itu, kami hanya berdua. Kami pindah ke sebuah kompleks
kecil. Ini perumahan yang aman, dilengkapi satpam yang bergantian menjaga
gerbang. Jadi bisa dibilang ada yang menjaga kami 24 jam.
Aku ingat Ibu memulai kariernya dengan bekerja di sebuah
majalah perempuan. Setiap pagi aku diantar ke sekolah, lalu pulang naik mobil
jemputan. Di rumah, ada bibi tukang cuci yang menemaniku sampai Ibu pulang. Ibu
mendidikku dengan tegas dan tertib. Dan bibi pun mematuhi perintah Ibu untuk
mengawasiku mengerjakan PR, makan, dan
mandi, dengan rapi dan teratur. Tidak hanya teratur, bibi memastikan aku
mengerjakan semuanya tepat waktu.
Ibu dengan segala upaya mengajariku menjadi laki-laki serba
bisa. Tak hanya sekadar membereskan tempat tidur, tapi juga menjadi laki-laki
yang bisa diandalkan ketika beliau perlu seseorang untuk disuruh ke pasar atau
menyetor uang ke bank. Saat aku berusia sembilan, disuruhnya aku memperhatikan
tukang listrik, agar tahu cara mengganti bohlam yang putus. Lalu aku juga ikut
tukang kebun belanja tanah dan batu, untuk mempercantik taman kecil di rumah
kami. Ketika libur sekolah, saat Ibu tak harus ke kantor, ia mengajakku ke
pasar, berbelanja kebutuhan sehari-hari. Aku diajari menawar belanjaan.
Sesekali Ibu membekaliku uang, menyuruhku belanja ini itu, tak lupa dengan
pesan, "Catat semua pengeluaran." Akhirnya aku pun paham pembukuan
sederhana.
Berkat Ibu, aku bisa menangani segala hal. Memasak.
Membersihkan rumah. Mengatur uang. Kemudian setelah lebih besar: mengemudi. Dan
tentu saja bersekolah dengan lancar. Sekali aku bertanya pada Ibu tentang ayah.
Jawabnya, "Ayahmu adalah petualang yang hilang dalam perjalanan."
Wajah Ibu nampak sangat tertekan saat mengatakannya. Sejak itu, kuputuskan
untuk tak bertanya-tanya lagi.
Seiring naiknya karier ibu, tugasnya makin banyak. Ibu sering luar kota, meninggalkanku
berhari-hari. Saat itu, aku sudah duduk di bangku SMP. Ibu menasehati
bermacam-macam, terutama soal keamanan di rumah. Saat demikian, bibi tukang
cuci akan bermalam. Tukang kebun juga tetap datang secara rutin. Aku akhirnya
terbiasa mengatur rumah. Termasuk tepat waktu memberikan gaji bibi dan tukang
kebun, jika tanggal gajian bertepatan
dengan Ibu masih di luar kota. Saat itu usiaku lima belas tahun, tapi aku sudah
bisa mengurus diriku sendiri. Berangkat sekolah. Pergi pulang ke tempat les
biola naik ojek. Sibuk di dapur. Belajar. Semua beres, sesuai didikan Ibu.
***
Sejak aku ulang tahun ke tujuh belas, Ibu keluar masuk rumah
sakit. Berkali-kali aku dikejutkan berita bahwa beliau tak sadarkan diri saat di
kantor, lalu dilarikan ke rumah sakit. Sekali ia kutemukan terduduk lemas di
meja dapur. Kali lain terjatuh di kamar mandi. Aku tak sempat panik. Ibu
mendidikku dengan benar hingga saat melihat Ibu sakit, aku bisa segera menghubungi
rumah sakit, meminta ambulance (nomor teleponnya sudah ditempel oleh Ibu di
dinding dekat pesawat telepon).
Pemandangan sama selalu terjadi saat pulang dari rumah sakit.
Wajah Ibu pucat tapi bahagia melihat rumahnya tetap tertata, seolah ia tak
pernah pergi. Aku yang menjaga agar semua tetap rapi. Lalu Ibu mengelus
kepalaku. "Aku bangga. Kamu memang anakku," bisiknya pelan.
Aku cium pipinya. Dan Ibu tertawa tanpa suara. "Rumah
ini memang tak berubah tatanannya, Ibu. Tapi Ibu jangan pergi lama-lama. Aku
kangen lihat Ibu berangkat dan pulang dari kantor. Kalaupun aku bisa masak
sendiri, tapi masakan Ibu tetap yang paling lezat di dunia," sahutku.
Selalu begitu.
Ibu lagi-lagi pasti tertawa. Tangannya terbentang lebar,
mengundangku ke pelukannya. Kami akan berpelukan. Lama sekali. Demikian
berulang-ulang.
Sekali waktu, saat aku SMA, Ibu masuk rumah sakit saat
pembagian rapor di sekolah. Ketika aku menunjukkan raporku, Ibu sempat
tercenung.
"Siapa yang mengambilkan?"
"Ayah Manda."
"Siapa Manda?" senyum Ibu terlihat menggoda.
"Nanti juga Ibu akan kenal," aku merasa pipiku
merah.
Senyum Ibu makin lebar. Ia pasti tahu bahwa Manda adalah
teman spesial.
Sejak itu, Manda kadangkala datang menemani Ibu. Apakah kami
berpacaran? Ya. Tapi tidak lama. Kami lebih nyaman berteman saja. Manda menjadi
sahabat terbaik di dunia. Dan menjadi semacam kurator untuk gadis-gadis yang
kukencani. Dia memang lebih cocok menjadi saudaraku. Ibu pun senang karena seperti mempunyai anak
perempuan yang datang mengunjunginya sekali waktu.
Ibu masih tetap menjadi pelanggan rumah sakit. Kadang
kutemani, kadang bersama Manda.
Dua hari setelah aku berulang tahun ke-23, aku yang hendak
berangkat bekerja mendapati Ibu tak bisa dibangunkan. Tubuhnya dingin, wajahnya
memutih, tapi bibirnya tersenyum. Seketika aku tahu, Ibu benar-benar pergi.
Setelah enam tahun, kanker itu mengalahkannya.
***
Ibu telah tiada, tapi hidupku berjalan terus.
Hampir setahun setelah Ibu meninggal, bersama Manda kubongkar
kamar Ibu, berniat menyumbangkan baju-bajunya ke rumah jompo. Sepatu dan tas
juga pasti bisa dimanfaatkan penghuni penampungan. Ibu pasti setuju. Terutama,
aku tak ingin tenggelam lama-lama dalam kenangan yang menyedihkan gara-gara
melihat barang-barang Ibu yang masih ada di mana-mana. Aku ingin mengingat Ibu
dengan gembira, melalui kenangan-kenangan di hatiku saja.
"Aku kagum, kamu tabah sekali menerima kenyataan
kehilangan Ibu," kata Manda sambil melipat setumpuk baju dan memasukkannya
ke dalam koper. "Kamu tegar."
"Ibu yang mendidikku seperti ini," jawabku. "Jujur,
kadangkala aku tak tahu bedanya antara tegar, atau tidak berperasaan."
Manda menatapku heran. Tapi aku tak sempat memperhatikannya.
Aku sedang memanjat kursi untuk menjangkau sisi atas lemari, agar bisa
mengeluarkan setumpuk kotak dari sana. Entah apa saja yang disimpan Ibuku
selama hidupnya. Satu per satu kotak itu kubuka. Ada sepatu. Ada yang berisi
foto-fotoku saat bayi. Ada yang berisi surat-surat tagihan lama. Satu kotak
agak besar menarik perhatianku. Tidak seperti kotak lain yang bekas sepatu,
kotak ini tampak istimewa, meski telah usang.
Hatiku berdesir ketika membukanya.
"Apa itu?" tanya Manda. Ia tentu melihat perubahan
raut wajahku.
"Ini surat-surat ayah, untuk Ibu."
***
Akhirnya aku menemukanmu, Ayah.
Di antara surat-surat yang dikirim ayahku untuk Ibu,
terdapat secarik pemberitahuan duka cita. Alamat di pemberitahuan tersebut
membawakau ke pemakaman ini.
Di salah satu nisan, terbaca nama: Ryan Andika. Meninggal
2003. Nama belakangnya sama seperti nama belakangku, Andika. Aku usap rumput
hijau yang melapisi makam itu. Nampak terawat dan subur. Syukurlah makam ayah
tidak tersia-sia. Dan ternyata petualangan yang menghilangkan nyawa ayah tidak
seperti yang kubayangkan selama ini. Ia bukan hilang di laut, atau diserang
binatang buas kala di hutan. Bukan begitu ceritanya. Dari surat-surat itu, aku
paham bahwa cinta ayah dan Ibu tak bisa bersatu.
"Halo, kamu siapa?" sebuah suara ceria menyapaku,
membuyarkan lamunanku tentang ayah. Pemilik suara ternyata seorang anak
perempuan lucu berbaju warna merah dan kuning. Rambutnya dikuncir dua.
"Maafkan. Dia tidak bermaksud mengganggu," seorang
Ibu muda menarik tangan anak itu. Wajah mereka mirip, pasti ibunya.
"Om siapa? Kenapa ada di makam kakek?" anak itu
masih bertanya.
Kakek?
"Ini makam ayah saya," tutur sang ibu. Matanya
mengamatiku lekat-lekat. "Apakah kita pernah bertemu sebelum ini?"
Seorang ibu paruh baya yang berlindung di bawah payung
tampak berjalan di belakang mereka. Aku seketika bisa menebak. Merekalah yang beberapa
kali diceritakan Ayah di surat-surat untuk Ibu.
"Ia ayah saya juga," suaraku tercekat di
tenggorokan. "Saya Rudy Andika."
Nyata-nyata ia terkejut, sebelum berbisik sangat pelan,
"Saya Desiana Andika."
Ibu yang memegang payung sekarang ada di hadapanku, terpaku
tak bisa berkata-kata, menatap wajahku yang juga membisu. Aku tahu, ia pasti
terkejut melihatku. Berulang kali Ibu mengatakan aku sangat mirip dengan ayah
di masa muda.
Ah Ayah, bukan saja aku menemukanmu, tapi aku juga menemukan
keluargamu. Merekalah yang tak kau tinggalkan meski dalam perjalanan hidupmu
kau bertemu lalu jatuh cinta pada Ibu.
(Dimuat di salah satu Majalah Femina yang terbit pada Desember 2015)
Tuesday, February 09, 2016
Over Flowing
So, I date the man I used to avoid dating.
Kenapa dulu gue nggak mau? Krn dia sangat sangat kekanak-kanakan. Menurut gue. Dan tentunya gue nggak mau kerusuhan lain setelah gue gonjang ganjing sama anak gue kan?
Tp setelah sekian tahun berlalu, entah apa yg membuat gue mau mencoba lagi dating that man. I ended up having a very good time.
Apakah dia skrg menjadi lebih dewasa? Nope. Dia masih tetap kanak2. Masih tetap seperti anak gue. Mungkin yg berbeda adalah cara gue menghadapi dia. Tiba2 gue spt punya kesabaran lebih menghadapi satu anak lagi di luar rumah. Entah kenapa kok gue mau2 aja ngurusin ini itu. Hmmm....
And I enjoyed every minute I spent with him.
Gue jd cemas. Beberapa waktu lalu gue pernah ngobrol sama seorang teman tentang kebutuhan batiniah. Bahwa dia pernah merasa hrs servis orang lain. Dan itu membuat dia happy. Tanpa perlu balasan apa2 dari orang itu. Jangan2 gue lagi di tahap spt teman itu?
Gue terlalu "penuh" sehingga perlu penyaluran. Meskipun artinya gue hrs ngurusin ini itu, gue tetap senang. Krn memang "ngurus ini itu" adalah yg gue butuhkan.
Tiba2 gue merasa aneh.
Kenapa dulu gue nggak mau? Krn dia sangat sangat kekanak-kanakan. Menurut gue. Dan tentunya gue nggak mau kerusuhan lain setelah gue gonjang ganjing sama anak gue kan?
Tp setelah sekian tahun berlalu, entah apa yg membuat gue mau mencoba lagi dating that man. I ended up having a very good time.
Apakah dia skrg menjadi lebih dewasa? Nope. Dia masih tetap kanak2. Masih tetap seperti anak gue. Mungkin yg berbeda adalah cara gue menghadapi dia. Tiba2 gue spt punya kesabaran lebih menghadapi satu anak lagi di luar rumah. Entah kenapa kok gue mau2 aja ngurusin ini itu. Hmmm....
And I enjoyed every minute I spent with him.
Gue jd cemas. Beberapa waktu lalu gue pernah ngobrol sama seorang teman tentang kebutuhan batiniah. Bahwa dia pernah merasa hrs servis orang lain. Dan itu membuat dia happy. Tanpa perlu balasan apa2 dari orang itu. Jangan2 gue lagi di tahap spt teman itu?
Gue terlalu "penuh" sehingga perlu penyaluran. Meskipun artinya gue hrs ngurusin ini itu, gue tetap senang. Krn memang "ngurus ini itu" adalah yg gue butuhkan.
Tiba2 gue merasa aneh.
Thursday, February 04, 2016
Cinta... Yang Pelik
Penemuan gue tentang "orang hilang" tempo hari ternyata berlanjut ke penemuan pengumuman lain. Intinya si orang hilang itu meninggalkan banyak tunggakan ini itu, yg merepotkan the spouse & family.
Yg mencuri perhatian gue adalah diksi yang digunakan mbak mistress. Pilihan katanya kasar, nggak sabaran, dan emosional. Nggak menunjukkan ada sisa2 cinta. Padahal dulu waktu "merebut" kayaknya kok cinta bener nggak bisa dipisahkan lagi. Okay, memang dulu sih ada kecurigaan bahwa she was only after his money. Dan yaaaa... uang itu kan bisa cepat sekali menguap kayak kentut. Mungkin bener juga setelah semua habis, cintanya jg habis. Atau lebih parah lagi, sebetulnya nggak ada cinta?
Pernikahan memang pelik ya. Salah satu sepupu yang baru dinikahi duda, menurut nyokap skrg sedang bermasalah. Masalahnya itu... kalau diurutin lagi... sumbernya adalah si duda yang tdk berpenghasilan (lagi) krn sudah pensiun. Pdh waktu pertama dikenalin, si mas ini dibilang berkedudukan bagus di kantornya, punya ini itu. Nah, ternyata ini itu hanya bisa "dinikmati" beberapa saat. Kira2 dua bulan setelah menikah, si mas pensiun. Akhirnya mbak gue kembali ke gonjang ganjing hidup dia, mondar mandir banting tulang mencari nafkah, seperti dulu.
Ya nggak pa pa sih kalau memang hrs kerja keras. Kan demi keluarga juga ya. Tp lagi2, tergantung motivasi menikahnya juga. Kalau memang cinta bener, mau kyk apa ya diterima aja. Kan sdh cinta? Kalau dulu mbak gue melihat si mas sbg safety net, the way out, dari masalah finansial... hmm... ya ambyarlah semua. Mungkin dia menyesal juga krn skrg tnyt hidupnya nggak lebih menyenangkan dibanding ketika single dulu.... Duh, kasihan.
Semalam, di tengah2 meeting kece badai yang sampai malam banget, salah satu bos nyeletuk ke kami2 para kroco pilek yg ngantuk2, "You guys... stay single. If I can turn back time, I will rethinking of getting married."
Kesambet apaaaa lagi si bos ini. Mungkin dia lagi berantem sm suaminya ya? Hahahaha... Pernikahan dia memang ga lazim. Kalau org LDR waktu pacaran, doi LDR hingga setelah kawin. Skrg suaminya masih di Jerman. Lha trus kanggo opo? Embuh. Gue nggak membayangkan ada orang yang mau menikah tp jauh2an (banget). Kalau sekadar weekend couple aja (Jkt-Bandung gitu), masih okelah....
Tapi, mungkin si bos ini merasa suaminya belahan jiwa? Yg kalau nggak ada, dia bisa mati? Ada benarnya juga ya kalau dibilang bhw: menikahlah dgn orang yg kau tak bisa hidup tanpanya. Eh, tp kan dia nggak hidup bareng? Ah embuh.
Tp gue setuju sih, untuk menikah hanya dengan orang yang kau tak bisa hidup tanpanya. Karena dgn begitu, menikah jadi harus, kalau nggak: mati.
Ketika diancam mati, pasti akan mengusahakan bareng terus, sampai bagaimana pun, dgn cara apa pun. Ya kan?
Yg mencuri perhatian gue adalah diksi yang digunakan mbak mistress. Pilihan katanya kasar, nggak sabaran, dan emosional. Nggak menunjukkan ada sisa2 cinta. Padahal dulu waktu "merebut" kayaknya kok cinta bener nggak bisa dipisahkan lagi. Okay, memang dulu sih ada kecurigaan bahwa she was only after his money. Dan yaaaa... uang itu kan bisa cepat sekali menguap kayak kentut. Mungkin bener juga setelah semua habis, cintanya jg habis. Atau lebih parah lagi, sebetulnya nggak ada cinta?
Pernikahan memang pelik ya. Salah satu sepupu yang baru dinikahi duda, menurut nyokap skrg sedang bermasalah. Masalahnya itu... kalau diurutin lagi... sumbernya adalah si duda yang tdk berpenghasilan (lagi) krn sudah pensiun. Pdh waktu pertama dikenalin, si mas ini dibilang berkedudukan bagus di kantornya, punya ini itu. Nah, ternyata ini itu hanya bisa "dinikmati" beberapa saat. Kira2 dua bulan setelah menikah, si mas pensiun. Akhirnya mbak gue kembali ke gonjang ganjing hidup dia, mondar mandir banting tulang mencari nafkah, seperti dulu.
Ya nggak pa pa sih kalau memang hrs kerja keras. Kan demi keluarga juga ya. Tp lagi2, tergantung motivasi menikahnya juga. Kalau memang cinta bener, mau kyk apa ya diterima aja. Kan sdh cinta? Kalau dulu mbak gue melihat si mas sbg safety net, the way out, dari masalah finansial... hmm... ya ambyarlah semua. Mungkin dia menyesal juga krn skrg tnyt hidupnya nggak lebih menyenangkan dibanding ketika single dulu.... Duh, kasihan.
Semalam, di tengah2 meeting kece badai yang sampai malam banget, salah satu bos nyeletuk ke kami2 para kroco pilek yg ngantuk2, "You guys... stay single. If I can turn back time, I will rethinking of getting married."
Kesambet apaaaa lagi si bos ini. Mungkin dia lagi berantem sm suaminya ya? Hahahaha... Pernikahan dia memang ga lazim. Kalau org LDR waktu pacaran, doi LDR hingga setelah kawin. Skrg suaminya masih di Jerman. Lha trus kanggo opo? Embuh. Gue nggak membayangkan ada orang yang mau menikah tp jauh2an (banget). Kalau sekadar weekend couple aja (Jkt-Bandung gitu), masih okelah....
Tapi, mungkin si bos ini merasa suaminya belahan jiwa? Yg kalau nggak ada, dia bisa mati? Ada benarnya juga ya kalau dibilang bhw: menikahlah dgn orang yg kau tak bisa hidup tanpanya. Eh, tp kan dia nggak hidup bareng? Ah embuh.
Tp gue setuju sih, untuk menikah hanya dengan orang yang kau tak bisa hidup tanpanya. Karena dgn begitu, menikah jadi harus, kalau nggak: mati.
Ketika diancam mati, pasti akan mengusahakan bareng terus, sampai bagaimana pun, dgn cara apa pun. Ya kan?
Tuesday, February 02, 2016
A Warning
Don't fall in love with a woman who reads, a woman who feels too much, a woman who writes. Don't fall in love with an educated, magical, delusional, crazy woman. Don't fall in love with a woman who thinks, who knows what she knows and also knows how to fly; a woman sure of herself.
Don't fall in love with a woman who laughs or cries making love, knows how to turn her spirit into flesh; let alone one that loves poetry (these are the most dangerous), or spends half of hour contemplating a painting and isn't able to live without music.
Don't fall in love with a woman who is interested in politics and is rebellious and feel a huge horror from injustice. One who does not like to watch television at all. Or a woman who is beautiful no matter the features or her face or her body.
Don't fall in love with a woman who is intense, entertaining, lucid and irreverent. Don't wish to fall in love with a woman like that.
Because when you fall in love with a woman like that, whether she stays with you or not, whether she loves you or not, from a woman like that, you never come back.
(Martha Rivera-Garrido)
Don't fall in love with a woman who laughs or cries making love, knows how to turn her spirit into flesh; let alone one that loves poetry (these are the most dangerous), or spends half of hour contemplating a painting and isn't able to live without music.
Don't fall in love with a woman who is interested in politics and is rebellious and feel a huge horror from injustice. One who does not like to watch television at all. Or a woman who is beautiful no matter the features or her face or her body.
Don't fall in love with a woman who is intense, entertaining, lucid and irreverent. Don't wish to fall in love with a woman like that.
Because when you fall in love with a woman like that, whether she stays with you or not, whether she loves you or not, from a woman like that, you never come back.
(Martha Rivera-Garrido)
Monday, February 01, 2016
Polisi
Seumur-umur baru tadi pagi masuk ke Polda Metro, keluyuran di dalamnya. Ketemu pak Humas (yg ganteng) dan ngobrol ini itu.
Yg menarik adalah melihat gerombolan reserse dgn seragam khusus: celana khaki dan polo shirt turn back crime. Keren. Untung bisa menahan diri nggak ngajak mereka wefie.
Ini postingan maha penting deh ah. Hahahaha....
Yg menarik adalah melihat gerombolan reserse dgn seragam khusus: celana khaki dan polo shirt turn back crime. Keren. Untung bisa menahan diri nggak ngajak mereka wefie.
Ini postingan maha penting deh ah. Hahahaha....
Thursday, January 14, 2016
Nice Notes
"I cannot afford to hear you getting hurt."
His email popped up in my mailbox soon after the bombing. I am sure comforting notes is one of his specialties. And I just love it. Love it so much.
Maybe because I love him too much too.
His email popped up in my mailbox soon after the bombing. I am sure comforting notes is one of his specialties. And I just love it. Love it so much.
Maybe because I love him too much too.
Tuesday, January 12, 2016
Temuan Hari Ini
Sometimes I feel like I have a lot of energy to do anything stupid all at once. *sigh*
Jadi, tadi habis "berantem" sama bapaknya Aria. Ya biasalah, masalah tunjangan yg ga pernah beres. Tp krn skrg sebenernya tanpa tunjangan itu pun kami berdua tetap sejahtera (maturnuwun Gusti Allah ingkang Maha Kuwaos), tadi itu idenya ngingetin aja sih. Kalau yg diingetin trus ngegas... getok! Ya kan? Ya kan? Tp tetep manis kok. Masih bisa pakai emoticon ketawa(in doi) hohoho...
Tapi lalu iseng2 buka google trus ketik nama bapaknya anak gue itu. Taraaaaaa... nemu macem2, tapi yg paling penting ada 2, postingan di web umum yg nyari dia:
1. dari istri yg ditinggal suami lalu digeruduk sama penagih utang (yes, she was the mistress)
2. dari anak yg ditinggal ayahnya lalu terancam nggak bisa melanjutkan sekolah, dan anaknya ada dua
Ya Tuhanku....
I know karma is a bitch (eat that, you!) but the children are innocent, right? Really really want to help but soooo afraid if I would do something over my capacity.
Tuhanku... piye iki yo?
Tetep bersyukur, berterima kasih pada Tuhan bahwa gue & Aria baik2 saja.
Jadi, tadi habis "berantem" sama bapaknya Aria. Ya biasalah, masalah tunjangan yg ga pernah beres. Tp krn skrg sebenernya tanpa tunjangan itu pun kami berdua tetap sejahtera (maturnuwun Gusti Allah ingkang Maha Kuwaos), tadi itu idenya ngingetin aja sih. Kalau yg diingetin trus ngegas... getok! Ya kan? Ya kan? Tp tetep manis kok. Masih bisa pakai emoticon ketawa(in doi) hohoho...
Tapi lalu iseng2 buka google trus ketik nama bapaknya anak gue itu. Taraaaaaa... nemu macem2, tapi yg paling penting ada 2, postingan di web umum yg nyari dia:
1. dari istri yg ditinggal suami lalu digeruduk sama penagih utang (yes, she was the mistress)
2. dari anak yg ditinggal ayahnya lalu terancam nggak bisa melanjutkan sekolah, dan anaknya ada dua
Ya Tuhanku....
I know karma is a bitch (eat that, you!) but the children are innocent, right? Really really want to help but soooo afraid if I would do something over my capacity.
Tuhanku... piye iki yo?
Tetep bersyukur, berterima kasih pada Tuhan bahwa gue & Aria baik2 saja.
Monday, January 11, 2016
Drama King
In my life, I went through so many dramas already.
Perselingkuhan, perceraian, anak masuk ICU, urusan hak asuh, kantor yg kampret... and so on so forth.
Bukan sombong, tp boleh doooong kalau gue bangga bisa survive.
Trus, kemarin ini drama komplit pakai telor... terjadi. Nyari tukang kayu buat bikin kusen pintu depan, mobil masuk bengkel ditabrak pick-up, urus Aria masuk SMP, perpanjang STNK mobil, mondar mandir ke notaris & bank utk urus surat rumah. Termasuk hrs k pegadaian buat cari dana bayarin semua drama itu. Oh ya, semua terjadi di antara badai deadline akhir tahun. Yahud bener.
I survived. Still standing tall after every chaos.
Kadang ngos2an, sering mau semaput, tapi selamat. Alhamdulillah.
Nah... kalau sdh gonjang-ganjing kyk gitu, trus dideketin cowok yg blm kelar dgn urusan mantan... salah ga sih kalau gue males? Drama mantan is so last year....
Hari gini di umur segini msh ga paham cara memperlakukan mantan... kok ya aneh. Mantan ya mantan. Sdh lewat. Ga usah dibahas kali. Masak beli sepatu aja hrs lapor mantan (& gue tahu...). Demi hubungan baik, katanya. Hubungan baik dr Hong Kong? Mantan sdh kawin & posesif... msh lu ladenin. Sing bodo sopo?
Gue ga butuh drama tambahan.
Jadiiiii... kalau gegara mantan minta dianter ke RS... dia ga mau diantar suami... trus lu panik, ngerusuhin gue... hadeeehhhh maliiiiihhhh... dadah good bye aja deh yeee.... nooohh pintu keluar di sono noooohhh....
#emosijiwa
Perselingkuhan, perceraian, anak masuk ICU, urusan hak asuh, kantor yg kampret... and so on so forth.
Bukan sombong, tp boleh doooong kalau gue bangga bisa survive.
Trus, kemarin ini drama komplit pakai telor... terjadi. Nyari tukang kayu buat bikin kusen pintu depan, mobil masuk bengkel ditabrak pick-up, urus Aria masuk SMP, perpanjang STNK mobil, mondar mandir ke notaris & bank utk urus surat rumah. Termasuk hrs k pegadaian buat cari dana bayarin semua drama itu. Oh ya, semua terjadi di antara badai deadline akhir tahun. Yahud bener.
I survived. Still standing tall after every chaos.
Kadang ngos2an, sering mau semaput, tapi selamat. Alhamdulillah.
Nah... kalau sdh gonjang-ganjing kyk gitu, trus dideketin cowok yg blm kelar dgn urusan mantan... salah ga sih kalau gue males? Drama mantan is so last year....
Hari gini di umur segini msh ga paham cara memperlakukan mantan... kok ya aneh. Mantan ya mantan. Sdh lewat. Ga usah dibahas kali. Masak beli sepatu aja hrs lapor mantan (& gue tahu...). Demi hubungan baik, katanya. Hubungan baik dr Hong Kong? Mantan sdh kawin & posesif... msh lu ladenin. Sing bodo sopo?
Gue ga butuh drama tambahan.
Jadiiiii... kalau gegara mantan minta dianter ke RS... dia ga mau diantar suami... trus lu panik, ngerusuhin gue... hadeeehhhh maliiiiihhhh... dadah good bye aja deh yeee.... nooohh pintu keluar di sono noooohhh....
#emosijiwa
Friday, January 08, 2016
Editing
Tadi pagi dia kirim dua tulisan. Yang lalu spt biasa gue gemes untuk ngedit.... hahaha.... Meskipun tulisan lama, sudah pernah tayang, tapi tetep gue pengen edit, sekaligus menunjukkan bahwa sedikit polesan bisa membuat tulisan lebih ciamik. Hehe....
Trus, gue save dong di folder khusus. Dengan namanya. Eh, kok ya deketan sama folder editing yg lain. Yg khusus buat bulletin kantor. Yg dulu gue kerjakan juga. Bala bantuan dgn penuh cinta. Jd buka2 lagi. Inget2 lagi. Ah... ternyata cintanya masih terasa.
Trus, gue save dong di folder khusus. Dengan namanya. Eh, kok ya deketan sama folder editing yg lain. Yg khusus buat bulletin kantor. Yg dulu gue kerjakan juga. Bala bantuan dgn penuh cinta. Jd buka2 lagi. Inget2 lagi. Ah... ternyata cintanya masih terasa.
Wednesday, January 06, 2016
Easy Way
I always remember you said to do one thing at a time, especially on certain dates when the load of work burried my nose. And it works. Always does. Thank you.
Thursday, December 31, 2015
What to Do....
"So, how was the date? It was the 2nd times, right?"
"Uh hm. And exactly like the 1st one."
"What do you mean?"
"I didn't feel anything special."
"Did you guys not talking to each other or what?"
"We watched movie. Then had a nice conversation over dinner. Laughed a lot. Discussed everything."
"Nice...."
"But I am missing something. And I guess he felt the same way I did."
"Girl, I know what your problem is."
"What?"
"You were expecting too much."
#morningcoffee
#jleb
"Uh hm. And exactly like the 1st one."
"What do you mean?"
"I didn't feel anything special."
"Did you guys not talking to each other or what?"
"We watched movie. Then had a nice conversation over dinner. Laughed a lot. Discussed everything."
"Nice...."
"But I am missing something. And I guess he felt the same way I did."
"Girl, I know what your problem is."
"What?"
"You were expecting too much."
#morningcoffee
#jleb
Wednesday, December 30, 2015
Tuesday, December 29, 2015
Wednesday, December 23, 2015
Ayem lan Tentrem
Yesterday we went to a painting exhibition. Parked the car in the mall and walked about 3 km to the venue, his simple gestures amazed me. First he held my hand when crossing the streets. He waited patiently when I need to greet many people. On our way back to the parking lot, my hand was in his, all the time. It felt nice.
Tuesday, December 22, 2015
Flashback
And it feels like 10 years ago. My heart jumped on the floor whenever I saw your name popped up.
Sunday, December 20, 2015
Kangen
You're Still You
Through the darkness
I can see your light
And you will always shine
And I can feel your heart in mine
Your face I've memorized
I idolized just you
I look up to
Everything you are
In my eyes you do no wrong
I've loved you for so long
And after all is said and done
You're still you
After all
You're still you
You walk pass me
I can feel your pain
Time changes everything
One truth always stays the same
You're still you
After all
You're still you
I look up to
Everything you are
In my eyes you do no wrong
And I believe in you
Although you never asked me to
I will remember you
And what life put you through
And in this cruel and lonely world
I found one love
You're still you
After all
You're still you
(Josh Groban)
Through the darkness
I can see your light
And you will always shine
And I can feel your heart in mine
Your face I've memorized
I idolized just you
I look up to
Everything you are
In my eyes you do no wrong
I've loved you for so long
And after all is said and done
You're still you
After all
You're still you
You walk pass me
I can feel your pain
Time changes everything
One truth always stays the same
You're still you
After all
You're still you
I look up to
Everything you are
In my eyes you do no wrong
And I believe in you
Although you never asked me to
I will remember you
And what life put you through
And in this cruel and lonely world
I found one love
You're still you
After all
You're still you
(Josh Groban)
Wednesday, December 16, 2015
Simple Happiness
Tiba2 kok kangen sama anak lanang, yg hari ini seru ke sekolah. Kok seru? "Hari ini nggak ada pelajaran. Asyik. Cuma ada pemeriksaan gigi."
Ya ampun nak... kok semangat ke sekolah waktu nggak ada pelajaran. Hahahaha...
Memang kita bisa belajar banyak banget dr anak2 ya. Termasuk tentang kebahagiaan kecil yang seringkali tidak kita pikirkan "sampai segitunya."
Kemarin dulu dia seneng banget waktu menemukan mobil kami bisa jadi gajah. Pas di parkiran Aeon Mall, trus dia bilang, "Ibu, buka pintu mobil. Yg lebar ya. Trus tunggu sebentar ya. Tunggu aba2 aku."
Gue pikir dia mau apaaaa.... Krn hbs ngomong gitu dia juga buka pintu mobil trus keluar menjauh. Jd kondisi pintu depan terbuka dua2nya, lampu dashboard menyala, dia lihat dari sisi depan, agak jauh.
"Lucuuuuu banget, si kentang jadi kayak Dumbo!"
And he was so happy. Smiling ear to ear. Contagious happiness which instantly drove up my mood the whole day. Thank you, Nak.... I love you so much, with my heart and soul.
Ya ampun nak... kok semangat ke sekolah waktu nggak ada pelajaran. Hahahaha...
Memang kita bisa belajar banyak banget dr anak2 ya. Termasuk tentang kebahagiaan kecil yang seringkali tidak kita pikirkan "sampai segitunya."
Kemarin dulu dia seneng banget waktu menemukan mobil kami bisa jadi gajah. Pas di parkiran Aeon Mall, trus dia bilang, "Ibu, buka pintu mobil. Yg lebar ya. Trus tunggu sebentar ya. Tunggu aba2 aku."
Gue pikir dia mau apaaaa.... Krn hbs ngomong gitu dia juga buka pintu mobil trus keluar menjauh. Jd kondisi pintu depan terbuka dua2nya, lampu dashboard menyala, dia lihat dari sisi depan, agak jauh.
"Lucuuuuu banget, si kentang jadi kayak Dumbo!"
And he was so happy. Smiling ear to ear. Contagious happiness which instantly drove up my mood the whole day. Thank you, Nak.... I love you so much, with my heart and soul.
Monday, December 14, 2015
Memento
Rainy days.
And you.
But now when rainy days are here
I feel so blue ‘cause I can’t hear
All your laughter
In the falling rain
And it brings sadness to my heart
Knowing that you’ve gone from my side....
(Phil Perry)
And you.
But now when rainy days are here
I feel so blue ‘cause I can’t hear
All your laughter
In the falling rain
And it brings sadness to my heart
Knowing that you’ve gone from my side....
(Phil Perry)
Thursday, December 10, 2015
I Tried, At Least
So I went on a date.
He is cute and tall. He is fun to be with, smart & witty as well. Know him for a while, and we went out for lunch several time (with bunch of other people). Only God knew the reason he called couple days ago, and we decided to go out on a date, last Wednesday. And we started as early as 6.30 am. Hahaha...
He waited patiently when I need to finish my swimming routine, then accompanied me for (a very long and laid back) breakfast. He then did his work while waiting for my meeting to be done. We met again for lunch, and my family came unplanned. So we have lunch together. He met my son, my mom, my big bro. They got along well, I may say.
Since Aria needed to get home soon to study for his exam the next day, we left right after lunch time was over. So the official date was considered to be postponed, since we only did half day instead of a full day as planned.
And that was it.
Did I have fun? Yes.
Was he good? Yes. We laughed a lot.
But we didn't have THAT click. And I believe he felt it too.
Should I give it a chance? Somehow my heart says no. And I think I'll listen.
He is cute and tall. He is fun to be with, smart & witty as well. Know him for a while, and we went out for lunch several time (with bunch of other people). Only God knew the reason he called couple days ago, and we decided to go out on a date, last Wednesday. And we started as early as 6.30 am. Hahaha...
He waited patiently when I need to finish my swimming routine, then accompanied me for (a very long and laid back) breakfast. He then did his work while waiting for my meeting to be done. We met again for lunch, and my family came unplanned. So we have lunch together. He met my son, my mom, my big bro. They got along well, I may say.
Since Aria needed to get home soon to study for his exam the next day, we left right after lunch time was over. So the official date was considered to be postponed, since we only did half day instead of a full day as planned.
And that was it.
Did I have fun? Yes.
Was he good? Yes. We laughed a lot.
But we didn't have THAT click. And I believe he felt it too.
Should I give it a chance? Somehow my heart says no. And I think I'll listen.
Friday, December 04, 2015
Limited Communication
My cellphone was suddenly black out yesterday. Asked the concierge to have it checked, turned out it was completely broken. And since I am in marathon meeting, away from home, there is no time to go out and buy a new one. Glad that I still have my laptop, so in the meantime, the communication with my team in the office is via FB messenger.
Surprisingly, I enjoy 2nd day of having no cellphone. No bing, no cling, whatsoever. So quiet and tranquil. So I can hear the sound of nature around me.
Surprisingly, I enjoy 2nd day of having no cellphone. No bing, no cling, whatsoever. So quiet and tranquil. So I can hear the sound of nature around me.
Thursday, December 03, 2015
Emails
Maybe it is time for me to create one email address somewhere... so I can stop sending you my nonsense and send it to that email instead. Afraid that if I continue to email you everyday... ah well... I enjoy reading your reply too.
Hahahaha....
Craziness.
Hahahaha....
Craziness.
Wednesday, December 02, 2015
Crossing Path
Karena tidak pernah hidup sendiri, tentunya kita akan bersinggungan dengan orang lain selama menjalani hidup. Alangkah sepinya kalau kita sendirian saja.
Orang datang dan pergi dalam hidup kita. Ada yg lama, ada yg sebentar. Ketika bertemu soulmate, tentu akan selamanya bersama.
Ada yg bilang, jika seseorang pergi dari hidup kita, artinya "tugas" orang tsb dalam hidup kita sudah usai. Mungkin benar juga. Krn toh tidak ada yg kebetulan di dunia ini. Semua sdh diatur. Pasti ada yg mengatur kita akan ketemu siapa nanti dan besok. Apa yg akan terjadi setelah pertemuan itu? Sudah ada skenarionya.
Jadi kalau ada yg datang, sambutlah. Biarkan dia melakukan tugasnya. Apakah mendewasakanmu atau membuatmu sedih, ya sudahlah. Terima saja. Itu memang tugasnya. Ketika dia selesai bertugas, dia akan pergi darimu.
I hope I did my part well when crossing someone else's path. I really hope.
Orang datang dan pergi dalam hidup kita. Ada yg lama, ada yg sebentar. Ketika bertemu soulmate, tentu akan selamanya bersama.
Ada yg bilang, jika seseorang pergi dari hidup kita, artinya "tugas" orang tsb dalam hidup kita sudah usai. Mungkin benar juga. Krn toh tidak ada yg kebetulan di dunia ini. Semua sdh diatur. Pasti ada yg mengatur kita akan ketemu siapa nanti dan besok. Apa yg akan terjadi setelah pertemuan itu? Sudah ada skenarionya.
Jadi kalau ada yg datang, sambutlah. Biarkan dia melakukan tugasnya. Apakah mendewasakanmu atau membuatmu sedih, ya sudahlah. Terima saja. Itu memang tugasnya. Ketika dia selesai bertugas, dia akan pergi darimu.
I hope I did my part well when crossing someone else's path. I really hope.
Tuesday, December 01, 2015
Ikhlas
Sungguh sulit buat menerima bahwa ada orang2 yg kita sayang, yg "tugasnya" selesai. Artinya dia nggak akan ada lagi dalam hidup kita.
Sulit. Sulit banget.
Tapi harus ikhlas. Harus membiarkan mereka pergi. Karena mereka akan tetap pergi. Seberapa pun kita ingin mereka tetap tinggal.
Sulit. Sulit banget.
Tapi harus ikhlas. Harus membiarkan mereka pergi. Karena mereka akan tetap pergi. Seberapa pun kita ingin mereka tetap tinggal.
Monday, November 30, 2015
Let's Swim!
Sekuat apa pun gue berusaha membuat Aria menjadi my mini-me, ternyata banyak yg gagal. Mungkin krn gen gue nggak begitu banyak di badannya ya? Hahaha....
Yg mendasar saja spt bangun pagi, olahraga, makan sehat... itu nggak dia kerjakan sama sekali. Oh well....
Salah satu bedanya gue dan Aria adalah: gue benci mal, he loves it so much. Gue merasa harus punya waktu lihat laut minimal setahun sekali. Aria? Hahaha... dia tetap akan pilih mal. Pernah waktu itu dia ikut ke Pulau Seribu, dan dia senang juga sih. Tp kalau skrg diajak lagi, dia akan geleng2 kepala.
Tapi, gue tetap mewajibkan dia bisa berenang. Entah gimana caranya, harus bisa. Sebetulnya sejak dia umur 1 tahun, dia sudah sering gue ajak ke kolam renang. Tp nggak pernah mau belajar renang dgn bener. Selalu ngamplok simbok. Bahkan sampai besar. Alasannya macam2. Dari yg masuk akal sampai enggak.
Namanya orang Indonesia, tinggal di wilayah kepulauan, masak nggak bisa berenang?
Dia ga mau kursus berenang kalau nggak diantar ibu. Entah alasan atau apaaaa itu namanya? Sejak kelas 4, dia gue kursusin renang. Kok ya kebetulan kolam renang yg dekat rumah itu bukanya siang. Ya kan bisa ungu dong anak gue.... Jadilah berenang sore. Setiap hari Sabtu, jam 4 mulai nyemplung.
Entah krn pilihan waktu yg salah, atau memang gurunya kurang ok, atau kolamnya kurang nyaman... hampir 6 bulan kok berenangnya gitu2 aja. Cuma kecipuk2 nggak ada hasil? Oke deh. Harus ganti strategi. Stop dulu deh sementara.
Akhirnya pindah kolam renang, pilih yg buka pagi, agak jauh dari rumah tapi lebih bagus dan lebih besar dari kolam sebelumnya (dan lebih mahal bayarnya), ganti guru, dan ganti jadwal. Hari Minggu pagi jam 6.30.
Jangan sedih ya, itu pagi banget dan Minggu banget gitu lho. Tp gimana? Daripada anak gue nggak maju2 berenangnya kan ya.
Akhirnya memang hrs telaten banget kok ngurus pangeran satu ini. Semua tergantung ibunya. Ayo bu... mau jadi apa anaknya... ibu yg hrs semangat! Jam 6.30 itu rasanya masih pagi buta banget ya (apalagi kalau jumatnya gue ada undangan malam atau pas lembur). Jadi dgn rasa nyawa masih separo gue udah hrs bangunin anak gue. Seringnya sih dia cuma bangun buat pindah tidur aja tuh ke mobil. Hahaha... Tp krn masih pagi, sampai di kolam biasanya dia lgs nggak sabar buat nyemplung. Dan setelah pelajaran renang selesai, dia akan main2 sampai badannya legam banget.
Alhamdulillah dapat guru yg bagus. Hanya belajar berdua (ya iyalah pagi banget gitu mulainya). Biasanya gue akan titipin Aria ke gurunya. Trus gue berenang sendiri. Dua bulan dgn ritual gitu, Aria bisa gaya bebas. Sebulan berikutnya, gaya dada mulai bagus. Skrg dia sedang belajar gaya kupu2. Not bad at all.
Kemarin, waktu gue sdh lap ke-7, gue cari2 di tempat belajar kok Aria nggak ada. Gurunya jg nggak ada. Sempat agak bertanya-tanya.... tp krn kolam sepertinya aman dan tenang ya udahlah. Gue terusin lap ke-8. Eh... ternyata... di tengah gue "ketemu" anak gue dan gurunya itu sedang latihan di tempat dalam. Sampai di finish line, gue mau nerusin lagi... eh... terhenti gara2 lihat anak gue sedang berenang menuju gue. Di kolam yg dalamnya 2.10 m.
Aaaaaaaahhhh senangnya hatiku!!!! Rasanya seneng banget lihat anak gue itu berenang di kolam yg dalam dgn santai2 saja. Nggak takut sama sekali. Sampai finish line bisa ketawa2. Aaaahhh sungguh aku bangga.
Bagi gue yg dulu lihat Aria selalu cuma ngawet aja kalau di kolam, lihat dia berenang gitu kok ya sdh terharu.
Yg mendasar saja spt bangun pagi, olahraga, makan sehat... itu nggak dia kerjakan sama sekali. Oh well....
Salah satu bedanya gue dan Aria adalah: gue benci mal, he loves it so much. Gue merasa harus punya waktu lihat laut minimal setahun sekali. Aria? Hahaha... dia tetap akan pilih mal. Pernah waktu itu dia ikut ke Pulau Seribu, dan dia senang juga sih. Tp kalau skrg diajak lagi, dia akan geleng2 kepala.
Tapi, gue tetap mewajibkan dia bisa berenang. Entah gimana caranya, harus bisa. Sebetulnya sejak dia umur 1 tahun, dia sudah sering gue ajak ke kolam renang. Tp nggak pernah mau belajar renang dgn bener. Selalu ngamplok simbok. Bahkan sampai besar. Alasannya macam2. Dari yg masuk akal sampai enggak.
Namanya orang Indonesia, tinggal di wilayah kepulauan, masak nggak bisa berenang?
Dia ga mau kursus berenang kalau nggak diantar ibu. Entah alasan atau apaaaa itu namanya? Sejak kelas 4, dia gue kursusin renang. Kok ya kebetulan kolam renang yg dekat rumah itu bukanya siang. Ya kan bisa ungu dong anak gue.... Jadilah berenang sore. Setiap hari Sabtu, jam 4 mulai nyemplung.
Entah krn pilihan waktu yg salah, atau memang gurunya kurang ok, atau kolamnya kurang nyaman... hampir 6 bulan kok berenangnya gitu2 aja. Cuma kecipuk2 nggak ada hasil? Oke deh. Harus ganti strategi. Stop dulu deh sementara.
Akhirnya pindah kolam renang, pilih yg buka pagi, agak jauh dari rumah tapi lebih bagus dan lebih besar dari kolam sebelumnya (dan lebih mahal bayarnya), ganti guru, dan ganti jadwal. Hari Minggu pagi jam 6.30.
Jangan sedih ya, itu pagi banget dan Minggu banget gitu lho. Tp gimana? Daripada anak gue nggak maju2 berenangnya kan ya.
Akhirnya memang hrs telaten banget kok ngurus pangeran satu ini. Semua tergantung ibunya. Ayo bu... mau jadi apa anaknya... ibu yg hrs semangat! Jam 6.30 itu rasanya masih pagi buta banget ya (apalagi kalau jumatnya gue ada undangan malam atau pas lembur). Jadi dgn rasa nyawa masih separo gue udah hrs bangunin anak gue. Seringnya sih dia cuma bangun buat pindah tidur aja tuh ke mobil. Hahaha... Tp krn masih pagi, sampai di kolam biasanya dia lgs nggak sabar buat nyemplung. Dan setelah pelajaran renang selesai, dia akan main2 sampai badannya legam banget.
Alhamdulillah dapat guru yg bagus. Hanya belajar berdua (ya iyalah pagi banget gitu mulainya). Biasanya gue akan titipin Aria ke gurunya. Trus gue berenang sendiri. Dua bulan dgn ritual gitu, Aria bisa gaya bebas. Sebulan berikutnya, gaya dada mulai bagus. Skrg dia sedang belajar gaya kupu2. Not bad at all.
Kemarin, waktu gue sdh lap ke-7, gue cari2 di tempat belajar kok Aria nggak ada. Gurunya jg nggak ada. Sempat agak bertanya-tanya.... tp krn kolam sepertinya aman dan tenang ya udahlah. Gue terusin lap ke-8. Eh... ternyata... di tengah gue "ketemu" anak gue dan gurunya itu sedang latihan di tempat dalam. Sampai di finish line, gue mau nerusin lagi... eh... terhenti gara2 lihat anak gue sedang berenang menuju gue. Di kolam yg dalamnya 2.10 m.
Aaaaaaaahhhh senangnya hatiku!!!! Rasanya seneng banget lihat anak gue itu berenang di kolam yg dalam dgn santai2 saja. Nggak takut sama sekali. Sampai finish line bisa ketawa2. Aaaahhh sungguh aku bangga.
Bagi gue yg dulu lihat Aria selalu cuma ngawet aja kalau di kolam, lihat dia berenang gitu kok ya sdh terharu.
Thursday, November 26, 2015
What Do I Want?
Mewek pagi ini dipersembahkan oleh wa chat.
Seorang yang baik hati membaca blog ini dan bilang bahwa isinya tentang siapa gue... siapa Aria... kehidupan kami... yang baik2 saja dan bergembira. Which is good.
But is that what I really want?
Dan seperti disadarkan bahwa gue kok nggak punya mau apa2. Membiarkan semua mengalir begitu saja. Tanpa gue apa2kan. Okay, gue single. Ya. Trus?
What do I want?
What do I expect? In life? In love?
Lalu baru sadar untuk mulai menggali hal2 itu. Supaya hidup fokus pada tujuannya. Tujuan gue apa?
*mewek*
Thank you for reminding me about the important side of life.
Seorang yang baik hati membaca blog ini dan bilang bahwa isinya tentang siapa gue... siapa Aria... kehidupan kami... yang baik2 saja dan bergembira. Which is good.
But is that what I really want?
Dan seperti disadarkan bahwa gue kok nggak punya mau apa2. Membiarkan semua mengalir begitu saja. Tanpa gue apa2kan. Okay, gue single. Ya. Trus?
What do I want?
What do I expect? In life? In love?
Lalu baru sadar untuk mulai menggali hal2 itu. Supaya hidup fokus pada tujuannya. Tujuan gue apa?
*mewek*
Thank you for reminding me about the important side of life.
Wednesday, November 25, 2015
Tuesday, November 24, 2015
Abekani itu Binatang Apa?
Tiba2 salah satu grup wa yg isinya ibu2 arisan, heboh banget ngomongin satu benda bernama Abekani. Atau Abe. Apaan sih itu?
Abe adalah merk tas lokal. Abekani Leather. Asli buatan Yogya, materinya kulit sapi. Hits? Sangat.
Jadi ceritanya bbrp tahun lalu (2011 atau 2012 gitu) ada dedengkot media digital yang suka jalan-jalan dan posting apa pun yg dia pikir menarik yg dia temui di jalan. Waktu dia ke Yogya, dia ketemu perajin tas yg bisa bikin tas kualitas bagus. Dan bahannya full leather. Harga terjangkau. Dia lihat tas itu materialnya bagus, craftmanship bagus, tapi desain kurang oke. Jadilah dia cerewet2 bikin desain sendiri. Dan jadinya cantiiiiik. The power of mouth to mouth promotion... ngetop lah itu Abekani di kalangan ibu2 forum media digital.
Entah gimana ceritanya, produsen Abe ini lalu terkenal. Kayaknya, krn material & craftmanship sdh ciamik, akhirnya pemesan mulai bandel... pesen tas dgn desain tiru2 barang branded. Ya gampang sajalah buat si produsen... tanpa mikir hak cipta segala macam hahaha....
Dulu, banyak yg belum paham jenis kulit dan proses finishing. Jd kalau ada yang warnanya terlihat beda, mereka komplen, dan sama Abe diganti baru. After sales yg bagus ya.
Nah, menariknya, makin banyak nih yg mau pesan ini itu, padahal penjahit tas terbatas.... akhirnya pesanan perorangan sudah nggak dilayani, kalau pesan harus banyak, 10 atau bahkan 20 pieces. Gimana dong? Jadilah ada yg "ajak-ajak" untuk pesan bareng2. Seingat gue awalnya di facebook saja. Ada yg posting "siapa mau pesan tas bla bla warna bla bla, tersedia 20 slot." Lalu yg berminat akan komen, lalu mrk saling berhubungan. Transfer uang. Tunggu barang jadi. Sesederhana itu.
Prosesnya jadi nggak sederhana ketika yang posting ajakan jadi banyak. Hahahaha.... Dan karena kualitas barangnya memang prima sedangkan harga miring, akhirnya Abe ini terkenal banget. Padahal yg bikin ya cuma itu2 aja. Pesanan mulai antri berbulan-bulan.
Azas saling percaya, saling mengerti... akhirnya terbentuklah kelompok2 pecinta Abe.
Nggak jelas gimana awalnya, skrg ada istilah koordinator wilayah. Bisa jadi merekalah yang dulunya suka ajak2 dan akhirnya kenal dgn produsen Abe. Jd yg pesan Abe untuk daerah Cibubur, misalnya, hanya diladeni sama korwil Cibubur. Eeedodoeeee.... Trus rutin tuh ada kopdar pertemuan wilayah... biasanya sih di kopi darat ini akan ada sale barang Abe.Yg gue tahu, ada facebook Abekani Lover. Duileh.
Postingan ajak2 (atau disebutnya PO, pre-order) skrg ini jadi kayak ajang apaan gitu deh. Lucu kalau lihat "pertarungan" di FB soal antrian barang Abe. Bayangkan, PO dompet misalnya, sekali buat, kira2 2 bulan, jadinya 200 pcs. Yg pesen? 1000 orang. Semaput nggak tuh. Sampai ada yg baru akan kebagian tahun 2017. Bayangkan kalau pesanan tas, pasti lebih lama lagi. Bisa jadi yg pesan sampai lupa kalau sdh pesan saking lamanya baru jadi.Hahaha....
Lucunya, karena sadar bahwa ada kemungkinan yg pesen2 itu hanya latah2an, si korwil juga mulai cari cara seleksi. Dan kreatif juga sih. Misalnya, dibuka PO satu barang, 3 warna. Kalau mau warna coklat, harus tulis di komen "gulali", kalau mau biru, komen dgn "sirup merah." Geli baca komen yg masuk krn jadinya aneh2. Mungkin saking buru2 takut keduluan, akhirnya ada komen "gilalu" dan "sirup marjan". Bahkan ada yg keukeuh komen "mau warna merah". Laaaah.... Hahahaha... pengen ngakak sampai besok....
Kebetulan di grup wa gue, ibu2 itu beda2 korwil. Kebayang dong... kalau ada korwil yg posting barang di FB... trus mrk saling cocok2an. Trus ternyata nggak semua korwil dapat barang itu.... heboh.... Termasuk mereka akan heboh kalau ada yg namanya masuk di list pdh merasa telat posting. Wis embuh lah.
Atau kalau sdh dijanjiin jam tertentu akan ada opening PO.... hohohoho.... pasti pada rame cocok2an jam utk bisa dpt nomor antrian, krn begitu jam-nya, pasti langsung diserbu dari seluruh penjuru angin. Dan lucu banget, beda bbrp menit sdh beda banyak bgt nomor antriannya. Langsung ratusan. Juara banget yaaaa....Konon ada yg sampai khusus izin keluar bentar dari meeting hanya untuk bidding. Gendeng.
Dengan makin meluasnya animo para ibu2 pd Abe, bahkan edisi preloved pun skrg laku lho. Juara kan. Di luar kenyataan bhw barang Abe yg skrg beredar adalah jiplakan desain tas merek internasional, fenomena Abe ini menarik dicermati. Karena, sebetulnya, selain Abe, ada merek lain yg juga bertebaran di jalur online shop. Vigna, Aluta, Aira... dan apa lagi ya? Tapi hanya Abe yg bisa bikin heboh.... Heboh pesan, heboh beli... sampai nambah temen... bahkan nambah musuh. Hahahaha.... Begitulah.
Bagaimana pun, ini membuktikan kalau produk lokal bisa banget bersaing dgn produk import. Krn konsumen lokal sekarang jg mulai mikir2 kalau beli produk import yg harganya menjangkau langit. Buat apa barang mahal2? Toh fungsinya sama. Memang, skrg ini kendala desain yg blm teratasi. Itu juga yg bikin gue gak punya satu pun produk Abe... krn nggak nemu produk original, sementara gue anti barang jiplakan. Mudah2an nanti yg pesen barang2 jiplak itu lama2 bosen, jd produsen Abe tergerak bikin desain sendiri. Makin ciamik. Makin terkenal. Sip banget.
Abe adalah merk tas lokal. Abekani Leather. Asli buatan Yogya, materinya kulit sapi. Hits? Sangat.
Jadi ceritanya bbrp tahun lalu (2011 atau 2012 gitu) ada dedengkot media digital yang suka jalan-jalan dan posting apa pun yg dia pikir menarik yg dia temui di jalan. Waktu dia ke Yogya, dia ketemu perajin tas yg bisa bikin tas kualitas bagus. Dan bahannya full leather. Harga terjangkau. Dia lihat tas itu materialnya bagus, craftmanship bagus, tapi desain kurang oke. Jadilah dia cerewet2 bikin desain sendiri. Dan jadinya cantiiiiik. The power of mouth to mouth promotion... ngetop lah itu Abekani di kalangan ibu2 forum media digital.
Entah gimana ceritanya, produsen Abe ini lalu terkenal. Kayaknya, krn material & craftmanship sdh ciamik, akhirnya pemesan mulai bandel... pesen tas dgn desain tiru2 barang branded. Ya gampang sajalah buat si produsen... tanpa mikir hak cipta segala macam hahaha....
Dulu, banyak yg belum paham jenis kulit dan proses finishing. Jd kalau ada yang warnanya terlihat beda, mereka komplen, dan sama Abe diganti baru. After sales yg bagus ya.
Nah, menariknya, makin banyak nih yg mau pesan ini itu, padahal penjahit tas terbatas.... akhirnya pesanan perorangan sudah nggak dilayani, kalau pesan harus banyak, 10 atau bahkan 20 pieces. Gimana dong? Jadilah ada yg "ajak-ajak" untuk pesan bareng2. Seingat gue awalnya di facebook saja. Ada yg posting "siapa mau pesan tas bla bla warna bla bla, tersedia 20 slot." Lalu yg berminat akan komen, lalu mrk saling berhubungan. Transfer uang. Tunggu barang jadi. Sesederhana itu.
Prosesnya jadi nggak sederhana ketika yang posting ajakan jadi banyak. Hahahaha.... Dan karena kualitas barangnya memang prima sedangkan harga miring, akhirnya Abe ini terkenal banget. Padahal yg bikin ya cuma itu2 aja. Pesanan mulai antri berbulan-bulan.
Azas saling percaya, saling mengerti... akhirnya terbentuklah kelompok2 pecinta Abe.
Nggak jelas gimana awalnya, skrg ada istilah koordinator wilayah. Bisa jadi merekalah yang dulunya suka ajak2 dan akhirnya kenal dgn produsen Abe. Jd yg pesan Abe untuk daerah Cibubur, misalnya, hanya diladeni sama korwil Cibubur. Eeedodoeeee.... Trus rutin tuh ada kopdar pertemuan wilayah... biasanya sih di kopi darat ini akan ada sale barang Abe.Yg gue tahu, ada facebook Abekani Lover. Duileh.
Postingan ajak2 (atau disebutnya PO, pre-order) skrg ini jadi kayak ajang apaan gitu deh. Lucu kalau lihat "pertarungan" di FB soal antrian barang Abe. Bayangkan, PO dompet misalnya, sekali buat, kira2 2 bulan, jadinya 200 pcs. Yg pesen? 1000 orang. Semaput nggak tuh. Sampai ada yg baru akan kebagian tahun 2017. Bayangkan kalau pesanan tas, pasti lebih lama lagi. Bisa jadi yg pesan sampai lupa kalau sdh pesan saking lamanya baru jadi.Hahaha....
Lucunya, karena sadar bahwa ada kemungkinan yg pesen2 itu hanya latah2an, si korwil juga mulai cari cara seleksi. Dan kreatif juga sih. Misalnya, dibuka PO satu barang, 3 warna. Kalau mau warna coklat, harus tulis di komen "gulali", kalau mau biru, komen dgn "sirup merah." Geli baca komen yg masuk krn jadinya aneh2. Mungkin saking buru2 takut keduluan, akhirnya ada komen "gilalu" dan "sirup marjan". Bahkan ada yg keukeuh komen "mau warna merah". Laaaah.... Hahahaha... pengen ngakak sampai besok....
Kebetulan di grup wa gue, ibu2 itu beda2 korwil. Kebayang dong... kalau ada korwil yg posting barang di FB... trus mrk saling cocok2an. Trus ternyata nggak semua korwil dapat barang itu.... heboh.... Termasuk mereka akan heboh kalau ada yg namanya masuk di list pdh merasa telat posting. Wis embuh lah.
Atau kalau sdh dijanjiin jam tertentu akan ada opening PO.... hohohoho.... pasti pada rame cocok2an jam utk bisa dpt nomor antrian, krn begitu jam-nya, pasti langsung diserbu dari seluruh penjuru angin. Dan lucu banget, beda bbrp menit sdh beda banyak bgt nomor antriannya. Langsung ratusan. Juara banget yaaaa....Konon ada yg sampai khusus izin keluar bentar dari meeting hanya untuk bidding. Gendeng.
Dengan makin meluasnya animo para ibu2 pd Abe, bahkan edisi preloved pun skrg laku lho. Juara kan. Di luar kenyataan bhw barang Abe yg skrg beredar adalah jiplakan desain tas merek internasional, fenomena Abe ini menarik dicermati. Karena, sebetulnya, selain Abe, ada merek lain yg juga bertebaran di jalur online shop. Vigna, Aluta, Aira... dan apa lagi ya? Tapi hanya Abe yg bisa bikin heboh.... Heboh pesan, heboh beli... sampai nambah temen... bahkan nambah musuh. Hahahaha.... Begitulah.
Bagaimana pun, ini membuktikan kalau produk lokal bisa banget bersaing dgn produk import. Krn konsumen lokal sekarang jg mulai mikir2 kalau beli produk import yg harganya menjangkau langit. Buat apa barang mahal2? Toh fungsinya sama. Memang, skrg ini kendala desain yg blm teratasi. Itu juga yg bikin gue gak punya satu pun produk Abe... krn nggak nemu produk original, sementara gue anti barang jiplakan. Mudah2an nanti yg pesen barang2 jiplak itu lama2 bosen, jd produsen Abe tergerak bikin desain sendiri. Makin ciamik. Makin terkenal. Sip banget.
Tuesday, November 17, 2015
Ternyata (Kurang) Romantis
"Ibu peluk aku dong. Kan aku kangen."
"Ya udah sini, peluk."
"Ibu pergi terus, aku jadi kangen. Peluknya mau lama."
"Iya."
"Besok Ibu pergi lagi kan. Jadi aku perlu dipeluk-peluk."
"Iya deh."
"Eh... Ibu... merasa nggak sih, yang aku rasa?"
"Ya?" (up to this point, sdh ge er setengah mati krn Aria kok jd romantis gini)
"Ibu, aku merasa lapar."
*Kejadian di Playhouse BSD 12 November 2015
"Ya udah sini, peluk."
"Ibu pergi terus, aku jadi kangen. Peluknya mau lama."
"Iya."
"Besok Ibu pergi lagi kan. Jadi aku perlu dipeluk-peluk."
"Iya deh."
"Eh... Ibu... merasa nggak sih, yang aku rasa?"
"Ya?" (up to this point, sdh ge er setengah mati krn Aria kok jd romantis gini)
"Ibu, aku merasa lapar."
*Kejadian di Playhouse BSD 12 November 2015
Monday, November 16, 2015
Kapan?
Setelah gue bilang mau pergi weekend, dia tanya, "Kapan pulang?"
Aria sering banget tanya begitu. Bahkan tiap hari dia akan tanya dengan gaya teror: kapan pulang, jam berapa, cepet cepet cepet, jangan mampir-mampir. Nyokap juga selalu tanya begitu kalau gue mau ke luar kota (ya iyalah). Anak-anak di kantor juga sering kok tanya, terutama kalau gue pergi pas menjelang deadline atau majalah mau proofprint (dasar!).
Tapi... waktu dia yg tanya, rasanya beda.
Ah... gue mulai kurang perhatian nih kayaknya. Dan begitu ada yg memperhatikan kok langsung kecimpringan. Dih.
Aria sering banget tanya begitu. Bahkan tiap hari dia akan tanya dengan gaya teror: kapan pulang, jam berapa, cepet cepet cepet, jangan mampir-mampir. Nyokap juga selalu tanya begitu kalau gue mau ke luar kota (ya iyalah). Anak-anak di kantor juga sering kok tanya, terutama kalau gue pergi pas menjelang deadline atau majalah mau proofprint (dasar!).
Tapi... waktu dia yg tanya, rasanya beda.
Ah... gue mulai kurang perhatian nih kayaknya. Dan begitu ada yg memperhatikan kok langsung kecimpringan. Dih.
Saturday, November 07, 2015
Friday, November 06, 2015
Sendiri
My boy went camping with the school today. So I will have a very long evening to spend. Planned to go to the gym after hanging out with friends. But of course the plan can be cancelled and I will go home, reading books instead.
I need to do something to keep my brain running. I hate to feel lonely.
I need to do something to keep my brain running. I hate to feel lonely.
Tuesday, November 03, 2015
Keajaiban
Gue sangat percaya keajaiban. Dan sampai skrg masih terus berharap akan ada yg ajaib2 (lagi). Sesederhana dpt email dari kamu. Yg memberitakan kalau kamu baik2 saja. You know who you are.
Saturday, October 31, 2015
Rejeki
Harus percaya bahwa rejeki memang sudah diatur.
Tadi pagi naik taksi. Jaraknya kurang dari 1 km... tp mau jalan takut telat... dan panasnya itu lho. Supir taksinya sangat galau krn sampai lokasi, argonya gerak aja nggak... pdh spt biasa yg pool di hotel, bisa2 dia sudah nunggu penumpang lebih dari sejam. Kasihan. Jd gue kasih sesuai biaya minimum, lebih dari 3x argo.
Waktu mau pulang dari TKP liputan ke hotel, iseng mau keliling kota sekalian, mumpung meeting yg di hotel break agak lama. Naik taksi lagi, nyegat yg lewat (tp tetep pilih burung biru). Jd sempat lihat kelenteng di pinggir pantai dan belanja oleh-oleh sekalian. Keliling beneran dan sampai hotel argonya 150rb.
Tuh kan... rejeki sdh diatur. Dicukupkan semuanya oleh Allah SWT. Percaya deh.
Friday, October 30, 2015
Missing Navy Pier
My dear blogger friend posted her pictures when joining Chicago Marathon. It is not the marathon I envy (of course!)... it is the city that brought some (sweet) memories.
Spent some months and fell in love to the city. Enjoyed its arrays of museums and its pretty parks. Remember times I (we) spent reading books, or having lunch, on one of the bench along Navy Pier. In my friends pictures I saw some new sculptures and new buildings that make the city looks prettier.
I promised myself that I will be back. But it has been almost 13 years... still can't find way to revisit the city. Someday....
Spent some months and fell in love to the city. Enjoyed its arrays of museums and its pretty parks. Remember times I (we) spent reading books, or having lunch, on one of the bench along Navy Pier. In my friends pictures I saw some new sculptures and new buildings that make the city looks prettier.
I promised myself that I will be back. But it has been almost 13 years... still can't find way to revisit the city. Someday....
Thursday, October 29, 2015
Overtime
... and we are still working. Now we have Josh Groban as a soundtrack...
Sebenernya ini semua untuk apa to yaaaa....
Sebenernya ini semua untuk apa to yaaaa....
Saturday, October 24, 2015
Memaafkan
Seorang teman bercerita bahwa sahabatnya baru saja menikah lagi. Dengan laki2 yg 30 tahun lalu meninggalkan dia untuk perempuan lain. Iya. Baru rujuk. Pdh dulu ditinggal pas anak masih umur setahun. Pdh dulu ditinggal untuk kawin sama perempuan lain. Pdh dulu dicerai begitu saja nggak dikasih gono gini, apalagi dikasih nafkah bulanan.
Toh dia memaafkan dan menerima kembali ketika laki2 itu kembali.
Maaf memang magis ya. Bisa bikin jadi apa saja. Termasuk memaafkan dan menerima sakit hati yg luar biasa. 30 tahun bukan waktu yg sebentar. Maybe it is true that time heals everything.
Toh dia memaafkan dan menerima kembali ketika laki2 itu kembali.
Maaf memang magis ya. Bisa bikin jadi apa saja. Termasuk memaafkan dan menerima sakit hati yg luar biasa. 30 tahun bukan waktu yg sebentar. Maybe it is true that time heals everything.
Friday, October 23, 2015
My Little Matahari Turns 11 Today
Gue menikah tahun 99. Umur 25. Seperti juga pasangan2 lain, segera setelah menikah maunya hamil. Tp ternyata enggak hahaha... Bahkan lama2 seperti nggak pengen punya anak gara2 merasa sdh sangat nyaman berdua saja.
Waktu pindah ke Amerika, makin merasa bersyukur tidak (belum) punya anak. Lihat temen yang punya bayi kok gegap gempita banget hidupnya. Day care mahal, nanny mahal. Mau bawa anak ke mana2 ya repot. Apalagi kalau ada kelas dari pagi sampai malam. Kebetulan gue dan (then) hubby termasuk yg suka lama2 di perpustakaan. Jadi nggak kebayang kalau kami punya anak rusuhnya kayak apa ya....
Lupa alasan jelasnya apa, thn ke-4 perkawinan kami ke Dokter Supardiman. Periksa ini itu. Kesimpulan awal adalah masalah hormonal yg terjadi krn terlalu chubby. Hahaha.... Kepalang tanggung... gue pun berusaha mengurangi bobot tubuh. Detox dibimbing bu Andang Gunawan & Dr. Riani. Trus mindful eating. Berhasil? Iya dong...
Yg nggak berhasil justru pernikahannya.
Mulai berantem. Mulai rusuh. Mulai gonjang ganjing.... Tapi yg tahu cuma nyokap gue. Dan seperti umumnya ibu2 di seluruh dunia... beliau tidak menganjurkan bercerai. Malah nyuruh liburan. Trus gue nurut....
Sepertinya liburan yg diwarnai berantem itulah yg meninggalkan kenangan manis :)
Sebulan setelah liburan, bukannya baikan, malah makin runyam pernikahan gue. Wacana cerai mulai hadir tuh. Wacana yg menurut gue lebih menarik ketimbang status istri pertama. Eiiitts... tp kok badan gue rasanya nggak enak? Rasanya kayak mau flu plus PMS plus lemes. Pulang kantor, mampir ke apotik beli test pack. Sampai rumah langsung tes dan ... jreeeenggg.... positif aja gitu.
Rasanya gimana? It was a complete mixed feeling. Mau cerai kok malah hamil. Gue nggak jelas juga apa perasaan bapaknya anak gue. Yg gue ingat, wajahnya linglung.
Saat itulah gue yakin... Tuhan memang maha segalanya... termasuk Maha Komedian. You are soooo hilariously funny, oh Dear God :)
Ke-MahaLucu-an Tuhan menghadirkan Aria tgl. 23 April 2004. And it was at that moment, I fell in love to him. Instantly.
Aria lahir lewat operasi krn terlilit tali pusatnya yg panjangnya 1m. Nangis keras satu kali. Lalu diam. Tidur lagi. Dan dia tidur sangat banyak :) Menjadi bayi yg tenang, nyaris tanpa suara. Kalau lapar, popoknya basah, atau ngantuk, dia hanya cerewet... jarang menangis. Nggak terbukti kekhawatiran gue soal bayi nangis lama. Justru pernah dia sengaja gue diemin aja waktu nangis, krn gue pengen denger tangisan lebih lama. Hahaha....
Gue sempat merasa akan kehilangan dia, waktu sakit demam berdarah di usia 6 bulan. Waktu itu kondisi Aria bengkak besar sekali dan sudah lemas nggak bisa apa2. Masuk NICU. Gue ingat sekali badannya dibanduli macam2 selang dan kabel. Nggak bisa dipeluk, hanya dielus saja, "Kuat ya nak. Sabar. Kuat. I love you." And he made it. Alhamdulillah....
Dan hari ini, si bayi tenang itu sudah 11 tahun umurnya. Sudah besar (badannya). Enak dipeluk. Dan dia tetap menjadi teman baik gue. Setiap saat, sama seperti waktu dia masih di perut, dia akan nungguin gue cerita ini itu. Dia bisa sabar mendengarkan. Dan skrg bisa gantian bercerita ttg teman2nya.
Suatu ketika, gue tahu dia suka sama salah satu teman perempuan, dan senyum2 waktu gue konfirmasi. Lalu di lain waktu, waktu jalan2 bareng temannya, ada salah satu yg tanya, "Mamamu tahu nggak, rahasia terbesar?" Aria dgn pede jawab, "Tahu dooooong..." Apa itu? Gue yg penasaran. "Itu lho buuuuu... (dia lalu bisik2 nama teman perempuan itu)."
I am sooo glad that I know things considered as his biggest secret :D
Ketika Aria mulai mau tidur sendiri, gue yg galau berat. Kasur kamar gue rasanya jadi luaaaasss banget. Gue jadi bego dan malam itu nggak bisa tidur.
Oh ya, Aria juga posesif. Dan tahu aja kalau ibunya pergi untuk kerja atau sekadar ngeceng hahaha.... Dia akan langsung kirim peringatan2 cepat pulang kalau tahu ibunya lagi kecentilan.
Sungguh sebuah kehormatan besar dipercaya Tuhan mengasuh Aria. Usaha untuk Aria dibantu banyak sekali orang. Dari mulai mengajari baca, sampai ikut urun rembug soal pendidikan dia, formal dan informal. Rejeki anak memang nggak ketuker... meskipun nggak punya kesempatan dibesarkan ayah kandungnya, Aria tidak kekurangan kasih sayang atau perhatian. Semua orang di sekitarnya sayang dan peduli. Dari mulai belikan mainan sampai buku2 lengkap so he started his own kids library by the age of 3... sampai mendanai sekolah dan keperluannya yg tidak sedikit.
Aria banyak mengubah hidup gue. Gue tetap tidak suka anak kecil (yg lain). Favorit gue ya cuma satu itu dan tidak bisa membayangkan nelongsonya kalau dia nggak ada. Dia yg membuat gue punya cambuk di tangan. Cengeng krn urusan kantor? Cambuk. Ayo kerja. Kehabisan uang? Cambuk. Ayo cari. Patah hati? Cambuk! Jangan lama2 sedihnya.
Aria seperti bensin yg bisa membakar semangat gue. Jd skrg ini, kalau gue kisruh, gue akan segera pulang, lihat wajahnya. Kepala langsung dingin. Dan semua masalah tiba2 jadi masuk akal. Beres. Tentu saja ada masa2 dia yg bikin ibunya sedih sekaligus bingung antara mau marah atau mau ketawa atau mau nangis. Misalnya kalau nilai ulangannya jelek, dia malas belajar, atau sedang bandel aja mau gangguin orang serumah. Atau kalau tiba2 dia perlu sesuatu untuk sekolah, besoknya, dan baru inget setelah jam 9 malam....
But somehow he is always cute. Semakin besar, jg semakin banyak kejadian2 sederhana yg menyejukkan hati.
"Ibu, betul nggak cara aku nulis 'di sini'?"
"Betul."
"Yg nulisnya disambung yg mana?"
"Kalau diikuti kata kerja."
"Jadi seperti 'dicium' dan 'dipeluk'?" (lalu dia peluk dan cium gue)
Atau tiba2 bilang:
"Aku sayang Ibu. Sampai keluar galaksi, lalu balik lagi ke bumi."
*meleleh*
Doa yg tak putus2, untuk kesehatan dan kebahagiaan Aria. Semoga menjadi orang yg berguna bagi sekitarnya. Amin. Selamat ulang tahun, Aria sayang. Ibu akan selalu sayang. Selalu. Selama-lamanya.
Waktu pindah ke Amerika, makin merasa bersyukur tidak (belum) punya anak. Lihat temen yang punya bayi kok gegap gempita banget hidupnya. Day care mahal, nanny mahal. Mau bawa anak ke mana2 ya repot. Apalagi kalau ada kelas dari pagi sampai malam. Kebetulan gue dan (then) hubby termasuk yg suka lama2 di perpustakaan. Jadi nggak kebayang kalau kami punya anak rusuhnya kayak apa ya....
Lupa alasan jelasnya apa, thn ke-4 perkawinan kami ke Dokter Supardiman. Periksa ini itu. Kesimpulan awal adalah masalah hormonal yg terjadi krn terlalu chubby. Hahaha.... Kepalang tanggung... gue pun berusaha mengurangi bobot tubuh. Detox dibimbing bu Andang Gunawan & Dr. Riani. Trus mindful eating. Berhasil? Iya dong...
Yg nggak berhasil justru pernikahannya.
Mulai berantem. Mulai rusuh. Mulai gonjang ganjing.... Tapi yg tahu cuma nyokap gue. Dan seperti umumnya ibu2 di seluruh dunia... beliau tidak menganjurkan bercerai. Malah nyuruh liburan. Trus gue nurut....
Sepertinya liburan yg diwarnai berantem itulah yg meninggalkan kenangan manis :)
Sebulan setelah liburan, bukannya baikan, malah makin runyam pernikahan gue. Wacana cerai mulai hadir tuh. Wacana yg menurut gue lebih menarik ketimbang status istri pertama. Eiiitts... tp kok badan gue rasanya nggak enak? Rasanya kayak mau flu plus PMS plus lemes. Pulang kantor, mampir ke apotik beli test pack. Sampai rumah langsung tes dan ... jreeeenggg.... positif aja gitu.
Rasanya gimana? It was a complete mixed feeling. Mau cerai kok malah hamil. Gue nggak jelas juga apa perasaan bapaknya anak gue. Yg gue ingat, wajahnya linglung.
Saat itulah gue yakin... Tuhan memang maha segalanya... termasuk Maha Komedian. You are soooo hilariously funny, oh Dear God :)
Ke-MahaLucu-an Tuhan menghadirkan Aria tgl. 23 April 2004. And it was at that moment, I fell in love to him. Instantly.
Aria lahir lewat operasi krn terlilit tali pusatnya yg panjangnya 1m. Nangis keras satu kali. Lalu diam. Tidur lagi. Dan dia tidur sangat banyak :) Menjadi bayi yg tenang, nyaris tanpa suara. Kalau lapar, popoknya basah, atau ngantuk, dia hanya cerewet... jarang menangis. Nggak terbukti kekhawatiran gue soal bayi nangis lama. Justru pernah dia sengaja gue diemin aja waktu nangis, krn gue pengen denger tangisan lebih lama. Hahaha....
Gue sempat merasa akan kehilangan dia, waktu sakit demam berdarah di usia 6 bulan. Waktu itu kondisi Aria bengkak besar sekali dan sudah lemas nggak bisa apa2. Masuk NICU. Gue ingat sekali badannya dibanduli macam2 selang dan kabel. Nggak bisa dipeluk, hanya dielus saja, "Kuat ya nak. Sabar. Kuat. I love you." And he made it. Alhamdulillah....
Dan hari ini, si bayi tenang itu sudah 11 tahun umurnya. Sudah besar (badannya). Enak dipeluk. Dan dia tetap menjadi teman baik gue. Setiap saat, sama seperti waktu dia masih di perut, dia akan nungguin gue cerita ini itu. Dia bisa sabar mendengarkan. Dan skrg bisa gantian bercerita ttg teman2nya.
Suatu ketika, gue tahu dia suka sama salah satu teman perempuan, dan senyum2 waktu gue konfirmasi. Lalu di lain waktu, waktu jalan2 bareng temannya, ada salah satu yg tanya, "Mamamu tahu nggak, rahasia terbesar?" Aria dgn pede jawab, "Tahu dooooong..." Apa itu? Gue yg penasaran. "Itu lho buuuuu... (dia lalu bisik2 nama teman perempuan itu)."
I am sooo glad that I know things considered as his biggest secret :D
Ketika Aria mulai mau tidur sendiri, gue yg galau berat. Kasur kamar gue rasanya jadi luaaaasss banget. Gue jadi bego dan malam itu nggak bisa tidur.
Oh ya, Aria juga posesif. Dan tahu aja kalau ibunya pergi untuk kerja atau sekadar ngeceng hahaha.... Dia akan langsung kirim peringatan2 cepat pulang kalau tahu ibunya lagi kecentilan.
Sungguh sebuah kehormatan besar dipercaya Tuhan mengasuh Aria. Usaha untuk Aria dibantu banyak sekali orang. Dari mulai mengajari baca, sampai ikut urun rembug soal pendidikan dia, formal dan informal. Rejeki anak memang nggak ketuker... meskipun nggak punya kesempatan dibesarkan ayah kandungnya, Aria tidak kekurangan kasih sayang atau perhatian. Semua orang di sekitarnya sayang dan peduli. Dari mulai belikan mainan sampai buku2 lengkap so he started his own kids library by the age of 3... sampai mendanai sekolah dan keperluannya yg tidak sedikit.
Aria banyak mengubah hidup gue. Gue tetap tidak suka anak kecil (yg lain). Favorit gue ya cuma satu itu dan tidak bisa membayangkan nelongsonya kalau dia nggak ada. Dia yg membuat gue punya cambuk di tangan. Cengeng krn urusan kantor? Cambuk. Ayo kerja. Kehabisan uang? Cambuk. Ayo cari. Patah hati? Cambuk! Jangan lama2 sedihnya.
Aria seperti bensin yg bisa membakar semangat gue. Jd skrg ini, kalau gue kisruh, gue akan segera pulang, lihat wajahnya. Kepala langsung dingin. Dan semua masalah tiba2 jadi masuk akal. Beres. Tentu saja ada masa2 dia yg bikin ibunya sedih sekaligus bingung antara mau marah atau mau ketawa atau mau nangis. Misalnya kalau nilai ulangannya jelek, dia malas belajar, atau sedang bandel aja mau gangguin orang serumah. Atau kalau tiba2 dia perlu sesuatu untuk sekolah, besoknya, dan baru inget setelah jam 9 malam....
But somehow he is always cute. Semakin besar, jg semakin banyak kejadian2 sederhana yg menyejukkan hati.
"Ibu, betul nggak cara aku nulis 'di sini'?"
"Betul."
"Yg nulisnya disambung yg mana?"
"Kalau diikuti kata kerja."
"Jadi seperti 'dicium' dan 'dipeluk'?" (lalu dia peluk dan cium gue)
Atau tiba2 bilang:
"Aku sayang Ibu. Sampai keluar galaksi, lalu balik lagi ke bumi."
*meleleh*
Doa yg tak putus2, untuk kesehatan dan kebahagiaan Aria. Semoga menjadi orang yg berguna bagi sekitarnya. Amin. Selamat ulang tahun, Aria sayang. Ibu akan selalu sayang. Selalu. Selama-lamanya.
Thursday, October 22, 2015
Reminder
Barusan ngobrol sm teman yg freelance writer. Bulan September nggak ada kerjaan. Bulan Oktober ini baru menulis 2 artikel. November & Desember? Blm jelas. Padahal dia punya 2 anak yg tentunya nggak boleh berhenti dikasih makan.
Memang tahun lalu agenda dia penuh dgn jalan2 hura2 yg bikin iri. Cukup kerja sekitar 3 bulan, hasilnya cukup buat hidup senang setahun. Tp tahun ini semua berubah. Ekonomi sulit, pekerjaan buat dia jadi terbatas. Oh well... di kantor gue pun pekerjaan buat dia sudah nggak ada lagi. Semua dikerjakan internal utk penghematan.
Baiklah, sebuah percakapan yg cukup menampar. Janji nggak boleh marah2 kalau ada deadline bertumpuk2. Ingat2 aja tiap tgl. 28 rekening ada isinya yg bisa buat bayar sekolah, beli bensin, dan bayar listrik. Sesedikit apa pun, ada kepastian yg bisa diharapkan.
Be grateful, your shoes might be better and more comfortable than others.
Memang tahun lalu agenda dia penuh dgn jalan2 hura2 yg bikin iri. Cukup kerja sekitar 3 bulan, hasilnya cukup buat hidup senang setahun. Tp tahun ini semua berubah. Ekonomi sulit, pekerjaan buat dia jadi terbatas. Oh well... di kantor gue pun pekerjaan buat dia sudah nggak ada lagi. Semua dikerjakan internal utk penghematan.
Baiklah, sebuah percakapan yg cukup menampar. Janji nggak boleh marah2 kalau ada deadline bertumpuk2. Ingat2 aja tiap tgl. 28 rekening ada isinya yg bisa buat bayar sekolah, beli bensin, dan bayar listrik. Sesedikit apa pun, ada kepastian yg bisa diharapkan.
Be grateful, your shoes might be better and more comfortable than others.
Monday, October 19, 2015
Thursday, October 15, 2015
Monday, October 12, 2015
Hati
Gue baru dpt istilah baru dr anak magang di kantor: baper. Alias bawa perasaan.
Trus dia bilang kalau perempuan itu selalu baper. Mau sekolahnya jauh, karirnya bagus, jabatan tinggi... kalau sdh baper trus jd ambyar semuanya.
Mak jleb. Semprul nih anak.
Trus dia bilang kalau perempuan itu selalu baper. Mau sekolahnya jauh, karirnya bagus, jabatan tinggi... kalau sdh baper trus jd ambyar semuanya.
Mak jleb. Semprul nih anak.
Friday, October 09, 2015
Yogyakarta
Short trip ke Yogya minggu lalu spt mau membuktikan kalau Yogya skrg penuhnya minta ampun yaaaa.... Hebat lah wisatawan non stop ke Yogya. Penerbangan weekend selalu penuh. Semoga menaikkan ekonomi lokal ya. Amin.
Ke Yogya kemarin sebetulnya bekerja. Tp setelah memecut tim spy kerja lebih cepat, bisa selesai jauuuh lebih awal dari jadwal, jd punya sekitar satu malam dan satu pagi untuk dihabiskan jalan2. Bebas. Hore! Hidup tim!
Sore dihabiskan di kawasan Candi Ratu Boko. Kawasan... krn memang nggak naik ke candi. Ada temen yg niat banget mau curhat, di sana. Untung pemandangan bagus. Menarik lihat sunset dari sana. Di cafe-nya, makanannya murah pol. Trus sambil makan diiringi mocopatan. Ayem tentrem.
Curhat selesai begitu matahari tenggelam. Ayuneeee.... Habis itu langsung ke "RT" sebelah: Candi Prambanan. Jadwal malam itu adalah nonton Ramayana.
Jadi ya, selama ini mau nonton Ramayana nggak jadi2. Kemarin akhirnya kesampaian. Full house lho. Membanggakan sekali. Teaternya lapang dan latar belakang candi Prambanan itu memang bikin jd mistis gimanaaa gitu.
Ceritanya ya tentang Rama & Sinta yg sampai ke Hanoman obong lalu ditutup dengan Sinta obong itulah. Narinya bagus (pengen ikut). Trus rombongan raksasa dan rombongan monyet jg bagus. Musiknya bagus. Dan kemarin kebagian yg full story, jadi waktu Hanoman obong, beneran ada api unggun besaaaaar banget! Senenglah bisa nonton kesenian Indonesia. Tiketnya murah banget utk ukuran pertunjukan sebagus itu.
Jam 10.30 sampai hotel lagi... laper... Yg lain juga masih rusuh... maklum anak muda hahahaha... Kebetulan kemarin itu ada perayaan ulang tahun Yogya ke 259. Ada panggung di Monjali. Dari hotel tinggal jalan kaki. Para anak muda itu semangat mau terjun ke keramaian. Baiklah... tantemama penasaran juga sih. Sekalian cari makan, gimana? Bosanlah yaaa... makan di hotel melulu....
Ternyata memang semua manusia Yogya hari itu tumpah di jalan Malioboro dan sekitarnya sampai ke Monjali. Waktu kami lewat, di panggung ada Gareng Petruk. Lucu (kalau ngerti ngomongnya apa). Meskipun ada hiburan lucu, nggak lupa kalau lapar. Hahaha... memang blm sempat makan malam yg proper... Eh... kok pas di depan ada angkringan KR. Waaaah... nasi kucingnya ada bbrp macam... pelengkapnya lbh hore lagi... segala sate dan sambal.... Silakan lho kalau mau kalap.
Gue pamit pulang stlh selesai makan. Maaf deh, umur nggak bohong.... Rasanya sdh ngambang2 gitu. Mending aktivitas pagi deh. Hahaha... Janjian paginya mau ke pasar Kranggan.
Tengah malam jam 2, gue sakit perut! Waduuuuuh... tertuduhnya adalah menu angkringan. Atau badan gue memang mulai rontok? Entahlah... tp diare tuh sungguh gangguuuu... sdh berencana mau nginep di toilet aja. Sambil mikir2 kalau sampai jam 7 masih rusuh... kayaknya hrs beli diapers buat perjalanan pulang.
Alhamdulillah bangun subuh sdh gembira lagi. Perut nggak rewel. Lancar. Asyiiiik... lanjut dgn rencana pasar Kranggan. Krn semalam hbs pesta pora, jalanan banyak sampah. Huh... di mana2 kok sampaaaaah aja masalahnya. Nggak guna banget sih sekolahnya...
Sampai pasar Kranggan... tujuan utama sebetulnya adalah tukang jajanan. Hmm... tapi sampai sana lgs galau krn ingat pengalaman semalam yg nyaris nginep di toilet... huhuhu.... Pdh jajanan yg digelar betul2 menarik! Warna warni seruuuu.... huhuhu.... Tahan diri. Tahan diri.... Akhirnya beneran nggak berani beli apa2. Lihat2 saja. Dan menikmati Yogya lewat telinga: dengerin orang ngobrol bahasa Jawa.
Setelah dari pasar Kranggan... balik hotel... check out... lalu ke Wahyu Austin. Apakah itu? Ternyata di Yogya nggak cuma ada bakpia yg utk oleh2. Ada rollcake lembut lezat ciamik... kemasannya pun manis.... Namanya Wahyu Austin. Di daerah Sleman. Baru tahuuuuuu.... Sempat beli bbrp utk oleh2. Habis itu tnyt masih ada cukup waktu sblm terbang. Akhirnya mampir ke Museum Affandi. Ini juga kunjungan ya sifatnya "ya ampun". Artinya kurang lebih... ya ampun... sekian lama mondar mandir Yoyga, akhirnya masuk juga ke Museum Affandi. Hahahaha.... It was good, as expected. Menyenangkan sekali "dijamu" lukisan2 bagus begitu (masih ada yg dijual, minimal 4M, berminat?). Gue sih menikmati warna warni Affandi (&Kartika) saja. Ini rasa ayemnya beda lagi....
Jadi, begitulah report kegiatan Yogya. Lumayan jd break di tengah kerusuhan. Trus... tumben ya bikin report begini? Hahaha... maaf pemirsa, sesungguhnya ini mengisi waktu luang in between pemotretan majalah. Hehehe....Let's go back to the venue!
Ke Yogya kemarin sebetulnya bekerja. Tp setelah memecut tim spy kerja lebih cepat, bisa selesai jauuuh lebih awal dari jadwal, jd punya sekitar satu malam dan satu pagi untuk dihabiskan jalan2. Bebas. Hore! Hidup tim!
Sore dihabiskan di kawasan Candi Ratu Boko. Kawasan... krn memang nggak naik ke candi. Ada temen yg niat banget mau curhat, di sana. Untung pemandangan bagus. Menarik lihat sunset dari sana. Di cafe-nya, makanannya murah pol. Trus sambil makan diiringi mocopatan. Ayem tentrem.
Curhat selesai begitu matahari tenggelam. Ayuneeee.... Habis itu langsung ke "RT" sebelah: Candi Prambanan. Jadwal malam itu adalah nonton Ramayana.
Jadi ya, selama ini mau nonton Ramayana nggak jadi2. Kemarin akhirnya kesampaian. Full house lho. Membanggakan sekali. Teaternya lapang dan latar belakang candi Prambanan itu memang bikin jd mistis gimanaaa gitu.
Ceritanya ya tentang Rama & Sinta yg sampai ke Hanoman obong lalu ditutup dengan Sinta obong itulah. Narinya bagus (pengen ikut). Trus rombongan raksasa dan rombongan monyet jg bagus. Musiknya bagus. Dan kemarin kebagian yg full story, jadi waktu Hanoman obong, beneran ada api unggun besaaaaar banget! Senenglah bisa nonton kesenian Indonesia. Tiketnya murah banget utk ukuran pertunjukan sebagus itu.
Jam 10.30 sampai hotel lagi... laper... Yg lain juga masih rusuh... maklum anak muda hahahaha... Kebetulan kemarin itu ada perayaan ulang tahun Yogya ke 259. Ada panggung di Monjali. Dari hotel tinggal jalan kaki. Para anak muda itu semangat mau terjun ke keramaian. Baiklah... tantemama penasaran juga sih. Sekalian cari makan, gimana? Bosanlah yaaa... makan di hotel melulu....
Ternyata memang semua manusia Yogya hari itu tumpah di jalan Malioboro dan sekitarnya sampai ke Monjali. Waktu kami lewat, di panggung ada Gareng Petruk. Lucu (kalau ngerti ngomongnya apa). Meskipun ada hiburan lucu, nggak lupa kalau lapar. Hahaha... memang blm sempat makan malam yg proper... Eh... kok pas di depan ada angkringan KR. Waaaah... nasi kucingnya ada bbrp macam... pelengkapnya lbh hore lagi... segala sate dan sambal.... Silakan lho kalau mau kalap.
Gue pamit pulang stlh selesai makan. Maaf deh, umur nggak bohong.... Rasanya sdh ngambang2 gitu. Mending aktivitas pagi deh. Hahaha... Janjian paginya mau ke pasar Kranggan.
Tengah malam jam 2, gue sakit perut! Waduuuuuh... tertuduhnya adalah menu angkringan. Atau badan gue memang mulai rontok? Entahlah... tp diare tuh sungguh gangguuuu... sdh berencana mau nginep di toilet aja. Sambil mikir2 kalau sampai jam 7 masih rusuh... kayaknya hrs beli diapers buat perjalanan pulang.
Alhamdulillah bangun subuh sdh gembira lagi. Perut nggak rewel. Lancar. Asyiiiik... lanjut dgn rencana pasar Kranggan. Krn semalam hbs pesta pora, jalanan banyak sampah. Huh... di mana2 kok sampaaaaah aja masalahnya. Nggak guna banget sih sekolahnya...
Sampai pasar Kranggan... tujuan utama sebetulnya adalah tukang jajanan. Hmm... tapi sampai sana lgs galau krn ingat pengalaman semalam yg nyaris nginep di toilet... huhuhu.... Pdh jajanan yg digelar betul2 menarik! Warna warni seruuuu.... huhuhu.... Tahan diri. Tahan diri.... Akhirnya beneran nggak berani beli apa2. Lihat2 saja. Dan menikmati Yogya lewat telinga: dengerin orang ngobrol bahasa Jawa.
Setelah dari pasar Kranggan... balik hotel... check out... lalu ke Wahyu Austin. Apakah itu? Ternyata di Yogya nggak cuma ada bakpia yg utk oleh2. Ada rollcake lembut lezat ciamik... kemasannya pun manis.... Namanya Wahyu Austin. Di daerah Sleman. Baru tahuuuuuu.... Sempat beli bbrp utk oleh2. Habis itu tnyt masih ada cukup waktu sblm terbang. Akhirnya mampir ke Museum Affandi. Ini juga kunjungan ya sifatnya "ya ampun". Artinya kurang lebih... ya ampun... sekian lama mondar mandir Yoyga, akhirnya masuk juga ke Museum Affandi. Hahahaha.... It was good, as expected. Menyenangkan sekali "dijamu" lukisan2 bagus begitu (masih ada yg dijual, minimal 4M, berminat?). Gue sih menikmati warna warni Affandi (&Kartika) saja. Ini rasa ayemnya beda lagi....
Jadi, begitulah report kegiatan Yogya. Lumayan jd break di tengah kerusuhan. Trus... tumben ya bikin report begini? Hahaha... maaf pemirsa, sesungguhnya ini mengisi waktu luang in between pemotretan majalah. Hehehe....Let's go back to the venue!
Tuesday, October 06, 2015
Tadi Malam
Semalam, sekitar jam 10.30, Aria ketok2 kamar gue.
"Ibu, aku boleh tidur sini ndak? Aku kangen sama ibu."
Setelah cium2 & peluk2 kira2 75 kali, dia langsung pulas. Gue pun yg tadinya masih mlongo2 (yes, post relationship syndrome) setelah cium bau anak gue bisa tetiba ngantuk dan tidur nyenyak meluk anak cimuk gue itu.
Thank you God for sending a little piece of heaven to my room last night.
"Ibu, aku boleh tidur sini ndak? Aku kangen sama ibu."
Setelah cium2 & peluk2 kira2 75 kali, dia langsung pulas. Gue pun yg tadinya masih mlongo2 (yes, post relationship syndrome) setelah cium bau anak gue bisa tetiba ngantuk dan tidur nyenyak meluk anak cimuk gue itu.
Thank you God for sending a little piece of heaven to my room last night.
Monday, October 05, 2015
Aria Sudah Besar
Anak gue ini sudah besar memang ya. Sdh setengah hati mau uyel2nya. Hiks hiks...
Jd kemarin pulang dr Yogya, kangen gue sdh segunung gitu deh. Eh... anak gue msh di kamarnya dgn asyik. Baru inget ibunya pulang stlh di-wa.
Tetep sih, begitu ingat ada ibunya lgs loncat turun dari loteng trus peluk2 lamaaaa...cium2 seribu kali. Sempat cerita ini itu ini itu dgn gaya sewewet spt biasa. Tp hbs itu dah... lgs mau naik lagi... bye! Katanya mau belajar buat ulangan.
Trus malemnya, dipaksa tidur di bawah saja sama ibunya kok ya nggak mau :( Hanya mau peluk2 sebentar trus dia melesat lagi deh ke loteng. Huhuhuhu....
Jd kemarin pulang dr Yogya, kangen gue sdh segunung gitu deh. Eh... anak gue msh di kamarnya dgn asyik. Baru inget ibunya pulang stlh di-wa.
Tetep sih, begitu ingat ada ibunya lgs loncat turun dari loteng trus peluk2 lamaaaa...cium2 seribu kali. Sempat cerita ini itu ini itu dgn gaya sewewet spt biasa. Tp hbs itu dah... lgs mau naik lagi... bye! Katanya mau belajar buat ulangan.
Trus malemnya, dipaksa tidur di bawah saja sama ibunya kok ya nggak mau :( Hanya mau peluk2 sebentar trus dia melesat lagi deh ke loteng. Huhuhuhu....
Saturday, October 03, 2015
Thursday, October 01, 2015
Combo Convo
Jadi Aria si anak semata wayang itu tahun depan masuk SMP. Dan kemajuan zaman membuat sekolah2 sudah mulai pendaftaran sejak sekarang! Astaga... rajin apa edan?
Dari hasil hunting sana sini, entah kenapa Aria jatuh cinta sama Sekolah Mentari. Pdh nggak ada teman sekolahnya skrg yg masuk ke situ. Trus waktu open house, dia lihat gedungnya, lihat murid2 di sana, ruang2 science, ruang art... lapangan basket.... Dia semakin yakin hanya pengen masuk sekolah itu.
Sebetulnya Aria sempat galau waktu lihat SMPN 8. Apalagi ada ekskul panahan di sekolah itu. Tp mengingat sekolah negeri baru terurus tahun depan, sementara Mentari sudah harus skrg test ini itu, jd dia akhirnya memantapkan diri mau daftar Mentari. FYI, form pendaftaran saja 600rb. Cukup mak sengkring di kantong yaaaa....
Nah, karena keukeuh mau masuk Mentari (Insya Allah lulus tes), gue merasa perlu membekali anak gue dgn "pagar secukupnya". Agak ngeri sebetulnya memikirkan Aria masuk situ, bukan karena secara akademik... gue memikirkan peer pressure macam apa yg akan dia temui.
Dgn biaya-biaya sekolah sebesar itu, hanya anak-anak orang yg (sangat) punya yg bisa masuk sekolah itu. Spt lazimnya anak berpunya, mereka sangat mungkin diantar ke sekolah dgn mobil keluaran terbaru, punya gadget terkini, juga liburan di luar negeri saat long weekend. Plus... uang saku yg bisa jadi unlimited.
Dan Aria tidak punya itu semua.
Kami memang bukan keluarga sulit, tapi juga belum sampai pada taraf mewah. Jd gue merasa perlu menekankan kpd Aria untuk tidak tergiur pd cemerlang barang-barang branded milik temannya. Dia nggak boleh iri kalau temannya liburan ke Universal tiap bulan. Juga nggak boleh kecil hati kalau dia harus bawa bekal dari rumah krn uang sakunya terbatas. Dan dia hrs tetap percaya diri dan berprestasi meskipun hanya punya gadget biasa, bukan yg paling canggih.
"Kenapa?"
"Karena ibu tidak akan bisa memenuhi itu semua. Kita hanya mampu membayar kualitas sekolahnya, bukan gaya hidupnya."
Dia diam. Wajahnya terlihat kalau dia berpikir keras (lucu banget).
"Masak nggak ada temanku yg akan seperti aku? Yg ibunya uangnya nggak banyak?"
"Mungkin ada."
Meskipun gue nggak yakin sih ada yg senekat gue. Rodo ngelu ning yo wislah... anak mung siji....
Tgl. 17 nanti, Aria ikut tes masuk. Gue berdoa dia akan dapat yg terbaik. Kalau memang dia bisa masuk Mentari... marilah rajin menabung, Budiana!
Dari hasil hunting sana sini, entah kenapa Aria jatuh cinta sama Sekolah Mentari. Pdh nggak ada teman sekolahnya skrg yg masuk ke situ. Trus waktu open house, dia lihat gedungnya, lihat murid2 di sana, ruang2 science, ruang art... lapangan basket.... Dia semakin yakin hanya pengen masuk sekolah itu.
Sebetulnya Aria sempat galau waktu lihat SMPN 8. Apalagi ada ekskul panahan di sekolah itu. Tp mengingat sekolah negeri baru terurus tahun depan, sementara Mentari sudah harus skrg test ini itu, jd dia akhirnya memantapkan diri mau daftar Mentari. FYI, form pendaftaran saja 600rb. Cukup mak sengkring di kantong yaaaa....
Nah, karena keukeuh mau masuk Mentari (Insya Allah lulus tes), gue merasa perlu membekali anak gue dgn "pagar secukupnya". Agak ngeri sebetulnya memikirkan Aria masuk situ, bukan karena secara akademik... gue memikirkan peer pressure macam apa yg akan dia temui.
Dgn biaya-biaya sekolah sebesar itu, hanya anak-anak orang yg (sangat) punya yg bisa masuk sekolah itu. Spt lazimnya anak berpunya, mereka sangat mungkin diantar ke sekolah dgn mobil keluaran terbaru, punya gadget terkini, juga liburan di luar negeri saat long weekend. Plus... uang saku yg bisa jadi unlimited.
Dan Aria tidak punya itu semua.
Kami memang bukan keluarga sulit, tapi juga belum sampai pada taraf mewah. Jd gue merasa perlu menekankan kpd Aria untuk tidak tergiur pd cemerlang barang-barang branded milik temannya. Dia nggak boleh iri kalau temannya liburan ke Universal tiap bulan. Juga nggak boleh kecil hati kalau dia harus bawa bekal dari rumah krn uang sakunya terbatas. Dan dia hrs tetap percaya diri dan berprestasi meskipun hanya punya gadget biasa, bukan yg paling canggih.
"Kenapa?"
"Karena ibu tidak akan bisa memenuhi itu semua. Kita hanya mampu membayar kualitas sekolahnya, bukan gaya hidupnya."
Dia diam. Wajahnya terlihat kalau dia berpikir keras (lucu banget).
"Masak nggak ada temanku yg akan seperti aku? Yg ibunya uangnya nggak banyak?"
"Mungkin ada."
Meskipun gue nggak yakin sih ada yg senekat gue. Rodo ngelu ning yo wislah... anak mung siji....
Tgl. 17 nanti, Aria ikut tes masuk. Gue berdoa dia akan dapat yg terbaik. Kalau memang dia bisa masuk Mentari... marilah rajin menabung, Budiana!
Subscribe to:
Posts (Atom)
