Setelah gue bilang mau pergi weekend, dia tanya, "Kapan pulang?"
Aria sering banget tanya begitu. Bahkan tiap hari dia akan tanya dengan gaya teror: kapan pulang, jam berapa, cepet cepet cepet, jangan mampir-mampir. Nyokap juga selalu tanya begitu kalau gue mau ke luar kota (ya iyalah). Anak-anak di kantor juga sering kok tanya, terutama kalau gue pergi pas menjelang deadline atau majalah mau proofprint (dasar!).
Tapi... waktu dia yg tanya, rasanya beda.
Ah... gue mulai kurang perhatian nih kayaknya. Dan begitu ada yg memperhatikan kok langsung kecimpringan. Dih.
Monday, November 16, 2015
Saturday, November 07, 2015
Friday, November 06, 2015
Sendiri
My boy went camping with the school today. So I will have a very long evening to spend. Planned to go to the gym after hanging out with friends. But of course the plan can be cancelled and I will go home, reading books instead.
I need to do something to keep my brain running. I hate to feel lonely.
I need to do something to keep my brain running. I hate to feel lonely.
Tuesday, November 03, 2015
Keajaiban
Gue sangat percaya keajaiban. Dan sampai skrg masih terus berharap akan ada yg ajaib2 (lagi). Sesederhana dpt email dari kamu. Yg memberitakan kalau kamu baik2 saja. You know who you are.
Saturday, October 31, 2015
Rejeki
Harus percaya bahwa rejeki memang sudah diatur.
Tadi pagi naik taksi. Jaraknya kurang dari 1 km... tp mau jalan takut telat... dan panasnya itu lho. Supir taksinya sangat galau krn sampai lokasi, argonya gerak aja nggak... pdh spt biasa yg pool di hotel, bisa2 dia sudah nunggu penumpang lebih dari sejam. Kasihan. Jd gue kasih sesuai biaya minimum, lebih dari 3x argo.
Waktu mau pulang dari TKP liputan ke hotel, iseng mau keliling kota sekalian, mumpung meeting yg di hotel break agak lama. Naik taksi lagi, nyegat yg lewat (tp tetep pilih burung biru). Jd sempat lihat kelenteng di pinggir pantai dan belanja oleh-oleh sekalian. Keliling beneran dan sampai hotel argonya 150rb.
Tuh kan... rejeki sdh diatur. Dicukupkan semuanya oleh Allah SWT. Percaya deh.
Friday, October 30, 2015
Missing Navy Pier
My dear blogger friend posted her pictures when joining Chicago Marathon. It is not the marathon I envy (of course!)... it is the city that brought some (sweet) memories.
Spent some months and fell in love to the city. Enjoyed its arrays of museums and its pretty parks. Remember times I (we) spent reading books, or having lunch, on one of the bench along Navy Pier. In my friends pictures I saw some new sculptures and new buildings that make the city looks prettier.
I promised myself that I will be back. But it has been almost 13 years... still can't find way to revisit the city. Someday....
Spent some months and fell in love to the city. Enjoyed its arrays of museums and its pretty parks. Remember times I (we) spent reading books, or having lunch, on one of the bench along Navy Pier. In my friends pictures I saw some new sculptures and new buildings that make the city looks prettier.
I promised myself that I will be back. But it has been almost 13 years... still can't find way to revisit the city. Someday....
Thursday, October 29, 2015
Overtime
... and we are still working. Now we have Josh Groban as a soundtrack...
Sebenernya ini semua untuk apa to yaaaa....
Sebenernya ini semua untuk apa to yaaaa....
Saturday, October 24, 2015
Memaafkan
Seorang teman bercerita bahwa sahabatnya baru saja menikah lagi. Dengan laki2 yg 30 tahun lalu meninggalkan dia untuk perempuan lain. Iya. Baru rujuk. Pdh dulu ditinggal pas anak masih umur setahun. Pdh dulu ditinggal untuk kawin sama perempuan lain. Pdh dulu dicerai begitu saja nggak dikasih gono gini, apalagi dikasih nafkah bulanan.
Toh dia memaafkan dan menerima kembali ketika laki2 itu kembali.
Maaf memang magis ya. Bisa bikin jadi apa saja. Termasuk memaafkan dan menerima sakit hati yg luar biasa. 30 tahun bukan waktu yg sebentar. Maybe it is true that time heals everything.
Toh dia memaafkan dan menerima kembali ketika laki2 itu kembali.
Maaf memang magis ya. Bisa bikin jadi apa saja. Termasuk memaafkan dan menerima sakit hati yg luar biasa. 30 tahun bukan waktu yg sebentar. Maybe it is true that time heals everything.
Friday, October 23, 2015
My Little Matahari Turns 11 Today
Gue menikah tahun 99. Umur 25. Seperti juga pasangan2 lain, segera setelah menikah maunya hamil. Tp ternyata enggak hahaha... Bahkan lama2 seperti nggak pengen punya anak gara2 merasa sdh sangat nyaman berdua saja.
Waktu pindah ke Amerika, makin merasa bersyukur tidak (belum) punya anak. Lihat temen yang punya bayi kok gegap gempita banget hidupnya. Day care mahal, nanny mahal. Mau bawa anak ke mana2 ya repot. Apalagi kalau ada kelas dari pagi sampai malam. Kebetulan gue dan (then) hubby termasuk yg suka lama2 di perpustakaan. Jadi nggak kebayang kalau kami punya anak rusuhnya kayak apa ya....
Lupa alasan jelasnya apa, thn ke-4 perkawinan kami ke Dokter Supardiman. Periksa ini itu. Kesimpulan awal adalah masalah hormonal yg terjadi krn terlalu chubby. Hahaha.... Kepalang tanggung... gue pun berusaha mengurangi bobot tubuh. Detox dibimbing bu Andang Gunawan & Dr. Riani. Trus mindful eating. Berhasil? Iya dong...
Yg nggak berhasil justru pernikahannya.
Mulai berantem. Mulai rusuh. Mulai gonjang ganjing.... Tapi yg tahu cuma nyokap gue. Dan seperti umumnya ibu2 di seluruh dunia... beliau tidak menganjurkan bercerai. Malah nyuruh liburan. Trus gue nurut....
Sepertinya liburan yg diwarnai berantem itulah yg meninggalkan kenangan manis :)
Sebulan setelah liburan, bukannya baikan, malah makin runyam pernikahan gue. Wacana cerai mulai hadir tuh. Wacana yg menurut gue lebih menarik ketimbang status istri pertama. Eiiitts... tp kok badan gue rasanya nggak enak? Rasanya kayak mau flu plus PMS plus lemes. Pulang kantor, mampir ke apotik beli test pack. Sampai rumah langsung tes dan ... jreeeenggg.... positif aja gitu.
Rasanya gimana? It was a complete mixed feeling. Mau cerai kok malah hamil. Gue nggak jelas juga apa perasaan bapaknya anak gue. Yg gue ingat, wajahnya linglung.
Saat itulah gue yakin... Tuhan memang maha segalanya... termasuk Maha Komedian. You are soooo hilariously funny, oh Dear God :)
Ke-MahaLucu-an Tuhan menghadirkan Aria tgl. 23 April 2004. And it was at that moment, I fell in love to him. Instantly.
Aria lahir lewat operasi krn terlilit tali pusatnya yg panjangnya 1m. Nangis keras satu kali. Lalu diam. Tidur lagi. Dan dia tidur sangat banyak :) Menjadi bayi yg tenang, nyaris tanpa suara. Kalau lapar, popoknya basah, atau ngantuk, dia hanya cerewet... jarang menangis. Nggak terbukti kekhawatiran gue soal bayi nangis lama. Justru pernah dia sengaja gue diemin aja waktu nangis, krn gue pengen denger tangisan lebih lama. Hahaha....
Gue sempat merasa akan kehilangan dia, waktu sakit demam berdarah di usia 6 bulan. Waktu itu kondisi Aria bengkak besar sekali dan sudah lemas nggak bisa apa2. Masuk NICU. Gue ingat sekali badannya dibanduli macam2 selang dan kabel. Nggak bisa dipeluk, hanya dielus saja, "Kuat ya nak. Sabar. Kuat. I love you." And he made it. Alhamdulillah....
Dan hari ini, si bayi tenang itu sudah 11 tahun umurnya. Sudah besar (badannya). Enak dipeluk. Dan dia tetap menjadi teman baik gue. Setiap saat, sama seperti waktu dia masih di perut, dia akan nungguin gue cerita ini itu. Dia bisa sabar mendengarkan. Dan skrg bisa gantian bercerita ttg teman2nya.
Suatu ketika, gue tahu dia suka sama salah satu teman perempuan, dan senyum2 waktu gue konfirmasi. Lalu di lain waktu, waktu jalan2 bareng temannya, ada salah satu yg tanya, "Mamamu tahu nggak, rahasia terbesar?" Aria dgn pede jawab, "Tahu dooooong..." Apa itu? Gue yg penasaran. "Itu lho buuuuu... (dia lalu bisik2 nama teman perempuan itu)."
I am sooo glad that I know things considered as his biggest secret :D
Ketika Aria mulai mau tidur sendiri, gue yg galau berat. Kasur kamar gue rasanya jadi luaaaasss banget. Gue jadi bego dan malam itu nggak bisa tidur.
Oh ya, Aria juga posesif. Dan tahu aja kalau ibunya pergi untuk kerja atau sekadar ngeceng hahaha.... Dia akan langsung kirim peringatan2 cepat pulang kalau tahu ibunya lagi kecentilan.
Sungguh sebuah kehormatan besar dipercaya Tuhan mengasuh Aria. Usaha untuk Aria dibantu banyak sekali orang. Dari mulai mengajari baca, sampai ikut urun rembug soal pendidikan dia, formal dan informal. Rejeki anak memang nggak ketuker... meskipun nggak punya kesempatan dibesarkan ayah kandungnya, Aria tidak kekurangan kasih sayang atau perhatian. Semua orang di sekitarnya sayang dan peduli. Dari mulai belikan mainan sampai buku2 lengkap so he started his own kids library by the age of 3... sampai mendanai sekolah dan keperluannya yg tidak sedikit.
Aria banyak mengubah hidup gue. Gue tetap tidak suka anak kecil (yg lain). Favorit gue ya cuma satu itu dan tidak bisa membayangkan nelongsonya kalau dia nggak ada. Dia yg membuat gue punya cambuk di tangan. Cengeng krn urusan kantor? Cambuk. Ayo kerja. Kehabisan uang? Cambuk. Ayo cari. Patah hati? Cambuk! Jangan lama2 sedihnya.
Aria seperti bensin yg bisa membakar semangat gue. Jd skrg ini, kalau gue kisruh, gue akan segera pulang, lihat wajahnya. Kepala langsung dingin. Dan semua masalah tiba2 jadi masuk akal. Beres. Tentu saja ada masa2 dia yg bikin ibunya sedih sekaligus bingung antara mau marah atau mau ketawa atau mau nangis. Misalnya kalau nilai ulangannya jelek, dia malas belajar, atau sedang bandel aja mau gangguin orang serumah. Atau kalau tiba2 dia perlu sesuatu untuk sekolah, besoknya, dan baru inget setelah jam 9 malam....
But somehow he is always cute. Semakin besar, jg semakin banyak kejadian2 sederhana yg menyejukkan hati.
"Ibu, betul nggak cara aku nulis 'di sini'?"
"Betul."
"Yg nulisnya disambung yg mana?"
"Kalau diikuti kata kerja."
"Jadi seperti 'dicium' dan 'dipeluk'?" (lalu dia peluk dan cium gue)
Atau tiba2 bilang:
"Aku sayang Ibu. Sampai keluar galaksi, lalu balik lagi ke bumi."
*meleleh*
Doa yg tak putus2, untuk kesehatan dan kebahagiaan Aria. Semoga menjadi orang yg berguna bagi sekitarnya. Amin. Selamat ulang tahun, Aria sayang. Ibu akan selalu sayang. Selalu. Selama-lamanya.
Waktu pindah ke Amerika, makin merasa bersyukur tidak (belum) punya anak. Lihat temen yang punya bayi kok gegap gempita banget hidupnya. Day care mahal, nanny mahal. Mau bawa anak ke mana2 ya repot. Apalagi kalau ada kelas dari pagi sampai malam. Kebetulan gue dan (then) hubby termasuk yg suka lama2 di perpustakaan. Jadi nggak kebayang kalau kami punya anak rusuhnya kayak apa ya....
Lupa alasan jelasnya apa, thn ke-4 perkawinan kami ke Dokter Supardiman. Periksa ini itu. Kesimpulan awal adalah masalah hormonal yg terjadi krn terlalu chubby. Hahaha.... Kepalang tanggung... gue pun berusaha mengurangi bobot tubuh. Detox dibimbing bu Andang Gunawan & Dr. Riani. Trus mindful eating. Berhasil? Iya dong...
Yg nggak berhasil justru pernikahannya.
Mulai berantem. Mulai rusuh. Mulai gonjang ganjing.... Tapi yg tahu cuma nyokap gue. Dan seperti umumnya ibu2 di seluruh dunia... beliau tidak menganjurkan bercerai. Malah nyuruh liburan. Trus gue nurut....
Sepertinya liburan yg diwarnai berantem itulah yg meninggalkan kenangan manis :)
Sebulan setelah liburan, bukannya baikan, malah makin runyam pernikahan gue. Wacana cerai mulai hadir tuh. Wacana yg menurut gue lebih menarik ketimbang status istri pertama. Eiiitts... tp kok badan gue rasanya nggak enak? Rasanya kayak mau flu plus PMS plus lemes. Pulang kantor, mampir ke apotik beli test pack. Sampai rumah langsung tes dan ... jreeeenggg.... positif aja gitu.
Rasanya gimana? It was a complete mixed feeling. Mau cerai kok malah hamil. Gue nggak jelas juga apa perasaan bapaknya anak gue. Yg gue ingat, wajahnya linglung.
Saat itulah gue yakin... Tuhan memang maha segalanya... termasuk Maha Komedian. You are soooo hilariously funny, oh Dear God :)
Ke-MahaLucu-an Tuhan menghadirkan Aria tgl. 23 April 2004. And it was at that moment, I fell in love to him. Instantly.
Aria lahir lewat operasi krn terlilit tali pusatnya yg panjangnya 1m. Nangis keras satu kali. Lalu diam. Tidur lagi. Dan dia tidur sangat banyak :) Menjadi bayi yg tenang, nyaris tanpa suara. Kalau lapar, popoknya basah, atau ngantuk, dia hanya cerewet... jarang menangis. Nggak terbukti kekhawatiran gue soal bayi nangis lama. Justru pernah dia sengaja gue diemin aja waktu nangis, krn gue pengen denger tangisan lebih lama. Hahaha....
Gue sempat merasa akan kehilangan dia, waktu sakit demam berdarah di usia 6 bulan. Waktu itu kondisi Aria bengkak besar sekali dan sudah lemas nggak bisa apa2. Masuk NICU. Gue ingat sekali badannya dibanduli macam2 selang dan kabel. Nggak bisa dipeluk, hanya dielus saja, "Kuat ya nak. Sabar. Kuat. I love you." And he made it. Alhamdulillah....
Dan hari ini, si bayi tenang itu sudah 11 tahun umurnya. Sudah besar (badannya). Enak dipeluk. Dan dia tetap menjadi teman baik gue. Setiap saat, sama seperti waktu dia masih di perut, dia akan nungguin gue cerita ini itu. Dia bisa sabar mendengarkan. Dan skrg bisa gantian bercerita ttg teman2nya.
Suatu ketika, gue tahu dia suka sama salah satu teman perempuan, dan senyum2 waktu gue konfirmasi. Lalu di lain waktu, waktu jalan2 bareng temannya, ada salah satu yg tanya, "Mamamu tahu nggak, rahasia terbesar?" Aria dgn pede jawab, "Tahu dooooong..." Apa itu? Gue yg penasaran. "Itu lho buuuuu... (dia lalu bisik2 nama teman perempuan itu)."
I am sooo glad that I know things considered as his biggest secret :D
Ketika Aria mulai mau tidur sendiri, gue yg galau berat. Kasur kamar gue rasanya jadi luaaaasss banget. Gue jadi bego dan malam itu nggak bisa tidur.
Oh ya, Aria juga posesif. Dan tahu aja kalau ibunya pergi untuk kerja atau sekadar ngeceng hahaha.... Dia akan langsung kirim peringatan2 cepat pulang kalau tahu ibunya lagi kecentilan.
Sungguh sebuah kehormatan besar dipercaya Tuhan mengasuh Aria. Usaha untuk Aria dibantu banyak sekali orang. Dari mulai mengajari baca, sampai ikut urun rembug soal pendidikan dia, formal dan informal. Rejeki anak memang nggak ketuker... meskipun nggak punya kesempatan dibesarkan ayah kandungnya, Aria tidak kekurangan kasih sayang atau perhatian. Semua orang di sekitarnya sayang dan peduli. Dari mulai belikan mainan sampai buku2 lengkap so he started his own kids library by the age of 3... sampai mendanai sekolah dan keperluannya yg tidak sedikit.
Aria banyak mengubah hidup gue. Gue tetap tidak suka anak kecil (yg lain). Favorit gue ya cuma satu itu dan tidak bisa membayangkan nelongsonya kalau dia nggak ada. Dia yg membuat gue punya cambuk di tangan. Cengeng krn urusan kantor? Cambuk. Ayo kerja. Kehabisan uang? Cambuk. Ayo cari. Patah hati? Cambuk! Jangan lama2 sedihnya.
Aria seperti bensin yg bisa membakar semangat gue. Jd skrg ini, kalau gue kisruh, gue akan segera pulang, lihat wajahnya. Kepala langsung dingin. Dan semua masalah tiba2 jadi masuk akal. Beres. Tentu saja ada masa2 dia yg bikin ibunya sedih sekaligus bingung antara mau marah atau mau ketawa atau mau nangis. Misalnya kalau nilai ulangannya jelek, dia malas belajar, atau sedang bandel aja mau gangguin orang serumah. Atau kalau tiba2 dia perlu sesuatu untuk sekolah, besoknya, dan baru inget setelah jam 9 malam....
But somehow he is always cute. Semakin besar, jg semakin banyak kejadian2 sederhana yg menyejukkan hati.
"Ibu, betul nggak cara aku nulis 'di sini'?"
"Betul."
"Yg nulisnya disambung yg mana?"
"Kalau diikuti kata kerja."
"Jadi seperti 'dicium' dan 'dipeluk'?" (lalu dia peluk dan cium gue)
Atau tiba2 bilang:
"Aku sayang Ibu. Sampai keluar galaksi, lalu balik lagi ke bumi."
*meleleh*
Doa yg tak putus2, untuk kesehatan dan kebahagiaan Aria. Semoga menjadi orang yg berguna bagi sekitarnya. Amin. Selamat ulang tahun, Aria sayang. Ibu akan selalu sayang. Selalu. Selama-lamanya.
Thursday, October 22, 2015
Reminder
Barusan ngobrol sm teman yg freelance writer. Bulan September nggak ada kerjaan. Bulan Oktober ini baru menulis 2 artikel. November & Desember? Blm jelas. Padahal dia punya 2 anak yg tentunya nggak boleh berhenti dikasih makan.
Memang tahun lalu agenda dia penuh dgn jalan2 hura2 yg bikin iri. Cukup kerja sekitar 3 bulan, hasilnya cukup buat hidup senang setahun. Tp tahun ini semua berubah. Ekonomi sulit, pekerjaan buat dia jadi terbatas. Oh well... di kantor gue pun pekerjaan buat dia sudah nggak ada lagi. Semua dikerjakan internal utk penghematan.
Baiklah, sebuah percakapan yg cukup menampar. Janji nggak boleh marah2 kalau ada deadline bertumpuk2. Ingat2 aja tiap tgl. 28 rekening ada isinya yg bisa buat bayar sekolah, beli bensin, dan bayar listrik. Sesedikit apa pun, ada kepastian yg bisa diharapkan.
Be grateful, your shoes might be better and more comfortable than others.
Memang tahun lalu agenda dia penuh dgn jalan2 hura2 yg bikin iri. Cukup kerja sekitar 3 bulan, hasilnya cukup buat hidup senang setahun. Tp tahun ini semua berubah. Ekonomi sulit, pekerjaan buat dia jadi terbatas. Oh well... di kantor gue pun pekerjaan buat dia sudah nggak ada lagi. Semua dikerjakan internal utk penghematan.
Baiklah, sebuah percakapan yg cukup menampar. Janji nggak boleh marah2 kalau ada deadline bertumpuk2. Ingat2 aja tiap tgl. 28 rekening ada isinya yg bisa buat bayar sekolah, beli bensin, dan bayar listrik. Sesedikit apa pun, ada kepastian yg bisa diharapkan.
Be grateful, your shoes might be better and more comfortable than others.
Monday, October 19, 2015
Thursday, October 15, 2015
Monday, October 12, 2015
Hati
Gue baru dpt istilah baru dr anak magang di kantor: baper. Alias bawa perasaan.
Trus dia bilang kalau perempuan itu selalu baper. Mau sekolahnya jauh, karirnya bagus, jabatan tinggi... kalau sdh baper trus jd ambyar semuanya.
Mak jleb. Semprul nih anak.
Trus dia bilang kalau perempuan itu selalu baper. Mau sekolahnya jauh, karirnya bagus, jabatan tinggi... kalau sdh baper trus jd ambyar semuanya.
Mak jleb. Semprul nih anak.
Friday, October 09, 2015
Yogyakarta
Short trip ke Yogya minggu lalu spt mau membuktikan kalau Yogya skrg penuhnya minta ampun yaaaa.... Hebat lah wisatawan non stop ke Yogya. Penerbangan weekend selalu penuh. Semoga menaikkan ekonomi lokal ya. Amin.
Ke Yogya kemarin sebetulnya bekerja. Tp setelah memecut tim spy kerja lebih cepat, bisa selesai jauuuh lebih awal dari jadwal, jd punya sekitar satu malam dan satu pagi untuk dihabiskan jalan2. Bebas. Hore! Hidup tim!
Sore dihabiskan di kawasan Candi Ratu Boko. Kawasan... krn memang nggak naik ke candi. Ada temen yg niat banget mau curhat, di sana. Untung pemandangan bagus. Menarik lihat sunset dari sana. Di cafe-nya, makanannya murah pol. Trus sambil makan diiringi mocopatan. Ayem tentrem.
Curhat selesai begitu matahari tenggelam. Ayuneeee.... Habis itu langsung ke "RT" sebelah: Candi Prambanan. Jadwal malam itu adalah nonton Ramayana.
Jadi ya, selama ini mau nonton Ramayana nggak jadi2. Kemarin akhirnya kesampaian. Full house lho. Membanggakan sekali. Teaternya lapang dan latar belakang candi Prambanan itu memang bikin jd mistis gimanaaa gitu.
Ceritanya ya tentang Rama & Sinta yg sampai ke Hanoman obong lalu ditutup dengan Sinta obong itulah. Narinya bagus (pengen ikut). Trus rombongan raksasa dan rombongan monyet jg bagus. Musiknya bagus. Dan kemarin kebagian yg full story, jadi waktu Hanoman obong, beneran ada api unggun besaaaaar banget! Senenglah bisa nonton kesenian Indonesia. Tiketnya murah banget utk ukuran pertunjukan sebagus itu.
Jam 10.30 sampai hotel lagi... laper... Yg lain juga masih rusuh... maklum anak muda hahahaha... Kebetulan kemarin itu ada perayaan ulang tahun Yogya ke 259. Ada panggung di Monjali. Dari hotel tinggal jalan kaki. Para anak muda itu semangat mau terjun ke keramaian. Baiklah... tantemama penasaran juga sih. Sekalian cari makan, gimana? Bosanlah yaaa... makan di hotel melulu....
Ternyata memang semua manusia Yogya hari itu tumpah di jalan Malioboro dan sekitarnya sampai ke Monjali. Waktu kami lewat, di panggung ada Gareng Petruk. Lucu (kalau ngerti ngomongnya apa). Meskipun ada hiburan lucu, nggak lupa kalau lapar. Hahaha... memang blm sempat makan malam yg proper... Eh... kok pas di depan ada angkringan KR. Waaaah... nasi kucingnya ada bbrp macam... pelengkapnya lbh hore lagi... segala sate dan sambal.... Silakan lho kalau mau kalap.
Gue pamit pulang stlh selesai makan. Maaf deh, umur nggak bohong.... Rasanya sdh ngambang2 gitu. Mending aktivitas pagi deh. Hahaha... Janjian paginya mau ke pasar Kranggan.
Tengah malam jam 2, gue sakit perut! Waduuuuuh... tertuduhnya adalah menu angkringan. Atau badan gue memang mulai rontok? Entahlah... tp diare tuh sungguh gangguuuu... sdh berencana mau nginep di toilet aja. Sambil mikir2 kalau sampai jam 7 masih rusuh... kayaknya hrs beli diapers buat perjalanan pulang.
Alhamdulillah bangun subuh sdh gembira lagi. Perut nggak rewel. Lancar. Asyiiiik... lanjut dgn rencana pasar Kranggan. Krn semalam hbs pesta pora, jalanan banyak sampah. Huh... di mana2 kok sampaaaaah aja masalahnya. Nggak guna banget sih sekolahnya...
Sampai pasar Kranggan... tujuan utama sebetulnya adalah tukang jajanan. Hmm... tapi sampai sana lgs galau krn ingat pengalaman semalam yg nyaris nginep di toilet... huhuhu.... Pdh jajanan yg digelar betul2 menarik! Warna warni seruuuu.... huhuhu.... Tahan diri. Tahan diri.... Akhirnya beneran nggak berani beli apa2. Lihat2 saja. Dan menikmati Yogya lewat telinga: dengerin orang ngobrol bahasa Jawa.
Setelah dari pasar Kranggan... balik hotel... check out... lalu ke Wahyu Austin. Apakah itu? Ternyata di Yogya nggak cuma ada bakpia yg utk oleh2. Ada rollcake lembut lezat ciamik... kemasannya pun manis.... Namanya Wahyu Austin. Di daerah Sleman. Baru tahuuuuuu.... Sempat beli bbrp utk oleh2. Habis itu tnyt masih ada cukup waktu sblm terbang. Akhirnya mampir ke Museum Affandi. Ini juga kunjungan ya sifatnya "ya ampun". Artinya kurang lebih... ya ampun... sekian lama mondar mandir Yoyga, akhirnya masuk juga ke Museum Affandi. Hahahaha.... It was good, as expected. Menyenangkan sekali "dijamu" lukisan2 bagus begitu (masih ada yg dijual, minimal 4M, berminat?). Gue sih menikmati warna warni Affandi (&Kartika) saja. Ini rasa ayemnya beda lagi....
Jadi, begitulah report kegiatan Yogya. Lumayan jd break di tengah kerusuhan. Trus... tumben ya bikin report begini? Hahaha... maaf pemirsa, sesungguhnya ini mengisi waktu luang in between pemotretan majalah. Hehehe....Let's go back to the venue!
Ke Yogya kemarin sebetulnya bekerja. Tp setelah memecut tim spy kerja lebih cepat, bisa selesai jauuuh lebih awal dari jadwal, jd punya sekitar satu malam dan satu pagi untuk dihabiskan jalan2. Bebas. Hore! Hidup tim!
Sore dihabiskan di kawasan Candi Ratu Boko. Kawasan... krn memang nggak naik ke candi. Ada temen yg niat banget mau curhat, di sana. Untung pemandangan bagus. Menarik lihat sunset dari sana. Di cafe-nya, makanannya murah pol. Trus sambil makan diiringi mocopatan. Ayem tentrem.
Curhat selesai begitu matahari tenggelam. Ayuneeee.... Habis itu langsung ke "RT" sebelah: Candi Prambanan. Jadwal malam itu adalah nonton Ramayana.
Jadi ya, selama ini mau nonton Ramayana nggak jadi2. Kemarin akhirnya kesampaian. Full house lho. Membanggakan sekali. Teaternya lapang dan latar belakang candi Prambanan itu memang bikin jd mistis gimanaaa gitu.
Ceritanya ya tentang Rama & Sinta yg sampai ke Hanoman obong lalu ditutup dengan Sinta obong itulah. Narinya bagus (pengen ikut). Trus rombongan raksasa dan rombongan monyet jg bagus. Musiknya bagus. Dan kemarin kebagian yg full story, jadi waktu Hanoman obong, beneran ada api unggun besaaaaar banget! Senenglah bisa nonton kesenian Indonesia. Tiketnya murah banget utk ukuran pertunjukan sebagus itu.
Jam 10.30 sampai hotel lagi... laper... Yg lain juga masih rusuh... maklum anak muda hahahaha... Kebetulan kemarin itu ada perayaan ulang tahun Yogya ke 259. Ada panggung di Monjali. Dari hotel tinggal jalan kaki. Para anak muda itu semangat mau terjun ke keramaian. Baiklah... tantemama penasaran juga sih. Sekalian cari makan, gimana? Bosanlah yaaa... makan di hotel melulu....
Ternyata memang semua manusia Yogya hari itu tumpah di jalan Malioboro dan sekitarnya sampai ke Monjali. Waktu kami lewat, di panggung ada Gareng Petruk. Lucu (kalau ngerti ngomongnya apa). Meskipun ada hiburan lucu, nggak lupa kalau lapar. Hahaha... memang blm sempat makan malam yg proper... Eh... kok pas di depan ada angkringan KR. Waaaah... nasi kucingnya ada bbrp macam... pelengkapnya lbh hore lagi... segala sate dan sambal.... Silakan lho kalau mau kalap.
Gue pamit pulang stlh selesai makan. Maaf deh, umur nggak bohong.... Rasanya sdh ngambang2 gitu. Mending aktivitas pagi deh. Hahaha... Janjian paginya mau ke pasar Kranggan.
Tengah malam jam 2, gue sakit perut! Waduuuuuh... tertuduhnya adalah menu angkringan. Atau badan gue memang mulai rontok? Entahlah... tp diare tuh sungguh gangguuuu... sdh berencana mau nginep di toilet aja. Sambil mikir2 kalau sampai jam 7 masih rusuh... kayaknya hrs beli diapers buat perjalanan pulang.
Alhamdulillah bangun subuh sdh gembira lagi. Perut nggak rewel. Lancar. Asyiiiik... lanjut dgn rencana pasar Kranggan. Krn semalam hbs pesta pora, jalanan banyak sampah. Huh... di mana2 kok sampaaaaah aja masalahnya. Nggak guna banget sih sekolahnya...
Sampai pasar Kranggan... tujuan utama sebetulnya adalah tukang jajanan. Hmm... tapi sampai sana lgs galau krn ingat pengalaman semalam yg nyaris nginep di toilet... huhuhu.... Pdh jajanan yg digelar betul2 menarik! Warna warni seruuuu.... huhuhu.... Tahan diri. Tahan diri.... Akhirnya beneran nggak berani beli apa2. Lihat2 saja. Dan menikmati Yogya lewat telinga: dengerin orang ngobrol bahasa Jawa.
Setelah dari pasar Kranggan... balik hotel... check out... lalu ke Wahyu Austin. Apakah itu? Ternyata di Yogya nggak cuma ada bakpia yg utk oleh2. Ada rollcake lembut lezat ciamik... kemasannya pun manis.... Namanya Wahyu Austin. Di daerah Sleman. Baru tahuuuuuu.... Sempat beli bbrp utk oleh2. Habis itu tnyt masih ada cukup waktu sblm terbang. Akhirnya mampir ke Museum Affandi. Ini juga kunjungan ya sifatnya "ya ampun". Artinya kurang lebih... ya ampun... sekian lama mondar mandir Yoyga, akhirnya masuk juga ke Museum Affandi. Hahahaha.... It was good, as expected. Menyenangkan sekali "dijamu" lukisan2 bagus begitu (masih ada yg dijual, minimal 4M, berminat?). Gue sih menikmati warna warni Affandi (&Kartika) saja. Ini rasa ayemnya beda lagi....
Jadi, begitulah report kegiatan Yogya. Lumayan jd break di tengah kerusuhan. Trus... tumben ya bikin report begini? Hahaha... maaf pemirsa, sesungguhnya ini mengisi waktu luang in between pemotretan majalah. Hehehe....Let's go back to the venue!
Tuesday, October 06, 2015
Tadi Malam
Semalam, sekitar jam 10.30, Aria ketok2 kamar gue.
"Ibu, aku boleh tidur sini ndak? Aku kangen sama ibu."
Setelah cium2 & peluk2 kira2 75 kali, dia langsung pulas. Gue pun yg tadinya masih mlongo2 (yes, post relationship syndrome) setelah cium bau anak gue bisa tetiba ngantuk dan tidur nyenyak meluk anak cimuk gue itu.
Thank you God for sending a little piece of heaven to my room last night.
"Ibu, aku boleh tidur sini ndak? Aku kangen sama ibu."
Setelah cium2 & peluk2 kira2 75 kali, dia langsung pulas. Gue pun yg tadinya masih mlongo2 (yes, post relationship syndrome) setelah cium bau anak gue bisa tetiba ngantuk dan tidur nyenyak meluk anak cimuk gue itu.
Thank you God for sending a little piece of heaven to my room last night.
Monday, October 05, 2015
Aria Sudah Besar
Anak gue ini sudah besar memang ya. Sdh setengah hati mau uyel2nya. Hiks hiks...
Jd kemarin pulang dr Yogya, kangen gue sdh segunung gitu deh. Eh... anak gue msh di kamarnya dgn asyik. Baru inget ibunya pulang stlh di-wa.
Tetep sih, begitu ingat ada ibunya lgs loncat turun dari loteng trus peluk2 lamaaaa...cium2 seribu kali. Sempat cerita ini itu ini itu dgn gaya sewewet spt biasa. Tp hbs itu dah... lgs mau naik lagi... bye! Katanya mau belajar buat ulangan.
Trus malemnya, dipaksa tidur di bawah saja sama ibunya kok ya nggak mau :( Hanya mau peluk2 sebentar trus dia melesat lagi deh ke loteng. Huhuhuhu....
Jd kemarin pulang dr Yogya, kangen gue sdh segunung gitu deh. Eh... anak gue msh di kamarnya dgn asyik. Baru inget ibunya pulang stlh di-wa.
Tetep sih, begitu ingat ada ibunya lgs loncat turun dari loteng trus peluk2 lamaaaa...cium2 seribu kali. Sempat cerita ini itu ini itu dgn gaya sewewet spt biasa. Tp hbs itu dah... lgs mau naik lagi... bye! Katanya mau belajar buat ulangan.
Trus malemnya, dipaksa tidur di bawah saja sama ibunya kok ya nggak mau :( Hanya mau peluk2 sebentar trus dia melesat lagi deh ke loteng. Huhuhuhu....
Saturday, October 03, 2015
Thursday, October 01, 2015
Combo Convo
Jadi Aria si anak semata wayang itu tahun depan masuk SMP. Dan kemajuan zaman membuat sekolah2 sudah mulai pendaftaran sejak sekarang! Astaga... rajin apa edan?
Dari hasil hunting sana sini, entah kenapa Aria jatuh cinta sama Sekolah Mentari. Pdh nggak ada teman sekolahnya skrg yg masuk ke situ. Trus waktu open house, dia lihat gedungnya, lihat murid2 di sana, ruang2 science, ruang art... lapangan basket.... Dia semakin yakin hanya pengen masuk sekolah itu.
Sebetulnya Aria sempat galau waktu lihat SMPN 8. Apalagi ada ekskul panahan di sekolah itu. Tp mengingat sekolah negeri baru terurus tahun depan, sementara Mentari sudah harus skrg test ini itu, jd dia akhirnya memantapkan diri mau daftar Mentari. FYI, form pendaftaran saja 600rb. Cukup mak sengkring di kantong yaaaa....
Nah, karena keukeuh mau masuk Mentari (Insya Allah lulus tes), gue merasa perlu membekali anak gue dgn "pagar secukupnya". Agak ngeri sebetulnya memikirkan Aria masuk situ, bukan karena secara akademik... gue memikirkan peer pressure macam apa yg akan dia temui.
Dgn biaya-biaya sekolah sebesar itu, hanya anak-anak orang yg (sangat) punya yg bisa masuk sekolah itu. Spt lazimnya anak berpunya, mereka sangat mungkin diantar ke sekolah dgn mobil keluaran terbaru, punya gadget terkini, juga liburan di luar negeri saat long weekend. Plus... uang saku yg bisa jadi unlimited.
Dan Aria tidak punya itu semua.
Kami memang bukan keluarga sulit, tapi juga belum sampai pada taraf mewah. Jd gue merasa perlu menekankan kpd Aria untuk tidak tergiur pd cemerlang barang-barang branded milik temannya. Dia nggak boleh iri kalau temannya liburan ke Universal tiap bulan. Juga nggak boleh kecil hati kalau dia harus bawa bekal dari rumah krn uang sakunya terbatas. Dan dia hrs tetap percaya diri dan berprestasi meskipun hanya punya gadget biasa, bukan yg paling canggih.
"Kenapa?"
"Karena ibu tidak akan bisa memenuhi itu semua. Kita hanya mampu membayar kualitas sekolahnya, bukan gaya hidupnya."
Dia diam. Wajahnya terlihat kalau dia berpikir keras (lucu banget).
"Masak nggak ada temanku yg akan seperti aku? Yg ibunya uangnya nggak banyak?"
"Mungkin ada."
Meskipun gue nggak yakin sih ada yg senekat gue. Rodo ngelu ning yo wislah... anak mung siji....
Tgl. 17 nanti, Aria ikut tes masuk. Gue berdoa dia akan dapat yg terbaik. Kalau memang dia bisa masuk Mentari... marilah rajin menabung, Budiana!
Dari hasil hunting sana sini, entah kenapa Aria jatuh cinta sama Sekolah Mentari. Pdh nggak ada teman sekolahnya skrg yg masuk ke situ. Trus waktu open house, dia lihat gedungnya, lihat murid2 di sana, ruang2 science, ruang art... lapangan basket.... Dia semakin yakin hanya pengen masuk sekolah itu.
Sebetulnya Aria sempat galau waktu lihat SMPN 8. Apalagi ada ekskul panahan di sekolah itu. Tp mengingat sekolah negeri baru terurus tahun depan, sementara Mentari sudah harus skrg test ini itu, jd dia akhirnya memantapkan diri mau daftar Mentari. FYI, form pendaftaran saja 600rb. Cukup mak sengkring di kantong yaaaa....
Nah, karena keukeuh mau masuk Mentari (Insya Allah lulus tes), gue merasa perlu membekali anak gue dgn "pagar secukupnya". Agak ngeri sebetulnya memikirkan Aria masuk situ, bukan karena secara akademik... gue memikirkan peer pressure macam apa yg akan dia temui.
Dgn biaya-biaya sekolah sebesar itu, hanya anak-anak orang yg (sangat) punya yg bisa masuk sekolah itu. Spt lazimnya anak berpunya, mereka sangat mungkin diantar ke sekolah dgn mobil keluaran terbaru, punya gadget terkini, juga liburan di luar negeri saat long weekend. Plus... uang saku yg bisa jadi unlimited.
Dan Aria tidak punya itu semua.
Kami memang bukan keluarga sulit, tapi juga belum sampai pada taraf mewah. Jd gue merasa perlu menekankan kpd Aria untuk tidak tergiur pd cemerlang barang-barang branded milik temannya. Dia nggak boleh iri kalau temannya liburan ke Universal tiap bulan. Juga nggak boleh kecil hati kalau dia harus bawa bekal dari rumah krn uang sakunya terbatas. Dan dia hrs tetap percaya diri dan berprestasi meskipun hanya punya gadget biasa, bukan yg paling canggih.
"Kenapa?"
"Karena ibu tidak akan bisa memenuhi itu semua. Kita hanya mampu membayar kualitas sekolahnya, bukan gaya hidupnya."
Dia diam. Wajahnya terlihat kalau dia berpikir keras (lucu banget).
"Masak nggak ada temanku yg akan seperti aku? Yg ibunya uangnya nggak banyak?"
"Mungkin ada."
Meskipun gue nggak yakin sih ada yg senekat gue. Rodo ngelu ning yo wislah... anak mung siji....
Tgl. 17 nanti, Aria ikut tes masuk. Gue berdoa dia akan dapat yg terbaik. Kalau memang dia bisa masuk Mentari... marilah rajin menabung, Budiana!
Monday, September 28, 2015
From September 2005
RISE ABOVE THE PRECIOUS ILLUSION
Am I just another illusion to you
Another worthless image in your mind
The image that lingers about
No matter what the time
I've seen you cut yourself
Watched every toxic tear
Drop from your beautiful eyes
And yet you don't believe I'm real
An angel whose closed his eyes
You're shutting me out
But the illusion still wander
Your soul trapped to me
Till you join me
In merciless death
Where together
We shall rise
And you will find
I wasn't just another
'Precious Illusion'
(Jana Courville)
Thank you for introducing me to the pretty words.
Am I just another illusion to you
Another worthless image in your mind
The image that lingers about
No matter what the time
I've seen you cut yourself
Watched every toxic tear
Drop from your beautiful eyes
And yet you don't believe I'm real
An angel whose closed his eyes
You're shutting me out
But the illusion still wander
Your soul trapped to me
Till you join me
In merciless death
Where together
We shall rise
And you will find
I wasn't just another
'Precious Illusion'
(Jana Courville)
Thank you for introducing me to the pretty words.
Saturday, September 26, 2015
Hello There!
See you with your son & the cousins celebrating Eid in Bandung (you were wearing black t-shirt). Wish I can come and say hi. It will be an awkward moment between the crowds but it must be cute. Don't you think? :)
Friday, September 25, 2015
Demi ... Demiiiii....
Karena minggu depan ada jadwal ke luar kota, akhirnya terpaksa nggak ikut keriaan bareng tim yg hari ini berangkat kondangan di Cirebon. Yaaah... maaf ya, pengantin. Daripada diamuk sm anak gue.
"Ibu, jatah pergi2 tahun ini sudah habis, kecuali yg sama aku," katanya. Hahahaha....
"Ibu, jatah pergi2 tahun ini sudah habis, kecuali yg sama aku," katanya. Hahahaha....
Ayo Antri
Berita duka datang dari Tanah Suci... tentang jemaah yg terinjak karena desak2an.
Innalillahi wa innailaihi rajiuun.
Sudah sering banget ini berita desak2an waktu naik haji, selalu ada kejadian yg makan korban. Spt jg sudah hukum alam, yg kecil kemungkinan besar akan terlibas oleh yg besar. Dan yg kemarin kayaknya gitu juga yg terjadi ya. Di lorong 204, yg khusus untuk jemaah dari Afrika dan Timur Tengah... nyempil satu kloter warga Indonesia dari Surabaya. Duh ampun. Sudahlah dikasih tahu jalur itu diatur untuk jemaah berbadan besar... kenapa juga ya masih mau lewat situ?
Gue nggak paham, kenapa ada yg desak2an, kenapa ada yg nekat lewat jalan yg bukan untuknya, kenapa ada yg bikin macet... gue blm pernah naik haji jd nggak tahu. Tapi... gue tahu dan yakin kalau semua bisa dihindari seandainya mereka antri.
Duh biyung. Antri. Antri. Antri. Susah sekali ya disuruh antri. Seperti pengalaman waktu umroh. Masuk Raudah desak2an. Ada yg ngeyel mau cium hajar aswad... desak2an. Ada yg mau thawaf di dekat kabah... desak2an. Ada yg mau shola di Hijr Ismail... desak2an juga. Mau ibadah aja kok susah banget....
Pdh ya, yg mau lihat lukisan Monalisa di Louvre... antri lho. Yg mau nonton Bon Jovi, antri. Yg mau ikutan Indonesian Idol jg antri dari pagi sampai malam... meskipun blm tentu lolos seleksi. Gue pernah antri hampir 2 jam utk bisa dapat tiket kuliah umum Bill Clinton. Utk sesuatu yg tdk ada pahalanya di akherat, orang2 mau antri. Trus kenapa nggak mau antri buat urusan ibadah? Yg seharusnya lebih khusyu dan lebih tertib. Memangnya kalau uwel2an gitu bisa konsentrasi berdoa? Mungkin harus ada yg mengaturnya agar bisa antri dgn tertib. Hrs ada tata tertib yg jelas, jadwal yg lebih ketat mungkin, sehingga nggak semua orang tumplek blek di waktu yg sama.
Ibadah memang urusan kita dengan Allah SWT. Seringkali kita enggan mengungkit soal ibadah ini, krn takut dibilang tdk ikhlas, hitung2an sama Allah. Kita diam saja kalau departemen Agama ribet ini itu, krn kita sangat takut ibadah kita tercela.
Pdh mestinya kita pergunakan akal yg sdh dikaruniakan Allah ke kita, untuk berpikir lbh panjang, utk bertindak lebih jauh. Kita boleh kok menuntut hak kita. Buat pergi ke Arab Saudi, hrs urus visa, hrs bayar ini itu. Artinya, ada hak kita utk menuntut keselamatan & kenyamanan ibadah. Susah... ya memang. Tp itu hrs dipikirin, namanya dunia makin maju, masak dalam urusan ibadah nggak maju2. Dulu jg tempat jumroh cuma batu, skrg dibikin bertingkat. Artinya, kemajuan itu bisa mendukung ibadah. Kemajuan (berpikir) hrs dimanfaatkan untuk membuat ibadah lebih baik, kan?
Rasanya sih bisa deh kita bikin petisi supaya ada antrian di tempat2 suci di Arab Saudi. Jd nggak ada lagi tuh, jemaah yg telat masuk ke Arafah (yg artinya terlambat wukuf). Dan yg jelas nggak ada yg jadi korban desak2an mau menuju tempat lempar jumroh. Kalau sdh dijadwal dan semua tertib ikut jadwal, bisa gantian kan. Bisa antri. Toh kalau ibadah lebih nyaman dan lebih tenang, jemaah juga kan yg menikmatinya?
Innalillahi wa innailaihi rajiuun.
Sudah sering banget ini berita desak2an waktu naik haji, selalu ada kejadian yg makan korban. Spt jg sudah hukum alam, yg kecil kemungkinan besar akan terlibas oleh yg besar. Dan yg kemarin kayaknya gitu juga yg terjadi ya. Di lorong 204, yg khusus untuk jemaah dari Afrika dan Timur Tengah... nyempil satu kloter warga Indonesia dari Surabaya. Duh ampun. Sudahlah dikasih tahu jalur itu diatur untuk jemaah berbadan besar... kenapa juga ya masih mau lewat situ?
Gue nggak paham, kenapa ada yg desak2an, kenapa ada yg nekat lewat jalan yg bukan untuknya, kenapa ada yg bikin macet... gue blm pernah naik haji jd nggak tahu. Tapi... gue tahu dan yakin kalau semua bisa dihindari seandainya mereka antri.
Duh biyung. Antri. Antri. Antri. Susah sekali ya disuruh antri. Seperti pengalaman waktu umroh. Masuk Raudah desak2an. Ada yg ngeyel mau cium hajar aswad... desak2an. Ada yg mau thawaf di dekat kabah... desak2an. Ada yg mau shola di Hijr Ismail... desak2an juga. Mau ibadah aja kok susah banget....
Pdh ya, yg mau lihat lukisan Monalisa di Louvre... antri lho. Yg mau nonton Bon Jovi, antri. Yg mau ikutan Indonesian Idol jg antri dari pagi sampai malam... meskipun blm tentu lolos seleksi. Gue pernah antri hampir 2 jam utk bisa dapat tiket kuliah umum Bill Clinton. Utk sesuatu yg tdk ada pahalanya di akherat, orang2 mau antri. Trus kenapa nggak mau antri buat urusan ibadah? Yg seharusnya lebih khusyu dan lebih tertib. Memangnya kalau uwel2an gitu bisa konsentrasi berdoa? Mungkin harus ada yg mengaturnya agar bisa antri dgn tertib. Hrs ada tata tertib yg jelas, jadwal yg lebih ketat mungkin, sehingga nggak semua orang tumplek blek di waktu yg sama.
Ibadah memang urusan kita dengan Allah SWT. Seringkali kita enggan mengungkit soal ibadah ini, krn takut dibilang tdk ikhlas, hitung2an sama Allah. Kita diam saja kalau departemen Agama ribet ini itu, krn kita sangat takut ibadah kita tercela.
Pdh mestinya kita pergunakan akal yg sdh dikaruniakan Allah ke kita, untuk berpikir lbh panjang, utk bertindak lebih jauh. Kita boleh kok menuntut hak kita. Buat pergi ke Arab Saudi, hrs urus visa, hrs bayar ini itu. Artinya, ada hak kita utk menuntut keselamatan & kenyamanan ibadah. Susah... ya memang. Tp itu hrs dipikirin, namanya dunia makin maju, masak dalam urusan ibadah nggak maju2. Dulu jg tempat jumroh cuma batu, skrg dibikin bertingkat. Artinya, kemajuan itu bisa mendukung ibadah. Kemajuan (berpikir) hrs dimanfaatkan untuk membuat ibadah lebih baik, kan?
Rasanya sih bisa deh kita bikin petisi supaya ada antrian di tempat2 suci di Arab Saudi. Jd nggak ada lagi tuh, jemaah yg telat masuk ke Arafah (yg artinya terlambat wukuf). Dan yg jelas nggak ada yg jadi korban desak2an mau menuju tempat lempar jumroh. Kalau sdh dijadwal dan semua tertib ikut jadwal, bisa gantian kan. Bisa antri. Toh kalau ibadah lebih nyaman dan lebih tenang, jemaah juga kan yg menikmatinya?
Thursday, September 24, 2015
Hari Raya Kurban
Selamat Idul Adha. Semoga kita bisa selalu mencari rezeki halal yg diridhoi Allah SWT. Amin.
Kurban
Aria: Aku kurban apa?
Ibu : Sapi
Aria: Di mana?
Ibu : Titip ustad Agus.
Aria: Ooooh.... hmm... kok aku nggak bayar apa2?
(Gaya banget yak anak gue)
Ibu : Sapi
Aria: Di mana?
Ibu : Titip ustad Agus.
Aria: Ooooh.... hmm... kok aku nggak bayar apa2?
(Gaya banget yak anak gue)
Wednesday, September 23, 2015
Apakah itu Cinta?
Seorang perempuan cantik, pintar, sehat bugar, punya banyak kegiatan sosial.
Korban KDRT.
Rasanya gue ikut lega waktu tahu dia akhirnya menggugat cerai suaminya. Semoga dia segera menemukan cinta baru. Amin.
Korban KDRT.
Rasanya gue ikut lega waktu tahu dia akhirnya menggugat cerai suaminya. Semoga dia segera menemukan cinta baru. Amin.
Tuesday, September 22, 2015
Back to Square One
Sebagai editor, gue gembira punya tombol2 "backspace", "undo", atau "delete" di komputer. Dgn mudah gue bisa edit ini itu, trus bisa kembali ke tempat2 yg pengen gue edit ulang atau gue kembalikan lagi ke awalnya (editor galau). Dan itu nggak sekali dua kali. Terutama kalau kisruh sedang melanda... Khusus tulisan personal, bisa gue tengok2 lagi dan edit2 lagi meskipun sdh lama gue bikin (yg mana skrg ini sdh lama tidak menulis hadooooohhhh). Hanya deadline percetakan yg nggak bisa dilawan, yg akhirnya bikin gue ikhlas ngirim tulisan final. Hahahaha....
Dgn keriangan punya tombol2 itu, pernah mikir2, kalau misalnya ada tombol undo... untuk perjalanan hidup. Atau tombol reset... hmmm... mau reset sampai sejauh apa? Atau mau undo yg mana?
Hmm... gue tentu tidak mau "undo" Aria. Widiiiih... meskipun dulu nggak pengen punya, skrg malah nggak kepikiran kalau dia nggak ada. Gue jg nggak mau "reset" pindah kerja. Krn kerjaan skrg seru. Oooh... mungkin reset sampai masa nggak ada onde2 yg mengganggu ketentraman kerja boleh lah....
Reset sampai mana lagi ya? Mau undo apa lagi ya? Ahahaha... khayal babu.
Kalau bisa gue akan reset sampai masa tertentu, sdh punya Aria, sdh bekerja, sdh bercerai.... and at the moment someone popped up in my window... from out of nowhere.
Yg jelas gue akan menggunakan reset button itu untuk kembali ke masa jumpa2, lalu banyak2 minta maaf dan berterima kasih. Maaf atas segala kengawuran, dan terima kasih atas semua keceriaan.
Dgn keriangan punya tombol2 itu, pernah mikir2, kalau misalnya ada tombol undo... untuk perjalanan hidup. Atau tombol reset... hmmm... mau reset sampai sejauh apa? Atau mau undo yg mana?
Hmm... gue tentu tidak mau "undo" Aria. Widiiiih... meskipun dulu nggak pengen punya, skrg malah nggak kepikiran kalau dia nggak ada. Gue jg nggak mau "reset" pindah kerja. Krn kerjaan skrg seru. Oooh... mungkin reset sampai masa nggak ada onde2 yg mengganggu ketentraman kerja boleh lah....
Reset sampai mana lagi ya? Mau undo apa lagi ya? Ahahaha... khayal babu.
Kalau bisa gue akan reset sampai masa tertentu, sdh punya Aria, sdh bekerja, sdh bercerai.... and at the moment someone popped up in my window... from out of nowhere.
Yg jelas gue akan menggunakan reset button itu untuk kembali ke masa jumpa2, lalu banyak2 minta maaf dan berterima kasih. Maaf atas segala kengawuran, dan terima kasih atas semua keceriaan.
Monday, September 21, 2015
Away from Home
Aria sudah gue tinggal untuk business trip sejak umur 6 bulan. Tp ternyata dia nggak suka dan nggak terbiasa.
Sejak semalam waktu packing, dia sdh bawel di kamar. Trus tadi pagi waktu naik taksi, dia mulai rusuh ini itu. Selalu ada drama kalau ibunya pamitan mau pergi.
Ya... ya... ya....
Sejak semalam waktu packing, dia sdh bawel di kamar. Trus tadi pagi waktu naik taksi, dia mulai rusuh ini itu. Selalu ada drama kalau ibunya pamitan mau pergi.
Ya... ya... ya....
Sunday, September 20, 2015
New Kids on The House
Apakah Brita & Brino yg lagi main di dalam kandang terlihat di foto?
Bbrp waktu lalu kami dihadiahi warisan sepasang ayam. Nggak pernah kepikiran mau pelihara hewan (selain ikan) di Playhouse. Tp kasihan jg kalau ayam ini nggak diurus. Akhirnya setelah dapat pet sitter yg mau merawat (aku takuuuttt), pindahlah B&B ke BSD. Berkat rutin dimandikan, makanannya diurus, ayam2 ini sehat & gembira. Tiap pagi Brino berkokok kenceng bgt. Kapan itu Brita pernah bertelur... tp lalu telurnya dia makan sendiri. Pikirnya healthy breakfast kali ya....
Kehebohan dimulai waktu the principal architect in the house resah lihat kandang ayam polos. Pap mau kalau ada binatang ya rumahnya hrs match dgn Playhouse. Menurut nganaaaa....
Ya terserah situlah. Dan begitulah jadinya... kandang ayam nan ciamik dgn lampu & tempat makanan dr IKEA. Kata tukang yg bikin, "Niki kombong ayam langkung sae timbang kontrakan kulo."
Playhouse meskipun letaknya di ujung cluster... di pojokan pula... tp ga pernah sepi. Mobil yg lewat biasanya melambat. Anak2 yg bersepeda pasti berhenti dulu. Ya sudahlah kalau gue di rumah pasti gue dadah2 (soalnya kelihatan bgt... ga ada korden). Nah sekarang rumah B&B ini semakin bikin yg lewat pengen lihat2... hahaha....
Saturday, September 19, 2015
September
Never do this to my ex(es). But since you are a special edition, you need a special treatment too, I guess.
So I am deleting your contact in my phone. Ciao bella....
So I am deleting your contact in my phone. Ciao bella....
Friday, September 18, 2015
Pretty
I try to dress up a bit on Friday. So I'll be ready just in case there is a last minute invitation.
Thursday, September 17, 2015
Soulmate
Kira-kira sebulan lalu, di grup wa kantor lama nongol pesan: mamaku meninggal. Spt biasa kalau ada berita kematian, gue selalu ingin hadir utk keluarga yg ditinggalkan. Just to be there. Seringnya bbrp hari setelahnya. Waktu pengajian biasanya. Tp kesibukan dan gonjang ganjing duniawi cukup menenggelamkan gue. Sampai akhirnya sebulan berlalu dan gue belum ke rumah teman gue itu sama sekali. Trus, dua hari lalu, dia msg lagi di grup: papaku meninggal.
Innalillahi wa innailaihi rajiuun.
Akhirnya kemarin membulatkan tekad harus datang ke rumahnya. Sejauh apa pun. Beda provinsi euy.
Di tengah suasana duka, teman gue bercerita. Ayahnya sdh sejak lama sakit jantung. Banyak penyumbatan. Tahun 2008 pernah operasi by pass. Dan sejak itu, sering gangguan sesak napas. Ya namanya sakit jantung. Tdk putus asa, si ayah tetap aktif olahraga untuk jaga kebugaran. Tapi justru si ibu yg sehat bugar malah lebih dulu dipanggil Allah SWT. Suatu pagi, setelah mengurus keperluan si ayah, tiba2 ibu sesak napas. Lalu dibawa ke RS. Lalu meninggal. Sudah. Sungguh memang mati rahasia Tuhan. Tidak perlu sakit, tidak perlu kecelakaan, kalau memang takdir dijemput ajal, ya sudah. Lalu 40 hari kemudian, kemarin, si ayah menyusul. Meninggal dunia krn gagal jantung.
Teman gue dan keluarganya tentu sedih berlipat ganda, kehilangan orang tercinta susul menyusul. Gue pun turut berduka. Tapi, kematian ayah dan ibu yang berdekatan waktunya itu sangat mengagumkan gue. Aren't they soulmate? Mereka sungguh tidak bisa hidup tanpa pasangannya. Takdir membuat yg satu segera menyusul yg lain. Terima kasih Tuhan sudah menunjukkan contoh bahwa ada cinta sejati di dunia.
Innalillahi wa innailaihi rajiuun.
Akhirnya kemarin membulatkan tekad harus datang ke rumahnya. Sejauh apa pun. Beda provinsi euy.
Di tengah suasana duka, teman gue bercerita. Ayahnya sdh sejak lama sakit jantung. Banyak penyumbatan. Tahun 2008 pernah operasi by pass. Dan sejak itu, sering gangguan sesak napas. Ya namanya sakit jantung. Tdk putus asa, si ayah tetap aktif olahraga untuk jaga kebugaran. Tapi justru si ibu yg sehat bugar malah lebih dulu dipanggil Allah SWT. Suatu pagi, setelah mengurus keperluan si ayah, tiba2 ibu sesak napas. Lalu dibawa ke RS. Lalu meninggal. Sudah. Sungguh memang mati rahasia Tuhan. Tidak perlu sakit, tidak perlu kecelakaan, kalau memang takdir dijemput ajal, ya sudah. Lalu 40 hari kemudian, kemarin, si ayah menyusul. Meninggal dunia krn gagal jantung.
Teman gue dan keluarganya tentu sedih berlipat ganda, kehilangan orang tercinta susul menyusul. Gue pun turut berduka. Tapi, kematian ayah dan ibu yang berdekatan waktunya itu sangat mengagumkan gue. Aren't they soulmate? Mereka sungguh tidak bisa hidup tanpa pasangannya. Takdir membuat yg satu segera menyusul yg lain. Terima kasih Tuhan sudah menunjukkan contoh bahwa ada cinta sejati di dunia.
Tuesday, September 15, 2015
Monday, September 14, 2015
Dunia Jawa
Hari Minggu sengaja jauh2 nyetir ke Galnas, lihat pameran Javascript Eddy Susanto. Hhmm... bukan... ini bukan pameran programming....
Eddy menggali identitas Jawa, lewat bahasa tulisan. Dia konsentrasi pada aksara. Jadi huruf2 Jawa nan njelimet itu dia rangkai jadi lukisan. Dia tulis serat Centhini dalam bahasa Jawa. Juga beberapa kitab dia tulis dalam aksara Jawa. Ada ruang khusus untuk karya Eddy yang "menerjemahkan" situs terkini dalam huruf Jawa.
Apa artinya?
Nggak tahu. Baca juga nggak bisa. Ada sih yg bisa gue baca... dikit banget... paling yg hurufnya sederhana. Kalau sudah "kena" pangkon-taling-pepet.... mati kutu. Baca juga hanya baca. Macam mengaji aja deh. Bisa baca tapi nggak paham artinya. Ha ha ha....
Herannya, pameran kemarin itu buat gue sangat menenangkan. Di tengah terik Jakarta yg ampuuuun banget... masuk ruang pameran langsung mak nyes. Iya karena AC.... Haha... tp kalau buat gue, AC ini masih ditambah suara sinden Jawa yg bergema di seluruh ruang pamer. Gue sebagai perempuan Jawa tulen, rasanya kok ayem denger suara sinden. Langsung pengen ndeprok... nglaras... ayem tentrem.
Anyway, pameran kemarin juga buat mengajari Aria mengapresiasi seni. Dan memang cara dia melihat sebuah karya juga lucu. Khas anak2 skrg yg mau cepet dan nggak sabaran :) Dia nggak peduli tentang Jawa atau tidak... yg penting gangguin eyang... gangguin ibu. Hahahaha....
Eddy menggali identitas Jawa, lewat bahasa tulisan. Dia konsentrasi pada aksara. Jadi huruf2 Jawa nan njelimet itu dia rangkai jadi lukisan. Dia tulis serat Centhini dalam bahasa Jawa. Juga beberapa kitab dia tulis dalam aksara Jawa. Ada ruang khusus untuk karya Eddy yang "menerjemahkan" situs terkini dalam huruf Jawa.
Apa artinya?
Nggak tahu. Baca juga nggak bisa. Ada sih yg bisa gue baca... dikit banget... paling yg hurufnya sederhana. Kalau sudah "kena" pangkon-taling-pepet.... mati kutu. Baca juga hanya baca. Macam mengaji aja deh. Bisa baca tapi nggak paham artinya. Ha ha ha....
Herannya, pameran kemarin itu buat gue sangat menenangkan. Di tengah terik Jakarta yg ampuuuun banget... masuk ruang pameran langsung mak nyes. Iya karena AC.... Haha... tp kalau buat gue, AC ini masih ditambah suara sinden Jawa yg bergema di seluruh ruang pamer. Gue sebagai perempuan Jawa tulen, rasanya kok ayem denger suara sinden. Langsung pengen ndeprok... nglaras... ayem tentrem.
Anyway, pameran kemarin juga buat mengajari Aria mengapresiasi seni. Dan memang cara dia melihat sebuah karya juga lucu. Khas anak2 skrg yg mau cepet dan nggak sabaran :) Dia nggak peduli tentang Jawa atau tidak... yg penting gangguin eyang... gangguin ibu. Hahahaha....
Thursday, September 10, 2015
Ah... This Song...
You On My Mind
Friends say I'll get over you soon
Thoughts of you come back to fill me with gloom
Time forgets but I'm not over you yet
There's no sense of asking why
Until the tears run dry
There's no one but you on my mind
Searching for a perfect ending that we'll never find
If we could make it work this time
Years have flown by since you've been gone
This broken heart of mine's been waiting too long
All alone without you I can't carry on
There's no sense of asking why
Until I'm there by your side
There's no one but you on my mind
Searching for a perfect ending that we'll never find
If we could make it work this time
We could plant tomorrow's dreams now together
In a garden to last forever more
All the flowers would grow
From the seeds we'd sow...
There's no one but you on my mind
Searching for a perfect ending that we'll never find
If we could make it work this time
There's no sense of asking why
Until the tears run dry
I could be there by your side
If you would only change your mind
If we could make it work this time
(SOS)
Thursday, August 27, 2015
Fans of Ballerina
Entah sejak kapan gue selalu pakai highheels. Kayaknya sejak masuk dewi deh. Ya gitulah... dipandang dan dinilai dari penampakan, jd terpaksa pakai heels. Dan memang penampilan jadi paripurna bener deh kalau sdh pakai sepatu jinjit. Rasanya kaki jadi panjang. Rasanya. Sebenernya mah tetep bantet hahahaha....
Pindah ke GH jg tetep dgn heels. Krn alasan sdh kebiasaan. Jd kalau pakai flat, rasanya kaki kok bentuknya kayak dadah dadah gitu alias lebar. Ngeri. Krn waktu di GH mulai naik kereta, akhirnya pilih wedges. Tetep jinjit.
Jd kira2 sejak umur 25 pakai sepatu tinggi. Berhenti sebentar waktu di US. Diganti sama boots dan sneaker. Kalau summer pakai sepatu sandal.
Balik Jkt lagi... balik higheels lagi lah yaaaa.... Dan semakin berani dgn stilleto segala macamnya itulah. Killer heels. Kalau sdh pakai sepatu begitu, kok ya bisa jalan lurus dan tegak. Rasanya pede. Meskipun setelahnya kaki rasa ketuker kanan dan kiri saking pegelnya. Sementara kalau pakai yg agak pendek aja haknya, lgs terasa spt "mendarat". Hahahaha... korban mode. Tp skrg sdh tahu hanya enak pakai Hush Puppies. Clarks & Rockport... hanya cantik tp di kaki gue sakitnya minta ampun. Satu lagi: Bata Comfy. Tp yg terakhir ini umurnya paling 6 bulan. Lebih dari itu bentuknya udah ga karuan gegara menahan beban badan gue... hahahaha....
Nah, sampai skrg sebetulnya blm ada masalah dgn segala heels itu. Wedges makin banyak. Dan rasanya nggak ada masalah jalan jauh pakai sepatu2 itu. Sering kok jalan kaki dari BI ke PI atau GI. Oke saja.
Tapiiiiii waktu puasa kemarin nemu ballerina shoes yg enak bgt dan nggak bikin kaki terlihat njembluk. Hehehehe... Sumpah deh jadi ayu,
Ceritanya setiap sabtu kan ke Aeon antar Aria les piano. Nah, tentunya kan ya jarang bgt gue duduk manis, tp jalan2 dong ah. Suatu hari di bulan puasa itu, gue sm eyang jalan2 di Aeon. Masuk gerai Bata. Maunya lihat2 Bata Comfy kali2 ada wedges baru. Eh... kok malah ditawari sepatu edisi baru mereka: Ballerina Shoes Marie Claire. Gue pilih warna coklat muda gold gitu. Surprisingly enak banget, nyaman di kaki. Dan bentuknya entah gimana nggak bikin kaki dadah. Beda sama TB. Kok tumben? Langsung bungkus dong ah.
Sejak itu, si BS ini jd bestfriend. Ke mana2, kalau nggak pakai sneaker yg BS ini deh. Udahlah enak di kaki, gampang dibawa krn modelnya dilipet. Ya sepatu balerina gitu deh. Bisa masuk tas! Sudah gitu krn bentuknya full tutup depan, jd cukup resmi utk dipakai meeting di kantor pemerintah yg mengharamkan sepatu terbuka. Hahahaha... Jd skrg kalau jalan dari BI, bisa ganti sepatu dulu... supaya malamnya nggak berasa kaki mau copot.
Nah, tadi tergoda beli BS lagi yg warna lain. Spy bisa ganti2 gitu lhoooo... Ternyata, BS ini jg hrs pilih2 bahannya. Hrs yg lembut halus banget. Tadi ada satu yg penampakannya cantik dan tegas. Tp ternyata materialnya kaku, jd kemungkinan lecet besar bgt. Eeeeh... si mbak sales nggak putus asa, dia keluarin semua model BS Marie Claire. Termasuk yg aksen depannya batu2an. Akhirnya bungkus satu yg warna hitam. Hehehehe....
Dan tnyt peralihan dari highheels ke BS ini ada jg yg merhatiin. Mungkin krn gimana pun, kaki gue jd kelihatan hanya sejengkal ya (alias pendek hahaha). Barusan ada yg bilang, "Baru skrg lihat mbak Dian pakai sepatu flat." Entah maksudnya apa.
Hahahahaha... Bodo ah, yg penting enak.
Pindah ke GH jg tetep dgn heels. Krn alasan sdh kebiasaan. Jd kalau pakai flat, rasanya kaki kok bentuknya kayak dadah dadah gitu alias lebar. Ngeri. Krn waktu di GH mulai naik kereta, akhirnya pilih wedges. Tetep jinjit.
Jd kira2 sejak umur 25 pakai sepatu tinggi. Berhenti sebentar waktu di US. Diganti sama boots dan sneaker. Kalau summer pakai sepatu sandal.
Balik Jkt lagi... balik higheels lagi lah yaaaa.... Dan semakin berani dgn stilleto segala macamnya itulah. Killer heels. Kalau sdh pakai sepatu begitu, kok ya bisa jalan lurus dan tegak. Rasanya pede. Meskipun setelahnya kaki rasa ketuker kanan dan kiri saking pegelnya. Sementara kalau pakai yg agak pendek aja haknya, lgs terasa spt "mendarat". Hahahaha... korban mode. Tp skrg sdh tahu hanya enak pakai Hush Puppies. Clarks & Rockport... hanya cantik tp di kaki gue sakitnya minta ampun. Satu lagi: Bata Comfy. Tp yg terakhir ini umurnya paling 6 bulan. Lebih dari itu bentuknya udah ga karuan gegara menahan beban badan gue... hahahaha....
Nah, sampai skrg sebetulnya blm ada masalah dgn segala heels itu. Wedges makin banyak. Dan rasanya nggak ada masalah jalan jauh pakai sepatu2 itu. Sering kok jalan kaki dari BI ke PI atau GI. Oke saja.
Tapiiiiii waktu puasa kemarin nemu ballerina shoes yg enak bgt dan nggak bikin kaki terlihat njembluk. Hehehehe... Sumpah deh jadi ayu,
Ceritanya setiap sabtu kan ke Aeon antar Aria les piano. Nah, tentunya kan ya jarang bgt gue duduk manis, tp jalan2 dong ah. Suatu hari di bulan puasa itu, gue sm eyang jalan2 di Aeon. Masuk gerai Bata. Maunya lihat2 Bata Comfy kali2 ada wedges baru. Eh... kok malah ditawari sepatu edisi baru mereka: Ballerina Shoes Marie Claire. Gue pilih warna coklat muda gold gitu. Surprisingly enak banget, nyaman di kaki. Dan bentuknya entah gimana nggak bikin kaki dadah. Beda sama TB. Kok tumben? Langsung bungkus dong ah.
Sejak itu, si BS ini jd bestfriend. Ke mana2, kalau nggak pakai sneaker yg BS ini deh. Udahlah enak di kaki, gampang dibawa krn modelnya dilipet. Ya sepatu balerina gitu deh. Bisa masuk tas! Sudah gitu krn bentuknya full tutup depan, jd cukup resmi utk dipakai meeting di kantor pemerintah yg mengharamkan sepatu terbuka. Hahahaha... Jd skrg kalau jalan dari BI, bisa ganti sepatu dulu... supaya malamnya nggak berasa kaki mau copot.
Nah, tadi tergoda beli BS lagi yg warna lain. Spy bisa ganti2 gitu lhoooo... Ternyata, BS ini jg hrs pilih2 bahannya. Hrs yg lembut halus banget. Tadi ada satu yg penampakannya cantik dan tegas. Tp ternyata materialnya kaku, jd kemungkinan lecet besar bgt. Eeeeh... si mbak sales nggak putus asa, dia keluarin semua model BS Marie Claire. Termasuk yg aksen depannya batu2an. Akhirnya bungkus satu yg warna hitam. Hehehehe....
Dan tnyt peralihan dari highheels ke BS ini ada jg yg merhatiin. Mungkin krn gimana pun, kaki gue jd kelihatan hanya sejengkal ya (alias pendek hahaha). Barusan ada yg bilang, "Baru skrg lihat mbak Dian pakai sepatu flat." Entah maksudnya apa.
Hahahahaha... Bodo ah, yg penting enak.
Friday, August 21, 2015
Forgiveness
I forgive people. I don't accept their bad behavior. But by forgiving them, I can move on and continue my beautiful life.
Thursday, August 20, 2015
Moving On
I am over it now.
Yes of course it was a heartbreaking moment, realizing the one you count on the most (and you loved dearly) was leaving the picture. And I was heart broken.
But then again, it was a total mistake depending your happiness into someone's hand. You have to create your own. And when someone special comes, it has to be effortless. Just like puzzle... it supposed to be click easily since the beginning. And you will know when it comes. You will know.
So I guess I am over it now.
Yes of course it was a heartbreaking moment, realizing the one you count on the most (and you loved dearly) was leaving the picture. And I was heart broken.
But then again, it was a total mistake depending your happiness into someone's hand. You have to create your own. And when someone special comes, it has to be effortless. Just like puzzle... it supposed to be click easily since the beginning. And you will know when it comes. You will know.
So I guess I am over it now.
Friday, August 07, 2015
Take Out the Trash, Please!
"You need to clean up, so you can start feeling fresh," suggested by a good friend today.
I know.
Where do I begin?
I know.
Where do I begin?
Thursday, August 06, 2015
Setelah 10 Tahun
Waktu tidak pernah berjalan mundur.
Mungkin ini saatnya melihat lagi jalan yang ditempuh, apakah sudah yg benar, atau mau berganti jalur? Jika memang tidak terlihat ujung yang jelas, mungkin sebaiknya berganti arah saja. Karena waktu tidak akan berhenti, tidak akan menunggu sesuatu yg tidak pasti.
Mungkin ini saatnya melihat lagi jalan yang ditempuh, apakah sudah yg benar, atau mau berganti jalur? Jika memang tidak terlihat ujung yang jelas, mungkin sebaiknya berganti arah saja. Karena waktu tidak akan berhenti, tidak akan menunggu sesuatu yg tidak pasti.
Wednesday, August 05, 2015
The Evening Drama
I hate it when I need to be extra firm to my son.
Males rasanya hbs ngantor hrs mayah2. Tp gimana? Kalau nggak gitu nanti dia nggak paham sdh bikin salah. Krn gue nggak bisa marah, jadinya seluruh gesture gue akan aneh. Aria tahu itu. Dia tahu bhw artinya dia salah.
Berkaca dr pengalaman bbrp single mom... yg anaknya jd ngawuran krn selalu dibela dimanja... tentu gue ga pengen kan?
I do not want him to be seen as a typical broken home kid. Because he is not.
Males rasanya hbs ngantor hrs mayah2. Tp gimana? Kalau nggak gitu nanti dia nggak paham sdh bikin salah. Krn gue nggak bisa marah, jadinya seluruh gesture gue akan aneh. Aria tahu itu. Dia tahu bhw artinya dia salah.
Berkaca dr pengalaman bbrp single mom... yg anaknya jd ngawuran krn selalu dibela dimanja... tentu gue ga pengen kan?
I do not want him to be seen as a typical broken home kid. Because he is not.
Lady Gaga is in My Cluster
Gue sebel sama orang2 yg ignorant. Nggak mikirin orang lain. Contoh yg paling nyebelin adalah yg buang sampah sembarangan. Contoh lain lagi... tetangga yg nggak peduli sama jemuran.
Jadi gue ini kan tinggal di sebuah cluster ya. Masuknya dijaga satpam, sebagian besar rumah punya mobil lebih dari satu. Maunya kan yaaaa latar belakang pikirannya sama soal keindahan dan kerapihan dan tata tertib. Apalagi waktu beli dulu ada banyak peraturan yg sok iye dari developer. Tp sebetulnya ya memang untuk keindahan perlu sok iye sih. Misalnya: dilarang mengubah tampak depan bangunan, dilarang mengecat exterior dgn warna menyolok, dilarang menjemur pakaian di halaman depan... dll... yg intinya satu: demi keindahan cluster.
Bbrp tahun... aman sih. Mulai tidak aman ketika ada pembeli2 rumah baru... yg tidak menerima peraturan dr developer itu. Akhirnya skrg rumah cluster itu warna warni. Bagus? Bisa jadi... sayangnya selera warna itu kan luaaaaas banget spektrumnya. Jadi yaaaaa... gitu deh. Ada yg suka hijau, dgn tanpa basa basi dia ubah seluruh rumah jadi ijo royo-royo... hmm... semacam ketumpahan klorofil sih menurut gue. Yg paling seru adalah rumah orange. Kyk matahari raksasa. Hahaha...
Udahlah kalau cat rumah. Namanya kesenengan, gue bisa apa?
Yg nyebelin adalah yg sembarangan taruh jemuran. Awalnya cuma naruh jemuran lipat di depan halaman... nyari matahari. Krn lahan belakang mungkin sempit jadi yaaa... terpaksa "ngejar" sinar matahari ke depan. Tapiiii... jemuran lipat ini lama2 kok jadi besar ukurannya ya? Trus... gong banget adalah ada yg menjemur di pagar balkon. Iya siiiih... itu rumahnya sendiri. Tapi kok ya nggak ada estetikanya sama sekali lho njemur baju di situ....
Trus... skrg lebih parah adalah rumah di deretan depan, persis setelah pintu gerbang cluster. Dia memang membuat tiang jemuran di depan! Astaga! Rumahnya hook... dan apa yg dia buat? Dia pasang melintang sebuah bambu... dari satu pohon ke pohon lain! Astagaaaaaaaa....
Tadi pagi gemes banget lihat jemuran2 itu melambai-lambai... asliiii... masuk gerbang langsung ada jemuran. Rasanya pengen gue siram pasir! Trus... parah bahwa ada jemuran baju dalam juga! Sinting. Oalaaaah... rumah boleh ya bagus, di cluster bagus, mobil bagus... tp kelakuan ndeso ndlosor.
Gue jd ingat kapan itu pernah bersepeda keliling sama Aria, dan tiba2 dia ngakak2...
"Ada Lady Gaga di situ."
"Ha? Di mana?"
"Itu...."
"Apa sih?"
"Itu lhooo... ada Lady Gaga... tuh jemurannya Lady Gaga kan...bra merah...."
Jadi gue ini kan tinggal di sebuah cluster ya. Masuknya dijaga satpam, sebagian besar rumah punya mobil lebih dari satu. Maunya kan yaaaa latar belakang pikirannya sama soal keindahan dan kerapihan dan tata tertib. Apalagi waktu beli dulu ada banyak peraturan yg sok iye dari developer. Tp sebetulnya ya memang untuk keindahan perlu sok iye sih. Misalnya: dilarang mengubah tampak depan bangunan, dilarang mengecat exterior dgn warna menyolok, dilarang menjemur pakaian di halaman depan... dll... yg intinya satu: demi keindahan cluster.
Bbrp tahun... aman sih. Mulai tidak aman ketika ada pembeli2 rumah baru... yg tidak menerima peraturan dr developer itu. Akhirnya skrg rumah cluster itu warna warni. Bagus? Bisa jadi... sayangnya selera warna itu kan luaaaaas banget spektrumnya. Jadi yaaaaa... gitu deh. Ada yg suka hijau, dgn tanpa basa basi dia ubah seluruh rumah jadi ijo royo-royo... hmm... semacam ketumpahan klorofil sih menurut gue. Yg paling seru adalah rumah orange. Kyk matahari raksasa. Hahaha...
Udahlah kalau cat rumah. Namanya kesenengan, gue bisa apa?
Yg nyebelin adalah yg sembarangan taruh jemuran. Awalnya cuma naruh jemuran lipat di depan halaman... nyari matahari. Krn lahan belakang mungkin sempit jadi yaaa... terpaksa "ngejar" sinar matahari ke depan. Tapiiii... jemuran lipat ini lama2 kok jadi besar ukurannya ya? Trus... gong banget adalah ada yg menjemur di pagar balkon. Iya siiiih... itu rumahnya sendiri. Tapi kok ya nggak ada estetikanya sama sekali lho njemur baju di situ....
Trus... skrg lebih parah adalah rumah di deretan depan, persis setelah pintu gerbang cluster. Dia memang membuat tiang jemuran di depan! Astaga! Rumahnya hook... dan apa yg dia buat? Dia pasang melintang sebuah bambu... dari satu pohon ke pohon lain! Astagaaaaaaaa....
Tadi pagi gemes banget lihat jemuran2 itu melambai-lambai... asliiii... masuk gerbang langsung ada jemuran. Rasanya pengen gue siram pasir! Trus... parah bahwa ada jemuran baju dalam juga! Sinting. Oalaaaah... rumah boleh ya bagus, di cluster bagus, mobil bagus... tp kelakuan ndeso ndlosor.
Gue jd ingat kapan itu pernah bersepeda keliling sama Aria, dan tiba2 dia ngakak2...
"Ada Lady Gaga di situ."
"Ha? Di mana?"
"Itu...."
"Apa sih?"
"Itu lhooo... ada Lady Gaga... tuh jemurannya Lady Gaga kan...bra merah...."
Friday, July 31, 2015
Baik-baik Saja
Mana yang lebih berat? Memutuskan bercerai, atau menjadi orang tua tunggal ketika anak sakit, dan menangis sendirian di depan ruang ICU with no one to share the pain?
Saya tidak pernah berpikir mana yang lebih berat. Mungkin karena saya tidak lagi sempat berpikir. Saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan mana yang lebih berat. Waktu yang ada sudah saya habiskan untuk bekerja. Dengan bekerja saya bisa menghidupi diri dan anak saya. Tentu saja semakin lama anak saya semakin besar, kebutuhannya kian banyak, hingga saya pun harus lebih giat bekerja.
Kesibukan menghidupi ini akhirnya memang lebih penting, ketimbang merenung memikirkan kondisi menjadi orang tua tunggal. Bahkan ketika di suatu saat harus menangis sendirian (karena anak sakit, karena kehabisan uang, atau karena belum sempat belanja isi kulkas...), akhirnya pun semua menjadi seperti biasa saja.
Semua dibiarkan berjalan sebagaimana seharusnya. Hidup mungkin memang harus dibiarkan seperti air. Kadang perlu diatur, dibendung di sana sini, tapi kadang perlu dibiarkan saja. Bahkan kalau meluber sekali pun... tidak apa2. Siapa tahu luberannya memberi penghidupan pada yang di sekitarnya?
Kembali kepada pertanyaan awal, mana yang lebih berat? Rasanya tidak ada yg lebih berat. Tidak ada juga yg lebih ringan. Pilihan berat atau ringan tidak lagi relevan. Lebih baik memikirkan cara untuk melanjutkan hidup, ketimbang menyesali yang sudah lewat.
Saya tidak pernah berpikir mana yang lebih berat. Mungkin karena saya tidak lagi sempat berpikir. Saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan mana yang lebih berat. Waktu yang ada sudah saya habiskan untuk bekerja. Dengan bekerja saya bisa menghidupi diri dan anak saya. Tentu saja semakin lama anak saya semakin besar, kebutuhannya kian banyak, hingga saya pun harus lebih giat bekerja.
Kesibukan menghidupi ini akhirnya memang lebih penting, ketimbang merenung memikirkan kondisi menjadi orang tua tunggal. Bahkan ketika di suatu saat harus menangis sendirian (karena anak sakit, karena kehabisan uang, atau karena belum sempat belanja isi kulkas...), akhirnya pun semua menjadi seperti biasa saja.
Semua dibiarkan berjalan sebagaimana seharusnya. Hidup mungkin memang harus dibiarkan seperti air. Kadang perlu diatur, dibendung di sana sini, tapi kadang perlu dibiarkan saja. Bahkan kalau meluber sekali pun... tidak apa2. Siapa tahu luberannya memberi penghidupan pada yang di sekitarnya?
Kembali kepada pertanyaan awal, mana yang lebih berat? Rasanya tidak ada yg lebih berat. Tidak ada juga yg lebih ringan. Pilihan berat atau ringan tidak lagi relevan. Lebih baik memikirkan cara untuk melanjutkan hidup, ketimbang menyesali yang sudah lewat.
Junya Ishigami
Do you remember my big brother the architect? Serumah dgn seorang arsitek yang (katanya) kondang... seru juga. Perkara rumah kedatangan tamu yang mau keliling lihat2 sih udah mulai biasa. Dari mulai orang lewat yg penasaran sama prosotan, sampai fotografer Iwan Baan... pernah blusukan di rumah. Shooting TV sudah sering (termasuk dari Aussie untuk Extreme Houses). Foto majalah sudah bosen saking seringnya sejak akhir 2008 smp skrg. Tadi pagi 3 arsitek muda dari Surabaya nongol, mau ngintip2 Ndalem Prosotan. Monggo... dan gue pun tetep nyetrika plus cuci piring saat mereka "touring".
Selain adanya tamu2 ini... gue jd lebih gampang terekspos dgn perkara arsitek yang kekinian. Spt sekarang ini. Sedang ada Triennale Arsitektur UPH 2015. Betul... kerjaannya anak2 UPH. Pameran di gedung Tjipta Niaga, Kota Tua.
Bukan UPH yg menarik hatiku... tp Junya Ishigami. Jadi, di Triennale itu ada banyak talkshow. Hari terakhir, tgl. 8 Agustus, yg ngomong ada Junya ini. Orang Jepang. Masih muda dan kalau lihat bentuknya sih... biasa banget. Tp karyanya ciamik lho. Di Jepang, dia lagi banyak dibicarakan karena hbs terima sebuah award prestisius mbuh opo untuk arsitektur. Karyanya selalu ringan melayang mengambang, melawan gravitasi. Nggak tahu apa yg nyambet dia waktu kecil sampai dia bisa punya khayalan soal bangunan2 yg aneh2... dan ternyata tetap bisa dibangun.
So, he'll be here on August 8. Be there and be ready to fall in love with him :)
Selain adanya tamu2 ini... gue jd lebih gampang terekspos dgn perkara arsitek yang kekinian. Spt sekarang ini. Sedang ada Triennale Arsitektur UPH 2015. Betul... kerjaannya anak2 UPH. Pameran di gedung Tjipta Niaga, Kota Tua.
Bukan UPH yg menarik hatiku... tp Junya Ishigami. Jadi, di Triennale itu ada banyak talkshow. Hari terakhir, tgl. 8 Agustus, yg ngomong ada Junya ini. Orang Jepang. Masih muda dan kalau lihat bentuknya sih... biasa banget. Tp karyanya ciamik lho. Di Jepang, dia lagi banyak dibicarakan karena hbs terima sebuah award prestisius mbuh opo untuk arsitektur. Karyanya selalu ringan melayang mengambang, melawan gravitasi. Nggak tahu apa yg nyambet dia waktu kecil sampai dia bisa punya khayalan soal bangunan2 yg aneh2... dan ternyata tetap bisa dibangun.
So, he'll be here on August 8. Be there and be ready to fall in love with him :)
Thursday, July 30, 2015
Jatuh Hati
Ada ruang hatiku, yang kau temukan
Sempat aku lupakan, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta
Sempat aku lupakan, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Bolehkah ku selalu di dekatmu?
Katanya cinta, memang banyak bentuknya
Ku tahu pasti... sungguh aku jatuh hati....
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Katanya cinta, memang banyak bentuknya
Ku tahu pasti... sungguh aku jatuh hati....
Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Bolehkah ku selalu di dekatmu?
Jatuh Hati by Raisa
Friday, July 24, 2015
Selamat Lebaran Tahun 2015
Seorang teman yg bbrp saat lalu mencoba mendekat (ealah ini keterangan kok panjang amat), minggu lalu mengirim pesan lewat wa. Dia menulis sederetan kalimat bahasa Arab yg gue tidak paham. Pakai emoticon salaman. Belum sempat cari di google, dan krn menurut gue moment saat itu adalah Idul Fitri, gue balas: Selamat Lebaran. Maaf lahir batin ya.
Krn kesibukan maha dahsyat sbg bibik inem, gue ga pegang hp lagi sampai kira2 jam 10 malamnya. Dan saat itu gue temukan sebuah balasan panjang kali lebar kali tinggi yang intinya "menuduh" gue tidak mengaminkan doa, dan tidak mendoakan dia.
Hmm... hmm... (kalau di film2 anak2 brandal, instead of "hmm" they would say "wtf").
Gue heran banget sama orang itu. Dia kirim kalimat bahasa asing yg gue nggak ngerti. Trus dia nggak kirim terjemahannya. Trus dia mengharapkan gue tahu bahwa isinya doa? Mengaminkan dan mendoakan dia kembali. Oh Tuhan ampuni saya.
Satu, gue nggak suka dengan caranya yg bilang gue nggak mengaminkan doa. Trus? Memang dia pikir dia itu siapa ya. Lalu, dua, dia kok pamrih amat ya. Bahkan doa aja, yg tinggal ngomong, dia mengharap balasannya. Ada ya orang yg begitu.... Oh Tuham ampuni saya lagi.
Akhirnya, krn gue nggak mau tidur dgn perasaan sebal dan kesal, gue balas pesan itu dgn panjang kali lebar kali tinggi juga. I gave him my two cents. Oh maybe it wasn't only two cents, it was 10 thousands. Hahaha.... Entah kenapa gue kok jadi nyolot. Oh Tuhan ampuni saya beribu kali.
Anyway, selamat lebaran, maaf lahir batin bila ada kesalahan dalam tulisan. Semoga Allah SWT selalu meridhoi semua langkah kita. Amin.
Krn kesibukan maha dahsyat sbg bibik inem, gue ga pegang hp lagi sampai kira2 jam 10 malamnya. Dan saat itu gue temukan sebuah balasan panjang kali lebar kali tinggi yang intinya "menuduh" gue tidak mengaminkan doa, dan tidak mendoakan dia.
Hmm... hmm... (kalau di film2 anak2 brandal, instead of "hmm" they would say "wtf").
Gue heran banget sama orang itu. Dia kirim kalimat bahasa asing yg gue nggak ngerti. Trus dia nggak kirim terjemahannya. Trus dia mengharapkan gue tahu bahwa isinya doa? Mengaminkan dan mendoakan dia kembali. Oh Tuhan ampuni saya.
Satu, gue nggak suka dengan caranya yg bilang gue nggak mengaminkan doa. Trus? Memang dia pikir dia itu siapa ya. Lalu, dua, dia kok pamrih amat ya. Bahkan doa aja, yg tinggal ngomong, dia mengharap balasannya. Ada ya orang yg begitu.... Oh Tuham ampuni saya lagi.
Akhirnya, krn gue nggak mau tidur dgn perasaan sebal dan kesal, gue balas pesan itu dgn panjang kali lebar kali tinggi juga. I gave him my two cents. Oh maybe it wasn't only two cents, it was 10 thousands. Hahaha.... Entah kenapa gue kok jadi nyolot. Oh Tuhan ampuni saya beribu kali.
Anyway, selamat lebaran, maaf lahir batin bila ada kesalahan dalam tulisan. Semoga Allah SWT selalu meridhoi semua langkah kita. Amin.
Monday, June 22, 2015
Dad
Everyone can be a father, but only special man can be a dad.
Lupa siapa yg ngomong, tp memang bener banget. Jd jawaban kenapa anak gue nggak pernah nanyain ayahnya. He got a dad already... Pap... he clearly doesn't need his biological father. Sad. But what can I say?
Happy father's day to all the father in the world. And please become a dad to your children.
Lupa siapa yg ngomong, tp memang bener banget. Jd jawaban kenapa anak gue nggak pernah nanyain ayahnya. He got a dad already... Pap... he clearly doesn't need his biological father. Sad. But what can I say?
Happy father's day to all the father in the world. And please become a dad to your children.
Thursday, June 18, 2015
Godaan Ramadhan
Di kantor ini ada orang baru yg langsung menduduki jabatan (tidak) terhormat sebagai enemy of public. Dgn segala kekacauan yg dia buat dan beking terang2an dari bos yg tdk adil, cukup 6 bulan dan sebagian besar pegawai sdh membencinya dgn sukarela.
Sejak kemarin tim gue sdh bilang bahwa dia akan hadir sebagai "cobaan puasa yg paling hebat." Kemarin sih gue ketawa2 dengernya. Tapi barusan dia masuk ruangan gue dan baru ngomong 2 kalimat saja, langsung rasanya ambyar. Kalau di hari biasa sih nada gue akan jd sangat tinggi. Tp ini kan puasa ya. Jd sebaiknya gue istighfar saja.
Skrg rasanya gue sesak napas.
Sejak kemarin tim gue sdh bilang bahwa dia akan hadir sebagai "cobaan puasa yg paling hebat." Kemarin sih gue ketawa2 dengernya. Tapi barusan dia masuk ruangan gue dan baru ngomong 2 kalimat saja, langsung rasanya ambyar. Kalau di hari biasa sih nada gue akan jd sangat tinggi. Tp ini kan puasa ya. Jd sebaiknya gue istighfar saja.
Skrg rasanya gue sesak napas.
Wednesday, June 17, 2015
Missing... Who?
Karena mengenal gue sebagai single mom, seorang reporter telepon, bilang pengen wawancara soal single parenting.
Meskipun merasa "gue kan gini2 aja, nggak istimewa" tp tentu saja gue nggak menolak jd narasumber. Gue selalu berusaha membantu orang lain beresin pekerjaannya. You know, doing good karma.
Jd di pengantar dikasih tahu bahwa artikel ini tujuannya untuk bantu orang lain menjawab pertanyaan anak. Dan nanti akan diperkuat oleh pendapat psikolog. Oke deh. Tapi, ternyata baru satu pertanyaan aja, wawancara lgs selesai. Krn jawaban gue nggak bisa dikembangkan jadi apa2.
Pertanyaan: Kalau anak tanya soal ayahnya, mbak jawab apa?
Hmm... hmm... Aria nggak pernah tanya soal ayahnya. Not even once. For the whole 11 years.
Trus saat itulah gue merasa bersalah, jangan2 gue menghilangkan figur ayah? Eh, apa iya ya? Padahal gue nggak menutup komunikasi. Gue nggak pernah melarang apa2 (ngomong aja nggak). Trus hrs gimana dong?
Asli gue kok jd kepikiran ya. Huh. Ternyata tidak semua niat menjadikan good karma itu berakhir baik.
Meskipun merasa "gue kan gini2 aja, nggak istimewa" tp tentu saja gue nggak menolak jd narasumber. Gue selalu berusaha membantu orang lain beresin pekerjaannya. You know, doing good karma.
Jd di pengantar dikasih tahu bahwa artikel ini tujuannya untuk bantu orang lain menjawab pertanyaan anak. Dan nanti akan diperkuat oleh pendapat psikolog. Oke deh. Tapi, ternyata baru satu pertanyaan aja, wawancara lgs selesai. Krn jawaban gue nggak bisa dikembangkan jadi apa2.
Pertanyaan: Kalau anak tanya soal ayahnya, mbak jawab apa?
Hmm... hmm... Aria nggak pernah tanya soal ayahnya. Not even once. For the whole 11 years.
Trus saat itulah gue merasa bersalah, jangan2 gue menghilangkan figur ayah? Eh, apa iya ya? Padahal gue nggak menutup komunikasi. Gue nggak pernah melarang apa2 (ngomong aja nggak). Trus hrs gimana dong?
Asli gue kok jd kepikiran ya. Huh. Ternyata tidak semua niat menjadikan good karma itu berakhir baik.
Tuesday, June 16, 2015
The Beauty and The Beast
Teater selalu menarik gue. Entah kenapa. Terutama yg
Sekitar 4 tahun yg lalu, waktu ke KL, di sana pas ada musikal The Beauty and The Beast. Sebetulnya pengen ajak Aria nonton. Tp karena pertimbangan waktu itu Aria belum berbahasa Inggris, jd akhirnya batal.
Nah... bulan lalu si B&B ini mampir ke Jakarta. Di teater baru: Ciputra Artpreneur. Semangat dong gue. Asliiiii mahalnya ampun deh. Tp ya sudahlah. Sebelum nanti nonton di Broadway beneran, baiklah kita coba nonton teater Broadway di Jakarta.
Krn budget terbatas... beli tiket yg paling murah dong ya. Di atas dan di ujung. Hahahaha... Tp Ciputra Artpreneur bagus kok. Untuk anak2 disediakan tambahan cushion.
Tontonannya sendiri... as expected... bagus. Iya lah kan kelas dunia. Dengan suara yg bagus dan artikulate, para pemain menyanyi dan bergerak. Memang sih, tetap ada unsur lebay terutama utk tokoh yg di-bully (entourage-nya Gaston... lupa namanya). Krn ceritanya sdh tahu, jd bisa konsentrasi lihat detail... trus menikmati teknik panggung, sama kostum yg lucu2. Paling seru waktu adegan dinner. Penari2nya dgn pakaian macam... mewakili piring, sendok garpu, gelas, dll... meriah banget!
Mudah2an show ini bisa berkesan buat Aria ya. Jadi kelak bisa berguna kalau dia mau bikin sesuatu. Gue inget bgt dulu sempat ikut kuliah drama dan waktu bikin skenario yg teringat adalah setting panggung Teater Koma. Moga2 Aria jg bisa seperti itu.
Sekitar 4 tahun yg lalu, waktu ke KL, di sana pas ada musikal The Beauty and The Beast. Sebetulnya pengen ajak Aria nonton. Tp karena pertimbangan waktu itu Aria belum berbahasa Inggris, jd akhirnya batal.
Nah... bulan lalu si B&B ini mampir ke Jakarta. Di teater baru: Ciputra Artpreneur. Semangat dong gue. Asliiiii mahalnya ampun deh. Tp ya sudahlah. Sebelum nanti nonton di Broadway beneran, baiklah kita coba nonton teater Broadway di Jakarta.
Krn budget terbatas... beli tiket yg paling murah dong ya. Di atas dan di ujung. Hahahaha... Tp Ciputra Artpreneur bagus kok. Untuk anak2 disediakan tambahan cushion.
Tontonannya sendiri... as expected... bagus. Iya lah kan kelas dunia. Dengan suara yg bagus dan artikulate, para pemain menyanyi dan bergerak. Memang sih, tetap ada unsur lebay terutama utk tokoh yg di-bully (entourage-nya Gaston... lupa namanya). Krn ceritanya sdh tahu, jd bisa konsentrasi lihat detail... trus menikmati teknik panggung, sama kostum yg lucu2. Paling seru waktu adegan dinner. Penari2nya dgn pakaian macam... mewakili piring, sendok garpu, gelas, dll... meriah banget!
Mudah2an show ini bisa berkesan buat Aria ya. Jadi kelak bisa berguna kalau dia mau bikin sesuatu. Gue inget bgt dulu sempat ikut kuliah drama dan waktu bikin skenario yg teringat adalah setting panggung Teater Koma. Moga2 Aria jg bisa seperti itu.
La Traviata
Hari Minggu gue ditutup secara berbudaya. Hahaha... yaitu dgn nonton La Traviata dari Artemis Danza. Imported from Italy.
Jadi ceritanya, waktu nonton Beauty and The Beast sm Aria, iklan LT ini sudah bertebaran di Ciputra Artpreneur. Aria jg sudah cerewet banget lihat yang balet auranya gothic. Hahahaha.... Tp ternyata waktu gue bilang mau nonton itu, dia males ikut. Malah janjian sm Pap buat nonton Jurassic World saja. Baiklah.
Jadilah ibu sendirian nonton balet modern itu. Dan memang modern banget yah ini!
La Traviata itu ternyata cerita dari zaman dahulu kala. Bagian dari opera Verdi. Ceritanya tentang kisah cinta seorang pelacur dan anak bangsawan. Nah, Grup Artemis Danza yang anggotanya cuma 7 orang ini mencoba menampilkan sisi pelacur, cara dia memandang dan menghadapi cinta.
Jadi dalam pertunjukan ada 3 warna: putih, merah, hitam. Putih untuk kesucian dan cita-cita cinta bahagia (asli kayak gaun pengantin), merah itu pemberontakan, dan hitam mewakili lingkungan yg nggak mendukung.
Ini memang bukan balet yang halus seperti Swan Lake. Ciri khas Monica Casadei yg punya Artemis Danza konon memang gerakan-gerakan yang menampilkan otot (doi atlet aikido). Penari yang mewakili tokoh-tokoh itu bergerak lompat-lompat, kadang ada unsur martrial arts, trus yang sering terlihat adalah gerakan-gerakan kaku. Beberapa kali tampil tarian punggung (jadi inget Eko Supriyanto).
Ekspresi penarinya memang bagus banget. Bisa kelihatan jatuh cinta, sakit hati, merana, sedih banget.... Ada satu scene yang penarinya muter-muter-muter sampai bajunya lepas. Trus kelihatan punggungnya bergerak, kakinya bergetar, tangannya tegang-lemas-tegang-lemas.... asli itu mencekam banget. Gue merasa selamat karena nggak ngerti arti lagu2nya. Coba gue paham, pasti gue akan makin tercekat....
Tapi ya, setelahnya gue kok merasa tidak damai. Hahaha... terbawa emosi penari, gue jd rasanya "penuh" pengen teriak2. Ini gimana sih, nonton kok bukannya jd happy. Padahal tontonannya bagus. Beda banget rasanya nonton ini sama nonton Matah Ati, misalnya. Memang, ending ceritanya beda sih. Tapi gue bandingkan cara dua repertoir ini menunjukkan cinta. Kalau cinta di Matah Ati itu bisa halus, meneduhkan, meski bergairah tapi menenangkan dan anggun. Cinta di La Traviata penuh gairah yg bergejolak. Sama2 anggun tapi yg di LT lebih congkak. Itu sih menurut gue yaaaa....
Dasar mungkin gue saja ya yang gadis desa (Jawa). Lebih cocok nonton tari Bedoyo dengan gamelan klenthung kloneng gong... yang auranya tentrem dan ayem. Hahaha... Anyway, tetap saja gembira punya kesempatan nonton pertunjukan bagus di gedung yg baru (baca: bukan GKJ). Marilah menanti tontonan berikutnya.
Jadi ceritanya, waktu nonton Beauty and The Beast sm Aria, iklan LT ini sudah bertebaran di Ciputra Artpreneur. Aria jg sudah cerewet banget lihat yang balet auranya gothic. Hahahaha.... Tp ternyata waktu gue bilang mau nonton itu, dia males ikut. Malah janjian sm Pap buat nonton Jurassic World saja. Baiklah.
Jadilah ibu sendirian nonton balet modern itu. Dan memang modern banget yah ini!
La Traviata itu ternyata cerita dari zaman dahulu kala. Bagian dari opera Verdi. Ceritanya tentang kisah cinta seorang pelacur dan anak bangsawan. Nah, Grup Artemis Danza yang anggotanya cuma 7 orang ini mencoba menampilkan sisi pelacur, cara dia memandang dan menghadapi cinta.
Jadi dalam pertunjukan ada 3 warna: putih, merah, hitam. Putih untuk kesucian dan cita-cita cinta bahagia (asli kayak gaun pengantin), merah itu pemberontakan, dan hitam mewakili lingkungan yg nggak mendukung.
Ini memang bukan balet yang halus seperti Swan Lake. Ciri khas Monica Casadei yg punya Artemis Danza konon memang gerakan-gerakan yang menampilkan otot (doi atlet aikido). Penari yang mewakili tokoh-tokoh itu bergerak lompat-lompat, kadang ada unsur martrial arts, trus yang sering terlihat adalah gerakan-gerakan kaku. Beberapa kali tampil tarian punggung (jadi inget Eko Supriyanto).
Ekspresi penarinya memang bagus banget. Bisa kelihatan jatuh cinta, sakit hati, merana, sedih banget.... Ada satu scene yang penarinya muter-muter-muter sampai bajunya lepas. Trus kelihatan punggungnya bergerak, kakinya bergetar, tangannya tegang-lemas-tegang-lemas.... asli itu mencekam banget. Gue merasa selamat karena nggak ngerti arti lagu2nya. Coba gue paham, pasti gue akan makin tercekat....
Tapi ya, setelahnya gue kok merasa tidak damai. Hahaha... terbawa emosi penari, gue jd rasanya "penuh" pengen teriak2. Ini gimana sih, nonton kok bukannya jd happy. Padahal tontonannya bagus. Beda banget rasanya nonton ini sama nonton Matah Ati, misalnya. Memang, ending ceritanya beda sih. Tapi gue bandingkan cara dua repertoir ini menunjukkan cinta. Kalau cinta di Matah Ati itu bisa halus, meneduhkan, meski bergairah tapi menenangkan dan anggun. Cinta di La Traviata penuh gairah yg bergejolak. Sama2 anggun tapi yg di LT lebih congkak. Itu sih menurut gue yaaaa....
Dasar mungkin gue saja ya yang gadis desa (Jawa). Lebih cocok nonton tari Bedoyo dengan gamelan klenthung kloneng gong... yang auranya tentrem dan ayem. Hahaha... Anyway, tetap saja gembira punya kesempatan nonton pertunjukan bagus di gedung yg baru (baca: bukan GKJ). Marilah menanti tontonan berikutnya.
Monday, May 25, 2015
Monday, May 18, 2015
Recovery
I put away my phone to avoid office calls on my off days last week. So it was in silent mode since Thursday. Told the secretary to call home if any urgent matter happen.
Now I checked my call log to see if any client need something from me or my team.
And I found a missed call from unknown number on Friday.
Was that you?
Just think about it and I already feel so much better. Haha....
Now I checked my call log to see if any client need something from me or my team.
And I found a missed call from unknown number on Friday.
Was that you?
Just think about it and I already feel so much better. Haha....
Saturday, May 16, 2015
Malam Minggu
Status malming orang2 d sosmed variatif banget: jfff kelapa gading, market & museum lippo kemang, i love bazaar jakarta di senayan. Gue? Di rumah. Flu berat. Hiks.
Monday, May 11, 2015
What a Nice Dream
Tadi malam bermimpi digandeng sama seseorang lalu jalan berkeliling untuk ini itu. Nggak jelas jg untuk apa, tp rasanya kok seneng banget. Sampai bangun tidur masih terasa senengnya.
Thursday, May 07, 2015
Sunday, April 26, 2015
Not a Regular Sunday
Woke up in a big room full of amenities. Put on my shoes and take a walk around the complex to find some kids were on horse riding training, listening to people speak the language I am familiar with but do not know how to say. Went back to the hotel, did some laps in the frozen cold swimming pool.
Now I need to boost my mood so I can concentrate on this meeting. Kerja! Kerja! Kerja!
Now I need to boost my mood so I can concentrate on this meeting. Kerja! Kerja! Kerja!
What a Day
Seharian ini berita dukanya banyak banget....
Teman SD meninggal dunia setelah menderita kanker selama dua tahun. I know it is the best for her. Tp tetap sedih banget. Gue terakhir ketemu dia waktu jadi pemred GH. Kira2 5 tahun lalu berarti. Waktu bikin event di Surabaya, dia dan teman2nya ikut meramaikan. Seru banget. Dan waktu itu dia juga nemenin gue beli sepatu. We talked a lot.
Begitu dia sakit, gue contact dgn suaminya. Dan gue diberi akses ke facebook si suami yg khusus dibuat untuk ini. Jadi gue bisa "ikut" mereka mencari kesembuhan dengan bolak balik Sby- Penang. Gue bisa lihat perjuangan mereka yg luar biasa. Termasuk melihat anak-anaknya ulang tahun selama sang ibu sakit. How sad.
Tadi pagi suaminya masih posting "mohon doa." Ternyata nggak lama masuk postingan baru "selamat jalan mama".
Huhuhuhu....
Rest in peace, dear Monica. You are in better place now. No needle no pain no tears. You must be happy.
Nggak lama setelah berita itu, dlm perjalanan ke Bdg, gue dapat whatsapp dari nyokap. Salah satu sepupu yg di Jkt hari ini masuk ICU. Lalu baru diketahui dia kena kanker hati. Dan sudah stadium akhir. Ya Allah.
Lalu baru saja ada whatsapp dari teman. Soal Rianti from my previous post. She was hospitalized. Pingsan. Ya Tuhan.
Ya Allah, apa pun yg terjadi, semua kuasaMu. MilikMu akan kembali padaMu.
Teman SD meninggal dunia setelah menderita kanker selama dua tahun. I know it is the best for her. Tp tetap sedih banget. Gue terakhir ketemu dia waktu jadi pemred GH. Kira2 5 tahun lalu berarti. Waktu bikin event di Surabaya, dia dan teman2nya ikut meramaikan. Seru banget. Dan waktu itu dia juga nemenin gue beli sepatu. We talked a lot.
Begitu dia sakit, gue contact dgn suaminya. Dan gue diberi akses ke facebook si suami yg khusus dibuat untuk ini. Jadi gue bisa "ikut" mereka mencari kesembuhan dengan bolak balik Sby- Penang. Gue bisa lihat perjuangan mereka yg luar biasa. Termasuk melihat anak-anaknya ulang tahun selama sang ibu sakit. How sad.
Tadi pagi suaminya masih posting "mohon doa." Ternyata nggak lama masuk postingan baru "selamat jalan mama".
Huhuhuhu....
Rest in peace, dear Monica. You are in better place now. No needle no pain no tears. You must be happy.
Nggak lama setelah berita itu, dlm perjalanan ke Bdg, gue dapat whatsapp dari nyokap. Salah satu sepupu yg di Jkt hari ini masuk ICU. Lalu baru diketahui dia kena kanker hati. Dan sudah stadium akhir. Ya Allah.
Lalu baru saja ada whatsapp dari teman. Soal Rianti from my previous post. She was hospitalized. Pingsan. Ya Tuhan.
Ya Allah, apa pun yg terjadi, semua kuasaMu. MilikMu akan kembali padaMu.
Thursday, April 23, 2015
That Call
A phone call a day keeps the doctor away.
Hahahaha....
Coba tanya sama orang2 yg LDR. Ya kan? Ya kan? Kan?
Tp sudah lama nih nggak dapat telepon dari jauh. Ya sudahlah nasib.
Maaf ya pagi2 curcol ga jelas....
Hahahaha....
Coba tanya sama orang2 yg LDR. Ya kan? Ya kan? Kan?
Tp sudah lama nih nggak dapat telepon dari jauh. Ya sudahlah nasib.
Maaf ya pagi2 curcol ga jelas....
Tuesday, April 21, 2015
Wednesday, April 15, 2015
Tuesday, April 14, 2015
Baik Hati
"Jangan berkontribusi menciptakan mendung pada hidup orang lain," kata seorang teman, pagi ini. Gegara dia lihat banyak orang yg itikadnya menyusahkan orang. Biasanya atasan sih begitu, ke bawahannya.
Semoga kita semua dijauhkan dari tindakan2 yg nyusahin orang lain yesss....
Semoga kita semua dijauhkan dari tindakan2 yg nyusahin orang lain yesss....
Monday, April 13, 2015
From Last Weekend
Sebenernya yg lucu adalah cerita soal kentjan yg ambyar. Lucu2 nggilani gitu deh. Tp nanti aja yah, gue masih jengkel kalau inget. Jengkel kok gue mau2nya diajak ketemuan. Rasanya pengen menggoreng lalu meniriskan yg ngajak. Hahahaha....
Yg nggak kalah menarik adalah pertemuan dgn beberapa teman2. Yg lalu menampilkan petikan2 percakapan berikut.
Teman 1
"Mak, gue stress."
"Lha, kenapa jg stress. Punya suami, bisa diajak curhat to?"
"Justru seringkali dialah sumber stress gue."
Teman 2
"Kadang gue heran deh. Kenapa gue jadi ngerjain semua. Dari urus rumah, urus anak, sampai iuran RT. Trus skrg suami nelpon melulu hanya krn nggak bisa ganti chip hp. Haduh. Kenapa dia nggak mau urus sendiri? Dia pikir gue nggak ada kegiatan?"
Teman 3
"Susaaaah banget deh kalau udah begini. Bangun siang. Baju berantakan. Sarapan rusuh. Trus tahu2 pergi, ngilang, nggak pamit. Katanya ke bengkel. Seharian di sana. Kayaknya enakan elu yg sendiri. Nggak mikirin apa2."
Gue
Bangun tidur, tanya sm Aria, dia mau sarapan apa dan bawa bekal apa. Masak sebentar. Mandi. Antar Aria. Hbs drop dia di sekolah, kadang2 langsung ke gym, kadang juga ke pasar dulu cari buah. Langsung ke kantor juga bisa. Wong sdh cakep.
Trus kalau di jalan ada yg nawarin tas. Bagus dan pengen? Tinggal dihitung uang di tabungan. Kalau cukup, boleh beli. Kalau nggak cukup, nyicil boleh nggak? Hahahaha....
Sore pulang kantor, kalau mau jalan2 dulu ya tanya aja badannya kuat nggak. Kalau kuat dan mau ya ayo. Kalau nggak ya pikir lagi mau ke mana. Nonton? Pijat? Creambath? Potong rambut? Beli buku?
Liburan mau ke mana, juga direncanakan sendiri. Kalau punya uang, bisa agak jauhan. Kalau lagi bokek, ya udahlah yg deket aja. Semua diputuskan sendiri. Nggak perlu pertimbangan siapa2. Kalau ada apa2 ya nyungsep aja sendiri. Beres.
Mungkin memang lebih enak menjadi gue. Sendiri. Mungkin lho ya.
Yg nggak kalah menarik adalah pertemuan dgn beberapa teman2. Yg lalu menampilkan petikan2 percakapan berikut.
Teman 1
"Mak, gue stress."
"Lha, kenapa jg stress. Punya suami, bisa diajak curhat to?"
"Justru seringkali dialah sumber stress gue."
Teman 2
"Kadang gue heran deh. Kenapa gue jadi ngerjain semua. Dari urus rumah, urus anak, sampai iuran RT. Trus skrg suami nelpon melulu hanya krn nggak bisa ganti chip hp. Haduh. Kenapa dia nggak mau urus sendiri? Dia pikir gue nggak ada kegiatan?"
Teman 3
"Susaaaah banget deh kalau udah begini. Bangun siang. Baju berantakan. Sarapan rusuh. Trus tahu2 pergi, ngilang, nggak pamit. Katanya ke bengkel. Seharian di sana. Kayaknya enakan elu yg sendiri. Nggak mikirin apa2."
Gue
Bangun tidur, tanya sm Aria, dia mau sarapan apa dan bawa bekal apa. Masak sebentar. Mandi. Antar Aria. Hbs drop dia di sekolah, kadang2 langsung ke gym, kadang juga ke pasar dulu cari buah. Langsung ke kantor juga bisa. Wong sdh cakep.
Trus kalau di jalan ada yg nawarin tas. Bagus dan pengen? Tinggal dihitung uang di tabungan. Kalau cukup, boleh beli. Kalau nggak cukup, nyicil boleh nggak? Hahahaha....
Sore pulang kantor, kalau mau jalan2 dulu ya tanya aja badannya kuat nggak. Kalau kuat dan mau ya ayo. Kalau nggak ya pikir lagi mau ke mana. Nonton? Pijat? Creambath? Potong rambut? Beli buku?
Liburan mau ke mana, juga direncanakan sendiri. Kalau punya uang, bisa agak jauhan. Kalau lagi bokek, ya udahlah yg deket aja. Semua diputuskan sendiri. Nggak perlu pertimbangan siapa2. Kalau ada apa2 ya nyungsep aja sendiri. Beres.
Mungkin memang lebih enak menjadi gue. Sendiri. Mungkin lho ya.
Saturday, April 11, 2015
Note to Self
Teach Aria to understand that if he ask a girl out on a date, he should not let her touch the door nor the bill.
Friday, April 10, 2015
Do Not Take Anything for Granted
Berapa kali dalam hidup, kita take it for granted?
Sebulan yg lalu, seorang kenalan, sebutlah Rianti, dikabarkan kena tumor otak. Selama ini, dia seringkali merasa mual dan pusing. Minum tolak angin, beres. Jadi dia pikir kalau sedang eneg... masuk angin biasa. Terakhir dia pusing luar biasa, nyaris pingsan, kesakitan, lalu dibawa k RS. Dokter langsung menyarankan CT Scan dan MRI. Ketemulah tumor diameter 6cm nempel di dekat otak kecil.
Waktu berita dia masuk RS tersebar di FB, banyak simpati berdatangan. Gue whatsapp tanya kabar dll. Ternyata dia nggak lama di RS, setelah hasil MRI keluar, dia memilih pulang. Gue yg merasa belum jenguk, tanya rumahnya, mau mampir. "Aku sdh ok kok, mbak," balasnya. Oke gimana sih? Satu org temen yg juga "penasaran" pengen jenguk akhirnya kompakan untuk bareng ke rumahnya. Tp Rianti keukeuh bilang dia baik2 saja. Sampai akhirnya dia ajak kami ketemuan di Pl Senayan.
Oke deh. Kalau sdh ngajak ketemu di mal, memang pertanda baik sih ya. Jadilah pd suatu hari Minggu gue ke PS. Ketemu Rianti yg ternyata pandangannya sudah kabur. Jadi turun taksi pun hrs dituntun. Ke tempat janjian diantar doorman :(
Dia cerita soal tumornya. Soal dokternya. Dan bahwa dia sedang tunggu jadwal operasi. "Menurut dokter, nggak ada jalan lain," katanya. Krn tau bahwa Rianti ini kerja di kantor yg cukup punya nama, dan dia adalah pegawai lama... gue berpikir akan ada asuransi yg menanggung. Jadilah kami ga bahas biaya (yg pasti besar), tapi lebih ke menyemangati dia.
Oh ya, Rianti ini penyelam. Yg menyelam di Raja Ampat, dan baru2 ini ke Maldives. Lalu setelah pd suatu masa dia berhasil menurunkan berat badan smp 25kg, dia juga jd suka lari. Sebutlah marathon di kawasan Asia, hampir semua sudah dia ikuti. Kayaknya tiap bulan pasti ikut event lari, entah 5K atau 10K. Jd dia, seharusnya, masuk kategori orang yg sehat. "Ya ini memang jadi wake up call sih mbak. Supaya aku lebih manis," katanya.
Well... that was a wake up call for all of us.
Kira2 tiga minggu setelah perjumpaan di PS itu, gue denger ada penggalangan dana untuk bantu biaya operasi Rianti. Dari seorang teman, jadi tahu kalau kantornya tidak punya asuransi yang cukup ciamik utk cover operasi sebesar itu. Gue jd curiga sepertinya perusahaan nggak punya asuransi kesehatan. Anyway, gue sempat hubungi orang yg mengaku ketua penggalangan dana. Dan dari jawaban di whatsapp, gue kok nggak seneng ya. Hahaha... jadilah gue putuskan untuk mengumpulkan sendiri dari teman2 dekat.
Nah, saat ngumpulin itu, tahulah kalau ada salah satu teman, Yanita, yg masih saudara (satu buyut) dgn Rianti. Kebetulan kami jg lumayan dekat. Ih... nyambung banget. Jd kami merancang misi menjenguk Rianti.
"Gue nggak tahu rumahnya lho."
"Gampang, gue dulu juga tinggal di sekitar situ. Dulu, kakek kami bedol desa dari Cirebon. Tinggal di situ. Lalu semua lahir di sana. Sampai bapak gue pindah ke Depok. Keluarga Rianti sih masih di situ semua," katanya.
Gue hanya tahu bahwa jalan di lingkungan itu sempit. Kebetulan setiap lebaran gue pasti ke sana, sowan dua bude yg tinggal di lingkungan itu. Krn males nyetir dan membayangkan susah parkir, marilah berhemat dgn hanya naik satu mobil saja. Ok!
Jadilah disepakati pd suatu weekend kami akan berkunjung ke rumah sepupu Yanita itu. Seperti sdh diduga, kami sulit mencari rumahnya. Hahahaha... tp lalu ada kawan yg ngasih nomor kakaknya Rianti. Katanya Rianti nggak boleh telepon nggak boleh main hp... takut radiasi akan membuat tumor membesar. Setelah telepon... ternyata kami sedang nggak jauh dari rumahnya. Jadi seneng deh. Bisa langsung turun. Eh, hujan. Payungan berdua masuk ke halaman rumah. Hmm... ternyata rumahnya model memanjang ke belakang, dengan pintu2 yg mirip satu sama lain. Khas rumah petak di tengah Jakarta. Padahal nomornya cuma satu. Hmm... yg mana rumahnya Rianti?
Dari luar, kedengeran ada yg lagi telepon di salah satu rumah. "Jangan boleh ke sini!"
Lha? Itu suaranya Rianti! Kok dia nggak mau ada yg datang?
Dasar kami dua wartawan keras kepala nggak tahu malu... malah gedor2 pintu yg tadi ada suaranya. "Assalamualaikum... Rianti ada? Halo... mbak Rianti?" Di bawah payung lho itu.
Jadi yg di dalam nggak ada pilihan selain membukakan pintu buat kami berdua. Dan kami jadi paham kenapa Rianti nggak mau dikunjungi di rumah.
Rumahnya ternyata hanya sepetak itu saja. Itu rumah neneknya. Petak2 yg lain disewakan. Dalam petak yg menjadi tempat tinggalnya, Rianti berbagi dengan ayah, ibu, kakak, dan satu keponakan. Kecil. Paling 4x5. Begitu dia buka pintu, langsung terlihat ada kulkas. Di antara pintu dan kulkas, ada tumpukan panci, tumpukan ember, tumpukan kardus2 entah apa. Berdebu dan kumal. Hiks.
Rianti kelihatan banget kaget lihat kami berdua. Dan dia langsung salah tingkah. Ah. Syukurlah kami berdua ini anak2 yg tidak manja dan selalu gembira. Jadi akhirnya kami hore2 aja duduk di kursi bakso. Di teras. Di bawah payung....
Dan kami ngobrol soal macem2. Soal biaya operasi yg belum terkumpul. Soal dia sedang mencoba obat herbal dari dokter terkenal. Soal keluarga yg fully support. Dan soal kantor yg nggak jelas. Waktu gue kasih amplop dari teman2, dia sempat diam lama. "Ini boleh buat MRI ya mbak?" Oalah. You can do anything you want with the money, honey. Setelah kira2 sejam, kami pamit.
Gue & Yanita diem aja di jalan. Gue kayak habis ditabok. Soal sakit... yaaaa... mudah2an bisa ada upaya yg meringankan.
Gue lbh shock lihat kondisi tempat tinggalnya. Rianti yg gue kenal tuh yg ke Raja Ampat dan Maldives lho. Yg ikut Tokyo Marathon, KL Marathon, HK Marathon... dengan sepatu lari yg dahsyat. Yg pakai tas Kate Spade. Yg kalau potong rambut di Irwan Team Salon. Ternyata dia tinggal di rumah yg berdebu dan kusam. Berhimpitan dengan keluarganya. Aduh. Pergaulan metropolitan yg salah kali ya? Yg membuat dia merasa hrs eksis di tempat2 yg hits itu, pakai perkakas yg hits juga... Atau dia yg kurang kuat iman? Tasnya itu kalau dijual, bisa lho buat benerin terasnya. Uang tiket ke tempat2 menyelam dan lari itu bisa lho dipakai buat kontrak rumah yg lebih besar... Hmm... taruhlah dia potong rambut di Johny Andrean saja... sisanya bisa buat benerin lemari laci yg sdh bobrok.
Well... hidup ini memang memberi banyak pilihan. Kita yg hrs mengendalikan diri, supaya nggak salah memilih.
Sampai di rumah, gue rasanya bersyukur banget. Alhamdulillah ya Allah... gue punya kasur empuk dgn sprei baru di rumah yg bersih. Alhamdulillah. Hari itu gue belajar (lagi) utk tidak take it for granted.
Sebulan yg lalu, seorang kenalan, sebutlah Rianti, dikabarkan kena tumor otak. Selama ini, dia seringkali merasa mual dan pusing. Minum tolak angin, beres. Jadi dia pikir kalau sedang eneg... masuk angin biasa. Terakhir dia pusing luar biasa, nyaris pingsan, kesakitan, lalu dibawa k RS. Dokter langsung menyarankan CT Scan dan MRI. Ketemulah tumor diameter 6cm nempel di dekat otak kecil.
Waktu berita dia masuk RS tersebar di FB, banyak simpati berdatangan. Gue whatsapp tanya kabar dll. Ternyata dia nggak lama di RS, setelah hasil MRI keluar, dia memilih pulang. Gue yg merasa belum jenguk, tanya rumahnya, mau mampir. "Aku sdh ok kok, mbak," balasnya. Oke gimana sih? Satu org temen yg juga "penasaran" pengen jenguk akhirnya kompakan untuk bareng ke rumahnya. Tp Rianti keukeuh bilang dia baik2 saja. Sampai akhirnya dia ajak kami ketemuan di Pl Senayan.
Oke deh. Kalau sdh ngajak ketemu di mal, memang pertanda baik sih ya. Jadilah pd suatu hari Minggu gue ke PS. Ketemu Rianti yg ternyata pandangannya sudah kabur. Jadi turun taksi pun hrs dituntun. Ke tempat janjian diantar doorman :(
Dia cerita soal tumornya. Soal dokternya. Dan bahwa dia sedang tunggu jadwal operasi. "Menurut dokter, nggak ada jalan lain," katanya. Krn tau bahwa Rianti ini kerja di kantor yg cukup punya nama, dan dia adalah pegawai lama... gue berpikir akan ada asuransi yg menanggung. Jadilah kami ga bahas biaya (yg pasti besar), tapi lebih ke menyemangati dia.
Oh ya, Rianti ini penyelam. Yg menyelam di Raja Ampat, dan baru2 ini ke Maldives. Lalu setelah pd suatu masa dia berhasil menurunkan berat badan smp 25kg, dia juga jd suka lari. Sebutlah marathon di kawasan Asia, hampir semua sudah dia ikuti. Kayaknya tiap bulan pasti ikut event lari, entah 5K atau 10K. Jd dia, seharusnya, masuk kategori orang yg sehat. "Ya ini memang jadi wake up call sih mbak. Supaya aku lebih manis," katanya.
Well... that was a wake up call for all of us.
Kira2 tiga minggu setelah perjumpaan di PS itu, gue denger ada penggalangan dana untuk bantu biaya operasi Rianti. Dari seorang teman, jadi tahu kalau kantornya tidak punya asuransi yang cukup ciamik utk cover operasi sebesar itu. Gue jd curiga sepertinya perusahaan nggak punya asuransi kesehatan. Anyway, gue sempat hubungi orang yg mengaku ketua penggalangan dana. Dan dari jawaban di whatsapp, gue kok nggak seneng ya. Hahaha... jadilah gue putuskan untuk mengumpulkan sendiri dari teman2 dekat.
Nah, saat ngumpulin itu, tahulah kalau ada salah satu teman, Yanita, yg masih saudara (satu buyut) dgn Rianti. Kebetulan kami jg lumayan dekat. Ih... nyambung banget. Jd kami merancang misi menjenguk Rianti.
"Gue nggak tahu rumahnya lho."
"Gampang, gue dulu juga tinggal di sekitar situ. Dulu, kakek kami bedol desa dari Cirebon. Tinggal di situ. Lalu semua lahir di sana. Sampai bapak gue pindah ke Depok. Keluarga Rianti sih masih di situ semua," katanya.
Gue hanya tahu bahwa jalan di lingkungan itu sempit. Kebetulan setiap lebaran gue pasti ke sana, sowan dua bude yg tinggal di lingkungan itu. Krn males nyetir dan membayangkan susah parkir, marilah berhemat dgn hanya naik satu mobil saja. Ok!
Jadilah disepakati pd suatu weekend kami akan berkunjung ke rumah sepupu Yanita itu. Seperti sdh diduga, kami sulit mencari rumahnya. Hahahaha... tp lalu ada kawan yg ngasih nomor kakaknya Rianti. Katanya Rianti nggak boleh telepon nggak boleh main hp... takut radiasi akan membuat tumor membesar. Setelah telepon... ternyata kami sedang nggak jauh dari rumahnya. Jadi seneng deh. Bisa langsung turun. Eh, hujan. Payungan berdua masuk ke halaman rumah. Hmm... ternyata rumahnya model memanjang ke belakang, dengan pintu2 yg mirip satu sama lain. Khas rumah petak di tengah Jakarta. Padahal nomornya cuma satu. Hmm... yg mana rumahnya Rianti?
Dari luar, kedengeran ada yg lagi telepon di salah satu rumah. "Jangan boleh ke sini!"
Lha? Itu suaranya Rianti! Kok dia nggak mau ada yg datang?
Dasar kami dua wartawan keras kepala nggak tahu malu... malah gedor2 pintu yg tadi ada suaranya. "Assalamualaikum... Rianti ada? Halo... mbak Rianti?" Di bawah payung lho itu.
Jadi yg di dalam nggak ada pilihan selain membukakan pintu buat kami berdua. Dan kami jadi paham kenapa Rianti nggak mau dikunjungi di rumah.
Rumahnya ternyata hanya sepetak itu saja. Itu rumah neneknya. Petak2 yg lain disewakan. Dalam petak yg menjadi tempat tinggalnya, Rianti berbagi dengan ayah, ibu, kakak, dan satu keponakan. Kecil. Paling 4x5. Begitu dia buka pintu, langsung terlihat ada kulkas. Di antara pintu dan kulkas, ada tumpukan panci, tumpukan ember, tumpukan kardus2 entah apa. Berdebu dan kumal. Hiks.
Rianti kelihatan banget kaget lihat kami berdua. Dan dia langsung salah tingkah. Ah. Syukurlah kami berdua ini anak2 yg tidak manja dan selalu gembira. Jadi akhirnya kami hore2 aja duduk di kursi bakso. Di teras. Di bawah payung....
Dan kami ngobrol soal macem2. Soal biaya operasi yg belum terkumpul. Soal dia sedang mencoba obat herbal dari dokter terkenal. Soal keluarga yg fully support. Dan soal kantor yg nggak jelas. Waktu gue kasih amplop dari teman2, dia sempat diam lama. "Ini boleh buat MRI ya mbak?" Oalah. You can do anything you want with the money, honey. Setelah kira2 sejam, kami pamit.
Gue & Yanita diem aja di jalan. Gue kayak habis ditabok. Soal sakit... yaaaa... mudah2an bisa ada upaya yg meringankan.
Gue lbh shock lihat kondisi tempat tinggalnya. Rianti yg gue kenal tuh yg ke Raja Ampat dan Maldives lho. Yg ikut Tokyo Marathon, KL Marathon, HK Marathon... dengan sepatu lari yg dahsyat. Yg pakai tas Kate Spade. Yg kalau potong rambut di Irwan Team Salon. Ternyata dia tinggal di rumah yg berdebu dan kusam. Berhimpitan dengan keluarganya. Aduh. Pergaulan metropolitan yg salah kali ya? Yg membuat dia merasa hrs eksis di tempat2 yg hits itu, pakai perkakas yg hits juga... Atau dia yg kurang kuat iman? Tasnya itu kalau dijual, bisa lho buat benerin terasnya. Uang tiket ke tempat2 menyelam dan lari itu bisa lho dipakai buat kontrak rumah yg lebih besar... Hmm... taruhlah dia potong rambut di Johny Andrean saja... sisanya bisa buat benerin lemari laci yg sdh bobrok.
Well... hidup ini memang memberi banyak pilihan. Kita yg hrs mengendalikan diri, supaya nggak salah memilih.
Sampai di rumah, gue rasanya bersyukur banget. Alhamdulillah ya Allah... gue punya kasur empuk dgn sprei baru di rumah yg bersih. Alhamdulillah. Hari itu gue belajar (lagi) utk tidak take it for granted.
Tuesday, April 07, 2015
Just a Little Sister
I do understand sibling rivalry. Or I think I do?
Sejak gue kecil, gue ingat orang2 membandingkan gue dan abang gue. Atau setidaknya, gue merasa dibandingkan dgn kakak gue itu.
"Oh ini adiknya kok pemalu, nggak seperti kakaknya yg ramah."
"Lho, adiknya kok nggak mau pakai sandal. Seperti mas itu lho, rapi ke mana2 pakai alas kaki."
Hal2 semacam itu yg teringat oleh otak gue yang (saat itu) masih sangat muda.
Dan gong dari segala perbandingan itu adalah ketika kedua eyang putri (dari bokap dan dari nyokap) berdiskusi soal siapa yg harus tinggal di mana (seandainya bokap nyokap mengizinkan).
"Yang laki2 buat aku."
"Oh ya nggak mau dong. Aku juga mau yg laki2."
Bayangkanlah gue, anak perempuan kecil, mendengar soal "perebutan" cucu laki2. Felt as if I was a useless little girl. Padahal kalau gue ingat, kakak gue itu waktu kecil juga duduls kok: nggak mau makan sayur, penakut, dan kalau makan telur ceplok selalu menyisakan bagian putihnya.
Meskipun dudul, dia kan tetap cucu pertama, cucu laki-laki, anak pertama, anak laki-laki... and so on so fort... yg jelas dia juaranya.
Karena gue dilahirkan sebagai perempuan yg keras kepala, semakin orang melihat sisi positif kakak gue (dan membicarakannya), semakin gue berbuat yg sebaliknya. Sampai gue ingat nggak mau belajar sama sekali karena males denger orang membandingkan gue dgn abang gue yg juara kelas setiap tahun. Alhamdulillah kok Tuhan Maha Baik, meskipun nggak mau belajar, gue tetep naik kelas. Hahaha.... Akibatnya lagi kalau lebaran, selalu Ary yg dapat hadiah. "Karena juara kelas. Dian kan nggak. Makanya belajar dong." #dzig
Tapi tetap banyak sekali orang yg melihat gue hanya sebagai "Dian adiknya Ary." Yg kok tidak sepintar kakaknya. Sepertinya nggak ada yg ingat bhw gue bisa menari Jawa halus, tp mereka ingat Ary menari tari Manggala yg dia pelajari sebulan untuk syarat jadi Bintang Pelajar. Nggak ada yg ingat Ary pernah minta gitar tapi lalu mogok belajar setelah kelas yg pertama, lalu gitarnya gue pakai buat belajar gitar klasik sampai gue bisa baca not balok dan main beberapa lagu di buku Yamaha dgn bagus.
Ary tetap cucu pertama, cucu laki-laki, anak pertama, anak laki-laki... and so on so fort... Jelas dia juaranya.
Banyak hal di masa remaja yg juga semakin membuat gue merasa kakak gue itu lebih oke (di mata orang2). Mungkin ini satu2nya momen bahwa menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya lebih keren ketimbang sekolah di Universitas Indonesia. Hahaha....
Dan skrg, yg namanya Ary itu masuk jajaran 10 best architect in the country plus 5 most expensive architect consultant (jgn tanya ya versi siapa... gue nggak tahu). Gue sebagai adiknya ya bangga laaaah.... Sekaligus siap2 kalau nanti ada yg tanya, "mbak adiknya arsitek top itu ya?"
Tapi sudahlah. Ya memang gue ini adiknya Ary-yg-itu. Mau apa lagi? Pd kehidupan sehari-hari, dia juga lovely brother kok. Dan sesuai usia, skrg ini gue juga sudah nggak defensif soal posisi adik itu. Gue pernah jadi editor in chief media internasional, lalu jadi kepala divisi di grup media besar, tetap di satu keadaan gue "hanya" dikenal sebagai "adiknya Ary." Ya sudahlah. Paling nggak dgn segala pencapaian gue itu, nggak malu2in lah dikenal sbg adiknya kakak gue. Dan nggak bakalan ada yg nuduh gue mendompleng karena bidang kami yg beda banget.
Yg jelas dia sayang bener sama Aria. To the moon and back. Yg artinya segala kebutuhan anak gue itu (dan ibunya kalau perlu) akan bisa dibereskan dengan gembira ria. Selesai semua urusan kan.
Barusan, dan ini terjadi sekitar 35 tahun setelah percakapan the eyangs, ada yg menegur gue di FB dgn, "mbak ini adiknya Ary ya?" Hahaha... OMG.
Btw, kalau gue sbg anak kedua aja merasa segitunya soal kakak gue... apa kabar adik gue ya? Hahaha....
Sejak gue kecil, gue ingat orang2 membandingkan gue dan abang gue. Atau setidaknya, gue merasa dibandingkan dgn kakak gue itu.
"Oh ini adiknya kok pemalu, nggak seperti kakaknya yg ramah."
"Lho, adiknya kok nggak mau pakai sandal. Seperti mas itu lho, rapi ke mana2 pakai alas kaki."
Hal2 semacam itu yg teringat oleh otak gue yang (saat itu) masih sangat muda.
Dan gong dari segala perbandingan itu adalah ketika kedua eyang putri (dari bokap dan dari nyokap) berdiskusi soal siapa yg harus tinggal di mana (seandainya bokap nyokap mengizinkan).
"Yang laki2 buat aku."
"Oh ya nggak mau dong. Aku juga mau yg laki2."
Bayangkanlah gue, anak perempuan kecil, mendengar soal "perebutan" cucu laki2. Felt as if I was a useless little girl. Padahal kalau gue ingat, kakak gue itu waktu kecil juga duduls kok: nggak mau makan sayur, penakut, dan kalau makan telur ceplok selalu menyisakan bagian putihnya.
Meskipun dudul, dia kan tetap cucu pertama, cucu laki-laki, anak pertama, anak laki-laki... and so on so fort... yg jelas dia juaranya.
Karena gue dilahirkan sebagai perempuan yg keras kepala, semakin orang melihat sisi positif kakak gue (dan membicarakannya), semakin gue berbuat yg sebaliknya. Sampai gue ingat nggak mau belajar sama sekali karena males denger orang membandingkan gue dgn abang gue yg juara kelas setiap tahun. Alhamdulillah kok Tuhan Maha Baik, meskipun nggak mau belajar, gue tetep naik kelas. Hahaha.... Akibatnya lagi kalau lebaran, selalu Ary yg dapat hadiah. "Karena juara kelas. Dian kan nggak. Makanya belajar dong." #dzig
Tapi tetap banyak sekali orang yg melihat gue hanya sebagai "Dian adiknya Ary." Yg kok tidak sepintar kakaknya. Sepertinya nggak ada yg ingat bhw gue bisa menari Jawa halus, tp mereka ingat Ary menari tari Manggala yg dia pelajari sebulan untuk syarat jadi Bintang Pelajar. Nggak ada yg ingat Ary pernah minta gitar tapi lalu mogok belajar setelah kelas yg pertama, lalu gitarnya gue pakai buat belajar gitar klasik sampai gue bisa baca not balok dan main beberapa lagu di buku Yamaha dgn bagus.
Ary tetap cucu pertama, cucu laki-laki, anak pertama, anak laki-laki... and so on so fort... Jelas dia juaranya.
Banyak hal di masa remaja yg juga semakin membuat gue merasa kakak gue itu lebih oke (di mata orang2). Mungkin ini satu2nya momen bahwa menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya lebih keren ketimbang sekolah di Universitas Indonesia. Hahaha....
Dan skrg, yg namanya Ary itu masuk jajaran 10 best architect in the country plus 5 most expensive architect consultant (jgn tanya ya versi siapa... gue nggak tahu). Gue sebagai adiknya ya bangga laaaah.... Sekaligus siap2 kalau nanti ada yg tanya, "mbak adiknya arsitek top itu ya?"
Tapi sudahlah. Ya memang gue ini adiknya Ary-yg-itu. Mau apa lagi? Pd kehidupan sehari-hari, dia juga lovely brother kok. Dan sesuai usia, skrg ini gue juga sudah nggak defensif soal posisi adik itu. Gue pernah jadi editor in chief media internasional, lalu jadi kepala divisi di grup media besar, tetap di satu keadaan gue "hanya" dikenal sebagai "adiknya Ary." Ya sudahlah. Paling nggak dgn segala pencapaian gue itu, nggak malu2in lah dikenal sbg adiknya kakak gue. Dan nggak bakalan ada yg nuduh gue mendompleng karena bidang kami yg beda banget.
Yg jelas dia sayang bener sama Aria. To the moon and back. Yg artinya segala kebutuhan anak gue itu (dan ibunya kalau perlu) akan bisa dibereskan dengan gembira ria. Selesai semua urusan kan.
Barusan, dan ini terjadi sekitar 35 tahun setelah percakapan the eyangs, ada yg menegur gue di FB dgn, "mbak ini adiknya Ary ya?" Hahaha... OMG.
Btw, kalau gue sbg anak kedua aja merasa segitunya soal kakak gue... apa kabar adik gue ya? Hahaha....
Thursday, April 02, 2015
Lovely Flowers
Bunganya, yg minggu lalu, masih bagus. Makin merekah segar. Warnanya makin merah, ada sisi yang menghitam. Keren deh. Sudah seminggu, tapi masih oke.
Kebayang itu bunga dikirim pakai cinta, diterima dgn penuh cinta, dirawat pakai cinta... banyak yaaa.. cintanya, makanya mungkin awet ya. Seawet cintanya yg sdh sekian tahun itu lho.
Lhaaa.... knp gue jd dangdut ya. Hahahaha....
Kebayang itu bunga dikirim pakai cinta, diterima dgn penuh cinta, dirawat pakai cinta... banyak yaaa.. cintanya, makanya mungkin awet ya. Seawet cintanya yg sdh sekian tahun itu lho.
Lhaaa.... knp gue jd dangdut ya. Hahahaha....
Wednesday, April 01, 2015
Bekal
Tadi pagi bikin dua bekal. Satu buat Aria, satu gue bawa ke kantor (maunya).
Ternyata Aria suka. Jadi sepanjang jalan ke sekolah, dia cemilin bekal gue. Habis.
"Punyaku masih kusimpan untuk nanti pas istirahat."
Saiki aku luwe.
Ternyata Aria suka. Jadi sepanjang jalan ke sekolah, dia cemilin bekal gue. Habis.
"Punyaku masih kusimpan untuk nanti pas istirahat."
Saiki aku luwe.
Tuesday, March 31, 2015
(Berencana) Membuang Ratjoen
Duluuuu... berarti 10 tahun yg lalu... sebelum hamil Aria, gue pernah iseng nyoba detox badan. Caranya dengan hanya minum jus saja selama 3 hari. Hasilnya? Waktu itu perut kayak argo taksi yg restart, balik ke nol. Jadi setelah detox trus nggak bisa makan banyak krn cepet banget kenyangnya. Efeknya waktu itu sih turun berat badan bbrp kilo (yg kemudian segera naik lagi dong krn hamil).
Nah, mengingat rasa enteng yg menyenangkan itu... tergoda lagi nih buat detox. Jadilah awal bulan Maret siap2 mau cleaning my body. Krn sudah zaman modern, ada cold pressed juice. Nah, lebih sip nih. Dan skrg ada juga catering yg siap menyediakan menu2 detox. Ciamik.
Akhirnya telpon salah satu jasa jus yg ada di sekitar Bintaro. Pesen buat detox 3 hari. Dikasih menu macam2 jus per hari: sayur, buah, sayur + buah, plus satu botol kaldu ayam sbg sumber protein.
Hari pertama nggak merasa lapar, nggak merasa lemes, nggak merasa apa2. Biasa saja. Hari kedua baru berasa mati gaya, dan mulai lambat berpikir. Hari ketiga rasanya semakin bodoh dan pelupa.... hahahaha.... Tp krn sudah hari ketiga kan penasaran ya, jd diterusin sampai malam. Oh ya, untuk yg skrg, gue tetep boleh mengunyah, jd in between masih makan buah juga. Aman.
Menunya campuran macam2. Yg gue ingat adalah wortel+jeruk+nanas, kale+nanas+jeruk, bit+nanas+sawi, jeruk+sawi+nanas, pepaya+nanas.
Tapi ternyata umur mmg nggak bisa dikelabui... sehari setelah detox baru berasa badan beneran seperti kehabisan baterai. Lemes tiada tara. Rasanya ngantuuuuuukkkk bgt di kantor. Nggak bisa apa2. Nggak bisa mikir. Pengennya tidur. Yg aneh kalau lagi mau ngapain, trus sampai meja... lupa... aduh! Apakah ini pengaruh umur? Rasanya sih iya ya. Ternyata 10 thn ada bedanya yaaa... hahaha....
Malam itu gue tidur lebih cepat dan sepertinya lebih lelap. Rasanya badan habis dipakai buat ngapain gitu yg sampai energinya terkuras. Padahal yaaaa... secara fisik sih masih gede bingiiiitttsss....
Nah, sedihnya kok efek aftermath-nya nggak spt 10 tahun lalu yg perut macam argo restart. Ora blas. Ini malah minggu lalu dihajar makan ini itu nggak ada berhenti. Oalaaah.... racun di badan blm habis... sdh refill ini sih.
Nah, mengingat rasa enteng yg menyenangkan itu... tergoda lagi nih buat detox. Jadilah awal bulan Maret siap2 mau cleaning my body. Krn sudah zaman modern, ada cold pressed juice. Nah, lebih sip nih. Dan skrg ada juga catering yg siap menyediakan menu2 detox. Ciamik.
Akhirnya telpon salah satu jasa jus yg ada di sekitar Bintaro. Pesen buat detox 3 hari. Dikasih menu macam2 jus per hari: sayur, buah, sayur + buah, plus satu botol kaldu ayam sbg sumber protein.
Hari pertama nggak merasa lapar, nggak merasa lemes, nggak merasa apa2. Biasa saja. Hari kedua baru berasa mati gaya, dan mulai lambat berpikir. Hari ketiga rasanya semakin bodoh dan pelupa.... hahahaha.... Tp krn sudah hari ketiga kan penasaran ya, jd diterusin sampai malam. Oh ya, untuk yg skrg, gue tetep boleh mengunyah, jd in between masih makan buah juga. Aman.
Menunya campuran macam2. Yg gue ingat adalah wortel+jeruk+nanas, kale+nanas+jeruk, bit+nanas+sawi, jeruk+sawi+nanas, pepaya+nanas.
Tapi ternyata umur mmg nggak bisa dikelabui... sehari setelah detox baru berasa badan beneran seperti kehabisan baterai. Lemes tiada tara. Rasanya ngantuuuuuukkkk bgt di kantor. Nggak bisa apa2. Nggak bisa mikir. Pengennya tidur. Yg aneh kalau lagi mau ngapain, trus sampai meja... lupa... aduh! Apakah ini pengaruh umur? Rasanya sih iya ya. Ternyata 10 thn ada bedanya yaaa... hahaha....
Malam itu gue tidur lebih cepat dan sepertinya lebih lelap. Rasanya badan habis dipakai buat ngapain gitu yg sampai energinya terkuras. Padahal yaaaa... secara fisik sih masih gede bingiiiitttsss....
Nah, sedihnya kok efek aftermath-nya nggak spt 10 tahun lalu yg perut macam argo restart. Ora blas. Ini malah minggu lalu dihajar makan ini itu nggak ada berhenti. Oalaaah.... racun di badan blm habis... sdh refill ini sih.
Monday, March 30, 2015
Loading Week
Apaan yg loading? Akyuuu... hahaha....
Sumpah minggu kemarin isinya makan2 melulu. Dan kesemuanya brutal... :D
Senin-Selasa-Rabu ya udahlah ya.
Kamis, birthday lunch di kantor. Menunya: nasi gemes, ayam panggang, urap, gudeg krecek. Enak tenan.
Jumat, farewell dinner di Rasane. Menunya seafood. Mantep.
Sabtu, birthday bash di Playhouse sm Londsdalers. Pecel madiun, ayam & tempe bacem plus kerupuk karak. Kenyang banget.
Minggu, family dinner di ThreeBuns. Burger and so on. Wiiiiih... seru banget ini badan di-abused dgn makanan2.
Akhirnya tadi pagi memaksa diri jalan 3km dan planking 30 detik. Menebus dosa!
Sumpah minggu kemarin isinya makan2 melulu. Dan kesemuanya brutal... :D
Senin-Selasa-Rabu ya udahlah ya.
Kamis, birthday lunch di kantor. Menunya: nasi gemes, ayam panggang, urap, gudeg krecek. Enak tenan.
Jumat, farewell dinner di Rasane. Menunya seafood. Mantep.
Sabtu, birthday bash di Playhouse sm Londsdalers. Pecel madiun, ayam & tempe bacem plus kerupuk karak. Kenyang banget.
Minggu, family dinner di ThreeBuns. Burger and so on. Wiiiiih... seru banget ini badan di-abused dgn makanan2.
Akhirnya tadi pagi memaksa diri jalan 3km dan planking 30 detik. Menebus dosa!
Friday, March 27, 2015
The Aftermath
If you keep running away, things will never be solved. And left me wonder how someone once said loving me that much can hurt me that bad.
Thursday, March 26, 2015
I Wish You Were Here
A pretty bouquet landed in my messy desk this morning. It is very beautiful, just as I always wanted. I still cannot believe someone was very kind sending it to me. At the moment, I reread the card for maybe hundreds of time. Longing to kiss the sender. And tears are streaming down from my eyes.
Since I cannot call him, I better say it here in my blog: Thank you very much. You know I love you so much too.
Since I cannot call him, I better say it here in my blog: Thank you very much. You know I love you so much too.
Friday, March 20, 2015
Matahari
Di luar
Bersinar
Terang benderang
Panasnya menghangatkan
Mengaburkan embun
Menghilangkan lembab
Dia, di luar
Kamu di mana?
Bersinar
Terang benderang
Panasnya menghangatkan
Mengaburkan embun
Menghilangkan lembab
Dia, di luar
Kamu di mana?
Wednesday, March 18, 2015
I Knew
"What? He didn't fight for you? After all this time?"
"Oh yeah, thanks for reminding me again that it sucks."
(Percakapan siang hari sambil makan kepiting saus padang (dia) dan sebotol kale-nanas-lemon cold pressed juice (gue))
"Oh yeah, thanks for reminding me again that it sucks."
(Percakapan siang hari sambil makan kepiting saus padang (dia) dan sebotol kale-nanas-lemon cold pressed juice (gue))
Monday, March 16, 2015
Wednesday, March 11, 2015
Bergaul & Bergembira
Entah kenapa sejak akhir Februari gue membiarkan diri bergaul dan bergembira. Artinya? Gue rajin datang ke undangan.
Sejak itu, gue sudah datang ke beberapa acara. Dan selalu berakhir dengan gembira. Bahkan meskipun menuju ke tempat acara (dan pulang ke rumah) adalah PR yg lumayan "ya ampun", tetap gue gembira.
Acara apa saja? Macem2. Ada fashion show, launching program, arisan, ulang tahun. Kadang berasa niat bener karena venue yg jauuuuuh dan ke sana pasti maceeeeettt.... herannya kok tetep senang.
Ada acara yang bikin gue gembira karena ketemu ibu2 sosialita lama. Mereka yg dulu gue foto waktu di majalah dewi. Dan kemarin mereka serombongan ketawa2, ingat masa lalu itu. Saat mrk masih semangat difoto dan gue masih semangat memfoto. Saat ini kok ya kami sama2 santai... hahaha... nggak ada yg minta difoto atau memfoto. Jadi hanya saling ngakak2.
Trus ada juga acara yg mempertemukan dgn teman lama banget, teman yg lama nggak ketemu, teman dari Salatiga, teman nulis buku, teman dari kantor lama, juga teman2 baru... Ternyata memang senang ya ngobrol2 ngalur ngidul nggak jelas. Ngomongin yg sekadar lewat omong kosong nggak mutu.
Memang, di antara yg ketemu2 itu ada juga cerita sedih. Si anu yang pacarnya baru meninggal atau si itu yg harus operasi tumor otak. Dan semua membuat gue bersyukur. Alhamdulillah diberi kesehatan kelengkapan kebahagiaan.
Jadi memang ketemuan2 itu ada gunanya. Dan yang penting gue senang.
Sejak itu, gue sudah datang ke beberapa acara. Dan selalu berakhir dengan gembira. Bahkan meskipun menuju ke tempat acara (dan pulang ke rumah) adalah PR yg lumayan "ya ampun", tetap gue gembira.
Acara apa saja? Macem2. Ada fashion show, launching program, arisan, ulang tahun. Kadang berasa niat bener karena venue yg jauuuuuh dan ke sana pasti maceeeeettt.... herannya kok tetep senang.
Ada acara yang bikin gue gembira karena ketemu ibu2 sosialita lama. Mereka yg dulu gue foto waktu di majalah dewi. Dan kemarin mereka serombongan ketawa2, ingat masa lalu itu. Saat mrk masih semangat difoto dan gue masih semangat memfoto. Saat ini kok ya kami sama2 santai... hahaha... nggak ada yg minta difoto atau memfoto. Jadi hanya saling ngakak2.
Trus ada juga acara yg mempertemukan dgn teman lama banget, teman yg lama nggak ketemu, teman dari Salatiga, teman nulis buku, teman dari kantor lama, juga teman2 baru... Ternyata memang senang ya ngobrol2 ngalur ngidul nggak jelas. Ngomongin yg sekadar lewat omong kosong nggak mutu.
Memang, di antara yg ketemu2 itu ada juga cerita sedih. Si anu yang pacarnya baru meninggal atau si itu yg harus operasi tumor otak. Dan semua membuat gue bersyukur. Alhamdulillah diberi kesehatan kelengkapan kebahagiaan.
Jadi memang ketemuan2 itu ada gunanya. Dan yang penting gue senang.
Thursday, March 05, 2015
Monday, March 02, 2015
I Hate This Feeling
Menjelang akhir 2014, ada tante yg dirawat di RS. Tante ini istrinya adik bokap yg bungsu. Kami tidak pernah terlalu dekat, tp juga nggak jauh2 amat. Sewajarnya saja sbg keluarga yg tinggal di kota besar. Kadang tanpa sadar hanya ketemu setahun sekali atau dua kali. Nyokap yg sering telpon2an... namanya ibu2 trus bisa ngobrol omong kosong gitu sampai lama.
Nah, sekitar bulan November ada kabar tante dirawat di RS. Pdh yg namanya tante, masuk angin aja kayaknya jarang deh. Tp kok sampai dirawat? Katanya HB drop bgt.
Sesuatu tiba2 gue rasakan. Nggak nyaman dan nggak asyik waktu dengar berita itu. Dan perasaan nggak enak ini bikin gue segera meluncur ke Bekasi, di hari kerja, jenguk si tante. Waktu itu sih kondisinya masih terlihat ok. Bisa ketawa2. Entah kenapa gue kok nggak enak?
Seminggu kemudian, tante dipindah ke RSCM. Gosip beredar beliau sakit kanker darah. Gosip? Iya, krn om nggak pernah mau cerita yg sebetulnya. Om ini persis bokap gue. Rada antik in a sweet way. Selalu berusaha nggak merepotkan orang lain. Nggak mau orang lain ikut2 mikirin masalahnya. Jadi macam sakitnya tante, disembunyikan sampai lama banget dari keluarga. Lha... agak disesali adalah krn selama disembunyikan, tindakan untuk pasien jd nggak maksimal. Oh well... things happened.
Selama tante di RSCM, gue pun sering merasa nggak enak. Dan jadinya lumayan sering ngajak nyokap buat jenguk. Dan ternyata perasaan nggak enak ini berujung pada hal yang menyedihkan. Tanggal 2 Januari, tante kritis, koma. Gue masih sempat jenguk waktu koma. Berkomunikasi secukupnya. Sambil menyesali om yg nggak membolehkan ada hiburan di kamar rawat. Jd bunyi alat infus dan segala printilan yg tit.. tit... tit... itu bikin depresi! Entah kenapa... Pdh orang koma kan bisa mendengar? Masak disuruh denger bunyi alat? Hmm...
Tanggal 5 pagi, ternyata tante meninggal. Innalillahi wa inailaihi rajiuun.
Apakah itu yg menyebabkan gue merasa nggak enak? Nggak tahu.
Yg jelas, tadi pagi gue dikasih tau ada salah satu teman yg masuk RS. Bukan teman dekat bukan juga jauh. Ya... wajar2 saja. Tapi lagi2 gue punya perasaan nggak enak.
Ya Allah... hamba percaya Kau selalu merencakan yang terbaik. Amin.
Nah, sekitar bulan November ada kabar tante dirawat di RS. Pdh yg namanya tante, masuk angin aja kayaknya jarang deh. Tp kok sampai dirawat? Katanya HB drop bgt.
Sesuatu tiba2 gue rasakan. Nggak nyaman dan nggak asyik waktu dengar berita itu. Dan perasaan nggak enak ini bikin gue segera meluncur ke Bekasi, di hari kerja, jenguk si tante. Waktu itu sih kondisinya masih terlihat ok. Bisa ketawa2. Entah kenapa gue kok nggak enak?
Seminggu kemudian, tante dipindah ke RSCM. Gosip beredar beliau sakit kanker darah. Gosip? Iya, krn om nggak pernah mau cerita yg sebetulnya. Om ini persis bokap gue. Rada antik in a sweet way. Selalu berusaha nggak merepotkan orang lain. Nggak mau orang lain ikut2 mikirin masalahnya. Jadi macam sakitnya tante, disembunyikan sampai lama banget dari keluarga. Lha... agak disesali adalah krn selama disembunyikan, tindakan untuk pasien jd nggak maksimal. Oh well... things happened.
Selama tante di RSCM, gue pun sering merasa nggak enak. Dan jadinya lumayan sering ngajak nyokap buat jenguk. Dan ternyata perasaan nggak enak ini berujung pada hal yang menyedihkan. Tanggal 2 Januari, tante kritis, koma. Gue masih sempat jenguk waktu koma. Berkomunikasi secukupnya. Sambil menyesali om yg nggak membolehkan ada hiburan di kamar rawat. Jd bunyi alat infus dan segala printilan yg tit.. tit... tit... itu bikin depresi! Entah kenapa... Pdh orang koma kan bisa mendengar? Masak disuruh denger bunyi alat? Hmm...
Tanggal 5 pagi, ternyata tante meninggal. Innalillahi wa inailaihi rajiuun.
Apakah itu yg menyebabkan gue merasa nggak enak? Nggak tahu.
Yg jelas, tadi pagi gue dikasih tau ada salah satu teman yg masuk RS. Bukan teman dekat bukan juga jauh. Ya... wajar2 saja. Tapi lagi2 gue punya perasaan nggak enak.
Ya Allah... hamba percaya Kau selalu merencakan yang terbaik. Amin.
Tuesday, February 24, 2015
Big City Girl
Kemarin. Grand Indonesia jam 21.45. Mau pulang.
Pilihan rute:
1. Thamrin - Sudirman - Semanggi - Pakubuwono - Gandaria - Tanah Kusir - Tol JORR - tol BsD. (Perkiraan waktu tempuh 1 jam 35 menit... krn hrs saingan sama motor, kopaja, transJ, taksi kosong yg pasti jalannya sak enak udele sing nyetir, kira2 50km, bayar tol Rp15500)
2. Thamrin - Sudirman - Semanggi - Toldakot - Tol Tomang - Tol JORR - Tol BsD. (Perkiraan waktu tempuh 50 menit, sepi jalannya, kira-kira 62km, bayar tol Rp26000)
Akhirnya pilih yg kedua. Jam 10.20 sudah di rumah.
Bayar tol lebih mahal, pakai bensin lebih banyak... hmm... spending is part of living in big city right?
Tp bersyukur bisa di rumah lebih cepat buat cium2 si ganteng yg tetap lucu meskipun sdh tidur.
Pilihan rute:
1. Thamrin - Sudirman - Semanggi - Pakubuwono - Gandaria - Tanah Kusir - Tol JORR - tol BsD. (Perkiraan waktu tempuh 1 jam 35 menit... krn hrs saingan sama motor, kopaja, transJ, taksi kosong yg pasti jalannya sak enak udele sing nyetir, kira2 50km, bayar tol Rp15500)
2. Thamrin - Sudirman - Semanggi - Toldakot - Tol Tomang - Tol JORR - Tol BsD. (Perkiraan waktu tempuh 50 menit, sepi jalannya, kira-kira 62km, bayar tol Rp26000)
Akhirnya pilih yg kedua. Jam 10.20 sudah di rumah.
Bayar tol lebih mahal, pakai bensin lebih banyak... hmm... spending is part of living in big city right?
Tp bersyukur bisa di rumah lebih cepat buat cium2 si ganteng yg tetap lucu meskipun sdh tidur.
Monday, February 23, 2015
A Good Deed
Menolak kencan dgn seorang ayah yg statusnya masih suami orang. Semoga dicatat malaikat sbg perbuatan baik. Amin.
Sebetulnya, agak gemes membayangkan ada suami yg asyik2 ngajak dating perempuan yg bukan istrinya. Trus nanti kalau pulang, ketemu istrinya, ngomong apa ya dia? Biasa saja kayak nggak ada apa2? Heh? Kok bisa sih?
Mudah2an segera disadarkan bahwa hidup harus dimanfaatkan untuk berbuat baik, dan tipu2 bukan salah satunya.
Sebetulnya, agak gemes membayangkan ada suami yg asyik2 ngajak dating perempuan yg bukan istrinya. Trus nanti kalau pulang, ketemu istrinya, ngomong apa ya dia? Biasa saja kayak nggak ada apa2? Heh? Kok bisa sih?
Mudah2an segera disadarkan bahwa hidup harus dimanfaatkan untuk berbuat baik, dan tipu2 bukan salah satunya.
Friday, February 20, 2015
Monday, February 16, 2015
Jodoh Pasti Bertemu
Andai engkau tau betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau minta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu
Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
(Ku tuliskan di nadiku, kau yang tercipta untukku, akan memilikimu)
Ooooooh
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
(Jika aku bukan jalanmu)
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu
(Ter-Afgan-isme. Basian hari Sabtu. Pas bener. #curcol)
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau minta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu
Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya
(Ku tuliskan di nadiku, kau yang tercipta untukku, akan memilikimu)
Ooooooh
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
(Jika aku bukan jalanmu)
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu
Jodoh pasti bertemu
(Ter-Afgan-isme. Basian hari Sabtu. Pas bener. #curcol)
Friday, January 16, 2015
Monday, January 12, 2015
Karena Nggak Punya No Telp Batman...
Selamat Tahun Baru 2015!
Resolusi... ra usah wis. Berdoa saja semoga lancar semua yaaaa... Termasuk untuk hal2 yg printilan... semoga nggak ada kendala. Amiiiin.
Jadi ya, ngomongin printilan... barusan aja habis antar Aria, mobil mogok. Ngambek. Si kentang nggak mau start setelah isi bensin. Hadeeeehhh... Dibantu dorong sama mas2 pom bensin ke pinggiran. Parkir aja dulu.
Trus piye? Karena nggak bisa benerin sendiri... harus cari bala bantuan. Pagi begitu... bengkel juga belum buka. Panggil Batman? Nggak punya nomornya. Idiiiiihhh...
Alhamdulillah baru inget... punya kartu ERA. Emergency Road Assistant. Cakep. Jd waktu beli si kentang dulu. Gratis membership 2 tahun. Kok yaaaa... alhamdulillah ingat utk perpanjang itu kartu... Desember kemarin hehehehe.... Nggak terlalu mahal juga. 250rb utk 2 tahun. Ya udahlah... nggak sampai 12 rb per bulan kan? Demi kenyamanan hidup.
Dan bener. Telp Era. Tunggu 10 menit. Teknisi telpon, masih di tol Pd Indah katanya. Tanya posisi gue. Wis. Sekitar 25 menit kemudian hadirlah batman berseragam merah putih hahahaha... Bawa mobil besar yg isinya uba rampe perbengkelan.
Kutak katik sebentar, ternyata ada yg kendor di motor starter, dan setelah dia cek, aki juga tinggal dikiiiiit bgt. Daripada mati lagi, sudahlah ganti sekalian. Dia sudah bawa!! Yo wis, pagi2 zakat aki jadinya.
Nggak sampai 30 menit, semua kelar. Tinggal tunjukin kartu era & bayar aki. Beres deh. Bisa lanjut ke kantor. Sip banget!
Itulah salah satu yg gue pelajari, sejak jadi single mom. Support group! Berhubung nggak punya no telp batman... jd "ngoleksi" no telp batman lain yg stand by 24 jam. Satpam kompleks... rumah sakit... asuransi ini itu... road assistant.... memang untuk itu hrs ada biaya tambahan yang nggak sedikit. Tapi nggak terlalu banyak juga dibanding kenyamanan dan ketenangan kan yaaaa....
Tempo hari si kentang sumbing bibirnya, nyangkut di beton parkiran. Sat set bawa ke bengkel... 200rb aja buat ganti semua bemper depan. Lha kalau nggak punya asuransi kan yo dah nek... kudu bayar piro?
Jadi yaaaa... ibu2... (dan bapak2 juga sih), itulah pentingnya perlindungan. Hayoooo... jangan pelit2 sama asuransi yaaaa....
Resolusi... ra usah wis. Berdoa saja semoga lancar semua yaaaa... Termasuk untuk hal2 yg printilan... semoga nggak ada kendala. Amiiiin.
Jadi ya, ngomongin printilan... barusan aja habis antar Aria, mobil mogok. Ngambek. Si kentang nggak mau start setelah isi bensin. Hadeeeehhh... Dibantu dorong sama mas2 pom bensin ke pinggiran. Parkir aja dulu.
Trus piye? Karena nggak bisa benerin sendiri... harus cari bala bantuan. Pagi begitu... bengkel juga belum buka. Panggil Batman? Nggak punya nomornya. Idiiiiihhh...
Alhamdulillah baru inget... punya kartu ERA. Emergency Road Assistant. Cakep. Jd waktu beli si kentang dulu. Gratis membership 2 tahun. Kok yaaaa... alhamdulillah ingat utk perpanjang itu kartu... Desember kemarin hehehehe.... Nggak terlalu mahal juga. 250rb utk 2 tahun. Ya udahlah... nggak sampai 12 rb per bulan kan? Demi kenyamanan hidup.
Dan bener. Telp Era. Tunggu 10 menit. Teknisi telpon, masih di tol Pd Indah katanya. Tanya posisi gue. Wis. Sekitar 25 menit kemudian hadirlah batman berseragam merah putih hahahaha... Bawa mobil besar yg isinya uba rampe perbengkelan.
Kutak katik sebentar, ternyata ada yg kendor di motor starter, dan setelah dia cek, aki juga tinggal dikiiiiit bgt. Daripada mati lagi, sudahlah ganti sekalian. Dia sudah bawa!! Yo wis, pagi2 zakat aki jadinya.
Nggak sampai 30 menit, semua kelar. Tinggal tunjukin kartu era & bayar aki. Beres deh. Bisa lanjut ke kantor. Sip banget!
Itulah salah satu yg gue pelajari, sejak jadi single mom. Support group! Berhubung nggak punya no telp batman... jd "ngoleksi" no telp batman lain yg stand by 24 jam. Satpam kompleks... rumah sakit... asuransi ini itu... road assistant.... memang untuk itu hrs ada biaya tambahan yang nggak sedikit. Tapi nggak terlalu banyak juga dibanding kenyamanan dan ketenangan kan yaaaa....
Tempo hari si kentang sumbing bibirnya, nyangkut di beton parkiran. Sat set bawa ke bengkel... 200rb aja buat ganti semua bemper depan. Lha kalau nggak punya asuransi kan yo dah nek... kudu bayar piro?
Jadi yaaaa... ibu2... (dan bapak2 juga sih), itulah pentingnya perlindungan. Hayoooo... jangan pelit2 sama asuransi yaaaa....
Tuesday, December 23, 2014
Do You Need Other Reason?
Weekend kemarin agak "ternoda" karena sabtu & minggu ada bbrp whatsapp yg menurut gue cukup mengganggu.
"Mbak, ini liputannya mau seperti apa?"
"Mbak, jatahku berapa halaman?"
"Mbak, ini acaranya sampai malam lho, aku harus tunggu selesai ya?"
Deelel semacam itu. Yg buat gue menggemaskan. Ketahuan kan, itu whatsapp dari reporter. Hadeeeehhh... Gue dulu juga reporter kali. Dan seiring berjalannya waktu tentu menjadi dewasa dan bisa berpikir lebih luas. Menurut gue, whatsapp itu lebih mencerminkan reporter yg malas dan ogah rugi. Sebenernya salah sendiri sih kalau rugi hahahaha... soalnya bloon sih nggak mau belajar *wek*.
Jadi akhirnya gue panggil si reporter ini. Kita ngobrol dari hati ke hati. Dan... memang ada beberapa catatan yg menurut gue perlu dia tahu.
Gue bilang ke dia bahwa sebetulnya dia harus lebih memikirkan dirinya sendiri, timbang mikirin ada penugasan harus ini harus itu. Artinya? Dia sudah keluar rumah di akhir pekan. Nggak bisa pacaran tenang karena hrs liputan. Panas2an di JIEXPO. Nah, itu kan sudah rugi banget ya. Kalau dia mengisi waktu liputannya dengan nggerundel krn acara jelek, panitia nggak puguh, kebanyakan seremoni yg bikin bosen, panas banget venue-nya... apa nggak makin rugi?
Kalau sdh terjebak di hal seperti itu, nggak ada cara lain untuk survive, selain total nyemplung aja. Ya nggak sih. It is either you join the dance or you just watch in sorrow. Gue sih akan milih join the dance. Kan bisa ngobrol sama peserta acara. Ngobrol sama penjaga stand. Ngobrol sama petugas parkir juga oke aja, tanya pendapatan dia kalau ada event bisa naik apa enggak. Jadi artikel juga kan? Ah itu sih gimana kita mengatur kepala dan badan kita spy bisa lebih bermanfaat.
Dan bukan masalah dua halaman, satu halaman, atau satu kolom. Seharusnya setiap reporter (penulis) bisa punya banyak sekali data, yg kalau nggak dimuat di medianya ya dia muat di tempat lain. Ya kan? Nge-blog juga boleh deh. Yg pasti harus mendapat sesuatu yg berguna.
Jangan sudah keluar rumah di hari minggu trus nggak dapet apa2, cuma kepanasan sampai kulit ungu doang. Rugiiiii....
At the end, sebagai perempuan, kita akan sampai pada titik harus ngurus keluarga, akan punya anak (Insya Allah), harus urus anak. Kalau kita ingin berkarir di luar rumah, ya bagus aja. Tapiiiii harus jadi yg paling moncer dong. Harus maksimal. Sudah ninggal anak trus di luar rumah gitu2 aja? Hissss... mending nggak usah keluar rumah. Rugi kok dua kali.
"Mbak, ini liputannya mau seperti apa?"
"Mbak, jatahku berapa halaman?"
"Mbak, ini acaranya sampai malam lho, aku harus tunggu selesai ya?"
Deelel semacam itu. Yg buat gue menggemaskan. Ketahuan kan, itu whatsapp dari reporter. Hadeeeehhh... Gue dulu juga reporter kali. Dan seiring berjalannya waktu tentu menjadi dewasa dan bisa berpikir lebih luas. Menurut gue, whatsapp itu lebih mencerminkan reporter yg malas dan ogah rugi. Sebenernya salah sendiri sih kalau rugi hahahaha... soalnya bloon sih nggak mau belajar *wek*.
Jadi akhirnya gue panggil si reporter ini. Kita ngobrol dari hati ke hati. Dan... memang ada beberapa catatan yg menurut gue perlu dia tahu.
Gue bilang ke dia bahwa sebetulnya dia harus lebih memikirkan dirinya sendiri, timbang mikirin ada penugasan harus ini harus itu. Artinya? Dia sudah keluar rumah di akhir pekan. Nggak bisa pacaran tenang karena hrs liputan. Panas2an di JIEXPO. Nah, itu kan sudah rugi banget ya. Kalau dia mengisi waktu liputannya dengan nggerundel krn acara jelek, panitia nggak puguh, kebanyakan seremoni yg bikin bosen, panas banget venue-nya... apa nggak makin rugi?
Kalau sdh terjebak di hal seperti itu, nggak ada cara lain untuk survive, selain total nyemplung aja. Ya nggak sih. It is either you join the dance or you just watch in sorrow. Gue sih akan milih join the dance. Kan bisa ngobrol sama peserta acara. Ngobrol sama penjaga stand. Ngobrol sama petugas parkir juga oke aja, tanya pendapatan dia kalau ada event bisa naik apa enggak. Jadi artikel juga kan? Ah itu sih gimana kita mengatur kepala dan badan kita spy bisa lebih bermanfaat.
Dan bukan masalah dua halaman, satu halaman, atau satu kolom. Seharusnya setiap reporter (penulis) bisa punya banyak sekali data, yg kalau nggak dimuat di medianya ya dia muat di tempat lain. Ya kan? Nge-blog juga boleh deh. Yg pasti harus mendapat sesuatu yg berguna.
Jangan sudah keluar rumah di hari minggu trus nggak dapet apa2, cuma kepanasan sampai kulit ungu doang. Rugiiiii....
At the end, sebagai perempuan, kita akan sampai pada titik harus ngurus keluarga, akan punya anak (Insya Allah), harus urus anak. Kalau kita ingin berkarir di luar rumah, ya bagus aja. Tapiiiii harus jadi yg paling moncer dong. Harus maksimal. Sudah ninggal anak trus di luar rumah gitu2 aja? Hissss... mending nggak usah keluar rumah. Rugi kok dua kali.
Friday, November 21, 2014
Huhuhu... Sedihnya
Sudah merencanakan ini itu bareng OmD. Yg seharusnya siang tadi terbang ke Jkt. Aria pun sdh senang sekali.
Trus, kok aneh sampai jam 4 nggak ada kabar. Eh... bener... baru saja terima kiriman foto, yg ditungguin lagi diinfus, di Siloam KL, krn pingsan di bandara. Mau nangis gerung2 rasanya.
Inilah ya yg disebut manusia berencana, Tuhan menentukan. Selama ini ngomong doang, gampang bener. Begitu mengalami rasanya mak nyuuussss....
Skrg nungguin dokter di sana observasi. Mudah2an sih hanya kelelahan saja. Jengkel juga mbayangin kelelahan kok bisa sampai begitu. Ignorance sdh tingkat akut kayaknya si OmD. Huh.
Udah ah, mau nangis dulu. Trus gimana juga caranya ngasih tau Aria ya? Huhuhu....
Trus, kok aneh sampai jam 4 nggak ada kabar. Eh... bener... baru saja terima kiriman foto, yg ditungguin lagi diinfus, di Siloam KL, krn pingsan di bandara. Mau nangis gerung2 rasanya.
Inilah ya yg disebut manusia berencana, Tuhan menentukan. Selama ini ngomong doang, gampang bener. Begitu mengalami rasanya mak nyuuussss....
Skrg nungguin dokter di sana observasi. Mudah2an sih hanya kelelahan saja. Jengkel juga mbayangin kelelahan kok bisa sampai begitu. Ignorance sdh tingkat akut kayaknya si OmD. Huh.
Udah ah, mau nangis dulu. Trus gimana juga caranya ngasih tau Aria ya? Huhuhu....
Monday, November 17, 2014
Don't Be So Mellow, Yellow....
Ceritanya seminggu kemarin ada beberapa kegiatan yg tidak bisa gue ikutin. Kenapa? Krn harus pulang cepat, Aria minta & gue nggak ada alasan menolak... selagi bisa.
Bisakah? Bisa sih... tapiii....
Jadi, ada beberapa acara yg gue hrs skip. Penting atau tdk acara itu, tergantung dari mana melihatnya.
Satu acara adalah ulang tahun temen yg relatif baru tapi seru. Di Plataran, Dharmawangsa. Satu lagi acara arisan ibu2 eks pembaca majalah gue yg lama, yg masih rutin berkumpul. Satu lagi acara launching buku. Bukunya mungkin ya udahlah... tp penulis dan undangannya adalah teman2 lama yg dijamin seru saat bersama.
Tiga2nya gue nggak dateng.
Dan seperti sdh biasa dilakukan, sejam setelah acara dimulai, foto2 wefie, selfie, live-tweet... bertebaran di mana2. Dan omongan ttg hal itu msh berlangsung terus sampai dua hari setelahnya. Dan gue jadi melihat wajah2 ceria mereka. Teman2 gue itu had a very good time. Yg launching buku... ya gitu aja, tapi after party-nya hore banget. Yg ultah seru banget di tempat yg bagus. Yg arisan gokil2an, sampai malam. Pas ada yg baru jualan kue2... bawa kue banyak... lgs diserbu. Seru aja lihat fotonya.
Dan gue hanya melihat fotonya saja.
Setelah goncang sekali nggak kepuguhan di kantor, gue harus pulang. Nggak ada daya utk senang2 dulu. Oke deh. Dan acara minggu kemarin itu bukan minggu pertama gue absen dari keriaan berjamaah. Fashion week, bazaar indonesia, launching ini itu, undangan ini itu....
Setelah gue pikir... banyak juga acara yg gue lewatkan.
Bukannya gue tidak mensyukuri bisa sama2 Aria. Bukan itu. Gue seneng sekali bisa ketawa2 sama dia, ngobrol ini itu yg remeh temeh (tapi terlihat sbg big deal buat dia). Gue seneng sekali. Hanya ada rasa... apa ya? Aneh gitu. Gue kok nggak punya temen gini ya? It was just the two of us. Gue dan Aria.
Pacar? Hmm... dia kayaknya sdh merasa gue cukup mandiri untuk bisa hidup sendiri nggak perlu diurusin. Bahkan ditelpon pun jarang. Ditengok? Hmm... sudah lama nggak tuh. Dan seminggu kemarin pun dia jg sibuk di kantor, jg dgn teman2nya... weekend sibuk dgn group sepeda. Gue mungkin hanya ada di selipan2 nggak penting dalam pikirannya. Oh well....
At the end of the weekend, gue betul2 merasa gue ini sbg single mom tanpa teman yg sendirian saja. All alone.
Okay, I wish this is just a hormonal issue. Beginilah curhat perempuan yg kurang kasih sayang.... hahaha....
Bisakah? Bisa sih... tapiii....
Jadi, ada beberapa acara yg gue hrs skip. Penting atau tdk acara itu, tergantung dari mana melihatnya.
Satu acara adalah ulang tahun temen yg relatif baru tapi seru. Di Plataran, Dharmawangsa. Satu lagi acara arisan ibu2 eks pembaca majalah gue yg lama, yg masih rutin berkumpul. Satu lagi acara launching buku. Bukunya mungkin ya udahlah... tp penulis dan undangannya adalah teman2 lama yg dijamin seru saat bersama.
Tiga2nya gue nggak dateng.
Dan seperti sdh biasa dilakukan, sejam setelah acara dimulai, foto2 wefie, selfie, live-tweet... bertebaran di mana2. Dan omongan ttg hal itu msh berlangsung terus sampai dua hari setelahnya. Dan gue jadi melihat wajah2 ceria mereka. Teman2 gue itu had a very good time. Yg launching buku... ya gitu aja, tapi after party-nya hore banget. Yg ultah seru banget di tempat yg bagus. Yg arisan gokil2an, sampai malam. Pas ada yg baru jualan kue2... bawa kue banyak... lgs diserbu. Seru aja lihat fotonya.
Dan gue hanya melihat fotonya saja.
Setelah goncang sekali nggak kepuguhan di kantor, gue harus pulang. Nggak ada daya utk senang2 dulu. Oke deh. Dan acara minggu kemarin itu bukan minggu pertama gue absen dari keriaan berjamaah. Fashion week, bazaar indonesia, launching ini itu, undangan ini itu....
Setelah gue pikir... banyak juga acara yg gue lewatkan.
Bukannya gue tidak mensyukuri bisa sama2 Aria. Bukan itu. Gue seneng sekali bisa ketawa2 sama dia, ngobrol ini itu yg remeh temeh (tapi terlihat sbg big deal buat dia). Gue seneng sekali. Hanya ada rasa... apa ya? Aneh gitu. Gue kok nggak punya temen gini ya? It was just the two of us. Gue dan Aria.
Pacar? Hmm... dia kayaknya sdh merasa gue cukup mandiri untuk bisa hidup sendiri nggak perlu diurusin. Bahkan ditelpon pun jarang. Ditengok? Hmm... sudah lama nggak tuh. Dan seminggu kemarin pun dia jg sibuk di kantor, jg dgn teman2nya... weekend sibuk dgn group sepeda. Gue mungkin hanya ada di selipan2 nggak penting dalam pikirannya. Oh well....
At the end of the weekend, gue betul2 merasa gue ini sbg single mom tanpa teman yg sendirian saja. All alone.
Okay, I wish this is just a hormonal issue. Beginilah curhat perempuan yg kurang kasih sayang.... hahaha....
Thursday, October 23, 2014
Selamat Ulang Tahun
Sepuluh tahun yg lalu... Aria lahir. Mungil. Putih. Pendiam. Skrg dia sudah besar. Kulitnya coklat. Cerewet. Tapi masih tetap membanggakan. Dan akan selalu begitu. Selamat ulang tahun, Aria sayang. I love you no matter what.
Wednesday, October 01, 2014
Hello There!
Tadi, di antara riuh rendah deadline dkk... gue sempat baca2 posting lama. Lihat2 foto Aria waktu kecil (dan kurus nggak mau makan). Dan tentu baca2 cerita2 lucu. Juga komen2 dari teman2... Hmm... wherever you are... semoga semua teman2 blogger selalu sehat. Amin.
Trus jadi mikir... apa yg sdh jadi pencapaian sejak nulis2 blog ya? Hmm... kok lama jawabnya? Hahahaha....
Yg dibilang pencapaian itu apa ya? Ukuran tabungan? Daftar hak milik? Jabatan? Embuh yo... opo yo....
Tapi anyway, secara rata2 kehidupan bahagia sejahtera... Alhamdulillah... nggak ada komplen deh. Kesehatan ok. Finansial ok. Karier ok. Nggak ada yg nggak ok... jd nggak boleh berhenti bersyukur.
Alhamdulillah....
Trus jadi mikir... apa yg sdh jadi pencapaian sejak nulis2 blog ya? Hmm... kok lama jawabnya? Hahahaha....
Yg dibilang pencapaian itu apa ya? Ukuran tabungan? Daftar hak milik? Jabatan? Embuh yo... opo yo....
Tapi anyway, secara rata2 kehidupan bahagia sejahtera... Alhamdulillah... nggak ada komplen deh. Kesehatan ok. Finansial ok. Karier ok. Nggak ada yg nggak ok... jd nggak boleh berhenti bersyukur.
Alhamdulillah....
Monday, August 04, 2014
Ramadhan :)
Ahahaha... akhirnya posting lagi setelah sekian lama....
Apa kabar? Semoga sehat.... amiiiin....
Kesehatan memang nomor satu. Kalau besok pilpres... coblos nomor 2. Salam dua jari!
Beberapa saat sebelum Ramadhan, gue dapat kesempatan pergi umroh. Akhirnya! Setelah 11 tahun lalu gagal.... tentu saja kesempatan kali ini sangat menyenangkan buat gue.
Yg skrg pun sempat dag dig dug. Jadi ceritanya, ini adalah program kantor. Ada kerjasama dgn travel biro, jd karyawan bisa berangkat dgn bayar 50% saja. Satu karyawan jatahnya 2. Ya semacam buy 1 get another 1 gitu deh.
Nah, kapan itu sempat dikeluarkan list yg mendaftar program ini. Gue ada di nomor 23. Ya tentu saja gue pikir baru akan berangkat tahun depan. Rencananya berangkat sama Cay.
Ternyata oh ternyata, waktu ada tawaran berangkat bulan Juni, orang2 yg antri di depan gue nggak ada yg bisa. Memang sih, jeda waktu antara dikasih tau dan keberangkatan hanya sekitar 3 minggu. Gue pun awalnya ragu, krn kok ya pas paspor mati. Tapi ya sudah gue iyakan. Urus paspor... sekalian sama punya Aria juga.
Sempat mikir juga: bayar pake apa ya? Soalnya kan bulan Juli sdh pasti hrs bayar sekolah. Tabungan... ada sih.... tapi kok rasanya sayang setelah ngumpulin sekian lama....
Tapi lalu seperti disadarkan kalau semua milik kita ini kan punyanya Allah SWT to yoooo. Aduh maaf ya Allah... ampuni hamba.... tabungan2 itu kan titipan saja. Ya udahlah pake aja kalau mau bertamu ke rumahNya. Kenapa ragu? Belum tentu tahun depan masih ada umur, masih ada kesempatan lagi. Hihihi... aku malu sendiri...
Krn Cay jadwalnya penuh.... Pap yg gantiin. Oke. Ternyata oh ternyata... ganti2 jadwal krn gue sdh ada tiket utk perjalanan me-time yg mepet banget waktunya. Jadi Pap pun batal.
Disebarlah kesempatan satu kursi ini ke grup keluarga. Ada bude yg berminat.Tapi beliau belum punya paspor. Dan tinggal di Malang. Jreng! Pdh keberangkatan tinggal 15 hari lagi. Hihihihi.... Tapi masak gue bilang "nggak boleh"? Kan ya gak mungkin. Jadi akhirnya memang mendaftar berdua. Bude langsung urus paspor (belakangan ternyata nggak langsung ngurus lho, masih pakai galau dulu ngitung tabungan... hahaha). Trus ada kasus MERS. Halaaaah... ono2 wae. Ya sudahlah Bismillah kan niatnya mau ibadah ya.
Tapi memang kalau sudah diabsen sama Gusti Allah harus bertamu... harus sowan... ya memang pasti bisa. Kemarin itu semua berjalan dengan pas. Ya pakai mules2 sih. Mules nunggu paspor jadi, mules nunggu paspor dikirim ke Jakarta, mules nunggu visa... dll.... Hari Selasa berangkat... visa baru keluar Minggu sore. Hehehehe....
Bukan congkak bukan sombong... ini travelnya lumayan. Penerbangan Jkt-Dubai-Madinah. Sampai Madinah pas subuh. Weh... sholat di Masjid Nabawi dgn bercucuran air mata. Embuh ngopo kok iso nangis yo?
Sudah dikasih tahu kalau di Tanah Haram harus pakai baju tertutup. Dan sepertinya sdh cukup tertutup rapat (sampai merasa kayak guling). Tapi oh ternyataaaaa... pria Arab memang buas. Ada satu hari pakai baju warna terang. Maklum centil. Baju biru, kerudung bunga2. Rasanya sih cakep deh. Entah warnanya yg terlalu menarik hati kali ya? Pas nyebrang jalan, ada mobil yg sengaja berhenti, klakson, trus orangnya ngomong apaaa gitu (mana kupaham?). Yg jelas rasanya udah nggak bener deh. Nah... pas pulang dari masjid, Bude mampir toko souvenir. Gue ngikut aja. Eh... lagi nunggui si Bude, tiba2 ada orang dari dalam toko (sepertinya si pemilik toko), keluar, trus dia bengong, trus bilang, "Masya Allah. Subhanallah!" Sambil matanya melihat ke gue dengan buas. Huaaaaa.... Bude langsung berkemas dan kaburlah kami ke hotel! Serem gila. Sejak itu gue hanya keluar dgn baju dan kerudung putih atau hitam. Ora centil blas.
Seperti halnya semua orang yg ke Masjid Nabawi, selalu hrs mencoba ke Raudah. Ini adalah bagian masjid yg dibangung oleh Nabi Muhamad SAW, jadi cikal bakal Masjid Nabawi. Tempatnya sekarang jadi bagian utk sholat laki2. Jadiiii... hanya dibuka utk perempuan pada saat tertentu. Dan spt yg sdh gue bayangkan, yg ada desak2an lah di situ. Konon, siapa yg bisa sholat di situ, doanya akan dikabulkan. Insya Allah. Amiiiiin....
Pertama kali masuk Raudah, bareng sama rombongan. Trus ya masuk bergilir per bagian/rombongan. Ada Malaysia, Turki, Indonesia... macem2. Jadi para petugas (asykar) akan membagi kapan rombongan ini boleh masuk ke Raudah. Nah, suatu saat, selesai sholat Ashar, Bude tuh iseng pengen lihat Raudah lebih jelas. Waktu pertama masuk kan desak2an, jd nggak sempat lihat. Padahal di situ ada makam nabi & sahabatnya. Bude gue tuh model orang yg penasaran banget... hehehe... Berhubung gue sdh janji sama para sepupu utk menjadi escort yg baik, jadi gue ikutin deh. Daripada ilang....
Selesai sholat Ashar, kami berdua melipir2 di tengah2 rombongan. Waktu mereka masuk ke masjid, kami nggak ikut masuk, tp duduk di luarnya. Saat itulah kami bisa mengamati dengan sejelas2nya interior Masjid Nabawi. Termasuk saat atap di dalam dibuka dan ditutup lagi (nggumun... ndeso). Trus pelan2 kami "tergeser" sampai di depan Raudah. Pas di situ, kira2 sejam sebelum Maghrib... jadi tempat itu sdh mau dibersihkan (dan dilarang utk perempuan), krn akan jadi tempat sholat laki-laki. Ternyata... di masa transisi seperti ini malah petugasnya santai. Jadi kami bisa masuk Raudah pelan2... meskipun masih desak2an, kami bisa milih tempat yg lebih lega untuk sholat. Dan setelah sholat, kami bisa melihat jelas tempat2 penting di dalam masjid. Seperti tempat azan dan tempat imam. Weleh... untung gue punya Bude yg petualang! Hahahaha....
Besoknya, karena Bude pengen tahu Makam Baqi, akhirnya kami keliling Masjid Nabawi. Lagi2 Bude hahahaha.... Konon, perempuan nggak boleh masuk makam. Dan memang makam di Arab kan bukan model yg bisa dikunjungi seperti di Indonesia. Bentuk makam hanya semacam luasan tanah berpagar tinggi yang ada batu2 utk penanda. Kalau ada jemaah yg meninggal di Madinah, akan langsung dimakamkan di sini. Makanya, setiap selesai sholat wajib, pasti ada sholat jenazah.
Nah, gara2 ke makam ini, kami akhirnya keliling Masjid Nabawi. Jadi bisa lihat Raudah dari sisi luar. Nggak tau deh tuh jalannya berapa jauh. Yg jelas begitu sampai di hotel, kaki rasanya ketuker yg kanan dan kiri... hahahaha....
Tiga hari di Madinah. Pindah ke Mekkah naik bus. Jadi ambil miqot (niat umroh) di Bir Ali. Baru tahu kalau yg punya kostum wajib utk umroh hanya laki2 (pakai ihram). Kalau perempuan bebas mau pakai baju warna apa saja, yg penting tertutup rapat. Hanya menampilkan wajah, telapak tangan dan kaki sebatas mata kaki. Horeeeee... bisa centil di Masjidil Haram. Hahaha....
Sampai di Mekkah jam 11 malam. Check in hotel dan langsung ke masjid. Umroh yg pertama. Lihat Kabah udah nggak tau mau bilang apa. Speechless akhirnya bisa sampai di Baitullah. Ndomblong. Doa yg sdh dihapal ambyaaaarrrr... hanya ingat doa sapu jagad saja. Alhamdulillah banget umroh jam 2 selesai. Rasanya sudah campur aduk antara haru dan juga capek luar biasa. Bersyukur banget bisa ke sana.
Yg menyenangkan, di Masjidil Haram tidak ada waktu khusus untuk sholat sunnah. Tahajud bisa kapan saja. Sholat Duha bisa kapan saja. Wah, syedap. Silakan menanggok pahala sebanyaknya. Sekuatnya. Sholat sunnah tahiyat masjid bisa diganti dengan Thawaf (keliling Kabah 7 kali). Menyenangkan.
Karena sedang dibangun, ada banyak alat berat "berserakan" di Masjidil Haram. Tapi ada deck sementara yg dibangun keliling Kabah. Nah, gue sih lebih suka thawaf di atas deck. Meskipun kelihatannya lebih jauh, tapi lebih sepi jadi lebih nyaman. Maklum yaaa... gue kan ga suka uwel2an....
Sejak baru pertama datang, Bude sudah gemes aja pengen cium Hajar Aswad. Tapi lalu gue berhasil menenangkan. Karena toh kami akan bbrp hari di sana, baiknya pertama konsentrasi umroh dulu. Besoknya bisa datang utk sholat wajib, lalu foto2. Kalau mau coba cium Hajar Aswad atau mau pegang Rukun Yamani juga bisa. Yg penting pertama ke sana umroh dulu, mumpung masih ada tenaga.
Jadi besoknya baru kami menjelajah Masjidil Haram utk yg lain2 selain umroh. Alhamdulillah bisa sholat di Hijr Ismail. Konon ini juga tempat mustajab utk berdoa. Ya gitu deh, krn terlalu excited malah lupa nenuwun macam2... yg penting bersyukur alhamdulillah.... hehehe.... Masih ingat mendoakan kesehatan orang2 tersayang. Tapi sungguh terlupa meminta jodoh. Hiks.
Ternyata memang lebih enak kalau umroh ke Mekkah dulu (seperti Jokowi hehehe). Krn memang umroh yg wajib ya di Masjidil Haram. Kemarin itu karena sdh agak lama di Madinah, jadi perlu tekad kuat utk bisa selesaikan ibadah umrohnya. Alhamdulillah bisa umroh 2x.
Sempat juga keliling2, termasuk ke Arafah, melihat tempat haji. Kalau lagi nggak dipergunakan ya seperti padang luas biasa saja. Kosong melompong. Kebayang betapa banyaknya yg ke sana saat berhaji, sampai bisa macet. Hohohoho....
Yg agak jadi ganjalan adalah tidak adanya budaya antri yg tertib, baik di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram. Semua cenderung untuk mau uwel2an dan desak2an. Entah kenapa. Seperti kalau di Raudah, seandainya dibuat antrian yg bagus untuk sholat di sana, tentu akan lebih nyaman. Dan yg jelas lebih aman terutama utk mereka yg sdh berumur. Atau seperti mencium Hajar Aswad. Kenapa ya harus sampai segitunya, sampai ada "calo" yg bantuk mendesakkan orang. Lhaaa... pdh kan sdh jelas kalau mencelakai orang lain tidak boleh. Tapi ya begitu deh, budaya antri jangan2 memang nggak banyak disebut-sebut dalam ajaran agama Islam ya. Makanya susaaaaah banget menerapkannya.
On the way ke Jakarta, pesawatnya dari Jeddah. Jadi nginap semalam di sana. Dianterin suaminya teman yg memang kerja di sana, malam itu sempat jalan2 keliling. Kotanya cukup modern. Dan ramai banget setelah jam 10 malam. Siang sampai sore lebih mirip kota mati yg gersang dan panas. Begitu malam, baru deh ramai. Termasuk anak2 juga banyak yg lari2an di pantai.
Raja Fahd membangun air mancur di laut Merah. Caranya? Dia pasang pompa raksasa utk memompa air laut ke langit. Welhadalaaaahh.... airnya jadi mancur setinggi2nya. Hahaha... dolanane wong sugih sing edan....
Selesai di Jeddah... kelar deh perjalanan umroh. 2 minggu nggak ngurus apa2 selain berdoa dan ibadah. Enak banget rasanya. Mudah2an kapan2 ke sana lagi. Amiiiin....
Apa kabar? Semoga sehat.... amiiiin....
Kesehatan memang nomor satu. Kalau besok pilpres... coblos nomor 2. Salam dua jari!
Beberapa saat sebelum Ramadhan, gue dapat kesempatan pergi umroh. Akhirnya! Setelah 11 tahun lalu gagal.... tentu saja kesempatan kali ini sangat menyenangkan buat gue.
Yg skrg pun sempat dag dig dug. Jadi ceritanya, ini adalah program kantor. Ada kerjasama dgn travel biro, jd karyawan bisa berangkat dgn bayar 50% saja. Satu karyawan jatahnya 2. Ya semacam buy 1 get another 1 gitu deh.
Nah, kapan itu sempat dikeluarkan list yg mendaftar program ini. Gue ada di nomor 23. Ya tentu saja gue pikir baru akan berangkat tahun depan. Rencananya berangkat sama Cay.
Ternyata oh ternyata, waktu ada tawaran berangkat bulan Juni, orang2 yg antri di depan gue nggak ada yg bisa. Memang sih, jeda waktu antara dikasih tau dan keberangkatan hanya sekitar 3 minggu. Gue pun awalnya ragu, krn kok ya pas paspor mati. Tapi ya sudah gue iyakan. Urus paspor... sekalian sama punya Aria juga.
Sempat mikir juga: bayar pake apa ya? Soalnya kan bulan Juli sdh pasti hrs bayar sekolah. Tabungan... ada sih.... tapi kok rasanya sayang setelah ngumpulin sekian lama....
Tapi lalu seperti disadarkan kalau semua milik kita ini kan punyanya Allah SWT to yoooo. Aduh maaf ya Allah... ampuni hamba.... tabungan2 itu kan titipan saja. Ya udahlah pake aja kalau mau bertamu ke rumahNya. Kenapa ragu? Belum tentu tahun depan masih ada umur, masih ada kesempatan lagi. Hihihi... aku malu sendiri...
Krn Cay jadwalnya penuh.... Pap yg gantiin. Oke. Ternyata oh ternyata... ganti2 jadwal krn gue sdh ada tiket utk perjalanan me-time yg mepet banget waktunya. Jadi Pap pun batal.
Disebarlah kesempatan satu kursi ini ke grup keluarga. Ada bude yg berminat.Tapi beliau belum punya paspor. Dan tinggal di Malang. Jreng! Pdh keberangkatan tinggal 15 hari lagi. Hihihihi.... Tapi masak gue bilang "nggak boleh"? Kan ya gak mungkin. Jadi akhirnya memang mendaftar berdua. Bude langsung urus paspor (belakangan ternyata nggak langsung ngurus lho, masih pakai galau dulu ngitung tabungan... hahaha). Trus ada kasus MERS. Halaaaah... ono2 wae. Ya sudahlah Bismillah kan niatnya mau ibadah ya.
Tapi memang kalau sudah diabsen sama Gusti Allah harus bertamu... harus sowan... ya memang pasti bisa. Kemarin itu semua berjalan dengan pas. Ya pakai mules2 sih. Mules nunggu paspor jadi, mules nunggu paspor dikirim ke Jakarta, mules nunggu visa... dll.... Hari Selasa berangkat... visa baru keluar Minggu sore. Hehehehe....
Bukan congkak bukan sombong... ini travelnya lumayan. Penerbangan Jkt-Dubai-Madinah. Sampai Madinah pas subuh. Weh... sholat di Masjid Nabawi dgn bercucuran air mata. Embuh ngopo kok iso nangis yo?
Sudah dikasih tahu kalau di Tanah Haram harus pakai baju tertutup. Dan sepertinya sdh cukup tertutup rapat (sampai merasa kayak guling). Tapi oh ternyataaaaa... pria Arab memang buas. Ada satu hari pakai baju warna terang. Maklum centil. Baju biru, kerudung bunga2. Rasanya sih cakep deh. Entah warnanya yg terlalu menarik hati kali ya? Pas nyebrang jalan, ada mobil yg sengaja berhenti, klakson, trus orangnya ngomong apaaa gitu (mana kupaham?). Yg jelas rasanya udah nggak bener deh. Nah... pas pulang dari masjid, Bude mampir toko souvenir. Gue ngikut aja. Eh... lagi nunggui si Bude, tiba2 ada orang dari dalam toko (sepertinya si pemilik toko), keluar, trus dia bengong, trus bilang, "Masya Allah. Subhanallah!" Sambil matanya melihat ke gue dengan buas. Huaaaaa.... Bude langsung berkemas dan kaburlah kami ke hotel! Serem gila. Sejak itu gue hanya keluar dgn baju dan kerudung putih atau hitam. Ora centil blas.
Seperti halnya semua orang yg ke Masjid Nabawi, selalu hrs mencoba ke Raudah. Ini adalah bagian masjid yg dibangung oleh Nabi Muhamad SAW, jadi cikal bakal Masjid Nabawi. Tempatnya sekarang jadi bagian utk sholat laki2. Jadiiii... hanya dibuka utk perempuan pada saat tertentu. Dan spt yg sdh gue bayangkan, yg ada desak2an lah di situ. Konon, siapa yg bisa sholat di situ, doanya akan dikabulkan. Insya Allah. Amiiiiin....
Pertama kali masuk Raudah, bareng sama rombongan. Trus ya masuk bergilir per bagian/rombongan. Ada Malaysia, Turki, Indonesia... macem2. Jadi para petugas (asykar) akan membagi kapan rombongan ini boleh masuk ke Raudah. Nah, suatu saat, selesai sholat Ashar, Bude tuh iseng pengen lihat Raudah lebih jelas. Waktu pertama masuk kan desak2an, jd nggak sempat lihat. Padahal di situ ada makam nabi & sahabatnya. Bude gue tuh model orang yg penasaran banget... hehehe... Berhubung gue sdh janji sama para sepupu utk menjadi escort yg baik, jadi gue ikutin deh. Daripada ilang....
Selesai sholat Ashar, kami berdua melipir2 di tengah2 rombongan. Waktu mereka masuk ke masjid, kami nggak ikut masuk, tp duduk di luarnya. Saat itulah kami bisa mengamati dengan sejelas2nya interior Masjid Nabawi. Termasuk saat atap di dalam dibuka dan ditutup lagi (nggumun... ndeso). Trus pelan2 kami "tergeser" sampai di depan Raudah. Pas di situ, kira2 sejam sebelum Maghrib... jadi tempat itu sdh mau dibersihkan (dan dilarang utk perempuan), krn akan jadi tempat sholat laki-laki. Ternyata... di masa transisi seperti ini malah petugasnya santai. Jadi kami bisa masuk Raudah pelan2... meskipun masih desak2an, kami bisa milih tempat yg lebih lega untuk sholat. Dan setelah sholat, kami bisa melihat jelas tempat2 penting di dalam masjid. Seperti tempat azan dan tempat imam. Weleh... untung gue punya Bude yg petualang! Hahahaha....
Besoknya, karena Bude pengen tahu Makam Baqi, akhirnya kami keliling Masjid Nabawi. Lagi2 Bude hahahaha.... Konon, perempuan nggak boleh masuk makam. Dan memang makam di Arab kan bukan model yg bisa dikunjungi seperti di Indonesia. Bentuk makam hanya semacam luasan tanah berpagar tinggi yang ada batu2 utk penanda. Kalau ada jemaah yg meninggal di Madinah, akan langsung dimakamkan di sini. Makanya, setiap selesai sholat wajib, pasti ada sholat jenazah.
Nah, gara2 ke makam ini, kami akhirnya keliling Masjid Nabawi. Jadi bisa lihat Raudah dari sisi luar. Nggak tau deh tuh jalannya berapa jauh. Yg jelas begitu sampai di hotel, kaki rasanya ketuker yg kanan dan kiri... hahahaha....
Tiga hari di Madinah. Pindah ke Mekkah naik bus. Jadi ambil miqot (niat umroh) di Bir Ali. Baru tahu kalau yg punya kostum wajib utk umroh hanya laki2 (pakai ihram). Kalau perempuan bebas mau pakai baju warna apa saja, yg penting tertutup rapat. Hanya menampilkan wajah, telapak tangan dan kaki sebatas mata kaki. Horeeeee... bisa centil di Masjidil Haram. Hahaha....
Sampai di Mekkah jam 11 malam. Check in hotel dan langsung ke masjid. Umroh yg pertama. Lihat Kabah udah nggak tau mau bilang apa. Speechless akhirnya bisa sampai di Baitullah. Ndomblong. Doa yg sdh dihapal ambyaaaarrrr... hanya ingat doa sapu jagad saja. Alhamdulillah banget umroh jam 2 selesai. Rasanya sudah campur aduk antara haru dan juga capek luar biasa. Bersyukur banget bisa ke sana.
Yg menyenangkan, di Masjidil Haram tidak ada waktu khusus untuk sholat sunnah. Tahajud bisa kapan saja. Sholat Duha bisa kapan saja. Wah, syedap. Silakan menanggok pahala sebanyaknya. Sekuatnya. Sholat sunnah tahiyat masjid bisa diganti dengan Thawaf (keliling Kabah 7 kali). Menyenangkan.
Karena sedang dibangun, ada banyak alat berat "berserakan" di Masjidil Haram. Tapi ada deck sementara yg dibangun keliling Kabah. Nah, gue sih lebih suka thawaf di atas deck. Meskipun kelihatannya lebih jauh, tapi lebih sepi jadi lebih nyaman. Maklum yaaa... gue kan ga suka uwel2an....
Sejak baru pertama datang, Bude sudah gemes aja pengen cium Hajar Aswad. Tapi lalu gue berhasil menenangkan. Karena toh kami akan bbrp hari di sana, baiknya pertama konsentrasi umroh dulu. Besoknya bisa datang utk sholat wajib, lalu foto2. Kalau mau coba cium Hajar Aswad atau mau pegang Rukun Yamani juga bisa. Yg penting pertama ke sana umroh dulu, mumpung masih ada tenaga.
Jadi besoknya baru kami menjelajah Masjidil Haram utk yg lain2 selain umroh. Alhamdulillah bisa sholat di Hijr Ismail. Konon ini juga tempat mustajab utk berdoa. Ya gitu deh, krn terlalu excited malah lupa nenuwun macam2... yg penting bersyukur alhamdulillah.... hehehe.... Masih ingat mendoakan kesehatan orang2 tersayang. Tapi sungguh terlupa meminta jodoh. Hiks.
Ternyata memang lebih enak kalau umroh ke Mekkah dulu (seperti Jokowi hehehe). Krn memang umroh yg wajib ya di Masjidil Haram. Kemarin itu karena sdh agak lama di Madinah, jadi perlu tekad kuat utk bisa selesaikan ibadah umrohnya. Alhamdulillah bisa umroh 2x.
Sempat juga keliling2, termasuk ke Arafah, melihat tempat haji. Kalau lagi nggak dipergunakan ya seperti padang luas biasa saja. Kosong melompong. Kebayang betapa banyaknya yg ke sana saat berhaji, sampai bisa macet. Hohohoho....
Yg agak jadi ganjalan adalah tidak adanya budaya antri yg tertib, baik di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram. Semua cenderung untuk mau uwel2an dan desak2an. Entah kenapa. Seperti kalau di Raudah, seandainya dibuat antrian yg bagus untuk sholat di sana, tentu akan lebih nyaman. Dan yg jelas lebih aman terutama utk mereka yg sdh berumur. Atau seperti mencium Hajar Aswad. Kenapa ya harus sampai segitunya, sampai ada "calo" yg bantuk mendesakkan orang. Lhaaa... pdh kan sdh jelas kalau mencelakai orang lain tidak boleh. Tapi ya begitu deh, budaya antri jangan2 memang nggak banyak disebut-sebut dalam ajaran agama Islam ya. Makanya susaaaaah banget menerapkannya.
On the way ke Jakarta, pesawatnya dari Jeddah. Jadi nginap semalam di sana. Dianterin suaminya teman yg memang kerja di sana, malam itu sempat jalan2 keliling. Kotanya cukup modern. Dan ramai banget setelah jam 10 malam. Siang sampai sore lebih mirip kota mati yg gersang dan panas. Begitu malam, baru deh ramai. Termasuk anak2 juga banyak yg lari2an di pantai.
Raja Fahd membangun air mancur di laut Merah. Caranya? Dia pasang pompa raksasa utk memompa air laut ke langit. Welhadalaaaahh.... airnya jadi mancur setinggi2nya. Hahaha... dolanane wong sugih sing edan....
Selesai di Jeddah... kelar deh perjalanan umroh. 2 minggu nggak ngurus apa2 selain berdoa dan ibadah. Enak banget rasanya. Mudah2an kapan2 ke sana lagi. Amiiiin....
Subscribe to:
Posts (Atom)

