Monday, September 28, 2015

From September 2005

RISE ABOVE THE PRECIOUS ILLUSION

Am I just another illusion to you
Another worthless image in your mind
The image that lingers about
No matter what the time
I've seen you cut yourself
Watched every toxic tear
Drop from your beautiful eyes
And yet you don't believe I'm real
An angel whose closed his eyes
You're shutting me out
But the illusion still wander
Your soul trapped to me
Till you join me
In merciless death
Where together
We shall rise
And you will find
I wasn't just another
'Precious Illusion'

(Jana Courville)

Thank you for introducing me to the pretty words. 

Saturday, September 26, 2015

Hello There!

See you with your son & the cousins celebrating Eid in Bandung (you were wearing black t-shirt). Wish I can come and say hi. It will be an awkward moment between the crowds but it must be cute. Don't you think? :)

Friday, September 25, 2015

Demi ... Demiiiii....

Karena minggu depan ada jadwal ke luar kota, akhirnya terpaksa nggak ikut keriaan bareng tim yg hari ini berangkat kondangan di Cirebon. Yaaah... maaf ya, pengantin. Daripada diamuk sm anak gue.

"Ibu, jatah pergi2 tahun ini sudah habis, kecuali yg sama aku," katanya. Hahahaha....

Ayo Antri

Berita duka datang dari Tanah Suci... tentang jemaah yg terinjak karena desak2an.

Innalillahi wa innailaihi rajiuun.

Sudah sering banget ini berita desak2an waktu naik haji, selalu ada kejadian yg makan korban. Spt jg sudah hukum alam, yg kecil kemungkinan besar akan terlibas oleh yg besar. Dan yg kemarin kayaknya gitu juga yg terjadi ya. Di lorong 204, yg khusus untuk jemaah dari Afrika dan Timur Tengah... nyempil satu kloter warga Indonesia dari Surabaya. Duh ampun. Sudahlah dikasih tahu jalur itu diatur untuk jemaah berbadan besar... kenapa juga ya masih mau lewat situ?

Gue nggak paham, kenapa ada yg desak2an, kenapa ada yg nekat lewat jalan yg bukan untuknya, kenapa ada yg bikin macet... gue blm pernah naik haji jd nggak tahu. Tapi... gue tahu dan yakin kalau semua bisa dihindari seandainya mereka antri.

Duh biyung. Antri. Antri. Antri. Susah sekali ya disuruh antri. Seperti pengalaman waktu umroh. Masuk Raudah desak2an. Ada yg ngeyel mau cium hajar aswad... desak2an. Ada yg mau thawaf di dekat kabah... desak2an. Ada yg mau shola di Hijr Ismail... desak2an juga. Mau ibadah aja kok susah banget....

Pdh ya, yg mau lihat lukisan Monalisa di Louvre... antri lho. Yg mau nonton Bon Jovi, antri. Yg mau ikutan Indonesian Idol jg antri dari pagi sampai malam... meskipun blm tentu lolos seleksi. Gue pernah antri hampir 2 jam utk bisa dapat tiket kuliah umum Bill Clinton. Utk sesuatu yg tdk ada pahalanya di akherat, orang2 mau antri. Trus kenapa nggak mau antri buat urusan ibadah? Yg seharusnya lebih khusyu dan lebih tertib. Memangnya kalau uwel2an gitu bisa konsentrasi berdoa? Mungkin harus ada yg mengaturnya agar bisa antri dgn tertib. Hrs ada tata tertib yg jelas, jadwal yg lebih ketat mungkin, sehingga nggak semua orang tumplek blek di waktu yg sama.

Ibadah memang urusan kita dengan Allah SWT. Seringkali kita enggan mengungkit soal ibadah ini, krn takut dibilang tdk ikhlas, hitung2an sama Allah. Kita diam saja kalau departemen Agama ribet ini itu, krn kita sangat takut ibadah kita tercela.

Pdh mestinya kita pergunakan akal yg sdh dikaruniakan Allah ke kita, untuk berpikir lbh panjang, utk bertindak lebih jauh. Kita boleh kok menuntut hak kita. Buat pergi ke Arab Saudi, hrs urus visa, hrs bayar ini itu. Artinya, ada hak kita utk menuntut keselamatan & kenyamanan ibadah. Susah... ya memang. Tp itu hrs dipikirin, namanya dunia makin maju, masak dalam urusan ibadah nggak maju2. Dulu jg tempat jumroh cuma batu, skrg dibikin bertingkat. Artinya, kemajuan itu bisa mendukung ibadah. Kemajuan (berpikir) hrs dimanfaatkan untuk membuat ibadah lebih baik, kan?

Rasanya sih bisa deh kita bikin petisi supaya ada antrian di tempat2 suci di Arab Saudi. Jd nggak ada lagi tuh, jemaah yg telat masuk ke Arafah (yg artinya terlambat wukuf). Dan yg jelas nggak ada yg jadi korban desak2an mau menuju tempat lempar jumroh. Kalau sdh dijadwal dan semua tertib ikut jadwal, bisa gantian kan. Bisa antri. Toh kalau ibadah lebih nyaman dan lebih tenang, jemaah juga kan yg menikmatinya? 

Thursday, September 24, 2015

Hari Raya Kurban

Selamat Idul Adha. Semoga kita bisa selalu mencari rezeki halal yg diridhoi Allah SWT. Amin.

Kurban

Aria: Aku kurban apa?
Ibu  : Sapi
Aria: Di mana?
Ibu  : Titip ustad Agus.
Aria: Ooooh.... hmm... kok aku nggak bayar apa2?


(Gaya banget yak anak gue)

Wednesday, September 23, 2015

Apakah itu Cinta?

Seorang perempuan cantik, pintar, sehat bugar, punya banyak kegiatan sosial.

Korban KDRT.

Rasanya gue ikut lega waktu tahu dia akhirnya menggugat cerai suaminya. Semoga dia segera menemukan cinta baru. Amin.

Tuesday, September 22, 2015

Back to Square One

Sebagai editor, gue gembira punya tombol2 "backspace", "undo", atau "delete" di komputer. Dgn mudah gue bisa edit ini itu, trus bisa kembali ke tempat2 yg pengen gue edit ulang atau gue kembalikan lagi ke awalnya (editor galau). Dan itu nggak sekali dua kali. Terutama kalau kisruh sedang melanda... Khusus tulisan personal, bisa gue tengok2 lagi dan edit2 lagi meskipun sdh lama gue bikin (yg mana skrg ini sdh lama tidak menulis hadooooohhhh). Hanya deadline percetakan yg nggak bisa dilawan, yg akhirnya bikin gue ikhlas ngirim tulisan final. Hahahaha....

Dgn keriangan punya tombol2 itu, pernah mikir2, kalau misalnya ada tombol undo... untuk perjalanan hidup. Atau tombol reset... hmmm... mau reset sampai sejauh apa? Atau mau undo yg mana?

Hmm... gue tentu tidak mau "undo" Aria. Widiiiih... meskipun dulu nggak pengen punya, skrg malah nggak kepikiran kalau dia nggak ada. Gue jg nggak mau "reset" pindah kerja. Krn kerjaan skrg seru. Oooh... mungkin reset sampai masa nggak ada onde2 yg mengganggu ketentraman kerja boleh lah....

Reset sampai mana lagi ya? Mau undo apa lagi ya? Ahahaha... khayal babu.

Kalau bisa gue akan reset sampai masa tertentu, sdh punya Aria, sdh bekerja, sdh bercerai.... and at the moment someone popped up in my window... from out of nowhere.

Yg jelas gue akan menggunakan reset button itu untuk kembali ke masa jumpa2, lalu banyak2 minta maaf dan berterima kasih. Maaf atas segala kengawuran, dan terima kasih atas semua keceriaan.




Monday, September 21, 2015

Away from Home

Aria sudah gue tinggal untuk business trip sejak umur 6 bulan. Tp ternyata dia nggak suka dan nggak terbiasa.

Sejak semalam waktu packing, dia sdh bawel di kamar. Trus tadi pagi waktu naik taksi, dia mulai rusuh ini itu. Selalu ada drama kalau ibunya pamitan mau pergi.

Ya... ya... ya....

Sunday, September 20, 2015

New Kids on The House



Apakah Brita & Brino yg lagi main di dalam kandang terlihat di foto?

Bbrp waktu lalu kami dihadiahi warisan sepasang ayam. Nggak pernah kepikiran mau pelihara hewan (selain ikan) di Playhouse. Tp kasihan jg kalau ayam ini nggak diurus. Akhirnya setelah dapat pet sitter yg mau merawat (aku takuuuttt), pindahlah B&B ke BSD. Berkat rutin dimandikan, makanannya diurus, ayam2 ini sehat & gembira. Tiap pagi Brino berkokok kenceng bgt. Kapan itu Brita pernah bertelur... tp lalu telurnya dia makan sendiri. Pikirnya healthy breakfast kali ya....

Kehebohan dimulai waktu the principal architect in the house resah lihat kandang ayam polos. Pap mau kalau ada binatang ya rumahnya hrs match dgn Playhouse. Menurut nganaaaa....

Ya terserah situlah. Dan begitulah jadinya... kandang ayam nan ciamik dgn lampu & tempat makanan dr IKEA. Kata tukang yg bikin, "Niki kombong ayam langkung sae timbang kontrakan kulo."

Playhouse meskipun letaknya di ujung cluster... di pojokan pula... tp ga pernah sepi. Mobil yg lewat biasanya melambat. Anak2 yg bersepeda pasti berhenti dulu. Ya sudahlah kalau gue di rumah pasti gue dadah2 (soalnya kelihatan bgt... ga ada korden). Nah sekarang rumah B&B ini semakin bikin yg lewat pengen lihat2... hahaha....

Saturday, September 19, 2015

September

Never do this to my ex(es). But since you are a special edition, you need a special treatment too, I guess.

So I am deleting your contact in my phone. Ciao bella....

Friday, September 18, 2015

Pretty

I try to dress up a bit on Friday. So I'll be ready just in case there is a last minute invitation.

Thursday, September 17, 2015

Soulmate

Kira-kira sebulan lalu, di grup wa kantor lama nongol pesan: mamaku meninggal. Spt biasa kalau ada berita kematian, gue selalu ingin hadir utk keluarga yg ditinggalkan. Just to be there. Seringnya bbrp hari setelahnya. Waktu pengajian biasanya. Tp kesibukan dan gonjang ganjing duniawi cukup menenggelamkan gue. Sampai akhirnya sebulan berlalu dan gue belum ke rumah teman gue itu sama sekali. Trus, dua hari lalu, dia msg lagi di grup: papaku meninggal.

Innalillahi wa innailaihi rajiuun.

Akhirnya kemarin membulatkan tekad harus datang ke rumahnya. Sejauh apa pun. Beda provinsi euy.

Di tengah suasana duka, teman gue bercerita. Ayahnya sdh sejak lama sakit jantung. Banyak penyumbatan. Tahun 2008 pernah operasi by pass. Dan sejak itu, sering gangguan sesak napas. Ya namanya sakit jantung. Tdk putus asa, si ayah tetap aktif olahraga untuk jaga kebugaran. Tapi justru si ibu yg sehat bugar malah lebih dulu dipanggil Allah SWT. Suatu pagi, setelah mengurus keperluan si ayah, tiba2 ibu sesak napas. Lalu dibawa ke RS. Lalu meninggal. Sudah. Sungguh memang mati rahasia Tuhan. Tidak perlu sakit, tidak perlu kecelakaan, kalau memang takdir dijemput ajal, ya sudah. Lalu 40 hari kemudian, kemarin, si ayah menyusul. Meninggal dunia krn gagal jantung.

Teman gue dan keluarganya tentu sedih berlipat ganda, kehilangan orang tercinta susul menyusul. Gue pun turut berduka. Tapi,  kematian ayah dan ibu yang berdekatan waktunya itu sangat mengagumkan gue. Aren't they soulmate? Mereka sungguh tidak bisa hidup tanpa pasangannya. Takdir membuat yg satu segera menyusul yg lain. Terima kasih Tuhan sudah menunjukkan contoh bahwa ada cinta sejati di dunia.
 

Tuesday, September 15, 2015

IWALUNMW

Hmm... ealah hari ini kok rasane nelongso....

Monday, September 14, 2015

Dunia Jawa

Hari Minggu sengaja jauh2 nyetir ke Galnas, lihat pameran Javascript Eddy Susanto. Hhmm... bukan... ini bukan pameran programming....

Eddy menggali identitas Jawa, lewat bahasa tulisan. Dia konsentrasi pada aksara. Jadi huruf2 Jawa nan njelimet itu dia rangkai jadi lukisan. Dia tulis serat Centhini dalam bahasa Jawa. Juga beberapa kitab dia tulis dalam aksara Jawa. Ada ruang khusus untuk karya Eddy yang "menerjemahkan" situs terkini dalam huruf Jawa.

Apa artinya?

Nggak tahu. Baca juga nggak bisa. Ada sih yg bisa gue baca... dikit banget... paling yg hurufnya sederhana. Kalau sudah "kena" pangkon-taling-pepet.... mati kutu. Baca juga hanya baca. Macam mengaji aja deh. Bisa baca tapi nggak paham artinya. Ha ha ha....

Herannya, pameran kemarin itu buat gue sangat menenangkan. Di tengah terik Jakarta yg ampuuuun banget... masuk ruang pameran langsung mak nyes. Iya karena AC.... Haha... tp kalau buat gue, AC ini masih ditambah suara sinden Jawa yg bergema di seluruh ruang pamer. Gue sebagai perempuan Jawa tulen, rasanya kok ayem denger suara sinden. Langsung pengen ndeprok... nglaras... ayem tentrem.

Anyway, pameran kemarin juga buat mengajari Aria mengapresiasi seni. Dan memang cara dia melihat sebuah karya juga lucu. Khas anak2 skrg yg mau cepet dan nggak sabaran :) Dia nggak peduli tentang Jawa atau tidak... yg penting gangguin eyang... gangguin ibu. Hahahaha....





Thursday, September 10, 2015

Ah... This Song...


 You On My Mind


Friends say I'll get over you soon
Thoughts of you come back to fill me with gloom
Time forgets but I'm not over you yet
There's no sense of asking why
Until the tears run dry

There's no one but you on my mind
Searching for a perfect ending that we'll never find
If we could make it work this time

Years have flown by since you've been gone
This broken heart of mine's been waiting too long
All alone without you I can't carry on
There's no sense of asking why
Until I'm there by your side

There's no one but you on my mind
Searching for a perfect ending that we'll never find
If we could make it work this time
We could plant tomorrow's dreams now together
In a garden to last forever more
All the flowers would grow
From the seeds we'd sow...

There's no one but you on my mind
Searching for a perfect ending that we'll never find
If we could make it work this time

There's no sense of asking why
Until the tears run dry
I could be there by your side
If you would only change your mind
If we could make it work this time

(SOS)

Thursday, August 27, 2015

Fans of Ballerina

Entah sejak kapan gue selalu pakai highheels. Kayaknya sejak masuk dewi deh. Ya gitulah... dipandang dan dinilai dari penampakan, jd terpaksa pakai heels. Dan memang penampilan jadi paripurna bener deh kalau sdh pakai sepatu jinjit. Rasanya kaki jadi panjang. Rasanya. Sebenernya mah tetep bantet hahahaha....

Pindah ke GH jg tetep dgn heels. Krn alasan sdh kebiasaan. Jd kalau pakai flat, rasanya kaki kok bentuknya kayak dadah dadah gitu alias lebar. Ngeri. Krn waktu di GH mulai naik kereta, akhirnya pilih wedges. Tetep jinjit.

Jd kira2 sejak umur 25 pakai sepatu tinggi. Berhenti sebentar waktu di US. Diganti sama boots dan sneaker. Kalau summer pakai sepatu sandal.

Balik Jkt lagi... balik higheels lagi lah yaaaa.... Dan semakin berani dgn stilleto segala macamnya itulah. Killer heels. Kalau sdh pakai sepatu begitu, kok ya bisa jalan lurus dan tegak. Rasanya pede. Meskipun setelahnya kaki rasa ketuker kanan dan kiri saking pegelnya. Sementara kalau pakai yg agak pendek aja haknya, lgs terasa spt "mendarat". Hahahaha... korban mode. Tp skrg sdh tahu hanya enak pakai Hush Puppies. Clarks & Rockport... hanya cantik tp di kaki gue sakitnya minta ampun. Satu lagi: Bata Comfy. Tp yg terakhir ini umurnya paling 6 bulan. Lebih dari itu bentuknya udah ga karuan gegara menahan beban badan gue... hahahaha....

Nah, sampai skrg sebetulnya blm ada masalah dgn segala heels itu. Wedges makin banyak. Dan rasanya nggak ada masalah jalan jauh pakai sepatu2 itu. Sering kok jalan kaki dari BI ke PI atau GI. Oke saja.

Tapiiiiii waktu puasa kemarin nemu ballerina shoes yg enak bgt dan nggak bikin kaki terlihat njembluk. Hehehehe... Sumpah deh jadi ayu,

Ceritanya setiap sabtu kan ke Aeon antar Aria les piano. Nah, tentunya kan ya jarang bgt gue duduk manis, tp jalan2 dong ah. Suatu hari di bulan puasa itu, gue sm eyang jalan2 di Aeon. Masuk gerai Bata. Maunya lihat2 Bata Comfy kali2 ada wedges baru. Eh... kok malah ditawari sepatu edisi baru mereka: Ballerina Shoes Marie Claire. Gue pilih warna coklat muda gold gitu. Surprisingly enak banget, nyaman di kaki. Dan bentuknya entah gimana nggak bikin kaki dadah. Beda sama TB. Kok tumben? Langsung bungkus dong ah.

Sejak itu, si BS ini jd bestfriend. Ke mana2, kalau nggak pakai sneaker yg BS ini deh. Udahlah enak di kaki, gampang dibawa krn modelnya dilipet. Ya sepatu balerina gitu deh. Bisa masuk tas! Sudah gitu krn bentuknya full tutup depan, jd cukup resmi utk dipakai meeting di kantor pemerintah yg mengharamkan sepatu terbuka. Hahahaha... Jd skrg kalau jalan dari BI, bisa ganti sepatu dulu... supaya malamnya nggak berasa kaki mau copot.
 
Nah, tadi tergoda beli BS lagi yg warna lain. Spy bisa ganti2 gitu lhoooo... Ternyata, BS ini jg hrs pilih2 bahannya. Hrs yg lembut halus banget. Tadi ada satu yg penampakannya cantik dan tegas. Tp ternyata materialnya kaku, jd kemungkinan lecet besar bgt. Eeeeh... si mbak sales nggak putus asa, dia keluarin semua model BS Marie Claire. Termasuk yg aksen depannya batu2an. Akhirnya  bungkus satu yg warna hitam. Hehehehe....

Dan tnyt peralihan dari highheels ke BS ini ada jg yg merhatiin. Mungkin krn gimana pun, kaki gue jd kelihatan hanya sejengkal ya (alias pendek hahaha). Barusan ada yg bilang, "Baru skrg lihat mbak Dian pakai sepatu flat." Entah maksudnya apa.

Hahahahaha... Bodo ah, yg penting enak.


Friday, August 21, 2015

Forgiveness

I forgive people. I don't accept their bad behavior. But by forgiving them, I can move on and continue my beautiful life.

Thursday, August 20, 2015

Moving On

I am over it now.

Yes of course it was a heartbreaking moment, realizing the one you count on the most (and you loved dearly) was leaving the picture. And I was heart broken.

But then again, it was a total mistake depending your happiness into someone's hand. You have to create your own. And when someone special comes, it has to be effortless. Just like puzzle... it supposed to be click easily since the beginning. And you will know when it comes. You will know.

So I guess I am over it now.   

Friday, August 07, 2015

Take Out the Trash, Please!

"You need to clean up, so you can start feeling fresh," suggested by a good friend today.

I know.

Where do I begin?

Thursday, August 06, 2015

Setelah 10 Tahun

Waktu tidak pernah berjalan mundur.

Mungkin ini saatnya melihat lagi jalan yang ditempuh, apakah sudah yg benar, atau mau berganti jalur? Jika memang tidak terlihat ujung yang jelas, mungkin sebaiknya berganti arah saja. Karena waktu tidak akan berhenti, tidak akan menunggu sesuatu yg tidak pasti.

Wednesday, August 05, 2015

The Evening Drama

I hate it when I need to be extra firm to my son.

Males rasanya hbs ngantor hrs mayah2. Tp gimana? Kalau nggak gitu nanti dia nggak paham sdh bikin salah. Krn gue nggak bisa marah, jadinya seluruh gesture gue akan aneh. Aria tahu itu. Dia tahu bhw artinya dia salah.

Berkaca dr pengalaman bbrp single mom... yg anaknya jd ngawuran krn selalu dibela dimanja... tentu gue ga pengen kan?

I do not want him to be seen as a typical broken home kid. Because he is not.

Lady Gaga is in My Cluster

Gue sebel sama orang2 yg ignorant. Nggak mikirin orang lain. Contoh yg paling nyebelin adalah yg buang sampah sembarangan. Contoh lain lagi... tetangga yg nggak peduli sama jemuran.

Jadi gue ini kan tinggal di sebuah cluster ya. Masuknya dijaga satpam, sebagian besar rumah punya mobil lebih dari satu. Maunya kan yaaaa latar belakang pikirannya sama soal keindahan dan kerapihan dan tata tertib. Apalagi waktu beli dulu ada banyak peraturan yg sok iye dari developer. Tp sebetulnya ya memang untuk keindahan perlu sok iye sih. Misalnya: dilarang mengubah tampak depan bangunan, dilarang mengecat exterior dgn warna menyolok, dilarang menjemur pakaian di halaman depan... dll... yg intinya satu: demi keindahan cluster.

Bbrp tahun... aman sih. Mulai tidak aman ketika ada pembeli2 rumah baru... yg tidak menerima peraturan dr developer itu. Akhirnya skrg rumah cluster itu warna warni. Bagus? Bisa jadi... sayangnya selera warna itu kan luaaaaas banget spektrumnya. Jadi yaaaaa... gitu deh. Ada yg suka hijau, dgn tanpa basa basi dia ubah seluruh rumah jadi ijo royo-royo... hmm... semacam ketumpahan klorofil sih menurut gue. Yg paling seru adalah rumah orange. Kyk matahari raksasa. Hahaha...

Udahlah kalau cat rumah. Namanya kesenengan, gue bisa apa?

Yg nyebelin adalah yg sembarangan taruh jemuran. Awalnya cuma naruh jemuran lipat di depan halaman... nyari matahari. Krn lahan belakang mungkin sempit jadi yaaa... terpaksa "ngejar" sinar matahari ke depan. Tapiiii... jemuran lipat ini lama2 kok jadi besar ukurannya ya? Trus... gong banget adalah ada yg menjemur di pagar balkon. Iya siiiih... itu rumahnya sendiri. Tapi kok ya nggak ada estetikanya sama sekali lho njemur baju di situ....

Trus... skrg lebih parah adalah rumah di deretan depan, persis setelah pintu gerbang cluster. Dia memang membuat tiang jemuran di depan! Astaga! Rumahnya hook... dan apa yg dia buat? Dia pasang melintang sebuah bambu... dari satu pohon ke pohon lain! Astagaaaaaaaa....

Tadi pagi gemes banget lihat jemuran2 itu melambai-lambai... asliiii... masuk gerbang langsung ada jemuran. Rasanya pengen gue siram pasir! Trus... parah bahwa ada jemuran baju dalam juga! Sinting. Oalaaaah... rumah boleh ya bagus, di cluster bagus, mobil bagus... tp kelakuan ndeso ndlosor. 

Gue jd ingat kapan itu pernah bersepeda keliling sama Aria, dan tiba2 dia ngakak2...

"Ada Lady Gaga di situ."
"Ha? Di mana?"
"Itu...."
"Apa sih?"
"Itu lhooo... ada Lady Gaga... tuh jemurannya Lady Gaga kan...bra merah...."

Friday, July 31, 2015

Baik-baik Saja

Mana yang lebih berat? Memutuskan bercerai, atau menjadi orang tua tunggal ketika anak sakit, dan menangis sendirian di depan ruang ICU with no one to share the pain?

Saya tidak pernah berpikir mana yang lebih berat. Mungkin karena saya tidak lagi sempat berpikir. Saya tidak punya banyak waktu untuk memikirkan mana yang lebih berat. Waktu yang ada sudah saya habiskan untuk bekerja. Dengan bekerja saya bisa menghidupi diri dan anak saya. Tentu saja semakin lama anak saya semakin besar, kebutuhannya kian banyak, hingga saya pun harus lebih giat bekerja.

Kesibukan menghidupi ini akhirnya memang lebih penting, ketimbang merenung memikirkan kondisi menjadi orang tua tunggal. Bahkan ketika di suatu saat harus menangis sendirian (karena anak sakit, karena kehabisan uang, atau karena belum sempat belanja isi kulkas...), akhirnya pun semua menjadi seperti biasa saja.

Semua dibiarkan berjalan sebagaimana seharusnya. Hidup mungkin memang harus dibiarkan seperti air. Kadang perlu diatur, dibendung di sana sini, tapi kadang perlu dibiarkan saja. Bahkan kalau meluber sekali pun... tidak apa2. Siapa tahu luberannya memberi penghidupan pada yang di sekitarnya?

Kembali kepada pertanyaan awal, mana yang lebih berat? Rasanya tidak ada yg lebih berat. Tidak ada juga yg lebih ringan. Pilihan berat atau ringan tidak lagi relevan. Lebih baik memikirkan cara untuk melanjutkan hidup, ketimbang menyesali yang sudah lewat.

Junya Ishigami

Do you remember my big brother the architect? Serumah dgn seorang arsitek yang (katanya) kondang... seru juga. Perkara rumah kedatangan tamu yang mau keliling lihat2 sih udah mulai biasa. Dari mulai orang lewat yg penasaran sama prosotan, sampai fotografer Iwan Baan... pernah blusukan di rumah. Shooting TV sudah sering (termasuk dari Aussie untuk Extreme Houses). Foto majalah sudah bosen saking seringnya sejak akhir 2008 smp skrg. Tadi pagi 3 arsitek muda dari Surabaya nongol, mau ngintip2 Ndalem Prosotan. Monggo... dan gue pun tetep nyetrika plus cuci piring saat mereka "touring".


Selain adanya tamu2 ini... gue jd lebih gampang terekspos dgn perkara arsitek yang kekinian. Spt sekarang ini. Sedang ada Triennale Arsitektur UPH 2015. Betul... kerjaannya anak2 UPH. Pameran di gedung Tjipta Niaga, Kota Tua.

Bukan UPH yg menarik hatiku... tp Junya Ishigami. Jadi, di Triennale itu ada banyak talkshow. Hari terakhir, tgl. 8 Agustus, yg ngomong ada Junya ini. Orang Jepang. Masih muda dan kalau lihat bentuknya sih... biasa banget. Tp karyanya ciamik lho. Di Jepang, dia lagi banyak dibicarakan karena hbs terima sebuah award prestisius mbuh opo untuk arsitektur. Karyanya selalu ringan melayang mengambang, melawan gravitasi. Nggak tahu apa yg nyambet dia waktu kecil sampai dia bisa punya khayalan soal bangunan2 yg aneh2... dan ternyata tetap bisa dibangun.

So, he'll be here on August 8. Be there and be ready to fall in love with him :)

Thursday, July 30, 2015

Jatuh Hati

Ada ruang hatiku, yang kau temukan
Sempat aku lupakan, kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Bolehkah ku selalu di dekatmu?

Katanya cinta, memang banyak bentuknya
Ku tahu pasti... sungguh aku jatuh hati....

Ku terpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi...
Bolehkah ku selalu di dekatmu?
 
 
Jatuh Hati by Raisa

Friday, July 24, 2015

Selamat Lebaran Tahun 2015

Seorang teman yg bbrp saat lalu mencoba mendekat (ealah ini keterangan kok panjang amat), minggu lalu mengirim pesan lewat wa. Dia menulis sederetan kalimat bahasa Arab yg gue tidak paham. Pakai emoticon salaman. Belum sempat cari di google, dan krn menurut gue moment saat itu adalah Idul Fitri, gue balas: Selamat Lebaran. Maaf lahir batin ya.

Krn kesibukan maha dahsyat sbg bibik inem, gue ga pegang hp lagi sampai kira2 jam 10 malamnya. Dan saat itu gue temukan sebuah balasan panjang kali lebar kali tinggi yang intinya "menuduh" gue tidak mengaminkan doa, dan tidak mendoakan dia.

Hmm... hmm... (kalau di film2 anak2 brandal, instead of "hmm" they would say "wtf").

Gue heran banget sama orang itu. Dia kirim kalimat bahasa asing yg gue nggak ngerti. Trus dia nggak kirim terjemahannya. Trus dia mengharapkan gue tahu bahwa isinya doa? Mengaminkan dan mendoakan dia kembali. Oh Tuhan ampuni saya.

Satu, gue nggak suka dengan caranya yg bilang gue nggak mengaminkan doa. Trus? Memang dia pikir dia itu siapa ya. Lalu, dua, dia kok pamrih amat ya. Bahkan doa aja, yg tinggal ngomong, dia mengharap balasannya. Ada ya orang yg begitu.... Oh Tuham ampuni saya lagi.

Akhirnya, krn gue nggak mau tidur dgn perasaan sebal dan kesal, gue balas pesan itu dgn panjang kali lebar kali tinggi juga. I gave him my two cents. Oh maybe it wasn't only two cents, it was 10 thousands. Hahaha.... Entah kenapa gue kok jadi nyolot. Oh Tuhan ampuni saya beribu kali.

Anyway, selamat lebaran, maaf lahir batin bila ada kesalahan dalam tulisan. Semoga Allah SWT selalu meridhoi semua langkah kita. Amin.

Monday, June 22, 2015

Dad

Everyone can be a father, but only special man can be a dad.

Lupa siapa yg ngomong, tp memang bener banget. Jd jawaban kenapa anak gue nggak pernah nanyain ayahnya. He got a dad already... Pap... he clearly doesn't need his biological father. Sad. But what can I say?

Happy father's day to all the father in the world. And please become a dad to your children.

Thursday, June 18, 2015

Godaan Ramadhan

Di kantor ini ada orang baru yg langsung menduduki jabatan (tidak) terhormat sebagai enemy of public. Dgn segala kekacauan yg dia buat dan beking terang2an dari bos yg tdk adil, cukup 6 bulan dan sebagian besar pegawai sdh membencinya dgn sukarela.

Sejak kemarin tim gue sdh bilang bahwa dia akan hadir sebagai "cobaan puasa yg paling hebat." Kemarin sih gue ketawa2 dengernya. Tapi barusan dia masuk ruangan gue dan baru ngomong 2 kalimat saja, langsung rasanya ambyar. Kalau di hari biasa sih nada gue akan jd sangat tinggi. Tp ini kan puasa ya. Jd sebaiknya gue istighfar saja.

Skrg rasanya gue sesak napas. 

Wednesday, June 17, 2015

Missing... Who?

Karena mengenal gue sebagai single mom, seorang reporter telepon, bilang pengen wawancara soal single parenting.

Meskipun merasa "gue kan gini2 aja, nggak istimewa" tp tentu saja gue nggak menolak jd narasumber. Gue selalu berusaha membantu orang lain beresin pekerjaannya. You know, doing good karma.

Jd di pengantar dikasih tahu bahwa artikel ini tujuannya untuk bantu orang lain menjawab pertanyaan anak. Dan nanti akan diperkuat oleh pendapat psikolog. Oke deh. Tapi, ternyata baru satu pertanyaan aja, wawancara lgs selesai. Krn jawaban gue nggak bisa dikembangkan jadi apa2.

Pertanyaan: Kalau anak tanya soal ayahnya, mbak jawab apa?

Hmm... hmm... Aria nggak pernah tanya soal ayahnya. Not even once. For the whole 11 years.

Trus saat itulah gue merasa bersalah, jangan2 gue menghilangkan figur ayah? Eh, apa iya ya? Padahal gue nggak menutup komunikasi. Gue nggak pernah melarang apa2 (ngomong aja nggak). Trus hrs gimana dong?

Asli gue kok jd kepikiran ya. Huh. Ternyata tidak semua niat menjadikan good karma itu berakhir baik. 


Tuesday, June 16, 2015

The Beauty and The Beast

Teater selalu menarik gue. Entah kenapa. Terutama yg 

Sekitar 4 tahun yg lalu, waktu ke KL, di sana pas ada musikal The Beauty and The Beast. Sebetulnya pengen ajak Aria nonton. Tp karena pertimbangan waktu itu Aria belum berbahasa Inggris, jd akhirnya batal.

Nah... bulan lalu si B&B ini mampir ke Jakarta. Di teater baru: Ciputra Artpreneur. Semangat dong gue. Asliiiii mahalnya ampun deh. Tp ya sudahlah. Sebelum nanti nonton di Broadway beneran, baiklah kita coba nonton teater Broadway di Jakarta.

Krn budget terbatas... beli tiket yg paling murah dong ya. Di atas dan di ujung. Hahahaha... Tp Ciputra Artpreneur bagus kok. Untuk anak2 disediakan tambahan cushion.

Tontonannya sendiri... as expected... bagus. Iya lah kan kelas dunia. Dengan suara yg bagus dan artikulate, para pemain menyanyi dan bergerak. Memang sih, tetap ada unsur lebay terutama utk tokoh yg di-bully (entourage-nya Gaston... lupa namanya). Krn ceritanya sdh tahu, jd bisa konsentrasi lihat detail... trus menikmati teknik panggung, sama kostum yg lucu2. Paling seru waktu adegan dinner. Penari2nya dgn pakaian macam... mewakili piring, sendok garpu, gelas, dll... meriah banget!

Mudah2an show ini bisa berkesan buat Aria ya. Jadi kelak bisa berguna kalau dia mau bikin sesuatu. Gue inget bgt dulu sempat ikut kuliah drama dan waktu bikin skenario yg teringat adalah setting panggung Teater Koma. Moga2 Aria jg bisa seperti itu.



 



La Traviata

Hari Minggu gue ditutup secara berbudaya. Hahaha... yaitu dgn nonton La Traviata dari Artemis Danza. Imported from Italy.

Jadi ceritanya, waktu nonton Beauty and The Beast sm Aria, iklan LT ini sudah bertebaran di Ciputra Artpreneur. Aria jg sudah cerewet banget lihat yang balet auranya gothic. Hahahaha.... Tp ternyata waktu gue bilang mau nonton itu, dia males ikut. Malah janjian sm Pap buat nonton Jurassic World saja. Baiklah.

Jadilah ibu sendirian nonton balet modern itu. Dan memang modern banget yah ini!

La Traviata itu ternyata cerita dari zaman dahulu kala. Bagian dari opera Verdi. Ceritanya tentang kisah cinta seorang pelacur dan anak bangsawan. Nah, Grup Artemis Danza yang anggotanya cuma 7 orang ini mencoba menampilkan sisi pelacur, cara dia memandang dan menghadapi cinta.

Jadi dalam pertunjukan ada 3 warna: putih, merah, hitam. Putih untuk kesucian dan cita-cita cinta bahagia (asli kayak gaun pengantin), merah itu pemberontakan, dan hitam mewakili lingkungan yg nggak mendukung.

Ini memang bukan balet yang halus seperti Swan Lake. Ciri khas Monica Casadei yg punya Artemis Danza konon memang gerakan-gerakan yang menampilkan otot (doi atlet aikido). Penari yang mewakili tokoh-tokoh itu bergerak lompat-lompat, kadang ada unsur martrial arts, trus yang sering terlihat adalah gerakan-gerakan kaku. Beberapa kali tampil tarian punggung (jadi inget Eko Supriyanto).  

Ekspresi penarinya memang bagus banget. Bisa kelihatan jatuh cinta, sakit hati, merana, sedih banget....  Ada satu scene yang penarinya muter-muter-muter sampai bajunya lepas. Trus kelihatan punggungnya bergerak, kakinya bergetar, tangannya tegang-lemas-tegang-lemas.... asli itu mencekam banget. Gue merasa selamat karena nggak ngerti arti lagu2nya. Coba gue paham, pasti gue akan makin tercekat....

Tapi ya, setelahnya gue kok merasa tidak damai. Hahaha... terbawa emosi penari, gue jd rasanya "penuh" pengen teriak2. Ini gimana sih, nonton kok bukannya jd happy. Padahal tontonannya bagus.  Beda banget rasanya nonton ini sama nonton Matah Ati, misalnya. Memang, ending ceritanya beda sih. Tapi gue bandingkan cara dua repertoir ini menunjukkan cinta. Kalau cinta di Matah Ati itu bisa halus, meneduhkan, meski bergairah tapi menenangkan dan anggun. Cinta di La Traviata penuh gairah yg bergejolak. Sama2 anggun tapi yg di LT lebih congkak. Itu sih menurut gue yaaaa....

Dasar mungkin gue saja ya yang gadis desa (Jawa). Lebih cocok nonton tari Bedoyo dengan gamelan klenthung kloneng gong... yang auranya tentrem dan ayem. Hahaha... Anyway, tetap saja gembira punya kesempatan nonton pertunjukan bagus di gedung yg baru (baca: bukan GKJ). Marilah menanti tontonan berikutnya. 



Monday, May 25, 2015

Typical

You left me having a pinch inside. And it hurts. As always. 

Monday, May 18, 2015

Recovery

I put away my phone to avoid office calls on my off days last week. So it was in silent mode since Thursday. Told the secretary to call home if any urgent matter happen.

Now I checked my call log to see if any client need something from me or my team.

And I found a missed call from unknown number on Friday.

Was that you?

Just think about it and I already feel so much better. Haha....

Saturday, May 16, 2015

Malam Minggu

Status malming orang2 d sosmed variatif banget: jfff kelapa gading, market & museum lippo kemang, i love bazaar jakarta di senayan. Gue? Di rumah. Flu berat. Hiks.

Monday, May 11, 2015

What a Nice Dream

Tadi malam bermimpi digandeng sama seseorang lalu jalan berkeliling untuk ini itu. Nggak jelas jg untuk apa, tp rasanya kok seneng banget. Sampai bangun tidur masih terasa senengnya.

Thursday, May 07, 2015

Overtime

Another night in another spacious-full amenities-smell good room. To work.

I Miss You

Kangen peluksesak.

Sunday, April 26, 2015

Not a Regular Sunday

Woke up in a big room full of amenities. Put on my shoes and take a walk around the complex to find some kids were on horse riding training, listening to people speak the language I am familiar with but do not know how to say. Went back to the hotel, did some laps in the frozen cold swimming pool.

Now I need to boost my mood so I can concentrate on this meeting. Kerja! Kerja! Kerja!

What a Day

Seharian ini berita dukanya banyak banget....

Teman SD meninggal dunia setelah menderita kanker selama dua tahun. I know it is the best for her. Tp tetap sedih banget. Gue terakhir ketemu dia waktu jadi pemred GH. Kira2 5 tahun lalu berarti. Waktu bikin event di Surabaya, dia dan teman2nya ikut meramaikan. Seru banget. Dan waktu itu dia juga nemenin gue beli sepatu. We talked a lot.

Begitu dia sakit, gue contact dgn suaminya. Dan gue diberi akses ke facebook si suami yg khusus dibuat untuk ini. Jadi gue bisa "ikut" mereka mencari kesembuhan dengan bolak balik Sby- Penang. Gue bisa lihat perjuangan mereka yg luar biasa. Termasuk melihat anak-anaknya ulang tahun selama sang ibu sakit. How sad.

Tadi pagi suaminya masih posting "mohon doa." Ternyata nggak lama masuk postingan baru "selamat jalan mama".

Huhuhuhu....

Rest in peace, dear Monica. You are in better place now. No needle no pain no tears. You must be happy.

Nggak lama setelah berita itu, dlm perjalanan ke Bdg, gue dapat whatsapp dari nyokap. Salah satu sepupu yg di Jkt hari ini masuk ICU. Lalu baru diketahui dia kena kanker hati. Dan sudah stadium akhir. Ya Allah.

Lalu baru saja ada whatsapp dari teman. Soal Rianti from my previous post. She was hospitalized. Pingsan. Ya Tuhan.

Ya Allah, apa pun yg terjadi, semua kuasaMu. MilikMu akan kembali padaMu.

Thursday, April 23, 2015

That Call

A phone call a day keeps the doctor away.

Hahahaha....

Coba tanya sama orang2 yg LDR. Ya kan? Ya kan? Kan?

Tp sudah lama nih nggak dapat telepon dari jauh. Ya sudahlah nasib.

Maaf ya pagi2 curcol ga jelas....

Tuesday, April 21, 2015

I Know You Read This

Thank you for calling. Meant a lot.

Wednesday, April 15, 2015

Tuesday, April 14, 2015

Baik Hati

"Jangan berkontribusi menciptakan mendung pada hidup orang lain," kata seorang teman, pagi ini. Gegara dia lihat banyak orang yg itikadnya menyusahkan orang. Biasanya atasan sih begitu, ke bawahannya.

Semoga kita semua dijauhkan dari tindakan2 yg nyusahin orang lain yesss.... 

Monday, April 13, 2015

From Last Weekend

Sebenernya yg lucu adalah cerita soal kentjan yg ambyar. Lucu2 nggilani gitu deh. Tp nanti aja yah, gue masih jengkel kalau inget. Jengkel kok gue mau2nya diajak ketemuan. Rasanya pengen menggoreng lalu meniriskan yg ngajak. Hahahaha....

Yg nggak kalah menarik adalah pertemuan dgn beberapa teman2. Yg lalu menampilkan petikan2 percakapan berikut.

Teman 1

"Mak, gue stress."
"Lha, kenapa jg stress. Punya suami, bisa diajak curhat to?"
"Justru seringkali dialah sumber stress gue."

Teman 2

"Kadang gue heran deh. Kenapa gue jadi ngerjain semua. Dari urus rumah, urus anak, sampai iuran RT. Trus skrg suami nelpon melulu hanya krn nggak bisa ganti chip hp. Haduh. Kenapa dia nggak mau urus sendiri? Dia pikir gue nggak ada kegiatan?"

Teman 3

"Susaaaah banget deh kalau udah begini. Bangun siang. Baju berantakan. Sarapan rusuh. Trus tahu2 pergi, ngilang, nggak pamit. Katanya ke bengkel. Seharian di sana. Kayaknya enakan elu yg sendiri. Nggak mikirin apa2."

Gue

Bangun tidur, tanya sm Aria, dia mau sarapan apa dan bawa bekal apa. Masak sebentar. Mandi. Antar Aria. Hbs drop dia di sekolah, kadang2 langsung ke gym, kadang juga ke pasar dulu cari buah. Langsung ke kantor juga bisa. Wong sdh cakep.

Trus kalau di jalan ada yg nawarin tas. Bagus dan pengen? Tinggal dihitung uang di tabungan. Kalau cukup, boleh beli. Kalau nggak cukup, nyicil boleh nggak? Hahahaha....

Sore pulang kantor, kalau mau jalan2 dulu ya tanya aja badannya kuat nggak. Kalau kuat dan mau ya ayo. Kalau nggak ya pikir lagi mau ke mana. Nonton? Pijat? Creambath? Potong rambut? Beli buku?

Liburan mau ke mana, juga direncanakan sendiri. Kalau punya uang, bisa agak jauhan. Kalau lagi bokek, ya udahlah yg deket aja. Semua diputuskan sendiri. Nggak perlu pertimbangan siapa2. Kalau ada apa2 ya nyungsep aja sendiri. Beres.

Mungkin memang lebih enak menjadi gue. Sendiri. Mungkin lho ya.

Saturday, April 11, 2015

Note to Self

Teach Aria to understand that if he ask a girl out on a date, he should not let her touch the door nor the bill.

Friday, April 10, 2015

Do Not Take Anything for Granted

Berapa kali dalam hidup, kita take it for granted?

Sebulan yg lalu, seorang kenalan, sebutlah Rianti, dikabarkan kena tumor otak. Selama ini, dia seringkali merasa mual dan pusing. Minum tolak angin, beres. Jadi dia pikir kalau sedang eneg... masuk angin biasa. Terakhir dia pusing luar biasa, nyaris pingsan, kesakitan, lalu dibawa k RS. Dokter langsung menyarankan CT Scan dan MRI. Ketemulah tumor diameter 6cm nempel di dekat otak kecil.

Waktu berita dia masuk RS tersebar di FB, banyak simpati berdatangan. Gue whatsapp tanya kabar dll. Ternyata dia nggak lama di RS, setelah hasil MRI keluar, dia memilih pulang. Gue yg merasa belum jenguk, tanya rumahnya, mau mampir. "Aku sdh ok kok, mbak," balasnya. Oke gimana sih? Satu org temen yg juga "penasaran" pengen jenguk akhirnya kompakan untuk bareng ke rumahnya. Tp Rianti keukeuh bilang dia baik2 saja. Sampai akhirnya dia ajak kami ketemuan di Pl Senayan.

Oke deh. Kalau sdh ngajak ketemu di mal, memang pertanda baik sih ya. Jadilah pd suatu hari Minggu gue ke PS. Ketemu Rianti yg ternyata pandangannya sudah kabur. Jadi turun taksi pun hrs dituntun. Ke tempat janjian diantar doorman :(

Dia cerita soal tumornya. Soal dokternya. Dan bahwa dia sedang tunggu jadwal operasi. "Menurut dokter, nggak ada jalan lain," katanya. Krn tau bahwa Rianti ini kerja di kantor yg cukup punya nama, dan dia adalah pegawai lama... gue berpikir akan ada asuransi yg menanggung. Jadilah kami ga bahas biaya (yg pasti besar), tapi lebih ke menyemangati dia.

Oh ya, Rianti ini penyelam. Yg menyelam di Raja Ampat, dan baru2 ini ke Maldives. Lalu setelah pd suatu masa dia berhasil menurunkan berat badan smp 25kg, dia juga jd suka lari. Sebutlah marathon di kawasan Asia, hampir semua sudah dia ikuti. Kayaknya tiap bulan pasti ikut event lari, entah 5K atau 10K. Jd dia, seharusnya, masuk kategori orang yg sehat. "Ya ini memang jadi wake up call sih mbak. Supaya aku lebih manis," katanya.

Well... that was a wake up call for all of us.

Kira2 tiga minggu setelah perjumpaan di PS itu, gue denger ada penggalangan dana untuk bantu biaya operasi Rianti. Dari seorang teman, jadi tahu kalau kantornya tidak punya asuransi yang cukup ciamik utk cover operasi sebesar itu. Gue jd curiga sepertinya perusahaan nggak punya asuransi kesehatan. Anyway, gue sempat hubungi orang yg mengaku ketua penggalangan dana. Dan dari jawaban di whatsapp, gue kok nggak seneng ya. Hahaha... jadilah gue putuskan untuk mengumpulkan sendiri dari teman2 dekat.

Nah, saat ngumpulin itu, tahulah kalau ada salah satu teman, Yanita, yg masih saudara (satu buyut) dgn Rianti. Kebetulan kami jg lumayan dekat. Ih... nyambung banget. Jd kami merancang misi menjenguk Rianti.

"Gue nggak tahu rumahnya lho."
"Gampang, gue dulu juga tinggal di sekitar situ. Dulu, kakek kami bedol desa dari Cirebon. Tinggal di situ. Lalu semua lahir di sana. Sampai bapak gue pindah ke Depok. Keluarga Rianti sih masih di situ semua," katanya.

Gue hanya tahu bahwa jalan di lingkungan itu sempit. Kebetulan setiap lebaran gue pasti ke sana, sowan dua bude yg tinggal di lingkungan itu. Krn males nyetir dan membayangkan susah parkir, marilah berhemat dgn hanya naik satu mobil saja. Ok!

Jadilah disepakati pd suatu weekend kami akan berkunjung ke rumah sepupu Yanita itu. Seperti sdh diduga, kami sulit mencari rumahnya. Hahahaha... tp lalu ada kawan yg ngasih nomor kakaknya Rianti. Katanya Rianti nggak boleh telepon nggak boleh main hp... takut radiasi akan membuat tumor membesar. Setelah telepon... ternyata kami sedang nggak jauh dari rumahnya. Jadi seneng deh. Bisa langsung turun. Eh, hujan. Payungan berdua masuk ke halaman rumah. Hmm... ternyata rumahnya model memanjang ke belakang, dengan pintu2 yg mirip satu sama lain. Khas rumah petak di tengah Jakarta. Padahal nomornya cuma satu. Hmm... yg mana rumahnya Rianti?

Dari luar, kedengeran ada yg lagi telepon di salah satu rumah. "Jangan boleh ke sini!"

Lha? Itu suaranya Rianti! Kok dia nggak mau ada yg datang?

Dasar kami dua wartawan keras kepala nggak tahu malu... malah gedor2 pintu yg tadi ada suaranya. "Assalamualaikum... Rianti ada? Halo... mbak Rianti?" Di bawah payung lho itu.

Jadi yg di dalam nggak ada pilihan selain membukakan pintu buat kami berdua. Dan kami jadi paham kenapa Rianti nggak mau dikunjungi di rumah.

Rumahnya ternyata hanya sepetak itu saja. Itu rumah neneknya. Petak2 yg lain disewakan. Dalam petak yg menjadi tempat tinggalnya, Rianti berbagi dengan ayah, ibu, kakak, dan satu keponakan. Kecil. Paling 4x5. Begitu dia buka pintu, langsung terlihat ada kulkas. Di antara pintu dan kulkas, ada tumpukan panci, tumpukan ember, tumpukan kardus2 entah apa. Berdebu dan kumal. Hiks.

Rianti kelihatan banget kaget lihat kami berdua. Dan dia langsung salah tingkah. Ah. Syukurlah kami berdua ini anak2 yg tidak manja dan selalu gembira. Jadi akhirnya kami hore2 aja duduk di kursi bakso. Di teras. Di bawah payung....

Dan kami ngobrol soal macem2. Soal biaya operasi yg belum terkumpul. Soal dia sedang mencoba obat herbal dari dokter terkenal. Soal keluarga yg fully support. Dan soal kantor yg nggak jelas. Waktu gue kasih amplop dari teman2, dia sempat diam lama. "Ini boleh buat MRI ya mbak?" Oalah. You can do anything you want with the money, honey. Setelah kira2 sejam, kami pamit. 

Gue & Yanita diem aja di jalan. Gue kayak habis ditabok. Soal sakit... yaaaa... mudah2an bisa ada upaya yg meringankan.

Gue lbh shock lihat kondisi tempat tinggalnya. Rianti yg gue kenal tuh yg ke Raja Ampat dan Maldives lho. Yg ikut Tokyo Marathon, KL Marathon, HK Marathon... dengan sepatu lari yg dahsyat. Yg pakai tas Kate Spade. Yg kalau potong rambut di Irwan Team Salon. Ternyata dia tinggal di rumah yg berdebu dan kusam. Berhimpitan dengan keluarganya. Aduh. Pergaulan metropolitan yg salah  kali ya? Yg membuat dia merasa hrs eksis di tempat2 yg hits itu, pakai perkakas yg hits juga... Atau dia yg kurang kuat iman? Tasnya itu kalau dijual, bisa lho buat benerin terasnya. Uang tiket ke tempat2 menyelam dan lari itu bisa lho dipakai buat kontrak rumah yg lebih besar... Hmm... taruhlah dia potong rambut di Johny Andrean saja... sisanya bisa buat benerin lemari laci yg sdh bobrok.

Well... hidup ini memang memberi banyak pilihan. Kita yg hrs mengendalikan diri, supaya nggak salah memilih.

Sampai di rumah, gue rasanya bersyukur banget. Alhamdulillah ya Allah... gue punya kasur empuk dgn sprei baru di rumah yg bersih. Alhamdulillah. Hari itu gue belajar (lagi) utk tidak take it for granted.

Tuesday, April 07, 2015

Just a Little Sister

I do understand sibling rivalry. Or I think I do?

Sejak gue kecil, gue ingat orang2 membandingkan gue dan abang gue. Atau setidaknya, gue merasa dibandingkan dgn kakak gue itu.

"Oh ini adiknya kok pemalu, nggak seperti kakaknya yg ramah."
"Lho, adiknya kok nggak mau pakai sandal. Seperti mas itu lho, rapi ke mana2 pakai alas kaki."

Hal2 semacam itu yg teringat oleh otak gue yang (saat itu) masih sangat muda.

Dan gong dari segala perbandingan itu adalah ketika kedua eyang putri (dari bokap dan dari nyokap) berdiskusi soal siapa yg harus tinggal di mana (seandainya bokap nyokap mengizinkan).

"Yang laki2 buat aku."
"Oh ya nggak mau dong. Aku juga mau yg laki2."

Bayangkanlah gue, anak perempuan kecil, mendengar soal "perebutan" cucu laki2. Felt as if I was a useless little girl. Padahal kalau gue ingat, kakak gue itu waktu kecil juga duduls kok: nggak mau makan sayur, penakut, dan kalau makan telur ceplok selalu menyisakan bagian putihnya.

Meskipun dudul, dia kan tetap cucu pertama, cucu laki-laki, anak pertama, anak laki-laki... and so on so fort... yg jelas dia juaranya. 

Karena gue dilahirkan sebagai perempuan yg keras kepala, semakin orang melihat sisi positif kakak gue (dan membicarakannya), semakin gue berbuat yg sebaliknya. Sampai gue ingat nggak mau belajar sama sekali karena males denger orang membandingkan gue dgn abang gue yg juara kelas setiap tahun. Alhamdulillah kok Tuhan Maha Baik, meskipun nggak mau belajar, gue tetep naik kelas. Hahaha.... Akibatnya lagi kalau lebaran, selalu Ary yg dapat hadiah. "Karena juara kelas. Dian kan nggak. Makanya belajar dong." #dzig

Tapi tetap banyak sekali orang yg melihat gue hanya sebagai "Dian adiknya Ary." Yg kok tidak sepintar kakaknya. Sepertinya nggak ada yg ingat bhw gue bisa menari Jawa halus, tp mereka ingat Ary menari tari Manggala yg dia pelajari sebulan untuk syarat jadi Bintang Pelajar. Nggak ada yg ingat Ary pernah minta gitar tapi lalu mogok belajar setelah kelas yg pertama, lalu gitarnya gue pakai buat belajar gitar klasik sampai gue bisa baca not balok dan main beberapa lagu di buku Yamaha dgn bagus.

Ary tetap cucu pertama, cucu laki-laki, anak pertama, anak laki-laki... and so on so fort... Jelas dia juaranya.

Banyak hal di masa remaja yg juga semakin membuat gue merasa kakak gue itu lebih oke (di mata orang2). Mungkin ini satu2nya momen bahwa menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya lebih keren ketimbang sekolah di Universitas Indonesia. Hahaha....

Dan skrg, yg namanya Ary itu masuk jajaran 10 best architect in the country plus 5 most expensive architect consultant (jgn tanya ya versi siapa... gue nggak tahu). Gue sebagai adiknya ya bangga laaaah.... Sekaligus siap2 kalau nanti ada yg tanya, "mbak adiknya arsitek top itu ya?"

Tapi sudahlah. Ya memang gue ini adiknya Ary-yg-itu. Mau apa lagi? Pd kehidupan sehari-hari,  dia juga lovely brother kok. Dan sesuai usia, skrg ini gue juga sudah nggak defensif soal posisi adik itu. Gue pernah jadi editor in chief media internasional, lalu jadi kepala divisi di grup media besar, tetap di satu keadaan gue "hanya" dikenal sebagai "adiknya Ary." Ya sudahlah. Paling nggak dgn segala pencapaian gue itu, nggak malu2in lah dikenal sbg adiknya kakak gue. Dan nggak bakalan ada yg nuduh gue mendompleng karena bidang kami yg beda banget.

Yg jelas dia sayang bener sama Aria. To the moon and back. Yg artinya segala kebutuhan anak gue itu (dan ibunya kalau perlu) akan bisa dibereskan dengan gembira ria. Selesai semua urusan kan.

Barusan, dan ini terjadi sekitar 35 tahun setelah percakapan the eyangs, ada yg menegur gue di FB dgn, "mbak ini adiknya Ary ya?" Hahaha... OMG. 

Btw, kalau gue sbg anak kedua aja merasa segitunya soal kakak gue... apa kabar adik gue ya? Hahaha....

Thursday, April 02, 2015

Lovely Flowers

Bunganya, yg minggu lalu, masih bagus. Makin merekah segar. Warnanya makin merah, ada sisi yang menghitam. Keren deh. Sudah seminggu, tapi masih oke.
Kebayang itu bunga dikirim pakai cinta, diterima dgn penuh cinta, dirawat pakai cinta... banyak yaaa.. cintanya, makanya mungkin awet ya. Seawet cintanya yg sdh sekian tahun itu lho.

Lhaaa.... knp gue jd dangdut ya. Hahahaha....

Wednesday, April 01, 2015

Bekal

Tadi pagi bikin dua bekal. Satu buat Aria, satu gue bawa ke kantor (maunya).
Ternyata Aria suka. Jadi sepanjang jalan ke sekolah, dia cemilin bekal gue. Habis.
"Punyaku masih kusimpan untuk nanti pas istirahat." 

Saiki aku luwe.

Tuesday, March 31, 2015

(Berencana) Membuang Ratjoen

Duluuuu... berarti 10 tahun yg lalu... sebelum hamil Aria, gue pernah iseng nyoba detox badan. Caranya dengan hanya minum jus saja selama 3 hari. Hasilnya? Waktu itu perut kayak argo taksi yg restart, balik ke nol. Jadi setelah detox trus nggak bisa makan banyak krn cepet banget kenyangnya. Efeknya waktu itu sih turun berat badan bbrp kilo (yg kemudian segera naik lagi dong krn hamil).

Nah, mengingat rasa enteng yg menyenangkan itu... tergoda lagi nih buat detox. Jadilah awal bulan Maret siap2 mau cleaning my body. Krn sudah zaman modern, ada cold pressed juice. Nah, lebih sip nih. Dan skrg ada juga catering yg siap menyediakan menu2 detox. Ciamik.

Akhirnya telpon salah satu jasa jus yg ada di sekitar Bintaro. Pesen buat detox 3 hari. Dikasih menu macam2 jus per hari: sayur, buah, sayur + buah, plus satu botol kaldu ayam sbg sumber protein.

Hari pertama nggak merasa lapar, nggak merasa lemes, nggak merasa apa2. Biasa saja. Hari kedua baru berasa mati gaya, dan mulai lambat berpikir. Hari ketiga rasanya semakin bodoh dan pelupa.... hahahaha.... Tp krn sudah hari ketiga kan penasaran ya, jd diterusin sampai malam. Oh ya, untuk yg skrg, gue tetep boleh mengunyah, jd in between masih makan buah juga. Aman.

Menunya campuran macam2. Yg gue ingat adalah wortel+jeruk+nanas, kale+nanas+jeruk, bit+nanas+sawi, jeruk+sawi+nanas, pepaya+nanas. 

Tapi ternyata umur mmg nggak bisa dikelabui... sehari setelah detox baru berasa badan beneran seperti kehabisan baterai. Lemes tiada tara. Rasanya ngantuuuuuukkkk bgt di kantor. Nggak bisa apa2. Nggak bisa mikir. Pengennya tidur. Yg aneh kalau lagi mau ngapain, trus sampai meja... lupa... aduh! Apakah ini pengaruh umur? Rasanya sih iya ya. Ternyata 10 thn ada bedanya yaaa... hahaha....

Malam itu gue tidur lebih cepat dan sepertinya lebih lelap. Rasanya badan habis dipakai buat ngapain gitu yg sampai energinya terkuras. Padahal yaaaa... secara fisik sih masih gede bingiiiitttsss....

Nah, sedihnya kok efek aftermath-nya nggak spt 10 tahun lalu yg perut macam argo restart. Ora blas. Ini malah minggu lalu dihajar makan ini itu nggak ada berhenti. Oalaaah.... racun di badan blm habis... sdh refill ini sih.

Monday, March 30, 2015

Loading Week

Apaan yg loading? Akyuuu... hahaha....

Sumpah minggu kemarin isinya makan2 melulu. Dan kesemuanya brutal... :D

Senin-Selasa-Rabu ya udahlah ya.

Kamis, birthday lunch di kantor. Menunya: nasi gemes, ayam panggang, urap, gudeg krecek. Enak tenan. 

Jumat, farewell dinner di Rasane. Menunya seafood. Mantep.

Sabtu, birthday bash di Playhouse sm Londsdalers. Pecel madiun, ayam & tempe bacem plus kerupuk karak. Kenyang banget. 

Minggu, family dinner di ThreeBuns. Burger and so on. Wiiiiih... seru banget ini badan di-abused dgn makanan2.

Akhirnya tadi pagi memaksa diri jalan 3km dan planking 30 detik. Menebus dosa!

Friday, March 27, 2015

The Aftermath

If you keep running away, things will never be solved.  And left me wonder how someone once said loving me that much can hurt me that bad.

Thursday, March 26, 2015

I Wish You Were Here

A pretty bouquet landed in my messy desk this morning. It is very beautiful, just as I always wanted. I still cannot believe someone was very kind sending it to me. At the moment, I reread the card for maybe hundreds of time. Longing to kiss the sender. And tears are streaming down from my eyes. 

Since I cannot call him, I better say it here in my blog: Thank you very much. You know I love you so much too.

Friday, March 20, 2015

Matahari

Di luar
Bersinar
Terang benderang
Panasnya menghangatkan
Mengaburkan embun
Menghilangkan lembab

Dia, di luar
Kamu di mana?

Wednesday, March 18, 2015

I Knew

"What? He didn't fight for you? After all this time?"
"Oh yeah, thanks for reminding me again that it sucks."

(Percakapan siang hari sambil makan kepiting saus padang (dia) dan sebotol kale-nanas-lemon cold pressed juice (gue))

Monday, March 16, 2015

Sudah

By Ferdinand. Lagunya Ahmad Dhani.

Pas bener.


Wednesday, March 11, 2015

Bergaul & Bergembira

Entah kenapa sejak akhir Februari gue membiarkan diri bergaul dan bergembira. Artinya? Gue rajin datang ke undangan.

Sejak itu, gue sudah datang ke beberapa acara. Dan selalu berakhir dengan gembira. Bahkan meskipun menuju ke tempat acara (dan pulang ke rumah) adalah PR yg lumayan "ya ampun", tetap gue gembira.

Acara apa saja? Macem2. Ada fashion show, launching program, arisan, ulang tahun. Kadang berasa niat bener karena venue yg jauuuuuh dan ke sana pasti maceeeeettt.... herannya kok tetep senang. 

Ada acara yang bikin gue gembira karena ketemu ibu2 sosialita lama. Mereka yg dulu gue foto waktu di majalah dewi. Dan kemarin mereka serombongan ketawa2, ingat masa lalu itu. Saat mrk masih semangat difoto dan gue masih semangat memfoto. Saat ini kok ya kami sama2 santai... hahaha... nggak ada yg minta difoto atau memfoto. Jadi hanya saling ngakak2.

Trus ada juga acara yg mempertemukan dgn teman lama banget, teman yg lama nggak ketemu, teman dari Salatiga, teman nulis buku, teman dari kantor lama, juga teman2 baru... Ternyata memang senang ya ngobrol2 ngalur ngidul nggak jelas. Ngomongin yg sekadar lewat omong kosong nggak mutu.

Memang, di antara yg ketemu2 itu ada juga cerita sedih. Si anu yang pacarnya baru meninggal atau si itu yg harus operasi tumor otak. Dan semua membuat gue bersyukur. Alhamdulillah diberi kesehatan kelengkapan kebahagiaan.

Jadi memang ketemuan2 itu ada gunanya. Dan yang penting gue senang.

Thursday, March 05, 2015

Do You Have Eraser?

You are everywhere. The result of being with you for quite a long time :)

Monday, March 02, 2015

I Hate This Feeling

Menjelang akhir 2014, ada tante yg dirawat di RS. Tante ini istrinya adik bokap yg bungsu. Kami tidak pernah terlalu dekat, tp juga nggak jauh2 amat. Sewajarnya saja sbg keluarga yg tinggal di kota besar. Kadang tanpa sadar hanya ketemu setahun sekali atau dua kali. Nyokap yg sering telpon2an... namanya ibu2 trus bisa ngobrol omong kosong gitu sampai lama.

Nah, sekitar bulan November ada kabar tante dirawat di RS. Pdh yg namanya tante, masuk angin aja kayaknya jarang deh. Tp kok sampai dirawat? Katanya HB drop bgt.

Sesuatu tiba2 gue rasakan. Nggak nyaman dan nggak asyik waktu dengar berita itu. Dan perasaan nggak enak ini bikin gue segera meluncur ke Bekasi, di hari kerja, jenguk si tante. Waktu itu sih kondisinya masih terlihat ok. Bisa ketawa2. Entah kenapa gue kok nggak enak?

Seminggu kemudian, tante dipindah ke RSCM. Gosip beredar beliau sakit kanker darah. Gosip? Iya, krn om nggak pernah mau cerita yg sebetulnya. Om ini persis bokap gue. Rada antik in a sweet way. Selalu berusaha nggak merepotkan orang lain. Nggak mau orang lain ikut2 mikirin masalahnya. Jadi macam sakitnya tante, disembunyikan sampai lama banget dari keluarga. Lha... agak disesali adalah krn selama disembunyikan, tindakan untuk pasien jd nggak maksimal. Oh well... things happened.

Selama tante di RSCM, gue pun sering merasa nggak enak. Dan jadinya lumayan sering ngajak nyokap buat jenguk. Dan ternyata perasaan nggak enak ini berujung pada hal yang menyedihkan. Tanggal 2 Januari, tante kritis, koma. Gue masih sempat jenguk waktu koma. Berkomunikasi secukupnya. Sambil menyesali om yg nggak membolehkan ada hiburan di kamar rawat. Jd bunyi alat infus dan segala printilan yg tit.. tit... tit... itu bikin depresi! Entah kenapa... Pdh orang koma kan bisa mendengar? Masak disuruh denger bunyi alat? Hmm...

Tanggal 5 pagi, ternyata tante meninggal. Innalillahi wa inailaihi rajiuun.

Apakah itu yg menyebabkan gue merasa nggak enak? Nggak tahu.

Yg jelas, tadi pagi gue dikasih tau ada salah satu teman yg masuk RS. Bukan teman dekat bukan juga jauh. Ya... wajar2 saja. Tapi lagi2 gue punya perasaan nggak enak.

Ya Allah... hamba percaya Kau selalu merencakan yang terbaik. Amin. 

Tuesday, February 24, 2015

Big City Girl

Kemarin. Grand Indonesia jam 21.45. Mau pulang.

Pilihan rute:
1. Thamrin - Sudirman - Semanggi - Pakubuwono - Gandaria - Tanah Kusir - Tol JORR - tol BsD. (Perkiraan waktu tempuh 1 jam 35 menit... krn hrs saingan sama motor, kopaja, transJ, taksi kosong yg pasti jalannya sak enak udele sing nyetir, kira2 50km, bayar tol Rp15500)

2. Thamrin - Sudirman - Semanggi - Toldakot - Tol Tomang - Tol JORR - Tol BsD. (Perkiraan waktu tempuh 50 menit, sepi jalannya, kira-kira 62km, bayar tol Rp26000)

Akhirnya pilih yg kedua. Jam 10.20 sudah di rumah.

Bayar tol lebih mahal, pakai bensin lebih banyak... hmm... spending is part of living in big city right?

Tp bersyukur bisa di rumah lebih cepat buat cium2 si ganteng yg tetap lucu meskipun sdh tidur.

Monday, February 23, 2015

A Good Deed

Menolak kencan dgn seorang ayah yg statusnya masih suami orang. Semoga dicatat malaikat sbg perbuatan baik. Amin.

Sebetulnya, agak gemes membayangkan ada suami yg asyik2 ngajak dating perempuan yg bukan istrinya. Trus nanti kalau pulang, ketemu istrinya, ngomong apa ya dia? Biasa saja kayak nggak ada apa2? Heh? Kok bisa sih?

Mudah2an segera disadarkan bahwa hidup harus dimanfaatkan untuk berbuat baik, dan tipu2 bukan salah satunya.


Friday, February 20, 2015

Yak....

Sedihnya baru terasa sekarang. Hiks.

Monday, February 16, 2015

Jodoh Pasti Bertemu

Andai engkau tau betapa ku mencinta
Selalu menjadikanmu isi dalam doaku
Ku tahu tak mudah menjadi yang kau minta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya

Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu

Jodoh pasti bertemu

Andai engkau tahu betapa ku mencinta
Ku pasrahkan hatiku, takdir kan menjawabnya


(Ku tuliskan di nadiku, kau yang tercipta untukku, akan memilikimu)

Ooooooh
Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu

(Jika aku bukan jalanmu)
 Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu

Jodoh pasti bertemu


(Ter-Afgan-isme. Basian hari Sabtu. Pas bener. #curcol)

Friday, January 16, 2015

Someday

One day, you'll see this through my eyes.

Monday, January 12, 2015

Karena Nggak Punya No Telp Batman...

Selamat Tahun Baru 2015!

Resolusi... ra usah wis. Berdoa saja semoga lancar semua yaaaa... Termasuk untuk hal2 yg printilan... semoga nggak ada kendala. Amiiiin.

Jadi ya, ngomongin printilan... barusan aja habis antar Aria, mobil mogok. Ngambek. Si kentang nggak mau start setelah isi bensin. Hadeeeehhh... Dibantu dorong sama mas2 pom bensin ke pinggiran. Parkir aja dulu.

Trus piye? Karena nggak bisa benerin sendiri... harus cari bala bantuan. Pagi begitu... bengkel juga belum buka. Panggil Batman? Nggak punya nomornya. Idiiiiihhh...

Alhamdulillah baru inget... punya kartu ERA. Emergency Road Assistant. Cakep. Jd waktu beli si kentang dulu. Gratis membership 2 tahun. Kok yaaaa... alhamdulillah ingat utk perpanjang itu kartu... Desember kemarin hehehehe.... Nggak terlalu mahal juga. 250rb utk 2 tahun. Ya udahlah... nggak sampai 12 rb per bulan kan? Demi kenyamanan hidup.

Dan bener. Telp Era. Tunggu 10 menit. Teknisi telpon, masih di tol Pd Indah katanya. Tanya posisi gue. Wis. Sekitar 25 menit kemudian hadirlah batman berseragam merah putih hahahaha... Bawa mobil besar yg isinya uba rampe perbengkelan.

Kutak katik sebentar, ternyata ada yg kendor di motor starter, dan setelah dia cek, aki juga tinggal dikiiiiit bgt. Daripada mati lagi, sudahlah ganti sekalian. Dia sudah bawa!! Yo wis, pagi2 zakat aki jadinya.

Nggak sampai 30 menit, semua kelar. Tinggal tunjukin kartu era & bayar aki. Beres deh. Bisa lanjut ke kantor. Sip banget!

Itulah salah satu yg gue pelajari, sejak jadi single mom. Support group! Berhubung nggak punya no telp batman... jd "ngoleksi" no telp batman lain yg stand by 24 jam. Satpam kompleks... rumah sakit... asuransi ini itu... road assistant.... memang untuk itu hrs ada biaya tambahan yang nggak sedikit. Tapi nggak terlalu banyak juga dibanding kenyamanan dan ketenangan kan yaaaa....

Tempo hari si kentang sumbing bibirnya, nyangkut di beton parkiran. Sat set bawa ke bengkel... 200rb aja buat ganti semua bemper depan. Lha kalau nggak punya asuransi kan yo dah nek... kudu bayar piro?

Jadi yaaaa... ibu2... (dan bapak2 juga sih), itulah pentingnya perlindungan. Hayoooo... jangan pelit2 sama asuransi yaaaa....

 

Tuesday, December 23, 2014

Do You Need Other Reason?

Weekend kemarin agak "ternoda" karena sabtu & minggu ada bbrp whatsapp yg menurut gue cukup mengganggu.

"Mbak, ini liputannya mau seperti apa?"
"Mbak, jatahku berapa halaman?"
"Mbak, ini acaranya sampai malam lho, aku harus tunggu selesai ya?"

Deelel semacam itu. Yg buat gue menggemaskan. Ketahuan kan, itu whatsapp dari reporter. Hadeeeehhh... Gue dulu juga reporter kali. Dan seiring berjalannya waktu tentu menjadi dewasa dan bisa berpikir lebih luas. Menurut gue, whatsapp itu lebih mencerminkan reporter yg malas dan ogah rugi. Sebenernya salah sendiri sih kalau rugi hahahaha... soalnya bloon sih nggak mau belajar *wek*.

Jadi akhirnya gue panggil si reporter ini. Kita ngobrol dari hati ke hati. Dan... memang ada beberapa catatan yg menurut gue perlu dia tahu.

Gue bilang ke dia bahwa sebetulnya dia harus lebih memikirkan dirinya sendiri, timbang mikirin ada penugasan harus ini harus itu. Artinya? Dia sudah keluar rumah di akhir pekan. Nggak bisa pacaran tenang karena hrs liputan. Panas2an di JIEXPO. Nah, itu kan sudah rugi banget ya. Kalau dia mengisi waktu liputannya dengan nggerundel krn acara jelek, panitia nggak puguh, kebanyakan seremoni yg bikin bosen, panas banget venue-nya... apa nggak makin rugi?

Kalau sdh terjebak di hal seperti itu, nggak ada cara lain untuk survive, selain total nyemplung aja. Ya nggak sih. It is either you join the dance or you just watch in sorrow. Gue sih akan milih join the dance. Kan bisa ngobrol sama peserta acara. Ngobrol sama penjaga stand. Ngobrol sama petugas parkir juga oke aja, tanya pendapatan dia kalau ada event bisa naik apa enggak. Jadi artikel juga kan? Ah itu sih gimana kita mengatur kepala dan badan kita spy bisa lebih bermanfaat.

Dan bukan masalah dua halaman, satu halaman, atau satu kolom. Seharusnya setiap reporter (penulis) bisa punya banyak sekali data, yg kalau nggak dimuat di medianya ya dia muat di tempat lain. Ya kan? Nge-blog juga boleh deh. Yg pasti harus mendapat sesuatu yg berguna.

Jangan sudah keluar rumah di hari minggu trus nggak dapet apa2, cuma kepanasan sampai kulit ungu doang. Rugiiiii....

At the end, sebagai perempuan, kita akan sampai pada titik harus ngurus keluarga, akan punya anak (Insya Allah), harus urus anak. Kalau kita ingin berkarir di luar rumah, ya bagus aja. Tapiiiii harus jadi yg paling moncer dong. Harus maksimal. Sudah ninggal anak trus di luar rumah gitu2 aja? Hissss... mending nggak usah keluar rumah. Rugi kok dua kali.

Friday, November 21, 2014

Huhuhu... Sedihnya

Sudah merencanakan ini itu bareng OmD. Yg seharusnya siang tadi terbang ke Jkt. Aria pun sdh senang sekali.

Trus, kok aneh sampai jam 4 nggak ada kabar. Eh... bener... baru saja terima kiriman foto, yg ditungguin lagi diinfus, di Siloam KL, krn pingsan di bandara. Mau nangis gerung2 rasanya.

Inilah ya yg disebut manusia berencana, Tuhan menentukan. Selama ini ngomong doang, gampang bener. Begitu mengalami rasanya mak nyuuussss....

Skrg nungguin dokter di sana observasi. Mudah2an sih hanya kelelahan saja. Jengkel juga mbayangin kelelahan kok bisa sampai begitu. Ignorance sdh tingkat akut kayaknya si OmD. Huh.

Udah ah, mau nangis dulu. Trus gimana juga caranya ngasih tau Aria ya? Huhuhu....

Monday, November 17, 2014

Don't Be So Mellow, Yellow....

Ceritanya seminggu kemarin ada beberapa kegiatan yg tidak bisa gue ikutin. Kenapa? Krn harus pulang cepat, Aria minta & gue nggak ada alasan menolak... selagi bisa.

Bisakah? Bisa sih... tapiii....

Jadi, ada beberapa acara yg gue hrs skip. Penting atau tdk acara itu, tergantung dari mana melihatnya.

Satu acara adalah ulang tahun temen yg relatif baru tapi seru. Di Plataran, Dharmawangsa. Satu lagi acara arisan ibu2 eks pembaca majalah gue yg lama, yg masih rutin berkumpul. Satu lagi acara launching buku. Bukunya mungkin ya udahlah... tp penulis dan undangannya adalah teman2 lama yg dijamin seru saat bersama.

Tiga2nya gue nggak dateng.

Dan seperti sdh biasa dilakukan, sejam setelah acara dimulai, foto2 wefie, selfie, live-tweet... bertebaran di mana2. Dan omongan ttg hal itu msh berlangsung terus sampai dua hari setelahnya. Dan gue jadi melihat wajah2 ceria mereka. Teman2 gue itu had a very good time. Yg launching buku... ya gitu aja, tapi after party-nya hore banget. Yg ultah seru banget di tempat yg bagus. Yg arisan gokil2an, sampai malam. Pas ada yg baru jualan kue2... bawa kue banyak... lgs diserbu. Seru aja lihat fotonya.

Dan gue hanya melihat fotonya saja.

Setelah goncang sekali nggak kepuguhan di kantor, gue harus pulang. Nggak ada daya utk senang2 dulu. Oke deh. Dan acara minggu kemarin itu bukan minggu pertama gue absen dari keriaan berjamaah. Fashion week, bazaar indonesia, launching ini itu, undangan ini itu....

Setelah gue pikir... banyak juga acara yg gue lewatkan.
Bukannya gue tidak mensyukuri bisa sama2 Aria. Bukan itu. Gue seneng sekali bisa ketawa2 sama dia, ngobrol ini itu yg remeh temeh (tapi terlihat sbg big deal buat dia). Gue seneng sekali. Hanya ada rasa... apa ya? Aneh gitu. Gue kok nggak punya temen gini ya? It was just the two of us. Gue dan Aria.

Pacar? Hmm... dia kayaknya sdh merasa gue cukup mandiri untuk bisa hidup sendiri nggak perlu diurusin. Bahkan ditelpon pun jarang. Ditengok? Hmm... sudah lama nggak tuh. Dan seminggu kemarin pun dia jg sibuk di kantor, jg dgn teman2nya... weekend sibuk dgn group sepeda. Gue mungkin hanya ada di selipan2 nggak penting dalam pikirannya. Oh well....

At the end of the weekend, gue betul2 merasa gue ini sbg single mom tanpa teman yg sendirian saja. All alone.

Okay, I wish this is just a hormonal issue. Beginilah curhat perempuan yg kurang kasih sayang.... hahaha....

Thursday, October 23, 2014

Selamat Ulang Tahun

Sepuluh tahun yg lalu... Aria lahir. Mungil. Putih. Pendiam. Skrg dia sudah besar. Kulitnya coklat. Cerewet. Tapi masih tetap membanggakan. Dan akan selalu begitu. Selamat ulang tahun, Aria sayang. I love you no matter what.

Wednesday, October 01, 2014

Hello There!

Tadi, di antara riuh rendah deadline dkk... gue sempat baca2 posting lama. Lihat2 foto Aria waktu kecil (dan kurus nggak mau makan). Dan tentu baca2 cerita2 lucu. Juga komen2 dari teman2... Hmm... wherever you are... semoga semua teman2 blogger selalu sehat. Amin.

Trus jadi mikir... apa yg sdh jadi pencapaian sejak nulis2 blog ya? Hmm... kok lama jawabnya? Hahahaha....

Yg dibilang pencapaian itu apa ya? Ukuran tabungan? Daftar hak milik? Jabatan? Embuh yo... opo yo....

Tapi anyway, secara rata2 kehidupan bahagia sejahtera... Alhamdulillah... nggak ada komplen deh. Kesehatan ok. Finansial ok. Karier ok. Nggak ada yg nggak ok... jd nggak boleh berhenti bersyukur.

Alhamdulillah....

Monday, August 04, 2014

Ramadhan :)

Ahahaha... akhirnya posting lagi setelah sekian lama....
Apa kabar? Semoga sehat.... amiiiin....
Kesehatan memang nomor satu. Kalau besok pilpres... coblos nomor 2. Salam dua jari!

Beberapa saat sebelum Ramadhan, gue dapat kesempatan pergi umroh. Akhirnya! Setelah 11 tahun lalu gagal.... tentu saja kesempatan kali ini sangat menyenangkan buat gue.

Yg skrg pun sempat dag dig dug. Jadi ceritanya, ini adalah program kantor. Ada kerjasama dgn travel biro, jd karyawan bisa berangkat dgn bayar 50% saja. Satu karyawan jatahnya 2. Ya semacam buy 1 get another 1 gitu deh.

Nah, kapan itu sempat dikeluarkan list yg mendaftar program ini. Gue ada di nomor 23. Ya tentu saja gue pikir baru akan berangkat tahun depan. Rencananya berangkat sama Cay.

Ternyata oh ternyata, waktu ada tawaran berangkat bulan Juni, orang2 yg antri di depan gue nggak ada yg bisa. Memang sih, jeda waktu antara dikasih tau dan keberangkatan hanya sekitar 3 minggu. Gue pun awalnya ragu, krn kok ya pas paspor mati. Tapi ya sudah gue iyakan. Urus paspor... sekalian sama punya Aria juga.

Sempat mikir juga: bayar pake apa ya? Soalnya kan bulan Juli sdh pasti hrs bayar sekolah. Tabungan... ada sih.... tapi kok rasanya sayang setelah ngumpulin sekian lama....

Tapi lalu seperti disadarkan kalau semua milik kita ini kan punyanya Allah SWT to yoooo. Aduh maaf ya Allah... ampuni hamba.... tabungan2 itu kan titipan saja. Ya udahlah pake aja kalau mau bertamu ke rumahNya. Kenapa ragu? Belum tentu tahun depan masih ada umur, masih ada kesempatan lagi. Hihihi... aku malu sendiri...

Krn Cay jadwalnya penuh.... Pap yg gantiin. Oke. Ternyata oh ternyata... ganti2 jadwal krn gue sdh ada tiket utk perjalanan me-time yg mepet banget waktunya. Jadi Pap pun batal.

Disebarlah kesempatan satu kursi ini ke grup keluarga. Ada bude yg berminat.Tapi beliau belum punya paspor. Dan tinggal di Malang. Jreng! Pdh keberangkatan tinggal 15 hari lagi. Hihihihi.... Tapi masak gue bilang "nggak boleh"? Kan ya gak mungkin. Jadi akhirnya memang mendaftar berdua. Bude langsung urus paspor (belakangan ternyata nggak langsung ngurus lho, masih pakai galau dulu ngitung tabungan... hahaha). Trus ada kasus MERS. Halaaaah... ono2 wae. Ya sudahlah Bismillah kan niatnya mau ibadah ya.

Tapi memang kalau sudah diabsen sama Gusti Allah harus bertamu... harus sowan... ya memang pasti bisa. Kemarin itu semua berjalan dengan pas. Ya pakai mules2 sih. Mules nunggu paspor jadi, mules nunggu paspor dikirim ke Jakarta, mules nunggu visa... dll.... Hari Selasa berangkat... visa baru keluar Minggu sore. Hehehehe....

Bukan congkak bukan sombong... ini travelnya lumayan. Penerbangan Jkt-Dubai-Madinah. Sampai Madinah pas subuh. Weh... sholat di Masjid Nabawi dgn bercucuran air mata. Embuh ngopo kok iso nangis yo?

Sudah dikasih tahu kalau di Tanah Haram harus pakai baju tertutup. Dan sepertinya sdh cukup tertutup rapat (sampai merasa kayak guling). Tapi oh ternyataaaaa... pria Arab memang buas. Ada satu hari pakai baju warna terang. Maklum centil. Baju biru, kerudung bunga2. Rasanya sih cakep deh. Entah warnanya yg terlalu menarik hati kali ya? Pas nyebrang jalan, ada mobil yg sengaja berhenti, klakson, trus orangnya ngomong apaaa gitu (mana kupaham?). Yg jelas rasanya udah nggak bener deh. Nah... pas pulang dari masjid, Bude mampir toko souvenir. Gue ngikut aja. Eh... lagi nunggui si Bude, tiba2 ada orang dari dalam toko (sepertinya si pemilik toko), keluar, trus dia bengong, trus bilang, "Masya Allah. Subhanallah!" Sambil matanya melihat ke gue dengan buas. Huaaaaa.... Bude langsung berkemas dan kaburlah kami ke hotel! Serem gila. Sejak itu gue hanya keluar dgn baju dan kerudung putih atau hitam. Ora centil blas.

Seperti halnya semua orang yg ke Masjid Nabawi, selalu hrs mencoba ke Raudah. Ini adalah bagian masjid yg dibangung oleh Nabi Muhamad SAW, jadi cikal bakal Masjid Nabawi. Tempatnya sekarang jadi bagian utk sholat laki2. Jadiiii... hanya dibuka utk perempuan pada saat tertentu. Dan spt yg sdh gue bayangkan, yg ada desak2an lah di situ. Konon, siapa yg bisa sholat di situ, doanya akan dikabulkan. Insya Allah. Amiiiiin....

Pertama kali masuk Raudah, bareng sama rombongan. Trus ya masuk bergilir per bagian/rombongan. Ada Malaysia, Turki, Indonesia... macem2. Jadi para petugas (asykar) akan membagi kapan rombongan ini boleh masuk ke Raudah. Nah, suatu saat, selesai sholat Ashar, Bude tuh iseng pengen lihat Raudah lebih jelas. Waktu pertama masuk kan desak2an, jd nggak sempat lihat. Padahal di situ ada makam nabi & sahabatnya. Bude gue tuh model orang yg penasaran banget... hehehe... Berhubung gue sdh janji sama para sepupu utk menjadi escort yg baik, jadi gue ikutin deh. Daripada ilang....

Selesai sholat Ashar, kami berdua melipir2 di tengah2 rombongan. Waktu mereka masuk ke masjid, kami nggak ikut masuk, tp duduk di luarnya. Saat itulah kami bisa mengamati dengan sejelas2nya interior Masjid Nabawi. Termasuk saat atap di dalam dibuka dan ditutup lagi (nggumun... ndeso). Trus pelan2 kami "tergeser" sampai di depan Raudah. Pas di situ, kira2 sejam sebelum Maghrib... jadi tempat itu sdh mau dibersihkan (dan dilarang utk perempuan), krn akan jadi tempat sholat laki-laki. Ternyata... di masa transisi seperti ini malah petugasnya santai. Jadi kami bisa masuk Raudah pelan2... meskipun masih desak2an, kami bisa milih tempat yg lebih lega untuk sholat. Dan setelah sholat, kami bisa melihat jelas tempat2 penting di dalam masjid. Seperti tempat azan dan tempat imam. Weleh... untung gue punya Bude yg petualang! Hahahaha....

Besoknya, karena Bude pengen tahu Makam Baqi, akhirnya kami keliling Masjid Nabawi. Lagi2 Bude hahahaha.... Konon, perempuan nggak boleh masuk makam. Dan memang makam di Arab kan bukan model yg bisa dikunjungi seperti di Indonesia. Bentuk makam hanya semacam luasan tanah berpagar tinggi yang ada batu2 utk penanda. Kalau ada jemaah yg meninggal di Madinah, akan langsung dimakamkan di sini. Makanya, setiap selesai sholat wajib, pasti ada sholat jenazah.

Nah, gara2 ke makam ini, kami akhirnya keliling Masjid Nabawi. Jadi bisa lihat Raudah dari sisi luar. Nggak tau deh tuh jalannya berapa jauh. Yg jelas begitu sampai di hotel, kaki rasanya ketuker yg kanan dan kiri... hahahaha....

Tiga hari di Madinah. Pindah ke Mekkah naik bus. Jadi ambil miqot (niat umroh) di Bir Ali. Baru tahu kalau yg punya kostum wajib utk umroh hanya laki2 (pakai ihram). Kalau perempuan bebas mau pakai baju warna apa saja, yg penting tertutup rapat. Hanya menampilkan wajah, telapak tangan dan kaki sebatas mata kaki. Horeeeee... bisa centil di Masjidil Haram. Hahaha....

Sampai di Mekkah jam 11 malam. Check in hotel dan langsung ke masjid. Umroh yg pertama. Lihat Kabah udah nggak tau mau bilang apa. Speechless akhirnya bisa sampai di Baitullah. Ndomblong. Doa yg sdh dihapal ambyaaaarrrr... hanya ingat doa sapu jagad saja. Alhamdulillah banget umroh jam 2 selesai. Rasanya sudah campur aduk antara haru dan juga capek luar biasa. Bersyukur banget bisa ke sana.

Yg menyenangkan, di Masjidil Haram tidak ada waktu khusus untuk sholat sunnah. Tahajud bisa kapan saja. Sholat Duha bisa kapan saja. Wah, syedap. Silakan menanggok pahala sebanyaknya. Sekuatnya. Sholat sunnah tahiyat masjid bisa diganti dengan Thawaf (keliling Kabah 7 kali). Menyenangkan.

Karena sedang dibangun, ada banyak alat berat "berserakan" di Masjidil Haram. Tapi ada deck sementara yg dibangun keliling Kabah. Nah, gue sih lebih suka thawaf di atas deck. Meskipun kelihatannya lebih jauh, tapi lebih sepi jadi lebih nyaman. Maklum yaaa... gue kan ga suka uwel2an....

Sejak baru pertama datang, Bude sudah gemes aja pengen cium Hajar Aswad. Tapi lalu gue berhasil menenangkan. Karena toh kami akan bbrp hari di sana, baiknya pertama konsentrasi umroh dulu. Besoknya bisa datang utk sholat wajib, lalu foto2. Kalau mau coba cium Hajar Aswad atau mau pegang Rukun Yamani juga bisa. Yg penting pertama ke sana umroh dulu, mumpung masih ada tenaga.

Jadi besoknya baru kami menjelajah Masjidil Haram utk yg lain2 selain umroh. Alhamdulillah bisa sholat di Hijr Ismail. Konon ini juga tempat mustajab utk berdoa. Ya gitu deh, krn terlalu excited malah lupa nenuwun macam2... yg penting bersyukur alhamdulillah.... hehehe.... Masih ingat mendoakan kesehatan orang2 tersayang. Tapi sungguh terlupa meminta jodoh. Hiks.


Ternyata memang lebih enak kalau umroh ke Mekkah dulu (seperti Jokowi hehehe). Krn memang umroh yg wajib ya di Masjidil Haram. Kemarin itu karena sdh agak lama di Madinah, jadi perlu tekad kuat utk bisa selesaikan ibadah umrohnya. Alhamdulillah bisa umroh 2x.

Sempat juga keliling2, termasuk ke Arafah, melihat tempat haji. Kalau lagi nggak dipergunakan ya seperti padang luas biasa saja. Kosong melompong. Kebayang betapa banyaknya yg ke sana saat berhaji, sampai bisa macet. Hohohoho....

Yg agak jadi ganjalan adalah tidak adanya budaya antri yg tertib, baik di Masjid Nabawi atau di Masjidil Haram. Semua cenderung untuk mau uwel2an dan desak2an. Entah kenapa. Seperti kalau di Raudah, seandainya dibuat antrian yg bagus untuk sholat di sana, tentu akan lebih nyaman. Dan yg jelas lebih aman terutama utk mereka yg sdh berumur. Atau seperti mencium Hajar Aswad. Kenapa ya harus sampai segitunya, sampai ada "calo" yg bantuk mendesakkan orang. Lhaaa... pdh kan sdh jelas kalau mencelakai orang lain tidak boleh. Tapi ya begitu deh, budaya antri jangan2 memang nggak banyak disebut-sebut dalam ajaran agama Islam ya. Makanya susaaaaah banget menerapkannya. 

On the way ke Jakarta, pesawatnya dari Jeddah. Jadi nginap semalam di sana. Dianterin suaminya teman yg memang kerja di sana, malam itu sempat jalan2 keliling. Kotanya cukup modern. Dan ramai banget setelah jam 10 malam. Siang sampai sore lebih mirip kota mati yg gersang dan panas. Begitu malam, baru deh ramai. Termasuk anak2 juga banyak yg lari2an di pantai.

Raja Fahd membangun air mancur di laut Merah. Caranya? Dia pasang pompa raksasa utk memompa air laut ke langit. Welhadalaaaahh.... airnya jadi mancur setinggi2nya. Hahaha... dolanane wong sugih sing edan....

Selesai di Jeddah... kelar deh perjalanan umroh. 2 minggu nggak ngurus apa2 selain berdoa dan ibadah. Enak banget rasanya. Mudah2an kapan2 ke sana lagi. Amiiiin....


Wednesday, March 05, 2014

Terima Hasil "Ulangan"

Ealaaaah... setelah menjelang umur 40 kok ya masiiiiih aja deg2an "kenaikan kelas". Itu kan harusnya ya 30 tahun laluuuuuu....

Setiap tahun berusaha disiplin cek kesehatan. Nggak usah yg serem2, standard aja. Yg penting darah dan organ penting dicek. Nah... tes setahun sekali ini selalu bikin deg2an macam habis ulangan. Kalau nilainya jelek, gimanaaaaa....

Maklumlah, meskipun tiap hari olahraga, makan juga nggak brutal, nggak merokok, nggak minum alcohol... eh... tapi riwayat keluarga kan penyakitnya banyak seraaaam.... Apalagi di rumah ada eyang yg sama2 juga olahraga tiap pagi, puasa senin kamis, makan biasa saja (malah nggak doyan nasi), tapi setiap bulan cek kolesterol nggak pernah rendah. Nah nah nah... jadilah deg2an.

Hari ini hasil tes itu dikirim ke kantor. Ternyata saya lulus! Hahahaha... Alhamdulillah. Masih sehat wal afiat. Kolesterol normal, asam urat rendah, semua baguuuuusss... yippiiiieee....

Catatan dari dokter hanya satu: segera buat janji dengan ahli gizi utk penurunan berat badan.

Jiaaaah... itu sih nggak perlu dilihat pakai test lab yak!

Friday, February 14, 2014

Oh My God

Semalam notification di hp bunyi2 terus. Spt biasa nggak gue gubris, malah gue silent, setelah tahu itu dari blast email kantor. Kalau urgent buat gue, biar telepon saja #sikap. Pagi2 baru baca satu2, email2 dan sms itu ttg liputan mendadak ke Jawa Timur. Untuk liputan Gn Kelud yg meletus. Dan juga rencana bedah editorial pagi yg kemungkinan batal karena metro tv akan siarkan breaking news.

Ya ampun. Ada gunung meletus lagi?

Indonesia lagi banyak dicoba ya. Memang tinggal di ring of fire ini bahayanya sdh diketahui sejak lama. Tapi tidak pernah ada mitigasi bencana. Emergency drill hanya dalam mimpi saja.

Lalu seharian ini lihat tv isinya abu vulkanik di mana2... sedih banget ya.

Ya Allah, mohon ampunan, mohon perlindungan. Semoga semua bencana segera berlalu. Amin.

 

Wednesday, February 12, 2014

Mari....

Seperti biasa kalau lagi rusuh malah ga bisa ngapa2in. Jadi iseng ngoprek postingan lama. Yg seru tuh menjelang Aria lahir ternyata ya. Wow... 10 tahun lalu?

Ada beberapa nama yg masih menjadi teman baik sampai sekarang. Ada yg dari dulu juga blm ketemu tapi kami berteman dengan cara kami. Ada yg nggak tahu kabarnya gimana... dan penasaran sih, karena mereka orang2 yg baik hati. Ada yg ngilang blas gitu aja dan gue nggak peduli juga krn mereka pun nggak manis kok....  Friends come and go, some of them stay in my heart & my life.

Kadang pengen tahu juga apa kabarnya mereka2 yg dulu sepertinya benci bener ya sama gue. Tapi heran, benci kok masih baca (dan ninggalin komen) di blog. Hehehe... benci tapi rindu yaaaa....

Membaca lagi tulisan2 lama, terlihat sekali bahwa hidup itu lucu dengan caranya masing2. Up and down. Menyenangkan. Menegangkan. Melelahkan. Tapi tentu saja penuh rahmat dan berkah. Alhamdulillah.


Tuesday, February 11, 2014

Selagi Sempat....

Memang "jleb moment" itu bisa kapan saja ya.

Masih terkenang sama acara Kick Andy bbrp minggu lalu. Yg tampil Helmi & Tantowi Yahya. Mereka cerita gimana caranya bangkit dan sukses, padahal ortu nggak punya.

Ayah mereka pedagang kacamata di emperan toko. Yg kalau malam lemari kacanya dititipin ke toko terdekat. Meski hidup susah, sejak SMP dua anak terkecil ini disuruh les bahasa Inggris. Ayahnya bertekad: kemiskinan harus berhenti di dua anak ini.

Jadi, Helmi & Tantowi kecil jalan kaki ke tempat les bahasa. 5 km (apa 15 km ya?). Tiap hari.

Meski mengaku waktu kecil ngomel2 juga karena nggak bisa main, nggak bisa senang2, tapi skrg dua orang itu mengakui bahwa pendidikan ayahnya yg membuat mereka sukses sekarang. Waktu dua anak ini sudah berhasil, sudah punya gaji sendiri, ayahnya meninggal.

Yang bikin mak jleb adalah waktu Tantowi cerita perasaan dia sekarang. Sukses. Iya. Punya uang. Iya. Keluarga bahagia. Iya. "Tapi saya sungguh iri kalau melihat di airport ada keluarga yang bepergian ramai2, dan ada ayah ibu mereka. Saya tidak sempat mengajak ayah dan ibu saya jalan2 melihat dunia. Setelah ayah meninggal, ibu sakit. Jadi memang mereka tidak sempat menikmati keberhasilan saya."

Trus Helmi bilang, "Bahagiakan ibumu, selagi sempat."

Ternyata ya, yang sudah beberapa kali gue lakukan, pergi2 sama nyokap... yg menurut gue sih biasa banget.... bisa membuat iri orang2 yg tidak punya kesempatan pergi2 sama ibunya.

Sometimes we take something for granted.



 

Friday, February 07, 2014

Me Time

I just realized that the only place I can be completely alone was when I am in my car. Since I need some time to release some burden, I went a bit early today, jumped into a very heavy packed toll road, then drove around Jakarta.

It gave me almost 3 hours. To cry.

Good.

Wednesday, February 05, 2014

Lucky Man

I know I get through... if I can stay with you... forever.... (Lucky Man - Dave Koz)

Tiba2 aja inget lagu itu tadi pagi. Gara2 baca postingan mbakyu @pasarsapi di blog-nya. Soal keberuntungan.

Bukan berupa uang atau hadiah kebendaan, tapi yg lain2. Apa namanya ya?

Jadi, si mbak itu habis ke Denpasar. Sepanjang jalan & selama di sana, dia melihat banyak anak2 yg tantrum, ngawur sama ibunya, jerit2 ora karuan. Dan seketika itu dia ingat bahwa putrinya selama ini adalah anak yg manis. Kira2 gitu deh.

Habis baca itu, gue pun jadi ingat anak gue sendiri. Yg menurut gue sih semanis madu. Ya kalau dia malas mandi, suka berantakin rumah, kalau disuruh bikin PR malah kabur keluar dr rumah.... ya udahlah ya....  toh dia nggak pernah gebrak2 meja kalau lagi ga mau makan di restoran yg dia suka. Atau nggerung2 nangis di depan toko mainan kalau pengen sesuatu.

Paling banter, Aria hanya merengek. Yg itu pun sebenernya cukup nyebelin dan gengges... hahaha.... tp saat sdh lewat kok ya lucu juga. Namanya anak2 ya memang wajar kalau ngringik-an to.

Bahkan skrg kalau dia pengen ini itu, dia akan bilang, "Aku sedang... depannya 'p' belakangnya 'n'." Lalu kami akan sibuk nyari kata itu, dari mulai "papan", "pesan", "patin".... yg akhirnya nggak ngomong soaln "pengen" sama sekali. Dan kami bisa ketawa2 bareng.

Akhirnya memang gue harus banyak2 bersyukur pada Allah SWT dikaruniai anak yg manis. Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan.




Thursday, January 30, 2014

Hello...

What is happening since my last post? A LOT OF THINGS!

Sampai lupa apa aja saking banyaknya. Mungkin memang harus berniat habis2an untuk menulis satu posting tiap hari. Krn banyak gunanya lho. Gue inget2, setelah nggak rajin posting, gue makin mudah buntu kalau harus menulis. Alasan aja kali ya memang dasarnya gue males.... hahaha....

Job related issue... klien datang dan pergi. Ada satu yg sebelnya sampai ke ujung rambut sama gue. Hahaha... emang gue pikirin. Tp akhirnya curhat ke anak buah gue: Budiana itu nggak sadar kalau konsumen adalah raja.

Ealah pak, jadi konsumen harus pinter. Pikir yg bener mau bayar desainer atau tukang jahit? Demikian.

Tp overall kantor ini cukup menyenangkan. Tim sdh terbentuk sesuai yg gue mau. Atasan jg cincay ajaaaa... sdh mengakui dia nggak paham prosedur majalah jd semua dipasrahkan padakuuuu. *glek*
Kerjaan sih segudang. Tetep. Ya udahlah, dikerjakan saja toh dari sinilah bisa bayar sekolah Aria, bayar cicilan si kentang, bayar rumah BSD, dan bersenang2! Alhamdulillah.

Mau posting apa lagi ya? Nggak menarik nih. Hahaha....

Ya udahlah pokoknya membuktikan: blog ini tidak ditelantarkan kok....

Gong Xi Fa Cai!

Friday, December 20, 2013

I Did Not Abandoned This Blog

I just don't have enough time to write anything down lately. *sigh*

Jadi lebaran kemarin berlalu spt angin. Wuss wus wuuuussss... gitu aja. Nggak ada open house di rumah. Kel Bdg ke BsD & kami jalan2. Seru. Seperti biasa punya kesempatan menikmati Jakarta yg sepi. Rumah-kantor 45 menit. Senayan City-BsD 45 menit. Cakep banget kan....

Seminggu setelah lebaran, di rumah ada pengajian. Menyambut pernikahan Cay. Yes, my (not so) little (anymore) brother was tying the knot with his dream girl. Pengajian sederhana di rumah, dihadiri pak ustaz sm bbrp teman pengajian eyang. Lalu kami kirim makanan ke tetangga dgn pemberitahuan pernikahan dan mohon doa restu.

Lima hari setelahnya, kami ke Malang. Dr Jkt 2 keluarga: dari BsD & Bekasi. Seru banget ternyata ya pergi rame2. Kel Bdg langsung, nggak lewat Jkt. Spt biasa Aria senang2 bisa jalan2. Apalagi ini rame2. Wooooh....

Dan semalam sebelumnya Om D sdh ngasih kado kecil dgn note: dibuka di perjalanan. Hahahaha... Aria sungguh penasaran sekali isi kado2nya. Sampai guling2 di kasur krn pengen ngintip. Pagi2 langsung bangun dan intip2 lagi. Dan waktu dibuka di airport, isinya Lego, dia loncat2 dgn wajah lucu. Hahaha....

Sampai di Malang, nginep di Cozy Guest House di jl. TGP. Dekat Ijen. Bagus tempatnya, sesuai dgn namanya. Hampir semua kamar isinya saudara & teman. Jadi seru deh. Gue langsung gelar dagangan... bongkar satu koper yang isinya seserahan. Hehehe... ini memang yg menyenangkan buat gue krn boleh belanja! Ada alasan buat beli2. Hihihi... jd sore itu dihabiskan buat nata2 seserahan 5 kotak. Seruuuu.....

The wedding was awesome. Akad nikah sederhana di rumah mempelai wanita. Hari Jumat 23 Agustus. Sesaaaaak banget nahan air mata. Haru deh. Krn Cay itu kan dulu ya tak uyel2 kok saiki wis kawin. Hahaha... Trus Galuh jg anak cewek satu2nya. Wis to... nangis2an aja itu awal acara. Sampai Aria aja ikutan mewek, "Aku nggak mau nangis tapi nggak bisa ditahan ini...." Lucuuuu banget anakku.

Yang diundang keluarga dan tetangga... tp tentu saja kalau akhirnya tamu membludak yaaaa gimana yaaa... hahahaha.... Akhirnya saking ramenya dan pengantin pusing, baru sadar nggak punya foto yg benar untuk keluarga. Hahaha... ya udahlah.

Saking rusuh dan uwek2, Aria sempat mogok. Nangis. Yaaa capek juga kali ya. Trus kepanasan. Laper (makanan nggak ada yg cocok). Dan mungkin agak ngambek krn konsentrasi Ibu kok ke pengantin, dia nggak diperhatikan full. Hehehe.... Acara blm selesai sdh ngambek. Akhirnya gue bawa ke mobil.

Ngadem sebentar. Trus gue bilang, "Mas, kalau ngambek2 gitu kan nggak lucu lho. Lagian, ini kan acara nggak mungkin diulang. Kalau misalnya kamu ngambek terus, nggak ada fotonya sama PapaCay & tante Galuh... ya udah nggak bakal ada fotonya selamanya. Kan nggak mungkin minggu depan PapaCay bikin pesta lagi trus foto2 lagi. Kesempatan foto ya hanya sekarang."

Dan berhasil! Aria mikir2 gitu... trus pakai sepatu dan benerin baju. "Ayo bu, balik lagi ke tempat acara. Kita foto2 dulu seblm pulang."

Hahahaha.....

Akhirnya jam 11.30, sblm sholat Jumat, selesai seluruh perhelatan. Aria baru masuk mobil lgs tidur. Gue jg baru sadar kok ngantuuuuk bgt. Ternyata baru ngeh, malemnya tidur kemalaman krn ada temen2 mempelai yg nyari pengantin. Hiyaaah... pengantinnya dikeloni eyang. Mana berani gue ketok pintu kamar atau telepon! Bisa digoreng. Akhirnya gue temenin smp malem. Pdh paginya jam 4 sdh mulai antri sanggulan. Heeee... pantes ngantuk yaaak....

Gue selesai copot sanggul ganti baju cuci muka trus langsung naik tempat tidur. Rasanya kok ngantuk nggak bisa ditawar. Pdh di luar pd kasak kusuk mau cari rujak cingur. Ada yg mau beli oleh2. Ah ndak duliiii... saya ngantuuuuukkk....

Sadar nggak sadar denger Aria buka2 kotak cari roti. Trus dia keluar kamar, masuk lagi bawa bungkusan rujak cingur. "Ibu makan dulu dong." Trus samar2 di luar dengar suara ketawa2, kayaknya saudara pada kumpul. Tapi ibunya ini sdh nggak sanggup buka mata. Hahahaha....

Lumayan tidur nyenyak, kebangun jam 3. Masih ada suara ketawa2.... ternyata ada saudara dari Surabaya yg baru datang. Hohoho. Seru jg bisa nimbrung. Habis mereka pulang, giliran eyang yg pingsan. Trus satu2 pada masuk kamar.... laaaah... gue sendirian yg bangun. Ahahahaha....

Krn nggak ada kegiatan jd iseng. Ke toko Lai2... ke bakso bakar.... iseng banget. Semangat nemu perut ayam & ayas di Lai2 yg rasanya sesuai bayangan. Mak nyuuussss.... Bakso bakar yg di deket Ijen sih biasa aja. Tp ya udahlah ya... harganya jg murah banget. Hahahaha....

Makan di Malang tuh nyenengin. Nggak deg2an waktu bayar hahahhaaha..... Masak ya, makan ikan bakar 20 orang dgn minum buanyak banget dan semua mesen ini itu.... total 1.3 jt. Enak to... tinggal di Malang.

Nyelip di tengah2 agenda pernikahan agung adalah jalan2 ke Taman Safari Prigen. Krn sdh pernah ke Jatim Park.... jd ya mending ke tempat yg belum pernah. Mirip2 Taman Safari Cisarua tapi nggak pakai macet hehehe.... Koleksi binatangnya sama. Atraksi jg mirip2. Yah... seneng lah tetep menghabiskan waktu di alam terbuka.

Malemnya saatnya packing. Masih ada yg pengen ke mal tp gue sdh nggak minat. Aria sempat buat accident mecahin shower kamar mandi. Hadeeeehhh... cengklong 200rb. Ya sudahlah. I still love him so much no matter what. Hahaha.....

Trus, menjelang pulang ke Jkt, waktu di airport, ada pemandangan "aneh" pesawat pribadi kecil mungil. FYI, airport Malang itu kecil banget, lbh mirip warung sate hahahaha.... jadi kalau ada yg nggak biasa pasti langsung kelihatan. Penasaran juga siapa yg naik pesawat itu. Eh... ternyata ARB. Waktu dia lewat, orang2 hanya melengos. Ada satu ibu2 yg ngajak foto bareng. Selebihnya cuek aja. Apalagi gue yg cenderung bersikap ciiiiisssss gitu. Coba yg lewat Jokowi atau Ahok... dijamin bakalan sekampung yg ngajak foto2 ya. Hahaha.....

Friday, October 11, 2013

The Editor

Kadang2 gue kalau lagi kumat jd banci editing bisa nggak tahan mau ngedit tulisan di spanduk, judul artikel di koran, atau coverline majalah yang lagi dijual di lampu merah. Maafkan....

Mungkin dulu bos gue juga ketawa2 ya ngedit tulisan gue. Spt gue yg skrg suka ketawa (sekaligus miris) baca tulisan anak2.

Yg pernah gue temui dan susah lupa:

Judul: 10 Buah Agar Awet Muda
Isinya hanya ada 7 buah saja. (Yang tiga belum nemu, mbak.)

Judul: Nikmati Akhir Pekan Menyenangkan
Isinya adalah promo kartu kredit yang berlaku hanya di hari KAMIS.

Judul: 7 Surga Dunia
Isinya hanya nama-nama tempat tapi nggak menyebut di kota mana atau negara mana. Gimana ke sananya lebih susah lagi dong....

Judul: Stop Penuaan
Isinya tentang sebuah krim awet muda tapi nggak jelas kandungannya, hanya: campuran berbagai vitamin dan mineral.

Marilah kita nikmati hidup!


Thursday, August 01, 2013

Ramadhan, Hari Ini, Dulu....

Semalam sempat diskusi singkat dgn OmD soal Ramadhan. Sumpah singkat bgt krn ketemunya jg cuma 3 jam (huhuhuhu). Lha, kok curhat....

Duluuuu sekali, Ramadhan tidak ramai di televisi. Kalau bulan puasa, yang ramai ya masjid dan rumah. Tiap sahur, nggak ada tv ketawa2 dgn OVJ atau kartun. Paling hiburannya radio, yg isinya pun ceramah agama. Di rumah gue paling sering dengerin pak Kosim Noorseha (yg mana langganan dipanggil cemarah di RS tentara....). Trus waktu buka, semua sekeluarga kumpul, buka bareng di rumah. Ga perlu ada special ini itu, memang yg wajar ya buka bersama keluarga. Trus habis makan, tarawih di masjid. Semua orang akan duduk manis, dengerin ceramah (atau ngobrol sendiri sementara anaknya kerja2an di halaman masjid hahahaha tp pokoknya absen sama pak imam). Sekolah kayaknya slowing down waktu puasa. Pulang lebih cepet dan kegiatannya nggak terlalu hore.

Sekarang? Hyuuukkk.... sahur pagi di rumah tuh ribet krn papap pengen nonton OVJ sementara anaknya pengen lihat cartoon network. Dan buat cari gara2 aja sih sama Aria hahaha.... as if I didn't know....  Jd waktu sahur ini nggak lagi diisi dengan siraman rohani. Ya makan biasa aja.... sambil nonton tv.

Kantor di Jakarta memang memulangkan karyawan lebih cepat (hitungannya krn waktu makan siang 1 jam nggak dipakai). Tapi siapa yg sanggup ada di rumah waktu buka? Gue acung jempol utk mrk yg bisa on time buka puasa di rumah, Jakarta macetnya gila2an begitu. Akhirnya orang memilih buka di kantor, lalu baru pulang setelah sholat maghrib. Tarawih di mana? Sendiri aja deh di rumah. Krn sdh kemalaman, yg di masjid udah bubaran.

Sekarang juga di kantor trend-nya mau libur lebaran justru semakin hore kerjaan. Apalagi model pekerjaan seperti gue, yg menghamba pada klien. Semua klien maunya majalah siap sblm cuti bersama. Akhirnya, bukannya malah slowing down, justru tim di kantor ini harus speed up lbh kenceng, stay at the office longer. Jgn harap bisa buka puasa di rumah, bisa tarawih sblm jam 11 aja udah bagus banget. Seringkali sampai rumah sdh setengah pingsan kelelahan. Trus jadinya malah jengkel waktu masjid di dekat rumah bangunin sahur krn rasanya gangguuuuu banget mengingat tidur baru 2 jam saja.

Bbrp hari lalu gue sempat terawih di masjid dekat rumah. Ternyata ya, skrg ini kalau lagi ceramah, varian kegiatan jamaah makin bertambah... dgn main candy crush (atau game lain di smartphone). Kasihan ya.

Allah SWT melipatgandakan semua amal yang dilakukan di bulan Ramadhan. Semua rasanya tahu itu. Jadi semua jg berusaha "menabung" amal baik sebanyak2nya. Seharusnya, sholat yg tadinya bolong2 jd rapi jali. Sahur bareng keluarga sambil berdoa sama2. Dari imsak ngaji sambil nunggu subuh. Trus buka puasa sama keluarga, dengerin siraman rohani (makanya di tv suka ada kultum yg bagus2). Tarawih manis2 di masjid, berjamaah, denger ceramah.  Insya Allah pahalanya berlipat ganda. Sebetulnya kantor2 jg sdh maklum, dengan memberi kelonggaran pulang lebih cepat. Beberapa tahun lalu, masih ada teman gue yg itikaf, berpindah masjid untuk tarawih, tadarus, nginep di masjid, mendalami agama, terutama di 10 hari terakhir puasa.

Sayangnya, masyarakat modern mulai kehilangan kesempatan menabung amal baik banyak2 spt dulu. Ini cobaan sih. Gimana berkompromi dgn kondisi sekarang yg butuh makin banyak waktu di jalan? Kita butuh istirahat lbh lama. Semua ada keperluan punya gadget yg akhirnya menggoda utk main game di waktu luang (dan bukannya buat mengaji). Setiap hari disodorin tontonan hura2 di tv yg sama sekali nggak ada hubungannya sama keimanan dan dgn alasan biar nggak ngantuk akhirnya kita milih tontonan yg ngajakin kita ngakak timbang yg ngajarin berdoa. Kalaupun buka bareng temen, hasilnya adalah hura2 kumpul di mal, bukan yang dgn khusyuk dan syahdu mensyukuri nikmat bulan puasa.

Cobaan Ramadhan yang semakin berat menimpa orang2 modern. Terus terang, gue nggak tahu caranya gimana menyikapi ini.